02 July 2008

Rajab tara al-‘ajab

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

22 September 2001

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Kalian merencanakan sesuatu, Allah SWT merencanakan sesuatu yang lain pula. Huwa Muqallib al-qulub, huwa Allah, Hati manusia berada dalam genggaman Allah SWT. Dia mengubahnya sesuai keinginan-Nya. Allah SWT adalah al-Mudabbir, Dialah sang Perencana. Apa yang Allah SWT rencanakan akan terjadi. Oleh sebab itu lakukanlah tahmid (alhamdulillah), tahlil (la ilaha illa-Allah) dan istighfar (astaghfirullah) sebanyak-banyaknya.

Apa yang akan terjadi sangat dahsyat sehingga para wali berusaha untuk menyembunyikan diri mereka di belakang (atau di balik) tirai yang besar dan di tempat perlindungan. Naungan surgawi. Mereka bertanya-tanya hukuman seperti apa yang akan dijatuhkan kepada dunia ini, disebabkan oleh ketidakpatuhan dan dosa-dosa serta tindakan dan perilaku yang buruk dari umat manusia. Tidak ada lagi adab, hormat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Korupsi di mana-mana. Muslim tidak mengetahui jati dirinya. Muslim berusaha untuk mengikuti jejak menirukan apa yang disebut dengan peradaban. Dengan dalih peradaban itu muslim kehilangan identitasnya. Mereka menjadi (tenggelam) dalam dunia materialisme, tidak ada lagi cinta terhadap Tuhan mereka kecuali hanya di lidah saja. Tidak ada lagi hati nurani. Tidak ada cinta di hati mereka. Beberapa di antara mereka bertindak dengan perilaku yang buruk menjadi liar, membunuh orang-orang tak berdosa, di mana-mana.

Yang lainnya begitu kebingungan dengan pemahaman mereka akan Islam dan tiada lagi yang tersisa dari Islam bagi mereka kecuali dasi dan jaket atau janggut kecil seperti Iblis di bagian tengah dagu mereka, atau janggut tipis di seputar dagu naik dan turun dari tiap sisinya. Mereka lebih suka memakai topi lusuh di kepala dari pada meletakkan mahkota Islam, yang merupakan tanda keislaman, yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, yaitu turban. Seolah-olah mereka tidak mewakili Islam.

Ketika kalian melihat mereka duduk di samping para pendeta Yahudi dan Kristen, yaitu rabbi dan pendeta, kalian lihat mereka mengenakan jubah yang lengkap. Tetapi Muslim tampak seperti yang kehilangan cahaya di raut mukanya, dari cara mereka berpakaian, dari cara mereka mewakili Islam di mata masyarakat. Jika Islam berada di tangan mereka maka Islam tidak berdosa.

Para wali menghindari pembalasan Allah SWT sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Para wali berada di dalam kubah-Ku.” Hadis ini merujuk kepada hari kiamat, ketika para wali berlari menuju kubah spiritual untuk melindungi diri mereka dan para pengikutnya. Bulan ini adalah Rajab dan para wali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka hanya mengisi waktunya dengan salat dan berdoa memohon kepada Allah SWT agar dimudahkan dan hukuman-Nya diringankan bagi umat manusia. Ramadan, bulan yang penuh rahmat dan ibadah akan datang.

Cahaya yang timbul dari pembacaan (kalimat-kalimat zikir) malam ini, terutama bila kita menyebut Rasulullah SAW, berasal dari Haqiqat an-Nabi SAW, hakikat dari Nabi Muhammad SAW dalam Hadirat Ilahi, dari hati Nabi Muhammad SAW yang dilukiskan sebagai Yaa Siin yang pada hakikatnya adalah Yaa dan Siin, yang merupakan jantungnya Al-Quran. Dari realitas itu maka terbukalah hati orang-orang yang berzikir yang semuanya merupakan pengikut setia dari Sayyidina Muhammad SAW… Semoga Allah SWT mengampuni kita dan menjaga kita tetap berada dalam rambu-rambu Islam dan Sunah dan semoga Allah SWT melindungi kita dan orang-orang yang tulus dari apa yang akan datang. Sebagaimana yang telah dilukiskan bahwa seorang anak berusia 7 tahun akan menjadi putih dari apa yang akan datang ke hadapan kita. Semoga Allah SWT melindungi kita. Demi Rasulullah SAW yang tercinta. Bihurmatil habib. Al- Fatiha.

No comments: