Showing posts with label Kepatuhan. Show all posts
Showing posts with label Kepatuhan. Show all posts

12 August 2009

Pendidikan Tinggi dan Uniseks

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

St. Ann’s Road Islamic Center, London, 7 Januari 2001 

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 


Semoga Allah SWT menjadikan kita pendengar yang baik.  Mendengar dan patuh.  Kita tidak cukup hanya mendengar saja, tetapi kita juga harus menjaga, mengikuti, dan mematuhi.  Kita harus mencoba untuk menjadi hamba yang patuh, bukan sebaliknya.  Kemuliaan yang dijamin bagi umat manusia hanya akan diberikan kepada hamba yang patuh.  Mereka yang tidak patuh tidak akan mendapat kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat.  Setiap orang harus mencoba dengan dirinya sendiri untuk menjadi hamba yang patuh.  Kalian tidak bisa menjadi hamba jika kalian tidak belajar bagaimana bersikap patuh kepada Allah SWT.  Kalian memerlukan pelatih atau seorang guru untuk mengajari kalian atau untuk memandu kalian, sebab ego kita selalu mengarahkan kita ke jalan yang salah.  Benar? 

Oleh sebab itu kita harus mengetahui bagaimana kita bisa menemukan rute yang langsung menuju Allah SWT.  Itu adalah misi lengkap dari seluruh Nabi dan Rasul, mereka datang untuk menyeru agar orang menjadi hamba yang patuh.  Adakah yang menemukan hal lain dalam kitab atau kata-kata para Nabi tersebut?  Siapa saja bisa bilang “tidak”?  Kata-kata dalam pesan mereka hanya berisi seruan untuk menjadi hamba yang patuh.  Kalian bisa saja berkata, “mengapa tidak patuh.”  Apakah kalian pikir ada sesuatu yang bertentangan dengan seruan ini, seruan agar kita menjadi hamba yang patuh kepada Allah SWT?  Ya, ego kita.  Ego selalu memerangi kita agar kita menjadi hamba yang tidak patuh.  Ego adalah satu-satunya ciptaan Allah SWT yang tidak mau menjadi hamba yang patuh kepada-Nya. 

[Ego berkata], “Wahai pria, wahai wanita—kalian harus berusaha menjadi untukku saja.  Hanya bekerja untukku dan kalian harus berpikir untuk membuatku senang dan untuk bergembira dalam kesenangan.” 

Sekarang semua orang berusaha untuk belajar di beberapa institusi pendidikan.  Di mana-mana terdapat ratusan sekolah, ratusan sekolah tinggi, ratusan universitas, dan ratusan akademi.  Di masa Kami, sekolah dasar sangat berharga.  Sekolah-sekolah itu mempunyai nilai di abad permulaan.  Sekarang di abad 21 ini, universitas pun tidak bernilai.  Mengapa tidak bernilai?  Karena begitu banyak yang telah lulus!  Ribuan lulusan universitas duduk di kafe, atau mengukur jalan…St. Ann’s Road.  Itu berarti tidak bernilai.    

Sebelumnya seseorang yang lulus dari sekolah dasar merupakan orang-orang berkualitas, lalu oke.  [sekarang] orang-orang tidak merasa puas dengan sekolah yang biasa,  sekolah itu tidak cukup buatku, Aku harus meraih gelar yang lebih tinggi lagi karena gelar itu memberikan kesenangan bagi egoku.  (Mawlana mengangkat turbannya dan membuat seperti topi wisudawan).  “Aku punya foto… Oh Aku ini lulusan dari banyak universitas…Aku pikir Aku adalah seorang yang penting, Aku harus mencoba untuk meraih satu tingkat lagi…” 

Orang-orang datang kepada saya, “Oh Syekh, apa lagi berikutnya?”  Master? PhD?, setelah PhD, selesai? Mengapa lama sekali? 

“Oh Syekh, Aku mempunyai gelar PhD.” Itu adalah tipuan rahasia dari ego.  Dia akan selalu merasa sebagai orang yang penting, seorang VIP.  Setiap ego menuntut untuk menjadi seorang pahlawan.  Itulah penyakit kita, itu berarti seluruh manusia berada dalam hegemoni ego.  Ketika mereka mencapai sesuatu, mereka tidak menemukan apa-apa.  Percayakan hidup ini kepada yang lain. 

Wahai kalian, ego adalah musuh yang paling berbahaya sebab ego kalian diarahkan oleh musuh yang paling berbahaya bagi anak-anak Adam AS, yaitu Setan.  Setan mengarahkan ego dan ego mengarahkan manusia. 

Saya melihat begitu banyak wanita yang mengendarai mobil.  Mereka mengatakan, “Kami telah mencapai level para pria dan bahkan melebihinya!” 

Allah SWT menciptakan pria sebagai pria dan memuliakan wanita sebagai wanita, memberi manusia lewat kesempurnaan, keindahan, kasih sayang dan samudra kenikmatan. 

Sekarang ada pakaian yang mereka sebut ‘uniseks’.  Apa ini?  Menjadikan pria sebagai wanita dan sebaliknya wanita sebagai pria.  Ini adalah ciri-ciri dari Hari Akhir, pria menjadi wanita dan wanita menjadi pria. 

Wahai kalian, Allah SWT memberi kalian kesempurnaan, keindahan, kasih sayang, kenikmatan dan samudra kekuatan, keindahan dan kelembutan bagi wanita.  Saya melihat sekarang ini, Grandsyekh menunjukkan kepada saya untuk pertama kalinya, seorang wanita yang sepertinya dia akan berubah menjadi seorang pria, bekerja di luar.  Itu adalah hukuman bagi para wanita, kerutan akan muncul dan tubuhnya akan menyerupai pria.  Begitu banyak pria yang mencukur (kumis dan janggutnya), sehingga wajahnya seperti wanita. 

Oleh sebab itu, wahai semuanya!  Perangi apa yang dikatakan oleh ego kalian, apa yang membuat kalian melakukannya.  Jangan patuh kepadanya, ego kalian akan mengubah sifat-sifat asli kalian (fitrah).  Dan Setan ketika dibuang dari Hadirat Ilahi berkata, “Aku berjanji akan mengubah ciptaan-Mu.”  Sekarang Saya dapat melihat wanita dengan kulit dan kaki yang keras seperti tongkat, tidak berdaging. 

Kalian telah diberi oleh-Nya, maka jagalah! 

Saya berjanji akan mengembalikan kembali ke asalnya dengan dukungan Allah SWT! 

Ini sangat penting, Saya tidak tahu apakah saya akan berada di sini minggu depan atau tahun depan, kalian harus menjaganya.  Buatlah deklarasi dalam hatimu bahwa kesempurnaanmu adalah membuat Allah SWT rida kepadamu.  Cobalah. 

La illaha ill allah, la illaha ill allah, la illaha ill allah, Muhammad Rasulullah, alayhi shalatullah, la illaha ill allah 

Semua Awliya menghunus pedang spiritual mereka untuk membersihkan bumi dari ular, kalajengking, dari binatang buas, dan orang-orang liar.  Imam Mahdi AS melengkapi bacaannya dan Nabi ‘Isa AS sudah siap. 

Memohonlah. 

Saya sudah semakin tua. 

Semoga Allah SWT memberkahi kalian dan memaafkan saya.

Dasar Keseimbangan dalam Masyarakat

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

“Tercapainya keseimbangan yang indah dalam masyarakat harus dimulai dari kehidupan keluarga,” ini adalah salah satu nasihat dari Grandsyekh Abdullah Faiz QS, yang dilanjutkan, “adapun keselarasan dan keseimbangan di dalam keluarga terbentuk dari kepatuhan istri kepada suaminya.” 

Tidak seorang pun yang tidak setuju dengan hal ini.  Ketika istri patuh kepada suaminya, perbuatannya akan menempatkan sang istri di tingkatan yang mulia di surga-Nya.  Allah SWT memberikan otoritas dan kekuatan yang lebih kepada suami, hukum alam telah diciptakan untuk ini, tidak mungkin sang suami yang “mematuhi” istri.  Ini akan bertentangan dengan hukum Allah SWT yang selanjutnya akan berkonsekuensi pada hukuman-Nya. 

Di zaman sekarang, menuju hari akhir, mengapa lebih banyak suami yang “mematuhi” istrinya?  Tidak heran maka setiap hari kesulitan akan bertambah.  Manusia meninggalkan hukum yang ditetapkan Allah SWT, dan mengikuti jalan setan.  Dan sebagai hasil dari perbuatan itu, begitu banyak permasalahan yang tiada habisnya. Jika istri tidak mematuhi suaminya, dan suami bersabar karenanya, maka Allah SWT akan menyiapkan taman di surga bagi sang suami.  Segala sesuatu yang baik dan buruk yang kita lakukan di dunia tidak ada yang luput dari pengawasan dan ganjaran Allah SWT.

24 October 2008

Khalwat: Perintah untuk Diikuti dan Dukungan dari Allah SWT

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS 
Jakarta, 6 September 2004


A'udzu billahi mina 'sy-Syaythaani 'r-Rajim
Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahim
Dustur Ya Sayyidi Madad


Mawlana Syekh (semoga Allah SWT merahmatinya), guru kita, mengatakan, “Kalian harus meletakkan tiga gol (tujuan) dalam hidup ini.”

Itulah disiplin tarekat. Jika kalian ingin dipertimbangkan sebagai murid Tarekat Naqsybandi, kalian harus mempunyai 3 disiplin/karakteristik ini. Tiga hal ini harus ditambahkan dalam ibadah utama kalian di samping salat 5 waktu, puasa, zakat dan pergi haji. Yang pertama, jika Syekh mengatakan pada kalian, “Wahai anakku, amanat kalian berada di bawah bumi lapisan ke tujuh.”

Kalian tahu, ketika menggali tanah sedalam 1.5 km atau 2 km – mungkin itu adalah lapisan pertama. Ketebalan bumi dari satu titik ke titik lain berapa? 40.000 kilometer? Lalu ada yang mengatakan pada kalian, “Apakah kalian membutuhkan alat-alat pengeboran?” Tahukah kalian berapa harga 1 mesin untuk menggali sampai kedalaman… katakanlah 1000 meter? Dibutuhkan 1.000.000 dollar (satu juta dollar) hanya untuk menggali 1000 meter pertama guna mendapatkan minyak. Yang kalian butuhkan adalah alat pengebor; namun Syekh hanya memberi kalian sebuah sekop dan sebatang kayu yang telah rusak dan beliau menyuruh, “Gali!” Maka kalian harus menjawab “Ya, Mawlana!”

Jika kalian menggunakan akal, mungkin kalian membutuhkan sebuah alat bor yang bukan hanya seharga satu juta dollar, tetapi mungkin bisa sampai satu triliun dollar. Jadi bagaimana bisa kalian menggalinya dengan sebuah sekop rusak? Kalian bahkan tidak sanggup menggali dengan benda rusak itu sedalam 10 meter.

Ada yang menggali karena air. Mereka mendapat air pada kedalaman 10, 15 atau 60 meter – mereka bahagia mendapatkan air gratis. Mereka akan terus menggali bila tujuan mereka adalah mineral berharga dari bawah tanah, minyak, batu mulia. Mereka membuat sumur-sumur, menghabiskan jutaan dollar dan tujuan mereka adalah untuk memperoleh sesuatu. Mereka tahu bahwa ada sesuatu di dalamnya. 

Begitu juga dengan Syekh, saat mereka berkata, “Amanat kalian berada di sana.” Maka ada sesuatu di sana yang harus kalian ambil. Jika kalian percaya akan hal itu, kalian akan menggali walaupun dengan sekop dan kayu yang rusak. Apa yang kalian butuhkan? Kesabaran. Gali, gali, dan gali! Dengarkan perintah itu. Itulah disiplin. Dalam tarekat, dengarlah apa yang dikatakan Syekh, walaupun beliau menyuruh menggali bumi lapisan ke-7 dengan sekop patah, kalian harus menggali. Jangan katakan, “Tidak.” Jangan gunakan akal kalian dan berkata, “Itu mustahil!” Kedua, jika kalian sedang berada di timur namun Syekh mengatakan bahwa, “Persediaan makan kalian ada di barat,” maka kalian harus pindah dari timur ke barat! Jangan katakan, “Namun di sana ada lembah, lautan dan pegunungan.” Hadapilah halangan itu dan bergeraklah, seperti seekor semut; bila dia merasakan ada makanan di timur, walaupun dia sedang ada di barat, maka semut itu pun akan terus bergerak dan bergerak. Dia tidak mengatakan, “Ini terlalu jauh.” Dia terus berjalan sampai menemukan makanan dan kembali lagi.

Ketiga, jika Syekh mengatakan, “Anakku, pergilah ke laut itu, kosongkan air laut dengan sebuah gelas atau sebuah ember. Amanat kalian ada di dasar lautan.” Maka kalian harus mengosongkan lautan itu, pergilah ke laut itu, duduk di sana dan bawa satu ember, lalu kalian katakan, “Syekh menyuruh saya mengosongkannya, maka aku akan mengosongkannya.” Bahkan jika kalian mengosongkan dari sini dan airnya kembali lagi dari belakang, itu tidak masalah. Kalian telah melaksanakan perintah—itha`atu 'l-mursyid (ketaatan pada mursyid). Jika kalian taat pada Syekh, maka kalian pun taat pada Nabi SAW dan taat pada Allah SWT. Lalu apa yang akan terjadi?

Ada sebuah maqam dari Bahru 'l-'ilm, Samudra Ilmu. Dari Samudra Pengetahuan itu ada sebuah samudra lagi yang mempunyai satu napas, yang selalu mengirimkan Riihu 's-Siba- angin para pemuda. Napas indah yang beraroma wangi. Napas itu berasal dari “Mereka” saat melihat kalian sedang bekerja terus-menerus, mengerjakan apa yang diperintahkan pada kalian. Meskipun kalian tahu bahwa kalian tidak mampu mencapainya; kemurahan Allah SWT akan mendatangi kalian. Kalian harus menyadari bahwa kalian tidak cakap dalam hal apa pun, kalian tidak berhak atas apa pun! Namun saat Allah SWT melihat kalian sedang melakukan hal yang terbaik, maka Riihu 's-Siba (Napas Para Pemuda) akan menghampiri kalian seperti sebuah tornado yang membawa kalian menuju samudra itu. 

Seperti yang terjadi pada Sayyidina Imam al-Ghazzali, dan pada Sayyidina Salman al-Farsi RA. Nabi SAW mengatakan bahwa Salman al–Farsi RA adalah keluarga beliau. Karena banyak hal seperti ini terjadi pada beliau. Juga pada Sayyidina Imam al-Ghazzali, beliau dulunya meragukan segala hal; namun ketika Riihu 's-Siba menghampirinya karena sesuatu yang beliau kerjakan, maka beliau diberi pengetahuan makrifat.

Artinya, kalian tidak dapat melakukan apa pun dengan diri sendiri. Kalian lemah. Namun perhatian dari Allah SWT akan tiba bila kalian tetap mengusahakannya. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah SWT benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [QS 29.69]

Mereka yang berjuang di jalan Kami - jalan Allah SWT dengan ibadah yang kuat, melalui pendidikan, menolong sesama, melakukan dakwah, dan segala macam pekerjaan seperti mengobati orang, membersihkan sesuatu demi masyarakat, semua ini adalah berjuang di jalan Allah SWT. La-nahdiyanahum subulana – orang-orang yang pergi dan melayani di jalan Kami, kami akan membimbing menuju takdir mereka. 

Subulana artinya cara Allah SWT untuk mendekati takdir kalian mencapai rida Ilahi. Mereka yang berusaha keras, meninggalkan pekerjaannya karena Allah SWT, meninggalkan keluarganya demi Allah SWT, meninggalkan segala dunia karena taat pada Allah SWT, Nabi SAW, dan Syekh. Mereka meninggalkan segala hal dalam waktu 40 hari duduk pada siang dan malam, membaca Quran, berzikir, membaca selawat Nabi SAW, membaca Dalail ul-Khayrat, Salat berjamaah, mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT. Maka Allah SWT akan menunjukkan jalan-Nya. Mereka adalah lebih baik daripada orang-orang yang bergelimang kekayaan dunia. Karena mereka menyingkirkan segalanya, mereka duduk menyendiri. Bagi yang ikut melayani, duduk menemani dan menolong mereka agar terhindar dari pengaruh dunia, juga akan menerima pahala yang sama. Karena syuyukh tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain.

Ketika pagi ini saya diminta untuk turun menengok mereka. Saya katakan, “Tunggu.” Karena saya sedang berada dalam keduniawian, maka pengaruh-pengaruh negatif masih menghampiri saya dari mana pun. Maka saya harus menyiapkan diri dulu untuk bertemu, karena mereka dalam keadaan bersih. Tidak ada pengaruh negatif pada mereka. Maka ketika saya telah siap dan turun, saya melihat seluruh area ini penuh dengan makhluk-makhluk spiritual yang melakukan khalwat bersama mereka.

Dan dari mata mereka terpancar sinar keagungan yang mengirimkan sinar ketakutan bagi para setan. Artinya mata mereka penuh dengan sinar yang mampu membakar semua setan yang mendekati tempat ini. Karena ada sisi setan pada setiap orang, dan kata Nabi SAW dalam sebuah hadis: sinar dari mata mereka mampu membakar setan yang ada pada diri seseorang di hadapannya.

Alhamdulillah, Allah SWT menghadiahkan (sinar itu) pada mereka pada 20 hari pertama, dan kita akan melihat apa yang akan terjadi pada 20 hari berikutnya.

Wa min Allah SWT at tawfiq


26 May 2008

Doktor Keledai!

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS setelah selesai pembacaan selawat, Qasidah al-Burdah dll di kediaman Bapak Soenarto, Jakarta: 11 Desember 2004


A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim

Athi'ullaaha wa athi'urrasuula wa ulil amri minkum

Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. [4:59]


Setelah membaca selawat Nabi SAW yang begitu indah, bibir ini tidak mampu berbicara lagi. Insya Allah saya akan mencoba mengatakan sesuatu, sebanyak yang dikirimkan oleh Syekh Nazim QS ke dalam hati saya.

Berapa banyak orang yang telah berpikir dan mengkhayal, dan berapa banyak pujangga telah menulis buku-buku sepanjang hidup mereka, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, berpikir setiap waktu, dan dalam setiap detik keagungan Nabi SAW lahirlah puisi indah yang dikirimkan pada kita di atas sebuah plakat yang luar biasa indahnya, dihiasi dengan mutiara dan batu mulia yang tak seorang pun bisa mengekspresikannya kecuali melalui hati. Saya yakin, di setiap bahasa milik berbagai ras di muka bumi ini, telah tertulis puisi kecintaan pada Sayyidina Muhammad SAW. Walaupun mereka tidak mengerti bagaimana mereka bisa terilhami.

Hati seperti apa yang mampu menghasilkan cinta tulus, tidak bersyarat, dan yang tidak pernah berhenti menjelaskan bagaimana keinginan mereka untuk melihat Nabi SAW walaupun hanya sekali dalam kehidupannya. Itu adalah bagi para pujangga yang tidak mampu melihat Nabi SAW. Mereka mengekspresikan emosi dan memohon pada Allah SWT melalui kebesaran-Nya untuk melihat penampakan spiritual Nabi SAW di kehidupan mereka.

Lalu bagaimana dengan para Sahabat Nabi SAW? Yang dalam kehidupan mereka, setiap hari, setiap saat bersama Nabi SAW? Membela negara bersama beliau, makan, berdoa, beribadah, berpuasa bersama beliau. Mereka selalu terhubung dengan Nabi SAW, layaknya saudara kembar yang terhubung satu sama lain, sehingga tidak bisa lepas dari pandangan walau hanya sekejap.

Jika hal tersebut adalah bagi para sahabat, apa yang kalian pikir tentang mereka yang Allah SWT ciptakan untuk memuji Nabi SAW siang dan malam? Ketika dikatakan, “inna-Allaha wa mala'ikatahu yushaluuna `ala an-Nabi,” malaikat-malaikat yang Allah SWT perintahkan agar siang-malam terus-menerus sampai hari pengadilan kelak, selamanya; mereka ada yang berdiri, duduk dan berbaring. Tidak ada suatu penjelasan siapakah sebenarnya Nabi Muhammad SAW sehingga begitu banyaknya malaikat yang memuji-muji beliau selamanya -- menurut ayat tersebut -- itu adalah perintah dari Allah SWT. Tujuan utama seluruh umat manusia, malaikat dan seluruh makhluk ciptaan adalah untuk memuji Sayyidina Muhammad SAW.

Karena Allah SWT menghendaki hal itu. Allah SWT adalah Sang Pencipta dan Dia adalah Rabb al-`alamiin. Tidak ada yang boleh mengatakan tidak. Dia memerintahkan malaikat, manusia, alam, gunung-gunung, pohon-pohon dan sebagainya untuk memuji Sayyidina Muhammad SAW.

Seharusnya kita malu bila tidak memuji-muji Nabi SAW pada setiap kesempatan di dalam kehidupan kita. Seharusnya kita malu saat kita bertengkar dan bersusah payah hanya demi dunia, hanya demi bisnis. Kita malu karena segala yang kita upayakan tidak ada manfaatnya, dibanding dengan para sahabat dan para malaikat yang memuji Nabi SAW di setiap kesempatan.

Kita mempunyai kewajiban di pundak kita, ada kapasitas yang sebenarnya kita sanggup, yaitu kewajiban untuk berselawat pada Nabi SAW siang dan malam. Dan itu sebenarnya belum cukup. Kita ini hamba-hamba yang lemah. Kita amat bergantung, lalai, tidak peduli, keras kepala, dan kita ini adalah pembohong-pembohong.

Kita ini adalah para pembohong. Walaupun Allah SWT mengatakan, “inna-Allaha wa mala'ikatahu yushaluuna `ala an-Nabi,” namun kita tidak melakukan itu. Kita bohong pada Allah SWT dengan mengatakan bahwa kita ini adalah mukmin, kita ini adalah muslim. Namun kenyataannya kita saling bertengkar dan saling mengutuk. Semua orang keras kepala karena opininya masing-masing. Karena setan sedang menungganginya, bukan hanya menunggangi tetapi membisikkan apa yang harus kita lakukan. Dia menunggangi kita seperti seekor kuda, duduk di atas kita.

Suatu ketika Abayazid al-Bistami QS berada di Madinah untuk mengunjungi Nabi SAW secara fisik dan melihat di sana ada orang asing yang sudah tua. Beliau tahu siapa orang itu. “Apa yang engkau lakukan di sini?” tanya beliau. “Aku sedang membagikan tali kekang pada mulut kuda-kuda ini. Aku sibuk dengan hal ini, supaya aku dapat menunggangi mereka. Inilah pekerjaanku sekarang.”

Pria itu adalah iblis yang menyerupai seorang manusia, memberi tali kekang pada mulut manusia. Membuat mereka berkelahi satu sama lain. ”Opiniku lebih baik.” “Tidak, opiniku yang lebih baik.” Dan manusia pun akhirnya bertengkar, tidak bertanggung jawab, tidak ada kemampuan, secara mental tidak ada kekuatan, karena mereka tidak menerima apa yang telah Allah SWT anugerahkan.

Lalu kata iblis, “Aku sibuk membuat mereka bertengkar satu sama lain, itulah sebabnya aku taruh tali kekang pada mulut mereka.”

Sayyidina Bayazid QS bertanya, “Apakah ada kelompok yang berbeda-beda dari orang-orang ini?” Jawabnya, “Ya. Ada berbagai jenis keledai bagiku. Bukan kuda! Ada berbagai jenis keledai. Ada yang besar, ada yang bersuara, “hii haw” dan selalu marah. Bagiku setiap keledai adalah berbeda. “Beliau bertanya, ”Dapatkah engkau sebutukan jenis-jenis keledai yang kau miliki?” Jawab iblis, “Ada beberapa keledai yang kuhasut agar menjadi marah.” Kalian tahu mobil-mobil tua yang dulu tidak ada kuncinya. Ada sebuah tuas (engkol) di sana dan ditarik-tarik agar mobil berjalan.

“Aku letakkan hal seperti itu, lalu kutarik ke sana dan ke mari. Saat mereka mulai marah, lantas aku tinggalkan. Itu hanya salah satu kelompok. Ia akan berlari sejauh engkolnya kutarik. Ia nampak waras, bukan yang terbelakang mentalnya. Lalu ia mungkin akan bertobat dan berkata, A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim, astaghfirullah. Seperti kelompok yang berselawat, ibadah dan istighfaar maka setan tidak bisa mendatanginya. Segera setelah mereka melewati pintu keluar, mereka mulai bertengkar, kembali ingat dan bertobat. Aku tinggalkan mereka segera setelah bertobat.”

”Kelompok yang lain, aku arahkan mereka untuk mulai bertengkar satu sama lain. ‘Dengar aku.’ ‘Kamu dengarlah aku.’ ‘Tidak, kamu yang harus mendengarku.’ Mereka bertengkar, bermusuhan, tak berkesudahan.

Kelompok ketiga adalah mereka yang saat aku arahkan, semua yang positif mereka ubah menjadi negatif. Mereka tidak pernah mengatakan ‘ini benar.’ Namun bila tidak benar mereka katakan bahwa itu benar. Mereka tidak pernah setuju dengan siapapun.” Inilah problem kita saat ini. Kita adalah keledai-keledai bagi iblis. Kita izinkan iblis menunggangi kita. Kita dengarkan mereka, namun tidak mendengarkan Allah SWT dan Nabi SAW.

Telah Saya jelaskan di awal, betapa banyak malaikat-malaikat, para pujangga, juga para sahabat yang melewatkan waktunya untuk memuji-muji Nabi SAW. Namun kita telah tersesat dan sibuk dengan dunia, bisnis dan melaksanakan salat 5 waktu hanya sebagai kebiasaan atau adat. Tidak ada ketulusan, tidak khusuk. “Itulah yang aku tunggangi hari ini, ya Bayazid QS,” kata iblis.

Tanyakan pada diri kalian sendiri, dengan akal kalian, kita termasuk keledai yang mana? Saya tidak suka menyebut keledai—kuda macam apa kalian ini? Jika Saya katakan keledai mereka marah. Mari kita sebut singa; singa saja. Jika disebut singa, mereka suka—namun bila keledai, mereka marah. Singa atau pun keledai, keduanya adalah binatang.

Lalu termasuk tipe yang mana kita ini?

Lalu Bayazid QS berpikir dan memutuskan untuk menanyakan satu pertanyaan pada iblis. Setiap orang sadar akan dirinya sendiri. Dia termasuk keledai yang segera bertobat atau keledai yang selalu punya cara lain, atau keledai yang menjadi musuh bagi siapa pun.

Dalam bahasa Arab disebutkan, “al-insanu hayawanun naatiqan,” manusia adalah hewan yang bisa berbicara. Makhluk yang bisa bicara, seperti makhluk ciptaan lainnya. Jadi jangan mengeluh saat setan menyebut kita keledai.

Saat ini, masyarakat menjadi histeris saat menjelaskan CV (daftar riwayat hidup), resume. Berapa banyak ‘doktor’ yang meletakkan titel mereka di depan namanya dan meletakkan ‘PhD’ di belakang namanya. Berapa banyak mereka meletakkan nama mereka, “Doktor” “Doktor” “Doktor?” Biarkan mereka letakkan “Doktor, doktor, doktor keledai”. “Professor, professor, professor keledai;” “tukang kayu keledai;” “pengacara, pengacara keledai;” “guru, guru, guru keledai.” Pada akhirnya setiap orang berakhir dengan titel ‘keledai’. Jadi tak perlu mencantumkan di depan nama kalian bila pada akhirnya ada titel ’keledai.’ Juga Syekh, Syekh, Syekh yang berakhir dengan ‘keledai’. Atau ulama, ulama, ulama keledai. Tetapi tidak demikian halnya dengan wali, mereka bukan keledai. Wali berarti `alimun `amil. Orang alim yang tulus. Seperti imam-imam di masa lampau: Imam Abu Hanifa, Imam Malik, Imam Syafi`i, Imam Ahmad. Mereka adalah orang alim asli, bukan seperti ulama-ulama saat ini, ulama Internet.

Jangan letakkan keledai di akhir nama, cukup inisial saja, “D” (dari kata donkey, keledai) karena mereka akan mengira itu artinya ‘Doktor’. Biarkan mereka menebaknya sendiri. Dan dalam bahasa Arab, kalian letakkan huruf ‘H’ saja di awal atau di akhir nama. Karena bahasa Arab untuk keledai adalah ‘himaar’. Kalian sadar siapa kalian, namun biarkan orang lain bertanya, “Apa itu H?” Ah mungkin untuk ‘hillu’ – yang berarti manis.

Allah SWT menjelaskan mereka sebagai humurun mustanfira-seperti singa-singa yang saling berkelahi. Seperti masyarakat saat ini. Seperti haywan. Kalian mempunyai (kata) itu dalam bahasa Indonesia kan? Ya. Kita sebut dalam bahasa slang-nya (bahasa pergaulan-penerj.) `hay-one' -- namun dalam bahasa Arab klasik adalah haywan. Atau letakkan ‘H’ untuk hillu, yang berarti manis.

Maka Abayazid QS berpikir tentang dirinya sendiri akan hal itu. Walaupun seorang wali, jika setitik kesombongan masuk dalam hatinya, arogansi, maka saat itu ia menjadi orang yang tidak peduli, dan Allah SWT menjadikannya nol. Beliau bertanya pada iblis, “Jadi keledai-keledai ini yang membuatmu sibuk. Apakah engkau mempunyai satu tali kekang untukku?” Artinya, “Aku bukan seperti mereka, aku tak punya tali kekang.” Jawab iblis, “Ya Bayazid QS, kamu lebih mudah dari mereka. Aku akan menunggangimu tanpa tali kekang. Aku tak butuh tali kekang untukmu.” Padahal beliau adalah alwiya terbesar, salah satu dari mata rantai emas (Tarekat Naqsybandi). Satu detik kesombongan masuk ke dalam hati (pelajaran bagi kita – bukan untuk Bayazid QS) maka cukup bagi iblis untuk menunggangi kita.

Setelah mengatakan hal itu, Bayazid QS dan iblis melanjutkan perjalanan masing-masing.

Beberapa hari kemudian, turun hujan deras di Madinah. Kalian tahu kalau di Madinah, air tidak bisa terserap pasir, hanya menggenang di permukaan dan orang-orang mengumpulkan lalu menggunakannya. Karena hujan terus-menerus, maka seluruh kota menjadi banjir. Beliau melihat ratusan manusia berjalan melewati banjir. Seorang laki-laki tua hampir terjatuh ketika sedang menyebrang sungai menuju rumahnya.

Kata orang itu, “Saya sudah tua, saya sedang sakit berat.” Bayazid QS berkata, “Bisakah aku membopongmu?” “Tidak, aku tidak ingin mengganggumu.” “Oh, tidak mengganggu, namaku Bayazid QS.” Lalu beliau membawa laki-laki tua itu di pundaknya dan menyebrangi sungai.

Kata beliau, “Ok, Aku telah menolongmu, aku selamatkan engkau dari banjir.” Lalu laki-laki tua itu melihat Bayazid QS dan berkata, “Oh Bayazid QS, pernahkah aku mengatakan bahwa aku akan menunggangimu tanpa tali kekang? Aku adalah iblis.”

Sekarang periksa pada diri sendiri, tipe yang mana kita ini? Saya tidak bertanya pada orang yang berada di jalanan. Saya berbicara di sini atas nama Mawlana Syekh Nazim QS. Adalah penting bagi kita untuk mengetahui segala penyakit kita ini. Semua orang di ruangan ini atau yang mendengar rekamannya; tanya pada istri, suami macam apa kalian ini, dan tanya pada suami, istri macam apa kalian ini. Mereka yang belum menikah, tanya pada teman, termasuk tipe yang mana kalian.

Cinta sejati bagi Syekh; bahkan bila Syekh mempermalukan kalian, mengutuk dan menendang kalian, jangan ubah cinta kalian. Kalau tidak, maka kalian bukan benar-benar muridnya.

Dalam tarekat jangan ada kata “tidak” untuk Syekh. Titik. Kata “Tidak” tidak diterima di dalam tarekat. Karena kita di bawah tarbiyyah isma`u wa awu – “Dengar dan patuhi.” Itulah prinsip Islam kita. Nabi SAW dulu juga mendengar dan mematuhi. Beliau mendengar Jibril AS dan mematuhinya.

Jika Syekh menanyakan opini kalian, maka kalian beri opini, namun bukan kalian yang memutuskan. Mungkin Syekh mengambil opini orang lain. Mengikuti tarekat adalah seperti kalian pergi ke jalan besar di luar. Jika kalian menerima, maka hal itu akan mudah. Namun bila tidak, akan menjadi sulit.

Apa yang Allah SWT firmankan dalam al-Qur’an, “sami`na wa atha`na, ghufraanaka rabbana wa ilayka al-mashiir.” Bukannya, “sami`na wa `ashayna.” Iblis mendengar namun tidak patuh, ia tidak mau bersujud, apa yang kemudian terjadi? Allah SWT mengutuknya. Katakan, “sami`na wa atha`na.” Taat adalah penting, taat pada Nabi SAW, pada mereka yang mempunyai wewenang dan yang paling utama adalah taat pada Allah SWT.

Kepatuhan adalah hati bagi Islam dan inti bagi tarekat. Dalam tarekat kalian harus mendengar mereka yang mempunyai wewenang. Jika pembimbing mengatakan, “datanglah” maka kalian harus datang. Jika ia meminta kalian duduk, maka duduklah. Pergi dan jalanlah satu mil, maka kalian harus melakukannya. Jika ia berkata, “Pergi dan kosongkan lautan dengan sebuah ember,” maka pergi dan lakukanlah hal itu. Jika seseorang ingin mengikuti tarekat mereka seharusnya tidak menggunakan akal. Maka dunia akan terbuka bagi mereka.

Mawlana memanggil saya dalam kehadirannya baru saja. Kata beliau, ”Anakku, tidak ada kata keberatan dalam tarekat. Engkau sudah bersamaku selama 45 tahun atau lebih, 47 tahun. Aku tidak ingin mendengar keberatan dari semua orang. Kalian tidak boleh pergi ke sana lalu mengeluh, lalu pergi ke sini dengan mengeluh.“

Kalian mungkin melihat seseorang berbicara di depan cermin, “Aku ini tampan. Dunia ini milikku. Aku adalah Raja. Raja dunia. Aku akan mengutukmu, “Hei, kamu yang berada di cermin! Kamu bukan siapa-siapa. Akulah segalanya. Aku punya segalanya dan kamu bukan siapa-siapa. Jika aku pecahkan cermin ini, aku bisa merusak kamu.” Itulah orang-orang yang berbicara pada diri sendiri di depan cermin dan itulah masalah kita. Setiap orang mempunyai masalah dalam dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa Mawlana mengatakan, “Jangan mengeluh (pada diri sendiri) di dalam hati. Jangan mengeluh pada orang lain, kalau tidak kalian akan hancur.” Semoga Allah SWT mengampuni, memberkahi dan menjaga kita agar selalu berada di bawah bendera Syekh kita -- Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS dan memberi kita umur panjang agar bisa melihat Sayyidina Mahdi AS dan Sayyidina `Isa AS secara nyata dan melihat Nabi SAW dalam kehidupan yang akan datang dan dalam kehidupan ini dalam ru'yah.

Wa min Allah at tawfiq