Showing posts with label Syekh ‘Abdullah QS. Show all posts
Showing posts with label Syekh ‘Abdullah QS. Show all posts

26 July 2008

Ingat! Syekh selalu Memperhatikan Kalian

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Washington DC, 12 Juni 1994


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Suatu ketika, Grandsyekh Mawlana Syekh Abdullah ad-Daghestani QS duduk bersama Syekh Syarafuddin ad-Daghestani QS pada sebuah konferensi para ulama. Seorang pria memasuki ruangan sambil membawa sebuah al-Qur’an berukuran besar. Dia berjalan menuju ke arah Grandsyekh dan berteriak, “Berdiri!” Semua yang hadir khawatir dia akan berbuat sesuatu pada Grandsyekh. Grandsyekh berdiri dan laki-laki itu meletakkan Qur’an di atas sebuah kursi. Semua ulama memperhatikan apa yang akan dia lakukan. “Duduklah di atas Qur’an itu!” perintahnya pada Grandsyekh.

Syekh Abdullah Fa'iz ad-Daghestani QS

Syekh Syarafuddin QS hanya tertawa melihat hal itu, tetapi para ulama terlihat geram dan marah, “Apa maksudmu menyuruh Grandsyekh duduk di atas Qur’an? Haram! Hal itu tidak bisa dibenarkan!” Namun sekali lagi pria itu berteriak, “Itu dibenarkan! Aku ini alim, aku paham tentang al-Qur’an di dalam hatiku dan hafal setiap ayat-ayatnya, tetapi apa yang beliau lakukan padaku kemarin, tidak bisa dilakukan oleh al-Qur’an. Beliau mampu melakukannya karena beliau adalah Qur’an natiq, Qur’an yang bisa berbicara!“

Grandsyekh tidak melakukan apa yang diperintahkan pria itu. Namun semua yang hadir ingin mendengar cerita selengkapnya. Pria itu pun mulai bercerita, ”Kemarin seseorang mengundangku untuk mengajarkan al-Qur’an pada anak-anaknya. Aku pun pergi ke sana dan mengajari mereka. Ketika anak-anak telah tidur, nyonya rumah yang sangat cantik bermata biru dari Daghestan mengajakku untuk tidur dengannya. Setan pun menggodaku. Apa yang bisa kulakukan? Aku pun masuk ke kamarnya dan mulai membuka baju…” (Kalian bisa lihat, dalam situasi seperti ini ajaran Mawlana mencakup kalangan bawah sampai komunitas atas. Beliau mampu mengajari segala macam strata masyarakat dan berbicara menurut apa yang mereka sukai sehingga membuat mereka semua bahagia).

“Wanita itu membuka pakaiannya. Aku pun melakukan hal yang sama dan kami menuju ke arah tempat tidur. Allah SWT memberiku nafsu syahwat lebih besar dari para pemuda di desaku. Aku mempunyai nafsu terhadap wanita 70 kali lebih besar dari mereka. Dalam semalam aku bisa melakukannya selama 10 kali! Aku sangat mencintai Grandsyekh, namun aku tidak kuasa menahan diri. Maka ketika dia mengundang, aku pun masuk ke kamarnya. Setelah sampai ke tempat tidur, aku mulai memeluknya, namun gambaran wajah Grandsyekh Abdullah QS muncul di dinding. Ketika aku melihatnya, aku pun berpaling dan mengacuhkannya. Namun Grandsyekh muncul di permukaan dinding lain. Ke mana pun aku menoleh, gambaran Grandsyekh tetap muncul.”

Akhirnya orang itu berpikir, ”Tidak apa-apa, aku akan berada di atas, sehingga hanya wajah wanita ini yang terlihat olehku.” Dan ketika pria itu akan melakukannya, Grandsyekh muncul dan berteriak, “AWAS!!” Begitu beliau berteriak “Awas”, maka ibu jari-ku terbelah dan sperma keluar dari sana, aku kehilangan semua gairahku. Grandsyekh mengambil semua nafsuku. Lihatlah ibu jariku ini!”

Semua orang melihat ibu jarinya yang terbelah dua dan terbuka tanpa terlihat ada luka di sana. “Semua nafsu seksualku keluar melalui jari ini. Apa yang Qur’an tidak lakukan padaku, Grandsyekh mampu melakukannya. Beliau yang membuat aku bertobat. Beliau harus duduk di atas Qur’an, karena beliau adalah Qur’an yang bisa berbicara…”

Pada saat itu seluruh ulama berpaling dan segera mendatangi Grandsyekh dan Syekh Syarafuddin QS.

Hati-hati! Para Syekh mengetahui. Mereka mendengar, melihat dan bahkan merasakan. Namun mereka tidak mengatakan apa pun. Mereka melindungi kalian. Namun ketika sampai pada ambang batas, hudud dan atas izin Allah SWT, maka mereka mampu berbuat apa pun untuk mengingatkan kalian. Saat itulah kalian dalam bahaya. Untuk itu jagalah cinta kalian pada Grandsyekh Abdullah QS, Mawlana Syekh Syarafuddin QS (semoga Allah SWT mencurahkan berkah pada mereka) dan juga pada Mawlana Syekh Nazim QS di dalam hati kalian. Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al Fatiha

03 June 2008

Islam Bersifat Dinamis, tidak Pasif

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS berbicara tentang dua karakter yang dimiliki para anbiya, yaitu: memiliki himma, aspirasi tinggi dan dinamis, tidak pernah malas. Kedua karakter itu merupakan warisan Anbiya. Mereka sangat ringan dalam bekerja karena jiwa mereka berasal dari surga.

Sifat malas berasal dari setan. Kalian tidak dapat menemukan seorang rasul yang duduk bermalas-malasan dan menikmati dunia atau meminta istirahat. Mereka bagaikan sungai yang selalu mengalir menuju ke laut. Setiap wali bersifat dinamis. Makin tebal iman seseorang, ia akan semakin aktif. Tidak ada tindakan berarti tidak beriman. Ada 500 kebaikan dari Sunnah Rasulullah SAW. Al-Qur’an mengatakan, “Ketika kamu telah selesai dari suatu pekerjaan, kerjakanlah pekerjaan berikutnya.” Kita dianjurkan agar selalu aktif dalam segala situasi, inilah bimbingan yang terbaik bagi kita. Setiap agama tidak mengajurkan para pemeluknya untuk bermalas-malasan. Beberapa orang menganggap bahwa Islam membuat orang menjadi pasif (Agama adalah racun bagi masyarakat). Mereka sebenarnya adalah para pembohong yang tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Mereka mempelajari suatu ilmu di Barat lalu mengklaim hal tersebut. Saya merasa prihatin terhadap gejala ini. Sebelum Islam datang, bangsa Arab laksana tertidur dan menjadi budak bangsa Roma dan Persia. Setelah Islam datang, mereka sanggup menaklukkan daerah-daerah di pesisir Samudra Atalantik hingga Samudra Hindia.

Syekh ‘Abdullah Faiz ad Daghestani QS berkata bahwa setiap orang yang aktif akan masuk Surga, sebaliknya orang-orang yang malas akan masuk Neraka. Bahkan bagi orang-orang yang aktif dalam mengejar dunia, keaktifannya itu akan membimbingnya menuju kebaikan pada akhirnya, bagaikan air deras yang mengalir dari hulu di pegunungan menuju hilir di dataran rendah dan memberi manfaat. Untuk berjuang melawan ego, seseorang harus mempunyai sifat dinamis. Seseorang yang mendaki gunung harus memiliki energi, sebaliknya untuk menuruni gunung sifat dinamis tidak terlalu diperlukan. Orang-orang yang duduk-duduk di sebuah pub atau kafe tidak bisa disebut sebagai orang yang dinamis, mereka justru pemalas. Orang yang bekerja dengan serius dan menghasilkan karya yang dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh banyak orang mempunyai sifat yang diwariskan oleh Rasulullah SAW.

