Showing posts with label Hadis. Show all posts
Showing posts with label Hadis. Show all posts

26 April 2011

Tanda-Tanda Kiamat

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

22 April 2011 Lefke, Siprus

Khotbah Jumat


Alhamdulillah, alhamdulillah nasta`iinuhu wa nastaghfiruhu wa nastadhii wa na`uudzu billahi min syuruuri anfusinaa wa sayyiaati a`maalinaa man yahdillahu fa-laa muddhilla lah, wa man yudhlill fa laa haadiya lahu alhamdulillah alladzii hadaanaa li’l-islaami wa maa kunna li-nahtadii law laa an hadaanaa’Allah. alhamdulillah nasta`iinahu wa nastaghfiruhu wa nastadhii wa na`uudzu billahi min syuruuri anfusinaa wa sayyiaati a`maalina.

Alhamdulillah alladzii ja`ala min ummati’l-habiibi ’l-musthafa `alayhi afdhal ash-shalaatu wa’s-salaam, wa nasyhadu an laa ilaha ill-Allah wahdahu la syariika lahu wa matsiila lahu fii `uluuwi syaanihi wa `azhiimi sultaanih, wa nasyhadu anna sayyidina wa sanadana wa mawlana Muhammadan `abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh alladzii atsnaa `alayhi rabbul-`izzati haytsu qaal nassan fii saalifi’l-qidami, fa atsna rabbahu `ala an-nabi hiina qaal: inna Allaha wa mala’ikatuhu yushalluuna ‘ala an-Nabi inn Allaha yaa ayyuhalladziina amaanuu shalluu `alayhi wa sallimuu tasliima.

Allahuma shalli `ala Sayyidina Muhammad (s) al-muakhsuusa bi jawaami` al-kalami wa khawaais al-hikami alladzii atsnaa `alayhi rabbahu. fii saalifi ’l-qidami.

Wa nasyhadu anna sayyidina wa sanadana wa mawlana Muhammadan `abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh arsalahu min arjaahi’-`arabiyy miizaana wa afsahaa bayaanana fa awdahat-thariiqati wa nasaha li’l-khaliiqa shalla ‘Llahu ta`ala `alayhi wa `ala aalihi wa ashaabih wa azwaajih wa awlaadih wa sallama wa khulafaa’ihi’ amiliin min ba`dihi wa wuzaraahi al-`amiliin fii `ahdihi khususan minhum `ala a'immati khulafa'i rasuulullah `ala at-tahqiiq uamaraa al-muminiin hadharaati abi bakrin wa `umarin wa `utsmaan wa `ali dzuw il-qadra al-jallii wa `ala baqiyyatas-shahabati wa ’t-tabi`iin ridhwaanullahit ta`ala `alayhim ajma`iin. ya ayyuhaladziina amanuu shalluu `alayhi wa sallimuu tasliima.
.

ان بين يدي الساعة لأياما ينزل فيها الجهل ويرفع فيها العلم ويكثر فيها الهرج والمرج


Abu Muusa al-`Ashari (r) meriwayatkan dari Nabi (s):
Sesungguhnya menjelang datangnya Kiamat, akan ada hari-hari di mana ilmu akan diangkat, dan ketidakpedulian akan diturunkan, dan akan ada banyak harj dan maraj. Dan mereka bertanya apa itu
harj. Ia berkata, “pembunuhan, pembunuhan.”

عن ‏ ‏عبد الله بن عمرو بن العاص ‏ ‏قال ‏سمعت رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول ‏ ‏إن الله لا يقبض العلم ‏ ‏انتزاعا ‏ ‏ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم ‏ ‏بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا


Para ulama meninggal dunia dan tidak ada lagi yang menggantikan posisi mereka, sehingga orang-orang akan mengangkat pemimpin yang jahil (tidak cakap). Mereka akan ditanyakan berbagai pertanyaan dan mereka akan memberikan fatwa tanpa didasari ilmu. Mereka adalah sesat dan menyesatkan yang lainnya. (Sahih Bukhari, Sahih Muslim)

`AbdAllah bin Masuud (r) menerangkan hadis ini dengan berkata, "Peganglah ilmu ketika ia tersedia, karena ia akan diangkat." (Hadis)

“... Hari Kiamat tidak akan muncul hingga orang-orang melakukan hubungan seksual di jalan-jalan seperti keledai.” Aku bertanya, “Apakah itu akan sungguh terjadi?” Beliau berkata, “Ya, itu akan terjadi. Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai seorang pria mengambil wanita di jalan (melakukan hubungan seksual), dan orang-orang terbaik di antara mereka pada saat itu adalah orang yang melihat hal itu dan berkata, “Jika saja aku yang menjadi orang itu dan melakukannya di balik dinding (bersama wanita itu).” (Hadis)

عينان لاتمسهما النار عين بكت من خشيت الله وعين بات تحرس فى سبيل الله


`An abi rayhan aatayta an-Nabi (s) sami`tu rasuulullah yaquul: maa tara an-naar `aynun bakat min khashiyyatillah.

Nabi (s) bersabda, “Mata yang meneteskan air mata karena takut terhadap Allah tidak akan masuk ke dalam Neraka, dan tidak pula mata yang menghabiskan waktunya di malam hari sebagai penjaga di jalan Allah.” (Hadis)

Wahai Mukmin! Saya mengutip beberapa hadis mengenai Tanda-Tanda Hari Kiamat. Apa yang penting, Nabi (s) berkata bahwa salah satu tanda Hari Kiamat adalah bahwa ilmu akan diangkat. Mereka (Para Sahabat) bertanya, “Apakah Qur’an akan diangkat? Tidak, tetapi itu artinya bahwa orang-orang yang berilmu, para ulama yang berimu akan meninggal dan tidak ada orang berilmu yang akan menggantikan mereka, dan mereka akan digantikan oleh ulama-ulama yang tidak cakap yang akan membuat fatwa yang salah dan menyesatkan orang.

Dan Nabi (s) bersabda, “Jika engkau ingin masuk Surga, kau harus melakukan tiga atau empat hal kecil.” Yang pertama, afsyuu as-salaam, “Sebarkan salam.” Ucapkan salam kepada satu sama lain. Hilangkan kemarahan dari dalam hati kalian, bahkan kepada musuh kalian. Wahai saudara Muslim, hilangkan kebencian dari dalam hati kalian dan jadilah lebih baik darinya. Itu adalah perintah Allah kepada setiap Muslim, yaitu untuk mengucapkan salam kepada satu sama lain. Alhamdulillah, di zawiyah ini setiap orang mengucapkan salam satu sama lain, dengan berkah dari Syekh kita.

Yang kedua: berikan makanan, tawarkan makanan semampu kalian, karena Allah (swt) senang dengan orang yang berjiwa sosial dan ramah, dan bicara dengan satu sama lain mengenai akhirat dan bicara mengenai ilmu.

Ketiga: bangun dan salat ketika orang lain sedang tidur; jangan berkata, “Aku ngantuk! Aku ingin tidur.” Bangunlah dan salat. Allah melihat pada mereka yang salat sebelum Subuh, kepada orang yang melakukan salat Subuh, yang duduk, dan beribadah hingga setelah Subuh. Jadi Nabi (s) bersabda, sebarkan salam, berikan makanan, salat di malam hari dan engkau akan masuk ke Surga tanpa perhitungan.

(Doa, salaat)

25 April 2009

Membajak Masjid



"Saudaraku, aku pikir kita semua merasa sama... bukankah sudah waktunya untuk membangun sebuah masjid untuk komunitas kita."
"Ya, sebuah tempat di mana kita bisa mengajarkan Quran, Din kepada anak-anak kita."
"Ya, kita bisa menjadikannya sebagai sedekah jariah bagi anak-anak kita dan anak-anak mereka."   


Masyarakat kemudian melakukan penggalangan dana untuk membangun masjid.  Mereka menjual kue kering, makan malam untuk penggalangan dana, koncleng Jumat dan mereka menyumbang dari uang yang mereka dapatkan dengan susah payah.

"Nabi Suci kita SAW bersabda, bahwa Allah SWT berfirman, 'Aku sebagaimana yang hamba-Ku pikirkan tentang Aku.' Oleh sebab itu jagalah cinta kita kepada-Nya, dan Dia akan mencintaimu..." 

"Allaahumma shalli 'alaa Sayyidina Muhammad wa 'alaa aali Sayyidina Muhammad wa 'alaa ash-habi Sayyidina Muhammad wa 'alaa anshaari Sayyidina Muhammad wa sallim tasliima."
("Kita harus mengajarkan orang-orang kampung ini tentang Islam yang benar agar kita bisa mengambil alih Masjid ini. Hmm jika kita bisa meyakinkan mereka bahwa Islam adalah kepatuhan, bukannya cinta.") 

"Wahai Ikhwaan, kita harus mengadakan pemilihan--kita bentuk badan pengawas untuk mencegah praktik-praktik akidah yang menyimpang.  Lalu bila kita sudah memegang semua kartu, kita singkirkan para penganut mazhab lama itu."
"Ya.." "Ya.." "Ya!"

"Akhii, kau sudah mengajak teman-temanmu untuk memilih malam ini?"
"Umm Ya, tapi teman-teman saya tidak salat...?
("Salat atau tidak salat, biarkan mereka memilih.")"
"Yes.." "Yes.." 

"Ok, Ikhwan semua, ayo kita lihat hasil voting. Ahem... sepertinya kita mempunyai Imam baru--dididik di Najd!  Ya, kalian sedang melihatnya hehehe."
"Yeah..." "Yes..."

"Hentikan kekufuran ini segera!!! Masjid bukan tempat untuk perbuatan syirik semacam ini. Kalian harus pergi ke halaqah untuk belajar tentang akidah yang benar."  

"Ingat, cuma boleh mengikuti Qur'an dan Hadis...tak perlu yang lain... kalau tidak, kalian akan masuk neraka!  Mencium tangan orang yang lebih tua atau tangan Syekh adalah Haram, terlalu banyak hormat akan menjadi Syirik.  Lalu kalian akan menyekutukan Allah!  Kalian akan masuk neraka!!!  Jangan memuji Nabi secara berlebihan, terlalu banyak hormat akan menjadi Syirik.  Lalu kalian akan menyekutukan Allah!  Kalian akan masuk neraka!!! Jangan jadikan Imam dan Mazhab sebagai tuhan bersama dengan Tuhan, itu adalah Syirik!" 

"Mengapa kalian bersedih?  Bukankan kalian berada di jalur yang Haqq?  Selawat dan salam kepada Nabi SAW bukanlah Syirik!!!  Tidakkah kalian membaca Hadis, 'Barang siapa yang membaca selawat di kuburanku, aku mendengarnya dan barang siapa yang membaca selawat dari jauh, aku akan diberitahu tentangnya."
"Allahu akbar..." "Allahu akbar..."



30 October 2008

Mengenai Hadis Rasulullah SAW

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

“Ini adalah apa yang diajarkan oleh Grandsyekh kepada saya,” kata Mawlana.  “Hadis-Hadis Rasulullah SAW adalah sama dan mempunyai derajat yang sama, sebagaimana al-Quran.  Kita harus menghormati Hadis-Hadis tersebut seperti halnya kita menghormati ayat-ayat suci al-Quran.  Di dalam ayat al-Quran terdapat suatu keterangan.  Di dalam Hadis, Rasulullah SAW tidak berbicara untuk dirinya sendiri, tetapi berdasarkan wahyu yang diturunkan dari Allah SWT.  Jika Allah SWT tidak mengizinkannya, Rasulullah SAW tidak akan mampu mengucapkannya.  Oleh sebab itu, kita harus menghormati kata-kata Rasulullah SAW seperti halnya kita menghormati ayat-ayat suci al-Quran.” 

Seseorang bertanya, “Apakah ini berarti bahwa kita harus berwudu sebelum membaca kitab Hadis, seperti halnya ketika kita ingin membaca al-Quran?” 

Mawlana menjawab, “Jika kita ingin mendapatkan hikmah dari suatu buku keagamaan, kita harus membacanya dalam keadaan berwudu.  Tanpa wudu, kita tidak berada di jalur yang benar.  Rasulullah SAW menasihati kita agar selalu menjaga wudu karena itu adalah senjata Muslim dalam menghadapi Setan.  Setan tidak bisa mendekati orang yang mempunyai wudu.”

“Rasulullah SAW menerangkan al-Quran berdasarkan kapasitas pemahaman kita,” Syekh melanjutkan, “karena al-Quran adalah firman Allah SWT, sedangkan Hadis adalah sabda Rasulullah SAW.  Rasulullah SAW adalah manusia seperti kita, sehingga ucapannya lebih mudah dimengerti oleh kita.  Oleh sebab itu, beliau menerangkan hal-hal yang tersirat dalam al-Quran kepada kita.” 

Seorang murid bertanya, “Bagaimana kita mengetahui bahwa suatu Hadis otentik?”  Syekh Nazim QS menjawab, “Jika seorang ‘alim yang jujur berkata atau menulis dalam suatu buku mengenai Hadis-Hadis tertentu, maka kalian harus mempercayainya.  Misalnya, al-Ghazzali QS menulis banyak buku berisi banyak Hadis.  Beberapa orang menganggap beberapa Hadisnya lemah, tetapi kita tidak sependapat dengan pemikiran ini.  Kita yakin bahwa Imam Ghazzali QS adalah seorang ‘ulama besar, ‘ulama ‘king size’.  Beliau bukanlah seorang ‘ulama biasa, beliau jujur dan dapat dipercaya.  Oleh sebab itu, kita percaya terhadap semua Hadis yang beliau tulis.” 

“Jika kalian menemukan seorang cendikiawan yang dapat kalian percayai, maka kalian harus percaya terhadap semua Hadis yang dikatakannya kepada kalian.  Ini adalah jalan bagi seorang murid dan juga orang awam terhadap suatu Hadis.  Tetapi para Awliya, di mana Allah SWT telah memberi mereka cahaya, mereka berbeda.  Mereka dapat mendengarkan pembicaraan seseorang dan melihat apakah ada cahaya yang terpancar dari ucapannya.  Dengan demikian, mereka dapat mengetahui apakah ucapannya benar.   Begitu pula ketika Awliya itu membaca, mereka dapat melihat Hadis-Hadis yang sahih itu memancarkan cahaya.  Hadis-Hadis tersebut adalah ucapan Rasulullah SAW yang turun dengan cahaya dan dipenuhi cahaya.  Bila seseorang dapat melihat cahaya ini, dia tidak memerlukan opini orang lain bilamana Hadis tersebut kuat atau lemah.” 

“Begitu banyak ‘ulama yang menyangkal Hadis ini atau itu sementara para Awliya mengatakan bahwa Hadis itu semuanya benar.  Jadi, kita harus menerima Hadis dari orang-orang yang mempunyai cahaya Iman dalam hatinya dan menunjukkan kebenaran bagi kita.  Demikian juga, jika suatu buku mempunyai Hadis Rasulullah SAW, kita menerimanya sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah SAW.  Jika itu merupakan Hadis yang tidak benar, tidak ada kewajiban bagi kita bila kita menerimanya.  Ini adalah adab yang tinggi.  Jika seseorang berkata, ‘Ini adalah sebuah Hadis,’ kita mempercayainya sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah SAW.” 

Seseorang bertanya, “Jadi, sampai kita meraih pengelihatan seperti yang dimiliki oleh para Awliya, kita harus menerima semua Hadis sebagai Hadis yang sahih?” 

“Ya,” kata Mawlana, “jika kalian tidak melakukan hal ini, kalian tidak bisa maju, tidak bisa!  Jika kita membacanya dalam sebuah buku, mendengarnya dari seorang ‘ulama atau dari seseorang, sebagai tanda penghormatan kepada Rasulullah SAW, kita harus mempercayainya.”   

Seorang murid berkata, “Maksudnya kita tidak boleh menanyakan sumbernya?”  Mawlana menjawab, “Tidak, hal itu tidak baik.  Untuk menyetujui atau mengatakan ‘baiklah’ adalah lebih baik.  Tetapi untuk melakukan hal ini memang sulit.  Mengatakan ‘baiklah’ adalah suatu tanda hati yang bersih.  Jika hati seseorang tidak bersih, dia akan bertanya, ‘dari mana (Hadis) ini?  dari mana (Hadis) itu?’ banyak sekali pertanyaan yang muncul!  Itu menandakan bahwa hatinya tidak bersih.  Semakin banyak dia bertanya, semakin banyak hatinya dipenuhi dengan keraguan.” 

“Apakah banyak koleksi Hadis yang sahih?” “Banyak sekali,” kata Mawlana.  “Semuanya sahih.  Buku apa pun yang menulis Hadis Rasulullah SAW harus kita percayai.  Ini adalah jalan saya.” 

“Tetapi apakah sekarang Mawlana sudah sampai pada titik di mana Mawlana dapat melihat cahaya yang terpancar dari suatu Hadis yang sahih?” tanya seorang murid. 

Syekh menjawab, “Ahh, ya.  Tetapi kalian tidak dapat meraih titik itu sampai kalian mempercayai semua ucapan yang mengatakan bahwa itu adalah sebuah Hadis.  Cara ini akan membawa  kalian ke titik tersebut, di mana kalian dapat melihat cahaya.  Sangat sulit untuk menerima hal ini.”

Wa min Allah at tawfiq