Showing posts with label Bay’at. Show all posts
Showing posts with label Bay’at. Show all posts

05 August 2008

Tindakan Sia-Sia di antara Syekh dan Murid

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Seorang Syekh mengamati murid yang meminta di-bay’at dalam Tarekat Naqsybandi tanpa pemberitahuan yang bersangkutan. Beliau juga mengutus 40 alim amil, ulama-ulama yang tulus dan setia yang akan bergerak sesuai apa yang mereka mampu selama 40 hari, mengamati seluruh perilaku murid yang bersangkutan secara rahasia. Harus tidak ditemukan kesalahan sekecil apa pun, baik dari tindakan ataupun di dalam hatinya. Bila mereka menjadi saksi akan semua itu, mereka akan datang pada Syekh dan mengatakan, “Kami menyaksikan bahwa dia berperilaku baik dan tidak pernah melakukan sesuatu yang sia-sia.”

Misalnya, segala perilaku pada tubuh kita. Jika tubuh kalian melakukan sesuatu yang sia-sia berarti kalian melakukan sesuatu yang salah. Jika kalian memegang sebuah apel dan memainkannya, itu berarti tindakan kekanak-kanakan. Hal itu membuat pengamatan dihentikan. Namun bila pengamatan itu dilalui dengan baik, para saksi akan mengatakan pada Syekh bahwa pengikut yang bernama ini atau itu adalah “bersih”. Maka kemudian Syekh memberikan bay’at.

Saat ini, bay’at amat murah tidak seperti dahulu yang amat sulit. Murid-murid zaman sekarang yang mengambil bay’at dari Syekh tidak merasakan nilai dari bay’at itu. Mereka ingin segalanya mudah, padahal spiritualitas bukan sesuatu yang muncul dengan mudah. Lihatlah para nabi, bagaimana penderitaan mereka! Aktharukum bala’ al anbiya’ yang menjalani masalah terberat di antara kalian adalah para nabi, tsumma-l amtal fi-l-amtal – lalu para sahabat Allah SWT, kemudian mereka yang paling terhormat karena kebaikannya.

Syekh Nurjan Mirahmadi memberikan bay'at Tarekat Naqsybandi kepada murid-murid di kediaman Bapak Ahmaddin di Jakarta.

Mawlana pernah bercerita, suatu ketika Sayyidina Jamaluddin Ghumuqi al-Husayni QS sedang duduk bersama murid-muridnya di dalam masjid. Ada sebuah mangkuk buah di hadapan beliau. Beliau ambil dua buah apel dan melemparnya ke atas, satu apel dilempar kemudian disusul apel yang lain. Murid-murid bertanya di dalam hati, “Apa yang terjadi, Syekh melakukan sesuatu yang buruk dan kekanak-kanakan!” Dalam tarekat tidak diizinkan melakukan sesuatu yang kekanak-kanakan. Saya katakan pada orang-orang Amerika agar tidak membuat suara atau gerakan pada tubuhnya ketika sesuatu terjadi, ma la ya’ni – sia-sia, tidak berguna. Tidak perlu mengucapkan “ah!” ketika kalian gusar akan sesuatu. Jika kalian manusia dewasa, kalian harus selalu tenang, sabar dalam segala perilaku, waspada akan apa yang sedang kalian lakukan.

Ketika Sayyidina Jamaluddin QS melakukan hal itu, beberapa murid meragukan beliau. Tindakan meragukan Syekh itu lebih berdosa di mata Syekh daripada bila kalian melakukan tindakan asusila, karena beliau bisa menanggung dosa itu dan membersihkan kalian, lain dengan prasangka buruk yang susah untuk dibersihkan dari hati kalian. “Janganlah kalian berburuk sangka. Setelah 2 atau 3 jam seseorang akan datang dari desa lain dan akan memberitahu apa yang baru saja aku lakukan.” Ketika mereka mendengar hal ini, murid-murid menjadi takut telah melakukan hal yang salah dan Syekh mengetahuinya.

Seorang Syekh mengetahui bila kalian melakukan hal yang salah, namun tidak mengatakannya. Hal itu disimpan beliau, namun bila diperlukan demi melakukan irsyad (bimbingan) beliau akan menyampaikannya. Setelah 2 jam, seseorang datang dari desa lain dan mengatakan, “Oh Syekh, ayahku telah meninggal.” Ketika kabar itu datang, Syekh pun menjelaskan, “Sekarang aku akan mengatakan pada kalian mengapa aku melempar dua apel itu. Sayyidina Izrail AS datang untuk mengambil nyawa orang itu, muridku dengan hukuman. Karena dia muridku, aku tidak terima Izrail AS datang dengan penampakan seperti itu. Maka kuambil sebuah apel dan melemparnya agar dia kembali ke asalnya dan dengan apel yang satunya aku mengubahnya agar dia muncul dengan sifat penuh kasih sayang.”

Menurut pandangan sempit orang-orang, tindakan melempar apel adalah sikap kekanak-kanakan. Namun bagi para awliya, itu adalah bantuan besar bagi murid. Kalian tidak tahu pelayanan apa yang sedang diperbuat Syekh dalam tindakan beliau yang tidak bisa kalian terima. Jangan sampai kalian punya prasangka buruk akan Syekh. Apa pun yang kalian lihat, kalian harus menerima segalanya menurut pemahaman yang berharga – mahmal sahih. Jika kalian melihat Syekh datang dengan seorang wanita dan memeluknya (kisah tentang wanita Inggris-penerj.), misalnya; itu karena Syekh sedang memberi dia sebuah rahasia. Jangan pernah menyerang Syekh, walaupun di dalam hati kalian. Itulah cara para awliya dapat mengirim cahaya-cahaya mereka. Mereka memilih beberapa orang berkualitas tinggi, bukannya disimpan untuk mereka sendiri, namun agar disebarkan untuk menarik banyak orang ke dalam ajaran Syekh, ajaran cinta kasih Nabi SAW. Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al- Fatiha.

31 July 2008

Maqam Kedekatan dengan Syekh

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Apakah ilham atau inspirasi yang benar itu?
Sebelum kalian mencapai tingkat kedekatan pada Syekh, maka tidak ada ‘penampakan/penglihatan’ dalam ilham yang kalian terima. Tidak ada pendengaran, tidak ada penciuman, dan tidak ada penglihatan. Jadi hanya sesuatu yang masuk ke dalam hati. Setiap yang memasuki hati bisa jadi benar atau bisa juga salah. Mungkin hanya imajinasi atau bisa juga sesuatu yang nyata.

Jika ilham yang datang itu benar dari Syekh, ego pun akan membuat kalian ragu-ragu: apakah ini benar berasal dari Syekh atau bukan? Ego akan memainkan perannya. Bisa jadi dia menjauhkan kalian dari ilham yang benar itu, meragukannya sampai akhirnya kalian meninggalkannya. Jika ego gagal mengecoh kalian, dia akan membiarkan kalian mengikuti ilham yang benar itu. Saat itulah maka maqam kalian akan ditingkatkan.

Sekarang, jika yang datang itu adalah imajinasi. Karena memang sebuah khayalan, maka ego tidak akan turut campur. Ego akan langsung menerimanya atau hanya akan meyakinkan kita bahwa itu adalah ilham yang benar, padahal hanya ilusi kita saja.

Para taruna PTIK berbay'at ke dalam Tarekat Naqsybandi.

Karena itulah, banyak pengikut Syekh, begitu mereka menerima bay’at, mengira bahwa mereka siap menerima ilham-ilham. Ini adalah hal yang salah. Ketika menerima bay’at mereka mengira telah melakukan sesuatu yang hebat, karena telah tunduk pada Syekh dengan menerima bay’at. Hal ini juga salah, karena hal itu bukan berarti kalian melakukan sesuatu yang luar biasa bagi Tuhan, Nabi SAW dan Syekh. Itu hanyalah langkah awal, bukan sesuatu yang luar biasa dan bukan sumbangan yang besar bagi Syekh, sehingga mengira setelah itu terjadi, maka ilham-ilham yang datang berasal dari Syekh.

Mereka kadang membuat kekacauan sambil mengatakan, “Syekh mengilhami aku untuk melakukan ini.” Tetapi ilham ini sudah benar atau belum? Jadi bagaimana kalian tahu bahwa sebuah ilham itu benar atau salah? Ini sebuah pertanyaan yang bagus. Bagaimana membedakan antara kedua macam ilham ini? Sebuah ilham yang 100% benar adalah yang diikuti pendengaran, penciuman dan penglihatan. Pada saat itu kalian yakin bahwa hal ini adalah benar berasal dari Syekh. Alasan mengapa murid-murid harus melakukan khalwat adalah untuk melatih diri mereka menerima berbagai macam cahaya yang sedang dikirimkan oleh Syekh. Dan tanpa jihad an-nafs, perang melawan ego, kalian tidak akan mencapai kebenaran itu.

Semua itu berasal dari cinta. Jika kalian mencintai, maka kalian pun akan tunduk dan menyerahkan diri. Jika kalian tidak mencintaiku, bagaimana bisa kalian menyerahkan diri kalian padaku? Mustahil! Ketika kalian mencintai seseorang yang Allah SWT kirimkan pada hati kalian, kemudian kalian mencintainya sehingga kalian melakukan apa pun bagi dia. Ada yang sampai meninggalkan keluarga, istri, anak-anak, ibu, bapak dan ibu untuk mengejar Syekhnya. Mereka mencintai Syekh dan meninggalkan semuanya demi beliau dan Allah SWT menyediakan mereka segala hal serta melindungi mereka.

Jika kalian tidak percaya, kalian juga tidak bisa menyerahkan diri kalian. Dan sebaliknya bila kalian yakin akan Syekh, maka kalian pun akan merasa tunduk pada Syekh. Jika cinta dan penyerahan diri itu sudah ada, maka Syekh akan mengirimkan cahaya pada hati kalian dan mengantar kalian pada maqam kepatuhan dan meningkatkan kalian pada maqam lainnya, yaitu maqam “Kehadiran,” hudur. Maqam itu lebih tinggi dari maqam cinta, bukan bersamaan namun adanya setelah maqam cinta. Kalian mampu merasakan, mendengar, melihat Syekh di sekitar kalian selama 24 jam.

Setelah itu kalian akan mencapai maqam yang sangat tinggi, maqamu-l-fana. Ketika mereka mencapai maqam kedua- “Kehadiran”- kalian mulai bisa mencium maqam fana ini. Di mana di situ seseorang bisa mengatakan “jadilah” dan hal itu akan terjadi, apa pun yang muncul dalam hatinya, dia mempunyai kekuatan untuk mengubah takdirnya. Para awliya yang mencapai tepian maqam itu diberi kekuatan Allah SWT atas Qada’ muallaq – takdir yang bisa diubah. Yaitu takdir yang berada di bawah kontrol manusia. Ketika mereka mengatakan: Allah SWT telah meminta ini bagiku, sebagaimana tertera dalam Qur’an Yamhu-l-Lahu ma yasha wa yuthbit wa indahu umur kitab, Allah SWT mampu menghapus segala hal dari qada mu’allaq, dan hasil akhir berada di Tangan-Nya.

Para awliya mampu mengetahui takdir itu demi kepentingan murid-muridnya dan meminta Allah SWT dengan mengatakan, “Mohon ubahlah hal itu untuk murid-murid kami.” Hal ini mampu berpengaruh pada kehidupan kalian sehari-hari, misalnya dengan bersedekah. Jika Syekh menyuruh kalian, “Beri sumbangan pada Masjid.” atau “Sembelihlah kambing untuk Tuhan dan bagikan pada kaum miskin.” Atau bisa juga “Lakukan ini.” Hal ini dikarenakan melalui penglihatannya, beliau melihat bahwa amalan itu mampu menyucikan sesuatu dan mengundang kebaikan.

Sebagaimana sabda Nabi SAW, Ittaqu firasat al-mu’min li’annahu yandhuru bi nuri-l-Lah.” Waspadalah akan penglihatan orang mukmin, karena mereka mampu melihat dengan cahaya Allah SWT. Dengan cahaya yang dianugerahkan Allah SWT itu, mereka mampu melihat apa yang terjadi di sekitar kalian. Namun untuk melindungi kalian mereka tidak datang dan mengatakan pada kalian secara langsung, “Lakukan hal ini, kalau tidak kamu akan menderita besok.” Tidak!

Beliau akan mengatakan, “Hari ini, kamu bersedekah, atau melakukan pekerjaan sebagai sedekah dari dirimu sendiri, atau bersihkan toilet di masjid…” (Tidak ada yang mau membersihkan toilet, kadang Syekh membersihkannya sendiri untuk mengajari para pengikutnya agar tidak ragu untuk membersihkan toilet guna membunuh ego mereka). Menurut apa yang Nabi SAW katakan, “as-sadaqa taruddu-l-bala’ wa tazidu-l-umr,” sedekah menghilangkan kesusahan, kecelakaan, penyakit dan membuat panjang umur.

Itulah yang dilakukan oleh seorang awliya bila melihat pengikutnya akan mengalami musibah-musibah, beliau akan langsung turun tangan dan mencegahnya. Beliau membuat kalian mengerjakan sesuatu agar Allah SWT berkenan mengubahnya menjadi kebaikan. Hal ini tanpa sepengetahuan kalian. 124.000 awliya mampu mencapai maqam ini. Mereka dizinkan untuk melihat apa yang telah ditakdirkan pada kalian sehari-hari di dalam Lawh al-Mahfuz, di mana Allah SWT akan menghapus menurut apa yang Allah SWT sukai. Di sanalah mereka dapat turut campur.

Sedangkan maqam qada’ mubram, takdir yang telah dipastikan, dari semenjak zaman Nabi SAW sampai kedatangan Mahdi AS dan Yesus AS, hanya 9 awliya saja yang mampu ikut campur di dalamnya.

Semua ini, seperti telah kita sampaikan, berasal dari cinta. Untuk mendatangkan cinta berarti jangan ada pikiran buruk pada Syekh. Sayangnya, ketika Syekh melihat hati para pengikutnya, masih terdapat segala macam penyakit dan kelemahan di sana. Bagaimana bisa Syekh mengirim cahaya pada hati kalian? Nabi SAW tidak mengizinkan Syekh menunjuk penerusnya, bila masih ada setitik atom keraguan di hatinya.