Showing posts with label Mercy Oceans of The Heart. Show all posts
Showing posts with label Mercy Oceans of The Heart. Show all posts

05 November 2008

Selamat Ulang Tahun!

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Orang-orang merayakan ulang tahunnya sendiri, tetapi apa yang harus dirayakan?  Satu tahun telah mereka lalui dengan cepat seperti air yang mengalir di bawah jembatan, dan tidak ada bendungan yang dapat membendung alirannya.  Tidak, mereka hanya merayakan hilangnya kekayaan yang mulai berkurang.  Setiap uban yang tampak di cermin laksana belati yang menusuk jantung mereka.  Tetapi setiap hari saya mengamati apakah masih ada rambut hitam yang tertinggal di janggut saya.  Saya menanti sampai semuanya berubah menjadi putih.  Mengapa?  Sebab itu adalah tanda bahwa saya telah mendekati kehidupan yang abadi, dan saya telah mempersiapkan diri untuk berpindah dari dunia ini ke alam selanjutnya.

Depresi dan Tidur

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Seseorang yang mentalnya sehat bisa merasakan bahwa “tidur itu terletak di bawah bantal”, maksudnya ketika waktu tidur telah tiba ia akan tidur dengan cepat dan mudah.  Tetapi orang yang mengalami depresi sering kali juga menderita insomnia.  Orang-orang tersebut harus menyibukkan dirinya dengan melakukan latihan-latihan yang cukup berat sehingga akhirnya tubuhnya merasa letih dan mereka dapat tertidur tanpa dipengaruhi keadaan mentalnya lagi.

Bagi orang yang mengalami depresi, tidur bagaikan burung yang hinggap sebentar di sebatang pohon lalu dengan cepat terbang kembali.  Sehingga, kapan pun mereka merasa ngantuk atau secara fisik mengalami keletihan mereka harus segera pergi kembali, tidak peduli apapun yang mereka lakukan.  Mereka akan tidur atau beristirahat sejenak di mana pun mereka menemukan tempat yang tenang.

Namun demikian ada suatu waktu dalam sehari yang tidak ada seorang pun yang dianjurkan untuk tidur, tidak peduli dalam keadaan apapun termasuk sakit yang parah, dan ini juga sangat ditekankan bagi penderita depresi: waktu antara Ashar dan Maghrib, yaitu dari 2 jam sebelum matahari terbenam sampai matahari terbenam.  Jika seseorang tertidur ketika senja dan terbangun menjelang malam atau ketika sudah gelap, dia akan merasakan dirinya mengalami depresi.  Jika penderita depresi tidur pada waktu ini, sama artinya dengan membiarkan dirinya agar menderita gangguan yang lebih parah, bahkan mendekati gila.  Rasulullah saw bersabda,”Siapapun yang tidur setelah Ashar hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri terhadap bencana apapun yang menimpanya.”

Waktu tersebut adalah seburuk-buruknya waktu untuk tidur.  Jika rasa kantuk menguasai kalian pada saat itu, kalian harus berusaha menghindarinya, misalnya dengan mencuci muka, minum teh atau kopi, mengerjakan sesuatu di kebun atau di dapur, berjalan-jalan atau merawat anak-anak.

Tidak ada seorang pun yang dianjurkan untuk menggunakan obat tidur agar bisa tidur, tidak hanya mengakibatkan kebiasaan tetapi juga dapat menyebabkan rusaknya seluruh sistem saraf.  Sebenarnya lebih baik tidak tidur daripada mengkonsumsi obat-obatan tersebut.  Orang boleh menggunakan penenang alami seperti yoghurt, anis herbal dan sebagainya.

Tidur dengan posisi tengkurap juga dapat menyebabkan depresi.  Setan tidur dengan posisi seperti itu; selain itu tidak ada rasul dan wali yang tidur seperti itu.  Untuk orang dewasa, tidur lebih dari 8 jam juga menyebabkan depresi.  Sekarang banyak sekali orang yang mempunyai kebiasaan tidur lebih dari 9 jam.  Waktu yang berlebih itu tidak baik, karena dapat mengakibatkan kelesuan dan melemahnya ingatan.  Khusus bagi orang yang mengikuti Jalan Sufi harus hati-hati agar tidak tidur berlebihan.

Wa min Allah at tawfiq

Kebaikan dan Keburukan adalah Ujian dari Allah SWT

Tanya Jawab bersama  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Tanya: 

Apakah Allah SWT berada di antara orang-orang jahat atau hanya di antara orang-orang baik saja?

Syekh  Nazim QS:

Dalam pandangan Allah SWT, semua adalah ciptaan-Nya.  Dia menciptakan kebaikan dan kejahatan untuk memberi ujian pada hamba-hamba-Nya.

Melalui orang-orang baik nampak atribut Ilahiah-Nya yaitu Pengasih dan Penyayang;  dan melalui pelaku kejahatan dan kaum penindas terlihat refleksi dari Kekuatan dan Pembalasan.  Kedua sisi itu termasuk dalam manifestasi-Nya.  Allah SWT mempunyai nama-nama Ilahiah yang tak terhitung jumlahnya, dan setiap nama merupakan cermin yang terefleksikan dalam ciptaan-ciptaan-Nya.

 

Tanya: Jadi tidak ada yang namanya sisi buruk, jahat atau setani?

Syekh  Nazim QS:   

Dalam pandangan Allah SWT bisa jadi demikian.  Namun harus kalian ketahui bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk mengejar kebaikan dan bukan keburukan.  Dia menguji ketaatan dan kemampuan kita untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk agar kita semakin kuat dan jangan sampai menurunkan tingkatan  kita atau meragukan-Nya.

Tingkat kita di dunia ini adalah untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk.  Namun Sang Pencipta tidak pernah berada pada tingkatan tersebut, Dia Maha Agung dan di atas segala pembatasan itu.  Artinya bahwa manusia akan selalu berada dalam kategori itu, siapa pun kita dan apa pun yang telah kita capai, pengalaman membuat kita bisa merasakan perbedaan antara yang baik dan yang buruk.

 Dialah sang Pencipta.  Adalah hak-Nya untuk memberi ujian bagi hamba-hamba-Nya.  Dia bebas dan tidak berada di bawah perintah siapa pun dan Dia melaksanakan apa yang Dia kehendaki sesuai Kearifan yang dimiliki-Nya.  Tak ada apa pun yang dapat memerintah Dia, justru Dialah yang memerintah semuanya – dan Dia memerintahkan kita untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.

 

Tanya: 

banyak orang menanyakan, “Mengapa Allah SWT menciptakan keburukan jika Dia begitu baik 

Syekh  Nazim QS: 

Mereka lebih baik tidak menanyakan hal yang demikian!  Betapa beraninya mereka mengutarakan hal semacam itu pada Tuhan-Nya.  Hidup ini penuh dengan berbagai macam kebaikan dan keburukan, di setiap sudut ada kesempatan untuk menguji kesetiaan kita pada kebaikan atau jatuh pada godaan dari nafsu setan.  Setiap hari cobaan-cobaan itu harus kita hadapi.

Allah SWT berfirman, “Aku akan memberi ujian pada hamba-hamba-Ku.”  Titik!  Kalian tidak boleh mengatakan, “Mengapa?”  Sebagaimana Allah SWT telah jelas mengatakan: untuk menguji hamba-hamba-Nya.

Jika kalian tidak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan maka kalian berada pada level hewan, dan tidak ada tanggung jawab bagi apa yang kalian lakukan.  Tetapi, jika kalian mengklaim diri sebagai seorang yang cerdas, terpelajar, beradab, cepat tanggap, maka kalian harus sadar bahwa kalian punya tanggung jawab dan harus bisa menjawab pertanyaan,” Mengapa kamu melakukan kejahatan?”

 

Tanya:

Jika Allah SWT telah mentakdirkan sebelumnya akan segala hal... Bagaimana kita harus bertanggung jawab akan apa yang kita lakukan? 

Syekh  Nazim QS:

Bertahun-tahun yang lalu ketika saya berjalan bersama Grandsyekh di Damaskus, sebuah bola sepak mengenai kepala dan menjatuhkan turban saya.

Saya amat marah dan berteriak pada kelompok anak-anak yang sedang bermain bola di lapangan, “Dasar anak-anak nakal, kalian tidak tahu aturan!“ 

Kata Grandsyekh, “Oh Nazim Effendi QS, kau baru saja kehilangan Imanmu.  Bagaimana bisa engkau mengklaim segala sesuatu berasal dari Allah SWT, padahal baru saja engkau menyalahkan seseorang hanya karena sesuatu mengenai kepalamu?”

Tahukah engkau bahwa Allah SWT-lah Penyebab Utama dari kejadian itu, mengapa engkau dibutakan oleh penyebab kedua?  Ketika bola itu mengenai kepalamu mengapa engkau mencari siapa yang melemparnya agar bisa menyerangnya?  Tidakkah engkau sadar bahwa itu berasal dari Allah SWT?

Kemudian saya mulai kembali mengucapkan pengakuan iman untuk memperbarui keimanan saya.  Tingkatan keimanan Grandsyekh kita mengacu pada tingkat keimanan para nabi dan orang-orang suci.  Kita berusaha mencapai tingkat itu, dan ketika manusia mencapai  hal itu, kedamaian akan berkuasa di bumi ini.  Penyebab segala masalah di muka bumi ini, baik semua peperangan dan penderitaan adalah karena manusia kehilangan keyakinan akan takdir Tuhan di balik semua peristiwa itu.  Kehilangan keyakinan bahwa Tuhan-lah yang sedang memberi ujian melalui segala macam peristiwa itu, menjadikan mereka gagal dalam menjalaninya. 

Wa min Allah at tawfiq

09 June 2008

Membedakan Inspirasi dari Khayalan

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Pertanyaan: “Bagaimana kita membedakan apa yang datang ke dalam hati melalui inspirasi dari Allah SWT, Rasulullah SAW atau Syekh kita, dan apa yang menyerang hati dari ‘bisikan setan’?

Syekh: Grandsyekh mengajarkan kepada kita suatu metode yang dapat digunakan secara langsung sejak awal kita terjun ke dalam tarekat untuk membedakan inspirasi yang berasal dari pikiran sesat dan bisikan setan. Metode itu adalah dengan menunggu dan melihat apakah inspirasi tersebut muncul kembali atau tidak. Jika hal itu datang ke dalam hati kalian secara berulang-ulang, boleh jadi itu merupakan inspirasi yang benar. Grandsyekh membandingkannya dengan rasa sakit pada saat melahirkan anak. Jika kontraksi ibu hamil dirasakan terjadi berulang-ulang dan intervalnya semakin menurun, maka itu merupakan suatu tanda bahwa kelahiran akan segera terjadi. Inspirasi yang benar terjadi dengan cara yang sama. Sekali ia datang kepada seorang murid, berikutnya akan datang secara berulang-ulang, tetapi jika itu adalah suatu pikiran yang sesat, maka ia tidak akan bertahan lama, dan jika itu adalah bisikan setan, walaupun berlangsung lama, lama-kelamaan akan menjadi jelas bahwa hal itu tidak baik dan akan timbul perasaan tidak enak dalam hatinya. Dalam hal ini seorang pemula pun dapat membedakan inspirasi yang benar yang dikirimkan kepada mereka oleh Rasulullah SAW melalui Syekh mereka dengan segala macam pikiran lainnya.

Sejauh menyangkut penglihatan spiritual, hal itu tidak perlu dan juga tidak patut diidamkan oleh seorang pemula dalam Tarekat Naqsybandi. Dalam jalan kita, penglihatan spiritual hanya diberikan ketika telah sampai di tujuan, sementara di tarekat lain boleh jadi itu memegang peranan utama sejak awal. Adanya perbedaan dalam metode ini adalah karena kita sangat berhati-hati dalam menjaga para pengikut agar tidak jatuh ke dalam jebakan yang berbahaya. Jika seorang murid dapat dengan mudah melihat suatu pandangan spiritual, ia mungkin akan merasa puas dengan pengalaman itu sehingga lupa untuk mencari peningkatan. Kebanggaan dan perasaan palsu tentang apa yang telah dicapainya itu juga akan merusaknya. Ia bisa mengatakan, “Ini hebat! Aku tidak pernah melihat yang seperti ini di dunia.” Ia menjadi tertambat pada tempatnya itu. Ia bisa merasa puas dengan posisinya sekarang dan berpikir bahwa ia telah mencapai tujuannya. Hal itu juga mungkin bisa sangat menyesatkannya, padahal yang lebih sempurna masih belum datang.

Agar tidak keluar dari relnya, para guru Tarekat Naqsybandi membimbing para pengikutnya menuju kesempurnaan tanpa penglihatan spiritual semacam itu, jadi para pengikut dapat berkonsentrasi pada pemurnian dirinya hanya demi Allah SWT semata, tidak untuk hal-hal lain, termasuk mencari pandangan atau kekuatan spiritual tertentu.

Kita beribadah kepada Allah SWT hanya untuk–Nya, untuk mencapai Hadirat-Nya, dan sama sekali bukan untuk tujuan lainnya, dan sudah jelas bukan untuk mendapatkan akses ke penglihatan spiritual tertentu. Jika seorang darwis Naqsybandi berpikir bahwa ia melakukan sesuatu untuk mencari penglihatan supranatural, maka ia harus menganggap dirinya sudah tidak murni dalam konteks keagamaan dan ia harus segera mandi (penyucian secara menyeluruh untuk menghilangkan pengotor dalam konteks ritual, dinamakan juga, “ghusl”) untuk menghindarkan dirinya dari pengotor spiritual yang membuatnya tidak bisa mendekati Hadirat Ilahi. Pikiran seperti itu menunjukkan bahwa seorang murid telah menyerah dalam mendekati Hadirat Ilahi—tujuan utama dari Tarekat—dan lebih menyukai bermain dan menyenangkan dirinya sepanjang jalan.

Ya, para pemula dan mereka yang telah menjalani tareat dilindungi dari penglihatan spiritual. Penghalang hanya akan disingkap ketika murid telah mencapai posisi yang aman. Seperti halnya al-Qur’an yang diturunkan di Mekah sebagai tempat yang aman (pembunuhan dan perkelahian dilarang di daerah yang dianggap suci). Jadi ada maqam spiritual yang dinamakan maqam yang aman. Dan untuk menuju ke sana terdapat suatu perjalanan panjang yang sangat berat dari maqam kita sekarang ini; kenyataannya mereka yang bisa sampai di sana hanya sedikit.

Tetapi siapapun yang mencapai maqam tersebut akan mengalami penglihatan spiritual yang lain, dan semuanya bersifat khas bagi setiap murid. Jika kalian berdua sampai pada posisi itu, penglihatan kalian akan sama sekali berbeda, baik warna, wangi, dan perwujudannya tidak pernah sama. Tetapi untuk sekarang yang harus dilakukan adalah melanjutkan tugas dan bergerak dengan sabar menuju keridaan Allah SWT.


Wa min Allah at tawfiq

Nasihat dalam Membesarkan Anak

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Sebagian besar orang Barat yang saya temui tidak tahu cara membesarkan anaknya dengan benar. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk membiarkan anak-anaknya melakukan apa saja yang disukainya. Bagaimanapun juga ini adalah suatu gagasan yang keliru. Juga tidak tepat bila dikatakan ide ini meniru perilaku binatang buas sebab binatang juga mendidik anak-anaknya. Jika binatang saja dapat dilatih oleh induknya untuk bertingkah laku sesuai dengan sifatnya, lalu bagaimana dengan keturunan Adam AS yang paling mulia dan telah diberikan potensi yang begitu tinggi oleh Allah SWT.

Kalian harus merawat anak-anak kalian. Jika mereka melakukan sesuatu yang patut dipuji, berikanlah suatu penghargaan atau hadiah, sehingga mereka akan senang dengan perhatian itu dan di lain waktu mereka akan lebih sering melakukan perbuatan yang baik. Tetapi sebaliknya jika mereka melakukan tindakan yang tidak baik, kalian harus tegas memberinya peringatan, jangan sampai tindakan yang salah ini lewat begitu saja tanpa teguran sebagai tanda bahwa kalian tidak setuju. Kalian harus berkata, “Jangan lakukan hal itu! Atau, Tidak baik melakukan itu! Itu menyakiti orang lain.” Jika teguran semacam itu tidak berpengaruh juga, sekali-kali kalian boleh menjewer telinganya atau menampar mereka. Ya, yang menjadi pilar dari pendidikan adalah harapan akan mendapatkan suatu balasan atau penghargaan dan ketakukan terhadap teguran atau hukuman yang bakal diterima. Orang-orang Barat telah melumpuhkan kedua pilar tersebut dan membiarkan anak-anak mereka tumbuh secara liar, itulah kesalahan mereka.

Beberapa dari saudara kita biasa membawa anak-anaknya ketika mengunjungi Grandsyekh. Namun mereka tidak berusaha untuk menjaga agar anak-anaknya tetap diam dan tidak berlari-larian ke sana-ke mari yang dapat menimbulkan gangguan, mereka bahkan tidak mengawasi atau mengeluarkan mereka dari tempat pertemuan. Grandsyekh berkata, “Wahai anakku, tunggulah, anak-anak itu akan tumbuh dan berkembang untuk pipis di kepalamu.”

Pendidikan dengan gaya bebas telah menyebabkan suatu bencana yang besar dalam peradaban Barat. Begitu hebatnya sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan kedamaian masyarakat? Bagaimana kita dapat membendung terjadinya pelanggaran? Apa yang bisa kita lakukan dengan orang-orang liar ini?” dan orang-orang pun bertanya, “Apa yang dapat kita lakukan terhadap peraturan yang menentang kita?” Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah suatu pembuktian terhadap hadis Rasulullah SAW, sebagaimana beliau bersabda, “Akan tiba suatu masa di mana pemerintah akan mengutuk rakyatnya dan sebaliknya, rakyat mengutuk pemerintahnya.”

Bagaimana bisa orang dewasa dibawa ke dalam suatu sistem pengendalian kalau orang tua mereka tidak pernah menanamkan suatu bekal ketika mereka masih kanak-kanak? Ada suatu pepatah, “ Siapa yang tumbuh dengan suatu jalan akan berakhir dengan jalan yang sama pula.” Inilah alasan mengapa tanaman yang batangnya tidak lurus perlu diikat ketika masih muda dan lentur supaya nanti bentuknya bagus. Karena bila cabang-cabangnya mulai mengeras akan sulit mengikat dan membentuknya. Oleh sebab itu pendidikan harus dimulai sedini mungkin.

Salah satu hal yang penting dalam pendidikan yang berkualitas adalah mendidik anak-anak untuk bersabar dan tidak memberikan segala yang diinginkannya dengan segera. Kalian dapat berkata misalnya, “Kamu tidak akan mendapatkannya sekarang tetapi lima menit atau setengah jam lagi atau esok; atau jika kamu berprestasi di sekolah akan saya berikan. Atau kalian juga bisa bilang, “Saya tidak akan memberikannya kepadamu sampai kamu berhenti mengganggu saya, jadi lupakan saja keinginanmu itu; dan Mungkin saya akan memberikannya kepadamu.”

Grandsyekh pernah berkata bahwa yang menjadi penyebab utama terjadinya depresi di kalangan orang-orang kaya adalah karena ketika masih muda mereka sudah terbiasa untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan segera. Lalu setelah dewasa ketika menjumpai sesuatu yang sangat diinginkannya, namun tak berhasil, mereka akan merasakan frustrasi yang pahit dan tidak pernah belajar untuk mengatasi depresinya.

Kemudian kita harus mendidik anak-anak untuk menghormati dan menghargai orang tuanya, khususnya karena pertalian keluarga sudah sangat memburuk di masyarakat Barat. Kalian sebaiknya tidak membiarkan anak-anak memakan semua permen yang didapatnya sebelum mereka menawarkannya lebih dahulu kepada ibunya. Dengan begitu Insya Allah, ketika dewasa mereka akan berpikir untuk memberikan sebagian yang mereka peroleh untuk ibunya. Ajari juga anak-anak untuk mencium tangan dan pipi kalian ketika mereka bagun di pagi hari dan sebelum tidur. Hal ini akan menanamkan rasa kasih sayang dan hormat kepada orang tua di dalam diri mereka.


Wa min Allah at tawfiq


07 June 2008

Asosiasi atau Shuhba

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Suatu kali Grandsyekh mendatangi saya dan berkata, “Wahai Nazim Efendi, aku ingin berbicara tentang suatu hal yang amat serius, sesuatu yang harus kau dan para pencari lainnya perhatikan dengan seksama. Jangan menjadikan egomu sebagai tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa. Kau harus berhati-hati sekali, karena bentuk politheisme yang satu ini termasuk jenis yang mungkin kamu lakukan tanpa sepengetahuanmu. Penyembahan terhadap ego adalah suatu penyimpangan dari kemurnian iman yang paling berbahaya, bisa juga disebut syirik tersembunyi.”

Lihatlah, sebenarnya umat manusia adalah ciptaan yang paling lemah. Setiap binatang yang berjalan di atas tanah, berenang dalam air atau terbang di udara mempunyai mekanisme adaptasi yang lebih baik dibandingkan kita. Mereka bisa bergerak ke mana saja di alam ini, dengan memakan rumput, minum cairan berlumpur, tidur di tanah, mereka memiliki rambut yang tebal pada kulitnya untuk menjaga agar mereka tetap hangat, selain itu ada pula yang berdarah dingin. Mereka tidak akan terpengaruh dengan perubahan cuaca yang normal. Tetapi tidak demikian halnya dengan tubuh kita yang memerlukan perawatan khusus. Kita memerlukan bermacam-macam pakaian untuk setiap musim, kita juga harus menjaga kebersihan makanan dan minuman agar tetap sehat. Dengan kata lain, jika kita dikenakan kondisi yang sama seperti makhluk lainnya, bisa jadi kita akan mati dengan cepat. Jadi, dalam hal ini, manusia adalah yang paling lemah di antara semua binatang.

Tetapi perhatikan, walaupun kita paling lemah, makhluk yang paling membutuhkan perawatan khusus, bahkan sebagai seorang individu yang rapuh pun, kita tidak pernah suka untuk menerima seorang mitra dalam segala aktivitas, jika kita pikir kita dapat melakukannya sendiri. Hanya ketika kita memperkirakan bahwa tugas tersebut di luar kemampuan kita, barulah kita mencari bantuan. Sebagai contoh, jika seorang membangun sebuah usaha dan dengan mudah mampu menjalankan dan membiayainya sendiri, akankah ia mencari seorang mitra? Tidak, yang demikian tidak ada gunanya.

Jadi, jika kalian memahami bahwa makhluk yang paling lemah pun enggan untuk menerima seorang mitra ketika tidak dibutuhkan, bagaimana kalian bisa menganggap adanya satu atau beberapa mitra untuk Allah, Yang Maha Kuasa? Siapa yang bisa menjadi mitra untuk Tuhan seluruh alam semesta. Tuhan dari segalanya, Yang Kekuasaannya tidak terbatas dan Maha Pencipta? Bagaimana Dia dapat menerima seorang mitra, seorang anak laki-laki, istri, atau anak perempuan? Makhluk yang mana yang cocok sebagai mitra-Nya? Dapatkah seorang diangkat menjadi mitra? Haruskah Sang Pencipta menciptakan suatu makhluk dan menempatkannya bersama-Nya? Itu konyol! Kalian menerima mitra tentunya untuk mengisi kekurangan yang ada, baik dalam masalah keuangan atau tenaga kerja, kalau tidak, siapa yang mau menanggung beban seperti itu. Jadi siapa yang sanggup menolong Allah SWT?

Oleh sebab itu, seluruh nabi telah memberi peringatan keras tentang gagasan keagamaan yang salah tersebut, juga terhadap seluruh bentuk politheisme. Tetapi ada salah satu bentuk politheisme yang bersifat rahasia, tidak dengan mudah terdeteksi. Dan kenyataannya banyak sekali orang yang melakukan penyembahan terhadap tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa tanpa menyadarinya. Bahkan orang yang mengaku dirinya hanya menyembah Allah SWT biasanya juga melakukan penyembahan terhadap sesuatu yang rahasia dalam dirinya. Dan siapa yang menganggap sebagai mitra Allah Yang Maha Kuasa—siapa lagi kalau bukan ego kita.

Ego mendekati kita dan berkata, “Akulah mitra itu. Suka atau tidak, akulah yang kau sembah selain Allah SWT, jika kau bersikeras untuk beribadah kepada Allah SWT dan menganggap Dia adalah Tuhanmu, dan aku tidak bisa menasihatimu untuk meninggalkan tindakan bodoh itu, setidak-tidaknya kau harus mengenal aku sebagai Tuhan keduamu dan kau akan berusaha keras untuk membuatku senang. Jika kau berjuang keras untuk menjadi pelayan yang baik bagi Allah SWT, maka kau juga harus melakukan hal yang sama untuk menjadi pelayanku, jika kau mematuhi Allah SWT, maka sekali-kali kau juga harus patuh padaku. Ayo lakukanlah, jika kau harus melakukannya, lakukan syahadat, pernyataan keimananmu kepada Allah SWT, lakukan salat 5 kali sekali, berpuasa di bulan Ramadan, naik haji ke Mekah, membayar zakat, tetapi aku tidak akan mentoleransi semua itu jika kau tidak mendedikasikan semua perbuatan itu untukku juga, Aku menuntut bagianku!”

Ketika ego kita menyatakan hal tersebut, kita menjawabnya, “Wahai egoku, kau berhak mendapatkan keinginanmu, aku juga menghormatimu dengan baik, dan aku harus berjuang keras untuk membuatmu senang, untuk menghormati dan mematuhimu. Dan jika suatu saat, aku tidak bisa melakukan perintahmu, maafkanlah aku, dan ketahuilah bahwa aku akan berbuat yang terbaik untuk menyenangkanmu.”

Sekarang kita sebagai muslim, sebagai pengikut dari agama monotheistik yang paling murni mungkin terlalu senang dan puas dengan status keimanan kita sendiri. Suatu saat mungkin kita melihat patung di museum atau di sisi jalan yang dibuat dari batu oleh nenek moyang kita, dibentuk dari tanah liat atau logam, dan bisa jadi kita tertawa geli membayangkan hal bodoh tentang praktik penyembahan buatan tangan sendiri yang dulu dilakukan, dengan berkata, “Betapa bodoh mereka—hahaha—membuat beberapa patung lalu disembah sebagai tanda kepatuhan, berikrar dengan tulus kepadanya, mencintai dan menghormatinya!” Dan pada kenyataannya kita tidaklah lebih baik dari mereka—menyembah tuhan-ego. Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat keras akan bahaya ini, khususnya karena sifatnya yang sangat tersembunyi, seperti sebuah ranjau di hutan yang ditutupi ranting-ranting dan rerumputan. Begitu banyak orang yang menyembah mitra ini tanpa pernah mencurigainya.

Grandsyekh juga memperingati kita dengan mengatakan bahwa tuhan ego ini tidak akan pernah puas hanya menjadi nomor dua. “Tidak!”, ia bilang, “Aku pertama, kedua, dan ketiga,…jangan menyembah selain Aku.” Tetapi ketika ia menyadari adanya hambatan, diam-diam ia melakukan perhitungan kembali dan berkata,”Baiklah, Dia pertama, Aku kedua.”, ia tahu bahwa inilah kesempatan untuk menempatkan diri dalam posisi dan kemudian menyabot iman kita, bahkan kalau mungkin mengkudetanya.

Oleh sebab itu kita harus menyingkirkan mitra itu dari singasananya, dan seluruh rasul dikirim kepada umat manusia untuk mengajari mereka bagaimana melakukan tugas itu. Kita membutuhkan latihan dari seorang yang mampu menghadapi kemauan egonya, yang bisa menjinakkan egonya sehingga tidak lagi menyita terlalu banyak perhatian atau menjadi terlalu baik padanya. Sebelum sampai di sana, kalian harus waspada bahwa kalian juga seorang penyembah berhala yang rahasia, sehingga hati kalian akan terkunci untuk mendapatkan rahmat dari Pengetahuan Allah SWT.

Dengan menjadi teman dari orang yang telah menyadari betapa bahayanya permainan yang dimainkan oleh ego, dan kemudian mampu menghindari dirinya dari dominasi ego, para pencari kebenaran mungkin telah sampai pada sasarannya. Oleh sebab itu rasul terakhir, Muhammad SAW, mengajari para sahabat dengan memasukkan mereka ke dalam sebuah asosiasi atau majelis dengannya. Oleh sebab itu, para nabi terdahulu, guru-guru Naqasybandi menekankan pentingnya “Shuhba”, berasosiasi dengan Syekh, sebagai pilar utama dalam melatih para pengikutnya. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa jika seorang menghadiri majelis tarekat seperti ini walau hanya 5 atau 10 menit, ia akan mendapatkan keuntungan spiritual yang banyak sekali yang nilainya sama dengan yang didapat dari melakukan ibadah sunnah selama 7 tahun.

Itulah besarnya kekuatan dari asosiasi para nabi terdahulu. Kekuatan itu bisa bertambah kuat dengan kebersamaan orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu dalam menyatukan hati dengan hati Syekh-nya. Kekuatan itu merasuk ke hati setiap orang sehingga dapat menarik bentuk penyembahan ego yang tersembunyi hingga ke akar-akarnya. Kalian boleh mengamati bahwa dengan setiap pertemuan ini kekuatan ego akan melemah.

Grandsyekh menerangkan bahwa tanpa asosiasi sangat sulit untuk menarik ego keluar dari permainannya, untuk mengenali tipuan-tipuannya dan melarikan diri dari genggamannya. Kita membutuhkan bimbingan yang dapat menunjukkan jalan bagi kita untuk melewati karang, khususnya karena jejak itu yang sangat diinginkan oleh ego, tampak dari adanya rambu-rambu seperti, “Lewat Sini” , atau “Jalan Pintas”, yang kamu pikir semuanya baik-baik saja. Ego mendatangi dan menasehatimu, “Jika kamu melakukan ini, mungkin ada hasilnya, jika itu, ini. Ini cocok, tetapi yang itu tidak.”, dan dengan ‘nasihat yang baik’ itu ego mencari kesempatan untuk melemahkan hatimu, untuk memalingkan diri dari Allah Yang Maha Kuasa.

Tetapi ketika kalian berasosiasi dengan Syekh, ego dan apa yang dilakukannya dengan cepat akan dikenali dan menjadi nyata. Penyamaran ego dapat dengan mudah diketahui, sehingga di depanmu ia seperti berdiri, telanjang, dan terekspos. Kalian akan terkejut dan tiba-tiba berkata, “Itu tidak lain adalah egoku! Ia benar-benar rapi dalam penyamarannya sehingga aku menjadikannya sebagai penasihat yang sangat penting dan mulia, tetapi kini aku dapat melihatnya sama saja seperti bajingan lainnya.”

Asosiasi dengan Syekh ini dapat membantu kalian mengerti dan menyadari kesalahan kalian, lalu jika kalian bisa mengatasinya dan meninggalakan karakter buruk itu, dan meningkatkan diri kalian barulah kalian dapat mengalami kemajuan pesat.

Hal lain yang harus dimengerti adalah di mana pun kalian mengadakan majelis karena Allah SWT, menyatukan hati dengan guru-guru Tarekat Naqsybandi, maka pertemuan itu akan sama saja tingkatannya dengan asosiasi yang baru saja digambarkan tadi. Jangan membuat kesalahan dengan berpikir bahwa satu-satunya pertemuan yang bermanfaat adalah pertemuan di mana Syekh hadir secara fisik. Ketika kita saling bertemu, salah satu dari kita mungkin merupakan penghubung bagi masuknya inspirasi dari Syekh: seseorang harus berbicara dan yang lainnya mendengarkan, seseorang harus menerima dari Syekh dan yang lain melalui dia dari Syekh. Tarekat Naqsybandi adalah Jalan Sufi yang sangat kuat dalam menjalankan kebiasaan-kebiasaan Rasulullah SAW, dan asosiasi seperti ini adalah salah satu kebiasaan beliau, dan juga jalan dari para sahabat, sebagaimana beliau selalu menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikannya ketika beliau berhalangan hadir.

Ya, seseorang harus berbicara dan yang lain mendengarkan. Dengan cara ini semua pertemuan dengan saudara-saudara kita akan diberkati. Jika lebih dari seorang yang berbicara, atau jika ada argumentasi dan saling mengklaim, maka tidak ada kekuatan spiritual dalam pertemuan itu dan hati kita akan tetap dingin. Oleh sebab itu, jika kita mengindikasikan bahwa salah satu saudara kita akan melakukan asosiasi dalam suatu pertemuan, maka yang lain harus mendengarnya. Ketika kalian mendengarnya, ia akan mampu menerima inspirasi dari Grandsyekh yang hatinya berhubungan dengan Rasulullah SAW, dan hati Rasulullah SAW selalu berhubungan dengan Allah SWT. Dengan cara ini Allah SWT akan membantu orang itu dan melimpahkan Berkah-Nya yang tidak terbatas, juga Rahmat, Pengetahuan, dan Samudra Kenikmatan-Nya, jadi melalui kata-katanya, orang yang hadir dalam pertemuan itu akan dibimbing menuju tujuannya masing-masing.

Ketika seseorang diminta untuk berbicara mewakili Syekh di manapun dan kapanpun, bisa jadi ada seratus, seribu, atau sejuta orang yang mendengarkannya dan setiap orang masing-masing dapat mengambil pelajaran apa yang ia butuhkan. Adalah mustahil jika seseorang berbicara atas nama Syekh tanpa ada yang memperoleh keuntungan dari pembicaraannya itu, sebaliknya setiap orang akan mengambil bagiannya.

Selama sekitar 40 tahun saya berasosiasi dengan Grandsyekh, dan saya terbiasa untuk menuliskan kata-katanya. Kalau dihitung-hitung semuanya lebih dari 7000 shuhba. Beliau sangat baik dengan sahabatnya dan dalam memberikan kebijaksanaanya, bahkan walaupun hanya satu orang yang hadir, beliau akan duduk dengannya dan mengajarinya. Beliau juga biasanya berbicara kepada orang banyak dengan cara yang mudah, tidak pernah kehilangan kata-kata ketika berbicara dengan seseorang atau sekelompok orang, baik anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, pemuda dan orang tua, warga kota yang berpendidikan atau penduduk desa, beliau dapat menyampaikan pesan kepada mereka menurut kapasitas pikirannya, berbicara kepada mereka sesuai dengan tingkatannya, meskipun pada kenyataanya beliau sendiri buta huruf. Hal ini adalah mungkin karena ilmunya tidak diturunkan dari buku-buku, melainkan dari hati, dan lewat hatinya mengalir segala yang kita butuhkan.


Wa min Allah at tawfiq

06 June 2008

Kepribadian Allah SWT

Wawancara Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Pertanyaan: “Bagaimanakah cara kita memahami Tuhan sebagai suatu “Pribadi” yang bisa berkomunikasi dengan kita seperti kalau seseorang berbicara dengan seorang lainnya, karena di sisi lain, Islam memandang bahwa Kemahaesaan Allah SWT itu di luar definisi atau gambaran, Dia adalah Segalanya, dan selalu lebih Besar dari ciptaan-Nya? Di dalam tradisi Yahudi-Kristen-Islam, ketika disebutkan bahwa Allah SWT itu Maha Besar dan Melebihi segalanya, tetaplah Dia sebagai suatu “Pribadi” di satu sisi, sementara di dalam agama-agama dari Timur, pemahaman tentang Yang Mutlak lebih abstrak, sebagai Cahaya Murni, sebuah konsep yang juga ada di dalam Islam, Dia juga diketahu sebagai “an-Nuur”, “Cahaya”. Bisakah Anda menolong kami untuk memahami semua ini secara lebih jelas?

Syekh Nazim QS: Eksistensi Tuhan kita, Allah SWT, adalah Mutlak, Nyata, Abadi, sementara eksistensi semua bentuk adalah relatif: mereka bisa saja mengikuti ataupun tidak terhadap Kekuasaan Tuhannya. Anda ingin tahu tentang Keabadian dan Eksistensi Allah SWT, tetapi pengetahuan itu di luar jangkauan Anda. Bagaimana bisa pemikiran, pengetahuan dan kepribadian kita yang terbatas ini, mencoba untuk melewati apa saja dari Sosok Yang Satu dan berada di luar batas pikiran kita? Anda bertanya begitu detil, dan mencoba untuk mencocokkannya dengan pikiran Anda; tetapi yang bisa Anda ketahui melalui pikiran Anda tentang Eksistensi-Nya adalah melalui Sifat Allah SWT, Sifat Allah Yang Maha Suci itu diketahui melalui Asmaul Husna (Nama Suci Allah SWT), dan Nama-Nama suci itu muncul di dunia ini dalam setiap bentuk ciptaan-Nya.

Hubungan kita dengan Allah SWT adalah hubungan antara Tuhan kepada hamba dan hamba kepada Tuhan. Tuhan tidak akan pernah menjadi seperti hamba dan hamba tidak mungkin menjadi Tuhan, dan ini perbedaan yang tidak akan pernah kabur atau hilang sedikitpun walau sedekat apapun seorang hamba terhadap Tuhannya.

Kita tahu bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa itu adalah “Cahaya”, tetapi jangan dikira, Anda bisa menjelaskan Dia seperti ‘cahaya’ (cahaya murni atau cahaya putih), sebagaimana “Cahaya, an-Nuur” merupakan salah satu dari Nama Allah SWT, yang mengindikasikan salah satu Sifat-Nya dari kumpulan Nama dan Sifat yang tanpa batas jumlahnya. Bahkan semua Tindakan-Nya dan ciptaan-Nya tetap tak terbatas, jadi jangan bayangkan bahwa Anda bisa menjelaskan Dia dengan sederhana sekali. Seperti mengatakan bahwa Allah SWT itu Cahaya seperti mengatakan, “matanya manusia” atau “kakinya manusia”. Jika Anda menjelaskan manusia dari jumlah total dari organnya tetap saja Anda tidak bisa menjelaskan sosok manusia secara lengkap, bagaimana bisa menerangkan manusia hanya melalui organnya? Itu merupakan suatu kebodohan.

Allah SWT memberitahu tentang diri-Nya terhadap semua bentuk ciptaan melalui Sifat-Sifat-Nya, sebagaimana yang telah Dia tanamkan pada manusia. Kunci untuk pengetahuan Tuhan telah tersedia pada diri kita dan ditempelkan pada sifat ketuhanan yang ada pada diri kita. Sesungguhnya, Allah SWT telah menanamkan untuk setiap orang salah satu dari Sifat-Sifat Allah SWT yang merupakan kunci bagi kita untuk membuka hubungan dengan Allah SWT. Setiap Orang mempunyai sebuah kunci-sifat di dalam dirinya, dan ini berbeda untuk setiap orang. Melalui sifat ketuhanan yang ada pada diri kita, Anda bisa saja berkomunikasi dengan Tuhan Anda, untuk menjadi satu dengan Allah SWT – semua bentuk hubungan Anda berkembang melalui Sifat itu. Untuk itu, siapa saja yang mencari jalan untuk mendekati Tuhannya harus mengetahui bahwa Sifat Allah SWT yang ada pada dirinya merupakan kunci. Sampai kita memegang kunci tersebut kita sebaiknya berada dalam bimbingan seorang perantara untuk menolong kita mengetahui keinginan Tuhan dari kita, sekali kamu belajar tentana Sifat Allah SWT itu, Anda baru bisa membuka diri Anda dan jelas melihat siapa yang berada di dalam diri Anda, siapa di luar diri Anda, siapa yang bersama Anda dan dengan siapa Anda.

Sekarang, jika Anda mengambil kunci itu dengan mengikuti berbagai tradisi spiritual, ikutilah, tapi jika Anda tidak berada pada jalan untuk menerima kunci itu, Anda sama saja membuang waktu hidup Anda. Boleh saja Anda mencoba berbagai jalan, kemudian, jika Anda masih merasa bahwa kunci itu berada di luar genggaman Anda, dan Anda masih tetap mencarinya, datanglah kepada kami! Kami mempunyai beberapa metode yang berasal dari Nabi suci SAW, yang mengajarkan bagaimana cara untuk mengambil kunci itu. Dan Anda akan mengerti siapakah Dia dan siapakah diri Anda. Sebaliknya, Anda boleh saja tetap menimbang-nimbang dan terus berjalan dengan cara Anda, semua itu akan sia-sia saja. Jangan penuhi diri Anda dengan berbagai gelar kosong, jangan—gelar kosong tidak akan memberi apa-apa. Anda harus meminta, “Di manakah kunci untuk membuka diriku?” Anda bisa melihat itu pada diri Anda.

Kita melakukan latihan-latihan itu di sini. Mungkin tidak terlalu sering, dikarenakan kesibukan yang ada, tetapi itu tidaklah penting, hal yang penting adalah untuk mempelajari eksistensi kunci Anda. Seorang Syekh yang ditunjuk oleh Nabi Suci SAW akan memberikan kunci Anda, dan yang Anda lakukan di sini adalah melakukan latihan untuk itu.

Jangan bayangkan bahwa Anda bisa mencapai pembukaan diri itu dengan membaca buku-buku saja. Jangan Anda bayangkan bahwa semua hal bisa dilampaui oleh pikiran kita. Pikiran kita tertinggal di bumi, tetapi jalan kami adalah jalan untuk pemahaman jiwa. Pikiran menolak tapi hati menerima. Pikiran menolak apa yang hati kita percayai. Itulah poin terpenting. Begitu banyak ribuan dan ribuan orang dari Eropa dan Amerika, mencari jalan untuk mendapatkan hubungan antara diri mereka dan Tuhan mereka, tetapi mereka mengikuti jalan yang sudah punah karena mereka mencari jalan itu dengan pikiran mereka dan itu tidak mungkin. Jiwa kita, bukan pikiran kita yang sampai pada tujuan itu. Ego memanfaatkan pikiran untuk mencoba dan menyesatkan para pencari kebangkitan spiritual, tetapi melalui bimbingan yang benar, jiwa akan menjadi pemenang.