Showing posts with label Adab. Show all posts
Showing posts with label Adab. Show all posts

18 December 2011

Rahasia Surat al-Quraisy

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q)
Malaka, 17 Des 2011

Ketika kalian memberi salam, itu adalah adab yang baik, ketika kalian memberi makan, itu adalah adab yang baik, ketika kalian salat di malam hari, itu adalah adab yang baik. Allah akan memberi pahala surga untuk kalian tanpa perhitungan.

Saya terkejut ketika saya melihat lebih banyak orang di rumah Haji Ghulam dan Haji Ismail. Sungguh saya melihat tidak ada yang seramai ini kali ini dan ini adalah berkah dari Sh. Ismail, dan kali ini beliau memesan catering untuk 200 orang, tetapi di sini ada 500 orang, jadi jangan berkelahi, tetapi bacalah li ilaafi qurayshin ilaafihim rihlatash-syitaa'i was-sayf. fal-ya`buduu rabba hadza -al-bayt alladzi ata`amahum. Dan jangan katakana min ju`, malaikat akan mengisi perut kalian. Itulah apa yang dianjurkan oleh para awliyaullah untuk dibaca, makanan akan bertambah dan kalian boleh membacanya semua, tetapi jika kalian membaca dengan cara seperti itu maka makanan untuk 100 orang bisa cukup untuk 1000 orang.

15 December 2011

Adab dan Manfaat Sedekah



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

1 Oktober 2010 Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. Ayyuhal mu`minuun al-hadiruun `itaqullah wa athi`uuh.

Wahai Muslim, wahai Mukmin! Nabi (s) menganjurkan Mukmin untuk memberi sedekah, karena Allah (swt) menyukai sedekah. Allah (swt) senang bila hamba-Nya melakukan khayr, sesuatu yang baik, yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sedekah adalah jalan menuju Surga, sebagaimana Nabi (s) bahkan bersabda, "Senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah."

الصدقة ترد البلاء و تزيد في العمر

Ash-shadaqah tarrud al-balaa wa taziidul-`umur.

Sedekah menyingkirkan penyakit, hukuman, kesulitan dan memberi umur panjang di dunia dan akhirat.

Nabi (s) bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurayrah (r), "Setiap manusia harus memberi sedekah bagi tubuhnya, " kalau tidak, itu akan menjadi masalah.

كل سلامي من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس تعدل بين الاثنين صدقة و تعين الرجل على دابته فتحمله عليها أو ترفع له عليها متاعه صدقة والكلمة الطيبة صدقة وبكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة وتميط الأذى عن الطريق صدقة

Kullu yawmin tatlu` fiihi as-syams kaanat `alayhaa sadaqah. "Setiap hari setelah matahari bersinar, ada kewajiban untuk bersedekah." Itulah sebabnya guru-guru spiritual atau guru-guru tasawwuf merekomendasikan untuk menyediakan sebuah kotak (atau botol, atau wadah kecil) untuk bersedekah, yang diletakkan di pintu rumah, jadi ketika kalian keluar rumah, masukan sedekah, besar atau kecil (bahkan koin), dan ketika kalian masuk ke rumah, masukan lagi sedekahnya. Jangan katakana, "Aku akan melakukannya setiap bulan." Tidak, lakukan setiap hari. Kita semua mempunyai masalah ini. Setan membuat kita lupa untuk memberi sedekah ketika pergi dan kembali ke rumah. Dan bila kalian tidak mempunyai uang, menyelesaikan persoalan di antara dua orang juga merupakan sedekah. Segala hal yang kalian lakukan untuk manfaat umat atau manfaat umat manusia, itu adalah sedekah.

Allah (swt) berfirman:

ذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Khudz min 'amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tazakkiihim bihaa wa shalli `alayhim.

Ambillah sedekah dari kekayaan mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka dengan sedekah itu, dan berdoalah kepada Allah bagi mereka. (at-Tawbah, 9:103)

(Dan hadis menyatakan) kalian dapat melindungi diri kalian dari Api neraka bahkan dengan memberi sebutir kurma. "Ambillah dari mereka sedekah dalam bentuk apa saja." Jika kalian mempunyai toko roti, berikanlah roti! Jika kalian mempunyai restoran, berikan makanan! Jika kalian mempunyai pakaian, berikan pakaian! Dan jika seorang membantu orang lain dengan memberi tumpangan pada tunggangannya, apapun itu, kuda, keledai atau apa saja, itu juga sedekah. Bahkan jika kalian mengangkut sesuatu menggunakan hewan tunggangan kalian, itu juga sedekah. Wa 'l-kalimatu 't-tayyibatu shadaqah, berbicara dengan nada yang manis adalah sedekah. Kulli khutwatin tamshii bihi ila 's-shalaat sadaqah, "Setiap langkah yang kalian ambil untuk melakukan salat berjamaah atau sendiri adalah sedekah." Setiap langkah kalian pergi menempuh perjalanan, baik dengan jalan kaki, dengan mobil, mengendarai sesuatu, atau dengan pesawat terbang, adalah sedekah. Wa tumiit al-adhaa min at-thariiq sadaqah, "Menghilangkan atau menyingkirkan apa yang berbahaya dari jalan adalah sedekah," dan itu merupakan hadis yang disepakati.

Jadi itu artinya Allah (swt) memberi banyak jalan untuk mendekati-Nya melalui sedekah. Hadis itu merupakan keberuntungan bagi kita. Menerapkannya merupakan keberuntungan bagi kita. Kulli sulala min ...

Di dalam hadis Nabi (s) yang lain, beliau mengatakan kepada kita apa yang perlu kita lakukan, yang sangat mudah jika kalian mengambilnya satu dan melaksanakannya, tetapi bila kalian tidak bisa melakukannya, Nabi (s) bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyida Aisyah (r):

إنه خلق كل إنسان من بني آدم على ستين وثلاثمائة مفصل فمن كبر الله وحمد الله وسبح الله واستغفر الله وعزل حجراً من طريق الناس أو شوكة أو عظماً عن طريق الناس وأمر بالمعروف ونهى عن منكر عدد تلك الستين والثلاثمائة سلامي فإنه يمشي يومئذ وقد زحزح عن النار

Innama khuliqa kulli min bani adam `ala 360 mafsalan, "Setiap manusia dibangun atas 360 ‘titik penekanan’ (juga dikenal dalam pengobatan Cina)." faman kabbarallah wa hamadallah wa sabahallah w 'astagfarallah wa `azal hajaran min thariiq an-naas, aw syawqata aw `azhman `an thariiq an-naas wa amr bi 'l-ma`ruuf wa nahaa `ani 'l-munkar `adada tilka 's-sittiin wa tsalaatsa mi'ata sulaamii fa-innahu yamsyii yawmaydzin wa qad zuhziha `ani 'n-naar.

Setiap anak cucu Adam telah diciptakan dengan tiga ratus enam puluh persendian; jadi barang siapa yang menyatakan keagungan Allah, memuji Allah, menyatakan keesaan Allah, bertasbih dan mencari pengampunan Allah, dan menyingkirkan batu, atau duri, atau tulang dari jalan yang dilalui orang, dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar sampai sejumlah tiga ratus enam puluh empat, ia akan mendapati dirinya dijauhkan dari Neraka.

"Barang siapa yang memuji Allah atau bersyukur kepada Allah, atau bertakbir, berzikir Allah, atau siapa yang memohon ampun pada Allah, atau menghilangkan atau menyingkirkan batu dari jalan, atau tulang, atau duri, orang itu (akan menerima pahala) pada bilangan sejumlah persendian di dalam tubuhnya (...)."

Jadi ucapkanlah 360 kali subhaanAllah atau alhamdulillah atau Allahu Akbar, atau singkirkan batu atau tulang atau pepohonan dari jalanan sebanyak 360 kali, dengan demikian Allah akan menghindarkan kalian dari Api Neraka. Pastikan untuk mengucapkan 360 kali astaghfirullah atau alhamdulillah atau selawat atas Nabi (s), dan ingat, jangan lupa untuk melakukannya ketika kalian pulang ke rumah.

Dan di dalam hadis yang lain dinyatakan, barang siapa yang pergi ke masjid, di dalam perjalanannya atau ketika pulang, Allah (swt) akan menyiapkan bagi setiap langkahnya, sebuah istana, rumah surgawi di Surga. Semoga Allah memberi kita rumah surgawi dan melindungi kita dari hukuman!

Dan hadis lain menyatakan,

اتقوا النار ولو بشقّ تمرة

ittaquu an-naara wa law bi syaqqi tamr,

Selamatkan dirimu dari Api Neraka walaupun hanya dengan separuh kurma.

