Showing posts with label Fight Your Ego. Show all posts
Showing posts with label Fight Your Ego. Show all posts

07 August 2008

Menjaga Islam yang Benar

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Washington DC, 12 Juni 1994

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kalian harus berpakaian sesuai sunah Nabi SAW, Alhamdulillah. Kalian memakai turban dan memakai pakaian sunah yang longgar. Alhamdulillah kalian tidak memakai pakaian yang ketat. Dan saya lihat beberapa dari kalian membiarkan janggutnya tumbuh. Ini adalah sunah Nabi SAW.

Siapa pun yang menerima bay’at dari Syekh Nazim QS ke dalam Tarekat Naqsybandi, maka kami mengharapkan yang hadir dalam Majelis Zikir tidak mengenakan pakaian setelan kantor atau pun kaos yang ketat. Setiap acara zikir dan pertemuan, kelompok Mawlana Syekh Nazim QS, kalian haruslah mengenakan turban, jubah dan pakaian yang longgar seperti gamis dan jubah, insya Allah ini adalah ciri-ciri pakaian dari grup Mawlana Syekh Nazim QS. Kalianlah satu-satunya grup yang memiliki bermacam-macam ras, kebangsaan, warna kulit, tanpa berkata hitam, putih, kuning atau hijau. Kalian adalah grup Mawlana Syekh Nazim QS.

Ini adalah “rahasia” Naqsybandi yang berasal dari Sayyidina Abu Bakar RA sampai kepada seluruh Syekh dalam Mata Rantai Emas, dari Syah Naqsyband QS hingga ke Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS. Rahasia ini adalah Rahasia Utama dari Tarekat Naqsybandi. Seluruh cabang yang lain tidak memiliki rahasia Mata Rantai Emas. Rahasia ini hanya melalui Mawlana Syekh Nazim QS. Mudah-maudah Allah SWT merahmatinya dan mengangkatnya ke maqam yang tinggi.

Dewasa ini pengikut Wahhabi meracuni umat Muslim dengan pemahaman aqidah barunya, pemahaman aqidah yang salah. Mereka menolak keyakinan ahlus sunnah wal jamaah yang telah ada sejak 1.400 tahun yang lalu, mereka mengubahnya setelah era Abdul Wahhab dan Ibnu Taymiyyah, di mana aqidah mereka ditolak oleh 99% ulama Islam terkemuka di seluruh dunia. Apa pun mereka menyebut dirinya sebagai ISNA, MSA,… mudah-mudahan Allah SWT memperbaiki mereka dan mengembalikan jalan mereka yang salah ke dalam aqidah yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Mudah-mudahan Allah SWT mengubah mereka dari racun menjadi madu, dan membuka hati mereka kepada pemahaman Islam yang benar, Islamnya Imam Mahdi AS, Islamnya para awliya dan Islamnya Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan kedamaian bersama Nabi Muhammad SAW. Bihurmatil habib, al-Fatihah

05 August 2008

Tindakan Sia-Sia di antara Syekh dan Murid

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Seorang Syekh mengamati murid yang meminta di-bay’at dalam Tarekat Naqsybandi tanpa pemberitahuan yang bersangkutan. Beliau juga mengutus 40 alim amil, ulama-ulama yang tulus dan setia yang akan bergerak sesuai apa yang mereka mampu selama 40 hari, mengamati seluruh perilaku murid yang bersangkutan secara rahasia. Harus tidak ditemukan kesalahan sekecil apa pun, baik dari tindakan ataupun di dalam hatinya. Bila mereka menjadi saksi akan semua itu, mereka akan datang pada Syekh dan mengatakan, “Kami menyaksikan bahwa dia berperilaku baik dan tidak pernah melakukan sesuatu yang sia-sia.”

Misalnya, segala perilaku pada tubuh kita. Jika tubuh kalian melakukan sesuatu yang sia-sia berarti kalian melakukan sesuatu yang salah. Jika kalian memegang sebuah apel dan memainkannya, itu berarti tindakan kekanak-kanakan. Hal itu membuat pengamatan dihentikan. Namun bila pengamatan itu dilalui dengan baik, para saksi akan mengatakan pada Syekh bahwa pengikut yang bernama ini atau itu adalah “bersih”. Maka kemudian Syekh memberikan bay’at.

Saat ini, bay’at amat murah tidak seperti dahulu yang amat sulit. Murid-murid zaman sekarang yang mengambil bay’at dari Syekh tidak merasakan nilai dari bay’at itu. Mereka ingin segalanya mudah, padahal spiritualitas bukan sesuatu yang muncul dengan mudah. Lihatlah para nabi, bagaimana penderitaan mereka! Aktharukum bala’ al anbiya’ yang menjalani masalah terberat di antara kalian adalah para nabi, tsumma-l amtal fi-l-amtal – lalu para sahabat Allah SWT, kemudian mereka yang paling terhormat karena kebaikannya.

Syekh Nurjan Mirahmadi memberikan bay'at Tarekat Naqsybandi kepada murid-murid di kediaman Bapak Ahmaddin di Jakarta.

Mawlana pernah bercerita, suatu ketika Sayyidina Jamaluddin Ghumuqi al-Husayni QS sedang duduk bersama murid-muridnya di dalam masjid. Ada sebuah mangkuk buah di hadapan beliau. Beliau ambil dua buah apel dan melemparnya ke atas, satu apel dilempar kemudian disusul apel yang lain. Murid-murid bertanya di dalam hati, “Apa yang terjadi, Syekh melakukan sesuatu yang buruk dan kekanak-kanakan!” Dalam tarekat tidak diizinkan melakukan sesuatu yang kekanak-kanakan. Saya katakan pada orang-orang Amerika agar tidak membuat suara atau gerakan pada tubuhnya ketika sesuatu terjadi, ma la ya’ni – sia-sia, tidak berguna. Tidak perlu mengucapkan “ah!” ketika kalian gusar akan sesuatu. Jika kalian manusia dewasa, kalian harus selalu tenang, sabar dalam segala perilaku, waspada akan apa yang sedang kalian lakukan.

Ketika Sayyidina Jamaluddin QS melakukan hal itu, beberapa murid meragukan beliau. Tindakan meragukan Syekh itu lebih berdosa di mata Syekh daripada bila kalian melakukan tindakan asusila, karena beliau bisa menanggung dosa itu dan membersihkan kalian, lain dengan prasangka buruk yang susah untuk dibersihkan dari hati kalian. “Janganlah kalian berburuk sangka. Setelah 2 atau 3 jam seseorang akan datang dari desa lain dan akan memberitahu apa yang baru saja aku lakukan.” Ketika mereka mendengar hal ini, murid-murid menjadi takut telah melakukan hal yang salah dan Syekh mengetahuinya.

Seorang Syekh mengetahui bila kalian melakukan hal yang salah, namun tidak mengatakannya. Hal itu disimpan beliau, namun bila diperlukan demi melakukan irsyad (bimbingan) beliau akan menyampaikannya. Setelah 2 jam, seseorang datang dari desa lain dan mengatakan, “Oh Syekh, ayahku telah meninggal.” Ketika kabar itu datang, Syekh pun menjelaskan, “Sekarang aku akan mengatakan pada kalian mengapa aku melempar dua apel itu. Sayyidina Izrail AS datang untuk mengambil nyawa orang itu, muridku dengan hukuman. Karena dia muridku, aku tidak terima Izrail AS datang dengan penampakan seperti itu. Maka kuambil sebuah apel dan melemparnya agar dia kembali ke asalnya dan dengan apel yang satunya aku mengubahnya agar dia muncul dengan sifat penuh kasih sayang.”

Menurut pandangan sempit orang-orang, tindakan melempar apel adalah sikap kekanak-kanakan. Namun bagi para awliya, itu adalah bantuan besar bagi murid. Kalian tidak tahu pelayanan apa yang sedang diperbuat Syekh dalam tindakan beliau yang tidak bisa kalian terima. Jangan sampai kalian punya prasangka buruk akan Syekh. Apa pun yang kalian lihat, kalian harus menerima segalanya menurut pemahaman yang berharga – mahmal sahih. Jika kalian melihat Syekh datang dengan seorang wanita dan memeluknya (kisah tentang wanita Inggris-penerj.), misalnya; itu karena Syekh sedang memberi dia sebuah rahasia. Jangan pernah menyerang Syekh, walaupun di dalam hati kalian. Itulah cara para awliya dapat mengirim cahaya-cahaya mereka. Mereka memilih beberapa orang berkualitas tinggi, bukannya disimpan untuk mereka sendiri, namun agar disebarkan untuk menarik banyak orang ke dalam ajaran Syekh, ajaran cinta kasih Nabi SAW. Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al- Fatiha.

01 August 2008

Operasi Spiritual

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kewalian adalah sebuah pemahaman yang tidak akan pernah bisa ditulis di dalam buku-buku. Kewalian adalah rahasia-rahasia di balik rahasia-rahasia. Sesuatu yang berasal dari Nabi SAW pada hati-hati para awliya, bukan pengetahuan lewat kata-kata namun lewat perbuatan. Jangan mengira para awliya menerima dirinya untuk menjadi awliya jika tidak untuk meningkatkan para pengikutnya ke maqam mereka, khususnya ketika sedang memberi nasihat. Mereka tidak mau membiarkan murid-muridnya tertinggal. Mereka meningkatkan maqam pengikutnya ke tahap yang sesuai dengan topik yang sedang diajarkan melalui kehidupan spiritual mereka. Kalian tidak merasakannya pada tubuh fisik kalian, karena roh kalian masih terkungkung dalam sangkar tubuh.

Namun beliau mampu membuat roh kalian merasakannya tanpa kalian menyadarinya. Seperti seorang dokter yang mengoperasi pasiennya. Pasien tidak merasakan apa pun, namun merasakan dirinya telah sembuh. Itulah yang dilakukan oleh para awliya. Beliau mengoperasi kalian, namun kalian tidak merasakan apa pun. Tetapi dalam kehidupan spiritual kalian, dalam realitas, kalian telah sembuh.

Jika kalian sedang mencium spiritualitas, maka aroma itu membuat kalian mabuk cinta terhadap Syekh. Jika Syekh membuka lebih lagi, kalian tidak hanya mabuk, kalian akan seperti tetangga Nabi Musa AS. Salah seorang tetangga Musa AS pernah berkata, ”Wahai Musa AS, karena engkau akan pergi ke bukit Sinai dan berdialog dengan Tuhanmu – tolong katakan pada-Nya agar mengirimi aku cinta, karena aku tidak memiliki rasa cinta bagimu dan Dia. Biarkan Dia kirimkan cinta, agar hatiku bahagia.”

Ketika sampai di Sinai dan telah menyelesaikan apa yang ingin dilakukan, Nabi Musa AS lupa akan pesan tetangganya, Allah SWT-lah yang mengingatkan beliau.

“Wahai Musa AS, mengapa engkau lupakan tetanggamu? Bukankah engkau berjanji padanya untuk menyebutnya dalam Hadirat-Ku?“

“Ya Tuhan, maafkan aku.”
“Apa yang dia minta?”
“Dia membutuhkan cinta.”
“Pulanglah dan katakan pada tetanggamu, Aku sedang mengirim cinta sekecil atom ke dalam hatinya.”
“Ya Allah SWT, mohon kirimkan lebih dari itu, Engkaulah Yang Maha Pemurah.”
“Tidak. Itu sudah cukup.”

Musa AS kembali ke rumahnya dan mencari tetangganya. Ketika beliau menemukannya, tetangga itu tidak lagi berada di dunia ini. Matanya terbuka lebar, kedua tangannya terangkat ke atas, mulutnya menganga. Dia tidak bergerak sedikit pun ataupun merasakan sesuatu. “Oh tetanggaku,” kata Musa AS “Kabar baik, Tuhan sedang mengirimkan sebutir cinta pada hatimu.” Namun tetangganya itu demikian asyiknya sehingga tidak merasakan kehadiran Musa AS. Allah SWT pun memanggil Musa AS dan mengatakan, “Ya Musa AS, walaupun engkau menggiling tubuhnya, dia tidak akan merasakan apa pun, dia hanya merasakan Aku.”

Cinta seperti itulah yang ingin dikirimkan Syekh pada hati murid-muridnya. Murid-murid akan meninggalkan apa pun dan lari mengejar Syekhnya tanpa menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Syekh masih memegang kunci akan cinta itu dan belum membukanya. Beliau membukanya sedikit, setetes demi setetes. Itulah yang kini sedang mengendalikan kita, aroma dari setetes cinta. Belum lagi setetes, belum pula sekecil atom, hanya aromanya saja. Jika beliau membuka setetes cinta saja, kalian pun akan meleleh.

Ada pelajaran di sini, bahwa jika kalian menghilangkan eksistensi kalian di hadapan Syekh, maka beliau akan membuat kalian ‘mati sebelum mati.’ Namun tidak seorang pun yang siap membawa rahasia besar itu agar Syekh dapat menghiasi muridnya dengan segala kekuatan beliau. Syekh tidak menahan kekuatan spiritual itu bagi diri beliau sendiri. Beliau ingin memberikannya. Namun kalian harus datang dan mengambilnya. Setiap orang sadar akan dirinya sendiri, apakah dia sedang mengambilnya atau tidak.

Syekh muncul dalam mimpi-mimpi, muncul dalam penampakan spiritual, ataupun muncul sekilas saja. Namun ketika kalian mampu melihat Syekh sedang duduk bersama kalian secara nyata (tanpa kehadiran tubuh fisiknya) maka kalian telah mencapai apa yang beliau inginkan. Itulah caranya agar bisa duduk dengan Syekh walaupun beliau telah meninggal dunia. Jangan mengira para awliya sedang duduk di makam di mana dulu kalian terakhir meninggalkannya. Mereka sudah tidak lagi berada di sana, mereka telah berpindah tempat. Namun bila kalian datang, memberi salam dan memanggil beliau, mereka akan datang dan muncul di sana. Mereka berada di hadirat Nabi SAW dan malaikat-malaikat yang memindahkan tubuh-tubuhnya.

Itulah bagaimana para awliya mentransfer kekuatan mereka dan mendatangi para pengikutnya. Bagi mereka, kehidupan ini dan akhirat adalah sama saja. Mereka dapat duduk-duduk dan mengundang yang lain untuk ikut serta. Bagi mereka hal itu amat mudah, namun bagi kita amat sulit. Kita harus melatih diri kita dalam asuhan mereka. Cara yang paling ampuh bertemu dengan Syekh adalah dengan meditasi/muraqaba. Jagalah konsentrasi hati pada Syekh kalian di sepanjang malam hari. Beliau akan mulai nampak dan akan semakin sering muncul. Penampakan itu akan semakin jelas sampai kalian mampu berbicara dengan beliau secara langsung, bahkan bersalaman dengan beliau. Sebenarnya tidak susah.

Awliya asal mesir, Ahmad ar-Rufa’i al-Kabir QS datang ke makam Nabi SAW dan mengatakan, “Inilah sang pemerintah para hantu sedang bertemu dengan manusia yang paling nyata! Mohon ulurkan tanganmu agar aku dapat menciumnya.” Dari makam Nabi SAW, sebuah tangan putih mulai muncul dan Sayyidina Ahmad QS menciumnya tiga kali. Setiap beliau menciumnya, Nabi SAW mentransfer pengetahuan dari hatinya pada hati Ahmad QS. Tiga samudra pengetahuan pun telah dialirkan pada beliau.

Jika kalian mencapai maqam ini, kalian akan sangat beruntung. Kalian akan memahami rahasia-rahasia Syekh. Dan bila belum mencapainya, kalian masih dianggap anak-anak yang masih harus diberi permen. Semoga Allah SWT memberi kita kedewasaan di hadapan Syekh dan membantu kita memberi kekuatan di mana setiap Syekh ingin murid-murid mencapainya. Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

31 July 2008

Maqam Kedekatan dengan Syekh

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Apakah ilham atau inspirasi yang benar itu?
Sebelum kalian mencapai tingkat kedekatan pada Syekh, maka tidak ada ‘penampakan/penglihatan’ dalam ilham yang kalian terima. Tidak ada pendengaran, tidak ada penciuman, dan tidak ada penglihatan. Jadi hanya sesuatu yang masuk ke dalam hati. Setiap yang memasuki hati bisa jadi benar atau bisa juga salah. Mungkin hanya imajinasi atau bisa juga sesuatu yang nyata.

Jika ilham yang datang itu benar dari Syekh, ego pun akan membuat kalian ragu-ragu: apakah ini benar berasal dari Syekh atau bukan? Ego akan memainkan perannya. Bisa jadi dia menjauhkan kalian dari ilham yang benar itu, meragukannya sampai akhirnya kalian meninggalkannya. Jika ego gagal mengecoh kalian, dia akan membiarkan kalian mengikuti ilham yang benar itu. Saat itulah maka maqam kalian akan ditingkatkan.

Sekarang, jika yang datang itu adalah imajinasi. Karena memang sebuah khayalan, maka ego tidak akan turut campur. Ego akan langsung menerimanya atau hanya akan meyakinkan kita bahwa itu adalah ilham yang benar, padahal hanya ilusi kita saja.

Para taruna PTIK berbay'at ke dalam Tarekat Naqsybandi.

Karena itulah, banyak pengikut Syekh, begitu mereka menerima bay’at, mengira bahwa mereka siap menerima ilham-ilham. Ini adalah hal yang salah. Ketika menerima bay’at mereka mengira telah melakukan sesuatu yang hebat, karena telah tunduk pada Syekh dengan menerima bay’at. Hal ini juga salah, karena hal itu bukan berarti kalian melakukan sesuatu yang luar biasa bagi Tuhan, Nabi SAW dan Syekh. Itu hanyalah langkah awal, bukan sesuatu yang luar biasa dan bukan sumbangan yang besar bagi Syekh, sehingga mengira setelah itu terjadi, maka ilham-ilham yang datang berasal dari Syekh.

Mereka kadang membuat kekacauan sambil mengatakan, “Syekh mengilhami aku untuk melakukan ini.” Tetapi ilham ini sudah benar atau belum? Jadi bagaimana kalian tahu bahwa sebuah ilham itu benar atau salah? Ini sebuah pertanyaan yang bagus. Bagaimana membedakan antara kedua macam ilham ini? Sebuah ilham yang 100% benar adalah yang diikuti pendengaran, penciuman dan penglihatan. Pada saat itu kalian yakin bahwa hal ini adalah benar berasal dari Syekh. Alasan mengapa murid-murid harus melakukan khalwat adalah untuk melatih diri mereka menerima berbagai macam cahaya yang sedang dikirimkan oleh Syekh. Dan tanpa jihad an-nafs, perang melawan ego, kalian tidak akan mencapai kebenaran itu.

Semua itu berasal dari cinta. Jika kalian mencintai, maka kalian pun akan tunduk dan menyerahkan diri. Jika kalian tidak mencintaiku, bagaimana bisa kalian menyerahkan diri kalian padaku? Mustahil! Ketika kalian mencintai seseorang yang Allah SWT kirimkan pada hati kalian, kemudian kalian mencintainya sehingga kalian melakukan apa pun bagi dia. Ada yang sampai meninggalkan keluarga, istri, anak-anak, ibu, bapak dan ibu untuk mengejar Syekhnya. Mereka mencintai Syekh dan meninggalkan semuanya demi beliau dan Allah SWT menyediakan mereka segala hal serta melindungi mereka.

Jika kalian tidak percaya, kalian juga tidak bisa menyerahkan diri kalian. Dan sebaliknya bila kalian yakin akan Syekh, maka kalian pun akan merasa tunduk pada Syekh. Jika cinta dan penyerahan diri itu sudah ada, maka Syekh akan mengirimkan cahaya pada hati kalian dan mengantar kalian pada maqam kepatuhan dan meningkatkan kalian pada maqam lainnya, yaitu maqam “Kehadiran,” hudur. Maqam itu lebih tinggi dari maqam cinta, bukan bersamaan namun adanya setelah maqam cinta. Kalian mampu merasakan, mendengar, melihat Syekh di sekitar kalian selama 24 jam.

Setelah itu kalian akan mencapai maqam yang sangat tinggi, maqamu-l-fana. Ketika mereka mencapai maqam kedua- “Kehadiran”- kalian mulai bisa mencium maqam fana ini. Di mana di situ seseorang bisa mengatakan “jadilah” dan hal itu akan terjadi, apa pun yang muncul dalam hatinya, dia mempunyai kekuatan untuk mengubah takdirnya. Para awliya yang mencapai tepian maqam itu diberi kekuatan Allah SWT atas Qada’ muallaq – takdir yang bisa diubah. Yaitu takdir yang berada di bawah kontrol manusia. Ketika mereka mengatakan: Allah SWT telah meminta ini bagiku, sebagaimana tertera dalam Qur’an Yamhu-l-Lahu ma yasha wa yuthbit wa indahu umur kitab, Allah SWT mampu menghapus segala hal dari qada mu’allaq, dan hasil akhir berada di Tangan-Nya.

Para awliya mampu mengetahui takdir itu demi kepentingan murid-muridnya dan meminta Allah SWT dengan mengatakan, “Mohon ubahlah hal itu untuk murid-murid kami.” Hal ini mampu berpengaruh pada kehidupan kalian sehari-hari, misalnya dengan bersedekah. Jika Syekh menyuruh kalian, “Beri sumbangan pada Masjid.” atau “Sembelihlah kambing untuk Tuhan dan bagikan pada kaum miskin.” Atau bisa juga “Lakukan ini.” Hal ini dikarenakan melalui penglihatannya, beliau melihat bahwa amalan itu mampu menyucikan sesuatu dan mengundang kebaikan.

Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Ittaqu firasat al-mu’min li’annahu yandhuru bi nuri-l-Lah.” “Waspadalah akan penglihatan orang mukmin, karena mereka mampu melihat dengan cahaya Allah SWT. Dengan cahaya yang dianugerahkan Allah SWT itu, mereka mampu melihat apa yang terjadi di sekitar kalian. Namun untuk melindungi kalian mereka tidak datang dan mengatakan pada kalian secara langsung, “Lakukan hal ini, kalau tidak kamu akan menderita besok.” Tidak!

Beliau akan mengatakan, “Hari ini, kamu bersedekah, atau melakukan pekerjaan sebagai sedekah dari dirimu sendiri, atau bersihkan toilet di masjid…” (Tidak ada yang mau membersihkan toilet, kadang Syekh membersihkannya sendiri untuk mengajari para pengikutnya agar tidak ragu untuk membersihkan toilet guna membunuh ego mereka). Menurut apa yang Nabi SAW katakan, “as-sadaqa taruddu-l-bala’ wa tazidu-l-umr,” sedekah menghilangkan kesusahan, kecelakaan, penyakit dan membuat panjang umur.

Itulah yang dilakukan oleh seorang awliya bila melihat pengikutnya akan mengalami musibah-musibah, beliau akan langsung turun tangan dan mencegahnya. Beliau membuat kalian mengerjakan sesuatu agar Allah SWT berkenan mengubahnya menjadi kebaikan. Hal ini tanpa sepengetahuan kalian. 124.000 awliya mampu mencapai maqam ini. Mereka dizinkan untuk melihat apa yang telah ditakdirkan pada kalian sehari-hari di dalam Lawh al-Mahfuz, di mana Allah SWT akan menghapus menurut apa yang Allah SWT sukai. Di sanalah mereka dapat turut campur.

Sedangkan maqam qada’ mubram, takdir yang telah dipastikan, dari semenjak zaman Nabi SAW sampai kedatangan Mahdi AS dan Yesus AS, hanya 9 awliya saja yang mampu ikut campur di dalamnya.

Semua ini, seperti telah kita sampaikan, berasal dari cinta. Untuk mendatangkan cinta berarti jangan ada pikiran buruk pada Syekh. Sayangnya, ketika Syekh melihat hati para pengikutnya, masih terdapat segala macam penyakit dan kelemahan di sana. Bagaimana bisa Syekh mengirim cahaya pada hati kalian? Nabi SAW tidak mengizinkan Syekh menunjuk penerusnya, bila masih ada setitik atom keraguan di hatinya.

27 July 2008

Berada di Maqam Cinta

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Philadelphia
, 14 Mei 1994

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ketika saya mengatakan, “Ini Syekh saya,” maka beliau tetap Syekh saya walaupun beliau akan melumatkan saya di dalam mesin blender. Saya tidak akan mengubah cinta saya pada beliau. Jika cinta saya berubah, saya tidak akan mencapai maqam apa pun. Pikiran-pikiran buruk tentang Syekh akan semakin menarik kalian menjauh dari beliau. Beliau mampu mendeteksi hal itu di dalam hati kalian.

Ketika kalian mengakui mempunyai pikiran-pikiran buruk itu, maka lebih mudah bagi Syekh untuk membersihkannya. Namun sebaliknya, bila si murid berpura-pura di depan Syekhnya bahwa dia adalah murid yang super, bahwa dia mencintai Syekhnya, bahwa dia akan melaksanakan apa yang diminta Syekh, padahal hatinya berbicara sebaliknya, maka Syekh pun mengetahuinya!

Itulah sebabnya di dalam banyak tarekat, ketika Syekh menghijab dirinya sendiri dan berada di “dunia lain” beliau tidak menemukan seseorang yang mampu membawa amanatnya ketika beliau sedang absen. Walaupun ketika di hadapan beliau, mereka tampak sebagai murid yang hebat. Akhirnya, beliau pergi tanpa menunjuk seorang pun, sampai ada yang benar-benar muncul. Ketika murid andalan itu muncul, Syekh memberinya kekuatan. Insya Allah, sebentar lagi murid itu akan muncul di antara kalian. Dia yang akan membawa amanat Syekh dan melanjutkan perjuangannya. Jika kalian pandai, kalian akan tahu siapakah orang itu. Dia adalah seorang yang rendah hati, tidak peduli dengan kehidupan materi ataupun ingin mencapai maqam tertentu dan tidak menonjolkan diri.

Sebuah lukisan Syekh Abdul Qadir Jailani QS yang terdapat di kediaman Abah Anom di Suryalaya.

Seperti ketika seorang murid Sayyidina Abdul Qadir Jailani QS meninggal, dia dikunjungi 2 malaikat dan bertanya, “Siapa Tuhanmu?” Murid itu menjawab, ”Abdul Qadir Jailani QS.” Siapa Nabimu? Dijawab, “Abdul Qadir Jailani QS.” Apakah agamamu? Dijawab, “Abdul Qadir Jailani QS.” ‘Tempatmu di neraka! Ke mana lagi tempat yang cocok bila seluruh pertanyaan dijawab dengan Abdul Qadir Jailani QS.’

Seketika itu Sayyidina Abdul Qadir Jailani QS muncul dan mengatakan, “Siapa yang memberi kalian izin membawanya ke neraka? Dia telah menyebut namaku, paling tidak tanyalah dulu padaku! Aku tidak jauh, dia adalah muridku, jika mau menanyainya, tanyalah aku. Jangan memberi dia siksa kubur tanpa memberi kesempatan meminta dukungan. Hal ini sama dengan menghina aku, aku wakil Nabi Muhammad SAW!”

Kedua malaikat itu takut pada Syekh Abdul Qadir Jailani QS. Mereka tidak ingin kena pukulan lagi seperti yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Umar RA pada mereka. Ketika Sayyidina Umar RA, Khalifah kedua wafat, dua malaikat maut mendatangi beliau. “Siapa Tuhanmu?” Sayyidina Umar RA mempunyai watak yang keras, dan beliau diam saja ketika pertanyaan itu diajukan. “Apa agamamu?” Beliau tetap diam. “Apa kitabmu?” Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya mereka harus membawa beliau menuju neraka.

Sayyidina Umar RA berkata, ”Aku tidak mendengar apa yang kau ucapkan, mendekatlah ke sini.” Mereka mendekat dan mengulang pertanyaan tadi. “Aku masih belum mendengar,… lebih dekat lagi!” Maka Malaikat Munkar AS mendekat dan bertanya lagi, ”Siapa Tuhanmu?” Sayyidina Umar RA segera mengepalkan tangan dan meninjunya tepat di mata Malaikat Munkar AS. Para awliya mengatakan bahwa Malaikat Munkar AS hanya memiliki satu mata saja, itu akibat dipukul oleh Sayyidina Umar RA.

Sayyidina Umar RA berkata, ”Aku baru saja tiba dengan jarak 10 yard, 2 menit dari makamku. Bagaimana mungkin aku lupa siapa Tuhanku dengan waktu sesingkat itu. Sedangkan kalian yang dikirim Allah SWT dari jarak ribuan dan ribuan tahun jauhnya mengaku tidak melupakan siapa Tuhan kalian? Terimalah pukulan keduaku ini!” Segera Malaikat Munkar AS lari menjauh dan Malaikat Nakir AS lari menyusulnya.

Maka kini kedua malaikat itu takut pada Syekh Abdul Qadir Jailani QS. Mereka kembali kepada Allah SWT, dan Allah SWT berfirman, “Dia adalah salah satu awliya-Ku. Tinggalkanlah dia.”

Allah SWT lalu memperpanjang hidup murid itu selama 37 tahun lagi. Mengapa? Karena cinta murid itu pada Syekhnya amat besar dan tidak mampu melihat apa pun kecuali Syekhnya. Itulah murid yang benar, mampu menjaga amanat.

Jika saya bertanya pada kalian sekarang, “Siapa Tuhanmu? Siapa nabimu? Apa kitabmu?” Maka kalian pasti takut untuk menjawab ‘Syekhku!’ Karena itu syirik, kufur, tidak bisa diterima. Meskipun hal itu tidak bisa diterima, dan bahkan kita sadar bahwa kita harus menyembah Allah SWT, dan ketika kita mengatakan, “Allahu Akbar,” kita sedang menyembahnya, namun jika kalian berada dalam Maqam Cinta, maka cinta itu akan mengambil alih pikiran kalian. Pada saat itu kalian tidak bertanggung jawab atas apa yang kalian katakan dan tidak berdosa.

Saat ini kalian pada tingkatan menggunakan akal. Namun pada saat berada di maqam itu, di mana kalian tidak dapat menggunakan akal pikiran, maka kalian bisa mengatakannya dan hal itu tidak dicatat sebagai sebuah dosa. Seperti orang yang tidak waras, jika dia membunuh seseorang, maka kita tidak bisa mengajaknya bicara karena dia tidak menggunakan pikirannya. Tidak bisa ditindak secara hukum karena dia seperti seorang anak kecil, walaupun tindakannya berdasarkan niat sekalipun. Dia tidak bertanggung jawab, dia tidak menggunakan akal pikirannya.

Jika kalian mencapai Maqam Cinta sebagaimana yang telah dicapai para awliya, maka syirik tidak ada artinya. Inilah yang gagal dimengerti oleh para ulama terhadap keberadaan para wali. Ini adalah kesalahan yang dibuat para ulama dulu dan masih berlanjut sampai sekarang. Mereka mengatakan, “Syekh itu musyrik dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa diterima.” Karena Syekh itu tidak sedang berada di maqam yang biasa. Dia sedang berada di Maqam Cinta.


26 July 2008

Kekuatan Ayat Suci Al-Qur'an

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Philadelphia, 14 Mei 1994

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Suatu hari seorang laki-laki, murid Grandsyekh Syarafuddin QS tidak bisa menemukan Syekhnya, lalu dia menuju sebuah masjid, di mana ada seorang ulama di sana. Dia mengatakan pada ulama itu, “Syekh, tolong buatkan aku sebuah jimat/ta`wiz agar dapat melindungi aku.”

Di Arab, kita menyebutnya ruqya, dan di negara-negara Timur Jauh mereka menyebutnya ta’wiz atau azimat, sedangkan orang Amerika menyebutnya du’a. Ulama masa kini tidak percaya jimat, kata mereka, ‘Tidak! Haram! Bid’ah! Syirik!’ Karena tidak paham akan rahasia-rahasia huruf Qur’an, maka ulama itu tidak mau membuatkannya.

Murid itu lalu berkata, “Engkau harus membuatnya! Aku akan pergi ke medan perang, aku membutuhkannya untuk perlindungan diri!”

Ulama itu menjawab, “Perlindungan bagaimana? Tidak ada perlindungan di benda itu.” “Apa?! Tidakkah engkau percaya pada Qur’an? Bagaimana mungkin tidak ada perlindungan bagi al-Qur’an? Engkau harus percaya! Sekarang, buatkan aku jimat, kalau tidak, aku akan membunuhmu!” Ulama itu pun berkata dalam hati, ‘Orang ini gila. Jika aku tidak membuatnya, maka aku akan dibunuhnya.’ Maka diambilnya pena dan kertas, lalu ditulisnya 3 surat dalam Qur’an yaitu: al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Naas.

Ta'wiz Naqsybandi

Bismillaahir rahmaanir rahiim Laa ilaaha illallaah Muhammadar-rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam yaa Rahmaan yaa Rahiim yaa Musta’an yaa Allaah yaa Muhammad shallallaahu ta’aalaa ‘alayhi wa sallam yaa Abu Bakr yaa ‘Umar yaa ‘Utsmaan yaa ‘Alii yaa Hasan yaa Husayn yaa Yahya yaa Haliim yaa Allaah Wa laa hawla wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyil ‘azhiim Syahaamatu Fardaanii Yuusufish Shiddiiq ‘Abdurrauuf al-Yamanii Imaamul ‘Aarifiin Amaanul Haqq Lisaanul Mutakallimiin ‘Awnullaah as-Sakhaawii ‘Aarif ath-Thayyaar al-Ma’ruuf Bimulhaan Burhaanul Kuramaa Ghawtsul Anaam yaa Shaahibaz Zamaan Muhammad al-Mahdii wa Shahibal ‘Ashri yaa Khidir ALLAHU HAQQ.


Kini ‘orang gila’ itu pun puas, “Sekarang, aku bisa pergi berperang dan kembali dengan selamat.” Itulah keyakinannya, dia mempercayai ta`wiz itu 100%. Sesuai apa yang dikatakan Nabi SAW, Allah SWT berfirman, “Innama-l-a’malu bi-n-niyyat.” Setiap perbuatan tergantung pada niat atau keimanan kalian. Jika niat dan iman kalian benar, Allah SWT akan melindungi. Murid itu percaya bahwa dia lebih terlindungi dengan memakai jimat/ta`wiz itu daripada berada di dalam sebuah tangki. Sang ulama juga puas karena dia selamat dan tidak akan lagi berurusan dengan si ‘murid gila’.

Tetapi murid itu berkata, “Sekarang, aku akan membuktikan padamu bahwa Alhamdulillah, apa yang telah kau berikan tadi merupakan ‘pelindung’ yang luar biasa. Ambil senjata ini dan tembaklah aku.” Sang ulama pun membatin, “Majenun (kegilaan) macam apakah ini? Sekarang dia ingin aku menembaknya? Jika aku yang menembaknya, maka dia pasti mati, dan aku menjadi pembunuh.”

Seperti itulah seorang ulama, dan mereka tidak percaya akan Qur’an. Dan yang satunya adalah orang awam, namun keyakinannya 100%. Tidak semua yang sedang duduk di sini punya keyakinan seperti tentara itu. Jika kalian membawa seluruh bagian dari kitab suci Qur’an, kalian masih tidak akan percaya bahwa diri kalian telah terlindungi. Siapa yang percaya bahwa peluru-peluru itu tidak akan menembus dadanya? Murid itu pun terus memaksa, ”Tembaklah aku!” Kata sang ulama, ”Jangan begitu…”
“Tembak aku!”
“Tetapi ini di dalam masjid.”
“Dan ini adalah Qur’an, jika Allah SWT tidak melindungi Qur’an-Nya, dan tidak ada rahasia di dalam Kalimat-kalimat-Nya, mengapa harus kupertahankan dalam hidupku? Tidak ada gunanya. Ayo tembaklah aku di dalam masjid ini, atau aku yang akan menembakmu.”

Ulama itu akhirnya mengambil senjata dan menembak sang murid. Begitu dia melepaskan tembakan, peluru itu mengenai kertas di mana ulama itu telah menuliskan ayat-ayat-Nya. Peluru itu seperti mengenai baja lalu terjatuh ke tanah.

“Alhamdulillah, itulah Qur’an yang baik. Sekarang berikan senjata itu dan aku akan menembakmu. Kenakan ta`wiz itu. Aku akan mengajarimu bagaimana mempercayai Qur’an.” Ketika senjata itu ditembakkan, peluru pun memberi sedikit luka pada ulama itu. Hal itu memberikan bukti, perbedaan hasil pada siapa yang meyakini dan siapa yang tidak meyakininya.

Ketika kalian yakin, Tuhan akan mengirim segala macam perlindungan. Namun bila kalian tidak yakin, maka kalian juga akan menerima kurangnya perlindungan. Apa yang harus kalian yakini mengenai Syekh adalah bahwa beliau akan membimbing kalian menuju gerbang Nabi SAW, dan Nabi SAW akan menuntun kalian menuju Gerbang Ilahi.

Jadi mengapa harus menundanya? Serahkan diri dan kehendak kalian pada beliau. Tetapi bukan itu yang terjadi, kalian mengatakan, ”Kami mencintai Syekh, kami hidup, duduk, makan dan tidur bersama beliau.” Mungkin ada kepatuhan pada tindakan kalian, tetapi tidak di dalam hati kalian. Jika ada sesuatu yang kalian anggap tidak cocok, kalian pun bilang ’tidak’. Berapa banyak para Syekh menghadapi opini pengingkaran dari murid-muridnya, tidak ada yang namanya kepatuhan. Dan sampai sekarang Mawlana Syekh Nazim QS masih mendengar opini-opini yang bernada tidak setuju itu.


Ingat! Syekh selalu Memperhatikan Kalian

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Washington DC, 12 Juni 1994


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Suatu ketika, Grandsyekh Mawlana Syekh Abdullah ad-Daghestani QS duduk bersama Syekh Syarafuddin ad-Daghestani QS pada sebuah konferensi para ulama. Seorang pria memasuki ruangan sambil membawa sebuah al-Qur’an berukuran besar. Dia berjalan menuju ke arah Grandsyekh dan berteriak, “Berdiri!” Semua yang hadir khawatir dia akan berbuat sesuatu pada Grandsyekh. Grandsyekh berdiri dan laki-laki itu meletakkan Qur’an di atas sebuah kursi. Semua ulama memperhatikan apa yang akan dia lakukan. “Duduklah di atas Qur’an itu!” perintahnya pada Grandsyekh.

Syekh Abdullah Fa'iz ad-Daghestani QS

Syekh Syarafuddin QS hanya tertawa melihat hal itu, tetapi para ulama terlihat geram dan marah, “Apa maksudmu menyuruh Grandsyekh duduk di atas Qur’an? Haram! Hal itu tidak bisa dibenarkan!” Namun sekali lagi pria itu berteriak, “Itu dibenarkan! Aku ini alim, aku paham tentang al-Qur’an di dalam hatiku dan hafal setiap ayat-ayatnya, tetapi apa yang beliau lakukan padaku kemarin, tidak bisa dilakukan oleh al-Qur’an. Beliau mampu melakukannya karena beliau adalah Qur’an natiq, Qur’an yang bisa berbicara!“

Grandsyekh tidak melakukan apa yang diperintahkan pria itu. Namun semua yang hadir ingin mendengar cerita selengkapnya. Pria itu pun mulai bercerita, ”Kemarin seseorang mengundangku untuk mengajarkan al-Qur’an pada anak-anaknya. Aku pun pergi ke sana dan mengajari mereka. Ketika anak-anak telah tidur, nyonya rumah yang sangat cantik bermata biru dari Daghestan mengajakku untuk tidur dengannya. Setan pun menggodaku. Apa yang bisa kulakukan? Aku pun masuk ke kamarnya dan mulai membuka baju…” (Kalian bisa lihat, dalam situasi seperti ini ajaran Mawlana mencakup kalangan bawah sampai komunitas atas. Beliau mampu mengajari segala macam strata masyarakat dan berbicara menurut apa yang mereka sukai sehingga membuat mereka semua bahagia).

“Wanita itu membuka pakaiannya. Aku pun melakukan hal yang sama dan kami menuju ke arah tempat tidur. Allah SWT memberiku nafsu syahwat lebih besar dari para pemuda di desaku. Aku mempunyai nafsu terhadap wanita 70 kali lebih besar dari mereka. Dalam semalam aku bisa melakukannya selama 10 kali! Aku sangat mencintai Grandsyekh, namun aku tidak kuasa menahan diri. Maka ketika dia mengundang, aku pun masuk ke kamarnya. Setelah sampai ke tempat tidur, aku mulai memeluknya, namun gambaran wajah Grandsyekh Abdullah QS muncul di dinding. Ketika aku melihatnya, aku pun berpaling dan mengacuhkannya. Namun Grandsyekh muncul di permukaan dinding lain. Ke mana pun aku menoleh, gambaran Grandsyekh tetap muncul.”

Akhirnya orang itu berpikir, ”Tidak apa-apa, aku akan berada di atas, sehingga hanya wajah wanita ini yang terlihat olehku.” Dan ketika pria itu akan melakukannya, Grandsyekh muncul dan berteriak, “AWAS!!” Begitu beliau berteriak “Awas”, maka ibu jari-ku terbelah dan sperma keluar dari sana, aku kehilangan semua gairahku. Grandsyekh mengambil semua nafsuku. Lihatlah ibu jariku ini!”

Semua orang melihat ibu jarinya yang terbelah dua dan terbuka tanpa terlihat ada luka di sana. “Semua nafsu seksualku keluar melalui jari ini. Apa yang Qur’an tidak lakukan padaku, Grandsyekh mampu melakukannya. Beliau yang membuat aku bertobat. Beliau harus duduk di atas Qur’an, karena beliau adalah Qur’an yang bisa berbicara…”

Pada saat itu seluruh ulama berpaling dan segera mendatangi Grandsyekh dan Syekh Syarafuddin QS.

Hati-hati! Para Syekh mengetahui. Mereka mendengar, melihat dan bahkan merasakan. Namun mereka tidak mengatakan apa pun. Mereka melindungi kalian. Namun ketika sampai pada ambang batas, hudud dan atas izin Allah SWT, maka mereka mampu berbuat apa pun untuk mengingatkan kalian. Saat itulah kalian dalam bahaya. Untuk itu jagalah cinta kalian pada Grandsyekh Abdullah QS, Mawlana Syekh Syarafuddin QS (semoga Allah SWT mencurahkan berkah pada mereka) dan juga pada Mawlana Syekh Nazim QS di dalam hati kalian. Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al Fatiha