Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

27 December 2012

Kekuatan Tasbih dan Aayaat asy-Syifaa`



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
7 Desember 2012   Burton, Michigan
Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq


Wahai Muslim dan Mukmin!  Allah (swt) menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan mereka untuk bertasbih, artinya mengucapkan, “SubhaanAllah wa ‘l-hamdulillah wa laa ilaaha illa-Llah Allahu Akbar,” atau pujian apapun kepada Allah (swt) melalui Asmaul Husna wal Sifat-Nya.

Allah (swt) berfirman,
أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي
Anaa jaliisu man dzakaranii.
Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku. (Ahmad, Bayhaqi)

Jadi, mengingat Allah (swt) secara terus-menerus merupakan suatu keharusan setiap saat dalam kehidupan kita!  Allah (swt) membuat segala sesuatu bertasbih dan keberadaan setiap elemen atau unsur adalah melalui tasbihnya, dan tidak ada yang mengetahui (tasbihnya) kecuali unsur itu sendiri.  Demikian pula, Allah (swt) menciptakan kita dari berbagai unsur di dalam tubuh kita, masing-masing melakukan tasbihnya sendiri dan melakukan fungsinya di dalam tubuh melalui tasbih itu.  Tetapi kita berjuang melawan kejahatan, berjuang untuk melalukan yang baik dan menghindari yang buruk, dan karena kita berada di tempat transisi itu, kita tidak dapat mendengar tasbih dari tubuh kita (yang secara konstan mengingat Allah).  Ketika salah satu bagian tubuh sedang sakit, itu disebabkan adanya perubahan di dalam tasbihnya yang membuatnya sakit, dan untuk menyembuhkannya, kalian harus mengubah tasbihnya, untuk menghilangkan penyakit itu dari tubuh.  Nabi (s) menyebutkan tentang ruqya, tawiiz, hijab, atau apapun kalian ingin menyebutkannya, yaitu untuk dibaca dan Aayaat asy-Syifaa’, enam ayat di dalam kitab suci al-Qur’an untuk menyembuhkan penyakit.[1]

Nabi (s) bersabda bahwa Surat al-Fatihah limaa quriyat lah, “Surat al-Fatihah dibaca untuk apa saja, ia akan menyembuhkan yang sakit,” dan membuat panjang umur melalui tasbih itu, yang kita lakukan (tanpa sengaja) dan kita tidak merasakannya. Kita katakan bahwa tubuh kita bertasbih karena segala sesuatu di alam semesta ini bertasbih dan kita adalah bagian dari alam semesta ini, sebagaimana firman Allah (swt) di dalam kitab suci al-Qur’an:

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ
Wa in min syay'in illa yusabihu bihamdih.
Dan tidak ada apapun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya! (Surat al-'Israa, 17:44)

Segala sesuatu bertasbih, tetapi kita tidak bisa memahami atau mendengarnya karena nafsu fisik kita, nafs/ego menguasai kita di dunia dan kekuasaannya mengalahkan sisi baik kita.  Allah (swt) ingin agar kita keluar dari kekuasaan ego yang buruk dan mengubahnya menjadi penguasaan oleh sisi baik kita.

Bukti bagi hal ini ada di dalam hadits dari Abu Dzarr al-Ghifar (r):

في حديث أبي ذر قال تناول رسول الله صلى الله عليه وسلم سبع حصيات فسبحن في يده حتى سمعت لهن حنينا ثم وضعهن في يد أبي بكر فسبحن ثم وضعهن في يد عمر فسبحن ثم وضعهن في يد عثمان فسبحن أخرجه البزار والطبراني في الأوسط وفي رواية الطبراني فسمع تسبيحهن من في الحلقة وفيه ثم دفعهن إلينا فلم يسبحن مع أحد منا

Tanawala an-Nabi (s) saba` hashaayaat, fa sabahna fi yaddih, hatta sami`ta lahu haniinan, tsumma wadha`hunna fii yad Abi Bakrin fasabihna tsumma wadh`ahunna fii yad `Umar fasabahna tsumma wadha`ahunna fii yadi `Utsmaan fa sabahna fasama`a tasbiihihinna man fi’l-halaqata wa fiihi tsumma dafa`hunna ilaynaa falam yusabihna ma` ahadun minnaa.

Nabi (s) mengambil tujuh butir batu, hasaayaat dengan tangan sucinya, dan mereka (batu-batu itu) bertasbih, mengagungkan Allah (swt) di tangannya, dan kami dapat mendengar tasbih mereka. Aku mendengar suaranya yang merdu dengan kerinduan (dengan kecintaan pada Nabi [s] dan kerinduan dengan kecintaan pada Allah [swt]).

Kalian lihat bagaimana mereka dulu hidup?  Tidak seperti sekarang, kita duduk dan salat di atas karpet lalu kalian melangkah keluar dan melihat rumput yang dipangkas rapi dan jalan yang bagus aspalnya.  Dulu hanya ada jalan kecil dan gang di antara rumah-rumah, dan semuanya dipenuhi kerikil kecil.  Nabi (s) duduk bersama para Sahabat dan beliau (s) mengambil tujuh butir batu dari lantai, yang artinya beliau (s) sedang duduk di suatu tempat, mungkin di sebuah rumah, dan tidak ada apa-apa (di bawah mereka) kecuali kerikil.  Apakah kalian duduk di atas kerikil sekarang?  Kaki kalian akan terasa nyeri, tetapi mereka duduk di atas kerikil!

Dan Allah (swt) berfirman bahwa segala sesuatu bertasbih, tetapi kalian tidak dapat mendengarnya, tetapi ketika batu-batu itu berada di dalam tangan yang suci (dari Nabi (s)), para Sahabat (r) dapat mendengarnya!

Batu-batu itu bukan hanya memuji Allah (swt) dan bertasbih, tetapi mereka juga merindukan Nabi (s), untuk berada di tangannya, bukan di lantai.  Dan setiap sel dari tubuh kita juga bertasbih, tetapi kita terhalang untuk mendengar tasbih mereka dan oleh sebab itu kita perlu bekerja untuk membersihkan diri kita dari segala gangguan yang membuat kita tidak bisa mendengar tasbih batu-batuan atau tubuh kita.

Dan hadits itu berlanjut:
Kemudian beliau (s) meletakkan ketujuh batu itu ke tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) dan mereka memuji Allah (swt) di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r).

Ia mengetahui karena ia mendengar tasbih di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), tetapi ia tidak mengatakan bahwa mereka ‘rindu’.  Kerinduan itu adalah adab, artinya batu-batu itu juga mempunyai adab!  Kita harus belajar tentang adab, artinya ketika Nabi (s) hadir, pandangan kalian hanya tertuju pada Nabi (s), bukan yang lain di dalam masjid atau majelis itu.  Jadi adab di dalam sebuah masjid adalah ketika guru telah hadir, kalian tidak berhak untuk memandang orang lain, kalau tidak kalian akan mengganggu pelajaran bila kalian melihat seseorang yang datang ke pintu.  Oleh sebab itu, ketika guru kalian sedang memberi pelajaran, kalian tidak boleh memandang yang lain, bahkan ke arah pintu.  Batu-batu tadi memperlihatkan kerinduannya ketika mereka berada di tangan Nabi (s), tetapi ketika berada di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) mereka bertasbih, tetapi tidak mempunyai kerinduan.

“Kemudian beliau (s) meletakkannya ke tangan Sayyidina `Umar (r), dan serupa halnya, mereka juga bertasbih dan beliau (s) meletakkannya ke tangan `Utsmaan (r), dan serupa juga mereka bertasbih memuji Allah (swt).”  (Bazzaar dan at-Tabarani).

Ia tidak mengatakan jenis tasbihnya, barangkali ‘subhaanAllah’ atau ‘alhamdulillah’ atau ‘laa ilaaha illa-Llah’ atau ‘Allahu Akbar.’

Dan dalam riwayat yang lain, hadits itu berlanjut:

Pada saat itu semua orang yang berada di sekeliling itu dapat mendengar tasbih (batu-batu itu).  Lalu Nabi (s) mengambilnya dari tangan Sayyidina `Utsmaan dan memberikannya ke tangan seorang Sahaabah, tetapi tidak ada yang dapat mendengar tasbih mereka saat itu dan mereka tidak bertasbih dengan suara keras ketika diletakkan di tangan Sahabat yang lain.

Jadi batu-batu kerikil itu melakukan tasbih dengan suara keras ketika berada di tangan Nabi (s), Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), Sayyidina `Umar (r) dan Sayyidina `Utsmaan (r), kemudian ketika Nabi (s) meletakannya ke tangan Sahabat yang lain, mereka tidak bersuara.  Sayyidina `Ali (r) tidak hadir pada saat itu.  Karena kita bukan Sahabat dan mereka pun tidak bisa mendengar lagi suara tasbihnya, bagaimana kita bisa mendengar tasbih dari tubuh kita?  Ada masalah di sini: kita tidak bisa mendengar.  Jadi untuk mengatasi masalah itu, kita harus melakukan tasbih dalam hati (diam) dan dengan lidah (suara keras) karena dengan demikian Allah akan mengaruniai tubuh kalian untuk lebih banyak bertasbih dan secara perlahan Allah akan membukakan bagi kita untuk dapat mendengarnya!  Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman,
من عادا لي وليا فقد آذنته بالحرب
Man `adaa lii waliyyan faqad aadzantahu bi ’l-harb.
Barang siapa yang menentang wali-Ku, Aku nyatakan perang terhadapnya. (Hadits Qudsi; Bukhari dari Abu Hurayrah)

Dan Allah (swt) berfirman:

عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏قال ‏‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إن الله قال ‏ ‏من عادى لي وليا فقد ‏ ‏آذنته ‏ ‏بالحرب وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه وما ترددت عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت وأنا أكره مساءته ‏
ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره
الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها،

Man `adaa lii waliyan faqad aadzantahu bi ’l-harb wa maa taqarraba ilayya `abdii bi-syayy’in ahabba ilayya mimmaa ’ftaradhtu `alayhi wa maa yazaalu `abdii yataqarabu ilayya bi’ n-nawaafil hatta uhibbah. Fa idzaa ahbaabtahu kuntu sama`uhulladzii yasma`u bihi wa basharahulladzii yubshiru bihi, wa yadahulladzii yabthisyu bihaa wa rijlahullatii yamsyii bihaa.

Barang siapa menentang seorang Wali-Ku, sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya.  Dan hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Kuwajibkan atas mereka, dan hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku melalui ibadah sunnah (nawafil) sampai Aku mencintainya.  Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia melakukan sesuatu, dan kakinya yang dengannya ia berjalan (dan dalam versi lain termasuk juga, “dan lidahnya yang dengannya ia berbicara”). (Hadits Qudsi, Bukhari)

Jadi, jika kita melakukan tasbih lebih banyak secara sukarela, kita akan mencapai level itu.
Dan di dalam hadits lain dari Imam Bukhari sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mas`uud:

كنا نأكل مع النبي صلى الله عليه وسلم الطعام ونحن نسمع تسبيح الطعام

Kunna naakul ma` an-Nabi (s) ath-tha`am, wa nahnu nasma` tasbiih ath-tha`m.
Kami duduk dengan Nabi (s) untuk makan dan kami mendengar makanan itu bertasbih dan bershalawat atas Nabi (s).

Meskipun ia dimasak dalam api, makanan itu tetap bertasbih!  Jika dipanaskan dengan api, ia terbakar, dan jika dididihkan seluruh rasanya akan berubah, tetapi ia tetap bertasbih.  Jadi bagaimana dengan tubuh kita?  Apakah mereka bertasbih?  Ya, tetapi kita tidak mendengarnya.  Jadi semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memberkati semua Mukmin dan Muslim di seluruh dunia, apapun latar belakang mereka.

(Du`a.)
(Salaat al-Jumu`ah.)



© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

07 August 2011

Zaman Facebook dan Youtube

Catatan Buram

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q)

Khotbah Jumat, 5 Agustus 2011

Burton, MI

Alhamdulillah, nasta`iinahu wa nastaghfirahu wa nastahdii wa na`uudzu billah min syuruuri anfusina wa in sayyiaati `amaalin. man yahdillah fa laa mudilla lahu wa man yudlil fa laa haadiya lah wa nasyhadu an laa ilaaha ill-Llah wahdahu laa syariika lah

wa laa matsiil lah fii `uluuwi syaanihi wa `azhiimi sulthaanih. wa nasyhadu anna sayyidina wa mawlana Muhammadan `abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh arsalahu ta`ala min arjaahi 'l-`alami miizaanan, wa awdhahaha bayaanan, wa afasahiha lisaanan, fa awdahat-thariiqata wa nasaha 'l-khaliiqa shall-Llahu ta`ala `alayhi wa `ala aalihi wa ash haabihi wa azwaajih wa dzurriyyatihi ajma`iin, khusuusan minhum `ala a'immati khulafaa'i rasuulillahi `ala at-tahqiiq, umaraa'il-muminiina hadraat Abi Bakrin wa `Umarin wa `Utsmaanin wa `Aliyy wa `ala baqiyatis-shahabati wat-tabi`iin ridhwaanullahi ta`ala `alayhimn ajma`eiin.

ayyuhal-muminuuna'l-haadhiruun. ittaqullaha ta`ala wa athii`uuh. Inna Allah ma` 'Lladziina taqaw walladziina hum muhsinuun.

nammuru fii zaman, zaman al-ibaahiyaat wa zaman al-internet wa haahuw al-islam yataathar bi hadzi al-barnamaja allatii tazhar `ala youtube wa facebook.

Kita melewati suatu masa di mana kita menghadapi masalah utama yaitu kita menyaksikan dan menggunakan facebook dan youtube dan teknologi lainnya yang disediakan oleh internet. Itu bukan lagi suatu peradaban, itu adalah suautu ketidakpedulian terburuk di mana kita terjatuh ke dalamnya.

Orang mungkin berkata, “Mengapa engkau mengatakan hal ini? Kami menggunakan internet untuk hal-hal yang legal yang kami butuhkan.” Saya bisa mengatakan, ”Ya, tetapi mungkin itu hanya 10% dan 90% lainnya digunakan untuk youtube dan facebook dan google dan yahoo kecuali untuk penggunaan seksual dan film porno seksual. Kalian kehilangan anak kalian karena kalian membesarkannya dengan cara yang salah dan anak-anak sekarang tahu bagaimana menggunakan komputer dan kalian membiarkan anak-anak duduk di belakang komputer dan menyaksikan program yang tidak diperbolehkan, dan jangan membuat alasan. Alasan kalian ditolak. Kalian mengatakan bahwa kita harus mengikuti zaman. Tidak, zamanlah yang harus mengikuti kita.

Nabi (s) menyebutkan banyak hal bagi kita agar mereka akan memberikan kita program-program surgawi yang dapat kita lihat dan kita gunakan, tetapi sayayngnya fokus kita hanyalah dunia, tidak ada yang untuk akhirat.

Nabi (s) menyebutkan bahwa, ”Cintamu tidak boleh ditujukan untuk sesuatu di dunia ini kecuali untukku.” Cinta kita harus diarahkan kepada Nabi kita (s). Kita harus membesarkan anak-anak kita untuk mencintai Nabi (s). Mereka tidak tahu, siapa itu Nabi (s). Mereka tidak tahu apa-apa, kecuali pohon Natal.

Ketika pertama kali saya datang ke negeri ini pada tahun 1991, yait ke New Jersey, kota Jersey dan seseorang yang banyak memberikan dukungan kepada masjid-masjid mengundang banyak tamu dan saya di antaranya. Dan itu terjadi di bulan Desember. Saya melihat banyak imam di sana dan mereka semua adalah orang-orang terhormat. Saya melihat-lihat dan di sudut ruang keluarganya saya melihat sebuah pohon Natal yang besar sekali, walaupun ia adalah seorang Muslim. Tidak ada orang yang mengatakan sesuatu, kecuali memujinya karena ia banyak membantu masjid-masjid.

Saya berkata, ”Dapatkah saya mengatakan sesuatu?” Ia berkata, “Ya.” Saya bertanya berapa banyak putra yang dimilikinya. Ia berkata 2, dan kemudian ia membawa mereka. Saya bertanya kepada mereka, “Siapa nabimu?” Mereka berkata, “Kami tidak tahu.” Saya bertanya, “Apakah engkau Muslim?” Mereka menjawab, “Ya.” Untuk menjadi seorang Muslim, seseorang harus mengucapkan, “Asyhadu an la ilaha ill 'Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.” Dan saya berkata, “Ini apa?” “Ini adalah pohon Natal.” “Dan itu untuk siapa?” “Itu untuk Yesus.” Dan orang itu merasa malu karena anaknya tidak tahu apa-apa mengenai Islam dan mengenai Nabi (s), yang mereka tahu hanyalah Yesus dan Natal.

Tidak ada yang menasihatinya, imam-imam ini, masukkan ke dalam kotak. Manfaat apa yang bisa kalian dapatkan dari itu? Kalian membiarkan anak-anak kalian menjadi rusak. Dan kalian tidak mendapat manfaat apa-apa di akhirat dan lebih baik kembali ke tempat asal kalian, jika di sana lebih baik, karena banyak tempat yang telah menjadi kebarat-baratan sekarang.

Saya tidak mengatakan bahwa kejadian ini terjadi di Timur Tengah. Mereka memaksa untuk menggunakan facebook. Tetapi bagi anak-anak kalian menyaksikan film-film yang buruk yang… kalian tidak mengajarkan anak-anak untuk belajar mencintai Nabi (s) dan kalian membiarkan mereka mengejar nafsu syahwatnya. Ketika kami masih muda, kami tidak membicarakan masalah seksual. Kami tidak mengetahui apa-apa, kami “bodoh dan tidak tahu apa-apa” tetapi dari sisi lain, kami mampu memenangkan sisi lainnya, dengan berkah Allah dan berkah Nabi (s).

Dan sekarang mereka menjelajahi seluruh website, tidak hanya di computer, tetapi juga di telepon seluler mereka. Mereka sedang mengikuti salat Jumat dan mereka mengecek pesan-pesan di telepon mereka. Kalian tidak bisa meluangkan waktu 5 menit untuk Islam.

Dan Nabi (s) berkata, “Apakah engkau mencintaiku?” Apakah kalian sungguh mencintainya? Kalau ya, maka kalian akan bersamanya. Jadi, buatlah agar anak-anak kalian bersama dengan Nabi mereka. Katakan kepada mereka bahwa mereka salah, kirimkan mereka ke sekolah Muslim dan pada hari Sabtu dan Minggu, jangan biarkan mereka duduk dan menonton TV sepanjang hari. Dan orang tua mendorong mereka untuk mempunyai pacar. Ini adalah Ramadan. Allah berfriman, “fa dzakkir! Ingatkan, kalian suka bila kalian suka dan kalian tidak, bila tidak.” Jadi Nabi (s) mengatakan, ”Apakah engkau menyukaiku?” Jika kalian menyukai Nabi (s), maka ikutilah apa yang beliau ajarkan dan hindari apa-apa yang buruk. ”Jika engkau mencintaiku, maka hidupkanlah sunahku.”

Nabi (s) bersabda, “ma ahya sunnatii faqad ahabani.” “Siapa yang menghidupkan sunahku, berarti ia mencintaiku.” Dan sunah Nabi (s) bukan saja untuk memakai pakaian (sunah) dan turban. Lebih baik untuk tidak memakai turban dan pakaian sunah daripada melihat facebook dan sejenisnya.

Dan sekolah mengatakan bahwa kalian harus melakukan suatu penelitian mengenai ini dan itu. Lalu kalian sampai pada pria dan wanita telanjang di internet dan nafsu syahwat kalian muncul dan kalian mengikutinya. Dan sekolah itu bisa masuk ke Neraka. Mereka mendorong anak-anak sejak usia dini untuk melakukan hal yang salah. Mereka berkata bahwa kalian harus mempunyai pacar. Jika tidak—kalian kini berada di puncak peradaban—berarti kalian ketinggalan zaman.

Bukankah mereka mengajarkan itu di sekolah? [haqq]. Jadi mereka mendorong untuk melakukan perbuatan yang haram sejak awal. Jadi, jika mereka tidak membesarkan anak-anak untuk mengetahui apa yang benar dan apa salah sejak masa kanak-kanak, maka mereka akan berpikir bahwa apa yang diajarkan di sekolah itu adalah benar. Setiap orang di sana melalakukan sesuatu yang haram dan tak ada yang melakukan yang halal.

Jadi sunah bukannya untuk memakai pakaian yang longgar dan turban. Lebih baik untuk menghentikan yang haram daripada memakai pakaian seperti itu. Lebih baik untuk mengajarkan masyarakat kalian dan memulainya dari diri kalian sendiri lalu keluarga kalian dan saudara-saudara kalian, baru kepada masyarakat. Jangan langsung pergi kepada kerabat dan masyarakat dan berusaha untuk memperbaiki mereka. Perbaikilah dulu keluarga kalian, perbaiki sampai benar. Barulah kalian bisa melakukannya pada masyarakat. Pertama lihat dulu di sekeliling kalian. Jika kalian mengatakan bahwa kalian mencintai Nabi (s), lakukanlah sunah beliau. Apakah menurut kalian sunah beliau memperbolehkan kalian melihat sesuatu di facebook atau youtube yang tidak dapat diterima? Jika menurut kalian, sunah beliau memperbolehkan melakukannya, maka kerjakanlah. Tetapi bila tidak, bahkan jika hanya satu bagian saja, 1% saja mengatakan tidak, berarti itu tidak bisa diterima dan tinggalkanlah hal itu. Bahkan jika kurang dari 1%. Mereka menguji kita apa yang bisa kita terima dan yang tidak.

Dan Nabi (s) bersabda, “Siapa yang menghidupkan sunahku, berarti ia mencintaiku.” Buatlah agar anak-anak kalian mencintai Nabi (s). Saya bertanya kepada anak-anak di New York, apakah mereka merayakan Mawlid. Mereka berkata, “Apakah mawlid itu?” “Apakah kalian merayakan Natal?” “Ya.” Tetapi mereka mengatakan kepada saya di dalam pertemuan itu bahwa itu adalah bid`ah. Mereka ada di sana bersama pohon Natal, apakah itu bukan bid`ah? Mereka bertemu dan minum di malam itu dan bersorak, “Hoorah!”

“Dan dengan mencintaiku, akan bersamaku di surga.” Jadi pastikan tidak ada lagi facebook kecuali untuk bekerja. Facebook tidak mempunyai fasilitas untuk pencarian seperti google. Apakah ia mempunyainya? Itu hanyalah tentang jejaring social. Jadi kalian tidak perlu tertarik pada facebook. Itu adalah haram. Batalkan facebook, ia tidak mengajarkan sesuatu yang baik pada kalian. Seluruh manusia telajang muncul dengan ekor mereka. Kalian menerima seorang teman dan teman itu kemudian akan datang dengan semua temannya kepada kalian.

Dan Nabi (s) bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang beriman, imannya belum sempurna benar, sampai ia mencintaiku melebihi cintanya pada anaknya.” Siapa yang lebih kalian cintai, anak atau istri kalian? Anak kalian mengatakan kebenaran.

Jadi Nabi (s) bersabda, “Kalian harus mencintaiku melebihi anak-anak kalian dan orang tua kalian, ibu dan ayah dan semua orang yang lain agar dapat dikatakan sebagai beriman.” Jadi apa yang harus kita lakukan? Lebih baik untuk menundukkan kepala kita ke bawah dan beristighfar daripada menasihati orang lain. Pertama perbaiki diri kalian dulu, setelah itu barulah menasihati yang lain.

“Dan bahkan terhadap seluruh manusia, Aku harus lebih dicintai daripada mereka semua, bahkan diri kalian sendiri.” Apakah kalian mencintai Nabi (s) lebih dari diri kalian sendiri? Jawab, ya atau tidak! Katakan ya, innama al-`amaalu bin-niyyaat. Segala sesuatu adalah berdasarkan niat. Besarkan mereka dengan belajar salat sejak kanak-kanak. Kalian akan ditanya di Hari Perhitungan bila kalian membiarkan anak-anak kalian tersesat dan menyimpang.

Ada banyak alasan bahwa Allah akan mengampuni. Kita memohon kepada Allah untuk mengampuni kita dan membimbing kita ke jalan yang benar, jalannya kaum Ahl as-Sunnah wa 'l-Jama'ah, jalan bagi orang-orang yang mencintai Nabi (s).

fa yaa fawzan lil-mustaghfiriin astaghfirullah.

...[duduk kemudian melanjutkan khotbah kedua]

Mereka hanya mengajarkan kita untuk menjadi sekuler. Apakah ada yang lain yang mengajarkan kita menjadi sekuler? Menjadi sekuler atau seksual, pilih salah satu. Baik menjadi sekuler dengan tidak menerima apapun atau untuk menerima agama dan menerima untuk mempunyai pacar. Terkutuk mereka!

doa

http://media.islamicsupremecouncil.org/Khutbat_al_Jum_a-3691.html


21 May 2011

Mencintai adalah Penting


Sultan al-Awliya

Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani

12 Januari 2011 Lefke, Siprus


A`uudzu billahi min asy-Syaythani ‘r-rajiim. Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim
Yang terbaik dari semua pekerjaan adalah memberi kebahagiaan ke dalam hati orang-orang yang beriman. Al mar’uu ma` man ahabb, “Seseorang adalah bersama dengan orang yang dicintainya.” Jika seorang pemeluk Kristen mencintai seorang Muslim, maka ia tidak akan masuk Neraka, itu adalah fatwa dari Junjungan seluruh Rasul, sayyid ul-rasul (s). Huruf “alif’” dan “laam” di dalam “al-marr” tertuju pada genus manusia (bukan hanya Muslim). Jadi seseorang yang mencintai orang tertentu, akan bersama orang itu. Sabaqat rahmatii `alaa ghadabi, “Rahmat-Ku melebihi Kemurkaan-Ku.” Sepanjang Jumat, ketika tidak ada orang, saya mulai menari karena cinta kepada Tuhan kita, Jalla wa `alaa. Allah, Allahu Akbaru ‘l -Akbar. Ini semua adalah Kebesaran Tuhan! Ini penting. Ini adalah samudra!

12 February 2009

Agar Lebih Dekat Kepada-Nya

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Hati laksana sebuah wadah.  Jika kalian menggunakan wadah itu, lalu memenuhinya dengan air maka kalian tidak bisa memasukkan susu ke dalam wadah yang sama.  Jika wadah itu penuh dengan susu, kalian tak dapat mengisinya lagi dengan minyak.  Jika kalian penuhi dengan minyak, maka teh tak dapat dimasukkan.  Wadah  itu hanya bisa terisi dengan salah satunya saja. 

Salah satu dari sifat buruk dari tubuh fisik adalah melekatnya cinta pada dunia dan segala hal yang berada di atas bumi ini.  Kebanyakan manusia terpikat, mengejar, dan memenuhi hatinya dengan cinta terhadap dunia ini sehingga tidak ada tempat lagi akan cinta pada Tuhan. Walaupun mereka mengatakan, “Tuhan adalah cinta,” mereka semua pembohong.  Tuhan bukanlah cinta dan cinta bukanlah Tuhan, namun ada cinta untuk Tuhan yang mampu membuat kalian mendekati Hadirat-Nya. 

Jika kalian membersihkan hati dari cinta dunia yang sementara ini, maka cinta abadi itu akan memasuki hati kalian.  Cinta abadi itu akan meningkatkankan kekuatan spiritual dan memudahkan kalian mencapai Hadirat-Nya. Jika kalian mampu melakukannya, kalian akan menemukan manfaat yang hakiki dan abadi.

Cinta Ilahi

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Oh Allah, anugerahkanlah kami cinta-Mu,

Dan cinta kepada siapapun yang mencintai-Mu

Dan amalan yang akan membimbing kami kepada cinta-Mu.

(sebuah doa Nabi Muhammad SAW)

 

Semoga Allah SWT menjadikan kita bersama awliya-Nya.  Tidak mudah menjadi awliya Allah, dan mungkin saja menjadi awliya Allah terlalu besar buat kita, tetapi setidaknya kita harus berusaha menjadi teman dari awliya-Nya.  Saya tidak mengklaim bahwa saya adalah awliya Allah dan saya malu mengatakan, “Oh Tuhanku, jadikan aku salah satu awliya-Mu.”  Tetapi saya memohon kepada Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa agar Dia memberkati saya untuk bersama awliya-Nya yang terbaik, dan menjadi sahabat awliya-Nya.  Inilah titik terendah dari iman dan di bawahnya tidak ada level lagi.  Bagi yang mencintai awliya Allah, bahkan bila dia tidak berbuat baik, maka (cintanya pada awliya Allah) seharusnya dapat menjadi satu alasan untuk keselamatannya.  Tidak mungkin dia meninggal (dalam keadaan) buruk (inhatima).  Ya, dia tidak akan berakhir dengan buruk.  Itulah Muhabba, cinta, yang ada di hatinya, menjaganya bersama awliya Allah. Islam dibangun dengan fondasi cinta dari awal hingga akhir. 

Pada mulanya Sayyidina Muhammad SAW, kekasih Allah.  Allah SWT mencintai beliau dan susunan (jiwa) beliau bercampur dengan Cinta Ilahi.  Dia menjadi Habibullah (kekasih Allah).  Allah SWT memberkati beliau dari Cinta Ilahiah-Nya.  Sayyidina Muhammad SAW diambil dari Allah SWT, inilah Muhabba, inilah Cinta Ilahiah dan beliau memberikannya juga kepada para Sahabat.  Apabila beliau tidak memberikan Cinta Ilahi kepada para Sahabat, maka Sahabat tidak dapat mencintai beliau. 

Suatu hari Hazrat Umar RA—yang sangat mencintai Nabi Muhammad SAW—berkata, “Ya Rasulallah SAW, aku mencintaimu, aku mencintaimu melebihi cintaku kepada keluargaku dan anak-anakku yang mengharapkan cinta yang kumiliki.”  Kemudian Nabi SAW bersabda padanya, “Ya Umar RA, sampai engkau mencintaiku melebihi kemampuanmu, kau tidak akan mencapai kamal ul iman (Iman yang sempurna).”  Mendengar ucapan Nabi SAW ini, Sayyidina Umar RA berusaha meningkatkan levelnya seperti yang diperintahkan Nabi SAW.  Inilah sebuah kekuatan mengagumkan (mukjizat) dari Nabi SAW.  Dengan sangat cepat, dan dalam waktu yang amat singkat, beliau membuat Sayyidina Umar RA mengatakan bahwa ia mencintai beliau melebihi dirinya sendiri.  Rasulullah SAW mengangkat Umar RA (ke level yang lebih tinggi) dengan diam-diam.  Semua Sahabat mencintai Nabi SAW dari jiwa mereka.  Jangan berpikir bahwa kejadian di atas hanya terjadi kepada Sayyidina Umar RA, tidak!  Itu terbuka bagi semua umat Nabi Muhammad SAW dan semua bangsa.  Ya, siapapun dapat mencintai Nabi Muhammad SAW lebih dari jiwanya sendiri. 

Para Sahabat mencintai Nabi Muhammad SAW sepenuhnya.  Mereka dipenuhi Cinta Ilahi, Muhabbah.  Dengan perasaan penuh cinta kepada Rasulullah SAW, mereka menjelajah melintasi timur dan barat mengabarkan amanat Nabi SAW kepada semua orang.  Para Sahabat tidak mengetahui bahasa setiap bangsa yang mereka temui ketika berkhotbah. Ketika mereka berkhotbah, orang-orang berkumpul mengelilingi Sahabat dan mendengarkan walaupun mereka tidak mengerti bahasa yang dipakai, tetapi pusat cinta dalam hati mereka berbicara kepada Sahabat.  Mungkin para Sahabat hanya melafalkan Kitab Suci Alquran, tetapi cinta (yang dimiliki para Sahabat) tersalur melalui lafal (Alquran) telah menyentuh kalbu pendengarnya.  Karenanya Islam dapat berkembang dari timur dan barat dalam kurun waktu yang singkat, seperempat abad atau 25 tahun.  Itulah keajaiban.  Jika orang Eropa mempunyai kepandaian untuk memikirkan hal ini, mereka akan masuk Islam.  Mereka akan mengucapkan, “Asyhadu An La Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasulullah.” (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad adalah Rasul Allah). 

Sebuah revolusi yang tidak pernah terjadi di muka bumi sebelumnya, jadi dalam waktu singkat satu agama baru tersebar melintasi timur dan barat dengan kekuatan penuh. Rasululllah SAW mengubah banyak bangsa dan hal tersebut merupakan mukjizat yang besar, tetapi saat ini orang-orang tidak beriman yang fanatik dan musuh-musuh nyata yang fanatik (mutassim) tidak pernah memikirkan tentang hal ini. Bagaimana mungkin seorang yang buta huruf, melewati padang pasir yang tak dikenal, dan datang dari orang yang tidak dikenal pula, dapat mengucapkan, “la ilaha illahllah” dan juga mengucapkan, “Aku akan memperoleh kemenangan, aku datang untuk menghancurkan yang batil.”  Dan beliau menghancurkannya (kebatilan) dan juga meraih kemenangan.  Tetapi orang-orang Eropa tidak dapat memikirkan hal ini karena mereka menginginkan yang haqq (kebenaran) berasal dari bangsa mereka bukan melalui Islam. 

Ya, kita mengatakan Muhabbat--cinta--membuat Islam memasuki hati semua bangsa.  Para Sahabat pergi ke seluruh pelosok bumi dari timur jauh ke barat jauh. Mungkin kepada lebih dari 70 suku bangsa dan berkhotbah di hadapan orang-orang yang berbicara dengan 100 bahasa berbeda.  Para Sahabat hanya bisa menggunakan bahasa Arab.  Seperti yang telah ditakdirkan padanya.  Bagaimana bisa Sahabat berdakwah, dan Islam dapat memasuki hati pendengarnya?  Kalian bicara, hanya memakai lidah dan tidak dari dalam hati sehingga tidak ada yang mendengarkan kalian.  Tetapi hati kalian berkata, “minal kalbi minal dalwish a lilaa.”  Kami saat ini berusaha mengembalikan metode tersebut kepada umat melalui tarekat.  Kami ingin membawa cinta kembali ke umat, karena tanpa cinta, maka kalian tidak mungkin mengikuti satu orang. 

Apabila kalian tidak bisa memberikan Muhabba—cinta—ke  dalam hati, maka kalian tidak bisa menghubungkan antara satu dunia dengan dunia lain.  Tujuan kami adalah membuat umat saling menyayangi.  Tidak mungkin umat saling menyayangi tanpa adanya cinta kepada Allah SWT.  Hanya yang berada dalam satu jalur dapat bersama.  Tidak ada kecemburuan, kebencian, dan permusuhan di antara mereka.  Ketika seseorang bertemu dengan yang lain dalam Samudra Cinta Ilahi tidaklah mungkin merasa cemburu, benci, permusuhan, dan iri hati.  Tidak mungkin. Ya, itu tidak mungkin. 

Saya adalah orang asing di negara ini dan kemarin saya bertemu beberapa orang dan mereka tidak pernah saya temui sebelumnya.  Mereka bertengkar untuk menemui saya, mendorong ke sana-sini, mencium tangan saya dan berusaha memperoleh sesuatu dari saya.  Bagaimana rasa cinta itu datang kepada mereka untuk saya.  Saya belum pernah melihat mereka sebelumnya.  Mereka bertemu saya baru satu kali dan mereka berusaha menyerang saya dengan cinta yang mereka miliki.  Darimanakah cinta ini datang? Cinta datang dari kekuatan rahasia iman, dari sebuah jalur rahasia Nabi SAW,  dan datang dari hati ke hati.  Hanya hati yang mengerti apa yang saya maksudkan.  Ya, ini penting. Kami memohon agar rasa cinta ini menjadi hal umum bagi semua komunitas muslim.  Mereka pasti jatuh cinta. 

Pemimpin suku Quraisy mendatangi paman Nabi SAW dan berkata, “Katakan kepada keponakanmu kalau kami akan memberikan semua yang dia mau.  Kami akan memberikan dia apapun yang dia inginkan dari harta kami dan dari anak-anak perempuan kami.  Ya, kami bahkan akan menjadikan dia sebagai raja kami.  Dengan satu syarat yaitu dia harus berhenti berdakwah.”  Paman Nabi SAW memberitahukan hal ini kepada beliau dan Nabi SAW  menjawab, “Walaupun mereka memberikan aku matahari di tanganku dan bulan di tangan lainnya, aku tidak akan menghentikan dakwah, dan aku tidak menginginkan apapun dari mereka untuk dakwah yang aku lakukan.” 

Itulah fondasi dari Islam dan Nabi SAW mengajarkannya kepada Sahabat. Mereka hanya berkata, “illahi anta maqshudi” (Oh Tuhanku, kami hanya memohon keridaan-Mu, jika Engkau rida kepada kami, itulah puncak tujuan kami, tidak ada lainnya).  Dalam dakwah, kami tidak meminta apapun dari kalian, baik untuk diri kami sendiri ataupun untuk orang lain di negara kami.  Tujuan saya adalah Cinta Ilahi yang ada di dalam hati saya dapat diraih oleh hati orang-orang beriman.  Apakah menurut kalian cinta yang ada dalam hati kita tidak cukup untuk semua bangsa?  Jangan berprasangka.  Bahkan apabila satu hati mencapai Cinta Ilahi, cinta dari hati tersebut akan cukup untuk mencapai hati semua bangsa. 

Kalian pasti telah mendengar tentang sumur air Zam Zam. Meskipun jika semua bangsa telah menggunakan air itu, sumurnya tidak akan pernah kering.  Itu tidak mungkin. Begitu juga dengan hati, ini lebih penting.  Cinta Ilahi yang mengalir di hati kita sudah cukup bagi semua hati manusia dari semua suku bangsa.  Jika Allah SWT berkehendak (Insya Allah) kami memohon—apa yang telah Allah SWT anugerahkan kepada saya dan kalian—dan kita memohon agar kita dapat membuat Cinta Ilahi dapat dicapai oleh semua manusia dan dengan ini membuat mereka hidup, tidak pernah mati dan hidup abadi.  Fatiha. 

Wa min Allah at tawfiq

10 December 2008

Berikan Lebih Banyak Cinta kepada-Nya

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Wahai manusia! Kita harus berusaha untuk meningkatkan kecintaan kita kepada Allah SWT hari demi hari.  Berusahalah untuk mengisi salat kalian dengan lebih banyak cinta.  Hal itu akan membuat salat kalian terasa manis dan kehidupan kalian pun menjadi manis.  Kebanyakan orang tidak mengetahui hal ini.  Mereka memohon agar diberikan kehidupan yang manis, tetapi mereka tidak tahu bahwa itu berasal dari manisnya beribadah dan ini berasal dari kecintaan terhadap Allah SWT.  Jika kalian memasukkan sesendok gula ke dalam secangkir teh, teh itu akan menjadi manis.  Jika kalian memasukkan dua sendok gula, tehnya terasa lebih manis.  Jadi masukkanlah lebih banyak cinta agar ibadah kalian menjadi manis!  Kalian harus memohon agar diberikan lebih banyak cinta dari Allah SWT.  Kita berharap agar Allah SWT mengaruniakannya kepada kita demi kemuliaan Rasulullah SAW.  

Wa min Allah at tawfiq

11 November 2008

Keajaiban dalam Naqsybandiyyah

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir ra
hmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Mu
hammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Jika kalian ingin mencari orang-orang suci, kalian akan menemukannya.  Jika kalian mencari orang alim, orang baik atau pun orang jahat, kalian pun akan menemukannya.  Apa pun niat kalian, kalian akan menemukannya.  Siapa yang meletakkan niat itu pada hati kalian?  Tuhanlah yang meletakkannya.

Saat itu saya masih muda, di pertengahan tahun 50-an.  Saya sedang bersama kakak saya yang tertua, usia kakak saya saat itu 25  tahun; kami berada di Masjid Agung Beirut.  Tiba waktunya salat Ashar dan paman saya, seorang mufti sedang menjadi imam.

Seorang laki-laki memasuki masjid, janggutnya hitam, duduk di sebelah kakak saya.  Sejak kecil kakak saya sudah mencari orang-orang suci.  Orang yang duduk di sebelahnya sangat tampan bermata biru dengan sebuah surban.  Selesai salat, ia menyapa kakak, “Engkau yang bernama Salim?”  Kakak menjawab, “Ya, bagaimana Anda mengetahuinya?” Jawab beliau, “Jangan tanya.  Engkau seorang Naqsybandi.” Itu pun sebenarnya bukan pertanyaan, namun kakak menjawab, “Ya!”  Beliau berkata lagi, “Engkau ada di cabang Naqsybandi, tetapi bukan di batang utama.  Saya dikirim oleh Syekh saya, Syekh `Abdullah QS, dari Damaskus.  Saat ini waktunya engkau pergi menemui beliau.”  Utusan itu tidak lain adalah Syekh Nazim QS.  Saya baru berumur 10 tahun saat itu.

Ketika hati mencari orang suci, kalian akan menemukannya dan ketika hati kalian akan mengatakan, “Inilah orang suci,” maka ego kalian mengatakan, “Tidak!”  Ketahuilah bahwa ada beberapa kenyataan di sana.  Kami terkesan dengan orang itu.  Kami mencintainya karena aura yang dipancarkan.  Kakak membawa utusan itu pada paman kami.  Beliau menginap, lalu katanya, “Ikutlah dengan saya ke Damaskus.”  Lalu kami pun berangkat keesokan harinya.

Subhanallah!  Saat kami melihat Grandsyekh `Abdullah QS, kami dipenuhi rasa ketertarikan yang besar.  Kami melihat semua Syekh dari Suriah mendatangi beliau, padahal Grandsyekh tidak bisa membaca dan menulis.  Ulama-ulama besar dengan turban besar berdampingan dengan milik kami yang mungil.  Mereka berumur 70 atau 80 tahun, datang dan duduk seperti anak kecil di depan Grandsyekh.  Dan saat beliau membuka nasihatnya, ilmu mereka tidak ada apa-apanya di hadapan Grandsyekh.  Mereka menemukan sesuatu yang luar biasa.  Beliau memberi penjelasan yang belum pernah didengar sebelumnya.  Kami sungguh terkesima mulai  saat itu sampai sekarang, Alhamdulillah, hubungan itu masih ada.

Orang suci mendatangi kalian; hanya sekali.  Jika kalian tidak “menangkap”-nya,  mereka tidak akan datang pada kedua kalinya.  Kalian harus waspada.  Mereka bukan seperti ulama-ulama, yang kadang-kadang berkunjung dari pintu ke pintu.  Ulama al-huruuf,  mereka yang belajar kata-kata dan huruf  - yang senang mengejar orang-orang untuk datang pada kelas-kelas mereka saat mereka tidak punya apa-apa lagi.

Namun orang-orang suci mempunyai segalanya, dan mereka hanya datang sekali saja.  Lalu kalian pun  terhubung.  Kemudian mereka meninggalkan kalian.  Di mana pun mereka menginginkan kalian, mereka hanya menarik tali itu kembali dan kalian pun datang di hadapannya.

Satu menit dalam asosiasi adalah cukup bagi kita untuk ditarik bersama mereka pada saat kiamat nanti.  Namun setiap orang harus waspada, orang-orang suci itu datang hanya sekali, tidak dua kali.  Mereka tidak suka memaksa. Jika kalian cocok, itu bagus.  Jika kalian melepaskannya, maka kalian telah kehilangan mereka dalam kehidupan ini,  bukan di akhirat nanti.

Jika kalian pernah duduk bersama mereka, hal itu sudah cukup; namun bila kalian melepaskan hubungan tersebut, kalian tidak akan merasa bahagia atau tidak berkembang secara spiritual.  Jangan biarkan berbagai keraguan memasuki pikiran kalian; jangan biarkan hati kalian gundah dan menjadi loyo.  Mereka tidak meminta apa pun dan dari siapa pun.  Mereka hanya bekerja untuk Allah SWT.  Siapa yang mempercayainya, mereka akan mendapat manfaat. Barangsiapa yang tidak, dialah orang yang merugi.  Mereka tidak menyeru siapa pun untuk datang dan mempercayai mereka.

Orang-orang bertanya pada Mawlana Syekh Nazim QS, “Mengapa Anda tidak menyeru orang-orang untuk datang?”  Jawab beliau, “Apa yang dikirim oleh Tuhan, mereka itulah yang telah terseleksi.  Kami tidak ingin yang lain.  Banyak orang di luar sana, kalian dapat mendatangi mereka.  Saya biarkan mereka untuk yang lain.  Yang saya inginkan adalah mereka yang terpilih.  Yang tidak terpilih akan datang dan pergi seperti pada sebuah saringan.  Yang tertinggal adalah yang telah terseleksi.”

Orang-orang suci membutuhkan orang-orang yang terseleksi.  Mereka tidak menginginkan “sisa” – bukan maksudnya menghina hati seseorang, tetapi menghormati “karakter moral” seseorang.  Apa yang tersisa akan dibuang.  Jadi jangan hilangkan kesempatan itu dan menjadi kelompok “sisa” yang terbuang.  Seperti ditulis dalam al-Qur’an, “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” [QS 2:3]

Kalian harus beriman pada yang gaib.  Mengapa guru-guru sufi Naqsybandiyyah memerintahkan untuk tidak menunjukkan keajaiban.  Jika saya menembus dinding ini dan berada di sisi yang lain, kalian pasti akan percaya.  Tetapi apa nilai di balik kepercayaan kalian itu?  Tak ada sama sekali!

Itulah sebabnya pilar utama dalam Islam adalah iman pada yang gaib (tidak terlihat).  Jika kalian bisa melihat sesuatu, itu bukan lagi percaya (iman) karena ada bukti.  Mengapa para sahabat itu menjadi teman Nabi SAW dan mencapai tingkat yang tinggi?  Sebab mereka percaya pada hal-hal yang gaib.  Nabi SAW datang ketika semua menyembah pujaan mereka.  Beliau bersabda, “Tinggalkan pujaan itu dan sembahlah Allah SWT”  Karena mereka akhirnya percaya pada yang gaib, maka Allah SWT tambahkan keimanan mereka.  Seperti yang Dia katakan dalam Quran, “Wahai orang-orang yang beriman, percayalah pada Tuhan dan Nabi-Nya.”

Ada tiga tingkatan dalam ajaran Naqsybandi:

`Ilmul Yaqin, keyakinan dengan ilmu

`Aynul Yaqin, keyakinan dengan mata atau keyakinan karena melihat 

Haqqul Yaqin, keyakinan sepenuhnya.

Namun sebelum mencapai tingkat pemahaman ini, kalian harus mencapai tiga tingkat sebelumnya, yaitu:

Mahabbatullaah, cinta pada Allah SWT;

Mahabbatu`l-Habib, cinta pada Nabi SAW

Mahabbatul-masyaayikh,  cinta pada orang-orang suci

Jika seorang pria mencintai seorang wanita, dan juga sebaliknya - dia akan selalu hadir dalam hatinya.  Kalian akan terbayang terus akan wanita itu, mengingatnya, baik lewat telepon, mengirim mawar atau mengajaknya pergi piknik.  Lihatlah apa yang terjadi pada Romeo dan Juliet, bagaimana Romeo dengan gitar dan puisinya menghabiskan malam sedangkan Juliet berada di atas balkon.  Dia mengingatnya dengan mengirimkan puisi untuknya.

Dalam tingkat awal Sufisme – dan dalam Syariah, hal itu sama– yaitu cinta pada Allah SWT.  Jika kalian tidak mempunyai rasa akan Allah SWT, bagaimana kalian akan menemukan kenikmatan hakiki?  Semua orang saat ini mempunyai rasa cinta pada dunia, bukan pada Allah SWT.  Kita cinta pada dunia materi.  Setiap orang ingin mendapat sesuatu dari dunia.  Tidakkah mereka sadar bahwa Allah SWT --  (Yang menciptakan dunia ini) -- mempunyai segalanya?  Dalam bahasa Arab dikatakan  ma siw'alLah -  apa pun selain Allah SWT. Ada Tuhan dan ada ciptaan-Nya.  Mereka mengejar ciptaan-Nya, bukan mengejar Penciptanya.  Apa pun selain Tuhan, orang-orang mengejarnya—itulah dunia materi.

Siapa yang menciptakan dunia materi itu?  Bukankah Allah SWT adalah Penciptanya?  Nama Dia adalah: SANG PENCIPTA (Khalik).  Artinya setiap detik Dia menciptakan sesuatu, Dia tidak berhenti menciptakan.  Kalian ingin mengejar Pencipta seperti itu, Yang mempunyai segalanya dan terus menciptakan – ataukah kalian ingin mengejar penemuan-penemuan palsu?

Saat ini di negara kami,  orang-orang yang mengejar agama atau mengejar hal yang hakiki disebut dengan raji'i– “orang yang terbelakang.”  Di seluruh negara Arab dan negara-negara muslim tanpa terkecuali, mereka yang mencari realitas, yang mencari Allah SWT, yang mencari cinta, disebut sebagai “orang yang terbelakang.”  Benarkah mereka yang mencari Tuhan-nya adalah orang yang terbelakang?  Inilah perilaku yang sekarang terjadi di daerah-daerah tersebut.  Mereka melihat kalian dengan keheranan, “Orang macam apa mereka ini?”  Mereka malu kalau kalian berada dalam kelompok mereka.  Itulah yang dilakukan para tiran saat mereka datang.

Kita ini hanya ingin menjadi orang baik-baik, berperilaku baik dalam masyarakat, mencintai Allah SWT, mencintai nabi-nabi, orang-orang suci, orang-orang yang rendah hati dan penuh kasih.  Apa yang membuat mereka malu?  Setiap orang mengejar kenikmatan-kenikmatan  hidup.  Tidak ada yang mengejar kenikmatan Sang Pencipta, Dia yang mempunyai segalanya.

Saya teringat saat Grandsyekh sedang duduk dan berbicara mengenai Mahdi AS, beliau berkata, “Laki-laki mengejar wanita, wanita mengejar laki-laki.  Tujuan mental manusia adalah seksualitas; tak ada yang lain!  Semua orang mengejarnya, itulah niat dalam kepalanya.  Namun niat itu pun berasal dari Samudra Keindahan Tuhan.  Tuhan menciptakan keindahan di dalam diri laki-laki dan wanita.”

Kami tidak mengatakan bahwa itu terlarang. Tuhan mengizinkan umat manusia untuk mencintai keindahan itu dalam batas-batas perkawinan.  Dan Grandsyekh mengatakan bahwa ketika nanti di masa Mahdi AS dan Jesus AS, saat Allah SWT membuka sinar samudra itu pada setiap laki-laki dan perempuan, lalu saat mereka melihatnya, pikiran-pikiran akan kenikmatan seksual akan terpecah – lenyap, karena saat itu kalian akan mendapatkan samudra secara keseluruhan.

Inilah yang difirmankan  Tuhan dalam Quran dan dikatakan Nabi SAW dalam hadis, “Di dalam surga, kalian berada dalam kenikmatan tak berakhir, terus-menerus.  Sekarang, jika kalian berada dalam kenikmatan dalam satu jam – usai sudah.  Tetapi di sana nanti, hal itu berkelanjutan, bagi pria maupun wanita.  Di akhir hari-hari nanti,  saat Mahdi AS dan Jesus AS muncul lalu Tuhan membuka samudra itu, setiap orang akan mengejar sinar yang datang dari sana: sinar cinta yang utuh.

 `Ilmu`l-Yaqin,
`Aynu`l-Yaqin,
Haqqu`l-Yaqin,

Saat ini kalian mungkin mempunyai keyakinan, mengetahuinya, hanya mendengar dan memahaminya namun kalian tidak merasakannya atau melihatnya langsung.  Sebagaimana yang kita jelaskan bahwa Allah SWT akan membuka samudra keindahan pada masa Mahdi AS dan Jesus AS, kalian akan bisa mendengar, mengambil pelajaran dari sana, ada yang bisa merasakan.  Tingkat kedua adalah `aynul yaqin, saat di mana kalian yakin karena mampu melihatnya.  Saat Mawlana Syekh Nazim QS berbicara, kalian bisa melihat cahaya di sana namun tidak bisa merasakannya, kalian tidak mendapat kenikmatannya. Haqqu`l-Yaqin, kebenaran akan suatu keyakinan.  Pada tingkat itu kalian mampu mendengar, melihat dan merasakan.

Saat ini orang-orang salat 5 kali sehari menurut ajaran Allah SWT, diawali dengan kalimat, “Allahu Akbar...” lalu mulai berdoa.  Namun hati kalian dipenuhi dengan dunia materi dan sibuk dengannya.  Kalian sedang berdiri dengan posisi “tidak melihat”.  Jika kalian lebih khusuk, ajaran ini akan mengantar kalian dari taraf tidak melihat menjadi melihat.  Dan saat kalian mengucapkan, “ALLAHU AKBAR,  kalian akan melihat diri kalian sedang berada di depan Ka'bah, melihat dan merasakan sedang salat di sana. 

Wa mina-llaahit-tawfiq bi hurmati`l-Fatihah.