Siapa yang tidur terlalu banyak juga termasuk pemalas. Tidur lebih dari 8 jam akan menyakiti tubuh. Seperti halnya tidak cukup tidur, tubuh akan menjadi lemah dan lelah. Untuk sebagian orang Allah SWT memberi kemampuan kepada mereka untuk tetap terjaga dan tidak membutuhkan tidur. Seorang murid di Basra yang bernama Sunnetji Tahsin diperintahkan oleh Syekh Syarafuddin QS untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang tertinggal setelah diadakan jamuan makan malam. Pada saat itu masih tersedia cukup banyak makanan untuk 20 orang, tetapi ia menghabiskannya semua, bahkan tidak menyisakan sebutir nasi pun di setiap piring. Malam itu Syekh Syarafuddin QS memerintahkan Syekh ‘Abdullah QS untuk mengeceknya. Lalu beliau pergi ke ruangannya dan menemukan Tahsin sedang berdiri tak bergerak, meleburkan diri dalam Hadirat Ilahi, sampai 1 jam sebelum subuh, lalu ia mulai melakukan salat tahajjud. Pada saat azan Subuh ia pergi ke masjid, salat, dan duduk untuk berzikir sampai matahari terbit. Kemudian ia melakukan salat isyraq lalu mengambil kapaknya dan pergi untuk bekerja. Jika seseorang ingin mendapatkan kekuatan seperti itu dan tidak membutuhkan tidur, lalu ia berniat untuk tidak tidur karena Allah SWT, agar Allah SWT rida kepadanya, maka ia harus melakukan latihan selama 40 hari. Hal ini berarti setiap kali merasa ngantuk, cepat lakukan wudu dan salat 2 rakaat, begitu seterusnya. Jika ia bersabar dan mengerjakannya selama 40 hari, ia akan mempunyai kekuatan seperti malaikat, tidak memerlukan tidur lagi. Awliya, jika mereka seperti ini, itu karena mereka telah diperintahkan dan mendapat izin dari Rasulullah SAW.

Orang banyak berpikir bahwa banyak makan akan membuat tubuh menjadi kuat, oleh sebab itu mereka makan banyak bahkan terlalu banyak. Seseorang yang berkata, “Aku merasa kenyang dengan makanan malam ini,” sesungguhnya ia berdosa di Hadirat Ilahi. Allah SWT yang membuat kalian kenyang, bukan makanan itu. Dia dapat membuat kalian kenyang hanya dengan sepotong makanan. Syekh ‘Abdullah QS berkata bahwa ketika Dajjal datang seluruh Muslim akan mendapat perlindungan di Syam. Syekh Muhyiddin (Ibn Arabi QS) berkata bahwa banyak sekali orang yang akan mendatangi kota Syam dan kota ini akan semakin luas, sisi di balik gunung akan menjadi sama luas dengan sisi sebelahnya dan tidak ada tempat yang tersisa lagi bahkan untuk sekedar menapakkan kaki saja, mungkin kota itu bisa menampung 50 juta orang. “Bagaimana mereka akan makan dan minum?” tanya Abu Bakar RA kepada Rasulullah SAW. “Takbir Imam Mahdi AS akan memberi Kekuatan Ilahi bagi seluruh Mukmin. Sepotong makanan akan cukup untuk 40 hari.”

Orang-orang juga berpikir bahwa banyak tidur membuat tubuh beristirahat dan segar. Tidak, Allah SWT -lah yang menyebabkan hal itu. Mungkin dengan 5 jam tidur seseorang tidak akan mendapatkan istirahat sementara itu hanya dengan 5 menit seseorang yang lain malah dapat beristirahat dengan cukup. Waktu terbaik untuk tidur adalah tepat setelah salat ‘Isya sampai 1 jam sebelum Subuh. Tidur lebih awal adalah yang terbaik. 4 jam setelah ‘Isya (sebelum tengah malam) bagaikan 8 jam di waktu-waktu yang lain. Ini akan membuat orang mampu meningkatkan ibadahnya dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Sekarang orang-orang mengisi waktu tersebut dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, ngobrol-ngobrol atau menonton TV. Ini adalah salah satu sebab datangnya penyakit. Waktu terbaik kedua untuk tidur adalah antara waktu matahari terbit sampai siang, sedangkan waktu antara siang hingga sebelum Ashar adalah yang terbaik ketiga. Tidak baik tidur pada kurun waktu antara Subuh hingga matahari terbit dan paling buruk waktu tidur antara Ashar hingga matahari terbenam. Rasulullah SAW bersabda jika sesuatu yang buruk menimpa orang yang sedang tidur di waktu tersebut, ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tanggung sendiri akibatnya. Bagi orang yang tidur lebih dari 8 jam sehari, ia harus berkata kepada dirinya sendiri, “Saya pemalas!”