Showing posts with label Mercy Oceans Pink Pearls. Show all posts
Showing posts with label Mercy Oceans Pink Pearls. Show all posts

01 November 2008

Tungu dan Lihatlah...

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Tanya:

Tolong Anda jelaskan sedikit mengenai perkembangan roh.

Jawab (Syekh Nazim ق):

Tunggu dan lihatlah… taktik tutup mata kadang digunakan bagi mereka yang memandu para pendaki ketika menaiki gunung yang tinggi, curam dan mengerikan.  Sebuah teknik untuk memastikan para pendaki sampai dengan selamat. Para pembimbing paham mengenai area yang dilewati, jalan itu akan membawa para pendaki melintasi gunung yang tinggi dan membahayakan.  Bila mata mereka tidak dibuat tertutup, mereka mungkin akan merasa ngeri dan akhirnya jatuh.

Para pemandu di pegunungan, bagaimanapun adalah orang-orang yang sudah terlatih dan berpengalaman sehingga tidak akan membahayakan mereka yang dipandu.  Setelah melewati kondisi-kondisi yang membahayakan, pemandu akan membuka penutup mata dan para pendaki melihat ke belakang dengan takjub, “Benarkah aku telah menyeberanginya?”  Kita memang melakukan lintasan-lintasan berbahaya untuk berhasil sampai di tujuan kita.

Itu juga merupakan taktik bagi para pembimbing dalam tarekat ini—Tarekat Naqsybandi—menjaga mata para murid terus tertutup sampai mereka mencapai “posisi yang aman.“  Jika telah sampai, maka realitas akan menjadi jelas bagi mereka.  Namun sebelum itu, tidak perlu kalian melihat hal-hal yang luar biasa, karena akan berbahaya bagi kelanjutan perkembangan kalian.  Grandsyekh tahu kapan kalian sampai pada posisi yang aman dan bebas untuk membuka penutup mata.

Adakah sesuatu yang bisa saya lakukan agar maju pada tingkatan—terbuka—lebih cepat?

Kalian tidak dapat melakukan sesuatu kecuali mengikuti.  Ikuti pemandu kalian: apa perintah beliau, apa yang beliau contohkan, dan ikuti segala tingkah laku beliau.  Jika kalian konsentrasi untuk mengikuti beliau maka kalian akan bersama-sama melalui jalan itu bersamanya: mengikuti beliau adalah penting, tidak ada jalan lain.

Bahkan bila kalian hanya menjaga hubungan dan mengingat Syekh kalian sekali sehari, itu sudah cukup bagi kalian untuk ditulis sebagai murid/pengikut beliau.  Artinya kalian telah naik “kereta” itu dan masih mengendarainya.  Sepanjang kereta itu mengarah pada tujuannya, maka kalian pun akan bergerak menuju ke sana.

Bahkan ketika kalian tidak bekerja keras seperti yang seharusnya kalian lakukan untuk kemajuan spiritual kalian, itu tidaklah mengapa.  Karena kalian masih naik kereta itu – bahkan jika kalian tertidur di atas lantai kelas 3; kereta itu tetap melaju dan kalian berada di dalamnya.  Yang terpenting adalah naik kereta.  Bahkan bila kalian terlelap siang dan malam,  kalian tetap maju jika kalian menjaga hubungan dengan Syekh.


naik kereta ke tujuan...

Fakta ini mengacu pada sabda Nabi SAW, bahwa nanti pada Hari Akhir, setiap orang akan diangkat bersama mereka yang dicintainya.  Jadi, semakin besar cinta kalian pada Syekh, semakin kalian mampu melaksanakan perintah Syekh, dan meniru apa yang beliau contohkan atas kepatuhannya pada Allah SWT dan Nabi-Nya SAW.

Bahkan murid yang paling malas pun tidak akan pernah ditinggalkan sendiri sampai dia meraih maqamnya.  Karena jika dia tertidur, kondektur akan datang dan membangunkannya, lalu mengatakan, “Bangun, bangun!  Kita sudah sampai di stasiun.”  Lalu dengan grogi dia menjawab, “Apa?  Kita sudah sampai?” “Ya, ambil kopermu dan pergilah.”

Adakah cara bagi kita untuk mengetahui apa sebenarnya tujuan kita?

Dia Yang Maha Kuasa tahu, Dia yang membimbing kalian ke sana, yaitu kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya.  Hamba-hamba yang telah dikirim demi memberi kalian bimbingan dan yang pasti mereka paham tujuan kalian. Nabi Allah SAW mengetahuinya, Grandsyekh mengetahuinya, inspektur kepala mengetahuinya dan kondektur juga mengetahuinya.

Banyak yang mengikuti tarekat-tarekat sufi yang mengalami tingkatan-tingkatan yang aneh dan indah, seluruh perjalanan akan dibuat menjadi menarik bagi mereka.  Pengelihatan-pengelihatan yang luar biasa dan juga ilham-ilham.  Ada yang mengalami, 'ekstase' dan  'Penyatuan dengan Ilahi’ dan segala kekuatan-kekuatan mistis.

Namun saya merasa seperti manusia normal saja.  Ya, memang saya merasakan kedamaian bertambah dan lebih baik dari kehidupan saya sebelumnya, lebih tenang dan bahagia di dalam diri ini.  Kadang saya bermimpi yang tidak seperti biasanya dan tidak sering.  Pokoknya, yang saya alami tidak sehebat yang para pengikut lainnya ceritakan.  Jika saya bergerak ke suatu tingkatan, saya mengetahuinya karena ada perubahan yang samar-samar, bukan yang dramatis.  Tetapi tidak masalah bagi saya, saya tidak berkeinginan untuk melihat atau melakukan hal-hal semacam itu untuk saat ini.

Dalam tarekat kita, kita tidak berkeinginan untuk melihat sesuatu, yang kita kejar adalah penghambaan yang sebenarnya pada Tuhan kita Yang Maha Kuasa.  Untuk menjadi hamba-hamba Tuhan yang abadi.  Kita tidak mencari yang lain, baik di sini maupun di akhirat nanti.

Namun banyak pencari berharap mendapatkan kekuatan spiritual.

Tidak masalah.  Kami mempunyai kekuatan-kekuatan spiritual itu dan tetap menyembunyikannya.  Itu juga tidak ada gunanya bagi kami.  Daripada menghabiskan energi untuk manifestasi sisi luar, kami menggunakannya untuk menguatkan diri sendiri dalam ibadah dan kepatuhan.  Tidak ada gunanya bagi kami untuk mencari-cari, cara itu digunakan bagi mereka yang lemah.

Jika saya katakan pada saudara kita Syekh Sindbad, “Pergi dan lakukan perintah ini dan itu.”  Saya tidak perlu menawari dia sebuah permen warna merah untuk melakukannya, dia akan bangun dan melakukannya. Namun jika saya suruh seorang anak laki-laki untuk berlari dengan perintah yang sama, maka saya akan mengiming-imingi dia dengan sebuah permen.  Maka dia akan berlari melakukannya, kalau tidak dia tidak akan mau.  Itu adalah tingkatan anak kecil.  Tingkatan bagi mereka yang patuh tanpa menunggu imbalan adalah lebih tinggi, tingkatan manusia dewasa.

Grandsyekh tidak mencari kekuatan-kekuatan semacam itu. Mereka malu memperlihatkan hal-hal ajaib, malu di hadapan Tuhan mereka.  Karena tidak diragukan lagi, bahwa ego akan senang dengan hal-hal ajaib – dan mengambil bagian atasnya – sehingga tentu saja kontra produktif dengan tujuan-tujuan kita, yaitu merendahkan ego serendah-rendahnya, bukan memberinya kepuasan melebihi porsinya melalui pamer keajaiban.

Karena itu, para Grandsyekh Naqsybandiyyah tidak pernah melakukan sesuatu yang ajaib kecuali diperintahkan oleh Nabi suci SAW.  Mereka amat sederhana dan rendah hati, bahkan kalian tidak bisa membedakannya dengan manusia normal lainnya.  Mungkin mereka mempunyai kekuatan nuklir, namun karena rendah hati, mereka seperti bukan siapa-siapa.  Jika seseorang memaksa beliau untuk melakukan keajaiban, mereka mengatakan, “Anakku, apa yang kamu katakan?  Aku ini orang biasa, koperku kosong, bagaimana bisa aku melakukan hal yang kamu minta?

Ya, itu memang benar, mereka memang kosong sampai kekuatan datang melalui mereka.

Ketika kekuatan itu dikirim pada mereka, mereka bisa berbuat apa saja.  Tanpa itu mereka tidak bisa.  Yang berarti dengan penyucian spiritual mereka menjadi kawat tanpa campuran yang menjadikan kekuatan besar berpindah pada mereka tanpa halangan, namun bila mereka terputus dari sumbernya, mereka tidak punya kekuatan dari dirinya sendiri.

Para pencari  percaya akan pentingnya membaca pikiran orang, meramal masa depan, berjalan di udara dan berjalan di atas lautan; mereka pikir itu adalah tanda para guru sejati.  Seharusnya mereka juga berpikir bahwa lalat dan nyamuk juga bisa terbang, serangga air juga berjalan di atas air.  Banyak sekali orang-orang jahat yang mampu melakukannya – bukan hanya awliya dan nabi.  Banyak orang-orang mampu melakukan kekuatan supranatural untuk menipu orang.

Allah SWT meninggalkan mereka menjadi salah arah bagi siapa pun yang mencari bimbingan yang salah, yaitu mereka yang mencari sesuatu selain rida Ilahi.  Anti-Kristus (Dajjal) yang akan muncul di akhir zaman akan memperlihatkan kekuatan mistis terbesar yang sebelumnya belum pernah kita dengar.  Peragaaan hal-hal seperti itu bukan tujuan kita.

Menjadi hamba Tuhan yang tulus adalah tujuan kita.  Terus menerus beribadah dan beramal baik – sehingga Tuhan kita berkenan dengan ketabahan kita dalam kepatuhan dan cinta akan Dia.  Tabah dalam keimanan di zaman kita ini merupakan keajaiban itu sendiri.  Banyak orang yang lemah kemauannya terpuruk dan hilang imannya, karena tak mampu menahan serangan yang mencabut iman di hati mereka di zaman sekarang ini.

Mengikuti tarekat dari awal sampai akhir, menaklukan halangan-halangan dan tabah untuk terus mencapai tujuan kita – itulah namanya keajaiban.  Mencoba-coba, tidak mau berkorban, tidak ada komitmen; berada di tarekat ini hari ini dan besoknya di tarekat yang lain.  Itu bukan cara bagi para pencari yang tulus, tetapi jalan bagi mereka yang kurang serius dan kurang ikhlas.*

Tarekat Naqsybandi adalah jelas: Guru-gurunya tidak mengharap apa pun kecuali rida Allah SWT semata.  Jika ada harapan imbalan dari surga atau kenikmatannya muncul dalam pikiran, mereka harus merasa bahwa dirinya telah menghancurkan ritual penyucian diri dan perlu mengulang wudunya.  Dan jika kenikmatan dunia ini terlintas dalam pikiran mereka, maka perlu bagi mereka untuk mandi besar.

Kita ini masih anak-anak kecil, belum meraih maqam-maqam itu.  Tidak mengapa, kalian tidak bertanggung jawab sepenuhnya akan makna dari istilah Hadirat Ilahi. Guru-guru Naqsybandi penuh dalam Hadirat Ilahi dan tidak lagi mencari apa yang ditawarkan oleh kehidupan ini dan akhirat nanti.

Latihan spiritual yang utama bagi tarekat-tarekat lain adalah berpusat pada pengulangan kaliamat: “La ilaha ill-Allah” (Tidak ada Tuhan kecuali Satu Tuhan Yang Benar, Allah SWT). Inilah pedang yang memotong keterikatan pada tuhan apapun kecuali Allah SWT.  Penolakan akan tuhan-tuhan lain. Pengulangan kalimat ini menyatakan bahwa Dia sendiri yang layak untuk disembah, meninggalkan penyembahan yang lain kecuali pada Dia.

Namun mengidolakan besi dan kayu, atau ego kita sendiri, dan menyembah diri sendiri, uang, kekuasaan, nafsu, orang lain, menyembah intelektualitas, tubuh, atau apa pun juga – sesungguhnya Dia jauh lebih agung di atas apa pun yang bisa kita bayangkan tentang Dia!  Formula utama Naqsybandi adalah pengulangan Nama suci “Allah SWT”.  Karena setelah operasi pemotongan segala keterikatan akan hal-hal yang rendah mengantarkan hamba memanggil Tuhan-nya dan mendekat pada Hadirat Ilahi.

Ketika dia benar-benar mengatakan: La ilaha ill-Allah” dia telah menolak apa pun – bahkan dirinya sendiri.  Menerima untuk tidak menjadi apa pun di dalam Samudra Keesaan Tuhan Yang Maha Kuasa.  Dia tidak akan pernah muncul dari dalam samudra itu.  Yang ada  hanyalah: “Allah, Allah, Allah…”

Siapa pun yang mencari maqam ini maka akan disambut, dan siapa yang mencari-cari sesuatu, biarkan dia menemukan banyak tarekat/jalan lain untuk menjadikannya menjadi “seseorang/sesuatu.”

Catatan:

*Syekh Nazim QS, tentu saja tidak menyinggung tentang berganti-ganti tarekat dan guru untuk alasan-alasan spiritual, seperti Abu Yazid al-Bistami QS yang berganti Syekh sebanyak 99 kali.  Yang beliau maksud adalah para pencari yang tidak konsisten karena tidak adanya kemauan untuk menerima tanggung jawab atau membuat perubahan akan kebiasaan yang kadang menyakitkan dan dalam, hal ini diperlukan ketika mengikuti tarekat secara keseluruhan.

 

Wa min Allah at tawfiq

Para Pembawa Harta hendaknya Bepergian di Bawah Perlindungan

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Bila seseorang hendak benar-benar meningkatkan kehidupan rohaninya dan ikhlas dengan niatnya itu, niat itu pasti dikabulkan olah Tuhannya.  Ini menunjukkan pada kita betapa Tuhan menanggapi niat baik hamba-Nya.  Ketika kita memohon petunjuk-Nya, Dia akan mengirimkan salah seorang hamba yang paling dicintainya untuk membantu kita.

Sebagai contoh, bila seseorang melihat bahwa anaknya dapat merawat apa yang telah diberikan kepada mereka, maka ia mungkin akan memberinya lebih; namun bila ia mengamati bahwa anaknya ternyata ceroboh, cepat menghilangkan, merusak, atau bahkan menghancurkan apa-apa yang ada di tangannya, maka tentu saja ia akan menjauhkan barang–barang darinya.  Kita mungkin diberikan segalanya bila kita menghargai dan merawat pemberian tersebut.

Baru-baru ini, di London seorang anak perempuan berlari-lari dengan sebuah tasbih berayun-ayun di tangannya, dan mungkin saja sebentar lagi akan rusak.  Saya bilang kepadanya, “Berikan pada saya, nanti saya akan beri uang.”  Lalu ia menjawab, “Tidak!”  Saya lalu mengambil sebuah permen merah dari kantung baju saya dan berkata, “Sini, tukar dengan permen ini.”  Lalu ia mendekati saya dan dengan cepat memberikan tasbih itu kepada saya.  Itu bukanlah tasbih yang sangat mahal harganya, namun seandainya pun, itu sebuah kalung mutiara yang mahal, tak diragukan lagi anak itu akan dengan senang hati menukarkannya demi mendapatkan sebuah permen.

Jadi hanya karena kita ‘belum dewasa’-lah maka kita belum diberi apa-apa.  Kita bisa mendapatkan apa saja bila kita dapat merawatnya dengan baik.  Begitu banyak hadiah yang berharga yang menanti kita dalam kehidupan rohaniah kita, namun terlarang bagi siapa pun untuk menerimanya, kecuali mereka yang mampu menjaganya saja.

Tak satu pun di dunia ini yang sepadan dengan harta yang menanti kita.  Namun kunci menuju ke sana dijaga oleh tangan–tangan penjaga.  Kita amat bersyukur pada-Nya bahwa Dia telah menganugerahi harta tersebut, dan Dia menjauhkannya dari kita—dan tetap terjaga di tangan yang dapat dipercaya-- hingga tiba masanya kita siap untuk menerimanya.

Sebagai contoh, ketika seorang kaya raya meninggal, dan meninggalkan anak– anak yatim, Negara tak akan mengizinkan kekayaan tersebut serta-merta diberikan kepada anak-anak kecil itu.  Walaupun kekayaan itu milik mereka, dan merekalah pewaris yang sah, kekayaan itu akan dijaga dari dan untuk mereka, oleh seorang penanggung jawab yang ditunjuk oleh pengadilan.

Ketika anak-anak tersebut cukup dewasa, dan dengan harapan sudah cukup sadar untuk tidak menghambur-hamburkan uangnya, maka mereka akan menerima apa yang telah menjadi haknya.  Namun dalam hal kekayaan batin, walau kalian telah mencapai usia lima puluh tahun, enam puluh tahun, atau tujuh puluh tahun, namun belum cukup ‘dewasa’ menurut pandangan Allah SWT, maka kalian belum dianugerahi harta itu.

Karenanya, yang terpenting di atas segalanya adalah kemampuan kalian untuk menjaga harta itu.  Suatu saat, saya mengamati seorang anak laki-laki yang sedang makan sepotong roti, sementara seekor anjing mengitarinya dengan lapar, menjilati rahangnya.  Anak itu menggigit rotinya dan memegangnya di sampingnya sambil ia mengunyah roti yang baru digigitnya itu.  Lalu, anjing itu mengendus dan mencuri roti itu, bahkan sebelum anak laki-laki itu menyadari apa yang telah terjadi.  Dalam kehidupan rohaniah, seperti halnya dalam contoh tadi, begitu banyak musuh, pencuri dan perampok mengitari kita, menanti kesempatan untuk merenggut apapun dari genggaman kita.  Bila kita cukup kuat dan sadar untuk menjaga dan merawat milik kita, maka harta itu mungkin dapat diberikan pada kita; namun bila kita belum siap, maka kita tak akan menerimanya, karena para perampok akan merenggutnya dari kita tanpa belas kasihan.

Karena alasan ini pulalah, bila kita bepergian melewati tempat yang jauh dan menakutkan, maka kita perlu ditemani, seorang pemandu jalan.  Karena bepergian dengan membawa harta mungkin akan menarik perhatian para perampok, dan bagi para musafir wanita (karena diri mereka sediri merupakan harta dan menarik lelaki yang berniat buruk, ‘para penculik wanita’), maka lebih disarankan untuk bepergian di bawah perlindungan seorang penjaga.  Siapa pun yang membawa harta, tak boleh bepergian sendiri tanpa penjaga, melainkan harus di bawah naungan seorang Grandsyekh, yang melayani seperti seorang penjaga pelindung jiwa manusia, seperti yang dilakukan Rasul di masanya.

Sekalipun di dalam suatu rumah megah yang indah dan besar, kalian akan merasa ketakutan bila sendirian.  Tetapi bila ada orang lain di sana, kalian akan merasa lebih aman.  Jadi jangan pernah berpikir bahwa kalian dapat melakukan perjalanan berat di dunia spiritual yang demikian luasnya sendirian tanpa seorang pendamping.  Dalam tarekat kita, kita harus menemukan seseorang yang dengannya hati kita merasa terpuaskan; lalu apakah orang itu secara fisik dekat dengan kita atau ia berada 5 ribu mil jauhnya dari kita, kita akan selalu merasakan kehadirannya dan matanya mengawasi kita.

31 October 2008

Pekerjaan Terbaik bagi Wanita

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Seorang murid Syekh yang berkebangsaan Amerika bertanya kepadanya apakah istrinya sebaiknya melanjutkan pekerjaannya di luar rumah atau berhenti saja untuk mengkhususkan dirinya bagi pekerjaan rumah dan tugas-tugas keagamaan saja.

Syekh  menjawab:

Seandainya saja saya pada posisi di mana saya memiliki otoritas terhadap pemerintahan, salah satu dari hal-hal pertama yang akan saya kerjakan adalah menghimpun dana khusus untuk dianugerahkan kepada para ibu rumah tangga atas jasanya yang tak ternilai bagi masyarakat.  Saya akan memerintahkan agar kepada wanita yang bekerja di luar rumah diberikan gaji berlipat ganda agar mereka dapat kembali ke profesi yang paling diiberkahi yakni yang dapat mambuat tempat tinggal mereka benar-benar sebagai ‘rumah’, dan bukan hanya tempat untuk tidur di malam hari.

Menurut saya, sungguh amatlah penting bagi seorang wanita untuk mengabdikan dirinya bagi suami dan anak-anaknya: itulah jalan bagi pemenuhan kewanitaan yang sejati. Tetapi tampuk pemerintahan tidaklah berada dalam gengaman saya, sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah menasihati mereka supaya memperhatikan nasihat saya.

Ya, kebijakan saya akan memberatkan sebagian besar wanita, khususnya para ibu untuk bekerja di luar rumah.  Saya akan menyokong kebijakan tersebut dengan dana insentif, karena takkan ada jumlah uang yang layak digunakan untuk mencoba memperbaiki penyesalan yang disebabkan oleh ‘masyarakat piatu’.  Memang ada beberapa profesi di luar rumah yang dapat dikerjakan dengan lebih baik oleh wanita ketimbangn pria, dan wanita-wanita berprestasi akan banyak diperlukan untuk mengisi lowongan tersebut; namun para wanita yang mengerjakan pekerjaan yang dapat dikerjakan pria akan dibayar untuk meninggalkan pekerjaan mereka tersebut.

Sebagai orang yang beriman, kita percaya bahwa seorang wanita yang puas dengan gaji suaminya akan lebih bahagia, dan kehidupan keuangannya akan lebih layak daripada yang bekerja dan mendapat penghasilan sendiri.  Anda mungkin bertanya, bagaimana mungkin?  Kita percaya pada apa yang disebut ‘berkah’, dan uang hasil jerih payah halal suami-dan menjadikan pendapatan keluarga jauh dari berlebih-, diberkahi Allah SWT.  Sehingga yang dibelanjakan bagi kebutuhan keluarga akan menjadi pemuas kebutuhan mereka; sedangkan uang yang diperoleh istri  melalui ketakhadirannya di tengah-tengah rumahnya tak akan membawanya pada kepuasan yang sama.  Terlebih lagi, banyak sekali orang kaya yang hidupnya susah, karena mereka memiliki begitu banyak harta, sementara yang lainnya, yang hidupnya sederhana, dengan pendapatan yang jauh dari berlebih, hidupnya begitu bahagia dan puas dengan beratapkan rumah yang penuh kasih dan pengabdian?

Maksud saya: bila engkau berpenghasilan seribu dolar per bulan, dan istrimu berpenghasilan, katakanlah tujuh ratus, seribu dolar penghasilanmu sebagai suami akan terasa lebih banyak jumlahnya dibanding dengan seribu tujuh ratus dolar penghasilan berdua.  Itulah yang saya yakini, dan itu adalah kenyataan yang dapat diuji oleh siapapun kebenarannya.-kapanpun mereka siap.  Lagi pula, bila dia setuju untuk memenuhi kebutuhan hidup dari gajimu saja, hidupnya, dan kehidupan anak-anak mereka akan lebih berbahagia.

Tetapi belakangan ini, setan tak memperkenankan para ibu untuk tinggal di rumah mereka lagi.  Mereka memaksa para ibu untuk meninggalkan rumah pagi hari buta untuk berjuang di arena balapan tikus sepanjang hari, dan pulang ke rumah sarat dengan kelelahan di malam hari ketika mereka seharusnya mengumpulkan cukup tenaga untuk menyediakan makan malam bagi keluarga dan perhatian bagi sang anak yang hanya dapat diberikan oleh seorang ibu. Kehidupan yang tegang ini membuat para ibu menjadi cepat tua.  Memaksa wanita untuk bekerja ganda di luar dan di dalam rumah tidaklah adil, dan karenanya kita berjuang bagi hak-hak wanita dengan jalan menentang gagasan bahwa wanita harus memikul beban ganda.  Dalam Islam, sang suami harus membantu istrinya sebisa mungkin dalam mengerjakan pekerjaan rumah, walau mungkin dia bekerja seharian.  Dia haruslah memikul tanggung jawabnya dan sekaligus juga membantu istrinya dengan penuh perhatian.

Pada tahap ini sebagian orang akan beargumen bahwa wanita seharusnya bekerja di luar rumah, sementara pria mengurusi anak-anak dan menjaga rumah.  Sungguh hal ini merupakan pendapat anak kecil yang sangat bodoh, karena wanitalah dan bukannya pria yang ditugasi dan secara alami sesuai untuk mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan anak. Pria tak dapat menggantikan tempat wanita.  Dan kami juga menentang pendapat bodoh bahwa kedua orang tua seharusnya bekerja, meninggalkan anak-anak mereka di pusat-pusat penitipan anak, dan keduanya pulang sarat dengan kelelahan di malam hari, makan malam TV, nonton TV sejam, lalu tertidur di tempat tidur.  Sungguh itu bukan sebuah kehidupan keluarga. Bukan.

Karenanya, bila pemerintah ingin mencegah krisis ekonomi, dan kerusuhan sosial, mereka harus membayar para wanita untuk tinggal di rumah.  Bila gajimu saja sudah cukup, tak baik menyuruh istrimu untuk bekerja.

Murid Amerika: ‘Alhamdulillaah! Dia Yang Maha Kuasa telah memberkahi kami dengan lebih dari yang pernah kami impikan’

Syekh :

Karenanya kau harus memintanya untuk tetap di rumah untuk menjaga anak-anak kalian.  Terutama bila kalian berkecukupan, seharusnya tak ada alasan bagi istrimu untuk bekerja.

 

Murid Amerika: Dia senang bekerja.

Syekh:

Bukan, keinginan seperti itu adalah tipu daya ego dan berbahaya bagi masyarakat.  Kita haruslah mengasihi yang lain, jutaan orang pengangguran cemas menunggu pekerjaan yang dipegang istrimu: para pria yang sudah berkeluarga, para janda. Allah SWT Yang Maha Kuasa telah memberinya kekayaan dengan jalan dia memiliki seorang suami pekerja keras dan berhasil, lalu mengapa dia tetap memegang pekerjaannya, mengapa dia mencegahnya daripada mereka yang jauh lebih membutuhkan pekerjaan itu?

Itulah masalahnya.  Begitu banyak pengangguran di negara-negara industri-mengapa?  Terutama karena semua wanita bekerja.  Bila saya anggota masyarakat yang bertanggung jawab, bagaimana bisa saya membiarkan istri saya bekerja? Bila saya membiarkan dia bekerja, maka saya membiarkan diri saya  dan istri saya menjadi beban masyarakat, mengubah diri saya dan istri saya menjadi parasit, yang dengan rakus mengambil lebih dari yang sebenarnya kami perlukan dan lebih dari yang baik bagi kami dengan biaya orang lain.  Sungguh itu merupakan kerja yang parasit: biarkan seorang pengangguran bekerja dan menghidupi dirinya sendiri.

 

Murid Amerika yang lain: Bagaimana bisa seorang wanita di Negara-negara Barat dapat menemukan kedamaian di hatinya serta kepuasan dalam keempat dinding rumahnya, bila orientasi seluruh masyarakat menentang kehidupan semacam itu?

Di negara-negara timur, keadaanya berbeda: adalah mudah bagi seorang wanita untuk membuat rumahnya sebagai tempat yang nyaman dan memuaskan, karena selalu banyak wanita yang menjalani kehidupan semacam itu di sekitarnya yang dapat dia kunjungi seharian, atau sebaliknya--teman, tetangga, sanak saudara- begitu banyak kegiatan di lingkungannya.’

‘Sedangkan di Barat gaya hidup demikian terasingnya, sehingga orang merasa seolah-olah dinding rumah mereka dingin membeku, tanpa keramahan, dan hampa: mereka merasa seolah-olah dinding rumah mereka menghimpit mereka.  Dalam suasana seperti itu sungguh sulit memang bagi para wanita untuk tinggal saja di dalam rumah, walaupun sebetulnya mereka tak begitu menginginkan sesuatu pun di luar sana.

Syekh menjawab:

Ya, hal itu terjadi karena mereka tak memiliki pengkalibrasi dalam skala ukurannya.  Jika tak ada yang demikian dalam kehidupan jiwanya, skala tersebut akan selalu tergelincir ke satu sisi saja; namun bila mereka memiliki dunia alternatif, kedalaman pengabdian jiwa sebagai penyeimbang, sungguh sangatlah mudah bagi para wanita untuk berdiam di rumah walaupun ada banyak kejanggalan yang menentangnya.

Ya, saya paham bahwa bagi wanita barat, duduk berdiam di rumah sangatlah membosankan dan menjemukan, dan berada di rumah bagaikan terpenjara; namun bila mereka dapat mengecap manisnya kedalaman jiwa, mereka akan sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk berada di rumah di mana mereka dapat mengkonsentrasikan usahanya daripada harus berkeliaran di jalanan modern yang tercemar.  Namun bila mereka belum membuka pintu kedalaman jiwa mereka, mereka akan tetap mencari jalan keluar untuk pergi dari rumah segera setelah suami mereka berangkat di pagi hari.

Apa yang sekarang kita gambarkan haruslah dianggap sebagai tujuan akhir: suatu sasaran jangka panjang untuk ditaklukan oleh kaum wanita kita- suatu sasaran kesempurnaan bagi kehidupan para wanita.  Namun seperti yang telah kita tunjuk sebelumnya, kondisi di dunia Barat tidaklah kondusif bagi para wanita untuk mengembangkan kehidupan spritual mereka dengan cara demikian:  tinggal di rumah.  Karenanya, bila saya indikasikan, cara hidup ideal bagi seorang wanita, saya tak mengharapkan seluruh wanita dapat menjalani gaya hidup seperti itu, dan makanya saya tak memerintahkan mereka untuk melakukannya.  Bila kondisinya berbeda, maka mungkin lain lagi keadannya.

Seperti yang saya katakan, Seandainya saya berkuasa, maka para wanita akan menerima bayaran ganda bila mereka mau tinggal di dalam rumah mereka; dan saya akan memerintahkan bahwa rumah-rumah hendaknya dibangun dengan cukup lapang, tak seperti penjara.  Di malam pertama kepemerintahan saya, saya akan memerintahkan agar seluruh bangunan apartemen dimusnahkan; di malam kedua, saya akan memerintahkan agar rumah-rumah baru yang lapang dan berkebun dibangun bagi setiap keluarga, sehingga para wanita takkan pernah lagi berkeinginan untuk meninggalkan rumah mereka-begitu indah dan luas, rumah-rumah mereka nantinya…..

Di sini (di Siprus), kami tinggal di sebuah rumah tua yang terbuat dari batu bata, jenis rumah yang kini banyak ditinggalkan orang demi untuk tinggal di apartemen-apartemen yang sempit di kota-kota besar.  Rumah ini setahun lalu hanyalah reruntuhan puing yang ditinggalkan orang, dan seluruh kebunnya mati dan ditumbuhi gulma.  Ketika saya membelinya, semua orang melarang dan mengejek saya; tetapi lihatlah sekarang, hanya setelah setahun kerja yang teratur rumah ini cukup indah, dan kebunnya pun berbunga, dan walaupun ini sederhana dan tidak mewah, rumah ini luas, nyaman dan indah.

Baik istri saya maupun putri saya tidak pernah merasa bosan dan terpenjara tinggal di rumah ini.  Mereka sangat jarang berkeinginan untuk pergi ke luar rumah, dan bila mereka pergi, mereka selalu ingin cepat pulang.  Ya, mengapa tidak tinggal di rumah semacam itu saja?  Bumi ini begitu luasnya; mengapa kita demikian bodohnya untuk tinggal di atas orang lain dalam apartemen yang dingin dan jelek?  Allah SWT memerintahkan: “Tafasahu” yang artinya, “Wahai manusia, berpencarlah di bumi’ Perintah ini mestinya sudah cukup bagi kita untuk memahami bahwa Tuhan kita tak menginginkan kita untuk tinggal dalam situasi yang sempit dan berjejalan di bumi Allah SWT yang luas ini. 

Cara yang keliru yang telah diambil umat manusia untuk hidup yakni tinggal dalam kondisi berdesakan yang sebenarnya tak perlu itulah yang menjadi penyebab utama krisis ekonomi dunia ini.  Terlebih, kota-kota besar yang padat adalah bencana bagi kesejahteraan ekonomi dan sosial bangsa-bangsa. Hanya bila kecenderungan berbahaya ini mulai dibalik dan orang kembali ke pedesaan  maka kondisi sosial ekonomi umat manusia akan menjadi lebih baik.

Apa ada baiknya membangun kota-kota besar semacam itu? Bahkan di Inggris kalian mungkin harus berkendaraan bermil-mil jauhnya untuk menemui hunian atau pemukiman, sementara pusat-pusat urban menelan jutaan orang yang membutuhkan sistem yang kompleks untuk penyediaan dan pendistribusian komoditas.  Orang mengerjakan lahan yang memproduksi bahan pangan yang mereka makan:  lalu ada apa dengan pedesaan sehingga orang tidak memadatinya dan mengelola kehidupan perekonomian di desa-desa kecil?  Udara yang segar, sinar matahari dan alamnya-tak ada lagi krisis ekonomi.  Orang mungkin akan banyak tumbuh di kebun-kebun mereka-tak ada lagi kemacetan lalu-lintas, penyakit pun tak begitu mewabah.  Begitu banyak penyakit masyarakat yang dapat disembuhkan dengan desentralisasi.  Kota-kota dengan 10.000 penduduk sudah cukup besar.

Kecenderungan di muka bumi ini menuju ke arah yang destruktif: Orang-orang bergerombol ke kota-kota besar untuk mencapai posisi yang lebih baik demi memanjakan syahwatnya.  Hasil akhirnya bukan hanya kehancuran ekonomi saja melainkan juga perubahan nilai-nilai yang menyeluruh dan kegilaan yang akan mendominasi masyarakat- hal ini sudah dapat kita amati.  Kota-kota besar membuat orang menjadi asing satu dengan yang lainnya. Walau begitu banyak orang tinggal di tempat yang sangat berdekatan, namun mereka saling asing, saling berprasangka dan curiga satu dengan yang lainnya.  Orang-orang kota biasanya terputus dari saudaranya, teman-teman dan para tetangga.

Kita tak pernah diperintahkan untuk hidup bagai binatang buas: masing-masing saling bebas, mengharapkan kesempatan di mana si kuat memangsa yang lemah, tidak!  Kita lebih diperintahkan untuk hidup berkelompok, untuk saling tergantung; dan di desa-desa kecil sungguh sangat mudah untuk hidup seperti itu, karena semua orang mengenal tetangganya dan dapat merawatnya. 

Tak ada perlunya bagi siapapun untuk meninggalkan Lefke, Siprus, sebuah kota agraris kecil untuk pergi ke Amerika, Jerman, Inggris, Austrlia, atau bahkan Nikosia untuk bekerja. Semua orang dapat menghidupi diri dan keluarganya; dan bila satu desa telah padat, mereka dapat membangunnya satu lagi di tempat lain.  Cara seperti ini jauh lebih berkah.


Seorang murid: “Tetapi orang pergi ke kota-kota besar dan ke luar negeri untuk dapat hidup dalam kehidupan yang diimpikannya: bioskop, televisi, klub malam, uang dan sebegainya.  Dan mereka juga tak kurang tertariknya pada berkah.  Sepertinya itu sebuah penyakit: bahwa orang berkeinginan untuk hidup dengan mimpi mereka dan bukannya hidup sederhana saja.’

Syekh:

Mereka boleh saja memanjakan fantasinya, namun mereka akhirnya tidak akan dapat menghindar dari keruntuhan ekonomi, dan tak ada yang dapat dilakukan pemerintah yang cukup efektif untuk mencegah keruntuhan tersebut.  Kini kita mendekati titik itu dengan sangat cepat, dan tak seorang pun dari pemerintahan yang berani melakukan langkah drastis untuk mencegah keruntuhan – obatnya terasa terlalu pahit bagi ego mereka.  Namun bila titik itu telah tercapai orang akan dipaksa untuk meninggalkan kota-kota yang kelaparan dan menyebar ke pedesaan, mencari pertolongan.


Seorang murid: “Haruskah saya menyampaikan kepada saudara-saudara yang di Amerika sana bahwa Anda menasihati mereka untuk menjual rumah-rumah mereka di kota dan berhenti dari pekerjaannnya dan lalu pindah ke pedesaan?”

Syekh:

Pelan-pelan!  Sedikit demi sedikit mereka akan berjuang menuju cita-cita pindah ke pedesaan.  Mereka harus mencari keadaan yang dibutuhkan untuk membuat perpindahan itu berjalan lancar.  Dengan cara yang pintar dan tenang mereka mestinya dapat mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan dan pindah menuju cita-citanya dengan gangguan seminimal mungkin terhadap kehidupan dan pendapatannya.

Di pedesaan mereka akan lebih aman dari kasus-kasus peperangan, karena biasanya kota-kota besarlah yang menjadi sasaran pertama; lagi pula, dalam kejadian keruntuhan ekonomi mereka lebih mudah mengatasinya.  Telah terdapat begitu banyaknya pedesaan, sehingga saya tidak melihat perlunya membangun desa-desa baru lagi, saya pun tak menganjurkan kalian semua untuk datang bersamaan menuju sebuah tempat terisolasi untuk membuat perkampungan muslim di Amerika.  Lebih baik mereka pindah ke suatu komunitas umum sebagai suatu kelompok kecil di antara penduduk non-muslim yang jumlahnya lebih banyak.  Ada kebijaksanaan di sini, dan rahmat bagi orang Amerika, karena saudara-saudara kita laksana gemintang menyinari, menaungi mereka dengan cahaya berkah di sekeliling mereka.  Bintang-gemintang tersebar di seluruh langit;  bila mereka semua berkelompok di satu tempat saja, maka belahan langit yang lain akan menjadi gulita.  Ya, kalian boleh tinggal di mana saja; dan kami berharap Allah SWT akan membuat kalian sebagai alat untuk menyadarkan hati rakyat Amerika akan Rahmat-Nya.

 

25 June 2008

Utang Piutang dan Persahabatan

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Seorang pengikut Syekh memberitahu bahwa salah seorang murid telah meminjam uang dalam jumlah besar tetapi sampai sekarang belum juga dikembalikan, bukan karena ia tidak mampu, melainkan karena keserakahan dan ketidakjujurannya.


Syekh Nazim QS mengomentari,

Suatu ketika Grandsyekh Syekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berkata kepada saya, “Wahai Nazim Efendi QS, berulang kali telah kukatakan kepada orang-orang agar mereka tidak meminjamkan uang (tentu saja Grandsyekh tidak merujuk pada utang-piutang dengan bunga tertentu, karena itu sudah pasti dilarang keras dalam Islam; tetapi beliau merujuk pada utang-piutang tanpa bunga yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sebagai bentuk pertolongan atas kesulitan yang dialami atau sebagai modal usaha. Pinjaman semacam itu digolongkan sebagai “pinjaman yang bermanfaat” dalam Hukum Islam). Saya katakan kepada mereka, “Wahai kalian, Allah SWT memerintahkan kita untuk memberi pinjaman yang bermanfaat. Allah SWT senang kepada kita bila kita memberikan bantuan untuk menolong orang yang sedang memerlukan dan oleh sebab itu Dia telah memerintahkan kita dan menjadikan pinjaman itu sebagai jalan untuk mendekatkan diri ke Hadirat-Nya. Tetapi Aku sebagai Syekh kalian, berharap bisa mencegah kalian dari pinjam-meminjam uang!”

“Mungkin ini terdengar aneh bagimu, wahai Nazim Efendi QS, seperti halnya bagi mereka, di mana, pada saat Allah SWT memerintahkan kita untuk memberi pinjaman, Aku malah melarang para pengikutku untuk melakukannya. Ya, memang seolah-olah terlihat bahwa Allah SWT memerintahkan tetapi Aku melarangnya. Tetapi mungkin ini tidak lagi terlihat aneh bagimu bila Aku menyebutkan dan membahas kondisi yang harus dipenuhi sebelum seseorang menganggap pinjaman itu sebagai ‘pinjaman yang bermanfaat’, jenis pinjaman yang dapat mendekatkan diri kepada Tuhannya. Engkau akan melihat bahwa untuk ini diperlukan lebih banyak persyaratan daripada hanya memberi pinjaman tanpa bunga.”

“Jika seseorang mendatangimu untuk meminjam sejumlah uang, misalnya 1000 poundsterling, kalian harus memikirkannya dan berdiskusi dengan dirimu sendiri, katakanlah pada dirimu, ‘Orang itu datang dan ingin meminjam sejumlah uang. Apakah kau siap untuk memberinya? Juga apakah kau siap untuk kehilangan uang itu tanpa menyebabkan perubahan dalam hatimu terhadapnya? Apakah kau siap untuk tetap bersahabat dengannya walaupun karena kasus itu engkau tidak akan mendapatkan uangmu kembali, baik karena ia tidak mampu membayarnya karena keadaan ekonominya atau karena ia tidak mau membayarnya, walaupun ia mampu melakukannya? Bahkan jika ia mempermainkan engkau, akankah engkau tetap menjadi sahabatnya seperti halnya sekarang?”

“Jika engkau secara jujur bisa mengatakan, ‘Ya, ia adalah saudaraku, dan 1000 poundsterling ini tidak akan menjadikan kami saling bermusuhan. Tidak peduli apapun yang terjadi pada uang itu, perasaanku terhadapnya tidak akan pernah berubah, baik terang-terangan maupun dalam hatiku.’ Kalau demikian, berikanlah pinjaman kepadanya. Tetapi bila jawabanmu, ‘Tidak, jika ia tidak dapat mengembalikan uang itu, Aku akan membawanya ke pengadilan’ atau ‘Bila ia memang tidak dapat mengembalikan uang itu, Aku akan bersabar, tetapi jika ia menipuku, Aku akan mengajukannya ke pengadilan.’ Bila demikian, maka jangan beri dia pinjaman.”

Grandsyekh menekankan bahwa persahabatan dan persaudaraan lebih berharga daripada dunia dan segala isinya. Kita tidak boleh menghancurkan persahabatan dengan perselisihan karena hal-hal duniawi, itu adalah dosa. Kita harus melihat diri kita dengan sangat cermat, karena ini adalah urusan kubur. Sekarang kalian bersahabat, tetapi bila kalian memberinya pinjaman dan ia tidak membayar kembali, kalian bisa saling bermusuhan. Ingatlah, persahabatan kalian lebih berharga daripada 1000 poundsterling itu. Persahabatan kalian lebih berharga daripada seluruh kekayaan di dunia ini. Dikembalikan atau tidak, hati kalian tidak boleh terguncang, “Tidak masalah apakah ia akan mengembalikan atau tidak, apapun alasannya. Jika ia ingin membodohi aku dan mengambil uangku, itu juga tidak masalah, lagi pula aku memang orang yang bodoh.”

Ya, bahkan bila orang itu sudah mencapai taraf kerendahan hati semacam itu, bukan suatu kontradiksi jika ia mengaku sebagai orang bodoh; karena siapapun yang berkata, “Aku tidak bodoh,” suatu saat akan dibodohi oleh seseorang. Kebodohannya akan menjadi kenyataan. Jadi jangan mengaku bahwa kalian pintar, kuat, atau tak terkalahkan, karena itu akan mengundang penghinaan, dan seseorang akan datang untuk menggosok wajah kalian dengan lumpur.

Allah SWT tidak pernah suka dengan orang yang berpikir bahwa dirinya adalah ‘sesuatu’. Setiap hari kita melakukan hal-hal yang bodoh tanpa pernah memperhatikannya. Kalian begitu bodoh, dan jika kalian tidak mengetahuinya, seseorang akan datang untuk menunjukkannya padamu. Itu penting.

Saya sering mendengar Grandsyekh mengutip sabda Rasulullah SAW, “Orang yang berkata, ‘Aku pintar,’ suatu hari pasti akan menjadi bodoh; siapa yang mengaku, ‘Aku kaya,’ suatu hari akan menjadi sangat miskin sehingga dia akan memerlukan sumbangan dari orang-orang; barang siapa yang berkata, ‘Aku tahu,’ suatu hari akan menjadi tidak tahu apa-apa, bahkan dia tidak tahu bagaimana menyuapi dirinya sendiri—seperti seorang anak yang baru saja disapih.”

22 June 2008

Yang Manakah dari Nikmat Tuhanmu yang Engkau Dustakan?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Masa-masa di mana kita hidup dicirikan dengan kecenderungan umat manusia untuk melakukan segala sesuatu dengan cara yang paling membahayakan dirinya, berlawanan dengan apa yang diperintahkan Tuhan pada manusia.

Perintah Ilahi menuntut bahwa demi kesejahteraan jiwa kita, kita mestinya selalu melihat mereka yang pencapaian spritualnya telah sampai ke maqam yang lebih tinggi, sehingga kita mungkin dapat terinspirasi untuk berjuang meniru mereka sebaik yang bisa kita lakukan. Sebaliknya, dalam hal kehidupan materi, kita hendaknya selalu melihat mereka yang kurang beruntung daripada kita dan bersyukur kepada-Nya karena telah memelihara kita dari penderitaan semacam itu. Itulah sebabnya maka kita akan selalu menghargai Kemurahan Tuhan terhadap kita dan bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia anugerahkan kepada kita.

Ketika saya terbangun di pagi hari, dan mengamati diri sendiri, saya pun bersyukur pada Tuhan karena telah memelihara kesehatan saya, mengingat bahwa begitu banyaknya orang yang menderita penyakit-penyakit berbahaya, dan terluka. Terlebih lagi, saya pun bersyukur kepada-Nya karena telah memelihara akal sehat saya, mengingat begitu banyaknya orang yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena menderita kegilaan yang menakutkan. Saya bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa karena telah memelihara saya dari mengikuti hasrat ego saya, karena barang siapa yang mengikuti seluruh kehendak egonya akan menuju kepada kejahatan. Saya ingat bahwa dunia penjara dipenuhi oleh orang yang memiliki hasrat ego yang buruk yang menyebabkan mereka melakukan kejahatan yang membawa mereka ke penjara, seringkali dalam keadaan yang amat memilukan, jauh lebih mengerikan daripada perpindahan sukarela yang jarang terjadi.

Saya bersyukur kepada-Nya bahwa saya dapat menemukan makanan tanpa kesulitan dan tidak menderita kelaparan, mengingat jutaan orang fakir miskin dan terlantar, ‘Yang Manakah dari Rahmat Tuhanmu yang Engkau Dustakan?’ (Qur’an: Surat Ar-Rahman)

Dengan melihat mereka yang kurang beruntung dibanding kita, kita mungkin dapat menemukan kepuasan dalam hidup kita, dan dengan mamandang ke atas dalam hal cahaya jiwa, maka pada saat yang sama kita mungkin terinspirasi untuk maju secara rohani dan bergabung dengan mereka di maqamnya. Itulah resep untuk sukses: untuk membebaskan diri kita dari obsesi duniawi sehingga kita dapat dengan leluasa berkonsentrasi pada tugas-tugas rohaniah, yang karenanya kita telah diciptakan.

Namun sepertinya belakangan ini segalanya telah terbalik. Orang sibuk menyelamati dirinya karena telah melakukan semua ibadah, walau pada kenyataannya mungkin saja ibadah mereka itu sebetulnya dosa belaka dan tidak sesuai dengan perintah Ilahi. Mereka berkata, ’Saya sembahyang, dan ia tidak; saya berpuasa di bulan Ramadan, dan ia tidak, betapa rakusnya dia..’
Jadi mereka ujub, bahkan tingkat pengamatan mereka terhadap syariah mungkin saja belum memadai; atau, bila pun jalurnya benar, mungkin kurang penjiwaan sehingga ibadahnya kurang diterima di Hadirat-Nya.

Dalam hal materi, orang menghabiskan waktu mereka untuk beriri hati pada orang lain, tak henti-hentinya berpikir tentang mereka yang lebih cantik, lebih pintar, lebih sehat, lebih muda, lebih kaya dari pada mereka. Sehingga karenanya hati mereka hangus terbakar iri, tak henti-hentinya mengeluarkan cercaan bagi korban irinya, hingga akhirnya mereka meninggal dalam keadaan yang mengenaskan.

Hingga orang dapat melihat dengan lebih jernih dari tempat yang lebih lebih menguntungkan, kini kita dapat menyimpulkan, yaitu menaikkan rohani dan merendahkan materi, mereka akan selalu mengeluh mengenai keadaan dirinya, di mana sebetulnya mereka harus lebih khawatir tentang keadaan rohaninya. Tak diragukan lagi, bahwa umat manusia amatlah menderita akibat mengikuti jalan setan dari iri dan pujian, dan kita hendaknya mencoba menghindarkan diri kita daripada mengikuti arus yang membahayakan tersebut.

Barangsiapa yang Memanjakan Egonya Tak Akan Melangkah Jauh

Wawancara Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Tanya: Dapatkah perkembangan spiritual terjadi dengan tiba-tiba atau mestikah berjalan lambat laun dalam periode yang lama?

Syekh: Sepanjang kita menunggangi keledai atau keledai kita yang masih menunggangi kita, bagaimana mungkin kita berbicara tentang tiba di satu tempat tujuan dalam sekejap mata? Bila kita punya roket, maka kita mungkin saja tiba dengan amat cepat.

Tanya: Dapatkah perkembangan spiritual dari para Sufi bagaikan keju Swiss-tak konsisten, penuh lubang?

Syekh: Itu bukan perkembangan namanya. Perkembangan itu sifatnya konsisten. Ada semacam pemeriksaan yang dilaksanakan untuk meyakinkan konsistensi sebuah perkembangan, dan kriteria yang dipakai untuk pemeriksaan tersebut adalah Hukum Ilahi (Syari’ah). Dapatkah Anda memelihara diri Anda untuk tetap mengikuti syari’ah selama 40 hari? Dengan ini, kami tak bermaksud untuk megharapkan Anda untuk melakukan segalanya menurut syari’ah; tidak, karena hal itu tak mungkin. Cakupan dari Syari’ah itu begitu luasnya, laksana samudra; Anda hanya memegang beberapa saja yang Anda temui dalam perjalanan hidup Anda. Selagi Anda melewati perjalan hidup Anda, hendaknya Anda mencoba untuk menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya dalam tindakan maupun pemikiran. Sebagai contoh, ada banyak kendaraan menuju Munich, tetapi Anda hanya bertanggug jawab atas yang Anda kendarai saja, dan tidak atas yang lainnya.

Ya, untuk menjalankan syari’ah selama 40 hari mungkin akan meliputi tindakan-tindakan yang tak dianjurkan ataupun dilarang oleh syari’ah, hal demikian itu disebut mubah. Itu artinya adalah untuk membiarkan keledai atau kuda Anda merumput, membiarkan ego Anda mendapatkan bagiannya, boleh-boleh saja. Bila kita bepergian kita tak selalu harus berada di jalan, sesekali kita harus berhenti untuk mengisi bahan bakar. Hal itu boleh-boleh saja, dan bahkan perlu: kita biarkan kuda kita merumput, supaya kelak kita bisa mengendarainya, tidak untuk alasan lain. Bila kita membiarkannya merumput maka kita akan dapat menungganginya dan sebaliknya bila kita tak membiarkannya merumput akan menjadi terlalu sulit untuk ditunggangi, akan membawa kesulitan begi kita dan menolak untuk bergerak. Jadi, duduk-duduk dengan keluarga kita, dan sejenisnya boleh-boleh saja, namun setiap kegiatan ada saatnya, harus ada keseimbangan dalam hidup kita. Sebagai contoh, Anda sebagai dokter pergi ke kantor Anda jam 9.00 pagi dan berada di sana hingga jam 5.00 sore dan selama itu adalah tidak benar untuk bersantai-santai dengan keluargamu, karena saat itu adalah milik pasien-pasien Anda. Ada saatnya bagi hal-hal yang mubah namun ada pula saatnya untuk tetap pada tarekat. Bila seseorang selalu memanjakan egonya, maka ia tidak akan mengalami kemajuan.

Tak semua orang dapat menjalankan syari’ah selama 40 hari dan mencapai maqam spiritual tertentu sebagai hasilnya, dan yang mengetahui siapa yang mampu melakukannya ada pada Syekh. Syekh membimbing para pengikutnya melewati latihan selama 40 hari di bawah perintah Nabi SAW, dan hanya dengan kewenangan semacam itulah yang akan membawa para pencari untuk sampai ke tujuannya. Bila tidak, latihan 40 hari tersebut akan terlewatkan dengan penuh derita. Sebagai contoh, bila ada sejenis anjing yang amat buas dan mempunyai ekor yang keriting. Jenis anjing lainnya mungkin jinak, namun yang ini selalu galak. Beberapa orang berpikir bahwa kesalahannya terletak pada ekornya, lalu mencoba menjepitnya untuk meluruskannya. Selama 40 hari, anjing itu berkeliaran dengan ekor terjepit lurus bergerak-gerak di belakangnya. Lalu segera setelah jepitannya dilepas, ekornya kembali keriting seperti semula dan anjing itu tetap segalak sebelumnya.

Sekarang Anda (salah satu pengikut) baru saja terlompat untuk mengatakan sesuatu pada orang di luar sana. Hal tersebut menyebabkan menurunnya tingkatan spiritual dari pembicaraan ini, laksana pesawat yang menabrak kantung udara. Bahkan memalingkan kepala kalian pun selama ceramah ini dilarang olah syari’ah, karena hal tersebut akan mengganggu konsentrasi Syekh dan para pendengar yang lain dalam rangka pemindahan ‘kebangkitan spiritual’ (fudayat). Bila kita tak mampu memelihara diri kita selama 20 menit saja, bagaimana mungkin kita dapat melakukannya selama 40 hari?

Suatu ketika Grandsyekh kami berkata kepada para pengikutnya, ‘Bila saja kalian dapat berkhidmat pada syari’ah selama dua menit saja, maka saya akan dapat membawa kalian ke kuburan dan memperlihatkan pada kalian keadaan orang yang terbaring di kubur—apa mereka menderita atau bahagia.’ Lalu seorang pengikutnya duduk dan berusaha untuk khusyuk selama dua menit. Tanpa sengaja, ia membalik sebuah sendok untuk mengalihkan perhatiannya dari pengaruh tawaran dan tantangan Syekh tersebut. Grandsyekh itu lalu berkata: ‘Apa manfaat perbuatanmu itu? Tindakanmu itu tak ada faedahnya, dan menurut Syari’ah kamu harus mengindari perbuatan yang tak bermanfaat bila kamu ingin mengalami kemajuan.’

05 June 2008

Pantai Kebenaran

Wawancara Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Penanya: Syekh Nazim QS, dalam dua hari terakhir ini di Haus Schnede (Jerman), Anda bertemu dengan banyak orang yang tentunya menanyakan banyak hal kepada Anda. Dari semua pertanyaan itu manakah yang paling signifikan?

Syekh Nazim QS: Alhamdulillah! Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya, malah sebaliknya mereka adalah pendengar yang tekun. Pada saat mereka memperhatikan apa yang kami bicarakan mereka akan menemukan jawaban atas pertanyaan mereka dalam kata-kata kami, sehingga tidak perlu muncul pertanyaan.

Penanya: Sayang sekali saya tidak sempat hadir. Sekarang saya akan bertanya tentang jalan (tarekat) Anda. Anda adalah seorang pemimpin dari Tarekat Naqsybandi dan pengikut ajaran Syah Bahauddin Naqsyband QS. Tarekat Naqsybandi adalah jalan para Sufi, jalan menuju Tuhan: apa sajakah yang diperlukan dalam jalan ini, serta apa saja ajaran beserta metodenya?

Syekh Nazim QS: Ada pepatah tua dari Jerman: “Semua jalan menuju ke Berlin” jika setiap jalan menuju ke Berlin, maka setiap tarekat mestilah menuju Allah SWT. Setiap pencari Tuhan dalam kenyataanya mencari jalan menuju Allah SWT. Semakin banyak anak Adam AS datang dan pergi, itu semua menuju Tuhan. Mereka akan menggapai Tuhan mereka pada akhirnya, meskipun jalan yang ditempuh berbeda untuk setiap orang. Mereka semua akan bertemu di Hadirat-Nya.

Penanya: Jadi bisa dikatakan menurut Anda bahwa setiap jalan menuju Allah SWT adalah jalan yang benar?

Syekh Nazim QS: Tentu! Jika itu menuju Allah SWT, pastilah itu jalan yang benar. Dalam perjuangan menuju Tuhannya, hal yang paling penting dan yang paling diperlukan adalah kesungguhan hati. Murid kami harus bersungguh-sungguh; dan para Syekh dari tarekat kami sangat menekankan hal ini. Barangsiapa mempunyai kesungguhan hati mesti suatu saat akan mencapai tujuan dan meraih hasil.

Tetapi ada beberapa orang dengan motif lain, mencoba menyembunyikan sesuatu dalam hati mereka, mereka seperti serigala berbulu domba, mereka tidak akan pernah menggapai tujuannya. Orang-orang bisa saja menempuh jalan yang berbeda dan berkata, “Kami mencari Tuhan kami!” Jika mereka teguh dengan perkataanya maka mereka berada di jalan yang benar dan aman, sebaliknya jika tidak, jalan itu menuju tangan Iblis.

Penanya: pendek kata menurut Anda bahwa setiap pencari kebenaran yang teguh…

Syekh Nazim QS:
…pasti menemukan kebenaran.

Penanya: dan Allah SWT akan membimbing setiap orang di jalannya, di setiap jalan masing-masing individu?

Syekh Nazim QS: Ya, ini adalah Tuhan Yang Maha Adil yang membimbing setiap orang yang teguh ke Hadirat-Nya.

Penanya: Saya menanyakan pertanyaan ini karena, kami di Barat mempunyai perbedaan budaya dengan Anda, jalan kami bisa saja berbeda.

Syekh Nazim QS: Mungkin saja.

Penanya: beberapa orang dari Barat yang ingin menggapai Tuhannya tidak berani mengikuti jalan Anda karena mereka tidak melihat mengapa mereka harus belajar bahasa Arab dan menjadi Muslim. Banyak orang mencari Tuhannya dengan teguh tetapi berkata, “Cara kami berbeda dengan Timur.”

Syekh Nazim QS: Siapa yang berkata kepada mereka, “Jadilah Muslim?” kami hanya berkata kepada mereka, “Bersungguh-sungguhlah dan jujur!” jika mereka bisa melakukan hal tersebut, mereka akan diantarkan menuju tujuan mereka, menuju Tuhan mereka. Apakah orang Barat mempunyai Tuhan dan orang Timur juga mempunyai Tuhan yang berbeda? Tidak akan pernah! Tuhan dari alam semesta ini, Tuhan dari anak Adam AS hanya satu! Dan Tuhan yang sama, Allah SWT.

Penanya: apakah seseorang memerlukan metode khusus, teknik atau ajaran untuk setiap jalan? Latihan apakah yang Anda rekomendasikan untuk seorang pencari, tetapi bisa saja bukan seorang Muslim?

Syekh Nazim QS: Latihan itu berbeda untuk setiap pribadi. Ada begitu banyak metode, dan seorang guru akan menunjukkan cara kepada setiap pengikutnya untuk melakukan praktik yang sesuai dengan pribadi masing-masing. Sekali seseorang menerima latihan tersebut, seharusnya ia mengikutinya dengan hati-hati untuk memetik manfaat dari hal tersebut. Menyangkut latihan, kita harus bisa menjelaskan arti dari tujuannya. Bahwa latihan itu ada dua macam: spiritual dan fisik.

Penanya: Apakah yang dimaksud dengan latihan untuk hati?

Syekh Nazim QS: Itu adalah latihan yang paling penting di atas semuanya, jauh lebih penting dari yang bisa kita lakukan melalui tubuh kita. Materi ini sangat sederhana dan mudah untuk dipahami. Anda bisa saja melakukan latihan seperti di dalam Islam yaitu salat, atau latihan seperti yang diperkenalkan Mr.Gurdjieff atau praktik latihan lainnya – selama itu masih berupa latihan secara fisik, Anda belum bisa mengambil apapun untuk jiwa Anda. Bahkan Anda bisa menemukan bahwa tidak ada perubahan pada diri Anda, tetap sebagai pribadi yang sama seperti sebelumnya. Kepribadian Anda, karakter Anda hanya akan berubah bila ada perubahan di dalam hati.

Rahasia dari hati berada di dalam setiap kepribadian dan karakter pada setiap individu. Ketika rumput dicabut tanpa perhatian dan dengan cara yang benar, akarnya akan tinggal dan akan tumbuh kembali. Begitu juga dengan latihan fisik tanpa ditunjang dengan latihan untuk hati akan seperti rumput itu: akar dari masalah akan selalu tertinggal.

Penanya: Jadi dari pandangan Anda, tidaklah cukup hanya dengan latihan fisik saja kita menjalankan Islam tetapi dengan menjalankannya dengan menggunakan hati sepenuhnya.

Syekh Nazim QS: Ya, kita harus beribadah dengan hati kita. Ketika tubuh kita mengarah ke kiblat, hati kita juga langsung mengarah ke Hadirat-Nya. Dan menjalankannya dengan cara seperti itu berarti menjalankan ibadah dengan penuh dan lengkap.

Penanya: Mawlana Jalaluddin Rumi QS memperkenalkan latihan ibadah dengan menari berputar dengan diiringi flute dan drum. Beberapa orang mengatakan ini juga salah satu cara untuk beribadah.

Syekh Nazim QS: Benar, tetapi seharusnya Anda tahu bahwa sesungguhnya Mawlana Rumi QS tidak menari berputar seperti yang dilakukan orang-orang saat ini. Tidak, ketika beliau dan para darwis menari berputar, mereka berputar di atas permukaan antara Surga dan Bumi, melayang di udara, seperti para malaikat. Itu adalah cara tarian berputar sebenarnya dengan menggunakan badan dan hatinya. Tetapi untuk hati yang tidak bersih mereka tetap menjejak bumi dan berputar-putar belaka. Ketika Mawlana Rumi QS melayang, itu adalah tanda penting bahwa beliau telah menyempurnakan latihan internalnya. Tetapi menirunya secara fisik pun itu tetaplah baik, jika seseorang terus mencobanya dengan tekun, ia akan sampai juga pada tujuannya.

Penanya: Jadi sangatlah penting untuk berlatih di bawah bimbingan seorang guru.

Syekh Nazim QS: Benar sekali, tanpa seorang guru, dalam pandangan saya, tidak akan ada pelajaran yang bisa diraih, seorang guru tugasnya mengajar orang-orang.

Penanya: tetapi apakah yang diajarkan seorang guru harus dari Allah SWT, atau hanya dari pandangannya?

Syekh Nazim QS: Jika kita bisa mengambil dari penemuan hasil dari pemikiran kita, berarti tidak perlu ada pembimbing. Tetapi pada kenyataannya, para nabi pun mempunyai pembimbing yaitu malaikat Jibril AS, yang bertugas sebagai perantara antara mereka dengan Tuhannya. Jadi, jika para nabi saja membutuhkan pembimbing, maka bagaimana dengan yang bukan nabi? Siapa saja, untuk tiba di tujuannya membutuhkan pembimbing. Inilah mengapa setiap jalan Sufi mengikuti metode ini: semua jalan Sufi dibangun di atas transmisi ajaran-ajaran dan karakter guru kepara muridnya.

Penanya: Tarekat berarti sebuah jalan?

Syekh Nazim QS: Tarekat artinya “Jalan”

Penanya: Ada begitu banyak Tarekat dalam Sufisme, apakah semuanya bersaing?

Syekh Nazim QS: Berkompetisi menuju kebaikan adalah suatu hal yang baik, untuk bersegera dan cepat-cepat menuju kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah SWT, melebihi yang lainnya, jika mungkin. Kita harus berlomba untuk kepuasan Allah SWT terhadap kita melalui tingkah laku yang baik. Rahmat dari Allah SWT akan melindungi kita dari rasa sombong, congkak, dan berpuas diri. Kita harus berlomba menuju kepuasan Tuhan kita, bukannya memuaskan diri kita sendiri yang mungkin saja membahayakan bagi orang lain. Dan lebih memilih berlomba di dunia yang materialistis ini, yang selalu cenderung merusak dan egois, bahkan sekalipun ketika melakukan hal yang sepertinya “pekerjaan yang baik”. Tetapi perlombaan orang-orang di tarekat sangatlah berbeda.

Penanya: Dinyatakan bahwa dalam banyak ajaran Sufi adalah pertama: syari’at, kemudian tarekat, dan akhirnya haqiqat (Kebenaran Mutlak). Tetapi, menurut pemahaman saya, kita bisa saja langsung menuju tarekat, mengambil bimbingan dari orang yang benar, sehingga seseorang bisa meraih haqiqat (Kebenaran Mutlak). Karena syari’at hanyalah berisi berupa aturan/hukum yang hanya kulit saja di jalan Sufi, bukanlah sesuatu unsur yang penting.

Syekh Nazim QS: Syari’at adalah samudra dan tarekat adalah sebuah kapal. Ketika Anda melakukan perjalananan di atas kapal di samudra, Anda bisa mencapai Pantai lainnya–Pantai Kebenaran, pantai dari Haqiqat. Tanpa samudra kapal tidak bisa berlayar. Apa artinya kapal tanpa samudra? Akankah Anda bawa kapal itu di punggung Anda?

Penanya: Tetapi jika ada samudra dan tidak ada kapal, dan Anda bisa berenang, Anda akan tenggelam. Anda tahu banyak orang yang melakukan hal ini dan menolak menaiki kapal, “kapal Spiritual”.

Syekh Nazim QS: Tidak perlu kita berenang di tengah samudra. Berenang bukanlah cara yang tepat untuk menyeberangi samudra yang begitu luas. Anda lebih suka berenang dan tenggelam, atau menggunakan kapal dan tiba di tempat tujuan? Dengan perahu kayu jika Anda lebih suka!

Penanya: Begitu banyak makna “kapal” dari Anda. Terima kasih!