Showing posts with label Karakter. Show all posts
Showing posts with label Karakter. Show all posts

19 July 2008

Karakteristik Hamba Allah SWT

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Tobat

Tobat berarti tidak menuruti kemauan keempat musuh utama kita, yaitu: nafs (ego), hawa (keinginan untuk menonjolkan diri), dunya, dan Setan. Seseorang bisa mengikuti Tuhannya atau bersama keempat musuhnya tadi. Jika seseorang memohon untuk kembali kepada Tuhannya, dia harus berjuang melawan keempat musuhnya dan tidak mendengarkan perintah mereka.


Bagaimana Caranya agar Kita Diterima di Sisi Allah SWT?
Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS menggambarkan bagaimana seorang Darwis bisa diterima sebagai hamba Allah SWT. “Dia harus memiliki satu karakter masing-masing dari tiga macam binatang.” Beliau berkata, “Dari keledai, dia harus mampu menanggung beban dengan sabar dan tidak mengeluh. Jika dia tidak dapat melakukan hal itu dia tidak akan berhasil, sebab tanpa kesabaran orang tidak akan bisa mengemban tanggung jawab dalam kehidupannya.”

Dari anjing, dia harus belajar bersikap loyal kepada majikannya. Jika seorang majikan menyuruh anjingnya untuk tinggal di suatu tempat sampai dia kembali, anjing itu akan menurut, bahkan ia akan tinggal di sana sampai mati. Jika si pemilik memukul dan mengusirnya, anjing itu akan tetap kembali dengan ekor dikipas-kipas ketika majikannya memanggilnya.

Akhirnya ketika orang terlihat seperti babi, dia harus tahu bahwa egonya lebih kotor dan menjijikan daripada seekor babi. Kotornya babi adalah karena faktor eksternal, yaitu karena memakan makanan yang kotor. Tetapi kotornya ego berasal dari dalam dan timbul karena melawan Tuhannya. Seorang manusia yang sempurna harus mempunyai karakter di mana dia selalu mampu menerima segala hinaan yang ditujukan kepadanya, baik dengan ucapan atau perbuatan, karena dia tahu sesungguhnya egonya lebih kotor dan hina.

Ketiga karakter tersebut bisa membuat orang merasa tentram dan hatinya penuh kepuasan. Hanya dengan jalan ini dia bisa mencapai kesenangan dalam hidupnya. Ini adalah karakteristik yang dimiliki nabi dan rasul serta para awliya.


12 Karakter Positif dari Anjing
Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berkata, “Ada 12 karakter positif dari anjing yang bisa ditemukan dalam diri nabi dan rasul serta para awliya, di antaranya adalah:

Tidak pernah melupakan kebaikan; mereka tidak melupakan siapa saja yang pernah berbuat baik kepadanya. Mereka selalu sabar dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan kepada mereka. Mereka tidak marah kepada pemiliknya, bahkan jika mereka dipukul dan diusir, mereka akan tetap datang dengan senang hati ketika pemiliknya memanggil mereka. Mereka rendah hati, penurut, jujur, dapat dipercaya, ramah, loyal, selalu ingat kepada pemiliknya dan tidak pernah berkhianat. Mereka puas dengan hal-hal yang sedikit, mereka bersifat ‘zahid’ tidak peduli dengan apa yang ada di dunia ini. Mereka tidak memiliki apa-apa di dunia ini, bahkan mereka tidak punya tempat untuk mereka sendiri. Mereka bisa tidur di mana saja dan jika seseorang melemparkan batu kepadanya, dengan segera mereka bangkit dan pergi ke tempat lain. Mereka sangat jarang tidur, tidak tidur berlebihan dan dengan mudah dapat terjaga.

Jika seseorang memiliki karakter di atas, dia adalah seorang wali. Kedua belas sifat itu dimiliki oleh nabi dan rasul serta para awliya.


Allah SWT Menguji Hamba-Hamba-Nya
Allah SWT menguji hamba-hamba-Nya untuk melihat apakah mereka sabar dalam menerima ujian tersebut. Kita harus selalu ingat akan hal ini agar pada saat sesutu terjadi menimpa kita, kita akan kuat menghadapinya. Kita harus tetap bersabar saat menghadapi serangan pertama, kita harus tetap menjaga iman kita agar kekuatan kita akan bertambah dan sebaliknya musuh akan semakin lemah. Musuh kita yang sebenarnya adalah ego kita. Dalam jihad akbar melawan ego, siapa yang bersabar akan menang dan seorang pemarah akan kalah.


