05 April 2009

Keinginan Membawa Penderitaan

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.  Tidak ada kekuatan kecuali Kekuatan milik Tuhan.  Jika kalian tidak ingin menjadi apa-apa, kebahagian dan kedamaian akan kalian raih.  Barangsiapa yang ingin menjadi “seseorang”, maka penderitaan akan dipikulnya.  Bertahun-tahun Saya mengejar tujuan itu, untuk tidak menjadi apa-apa.  Jika kalian menanyakan, “Sudahkah Anda mencapainya?” maka akan Saya jawab, “Ya.”  Artinya Saya telah mencapai kebahagiaan itu.  Jika tidak, tidak akan pernah dicapai. Karena jika kalian meninggalkan eksistensi yang sementara ini dan masuk ke dalam Samudra Ilahi yang abadi, kalian akan lenyap. 

Jika seseorang terlempar dari bumi dan terbang, ada sebuah jarak ketika gravitasi akan menarik atau mendorong dia agar kembali jatuh.  Namun ketika dia telah mencapai sebuah tingkatan tertentu, maka tidak ada gravitasi yang dapat mempengaruhinya.  Di hatinya hanya ada kedamaian tanpa berbagai kesulitan.  Namun pada jarak sebelumnya akan banyak terdapat kesulitan, ketakutan, dan bahaya. Setelah itu tidak akan ada masalah, kalian bisa terus melaju dan tidak akan pernah jatuh. 

Ketika menjadi bagian dari kehidupan ini, kita seperti bintang-bintang yang bergerak pada orbitnya.  Kita berputar di sekeliling keinginan-keinginan dan nafsu.  Setiap keinginan fisik punya sebuah gaya gravitasi, sebuah gaya tarik yang menarik roh-roh kita untuk jatuh.  Mustahil kalian selamat dari penderitaan,  karena setiap keinginan membawa satu penderitaannya.  Mungkin keinginan tertinggi dari seorang manusia adalah sebuah pernikahan. Dan pernikahan ini membawa banyak sekali penderitaan, khususnya di Eropa.  Mereka lari dari pernikahan.  Bahkan antar kekasih.  Mereka juga membawa penderitaan, karena keinginan masing-masing untuk memiliki seorang kekasih. Apakah penderitaan itu?  Mungkin saja setelah sekian lama, kekasih kalian ingin meninggalkan kalian, namun kalian tidak ingin berpisah dengannya.  Kemudian kalian mulai menangis.  Padahal kalian laki-laki!  Banyak laki-laki yang menangis karena wanita, bukan begitu? 

Tanpa adanya penderitaan, kalian tidak bisa menggapai keinginan.  Ada yang ringan, ada pula yang berat penderitaannya.  Tetapi selalu ada.  Namun jika kalian tinggalkan keinginan-keinginan dan nafsu itu, maka tidak ada lagi gaya tarik yang akan menjatuhkan kalian ke arena penderitaan.  Kalian telah mencapai daerah bebas penderitaan.  Apa yang sedang Saya katakan adalah suatu kenyataan, bukan suatu imajinasi.  Semuanya pernah kalian coba dan usahakan.  Kami meminta kalian mencapai tingkatan di mana tidak ada lagi penderitaan, sebuah area di mana kalian telah meninggalkan setiap nafsu dan mengikuti Kehendak Tuhan kalian. 

Saya tahu bahwa orang-orang bahagia tidak akan datang ke tempat ini.  Saya dapat melihatnya dalam hati saya.  Jika kalian datang untuk mencari kebahagiaan, kalian musti tahu cara mendapatkannya.  Kebanyakan yang berada di sini adalah orang-orang yang menderita dan meminta jalan untuk keluar dari penderitaan.  Namun kadang-kadang mereka yang memintanya malah semakin terjatuh dalam jurang penderitaan.  Mereka mencoba memadamkan api dengan bensin.  Kadang latihan-latihan bisa berhasil, namun kadang-kadang membuat mereka semakin rusak. 

Beberapa praktik-praktik berguna bagi kaum wanita, tetapi tidak cocok bagi kaum lelaki dan kadang-kadang sebaliknya.  Untuk itu kami memiliki berbagai metode.   Adalah penting untuk mengetahui dosis dari metode-metode yang digunakan bagi setiap orang.  Setiap orang wajib mengenal diri sendirinya agar bisa disembuhkan.  Juga untuk mengetahui di mana memulai dan di mana harus berhenti.  Jangan seperti wanita yang sedang memasak sesuatu lalu mencampurkan segala hal ke panci tanpa tahu kapan dan apa yang harus dimasukkan.  Lalu ketika dibuka, ternyata semuanya hangus seperti arang. Jagalah diri sendiri karena tak ada yang lebih tahu diri kita kecuali kita sendiri. 

Nafsu mengakibatkan penyakit.  Keinginan hari ini lebih banyak dari keinginan kemarin.  Keinginan-keinginan tahun ini lebih banyak lagi dari tahun kemarin.  Setiap tahun meningkat.  Tak mungkin kita berhenti pada keinginan-keinginan yang sama.  Ketika tahun berganti, kalian mungkin berkata, ”Ini sudah kuno.  Aku ingin model yang lebih baru.”  Keinginan meningkat setiap bulan dan setiap tahun, tahap demi tahap.  Apa alasannya?  Pasti ada alasan di balik semua ini. 

Alasan mengapa keinginan-keinginan kita selalu  bertambah adalah karena keimanan kita semakin melemah.  Adalah iman/keyakinan yang menjadi dukungan bagi setiap orang.  Jika tidak ada iman, tidak akan ada dukungan dari roh pada fisik kalian.  Jika roh kalian mendukung tubuh fisik, maka kalian akan tetap berada pada tingkatan yang sama.  Seiring dengan bertambahnya usia, kalian akan tetap berguna.  Namun mereka yang bergantung karena kekuatan fisik saja tanpa mendukung  roh mereka dengan kekuatan spiritual, maka mereka akan jatuh dengan cepat. 

Keimanan semakin melemah di zaman sekarang.  Jika kita tidak yakin akan kehidupan akhirat yang abadi, maka kita berpikir bahwa keinginan-keinginan kita harus terpenuhi saat ini juga, di kehidupan ini.  Maka setiap orang bergegas  mendapatkan keinginan-keinginan mereka.  Dan jika kalian berlari di belakang keinginan-keinginan itu, kalian akan kelelahan dan semakin tidak terpuaskan.  Jika seseorang berpikir bahwa dia akan mati esok hari maka dia akan berpesan, ”Aku harus makan sebanyak-banyaknya, antar semua makanan ke sini!”  Lalu apa yang akan terjadi?  Apa yang akan dirasakan orang itu setelah satu piring dihabiskan?  Rasa enak makanan itu pun hilang.  Adalah suatu ketololan bila dia berusaha untuk terus makan dan makan. 

Orang-orang menampik segala hal tentang akhirat yang abadi.  Mereka hanya ingin kenikmatan bagi tubuhnya. Kalian harusnya sadar bahwa kalian di sini adalah satu untuk satu.  Tidak bisa kalian makan 2 porsi orang.  Jika makan terlalu banyak, maka kalian akan menjadi gemuk. Artinya kita tidak pernah bisa mencapai semua keinginan-keinginan itu, karena kemampuan fisik kita terbatas.  Sebuah mobil bisa melaju dengan kecepatan 200 km per jam sepanjang kalian injak gasnya, tidak mungkin lebih dari itu. Menjadi orang yang tidak beriman membuat orang menjadi gila.  Tidak bahagia dan mencetak mereka menjadi “orang yang tidak punya akal.” 

Alasan kita menderita adalah karena tidak mampu mencapai keinginan-keinginan kita.  Ada yang bertanya, ”Mengapa aku tidak bisa menggapai keinginan-keinginanku?”  Alasannya adalah karena hal itu mustahil.   Kalian tidak bisa memakan semua hidangan atau memiliki semua wanita.  Namun kalian ingin memiliki semuanya bagi diri sendiri.  Jika kalian kehausan dan berlari ke laut untuk meminum airnya, maka kalian tidak akan puas.  Namun jika kalian ambil secangkir air pegunungan, hal itu sungguh nikmat.  Tetapi yang dilakukan orang-orang adalah mengejar air laut!  Mereka bisa meledak karena kebanyakan minum.  Itulah sumber dari penderitaan: tidak puas dengan bagian kalian. 

Kehidupan ini adalah bagi banyak orang!  Kita masih seperti anak-anak kecil.  Seorang anak laki-laki akan mengambil mainan sebanyak yang kalian mampu berikan.  Namun jika ada anak lain yang datang, dia akan mengatakan, “Ini semua untukku!” 

Manusia tumbuh sepanjang usianya, namun mereka tidak melatih egonya.  Ego mereka masih seperti anak kecil.  Sifat-sifatnya masih sama.  Tidak mau berbagi dengan yang lain, hanya untuk kepentingan diri sendiri.  Tidak mungkin bisa menyembuhkan orang semacam itu, mereka akan mati dalam penderitaan.  Berbagai tingkatan penderitaan akan datang pada mereka.  Tak ada obat bagi mereka, kecuali mulai beriman pada kehidupan akhirat. 

Mereka akan menjadikan dokter-dokternya menjadi sakit dan juga menderita. Tak seorang pun memperoleh kebahagiaan kecuali beriman pada akhirat lalu mengatakan, “Ini cukup bagiku.  Sisanya, biarlah orang lain yang mengambilnya.” 

Wa min Allah at tawfiq

No comments: