22 June 2008

Yang Manakah dari Nikmat Tuhanmu yang Engkau Dustakan?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Masa-masa di mana kita hidup dicirikan dengan kecenderungan umat manusia untuk melakukan segala sesuatu dengan cara yang paling membahayakan dirinya, berlawanan dengan apa yang diperintahkan Tuhan pada manusia.

Perintah Ilahi menuntut bahwa demi kesejahteraan jiwa kita, kita mestinya selalu melihat mereka yang pencapaian spritualnya telah sampai ke maqam yang lebih tinggi, sehingga kita mungkin dapat terinspirasi untuk berjuang meniru mereka sebaik yang bisa kita lakukan. Sebaliknya, dalam hal kehidupan materi, kita hendaknya selalu melihat mereka yang kurang beruntung daripada kita dan bersyukur kepada-Nya karena telah memelihara kita dari penderitaan semacam itu. Itulah sebabnya maka kita akan selalu menghargai Kemurahan Tuhan terhadap kita dan bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia anugerahkan kepada kita.

Ketika saya terbangun di pagi hari, dan mengamati diri sendiri, saya pun bersyukur pada Tuhan karena telah memelihara kesehatan saya, mengingat bahwa begitu banyaknya orang yang menderita penyakit-penyakit berbahaya, dan terluka. Terlebih lagi, saya pun bersyukur kepada-Nya karena telah memelihara akal sehat saya, mengingat begitu banyaknya orang yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena menderita kegilaan yang menakutkan. Saya bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa karena telah memelihara saya dari mengikuti hasrat ego saya, karena barang siapa yang mengikuti seluruh kehendak egonya akan menuju kepada kejahatan. Saya ingat bahwa dunia penjara dipenuhi oleh orang yang memiliki hasrat ego yang buruk yang menyebabkan mereka melakukan kejahatan yang membawa mereka ke penjara, seringkali dalam keadaan yang amat memilukan, jauh lebih mengerikan daripada perpindahan sukarela yang jarang terjadi.

Saya bersyukur kepada-Nya bahwa saya dapat menemukan makanan tanpa kesulitan dan tidak menderita kelaparan, mengingat jutaan orang fakir miskin dan terlantar, ‘Yang Manakah dari Rahmat Tuhanmu yang Engkau Dustakan?’ (Qur’an: Surat Ar-Rahman)

Dengan melihat mereka yang kurang beruntung dibanding kita, kita mungkin dapat menemukan kepuasan dalam hidup kita, dan dengan mamandang ke atas dalam hal cahaya jiwa, maka pada saat yang sama kita mungkin terinspirasi untuk maju secara rohani dan bergabung dengan mereka di maqamnya. Itulah resep untuk sukses: untuk membebaskan diri kita dari obsesi duniawi sehingga kita dapat dengan leluasa berkonsentrasi pada tugas-tugas rohaniah, yang karenanya kita telah diciptakan.

Namun sepertinya belakangan ini segalanya telah terbalik. Orang sibuk menyelamati dirinya karena telah melakukan semua ibadah, walau pada kenyataannya mungkin saja ibadah mereka itu sebetulnya dosa belaka dan tidak sesuai dengan perintah Ilahi. Mereka berkata, ’Saya sembahyang, dan ia tidak; saya berpuasa di bulan Ramadan, dan ia tidak, betapa rakusnya dia..’
Jadi mereka ujub, bahkan tingkat pengamatan mereka terhadap syariah mungkin saja belum memadai; atau, bila pun jalurnya benar, mungkin kurang penjiwaan sehingga ibadahnya kurang diterima di Hadirat-Nya.

Dalam hal materi, orang menghabiskan waktu mereka untuk beriri hati pada orang lain, tak henti-hentinya berpikir tentang mereka yang lebih cantik, lebih pintar, lebih sehat, lebih muda, lebih kaya dari pada mereka. Sehingga karenanya hati mereka hangus terbakar iri, tak henti-hentinya mengeluarkan cercaan bagi korban irinya, hingga akhirnya mereka meninggal dalam keadaan yang mengenaskan.

Hingga orang dapat melihat dengan lebih jernih dari tempat yang lebih lebih menguntungkan, kini kita dapat menyimpulkan, yaitu menaikkan rohani dan merendahkan materi, mereka akan selalu mengeluh mengenai keadaan dirinya, di mana sebetulnya mereka harus lebih khawatir tentang keadaan rohaninya. Tak diragukan lagi, bahwa umat manusia amatlah menderita akibat mengikuti jalan setan dari iri dan pujian, dan kita hendaknya mencoba menghindarkan diri kita daripada mengikuti arus yang membahayakan tersebut.

No comments: