09 July 2008

Bagaimana Cara Memperoleh Rida Allah SWT?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kita akan membicarakan hal yang sangat penting, beribadah demi Allah SWT. Setiap hal yang akan kalian lakukan harus dilakukan demi Allah SWT. Derajat tertinggi diberikan kepada orang yang melakukan sesuatu karena Allah SWT. Sebagai penghargaan bagi orang-orang tersebut Allah SWT memberikan derajat yang baik di Sisi-Nya, selain itu Allah SWT juga menghilangkan kutukan atasnya dan menghilangkan kemarahan-Nya dari 70 tempat buruk di negrinya.

Suatu hari Syekh ‘Abdullah QS bercerita tentang Nabi Musa AS, yang berkata kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, kapankah Engkau akan rida kepadaku?” “Wahai Musa AS, ketika engkau rida kepadaku, Aku pun rida kepadamu.” Jika seseorang memohon rida Allah SWT, dia harus memandang dirinya sendiri. Untuk bisa diridai Allah SWT, dia harus bisa menerima dan rida dengan segala apa yang Allah SWT lakukan, barulah Allah SWT akan rida dengan kita. Tuhan kita dapat melakukan apa saja terhadap kita dan apa yang ada di sekeliling kita. Yang penting kalian harus bisa menerima apa yang Dia lakukan terhadapmu dan terhadap orang lain.

Ini bukanlah suatu latihan yang mudah, perlu suatu kerja keras. Setiap waktu kalian bisa marah, “Apa itu? Apa itu?” kalian tidak senang dengan apa yang terjadi. Kalian bisa menjumpai apa saja di dunia ini, kalian bisa suka atau tidak menyukainya. Jika kalian menyukainya, berarti kalian rida kepada Allah SWT, jika tidak, kalian akan terpisah dengan Allah SWT. Oleh sebab itu Allah SWT membuat Rukun Iman yang keenam sebagai Keyakinan bahwa segala sesuatu baik berupa kebaikan maupun sesuatu yang buruk berasal dari Allah SWT. Keyakinan ini membawa kita kepada posisi di mana kalian akan merasa senang terhadap semua yang ditetapkan oleh Allah SWT. Segala sesuatu terjadi melalui kehendak-Nya, oleh sebab itu Mawlana Khalid al-Baghdadi QS mengajarkan para pemula mengenai hal ini, begitu pula Grandsyekh ‘Abdullah QS selalu menekankan hal ini. Jangan sampai lupa bahwa segala sesuatu yang dilakukan orang lain adalah atas Kehendak Allah SWT, jadi tidak perlu marah.

Setiap kesalahan yang kita buat menghasilkan hukuman yang tidak kita sukai. Hukuman itu berguna untuk membersihkan diri kita. Jika kita dapat mengenali kesalahan itu, lalu kita bertobat dengan segera, kesalahan itu segera dihapuskan. Hal yang juga penting adalah jangan takut terhadap sesuatu yang baruk atau terhadap suatu hukuman. Ketahuilah segala sesuatu datang kepada kalian menurut niat dan perbuatan kalian. Tidak mungkin kita menyakiti orang lalu pergi begitu saja tanpa dihukum. Jika niat dan perbuatan kalian baik, kalian akan selalu baik. Kadang-kadang orang berpikir bahwa dia tidak pernah melakukan kesalahan tetapi mengapa dia mendapat hukuman? Saya pernah mendengar dari Grandsyekh ‘Abdullah QS bahwa seorang murid dapat membersihkan dosa atau kesalahan leluhurnya. Bagi Muslim yang baru yang datang ke sini, adalah suatu kehormatan kami untuk menghormati kalian, tempat tinggal yang terbaik dan menjamin kenyamanan. Tetapi masyarakat Muslim tidak tertarik, bahkan dalam dirinya sendiri, mereka sudah muak. Sesuai dengan kemampuan kami, kami akan berusaha untuk membuat kalian senang, tetapi ini bukan hal yang mudah. Kalian terbiasa dengan kehidupan yang elit, di sini kita hanya memiliki kehidupan yang sederhana.

Segala hal yang datang kepada seseorang, dia harus menyadarinya bahwa itu adalah Kehendak dari Allah SWT. Untuk kebaikan, kita harus bersyukur, untuk hal-hal yang tidak menyenangkan kita harus bersabar. Dengan kesabaran itu Allah SWT memberikan ganjaran yang tidak terhingga.

No comments: