Showing posts with label Agustus 2011. Show all posts
Showing posts with label Agustus 2011. Show all posts

23 August 2011

Ketahuilah Siapa yang Tertulis sebagai Syekhmu

Seri Ramadan 2011, Volume 3

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

1 Agustus 2011 Zawiya Fenton, Michigan

A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim.

Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,

nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Kita memohon dukungan dari syuyukh kita, dari Grandsyekh hingga Nabi (s). Setiap amal yang ingin kalian lakukan, salat, bekerja, makan, atau minum, yang tidak dimulai dengan “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim” menjadi tidak tersambung; ia tidak mempunyai nilai, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam kitab suci Al-Qur’an:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْإِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. inna a`taynaaka al-kawtsar. fa shalli li rabbika wanhar inna syaaniaka huwal-abtar.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu nikmat yang banyak; maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah, sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari harapan). (Surat al-Kawthar, 108: 1-3)

Sebagian dari orang-orang di lingkungan Nabi (s) berkata, “Wahai kau, Muhammad! Tidak ada yang akan menjadi penerusmu!” Itu artinya, “Engkau tidak mempunyai anak laki-laki (sebagai pewaris), sehingga engkau menjadi tidak tersambung, abtar, namamu tidak akan ada yang membawa, itu sudah tamat, karena siapa yang akan membawa namamu darimu kepada putramu hingga cucumu?” Seorang raja mempunyai keturunan yang mewarisi takhtanya, jadi mereka ingin mempermalukan Nabi (s), yu`ayyibuun an-nabi.

Kemudian Allah menurunkan Surat al-Kawtsar: “Kami telah memberikanmu sungai Kawtsar; oleh sebab itu salatlah kepada Tuhanmu, karena orang-orang yang menentangmu, dialah orang yang terputus! Engkau tidak terputus karena Aku angkat namamu dengan Nama-Ku, dan engkau membawa rahasia itu, yaa Muhammad! Engkaulah orang yang Aku sandangkan dengan tanggung jawab terhadap seluruh alam semesta di Hadirat-Ku.”

كل عمل لم يبدأ باسم الله فهو أبتر

Jadi Nabi (s) bersabda, “Setiap amal yang kalian lakukan, jika tidak dimulai dengan “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim” maka ia menjadi terputus.” Oleh sebab itu, orang-orang mempunyai masalah karena kita adalah manusia yang pelupa; Setan membuat kita lupa melakukan apa yang Allah ridai. Itulah sebabnya di dalam beberapa mazhab mereka mengatakan bahwa mengucapkan “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim” adalah bagian dari Surat al-Fatihah, sementara mazhab lainnya mengatakan bahwa Fatihah berdiri sendiri, tetapi itu tidak berarti bahwa kalian tidak membaca “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim” sebelum Fatihah. Kita melakukan banyak amal di dalam kehidupan sehari-hari yang tidak dimulai dengan “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” dan begitu banyak amal di mana kita berbagi dengan Setan dan ini membuat kita berada di dalam berbagai kesulitan.

Tidak ada rasa malu di dalam Islam, la hayya fiid-diin. Banyak orang di Barat yang mandi sebelum mereka tidur bersama. Jika kalian mandi sebelumnya, itu tidak masalah, tetapi kalian harus mandi setelahnya. Kalian tidak suci ketika tenggelam di dalam kenikmatan duniawi dan kalian harus keluar dari sana, jadi kalian harus mandi. Sangat penting ketika kalian tidur bersama istri kalian, untuk memulainya dengan, “A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim,” setelah itu anak yang baik akan datang. Jika kalian tidak mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” anak itu akan menjadi abtar. Itu artinya ia akan menemui banyak masalah di dalam hidupnya, karena berkah dari Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim tidak disandangkan padanya. Itulah sebabnya ketika kalian melihat seorang anak melakukan hal-hal yang buruk dan orang tuanya mengeluh, “Anakku membuat masalah.”

Jadi kalian harus tahu bahwa ketika kalian berhubungan intim dengan pasangan kalian, kalian harus mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim.” Ketika kalian menyusui anak kalian, kalian haru mengucapkan, “Bismillahi 'r- Rahmani 'r-Rahiim,” dan ketika kalian membesarkan anak kalian, kalian harus mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” kalau tidak ia akan dibesarkan dengan refleksi energi yang buruk yang berada di sekeliling kalian.

Grandsyekh `Abdullah al-Fa'iz ad-Daghestani (q) mengatakannya berulang kali, dan itu ada di dalam ajaran Sayyid Muhammad al-Busayri mengenai “Perilaku kekanak-kanakan yang tercela:”at-tifl an-nafs al-mazhmumah, man syabba `ala syay syaaba `alay, “Siapa yang dibesarkan pada sesuatu, bahkan ketika ia sudah tua dan rambutnya sudah memutih, ia akan tetap seperti ketika ia dibesarkan.” Jadi itu akan sangat sulit ketika kalian akan memperbaiki diri kalian di dalam tasawwuf, atau marilah kita tinggalkan kata itu dan katakanlah seperti yang Mawlana katakana, di dalam “Rabbaaniyuun,” ketika kalian mengambil langkah pertama di dalam istikamah pada level Rabbaniyuun, kalian tidak akan menghilangkan karakter kekanak-kanakan yang tercela ini dengan cepat. Kalian harus melakukannya secara perlahan dan kalian tidak akan disandangkan dengan wilayah, kewalian.

Saya mendengar hal ini berulang kali dari Grandsyekh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani (q) dan juga dari Mawlana Syekh (q), tetapi beliau mengatakan sekarang bahwa tidak berguna untuk memberikan ilmu-ilmu level tinggi atau pelajaran-pelajaran berat ini. Ketika beliau masih berusia lebih muda, beliau sangat antusias untuk memberikan ilmu macam ini; beliau mengisi kami, tetapi pada tiga puluh tahun atau empat puluh tahun terakhir, beliau tidak berbicara mengenai sesuatu kecuali tentang ego dan demokrasi; dan itulah yang menjadi subjek zaman ini, Hubb ar-Riyasah, kecintaan untuk menjadi boss. Di dalam demokrasi, kalian membawa orang-orang terburuk ke dalam parlemen, dan mereka mendapatkan uang dan mulai memerintah kalian, meskipun jutaan orang lebih baik daripada mereka. Itulah yang dianggap korupsi oleh Mawlana, bukan di dalam konsep demokrasi farabi, sebagaimana yang disebutkan oleh salah seorang sejarawan terdahulu dan seorang pemimpin spiritual di dalam tasawwuf yang ingin menciptakan al-Madinat al-Faadilah, “kota yang paling mulia.” Mereka mengajarkan hal itu di dalam masing-masing mazhab. Kita tidak tinggal di dalam madinat al-fadilah, mengambil orang terbaik; kini kita tinggal di peradaban yang penuh ketidakpedulian, bukannya di “dunia yang modern,” karena tidak ada hal-hal semacam itu. Ini adalah peradaban terburuk yang dapat kalian bayangkan, di mana kita tinggal, dan itu akan semakin parah dan semakin parah sampai Allah mengirimkan, sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi (s) di dalam banyak hadis:

قال النبي صلى الله عليه وسلم لا تنقضي الدنيا حتى يملك الأرض رجل من أهل بيتي يملأ الأرض عدلا كما ملئت قبله جورا يملك سبع سنين

laa tanqadii 'd-dunya hatta yamliku 'l-ardha rajulun min ahli baytii yamlaa al-ardha `adlan kama muli'at juura yamliku saba` siniin.

“Dunia ini tidak akan berakhir hingga ia dipimpin oleh seorang laki-laki yang berasal dari Ahlulbaitku yang akan mengisi dunia dengan keadilan dan kebahagiaan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kerusakan. Ia akan memerintah selama tujuh tahun.”

Jadi sampai saat itu tidak ada yang dapat menyelamatkan dunia ini. Saya berbicara dengan Mawlana kemarin setelah ada berita bahwa Mufti Besar Mesir memberikan fatwa untuk merayakan kemunculan al-Mahdi (a). Itu adalah suatu perubahan besar, menyebutkan bahwa kalian dapat merayakan dan menunggu kedatangannya, yang artinya untuk mempersiapkan diri kalian, jangan melihat pada perbedaan, apakah Syi`ah atau Sunni. Jadi kedatangan Mahdi (a) adalah sebuah fakta, dan membuat itu penting adalah sesuatu yang hebat. Para ulama mengetahui bahwa Sayyidina `Isa (a), Dajjal, dan Mahdi (a) akan datang. Jadi apa yang telah disampaikan oleh para awliyaullah sejak lama sekarang bertepatan dengan apa yang dikatakan oleh Mufti Besar. Saya terkejut. (Mawlana bertanya pada seorang murid.) Apakah engkau ingat ketika mereka menerbitkan sebuah buku di Berkeley, California di mana mereka merujuk Mawlana Syekh Nazim sebagai “al-Mahdawiyya”? Itu artinya bahwa kita adalah tarekat Sufi yang berhubungan dengan Mahdi (a), karena ceramah Grandsyekh dan Mawlana Syekh berfokus pada aspek itu. (Ya, saya ingat.)

Dua puluh tahun yang lalu mereka terkejut mengenai hal itu dan bertanya, “Apa yang kalian bicarakan mengenai Mahdi?” Banyak Koran Islami yang menulis bahwa Naqsybandi menantikan Mahdi, tetapi sekarang Mufti Besar Mesir, yang artinya Mufti Besar bagi dunia Muslim karena Mesir mewakili dunia Muslim, yaitu Azhar asy-Syariif, kepalanya berkata, “Ya, hal itu diperbolehkan.” Itu artinya beliau mengakui bahwa al-Mahdi akan datang. Apa yang telah disebutkan oleh para syuyukh Naqsybandi dan saya belum pernah melihat tarekat lain menyebutkan al-Mahdi hingga 200 tahun yang lalu di masa Sayyidina Khalid al-Baghdadi (q), yang mengirimkan para pengikutnya ke Mekah untuk bertemu Mahdi (a). Itu artinya Mufti Besar itu menginginkan kemunculannya.

Sebelumnya Grandsyekh `Abdullah al-Fa'iz ad-Daghestani (q) berkata bahwa itu belum muncul di Loh Mahfuz, tetapi ketika Sayyidina Khalid muncul, itu muncul di Loh Mahfuz sehingga beliau mengirimkan murid-muridnya ke Mekah untuk bertemu dengan al-Mahdi dan memberikannya bay’at. Mereka dibusanai dengan realitas kemunculan Mahdi karena mereka mengikuti perintah syuyukh mereka; itulah faktanya yang membuat mereka dibusanai.

Jadi kalian tidak bisa menghilangkan nafs al-tifl al-mazhmoumah. Syekh berada di dalam hidup kalian untuk memoles kalian secara perlahan, dan jangan berpikir bahwa bila kalian sudah terpoles maka kalian akan menjadi seorang wali karena kalian masih di dalam tahap pelatihan. Seperti seseorang yang mempunyai kekurangan, kalian memerlukan banyak operasi untuk bisa berdiri. Itulah yang membuat saya sampai pada: Grandsyekh mengatakan bahwa seorang wali tidak akan menjadi wali jika ia tidak membersihkan semua garis keturunannya hingga ke Sayyidina Adam (a), semua kakek moyang atau leluhurnya. Jika ia mampu membersihkan mereka semua satu per satu, seluruh garis leluruhnya hingga mencapai Sayyidina Adam (a), maka melalui proses itu ia akan dibusanai dengan level pertama dari kewalian. Hal itu bukan semata kalian mengenakan turban dan memelihara janggut lalu menjadi seorang syekh. Tidak, kalian adalah seorang aktor, bahkan bukan aktor, melainkan aktris! Itu bukan untuk merendahkan gender lain karena kita semua, di dalam termin spiritual, di sana ada “level kedewasaan (manhood)”, di mana bahkan kaum wanita juga bisa mencapainya karena di dalam tarekat berlaku kesetaraan, tetapi jika kalian tidak mencapainya, maka kalian masih dianggap berada di “level belum dewasa (womanhood).” Kedewasaan sejati adalah level di mana seseorang mampu menghilangkan semua busana untuk mencapai level Makrifatullah dan mencapai masa untuk mencapai level kedewasaan.???

Misalnya, di sebuah paspor seorang wanita membawa nama belakang suaminya. Bahkan di Amerika dan Eropa, meskipun mereka mempunyai pilihan untuk tidak melakukannya, sebagian besar menggunakan nama suaminya sampai sekarang, dan anak-anak membawa nama ayahnya. Itulah identitas paspor kalian. Mereka mengikuti apa yang tertulis di dalam kitab suci al-Qur’an:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ

id`uuhum li-aabaahim.

Panggilah mereka (dengan memakai) nama ayah-ayah mereka. (al-Ahzaab, 33:5)

Karena prialah yang menanamkan benihnya ke dalam tanah yang subur yang Allah ciptakan. Kehormatan seorang ibu adalah memberikan kalian buah yang matang, tetapi benihnya berasal dari ayah. Itulah sebabnya kalian dipanggil menurut ayah mereka, karena mereka membawa nama kalian. Oleh sebab itu, bagaimana seorang wali membawa nama orang tuanya jika ayahnya tidak bersih? Jadi untuk menjadi seorang syekh di dalam tasawwuf tidaklah mudah. (…) Wali itu harus pergi satu per satu dan membersihkan mereka, dan jika ia tidak mengeahui sumbernya, maka ia menjadi terputus. Ada dua garis keturunan: satu adalah fisik dan yang kedua spiritual, dan keduanya adalah penting. Jadi, bila kalian tidak mengetahui garis keturunan kalian, di mana syekh kalian, maka kalian adalah abtar. Itu seperti menunggu air dari pipa yang patah, jika kalian tidak tersambung dengan syekh yang benar yang tertulis bagi kalian di Loh Mahfuz.

Misalnya, bila kalian adalah seorang yang jujur dan teguh pada iman kalian, kalian tidak membuat diri kalian seperti Firaun yang mengatakan, “Aku adalah Tuhanmu, Yang Maha Tinggi!” Kalian cukup rendah hati untuk mengatakan, “Aku bukan apa-apa,” dan tidak memanggil orang untuk diri kalian sendiri dan membuat mereka menyembah kalian, dan tidak membiarkan mereka mengunjungi syekh tanpa izin kalian. Tidak perlu bagi mereka untuk meminta izin dari kalian atau tidak! Saya tahu syekh di sini di Amerika dan negara-negara lain, para perwakilan, yang memberi “izin” kepada para pengikutnya untuk mengunjungi Mawlana Syekh Nazim, dan itu tidak benar, karena setiap orang bisa pergi mengunjungi Mawlana Syekh.

Ketika Mawlana masih muda, beliau pergi ke Istanbul untuk mempelajari Kimia Teknik dan kemudian beliau meninggalkannya karena beliau tidak mempedulikannya. Itu adalah tujuh puluh tahun yang lalu. Beliau mempunyai dua orang syekh yang mengajarinya Bahasa Arab dan tasawwuf di Masjid Sultan Ahmed. Setelah beberapa lama, beliau berkata kepada Syekh al-Lasuuni, yang mengajar banyak murid, “Aku ingin berbay’at denganmu.” Beliau adalah seorang syekh sejati, bukannya pura-pura, syekh plastik, beliau adalah buah sejati. Syekh plastik terlalu banyak untuk dihitung. Kita semua adalah syekh plastik. Semoga Allah mengambil kita dari plasticisme dan kedunguan seperti keledai, dan mengembalikan kita kembali pada buah-buahan yang banyak buahnya. Mawlana mengatakannya di depan orang-orang, “Yaa Sayyidii, aku ingin mengambil bay’at.” Syekh Nazim sangat terpelajar dan orang tuanya sangat terkenal di Turki dan Siprus. Syekh itu melihatnya di depan ratusan dan ribuan murid, dan beliau berkata, “Yaa waladii, aku tidak bisa memberimu bay’at.” Sementara di sini kalian datang dan berkata, “Berikan kami bay’at,” itu sangat murah. Membawa orang sebanyak-banyaknya untuk mengambil bay’at (demi kecintaan menjadi boss). Bahkan jika kalian mempunyai izin untuk memberikan bay’at, jangan diberikan, karena syekh melihat pada kalbu kalian dan ia tahu aspek tersembunyinya. Apakah kalian memberi bay’at karena kalian sombong, arogan, gembira, atau sakit—syekh akan mengetahuinya. “Apakah kalian memanggil mereka untuk dirimu sendiri atau untukku?” Oleh sebab itu, lebih baik tidak memberikannya karena itu berasal dari karakter buruk dari ego, yang memerlukan pelatihan untuk mengatasinya.

Siapakah yang memberikan bay’at? Segera setelah kalian melakukan dosa, bay’at kalian hilang, jangan pikir ia masih ada. Sampai kalian meminta maaf dari orang yang kalian sakiti. Itulah sebabnya kalian tidak boleh bergunjing atau menyebarkan rumor yang tidak benar. Jika itu haqq dan orang itu menyakiti kalian, kalian boleh mengekspos orang itu.

Syekh itu berkata, “Aku tidak akan memberimu bay’at,” Mawlana Syekh berkata, “Mohon, Sayyidii.”

Beliau menolak untuk memberinya di depan ratusan orang, dan karena setiap orang bukan wali, mereka muali berpikiran buruk. Kemudian Syekh mengizinkan Mawlana untuk pergi dan beliau patah hati. Itu adalah ujian dari wali. Itu bukan seperti sekarang ketika mereka datang dan berkata, “Beri aku bay’at,” bahkan tanpa wudu! Kita berharap bay’at kita dijaga bersama Mawlana Syekh. Mereka menjaganya, tetapi kita tidak menjaganya. Ketika kita berdosa, berarti kita melanggarnya, dan Allah memberi mereka kekuatan untuk memperbaiki apa yang telah dilanggar.

Beberapa rumor tersebar menyerang saya oleh beberapa kelompok. Saya berada di Siprus dan beberapa wanita dan pria dari Jerman sangat menyukai saya, dan mereka adalah orang-orang yang tulus, tetapi ada dua atau tiga wanita di antara yang lain di dergah wanita, dan satu Jumat mereka membaca Surat al-Mulk, at-Tabaraka, menunggu Mawlana memberikan pelajarannya. Saya duduk di mihrab menunggu selesainya salat karena Mawlana telah menempatkan saya sebagai imam. Kami menyelesaikan salat dan kemudian keluar. Kemudian seorang wanita datang dan berkata, “Aku ingin berbicara denganmu.” Dia adalah seorang Arab tetapi tinggal di Jerman dan dia mengerti Bahasa Jerman. Dia berkata kepada saya bahwa ada dua wanita di sana, dan Mawlana duduk dan mereka berkata, “Syekh Hisyam tidak memberikan bay’at kecuali dengan membayar $100.” Rumor dan ghibah dilarang oleh Nabi (s). Wanita itu menjawab mereka dengan kasar.

Orang-orang mendengar bahwa syekh tidak memberi bay’at kepada Mawlana, dan itu adalah sebuah ujian. Beberapa orang mengatakan, “Syekh mempermalukan aku,” tetapi itu adalah tarfi` ad-darajaat, bagaimana mereka meningkatkan level kalian. Jika syekh plastik mempermalukan kalian, ia melakukan dosa dengan menyakiti hati kalian. Jika seorang syekh sejati melakukan hal itu, ia mengangkat kalian, jadi jangan mempunyai keraguan terhadap syekh kalian. Mawlana kembali keesokan harinya, karena beliau tidak mempunyai keraguan, dan kemudian syekh berkata kepadanya, “Nazim Effendi, namamu tidak tertulis sebagai salah satu muridku. Namamu adalah bersama Syekh `AbdAllah ad-Daghestani di Damaskus, Sultan al-Awliya. Pergilah dan ambil bay’at dengannya.”

Ini adalah sebuah contoh bagaimana para awliyaullah mengetahui hierarki mereka. Mereka tidak semua berada dalam syekh yang sama karena ada banyak level syekh, tetapi apapun levelnya, tetap saja kalian harus rendah hati dan penuh hormat. “Pergilah ke Damaskus, kepada Syekh `Abdullah ad-Daghestani. Beliau adalah syekhmu. Aku tidak bisa melewati batas.”

Saat itu adalah Perang Dunia II, ledakan dan bombardir ada di mana-mana karena Perancis dan Inggris berperang di Suriah. Mawlana Syekh pergi ke Homs dan tinggal di sana selama satu tahun, jadi beliau melakukan khalwat di sana. Beliau mempelajari buku-buku fiqh dan itu dilakukan di makam Sayyidina Khalid ibn al-Waliid (r). Beliau tinggal di sebuah kamar di sebelah makam dan mendengarkan Syekh Ayyuun as-Suud. Kemudian perang berakhir dan beliau pergi menuju Grandsyekh, tetapi beliau tidak tahu ke mana harus pergi. Jadi mereka menurunkannya di Hayy al-Miidan, tetapi sangat mengejutkan bahwa mereka tidak menurunkannya di Marja, di tempat pemberhentian taksi utama, tetapi mereka menurunkannya dua jam dari sana! Saat itu sedang perang dan tidak ada orang di jalan, tetapi seseorang melihatnya mengenakan jubah dan membawa tongkat seperti Sayyidina Musa (a).

Seseorang melihatnya dan berkata, “Apa yang kau lakukan di sini, syekh? Mari, mari, ke mari.” Orang itu memberi makan Mawlana dan berkata, “Bagaimana aku dapat membantumu?” Mawlana berkata, “Aku mencari Syekh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani.”

Ia berkata, “Beliau adalah tetanggaku! Aku akan membawamu ke sana.”

Hari berikutnya Mawlana pergi ke pintu, tetapi sebelum beliau mengetuk, Grandsyekh membuka pintu dan berkata, “Kami telah menanti kedatanganmu.”

Kita akan melanjutkan kisahnya besok. Tarekat tidak mudah, banyak hal di jalan kalian yang mungkin merintangi kalian, tetapi kalian harus mengatasinya. Jika kalian mengatakan kepada beberapa orang, “Tidak ada bay’at,” mereka akan pergi menyimpang, berpikir, “Syekh itu berpikir bahwa ia lebih baik daripada aku, jadi aku akan mencari syekh lain.”

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

https://docs.google.com/document/pub?id=1B6Hliz1cLd6bUJMKT3_ZfcnenlwHexP7WLQAEBLEEUY

16 August 2011

Realitasmu berada di Luar Kotak

Seri Ramadan 2011, Volume 1

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

30 Juli 2011 Burton, Michigan

`Ashar di Masjid As-Siddiq

A`uudzu bil lahi min asy-Syaythaani ‘r-rajim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.

Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,

nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Kalimataan khafiifataan `ala al-lisaan tsaqiilataan fi’l-miizaan. SubhaanAllah wa bihamdihi subhaanAllahi ’l-`azhiim astaghfirullah.

Dengan syafaat, perantaraan dari Nabi (s), kita memohon agar Allah (swt) mengampuni kita. Allah berfirman di dalam kitab suci Al-Qur'an:

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء غَدَقًا

wa law istiqaamuu `ala at-thariiqati la-asqaynaahum maa’an ghadaqa.

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (Surat al-Jinn, 72:16)

Itu artinya, “Jika mereka mau istikamah di Jalan ini, Kami akan menyirami mereka dengan hujan yang lebat, kadang-kadang hujan turun dengan lebat, Kami kirimkan mereka Rahmat Kami; Aku akan membuat mereka menjadi malaikat, Aku akan menjadikan mereka awliyaaullah, Aku akan menjadikan mereka ahbaabii, Kekasih-Kekasih-Ku.”

Orang datang dari mana-mana mencari kecintaan Allah dan dukungan para syuyukh kita; tidak ada yang lain. Mereka mengorbankan waktu bersama anak-anak dan keluarga mereka, dan sebagian lagi membawa keluarganya bersama mereka. Tetapi Allah Maha Pemurah dan Dia mengetahui mengapa setiap orang datang. Tidak ada yang datang untuk dunia; semuanya datang untuk akhirat.

Allah (swt) memberi setiap orang sesuatu yang tidak diberikan kepada orang lain, sebagaimana Allah memberikan setiap nabi, sesuatu yang tidak diberikan kepada yang lain, tetapi Dia memberi kepada satu lebih banyak daripada yang Dia berikan kepada yang lain. Jika kalian menjumlahkan segala sesuatu yang diterima oleh nabi-nabi lainnya, niscaya jumlahnya tidak akan lebih dari setetes dalam samudra Sayyidina Muhammad (s)! Itulah sebabnya di dalam jama`ah, di dalam kelompok, Allah selalu memberikan sesuatu yang istimewa, tetapi akan ada satu yang bahkan jika kalian menjumlahkan semua yang diperoleh oleh yang lainnya, jumlahnya tidak akan lebih dari setetes di dalam samudranya. Contohnya adalah lebah: ratu lebah adalah satu-satunya di dalam kelompoknya, dan Allah memberinya suatu keistimewaan melebihi lebah lainnya. Jika tidak ada ratu, maka tidak ada madu; tidak ada apa-apa. Walaupun setiap lebah mempunyai sesuatu yang berbeda dengan lebah-lebah lainnya, mereka hanya bisa menghasilkan lebah karena ratu mereka, dialah yang diberikan kelebihan oleh Allah dibandingkan dengan yang diberikan-Nya kepada lebah lainnya. Dia memang harus menjadi yang satu itu, tidak bisa ada dua yang mempunyai level yang sama, tetapi untuk rahmat, bisa ada dua atau tiga rahmat yang akan dibagikan kepada mereka. Namun demikian, harus ada satu ratu yang menarik semua lebah lainnya, dan inilah yang kita sebut tuan, atau syekh.

Laa bud min mursyidin hissii. Tidak ada jalan lain, kecuali dengan mempunyai seorang mursyid, seorang mursyid yang bukan hanya secara spiritual tetapi kalian juga harus melihatnya; ia harus ada secara fisik. Kalian tidak bisa berkata, “Aku terhubung dengan guruku yang berada di dalam kubur.” Di dalam kubur, itu sudah berakhir. Kalian memerlukan seseorang yang hissii, “syekh yang masih hidup,” seseorang yang mewarisi dari Nabi (s) apa-apa yang diperlukan untuk muridnya, karena setiap murid, setiap orang dari ummat an-Nabi (s) mempunyai kabel dari kalbunya kepada kalbu Nabi (s). Jika kabel itu terganggu di suatu tempat, kalian tidak akan mendapatkan aliran informasi: itu harus berupa sambungan langsung dengan Nabi (s).

Jangan berpikir bahwa itu mustahil. Nabi (s) menyebutkan di dalam hadisnya: ”Aku mengamati amal dari umatku.” Jika tidak ada sambungan, bagaimana beliau bisa mengamati? Kini ada level teknologi yang lebih tinggi lagi di mana mereka tidak memerlukan kabel untuk tersambung. Teknologi itu adalah nirkabel dan ia sanggup menarik lebih banyak dan lebih banyak lagi dari gelombang elektromagnetik yang merambat. Juga melalui telepati mereka bisa menjangkau lebih banyak dan banyak lagi. Itulah sebabnya awliyaaullah sanggup mencapai semua murid mereka tetapi murid-murid itu tidak bisa menjangkau murid lainnya, hanya kepada syekhnya mereka bisa. Syekh mempunyai jejaring nirkabel dan di mana pun ia berada, di sana ada WiFi surgawi yang dapat menjangkaunya dan melalui WiFi tersebut ia menjangkau Nabi (s) dan mempersembahkan semua muridnya. Jika manusia dapat menjangkau melalui sebuah WiFi, mengapa seorang wali tidak bisa menjangkau dengan WiFi surgawi?

Wa kullun min rasuulullahi multamisun, “Mereka semua mengambil dari Nabi (s).” Itu artinya, semua awliyaullah, semua anbiyaullah, dan semua ciptaan pasti mempunyai bagian dari “pengambilan” tersebut, di mana mereka mengambil sesuatu. Kadang-kadang mereka mempunyai kabel, dan di dalamnya ada sebuah selubung besar yang berisi ribuan kabel kecil. Itu tergantung pada kapasitas wali itu, berapa banyak kabel yang dapat ia bawa. Seorang sultan al-awliya tidak memerlukan kabel karena ia mampu menjangkau tajali surgawi dan mempunyai WiFi surgawi yang dengannya ia selalu dapat menjangkau dan mendapatkan informasi.

Allah (swt) berfirman:

وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Wa min kulli syayin khalaqnaa zawjayn la`allakum tadzakkaruun.

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan; supaya kamu mengingat (kebesaran Allah). (adz-Dzaariyat, 51:49)

SubhaanAllah. Ayat ini, “Segala sesuatu Kami ciptakan dua,” artinya dari setiap syay, “segala sesuatu, Kami ciptakan dua.” Allah (swt) tidak mengatakan “satu,” Dia berkata, “dua.” Bukannya laki-laki dan perempuan, lupakan itu; ada ayat lain untuk itu; tetapi Dia mengatakan, “Segala sesuatu Kami ciptakan dua.” Artinya kalian ada dua, Dia ada dua, kita mempunyai dua Sahib, ada dua Ali: kita mempunyai satu yang asli dan satu tiruannya, satu yang asli dan satu gambarannya. Jadi awliyaullah ketika mereka ingin melihat dan mengetahui realitas kalian, mereka tidak melihat pada kalian, karena kalian adalah gambaran; seperti ketika melihat di cermin: apa yang kalian lihat di sana? Kalian melihat diri kalian sendiri. Kalian bergerak ke kanan, ia bergerak ke kiri; kalian bergerak ke kiri, ia bergerak ke kanan. Kalian tidak melihatnya? Jadi, ketika mereka ingin melihat, mereka tidak melihat pada cermin untuk melihat gambar kalian, mereka tidak mempunyai urusan apa-apa dengan gambaran kalian. Mereka melihat pada kalian….di luar kotak, bukannya di dalam kotak. Kita berada di dalam kotak; dan ketika kita ke luar dari kotak kita akan menemukan realitas dan ketika kita masuk ke dalam kotak, kita akan menemukan gambar-gambar/bayangan.

Jadi, itulah sebabnya Imam Ghazali (r) berkata, “Ketika kamu mati, saat itu kamu akan mengetahui realitasmu, kamu akan bangkit karena kamu meninggalkan bayanganmu.” Dunia ini adalah bayangan, realitas berada di luar dunia—di akhirat. Jadi ketika kalian meninggalkan dunia—kotak itu—kalian mencapai realitas. Allah (swt) berfirman, “Segala sesuatu Kami ciptakan dua.” Ketika awliyaullah melihat, sebagaimana Grandsyekh, semoga Allah memberkati jiwanya dan Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memanjangkan umurnya berkata, “Setiap orang mempunyai realitas, realitas itu adalah bintang di alam semesta ini, besar atau kecil, itu tergantung pada realitas orang tersebut.”

Kehendak Allah menciptakan realitas dan menciptakan gambarannya, dan Allah memerintahkan gambar-gambar ini, seperti sebuah bayangan, mengikuti bentuk aslinya. Ketika kalian berdiri di bawah matahari, matahari menghadap kalian, kalian akan melihat bayangan kalian; di sana ada realitas dan ada bayangannya. Dengan hikmah dan kehendak Allah, Dia membuat bayangan bergerak sendiri melalui iraadatan ju`ziyya, sebuah bagian dari kehendak, kehendak yang terbatas, tetapi kehendak sejatinya ada bersama realitasnya yang mengendalikan kedekatan dan kehadiran kalian di dalam Hadirat Ilahi.

Realitas tidak bisa menjadi tudannas, ia tidak bisa melakukan sebuah dosa dan tidak bisa melakukan sesuatu yang kotor; itu mustahil. Ia selalu murni dan suci, dan selalu berada di Hadirat Allah, mengagungkan Allah (swt). Dan Allah telah mengajarkan kita bagaimana cara mengagungkan-Nya, yaitu melalui surat pertama di dalam Kitab Suci al-Qur’an:

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Alhamdulillahi rabbi'l-`alamiin

Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. (al-Fatihah, 1:1)

Allah memuji Diri-Nya sendiri oleh Diri-Nya sendiri, untuk Diri-Nya sendiri, dengan mengucapkan, “Alhamdulillah.” Itu artinya, “Wahai hamba-Ku! Ucapkanlah ‘alhamdulillah!’” Setiap saat realitas kita mengucapkan, “alhamdulillah” di Hadirat Allah, dan oleh karena itu realitas selalu bersih. Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda:

يولد الانسان على الفطرة وانما ابواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه

yuulidu al-insaanu `ala ‘l-fitra fa imma abbawaahu yuhawwidaanihi aw yunasaraanihi aw yumajjisaanih.

Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci; orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi atau Kristen atau Penyembah Api.

Dia tidak mengatakan, “Orang tuanya menjadikannya Muslim,” karena Allah (swt) telah menciptakannya sebagai Muslim; ia diciptakan dalam keadaan bersih. Jadi itu artinya realitas parsial dari bayangannya bergerak dengan arah yang berbeda di dalam kehidupan imajinernya. Ini adalah kehidupan yang imajiner, ini akan berakhir. Dapatkah seseorang mengatakan, “Aku tidak akan mati” atau, “Aku akan hidup selamanya.” Jika ya, tunjukkan kekuatan kalian: pergilah ke pemakaman dan bangunkan semua orang! Kalian bisa? Jadi bayangan itu bertindak di dunia, tetapi realitasnya bersih. Jadi kita memerlukan mursyidin hissii, kita memerlukan seorang mursyid, bukannya seseorang yang mengaku dirinya ‘mursyid.’ Tidak mudah untuk menjadi seorang mursyid, itu adalah karunia Allah (swt). Seorang mursyid harus memenuhi spesifikasi tertentu yang harus diemban, dan spesifikasi ini bukan karena kalian pintar, tetapi itu adalah karunia Allah.

Laa bud min mursyidin hissii. Kalian harus memiliki seorang mursyid secara fisik yang dapat membawa kalian dan semua bayangan kalian yang akan melakukan kesalahan untuk kembali kepada realitas kalian; untuk memastikan bahwa realitas kalian selalu memuji Allah (swt), dengan mengucapkan, “alhamdulillah.” Ketika kalian mengucapkan, “alhamdulillah,” Allah senang dengan kalian! Itulah sebabnya Surat al-Fatihah dibaca pada setiap rakaat salat, karena tanpa membaca “alhamdulillah” salat itu menjadi tidak sah. Kalian tidak bisa memulainya dengan membaca “rabbil-`alamiin” tanpa “alhamdulillah;” kalian harus membaca Surat al-Fatihah sejak awal hingga akhir, yang semuanya adalah memuji Allah (swt). Jadi kita memerlukan seorang mursyid!

Ada seorang wali yang selalu dalam keadaan wangi, sebagaimana yang diceritakan oleh Grandsyekh (q) dan Mawlana Syekh, semoga Allah memanjangkan umurnya. Kisah ini bukannya rekaan, tetapi sungguh terjadi, karena awliyaullah yanzhuruuna bi nuurillah, mereka dapat melihat melalui Cahaya Ilahi, apa yang terjadi di masa lalu, masa sekarang, dan di masa yang akan datang. Ada seorang wali yang meskipun ia tidak pernah mandi dan selalu berkeringat, namun wanginya harum. Ke mana pun ia pergi, wangi semerbak itu sampai ke mana-mana. Salah satu muridnya mempunyai keraguan, sekarang banyak orang yang mempunyai keraguan. Ia berkata, “Sungguh aneh bahwa ke mana pun ia pergi ia selalu mempunyai wangi yang harum. Parfum apa yang ia gunakan?” Kemudian datanglah hidayah ke dalam kalbunya; Allah membukakan kalbunya. Ia berkata, “Hari ini aku akan memastikan bahwa aku hadir di pagi hari ketika syekhku bangun, dan aku akan membawakan air untuk wudunya dan aku akan melihat apa yang akan ia lakukan.”

Jadi Syekh pergi keluar untuk buang air, dan ia tidak bisa melakukannya di depan orang, jadi ia pergi menuruni tebing, turun ke tempat di mana tak ada orang yang dapat melihatnya, karena pada saat itu mereka belum mempunyai kamar mandi seperti sekarang ini, tidak ada kamar mandi, di lapangan; ia pergi ke bawah, dan satu menit kemudian ia kembali. Murid itu meletakkan air agar syekhnya dapat berwudu dan ia mencium wangi yang harum, lalu syekhnya berkata, “Ayo ikuti aku.” Murid itu tidak mau mengikuti syekh, ia penasaran ingin melihat ada apa di sana. Ia menemukan tiga butir apa yang setiap orang buang di toilet, tiga butir yang sangat kecil. Ia berkata, “Masyaa-Allah, apa ini?” Kemarin Syekh memakan seekor ayam utuh dan sekarang hanya ada tiga butiran kecil dengan wangi yang sangat harum dan tidak pernah ada wangi seperti itu sebelumnya. Ia lalu mengambilnya dan meletakkannya di dalam turbannya. Dan ke mana pun ia pergi, wangi musk itu keluar dari turbannya. Meskipun dalam pandangan Syari’ah hal itu tidak dapat diterima, tetapi ini adalah untuk mengajarkan kepada kita bahwa seorang mursyid bukanlah orang yang meninggalkan bau busuk di belakangnya, seorang mursyid adalah orang yang hanya meninggalkan wangi yang harum. Itulah mursyid yang kita perlukan, dan alhamdulillah bahwa Allah Maha Besar dan dapat memberikan kita mursyid seperti itu.

Sayyidina Abdul Qadir Jilani (r) berkata, ayyuhal walad, “Ketahuilah wahai anak kecil!” Apa yang dimaksud dengan “anak kecil”? Sayyidina Abdul Qadir Jilani memanggil seseorang yang berusia lima puluh tahun dengan sebutan “anak”. Ia tidak peduli apakah kalian berusia lima puluh tahun, atau apakah kalian mempunyai janggut pendek atau panjang atau turban besar atau kecil, kalian adalah anak kecil. Kalian belum mencapai realitas kalian, maka kalian adalah anak-anak. Jadi apa yang beliau katakan? “Semoga Allah memberi kenikmatan pada kalian dengan Jalan yang Lurus.” Tanpa Jalan yang Lurus, kalian bukan apa-apa, kalian adalah anak-anak. Kalian ingin menjadi seorang yang dewasa? Mencapai kedewasaan, baik pria maupun wanita? Untuk memikul tanggung jawab, artinya kalian harus berada di Jalan yang Lurus, Shirath al-Mustaqiim. Jika kalian tidak berada di Jalan yang Lurus, berarti kalian masih anak-anak.

Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda, `alam ayyuhal walad, “Wahai anak kecil, engkau harus tahu bahwa langkah pertama di dalam Jalan menuju Makrifatullah adalah istiqaamah.” Tidak ada istikamah, kalian tidak bisa mendapat apa-apa. Ketika kalian mempunyai istikamah, apa yang Nabi (s) katakan? “Para ulama adalah para pewaris anbiya.” Para ulama, ‘alim—bukan ulama biasa yang dapat dibeli. Mereka adalah ulama-ulama akademis, yang ilmunya berasal dari kertas-kertas. Tetapi bagi ilmu kalbu, hanya awliyaullah, ulama yang digambarkan oleh Nabi (s) sebagai `alimun `aamil, seorang alim yang mengamalkan apa yang ia pelajari. Jadi, bila kalian berada di Jalan yang Lurus, Allah akan menjadikan kalian sebagai ulama yang mewarisi dari nabi-nabi.

Al ‘ulama warasatul anbiya. Para ulama adalah pewaris nabi-nabi. Apakah yang menjadi pintu untuk itu? Itu adalah istikamah. Istikamah artinya, “kalian tidak bisa menyimpang.” Jika kalian menyimpang, apa yang harus kalian lakukan? Tobat! Memohon ampun, segera. Barulah Allah (swt) akan menerima dari kalian. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita adalah maksum, bersih dari dosa, hanya nabi-nabi yang seperti itu. Jadi karena kita tidak maksum—jangan katakan bahwa seorang syekh tidak melakukan dosa, jangan, itu tidak benar. Sayyidina Ibrahim (a) adalah maksum, dan beliau adalah seorang nabi. Meskipun ketika orang-orang bertanya kepadanya, “Siapa yang memenggal leher berhala-berhala ini?” Beliau berkata, “Aku tidak tahu,” meskipun beliau yang memenggalnya, beliau tidak akan dihakimi untuk itu. Dan saudara-saudara Sayyidina Yusuf (a) yang melemparkan beliau ke dalam sumur, mereka semua adalah nabi; karena hikmah Allah (swt) yang menginginkan Sayyidina Yusuf (a) untuk berada di dalam sumur itu. Allah ingin mengajari ayahnya, Sayyidina Yaqub (a) suatu pelajaran. Jadi Sayyidina Yaqub (a) berada di dalam sebuah ujian yang besar dari Allah (swt). Kita dapat membahasnya lebih dalam nanti insya Allah.

Jadi para ulama tidaklah maksum, mereka melakukan dosa, tetapi mereka bertobat. Jangan katakan, “Oh, wali itu tidak berdosa.” Tidak, ia mungkin membuat kesalahan, tetapi niatnya baik dan ia tidak bermaksud melakukannya. Tetapi itu terjadi, apa yang dapat ia katakan? Itu adalah amrullah, Kehendak Allah yang harus terjadi. Jadi ia telah diatur oleh para malaikat untuk jatuh dan berkata kepada dirinya, “Wahai diriku! Engkau kotor.” Allah membuat para awliyaullah terjatuh, melakukan suatu kesalahan untuk memperlihatkan kepada mereka:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ

fa laa tuzakhuu anfusakum.

Oleh sebab itu, janganlah mengatakan dirimu suci. (Surat al-Najm, 53:32)

“Jangan memuji atau mengagungkan dirimu sendiri.” Allah (swt) membuat para awliya-Nya terjatuh di dalam kesalahan untuk mengingatkan mereka bahwa mereka melakukan suatu kesalahan di dalam hidup mereka dan mereka terus memohon ampunan. Ada makna yang besar di sini. Ada sesuatu yang harus kita rasakan. Misalnya, ketika seseorang berbuat dosa, ia merasakan dosa itu dan kemudian akan menyesalinya sepanjang hidupnya. Akar kata dari insaan, “manusia,” berasal dari kata nisyaan, “pelupa.” Jika insaan tidak lupa, sepanjang hidupnya ia akan berada dalam depresi karena dosa-dosanya, jadi Allah membuatnya lupa. Ia bertobat dan perbuatan buruk itu hilang karena Allah mengampuninya, ia bertobat dan Allah mengampuninya dan Allah membuatnya melupakan hal itu. Tetapi wali tidak pelupa. Seorang wali yang berada di Shirath al-Mustaqiim, Jalan yang Lurus kemudian ia terjatuh ke arah kanan atau ke kiri, ia tidak akan melupakannya, sehingga ia akan terus meminta pengampunan, pengampunan, pengampunan. Kita memerlukan mursyid semacam itu; itulah mursyid yang harus kalian temukan karena tidak semua orang yang mengaku sebagai syekh itu adalah mursyid. Firaun, ia mengaku sebagai apa? Karena arogan, ia berkata, “Setiap orang berada di bawahku, aku adalah Tuhanmu, aku adalah penciptamu.” Karena ia bangga dengan dirinya sendiri, arogan, ia menjadi lupa siapa dirinya.

Juga Allah (swt) berfirman kepada Sayyidina `Isa (a):

يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

Yaa `iisá 'bna maryama a'anta qulta li '-naasi attakhidzuunii wa ummiya ilahayni min duunillahi qaala subĥaanaka maa yakuunu lii an aquula maa laysa lee biĥaqqin in kuntu qultuhu faqad `alimtahu ta`lamu maa fii nafsii wa laa a`lamu maa fii nafsika innaka anta `allaamu al-ghuyuub.

Wahai `Isa, putra Maryam! Adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib." (Al-Ma'idah 5:116)

Allah bertanya, menegaskan kepadanya, Allah ingin membuatnya merasakan tekanan itu. Apakah Allah tahu? Tahu! “Yaa `Isa! Apakah engkau mengatakan kepada kaum Hawariyuun, attakhidzuunii ilahayni min duunillah, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah.’” Apakah Allah (swt) tidak mengetahui bahwa Sayyidina ‘Isa tidak mengatakan hal itu? Tentu saja Allah (swt) mengetahui kebenaran hal ini tetapi Dia ingin menempatkan Sayyidina `Isa (a) di bawah tekanan. “Kau, bela dirimu sendiri!” Sayyidina `Isa (a) berkata, “Jika aku mengatakannya, Engkau Maha Mengetahuinya karena Engkau mengetahui apa yang ada di dalam diriku, tetapi aku tidak tahu apa yang ada di dalam Diri-Mu.” Kemudian Allah memberikan ayat lain lagi untuk menjatuhkannya lebih dalam lagi. Ketika Allah (swt) berfirman, “Bagaimana orang-orang mengikuti dan mengatakan bahwa Sayyidina ‘Isa adalah tuhan dan ibunya juga tuhan, padahal mereka memakan makanan (artinya mereka akan menggunakan toilet).” Lihatlah bagaimana Allah menekannya lebih dalam. “Engkau tidak mengklaim!” Sayyidina ‘Isa tidak pernah mengklaim hal itu, tetapi Allah mengajarkan kepada kita, “Aku tidak peduli, nabi atau bukan nabi, mereka semua adalah hamba-Ku.” “Engkau masuk ke toilet, bagaimana mungkin engkau mengklaim sebagai tuhan, jika engkau masih masuk ke toilet. Bagaimana orang menerimamu sebagai tuhan jika engkau masih menggunakan toilet?” Haasya, Haasya lillah. Semoga Allah mengampuni kita.

Jadi, Allah ingin agar awliya-Nya melakukan sesuatu, jadi Dia mengaturnya sedemikian rupa sehingga mereka terdorong dan tidak bisa menghindarinya. Lalu…“Oh, engkau melakukan kesalahan. Hati-hati, jangan ulangi lagi nanti.” Tubna wa raja`na, Yaa Rabbii, astaghfirullah. Allah menghapusnya. Ok, lupakan hal itu.

Jadi kita memerlukan seorang mursyid semacam itu, bukannya orang yang mengaku sebagai mursyid. Banyak orang yang mengaku begitu. Firaun mengaku, “Aku adalah Allah!” Jadi, apakah kita menerima begitu saja pengakuan itu? Jika seseorang mengaku bahwa ia adalah seorang syekh, berikan buktinya. Bukti bahwa engkau adalah syekh. Bahwa engkau adalah seorang pemandu yang memenuhi syarat.

Kami telah menerangkan empat level mursyid yang diklasifikasikan oleh Grandsyekh dan menerangkannya secara mendetail. Kami telah menerbitkan sebuah buku mengenai hal itu, Who are the Guides? (Siapakah Mursyid itu?) (tersedia di http://www.isn1.net/Who-are-the-Guides-p/bk-

whoaretheguides.htm)

Ada empat level syekh. Syekh ul-tazkiyyah, syekh ul-tasfiyyah, syekh ul-jazbah, syekh ul-irsyad, empat macam syekh yang berbeda. Mursyid seperti itu membawa seluruh alam semesta di pundak mereka dan mereka berkata, “Wahai Tuhan kami! Berikanlah kami lebih banyak, kami akan membawanya.” Membawa dosa-dosa manusia, dan mereka berkata, “Berikan kami lebih banyak, dan kami akan membawanya.” Mereka tidak seperti para penipu yang mengaku sebagai syekh. Semoga Allah (swt) mengampuni kita, insya Allah setelah Subuh kita lanjutkan.

Wa min Allah at-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah. taqqabalallaah

https://docs.google.com/document/pub?id=1_ll86qwoo0EBsBdUCd-dSwpem9inyi0cx5N4ztncUBo

09 August 2011

Kekuatan Surgawi dari Membaca “RabbunAllah”

Seri Ramadan 2011, Volume 2

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

31 Juli 2011 Fenton Zawiya, Michigan

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.

Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,

nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Insyaa-Allah kita akan melanjutkan dan memperdalam apa yang kita miliki di sini, sehubungan dengan ajaran Naqsybandi dan keberkahan yang telah Allah (swt) kirimkan kepada hamba-hamba-Nya. Pertama-tama, marilah kita letakkan fondasi: ma ahad ahsan min ahad, “Tidak ada orang yang lebih baik dari orang lainnya.” Allah (swt) melihat setiap orang dengan Cara-Nya sendiri dan kita tidak tahu: kalian mungkin yang menjadi syekh, kalian mungkin yang menjadi murid, dan kalian mungkin bukan apa-apa. Allah Maha Mengetahui. Berapa banyak murid yang lebih pintar daripada syekhnya, dan Allah memberi mereka kekuatan untuk mencapai kalbu manusia?

Alhamdulillah, Allah membimbing kita dan mengarahkan kita untuk berada di gerbang Sayyidina Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q), yang berada di gerbang gurunya, Grandsyekh `AbdAllah al-Fa'iz ad-Daghestani (q). Kami beruntung mempunyai kesempatan bersama dengan Grandsyekh dan menyaksikan hubungan antara Grandsyekh dan Mawlana Syekh, alhamdulillah, sejak 1958 sampai Grandsyekh meninggalkan dunia ini pada tahun 1973. Selama lima belas tahun kami menemani kedua syekh dan menyaksikan begitu banyak pengalaman yang berbeda dari mereka berdua. Meskipun yang satu mengikuti yang lainnya, dan beginilah jalannya sejak zaman Nabi (s) hingga zaman Imam Mahdi (as), kami melihat bagaimana mereka menunjukkan kecintaan kepada Allah (swt), dan kecintaan pada Nabi (s), dan kecintaan terhadap awliyaullah dan kecintaan pada murid-murid yang bersama mereka.

Mereka seperti roket dalam pengajaran mereka. Mereka tidak pernah kelelahan dalam menemui murid-muridnya, dan berdoa bagi mereka yang memintanya. Mereka selalu berada di Jalan yang Lurus, Shiraath al-Mustaqiim, dengan cara sedemikian rupa, di mana menurut pengetahuan dan segala yang kami lihat pada diri mereka, setiap hari ada sesuatu yang baru yang diberikan sehingga kadang kita tidak mampu mencatatnya. Mereka berdua adalah contoh guru-murid terbaik (sangat dekat dan penuh cinta), contoh seperti itu yang membuat kita selalu berusaha untuk berada di dekatnya.

Saya tidak bisa berkata apa-apa, kecuali mengucapkan syukran lillah dan alhamdulillah. “Alhamdulillah” mempunyai suatu makna dan “syukran lillah” mempunyai makna sendiri dan kedua makna tersebut mempunyai perbedaan yang besar. “Alhamdulillah” salah satu maknanya adalah mengagungkan Allah, sementara “syukran lillah” adalah berterima kasih kepada Allah. Kalian harus mengucapkan “alhamdulillah” karena itu adalah kata pertama dalam Surat al-Fatiha. Di sana Allah memuji Diri-Nya sendiri oleh Diri-Nya sendiri. Tetapi syukran lillah adalah dari `abd kepada Tuhannya. Allah tidak mengatakan “syukran lillah,” Dia mengucapkan “alhamdulillah.” Allah tidak mengatakan, "Syukran untuk-Ku," tetapi kita mengucapkan syukran. Tuhan kita berfirman:

لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ


Wa la in syakartum la-aziidanakum

Jika kamu bersyukur kepada-Ku, Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. (14:7)

Jadi syukr, berterima kasih, adalah sebuah perintah bagi hamba untuk diucapkan setiap saat di dalam hidupnya, di mana Allah telah memberinya minuman di dunia ini dan minum di mana setiap orang akan merasa haus di akhirat. Jadi setiap saat, kalian harus mengucapkan “syukran lillah,” dan kalian harus mengucapkan “alhamdulillah,” yang merupakan pengagungan kepada Allah (swt).

Saya tidak pernah melihat Mawlana Syekh atau Grandsyekh mengeluh. Mereka berdua menjalani kehidupan yang sangat sederhana, dan itu menjadi tema bagi Seri Ramadan tahun ini..

Kalian memerlukan seorang mursyid. Tidak semua orang dapat mengatakan, “Aku adalah seorang mursyid;” karena memberikan irsyad (bimbingan) adalah satu hal, sementara itu mengajar dan memimpin zikir adalah hal lain lagi. Bimbingan akan menempatkan kalian pada Shiraath al-Mustaqiim. Awliyaullah akan membawa pengikut mereka jika mereka mempunyai kekurangan, tetapi Shiraath al-Mustaqiim tidaklah murah, melainkan mahal. Jalan yang dijalani oleh para syuyukh adalah seperti kehidupan di Zaman Batu, sangat primitif dan sederhana, bagi kita itu seperti kandang ayam, tetapi bagi mereka itu bagaikan istana! Mereka tidak melihat dengan mata di kepala saja, tetapi mereka melihat dengan mata hatinya dan melihat kandang ayam itu sebagai sebuah taman surga.

Untuk membangun fondasi dari seri ini, saya akan menggambarkan rumah Grandsyekh. Rumah itu terdiri dari dua ruangan dan satu dapur. Kamar tidur dan ruang keluarga berukuran 15 x 12 kaki. Antara kedua ruang tersebut terdapat lorong kecil kemudian pintu menuju dapur. Rumah itu dibuat dari lumpur dan letaknya di Gunung Qasiyoun. Pada saat itu belum ada rumah lain di gunung itu, kecuali rumah beliau. Gunung itu sangat curam sehingga tidak ada mobil yang dapat membawa kalian ke sana, kalian harus mendaki. Ketika kami datang dari Lebanon untuk berkunjung, saat kami tiba di Damaskus, mobilnya tidak dapat mendaki di daerah yang dikenal dengan sebutan “Tal`at al-Muhajiriin, atau Bukit Kaum Muhajirin (orang-orang yang hijrah).” Daerah pegunungan itu ramai di bagian bawah, tetapi sangat sederhana di bagian atasnya. Kami berjalan dari tempat berhentinya taksi dan melanjutkan perjalanan dengan mendaki gunung, memerlukan waktu 60-90 menit, tergantung di mana taksi menurunkan kita.

Beliau menerima tamu di ruang keluarganya. Pada waktu `Ashar, (suhu) di dalam sangat panas, barangkali mencapai 50 derajat Celcius (120 derajat Fahrenheit), tanpa AC, hanya kipas angin. Kami keluar bersama Grandsyekh, semoga Allah memberkatinya dan Mawlana Syekh, dan duduk di sats al-manzil, atap rumah, di mana Grandsyekh memberikan irsyadnya. Tempat itu begitu rupa sehingga anak kecil mungkin bisa jatuh dari sana karena tidak ada pagar di pinggir atap tersebut. Kami dan juga tamu-tamu yang lain duduk di sana dan Mawlana minum teh setelah Salat `Ashar, dan beliau memberikan shuhbah sampai Maghrib, selama dua jam. Seluruh Damaskus berada di bawah dan kalian dapat melihat semua jalan menuju Masjid al-Amawi; dari atas pegunungan kalian dapat melihat seluruh kota.

Di dalam rumah, dapurnya tidak mempunyai kulkas. Secara tradisioanal, ada sebuah lemari untuk meletakkan daging kering jika mereka memilikinya, dan makanan pokok mereka adalah sayuran, minyak zaitun, keju, roti dan yoghurt. Itulah cara mereka menjalani hidupnya. Di luar rumah terdapat daerah wudu yang berdiri sendiri, dan saya yakin tidak ada di antara kalian yang akan pergi ke sana (karena kondisi pedesaannya). Jadi mereka menjalani hidup yang sangat sederhana, bangun satu atau dua jam sebelum Subuh untuk salat Tahajud. Grandsyekh melakukan wiridnya di tempat tidurnya.

Di musim dingin, mereka memanaskan tempatnya dengan tungku berbahan bakar kayu yang berbentuk seperti tong dengan satu pintu dan pipa yang bengkok, sebagian pipa itu mengeluarkan asap keluar dari jendela. Kami datang untuk melaksanakan salat Tahajud bersama beliau dini hari sekali, dan di sana dingin sekali; kalian bisa menggigil sampai ke tulang! Kami tiba 1.5 jam sebelum Subuh tetapi tidak bisa melihat orang lainnya karena rumah dipenuhi asap dari tungku penghangat itu! Grandsyekh (q) duduk membaca, "Allah, Allah, Allah, Allah;" beliau tidak berada di sana. Ketika beliau melakukan wiridnya, kalian tidak bisa mendekatinya karena tajalinya begitu dahsyat hingga bila seekor singa datang ke pintunya, ia pasti akan melarikan diri!

Tajali itu berasal dari Nama Ilahi, “al-Jabbar.” Grandsyekh begitu perkasa hingga beliau memindahkan gunung; dalam hadiratnya, kalian merasa seolah-olah ada tsunami yang membawa kalian! Kalian dapat mendengar—bukan hanya suaranya saja, tetapi begitu banyak suara yang tidak dapat kalian hitung, tak terhingga suara pembacaan zikir tersebut.

Grandsyekh, semoga Allah menganugerahinya level tertinggi bersama Nabi (s), beliau biasa berkata bahwa segera setelah beliau membuka suatu shubhah, atas perintah Nabi (s), semua jin dan awliyaullah di seluruh dunia harus hadir dan ikut mendengar apa yang beliau katakan. Seperti itulah syekh yang kalian miliki, Grandsyekh (q)! Beliau berkata bahwa Allah memberi mereka pendengaran surgawi sehingga mereka bisa mengarahkan diri mereka dari tempat mereka ke arah shuhbat tersebut. Pada saat itu kami belum mengerti bagaimana, tetapi kami mempercayainya. Sekarang Allah memperlihatkan kepada kalian kemampuan itu melalui teknologi. Dengan Twitter, jutaan orang dapat mendengar dari timur ke barat dengan instrumen duniawi. Ketika awliyaullah mengatakan itu, semua yang berada di bawah tajali itu membuka perangkat pendengaran mereka dan mendengarkan pelajaran tersebut. Sekarang setiap orang dapat mendengar, jadi mengapa kita menerima kemampuan itu melalui teknologi tetapi tidak melalui awliya?

Grandsyekh (q) meminta untuk menceritakan kepada kalian mengenai Imam al-Bukhari (q), yang mengumpulkan ahadits Nabi (s), Sahih al-Bukhari. Masjid beliau dan madrasahnya di Bukhara dapat menampung hingga lima-enam ribu orang dengan mudah, dan bila beliau sedang menyampaikan pelajarannya, paling tidak ada 25,000 orang yang menghadirinya. Sekarang tempat itu tidak dapat menampung sebanyak itu, tetapi Allah (swt) melonggarkannya. Jika Allah menghendaki, Dia dapat memperluas dunia ini dan melewatkannya pada sebuah lubang jarum; dapatkah jarum itu mengatakan tidak? Jadi ketika beliau sedang memberikan pelajarannya, setiap orang di sana dapat mendengarkannya seolah-olah mereka duduk di sampingnya. Itu bukan untuk setiap orang, itu adalah untuk orang yang disebutkan di dalam hadits:

ومازال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها وقدمه التي يمشي بها وإذا سألني لأعطينه وإذا استغفرني لأغفرن له وإذا استعاذني أعذته


Maa zaala `abdii yataqaraba ilayya bi 'n-nawaafil hatta uhibah. Fa idzaa ahbabtahu kuntu sama`ulladzii yasma`u bihi wa basarahulladzii yubshiru bihi, wa yadahulladzii yubthisyu bihaa wa lisanahulladzii yatakallama bih.

Hamba-Ku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunah sampai Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk melakukan sesuatu, dan lidahnya yang ia gunakan untuk berbicara. (Hadiits Qudsii)

Ketika kalian mempunyai pendengaran surgawi, kalian dapat mendengar maa bayn al-masyriq wa ’l-maghrib, segala sesuatu dari timur ke barat. Itulah yang terjadi ketika beliau membuka pelajarannya dari Isma`il al-Bukhari. Bagaimana menurut kalian mengenai kemampuan seorang wali? Beliau adalah seorang wali, tetapi di dalam kewalian, ada beberapa level kemampuan dan ilmu yang berbeda, jadi ketika wali itu berkata, “Ketika aku berbicara, orang-orang dari timur dan barat dapat mendengar,” jika sebuah video kamera dapat menyiarkan secara langsung ke mana-mana, bagaimana dengan seorang wali, dapatkah ia melakukannya?

Sepanjang masa kecil saya, melalui undangan ayah dan paman saya kepada para ulama dunia yang terkemuka yang datang ke rumah kami, saya belum pernah mendengar mereka berbicara bahkan satu kata pun yang melebihi keelokan kata-kata Grandsyekh dan Mawlana Syekh. Itu bagaikan membandingkan bumi dan langit, tidak ada bandingannya! Sebagaimana bumi akan berakhir sementara surga akan kekal, `Uluum al-Awliya, ilmunya para wali tidak pernah berakhir.

Ketika Grandsyekh menyuguhkan makanan, kami memakannya di lorong di samping dapur. Kami bersepuluh di sekitar Grandsyekh. Bahkan walaupun hanya ada seorang anak kecil yang datang, beliau memberikan pelajaran selama tiga jam. Beliau sering berkata, “Aku bukannya membuka ini untuknya, tetapi ia adalah sebab bagi dibukanya shuhbat ini. Aku berbicara kepada semua awliyaullah dan semua jin dan malaikat, mereka mendengar karena mereka juga memerlukan shuhbat tersebut.” Saya tidak bisa mengulangi shuhbat beliau; semuanya berat. Kadang-kadang kami memberikan (shuhbat) dari (shuhbat) tersebut; kadang-kadang mereka membukakannya, terutama dalam bahasa Arab ketika kami berkunjung ke Indonesia. Bahasa Inggris tidak dapat menyampaikan makna yang sesungguhnya. Tidak pernah ada shuhbat-nya Grandsyekh yang serupa dengan yang sebelumnya, sementara shuhbat kami pada dasarnya semuanya serupa.

Di Madinat al-Munawwarah, ketika beliau sedang menjalankan khalwat, walaupun beliau selalu dalam keadaan khalwat, suatu ketika beliau mengizinkan Mawlana Syekh Nazim tinggal di ruangan yang sama. Mawlana Syekh berkata, “Sejak Maghrib hingga Subuh, Grandsyekh tidak pernah tidur,” dan makanan beliau selama 24 jam berupa satu mangkuk kecil sup lentil beliau berikan kepada Mawlana Syekh; Grandsyekh hanya minum teh. Beliau berkata, “Ketika Grandsyekh sedang bermunajat, beliau berdoa sambil berdiri tanpa henti selama empat hingga enam jam, atau bahkan sepuluh hingga dua belas jam, dan tidak ada satu doa pun yang serupa satu sama lainnya! Apapun yang beliau doakan, beliau tidak pernah mengulanginya.” Saya belum berbicara mengenai Mawlana Syekh Nazim, saya masih berbicara tentang Grandsyekh.

Mereka menerima semua ini karena mereka adalah kunci bagi kode semua ilmu yang Allah (swt) akan bukakan bagi hamba-hamba-Nya! Kunci itu adalah satu kata. Itu adalah kunci bagi segala sesuatu, kunci menuju Shiraath al-Mustaqiim. Itulah yang Nabi (s) anjurkan untuk para Sahabat melakukan, dan para awliyaullah menganjurkan murid-muridnya untuk melakukannya, dan Islam dibangun di atasnya. Itu adalah tawaduk, “kerendahan hati.”

فمن تواضع لله فرفعه

faman tawadha` lillahi rafa`ahu

Barang siapa yang tawaduk demi Allah, Allah akan mengangkat derajatnya.

Nabi (s) merendahkan dirinya dan Allah mengangkatnya di dalam ‘Israa dan Mi`raaj, jadi Islam dibangun atas kerendahan hati. Jangan berpikir mengenai rasisme, karena di dalam Islam tidak ada rasisme. Apakah kalian berkulit putih, kuning, hitam, hijau, merah, ketika kalian menjadi Muslim, kalian harus melupakan segala sesuatu yang membangun kalian, selesai! Kalian hanya menunjukkan kerendahan hati. Jangan katakan, “Dia berkulit putih dan mereka memasukkan kami ke dalam perbudakan,” karena itu sudah tidak ada lagi: kalian sudah menjadi Muslim.

لافرق بين عربي ولا اعجمي الا بالتقوى

laa farqa bayna `arabiyy wa laa `ajamiyy illa bi’t-taqwa.

Tidak ada perbedaan antara satu ras dengan ras yang lain, kecuali ketakwaannya.

Ketulusan hanya untuk Allah. Jangan katakan, “Aku orang yang tulus dan ia tidak.” Mungkin saja seseorang yang tidak menutupi dirinya dengan tampil tidak tulus tetapi sebenarnya ia adalah yang paling tulus kepada Allah (swt). Mereka ingin menempatkan kalian berada di dalam ujian (jadi, jangan menilai orang lain).

Awliyaullah dengan kaliber seperti itu hidup dengan sangat sederhana dan Allah mengangkat derajatnya. Siapapun yang menunjukkan ketawadukannya terhadap Allah, Allah mengangkat derajatnya. Dengan apa Allah memberi pahala kepada mereka? Dia mengangkat mereka di dalam Mi`raaj. Allah memberi Mi`raaj terbaik dan tertinggi kepada Nabi (s), dan para awliyaullah mewarisi sedikit dari rahasia yang diterima oleh Nabi (s) di dalam Mi`raaj beliau. Apakah kalian ingin berada di dalam Mi`raaj? Asosiasi ini adalah sebuah Mi`raaj!

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

inna alladziina qaluu rabbuna Allah tsumma ’staqaamauu, tatanazaluu `alayhimu ’l-malaa’ikati alaa takhaafuu wa laa tahzanuu wa’bsyiruu bi’l-jannatillatii kuntum tuwa`duun.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (41:30)

Mereka yang mengatakan, “Allah adalah Tuhan kami, sang Pencipta,” akan mendapat kesetaraan! Apakah kalian mengucapkan, “rabbunAllah?” Kita datang ke sini untuk mengucapkan, “Yaa Rabbii! Engkau adalah Tuhan kami!” Jadi kata itu saja, rabbunAllah, dibaca untuk merendahkan diri kalian sehingga Allah akan mengangkat kalian. Jadi kita katakan, “Wahai Tuhan kami! Kami adalah hamba-Mu dan budak-Mu!” Ketika mereka mengatakan “rabbunAllah,” mereka meletakkan langkah pertama pada Shiraath al-Mustaqiim, kemudian mereka melangkah seterusnya. Apa yang Allah berikan kepada mereka? Dia tidak mengatakan, “Aku memberi mereka satu hasanaat,” seperti ketika kalian melakukan sesuatu yang baik, Allah memberi kalian sepuluh hasanaat: itulah balasannya dan Allah Maha Mengetahui pahala apa yang Dia berikan.

Tetapi ketika kalian mengatakan, “Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah budak-Mu!” dan kalian meletakkan kaki kalian pada arah Shiraath al-Mustaqiim, apa yang Allah katakan, apa yang akan Dia lakukan? Dia berkata, “al-malaa’ikat;” Dia tidak mengatakan sepuluh malaikat, Dia mengatakan al-malaa’ikat, “tak terhingga malaikat.” Itu bisa jutaan, seratus juta, triliunan, Allah Maha Mengetahui. Ketika sejumlah malaikat yang tak terhingga itu turun pada kalian, apa yang akan mereka lakukan? Mereka turun dengan pahala surgawi dan mengatakan kepada kalian:

أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

alaa takhaafuu wa laa tahzanuu wa’bsyiruu bi’l-jannatillatii kuntum tuwa`duun.

"Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (41:30)

Itu untuk mengucapkan “rabbunAllah” sekali. Jika kalian mengucapkannya seratus kali atau berapa pun yang kalian sukai, tidak ada batasan berapa kali malaikat akan turun pada kalian. Jadi ketika awliyaullah mengucapkan, “rabbunallah,” itu tidak seperti yang kita ucapkan; surga akan terbuka bagi mereka dan mereka membusanai pengikutnya dengan itu.

Shuhbat ini berada di bawah tajali dari ayat itu pada hari ini. Kita akan melanjutkannya besok, insyaa-Allah.

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

(Baya`)

Shuhbah itu cukup untuk menghilangkan segala kesulitan dan berbagai masalah yang dimiliki orang-orang, jadi kalian tidak perlu menyebutkan apa yang menjadi masalah kalian. Dengan berkah dari Mawlana Syekh Nazim dan Grandsyekh (q) seolah-olah kalian baru dilahirkan. Jadi segala pertanyaan kalian akan terjawab melalui kalbu kalian, dan Nabi (s) menyaksikan setiap orang dari umatnya. Setiap saat beliau melihat dan mendengar dan beliau meminta ampunan kepada Allah atas nama kita semua, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا


wa law annahum idz zhalamuu anfusahum jaa'uuka w 'astaghfarullah w 'astaghfara lahumu 'r-rasuula la-wajad-Allah tawaaban rahiima.

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (4:64)

Jadi kita dihadirkan kepada Nabi (s) melalui syuyukh kita dan Nabi (s) memberi syafaat bagi setiap orang untuk menghilangkan segala kesulitan dan masalah mereka, insyaa-Allah. bi hurmati 'l-Fatihah.