Lihatlah, betapa murahnya untuk terhindar dari Api Neraka, bahkan dengan memberikan separuh kurma kepada orang miskin atau tuna wisma!

Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan semoga Allah memberkati kita dan Mukmin di seluruh dunia, dan membimbing semuanya kepada Kerajaan Surgawi Allah, dan kepada Kalam Ilahi-Nya, kitab suci al-Qur’an. Bacalah kitab suci al-Qur’an sebanyak-banyaknya, dan jangan sampai ia menentang kita pada Hari Kiamat! Semoga Allah membuat kita untuk terus membaca Qur'an sebanyak-banyaknya yang dapat kita lakukan.

(Doa)

http://media.islamicsupremecouncil.org/Benefits_of_Giving_Charity-2743-print.html

02 November 2011

Wirid dan Instruksi untuk Hari Arafat


Sultan Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)

Lefke, Siprus

1 November 2011

Mawlana: Itu akan terjadi seperti yang mereka umumkan. Tak ada yang dapat melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Mereka akan pergi ke (Arafah) pada hari sesuai dengan fatwa yang diberikan di sana. Jawaban mereka adalah ini.

Hajah Rukiyya (H.R) : Apakah ada suatu instruksi?

Mawlana: Al-Hizbul Azam… Mereka akan menyelesaikan (pembacaan) Al- Hizbul Azam. Jangan merokok, jangan mengisap shiisha! Jangan bertengkar atau berdiskusi pada hari itu. Mereka harus menyibukkan diri dengan salat dan doa. Selesai. Jika mereka melakukan ini, mereka akan melewatinya sebagai orang yang “bersih”. Kalau tidak, mereka akan kembali seperti ketika mereka berangkat.

H.R: Dan bagi yang tidak pergi (haji)?

Mawlana: Semoga Allah mengaruniakannya kepada mereka.

H.R: Apakah ada instruksi bagi mereka?

Mawlana: Ya, ada, ada... tentu saja ada. Jika memungkinkan bagi mereka … Di mana Rukiyya?

H.R: Ini dikatakan, ini harus dibaca pada saat Hari Arafah.

Mawlana: Mereka boleh membaca ini.

H.R: Pada Hari Arafah mereka boleh membaca La illaha ill Allah Wah ’dahu La Syariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Syay’in Qadir, 100x. Surat al Ikhlash, 100x. SubhanaAllah wal Hamdulillah wa La illaha illa Allah wa Allahu Akbar, 100x. Istighfar, 100x. Selawat atas Nabi (s) 100x. Tingkatkan bacaan selama berdoa, dan menangislah agar Allah mencurahkan nikmat-Nya.

Mawlana: Kamu mengerti? Mereka boleh membaca ini. Apakah dikatakan 1000x?

H.R: dikatakan semuanya, 100x….

Mawlana: Masing-masing 100x

Untuk Hari Arafah, sejak pagi hingga sore, bacalah 1000x Ikhlash. Inilah yang dikatakan oleh Grandsyekh. Mereka bisa membaca 1000 Ikhlash pada Hari Arafah. Apakah disebutkan 100x “la hawla..” benarkan?

H.R: Bacalah La illaha ill Allah Wah ’dahu La Syariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Syay in Qadir.

Mawlana: ini.

H.R: SubhanaAllah wal Hamdulillah wa La illaha illa Allah wa Allahu Akbar wa la Hawla wa la Quwwata illa Billah al Aliyal Azhim, 100x

Mawlana: Apa yang dikatakan oleh Grandsyekh, mereka boleh menyelesaikan membaca 1000 Ikhlash pada hari itu, hingga sore hari. “Qul Huwa allahu ‘Ahadun..” (112:1). Mereka boleh mengucapkan selawat, 100x, sampai 1000x. La illaha ill Allah Wah ’dahu La Syariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Syay in Qadir, 100x. Semoga Allah menerimanya. Amin. Fatiha.

Mawlana: Ied jatuh minggu ini?

H.R: Ya, menurut perhitungan mereka, jatuh pada Minggu besok.

Mawlana: Ied akan jatuh pada Sabtu besok, sehingga ini menjadi Haji Akbar.

H.R: Ya.

Mawlana: Bagaimanapun, baiklah. Mereka akan menerima pahalanya. Semoga Allah mengampuni kita. Fatiha.

H.R: untuk puasa?

Mawlana: tanggal 8 and 9.

H.R: 2 hari.

Mawlana: Tarwiya dan Arafah. Ini untuk kita. Tetapi untuk orang-orang yang menunaikan haji, tidak ada puasa pada Hari Arafah. Mereka sibuk dengan tugas haji mereka. Tidak perlu puasa bagi mereka. Untuk yang lain, Yawm al Tarwiya dan Yawm al Arafah – Mereka puasa pada kedua hari ini.

Fatiha.

Mawlana: It will be as they declared. No one can do as they like. They will go up (Arafah) on the day according to the fatwa given there. Their answer is this.

H.R: Are there instructions?

Mawlana: Al-Hizbul Azam… They will complete Al- Hizbul Azam. No smoking, no sheesha! No fighting or discussing on that day. They may be busy with prayer and dua. Finish. If they do this, they will pass through as “clean”. Otherwise they return as they left.

H.R: And the ones who could not go?

Mawlana: May Allah grant it to them.

H.R: Are there instructions for them?

Mawlana: Yes, there are, there are.. Of course there are. If it is possible for them… Where is Rukiyya?

H.R: It says, it is to be read on the day of Arafah.

Mawlana: They may read this.

H.R: The day of Arafah they may recite La illaha ill Allah Wah ’dahu La Shariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Shay in Qadir, 100x. Surat al Ikhlas, 100x. SubhanaAllah wal Hamdulillah wa La illaha illa Allah wa Allahu Akbar, 100x.

Istighfar, 100x. Salawat on the Prophes (s) 100x.

Increase the recitations during dua, and weeping so favors may be granted.

Mawlana: You understand? They may read this. Does it say 1000x?

H.R: it says in all of them, 100x….

Mawlana: Each 100x

For the day of Arafah, from the morning till evening 1000x Ikhlas. This is what Grandsheikh said. They may read 1000 Ikhlas on the day of Arafah. Does it mention 100x “la hawla..” right?

H.R: recite La illaha ill Allah Wah ’dahu La Shariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Shay in Qadir.

Mawlana: This.

H.R: SubhanaAllah wal Hamdulillah wa La illaha illa Allah wa Allahu Akbar wa la Hawla wa la Quwwata illa Billah al Aliyal Azim, 100x

Mawlana: What our Grandsheikh said, they may finish reading 1000 Ikhlas on that day, till sunset. “Qul Huwa allahu ‘Ahadun..” (112:1). They may say salawat, 100x, to 1000x. La illaha ill Allah Wah ’dahu La Shariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Shay in Qadir, 100x. May Allah accept. Amin. Fatiha.

Mawlana: Eid is the coming week?

H.R: Yes, it is. According to their calculations, next Sunday.

Mawlana: Eid was going to be next Saturday, so that it would be Hajjul Akbar.

H.R: Yes.

Mawlana: Anyway, ok. They will receive its Reward. May Allah forgive us. Fatiha.

H.R: For the fasting?

Mawlana: 8th and 9th.

H.R: 2 days.

Mawlana: Tarwiya and Arafah. This is for us. But for the hajjis, there is no fasting on the day of Arafah. They are busy with the duties of Hajj. No need for them. For the others Yawm al Tarwiya and Yawm al Arafah – They fast these 2 days.

Fatiha.

http://sufilive.com/Instructions_for_the_Observance_of_the_Day_of_Arafa-3904.html


27 June 2009

Pengetahuan akan Kebesaran Allah SWT

Siaran Langsung bersama Mawlana Syekh Nazim

Dari Lefke, Siprus, 25 Juni 2009, waktu ‘Ashar

Disiarkan di sufilive.com

 

[Syekh Hisyam: (membaca dari chat)  Kadang-kadang mereka melewatkan awrad karena terlalu sibuk dengan dunya, apa yang harus mereka lakukan?] 

