Showing posts with label Shuhba. Show all posts
Showing posts with label Shuhba. Show all posts

02 February 2009

Pentingnya Suatu Shuhba

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: 5 Mei 2002


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Shuhba dari orang-orang yang saleh membawa para hadirin kepada kesempurnaan, kemal, setiap orang diantarkan ke maqam (spiritual)nya. Hanya Allah SWT yang memiliki kesempurnaan yang mutlak. Setan selalu ingin memecah-belah manusia, sebaliknya Allah SWT ingin menyatukan mereka, tetapi orang-orang tidak mengikuti-Nya. Allah SWT ingin menyatukan hati, tetapi umat tidak mau mendengarkan firman-Nya, oleh sebab itu Allah SWT tidak menolong mereka… Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengerti dan menerapkan pengetahuan mereka.

03 September 2008

Segala Sesuatu Bertasbih kepada Allah SWT

Lefke, Siprus: 18 November 2001

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Segala sesuatu berubah setiap saat, mereka selalu berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu manifestasi, tajali, ke tajali yang lain. Siapakah yang melakukannya? Untuk tetap ada (memiliki eksistensi) segala sesuatu membutuhkan dukungan Tuhan. Dan selalu ada timbal balik—barang siapa yang mengambil sesuatu, maka dia harus memberi sesuatu. Setiap makhluk berterima kasih kepada Allah SWT atas keberadaan mereka dengan selalu mengucapkan, ‘Subhanallah!’, bertasbih dan bersyukur kepada Allah SWT. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini memiliki kehidupan—jika tidak, maka dia akan mati dan menjadi musnah.

Daun-daun pada suatu pohon melakukan shuhba (asosiasi) antara satu dengan lainnya, pohon-pohon di suatu taman juga melakukan shuhba di antara mereka—segala sesuatu melakukan shuhba dan berkomunikasi. Manusia dengan manusia lainnya, pohon dengan pohon lainnya, binatang dengan binatang lainnya—ada tingkatan dalam komunikasi. Siapa yang mengetahui hal ini tidak akan mengatakan bahwa dirinya berasal dari kera… Hal ini (shuhba dan komunikasi) bertambah terus hingga akhir zaman, sedangkan apa pun yang diberikan kepada manusia selalu berada dalam batas-batas tertentu, seperti suatu kontainer dalam suatu samudra. Komputer hanya bisa bekerja bila manusia menekan tombol-tombolnya, dan seorang anak pun bisa menekan tombol. Allah SWT berfirman, “Kami telah menyerahkan segala sesuatu di langit dan bumi bagimu. Pergunakanlah!”

Aritmetika adalah sains yang paling terhormat, ibu dari segala sains, dasar dari berbagai sains… Tetapi, orang menggantikan yang asli dengan plastik, dengan imitasi. Orang-orang sudah seperti aktor…

Angka 19 memiliki banyak rahasia. Angka 19 adalah sembilan ditambah sepuluh. Dengan angka sembilan, berarti ada batas atau limit, dan setelah itu kembali ke angka satu, bukan angka lainnya. Kalian dapat mengurangkan satu dari sembilan, sehingga menjadi delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu—tetapi setelah satu, kalian tidak dapat mengurangkan lagi, tidak ada angka lagi… Tidak setiap orang dapat memahami Aritmetika—yang memang membutuhkan pemahaman khusus. Karena itu, di waktu lampau, tidak setiap murid diajari pengetahuan yang sama, tidak seperti sekarang… Kita berada dalam periode kebodohan atau jahiliyah kedua. Ketika Nabi SAW menasihati istri-istrinya, beliau memperingatkan mereka untuk tidak kembali pada keadaan jahiliyahnya yang dulu, dan untuk tidak mempertontonkan kecantikan mereka.

27 June 2008

Ego dan Shuhba

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Di mana kita kehilangan zikir kita—ingatan kita pada Allah SWT; di mana kita terputus walaupun hanya sedetik saja, segera ego kita akan melompat keluar karena ingin diperhatikan. Untuk itu, pada saat nafsu seseorang ingin diperhatikan, yang lain harus menyadari bahwa ia telah keluar dari lingkaran shuhba. Ia harus ditarik kembali.

Adalah berat bagi ego kita untuk menjadi ‘hanya salah satu’ dari kebanyakan orang—bukan menjadi seseorang yang ‘berbeda’. Nafsu selalu menunggu seseorang untuk kehilangan total kesadarannya—sehingga ia (nafsu) bisa melompat keluar.

Para sufi hidup di dalam shuhba. Kehidupannya berisi shuhba. Mereka semuanya mempunyai tujuan yang sama, niat yang sama namun maqam mereka berbeda. Setiap orang berada dalam tingkatannya masing-masing namun perbedaan itu sebenarnya ‘selaras’ satu sama lain. Ketika kita berada dalam shuhba, jangan mengatakan bahwa “masalah saya berbeda dengan dia” atau “karakter saya berbeda dengan dia” atau “saya mempunyai gagasan berbeda dengan dia.” Jangan berpikiran bahwa diri sendiri adalah ‘seseorang’. Jangan! Semua orang yang datang bersama dalam suatu shuhba, apapun perbedaan mereka, sebenarnya mereka ‘selaras’ satu sama lain.

Jangan terlalu yakin akan diri sendiri, jangan pernah berpikir bahwa kalian tidak melakukan sesuatu agar diperhatikan. Siapa sih yang tidak? Berapa banyak yang kita katakan atau kita lakukan bukan karena suatu tujuan? satu, dua? Berapa banyak? Apa yang kalian katakan mungkin terbungkus oleh ‘tujuan’ yang lebih dalam. Tanyakan pada diri sendiri atau tanya pada hati kalian mengapa kalian berbicara dan berlaku seperti itu? Tak seorang pun lepas dari ego, sampai mereka mencapai maqam yang aman.

Sebelum mencapainya, segalanya dapat terjadi setiap saat dan tidak kurang dari satu detik, lebih cepat dari perkiraan kalian. Kadang kita terkejut dengan diri sendiri karena melakukan sesuatu hal yang konyol, “Mengapa saya melakukan hal itu? Mengapa saya mengatakan hal seperti ini?”

Pikiran terlalu lambat untuk menangkapnya, karena ego bergerak lebih cepat dari pikiran! Kita berusaha memahami saat segalanya telah terjadi. Jadi, untuk tetap waspada/sadar adalah lebih penting dari pada hanya berpikir.

Saat nafsu seorang sufi melompat ke depan, keinginan untuk diperhatikan melalui amarah dan permusuhan terhadap saudara laki-laki atau perempuannya (ini adalah cara paling terkenal agar diperhatikan yaitu dengan mengkritik, menyalahkan, marah). Saat hal ini terjadi, kewajiban bagi mereka yang dikritik, yang dituduh—untuk menemui roh orang yang melawannya dengan hatinya. Hal ini sangat penting. Saat seseorang melawan kalian atau mengkritik kalian dengan keegoan mereka, dengan nafsu mereka—jangan dilawan lagi dengan nafsu, karena jika kalian melakukan itu kalian sedang dalam peperangan. Hanya akan memanas. Inilah aturan bagi siapapun dan agar kita dapat menggunakannya setiap saat. Di saat seseorang mengkritik atau menyerang kalian, karena nafsu mereka, maka temuilah mereka dengan hati kalian jangan dengan ego kalian. Jangan balik menyerang atau mengkritik. Hal itu tidak akan menolong. Hanya akan melempar kalian berdua keluar (dari shuhba—penerj.).

21 June 2008

Mengenai Shuhba

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



"Thariqatuna as-shuhba wa-l khayru fi-l jam'iia"
(Jalan kita berada dalam asosiasi dan berkah atau kebaikan berada dalam kebersamaan).
Syah Naqsyband

Shuhba berarti suatu asosiasi atau perkumpulan di mana semua yang hadir memusatkan diri pada satu titik, satu sasaran.

Sebagian orang berpikir bahwa mereka tidak akan menemukan suatu kejahatan, atau konflik di tempat-tempat seperti kota suci Mekah; kalian tidak akan menyaksikan hal-hal semacam itu di depan Ka’bah. Namun demikian, seseorang yang telah mengunjungi tempat-tempat suci ini dapat dengan mudah mengetahui bahwa pada kenyataannya hal itu tidaklah demikian. Bahkan dibandingkan tempat lain, tempat-tempat suci tersebut justru lebih banyak melahirkan segala sesuatu yang berasal dari dunia yang berbeda, bukan dari dunia roh atau malaikat, melainkan dari dunia binatang.

Maka ketika kalian masuk, atau berniat untuk mulai menempuh hidup di Jalan Sufi, tak jadi soal bila berbagai kesulitan dan masalah menimpa diri kalian. Persoalannya hanya, ketika untuk pertama kalinya kalian dapat mengetahui mengapa hal-hal tersebut terjadi dan apa makna dari peristiwa itu. Itulah perbedaannya. Orang biasanya tidak menderita akibat apa yang menimpa mereka, tetapi sebagian besar menderita karena mereka tidak mengerti mengapa kejadian itu menimpa mereka dan apa hikmah dari kejadian itu.

Oleh sebab itu, orang yang berusaha untuk mengikuti jalur spiritual sepatutnya mengerti. Mereka harus tahu bahwa dengan bergabungnya mereka ke dalam kelompok seperti itu; tidak berarti secara otomatis mereka aman satu sama lain, karena kita tahu bahwa salah satu cara Allah SWT, salah satu jalan-Nya yang paling terkemuka dalam menguji hamba-hamba-Nya adalah dengan menempatkan mereka dalam keadaan saling bertentangan. Hal itu terjadi dalam tarekat seperti halnya di luar (tarekat), tetapi mungkin di dalam tarekat hal itu terlihat lebih jelas karena orang tidak menginginkannya. Pada saat yang sama, orang harus memahami hal itu dan belajar untuk berurusan dengannya. Lebih jauh lagi, apa yang terjadi dalam tarekat hanyalah merupakan sebuah contoh terhadap apa yang terjadi di mana-mana, tetapi di situ hal itu terlihat lebih jelas. Sebab kita harus selalu waspada dan tidak boleh lengah ketika kita mengikuti jalan spiritual. Jika kita tidak mau mengikutinya, kita boleh tidur. Tidak masalah. Tetapi bila kita berusaha untuk mengikuti jalur seperti itu, kita tidak boleh tidur. Hal itu tidak diizinkan. Jika terjadi juga, kita harus segera berusaha untuk bangkit.

Kadang-kadang, ketika kita berbicara di sini, kita berbicara secara umum menyangkut semua orang yang datang dari mana-mana, dan pergi ke mana-mana. Kadang-kadang, ada hal penting yang perlu disampaikan mengenai peristiwa-peristiwa yang khusus, tetapi apapun yang dibicarakan, sudah tentu berguna dan bermanfaat. Kita tidak berbicara di sini untuk tampil mengesankan dengan pengetahuan kita. Maksud dari shuhba atau pembicaraan dalam shuhba terletak dalam dua hal. Pertama adalah untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang dan mungkin itu bisa menolong dalam situasi tertentu bagi mereka dan pada saat yang sama bisa bermanfaat secara umum. Tujuan kedua dari pembicaraan dalam shuhba adalah untuk memohon kepada Allah SWT untuk memberikan suatu pembukaan dalam hati orang-orang yang benar-banar mendengarkan, yang selalu terjaga dan tidak lengah, sehingga berkah akan tercurah pada mereka. Mereka dapat meninggalkan pertemuan itu dengan berkah dari Allah SWT, Rasulullah SAW, dan dari Grandsyekh di Tarekat Naqsybandiyyah. Berkah ini akan tercurah ke dalam hati mereka dan itu akan menolong mereka.

Sekarang kita akan berbicara mengenai makna berada dalam shuhba dan makna ketika meninggalkannya, ketika melanggar peraturan shuhba. Ini adalah sebuah nasihat bagi setiap orang secara general, dan khususnya bagi orang-orang tertentu. Saya akan menyebutkan kepada kalian, sesuatu yang berasal dari Grandsyekh besar kita, Syeikh `Umar al-Suhrawardi QS Awarif al-Ma`arif. Beliau berbicara tentang makna ketika seseorang mengatakan, “Saya seorang Sufi.”

Di masa sekarang, banyak orang yang tidak memahami hal ini lagi, dan begitu banyak orang yang menghakimi, mengkritik dan menghukum tanpa pemahaman. Maka, mereka bisa saja mengambil keuntungan dari ucapannya. Tetapi ucapan mereka sama pentingnya untuk orang-orang yang mengikuti atau berniat untuk mengikuti suatu jalur spiritual, Jalan Sufi.

Dalam tradisi Sufisme, selalu ada tempat khusus di mana para Sufi tinggal. Jika kalian pergi ke Konya, di Turki, dan mengunjungi makam Jalaluddin Rumi QS, semoga Allah SWT mensucikan rahasianya yang diberkati, kalian akan melihat bahwa di sekitar makam tersebut terdapat sebuah rumah besar dengan banyak kamar. Di kamar-kamar itulah murid-murid Syekh dalam Tarekat Maulawiyah tinggal. Hal semacam ini juga terdapat dalam tarekat lain, tetapi tidak seluruhnya demikian.

Dalam Tarekat Naqsybandi, Syekh kita mengatakan bahwa membangun rumah seperti itu bukanlah prinsip kita. Mengapa tidak? Apa hikmah di balik pernyataan ini? Untuk apa rumah itu dibangun? Itu berarti, orang-orang yang mengikuti jalur spiritual tinggal dalam satu rumah. Mereka mengikuti peraturan khusus yang merupakan peraturan di rumah itu. Mereka berada di bawah bimbingan si pemilik rumah. Rumah seperti itu bisa saja memiliki dinding, atap dan lantai dari batu, tetapi bagi kita itu tidak perlu. Itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memerlukan dinding seperti itu, atap seperti itu, dan batu seperti itu agar tahu di mana mereka tinggal. Rumah-rumah seperti itu dibangun dan bisa dibangun kembali. Namun, bagi orang yang mengerti apa makna untuk tinggal di sebuah rumah, tinggal bersama, dan mengikuti peraturan di rumah tersebut, berjalan di jalur spiritual di bawah bimbingan pemilik rumah, ia tidak memerlukan dinding seperti itu. Sekarang, di dalam Tarekat Naqsybandi, ketika kita tidak memiliki rumah seperti itu, atau tidak terdorong untuk memilikinya, bukan berarti tidak ada. Itu berarti Syekh dan muridnya mengetahui, tanpa perlu diingatkan lewat batu-batu itu, bahwa mereka tinggal di rumah seperti itu. Rumah kita adalah tarekat ini. Rumah itu memiliki peraturan untuk tinggal dengan satu sama lain. Jika seseorang tidak mengikuti peraturan tersebut, sesuatu akan terjadi padanya. Mungkin, ia akan ditempatkan di luar untuk sementara, mungkin ia akan ditempatkan di ruangan lain, atau akan dikatakan kepadanya, “Pergilah ke luar sampai kamu diizinkan untuk masuk kembali.” Tak ada rumah tangga yang tidak memiliki peraturan. Orang harus mengetahui dan mematuhinya. Rumah bagi Naqsybandiyya disebut shuhba. Itulah rumahnya. Jika kalian berada dalam sebuah shuhba, maka kalian berada dalam Tarekat Naqsybandiyyah. Jika kalian menerima peraturan shuhba, kalian tinggal di rumah ini, di bawah pengawasan dan bimbingan Syekh. Jika kalian melanggar peraturannya, berarti kalian melanggar peraturan rumah tersebut. Oleh sebab itu kita harus mengetahuinya. Tidak menjadi soal apakah rumah itu tersusun atas beberapa material atau tidak. Itu hanya diperlukan oleh orang yang mendapatkan pemahamannya lewat rumah seperti itu, tetapi tidak semua orang memerlukannya. Seorang pengikut Tarekat Naqsybandi harus bisa memahami tanpa rumah tersebut.

Ketika kita mengunjungi Mawlana Syekh di Lefke, Siprus, kita melihat sebuah pondokan (guest house) dan rumah Syekh. Tetapi jangan kalian pikir bahwa ketika kalian meninggalkan Siprus, kalian tidak lagi berada di rumah Syekh. Tak peduli di mana kalian berada. Rumah itu berada di mana-mana.

Sekarang, apa yang dikatakan oleh Syekh Umar Suhrawardi QS adalah mengenai orang-orang yang tinggal di rumah seperti itu. Mungkin, kalian tahu bahwa banyak makna yang terkandung dalam kata tasawwuf atau Sufi, dan masing-masing memiliki hikmah. Sebagian orang mengatakan bahwa kata itu berasal dari kata suf, wool, atau dari kata dalam bahasa Arab yang berarti kemurnian. Syekh Umar Suhrawardi QS mengatakan bahwa kata itu berasal dari Ahl as-Suffa. Ketika orang mengatakannya, dia harus mengerti maknanya: siapa yang dimaksud Ahl as-Suffa dan apa artinya bagi orang yang mengaku dirinya sebagai seorang Sufi, dan siapa yang tinggal di bawah nama orang-orang tersebut. Ada sebuah ungkapan dalam hadits Rasulullah SAW, “Jiwa-jiwa adalah bagaikan tentara yang berkumpul bersama, mereka yang mengenal satu sama lain, setuju satu sama lain. Mereka yang tidak mengenal satu sama lain, takkan setuju.”

Dan ada pernyataan yang serupa dari Sayyidina ‘Ali KW, semoga Allah SWT memberkati wajahnya, “Apa yang kau kenal, kau cintai; dan apa yang kau abaikan, kau benci.”

Hadis Rasulullah SAW juga menyatakan hal yang sama, “Mereka yang mengenal satu sama lain, setuju satu sama lain, mereka datang bersama, mereka bertemu, mereka berada dalam shuhba. Mereka yang tidak saling mengenal, tidak setuju.” Sekarang Syekh Suhrawardi QS berkata, “Melalui shuhba, jiwa para Sufi disatukan dan ego mereka (anfaas) dibatasi. Mengapa? Karena dengan berada dalam shuhba, mereka melihat satu sama lain, memandang satu sama lain, sesuai dengan hadis bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Dalam shuhba, mata bertemu mata. Setiap orang menjadi cermin bagi orang lain dan dengan demikian ego mereka terbatasi. Sebagaimana Mawlana Syekh Nazim QS suatu hari berkata, “Alasan mengapa kita duduk bersama adalah karena itu merupakan latihan bagi sisi buruk ego kita, nafs al-lawwaamah. Biasanya apa yang disukai oleh sisi buruk kita, ego kita adalah untuk diperhatikan, menonjol, berbeda, menjadi seseorang, dan menjadi lebih dari yang lainnya. Namun demikian, selama kita duduk bersama, tak seorang pun yang menjadi lebih dibanding yang lain. Tentu saja, kadang-kadang itu akan menjadi terlalu sulit, kemudian satu atau yang lain harus muncul. Bahkan dalam suatu shuhba, ia harus menonjol. Tujuan dari shuhba adalah untuk menjaga agar ego tetap berada dalam batasnya. Setiap kali salah seorang yang duduk dalam shuhba memperlihatkan tanda-tanda ingin menampakkan diri, atau ingin menonjolkan diri, ia harus menarik diri. Karena keinginan itu terjadi ketika ego ingin memperlihatkan dirinya. Menonjolkan diri berasal dari hilangnya hudur, kehadiran. Kehadiran di sini mengandung arti Hadirat Ilahi. Untuk berada di Hadirat Ilahi tidak berarti kita harus berada di tempat lain, di bulan. Itu berarti hadir. Di sini. Itu harus dipelajari, dijaga, dan dipraktikkan, agar kita selalu hadir, dalam Hadirat-Nya. Ketika kalian kehilangan kehadiran kalian, kehilangan momentum, hal pertama yang terjadi adalah kalian akan muncul, “Aku di sini. Kalian melihatku? Setiap orang memperhatikanku? Ya? Setiap orang memperhatikan apa yang kukatakan, dan bagaimana tampangku?”

Setiap kita kehilangan zikir kita, ingatan kita, setiap hubungan kita terputus walaupun hanya sesaat, dengan segera ego melompat dan ingin agar diperhatikan. Oleh sebab itu, setiap kali ego dari salah seorang di antara kita ingin diperhatikan, yang lain tahu bahwa ia telah keluar dari lingkaran shuhba. Dan ia harus ditarik kembali. Sangat berat bagi ego kita, untuk tidak menjadi sesuatu yang spesial, hanya menjadi orang biasa seperti yang lain. Ego menanti seseorang agar kehilangan kewaspadaannya sehingga ia dengan segera akan melompat.

Salah satu jalan yang paling terkenal agar mendapat perhatian adalah melalui kemarahan dan kebencian terhadap orang lain, bahkan terhadap saudara dalam tarekat. Tak pernah yakin mengenai diri kalian, tak pernah berpikir bahwa kalian tidak melakukan sesuatu untuk diperhatikan. Siapa yang tidak melakukannya? Berapa banyak hal yang kita lakukan atau kita katakan yang bukan ditujukan dengan maksud seperti itu? Satu, dua? Berapa banyak? Apa yang kalian ucapkan bisa saja dibungkus atau dihiasi dengan kepentingan yang ‘lebih dalam’, tetapi tanyakanlah pada diri kalian sendiri, atau tanyakan pada hati kalian, mengapa kalian berbicara atau bertindak seperti itu. Tak seorang pun yang aman dari egonya sampai mereka mencapai maqam yang aman. Hingga saat itu, peristiwa apa saja bisa terjadi dan dalam waktu kurang dari satu detik, lebih cepat dari yang kalian pikirkan. Kadang-kadang bahkan kita sendiri kaget, kita menemukan diri kita berbicara dan bertindak dengan cara seperti itu. Kita berkata, “Mengapa aku melakukan hal itu?” “Mengapa aku mengatakan hal itu?” Pikiran terlalu lambat untuk menangkap. Ego bergerak lebih cepat dari pikiran kita! Kita mencoba untuk memahami tetapi kejadiannya sudah terjadi. Oleh sebab itu, yang lebih penting dari berpikir adalah untuk selalu waspada.

Tetapi apa yang akan kita lakukan? Ketika ego dari para Sufi melangkah ke bagian terdepan, ingin diperhatikan melalui kemarahan dan kebencian terhadap saudaranya baik pria maupun wanita, marah terhadap orang lain, menyerang seseorang (itulah cara yang terkenal agar diperhatikan, yaitu dengan mengkritik, menyalahkan dan marah kepada orang lain), ketika hal itu terjadi, ketika ego ingin diperhatikan, tugas dari saudara yang dikritik atau diserang adalah menghadapi orang yang menyerangnya dengan hatinya. Itu sangat penting. Ketika seseorang menyerang kalian, atau mengkritik kalian lewat jiwanya yang egois, melalui egonya; hadapilah dia dengan hati kalian, jangan dihadapi dengan ego kalian. Jangan menyerang balik, atau mengkritik balik. Itu tidak menolong siapapun, malah itu akan menyingkirkan kalian berdua.

Jika kalian berkata bahwa kalian adalah bagian dari shuhba, selama kalian menganggap diri kalian sebagai pengikut jalur spiritual itu, ketahuilah bahwa rumah tersebut memiliki peraturan. Dan kapan pun kalian menjumpai seorang saudara, di mana pun kalian menjumpainya, kapan pun kejadiannya, pertama kali lihatlah dirimu sendiri. Jangan mencoba untuk melompat atau menyerang. Ketika kalian diserang atau dikritik oleh seseorang, saudara pria atau wanita, jangan membalasnya dengan ego kalian. Kalian harus menghadapi ego dengan hati kalian. Mengapa? Ketika kalian menghadapi ego dengan hati kalian, ia akan kehilangan semua pijakan di bawah kakinya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia menjadi terpesona. Tetapi bila kalian menghadapi ego dengan ego kalian, maka perang segera dimulai dan perlindungan dari setan pun lenyap, tak ada lagi perlindungan dari setan bagi keduanya.

Allah SWT berfirman,
"Id fa`billatii hiya ahsanu fa idzal-ladzii baynaka wa baynahuu `adaawatun ka-annahuu waliyyun hamiim/ Wa maa yulaqaahaa illal-ladziina shabaruu wa maa yulaqaahaa illa dzu hazhin `azhiim." [QS 41:34-35]

Artinya,
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

Allah SWT Yang Maha Pemurah berbicara tentang Kebenaran dalam ayat tersebut. Itulah makna dari ayat tersebut. Itu adalah untuk orang-orang seperti itu. Jika kalian tidak mengikuti tarekat, lalu ada seseorang yang melakukan sesuatu yang buruk terhadap kalian, adalah perilaku yang tidak baik bila kalian membalasnya, tetapi kadang-kadang hal itu diperbolehkan bagi mereka. Tetapi kalian tidak diizinkan untuk melakukan hal itu, karena kalian menempuh perjalanan melalui jalur spiritual. Ketika kalian mengatakan bahwa kalian adalah seorang Sufi, maka ayat tersebut berlaku pada kalian. Kalian semua atau sebagian besar dari kalian yang mengenal Syekh Nazim QS, apakah kalian menyadari bahwa Mawlana seringkali membaca ayat ini? Balaslah sesuatu yang buruk dengan sesuatu yang baik. Mana yang lebih baik? Hati lebih baik daripada ego.

Kadang-kadang salah satu di antara dua orang mengeluh kepada Syekh. Mereka telah saling mengejek satu sama lain dalam waktu yang lama dan salah seorang di antara mereka berkata, “Sekarang kita harus membicarakan hal ini kepada Syekh.” Lalu Syekh akan menegur salah satu di antara mereka, tak peduli siapa di antara mereka. Mengapa? Karena keduanya sama-sama bersalah. Syekh bisa saja menegur salah seorang di antara mereka, beliau dapat memilih salah satu di antara mereka, tak jadi soal. Keduanya telah melanggar lingkaran shuhba. Yang pertama karena menyerang (seseorang) agar ia tampil sebagai orang yang menonjol dan yang kedua karena membalas serangan itu dengan egonya.

Ini adalah nasihat praktis yang sangat penting secara umum dan khususnya bagi beberapa orang di antara kita di sini.

Itu adalah dua aturan utama mengenai perilaku dalam shuhba. Thariqatuna as-shuhba. Itu adalah peraturan bagi pengikut tarekat ini. Itu adalah peraturan untuk seluruh pengikut Sufi sejati, orang-orang yang menata hidupnya sebagai Ahl-Suffa. Ini juga merupakan shuhba tetapi bukan merupakan shuhba hanya karena kita duduk di lantai ini. Untuk berada dalam shuhba, kalian harus memenuhi peraturan dalam shuhba. Kalian dapat terlihat duduk di sini, namun pada kenyataannya kalian berada di tempat lain. Intinya adalah untuk berada di sini, berada bersama-sama yang lain, di bawah pengawasan Syekh. Itulah shuhba. Tidak hanya duduk di sini, tidur, melihat ke sekeliling, atau bermain-main; namun berada di sini dengan perhatian yang lengkap dan selalu waspada.

Para Sufi hidup dalam shuhba. Hidup mereka terdiri atas shuhba. Mereka semua mempunyai tujuan yang sama, niat yang sama tetapi mereka berada di tingkat yang beragam. Setiap orang berada di tingkat yang berlainan tetapi tingkatan mereka ‘diselaraskan’ satu sama lain. Ketika kita berada dalam sebuah shuhba, jangan berkata bahwa aku mempunyai persoalan yang berbeda dengan dia, atau karakterku berbeda dengannya, atau aku mempunyai pikiran yang berbeda dengannya, jangan berpikir bahwa kalian adalah sesuatu. Jangan. Semua orang yang datang bersama ke dalam shuhba, apapun perbedaan mereka, mereka semua diselaraskan satu sama lain.

Tujuan dari shuhba adalah untuk bersama dengan yang lain, sebagaimana Allah SWT melukiskannya,

"Wa naza`naa maa fii shuduurihim min ghillin ikhwaanan 'alaa sururim mutaqaabiliina" [QS 15:47]

“Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan.”

Itulah fungsi dari shuhba. Kita harus melenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara dan duduk berhadap-hadapan.

Syekh Umar Suhrawardi QS berkomentar,

“Tatap muka terjadi ketika sisi dalam yang tersembunyi dan sisi luar yang tampak adalah sama.”

Ya, setiap orang melihat satu sama lain, setiap orang mempunyai raut muka yang tampak, tetapi apakah penampakannya itu sama dengan apa yang tersimpan di dalam? Atau apakah kalian menyimpan sesuatu yang lain di dalam? Ketika kalian duduk bersama seseorang, di manapun, dalam suatu shuhba, dan kalian mempunyai sisi luar yang mengatakan satu hal, dan sisi dalam yang mengatakan hal lainnya, apakah kalian berada dalam shuhba? Tidak. Kalian tidak duduk berhadap-hadapan karena kalian mempunyai muka yang lain. Satu muka menghadap ke sini, muka yang lain menghadap ke sisi yang lain. Satu muka mempunyai raut yang bersahabat, dan muka yang lain penuh kebencian. Itu bukanlah shuhba. Kalian duduk berhadap-hadapan ketika sisi dalam, yang tersembunyi dari pandangan orang-orang biasa adalah sama atau serupa dengan apa yang terlihat di luar. Tak ada perbedaan. Bukan dua orang yang duduk di hadapan saya, tetapi satu orang saja. Barulah Saya duduk berhadap-hadapan, dan kita berada dalam shuhba. Bila hal itu tidak terjadi, maka shuhba-nya menjadi rusak. Jika seseorang dalam hatinya mempunyai suatu perasaan tersembunyi yang menentang saudaranya, maka tidak terjadi yang namanya tatap muka, walaupun mukanya menghadap muka yang lain. Satu muka menghadap ke arah ini dan muka yang lain ke arah yang lain; dan duduk di depan satu sama lain dan membicarakan soal-soal agama, sufisme dan tarekat dan Saya tidak tahu apa. Kalian harus mengerti, tidak meremehkan hal ini dan tidak bermain-main dengannya. Thariqatuna as-shuhba. Kalian harus bersama dengan yang lainnya, berhadapan satu sama lain. Sisi dalam kalian harus sama dengan sisi luar kalian, terhadap saudara-saudara kalian.

Ahl us Suffah, sebagaimana Quran menerangkan kepada kita, adalah seperti ini. Itu adalah salah satu arti dari Ahl us-Suffah. Mereka terbuka satu sama lain, tanpa perasaan dendam, “Karena dendam dan kemarahan ditimbulkan oleh kecintaan terhadap dunia…” Dengan kecintaan terhadap dunia, bukan kecintaan terhadap akhirat, bukan karena cinta terhadap Allah SWT, bukan cinta terhadap agama, atau cinta terhadap tarekat. Jika hal itu juga terjadi di antara para pengikut Sufi, maka itu terjadi karena alasan yang sama. Tak peduli istilah apa yang dipakai. Kita berbicara mengenai realitas. Jika kalian duduk dalam shuhba dan hal ini terjadi, maka hal itu berasal dari kecintaan terhadap dunia. Dan itu tidak diizinkan bagi para pengikut Sufi, khususnya bagi pengikut Tarekat Naqsybandi. “Karena dendam dan kemarahan timbul akibat kecintaan pada dunia dan kecintaan terhadap dunia adalah asal dan sumber dari semua kejahatan.”

Orang-orang dalam shuhba duduk berhadap-hadapan, di dalam maupun di luar, bersama-sama dengan sifat kekeluargaan dan cinta. Mereka bertemu untuk berbicara bersama-sama dan makan bersama, dan dengan cara ini mereka berharap akan mendapatkan berkah dari Tuhan mereka. Jika mereka mengikuti peraturan shuhba. Jika mereka tidak mengikuti peraturannya, tak ada berkah.

Dilaporkan bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, kami makan tetapi rasa lapar kami tidak pernah hilang.” Beliau menjawab, “Mungkin kalian makan secara terpisah. Datanglah bersama, dan ingatlah Allah SWT, maka kalian akan diberkati.”

Bi hurmati l-Habibi, bi hurmatil Fatiha.

[demi kemuliaan kekasih (Allah SWT), diakhiri dengan membaca Surat Pembuka, surat pertama dalam al-Qur’an]


Pertanyaan:
S.M.: Anda berkata, ”Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya.” Dalam tarekat, hal ini sangat penting. Itu seperti Saya melihat diri saya sendiri melalui Anda. Anda melihat saya…

Syekh Hisyam QS: Ketika kau melihat saya, apakah kau melihat dirimu sendiri?

S.M.: hmm, itulah yang Saya herankan. Dan juga…

Syekh Hisyam QS: Atau apakah kau melihat saya?

S.M.: Saya melihat Anda!! (tertawa)

Syekh Hisyam QS: Tetapi seharusnya kau tidak melihat saya, karena Saya hanyalah sebuah cermin!

S.M.: Itulah yang ingin Saya katakan. Untuk mengatakan kepada yang lain bahwa yang salah dalam dirinya adalah bagian dari sebuah cermin.

Syekh Hisyam QS: Tidak! kau tidak perlu mengatakan sesuatu. Kau hanya harus melihat. Kau harus melihat. Atau Saya yang harus melihat. Sebuah cermin tidak berbicara. Ia hanyalah cermin. Ya. Saya tidak perlu mengatakan sesuatu kepadamu. Kau hanya harus melihat saya untuk melihat dirimu sendiri; begitu pula dengan yang lainnya. Jika Saya mulai berbicara, dan mengatakan sesuatu kepadamu, maka kau menjadi terlalu tertarik kepada saya… Kau tidak lagi melihat dirimu sendiri. Jika Saya sebuah cermin, dan hadis mengatakan bahwa, “orang-orang beriman” adalah cermin. Bukan setiap orang. Kita adalah cermin yang tidak sempurna. Syekh dan para Awliya, mereka adalah cermin yang sejati. Mengapa? Karena mereka tidak lagi memikirkan egonya. Ketika kau melihat pada mereka, kau hanya akan melihat dirimu sendiri. Jika kau adalah seorang yang beriman. Jika kau tidak cukup beriman, kau bisa melihat Mawlana Syekh dan tidak melihat dirimu sendiri. Itulah bedanya. Cermin tidak perlu mengeluarkan kritikan, atau mengatakan sesuatu. Ia harus tetap berada di sana, bersih dan memantulkan. Setiap orang mengetahuinya, kita mengetahui apa yang kita lakukan, tetapi kita terlalu mudah untuk menyimpang dan melihat hal lain, dan itu semua membuat kita lupa akan diri kita sendiri. Tetapi ketika kau melihat seorang mukmin, kau tidak dapat melarikan diri dari dirimu sendiri. Ia tepat berada di depanmu, karena seperti yang dikatakan oleh Syekh Suhrawardi QS bahwa sisi dalam dirinya adalah seperti sisi luarnya. Ia tidak berusaha untuk menyembunyikan dirinya. Ia tetap berada di depanmu, dan kau melihat dan menyaksikan. Kau melihat dirimu sendiri. Itu sangat penting. Kau harus mempelajari bahwa apa yang kau lihat bukanlah orang lain, kau melihat dirimu sendiri. Jadi, sekali lagi, jangan mengkritik! Lihatlah dirimu sendiri.

S.M.: Kesalahan yang kita lihat pada orang lain sesungguhnya milik kita sendiri…

Syekh Hisyam QS: Tentu.

Wa min Allah at tawfiq

07 June 2008

Asosiasi atau Shuhba

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Suatu kali Grandsyekh mendatangi saya dan berkata, “Wahai Nazim Efendi, aku ingin berbicara tentang suatu hal yang amat serius, sesuatu yang harus kau dan para pencari lainnya perhatikan dengan seksama. Jangan menjadikan egomu sebagai tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa. Kau harus berhati-hati sekali, karena bentuk politheisme yang satu ini termasuk jenis yang mungkin kamu lakukan tanpa sepengetahuanmu. Penyembahan terhadap ego adalah suatu penyimpangan dari kemurnian iman yang paling berbahaya, bisa juga disebut syirik tersembunyi.”

Lihatlah, sebenarnya umat manusia adalah ciptaan yang paling lemah. Setiap binatang yang berjalan di atas tanah, berenang dalam air atau terbang di udara mempunyai mekanisme adaptasi yang lebih baik dibandingkan kita. Mereka bisa bergerak ke mana saja di alam ini, dengan memakan rumput, minum cairan berlumpur, tidur di tanah, mereka memiliki rambut yang tebal pada kulitnya untuk menjaga agar mereka tetap hangat, selain itu ada pula yang berdarah dingin. Mereka tidak akan terpengaruh dengan perubahan cuaca yang normal. Tetapi tidak demikian halnya dengan tubuh kita yang memerlukan perawatan khusus. Kita memerlukan bermacam-macam pakaian untuk setiap musim, kita juga harus menjaga kebersihan makanan dan minuman agar tetap sehat. Dengan kata lain, jika kita dikenakan kondisi yang sama seperti makhluk lainnya, bisa jadi kita akan mati dengan cepat. Jadi, dalam hal ini, manusia adalah yang paling lemah di antara semua binatang.

Tetapi perhatikan, walaupun kita paling lemah, makhluk yang paling membutuhkan perawatan khusus, bahkan sebagai seorang individu yang rapuh pun, kita tidak pernah suka untuk menerima seorang mitra dalam segala aktivitas, jika kita pikir kita dapat melakukannya sendiri. Hanya ketika kita memperkirakan bahwa tugas tersebut di luar kemampuan kita, barulah kita mencari bantuan. Sebagai contoh, jika seorang membangun sebuah usaha dan dengan mudah mampu menjalankan dan membiayainya sendiri, akankah ia mencari seorang mitra? Tidak, yang demikian tidak ada gunanya.

Jadi, jika kalian memahami bahwa makhluk yang paling lemah pun enggan untuk menerima seorang mitra ketika tidak dibutuhkan, bagaimana kalian bisa menganggap adanya satu atau beberapa mitra untuk Allah, Yang Maha Kuasa? Siapa yang bisa menjadi mitra untuk Tuhan seluruh alam semesta. Tuhan dari segalanya, Yang Kekuasaannya tidak terbatas dan Maha Pencipta? Bagaimana Dia dapat menerima seorang mitra, seorang anak laki-laki, istri, atau anak perempuan? Makhluk yang mana yang cocok sebagai mitra-Nya? Dapatkah seorang diangkat menjadi mitra? Haruskah Sang Pencipta menciptakan suatu makhluk dan menempatkannya bersama-Nya? Itu konyol! Kalian menerima mitra tentunya untuk mengisi kekurangan yang ada, baik dalam masalah keuangan atau tenaga kerja, kalau tidak, siapa yang mau menanggung beban seperti itu. Jadi siapa yang sanggup menolong Allah SWT?

Oleh sebab itu, seluruh nabi telah memberi peringatan keras tentang gagasan keagamaan yang salah tersebut, juga terhadap seluruh bentuk politheisme. Tetapi ada salah satu bentuk politheisme yang bersifat rahasia, tidak dengan mudah terdeteksi. Dan kenyataannya banyak sekali orang yang melakukan penyembahan terhadap tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa tanpa menyadarinya. Bahkan orang yang mengaku dirinya hanya menyembah Allah SWT biasanya juga melakukan penyembahan terhadap sesuatu yang rahasia dalam dirinya. Dan siapa yang menganggap sebagai mitra Allah Yang Maha Kuasa—siapa lagi kalau bukan ego kita.

Ego mendekati kita dan berkata, “Akulah mitra itu. Suka atau tidak, akulah yang kau sembah selain Allah SWT, jika kau bersikeras untuk beribadah kepada Allah SWT dan menganggap Dia adalah Tuhanmu, dan aku tidak bisa menasihatimu untuk meninggalkan tindakan bodoh itu, setidak-tidaknya kau harus mengenal aku sebagai Tuhan keduamu dan kau akan berusaha keras untuk membuatku senang. Jika kau berjuang keras untuk menjadi pelayan yang baik bagi Allah SWT, maka kau juga harus melakukan hal yang sama untuk menjadi pelayanku, jika kau mematuhi Allah SWT, maka sekali-kali kau juga harus patuh padaku. Ayo lakukanlah, jika kau harus melakukannya, lakukan syahadat, pernyataan keimananmu kepada Allah SWT, lakukan salat 5 kali sekali, berpuasa di bulan Ramadan, naik haji ke Mekah, membayar zakat, tetapi aku tidak akan mentoleransi semua itu jika kau tidak mendedikasikan semua perbuatan itu untukku juga, Aku menuntut bagianku!”

Ketika ego kita menyatakan hal tersebut, kita menjawabnya, “Wahai egoku, kau berhak mendapatkan keinginanmu, aku juga menghormatimu dengan baik, dan aku harus berjuang keras untuk membuatmu senang, untuk menghormati dan mematuhimu. Dan jika suatu saat, aku tidak bisa melakukan perintahmu, maafkanlah aku, dan ketahuilah bahwa aku akan berbuat yang terbaik untuk menyenangkanmu.”

Sekarang kita sebagai muslim, sebagai pengikut dari agama monotheistik yang paling murni mungkin terlalu senang dan puas dengan status keimanan kita sendiri. Suatu saat mungkin kita melihat patung di museum atau di sisi jalan yang dibuat dari batu oleh nenek moyang kita, dibentuk dari tanah liat atau logam, dan bisa jadi kita tertawa geli membayangkan hal bodoh tentang praktik penyembahan buatan tangan sendiri yang dulu dilakukan, dengan berkata, “Betapa bodoh mereka—hahaha—membuat beberapa patung lalu disembah sebagai tanda kepatuhan, berikrar dengan tulus kepadanya, mencintai dan menghormatinya!” Dan pada kenyataannya kita tidaklah lebih baik dari mereka—menyembah tuhan-ego. Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat keras akan bahaya ini, khususnya karena sifatnya yang sangat tersembunyi, seperti sebuah ranjau di hutan yang ditutupi ranting-ranting dan rerumputan. Begitu banyak orang yang menyembah mitra ini tanpa pernah mencurigainya.

Grandsyekh juga memperingati kita dengan mengatakan bahwa tuhan ego ini tidak akan pernah puas hanya menjadi nomor dua. “Tidak!”, ia bilang, “Aku pertama, kedua, dan ketiga,…jangan menyembah selain Aku.” Tetapi ketika ia menyadari adanya hambatan, diam-diam ia melakukan perhitungan kembali dan berkata,”Baiklah, Dia pertama, Aku kedua.”, ia tahu bahwa inilah kesempatan untuk menempatkan diri dalam posisi dan kemudian menyabot iman kita, bahkan kalau mungkin mengkudetanya.

Oleh sebab itu kita harus menyingkirkan mitra itu dari singasananya, dan seluruh rasul dikirim kepada umat manusia untuk mengajari mereka bagaimana melakukan tugas itu. Kita membutuhkan latihan dari seorang yang mampu menghadapi kemauan egonya, yang bisa menjinakkan egonya sehingga tidak lagi menyita terlalu banyak perhatian atau menjadi terlalu baik padanya. Sebelum sampai di sana, kalian harus waspada bahwa kalian juga seorang penyembah berhala yang rahasia, sehingga hati kalian akan terkunci untuk mendapatkan rahmat dari Pengetahuan Allah SWT.

Dengan menjadi teman dari orang yang telah menyadari betapa bahayanya permainan yang dimainkan oleh ego, dan kemudian mampu menghindari dirinya dari dominasi ego, para pencari kebenaran mungkin telah sampai pada sasarannya. Oleh sebab itu rasul terakhir, Muhammad SAW, mengajari para sahabat dengan memasukkan mereka ke dalam sebuah asosiasi atau majelis dengannya. Oleh sebab itu, para nabi terdahulu, guru-guru Naqasybandi menekankan pentingnya “Shuhba”, berasosiasi dengan Syekh, sebagai pilar utama dalam melatih para pengikutnya. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa jika seorang menghadiri majelis tarekat seperti ini walau hanya 5 atau 10 menit, ia akan mendapatkan keuntungan spiritual yang banyak sekali yang nilainya sama dengan yang didapat dari melakukan ibadah sunnah selama 7 tahun.

Itulah besarnya kekuatan dari asosiasi para nabi terdahulu. Kekuatan itu bisa bertambah kuat dengan kebersamaan orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu dalam menyatukan hati dengan hati Syekh-nya. Kekuatan itu merasuk ke hati setiap orang sehingga dapat menarik bentuk penyembahan ego yang tersembunyi hingga ke akar-akarnya. Kalian boleh mengamati bahwa dengan setiap pertemuan ini kekuatan ego akan melemah.

Grandsyekh menerangkan bahwa tanpa asosiasi sangat sulit untuk menarik ego keluar dari permainannya, untuk mengenali tipuan-tipuannya dan melarikan diri dari genggamannya. Kita membutuhkan bimbingan yang dapat menunjukkan jalan bagi kita untuk melewati karang, khususnya karena jejak itu yang sangat diinginkan oleh ego, tampak dari adanya rambu-rambu seperti, “Lewat Sini” , atau “Jalan Pintas”, yang kamu pikir semuanya baik-baik saja. Ego mendatangi dan menasehatimu, “Jika kamu melakukan ini, mungkin ada hasilnya, jika itu, ini. Ini cocok, tetapi yang itu tidak.”, dan dengan ‘nasihat yang baik’ itu ego mencari kesempatan untuk melemahkan hatimu, untuk memalingkan diri dari Allah Yang Maha Kuasa.

Tetapi ketika kalian berasosiasi dengan Syekh, ego dan apa yang dilakukannya dengan cepat akan dikenali dan menjadi nyata. Penyamaran ego dapat dengan mudah diketahui, sehingga di depanmu ia seperti berdiri, telanjang, dan terekspos. Kalian akan terkejut dan tiba-tiba berkata, “Itu tidak lain adalah egoku! Ia benar-benar rapi dalam penyamarannya sehingga aku menjadikannya sebagai penasihat yang sangat penting dan mulia, tetapi kini aku dapat melihatnya sama saja seperti bajingan lainnya.”

Asosiasi dengan Syekh ini dapat membantu kalian mengerti dan menyadari kesalahan kalian, lalu jika kalian bisa mengatasinya dan meninggalakan karakter buruk itu, dan meningkatkan diri kalian barulah kalian dapat mengalami kemajuan pesat.

Hal lain yang harus dimengerti adalah di mana pun kalian mengadakan majelis karena Allah SWT, menyatukan hati dengan guru-guru Tarekat Naqsybandi, maka pertemuan itu akan sama saja tingkatannya dengan asosiasi yang baru saja digambarkan tadi. Jangan membuat kesalahan dengan berpikir bahwa satu-satunya pertemuan yang bermanfaat adalah pertemuan di mana Syekh hadir secara fisik. Ketika kita saling bertemu, salah satu dari kita mungkin merupakan penghubung bagi masuknya inspirasi dari Syekh: seseorang harus berbicara dan yang lainnya mendengarkan, seseorang harus menerima dari Syekh dan yang lain melalui dia dari Syekh. Tarekat Naqsybandi adalah Jalan Sufi yang sangat kuat dalam menjalankan kebiasaan-kebiasaan Rasulullah SAW, dan asosiasi seperti ini adalah salah satu kebiasaan beliau, dan juga jalan dari para sahabat, sebagaimana beliau selalu menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikannya ketika beliau berhalangan hadir.

Ya, seseorang harus berbicara dan yang lain mendengarkan. Dengan cara ini semua pertemuan dengan saudara-saudara kita akan diberkati. Jika lebih dari seorang yang berbicara, atau jika ada argumentasi dan saling mengklaim, maka tidak ada kekuatan spiritual dalam pertemuan itu dan hati kita akan tetap dingin. Oleh sebab itu, jika kita mengindikasikan bahwa salah satu saudara kita akan melakukan asosiasi dalam suatu pertemuan, maka yang lain harus mendengarnya. Ketika kalian mendengarnya, ia akan mampu menerima inspirasi dari Grandsyekh yang hatinya berhubungan dengan Rasulullah SAW, dan hati Rasulullah SAW selalu berhubungan dengan Allah SWT. Dengan cara ini Allah SWT akan membantu orang itu dan melimpahkan Berkah-Nya yang tidak terbatas, juga Rahmat, Pengetahuan, dan Samudra Kenikmatan-Nya, jadi melalui kata-katanya, orang yang hadir dalam pertemuan itu akan dibimbing menuju tujuannya masing-masing.

Ketika seseorang diminta untuk berbicara mewakili Syekh di manapun dan kapanpun, bisa jadi ada seratus, seribu, atau sejuta orang yang mendengarkannya dan setiap orang masing-masing dapat mengambil pelajaran apa yang ia butuhkan. Adalah mustahil jika seseorang berbicara atas nama Syekh tanpa ada yang memperoleh keuntungan dari pembicaraannya itu, sebaliknya setiap orang akan mengambil bagiannya.

Selama sekitar 40 tahun saya berasosiasi dengan Grandsyekh, dan saya terbiasa untuk menuliskan kata-katanya. Kalau dihitung-hitung semuanya lebih dari 7000 shuhba. Beliau sangat baik dengan sahabatnya dan dalam memberikan kebijaksanaanya, bahkan walaupun hanya satu orang yang hadir, beliau akan duduk dengannya dan mengajarinya. Beliau juga biasanya berbicara kepada orang banyak dengan cara yang mudah, tidak pernah kehilangan kata-kata ketika berbicara dengan seseorang atau sekelompok orang, baik anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, pemuda dan orang tua, warga kota yang berpendidikan atau penduduk desa, beliau dapat menyampaikan pesan kepada mereka menurut kapasitas pikirannya, berbicara kepada mereka sesuai dengan tingkatannya, meskipun pada kenyataanya beliau sendiri buta huruf. Hal ini adalah mungkin karena ilmunya tidak diturunkan dari buku-buku, melainkan dari hati, dan lewat hatinya mengalir segala yang kita butuhkan.


Wa min Allah at tawfiq