08 May 2009

Tingkatan Spiritual

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Maryland, 10 Oktober 2004 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir ra
hmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Mu
hammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

(Rumah pribadi, melanjutkan konferensi ISRA di Maryland, Amerika Serikat)

Alhamdulillah, Allah SWT menunjukkan cara-cara yang berbeda untuk mereka.  Tergantung pada perbedaan kecakapan orang-orang, apa yang ingin ia pilih.  Sebagian memilih cara ini, yang lain cara itu.  Ada yang memilih dari arah timur, beberapa orang dari barat, dan ada yang memilih langsung, namun mereka semua berhenti di tempat yang sama.

Itulah sebabnya spiritualitas dalam Islam amatlah penting, karena mencoba membawa setiap orang menjadi, paling tidak, sebuah bagian dari muslim.  Bahkan jika ia belum siap menjadi seorang muslim, namun spiritualitas mengizinkan seseorang menjadi muslim dalam suatu bidang/bentuk lainnya.  Sebagaimana di dalam hadis: Allah SWT tidak melihat penampilan, namun Dia melihat hati kita.

Dan dikatakan sebagai berikut:  ma wasi'anii ardhi wa laa sama'ii wa laakin wasi'anii qalbi 'abdii al-mu'min -  Tidaklah bumi-Ku berisi Aku atau bukan pula dalam surga-Ku, tetapi Aku berada pada hati hamba-hamba-Ku yang beriman.   Hati adalah manifestasi dari keberadaan Ilahi.

Dan manifestasi itu penting  karena hal tersebut tidak membeda-bedakan.  Sebagai contoh Nabi SAW datang 1425 tahun yang lalu,  jika kita menggunakan tahun hijriah atau 1400 tahun yang lalu  pada zaman ini.  Bagaimana dengan rakyat Cina, Islam tidak sampai pada mereka saat itu dan juga keberadaan nabi.  Apa yang akan terjadi saat mereka meninggal?  Islam tidak sampai pada mereka saat itu.  Atau orang-orang Amerika, di sini, suku Indian.  Apa yang akan terjadi pada kaum-kaum ini?   Itulah mengapa segalanya tergantung pada niat.  Jika niatnya bagus, ampunan Allah SWT meliputi kaum ini, apa pun keyakinan mereka.

Bahkan Nabi Musa AS yang datang  5000  tahun yang lalu dan tiba di daerah kecil antara Palestina dan Arab.  Juga Nabi Ibrahim AS.  Bagaimana dengan penduduk di Siberia dan di India?  Kalian pikir Allah SWT tidak mengirim seseorang pada mereka?  Itulah mengapa, yang saya dengar dari Grandsyekh `Abdullah QS, saat kalian memulai meditasi spiritual, kalian mulai mendapat visi-visi dan ilham-ilham.   Ilham-ilham ini seperti matahari yang bersinar.

Abdul Munim bertanya, “Apakah ini bagian keyakinan dari tarekat mereka, bahwa Allah SWT tidak meninggalkan seseorang tanpa mengirim kebenaran padanya?

Ada sebuah kitab, yang dialamatkan pada Nabi Adam AS. 

Qulnah bithuu minhaa jamii'an fa immaa ya’tiyan-nakum minnii hudan faman tabi'a hudaaya fa laa khawfun 'alayhim wa laahum yahzanuun.  

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga itu!  Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [2:38]

Wahai Adam AS, Ku-kirim petunjuk-Ku… saat-Ku kirim engkau ke dunia, akan Ku-kirimkan padamu petunjuk-Ku.”  Tanpa petunjuk, Allah SWT tidak akan mengirim Adam AS ke dunia.  Petunjuk-Ku;  di mana pun ada manusia atau di mana pun terdapat anak-anak Adam AS,  pasti ada petunjuk di sana.  Kalau tidak, tidak akan ada keadilan di dunia.

Allah SWT tidak menciptakan Adam AS dan Hawa RA, dan mengirimnya ke dunia tanpa menunjukkan mereka jalan yang benar.  Saat mereka di dalam surga, mereka mendapat petunjuk, Allah SWT memberi petunjuk, “Kamu boleh miliki seluruh surga ini, namun Aku peringatkan, kamu dilarang mendekati pohon itu!”

Petunjuk adalah sesuatu yang menunjukkan kalian mana yang baik untuk diikuti dan mana yang tidak baik agar tak perlu diikuti.  Petunjuk adalah seperti dua sisi, layaknya dua buah mata pisau atau pedang; mempunyai dua sisi.  Allah SWT menunjukkan pada kalian apa yang harus kalian ikuti pada sisi yang satu, dan di sisi lain Dia katakan, “Ini buruk, jangan ikuti.”

Fa alhamaha fujuurahaa wa taqwaahaa. Qad aflaha man zakaahaa wa qad khaaba man das-saaha.  

Maka Allah SWT mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,  sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.  [91:8-10]

Allah SWT berfirman bahwa Dialah yang memberi ilham pada diri manusia.  “Alhama” dalam bahasa Arab berarti terbuka atau terilhami.  Dialah yang mengilhami diri, nafs, Fa alhamaha fujuurahaa wa taqwaahaa, “fujuuraha” adalah kefasikannya.  Bagaimana bisa Allah SWT mengilhami kefasikan? 

Namun dalam firman-Nya di kitab suci al-Quran, Fa alhamaha fujuurahaa, Dia mengilhami jiwa-jiwa untuk menunjukkan apa yang salah dan segera Dia memberi petunjuk pada hal salah itu, dan hasil akhirnya adalah taqwa, patuh.

Artinya, “Apakah hari-hari akhirmu, setelah melakukan kesalahan akan berakhir baik?  Bagaimana mereka mengakhirinya? Baik?  Dia mengilhami jiwa dengan apa yang tidak baik, tetapi hasil akhirnya Dia ingin agar kita bertaqwa.

Firman Allah SWT dalam hadis Qudsi, “Rahmat-Ku mengesampingkan kemurkaan-Ku.”  Ketaqwaan mengesampingkan kefasikan.  Tanggung jawab sang pemandu untuk memandu kita. Bila kita ditinggalkan sendiri, kita mungkin terjatuh dalam fujuur, kefasikan.  Kita mungkin tidak termasuk dalam kategori taqwa.

Jika kita masuk dalam kategori fujuur, bisa kita katakan, bagaimana kita mengakhirinya; sebagaimana Dia ingin kita berakhir, dalam ketaqwaan?  Allah SWT berfirman, ”Qad aflaha man zakaahaa.”  Mereka yang meningkatkan taqwa pada dirinya sendiri dan menyucikan diri sendiri adalah yang menjadi pemenang.”

Untuk melakukan itu bagi diri kalian sendiri, kalian membutuhkan petunjuk.

Jika tak ada petunjuk, bagaimana mungkin anak-anak Adam mengikuti apa yang Allah SWT jelaskan dalam Quran Surat Asy-Syams. Itulah mengapa “petunjuk”  merupakan kata sifat—menjelaskan mereka yang punya cara berbicara dan berpidato,  sebagai contoh, adalah cara untuk memberi petunjuk.

Islam bukanlah anarki.  Bukan sistem yang kacau.  Namun suatu tingkatan.  Para komunis adalah totalitarian, di mana pemerintahnya mencoba untuk mengatur segalanya dalam kehidupan kalian.  Islam bukan seperti itu.  Allah SWT memberi kalian prinsip-prinsip dan ingin menyelamatkan kalian pada akhirnya.  Itulah mengapa Dia menyusun 124.000 nabi.  Dan puncak piramidnya adalah Nabi Muhammad SAW.  Nabi Adam AS berada di dasar.  Di mana letak 124 ribu nabi yang lain?

Kita tahu berapa banyak yang tercantum dalam kitab suci Quran.  Berapa yang tercantum dalam Quran?  Ada 25.  Ada 313 utusan-utusan yang tidak disebutukan.  Sebagian dari mereka adalah utusan-utusan, mereka adalah rasul.  Sisanya adalah para nabi.  Di mana mereka?

Saat Allah SWT berfirman, “Fa alhamaha fujuurahaa wa taqwaahaa,”  Dia yang mengilhami  jiwa dengan yang fasik dan mengilhaminya dengan apa yang baik – Apakah Dia tidak mengirim nabi-nabi ke daerah Palestina dan Mesir, Mekah dan Madinah?  Apakah ini untuk  seluruh dunia?  Anak-anak Adam AS ada di mana-mana.  Ke mana nabi-nabi ini dan mengapa kita tidak mempunyai jawaban tentang mereka?

Kita tidak menemukan contoh-contoh mereka dalam sejarah. Tetapi mereka ada.  Padahal Allah SWT tidak akan  meninggalkan seorang pun tanpa seorang pengawas bahkan selama 24 jam.  Dalam spiritualitas, mereka yang berada di puncak gunung pun tidak ditinggalkan tanpa seorang pembimbing.

Seorang wali, setelah Nabi Muhammad SAW tak ada lagi nabi-nabi yang lain, namun ada pewaris, mereka adalah para awliya.  Pewaris ini adalah anbiya yang menjelajah seluruh dunia.  Saat kalian pergi ke seluruh penjuru dunia dan pesawat telepon juga “menjelajah” bersama kalian.  Awliya sedang menjelajah seluruh dunia.  Pasti ada, di puncak gunung pun atau di hutan dan di gurun pun, pasti ada satu wali yang harus muncul untuk menjaga kalian di wajah kalian dan lenyap.

Itulah tugas Qutub al-mutasyarrif.  Allah SWT memberi 5 orang qutub kekuatan di atas bumi dan mereka diambil dari salah satu dari 5 nabi terbesar (ulul-`azham).  5 orang qutub tersebut mengatur setiap detilnya, seperti seorang dokter yang memeriksa setiap detil tubuh kalian.  Allah SWT mengutus 5 qutub untuk memeriksa setiap detil umat manusia.  Di bawah mereka ada 124 ribu wali.  Mereka diutus untuk menjelajah dunia untuk menggapai setiap manusia, kalau tidak maka takkan ada keadilan Ilahi.  Setiap orang harus dibimbing.  Para awliya inilah yang memeriksa manusia di seluruh penjuru dunia, datang dan memeriksa mereka.  Itulah mengapa Allah SWT berfirman, “fa man tabi'a hudaya…” Allah SWT sedang mengirim petunjuk, untuk menyucikanmu dan menunjukkanmu jalan yang benar.

Ada petunjuk secara nyata yang bisa kalian lihat atau seorang wali yang dapat kalian lihat, kalian duduk dan berbicara dengan beliau.  Dan ada para awliyaullah  yang tak nampak, mereka disembunyikan namun secara spiritual mereka bekerja pada hati-hati manusia dari jarak jauh.

Saat Nabi SAW dalam  Isra' dan Mi'raj, beliau mencapai sebuah tempat di mana Malaikat Jibril AS tak mampu mencapainya.  Jibril AS mengatakan, “Sekarang, pergilah sendiri, Aku tak mampu lagi meneruskan, kalau tidak aku akan terbakar!”  Nabi SAW pun pergi dan sampailah ke sebuah tempat di mana  Allah SWT dulu mengirim wahyu, “Ya Muhammad SAW, Aku ciptakan semua ciptaan-Ku untukmu.  Dan Aku kirimkan seorang utusan untuk bangsamu.  Dan engkaulah utusan untuk setiap bangsa, namun sekarang waktumu untuk bangsa di bumi ini.  Dan  wahai Muhammad SAW, ini adalah umatmu, Aku berikan padamu sebuah kepercayaan, apakah engkau mau menerimanya?”

Dan siapa umat Nabi Muhammad SAW sekarang?  Aku tanya kalian sekarang.  Para muslimin.  Muslim bukan hanya kaumnya Sayyidina Muhammad SAW.  Saat zaman Yesus AS, beliau datang untuk setiap orang pada waktu itu.  Saat Nabi Musa AS datang, beliau diperuntukkan untuk manusia di zaman beliau.  Pada zaman Nabi Muhammad SAW, beliau datang untuk semua umat manusia.

Itulah mengapa cendekiawan mengatakan bahwa umat itu dibagi menjadi 2 bagian:  Ummat al-ijaba dan  Ummat ad-da`wah.  Ummat al-ijaba adalah mereka yang menerima apa yang  telah Nabi SAW serukan pada mereka.  Ummat ad-da`wah adalah mereka yang belum menerimanya.  Seluruh makhluk adalah umat beliau.

Allah SWT perlihatkan pada Nabi SAW, “Inilah umatmu, ya Muhammad.”  Dan Allah SWT perlihatkan roh-roh mereka. Ini adalah ajaran para awliya.  Seperti ajaran uwaysi (transmisi spiritual-penerj.).  Ada 2 macam ajaran;  yang kalian baca melalui buku-buku dan satunya didapat dari  awliya melalui hatinya, lewat ilham-ilham dan lalu mereka ajarkan.  Pernah saya terangkan mengenai Sayyidina Ahmad al-Badawi ق, orang suci yang mengajari mereka pengetahuan itu.

Allah SWT perlihatkan orang-orang itu, ruh-ruh mereka yang diperlihatkan dalam ketaqwaan, kepatuhan yang sempurna. Semuanya senantiasa menyembah.  Kalian pikir Allah SWT menciptakan roh-roh dan mereka tidak menyembah terus-menerus?  Mereka diciptakan dari Bahr al-qudrah, sumber-sumber dari surga, jiwa-jiwa mereka adalah suci.  Apa kira-kira yang dilakukan jiwa-jiwa suci itu di hadapan-Nya?  Mereka senantiasa menyembah.  Jiwa-jiwa ini, hamba-hamba Allah, senantiasa beribadah saat berada di tempat sebelum masuk ke raganya.  Saat masuk ke raga mereka, raga-raga itu menggenggamnya laksana tawanan, seperti seseorang yang diculik.

Ini bukan sebuah kuliah akademis.  Ajaran akademis, seperti yang saya senang  katakan, selalu qaala waqiil – “Ada yang berkata ini dan ada yang berkata itu.”  Pengajar-pengajar itu membaca dari buku dan lihatlah apa yang dikatakan dan dipresentasikan.  Sesuatu yang tidak memberikan buah.  Hanya menjelaskan buah, tetapi tidak merasakannya.  Merasakan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.

Kita mempunyai pengetahuan yang datang selama ribuan tahun. Apa yang kalian harapkan dari pengetahuan spiritual saat ini?  Harus terus berkembang.  Yang datangnya melalui ilham-ilham hati, yang tidak terekam dalam buku-buku.  Sayangnya saat ini hanya sedikit orang-orang suci yang mendapat pengetahuan seperti itu.  Sisanya adalah qiil wa Qaala – “menurut si ini dan menurut menurut si itu.”

Mari kita kembali lagi.  Saat Allah SWT memberi jiwa-jiwa ini pada Nabi SAW, Allah  SWT memperlihatkan bagaimana mereka dulunya saat berada di surga, senantiasa beribadah, sebelum mereka diciptakan sebagai manusia.  Mereka senantiasa penuh dengan ibadah.  Dan Allah SWT berfirman, “Apakah engkau menerima mereka, menjaga mereka sampai kiamat kelak?”  Mereka sangat suci, sangat tulus.  Seluruhnya umat Nabi Muhammad SAW; ummat al-ijaba dan ummat ad-da`wah.

Begitu Nabi SAW menjawab, “Ya, Aku menerima mereka.”  Nabi SAW menerima kepercayaan itu… Apa yang kalian lakukan saat diberi sebuah kepercayaan?  Kalian meletakkannya di tempat terbaik, jangan sampai dicuri.  Begitu beliau menerima mereka, Allah SWT perlihatkan pada beliau bagaimana mereka akan berbuat kefasikan di dunia.  Semua keburukan perilaku mereka.

Sekarang Nabi SAW tak bisa lagi mengatakan, “Aku tidak mau menerima mereka.”  Itulah sebabnya kita katakan dalam Islam, “man wa`ada wafa” – “Kamu tidak bisa mengubah apa yang telah kamu janjikan.”  Dan sering kali dikatakan bahwa nilai ini telah lama hilang dari dunia Islam dan Arab.  Mereka tak bisa memegang janjinya.

Saya terkejut bahwa nilai-nilai Islam ini dipegang baik-baik di dunia Barat.  Mereka menepati janji.  Kalian jangan ingkar janji.  Itu adalah prinsip Islam.  Al-mu'min izha wa'ada wafaPara mukminin, jika mereka berjanji, mereka menepatinya.”  Hari ini jika mereka berjanji sesuatu, menit berikutnya mereka menipu kalian.  Di dunia Barat dan Eropa, jika mereka mengatakan, “Saya berjanji.”  Mereka tak pernah berubah.

Maka saat beliau menerima ummatnya, Nabi SAW berkata, “Ya Rabbi, berilah aku penolong-penolong untuk membantu apa yang harus aku lakukan.”  Dan Allah SWT memperlihatkan beliau seluruh umat, berkelanjutan, tanpa terputus, setiap masa terdapat 124.000 wali yang sedang berdiri di atas jejak ke-124.000 nabi yang merambah umat-umatnya setiap waktu.

Jadi saat Nabi SAW melihat hal tersebut, beliau sangat bahagia, beliau membagi ummatnya menjadi  ummat al-ijaba dan ummat ad-da`wah.  Beliau membagi-bagikan ummatnya kepada setiap orang-orang suci ini.  Ada yang mendapat 100 juta, ada yang 20 juta, dan selanjutnya.  Mereka katakan,  segera setelah umat Nabi SAW mencapai angka 400 milyar, Hari Kiamat akan tiba.  Artinya bahwa umat Nabi SAW yang diceritakan keseluruhan adalah 400 milyar. Saat ini kita berjumlah 6 milyar.  Namun jika kalian jumlahkan dari awal, saat  akan mencapai  400 milyar,  Allah SWT akan mengutus malaikat Israfil AS untuk meniup terompet.

Beberapa wali memimpin 100.000 orang, ada yang 1 juta, dan 100 juta.  Namun bagaimana wali-wali ini menghampiri seluruh umat yang telah dibagikan pada mereka? dalam dunia nyata, seorang wali mungkin mempunyai 100 ribu atau 200 ribu pengikut, dari timur ke barat, dari utara ke selatan.

Seperti pernah kami katakan ada 2 tipe pengikut: yang bertemu syekh secara fisik dan bertemu beliau dalam mimpi atau penglihatan; atau mereka bertemu syekh di jalanan dengan penampilan lain lalu membimbingnya. Mereka dapat merubah diri.  Sedikitnya seorang wali mampu berubah dalam 12.000 bentuk di seluruh dunia.

Saat Nabi SAW melihat itu, beliau sangat gembira.  Beliau pun membagi-bagi umatnya di tangan 124.000 awliya.   Hal ini bermanfaat pada pengikut-pengikutnya; baik mereka pengikut secara nyata maupun secara spiritual.  Keduanya sama-sama di bawah ri`ayat asy-Syekh – penglihatan (atau tuntunan) para syekh.  Supaya awliya Allah mempunyai waktu untuk diri sendiri.  Saat tak ada yang bersama mereka, para awliya memeriksa hati para pengikutnya sedikitnya 3 kali sehari.

Di manapun mereka, di gurun maupun di hutan.  Mereka menghampiri dan memperbaiki para pengikutnya.  Jika mereka tidak memperbaikinya,  mereka membawa sendiri amal buruk dan baik itu menuju Nabi SAW dan memintanya untuk memaafkannya. 

Wa law annahum idz zhalamuu anfusahum ja-uuka fastaghfarullaaha wastaghfara lahumu ar-rasuulu la wajaduu Allaha tawwaaban rahiima 

Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah SWT, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah SWT Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [4:64]

Saat mereka menganiaya diri sendiri, saat mereka sadar bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang buruk pada hidupnya, pada Allah SWT, “Mereka harus datang padamu, Ya Muhammad SAW.” 

Ja-uuka – mereka datang padamu, ya Muhammad SAW.  Ini terjadi untuk dulu, sekarang dan yang akan datang.  Quran berlaku bagi semua masa.  Hal itu menunjuk pada masa mendatang. Artinya semua yang telah melakukan kesalahan harus datang pada Muhammad SAW.

Bagaimana kalian datang pada Muhammad SAW? Kita butuh sebuah kendaraan.  Pembimbing, yang akan mengangkat kalian, keburukan, kefasikan yang telah kalian lakukan menuju Nabi SAW; pembimbing menunjukkan sisi baik kalian dan menyembunyikan sisi buruk kalian dan memikulnya di pundak mereka.

Jangan berpikir bahwa para awliya sedang bermain, duduk bersama kalian, mengajar dan makan bersama kalian.  Adalah kesucian yang membuat mereka tetap bersama kehadiran Nabi Muhammad SAW, mengambil tanggung jawab pada diri mereka, begitu kalian memberikan tangan kalian untuk bay`at, mereka adalah sang pembawa, beban nyata.  Itulah mengapa saya katakan lompatlah ke kereta itu.  Jangan berpikir bahwa kalian mampu menjadi kereta itu. Dan jangan duduk seraya menghitung berapa banyak kereta yang telah lewat.  Lompat dan larilah lalu kereta itulah yang akan membawa kalian.

Kereta kita adalah  Mawlana Syekh Nazim QS.  Dan selamatlah kita, karena kereta terhubung dengan mesin.  Mesin yang aman.  Mesin-mesin bila tidak mempunyai minyak akan berakhir.  Mesin nabi adalah mesin surgawi, selalu hidup.  Awliya tersambung pada nabi.  Mengantar kalian menuju nabi.  Tugas mereka adalah membawa setiap orang yang telah dititipkan, bukan hanya 10 atau 15 orang yang sedang duduk bersama syekh.  Jangan cemburu.   Mereka ada di seluruh dunia.  Mereka melihat syekh dalam berbagai bentuk penampilan.  Mereka di sana bagi para pengikutnya.

Mereka datang padamu, ya Muhammad SAW dan mereka meminta ampunan Allah SWT melalui keberadaan Nabi SAW.”  Tak mungkin ada cara lain.  Mereka harus datang padamu, Ya Muhammad SAW untuk meminta ampunan-Ku melalui keberadaanmu.

Dan itu tidak hanya dibenarkan, itu harus disahkan.  Saat kalian membutuhkan sebuah dokumen, notaris akan menstempelnya.  Itu saja tidak cukup, kalian juga membutuhkan pejabat daerah untuk mengesahkan pula.  Kadang kalian butuh lebih, butuh stempel  pemerintah pusat.  

Maka seorang wali membubuhkan stempelnya.  Namun Nabi SAW harus mengesahkan pula.  Wastaghfara lahum ar-rasula. Stempel: “Pada saat engkau mendapatkan Allah SWT mengampuni mereka.”  Awliya mempunyai tugas untuk membawa kalian semua.  Bahkan jika kalian tidak mengetahuinya.  Hal itu ditugaskan saat Isra Mi'raj.   Itu adalah bagian yang penting, yang orang tak mengetahuinya. Isra dan Mi'raj  penting untuk bangsa bangsa.  Jangan mencoba mencari itu di buku, atau menyelidikinya, hal itu datang langsung dari sumbernya.

Ketika saya diberi wewenang oleh Syekh--Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS -- saat saya berceramah saya tak membutuhkan persiapan.   Tidak berguna dan tak akan diterima persiapan dari sebuah presentasi.  Jika kalian menyiapkannya,  presentasi itu akan dilempar ke wajah kalian, orang-orang akan tidur dalam kuliah kalian.  Karena saat kalian menyiapkan sebuah presentasi, kalian menyiapkannya bersama ego-ego kalian.  Pernah kami menyampaikan tentang Sayyidina Ahmad al-Badawi QS dengan segala pengetahuannya.

Kalian tak tahu siapa yang akan menjadi penonton.  Mungkin apa yang kalian siapkan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.  Maka para awliya, mereka bicara hanya dengan mencolok pada steker kalian, tanpa kabel.  Telekomunikasi instan tanpa kabel.  Para pendengar menerima sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.  Sang guru memeriksa apa yang dibutuhkan muridnya dari jauh.  Kami ini tak lebih dari sebuah radio.  Ketika tanda “on”menyala di studio kami pun berbicara; saat mereka berhenti–zero.  Tak ada lagi yang dikatakan.  Kadang mereka meminta saya, bicaralah.  Saya menjawab, “Saya tidak tahu apa yang akan saya bicarakan.”

Mereka mengajari.  Saat kami mematikan saklar, kalian tidak ada apa-apanya.  Jangan pikir hal itu berasal dari kalian sendiri.  Tarekat adalah kerendahan hati.  Jika kalian  tidak belajar sendiri untuk menjadi rendah hati, kalian tak akan maju dalam spiritualitas. 

Itulah sebab adanya perbedaan besar antara kaum akademis dan para pengajar.  Perbedaan besar dalam hal cara mengajar.  Perbedaan itu ada pada koneksi, steker pada sumber utamanya. Apakah koneksinya benar, apakah terkait dengan ego atau untuk kemasyuran?  Apakah dia mengira dirinya seseorang yang dihormati? Atau dia mengira dirinya sebagai orang biasa?

Ada seorang wali dalam mata rantai Naqsybandi yang pernah berbicara, “Saat aku meninggal nanti, dan kuburanku berada di sana, ambil penutup kepalaku dan lemparlah ke atas.  Di mana pun turban itu mendarat di kepala seseorang, maka dia yang akan menjadi khalifahku, seseorang yang mewarisi rahasiaku.”

Semua murid Syekh saat itu... seperti saat ini, Syekh memberikan ilmu tarekat untuk semuanya, dulu mereka harus belajar tentang prinsip Islam, hukum dan segalnya.  Bukan hanya ilmu Islam saja, tetapi segalanya.  Dan Syekh mempunyai banyak pengikut,  para ulama pengajar, profesor-profesor, doktor-doktor dalam berbagai jenis filsafat dan pemikiran.  Mereka laksana seekor burung merak, begitu besar, bukan seperti kalian, seperti sebuah balon, saat naik ke udara, jika kalian menusuknya dengan sebuah jarum  mereka pun meletus.

Beliau adalah Sayyidina Ubaidullah al-Ahrar QS, yang dimakamkan di Uzbekistan, Samarqand.  Dan khalifahnya adalah Muhammad az-Zahid QS.

Maka ketika  Syekh meninggal, semuanya menangis, mereka tak dapat mempercayainya.  Saat Mawlana Syekh `Abdullah QS meninggal,  kami tak dapat mempercayainya, beliau adalah syekhnya Syekh kita.  Saya masih kecil waktu itu.  Kami tak percaya beliau akan meninggal.  Allah SWT memberi sebuah cinta di hati yang demikian besar untuk syekh kalian, kalian serahkan semuanya demi beliau seperti ketika para sahabat, Sayyidina 'Umar RA berseru, “Jika ada yang mengatakan bahwa Nabi SAW telah meninggal, maka akan kutebas lehernya.”  Saat itu mereka menangis. Menangis secara lahir, namun masih mencari tempat untuk duduk di kursi.  Inilah penyakit yang sangat berbahaya saat ini.  Siapa yang peduli, khalifah atau bukan?  Kalian tak ada beban.  Kalian tak memilikinya.  Jika kalian berada dalam sebuah kereta, kalian selamat, tidur seenaknya, melakukan apa yang kalian mau.  Itulah penyakit saat ini.  hubb ar-riyasa.

Maka saat beliau meninggal, mereka mengambil turbannya dan melemparnya ke atas.  Turban itu mulai membumbung.  Itu mengandung rahasia sang syekh, namun terselubung dari kenyataan dari seorang syekh.  Seorang syekh mampu membawa seseorang yang tak tahu apa-apa, mengisinya dengan pengetahuan surga, pada suatu kesempatan.

Lalu semuanya mulai menegakkan kepala agar dapat menangkap turban itu.  Turban itu mendarat di kepala salah seorang murid.  Murid itu adalah seseorang yang sedang duduk di pintu membersihkan sepatu murid-murid lainnya, agar saat mereka pergi, sepatu telah bersih dan teratur.  Dia adalah pembersih sepatu.  Bagaimana bisa?”  Mereka saling bertanya, “Pembersih sepatu adalah khalifah Syekh?  Tidak, turban itu salah.”  Maka mereka pun melemparnya ke atas lagi,  namun jatuh pada orang itu lagi, “Tidak!  Turban itu tidak benar.  Coba lagi!”

Mereka melemparnya lagi untuk ketiga kalinya, namun turban itu tak peduli dengan apakah orang itu bergelar akademis--dia memperhatikan kemurnian hati.  Karena Allah SWT akan memberikan ilham, membuka tabir ilham.  Syekh menginginkan sebuah pipa yang bersih.  Saat pipa kalian tersumbat, kalian memanggil siapa?  Abdul Fattah, si pembuka pipa.

Para akademisi, syuyukh, ulama, profesor, pipa mereka tersumbat.  Jika syekh ingin melimpahkan sesuatu, mereka tak mampu.  Siapa orang yang bersih?  Mereka yang berada dalam sepatu.  (Sepatu menggambarkan alas, terbawah, harus disembunyikan di belakang masjid, jauh dari barisan depan)

Cerita ini menunjukkan kerendahan hati, bukan kesombongan.  Itulah yang dibutuhkan.  Sebuah saluran pipa bersih agar air dapat melewatinya.  Maka turban jatuh kepada orang yang paling bersih hatinya.  Mereka yang tidak pernah memperlihatkan diri sendiri di hadapan syekh, yang tidak pernah memperlihatkan keinginan pada syekhnya;  yang tidak pernah bertanya dan tidak pernah keberatan akan suatu masalah.

Apapun yang dikatakan syekh, dia mengatakannya seperti itu.  Sami’na wa atha'na.  Tidak hanya sam'ina, membaca hanya dari buku. Di mana itha'at, ketaatan?  Itu adalah karakter yang paling sulit – menaati.  Setiap orang mengira dialah yang mempunyai pikiran atau pengetahuan yang tertinggi dan terbesar.  Bahkan pada seorang anak.  Kalian membawa seorang anak dan kagum dengan opininya.  Kalian tidak melihat bahwa seseorang bahagia dengan pikirannya sendiri?  Saya sekarang sedang mempelajari istilah-istilah teknis ini. 

Setiap orang mengira bahwa dialah pusat perhatian, egois.  Di depan ayahnya, di depan ibunya, dia mengatakan, “Kalian kaku, tertutup.  Kita membutuhkan keterbukaan.” Bahkan saat orang tuanya sangat “rapi” dalam gaya Barat atau bukan, kita merasa keberatan.  Anak-anak melakukan hal itu.  Kita ini anak-anaknya para awliya.  Setan akan selalu keberatan pada syekh.  Jangan biarkan wabah itu memasuki hati kalian atau kita tak akan mencapai titik mana pun.  Semoga Allah SWT mengajari dan membimbing kita.

Itulah mengapa seorang syekh adalah penting.  Jika tidak ada syekh yang hidup, yang dapat kita hubungi dan membawa kita… Bahkan pertemuan dengan syekh sekali setahun atau dua kali setahun sangatlah penting.  Pertemuan itu akan membawa kalian kembali pada jalur yang benar, karena kita menyimpang sedikit demi sedikit, dari hari ke hari.

Semoga Allah SWT merahmati pemilik rumah ini dan keluarganya, anak-anak dan cucu-cucunya dan merahmati kita semua, bi-hurmatil Fatiha.

Sekarang saatnya saya memberi kalian kesempatan.  Hafizh datang yang berasal dari Pakistan.  Di hadapan seorang awliya, kita mendapat banyak spiritualitas dan banyak kehidupan  yang tidak bisa kita bayangkan.  Kehidupan ini berasal dari awliya, dari sumbernya.  Firman Allah SWT dalam Surat al-Anfaal:

yaa ayyuhal-ladziina aamanuu-stajiibuu lillaahi wa lir-rasuuli idza da'aakum limaa yuhyiikum... 

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah SWT dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. [8:24]

Kehidupan itu adalah para awliya, kehidupan ini adalah Islam, kehidupan ini adalah cinta pada Allah SWT, mencintai Allah SWT, sahabat, tabi'iin, dan cinta pada awliya...  Awliya adalah orang-orang yang mencintai hanya karena Allah SWT.

Saya ingin berbagi pengalaman dengan kalian.  Saat saya datang kemarin, saya mendengar banyak pidato.  Beberapa pidato membuat saya mengantuk.  Saya katakan pada teman yang duduk di sekitar saya, “Saudaraku, leher saya sedang sakit.”

Seorang penyair terkenal yang bernama Iqbal, Allama Iqbal.  Dia mempunyai sebuah puisi berbahasa urdu mengenai hal ini: Jika  hati para pembicara diterangi nur Allah SWT, maka mereka memberi kehidupan pada pendengarnya.  Pendengar mendapat kehidupan dari pidato tersebut.

Jika hati penuh dengan kegelapan, maka kalian membawa mereka dalam kematian.  Ketika saya mendengar syekh kita kemarin, saya merasa hidup,  alhamdulillah.  Tidak tahu inspirasi apa yang beliau sampaikan, semakin saya mendengarnya, semakin hati saya dipenuhi cahaya.

Cinta para awliya adalah sumber utama jika kita mencintai mereka seperti kata Syekh, bahwa kita berada dalam kereta dan tak ada ketakutan di dunia dan ketakutan di akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Yunus: `alaa awliya- ullah, la khawfun `alayhim wa la hum yahzanuun.  Mereka yang paling mencintai Allah SWT tidak akan ada ketakutan, tidak huzn di dunia dan di akhirat.

Mereka akan mendapat berita bagus, busyra, dalam kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya, tak ada perubahan dalam prinsip-prinsip Allah SWT.  Apakah prinsip-prinsip Allah SWT?  Jika seseorang berada dalam kereta sebagai dasar pemikiran, aturan universal, yang takkan berubah.  Ini yang harus kita saling pelajari.  Cinta pada para awliya adalah dasarnya, yang kemudian beliau akan membawa kita menuju cinta pada sahabat Nabi SAW, dan dibawa lagi menuju cinta Nabi SAW dan cinta Nabi SAW akan membawa kita pada cinta Allah SWT.

Kita harus menjalaninya selangkah demi selangkah.  Kalian akan bergerak selangkah demi selangkah.  Insyiqaq.  Mereka yang tidak beriman selangkah demi selangkah akan menuju kerusakan, dan orang yang beriman akan menuju pada Allah SWT selangkah demi selangkah.

Syekh Sa`adi  QS dari Persia pernah berkata, “Menghabiskan waktu sedetik bersama teman Allah SWT adalah lebih baik daripada seratus tahun beribadah.”  Ibadah tersebut tidak tampak, tak ada yang melihat kita, menyembah Allah SWT, walau demikian, sedetik, satu waktu bersama seorang wali lebih berharga daripada itu semua.

Kami merasa diberkahi berada di antara para awliya.  Mereka yang mencintai Allah SWT dan mereka yang mencintai utusan-utusan Allah SWT.  Wali yang menghubungkan kita semua adalah Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS, beliau adalah maha guru dari segala guru besar,  maha gurunya para awliya yang berhubungan dengan dunia dan akhirat.

 

No comments: