02 February 2009
Pentingnya Suatu Shuhba
Lefke, Siprus: 5 Mei 2002
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Shuhba dari orang-orang yang saleh membawa para hadirin kepada kesempurnaan, kemal, setiap orang diantarkan ke maqam (spiritual)nya. Hanya Allah SWT yang memiliki kesempurnaan yang mutlak. Setan selalu ingin memecah-belah manusia, sebaliknya Allah SWT ingin menyatukan mereka, tetapi orang-orang tidak mengikuti-Nya. Allah SWT ingin menyatukan hati, tetapi umat tidak mau mendengarkan firman-Nya, oleh sebab itu Allah SWT tidak menolong mereka… Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengerti dan menerapkan pengetahuan mereka.
03 September 2008
Segala Sesuatu Bertasbih kepada Allah SWT
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Segala sesuatu berubah setiap saat, mereka selalu berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu manifestasi, tajali, ke tajali yang lain. Siapakah yang melakukannya? Untuk tetap ada (memiliki eksistensi) segala sesuatu membutuhkan dukungan Tuhan. Dan selalu ada timbal balik—barang siapa yang mengambil sesuatu, maka dia harus memberi sesuatu. Setiap makhluk berterima kasih kepada Allah SWT atas keberadaan mereka dengan selalu mengucapkan, ‘Subhanallah!’, bertasbih dan bersyukur kepada Allah SWT. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini memiliki kehidupan—jika tidak, maka dia akan mati dan menjadi musnah.
Daun-daun pada suatu pohon melakukan shuhba (asosiasi) antara satu dengan lainnya, pohon-pohon di suatu taman juga melakukan shuhba di antara mereka—segala sesuatu melakukan shuhba dan berkomunikasi. Manusia dengan manusia lainnya, pohon dengan pohon lainnya, binatang dengan binatang lainnya—ada tingkatan dalam komunikasi. Siapa yang mengetahui hal ini tidak akan mengatakan bahwa dirinya berasal dari kera… Hal ini (shuhba dan komunikasi) bertambah terus hingga akhir zaman, sedangkan apa pun yang diberikan kepada manusia selalu berada dalam batas-batas tertentu, seperti suatu kontainer dalam suatu samudra. Komputer hanya bisa bekerja bila manusia menekan tombol-tombolnya, dan seorang anak pun bisa menekan tombol. Allah SWT berfirman, “Kami telah menyerahkan segala sesuatu di langit dan bumi bagimu. Pergunakanlah!”
Aritmetika adalah sains yang paling terhormat, ibu dari segala sains, dasar dari berbagai sains… Tetapi, orang menggantikan yang asli dengan plastik, dengan imitasi. Orang-orang sudah seperti aktor…
Angka 19 memiliki banyak rahasia. Angka 19 adalah sembilan ditambah sepuluh. Dengan angka sembilan, berarti ada batas atau limit, dan setelah itu kembali ke angka satu, bukan angka lainnya. Kalian dapat mengurangkan satu dari sembilan, sehingga menjadi delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu—tetapi setelah satu, kalian tidak dapat mengurangkan lagi, tidak ada angka lagi… Tidak setiap orang dapat memahami Aritmetika—yang memang membutuhkan pemahaman khusus. Karena itu, di waktu lampau, tidak setiap murid diajari pengetahuan yang sama, tidak seperti sekarang… Kita berada dalam periode kebodohan atau jahiliyah kedua. Ketika Nabi SAW menasihati istri-istrinya, beliau memperingatkan mereka untuk tidak kembali pada keadaan jahiliyahnya yang dulu, dan untuk tidak mempertontonkan kecantikan mereka.
27 June 2008
Ego dan Shuhba
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Di mana kita kehilangan zikir kita—ingatan kita pada Allah SWT; di mana kita terputus walaupun hanya sedetik saja, segera ego kita akan melompat keluar karena ingin diperhatikan. Untuk itu, pada saat nafsu seseorang ingin diperhatikan, yang lain harus menyadari bahwa ia telah keluar dari lingkaran shuhba. Ia harus ditarik kembali.
21 June 2008
Mengenai Shuhba
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
"Thariqatuna as-shuhba wa-l khayru fi-l jam'iia"
(Jalan kita berada dalam asosiasi dan berkah atau kebaikan berada dalam kebersamaan).
Syah Naqsyband
Sebagian orang berpikir bahwa mereka tidak akan menemukan suatu kejahatan, atau konflik di tempat-tempat seperti
Oleh sebab itu, orang yang berusaha untuk mengikuti jalur spiritual sepatutnya mengerti. Mereka harus tahu bahwa dengan bergabungnya mereka ke dalam kelompok seperti itu; tidak berarti secara otomatis mereka aman satu sama lain, karena kita tahu bahwa salah satu cara Allah SWT, salah satu jalan-Nya yang paling terkemuka dalam menguji hamba-hamba-Nya adalah dengan menempatkan mereka dalam keadaan saling bertentangan. Hal itu terjadi dalam tarekat seperti halnya di luar (tarekat), tetapi mungkin di dalam tarekat hal itu terlihat lebih jelas karena orang tidak menginginkannya. Pada saat yang sama, orang harus memahami hal itu dan belajar untuk berurusan dengannya. Lebih jauh lagi, apa yang terjadi dalam tarekat hanyalah merupakan sebuah contoh terhadap apa yang terjadi di mana-mana, tetapi di situ hal itu terlihat lebih jelas. Sebab kita harus selalu waspada dan tidak boleh lengah ketika kita mengikuti jalan spiritual. Jika kita tidak mau mengikutinya, kita boleh tidur. Tidak masalah. Tetapi bila kita berusaha untuk mengikuti jalur seperti itu, kita tidak boleh tidur. Hal itu tidak diizinkan. Jika terjadi juga, kita harus segera berusaha untuk bangkit.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.
“Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan.”
“Tatap muka terjadi ketika sisi dalam yang tersembunyi dan sisi luar yang tampak adalah sama.”
Ya, setiap orang melihat satu sama lain, setiap orang mempunyai raut muka yang tampak, tetapi apakah penampakannya itu sama dengan apa yang tersimpan di dalam? Atau apakah kalian menyimpan sesuatu yang lain di dalam? Ketika kalian duduk bersama seseorang, di manapun, dalam suatu shuhba, dan kalian mempunyai sisi luar yang mengatakan satu hal, dan sisi dalam yang mengatakan hal lainnya, apakah kalian berada dalam shuhba? Tidak. Kalian tidak duduk berhadap-hadapan karena kalian mempunyai muka yang lain. Satu muka menghadap ke sini, muka yang lain menghadap ke sisi yang lain. Satu muka mempunyai raut yang bersahabat, dan muka yang lain penuh kebencian. Itu bukanlah shuhba. Kalian duduk berhadap-hadapan ketika sisi dalam, yang tersembunyi dari pandangan orang-orang biasa adalah sama atau serupa dengan apa yang terlihat di luar. Tak ada perbedaan. Bukan dua orang yang duduk di hadapan saya, tetapi satu orang saja. Barulah Saya duduk berhadap-hadapan, dan kita berada dalam shuhba. Bila hal itu tidak terjadi, maka shuhba-nya menjadi rusak. Jika seseorang dalam hatinya mempunyai suatu perasaan tersembunyi yang menentang saudaranya, maka tidak terjadi yang namanya tatap muka, walaupun mukanya menghadap muka yang lain. Satu muka menghadap ke arah ini dan muka yang lain ke arah yang lain; dan duduk di depan satu sama lain dan membicarakan soal-soal agama, sufisme dan tarekat dan Saya tidak tahu apa. Kalian harus mengerti, tidak meremehkan hal ini dan tidak bermain-main dengannya. Thariqatuna as-shuhba. Kalian harus bersama dengan yang lainnya, berhadapan satu sama lain. Sisi dalam kalian harus sama dengan sisi luar kalian, terhadap saudara-saudara kalian.
Pertanyaan:
S.M.: Anda berkata, ”Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya.” Dalam tarekat, hal ini sangat penting. Itu seperti Saya melihat diri saya sendiri melalui Anda. Anda melihat saya…
Syekh Hisyam QS: Tentu.
07 June 2008
Asosiasi atau Shuhba
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Lihatlah, sebenarnya umat manusia adalah ciptaan yang paling lemah. Setiap binatang yang berjalan di atas tanah, berenang dalam air atau terbang di udara mempunyai mekanisme adaptasi yang lebih baik dibandingkan kita. Mereka bisa bergerak ke mana saja di alam ini, dengan memakan rumput, minum cairan berlumpur, tidur di tanah, mereka memiliki rambut yang tebal pada kulitnya untuk menjaga agar mereka tetap hangat, selain itu ada pula yang berdarah dingin. Mereka tidak akan terpengaruh dengan perubahan cuaca yang normal. Tetapi tidak demikian halnya dengan tubuh kita yang memerlukan perawatan khusus. Kita memerlukan bermacam-macam pakaian untuk setiap musim, kita juga harus menjaga kebersihan makanan dan minuman agar tetap sehat. Dengan kata lain, jika kita dikenakan kondisi yang sama seperti makhluk lainnya, bisa jadi kita akan mati dengan cepat. Jadi, dalam hal ini, manusia adalah yang paling lemah di antara semua binatang.
Tetapi perhatikan, walaupun kita paling lemah, makhluk yang paling membutuhkan perawatan khusus, bahkan sebagai seorang individu yang rapuh pun, kita tidak pernah suka untuk menerima seorang mitra dalam segala aktivitas, jika kita pikir kita dapat melakukannya sendiri. Hanya ketika kita memperkirakan bahwa tugas tersebut di luar kemampuan kita, barulah kita mencari bantuan. Sebagai contoh, jika seorang membangun sebuah usaha dan dengan mudah mampu menjalankan dan membiayainya sendiri, akankah ia mencari seorang mitra? Tidak, yang demikian tidak ada gunanya.
Oleh sebab itu, seluruh nabi telah memberi peringatan keras tentang gagasan keagamaan yang salah tersebut, juga terhadap seluruh bentuk politheisme. Tetapi ada salah satu bentuk politheisme yang bersifat rahasia, tidak dengan mudah terdeteksi. Dan kenyataannya banyak sekali orang yang melakukan penyembahan terhadap tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa tanpa menyadarinya. Bahkan orang yang mengaku dirinya hanya menyembah Allah SWT biasanya juga melakukan penyembahan terhadap sesuatu yang rahasia dalam dirinya. Dan siapa yang menganggap sebagai mitra Allah Yang Maha Kuasa—siapa lagi kalau bukan ego kita.
Oleh sebab itu kita harus menyingkirkan mitra itu dari singasananya, dan seluruh rasul dikirim kepada umat manusia untuk mengajari mereka bagaimana melakukan tugas itu. Kita membutuhkan latihan dari seorang yang mampu menghadapi kemauan egonya, yang bisa menjinakkan egonya sehingga tidak lagi menyita terlalu banyak perhatian atau menjadi terlalu baik padanya. Sebelum sampai di
Dengan menjadi teman dari orang yang telah menyadari betapa bahayanya permainan yang dimainkan oleh ego, dan kemudian mampu menghindari dirinya dari dominasi ego, para pencari kebenaran mungkin telah sampai pada sasarannya. Oleh sebab itu rasul terakhir, Muhammad SAW, mengajari para sahabat dengan memasukkan mereka ke dalam sebuah asosiasi atau majelis dengannya. Oleh sebab itu, para nabi terdahulu, guru-guru Naqasybandi menekankan pentingnya “Shuhba”, berasosiasi dengan Syekh, sebagai pilar utama dalam melatih para pengikutnya. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa jika seorang menghadiri majelis tarekat seperti ini walau hanya 5 atau 10 menit, ia akan mendapatkan keuntungan spiritual yang banyak sekali yang nilainya sama dengan yang didapat dari melakukan ibadah sunnah selama 7 tahun.
Ya, seseorang harus berbicara dan yang lain mendengarkan. Dengan cara ini semua pertemuan dengan saudara-saudara kita akan diberkati. Jika lebih dari seorang yang berbicara, atau jika ada argumentasi dan saling mengklaim, maka tidak ada kekuatan spiritual dalam pertemuan itu dan hati kita akan tetap dingin. Oleh sebab itu, jika kita mengindikasikan bahwa salah satu saudara kita akan melakukan asosiasi dalam suatu pertemuan, maka yang lain harus mendengarnya. Ketika kalian mendengarnya, ia akan mampu menerima inspirasi dari Grandsyekh yang hatinya berhubungan dengan Rasulullah SAW, dan hati Rasulullah SAW selalu berhubungan dengan Allah SWT. Dengan cara ini Allah SWT akan membantu orang itu dan melimpahkan Berkah-Nya yang tidak terbatas, juga Rahmat, Pengetahuan, dan Samudra Kenikmatan-Nya, jadi melalui kata-katanya, orang yang hadir dalam pertemuan itu akan dibimbing menuju tujuannya masing-masing.
Wa min Allah at tawfiq