07 July 2008

Perantaraan Wali

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kita harus gembira. Tak perlu bersedih. Allah SWT telah menciptakan kalian. Jika Dia tidak menciptakan kalian, kalian tidak akan pernah ada. Berusahalah untuk selalu bergembira dan puas terhadap kondisi yang telah digariskan Allah SWT kepada kalian. Jangan pernah berkeberatan, apa pun yang kalian jumpai dalam hidup ini. Jika kalian melihatnya dengan perspektif yang baik, kalian akan merasakan kebaikannya. Sebaliknya, jika kalian melihatnya dengan perspektif yang buruk, kalian juga akan mendapatkan keburukan dalam diri kalian.

Hari ini adalah hari kedua di bulan Rajab. Rasulullah SAW bersabda, “Rajab adalah bulan Allah SWT, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku.” Beliau mengatakan, “Syakban adalah bulanku,” berarti Allah SWT telah memberinya, salahiyya, kontrol terhadap seluruh umat manusia di bulan itu. Tidak ada malaikat yang dapat menulis sesuatu tentang kalian, tanpa bertanya kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana Allah SWT mencintai umat manusia dan menciptakan mereka dengan sempurna, begitu juga Rasulullah SAW diciptakan oleh Allah SWT dan diberikan kekuasaan itu terhadap seluruh umat ini untuk menjaga mereka agar tetap murni dan bersih. Oleh sebab itu Rasulullah SAW memerintahkan seluruh wali di seluruh dunia selama 24 jam untuk membantu menolongnya dalam membersihkan dan menyeimbangkan kebaikan dan keburukan dalam diri setiap orang.

Rahasia sufi bukanlah rahasia. Mereka hanya tampak rahasia bagi orang yang belum pernah mendengar sebelumnya. Kepada yang lainnya mereka sangat familiar sebab mereka selalu bersama Rasulullah SAW, dan selalu mendapat pengetahuan tingkat tinggi dari hatinya.

Untuk setiap huruf dalam al-Qur’an, Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW 12.000 Samudra Pengetahuan. Jangan berpikir bahwa, “alif” yang merupakan salah satu huruf dalam al-Qur’an hanya sebagai huruf tunggal, jika diulang maka itu dianggap sebagai huruf baru. Oleh sebab itu, setiap munculnya satu huruf alfabet dalam al-Qur’an terdapat 12.000 Samudra Pengetahuan bersamanya. Semua yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW kepada kita, yaitu berupa pengetahuan yang mengikuti perintah Allah SWT bagaikan tetesan dalam samudra. Allah SWT menjaga apa yang tertinggal agar nanti hati manusia dapat menemukannya, dengan tubuh fisik ini kita tidak dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Abu Hurayra RA tidak dapat menerangkan semua yang diberikan oleh Rasulullah SAW ke dalam hatinya. Mengapa mereka akan memotong lehernya? Karena mereka cemburu.

Cendikiawan Muslim, Kristen, Yahudi—cemburu terhadap surga. Mereka tidak ingin seluruh umat manusia memasukinya, hanya orang-orang dari golongan mereka saja yang berhak memasukinya. Allah SWT berkata, tidak ada diskriminasi, seluruh umat manusia adalah hamba-Nya dan dengan demikian sama derajatnya—Muslim, Hindu, Yahudi, Kristen dan semua orang. Kita sebagai pengikut Rasulullah SAW setuju dengan sabdanya, bahwa seluruh umat manusia adalah sama. Untuk mengilustrasikannnya, berikut ini ada sebuah kisah yang berasal dari Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Syekh Nazim al-Haqqani QS. Cerita ini termasuk salah satu rahasia yang tersembunyi, yang akan dibuka pada saat datangnya Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS, Insya Allah.

Rasulullah SAW memerintahkan Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW, bahwa segera setelah beliau wafat, sebelum pemakaman dan setelah disalatkan, jubahnya harus diserahkan kepada Sayyidina Uwais al-Qarani RA sebab beliau harus memegang dan menjaga jubah tersebut. Rasulullah SAW juga berkata kepada mereka untuk menyerahkan diri mereka sebagai amanat darinya. Mereka berdua keheranan, bagaimana mereka sebagai sahabat terbaik Rasulullah SAW menyerahkan diri mereka kepada Uwais RA, dan siapa pula Uwais RA yang tidak pernah bertemu Rasulullah SAW? Mengapa dia tidak pernah muncul? Karena ibunya berkata kepadanya, “Jangan tinggalkan aku sendiri, jangan pergi.” Jadi dia tidak pergi.

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, beliau sangat banyak mengeluarkan keringat. Jika kalian melihat orang meninggal kalian akan menyaksikan orang itu mengeluarkan banyak keringat, banyak sekali air yang keluar dari tubuhnya. Rasulullah SAW adalah yang paling banyak mengeluarkan keringat dibandingkan seluruh orang di dunia ini. Siapa saja dapat dengan mudah memeras keringat dari jubah beliau, karena jubah itu benar-benar dibasahi air. Kemudian Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW melepaskan jubah Rasulullah SAW dan pergi ke kampung Uwais RA, tempat yang telah disebutkan oleh Rasulullah SAW. Di sana mereka bertanya di mana Uwais al-Qarani RA, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana Uwais al-Qarani RA berada. Sayyidina ‘Umar RA mulai jengkel—bagaimana Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk menemukan seseorang yang tidak mungkin ditemukan? Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Wahai ‘Umar RA, jangan ada keraguan di hatimu, tetapi tunggu dan bersabarlah. Mari kita lihat masalahnya dengan cermat. Jika Rasulullah SAW berkata bahwa sesuatu itu ada, pastilah dia ada dan kita akan menemukan Uwais RA, insya Allah.”

Setelah mereka bertanya lebih banyak lagi, mereka akhirnya menemukan Sayyidina Uwais al-Qarani RA sedang duduk di batu dengan tongkat di tangannya. Ibunya berada di sampingnya. Rupanya Uwais RA adalah seorang pengembala ternak. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “’Abdullah (hamba Allah SWT)” “Siapa nama keluargamu?” “’Abdullah”—“Aku juga ‘Abdullah” kata Sayyidina ‘Umar RA yang mulai bingung. “Siapa nama aslimu?” “’Abdullah adalah nama asliku.” Lalu Sayyidina ‘Umar RA menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW dan berkata, “Kita tidak menemukan orang yang cocok. Namanya ‘Abdullah, bagaimana Rasulullah SAW berkata kepada kita bahwa kita dapat menemukan Uwais al-Qarani RA?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata kepada orang itu, “Wahai ‘Abdullah, Aku menerima kenyataan bahwa namamu adalah ‘Abdullah, tetapi bagaimana orang biasa memanggilmu?” Dia menjawab, “Uwais al-Qarani RA.”

Nama asli setiap orang adalah ‘Abdullah, hamba Allah SWT. Ke mana pun kalian pergi, setiap orang memiliki 7 nama dalam pelat-pelat yang terpelihara (Loh Mahfuzh), salah satunya adalah nama itu. Ini adalah nikmat Allah SWT yang telah dijamin bagi semua orang, yaitu bahwa mereka adalah hamba Allah SWT.

Sayyidina ‘Umar RA bergembira. Beberapa saat kemudian Sayyidina Uwais RA berkata, “Berikan amanat yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadaku.” Bagaimana dia mengetahui bahwa Rasulullah SAW mengirim jubahnya untuknya, padahal dia tidak pernah bertemu dengannya? Dia mengambil jubah itu dan meletakkan di atas kepalanya. Dia lalu melihat Sayyidina ‘Umar RA dan bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang ada di jubah ini?” Sayyidina ‘Umar RA menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sayyidina Uwais al-Qarani RA menjawab, “Jubah ini berisi rahasia seluruh umat manusia, dan Rasulullah SAW memberikan tanggung jawab itu di pundakku.”

Allah SWT telah menciptakan dunia ini dan tidak akan meninggalkannya. Dia mengirimkan utusan dan wali ke dunia ini untuk menjaga agar manusia tetap bersih dari dosa dan kesalahan. Allah SWT tidak menciptakan kita untuk dibuang ke neraka. Dia menciptakan kita untuk ditempatkan di surga. Dia menciptakan kita karena Dia mencintai kita. Jangan berpikir bahwa Dia ingin menghukum manusia. Dia menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang yang lengkap. Bagaimana seorang ibu mencintai anaknya? Ini adalah sebuah tetesan dalam Samudra Cinta Allah SWT. Dia akan membersihkan setiap orang dan menghukumnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hal ini berjalan dengan mekanisme yang tidak kita ketahui.

Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Bagaimana rahmat bagi seluruh umat manusia berada di jubah ini?” Sayyidina Uwais RA menjawab, “Wahai ‘Umar RA pernahkah kalian melihat Rasulullah SAW?” Dia menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Aku selalu bersamanya setiap hari.” “Lukiskan beliau kepadaku!”, kata Sayyidina Uwais RA. Lalu Sayyidina ‘Umar RA mulai menyebutkan ciri-ciri Rasulullah SAW, mulai dari raut mukanya, warna matanya, dan seterusnya. “Semua orang juga mengenal beliau seperti itu. Engkau tidak melihat Rasulullah SAW yang sesungguhnya. Bagaimana denganmu ‘Ali RA, KW? Pernahkah engkau melihat Rasulullah SAW?” tanya Sayyidina Uwais RA. “Aku melihatnya sekali. Beliau memanggilku dan berkata, ‘Wahai ‘Ali RA, KW lihatlah diriku mulai dari perut ke atas,’ Aku melihatnya dan menemukan bahwa segalanya sampai ke lehernya berada di bawah singgasana Allah SWT, tetapi Aku tidak dapat melihat lehernya. Dan beliau menyuruhku untuk melihat dari perut ke bawah, Aku melihat dan menemukan bahwa lututnya mencapai bumi ketujuh, tetapi Aku tidak dapat melihat kakinya. Lalu beliau menyuruhku untuk melihat seluruhnya, dan Aku melihat segalanya lenyap kecuali Rasulullah SAW sendiri. Beliau adalah segalanya.”

Ini berarti jika Sayyidina ‘Ali RA, KW dapat melihat di mana leher Rasulullah SAW, dia akan seperti Rasulullah SAW. Tidak ada yang bisa menyamainya, karena itu adalah batas baginya. Sayyidina ‘Ali RA, KW juga tidak bisa melihat lututnya, dan itu telah mencapai bumi ketujuh. Tidak ada yang tahu apa dan di mana bumi ketujuh itu. Ini adalah suatu rahasia. “Beliau adalah segalanya,” merujuk pada apa yang kita bicarakan (pada pertemuan) sebelumnya, sehubungan dengan peciptaan kita oleh Allah SWT dengan 3 macam cahaya, yaitu: Cahaya Ilahi, Cahaya Rasulullah SAW, dan Cahaya Adam AS, dan berimplikasi dengan ayat al-Qur’an yang menyebutkan penghormatan Allah SWT terhadap umat manusia, [QS al-Isra’, 17: 70]. Bagaimana Allah SWT memuliakan umat manusia adalah suatu rahasia, tetapi dari rahasia itu kita dapat mengerti bahwa Allah SWT telah memuliakan kita dengan menciptakan kita dari ketiga cahaya tersebut.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Wahai ‘Ali RA, KW, engkau melihat Rasulullah SAW sekali.” Sayyidina ‘Ali RA, KW membalas, “Pernahkah engkau melihat beliau?” “Secara fisik belum pernah, tetapi secara spiritual Aku selalu bersamanya selama 24 jam,” jawabnya. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Lalu apa yang ada dalam jubah itu?” Beliau berkata, “Dengarkan baik-baik! Jika Aku harus duduk denganmu dan umatmu, mereka akan memotong leherku. Itulah sebabnya Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk menjauhimu dan bersembunyi. Jika Aku bersamamu dan Aku menceritakan semua rahasia ini, tak seorang pun akan menerima dan memahaminya. Tetapi suatu waktu nanti, pada saat akhir zaman seluruh rahasia ini akan dibuka, yaitu pada saat kedatangan Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS.

Masa tersebut adalah sekarang, sebab seluruh tanda dan indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah SAW telah ada. Seluruh wali juga menyatakan hal yang sama, bahwa di abad ini Imam Mahdi AS akan datang, begitu pula dengan Nabi ‘Isa AS. Kita semua berada di akhir dunia ini. Tidak banyak waktu tersisa. Setiap orang akan lebih suka hidup dengan cara yang mereka suka, tetapi pada kenyataannya mereka akan menjalani hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Umar RA, “Wahai ‘Umar RA sebelum Rasulullah SAW lahir, beliau sudah menyebut ‘umatku, umatku’ dalam rahim ibunya, ketika beliau lahir juga disebutkan ‘umatku, umatku’ dan demikian pula ketika beliau meninggal.” Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT, “Aku ingin menjadi perantara bagi umatku, Aku ingin menolong umat manusia, Aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada umat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kontrol dan kekuatan ini.” Ketika beliau wafat, Rasulullah SAW menolak untuk wafat kecuali dengan 1 syarat, yaitu beliau harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh umat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah SWT, “Aku akan datang ke Hadirat-Mu, kalau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah SWT menjawab, “Terserah padamu!”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil semua makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap roh secara perorangan. Mereka datang ke hadiratnya dan menerima beliau sebagai rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesali kesalahan mereka. Rasulullah SAW tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah SWT. Dengan pengampunan dari Allah SWT tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu roh manusia.

“Jubah itu berisi tetesan keringat, atau simbol, atau roh dari umat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah SAW. Beliau menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka.“ Jubah ini akan diteruskan lewat Mata Rantai Emas dari satu wali ke wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutkan akan diserahkan kepada Imam Mahdi AS ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Nabi ‘Isa AS pada saat kemunculannya.

Sayyidina ‘Umar RA menangis dan berkata, “Orang bodoh macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah Aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, wahai ‘Ali RA, KW, mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang engkau lakukan.” Setelah kejadian itu Sayyidina ‘Umar RA menangis terus selama hidupnya.

Bulan Rajab ini tidak akan berakhir sampai setiap orang di dunia ini dibersihkan dari dosa-dosanya dan cahaya ditempatkan dalam hatinya. Kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk membersihkan hati umat manusia juga diberikan kepada para awliya. Wali-wali tersebut adalah pembantu bagi Rasulullah SAW di bulan ini. Itulah sebabnya mereka sibuk di bulan Rajab. Mereka tidak berbicara kepada orang-orang. Mereka menutup pintu mereka dan duduk di ruangannya, tidak keluar, terus-menerus hanya memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan umat manusia.


Mas Kawin Fatima az-Zahra AS

Putri Rasulullah SAW, Siti Fatima az-Zahra’ AS ketika dia melihat ayahnya terus-menerus menyebut ‘umatku’, dia juga ingin melakukan sesuatu untuk kepentingan umat. Lihat dan perhatikanlah bagaimana para wali berusaha untuk menyelamatkan umat manusia dan mencegah mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Ketika Allah SWT memerintahkan untuk menikahkan putrinya kepada seseorang, Rasulullah SAW memanggil semua sahabatnya dan berkata kepada mereka, “Allah SWT telah memerintahkan Aku malam ini untuk mengatakan bahwa barang siapa yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir di malam ini akan dinikahkan dengan putriku Fatima AS.”

Malam itu seluruh sahabat berkumpul di masjid dan berusaha membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir, kecuali Sayyidina ‘Ali RA, KW yang pulang ke rumah dan tidur. Ketika Bilal RA mengumandangkan azan untuk shalat Subuh, seluruhnya datang, Rasulullah SAW pun hadir di sana. Setelah selesai shalat beliau bertanya, “Siapa yang menyelesaikan al-Qur’an tadi malam sehingga Aku dapat menikahkannya dengan putriku Fatima AS?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan beliau, sebab sangat sulit untuk menyelesaikan 30 juz hanya dalam waktu 7 atau 8 jam. Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku menyelesaikannya.” Mereka melihatnya dengan iri dan berkata, “Bagaimana engkau menyelesaikannya? Engkau tidur semalaman.” Dia berkata, “Tidak, Aku menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir.” Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Siapa saksimu?” Sayyidina Ali’ RA, KW menjawab, “Allah SWT saksiku, dan engkau Ya Rasulullah SAW, adalah saksiku bahwa Aku telah menyelesaikannya.”

Sekarang dengarkan baik-baik karena Mawlana Syekh Nazim QS sangat menekankan hal ini. Rasulullah SAW sebagaimana yang kalian ketahui tidak pernah memperlihatkan bahwa beliau mengetahui sesuatu terjadi di luar batas normal, sebelum Jibril AS memberitahukannya. Oleh sebab itu beliau menunggu datangnya inspirasi dari malaikat Jibril AS. Akhirnya malaikat Jibril AS datang dan berkata, “Allah SWT berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah berkata benar dan bahwa dia telah menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir, jadi tanyalah apa yang dilakukannya.” Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, “Sekarang malaikat Jibril AS telah datang kepadaku dan berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an dan Allah SWT adalah saksinya. Dengan demikian Aku juga menjadi saksinya, dan Aku bertanya kepada ‘Ali RA, KW apa yang telah dibacanya malam itu?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku membaca Asy-hadu an la ilaha illallah wa asy-hadu anna Muhammadun Rasulullah 3 kali, lalu Qul huwallahu Ahad 3 kali, lalu Qul A’udzu bi rabbil falaq 1 kali dan Qul a’udzu bi rabbin nas 1 kali, dan La ilaha illahllah 10 kali serta Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim 10 kali.”

Rasulullah SAW berkata, “Sebagaimana Allah SWT telah menjadi saksi bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an, Aku menyaksikan juga hal ini, bahwa jika kalian membaca apa yang telah kita dengar dari ‘Ali RA, KW berarti kalian telah menyelesaikan al-Qur’an.” Pada saat itu juga keluar hadis yang menyatakan bila seseorang membaca surat al-Ikhlash 3 kali, seolah-olah dia telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Membaca surat ini setiap hari paling lama hanya menghabiskan waktu 2 menit, tetapi seolah-olah kalian telah membaca seluruh al-Qur’an. Orang yang tidak tahu duduk, mencoba membaca dan menyelesaikan al-Qur’an dengan bangga, tetapi mereka tidak dapat menyelesaikannya. Kalian dapat melakukan hal yang ringan ini dan menyelesaikannya, seolah-olah kalian telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Apa lagi yang kalian inginkan? Demikialah, akhirnya Fatima AS menikahi ‘Ali RA, KW.

Lihatlah pernikahan Fatima AS itu, dan jangan katakan bahwa tidak ada kebebasan bagi wanita dalam Islam. Kalian akan salah. Allah SWT telah memberikan kebebasan dan persamaan kepada pria maupun wanita. Mereka dapat memberikan pendapat mereka dan memberikan kesimpulannya sendiri. Bahkan Rasulullah SAW menanyakan dulu kepada putrinya, dan berkata kepada para Sahabat, “Aku harus menanyakan putriku apakah dia menerima pernikahan ini atau tidak, itu adalah keputusannya. Orang-orang yang tidak mengerti sekarang menuduh bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita. Inilah yang mereka katakan dan kita tidak harus mempercayainya. Kita percaya terhadap apa yang kita baca dan kita dengar dari Rasulullah SAW. Beliau memberikan persamaan, begitu pula dengan Allah SWT. Wanita mempunyai hak yang sama dengan pria. Inilah yang kita yakini, dan khususnya orang Amerika harus waspada dengan pemikiran bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita.

Rasulullah SAW bertanya kepada Fatima AS, “Wahai Fatima AS, apakah engkau menerima ‘Ali RA, KW sebagai suamimu?” Dia berkata tidak. Seluruh sahabat menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW, lalu Fatima AS, dan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merasakan mukanya memerah, mengapa Fatima AS berkata tidak? Apakah dia mencintai orang lain? Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang harus dikatakan, dan malaikat Jibril AS datang dan berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru mengambil keputusan tentang hal ini. Allah SWT berpesan untuk menanyakan kepada Fatima AS mengapa dia tidak menerima pernikahannya.” Rasulullah SAW berbalik kepada Siti Fatima AS dan bertanya, “Ya Fatima AS, engkau berkata tidak, tidak mengapa, ini adalah keputusanmu. Tetapi bisakah Aku mengtahui mengapa engkau menolaknya?” Dia berkata, “Aku hanya berkata tidak karena Aku tidak menerima kecuali dengan satu persyaratan. Ini bukan soal ‘Ali RA, KW tetapi berhubungan denganku. Jika engkau mengabulkan persyaratan itu, Aku akan menerimanya, jika tidak Aku tidak akan menikah dengan ‘Ali RA, KW.” Sekali lagi, malaikat Jibril AS datang kepada Rasulullah SAW, dan berkata, “Allah SWT memerintahkanmu untuk menanyakan apa persyaratan itu.” Sekarang perhatikan apa yang telah ditanamkan Allah SWT dalam hati Fatima AS, dan pertimbangkan kebaikan dan posisi wanita dalam Islam.

Rasulullah SAW berkata, “Ya Fatima AS apa yang menjadi syaratmu itu?” Dia berkata, itu sangat mudah. Jika engkau dan Allah SWT menerima, Aku menerimanya. Jika Allah SWT tidak menerimanya, Aku juga menolak untuk menikah. Ketika engkau datang ke dunia ini, engkau berkata, ‘umatku, umatku!’ dan selama hidupmu, siang dan malam, Aku mendengarmu di dalam rumah selalu memohon, ‘Umatku, Ya Allah SWT! Izinkan Aku untuk membawa umatku kepada-Mu Ya Allah SWT! Maafkanlah mereka! Murnikanlah mereka! Hapuskanlah dosa-dosa mereka, beban mereka dan kesulitan mereka!’ Aku mendengarmu, dan Aku tahu betapa menderitanya engkau untuk umatmu. Dan Aku tahu dari apa yang telah engkau ucapkan bahwa ketika engkau meninggal, engkau akan tetap mengucapkankan ‘umatku!’ kepada Allah SWT, juga di dalam kuburmu, dan di Hari Pembalasan nanti.

“Umatku” berarti seluruh umat manusia. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia—tidak hanya untuk muslim. Salah besar untuk menafsirkan kata umatku dengan cara demikian. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia. Pada saat itu tidak ada muslim dan beliau datang untuk seluruh umat manusia, Kristen, Yahudi dan penyembah berhala dari masa Jahiliyah. Orang-orang yang mempercayai beliau disebut muslim, mereka juga dikenal dengan “Ummatul Ijaba,” artinya umat bagi mereka yang menerima Rasulullah SAW. Mereka yang tidak mempercayainya disebut “Ummatud da’wa,” artinya umat (yang telah diberi) pesan, mereka berada di sisi luar, tetapi tetap saja Rasulullah SAW datang kepada mereka, dengan demikian mereka juga adalah umatnya.

Fatima AS melanjutkan, “Sejak Aku melihatmu—wahai Ayahku—sangat menderita untuk umatmu, dan karena cinta kepada umatmu juga tumbuh dalam hatiku, Aku menginginkan umatmu sebagai mas kawinku. Jika engkau menerimanya, Aku akan menikahi ‘Ali RA, KW.” Dia meminta seluruh umat Rasulullah SAW—Yahudi, Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, semua orang tanpa diskriminasi. “Aku menginginkan mereka sebagai mas kawinku agar Aku dapat menerimanya saat Aku berada di Hari Pembalasan nanti, dan menerima mas kawin itu dari Allah SWT, sehingga Aku bisa memasukkan mereka ke dalam surgaku. Jika engkau tidak menerimanya, Aku tidak akan menikahi ‘Ali RA, KW.”

Apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah SAW? Beliau tidak bisa memberikan mas kawin semacam itu, karena itu tidak berada di tangannya. Beliau menunggu kedatangan Jibril AS, tetapi malaikat Jibril AS tidak datang dengan segera. Dia membiarkan Rasulullah SAW menunggu beberapa saat, lalu datang dan mengatakan, “Allah SWT menyampaikan Salam-Nya kepadamu, dan menerima permintaan Fatima AS, dan memberikan seluruh umat manusia sebagai mas kawin untuk menikahi ‘Ali RA, KW.” Dengan segera Rasulullah SAW bangkit dan salat syukur 2 rakaat untuk berterima kasih kepada Allah SWT.

Fatima AS tidak berkata, “Aku menginginkan uang atau perhiasan,” sebagaimana wanita sekarang, pria berusaha untuk menikahi gadis yang kaya dan sebaliknya. Dia hanya melihat umat Rasulullah SAW. Tidak ada satu pun yang akan berada di luar mas kawinnya, karena jika Allah SWT mengeluarkan satu orang saja, itu akan berarti dia telah ‘berzina’ dengan ‘Ali. Oleh sebab itu, dia akan mengambil seluruh umat manusia di bawah sayapnya dan mereka akan masuk surga bersamanya.

Ini berasal dari kekuatan satu orang wanita muslim. Dia membawa seluruh orang bersamanya untuk masuk surga. Apakah kalian berpikir seseorang akan tertinggal di luar? Karena dia, tak seorang pun akan tertinggal di luar. Bagaimana dengan sebagian besar wanita dalam Islam? Apa yang akan menjadi kekuatan mereka? Bagaimana dengan para wali? Bagaimana dengan rasul-rasul? Itulah sebabnya Allah SWT menciptakan umat manusia bersih, dan Dia menjaga tetap bersih dengan kekuatan seperti itu, dan sebagaimana Sayyidatina Fatima AS, Sayyidina ‘Ali RA, KW, Sayyidina ‘Umar RA, Rasulullah SAW, Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim QS, dan para wali dari Tarekat Naqsybandi—menjaga setiap orang agar tetap bersih dan murni.

Oleh sebab itu bergembiralah, puaslah dengan yang Allah SWT berikan kepada kalian. Jika kalian bergembira dan puas, kalian akan menemukan kegembiraan dan kepuasan sepanjang hidup kalian.

Wa min Allah at tawfiq

© 1993, Haqqani Islamic Trust
7007 Denton Hill

Fenton, MI 48430


1 comment:

faisol said...

terima kasih sharing info/ilmunya...
saya membuat tulisan tentang "Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?"
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin...

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/