20 September 2010

Memulihkan Satu Sunah akan Menyelamatkan Dunia

Sultan al-Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani

Lefke, Siprus, 21 Agustus 2010


Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah

Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Allah Allah, Subhaan Allah

Zidhu yaa Rabbii `izzan wa syarafan nuuran wa suruuran, sulthaanan wa ridhwaana. Tsumma salaamu `alaykum yaa `ibaadAllah ash-Shaalihiin. Tub `alayna yaa Rabbana. Beri kami pengampunan-Mu, kami adalah hamba-Mu yang lemah. Beri kami dari Samudra Cinta-Mu agar kami, hamba yang lemah ini dapat berdiri untuk memuliakan-Mu (Mawlana Syekh duduk).

Syukr yaa Rabbii, syukr yaa Rabbii, syukr yaa Rabbii! Segala puji dan syukur yang tak terhingga bagi-Mu, sejak masa pra-abadi hingga abadi, segala kemuliaan bagi-Mu. Engkaulah mengagungkan Diri-Mu sendiri, pengagungan itu bukan berasal dari seseorang.

Wahai guru-guru kami, berilah kami sedikit pemahaman! Dan sebelum datang suatu pemahaman, kalian harus mengucapkan, “A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim.”

Wahai manusia, berlarilah dari Setan dan ucapkan, “A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim. (Mawlana Syekh berdiri) Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim, Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim, Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim! Itu akan memberi kita hidup baru, tenaga baru, dan cahaya baru (Mawlana Syekh duduk kembali).

Tsumma 's-salaam `alayka yaa Shaahib az-Zamaan dan hormat kami kepada Qutbu 'l-Mutasarrif dari dunia ini, yang melindungi kaum yang beriman dan yang menjadi pelindung bagi hamba-hamba Allah (swt). Ya, dan hormat kami kepada semua orang suci. Dan siapakah orang suci itu? Tahukah kalian, wahai hadirin? Kalian tidak tahu! Dan saya juga memohon untuk dikaruniai pandangan dan pengetahuan lebih dalam tentang orang-orang suci.

Wahai hadirin! As-salaamu `alaykum, di manakah kalian berada? Apa yang sedang kalian pikirkan? Apakah kalian sedang memikirkan tentang dunia? Siapapun yang memikirkan tentang dunia, pikirannya tidak bersih. Jangan tutupi pemahaman kalian dengan pikiran yang tidak bersih, upayakan untuk mencapai pemahaman yang murni, yang bersih. Pemahaman tersebut akan membersihkan fisik kalian dan memberikan kekuatan kepada ruh kalian. Kebersihan adalah hal yang paling penting dalam hidup manusia di bumi ini. Kewajiban pertama adalah kebersihan. Kalian harus bersih untuk bisa mengerti. Bila kalian tidak bersih, maka kalian tidak akan pernah mengerti. Bersihkanlah diri maka kamu akan mengerti. Tetapi selama manusia mengejar hidup yang tidak bersih di bumi ini, mereka tidak akan pernah mencapai pemahaman yang murni dan tingkatan mereka akan menjadi di bawah binatang. Bagaimana hal itu dapat terjadi?

Wahai ulama-ulama Salafi! Itu pasti! Apa yang kalian pahami dari firman Allah (swt) di dalam Al-Qur’an suci? (Mawlana Syekh berdiri) Dia berfirman, “Ast`iidzu billah:

أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

uulaa'ika ka'l-an`am bal hum addal

Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih rendah lagi. (Al-A'raaf 7:179)

(Mawlana Syekh duduk kembali)

Apakah kalian memahami hal ini atau kalian tidak pernah memikirkannya? Tiga atau empat kata-kata suci dalam satu ayat dimaksudkan untuk kita pahami. Jika itu tidak ditujukan kepada kita untuk memetik pemahaman surgawi, maka Dia tidak akan pernah mengirimkan ayat suci. Jika seseorang tidak juga mengerti, maka ia mahruum, kehilangan, berarti orang tersebut menempatkan suatu penghalang antara dirinya dengan tujuan atau targetnya. Oleh karena itu, angkatlah penghalang antara kalian dengan level di mana kalian dapat mengerti hal-hal tertentu. Mengapa Allah (swt) mengatakan,” Ast`iidzu billah uulaa'ika ka'l-an`am bal hum addal? Siapakah mereka? Jawab wahai ulama Salafi! Apakah kalian menerima penjelasan ini untuk kalian sendiri? Ulama-ulama Wahhabi, apakah kalian menerima level tersebut? Katakanlah! Al-Qur’an suci adalah untuk selamanya, tidak pernah berubah, tetapi pemahaman kalian yang akan berubah. Apa yang Allah (swt) maksud dengan "uulaaika?" Siapakah mereka? Katakanlah! Kalian menyebut diri kalian ulama. Ayat suci tersebut ditujukan kepada seseorang, "uulaa'ika." Siapakah mereka? Jelaskan hal itu kepada para pengikut kalian, mengapa kalian tidak menjelaskannya?

Uulaa'ika ka'l-an`am, mereka yang hidup hanya untuk makan dan minum dan untuk kehidupan seksual, maka tingkat kehidupan mereka ada pada tingkat an’am, setingkat dengan binatang. Mereka seperti penghuni kebun binatang! Ayat suci itu yang membedakan antara manusia dan dunia binatang. Sebagian manusia akan mencapai level kemanusiaan. Kemanusian akan membawa kehormatan pada manusia. Tetapi pada dunia binatang, tidak ada kehormatan. Kalian meninggalkan apa yang telah dikaruniakan kepada kalian dari kehormatan surgawi dan mengikuti keinginan ego. Sekarang 99% manusia berlari mengikuti keinginan egonya, dan mendepak kemanusiaan, padahal kemanusiaan itu yang akan membawa kehormatan untuk manusia. Siapapun yang mendekat ke sisi kemanusiaan, mereka mendapat kehormatan, dan yang mendekat ke sisi binatang,tidak ada kehormatan bagi mereka.

Seekor kuda masuk dalam kelompok binatang, mungkin kedudukannya ada di puncak. Manusia malah mengejar anjing, padahal anjing tidak dikaruniai kehormatan. Semua orang lebih menyukai kuda dibanding binatang lain, meskipun jenis binatang lain sangat banyak. Tetapi di antara binatang-binatang tersebut, satu-satunya, yuthnii `alayhi, yang paling dihargai dan dihormati adalah kuda. Mengapa? Karena kuda membawa raja, dan yang mengendarai kuda adalah para kaisar dan orang-orang terhormat. Apakah kalian pernah melihat ada seorang raja yang menaiki keledai? Pernahkah kalian melihatnya? Tidak pernah. Kuda mendapat penghargaan seperti itu, tetapi kuda tetap berada di dalam dunia binatang. Mereka tidak dapat hidup di dalam aula kerajaan; titik terakhir bagi mereka adalah pintu masuk istana yang sangat luas. Mereka tidak bisa masuk ke dalam, hanya sampai di pintu masuk.

Saya berharap atau meminta agar orang memelihara kuda daripada anjing. Kuda adalah binatang yang mulia; anjing ada pada tingkatan yuthnii `alayhi, tingkatan terendah. Dan dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa kebanyakan orang lebih senang berada pada tingkatan anjing. Saya sungguh menyesal bahwa banyak orang yang sudi menempatkan dirinya pada level anjing, suatu level terendah. Seekor kuda memberi ha’ya kepada seseorang, penampilan yang bagus, dan azhamah, keagungan. Oleh sebab itu, orang-orang yang agung, raja, kaisar dan sultan selalu mengendarai kuda. Kini, manusia telah meninggalkan skala tinggi, karunia surgawi bagi mereka adalah dengan memelihara kuda. Mereka meninggalkan level itu; mereka turun ke level yang lebih rendah dengan memilih mobil, mobil, mobil. Mobil tidak memberikan kehormatan kepada manusia. Tetapi skala manusia sekarang adalah salah. Setan sudah menipu dan mengatakan, “Tinggalkan kuda dan ganti dengan mobil. Kemuliaan seperti yang dikaruniakan kepada kuda, tidak diberikan kepada yang lainnya. Bahkan seekor singa pun tidak dinamakan “Singa yang mulia”. Seekor harimau tidak pernah dinamakan “harimau yang mulia”. Seekor keledai apalagi. Namun Setan telah memutarbalikkan mentalitas manusia.

Wahai manusia! Datanglah dan berusahalah untuk menjadi orang-orang yang mulia di dunia dan akhirat. Ada satu hadis suci yang diketahui oleh para ulama kita. Kalian adalah ulama, mengapa kalian tidak menganjurkan para muuluuk untuk mengendarai kuda? Mengapa? Dan kalian harus mengatakan, “Wahai Yang Mulia, Jalaalatuh, kau harus mengendarai binatang mulia, yang diturunkan dari Surga. Ya. Tidak ada binatang lain di dalamnya kecuali kuda. Itu adalah suatu kehormatan yang dikaruniakan kepada manusia. Mengapa tidak kalian sampaikan? Katakanlah yang benar! Kalian tidak menyampaikan kebenaran itu karena kalian mengejar mobil WC. Kalian mengendari barang seperti itu. Dan kalian para ulama, kalian juga harus mengendarai binatang yang paling mulia dari seluruh dunia binatang. Namun sekali lagi, saya menyesal untuk mengatakan bahwa kini yang ada hanyalah orang-orang yang tidak menggunakan pikirannya, orang-orang yang berkarakter buruk, hanya menggunakan kuda untuk perjudian. Mereka sedang memperdaya mentalitas masyarakat. Kuda tidaklah diciptakan untuk perjudian.

Wahai manusia! Gunakanlah pikiran kalian dan berusahalah untuk memahami sesuatu yang baik! Wahai ulama Salafi, mengapa kalian tidak mengatakan hal ini kepada para pengikut kalian? Mengapa kalian tidak menasihati muluuk, raja-raja, “Wahai Yang Mulia, kau harus mengendarai kuda, lebih banyak ihtisyaam, lebih banyak kehormatan, dan kau akan terlihat lebih agung ketika mengendarai seekor kuda. Dan seekor kuda akan berjalan seperti ini. (Mawlana bergerak naik dan turun). Itu sangat bagus, sangat bagus. Mengapa kalian meninggalkan sunnatun-masy-huura (sunah yang sangat terkenal)?”

Wahai ulama-ulama Salafi kami! Apa yang dikatakan Nabi Penutup (s) kita? (Mawlana Syekh berdiri):

من ترك سنتي لم ينل شفاعتي

Bismillahir Rahmanr Rahiim. Man taraka sunnatii lan yanaal syafa`atii.

Barang siapa meninggalkan sunahku, syafaatku tidak akan sampai kepadanya.

فمن رغب عن سنتي فليس مني

Ma raghaba `an sunnatii fa laysa minnii

Barang siapa meninggalkan sunahku, bukanlah bagian dariku.

Benar atau tidak? Di manakah kalian, wahai orang-orang Wahhabi? Mengapa kalian tidak mengendarai kuda? Kalian semua mengendarai BMW atau Rolls Royce. Mengapa kelian melakukan itu? Itu adalah hadiits an-nabi. Tetapi mereka mengatakan, “Aku tidak memiliki cukup uang untuk membeli kuda. Jika aku membeli kuda, maka pemerintahan yang buruk tidak akan membuat tempat di jalan untuk mereka. Pemerintah membuat tempat parkir untuk mobil.” (Mawlana Syekh duduk kembali).

Ini berasal dari berkah bulan suci Ramadan. Katakan ini kepada Yang Mulian, Raja Abdullah, semoga Allah (swt) mendukungnya, “Hentikan menyembunyikan diri. Keluarlah dengan kudamu, dan dengan pedangmu juga. Itulah kesultanan, kerajaan, itulah pertunjukan kerajaan. Gunakanlah!” Yang Mulia, Raja Hijaz seharusnya mengendarai kuda dan keluar dengan bendera-bendera, dengan banyak tentara berkuda bersamanya. Hal itu akan memberi penghargaan kepadanya, dan jika ia meninggalkan sunah maka akan ada ancaman. Peliharalah kuda-kudamu, wahai muluuk! Sultan Qabus, Sultan Oman, Sultan Qatar, Sultan Salatiin Emirates, Salatiin Sultan dari banyak wilayah Arab. Tinggalkan mobilmu! Ketika engkau datang mereka akan mencium tanganmu dan berkata, “Wahai raja-raja kami, gunakanlah mobil. Tinggalkan kuda tersebut.” Tidak! Katakan kepada mereka bahwa kau menggunakan kuda untuk menciptakan ekonomi yang adil untuk setiap orang. Mereka akan menjadi bahagia dan israaf, pekerjaan yang sia-sia akan berakhir, mengakhiri krisis ekonomi dunia. Hal itu akan terjadi. Satu perintah, satu sunah, jika semua bangsa mengikutinya, tidak akan ada kekhawatiran bagi mereka dan krisis ekonomi akan selesai. Inilah: الدين نصيحةad-diinu nasiiha, "Agama adalah nasihat." Mengapa kalian tidak mengatakan ini kepada mereka?

Wahai para ulama Salafi! Salahkah apa yang kami katakan ini? Apa yang ada dalam pikiran kalian? Orang-orang Wahhabi tidak membiarkan kalian mengendarai kuda. Tinggalkan para Wahhabi dan tunggangilah kuda kalian! Ketika kalian mengendarai kuda dari istana, orang akan berkata, “Masyaa-Allah! Kebahagiaan untuk Sultan kami, panjang umur, bahagia dan sentosa Sultan kami.” Ya, mereka akan mengatakan sesuatu agar orang tersadar, dan itulah satu sunah. Mereka akan mengatur seluruh dunia dengan satu sunah!

Dan juga, tinggalkan anjing-anjing kotor itu, tinggalkan mereka dan rawatlah fakir miskin. Jika tidak, akan datang suatu penyakit yang tidak dikenal menimpa anjing-anjing itu dan ditularkan kepada para pemiliknya sehingga jutaan orang akan meninggal dunia! Tanda seperti itu sudah muncul dalam Loh Mahfuz, anjing-anjing itu memiliki penyakit kotor yang tidak diketemukan penyembuhannya. Jangan memelihara anjing, peliharalah kuda! Inilah pernyataan hari ini untuk seluruh bangsa! Orang beriman, atau yang kafir, pengikut Perintah Surgawi ataupun pengikut Setan, jagalah apa yang telah diperintahkan. Itu adalah peringatan bagi kalian. Mungkin akan ada lagi yang datang. Banjir-banjir itu adalah tanda kemurkaan dari langit. Jika kalian tidak memahami, jika kalian tidak kembali kepada jalan yang benar sebagai umat manusia, maka penyakit kotor dari anjing akan menulari manusia dan tidak ada penyembuhnya.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Dengar dan patuhi. Jika tidak, kalian tahu apa yang akan terjadi. Fatihah.

(44 menit) Masyaa-Allah, mereka memperhatikan. Alhamdulillah, alhamdulillah, itu adalah deklarasi penting untuk semua bangsa. Mereka menerima hal ini di dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan dalam kitab suci Al-Qur’an. Semoga Allah (swt) mengampuni kita.

(Mawlana Syekh salat Syukur dua rakaat.)

Subhaan Allah! Subhaan Allah!


10 September 2010

Catatan Khotbah Iedul Fitri 1431

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q)

Burton, MI: 9 September 2010

As-salaam alaykum, alhamdulillah nasta`iinahu wa nastahadii... Allahu akbar alhamdulillah... ala diin al-islam haytsu awhaahu ila sayyidil al-mustafa alayhis salaam

alhamdulillah ir-rabil-`alamiin ala niamihi adz-dzahiri wa-lbatinah haytsu qal fi'l-quran al-kariim wa ma arsalnaka illa rahmatan lil-`alamiin

alhadulillah katsiira, alhamdulillahi alldzii syarafana bi'n-nabiy waladi `adnan...

nasykuruhu ta`ala ala irsalaaihi an-nabiy haytsu qala:... wa da`iin il-Allahi wa sirajan muniira

wa nashadu an la ilaha ill-Allah Muhmmadan abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh. allahu akbar, allahu akbar wa lillahil-hamd.

allahu akbar ala kull man takabbara wa tajabbar. ya sayyidii ya rasuulullah min hadza al-minbar asy-syariif nasal an yaqbul hadza ...

pujian kepada empat khalifah abwa naquul tuuba lakum ya ma`ashar al-muslimiin inna lana min al-rukn ghayr muhaidimi, wa nasal Allah an yataqabal minna siyamana wa ibaditina. Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar wa lillahi ala-hamd

wa yakuun al aan hajman `ala al-islam wa nasal Allah farajan ala al-muslimiin.

Wahai Muslim, Mukmin, apapun itu, apapun yang diambil, Muslim Sunni atau Muslim Syiah atau Muslim Sufi, atau Muslim Ahlul Hadis, Muslim Wahhabi, Muslim Deobandi, apapun, kita semua adalah Muslim, kita tidak bisa terima penghinaan terhadap kitab suci kita. Itu adalah kitab suci Al-Qur’an yang Allah turunkan di bulan ini kepada Sayyidina Muhammad (s). Itu tidak bisa diterima, sebagaimana kita juga tidak terima bila ada orang yang menghina apa yang Nabi Isa (a) bawa bersama Injil dan kita tidak bisa terima bila ada yang menghina apa yang dibawa Musa (a) dengan Tauratnya.

Kita tidak bisa menerima penghinaan terhadap kitab suci, yang meliputi Al-Qur’an, Injil, Taurat dan Zabur dan di mana Sayyidina Jibril (a) bertanya kepada Nabi (s) dalam hadis yang sangat terkenal, “Apakah iman itu?” dan beliau menjawab, “Percaya kepada Allah (swt) dan para malaikat-Nya, kitab suci-kitab suci-Nya, termasuk Zabur, Injil, Taurat dan Al-Quran, dan para utusan-Nya.”

Kita sebagai Muslim tidak pernah menghina nabi mereka, Sayyidina Isa, tetapi mereka menghina nabi kita dan kita tetap diam. Kini mereka menghina kitab suci Al-Qur’an kita padahal kita selalu menghormati kitab suci Injil dan kitab suci Taurat. Kita meminta kepada President negeri ini untuk menghentikan penghinaan kepada kitab suci Al-Qur’an karena itu bisa memicu kekerasan di seluruh dunia. Dan negeri-negeri Muslim di seluruh dunia marah dengan hal itu, dan itu bukanlah kebebasan beragama. Anda tidak bisa membakar konstitusi atau kitab suci tertentu. Anda akan memicu kekerasan di dunia Muslim. Ketika kartun Nabi (s) muncul, banyak kekerasan terjadi di dunia, bagaimana menurut kalian jika seseorang tiba-tiba membakar kitab suci Al-Qur’an. Allah (swt) akan membakarnya. Allah (swt) membela umat Mukmin dan jika dia adalah seorang yang beriman, dan berpikir bahwa ia adalah orang beriman, maka Sayyidina Isa (a) tidak pernah menerima; jika seseorang menamparnya di (pipi) kiri, beliau memberikan pipi sebelahnya. Beliau tidak pernah menentang Taurat dan Muslim mendukung Injil, mereka mendukung Injil yang telah diturunkan kepada Sayyidina Isa (a).

Jadi dari tempat yang sederhana ini, kita meminta mereka, kita adalah sebuah kelompok kecil, tetapi kita adalah orang yang cinta damai, kita tidak ingin melihat aksi pembakaran al-Qur’an tersebut, yang bisa menimbulkan bahaya karena Allah (swt) akan memberikan balasan-Nya.

Dan saya ingatkan kepada kalian, apa yang terjadi di Pakistan, ketika mereka menghancurkan makam seorang wali besar, Ali al-Hujwiri (q), Allah (swt) menghukum mereka dengan banjir dan banyak sekali orang yang tewas dan banyak sekali orang yang kehilangan rumah dan tempat berteduh. Kami mengingatkan mereka bahwa Allah (swt) akan memberikan balasan-Nya. Kita bukanlah orang yang akan melakukan balas dendam. Kami belajar dari Sayyidina Isa (a) di mana bila seseorang menampar pipi kiri kita di sebelah kanan, maka kita berikan pipi yang kiri. Kita adalah orang-orang sufi. Allah (swt) tidak tidur, jika seseorang datang menentang-Nya, maka Dia akan menunjukkan apa yang bakal ia dapatkan.

Kini, wahai Muslim, kalian harus mendukung dunia Muslim dan mengirimkan pesan ke Gedung Putih untuk menghentikan aksi itu dan semoga Allah (swt) menyelamatkan umat Muslim. Dan ini adalah tanda Hari Kiamat; sebagaimana ketika Nabi (s) ditanya tentang tanda-tanda Hari Kiamat: kebodohan akan merajalela. Lalu apa yang lebih bodoh daripada membakar kitab suci Al-Qur’an? Tindakan rasis apalagi yang lebih parah daripada membakar kitab suci Al-Qur’an? Dan mereka mengatakan bahwa itu adalah kebebasan beragama. Kebebasan apa itu, apakah ini yang diajarkan oleh Jesus kepada kalian?

Allah (swt) akan memberi masa-masa sulit kepada setiap orang yang melakukan hal tersebut. Allah (swt) menurunkan kitab suci Al-Qur’an kepada Nabi suci (s) dan berfirman, “Wa najmi idza hawa.. maa yantiqu `anil-hawa. Aku bersumpah demi bintang ketika terbenam, bahwa Ya Muhammad (s), engkau tidak pernah sesat dan engkau tidak pernah mengikuti hawa nafsumu.” [53:1-2]. Maa yantiqu `anil-hawa. Beliau tidak pernah bicara dari hawa nafsunya sendiri, in huwa illa wahiyun yuuhaa, apa yang beliau katakan, itu adalah wahyu. Sebagaimana kita mengatakan bahwa Jesus mendapatkan wahyu, kita juga mengatakan bahwa Sayyidina Muhammad (s) mendapat wahyu, tetapi pendeta kalian yang membakar Al-Qur’an tidak mendapatkan wahyu. Allah (swt) akan membakar tangannya dan kalbunya. Ia membawa kekerasan untuk hal yang sia-sia.

Saya tidak bicara tentang Ground Zero. Bukan itu, tetapi yang penting adalah kitab suci Al-Qur’an. Hal lain, sudah banyak tangan di sana . Dan mereka yang meletakkan di sana dapat memberi komentar mengapa mereka meletakkannya di sana . Tetapi untuk kitab suci Al-Qur’an kita, tidak. KITA harus berdiri dan kita harus menyampaikannya. Jika mereka mendengar, mereka mendengar; jika tidak, mereka tidak mendengarnya, tetapi jika tidak, kita ucapkan, “Allahumma fashhad innii qad balaghta. Ya Allah, Engkau adalah saksiku bahwa aku telah menyampaikan pesanku.” (3x) dan setiap Muslim harus menyampaikan pesan ini dan menyakinkan bahwa aksi ini tidak terjadi. Jika itu terjadi, maka ini adalah salah satu tanda Hari Kiamat, di mana Nabi (s) bersabda, “Yakthur al-jahl wa yurfa`ul-`ilm, kebodohan merajalela dan ilmu diangkat.” Dan para Sahabat bertanya, “Akankah kitab suci Al-Qur’an diangkat?” Qur’an itu sudah berada di tangan mereka, dan ia akan diangkat dan dibakar. Apakah mereka menyaksikan hal itu? Dan Nabi suci (s) tidak ingin menyebutkan hal itu kepada mereka karena beliau tahu bila beliau menyebutkannya kepada mereka, mereka akan melakukan kekerasan kepada setiap orang, jadi beliau menutupinya. Beliau (s) mengatakan bahwa Allah (swt) tidak akan mengangkat kitab suci al-Qur’an, tetapi dengan wafatnya para ulama, kebodohan menjadi merajalela di bumi karena tidak ada pengganti bagi para ulama itu, sehingga ilmu akan semakin berkurang dan berkurang.

Di masa lalu Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdwani (q) mempunyai seorang murid yang kaya raya. Ia ingin menunjukkan hormat dan cinta kepada syekhnya, kepada ajarannya. Ia membuat sebuah tempat untuk menyimpan kitab suci Al-Qur’an dan dihiasi sepenuhnya dengan emas dan ia meletakkan kaca di ruangan itu untuk menyimpan kitab suci Al-Qur’an, lemari kaca agar bisa dilihat apa yang ada di dalamnya, dan ia letakkan kitab suci Al-Qur’an di sana dan mengundang syekhnya untuk datang dan melihatnya. Dan ketika Syekh melihat kehormatan yang diberikan orang itu terhadap kitab suci Al-Qur’an, al-Qur’an itu mulai bicara kepada Sayyidina Abdul-Khaliq al-Ghujdwani (q). Al-Qur’an tidak diam, ia adalah kitab yang bisa bicara. Ketika kalian mencapai level kewalian, kalian dapat mendengar Al-Qur’an bicara. Ketika kita membacanya dengan suara keras, kita mendengarnya. Tetapi wali dapat mendengar Qur’an membaca dirinya sendiri. Jadi ketika orang itu meletakkan Qur’an di sana, Qur’an itu mulai membaca dirinya sendiri dan beliau (Syekh Abdul Khalid al-Ghujdwani (q) mendengarnya. Kalian tidak boleh meletakkan Qur’an di lantai, sebagaimana yang kita lihat sekarang. Di masa lalu dan masih ada sampai sekarang, di Maroko dan beberapa negara seperti Suriah, Turki, mereka meletakkan Qur’an di kantong yang bagus dan menggantungnya di tempat yang bagus di rumahnya. Saya melihatnya di banyak tempat di Mesir, Turki dan Afrika Utara. Sayangnya kini kita melihat, mereka meletakkan dan kita juga melakukan hal yang sama, meletakkannya di dalam lemari. Dan kita harus meletakkan Qur’an di kepala kita. Pada saat pertikaian antara Sayyidina Ali (r, kw) dan Sayyidina Muawiyah (r), mereka mengangkat kitab suci Al-Qur’an dengan tombak dan pertikaian itu berhenti.

Jadi, wahai Muslim berhati-hatilah, kita mempunyai tantangan. Dan kita tidak mampu melakukan sesuatu, tetapi kita memohon kepada Allah, “Ya Allah, ada seseorang yang ingin membakar kitab suci-Mu. Bakarlah tangan-tangan mereka.” Sebagaimana kakek Nabi (s) ketika Abrahah datang untuk menghancurkan Rumah Suci Allah. Beliau berkata, “Aku adalah orang yang cinta damai, yang tidak bisa bertempur. Ya Allah, pertahankanlah Rumah-Mu, lalu apa yang terjadi? Allah (swt) mengirimkan burung-burung untuk melempari mereka, para tiran, dengan Abaabiil, burung hitam dari sisi Jeddah, dari lautan di atas Rumah Allah. Burung yang masing-masing membawa 3 kerikil, 2 di cakar dan satu di paruhnya. Dan dari api neraka, Allah (swt) mengirimkan batu-batu kerikil itu untuk menghancurkan mereka.

Wahai kau, pendeta! Kau membakar kitab suci Al-Qur’an dengan api dunia, tetapi Allah (swt) akan membakarmu dengan Api Neraka. Wa ja`alahum ka`asfin maakuul. Dia membuat mereka benar-benar hancur sementara Rumah (Ka’bah) masih ada. Sebagaimana mereka kini mempunyai bom (rudal) yang membakar semua makhluk hidup dan hanya meninggalkan gedung-gedung saja. Itu adalah teknologi surgawi.

Wahai manusia, kita adalah orang-orang yang dapat memberi toleransi, toleransi dan toleransi; tetapi ketika sampai kepada Al-Qur’an dan kepada Allah (swt), Dia tidak akan membiarkannya. Dia mungkin akan memberi waktu, tetapi pembalasan-Nya akan tiba. Semoga Allah (swt) memberikan pembalasan-Nya. Semoga Allah (swt) menyelamatkan kita dari fitnah besar ini dan sebagaimana waktu berjalan, berikutnya akan ada lebih banyak fitnah yang akan datang.

Wahai Muslim, berbahagialah sekarang, di mana kalian telah menyelesaikan puasa di bulan suci Ramadan. Dan Sayyidina Musa (a) bertanya, “Qala Musa ya rabbii akramtanii bi takliim, Engkau memuliakan aku untuk bicara dengan-Mu tanpa perantara. Apakah Engkau memberikan kepada seseorang sebelum atau sesudahku. Dan Allah (swt) mewahyukan kepadanya, “Aku mempunyai hamba yang muncul di Hari-Hari Akhir di mana kehidupan di bumi ini akan berakhir dan Aku akan memuliakan mereka dengan bulan Ramadan, fa akuuna aqraba li ahadin mink. Aku akan lebih dekat dengan mereka daripada denganmu, karena puasa mereka di bulan Ramadan. Engkau bicara dengan-Ku dan di antara Aku denganmu ada 70.000 hijab. Engkau minta untuk melihat-Ku, tetapi engkau tidak sanggup. Tetapi ketika umat Muhammad (s) berpuasa hingga bibir mereka menjadi putih dan muka mereka menjadi kuning (pucat, karena tidak ada darah di sana ), arfa`ul-hujub. Aku akan mengangkat hijab-hijab ini yang Aku tidak lakukan kepadamu, tetapi Aku mengangkatnya untuk mereka pada saat waqti iftaarihim, pada saat berbuka puasa. Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda, “Ajiluu bil-iftaar.” “Berbukalah sesegera mungkin.” Karena kita ingin agar hijab-hijab ini diangkat sesegara mungkin, karena sedetik di Hadirat Ilahi akan dihitung dan Nabi (s) ingin agar umatnya mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.

Dan Yaa Musa (a), kabar baik bagi orang yang merasa haus dan perutnya lapar di bulan Ramadan. Ini adalah yang paling Ku-cintai, dan Aku akan membalasnya dengan pahala yang tak terhingga. Dan Ka`b al-Ahbar (r) berkata, dan beliau adalah orang yang selalu menulis segala sesuatu yang berasal dari Jesus (a) dan Musa (a) dan beliau menulis bahwa Allah (swt) berjanji pada Diri-Nya sendiri bahwa Dia tidak akan menolak doa orang-orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa doanya akan dikabulkan. Wahai Musa (a), Aku akan menurunkan dan mengirimkan ilham ke seluruh langit dan bumi dan kepada burung-burung dan binatang-bintang untuk memintakan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadan.

Wahai Muslim, kini kalian telah menyelesaikan puasa kalian dan Allah (swt) akan membalasnya. Dan saya akan membacakan ini: man fattara saa'iman dan inilah yang kalian lihat di seluruh dunia kini, lebih banyak daripada sebelumnya: barang siapa yang memberikan makanan kepada orang yang berpuasa, satu orang, sepuluh, 100, 1000 orang, berapa pun itu, di bulan Ramadan dari pendapatan yang halal, shallat alayhi al-malaikati layali ar-Ramadan. Para malaikat akan memuji dan mengirimkan berkah bagi orang itu sepanjang bulan Ramadan.

Jadi apa tugas kita? Jika kita memberi makan 1o orang di bulan Ramadan, kita memohon agar kita bisa memberikannya lebih banyak, dan berikan kepada 100 orang, walaupun sedikit, itu akan bertambah. Undanglah orang untuk makan di rumah kalian di bulan Ramadan karena para malaikat akan berdoa untuk kalian dan Jibril (a) akan berdoa untuk mereka.

Sekarang kita melihat mawaid ar-rahman bahwa meja-meja dari orang yang dermawan, mereka letakkan di mana-mana dan ribuan orang datang dan makan. Seperti itulah di sepanjang jalan di negeri-negeri Muslim. Semoga Allah (swt) mengampuni kita. Semoga Allah (swt) mengambil kesulitan itu, penderitaan yang menimpa kitab suci Al-Qur’an itu berbahaya, semoga Allah (swt) menghilangkannya, Allah (swt) tidak senang dengan hal itu.

Allahu Akbar Allahu Akbar la ilaha ill-Allah. Allahu Akbar wa lillahil-hamd.

Allahu Akbar Allahu Akbar la ilaha ill-Allah. Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahil-hamd.

Alhamdulillah wash-shalaat was-salaam ala Nabiyih... Inna allah wa malaikatihi yushaluuna `ala an-nabiy. ya ayyhuladziina amanuu shalluu alayh.

Bayangkan bahwa Nabi (s) melihat kalian. Kita berada dalam hadiratnya dan hadirat para awliya.

Allahumma shalli ala Sayyidina Muhammad wa `ala aali Sayyidina Muhammad (s). ... as-salaam alayk ya Sayyidina ya Rasuulullah. ..

Alhamdulillahi alldzii astandana `ala kulli jabarn aniid, Allahumma alayk bihim

01 September 2010

Karakteristik `Abdaal

Serial Hierarki Awliya, Vol 2
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
As-Siddiq Mosque, Burton, MI
Bakda Ashar, 14 Agustus 2010/Ramadan 1431

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.
Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Athi`ullaha wa athi`u 'r-Rasuula wa uuli 'l-amri minkum.
Patuhi Allah, patuhi Nabi dan patuhi mereka yang mempunyai otoritas atas kalian.
(4:59)

Dalam suhbahsebelumnya kami menyebutkan tentang Sayyidi Syekh Shadzili (q),
salah satu awliyaaterbesar bertahun-tahun yang lampau. Beliau adalah salah satu
kutub, seperti Kutub Utara atau Selatan. Tetapi kita tidak mengatakan "Kutub
Timur" dan "Kutub Barat." Mengapa kita mengatakan “Kutub Utara” dan “Kutub
Selatan”? Bagaimanapun Allah (swt) telah menciptakan para awliyaullah-Nya dan
membuat mereka berada dalam derajat yang berbeda-beda. Dan setiap wali tidak
melanggar batasannya; ia tahu di mana ia berdiri dan ia senang dengan apa yang
diberikan oleh Allah (swt) Mengapa mereka tidak melanggar batasan mereka? Ada
hikmah di sana. Allah (swt) meletakkan di dalam kalbu mereka suatu kondisi di
mana mereka telah mencapai level puncak, titik puncak, dan mereka merasa bahwa
mereka telah berada di level tertinggi. Meskipun mereka berada di level yang
lebih rendah, bagi mereka itu bagaikan level tertinggi. Itulah sebabnya mereka
merasa puas dan senang, kalau tidak akan timbul semacam keluhan yang tidak dapat
diterima dari wali tersebut, di mana ia ingin melihat derajat dari wali-wali
lainnya. Jadi Allah (swt) menyembunyikan mereka satu sama lain dan memberi
mereka perasaan bahwa mereka telah mencapai posisi tertinggi.


Itulah sebabnya mengapa ada 124,000 walidan setiap orang berpikir bahwa ia
mengambil langsung dari Nabi (s). Tetapi pada realitasnya mereka mengambil dari
seseorang langsung yang mempunyai derajat di atasnya, dan mereka semua akhirnya
menerima dari Ghawts, al-Fard al-Jami`, yang membawa semua orang bersama. Tidak
bisa ada dua atau tiga yang membawa semuanya, melainkan hanya satu. Kemudian
menurun ke level di mana Allah (swt) memperlihatkan keindahan dari alam Jamal,
Yang Maha Indah, ketika itu dibuka, mereka melihat segalanya indah, tidak hanya
di bumi, tetapi juga di alam semesta, dan ketika mereka mencapainya, mereka
tidak bisa melihat yang lain, kecuali semuanya indah. Orang mengatakan ada
persaingan di dunia seni, siapa yang menjadi seniman terbaik? Dari lukisan
mereka, kalian dapat melihat bahwa seniman ini lebih baik daripada yang lain.
Ketika awliyaaullahmelihat keindahan dari apa yang Allah (swt) ciptakan, mereka
tidak lagi melihat segala sesuatu itu tidak indah, sehingga mereka tertarik
dengan keindahan yang Allah (swt) letakkan di bumi dan langit.


Ketika kalian mengagumi orang, ketika kalian membuka hati kalian untuk mencintai
orang karena kalian melihat keindahan itu, kalian menyambut mereka dengan tangan
kalian dan kalian akan menawarkan apa yang dapat kalian berikan kepada mereka
dalam hidup mereka. Keindahan yang kalian lihat pada mereka adalah benih yang
Allah letakkan, tajali kecil yang nampak pada mereka. Itulah sebabnya wali akan
menjadi magnet bagi mereka dan bahkan satu penglihatan darinya kepada mereka
akan menghilangkan kesulitan-kesulitan mereka. Dan waliitu akan mentransfer
keindahan itu ke dalam kalbu mereka dan memberi mereka injeksi spiritual, jadi
pada Hari Penghisaban mereka akan berada di bawah kendalinya. Tidak hanya Allah
(swt) memberi mereka keindahan untuk digunakan untuk mencapai sejumlah maksimum
orang, tetapi Dia juga membuat mereka menempuh perjalanan ke seluruh alam
semesta dan bumi ini, dari satu tempat ke tempat lain, untuk melihat dan
menjumpai lebih banyak orang baik yang tersesat, maupun yang tidak, lalu membawa
mereka ke Haziirat al-Jamal "Taman Keindahan." Jika seseorang memasuki Taman
Keindahan, mereka tidak dapat keluar lagi dari situ.


Kelompok awliyaullahyang berada di bawah ghawts adalah lima qutb (kutub) di mana
Allah (swt) menciptakannya di dunia ini untuk menarik orang sebanyak-banyaknya
melalui perjalanan mereka. Mereka mempunyai kekuatan untuk melakukan perjalanan
menembus dimensi spiritual dan mereka mempunyai kekuatan untuk melakukan
perjalanan di bumi. Mereka dapat bergerak melalui kekuatan surgawi dan duniawi
dan menurut hikmah Allah (swt), mereka mengikuti kedua jalan ini. Allah (swt)
telah membuat hati mereka sebagai tempat di mana mereka dapat melihat
rahasia-Nya, wa atla`tahum `alaa syams asraarahum.Dalam setiap rahasia ada
matahari yang bersinar dan setiap rahasia telah diberikan kepada salah satu di
antara mereka. Kalian tidak bisa mendapat rahasia yang sama yang dimiliki oleh
orang lain, kalau begitu itu bukan rahasia lagi namanya. Allah (swt) memberi
setiap orang rahasia tertentu yang harus diikuti agar mencapai `iraadatullah
(semangat untuk Realitas Allah). Dia membuat jiwa mereka suci dan mereka
sanggup menerima rahasia-rahasia ini dari langit. Dan mereka mempunyai tubuh
duniawi yang dengan tubuh itu mereka dapat menyampaikan pesan yang Allah (swt)
kirimkan kepada mereka melalui Nabi Muhammad (s).


Allah (swt) memberi kepada lima qutbini,dengan ghawts, yang keenam di antara
mereka, kemampuan untuk menambang. Ketika kalian mencari berlian, kalian
menambang. Kalian mungkin akan masuk ke dalam tanah sedalam tiga ratus atau
tiga ribu kaki untuk menemukan berlian. Allah (swt) memberi mereka kekuatan
menambang dalam kalbu manusia, untuk menghilangkan apa yang buruk dan jahat dan
memasukkan apa yang baik. Jangan meremehkan kekuatan seorang wali, mereka mampu
mencapai seseorang dari mana saja, tetapi mereka lebih suka memperlihatkan
kehadiran fisik mereka, untuk bertemu dengan lebih banyak orang yang memerlukan
dukungan, dan mereka mendukung orang-orang itu. Allah (swt) memberi mereka
Quwwat al-Mujaahadah, Kekuatan untuk Berjuang, dengan mengalahkan Setan dan
meletakkan haqq(kebenaran) dalam kalbu manusia. Hidup mereka adalah sebuah
perjuangan. Mereka tidak hanya duduk, seperti kebanyakan orang yang malas dan
hanya mempunyai perhatian pada dunia ini tetapi tidak memperhatikan kehidupan
lainnya. Jadi Allah (swt) telah meletakkan Kekuatan untuk Berjuang di dalam
kalbu kelima qutb, untuk melawan Setan, menghilangkan kebatilan dan meletakkan
yang haqq di dalam kalbu manusia, dan mereka dapat melakukan hal ini dengan
kekuatan dalam mata mereka.


Sayyidina Ahmad al-Badawi (q) menutupi matanya karena orang yang melihat ke
dalam matanya menjadi pingsan. Ketika ia mencapai level tertinggi yang dapat
dicapai, seorang qutbmendatanginya dan berkata, “YaaAhmad! Kau memerlukan
amanatmu, kunci untuk pintu itu, aku memilikinya."

Ia berkata, "Aku tidak memerlukan kunci darimu, aku memerlukan kunci dari
Allah."

Qutb itu berkata, “Baiklah, cobalah untuk mendapatkannya (sendiri)!”
Karena ia meminta kunci itu dan qutb itu lenyap. Akhirnya Ahmad al-Badawi (q)
mendengar sebuah suara yang masuk ke dalam kalbunya, “Yaa Ahmad! Jika engkau
menginginkan kunci itu, Kunci-Ku ada pada qutb itu. Pegilah, temukan dia."
Lalu ia pergi selama enam bulan untuk mencari qutbitu tetapi ia tidak
menemukannya. Qutb itu tidak muncul, ia sebenarnya dekat dengannya, tetapi Ahmad
al-Badawi tidak dapat menemukannya. Qutbitu tidak memberi kuncinya, tetapi ia
malah mengambil seluruh ilmu Ahmad al-Badawi, karena itu didasarkan pada egonya.

Tunjukkan kepada saya sekarang, seseorang yang tidak mendasarkan ilmunya kepada
egonya. Para ulama sekarang begitu bangga dengan ilmu mereka sehingga mereka
ingin meletakkan titel “Doktor” di depan nama mereka. Mereka ingin titel ini
tidak hanya untuk dokter di bidang kesehatan, sehingga mereka semua adalah
`alaamah, seorang pir,profesor, doktor, dan ini semua berasal dari ego. Jadi
kebanyakan ulama sekarang membangun ilmu mereka berdasarkan ego mereka. Para
awliyaaullahmembangun ilmunya dari Samudra Nabi (s) yang Allah (swt) berikan
kepada mereka. Itulah sebabnya Imam Muhammad al-Busayri (r) berkata bahwa
setiap orang mengambil dari Samudra Nabi (s). Inilah tempat di mana kita
menyandarkan punggung kita, itulah tempat di mana `itimadkita berada, dukungan
kita berasal dari Nabi (s), tulang punggung kita, beliau mendukung kita.


Jadi aqtaadini adalah yang tertinggi dalam level mereka. Kita tidak akan
menguraikan hal itu sekarang, kita akan menuju sesuatu yang lain insyaa-Allah,
tetapi mereka adalah para awliya tertinggi, dan bila salah seorang pergi,
kursinya harus segera diisi; ia tidak boleh dibiarkan kosong. Kelimanya adalah:
Qutb, Qutb al-Bilad, Qutb al-Aqtaab, Qutb al-Irsyaad, Qutb al-Mutasyarrif. Mata
dari kalbu mereka, mata dari kepala mereka, perhatian mereka, mereka selalu
memandang pada ghawts. Mereka mengambil tugas harian mereka darinya dan ia
menghubungkan setiap orang kepadanya, dan ia mengambil perintah dari Nabi (s).
Dan itulah sebabnya, karena ada lima qutb,juga ada lima kelompok awliyaadi bawah
mereka, yaitu: Budala, Nujaba, Nuqaba, Awtad, dan Akhyar. Mereka melihat pada
perintah dari qutb, untuk dilaksanakan. Allah (swt) membuat mereka menjadi Ahlu
'l-Fadl, Orang-orang yang beroleh nikmat, dan Allah (swt) memberi nikmat kepada
hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu mereka harus meraih dan membagi kenikmatan
surgawi itu kepada setiap orang.


Jadi ada Ghawts, lima qutb dan di bawah kelima qutb ada lima kelompok yang
berbeda. Yang pertama adalah "Budala," yang Allah (swt) jadikan mereka sebagai
Ahlu'l-Fadl dan Dia membuat mereka begitu dermawan. Mereka harus berbagi dengan
semua orang, dan mereka tidak bertanya (tentang posisi seseorang); apakah orang
itu mengatakan kebenaran atau tidak, mereka memberikannya fii saabiilillah, di
Jalan Allah. Mereka selalu dalam keadaan istiqaamah, berada di Jalan Yang
Benar. Jika kalian melihat sesuatu dari mereka yang tidak kalian mengerti,
jangan merasa keberatan, kalau tidak kalian akan merugi; karena mereka bisa saja
melakukan sesuatu yang tidak masuk akal bagi kalian. Tetapi mereka tahu hikmah
di balik itu dan tujuan mereka adalah ke sana, karena mereka selalu dalam
istiqaamah, berada di Jalan Yang Benar, maka mereka tahu. Kalian tidak selalu
bisa berada di Jalan Yang Benar, kalian mungkin berada di jalur pengalihan atau
jalur keluar. Jalan tol adalah lurus dan ada banyak jalur keluar. Jika kalian
keluar, kalian tidak berada di jalan tol itu lagi. Kalian tidak dapat melihat
apa yang dapat dilihat oleh awliyaullah. Kalian keluar, mungkin pada jalur
keluar pertama, kedua atau ketiga. Awliyaaullahtidak keluar. Mereka tetap
berada di jalan tol yang lurus, Jalan Yang Lurus, Siraath al-Mustaqiim. Jadi,
ketika kalian keluar, kalian melihat dari jarak jauh, dan kalian mungkin tidak
melihat apa yang dilihat oleh waliyang berada di jalan tol tersebut. Jangan
mencoba untuk menimbang-nimbang apa yang waliketahui melalui pikiran kalian.
Karena Allah (swt) membuat para Abdaal ini untuk menyelamatkan mereka dari
imajinasi atau khayalan mereka. Takhallasuu min al-khayalaat,"Mereka membebaskan
kalian dari imajinasi/khayalan." Kita, orang-orang biasa penuh dengan khayalan,
seperti di padang pasir, kalian melihat fatamorgana, dan kalian berpikir bahwa
kalian melihat sebuah oasis atau sumur, tetapi ketika kalian lari mengejarnya,
kalian tidak mendapatkan apa-apa. Ini adalah wahm, imajinasi, khayaal. Seorang
wali akan melihat bahwa di sana tidak ada apa-apa. Itulah sebabnya kalian
memerlukan seorang pemandu, kalian tidak bisa sendiri.


Allah (swt) memberi mereka empat tugas yang berbeda yang bersifat fisik dan
empat lainnya yang tersembunyi dan bersifat spiritual. Tugas fisik pertama dari
para Abdaal adalah untuk tetap diam, mereka tidak bicara. Itu seperti apa yang
Sayyidina Ali (q) katakan. "Untuk melindungi diri kalian (dari dosa), pertama
adalah jangan bicara, as-samt." Ketika kalian bicara, kalian mulai menunjukkan
bahwa kalian tidak mengetahui apa-apa. Seperti apakah tidak bicara itu? Itu
bukan hanya tidak bicara kepada orang-orang, tetapi untuk membuat kalbu kalian
tidak bicara menentang orang lain dengan melemparkan suuw al-khaatir,
pikiran-pikiran buruk kepada mereka. Itu artinya, tidak hanya melalui lidah
kalian, tetapi samtharus dilakukan dengan lidah dan kalbu kalian. Berapa banyak
kita menuduh atau mengecam orang lewat kalbu kita dan berbicara buruk tentang
mereka? Gosip setani selalu masuk ke dalam kalbu kita atau pikiran kita dan
kita mulai mengatakan hal-hal yang tidak baik dalam haqq al-aakhiriin, hak-hak
orang lain. Jadi Allah (swt) memberi para abdaal kekuatan fisik untuk tetap
diam dan itulah sebabnya kalian tidak mengenal mereka, bisa jadi mereka muncul
dalam sosok orang yang kalian kenali atau orang yang tidak kalain kenal, dan
mereka tetap diam.


Dan yang kedua, Allah (swt) memberi mereka kekuatan untuk sahr,untuk tetap
terjaga sepanjang malam, tidak tidur. Dapatkah kalian terjaga sepanjang malam?
(menunjuk kepada seseorang dalam majelis) Kau, masyaa-Allah, tidur seharian,
siang dan malam! (tertawa) Itu bukan hanya tidur secara fisik, di mana Allah
membuat mereka tidak tidur, tetapi kalbu mereka juga tidak tidur, kalbu mereka
selalu menjaga manusia.


Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya, Nabi (s) bersabda, “Ketika
kalian berada di hutan atau padang pasir dan merasa takut, panggilah
`ibaad-Allah, Abdaal, pengganti, rijaal-Allah.Mereka akan datang dan membantu
kalian."


Di manakah hutan belantara itu? Di mana-mana ada belantara; tidak mesti
belantara sungguhan. Berada di antara orang-orang juga berarti berada di
belantara. Karena ketika kalian mempunyai orang-orang dengan keyakinan yang
berbeda, pikiran, perbuatan, perilaku, ide-ide yang berbeda, itu merupakan
sebuah belantara dari hasrat-hasrat rendah. Allah (swt) memberi para Abdaal
ini, kekuatan untuk pergi ke mana-mana, karena setiap tempat adalah belantara;
sekarang tidak ada lagi tempat yang murni di dunia ini. Kalian melihat Balad
al-Haraam di Mekah adalah murni, dan di Madinah, itu murni dan di Masjid al-Aqsa
itu murni, dan di Syam (Damaskus) itu murni. Allah (swt) memberi kita ini.
Tetapi tetap saja, bahkan di tempat-tempat yang murni ini, sekarang orang-orang
tidak berperilaku dengan benar. Maka itu adalah sebuah belantara sehingga
mereka memerlukan awliyaaullah, Abdaal untuk mencapai mereka. Mereka mengambil
perintah dari qutbdan mereka melakukannya. “Pergilah ke sini, pergi ke sana,
muncul di tempat ini dan muncul di tempat sana.” Kadang-kadang mereka
menggunakan cara fisik yang normal, kadang-kadang mereka menggunakan cara-cara
spiritual. Mereka tidak suka memperlihatkan karamah, keajaiban, mereka ingin
memperlihatkan kenormalan kepada setiap orang.


Dan Dia memberikan mereka kukuatan untuk sahr `ala raahat an-naas. Jika seorang
bayi sakit di rumah sakit, kalian akan menungguinya sepanjang malam. Mereka
menjaga setiap orang dengan cara spiritual mereka untuk mengangkat orang yang
telah kehilangan imannya atau kehilangan tugasnya pada saat siang hari. Mereka
mencapainya dan mereka tidak membeda-bedakan satu dari yang lainnya, karena
mereka telah diperintahkan untuk mencapai orang-orang yang memerlukan.


Selalu, jika ada makanan, mereka makan dan jika tidak ada makanan, mereka tidak
peduli, mereka tidak makan. Al-juu`adalah salah satu dari karakteristik mereka,
lapar. Mereka ingin merasakan, bahwa ada orang-orang yang tidak mempunyai
makanan, mereka bersimpati kepadanya, dan mereka tidak makan. Tetapi kita
berlari untuk mengisi perut kita dan mengunyah sepanjang hari.

Mereka selalu menjadwalkan diri mereka. Mereka mempunyai karakteristik ini
untuk menjauh dari orang-orang. Ketika saatnya mereka muncul, mereka akan
muncul, kalau tidak mereka akan mengasingkan diri mereka.


Jadi mereka mengemban karakteristik ini, khususnya as-samt, yakni untuk tetap
diam. Bicara mereka hanyalah zikrullah. Kalian lihat selalu Nama Allah di
lidahnya, baik AllahAllah, ataula ilaaha illa-Llah,atau selawaatatas Nabi (s).


Mereka tidak tidur, karena mereka sibuk sepanjang malam meraih orang-orang
ketika mereka tertidur. Dan juga, makna spiritual dari tidur adalah
ghaflah,menjadi lalai, dan mereka tidak akan mengizinkan diri mereka menjadi
lalai. Mereka selalu melihat pada kelima qutb, dan kelima qutb selalau melihat
pada ghawts, dan ghawts selalu melihat pada Nabi (s).

Ini adalah karekateristik dari Abdaal yang sangat penting untuk dipahami,
bagaimana para awliyaullahberinteraksi dengan bereaksi. Dan sebagian menyukai
kisah, sementara yang lain menyukai sesuatu yang lain, tetapi karena kita
memasuki samudra ini, kita harus menyelesaikannya.


Wa min khawaas al-abdal man syafara mina 'l-qawmi mawd`iihi wa man taraka
jasadan `alasuratih.Dan di antara karakteristik yang Allah (swt) berikan kepada
mereka adalah bahwa dari lingkaran dalam Abdaal, karena Abdaal mempunyai jumlah
yang berbeda-beda--beberapa hadis mengatakan jumlahnya empat puluh, yang lain
mengatakan tujuh--dari Abdaal dengan level tertinggi, adalah bahwa mereka
menempuh perjalanan dari tempat-tempat mereka, meninggalkan tubuhnya, dan
mengeluarkan duplikatnya dari tubuhnya dan mereka pergi ke seluruh dunia mencari
orang-orang yang memerlukan pertolongan dan mereka membantunya. Itulah sebabnya
ketika kalian melihat seorang wali yang terlihat seperti tidur, jiwa mereka
meninggalkan tubuhnya. Dan ketika mereka tidur, jangan bangunkan mereka, sebab
kalian akan membuat kesalahan, kecuali mereka memberi instruksi, “Bangunkan kami
pada saat itu.” Itu artinya kalian memanggilnya kembali, ketika mereka
mengatakan kepada kalian, “Bangunkan kami,” itu artinya, “Panggil kami kembali,”
maka kalian bagaikan alarm bagi mereka, tetapi jika mereka tidak mengatakan
apa-apa kepada kalian, jangan bangunkan mereka.

Saya melihat hal ini bersama Grandsyekh (q) dan Mawlana Syekh Nazim (q). Suatu
ketika saya melewati jendela di kamar Grandsyekh, di mana pada saat itu sedang
ada zikir dan di situ ada jendela. Satu sisi diri saya mengatakan untuk melihat
ke dalam dan sisi lainnya mengatakan agar tidak melihat. Dan untuk hal-hal
seperti ini, kalian tidak bisa mengendalikan diri kalian. Jika kalian tidak
melihat, maka kalian kehilangan kesempatan. Jadi saya melihat dan saya melihat
Grandsyekh duduk seperti itu dan membuka mulutnya. Dan saya merasa syok melihat
hal itu, kalian tahu pada hari-hari yang dingin bila kalian pergi keluar dan
kalian meniupkan mulut kalian, maka akan keluar semacam kabut? Saat itu yang
keluar adalah cahaya. Dan dari kepalanya keluar cahaya kehijauan, dari mulutnya
keluar warna putih dan mereka bercampur, seperti pelangi. Seluruh langit-langit
lenyap dan kalian melihat itu membumbung ke atas melalui alam semesta ini sampai
kalian tidak dapat melihatnya lagi. Dan pada saat itu saya gemetar. “Mengapa
kamu melihat sesuatu yang bukan untukmu? Pergi dari sini.” Dan
alhamdulillahSaya mengambil kesempatan itu, Saya tidak melewatkannya, untuk
melihat hal itu. Yaa Rabb, jadikanlah beliau terus mendukung kami! Dan
panjangkan usia Mawlana Syekh.

Jadi awliyaaullahketika kalian melihat mereka berada di tempat tidur, atau di
lantai atau di kursi, jangan sentuh mereka. Jangan bangunkan mereka. Mereka
tidak berada di sana, mereka tidak hadir di sana. Tujuh hari Grandsyekh berada
dalam khalwat meninggalkan tubuhnya dan pergi ketika Sayyidina Syah Naqsyband
(q) muncul kepadanya dalam sebuah penglihatan dalam khalwat. Beliau
meninggalkan tubuhnya selama tujuh hari, tidak bergerak. Dan istrinya berlari
menemui Grandsyekh Syarafuddin (q), paman dari Grandsyekh, dan berkata,
"Abdullah Effendi meninggal dunia." Beliau berkata, “Tidak, ia tidak meninggal.
Tinggalkan dia, ia akan kembali setelah tujuh hari.” Jadi awliyaamempunyai
kekuatan itu. Jika mereka mengatakan kepada kalian, terimalah. Jika mereka
tidak mengatakan apa-apa, kalian bebas untuk melakukan apa yang kalian inginkan.
Tetapi al-amru fawq al-adab,"perintah berada di atas adab." Jika meminum dari
sebuah cangkir merupakan perilaku yang tidak baik, tetapi jika Syekh mengatakan
kepada kalian, “Minum”, maka lakukanlah. Jangan mengakatan, “Wahai Syekh, itu
adalah cangkirmu, itu bukan cangkirku.” Jika Syekh mengatakan pergilah ke
tempat ini, maka pergilah. Jangan katakan, “Aku tidak mau pergi.” Pergilah!
Itulah makna dari perintah lebih penting daripada adab. Di dalam kalbunya lebih
tinggi dari apa yang kalian pikirkan. Ada hikmah di situ, untuk melaksanakan
perintahnya.


Dan itulah sebabnya mengapa kalian melihat mereka dan selalu mereka tahu jika
ada yang keberatan. Dan Grandsyekh berkata, semoga Allah memberkati jiwanya,
“Aku tidak pernah memberikan perintah kecuali kepada dua. Dua orang muridku.”
Beliau biasa mengatakan Nazim Effendi, Husayn Effendi. Mereka tidak punya
keraguan. Ketika syekh memberi kalian sebuah perintah, jangan coba-coba untuk
menimbang-nimbangnya dengan pertimbangan kalian. Jangan katakan, “Aku melakukan
hal ini, itu, sibuk di sini atau sibuk di sana.” Tidak, lakukan! Suatu hari
beliau berkata kepada saya, “Aku ingin kau mengantarku pergi ke pusat kota
dengan mobil.“ Grandsyekh (q), dan itu adalah mobil yang sangat baru. Saya akan
meringkas ceritanya. Apakah kalian ingin mendengarnya? (Ya, tuan) Saya pernah
menceritakan sebelumnya, di mana saya mengatakannya?

Alhamdulillah, kakak dan ayah saya senang mengendarai mobil, jadi kami selalu
mempunyai mobil terbaru, sepuluh mobil. Dan setiap tahun kami mempunyai yang
baru, kami menggantinya. Pada suatu ketika kami membeli mobil yang sangat
bagus, sangat mahal, sebuah mobil sport, dan itu adalah Jaguar. Saudara saya
berkata, “Ayo kita kunjungi Mawlana dengan mobil ini. Jadi kami pergi, dan kami
sampai, kami naik ke atas untuk mengunjunginya dan beliau berkata, “Hari ini aku
ingin pergi ke pasar bersama kalian, jadi bawalah aku ke bawah.” Kami berkata,
“OK.” Kami senang, karena itu adalah mobil yang bagus, dan itu adalah mobil
yang kecil, sebuah mobil sport. Dan beliau turun dan berkata, “Apa ini? Ini
adalah sampah. Apakah kamu pikir ini adalah mobil? Naqsybandi harus mempunyai
yang terbaik." Ini adalah yang terbaik. Beliau berkata, “Ganti mobil itu,
carilah mobil yang besar.” Jadi kami pergi ke pasar dan itu adalah pasar yang
kecil. Beliau berkata, “Aku ingin membeli kayu.” Kalian tahu, mereka memotong
kayu di sana dan menjualnya. Jadi Mawlana Syekh mengisi mobil dengan kayu dan
semua kotoran yang berasal dari kayu itu memenuhi bagasi kecil dan salah satu
kursi. dan beliau berkata, “Lain kali jangan datang dengan mobil itu, bawalah
mobil yang besar.” Beliau mengajarkan, “Jangan mempunyai cinta terhadap dunia
di dalam hati kalian.”


Kini, menurut pikiran kita, ini adalah mobil terbaik, tetapi beliau memberikan
ke dalam pikiran kita bahwa dunia tidak boleh menjadi akbar hamminaa,dunia itu
tidak boleh menjadi perhatian utama kita. Jadi di lain waktu, ayah kami membeli
sebuah Lincoln, dan itu adalah mobil yang besar dengan kursi berwarna coklat
muda dan kami berkata, "Alhamdulillah,kami membawa mobil ini.” Kami pergi ke
Suriah dan Grandsyekh (q) berkata, “Yaa, awlaad,aku ingin membeli sesuatu di
pasar.” Jadi kami bawa beliau ke dalam mobil dan beliau berkata, “Ini baru
mobil. Dengan mobil ini aku bisa pergi dan merasa nyaman. Ini adalah untuk
Naqsybandi.” Jadi mereka ingin agar murid menjadi yang terbaik. Jika kalian
miskin, tidak masalah, tetapi berlakulah yang terbaik, bicaralah yang terbaik.
Maka orang-orang akan melihat bahwa tarekat ini adalah sesuatu yang hebat.
Jangan terlihat miskin. Apakah kalian mengerti maksudnya? Itu artinya jangan
terlihat miskin dalam penampilan kalian, terlihatlah kaya. Lihatlah mutahammis,
mempunyai semangat, yazal, perlihatkan bahwa kalian hebat dengan tarekat ini,
bukannya orang yang bau, orang yang miskin dalam perilaku kalian. Miliki
perilaku yang kaya: untuk menerima dan tidak untuk menyangkal, untuk memberi dan
tidak serakah, untuk mencintai setiap orang dan mengulurkan tangan kepada setiap
orang. Bahkan jika kalian menerima dari yang lain apa yang kalian tidak sukai,
jangan dikembalikan. Jagalah hubungan baik kalian. Selama tujuh tahun Nabi (s)
mempunyai seorang tetangga yang selalu melempari sampah ke pintunya, beliau
tidak pernah mengeluh. Tujuh tahun dan setiap pagi, di saat Subuh, beliau
melihat sampah itu dan mengambilnya dan tidak memberi tahu siapa-siapa. Dan
akhirnya tetangganya itu sakti parah, setelah tujuh tahun dan beliau
menjenguknya. Dan tetangga itu berkata, “Wahai Rasulullah (s), tujuh tahun aku
memberimu masa-masa yang berat. Jika ini adalah Islam, maka aku menerima
Islam.” Itulah ajaran awliyaullah.


Jadi kami membawa Grandsyekh (q) dan beliau berkata, “Bawa aku ke toko arang.”
Ada dua jenis arang, arang kayu yang panjang dan arang dari dalam tanah yang
mempunyai banyak debu. Beliau membawa karung-karung arang dan berkata kepada
penjualnya, “Masukkan ke bagasi,” dan bagasi itu menjadi hitam berdebu. Tetapi
itu belum cukup, dan beliau meletakkan arang di kursi sehingga warnanya yang
coklat muda semuanya menjadi hitam. Dan beliau sangat senang, beliau melihat
kepada kami untuk melihat apa yang akan kami katakan; apa yang bisa kalian
katakan? Lalu mereka mengatakan pada kalian, “Jangan lihat pada perbuatan kami,
ada hikmah di situ.” Itu artinya jangan buat kalbu kalian kotor seperti debu
arang, jagalah agar kalbu kalian senantiasa bersih.” Jika mereka berkata,
“Lakukan ini,” maka lakukanlah. “Jangan lakukan ini,” maka jangan dilakukan.
Dengan begitu kalian akan berhasil.

Kita akan melanjutkannya nanti, insya Allahbesok pagi. Semoga Allah (swt)
mengampuni kita dan menjaga kita agar tetap berada di bawah rahmat Nabi-Nya,
Sayyidina Muhammad (s), dan di bawah Rahmat Allah dan rahmat awliyaullah.Tanpa
itu, kita akan tersesat.

Sayyidina Muhammad al-Busayri (q) berkata:
Tuuba lana ma`ahsyar-Islaami inna lana min al-inayaatai ruknan ghayra munhadim.
Kabar gembira bagi kami, orang-orang yang Islam.

Beliau (s) bersabda, ma`ahsyar al-Islaam, orang-orang yang Islam, bukannya,
ma`ahsyar al-muslimiin, Muslim. Itu artinya orang-orang yang Islam adalah
mereka yang menerima Islam dengan kesempurnaannya. Muslim belum berada dalam
kesempurnaan, jadi Muslim tidak berada dalam kabar gembira. Mereka yang telah
menyempurnakan Islamnya berada dalam kabar gembira. Mereka yang belum, yang
masih bergunjing, tidak menerima kabar gembira. Beliau berkata, "Kabar gembira
bagi orang-orang yang Islam. Inna lana min al-inayaati, "Allah (swt) mengaruniai
kita dari berkah-Nya yang tak terhingga sebuah kutub pendukung yang tidak pernah
runtuh,” Itu artinya adalah Nabi (s).


Wahai Muslim! Sebagaimana yang Mawlana katakan, wahai hadirin! Jika kita
kehilangan cinta terhadap Ahlu 'l-Bayt, maka kita kehilangan cinta terhadap Nabi
Muhammad (s), sebagaima dinyatakan dalam Kitab Suci Al-Qur'an:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىQul laa
asalukum `alayhi ajran illa 'l-muwaddata fi 'l-qurba.
Katakan: "Aku tidak meminta suatu upah pun terhadap seruanku, kecuali kasih
sayang dalam kekeluargaan." (42:23)

Katakan, Wahai Muhammad, "Aku tidak meminta upah dari seruanku. Aku tidak
meminta apa-apa, aku akan memberikan apa pun, tetapi aku hanya meminta satu hal:
cintailah keluargaku. Jagalah wud, kasih sayang, kekelurgaan, dan cinta untuk
keluargaku.”


Di mana cinta untuk keluarga Nabi (s) sekarang? Di mana kalian, Ahl as-Sunnah
wal-Jama`ah, memperlihatkan cinta kepada keluarga Nabi (s)? Itulah sebabnya
kita diperintakan untuk melakukannya. Allah (swt) berfirman dalam Kitab Suci
Al-Qur’an, Qul laa asalukum `alayhi ajran illa 'l-muwaddata fi 'l-qurba."Aku
tidak meminta sesuatu untuk apa yang telah kulakukan padamu, tetapi cintailah
keluargaku dan sayangilah mereka,” hingga Hari Kiamat. Apakah kalian mencari?
Di mana Ahlu 'l-Bayt? Menuliskan nama, menuliskan emailnya, membuat koleksi
kelurga Ahlu 'l-Bayti. Jumlahnya pasti jutaan sekarang! Apakah kalian
mempunyai hubungan bersama? Tidak. Itu adalah apa yang Nabi (s) minta, “Aku
hanya meminta untuk tetap mencintai mereka.” Itu artinya kalian harus mencari
mereka, dan khususnya beberapa Ahlu 'l-Bayt yang juga awliyaullah. Apakah
kalian mencari mereka?

Dan itu adalah pesan kami. Allah (swt) menempatkan awliyaullahdi mana-mana di
bumi ini untuk membimbing kita kepada Ahlu 'l-Bayt, untuk bertemu dengan mereka
dan mengambil barakah dari mereka. Terlebih lagi, jika tidak semua
awliyaullahberasal dari Ahlu 'l-Bayt. Lihatlah Sayyidina Salman al-Farsi (r)
yang bukan berasal dari darah Nabi (s), tetapi Nabi (s) menjadikannya sebagai
bagian dari keluarganya, karena cintanya kepada beliau. Beberapa orang seperti
Salman al-Farsi (r), dianggap termasuk Ahlu 'l-Bayt. Nabi (s) meninggalkan
sebuah hadis autentik, “Aku meninggalkan dua hal, di mana bila kalian
menjaganya, maka kalian tidak akan kehilangan jalan, mereka adalah: kitaabullah,
Kitab Allah, dan `itratii, keluargaku." Beliau meletakkan keluarganya bersama
Kitab Allah. Maka jagalah Ahlu 'l-Bayt. Jika kalian sungguh-sungguh
`ulamakalian tahu bahwa Dia memuliakan mereka untuk menjadi Ahlu 'l-Bayt. Tidak
setiap orang berasal dari Ahlu 'l-Bayt. Allah (swt) memberi mereka cinta itu
dari Nabi (s), dan setiap orang harus menghormati mereka. Semoga Allah (swt)
memberi kita kehormatan yang kita perlukan untuk Ahlu 'l-Bayt, dan semoga Allah
memberkati kita.

Bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.