Saya tidak mengurusi hal itu sekarang, biarkan saja.  Saya tidak duduk di sini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu.  Jika ia mempunyai syekh, atau naib ash-syekh, ia boleh bertanya.  Saya tidak ingin disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu.  Saya duduk di sini untuk seluruh dunia, bukan untuk apa yang murid lakukan, tidak, tidak.  Saya tidak suka bila seseorang menanyakan hal semacam itu.  Ada  Syekh huna,[menunjukkan pada Syekh Hisyam] ia dapat menjawab pertanyaan semacam itu, dan kami hanya bisa mengatakan, pertama kami mengatakan, as-salaam `alaykum, saudara-saudari kami dalam Islam, atau saudara-saudari melalui keluarga manusia.  Saudara, saudari.  Kami hanya bicara untuk seluruh bangsa dari Timur ke Barat, dari Utara ke Selatan.  Mohon jangan menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan diri kalian sendiri, tetapi untuk seluruh bangsa, kalian boleh bertanya.  Saya tidak suka, “Apa yang saya lakukan untuk zikir saya?  Bagaimana jalan untuk kemajuan tarekat saya?”  Ini tidak penting.  Itu adalah sesuatu yang membuat setan masuk ke dalam petemuan seperti itu, bukan untuk semua orang.  Saya menyesal dan saya marah.  Mohon jangan ada yang bertanya tentang hal-hal yang hanya berhubungan dengan dirinya, atau keluarganya, jangan.  Dan kami mengucapkan as-salaamu `alaykum. Seluruh bangsa, mereka adalah anggota dari umat manusia yang lemah, semoga Allah mengampuni kita [amin]. 

Syekh Nazim QS dan Syekh Hisyam di Lefke, Siprus (25 Juni 2009, foto oleh Saher Yoo-Foo, Within Mercy Oceans)

Kedamaian bagai kalian.  Saya meminta dari syekh saya atau dari pembimbing saya atau dari guru saya, meminta darinya, agar beliau mendukung saya, secara spiritual.  Beliau mendukung.  Dan dengan rendah hati saya memohon dari pembimbing saya, saya percaya bahwa seluruh nabi, mereka adalah para pembimbing, dan seluruh manusia mengikuti para anbiya, mereka adalah pembimbing umat manusia dan setiap orang harus memohon seorang pembimbing.. 

Dan saya mendengar dari pembimbing saya, apa yang beliau lemparkan ke dalam hati saya, hati spiritual.  Ketika saya mengatakan hati saya, saya tidak bermaksud mengatakan hati secara fisik, …bukan.  Setiap makhluk—mereka mempunyai hati (jantung) dalam pengertian secara fisik.  

Kita adalah orang-orang yang percaya pada kitab suci, Syekh Hisyam Effendi. Bahwa kita telah diciptakan oleh Tuhan Surgawi.  Tubuh fisik kita yang telah disebutkan dalam seluruh kitab suci, sebagaimana Allah melalui Diri-Nya, Diri-Nya sendiri, bahkan dikatakan “Dengan Tangan-Nya” tetapi itu hanya agar dapat dimengerti karena tanpa tangan yang melakukan sesuatu, kita tidak dapat membayangkannya.  

Oleh sebab itu Tuhan Surgawi, [mendemonstrasikan dengan tangannya], ingin agar manusia mengerti karena orang bisa bertanya, mereka bertanya, “siapa yang menciptakan manusia pertama?”  Telah disebutkan dalam kitab suci bahwa manusia pertama adalah Adam, kedamaian baginya, dan bagi seluruh nabi dan nabi yang paling terpuji, Sayyidina Muhammad SAW, tidak berlebihan agar orang berdiri untuk memuliakannya.  Sebagian orang bisa keberatan dengan hal itu, “Untuk apa Syekh berdiri?  Demi nama Nabi Penutup SAW?” “Ya” 

Manusia, jika mereka mengenal manusia, menurut pengetahuan mereka, mereka mengetahuinya.  Tetapi untuk banyak hal yang mereka tidak ketahui mereka adalah orang-orang yang bodoh.  Ya, kalian bisa keberatan.  Mereka keberatan karena mereka tidak mengetahui untuk apa mereka berdiri.  

Saya menanyakan sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan kepada orang-orang yang mengatakan, “Mengapa Syekh berdiri ketika nama Nabi Penutup disebutkan?”  Ya, kita adalah Muslim. Dan pengetahuan kita dari kitab suci dan dari orang-orang suci, pengetahuan kita bukanlah hasil dari … kita, atau melalui inspirasi kita (mencari kata-kata yang tepat)… bukan inspirasi… pengetahuan kita bukanlah sammarat at-tafakkur, [itu bukanlah buah dari suatu pemikiran, tafakur] ya, itu bukanlah buah dari suatu pemikiran. 

Dua jenis ilmu pengetahuan di dalam setiap agama, tetapi khususnya di dalam Islam.  Yang pertama adalah `aqlii, naqlii, naqlii adalah yang berasal dari Nabi, atau dari para anbiya, yang sampai kepada kita melalui para pewaris Nabi.  Dan tsani, dan yang kedua, pengetahuan, itu adalah sammara, buah dari pikiran, pengetahuan yang datang melalui atau sesuai dengan kapasitas pemahaman kita dan sesuai dengan logis kita [logika] [logika, Sayyidi] Logika.  

Dua jenis ilmu pengetahuan di dalam Islam: naqli, berasal dari Nabi SAW atau dari para anbiya yang sampai kepada kita melalui jalur pewarisan secara spiritual.  Dan yang kedua, ilmu sebagai buah dari berpikir, yang muncul sesuai dengan kapasitas dan pemahaman, dan sesuai dengan logika kita.    

Dan Islam datang sebagai sebuah pesan surgawi dari Surga dan kalian harus percaya dengannya tanpa bertanya, “Mengapa?”  atau “Tidak”!  Kalian tidak bisa bertanya terhadap sebuah wahyu Ilahi, kalian tidak bisa bertanya, “mengapa?” atau “untuk apa?” kalian tidak dapat melakukan suatu keputusan terhadap wahyu Ilahi.  Kalian tidak dapat menggunakan pikiran kalian atau logika kalian karena kalian memiliki logika (yang) merupakan miniatur timbangan (mizan), dan kalian mengajukan beberapa pertanyaan untuk dipertimbangkan dalam miniatur timbangan yang kecil itu.  Itu mustahil.  Misalnya, kalian dapat menimbang seluruh dunia ini dalam sebuah timbangan? Bagaimana?  Mustahil!  Oleh sebab itu, kalian dilarang untuk menggunakan logika kalian untuk menimbang kabar yang berasal dari Surga sebagai wahyu dari Tuhan Surgawi kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih!  Itulah masalah terbesar! 

Orang-orang di masa kita bertanya sesuatu yang tidak ada kemungkinannya.  Mereka menanyakan hal-hal yang mustahil, membuka hal-hal yang mustahil dari pemahaman mereka!  Itu adalah tidak mungkin.  Manusia diciptakan untuk dapat percaya!   Percaya sesuatu dengan mengetahui sesuatu adalah hal yang berbeda, karena jika kalian berusaha untuk mengetahui sesuatu, kalian tidak dapat mengetahuinya semaunya.  Kalian dapat mengatakan amantu billah, aku percaya, dan itu adalah jalan yang salah.  Seluruh bangsa bertanya, “Mengapa ini, mengapa itu?”  seluruh negri, itu benar-benar `ajiib, sangat aneh, tidak dapat diterima! 

Untuk percaya, kalian tidak boleh menggunakan logika kalian!  Kalian harus berkata, “Ya, ini berasal dari Surga.  Aku percaya karena dengan… kalian dapat mengerti.  Oleh sebab itu Allah SWT, jalla jallahu, Dia menggunakan jalur wahyu, sebuah metode agar orang dapat memikirkannya, sehingga dapat memberikan suatu pemahaman walaupun hanya sekecil mikroba, kecil sekali, atau mungkin hanya sebesar atom!  Oleh sebab itu, orang-orang bertanya, “Dari mana kami berasal?”  karena mereka tidak mengetahui tentang Surga.  

(Allah) berfiman, “Aku menciptakan Langit dan Bumi dan Aku menciptakan ayah pertama kalian, Aku menciptakan agar orang memahami.”  Dia (Allah) mengatakan, “Dengan Tangan-Ku.”  Kita tidak dapat membayangkan bahwa kita dapat melakukan sesuatu, oleh sebab itu kita tidak tahu Tuhan Surgawi turun ke level pemahaman manusia dan mengatakan, “Aku menciptakan Adam dengan Tangan-Ku” dan kemudian mereka berkata, “Ya, ya itu benar.”  Kalian harus percaya!  Kalian dapat bertanya, “Allah SWT mempunyai tangan?”  “Jika kita katakan, “tidak”, mereka berkata, “Kami punya, dan dengan tangan kami, setiap orang…” mereka tidak dapat membayangkannya.  Itu artinya mereka tidak mengetahui Surga.  Ya!  Dia (Allah) mempunyai tangan.  Oleh sebab itu ketika orang yang bodoh keberatan dengan Nabi Penutup SAW dan mengatakan, “yadullahi maghloula” Mereka mengatakan, “Tangan kami terbuka tetapi Tangan Tuhan kalian terikat,” itu adalah level pemahaman mereka, tidak lebih dari itu.  Tetapi Tuhan Surgawi, Mahasuci bagi-Nya!  Dia… sebuah tangan, sebagaimana yang kalian pikirkan, atau bayangkan, tidak!  Itulah level mereka.  Mereka mengatakan, “Allah mempunyai ini, ya, Tangan-Nya terikat dan tangan kami terbuka.”  

Dia tidak memerlukan Tangan sebagaimana yang kalian pikirkan atau tasawwur, kalian bayangkan. Tidak.  Itu adalah level mereka.  Level pemahaman mereka.  Mereka mengatakan, “Tangan Allah terikat tetapi tangan kami terbuka.”  Dan Allah menolaknya “bal yadahu mabsootataan” bahwa tangan-Nya tersebar, ke mana-mana dan mencakup apa saja.  Segala sesuatu mengambil bagiannya untuk menjadi eksis dari Tangan Tuhannya yang mencapai apa saja dan memberi mereka segala sesuatu yang mereka perlukan!  MashaAllah! Quran yang suci! Subhanallah, Ma `adhamoo. Begitu besar, begitu mu`azzam, Allahu Akbar, kalimat Allah SWT, Kalam Ilahi, Gambaran Ilahiah, begitu luas Samudra-Nya, semoga Allah mengampuni kita! 

Ya, kita datang untuk sesuatu yang kita katakan, bil inglize, [mengagungkan Nabi SAW, Sayyidii] ta’azeem an-Nabi, mengagungkan Nabi SAW, mengagungkan Khatamul Anbiya SAW. 

Kalian dapat bertanya, apakah menurut kalian kita memerlukan dokter dalam Islam?  Kalian akan berpikir mengagungkan Allah adalah sesuatu yang dapat kalian raih, ihaata. Kalimat Allah, tak seorang pun dapat membatasi suatu pemahaman.  Ya, Allah memuliakan Adam pertama kali.  Untuk apa?  Memuliakan Adam untuk putranya yang paling mulia dan terpuji, Sayyidina Muhammad SAW [adzan berkumandang, Syekh berdiri] Allahu Akbar Allahu abkar, syahid al-haqq. 

(beralih sebentar dengan Syekh Hisyam dalam bahasa Arab) Wasalna ila hadarat an-nabi. Kam kalima ba`dayn?

(Du’a) 

[Rekaman telah mencapai 40 menit. ] 

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Apa yang kalian perlukan adalah sebuah Samudra dan jangan pikir bahwa Penguasa Surga hanya memiliki satu Samudra.  Tak terhingga!  Oleh sebab itu kita datang dan berbicara tentang sesuatu yang begitu kecil, kecil sekali, juga dikirimkan hanya sebatas kapasitas manusia, sejauh mereka menggunakan logika mereka, tidak bisa diberikan lebih dari ini, dan ini adalah Samudra, walaupun kalian tidak dapat meletakkan kaki kalian di dalamnya, tidak dapat mendekatinya, tetapi dari jauh kalian dapat melihat dan Tuhan kita, Atribut Ilahiah-Nya, mereka bergetar ketika disebutkan Nama Suci-Nya, bahwa Allah SWT adalah (`Alaam al-ghuyyoob). 

Yahtaz li `alaam al-ghuyoob – seluruh nabi, mereka bergetar ketika disebutkan Nama Suci-Nya, bahwa Allah SWT adalah `Alaam al-ghuyoob. `Alaam al-ghuyoob. Saya bukan apa-apa, tetapi setiap saat, setiap kali saya melewati kalimat bahwa Allah SWT adalah ‘Alaam al-ghuyoob, seluruh tubuh saya gemetar karena `azhamah, karena kebesaran-Nya bahwa yudhish al-`uqool, [membuat pikiran kita terpana, takjub] takjub, Subhanallah!    

Oleh sebab itu, saya pikir bahwa sekali kita diberikan pada manusia dan kita dapat… ini adalah asosiasi yang sangat, sangat, sangat pendek, kita dapat melanjutkannya minggu depan, bulan depan, tahun depan… tidak pernah selesai.  Apakah kalian pikir bahwa seseorang dengan ember dapat membuat air laut mengering?  Itu mungkin atau mustahil?  Mustahil!  Tetapi kita harus mengatakan apa yang mustahil, karena para ilmuwan di abad ke-21 atau para ulama berpikir bahwa sangat mudah untuk bicara mengenai  Tuhan Penguasa Surga dan Sang Pencipta.   Salah besar!  Saya katakan bahwa mereka harus bisa mengambil ember dan menyelesaikan (mengosongkan) Samudra Pasifik!  Pertama, ia harus mempunyai suatu jarak (yang pantas dipertimbangkan) bahwa ketika ia mengambil dari Samudra Pasifik dengan embernya dan meletakkan di sana (ia harus mempunyai tempat yang cukup luas untuk meletakkan air itu).  Mungkin atau mustahil?  Tetapi orang-orang berpikir, ketika saya berpikir, menanyakan pertanyaan bodoh semacam itu, tidak ada maknanya, dan dari pertanyaan mereka itu adalah tanda-tanda kebodohan mereka.  

Tuhan Surgawi berfirman, “Mintalah (ilmu) agar tahu, karena tidak ada batas untuk pengetahuan bagimu!”  Jika saya meninggalkan kalian di samudra yang terbatas, kalian dapat bertanya, “Apa yang ada di belakang Samudra yang terbatas itu?”  dan sekarang samudra itu, kalian minta untuk mencapai titik itu. 

Oleh sebab itu, Allah SWT membuat mereka berpikir dan selalu… pemahaman mereka yang terbatas.  

Qaalat namlatun [ayat tentang semut dan Raja Sulayman]  Baru satu semut berbicara, kepada seluruh semut menurut pengetahuannya, ia bicara, dan seluruh semut dengan cepat pergi ke lubang mereka.  (Semut itu menginstruksikan kepada mereka).  “Selamatkan dirimu, Raja Sulayman dan tentaranya akan lewat dan bisa menghancurkan dirimu dan rumahmu, cepat pergi, selamatkan diri!” 

Itulah kapasitas pengetahuan, itulah pemahaman, dan kita, apa yang kita katakan dan kita, apa yang kita katakan, pengetahuan dari, kalian tidak mengetahui tentang Surga.  Jika kalian minta untuk mengetahui segala sesuatu.  Pengetahuan-Nya adalah Samudra Pasifik, samudra terluas.  Kalian senang untuk mengetahui segala sesuatu, ya—ambil!  Ambillah ke dalam ember (dari Pengetahuan Ilahi)!  Ambil!  Selesai! 

Pertama-tama kalian tidak dapat menemukan suatu jarak seperti Samudra Pasifik, itu adalah masa yang sangat besar.  Lalu kalian ambil dari sini untuk diletakkan di sana. Satu samudra tidak ada batasnya.  Karena itu adalah Samudra Pengetahuan Allah.  Tetapi orang yang bodoh bertanya seolah-olah ia ada batasnya, tetapi ambillah lebih banyak!  Ya, sesuai dengan kapasitas kalian!  Lihatlah pada kalian sendiri di depan cermin, dan lihat apa yang kalian akui.  Tetapi orang-orang sekarang mengikuti Setan dan Setan memberi mereka posisi semacam itu, dan kita adalah orang-orang seperti itu, dan kita harus melihat segalanya, bagaimana ia akan terjadi.  

Itu adalah awal kebodohan di Bumi, karena mereka membuat orang keluar dari lingkaran disiplin (adab).  Mereka meminta orang untuk melewati batas mereka, itu bukanlah kapasitas mereka untuk melewati samudra! SubhanaAllah!  Jadi pengetahuan berasal dari para anbiya, ia bagaikan atom, bisa juga bagaikan samudra, penuh dengan pengetahuan.  

Wahai manusia, tinggalkan kesombongan itu dan katakan, “Wahai Tuhanku! Engkau adalah segalanya dan kami bukanlah apa-apa!” 

Orang-orang telah kehilangan adab yang baik, dan mereka selalu meminta hal-hal yang bukan adab yang baik.  Ketahuilah batasan kalian dan jaga adab kalian!  Semoga Allah mengampuni kita.  As salamu alaykum. 

[Syekh Hisyam: bahr sayyidee, samudra yang luas, Allah ziidak.] 

Barakat Syekh Hisyam Efendi, lam yudhkar, na`m.  Kini datang waktunya untuk membuat beberapa metode untuk membuat kepala mereka tunduk.  Sekarang kepala mereka seperti ini dengan bangga.  Kini telah datang generasi baru untuk membuat generasi tua yang mengakui sesuatu namun bukan untuk mereka, agar membuat kepala mereka tertunduk.  Wahai Tuhan kami, maafkanlah kami!  Wahai Tuhan kami, berkatilah kami.  Wahai Tuhan kami, berikanlah kedamaian ke dalam hati kami.  Engkau adalah Satu-Satu-Nya, Engkau adalah azali, Pra-Abdi hingga Abadi.  Terima kasih bi la haddin, [tak terhingga] kepada-Mu. Terima kasih yang tiada henti-hentinya kepada-Mu, wahai Tuhan kami. Mohon ampunilah kami, mohon berkatilah kami, untuk berada di Jalan-Mu yang Kau sebutkan kepada hamba-hamba-Mu yang suci, para kekasih-Mu, orang-orang yang terpilih, jalannya hamba-hamba-Mu yang terpuji, Salaam alaykum. Fatiha. 

[Syekh Hisyam: 50 menit. ] 

As-salamu alaykum. Fatiha.

Huuu, huuuu, huuu berasal dari Samudra itu.  Dan manusia begitu kecil, mereka dalam batasan-batasan, datanglah dengan adab.  Wahai manusia, jangan sombong!  Wahai manusia, berusahalah untuk menjadi hamba! Fatiha. 

(Berdiskusi dengan Syekh Hisyam, berapa banyak orang yang mengakses sufilive.com, dan membaca nama negara-negara) Algeria, Brunei, Iran, Mesir, Italia, Sri Lanka, Afrika Selatan, Pakistan, Mauritius, Uni Emirat Arab, Qatar, Jordan, Prancis, Bangladesh, Argentina, Australia, Lebanon, Indonesia, Belanda, Jerman, Singapura, Kanada, Inggris, Amerika Serikat. 

(Syekh Hisyam menerangkan kepada Mawlana Syekh bagaimana orang melihat lewat komputer.) 

Mawlana Syekh Nazim: “Subhanallah!”

06 November 2008

Bagaimana Seorang Mukmin Berperilaku terhadap Keluarganya

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Siapapun yang percaya kepada Atribut Mutlak Tuhannya akan menjadi orang yang dicintai di masyarakat, khususnya di lingkungan keluarganya. 

Kita mengatakan bahwa seseorang mukmin, orang yang beriman harus bersama keluarganya minimal seperti seekor kucing.  Setiap orang menyukai kucing, setiap orang mengelusnya.  Tetapi sekarang adalah masa yang aneh.  Kita lihat bahwa mukmin, ketika mereka pergi di antara keluarganya, membuat mereka terlihat lebih seperti landak.

Oleb sebab itu, seorang mukmin paling tidak musti seperti kucing:  setiap orang dapat menyukainya.  Bagaimana mungkin seorang mukmin bertindak seperti landak di lingkungan keluarganya?  Itu bukanlah Iman yang sesungguhnya bagi seorang mukmin sejati, atau nasrani sejati, atau yahudi sejati.  Orang yang beriman tidak pernah menyakiti hati orang lain. 

Oleh sebab itu, istrimu bahagia denganmu? Ya, karena Imanmu memberi keakraban kepada seluruh anggota keluargamu.  Ketika kamu berada bersama mereka, mereka merasa bahagia, dan ketika kamu jauh dari mereka, mereka akan menanyakanmu, “Di mana ayah kita?”  “Di mana suamiku?”  Ini sangat penting, dan kita berdoa untuk semua orang agar bisa seperti itu dengan Imannya.  

26 September 2008

Pentingnya Adab dan tentang Pertolongan Allah SWT



A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Tak ada lagi orang yang tersisa yang dapat menjadi seorang Syekh... Tidak ada lagi Muslim (dalam arti sesungguhnya—red), orang-orang telah menjadi tak berguna...

A’udzu bi-llahi minasy-syaythaanir-rajiim, Saya lemparkan sebuah bom kepada Setan—Bismillahir rahmaanir rahiim ....

Apa yang Saya katakan bukan berasal dari diri saya sendiri, itu bukanlah kata-kata saya. Siapa yang berbicara dari dirinya sendiri hanyalah menjadi penerjemah untuk ego-nya... Bagi kami, mereka membuka sebuah jalur besar, dan kami berbicara dari situ.

Adab adalah permata paling berharga yang pernah dikaruniakan kepada manusia. Tanpa adab, kalian tidak dapat mendekati Hadirat Tuhan. Tanpa adab, kalian akan dilempar jauh, tak berguna. Ada suatu ayat dalam al-Quran suci yang mengatakan kepada kita untuk bergaul satu sama lain dengan adab dan untuk menaruh hormat pada orang-orang terhormat. Tetapi, karena mereka telah menaruh orang-orang terhormat itu di bawah, kita tidak lagi mempunyai orang-orang yang bermanfaat. Saya sekarang bertanya, “Masih adakah orang-orang yang dihormati, yang pintunya selalu terbuka, yang orang-orang suka untuk mengunjunginya, mencium tangan mereka, menghormati mereka dan yang kata-katanya didengar?” Tidak ada. Tidak di Konya, tidak pula di Istanbul, dan Istanbul adalah sebuah kota dengan penduduk lebih dari 10 juta... Sungguh malulah orang-orang.... Dan setiap orang kini menderita. Mengapa? Apakah yang menjadi kekhawatiran bagi mereka? Dunia! Selain itu, tidak ada yang mereka khawatirkan. Dan Allah SWT ingin menarik kalian keluar. Dia ingin menyelamatkan kalian. Berpalinglah menuju pelayanan kepada-Nya. Palingkan wajah kalian kepada-Nya, maka tak akan ada kekhawatiran yang tersisa. Orang-orang berkata, “Kami tak mempunyai waktu untuk mendengarkan kaset-kaset Syekh, kami berada dalam krisis ekonomi...” Dan mereka memerlukan polisi, karena tak ada lagi orang-orang dengan turban yang dipenuhi dengan heybet... Cemas akan dunia membuat kita tak berguna. Wahai Allah SWT, janganlah Kau buat dunia sebagai kekhawatiran terbesar bagi kami! Dan saat ini, kecemasan terbesar orang-orang adalah dunia. Bahkan pada para Muslim, dan ini tidak pantas bagi seseorang yang beriman.

Wajah seorang yang beriman dipenuhi cahaya. Tujuannya adalah Allah SWT, dan karena itu, Allah SWT mengaruniakan padanya malaikat Mu’in, malaikat penolong di sisinya. Tetapi, jika seseorang tidak menjadikan Allah SWT sebagai tujuannya, sepanjang waktu orang tersebut akan cemas dan khawatir, dan dia tidak akan mencapai apa pun. Dan hal ini akan membuatnya gila, karena Setan selalu akan berusaha mencampurinya untuk merusaknya.

Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS, pernah bercerita tentang seorang laki-laki yang berdagang karpet. Dia biasa mengerjakan semua salat dan menutup tokonya jika tiba waktu salat. Laki-laki itu biasa menjual sekitar 100 karpet setiap harinya. Kemudian entah bagaimana dalam dirinya terbesit keinginan untuk meningkatkan bisnisnya, dan dia mulai meninggalkan salat ini atau salat itu, meninggalkan sunnah ini atau itu, untuk mendapatkan lebih banyak waktu menjual karpetnya. Tetapi di akhir hari, dia memperhatikan bahwa dia hanya dapat menjual 80 karpet dan tidak mencapai 100 seperti sebelumnya, sekalipun dia telah ‘meluangkan’ dua jam ekstra untuk bisnisnya. Maka, di hari berikutnya, dia meninggalkan lebih banyak salat. Tetapi, ujung-ujungnya, setelah diahitung-hitung, ternyata dia hanya menjual 60 karpet. Ini adalah suatu cerita pengajaran, tidak masalah apakah cerita ini benar-benar terjadi atau tidak, tapi cerita ini mengandung kebenaran. Akhirnya, orang itu berkata pada kaumnya, “Wahai hamba-hamba Allah SWT, lihatlah, ada pelajaran bagi kita atas apa yang telah terjadi ini. Selama kita memelihara teguh dan menghormati perintah Allah SWT, Dia akan membuat perdagangan kita menjadi mudah dan mengaruniakan kita pendapatan yang berlimpah. Tetapi, di saat kita mulai mengabaikan salat dan tidak mengikuti perintah-Nya lagi, seraya berpikir bahwa kita akan memperoleh lebih banyak, maka rezeki kita akan dikurangi menjadi lebih sedikit.” Wahai orang-orang yang beriman, jangan berpikir bahwa apa yang kau peroleh berasal dari dirimu sendiri karena usahamu. Tidak, tetapi dia berasal dari dari malaikat-malaikat penolong yang Allah SWT kirimkan untuk menolong orang-orang beriman (mukmin), dan yang menjadikan urusan-urusan menjadi mudah dan terberkati.

Pernah ada seorang Syekh di Daghestan, Syekh Surughi Hazletleri QS. Dia biasa menjatuhkan apa pun yang dia pegang dan segera pergi ke masjid begitu panggilan Azan dikumandangkan. Suatu saat, Setan datang mengunjunginya dalam samaran. Syekh Surughi QS sedang membangun sesuatu, dan saat itu Azan baru saja dikumandangkan. Beliau menjatuhkan batu bata yang baru saja akan beliau letakkan di tempatnya. “Wahai tuan,” kata Setan dengan cepat, “Mengapa engkau tidak menyelesaikan saja apa yang sedang kau lakukan? Mengapa terburu-buru? Saya menasihati engkau untuk menyelesaikan dulu urusan ini, hal ini akan lebih mudah bagimu.” “Perhatikan, siapa pun engkau”, jawab Syekh Surughi QS, ”Engkau tidak pergi ke Masjid? Kalau begitu, jika engkau ingin menolong saya dan melakukan suatu kebaikan bagi saya, lanjutkanlah sendiri dan taruhlah bata-bata ini.” Tetapi, Setan membuat beberapa alasan, sehingga Syekh berkata, “Karena engkau tidak datang untuk berbuat kebaikan apa pun bagi saya, pergilah sana ke Neraka!”

Semakin kalian menjaga perintah-perintah Allah SWT dan menghormati-Nya, semakin banyak pula pertolongan yang akan Dia kirimkan bagi kalian. Ada begitu banyak orang-orang suci di Konya, tapi orang-orang hanya khawatir dengan urusan dunianya. Mereka mati dengan warna yang sama, Konya tidak lagi suatu “Kota Hijau” seperti sebelumnya... Saya serahkan segalanya kepada Allah SWT. Wahai Allah SWT, kirimkan kebahagiaan ke dalam hati orang-orang yang beriman dan ketakutan pada hati orang-orang tak beriman, musuh-musuh Islam...

05 September 2008

Kedamaian di Dalam Rumah

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: 19 November 2001


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Nabi SAW telah memberitahukan bahwa di akhir zaman, orang-orang tidak lagi merasa nyaman dan damai bila mereka berada di dalam rumah mereka, sekalipun rumah itu seperti istana. Dan mereka mesti meninggalkannya, pergi keluar, ke jalan-jalan. Tetapi, mereka pun tidak mendapatkan kedamaian di sana, justru hal itu malah memperburuk keadaan.

Sebelumnya, ada banyak dergah, tekke, camis, dan misafirhanes (semacam pondok pesantren-red) dari 41 tarekat, dan orang-orang dapat pergi ke sana. Saat ini, mereka pergi ke kedai kopi (coffee-shop, kahvehanes)… Jemaah Naqsybandi adalah berat, karena itu, mereka tidak datang. Di masa lalu, manusia dapat dengan mudah menemukan kedamaian dan kebahagiaan untuk jiwa mereka. Tetapi mereka menjauhkan manusia dari ibadah dan penyembahan, dan karenanya jiwa manusia menjadi tidak tenang. Mereka pergi ke sinema dengan gembira, tetapi keluar dengan perasaan berat. Sedangkan di dergah, orang dilatih dan dididik. Mereka biasa menulis tulisan berikut ini di atas pintu, “Adab, Ya Hu!” (Perhatikan sikap dan sopan santun kalian…)

Saat ini, tak seorang pun menghormati orang lain selain dirinya, tetapi sekarang para malaikat akan memukul mereka! Roh seorang mukmin diambil dengan mudah, tetapi roh orang yang tak beriman diambil dengan pelan dan menyakitkan.

Tinggal di dalam rumah berarti aman, pergi ke luar, ke jalan berarti bahaya. Jangan berjalan-jalan untuk hal-hal yang tak perlu. Kalian dapat berada dalam kedamaian bahkan dengan banyak orang di dalam satu rumah. Fitnah dimulai dengan listrik. Jika setiap orang mau tinggal di rumah mereka, fitnah akan berkurang hingga setengahnya atau bahkan lebih berkurang lagi. Seorang mukmin menemukan kebahagiaan di dalam rumahnya. Tetapi Setan membawa manusia menuju kejatuhan—semoga kesultanan Setan akan hancur!

Semua kafe yang ada sebenarnya hanyalah pemborosan—kafe-kafe itu menjadi sumber hasad (kecemburuan sosial dan iri). Sebelum kafe-kafe tersebut ditutup, orang tidak akan menemukan kedamaian dengan masuk ke dalamnya, pemborosan uang tidak akan berhenti, dan negara serta bangsa tidak akan bangkit lagi.

Ini penting untuk diketahui.
Ya Muhawli hawli wa-l ahwal, hawli haalina ila ahsani hal!

18 June 2008

Menjadi Hamba yang Diberkati

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ada hamba yang diberkati dan ada pula yang dikutuk. Diberkati berarti seseorang diterima di Hadirat-Nya. Sedangkan dikutuk berarti terlempar bersama Iblis. Terserah kalian jalan mana yang akan kalian pilih. Jika kalian tidak berusaha agar diberkati, setan akan menangkap kalian dengan cepat untuk berada di sisinya dan menerima kutukan yang sama.

Mempunyai gelar bukanlah sesuatu yang penting, menjadi ini atau itu: Kristiani, Yahudi, Islam, Budhisme, Brahmaisme, Confusiusme… Kalian bisa saja memiliki salah satu gelar tersebut dan tetap tidak diberkati sebagai seorang hamba. Diberkati artinya seseorang mempercayai bahwa hal yang terpenting dalam hidup mereka adalah untuk mengabdi kepada Tuhannya. Siapa saja yang mengabdi pada dunia ini, ego mereka, atau setan adalah terkutuk. Lakukan ibadah kepada Tuhan sebagai prioritas dalam keseharian kalian. Mulailah hari kalian dengan “La illaha illallah, Muhammadur-rasul Allah” dan mintalah kepada Tuhan untuk menolong kalian mengabdi kepada-Nya pada hari itu. Akhiri hari kalian dengan permintaan agar diampuni dan diberkati.

Mintalah kepada-Nya untuk menerima ibadah kalian yang tidak lengkap dan mintalah pertolongan-Nya agar kalian bisa berubah menjadi lebih baik. Jagalah pikiran kalian agar selalu tertuju kepada-Nya di sepanjang hari. Jika seseorang meninggal pada malam yang sama. Niat yang ia miliki akan selalu ada hingga Hari Kiamat tiba.

Jangan Mengklaim Diri sebagai Seorang Syekh

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta (Tomang), 6 September 2004

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. [QS 4:59]

Kita berharap bahwa kita akan patuh pada Allah SWT dan Nabi-Nya, dan pada syuyukh kita, karena kita tidak ingin mengklaim sesuatu yang tidak kita miliki.

Ada yang mengklaim bahwa diri mereka tahu sesuatu. Ada yang mengklaim bahwa mereka tahu banyak. Ada juga yang mengklaim bahwa mereka tahu akan “segalanya” lalu mereka menunjuk diri mereka sendiri sebagai Syekh-Syekh meskipun mereka jauh dari predikat Syekh. Tingkat seorang Syekh sangat sulit dicapai, jadi janganlah mengklaim sesuatu yang tidak kita miliki.

Seperti firman Allah SWT dalam kitab suci al-Qur'an, Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim, Fa la tuzakku anfusakum-- janganlah kamu mengatakan bahwa dirimu suci. [QS 53:32]

Jangan puji dirimu sendiri, atau janganlah mengklaim sesuatu yang tidak kalian miliki.

Ada orang-orang yang saat mendapat sebuah gelar dari suatu universitas (bahkan belum menjadi seorang PhD) mereka merasa mampu mengatur dunia. Bahkan mereka yang telah meraih gelar PhD, mereka pikir bisa mengatur negara.

Ada juga orang-orang yang berpikir, jika mereka mengikuti orang suci (Syekh sejati), mereka pikir telah mengetahui segalanya. Lalu mulailah menyebarkan ego mereka yang telah terkontaminasi, ego mereka adalah kesombongan, maka tersebarlah penyakit ini ke seluruh murid-murid yang tidak menyadarinya.

Ada lagi orang-orang yang setelah mengikuti suluk, mereka pikir diri mereka telah menjadi orang suci, dan nama mereka harus dicetak dan dipublikasikan dengan bersinar-sinar untuk menunjukkan bahwa mereka adalah orang suci, dan masyarakat wajib mendengarkan mereka.

Kita sepatutnya menyadari bahwa jika kita mengikuti seorang Syekh sebagai muridnya, saat kita mendapat manfaat dari beliau atau kita melakukan suluk, kita ini masih tak ada apa-apanya, dan kita masih dalam proses pelatihan. Kita belum menghilangkan penyakit-penyakit kita. Kita masih harus dikarantina agar setelah itu kita bisa dilepas pada masyarakat.

Beberapa orang, jika mereka menjadi imam di masjid, mereka pikir bisa mengatur semua umat muslim. Mereka yang punya tanggung jawab pada sekolah atau universitas, mereka kira dapat mengatur setiap orang. Mereka tidak merasa bahwa mereka bukanlah apa-apa.

Jika seseorang tahu tentang cara berzikir, saat ia duduk dan mulai berzikir, ia pikir ia akan menyebarkan spiritualitas pada semua orang—ia tidak sadar bahwa dirinya masih terkontaminasi dengan kesombongan dan arogansi.

Otorisasi adalah penting dalam Islam, dalam syariah dan tarekat. Kami menyebut izin ini Ijazah (bahasa Arab). Artinya sebuah limpahan wewenang untuk seorang calon yang telah belajar pada para Syekh, dari seorang Syekh ke Syekh-Syekh berikutnya sampai salah satu dari keempat Imam. Ini dalam syariah. Seseorang harus memilikinya—seperti saat ini ada universitas yang gelar PhD-nya dari syariah Islam. Hal ini tidak ada nilainya dibanding ajaran syariah terdahulu.

Ajaran syariah terdahulu harus mendapat transmisi langsung dari Syekh kalian, dari Syekhnya lagi sampai Grandsyekhnya, dan terus… sampai Imam Syafi'i RA. Ia harus terhubung seperti itu. Dan Imam Syafi'i RA—dari Tabi'iin yang mana beliau mendapat instruksi itu? Dan beliau itu, dari kelompok mana beliau mendapat instruksi? Harus mempunyai silsilah seperti ini. Silsilah ini dapat menuju Imam Abu Hanifa RA atau Imam Ibn Hanbal RA. Atau Imam Malik RA. Harus mempunyai rantai transmisi. Kalau tidak, ijazah mereka adalah nol, tak diperhitungkan.

Sama halnya dalam tarekat. Dalam spiritualitas. Dalam realitas roh di atas roh, dalam mempelajari makrifat. Pelajaran ini harus melalui sebuah silsilah, mata rantai para Syekh. Dari satu Syekh ke Syekhnya lagi dan seterusnya... sampai para Grandsyekh, sampai Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA atau Sayyidina `Ali RA, karena dari merekalah asal tarekat, ke-41 tarekat. Mereka semua bisa berasal dari Sayyidina Abu Bakar RA atau dari Sayyidina ‘Ali Ra. Beliau yang memimpin langsung menuju hati Nabi
Muhammad SAW. Jika silsilah tersebut tidak ada, berarti orang-orang yang merasa bahwa diri mereka telah diberi pengesahan—maka pengesahannya itu adalah nol.

Tak seorang pun bisa mengatakan dan mengklaim bahwa, “Nabi SAW datang lewat mimpi saya” atau mengklaim bahwa “Nabi SAW mendatangi ini-itu, atau mengatakan, “Saya pergi ke sana dan mendapati diri saya menerima wewenang dalam hal ini dan itu.” Hal ini tidak dapat diterima.

Sekarang ini, para Syekh yang mengira diri mereka (karena mereka bermimpi, atau sedang tidur, dan saat bangun mereka melihat sesuatu) lalu seketika itu mereka menjadi orang yang punya wewenang.

Jika demikian, lebih baik Sayyidina Muhammad SAW diberi wewenang melalui sebuah mimpi atau sebuah penglihatan. Namun bukan terjadi seperti itu. Beliau membutuhkan Sayyidina Jibril AS. Sayyidina Muhammad SAW, bermeditasi selama 40 hari, ber-khalwat, suluk, di Gua Hira, dan beliau membutuhkan…

Beliau tidak pernah mengatakan, “Saya melihat ini, saat berdoa kepada Allah SWT, saat bersujud kepada Allah SWT,” hingga Jibril AS datang pada beliau dan memberinya (wahyu) secara nyata/fisik. Tidak mungkin lewat mimpi! Bukan pula dalam kondisi koma! Tidak mungkin pula saat pingsan! Tak mungkin dalam keadaan apa pun kecuali secara fisik. Hal itu harus diberikan.

Dan kita mengikuti jejak Nabi SAW. Hal itu diberikan pada Nabi SAW – dari Allah SWT pada Jibril AS; kemudian dari Jibril AS kepada Nabi SAW. Sebuah rantai penerus. Jika kita katakan segala sesuatu datang lewat mimpi, itu boleh saja. Tetapi mengapa Nabi SAW tidak menerima wahyu lewat mimpi? Atau saat beliau koma, hasya! Atau mengapa beliau tidak menerima wahyu dengan memakai cara yang berbeda tanpa arti yang menggambarkan secara fisik? Beliau melihat Jibril AS secara nyata! Jibril AS memeluknya.

Beliau mengatakan, Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim, dengan sebuah pesan Islam, “Iqra.” “Iqra bismi Rabbik alladzii khalaq.” - “Bacalah dengan nama Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pencipta.” Sayyidina Jibril AS datang dari kaki langit, menutup seluruh horizon, dan beliau datang kepada Nabi Muhammad SAW seraya berkata, “Ya Muhammad SAW, Iqra-- bacalah.” Nabi SAW bertanya, “Apa yang akan kubaca?” Jawab Jibril AS, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” [QS 96.5]

Secara nyata Jibril AS mengajari Nabi SAW. Saat Ramadan, Nabi SAW sering mempelajari Quran dari Jibril AS. Dalam Hadis Nabi SAW, “kaana yatadarras al-Qur'an ma` Jibriil.” “Dia sering belajar Qur`an dengan Jibril AS.”

Untuk itu Nabi SAW membutuhkan pembukaan batin secara fisik, wahyu, dari Allah SWT. Allah SWT mengutus Jibril AS untuk menemui Nabi SAW.

Bagaimana dengan kita sekarang ini, orang-orang di seluruh dunia, yang telah mendapat sebuah mimpi atau diperintah oleh mimpinya. Ya, hal ini boleh saja. Jika kalian diminta melakukan sesuatu, kalian laksanakan. Namun yang kalian lakukan terbatas. Tak ada sebuah dukungan. Tak ada pendukung di belakangnya. Tanpa dukungan, suatu saat hal itu akan rusak, habis sudah. Musnah.

Bahkan saat datang dengan wahyu, Jibril AS melatih Nabi SAW, beliau angkat Nabi SAW, beliau kirimkan pesan-pesan dari Allah SWT. Setelah 2 tahun, Jibril AS dikirim secara fisik/nyata. Setiap beliau datang membawa wahyu, biasanya selalu secara nyata. Tak pernah Nabi SAW mengatakan, “Saya menerima Qur'an lewat mimpi.” Nabi SAW menerima Quran lewat wahyu melalui Jibril AS.

Dan dzikrullah diambil dari Qur'an, nama-nama Allah SWT yang indah. Jadi untuk melakukan dzikir, harus secara fisik melalui seorang guru. Kalian tak bisa mengatakan, “Saya tidak membutuhkan seorang guru. Saya tidak membutuhkan seorang pemandu!” Allah SWT meminta Jibril AS sebagai pemandu Nabi SAW.

Dalam waktu 2 tahun setelah Nabi SAW menyampaikan wahyu, Allah SWT memanggil Nabi SAW menuju ke hadapan-Nya. Maka Jibril AS harus membawa beliau secara fisik pada malam Isra wa 'l-Mi`raaj. Seperti bulan ini kita berada dalam Laylatu 'l-Isra'i wa 'l-Mi`raj. Secara fisik Jibril AS membawa beliau dan Allah SWT memberinya kendaraan, al-Buraaq. Nabi SAW mampu pergi tanpa Buraaq. Nabi SAW mampu “naik” lewat mimpi, tanpa tubuh; beliau mampu naik ke atas. Namun, malam itu beliau bersama raganya. Roh beliau menuju ke hadapan Allah SWT.

Artinya secara fisik kalian membutuhkan seorang guru untuk mengajari dan memandu kalian seperti halnya Nabi SAW yang membutuhkan Buraaq, dan membutuhkan Jibril AS, untuk mengantar beliau sampai ke hadapan Ilahi.

Ada buah-buahan asli dan buah-buahan plastik. Buah asli ada rasanya, saat kalian makan, kalian rasakan manisnya buah itu. Buah dari plastik, atau yang terbuat dari kertas –kalian bisa memakan kertas, namun tak ada rasanya. Kalian dapat memakan plastik, tetapi tak ada rasanya.

Jadi dzikrullah dengan Syekh yang telah diberi wewenang melalui rantai orang-orang suci sampai menuju Nabi SAW— itulah zikir yang mempunyai rasa. Dzikrullah, setiap Asma-ullah ul-Husna— nama-nama indah dan atribut milik Allah SWT— rahasia nama-nama Allah SWT akan dihiaskan pada kalian. Kalian akan mendapatkan penampilan itu dan Allah SWT akan melimpahkan rahmatnya pada seseorang saat ia berzikir, karena ia terhubung, melalui hatinya, melalui Syekhnya, pada Grandsyekh, dan seterusnya sampai Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA ataupun Sayyidina `Ali RA, dan kemudian pada Nabi Muhammad SAW.

Syekh yang lain, yang mengira dirinya seorang Syekh namun tanpa wewenang atau pun melalui sebuah silsilah, yang mengklaim diri sendiri sebagai seorang Syekh—zikirnya tak terasa manis. Suatu saat akan hilang. Allah SWT memberi sebuah karakteristik pada Nabi SAW yang Dia tak memberikannya pada siapa pun: kerendahan hati.

Sayyidina Muhammad SAW adalah orang yang paling rendah hati. Jika kalian rendah hati, kalian akan mendapat pengetahuan spiritual. Saat kalian arogan dan bangga pada diri sendiri, kalian akan dilemparkan seperti mereka yang mempunyai gelar yang didapat dari belajar agama Islam di universitas, namun tanpa roh, tanpa jiwa—tak ada kemanisan di sana atau rasa di dalamnya. Mereka mempelajari huruf-huruf yang digabung bersama.

Di lain pihak, seorang `Arif billah— ahli makrifat, ia tidak mempelajari huruf-huruf. Namun guru mereka mengajari makna dan rahasia di balik huruf-huruf. Mereka mulai memilah arti yang tak seorang pun dapat memilahnya. Dan ini dilakukan dengan rendah hati.

Jika sombong, kalian akan menjadi iblis. Iblis adalah sombong. Jadi jangan menjadi seorang yang arogan. Bersikaplah rendah hati. Saat kalian merendahkan diri, orang akan mencintai kalian. Saat orang-orang mencintai kalian, Syekh kalian akan membawa kalian mendekati beliau. Saat beliau membawa kalian untuk mendekat, beliau akan membawa kalian melewati silsilah untuk mencapai cinta dan penglihatan akan Nabi Muhammad SAW.

Dulu ada seorang raja yang dikirimi seorang budak—raja pada masa itu biasanya mempunyai banyak budak. Orang-orang biasa membeli budak dari berbagai negara di dunia. Hal itu seperti sebuah perdagangan, dalam suatu periode. Jadi mereka memberi raja sebuah hadiah, seorang budak. Namun pembantu itu (yang dikirim pada raja) adalah seorang yang baik—jika kalian tak mau menyebutnya sebagai seorang budak.

Lalu raja menanyakan beberapa pertanyaan. Beliau bertanya saat mereka menghadirkan pembantu itu, “Siapa namamu?” Jawabnya, “Tuanku, seorang budak tidak mempunyai sebuah nama. Apa pun panggilan yang tuan berikan kepadanya, ia harus menjawabnya. Sebelum tuan, saya pernah bersama tuan-tuan yang lain. Dan mereka memanggil saya dengan sebutan yang berbeda-beda. Tugas saya adalah menjawab panggilan tuan. Tugas saya bukanlah untuk mempunyai sebuah identitas, sebuah nama. Saya tidak mempunyai nama.”

Lalu raja bertanya, “Pakaian apa yang sepantasnya aku berikan kepadamu?” Jawab si budak, “Oh tuanku, saya tidak mempunyai pilihan. Di hadapan baginda, saya tidak mempunyai pilihan, juga saat di hadapan tuan-tuan saya sebelumnya, saya tidak mempunyai pilihan. Seorang budak mengiyakan apa yang dikatakan tuannya. Jika tuan saya berkata, ‘Pakai baju merah ini.’ Maka saya harus melakukannya.’ ‘Pakai baju biru ini.’ Saya pun memakainya. Jika hijau, saya pakai itu. Jika beliau menyuruh untuk tidak memakai apapun, saya tak akan memakai apapun. Hal ini adalah pilihan tuan. Bukan pilihan saya.“

Dengar baik-baik!

Beliau bertanya, “Makanan apa yang paling kamu suka?” Jawabnya, “Oh tuan, makanan apapun yang mereka berikan pada saya untuk dimakan, saya makan. Jika mereka memberi nasi, saya makan nasi. Jika mereka memberi roti, saya makan roti, jika mereka memberi daging, saya makan daging. Jika mereka memberi rumput, saya makan rumput. Jika mereka memberi buah, saya makan buah. Tak ada pilihan buat saya di hadapan tuan.”

Lalu raja akhirnya berkata, “Budakku, pembantuku, jadi apa yang bisa kulakukan untukmu?” Jawabnya, “Oh Tuanku, apakah seorang budak mempunyai keinginan di hadapan tuannya?” Budak berada di bawah kehendak raja, tuannya. Tuan memilih apa yang bagus buat saya, lalu tuan berikan itu pada saya.”

Kata raja, “Oh pembantuku, engkau seorang muslim sejati. Dan lebih baik bila engkau memimpin negara ini daripada aku. Engkau adalah seorang raja, dan Aku adalah pendukungmu.”

Saat seorang hamba memperlihatkan bahwa dia tidak mempunyai keinginan, dalam berbagai cara Allah SWT membuat mereka menjadi raja. Saat kalian tidak menunjukkan keinginan… Nabi SAW tak pernah mempunyai suatu keinginan. Allah SWT membuat beliau sebagai Rasul terakhir. Orang-orang suci, mereka tunduk pada Kehendak Allah SWT dan kehendak Nabi SAW.

Allah SWT menjadikan mereka orang-orang suci. Saat kalian menundukkan diri pada kehendak guru kalian, maka beliau akan mengangkat kalian dan mempercayai kalian untuk membawa amanah umat di bawah pengajaran kalian. Itulah hal yang penting, tunduk. Tidak bangga terhadap gagasan dan pikiran kalian sendiri.

Ini adalah suatu kutukan, jika kalian bangga dengan pikiran dan gagasan diri sendiri. Kalian seorang pecundang. Saat ini, karena arogansi, kesombongan, anak-anak tidak menerima apa yang orang tua katakan. Orang tua tidak menerima apa yang orang yang lebih tua katakan. Setiap orang berlari dalam jalan mereka masing-masing. Mereka tidak mau mendengar apa yang Islam dan Qur'an katakan. Mereka mendengarkan hanya yang dunia katakan pada mereka, dan apa yang setan katakan pada mereka, dan nafsu-nafsu buruk yang dibisikkan.

Lihat anak laki-laki itu. Siapa namanya? Hamdan. Bagaimana ia membawakan (membaca zikir Asma-ul Husna-penerj)? Berapa umurmu? 12 tahun. Ia membaca lebih baik dari semua yang berada di ruangan ini. Ia berumur 12 tahun, dan kita ini berumur 70, 80, 90, 60, 50, 40, 30. Dunia ini tidak ada di hatinya.

Yang lain, Allah SWT memberi mereka—bukannya belajar membaca seperti Hamdan, mereka sedang belajar bagaimana menyanyikan lagu-lagu, MTV, video klip, diskotik, mengejar wanita cantik, artis, aktris. Ini adalah gaya hidup seorang yang masih sangat muda dalam meningkatkan kepatuhannya pada Allah SWT. Ia akan berada dalam bayang-bayang singgasana Allah SWT saat kiamat nanti.

Nabi SAW bersabda, “Yang tujuh akan berada di bawah bayang-bayang Allah SWT saat kiamat.” Saat matahari akan membakar otak setiap orang. Allah SWT akan menaungi ketujuh kelompok itu. Salah satu dari mereka adalah “waladun nasya `ala ta`atillah,” -– seorang anak yang tumbuh dalam kepatuhan pada Allah SWT.” Yang lain adalah walad, yang tak pernah mengatakan "huh" pada ayah bundanya saat dia hidup. Allah SWT akan menaunginya.

Orang kaya saat ini atau mereka yang berpenghasilan menengah sedang mengejar segala yang kotor; dan anak tadi yang tidak mempunya apa-apa mengejar kepatuhan pada Allah SWT, sangat berlawanan.

Namun kita masih mengatakan bahwa Allah SWT selalu penuh ampunan. Dan Allah SWT telah mengatakan pada Nabi SAW, “wa maa arsalnaaka illa Rahmatan lil `aalamiin.” Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS 21:107]

Jadi insya Allah kita akan, masing-masing dari kita akan berada di bawah ampunan Allah SWT. Mereka yang sedang berlari ke sana ke mari, Allah SWT memberi mereka ampunan-Nya (amin).

Wa min Allahi 't-tawfiq, bi hurmati 'l-Fatiha