Showing posts with label Haji. Show all posts
Showing posts with label Haji. Show all posts

02 November 2011

Wirid dan Instruksi untuk Hari Arafat


Sultan Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)

Lefke, Siprus

1 November 2011

Mawlana: Itu akan terjadi seperti yang mereka umumkan. Tak ada yang dapat melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Mereka akan pergi ke (Arafah) pada hari sesuai dengan fatwa yang diberikan di sana. Jawaban mereka adalah ini.

Hajah Rukiyya (H.R) : Apakah ada suatu instruksi?

Mawlana: Al-Hizbul Azam… Mereka akan menyelesaikan (pembacaan) Al- Hizbul Azam. Jangan merokok, jangan mengisap shiisha! Jangan bertengkar atau berdiskusi pada hari itu. Mereka harus menyibukkan diri dengan salat dan doa. Selesai. Jika mereka melakukan ini, mereka akan melewatinya sebagai orang yang “bersih”. Kalau tidak, mereka akan kembali seperti ketika mereka berangkat.

H.R: Dan bagi yang tidak pergi (haji)?

Mawlana: Semoga Allah mengaruniakannya kepada mereka.

H.R: Apakah ada instruksi bagi mereka?

Mawlana: Ya, ada, ada... tentu saja ada. Jika memungkinkan bagi mereka … Di mana Rukiyya?

H.R: Ini dikatakan, ini harus dibaca pada saat Hari Arafah.

Mawlana: Mereka boleh membaca ini.

H.R: Pada Hari Arafah mereka boleh membaca La illaha ill Allah Wah ’dahu La Syariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Syay’in Qadir, 100x. Surat al Ikhlash, 100x. SubhanaAllah wal Hamdulillah wa La illaha illa Allah wa Allahu Akbar, 100x. Istighfar, 100x. Selawat atas Nabi (s) 100x. Tingkatkan bacaan selama berdoa, dan menangislah agar Allah mencurahkan nikmat-Nya.

Mawlana: Kamu mengerti? Mereka boleh membaca ini. Apakah dikatakan 1000x?

H.R: dikatakan semuanya, 100x….

Mawlana: Masing-masing 100x

Untuk Hari Arafah, sejak pagi hingga sore, bacalah 1000x Ikhlash. Inilah yang dikatakan oleh Grandsyekh. Mereka bisa membaca 1000 Ikhlash pada Hari Arafah. Apakah disebutkan 100x “la hawla..” benarkan?

H.R: Bacalah La illaha ill Allah Wah ’dahu La Syariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Syay in Qadir.

Mawlana: ini.

H.R: SubhanaAllah wal Hamdulillah wa La illaha illa Allah wa Allahu Akbar wa la Hawla wa la Quwwata illa Billah al Aliyal Azhim, 100x

Mawlana: Apa yang dikatakan oleh Grandsyekh, mereka boleh menyelesaikan membaca 1000 Ikhlash pada hari itu, hingga sore hari. “Qul Huwa allahu ‘Ahadun..” (112:1). Mereka boleh mengucapkan selawat, 100x, sampai 1000x. La illaha ill Allah Wah ’dahu La Syariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Syay in Qadir, 100x. Semoga Allah menerimanya. Amin. Fatiha.

Mawlana: Ied jatuh minggu ini?

H.R: Ya, menurut perhitungan mereka, jatuh pada Minggu besok.

Mawlana: Ied akan jatuh pada Sabtu besok, sehingga ini menjadi Haji Akbar.

H.R: Ya.

Mawlana: Bagaimanapun, baiklah. Mereka akan menerima pahalanya. Semoga Allah mengampuni kita. Fatiha.

H.R: untuk puasa?

Mawlana: tanggal 8 and 9.

H.R: 2 hari.

Mawlana: Tarwiya dan Arafah. Ini untuk kita. Tetapi untuk orang-orang yang menunaikan haji, tidak ada puasa pada Hari Arafah. Mereka sibuk dengan tugas haji mereka. Tidak perlu puasa bagi mereka. Untuk yang lain, Yawm al Tarwiya dan Yawm al Arafah – Mereka puasa pada kedua hari ini.

Fatiha.

Mawlana: It will be as they declared. No one can do as they like. They will go up (Arafah) on the day according to the fatwa given there. Their answer is this.

H.R: Are there instructions?

Mawlana: Al-Hizbul Azam… They will complete Al- Hizbul Azam. No smoking, no sheesha! No fighting or discussing on that day. They may be busy with prayer and dua. Finish. If they do this, they will pass through as “clean”. Otherwise they return as they left.

H.R: And the ones who could not go?

Mawlana: May Allah grant it to them.

H.R: Are there instructions for them?

Mawlana: Yes, there are, there are.. Of course there are. If it is possible for them… Where is Rukiyya?

H.R: It says, it is to be read on the day of Arafah.

Mawlana: They may read this.

H.R: The day of Arafah they may recite La illaha ill Allah Wah ’dahu La Shariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Shay in Qadir, 100x. Surat al Ikhlas, 100x. SubhanaAllah wal Hamdulillah wa La illaha illa Allah wa Allahu Akbar, 100x.

Istighfar, 100x. Salawat on the Prophes (s) 100x.

Increase the recitations during dua, and weeping so favors may be granted.

Mawlana: You understand? They may read this. Does it say 1000x?

H.R: it says in all of them, 100x….

Mawlana: Each 100x

For the day of Arafah, from the morning till evening 1000x Ikhlas. This is what Grandsheikh said. They may read 1000 Ikhlas on the day of Arafah. Does it mention 100x “la hawla..” right?

H.R: recite La illaha ill Allah Wah ’dahu La Shariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Shay in Qadir.

Mawlana: This.

H.R: SubhanaAllah wal Hamdulillah wa La illaha illa Allah wa Allahu Akbar wa la Hawla wa la Quwwata illa Billah al Aliyal Azim, 100x

Mawlana: What our Grandsheikh said, they may finish reading 1000 Ikhlas on that day, till sunset. “Qul Huwa allahu ‘Ahadun..” (112:1). They may say salawat, 100x, to 1000x. La illaha ill Allah Wah ’dahu La Shariqa Lah Lahu Al Mulk wa Lahul Hamd Yuhyi wa Yumit wa Huwa ala Kulli Shay in Qadir, 100x. May Allah accept. Amin. Fatiha.

Mawlana: Eid is the coming week?

H.R: Yes, it is. According to their calculations, next Sunday.

Mawlana: Eid was going to be next Saturday, so that it would be Hajjul Akbar.

H.R: Yes.

Mawlana: Anyway, ok. They will receive its Reward. May Allah forgive us. Fatiha.

H.R: For the fasting?

Mawlana: 8th and 9th.

H.R: 2 days.

Mawlana: Tarwiya and Arafah. This is for us. But for the hajjis, there is no fasting on the day of Arafah. They are busy with the duties of Hajj. No need for them. For the others Yawm al Tarwiya and Yawm al Arafah – They fast these 2 days.

Fatiha.

http://sufilive.com/Instructions_for_the_Observance_of_the_Day_of_Arafa-3904.html


24 October 2011

Tajali Haji selalu Meningkat Berlipat Ganda


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

21 Oktober 2011 Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

(Sebelum Mawlana dan rombongan berangkat Haji)

Wahai Muslim, wahai Mukmin! Allah (swt) menciptakan kita dengan kehormatan dan membusanai kita dengan kehormatan surgawi dan Dia menyempurnakan kita. Dia berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

wa laqad karamna Bani Adam.

Kami telah muliakan anak-anak Adam. (al-'Israa, 17:70)

Dia memuliakan kita melebihi semua makhluk dan Dia memuliakan sebagian di antaranya dengan menjadikan mereka sebagai bagian dari ummat an-Nabi (s). Itulah sebabnya Dia berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِِ

Kuntum khayra ummatin ukhrijat li ‘n-naasi tamuruuna bi ‘l-m`aruufi watanhawna `ani al-munkari watu’minuuna bil-Laah.

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. (`Aali Imraan, 3:110)

Sekarang kita berada di musim Haji dan dari kemuliaan Allah, Dia memuliakan kita untuk melakukan Haji paling tidak sekali seumur hidup, dan tidak hanya sekali bagi mereka yang mampu, baik dari kondisi kesehatannya maupun secara finansial, karena Allah tahu bahwa Haji tidaklah mudah, itu adalah perjalanan yang sulit yang akan kalian lakukan. Tetapi, subhaanAllah, dari berbagai mazhab yang berbeda, Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hanbali, penjelasan mereka yang berbeda tentang Haji menjadikannya begitu mudah. Mereka mengambil dari ahadits Nabi (s) di mana para Sahabat (r) bersama Sayyidina Muhammad (s) melakukan Hajjat al-Wada` dan beliau memberikan petunjuk untuk mengurangi kesulitannya.

Al-Abbas (r) mendatangi Nabi (s) dan berkata, “Yaa Rasuulullah! Aku harus memberikan air kepada orang-orang yang menunaikan Haji di Mekah, jadi apa yang harus kulakukan, karena aku tidak bisa tinggal selama tiga hari di Mina.” Nabi (s) bersabda, “Ya, engkau mempunyai alasan yang baik; lemparkanlah batu-batumu (jamrah) pada hari pertama di Mina lalu kembalilah ke Mekah, atau tinggallah di Mekah pada hari keempat Haji.” Sekelompok pengembala juga mendatangi Rasuulullah dan berkata, “Kami menjaga biri-biri untuk zabiha (kurban) bagi Ahl al-Islam untuk Haji dan kami tidak bisa pergi ke Mina.” Nabi (s) bersabda, “Ya, tinggallah di Mekah.” Ini adalah contoh bahwa Haji itu tidak sulit tetapi juga tidak mudah. Jika kalian masih muda dan kuat, kalian dapat memenuhi semua prinsip Haji, tidak hanya melakukan yang termudahnya saja.

Allah (swt) telah menganugerahkan Haji setahun sekali selama 1400 tahun, dan setiap Haji mempunyai cita rasa yang khas; tidak ada kemiripan antara Haji yang satu dengan yang lain. Tajali Asmaul Husna wal Sifat apapun yang Allah kirimkan pada Haji ini atau itu, Dia tidak mengirimkan tajali yang sama, tetapi mengirimkan tambahan bagi tajali itu pada Haji berikutnya. Jadi Haji itu seperti pelangi yang mempunyai warna-warni yang berbeda, yang akan memberikan kalian cita rasa yang berbeda jika kalian melihatnya dengan suatu kaca pembesar, kalian akan melihat lebih banyak warna yang membuat kalian bahagia. Haji juga seperti pelangi yang memperlihatkan tajali Asmaul Husna wal Sifat yang berbeda, jadi setiap tahun kalian mendapat tajali yang lebih banyak dari apa yang diberikan pada tahun sebelumnya, sejak zaman Nabi (s) hingga ke tahun di mana kalian menunaikan Haji.

Allah Maha Pemurah dan apapun yang Dia kirimkan, Dia tidak akan mengambilnya kembali dan apa yang Dia berikan sebelumnya tetap berada di sana. Sejak 1400 tahun yang lalu, pelangi tajali yang Allah kirimkan kepada orang-orang yang menunaikan Haji adalah berasal dari masa itu dan kalian menerimanya secara akumulatif dengan tajali yang ada pada tahun di mana kalian menunaikan ibadah Haji (Tajali Haji meningkat secara eksponensial). Kehadiran tahun ini akan mempunyai cita rasa yang berbeda dengan yang terjadi sebelumnya, dan karena kita bergerak menuju Tanda-Tanda Hari Kiamat, sebagaimana Nabi (s) bersabda,

القابض على دينه كالقابض على الجمر

al-qaabidhu `alaa diinihi ka’l-qaabidhu `alaa al-jamr.

Orang yang memegang teguh agamanya (di masa sekarang) seperti orang yang memegang bara yang menyala di tangannya.

Jadi, sekarang itu tidaklah mudah, untuk berangkat dari negeri-negeri ini, karena biayanya mahal dan menjadi sangat sulit, tidak seperti bila kalian berada di sana atau di dekat bandara, atau misalnya hanya perlu satu jam perjalanan ke Mekah dan Madinah. Kerumitan untuk pergi dan semakin banyak orang yang ingin menunaikan Haji, menjadikan ibadah Haji bertambah sulit. Tetapi sebagaimana Nabi (s) bersabda,

laa rahata fi ‘d-diin.

(Tidak ada) rehat/istirahat di dalam agama.

Itu artinya kalian harus selalu berjuang. Sebelum berangkat, orang-orang yang berhaji, hujjaj, memanggil semua saudara dalam keluarga mereka dan tetangga mereka dan teman-teman mereka untuk mengucapkan selamat tinggal karena orang yang pergi tidak tahu apakah ia akan kembali, apakah ia akan hidup atau meninggal di sana. Kalian meninggalkan dunia dan pergi menuju akhirat, itulah niatnya bagi setiap orang yang menunaikan Haji, itu adalah akhirat, karena itu adalah kewajiban. Ketika kalian melakukan salat kalian, itu adalah akhirat; ketika kalian melakukan kelima salat kalian, seolah-olah kalian berada di Surga, karena ketika kalian mengarahkan wajah kalian menghadap Kiblat, ke Baitullah, yang aslinya adalah di Bait al-Ma’mur (di Surga keempat, yang letaknya persis di atas Ka'abah di Bumi), jadi kalian berada di akhirat! Nabi (s) bersabda,

qurratu `aynii fi 'sh-shalaat.

Kesejukan mataku (saat terbaik, apa yang kucintai) adalah salat (karena aku berada di Hadirat Ilahi).

Meskipun kita tidak melihatnya karena kita adalah pendosa dan hamba yang lemah, tetap saja Allah (swt) akan memberikannya kepada kalian karena kalian berusaha melakukan yang terbaik untuk tidak kehilangan salat kalian, karena seorang Muslim tidak hanya salat pada hari Jumat saja, tetapi setiap hari. Setiap salat mempunyai pelangi tajali dan cita rasa khasnya masing-masing. Sayangnya, kini kita salat seperti ayam jantan (terburu-buru) tidak khusyuk, tanpa rasa dari salat itu atau tanpa perasaan. Sebagian orang memilikinya, tetapi yang lain tidak, dan kita memohon kepada Allah agar memberikan rasa itu kepada kita.

Ketika kalian pergi ke Madinat al-Munawarrah dan mengunjungi Nabi (s) dan memberikan penghormatan kalian, dan kalian meminta kepada Allah (swt) di dalam doa-doa kalian, demi Nabi (s), Allah (swt) akan mengabulkannya. Dan siapa yang berada di samping beliau--semua Sahabat dan semua awliyaullah, tetapi Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r) adalah yang dimakamkan di samping Nabi (s). Apa yang dikatakan oleh Nabi (s) mengenai Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r)? Saya tidak akan berbicara mengenai Sayyidina `Ali (r) sekarang karena ada 360 ayat di dalam kitab suci al-Qur’an mengenai beliau. Kita bicara mengenai topik ini sekarang. Nabi (s) bersabda, “Setiap nabi mempunyai dua orang menteri, wazir, dari penghuni (makhluk) langit dan dua orang menteri dari orang-orang di Bumi, dan menteriku dari langit adalah Jibriil (a) dan Mika'iil (a). [Itulah sebabnya bagi semua Ahl as-Sama, mereka berdua selalu berada bersama beliau secara privat, keduanya istimewa]. Sedangkan menteriku yang berasal dari Bumi adalah Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar.”

Jadi bagaimana menurut kalian, dapatkah seseorang yang mengunjungi Nabi (s) tetapi lupa untuk mengunjungi Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r)? Tidak bisa, karena mereka berada di samping Nabi (s). Itu artinya setiap orang yang mengunjungi Madinat al-Munawwara dan Sayyidina Muhammad (s), kemudian Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar, akan berada bersama mereka setiap saat di dalam kehidupannya di dunia dan akhirat! Allah (swt) tidak akan menghalangi seseorang yang mendatangi gerbang Nabi (s), mendatangi gerbang Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali, dan semua Sahabat, semua anak cucu dan keluarga dan istri-istri Nabi (s), kemudian dijauhkan dari mereka, tidak, kalian akan bersama mereka di dunia dan akhirat!

Itu tidak berarti hanya dengan kedatangan kalian tahun ini (kalian mendapat keberkahan itu), sementara bagi mereka yang pergi tahun lalu atau pada tahun-tahun sebelumnya, mereka dihilangkan, tidak. Itu adalah suatu akumulasi dan penambahan berkah dari tahun-tahun yang telah lewat dengan tahun ini, dan dunia ini bergerak dengan cepat menuju perubahan surgawi untuk segera membawa kekuatan surgawi untuk mengembalikan kedamaian dan kebahagiaan di Bumi.

(Hadis) Ibn `Umar berkata, “Suatu hari Nabi (s) memasuki masjid dan di sebelah kanannya adalah Sayyidina Abu Bakr dan di sebelah kirinya adalah Sayyidina `Umar, dan beliau memegang tangannya, dan beliau (s) bersabda, ‘Seperti inilah kita akan dibangkitkan di Yaumul Hisab, bersama (yaitu Nabi (s), Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina `Umar).’”

Apakah menurut kalian, kalian akan ditinggalkan di belakang ketika Nabi (s) dibangkitkan bersama Sayyidina Abu Bakr (r) dan Sayyidina `Umar (r) dan bersama seluruh Sahabat (r) dan semua keluarga Nabi (s), apakah kalian akan disingkirkan padahal kalian telah menghadapi berbagai kesulitan untuk mendatanginya (s), paling tidak sekali seumur hidup kalian, untuk mencapai hadiratnya dan berdoa, apapun yang kalian inginkan, di mana tidak ada istilah “di sana” karena para malaikat membawa doa-doa kalian ke atas, dan Nabi (s) akan membawa kalian hingga ke Hadirat Ilahi.

Tahun ini tajali dari doa itu dibuka. Itulah sebabnya banyak hamba Allah yang saleh, رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْه, rijaalun shaadaquu maa `ahadullaha `alayh (33:23), “Orang-orang yang memegang janjinya dengan Allah (swt),” akan berada di dalam hadirat itu, mereka akan datang dari berbagai penjuru untuk berada di hadirat Nabi (s), meminta kepada Allah (swt) sebagaimana di dalam ayat,


وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ

walaw annahum idz zhalamuu anfusahum jaauuka fa ’staghfaruullaah wa ’staghfara lahumu ‘r-rasuul.

Jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka. (an-Nisa, 4:64)


Ketika mereka menganiaya diri mereka sendiri, mereka datang kepadamu, yaa Muhammad, dan meminta ampunan Allah, Allah akan mengampuni mereka jika engkau mengampuni mereka dan engkau memintakan ampunan atas nama mereka!

Kita berdoa, yaa Sayyidii, yaa Rasuulullah! Niat kami adalah untuk pergi dan mengunjungimu, dan meminta ampun di hadiratmu, dan meminta agar bersamamu di dunia dan akhirat, untuk berada di kakimu, dan kaki Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali dan semua Sahabat (r) yang lainnya!

(Hadis) `Anas (r) berkata, “Nabi (s) bersabda, ‘Cinta kepada Abu Bakr dan `Umar adalah bagian dari iman dan orang yang membencinya akan jatuh ke dalam kategori kafir, tidak beriman.”

Jadi pastikanlah, selama kehadiran kalian di sana, di hadirat Nabi (s), berikanlah penghormatan setinggi-tingginya kepada beliau dan kepada Sayyidina Abu Bakr, Sayyidina `Umar, Sayyidina `Utsman, Sayyidina `Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Hussayn, istri-istri dan keluarga beliau, anak cucu beliau dan semua Sahabatnya (r), Ka`aba dan Mahbat al-Wahiy, Jannat al-Baqii, Safa, Marwa dan Saii, dan semua malaikat di langit dan Bumi, dan berikan hormat kepada semua nabi (a) dan orang-orang yang saleh.

Kalian harus menekan kemarahan kalian di sana, jangan marah dan jangan berdebat, bertanya, “Mengapa ini terjadi, atau tidak terjadi?” atau, “Mengapa aku harus begini, begitu?” Di sana, yang terjadi hanyalah apa yang dikehendaki Allah dan kalian akan melihat bahwa kalian tidak mempunyai iradat, hanya Kehendak Allah yang akan terjadi di sana, dan kalian akan melihat bahwa apapun yang Dia tuliskan bagi kalian, itu akan terjadi, jadi jangan berdebat! Jagalah salat kalian, dan jagalah mulut kalian hanya untuk zikrullah dan berselawat atas Nabi (s).

(Doa)

17 November 2008

Fatwa Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS dan Hajah Naziha Adil 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 


Tanya

Saya bersyukur kepada Allah SWT karena dapat melaksanakan umrah selama 10 hari di bulan Ramadan 1988 lalu, ketika Saya tinggal di Mesir.  Saya berpuasa dan mengunjungi Madinah, Mekah dan daerah-daerah lain yang biasa dikunjungi ketika melakukan ibadah haji.  Menurut Sunah Rasulullah SAW yang Saya ketahui dari guru saya, berumrah sambil berpuasa di bulan Ramadan mendapat berkah yang setara dengan ibadah haji, dan dapat dihitung sebagai haji.  Di artikel Anda, Anda menyebutnya sebagai “haji kecil”.  Dengan alasan kesehatan, uang, dan kondisi perjalanan sekarang ini, Saya akan sangat menghargai bila Anda bisa menjelaskan apakah benar itu dihitung sebagai haji.  Sekarang saya berusia 67 tahun.

Jawab

Melakukan ‘umrah (haji kecil) selama Ramadan sebanyak 3 kali, menurut kebanyakan ulama, diberi ganjaran setara dengan Haji.  Namun demikian, bukan berarti menghilangkan kewajiban untuk melakukan ibadah Haji.  Anda akan diberikan balasan (fadilat) setara dengan Haji tanpa memenuhi kewajiban tersebut.  Bahkan jika Anda melakukan ribuan kali ‘umrah di bulan Ramadan, itu tidak akan menghilangkan kewajiban untuk melakukan ibadah Haji. Anda belum dianggap sudah melengkapi rukun Islam kecuali jika Anda melakukan ibadah Haji yang sebenarnya di bulan Zulhijah dengan segala persyaratannya.  Tidak satu pun ayat al-Qur’an atau Hadis yang menyebutkan bahwa rukun Islam yang kelima dapat digantikan dengan ‘umrah di bulan Ramadan.  Karena Anda sanggup melakukan ‘umrah, itu berarti Anda mampu melakukan ibadah Haji, dan inilah yang dianjurkan.

Sumber: Muslim Magazine dan As-Sunah Foundation of America

 

14 June 2008

Kelima Rukun Islam terkandung dalam Salat

Khotbah Jumat Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Fenton MI, 3 Januari 1999/Ramadan 1419

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Alhamdulillah, kita bersyukur atas nikmat Islam yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita. Kita telah dimuliakan dengan menjadi Muslim. Menjadi Muslim sudah cukup bagi kita sebagai jalur menuju Surga; paling tidak untuk meletakkan langkah pertama kita di Surga.

Kalimat Syahadat
Adalah cukup untuk mengatakan bahwa kalian telah mencapai sisi yang aman. Ketika seseorang menyatakan, “Saya seorang Muslim,” itu berarti ia menerima dan mengakui Kalimat at-Tawhid, Kalimat asy-Syahadah, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah SWT wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah SAW.”

Menjadi seorang Muslim berarti mau menerima syahadah, kalau tidak kalian bukanlah seorang Muslim. Dengan menyatakan, “Aku seorang Muslim,” kalian harus melewati level petama. Kemudian kalian akan menuju level kedua. Itu artinya kalian harus mengucapkan, “Ya Allah SWT, Aku mengakui bahwa Engkau adalah Khalik, dan aku adalah budak-Mu.” Budak—bukannya hamba.

Seorang hamba berbeda dengan seorang budak: hamba mempunyai kedudukan lebih tinggi. Itu adalah level yang tidak dianugerahkan Allah SWT kepada orang selain Rasulullah . Ketika Dia berfirman, “Subhanal-ladzii asraa bi `abdihii laylam-minal masjidil haraami ilal masjidil aqshaal-ladzii baarakna hawlahuu…” “Maha Suci Allah SWT, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” [QS 17:1]

Dia menyebut Rasulullah SAW dengan sebutan `Abd. Dia mengkhususkan beliau dengan gelar tersebut. Menjadi budak adalah level yang lebih rendah, karena Islam kita belum sempurna. Kita menerima untuk mengucapkan Kalimat Syahadat, kita menerima Allah SWT sebagai Tuhan kita dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Allah SWT; tetapi kita masih belum melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan adalah aspek yang sangat penting dalam Islam, bahkan itu adalah yang terpenting… Ketika kalian mengucapkan syahadat, ketika kalian mendeklarasikan Kalimat Tawhid—berapa banyak kewajiban kalian untuk mengucapkannya dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, atau seumur hidup—berapa banyak? Kalian dapat mengucapkan Kalimat Tawhid sekali, itu saja sudah cukup—tidak perlu mengucapkannya setiap saat. Kalian tidak perlu mengucapkannya setiap saat, setiap waktu—sekali saja sudah cukup untuk menjadikan diri kalian masuk dalam lingkaran Islam. Jadi Kalimat Tawhid, Rukun Islam yang pertama, dapat diucapkan sekali saja seumur hidup—itulah yang menjadi keharusannya.

Rukun Islam yang kedua adalah mendirikan salat, iqamu shalat. Kita akan sampai pada pembahasan mengenai hal ini nanti.


Zakat
Rukun Islam ketiga adalah ita`uz-zakat. Barangsiapa yang mampu, wajib mengeluarkannya sekali dalam setahun. Dan kalian tidak dapat melaksanakannya jika kalian tidak mempunyai uang. Jika kalian miskin dan tidak mempunyai keuntungan yang cukup—sejumlah uang yang terus beredar dari tahun ke tahun—kalian tidak diwajibkan untuk mengeluarkannya. Adalah suatu kewajiban bagi mereka yang mampu untuk mengeluarkannya sekali dalam setahun karena keuangan mereka telah mencukupi—minal hawli il al-hawli. Tetapi bila tidak, kalian tidak wajib untuk mengeluarkannya. Jika ada seseorang yang miskin, yang tidak dapat mendapatkan makanannya sehari-hari, kalian tidak dapat mengharapkannya untuk menyimpan uangnya. Hal ini berarti sebagian orang diwajibkan untuk melakukannya setiap tahun dan sebagian lagi tidak melakukannya. Barang siapa yang tidak sanggup, tidak ada kewajiban bagi mereka.

Puasa, Siyam
Wa sawmu Ramadhan. Puasa, kalian diwajibkan untuk melakukannya sekali dalam setahun, selama satu bulan. Dan alhamdulillah, Allah SWT mengaruniakan kita bulan ini untuk mengingat-Nya. Dan biasanya Rasulullah SAW menganjurkan para Sahabat untuk melakukan itikaf pada 10 hari terakhir di bulan tersebut. Dan banyak Muslim di seluruh dunia yang melaksanakan itikaf dan mereka berusaha melakukan yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan agar Allah SWT rida terhadap kita, agar kita dekat dengan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. “Fa man kaana minkum mariidhan aw `alaa safarin fa`iddatum min ayyamin ukhar.” “(Puasa) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain [QS 2:184].” Pada kasus ini, Allah SWT memberi izin agar kalian memenuhinya di kemudian hari. Jika seseorang secara terus-menerus sikit, maka dia dimaklumi. Itu berarti kalian harus melakukannya sekali dalam setahun, tetapi sebagian orang—jika mereka tidak bisa berpuasa—mereka tidak harus melaksanakannya. Allah SWT membebaskan mereka, memaklumi mereka.

Haji
Rukun kelima, wa hajj al-bayt li man istata`a ilahi sabiila. Barangsiapa yang sanggup untuk melakukan haji baik secara fisik, mental maupun finansial maka ia harus melakukannya paling tidak sekali seumur hidup.

Salat
Jadi di lain pihak kita melihat bahwa salat, rukun kedua dalam Islam tidak dapat kalian tinggalkan. 5 kali sehari kalian diwajibkan untuk melaksanakannya dan kalian tidak dapat meninggalkannya atas alasan apapun. Tak ada kecuali. Akan ada hukuman keras bagi mereka yang meninggalkannya. Jika kalian sakit dan kalian tidak berpuasa, tak ada hukuman bagi kalian. Jika kalian miskin dan kalian tidak membayar zakat, tidak ada hukuman bagi kalian. Jika kalian tidak mampu menunaikan ibadah haji, tidak ada hukuman bagi kalian. Tetapi bila kalian meninggalkan salat, hukumannya sangat berat, api neraka! Ma baynal kufr wal iman tarkal salah,” “Yang membedakan antara kafir dengan iman adalah meninggalkan salat. Jadi tak ada lain, tak ada alasan bagi orang yang sehat, bagi orang yang punya uang atau tidak, ia harus melakukan salat. 5 kali sehari. Orang sakit yang tidak dapat melakukan salat berdiri, ia bisa duduk dan salat; yang tidak dapat duduk, dapat berbaring; yang tidak dapat berbaring, bisa melakukan salat dengan matanya. Salat harus tetap dilakukan. Wahai Muslim, jangalah kalian melupakannya. Salat sangat penting!


Ibadah 24x7
Adalah sangat-sangat penting bagi Allah SWT sehingga Dia memerintahkan dan mewajibkan kita untuk melakukan salat 50 kali sehari, bukannya sekali. Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan salat 50 kali, artinya ibadah terus-menerus. “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun.” “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [QS 51-56].” Jika terdapat 50 dan masih tetap 50, kita tidak akan mempunyai waktu, bahkan hanya untuk mengangkat kepala kita. 50 salat, setiap salat jika kalian melakukannya dengan benar akan memakan waktu 15 menit. 50 salat dikalikan 15 menit adalah 750 menit, ditambah wudu untuk 50 salat, jadi apa yang tersisa? Itulah makna dari ayat “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun [QS 51:56].”

Allah SWT mengatakan 50 salat, tetapi bagaimana dengan kayfiyya ash-shalat, bagaimana tata cara melakukannya, apa saja arkan ash-shalat, prosedurnya? Kita tahu bahwa Salat Subuh mempunyai 2 rakaat sunnah; Dzuhur mempunyai 8 atau 4, 4 sunnah sebelumnya; Ashar mempunyai 2 atau 4 sunnah; Maghrib mempunyai 2 dan 11 rakaat untuk ‘Isya. Sementara itu, kalian juga mempunyai Salat Dhuha, Awwabin, Salat Isyraq, Najat, Tahajjud. Lalu ke-50 salat tadi juga mempunyai sunnahnya masing-masing!

Sehingga seluruh waktu kalian, 24 jam akan dipenuhi dengan salat.

Itulah ayat “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun/maa uriidu minhum mir-rizqiw-wa maa uriidu ay yuth`imuun/innallaaha huwar-razzaaqu dzul-quwwatil matiin.” “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah SWT, Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh [QS 51:56-58].” Allah SWT dapat memberi kalian, kalian tidak dapat memberi apapun. Jangan berpikir bahwa kalian bekerja untuk anak-anak kalian, untuk membawa uang bagi mereka. Jika Allah SWT ingin menutupnya—habislah—tak ada apa-apa lagi! Pasrahlah. Allah SWT memberi, Allah SWT menyediakan. Jadi selama 24 jam, kalian akan berada dalam kondisi beribadah terus-menerus melalui salat.

Allah SWT memberi Sayyidina Muhammad SAW 50 salat, tetapi kemudian dengan Kemurahan-Nya, Dia menguranginya menjadi 5. Tetapi dalam mizan—timbangan, kelima salat itu dipertimbangkan sebagai 50 salat. Jika kita melakukan 5 salat dengan benar, dengan kepasrahan penuh kepada Allah SWT, khusyuk maka itu bagaikan kita melakukan salat 24 jam sehari, sama halnya dengan 50 kali salat, yang kemudian akan dituliskan bagi kita dalam mizan, “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun.” Kalian akan berada di bawah tajjali dari ayat tersebut.

Kunci kepada rahmat dan berkah dari ayat ini, agar Allah SWT menghiasi kalian dengan berkah dari ayat ini adalah melalui salat 5 waktu yang akan mengantarkan kalian kepada 50 salat dan mengantarkan kalian kepada ayat al-Quran Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun.

Salat, Gabungan dari Seluruh Ibadah
Tambahan lagi, salat sangat penting karena di dalamnya terkandung seluruh ibadah. Pertama, dalam salat kalian mengucapkan syahadat, menyatakan Keesaan Allah SWT dalam at-Tahiyyat, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah SWT wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah SAW.” Untuk menjadi Muslim, kalian cukup mengucapkan syahadat satu kali seumur hidup. Dalam salat, kalian mengucapkannya setiap hari, setiap dua rakaat. Jadi dalam salat terkandung rukun pertama dalam Islam, Kalimat at-Tawhid.


Salat sebagai Zakat
Dalam salat terkandung zakat kalian, bukan 2.5% tetapi 100% karena ketika kalian bekerja dan menghasilkan uang; lalu dari satu tahun ke tahun berikutnya kalian hanya diwajibkan membayar 2.5% dari profit—bukannya modal. Kalian akan mengeluarkannya dari keuntungan kalian, di luar modal kalian dan besarnya hanya 2.5%. Perhiasan apapun yang kalian miliki, emas atau apapun bentuk simpanan kalian, kalian harus mengeluarkannya sebanyak 2.5% dari satu tahun ke tahun berikutnya. Tetapi dalam salat kalian tidak hanya memberikan itu. Dalam bekerja, kalian menghabiskan waktu 5, 6, atau 8 jam sehari untuk mencari uang, menabungnya lalu kalian membayar 2.5%. Dalam salat kalian memberi seluruh waktu kalian untuk Allah SWT.

Jika kalian memperoleh 10 dollar dalam satu jam, dan jika kalian menghabiskan 1 jam itu untuk shalat, seolah-olah kalian memberikan seluruh 10 dollar itu, bukannya hanya 2.5%. Dan uang 10 dollar itu mungkin bisa dibelanjakan dan tidak akan bertahan selama 1 tahun sehingga kalian tidak membayar zakat atasnya, tetapi dalam shalat, kalian memberikan seluruhnya, sehingga dia akan berada dalam penggandaan geometris yang meningkat dari 2.5% menjadi 100%. Itulah zakat yang sesungguhnya! Kalian memberikan segala sesuatu yang kalian miliki. Dan hal terpenting yang kalian miliki adalah ketika Allah SWT mengaruniakan tubuh dan roh pada kalian lalu kalian mempersembahkannya kepada Allah SWT, kalian menyerahkannya pada Kehendak Allah SWT.


Salat sebagai Puasa
Yang kedua dalam salat, kalian menahan lidah dari makan, minum, ghibah, berbicara. Tidak hanya lidah, tetapi menahan seluruh tubuh kalian untuk menyentuhnya. Dalam puasa seseorang tidak diperbolehkan untuk mendekati istrinya, begitu pula sebaliknya karena hal itu tidak diperbolehkan. Makan tidak diperbolehkan. Dalam salat, kalian juga tidak bisa melakukan hal tersebut. Dalam puasa, kalian bisa berpuasa tetapi kalian masih bisa berbicara. Dalam salat, lebih dari itu—kalian tidak dapat berbicara dan mendekati pasangan kalian. Jadi yang terkandung dalam salat adalah suatu puasa berlevel tinggi.


Mengunjungi Ka’bah
Rukun terakhir dari Rukun Islam adalah haji. Dalam salat, seolah-olah kalian melakukan ibadah haji 5 kali sehari, yaitu ketika kalian mengarahkan diri kalian ke arah qiblat, segera setelah kalian mengucapkan, “Allaahu Akbar!”

Bahkan di Mekah, di penghujung masa renovasi al-Haram asy-syarif, kalian tidak bisa melihat Ka’bah. Dari luar kota Mekah, kalian pun tidak bisa melihat Ka’bah. Bahkan di sembarang tempat di kota Mekah, kalian tidak dapat melihat Ka’bah. Dari luar kota Mekah kalian dapat menghadap Ka’bah (tanpa melihatnya) dan di kota Mekah dan di dalam Masjidil Haram, kalian bisa saja menghadap Ka’bah tanpa melihatnya.

Seolah-olah kalian pergi dalam suatu perjalanan melalui salat kalian; karena haji berarti mengunjungi Ka’bah yang suci, ziyarat al-Ka’bah al-musyarrafa.

Rukun Hajji yang paling penting adalah untuk berada di Baytul Haram. Jadi hal terpenting bagi kita pada saat kita mengucapkan, “Allaahu Akbar,” adalah melihatnya melalui hati kita, melalui pikiran kita, melalui setiap sel dari tubuh kita dan setiap tetes darah kita. SEGALA SESUATU mengucapkan takbir, “Allaahu Akbar,” di hadirat Ka’bah, Rumah Allah SWT di bumi, di mana Allah SWT menginginkan agar semua orang menghadapkan wajahnya dan mengarahkan dirinya ke sana. Allah SWT mengetahui rahasia-rahasia dan tajjali apa yang ada di sana. Jadi dalam salat, seolah-olah kaliah mengarahkan diri kalian dengan memutuskan hubungan dengan dunia dan menghadap Ka’bah. Jadi seolah-olah kalian sedang datang ke sana untuk berhaji.

Jadi dalam salat, kalian menemukan kelima Rukun Islam. Itulah sebabnya tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Akan ada hukuman yang berat bagi yang meninggalkannya. Jika kalian menginginkan hukuman itu, terserah pada kalian. Jika kalian ingin menyelamatkan diri kalian, maka wahai Muslim, marilah kita menjaga hubungan kita dengan Islam secara kokoh.


Membungkus Semua!
Islam mempunyai 5 rukun atau pilar. Rasulullah SAW membungkus semuanya: syahadah, shalat, zakat, puasa dan haji dengan dua kata kunci: Iman bil ghayb—percaya kepada yang ghaib dan level Ihsan—karakter yang sempurna. Kelima rukun yang dilakukan oleh umat Muslim ini tidak dapat disempurnakan tanpa menyempurnakan salat terlebih dahulu; karena salat mengandung kelima rukun tersebut. Orang tidak dapat melakukan salatnya dengan baik bila hatinya kotor dan rusak—yaitu ketika Imannya tengah rusak. Salat itu harus dibungkus seperti halnya sebuah bingkisan. Ketika kalian melihat sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dari luar, maka ia akan terlihat indah dan menyenangkan. Jadi bagaimana kalian menghadirkan salat kalian kepada Allah SWT bila hati kalian tidak bersih? Kebersihan hati dengan jalan meraih level Iman, kemudian Ihsan adalah hal yang paling utama.

Kita akan melanjutkan hal ini di kemudian hari, insya Allah.

© as-Sunna Foundation of America