Showing posts with label Motivasi Ibadah. Show all posts
Showing posts with label Motivasi Ibadah. Show all posts

23 February 2009

Jadikan Ibadah Kita Menyenangkan

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Jika seorang manusia akan melakukan sesuatu misalnya ibadah atau perbuatan lain, maka hal itu harus dilakukan dengan sukarela dan menyenangkan. Jika tidak menyenangkan dalam mengerjakannya, seharusnya ia tidak melakukannya, karena hasilnya tidak akan bagus. Jika tidak menyenangkan bagi kalian, maka tidak menyenangkan pula bagi Allah SWT. Misalkan dalam beribadah, penting untuk disadari bahwa ini menyangkut kenikmatan roh kita. Saat beribadah, nafsu kita tidak menyukainya namun roh kita sebaliknya. Kita harus mencari apa yang membuat roh kita menyukainya.

Segala tindakan mungkin mudah atau susah. Apa rahasianya? Jika seseorang menganggap suatu kegiatan itu mudah, berarti pekerjaan itu memberinya kenikmatan. Dan mereka yang menganggap suatu pekerjaan itu sulit, itu karena ia dipaksa untuk melakukannya. Pekerjaan yang mudah membuat orang senang, pekerjaan susah membuat orang tidak senang.

14 May 2008

Mengingat Mati adalah Jalan Menuju Aspirasi yang Tinggi

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berkata, seseorang mengganggap dirinya berada dalam tarekat, menanyakan bagaimana jalan menuju Allah SWT (begitu banyak orang yang tidak berpengetahuan mengkritik tarekat, padahal tarekat hanya suatu jalan menuju Hadirat Ilahi, Anda harus bisa masuk ke dalam barisannya, jika tidak Anda tidak akan sampai ke sana). Berpikir tentang kematian adalah sangat penting. Kita harus menjaganya sebagai suatu perintah yang harus dilaksanakan, minimal empat kali dalam sehari kita harus mengingatnya. Kematian adalah jalan bagi setiap orang untuk bisa berhubungan dengan alam Surgawi. Empat kali sehari kita harus membayangkan bagaimana kita akan meninggalkan tubuh ini dan pergi menuju alam Surgawi. Ini merupakan suatu latihan, jadi jika kematian datang, orang-orang sudah siap dan tidak terkejut lagi. Kematian adalah jalan satu-satunya untuk menuju Tuhan. Rasulullah SAW bersabda, “Jika orang tidak menyukai kematian, Tuhan tidak akan menyukainya. Jika dia senang bertemu Tuhannya, Tuhan akan senang bertemu dengannya.”

Tarekat adalah jalan yang lebih kuat dari syari’at, misalnya seseorang bisa saja berwudu sekali untuk 5 kali salat fardu, tetapi jika orang bewudu setiap ia mau melakukan salat berarti ia menjaga syari’at dengan kuat. Sama halnya dengan dibolehkannya salat di rumah atau di toko, tetapi untuk salat berjamaah berarti menjaga syari’at dengan kuat. Ini adalah persoalan kemampuan individu setiap orang. Beberapa orang mempunyai, himma, aspirasi yang tinggi untuk beribadah, tepai yang lain malas atau mendekati malas. Anda tidak bisa bilang kepada mereka, “Ayo bagun, ulangi wudumu, “ mereka akan bilang, “Saya masih punya wudu!” meskipun pada kenyataannya lebih banyak wudu berarti lebih banyak cahaya, nur ala nur, cahaya di atas cahaya.

Grandsyekh berkata bahwa orang yang mengingat kematiannya 4 kali sehari membuat para awliya menjaganya. Penting sekali agar Cahaya Ilahiah yang dimiliki para awliya itu masuk ke dalam hati seseorang sehingga ia akan memperoleh kesenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Kita harus memohon agar selalu dijaga oleh mereka. Dengan mengingat kematian, seseorang juga bisa diterima dalam tarekat. Tindakan ini juga berarti menjaga syari’at dengan kuat karena dengan mengingat kematian seseorang akan terhindar dari perbuatan yang tidak senonoh seperti minum minuman keras, merokok, mengkonsumsi obat terlarang, dan berzina. Orang yang sudah terlanjur jatuh tidak mempunyai pikiran sehat lagi. Mereka tidak bisa berpikir, tetapi seperti binatang yang dikuasai ego mereka. Atau jika mereka bisa berpikir, mereka tidak bisa menghentikan dirinya dan tidak mempunyai daya untuk keluar dari dunianya. Mengingat mati juga bisa menjaga seseorang dari kejahatan dan dari kejatuhan ke tangan Setan.

Setiap Tindakan Seolah-olah itu yang Terakhir

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Dalam hidup ini setiap orang melakukan suatu pekerjaan. Sebagian besar mereka bekerja seperti robot, tidak berpikir, dan hanya bertujuan agar bisa makan, minum, bergoyang dan segala hal yang menyenangkan bagi egonya. Hanya sebagian kecil saja orang yang bekerja untuk dirinya dan untuk keyakinannya terhadap Tuhan dan Hari Kemudian. Mereka berjuang demi penghargaan dan kehormatan dari Tuhannya. Ini adalah jalan yang benar bagi umat manusia. Jalan ini memberi kedamaian dan kepuasan dalam hati. Di antara sekian banyak pekerjaan dan ibadah yang kita lakukan, kita juga harus mengetahui mana yang paling berharga.

Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS pernah bertanya, “Apa yang membuat ibadah kita paling disukai oleh Allah SWT?” Kita harus mengetahuinya lalu mengikuti dan harus bisa senang melakukannya, karena jika kita senang, Allah SWT akan senang terhadap kita. Grandsyekh berkata, “Seorang yang beribadah harus mempunyai pikiran bahwa ‘Ini adalah ibadahku yang terakhir’ dan ia harus menyatakan pikirannya itu kepada egonya. Dengan berpikir seperti itu ibadahnya menjadi sangat berharga, karena setiap indra akan terlibat dalam hatinya. Ia tidak berpikir tentang kehidupan ini, melainkan hanya kehidupan setelah mati. Siapa yang malakukannya akan mendapatkan hatinya hadir dalam Hadirat Ilahi dan menjadikan setiap ibadahnya bernilai tinggi. Jika hati tidak hadir ketika seseorang melakukan sesuatu, maka tindakan tersebut tidak baik. Dengan berpikir bahwa kematian selalu mendampingi kita, maka hati kita akan hadir dalam melakukan ibadah. Ini merupakan perilaku baik yang sangat penting. Bahkan untuk pekerjaan menulis sebuah buku, jika ia berkata, “Ini adalah pekerjaan terakhirku,” itu berarti ia akan melakukannya dengan sepenuh hati.