Akankah Kalian Bersabar?
Kesabaran adalah tindakan melawan semua keinginan ego. Ada 3 tipe kesabaran, yaitu:

Sabar dengan ketidaknyamanan fisik
Misalnya bangun di pagi hari yang dingin untuk melaksanakan salat, berwudu dengan air yang dingin, antri, tidak merasakan kenyamanan ketika sedang sakit, atau ketika sedang menyelesaikan tugas yang sulit dan sebagainya. Allah SWT sangat menghargai orang yang tetap bersabar dan teguh dalam melaksanakan ibadah di tengah berbagai kesulitan seperti itu.

Menahan diri dari segala hal yang dilarang
Sebuah hadis mengatakan, “Hidup sebagai hamba dan menjauhi hal-hal yang dilarang adalah lebih berharga dibandingkan ibadah seluruh malaikat, manusia dan jin selama hidupnya.”

Bersabar dalam menghadapi orang yang mengganggu kita.
Ini adalah tipe kesabaran yang paling baik di antara ketiganya. Al-Qur’an mengatakan, “Kami menguji beberapa di antara kalian dengan orang-orang lainnya di antara kalian.”

Kesabaran adalah hal yang paling penting dalam hidup manusia. Jika kalian mempunyai kesabaran, seluruh kebaikan akan kalian dapatkan. Pandangan Allah SWT ada pada kalian, jadi akankah kalian bersabar?


Tanda bagi Kesehatan Spiritual
Seseorang yang mempunyai karakter baik juga mempunyai kehidupan spiritual yang sehat. Dari jumlah keluhan seluruh orang mungkin kalian bisa mengetahui berapa banyak karakter buruk yang masih tertinggal dalam diri seseorang. Ketika kalian bisa menghilangkan seluruh keluhan kalian, kalian akan tahu bahwa kalian sehat dan tidak ada lagi karakter buruk yang tertinggal.

Hal ini sangat penting karena seseorang dengan karakter yang baik, jika dia tidak mempunyai keluhan lagi berarti dia memiliki kesabaran dan ini berarti dia mempunyai iman yang sejati. Ketika kalian bisa melepaskan diri dari tarikan sifat burukmu, tidak ada lagi kesulitan yang akan menimpa kalian baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kalian harus ingat bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT. Inilah kuncinya, obat bagi penyakit hati. Kalian harus berkata, “Mengapa aku harus mengeluh, bila Allah SWT memerintahkan ini harus terjadi?” Bila kalian mampu mengingat hal ini kalian akan merasa puas dengan segala kehendak-Nya dan akan setuju dengan semua itu.


Kekafiran yang Tersembunyi
Jika seseorang tidak sadar bahwa Penglihatan Allah SWT tertuju padanya, di mana pun dia berada dan kapan saja, maka dia bukanlah seorang Mukmin, atau orang yang beriman. Kalian harus membayangkan dalam hati bahwa Penglihatan Allah SWT selalu bersama kita. Jika kalian melupakannya, kalian akan absen dalam Hadirat-Nya dan sebaliknya akan hadir di hadapan ego. Segala tindakan yang baik akan timbul dengan tetap menjaga kesadaran ini dalam ingatan kalian.

Jika seseorang melakukan tindakan yang tidak disukai oleh Allah SWT, Rasulullah SAW dan para awliya, itu berarti dia dianggap ‘kafir yang tersembunyi’, orang yang tidak beriman yang tersembunyi. Kita diperintahkan untuk membersihkan diri kita baik dari tindakan kafir yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Oleh sebab itu kalian harus selalu berhati-hati dengan segala tindakanmu baik yang terang-terangan maupun yang rahasia. Kalian harus menjaga keseimbanganmu dengan demikian tindakan kalian akan selalu penuh pertimbangan. Kalian harus selalu memperhatikan bahwa tindakan yang sedang dilakukan atau yang akan dilakukan, yakinkanlah dirimu apakah tindakan itu disukai oleh Allah SWT, Rasulullah SAW dan para awliya. Jika kalia mengetahui bahwa tindakan itu akan disukai oleh Allah SWT, Rasulullah SAW dan para awliya, kalian boleh melakukannya, jika tidak kalian harus meninggalkannya.

Jika seseorang selalu mempertimbangkan semua tindakannya di dunia ini, maka tidak ada lagi hisab di Hari Pembalasan. Rasulullah SAW bersabda, “Lebih berharga bagi Allah SWT jika seseorang duduk selama 1 jam untuk bertafakur dan mempertimbangkan tindakannya daripada dia beribadah selamA 70 tahun!” Karena kalian bisa saja menghapus 70 tahun ibadah denga satu tindakan yang tidak disukai Allah SWT, tetapi jika kalian mempertimbangkan tindakanmu lebih dulu dengan pikiranmu, kalian akan bisa melewatinya dan menghindari diri dari keburukannya.


Malayani
—itu Bukan Urusanmu
Malayani
(Bahasa Turki) berarti itu bukan urusanmu, kalian tidak perlu berbicara atau bertindak tentang segala hal yang bukan menjadi urusanmu. Jika seseorang selalu menjaga lidahnya dan peduli dengan segala ucapannya, Allah SWT akan memberikan Hikmah Ilahi kepada lidahnya sehingga dia hanya akan berbicara tentang kebenaran dan kebajikan.

Berbicara tentang hal yang bukan urusanmu akan membuat iman menjadi lemah. Ketika kalian meninggalkan kebiasaan buruk ini, iman kalian akan menjadi kuat. Kalian tidak bisa mengetahui apa yang menjadi urusanmu atau yang bukan. Lewat inspirasi barulah kalian mengetahui mana yang menjadi urusanmu dan mana yang bukan.


Apakah Kita Membangun? atau Menghancurkan?
Jiwa dari semua ibadah kita terdiri atas 3 bagian, yaitu: menjaga lidah dari segala ucapan dan pembicaraan yang dilarang, dengan demikian hanya berbicara yang baik-baik dan meninggalkan yang buruk. Yang kedua adalah menjaga mata dari pengelihatan yang dilarang, tempat-tempat yang kotor dan tindakan yang buruk. Dan ketiga adalah menjaga seluruh organ tubuh kita dari tindakan yang dilarang, baik mendengar, berjalan, menyentuh, berpikir tentang hal-hal yang buruk atau mempunyai niat yang buruk.

Tanpa menjaga mata, lidah dan seluruh organ dari segala yang dilarang, kalian tidak akan bisa mendapat manfaat dari perbuatan dan amal kebaikanmu. Seperti ketika kalian menanam sesuatu, kalian harus merawatnya agar tetap aman dan melindunginya dari hal-hal yang buruk yang bisa membahayakan dirinya. Kita harus tahu apa yang kita kerjakan, apakah kita membangun? Atau menghancurkan? Setiap hal yang dilarang akan merusak bangunan kita, merusak tubuh kita baik secara fisik maupun spiritual.


Pertama, Lawan dulu Dirimu Sendiri
Salah satu tanda dari seorang hamba Allah SWT adalah bisa meletakkan organ tubuh di bawah kehendaknya. Jika seseorang tidak bisa melakukannya dia adalah hamba ego atau nafs. Kalian harus bisa menasihati diri sendiri sebelum menasihati orang lain. Jika dirimu menerima untuk berada dalam pengendalian atau perintahmu barulah orang lain bisa menerima perintahmu. Ini adalah jalan yang diberikan oleh Rasulullah SAW dan para awliya. Pertama mereka melawan diri sendiri dulu, barulah mereka beralih kepada orang lain. Ketika mereka berbicara, perkataan mereka mempunyai pengaruh terhadap orang yang mendengarnya, dan jika seseorang mendengarnya, mustahil dirinya tidak mendapat suatu manfaat dari perkataan Rasulullah SAW atau para awliya. Dia bisa mendapat kekuatan untuk mengotrol egonya dan melangkah ke arah jalan yang benar.

Tidak cukup untuk mengatakan, “Saya adalah Muslim,” dan hanya mengucapkan Syahadat. Kalian harus mencoba untuk menjaga seluruh organ tubuhmu agar jauh dari segala tindakan yang bukan Muslim, jauh dari semua hal yang haram atau yang dilarang.

Wa min Allah at tawfiq

08 July 2008

Tiga Tingkatan Karakter: Tembaga, Perak dan Emas

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Penjelasan dari `Iqaz al-Himam fii Syarh al-Hikam,
oleh Ahmad ibn Muhammad ibn `Ajiba


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya. [QS 4:59]

Alhamdulillah bahwa kita berada pada saat di mana orang-orang sedang tergerak mempelajari Islam untuk mengetahui apakah sebenarnya Islam itu. Peradaban Islam ada sejak 1400 tahun yang lalu (atau lebih), sejak zaman Nabi Muhammad SAW, sang pembawa pesan-pesan Allah SWT.

Kita juga tertarik untuk mengetahui tentang prinsip dan dasar nilai yang diajarkan Islam pada penganut-penganutnya dan pada yang lain. Kita tengok lebih dalam sebagai muslim dan sebagai sufi, mutasawwifiin, mereka yang spiritualis--tazkiyyat an-nafs, mengkaji lebih dalam untuk meningkatkan diri sendiri, bukan dari luar saja, tetapi juga dari dalam.

Dan telah disampaikan bahwa samtul jaahili saluuhuh orang-orang yang tidak peduli, saat mereka diam, akan menyembunyikan (kenyataan-penerj.) bahwa mereka sebenarnya kaum yang tidak peduli.

Kaum yang tidak peduli sekarang ini ada 2 macam: orang yang tidak peduli sadar bahwa mereka memang orang yang lalai dan terus berdiam diri menyembunyikan ketidakpeduliannya. Yang lain adalah orang-orang yang sungguh tidak peduli, namun ketidakpeduliannya memberi mereka kesombongan bahwa mereka “tahu” sesuatu. Mereka menjadi kaum terpelajar yang berpidato di podium (manaabir), memberi kuliah; dan karakteristik seperti itu adalah yang paling buruk.

Telah disampaikan bahwa pengetahuan kalian dibanding yang lain adalah seperti berbedanya besi, tembaga dan perak. Mana yang lebih baik? Perak. Tetapi kalian adalah tembaga dan besi. Jika tetap diam, kalian tidak akan memperlihatkan karakter besi yang tak berharga itu. Jika tidak diam, maka kalian seperti dilapisi lapisan perak.

Orang-orang pergi membeli barang berlapis perak senilai 5 – 10 dolar. Yang lain membeli perak asli yang bernilai ratusan dolar. Saat mereka mengetahui bahwa barangnya hanya dilapisi perak, mereka berkata, “Ini tak berharga.”

Orang-orang yang tidak peduli melapisi diri mereka dengan perak agar terlihat bersinar. Namun setelah beberapa waktu, lapisan itu hilang dan yang terlihat adalah – wajah asli mereka. Itulah bagi mereka yang tertarik pada penampilan luar. Mereka itu bukanlah mereka yang asli tetapi masih berupa tembaga.

Ada kumpulan lainnya. Di dalam diri mereka adalah perak, dan itu asli. Tetapi karena mereka asli, mereka rendah hati. Bagaimana cara mereka selalu berendah hati? Mereka melapisi diri mereka dengan tembaga. Mengapa? Karena mereka ingin menjaga karakteristik “perak” yang mereka miliki. Mereka bukanlah orang “tembaga” yang ingin memperlihatkan “perak”-nya. Mereka adalah “perak” yang sadar bahwa meskipun menjadi “perak” mereka tetap tak ada apa-apanya dibanding kebesaran Allah SWT dan itulah sebabnya mereka merendahkan diri sebagai seorang “tembaga.” Mereka diam, rendah hati. Mereka menjaga diri agar tampak seperti orang normal lainnya.

Ada pepatah dalam bahasa Arab, “Jika bicara asalnya dari perak, maka diam berasal dari emas.”

Ada kelompok lain yang memiliki aspek di dalam dirinya “emas”. Mereka tunduk kepada Allah SWT. Tak ada keraguan pada diri mereka dan mereka selalu dalam total kepatuhan, mereka ini menjadi “emas” karena Allah SWT mengangkat (derajat – penerj) mereka. Dan inilah kaum terbaik, orang-orang yang paling bisa dipercaya. Mereka adalah para awliya yang sejati.

Mereka sadar bahwa penampilan fisik tak ada harganya, yang mereka tahu bahwa aspek batinnya, walaupun bernilai (menghormati akan hal itu)-- adalah tak ada apa-apanya dibandingkan kebesaran Allah SWT. Mereka tunduk sepenuhnya; meninggalkan sisi luar dan mengatakan, “Kami tidak akan menonjolkan diri sebagai orang berpendidikan tinggi.” Karena mereka adalah emas dan apa pun yang mereka katakan tak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT, maka mereka pun diam. Maka Allah SWT menghiasi mereka dengan Kebesaran-Nya, Nabi-pun mendandani mereka dengan kebesarannya, namun mereka menyembunyikan (rahasia tersebut), sebagaimana orang akan menyembunyikan perhiasan emasnya, dan mereka tidak menyembunyikan perhiasan perak.

Allah SWT menyembunyikan awliya-Nya. “Orang-orang suci ada di bawah naungan-Ku, dan tak ada yang tahu kecuali Aku. Ada perbedaan besar di antara ke-3 tingkatan ini. Apakah tingkatan itu?

  1. Sisi luar
  2. Sisi dalam
  3. Termasuk dalam keduanya namun tetap diam.

Hal ini terdapat dalam hadis Nabi SAW tentang Islam, syariah, iman, tarekat, ihsan, makrifat – “Beribadahlah pada Allah SWT seolah-olah kalian melihat-Nya, jika tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”

Inilah yang kita jelaskan tadi, syariah, haqiqat, makrifat. Jika kalian mengikuti disiplin syariah, mematuhi apa yang Allah SWT perintahkan, hal itu mengantarkan kalian mencapai haqiqat. Lalu mengikuti petunjuk yang Allah SWT kirimkan pada kalian.

Syariah mengajari kalian bagaimana mengikuti, seperti dalam perang dunia, kalian mempunyai lubang-lubang, dan untuk melaluinya kalian harus tahu di mana lubang-lubang yang lain berada. Syariah membawa kalian menyebrangi lubang-lubang ini dengan selamat.

Jika kalian telah melewati lubang-lubang tersebut, maka sampailah kalian pada kebun yang bernama haqiqat. Saat kalian didandani dengan kebun-kebun haqiqat itu, kalian melihatnya, menikmatinya dan mengalaminya. Mereka pun mengantar kalian pada makrifat, mengajari kalian ilmu yang ada di kebun-kebun ini. Saat kalian memiliki kebun-kebun ini, maka kalian memahami pentingnya kebun-kebun (haqiqat) ini. Lalu tujuan kalian adalah ma`rifatullah.

Allah SWT memberi kalian sebuah pengetahuan untuk mengetahui ciptaan-Nya, dan untuk memahami apa pun yang Dia ingin kalian mengetahuinya – itulah ma`rifatullah.

Itulah arti dari hajaru 'l-aswad, yang seluruhnya tertutup dengan perak. Bagian luar dan dalamnya. Hajaru `l- aswad berasal dari Surga. Saat kalian telah melewati (tahap) “perak” kalian akan menjadi “emas”. Sebelum hajaru `l-aswad adalah thawaaf, yang menggambarkan syariah. Syariah mengantar kalian melewati ladang-ladang sumur. Thawaaf adalah wajib. Namun saat sampai pada hajaru `l-aswad kalian menciumnya. Itulah haqiqat.

Sayyidina Umar RA berkata, “Jika tidak melihat Nabi SAW menciummu, aku tak mau melakukannya.” Lalu Sayyidina `Ali RA, KW menimpali, “Jangan berkata begitu, batu ini akan menjadi saksi bagi setiap orang yang menciumnya saat kiamat nanti.” Itulah mengapa saat para awliya mencium hajaru `l-aswad; mereka sedang mencium surga.

Orang awam saat melaksanakan haji atau umrah mereka melaksanakan thawaaf, dan mereka pun mencium (hajaru `l-aswad). Karena mereka memenuhi kewajiban syariah, mereka diizinkan untuk menciumnya. Allah SWT meletakkan batu itu di sana agar orang-orang mampu melihat “kebun” (makrifat) itu.

Hanya sebuah dinding di sana? Mengapa Nabi SAW mencium batu itu? Di balik batu itu ada sebuah realitas, makrifat. Batu itu adalah simbol kebun surgawi, karena merupakan bagian dari Surga. Saat kalian menciumnya kalian memasuki Surga. Mereka yang mencium hajaru `l-aswad dilindungi dari “Api”. Itulah betapa pentingnya pergi hajji, walaupun sekali seumur hidup. Adalah penting untuk mencium Surga, karena batu itu berasal dari Surga. Amal kalian akan digantikan dengan amal yang baik saat mencium batu itu.

Dikatakan bahwa yang terbaik dari ketiganya adalah yang diambil dari lahir dan yang diambil dari batin, mereka mengambil dari kedua sisi. Dari lahir bermanfaat untuk dunia. Mengapa? Karena itu adalah tampilan luar. Segala tampilan luar adalah untuk dunia. Namun bila kalian tambahkan dengan beberapa kewajiban, hal tersebut akan mengantar kalian selamat pada Hari Pengadilan kelak.

Kelompok yang lain adalah ahli batiniah, Ahl al-baathin, orang-orang yang penuh realitas. Jika kalian berteman dengan mereka, mereka akan memberi kalian apa yang mereka lihat sebagai realitas. Jika kalian terus bersama mereka, kalian akan menemukan persahabatan yang baik bersama mereka. Mereka bukan hanya memberi kalian Surga, tetapi lebih dari itu, yaitu ilmu. Mereka menarik pengikutnya pada realitas ini.

Dan yang terbaik dari 2 kelompok ini adalah yang ketiga. Siapakah kelompok ketiga ini? Mereka yang mengambil manfaat dari “pengetahuan luar”, dan mengambil manfaat dari “pengetahuan dalam”. Seperti Abu Bakar ash-Shiddiq RA; mengambil manfaat. Mereka mewarisinya dari Nabi SAW. Beliau berdagang, berbisnis dengan sang istri dan pada saat yang sama beliau juga berada di gua hira [ber-khalwat/meditasi]. Sayyidina Abu Bakar RA adalah seorang pengusaha, Sayyidina Umar RA juga, dan begitu pula dengan Sayyidina Utsman RA dan Sayyidina `Ali RA, KW. Mereka adalah shiddiqiin, orang-orang yang jujur. Siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya harus tetap melaksanakan syariah dengan benar.

Tidak seperti kelompok sufi (yang ditemukan di Barat), Thariqat Naqsybandi, thariqat yang sangat konservatif tetap menjaga syariah. Tak ada kompromi bila mengenai syariah, Syekh menjaga syariah dalam cara klasik dan tradisional untuk mereka sendiri, namun bagi orang-orang, mereka sangat fleksibel. Mereka mewariskan cara-cara yang termudah.

Butuh 23 tahun bagi Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan itu. Kalian tak mampu menyampaikan pesan syariah, haqiqat, dan makrifat, hanya dalam waktu 1 bulan, 2 bulan atau 3 bulan. Itu butuh waktu.

Para Syekh Naqsybandi menjaga syariah agar tetap berjalan dengan baik, mereka harus dihiasi baik sisi luar maupun sisi dalamnya. Jika kalian berhias bagus untuk sisi luar tetapi bukan dari dalam, kalian seperti sebuah jam yang mempunyai jarum tetapi mesin di dalamnya rusak. Jika kalian berhias bagus di dalam namun bukan di bagian luarnya, seperti jam yang mesinnya hidup tetapi tidak mempunyai jarum. Namun bila luar dan dalam kalian dihias dengan bagus, maka seperti sebuah jam yang mempunyai mesin bagus dan memiliki jarum. Posisi kalian sempurna.

Setiap orang dapat memeriksa diri sendiri, apakah telah berhias secara luar dan dalam.

Untuk mengetahui perhiasan macam apa (yang digunakan) untuk menjaga mereka agar bersih dari segala gangguan dan godaan yang diberikan setan pada manusia. Seberapa besar kalian harus dipersenjatai. Bukan senjata fisik, tetapi persenjataan agar mata dan telinga kalian tidak mendengar hal-hal yang buruk, tidak melihat hal-hal jelek, membekali diri dari sisi luar dengan prinsip-prinsip perilaku yang benar.

Dan setiap orang sadar betapa mereka bergantung pada pikiran-pikirannya sendiri. Saat mereka bertanya pada Mawlana Syekh Nazim QS, “Bagaimana kami menyesuaikan diri saat sesuatu muncul, karena kami bukan orang-orang terpelajar?”

Beliau menjawab, “Gunakan akalmu untuk menimbang masalah-masalah yang ada di depanmu. Jika akalmu menerimanya, terimalah. Bila tidak, hal itu memberi kesempatan melakukan apa yang setan mau.”

Seperti saat ego kalian berkata, “Pergilah merokok.” Apa yang dikatakan akal kalian tentang merokok? Ia katakan, “Tidak baik untuk kesehatan dan mengakibatkan berbagai macam kanker.” Artinya seharusnya kalian hilangkan kebiasaan merokok itu dari kehidupan kalian. Akal kalian mengatakan hal itu buruk namun tidak didengarkan.

Nabi SAW bersabda, “Kulli muddurin yuqtal – “Semua yang merusak adalah membunuh.” Kata-kata yang digunakan adalah membunuh. Namun tiap kata tidak diartikan secara harfiah, harus dipahami secara simbolik. Jika seekor singa akan menyerang, kalian boleh membunuhnya. Ada seekor kalajengking spiritual yang dapat membunuh kalian, sebagaimana seekor singa spiritual yang dapat menyerang kalian. Seperti rokok, itulah artinya mengapa akal kalian mengatakan bahwa ini adalah salah.

Seperti obat-obatan terlarang. Beberapa orang mengatakan bahwa rokok adalah merusak, namun tidak masalah dengan marijuana. Saya katakan pada mereka, “Jangan merokok.” Jawab mereka, “Kami tidak merokok.” Saya katakan lagi, “Saya melihat kalian merokok.” Mereka menjawab lagi, “Tidak! Ini adalah marijuana, bukan rokok.” Namun saat itulah akal kalian berkata, “Ini adalah hal yang buruk.”

Jika kalian hanya mengetahui dasar syariah, gunakan akal kalian untuk membedakan apa yang baik bagi kalian dan apa yang tidak, apa yang membuat Allah SWT senang pada kalian, dan apa yang membuat Nabi SAW senang pada kalian. Memakai cara lain akan menyesatkan dan mengikuti jalan setan. Syekh yang mumpuni disebut sebagai al-`arifu billah. Orang yang tahu tentang Allah SWT. Mereka yang mengetahui (apa yang Allah SWT ingin mereka ketahui) dari realitas yang tersembunyi. Al-`arifu billah berbeda dengan wali. Wali dapat menjadi seorang wali sejauh apa yang mereka sendiri (ingin) perhatikan. Allah SWT menjadikan mereka sebagai wali karena ketulusan hatinya. Dia seperti seorang manusia untuk dirinya sendiri.

Seorang 'arifu billah adalah orang yang mampu mengakomodasikan kalangan terburuk dan kalangan tertinggi dari kaum (yang berorientasi) luar bersama-sama dengan para awliya yang terendah sampai yang tertinggi tingkatannya.

Jadi ia mempertemukan kalangan biasa, tukang kayu, tukang sampah dan lebih rendah lagi dari level tersebut pada saat yang sama ia mampu menemui presiden. Saat bersamaan pula ia dapat pergi pada awliya yang terendah sekaligus tertinggi, ia mampu bergaul di antara keduanya karena ia mempunyai tinjauan luas dan ia adalah seorang Insan al-Kamil, manusia sempurna. Itulah yang disebut seorang arifu billah.

Berbeda dengan seorang wali. Banyak awliya yang tidak mampu bergaul dengan mereka (yang berorientasi) luar. Itulah mengapa kalian lihat saat ini banyak orang berkata, “Para Sufi tidak bisa berbaur dengan masyarakat, mereka selalu duduk di sudut ruangan.” Itu benar, karena mereka berada pada level di mana mereka tidak dapat berbaur dengan orang-orang lain.

Namun para `arifiina billah berada pada level yang lebih tinggi—seperti Sayyidina Ahmad al-Faruqi QS yang mampu bergaul dengan orang-orang di bawahnya dan para penguasa atas. Banyak yang seperti itu seperti Sayyidina Syah Naqsybandi QS dan Sayyidina Abayazid al-Bistami QS.

Itulah mengapa kita bisa lihat Mawlana Syekh Nazim QS dapat bergaul dengan segala macam orang. Beliau dapat bergaul dengan kalangan paling atas sampai kalangan terendah. Dan beliau pun mampu bersama wali tingkat terendah sampai yang tertinggi. Beliau mewarnai diri beliau sendiri pada level rakyat. Kalian lihat orang-orang mendatangi beliau hanya dengan masalah-masalah duniawi saja. Bagi beliau tidaklah menghabiskan waktu - beliau menampung mereka semua karena beliau adalah seorang al-`arif billah.

Bagi seorang wali dan bukan seorang yang arif, mereka melihat syekh membuang-buang waktunya. Mereka tidak tahu bahwa syekh sedang mengakomodasi mereka semua. Kami mendapat banyak kritik di internet saat syekh menemui kaum petinggi negara.

Seorang `arif billah mampu pergi ke dua kutub. Perahu membutuhkan 2 dayung, jika hanya satu maka gerakannya lambat. Sebuah kapal terbang yang hanya bersayap satu, tak mampu terbang.

Sufi hanya mampu duduk di sudut ruang, ia hanya mempunyai satu sayap, namun seorang arif billah dapat pergi ke mana pun; ia dapat membuka pintu-pintu, sehingga dapat dibawa bersama dan menjembatani keduanya.

Dikatakan bahwa seorang arif billah tidak menolak siapa pun, secara lahir maupun batin. Ia merangkul Ahl al-dunya (ahli dunia) dengan berhubungan dengannya, memenuhi kebutuhan kebutuhannya. Mereka bahagia, dan karena itulah mereka menjadi murid-muridnya. Seorang Ahl al-baathin, ahli batiniah yang mempunyai tujuan tak lain adalah akhirat, mereka datang juga untuk belajar.

Banyak orang yang mendatangi Mawlana Syekh Nazim QS, sang arif billah, mereka hanya menginginkan dunia. Mereka percaya pada beliau dan beliau membuat mereka menjadi murid-murid beliau. Mereka mencintai dan menghormati beliau, itu sudah cukup. Dengan cara itu beliau membawa mereka untuk beribadah.

Yang lain yang sedang ber-tazkiyyat an-nafs, kebersamaan mereka menjadikan mereka sebagai murid-murid beliau. Itulah orang yang arif, kalian melihat kehadirannya di antara kaum yang berbeda. Kalian akan kagum karena yang satu tidak cocok dengan yang lain, namun beliau membuat mereka cocok.

Orang yang mengenal Allah SWT, dan Allah SWT telah memberikan padanya, untuk membuat orang lain bahagia dengan apa yang ia berikan.

Dikatakan bahwa wali al-kamal akan berkembang dalam setiap level. Ini adalah evolusi yang nyata, bukan evolusi dari monyet ke manusia seperti teori Darwin. Evolusi yang nyata adalah dalam cara makrifat, ilmu pencerahan. Bergerak ke tingkat yang tinggi dan lebih tinggi lagi, membawa yang di dalam dan di luar sekaligus. Sungguh menakjubkan.

Kalian lihat para pemimpin datang, raja-raja, presiden-presiden datang dan di lain sisi orang-orang yang tulus, spiritualis. Bukannya yang lain tidak tulus, tetapi tingkatnya berbeda.

Itulah yang Allah SWT himbau pada kita. Saat Sayyidina Jibril AS menanyakan Nabi SAW tentang agama, beliau mengatakan bahwa agama terdiri dari 3 aspek: Islam, iman dan ihsan. Dan kita mengkategorikan tingkatan manusia menjadi tembaga, perak dan emas lalu syariah, haqiqat dan makrifat. Kemudian telah kita diskusikan Ahl azh-zhaahir, al-`arif billah dan maqam al-ihsan.

Semoga Allah SWT memaafkan kita semua dan memberikan rahmat malam ini dan dengan kehadiran Nabi kita Muhammad SAW dan syuyukh kita.

Bi hurmatil fatiha.
Wa min Allah at tawfiq