Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

08 July 2010

Agama Hanya untuk Melatih Orang dalam Perilaku yang Baik

Mawlana Syekh Nazim Adil Al-Haqqani Sultanul Awliya | Jumat, 14 Agustus 2009 | Lefke CY

...itulah keyakinan kita, dan pasti keyakinan kita dengan jalan seperti itu, jika nyamuk saja tidak dapat menggerakkan sayapnya tanpa Kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, bagaimana dengan umat manusia yang bukan merupakan orang-orang yang beriman, bahwa mereka dapat melakukan sesuatu sendiri.

Mereka tidak dapat melakukannya. Jika Allah (swt) mengizinkan, mereka dapat melakukan sesuatu; tetapi bila tidak, bahkan seluruh tentara di dunia ini, bangsa-bangsa lainnya, mereka tidak dapat melakukan apa-apa.

Heh! Sudah cukup bagi Tuhan pemilik surga atau cukup hanya dengan berkata kepada teknologi, atau berkata kepada bom-bom baru, “Stop dan jangan melakukan apa-apa!"

Habis. Habis. Habis. Tetapi kita tidak berusaha untuk memahami sesuatu. Barangkali paling tidak kita harus tahu, kita harus percaya bahwa Sang Pencipta, bila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya mengatakan, “Jadilah!” maka jadilah ia dan jika Dia mengatakan, “Jangan!” maka ia tidak akan terjadi.

Benar, wahai masyarakat Muslim, umat Sayyidina Muhammad (s), jika Allah (swt) memerintahkan sesuatu agar jadi, maka ia akan terjadi!

Tetapi keyakinan umat Muslim akan turun hingga ke level terendah dan terdalam, namun pada level ini pun Muslim harus percaya bahwa segala sesuatu terjadi atas Perintah Suci dari surga, untuk terjadi atau tidak terjadi.

Itulah alasannya Nabi (s) bersabda, “Akan datang suatu masa di mana Islam hanya tinggal nama, tak ada lagi yang lainnya."

Kalian harus percaya bahwa perintah sejati untuk segala sesuatu berasal dari surga dan Allah (swt), Dia tidak, Dia tidak, heh, kita bisa mengatakan, "kosong" untuk mengawasi senjata-senjata kalian, untuk mengawasi bala tentara kalian, tidak.

Tidak, Dia tidak melihat. Dia bisa memerintahkan satu makhluk untuk membuat bangsa-bangsa yang sombong di abad ke-21 ini, untuk membuat mereka gemetar, mereka gentar, haha, ya.

Sekarang setiap orang mendengar di mana-mana, hanya mendengar dan tahu kalau kita mengatakan "flu babi, flu babi”. Apa itu flu babi dan kalian mempunyai persenjataan super raksasa? Wahai orang-orang di abad ke-21, kalian mempunyai bala tentara dan persenjataan yang sangat besar yang dapat menghancurkan dunia ini berkeping-keping, bukankah begitu? Tetapi Allah (swt) meletakkan flu babi di depan kalian dan itu disebabkan oleh, mereka bilang itu berasal dari mikroba, virus? Wireless (nirkabel)? Eh, wireless juga. Kalian memerlukan benda-benda semacam itu, tetapi mereka tidak memerlukan instrumen semacam itu—virus itu mengambil langsung melalui Sang Penciptanya dan ia tahu untuk apa ia diciptakan, untuk apa eksistensinya.

Bahwa jika Allah (swt) berkehendak, maka sesuatu bisa terjadi.

Jika kalian bertanya, “Untuk apa Penciptamu menciptakan engkau, wahai virus? Katakan padaku, aku tidak dapat melihatmu, aku dapat mendengarmu, aku tidak dapat menyentuhmu, tetapi katakan padaku apa kekuatan rahasia dalam dirimu sehingga manusia yang begitu kuat, mereka takut padamu. Apa alasannya?”

Dan ia (virus itu) barangkali berkata, "Ooooh...” Saya bertanya, ?? Saya bertanya padanya apakah virus itu mempunyai mata untuk melihat. Ia berkata, “Aku bukannya virus, untuk tahu soal itu.” Tetapi membuat Baba Tahseen, gemetar bila virus itu datang. Saya berkata, “Jangan takut, jika ia datang berjalan, ia dapat menggigit kalian, dan kalian bisa jatuh lalu kalian tidak eksis lagi. Tetapi bila virus itu datang dengan menunggangi kuda atau keledai, atau datang dengan unta, atau dengan pesawat, jangan takut.”

Kalian mengerti? Tidak pernah mengerti. Hehe. Mengapa kalian takut terhadap virus? Takutkan kepada Dzat yang menciptakannya dan mengirimkannya kepada manusia yang sombong dan mereka tengah melarikan diri darinya tetapi mereka tidak dapat melihatnya, namun demikian mereka berkata, “Para ilmuwan kita, mereka para doktor, berkata bahwa itu adalah virus yang sangat berbahaya, kita tidak dapat memeranginya dan kita harus pergi menghindarinya.”

Kita ingin pergi menghindarinya, tetapi mereka berkata, “Virus itu sudah pergi ke tempat itu sebelum kita pergi ke sana.” Mengerti? Tidak pernah mengerti.

Abdur Rauf, mengerti? (Engkau tahu yang terbaik)

Tunjukkan kepada saya sebuah balina, paus, tanya, "Dari mana datangnya virus itu?" Mungkin ia tahu, tetapi kalian tidak tahu. Wahai manusia, takutkan kepada Sang Pencipta kalian dan berusahalah untuk memberi Penghormatan dan Pengagungan tertinggi kepada Tuhan kalian, Allah (swt) karena hanya Dia yang dapat melindungi kalian dari virus itu.

Ya, kita mengatakan hal ini karena umat manusia berkata, "Kita adalah orang-orang yang mempunyai kekuasaan."

"Mengapa kalian mengaku bahwa kalian mempunyai kekuatan yang hebat?"

“Karena kami mempunyai instrumen ini itu dan kami begitu bangga dan merasa kuat dengan instrumen itu.”

Ay, saya katakan, "Jika kalian mempunyai benda-benda yang perkasa itu, mengapa kalian tidak mengirimkan jet itu untuk menghancurkan virus itu?” Cobalah!

Abdul Haqq! Abdur Rauf! Cobalah. Kelilingi mereka dengan pesawat jet yang katanya mempunyai kekuatan dahsyat. Kirimkan kekuatan dahsyat yang kalian akui itu kepada virus untuk mengusirnya.

Agama hanya untuk melatih orang dan untuk memberi mereka kesopanan dan untuk memberi mereka karakteristik yang baik, memberi mereka seluruh karakteristik yang baik. Itulah gunanya agama.

Berusahalah untuk menjadi orang yang baik untuk Tuhan kalian, Allah (swt), demi nabimu yang paling paling mulia, Sayyidina Muhammad (s) dan berusahalah untuk memelihara jalannya karena akan datang hari-hari di mana kalian akan dipanggil dari kehidupan ini menuju alam selanjutnya. Berusahalah untuk menggunakan akal dan pengetahuan kalian agar kalian dapat mengerti. Itulah maksud dari keberadaan kalian di planet ini dan siapakah Dzat yang membawa kalian dari bukan apa-apa menjadi sesuatu, wahai manusia!

Wahai manusia!

Jagalah kehormatan tertinggi kepada Tuhan kalian. Berikan penghormatan itu kepada-Nya agar Dia Yang Mahakuasa melindungi kalian dan menaungi kalian di dunia dan akhirat.

Kita adalah orang-orang yang lemah. Kita datang hanya dua minggu sekali, pada hari yang paling suci di antara hari-hari lainnya bagi seluruh umat, hari yang penuh kenikmatan, hari yang mulia, hari yang penuh kemegahan, kejayaan, hari Jumat, hari Jumat, semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memberi pemahaman yang baik dan untuk menjadi Huuuuuuuuw, hamba-hamba yang lemah.

Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan mengaruniai kalian dari Cahaya Samdura Rahmat-Nya yang tak bertepi demi kemuliaan nabi yang paling mulia, Sayyidina Muhammad (s).

Salam `alaykum.

Allahuma salli `ala Sayyidina Muhammadin an-Nabii'il-Ummii wa `ala aalihi wa shahbihi wa sallim.

15 May 2009

Tidak ada Istirahat dalam Agama


Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS 

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

 

Ya Allah, Engkaulah Sultan,

Engkaulah Raja bagi seluruh raja

Hanya Engkaulah yang nyata di manapun dan kapan pun

Engkaulah Yang memberi kami kehidupan

Engkaulah Yang menganugerahi kami kehormatan

untuk menjadi hamba-hamba-Mu

Setinggi apa pun kehidupan kami,

sebanyak apa pun pengetahuan kami,

kami tetap hamba-hamba-Mu,

tidak pernah lebih dari itu

Satu-satunya Yang mampu menjadi Pencipta

hanyalah Engkau, ya Allah.

 

Saya sedang berusaha mengikuti jalan Nabi SAW, Sayyidina Muhammad SAW, sebagaimana kalian juga sedang mengusahakannya.  Jalan itu penuh dengan kesulitan, beban berat dan badai kehidupan.  Karena ketika kita akan memetik bunga mawar, kadang-kadang tangan kita terluka. Nabi SAW-pun bersabda, “La rahata fi-d-din.”  Tidak ada istirahat dalam agama.  Kalian harus selalu maju dan berkembang.  Ketika mencapai suatu tempat atau maqam, kalian tidak boleh mengatakan, ”Aku telah sampai.” kemudian berhenti dan tidak berlatih lagi. 

Mengapa kita hidup di dunia ini?  Mengapa Tuhan menciptakan kita? Apa alasannya?  Untuk membayar tagihan telepon, membayar tagihan mobil, atau membayar hutangkah?  Di negara ini kalian berlari mengejar dan terus mengejar sampai kalian mati dan tidak mampu membayar hipotek.  Dan nantinya bank akan mengambil alih dan menendang kalian keluar dari rumah.  Tidak ada seorang pun yang ingat kalau kita di sini bukan hanya untuk kebutuhan harian kita, tetapi juga kebutuhan harian akan Allah SWT.  Sebagaimana kita melakukan apa yang membuat kita bahagia, kita harus melakukan apa yang membuat Allah SWT bahagia. 

Kalian harus menjaga keseimbangan keduanya, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Khayru-l-umuri awasituha,”  cara yang terbaik adalah seimbang/cukup.  Jangan terlalu ekstrim di satu sisi, sehingga membuat orang berlari menjauh karena keyakinan dan kepercayaanmu.  Namun juga jangan terlalu lengah di sisi lain, meninggalkan segala kewajiban sambil mengatakan, “Aku mencintai Tuhan, aku pasti masuk Surga.”  Itu tidak dibenarkan.  Raihlah keseimbangan dalam segala hal.  

Jika kalian percaya akan kehidupan akhirat, alhamdulillah, itu hal yang baik.  Namun jika kalian tidak mempercayainya, ingatlah bahwa kalian tidak akan membawa apa pun dari dunia ini menuju akhirat.  Kalian akan ke sana dengan tangan kosong.  Alexander Agung pernah berkata pada para menterinya, “Saat meninggal nanti, aku ingin ingin dikubur dengan kedua tanganku berada di luar peti mati.“  Hal ini sebagai pesan pada umat manusia -- wahai kalian manusia, aku pernah menjadi raja terbesar di bumi ini, aku tinggalkan dunia ini dengan tangan kosong.  Aku tidak membawa apapun. 

Janganlah kalian terkecoh oleh kehidupan ini.  Berlarian siang dan malam mengejar dunia dan sama sekali tidak ingat akan kehidupan ke-2, karena masa itu akan segera tiba, tak seorang pun mampu menghindarinya.  Semuanya akan mati, dan hari itu pasti akan datang.  Jika kalian berbuat baik di dunia ini, kalian akan bahagia menyambut hari kematian itu.  Namun jika kalian berkelakuan buruk di dunia ini, kalian akan merasa depresi menghadapi hari itu. 

Nabi SAW amat takut akan hari itu.  Para Awliya takut akan hari itu.  Orang-orang yang baik dan alim juga amat takut akan hari itu.  Sebagaimana Rabi’a al-Adawiyya QS pernah mengatakan, “Jika kalian tidak mampu menjawab bagaimana keadaan kita ketika malaikat Munkar AS dan Nakir AS menanyai kita di alam kubur, dan bagaimana malaikat maut akan mencabut nyawa kita, dengan kepedihan atau dengan kasih sayang?  Maka duduklah kalian selamanya di pojok kamar, beribadahlah pada Tuhan sampai kalian mencapai maqam yang membuat hati kalian tenang.“  

Tidak ada waktu yang terbuang dalam hidup ini.  Dia terus berjalan meninggalkan kita. Tidak ada pun yang perlu dibawa ke akhirat kecuali amal dan perbuatan baik kita. Berusahalah selalu agar terus di jalan Allah SWT, jalan yang benar.  Dengarkan sisi positif ego dan bukan sisi yang buruk, karena hal itu akan mengecoh kita, memperdaya kita agar berada di jalan setan. 

Tidak cukup hanya duduk sambil mengatakan, “Kami hanya ingin memikirkan Allah SWT.”  Kalian tidak bisa “hanya memikirkan” tentang anak kalian, namun kalian harus membesarkan mereka, menolong mereka, melakukan sesuatu bagi mereka.  Kalian tidak bisa mengatakan, ”Biarkan mereka tumbuh dengan sendirinya.”  Ayah dan ibu wajib menyayangi dan memelihara begitu anaknya lahir. Perbuatan ini lebih dari sekedar kerja sukarela.  Sang ibu tidak bisa meninggalkan anaknya, karena bayi itu adalah bagian dari dirinya.  Walaupun anak itu menimbulkan kesusahan bagi orang tuanya, mengganggu tidur malamnya, bagaimanapun juga mereka harus menjaga mereka. 

Sayangi diri kalian sendiri.  Kalian harus tahu bagaimana mengoreksi diri sendiri karena bukan orang lain yang harus bertanggung jawab pada kalian, namun kalian sendiri.  Kalian harus mampu meraih apa yang Allah SWT janjikan bagi kebahagiaan kalian.  Allah SWT telah mengirim pembimbing, utusan-utusan untuk menunjukan kalian jalan-Nya, dan Allah SWT telah menginspirasi hati-hati kalian agar menuju para awliya-Nya.  Seperti hadis Nabi SAW, “La yu’minu ahadukum hatta yakunu huwahu tabqan lima ji’ tu bihi, tidak seorang pun dianggap sebagai orang beriman sampai keinginannya  sejalan dengan keinginanku.  Cintailah apa yang dicintai Nabi SAW, bencilah apa yang dibenci beliau.  Jangan menyukai apa yang beliau benci dan sebaliknya membenci apa yang beliau cintai. 

Dan janganlah kalian menerima siapa pun yang melawan para Awliya.  Lindungi diri kalian sendiri dan katakan dalam hati, “Kami harus melawan musuh-musuh para Awliya Allah.” -- “Ala anna awliya’a-l- Lahi la khawfun alayhim wa la hum yahzanun.”  Para awliya Allah tidak takut pada apa pun yang menyerang mereka. 

Kita semua, para Naqsybandi harus tunduk dan menerima  keputusan bahwa setiap dari kita adalah Syekh Nazim QS – yaitu dengan mengibarkan bendera beliau, cahaya beliau di luar dan di dalam hati, di rumah, di jalan, di masjid dan di mana pun.  Janganlah duduk malas sambil mengatakan, “Kami sedang berdzikir, siapa pun yang mau, biarkan mereka datang.”  Lihatlah orang-orang Tabligh, penganut kesaksian Yehovah, atau berbagai kelompok yang pergi dari satu pintu ke pintu lain.  Jadi mengapa kalian hanya duduk bermalas-malasan? 

Persiapkan diri kalian akan “hari itu”, misalnya dengan mengirimkan dan menyebarkan pesan moral Mawlana Syekh Nazim QS ke mana pun, dari hati ke hati, dari teman ke teman lain, dari sekolah ke sekolah lain, melalui publikasi, dari mulut ke mulut.  Metode seperti itu digunakan apabila tidak ada rahasia.  Namun jika kalian membawa rahasia syekh, ada daya tarik.  Masyarakat akan datang tanpa butuh usaha dan persiapan selama 6 bulan sebelumnya untuk mengatur acara-acara.  Dengan para Awliya, kalian tidak perlu mempersiapkan seminar-seminar.  Orang akan berbondong-bondong datang karena ada rahasia di balik daya tarik beliau. 

Namun jika kalian tidak memilikinya, lakukanlah dengan cara yang umum digunakan.  Mari kita berkeliling dan menggunakan kertas-kertas serta mengaturnya.  Mari kita melakukan apa yang mampu kita lakukan, dan jangan hanya duduk diam.  Kita harus membawa tanggung jawab itu. 

“Siapapun yang menyebarkan ajaran Naqsybandi akan mendapatkan imbalan dari para Shiddiqin.” 

Semoga Allah SWT menerima niat kita dan mengampuni kita semua. 

Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

06 November 2008

Sampai di mana Ilmu Kita Kejar?

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir ra
hmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Mu
hammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Agama ini mudah.  Jangan membuatnya kaku agar kalian mampu memahaminya.  Bersabarlah, carilah kedekatan dengan Allah SWT, tanamkan kebajikan, dan mintalah ketentraman bersama-Nya siang dan malam.  (Sabda Nabi Muhammad SAW seperti yang dituturkan oleh Abu Hurayrah RA).

Banyak orang di negara Barat yang masuk agama Islam, alhamdulil-Lah.  Sebuah kabar baik bagi kita umat Muslim, ini sebagai bukti bahwa kekuatan aktif Islam mulai nampak.


Semuanya adalah generasi muda,  kecuali saya.  SubhanAllah al-'Aliyyu-l'Azhim!  Jika Islam beraksi pada generasi muda maka hal ini merupakan tanda yang baik dan sempurna, karena di London ini, apa pun yang ego minta mudah untuk ditemukan.  Apa yang membuat kalian berada di sini?  Sebuah kekuatan spiritual yang mempengaruhi hati kalian yang nantinya akan bisa memenangkan pengaruh kejahatan dan Iblis.

Lalu ada pertanyaan penting: Apa yang harus mereka lakukan untuk belajar dan mengamalkan ajaran Islam?

Islam adalah agama paling toleran yang dikirim Allah SWT bagi hamba-hambaNya.  Namun mereka menginginkan Muslim sebagaimana di masa Nabi SAW, mereka katakan bahwa siapa yang percaya  dan menerima Islam harus menjaga semua hukum-hukum Islam.

Padahal Allah SWT tidak mengirim semua aturan dan isi Al-quran langsung dalam satu saat.  Allah SWT dapat saja melakukannya, meminta malaikat Jibril AS membawanya hanya dalam satu jam, “Ini kitabmu, semua kalimat ada di sini untuk diamalkan.”  Namun kejadiannya bukan begitu, Allah SWT mengirim aturan-aturan Islam itu dalam masa 23 tahun.

Saat kita mulai bersyahadat, itu tidak berarti kita telah siap membawa seluruh aturan Islam saat itu juga.  Jika kalian membenarkan hal itu, berarti kalian tidak mengerti hikmah di balik diturunkannya Kitab suci Al-quran selama lebih dari 23 tahun.  Kalian harus mengadakan operasi dengan mengiris kepala orang-orang agar terbuka, ambil kitab itu lalu masukkan ke dalam kepala.  Itu sangat tidak mungkin.

Nabi SAW, bersabda tentang tanda-tanda kiamat yang salah satunya adalah banyaknya masyarakat Islam namun tanpa kearifan.  Dan kearifan/hikmah adalah lebih berharga daripada pengetahuan.

Firman Allah SWT, “Allah SWT menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-quran dan As-sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki.  Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.  Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah SWT)” [2:269].

Dengan demikian sedikit kearifan adalah lebih berharga daripada semua pengetahuan tanpa kearifan, sebagaimana sebutir permata lebih berharga daripada sejumlah besar batu bara.  Kita mempunyai ratusan ulama, namun yang mereka miliki adalah pengetahuan tanpa hikmah.  Mungkin mereka gusar bila saya katakan hal itu.  Firman Allah SWT mengatakan bahwa hikmah itu tidak akan diberikan pada setiap orang.  Hikmah tidak datang dari luar; sumber hikmah adalah melalui hati.  Apakah kalian mendapat hikmah dari membaca buku-buku? Tidak! Tetapi sesuatu yang diberikan lewat hati kalian.

Walau demikian, Nabi SAW bersabda, “Man akhlasa arba'ina sabaha, la-fajarat yanadiu-l-hikmah min qalbihi 'ala lisanihi.”  (Bagi mereka yang bersungguh-sungguh (pada Tuhannya) selama 40 hari, hikmah akan memancar dari dalam hatinya melalui lidahnya).  Kata beliau, siapa pun yang tulus beribadah selama 40 hari dengan ikhlas yang berarti tidak membiarkan nafsu dari egonya bercampur, maka Allah SWT akan membuka hatinya terhadap sumber-sumber hikmah.

Hal ini tidak mudah.  Kita mengikuti jalan pikiran yang tidak pernah ada hikmahnya.  Ya, semua ilmu pengetahuan yang didapat manusia pada akhirnya diberikan pada setan. Tak seorang ulama pun yang dapat menandingi kepintaran setan; namun yang tidak dimiliki setan adalah hikmah.  Jika setan mempunyai hikmah walaupun sedikit, dialah yang pertama melakukan sujud penghormatan pada Adam AS, melaksanakan apa yang Tuhan perintahkan, seperti yang dilakukan oleh para malaikat.  Tetapi yang tidak dimiliki setan adalah hikmah, untuk itulah dia diusir keluar.

Memang ada hadis Nabi SAW yang mengatakan, “Talaba-l-'ilma faridatun 'ala kulli Muslim wa Muslimah” -- Allah SWT mewajibkan mereka yang beriman, baik pria maupun wanita untuk mendapatkan ilmu.

Namun sampai batas mana?  Karena di setiap hal ada sebuah hasrat tersembunyi,  syahwat al-khafiyah; hasrat yang berasal dari nafsu manusia yang membuatnya salah jalan, mengira bahwa Islam  adalah untuk DIKETAHUI, lalu mereka mulai mengejar ilmu pengetahuan, terus berlari mengejarnya karena adalah mustahil bagi ilmu itu ada batas akhir.

Saat mereka kelelahan, akhirnya semua terlupakan, begitu banyak yang diambilnya sehingga tak mampu lagi membawanya dan akhirnya jatuh.  Pada akhirnya yang tertinggal hanyalah kalimat syahadat saja.  Ya, saya melihat saudara muslimin dan muslimah baru di negara Barat yang berhasrat tinggi untuk belajar, belajar, belajar, mengetahui apa pun tanpa mengetahui kapan mereka harus berhenti.

Imam terbesar Abu Hanifah, yang mazhabnya diikuti oleh jutaan orang mengatakan, “Afdhal al-'ilm, ilmu pengetahuan yang paling berharga hanyalah ilmu yang ada hubungannya dengan kalian saja.”  Semua yang akan memberi manfaat di dunia dan akhirat dan untuk diketahui mana yang membahayakan diri kalian saat ini dan nantinya (akhirat).

Ini adalah yang terpenting: mengetahui  dan mempelajari untuk bisa diterapkan!  Bukan semata-mata mengetahui dan terpengaruh dengan ilmu pengetahuan – bukan!  Kita butuh pengetahuan lebih agar bisa diterapkan, dan menggunakannya untuk memerangi ego-ego kita.  Kalian mendapat pengetahuan untuk mecapai hikmah, tanpa hikmah, adalah mustahil untuk menghentikan serangan-serangan ego/nafsu.

Orang Barat memiliki sebuah hasrat yang mendalam untuk belajar dan membaca, dan mereka tidak merubah karakteristik ini saat menjadi muslim.  Mereka mencari guru untuk mengajari bahasa Arab dan arti-arti dalam Kitab Suci al-Quran dan hadits yang akan semakin membebani mereka, mereka ingin menjadi ulama.  Mereka bergegas pergi ke Mesir, al-Azhar,  Hijaz, bahkan sampai Pakistan untuk belajar.  Saya katakan pada mereka, “Stop!  Tidak perlu semua itu.  Kalian harus belajar dan menerapkan apa saja yang mungkin akan ditemui dalam hidup kalian saja.”

Waspadalah dengan trik setan.  Jika setan tidak mampu mencegah seseorang untuk masuk Islam atau mengimaninya, dia memiliki metode lain dengan membuat mereka kelelahan.  Jika seseorang telah lelah, habis sudah.  Orang itu takkan mampu lagi melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.

Hikmah seperti  bom-bom atom bagi ego kalian.  Ilmu –ilmu Pengetahuan lain hanyalah senjata-senjata sederhana yang tidak mujarab pada zaman sekarang ini.  Semakin mendekati kiamat, senjata-senjata kawanan Iblis juga meningkat untuk mencabut iman dan kepercayaan manusia.  Karena setan semakin meningkatkan metode-metodenya maka para Awliya juga menggunakan hikmah untuk membinasakan setan dan pendukung-pendukungnya.

Wa min Allah at tawfiq