30 June 2008

Terimalah Aku menjadi Muridmu

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Philadelphia, 9 Mei 1994

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Hanya satu dari ke-99 Samudra Allah SWT yang dibuka di muka bumi ini atas Rahmat dan Kemurahan-Nya. Sisanya, 98 samudra tidak dibuka bagi manusia awam, hanya bagi para awliya-Nya. Dan para awliya ingin mengalirkan pengetahuan itu bagi para pengikutnya. Namun kita harus berusaha sebaik mungkin untuk meraih tingkat komunikasi dengan Syekh kita. Jika kita mampu meraihnya, kita pun mampu menerima pengetahuan ini. Ketika seseorang menerima pengetahuan itu, ia dapat mengerti apa yang sebelumnya tidak diketahui, mampu mendengar apa yang dulunya tidak terdengar, melihat apa yang tidak terlihat, dan ketika ia mengatakan, “Jadilah!” maka terjadilah. Semoga Allah SWT menganugerahkan berkah pada kita semua, memberi kita dukungan dan mengajari kita kepatuhan pada Syekh kita serta ketulusan hati.

Dulu ada seorang Syekh dari tarekat lain yang mempunyai lebih dari 500 orang murid. Setiap pagi beliau datang ke masjid untuk salat Subuh bersama murid-muridnya, memberi nasihat, berzikir dan pulang ke rumahnya. Beliau akan kembali ke masjid tepat pada jam-jam waktu salat. Apa pun makanan dan barang yang masuk ke rumahnya, beliau bagikan lagi pada tetangganya sebelum tidur malam. Beliau tidak pernah menyimpan makanan di dalam rumah. “Allah SWT adalah Penyedia segalanya,” kata Syekh.

Istri beliau sudah meninggal dan beliau tinggal bersama seorang anak perempuannya. Suatu hari Syekh tiba di rumah dan melihat apa yang tersedia di sana. Banyak murid yang menyayangi beliau dan selalu mengirimi makanan. Namun semua dibagikan lagi pada tetangga dan kemudian pergi tidur. Namun malam itu Syekh merasa susah tidur. Beliau menuju dapur untuk memeriksa, namun tidak ada makanan di sana. Beliau membangunkan putrinya, ”Masih adakah sesuatu di rumah ini? Aku tidak bisa tidur.” Lalu putrinya menjawab, ”Ayah, maafkan aku. Ketika ayah pergi tidur, ada seorang tamu yang membawakan kita daging. Lalu aku letakkan daging itu di lemari dapur dan aku lupa memberi tahumu.”

Dengan cepat beliau menuju dapur dan mengambil daging itu. Tetapi, mau diapakan daging itu? Ini sudah lewat tengah malam dan semua orang sudah tertidur. Beliau pergi keliling kampung mencari seseorang. Namun beliau hanya menemukan beberapa anjing yang sedang berlarian di jalanan. Daging itu pun diberikan pada anjing-anjing itu. Mereka sangat senang menerima daging itu, sambil mengibas-ngibaskan ekor-ekor mereka. Beliau pun merasa tenang dan pulang ke rumah untuk tidur.

Beliau bangun satu jam sebelum subuh dan mulai berjalan menuju masjid. Seluruh anjing mengikuti beliau mulai dari rumah sampai masjid. Ketika Syekh masuk masjid, anjing-anjing itu juga mengikuti beliau sambil mengibas-ngibaskan ekornya karena bahagia. Murid-murid beliau berusaha menghalangi anjing-anjing masuk masjid, namun kata Syekh, ”Biarkan anjing-anjing itu! Biarkan mereka masuk ke dalam. Mereka lebih baik dari kalian semua. Aku telah memberi kalian makan selama 15 tahun, setiap hari, 5 kali sehari, namun kalian tetap tidak setia dan tidak tulus. Aku memberi makan anjing-anjing ini sekali saja, namun cuma karena itu mereka setia dan tulus padaku. Biarkan mereka salat, karena salat mereka lebih baik dari shalat kalian.”

Ketulusan dan kesetiaan seperti itulah yang kita butuhkan pada Syekh kita, kalau tidak maka kita telah kehilangan banyak. Hal ini tidak harus dikerjakan lewat kata-kata, tetapi dengan perbuatan. Semoga Allah SWT selalu mendukung kita berbuat lebih dan lebih bagi Mawlana Syekh Nazim QS serta terus-menerus menyebarkan ajaran beliau.

Suatu ketika seorang murid datang pada Syekh, “Oh Syekhku, terimalah aku sebagai seekor anjing di depan pintumu.” Dalam pengertian sufi, anjing melambangkan ketulusan, kepatuhan, kesetiaan. Syekh menjawab, “Semua murid yang ada di sini adalah anjing bagiku. Aku tidak memerlukan anjing lain. Pergi dan carilah yang lain.”

Murid itu sangat sedih dan tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Kemudian ia kembali lagi, ”Oh Syekh, terimalah aku sebagai seekor keledai di depan pintumu.” Dalam tarekat, keledai melambangkan kesabaran dan mampu membawa beban umat manusia. Namun Syekh berkata, ”Semua yang ada di sini adalah keledai bagiku. Aku tidak memerlukanmu, pergi!” Murid itu pun pergi dengan hati yang remuk redam.

Seorang Syekh bisa meremukkan hati muridnya. Tidak mengapa. Tetapi murid tidak diizinkan menyakiti hati sesama murid. Syekh bisa melakukan hal tersebut karena beliau mampu memperbaiki dan menyembuhkan hati murid tersebut, sedangkan murid tidak tahu apa yang harus dilakukan pada murid lainnya. Kalian tidak boleh menyakiti hati murid lain.

Syah Naqsyband QS berkata, “Pintu-pintu kami terbuka lebar bagi semua pendosa. Kami menerima mereka semua. Begitu mereka masuk, kami tidak akan melepas mereka pergi sampai kami menyucikan mereka. Namun kami tidak pernah menerima seseorang yang menyakiti hati orang lain. Hal itu amat sulit.” Kita harus menjaga hati orang lain, jangan menyakitinya sehingga menimbulkan efek dalam hatinya.

Murid itu pergi dari rumah Syekh dengan perasaan terluka dan berpikir, ”Bagaimana caranya agar aku bisa diterima Syekh. Dengan karakter seperti apa?” Keesokan harinya ilham datang pada hatinya dan ia pun kembali mendatangi Syekh. “Oh Syekh, terimalah aku sebagai seekor babi di pintumu.” Syekh pun menjawab, ”Ya, yang itu aku belum punya. Masuklah, aku menerimamu.”

Seperti apakah sesekor babi bagi pemahaman sufi? Yaitu ia yang memakan kotoran orang lain. Ia yang menjaga agar saudara-saudaranya tetap bersih dan melindungi mereka. Itulah arti seekor babi di pintu Syekh.

Semoga Allah SWT menjadikan kita pemakan kotoran dan menjadi babi di pintu Syekh. Cobalah dengar dan pahami. Hal ini bukan menjadikan kalian binatang-binatang, tetapi untuk menggempur ego kalian. Ego adalah karakter liar yang selalu kita bawa. Ego kita adalah pembawa perilaku buruk yang harus digempur untuk menyucikan diri kita.

Wa min Allah at tawfiq bi hurmatil Fatiha

2 comments:

Abi said...

Terima kasih telah menyadarkan akan kekotoran hatiku, betapa kotornya diriku

sendra said...

salam..
sebagai orang biasa sangat ganjil mendengarkannya, saya belum mendapatkan pointnya.. bukankah manusia tidak boleh berkata secara kasar, mohon penjelasannya