14 August 2009

Penyembuhan Kalbu melalui Iman

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir ra
hmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Mu
hammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Nabi Suci SAW bersabda, “Dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia sehat, seluruh tubuh itu pun sehat.  Segumpal daging ini adalah kalbu.” Kalbu adalah sesuatu yang paling penting, karena kalbu adalah singgasana dari hakikat manusia, dari kepribadian dan karakternya. Dan kesehatan kalbu bergantung pada iman.

Kesehatannya muncul melalui ketulusan (ikhlas), dan penyakitnya timbul karena kemunafikan. Kesehatannya ada dengan cinta pada Allah SWT, dan penyakitnya bermunculan karena kecintaan akan dunia. Kesehatannya datang lewat kepuasan (qana'ah), dan penyakitnya berjangkit oleh adanya keserakahan. Kesehatannya ditimbulkan pula melalui kelembutan, sedangkan penyakitnya melalui amarah. Kesehatannya menguat dengan mengingat Tuhannya atau dzikir, dan penyakitnya dengan kelalaian, melupakan Allah SWT. Kesehatannya terjaga dengan kehadiran bersama Allah SWT, dan ia sakit karena lupa akan Allah SWT dan hadir dengan setan.

Ada begitu banyak penyakit-penyakit kalbu: kemunafikan, syirik, pamer, kebanggaan dan keangkuhan, keserakahan, dengki, iri, kebencian, keras kepala, cinta akan dunia, egoisme, bohong, ghibah (menggunjing), niat buruk,... Siapa pun yang memiliki salah satu saja dari karakteristik ini, berarti ia tengah sakit dan membutuhkan pengobatan.

Nabi SAW datang untuk menyembuhkan kalbu. Tak ada satu pun penyakit, baik fisik maupun spiritual, yang tak dapat beliau sembuhkan. Beliau menyembuhkan Sahabat-sahabatnya, dan meninggikan derajat mereka, hingga mereka bagaikan bintang-gemintang di langit. Kemudian, para Sahabat ini pun menjadi dokter-dokter dan menyembuhkan yang lain. Mereka yang mengikuti para sahabat ini, yaitu para Tabi`in, menjadi Penyembuh pula, dan begitu seterusnya hingga saat ini.

Setiap wali (kekasih Allah SWT), pewaris Nabi SAW, memiliki kemampuan untuk memberikan pengobatan pada manusia baik untuk penyakit-penyakit fisik maupun spiritual. Jika seseorang ingin mengetahui kondisi kalbunya, ia harus pergi menemui seseorang yang tahu akan hal tersebut.   Tetapi, saat ini, manusia demikian angkuhnya hingga mereka mengira dapat menyembuhkan dirinya sendiri.  Mereka tak mau menerima baik para wali, maupun ulama, ataupun orang lain yang memiliki ilmu. Bahkan seorang dokter-kepala pun memanggil dokter lainnya meminta tolong ketika ia sedang sakit. Ia tidaklah berdiri di depan suatu cermin untuk kemudian menyembuhkan dirinya sendiri. Adalah suatu perintah Ilahiah untuk berkonsultasi dengan mereka yang selalu berada di Hadirat Ilahiah, karena jawaban-jawaban yang dikirim kepada kalbu mereka dikirim langsung oleh Allah SWT sendiri. 

Wa min Allah at tawfiq

No comments: