Showing posts with label Kebesaran Nabi SAW. Show all posts
Showing posts with label Kebesaran Nabi SAW. Show all posts

09 January 2012

Kalian harus Mengetahui Kebesaran Nabimu (s)!

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
31 Desember 2011 Jakarta Timur, Indonesia
Mawlid an-Nabi (s) dengan Habib Hasan bin Ja’far Assegaf
Shuhbah di Velodrome Rawamangun


As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh.
A`udzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani' r-Rahiim. Alhamdulillahi Rabi 'l-`Alamin, wa' sh-shalaatu wa 's-salaamu` ala asyrafi' l-Mursalin, Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`in.

Nawaytu 'l-Arba`in, nawaytu' l-` itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu' l-`uzlah, nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu' s-suluk, lillahi ta `ala fi haadza 'l-masjid.

أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم

Athi `ullaha wa` athi u 'r-Rasula wa' ulill-amri minkum.
Taatilah Allah, taati Rasul-Nya (s), dan orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. (4:59)

Alhamdulillah, Siapa pun yang datang berkumpul di malam ini demi cintanya kepada Sayyidina Muhammad (s) dan bersama dengan para Pecinta Al-Musthafa, Nurul-Musthafa (Cahaya Nabi Yang Terpilih), semoga Allah (swt) mengumpulkan kita semua di Surga kelak bersama Sayyidina Muhammad (s), karena beliau (s) adalah teladan bagi kita dan beliaulah alasan di mana para malaikat diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Sayyidina Adam (as), untuk menghormati beliau (s)! Kita bersyukur kepada Allah dan mencari petunjuk-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan ego kita dan perbuatan kita.

Ini adalah sebuah pertemuan atas petunjuk-Nya dan ini adalah karunia yang besar dari Sayyidina Muhammad (s), karena ketika kita mengingat beliau, Nabi (s) mengingat kita. Ketika kita mengingat Allah (swt), Dia mengingat kita, dan ini adalah berkah dari para haba’ib, khususnya Habib Hasan. Semoga Allah (swt) membimbing kita semua.

Seluruh sendi Islam dibangun atas ketaatan dan cinta kepada Nabi Muhammad (s). Ketaatan kepada Nabi (s) akan membawa kita untuk mencintainya, sehingga berselawatlah kepadanya sepanjang waktu! Kita berharap semoga berkah-berkah ini tidak hanya menjangkau umat Muslim saja, tetapi juga non-Muslim.

Allah (swt) berkata:

إنا فتحنا لك فتحا مبيناليغفر لك الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر ويتم نعمته عليك

innaa fatahnaa laka fathan mubiinaan, liyaghfira laka Allaahu maa taqaddama min dzanbika wamaa ta-akhkhar wayutimma ni'matahu 'alayka wayahdiyaka shiraathan mustaqiimaan.

Sesungguhnya (Muhammad), Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. (Al-Fath, 48:1,2)

Allah (swt) berfirman, "Kami telah memberikan kepadamu sebuah pembukaan (kemenangan) yang besar dan memaafkan kamu atas dosa yang kamu lakukan di masa lalu dan di masa yang akan datang." Pertanyaannya adalah, apakah Nabi (s) berbuat dosa dan beliau harus diampuni? Tidak mungkin! Nabi (s) adalah maksum, tidak mempunyai dosa!

Dalam Isra Mi’raj, Nabi (s) diangkat ke maqam berjarak dua busur atau lebih pendek lagi terhadap Allah (swt), Qaaba qawsayni aw adnaa, Nabi (s) dibawa masuk ke dalam Surga dan ke Neraka dan melihat seluruh penghuninya, jadi bagaimana bisa bahwa ayat ini merujuk kepadanya? Tidak mungkin! Oleh karena itu, makna dari ayat ini adalah, "Kau ditinggikan dan Allah (swt) mengampunimu untuk dosa-dosa umatmu, hamba Allah, apa pun dosa di masa lalu mereka dan dosa di masa depan mereka, semuanya telah diampuni demi syafaatnya, syafaat dari Sayyidina Muhammad (s)! Sayyidina Adam (a) dan seluruh umat manusia berada di bawah panji Nabi (s) pada Yaumul Hisab nanti!"

Kita semua adalah anak cucu Sayyidina Adam (a), dan semua meminta syafaat (perantaraan dan perlindungan) kepada Nabi (s), dan beliau (s) akan bersujud di Hadirat Tuhan-Nya dan membacakan doa untuk umatnya agar diampuni dan Allah akan membukakan kalbunya dan kemudian Allah (swt) akan mengatakan kepadanya, "Angkatlah kepalamu dan mintalah apa saja yang kau inginkan, Aku akan mengabulkannya.” Nabi (s) akan meminta agar umatnya diselamatkan dan Allah akan mengabulkannya. Dia (swt) berfirman di dalam Al-Qur'an:

ألم نشرح لك صدرك

alam nasyrah laka shadrak
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Asy-Syarh, 94:1)

Dan melapangkan yang tidak ada batasnya. Allah (swt) telah melapangkan dadanya sejauh Qaaba qawsayni aw adnaa! Hingga berjarak hanya dua busur atau lebih dekat. “Kemudian Kami hapus darimu beban beratmu,” yang berarti beban berat umat Nabi (s) yang diembannya. Dan mengacu pada ayat lain, “Kami memaafkan dosa umatmu, dosa sebelumnya dan dosa yang akan datang.” Dan kita berdoa:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Rabbana aatinaa fi 'd-dunya hasanatan wa fi' l-akhirati hasanatan wa qina adzaaban nar.
Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah, 2:201)

Apakah hasanah itu? Hasanah adalah sesuatu yang baik, keberkahan. Jika Allah (swt) ingin berbuat baik kepada hamba-Nya, maka Dia membuat hamba-Nya untuk mengetahui Nabi-Nya (s). Jadi itu berarti, "Ya Allah! Karuniakanlah kami untuk dapat melihat Sayyidina Muhammad (s); dan hasanah terbaik di dunia adalah untuk dapat melihat Nabi (s) dan hasanah terbaik di akhirat adalah bersama dengan Nabi (s) di Surga!"

Sesungguhnya Nabi (s) tidak jauh dari kita, bahkan, beliau hadir dan mendengarkan! Beliau menyaksikan segala perbuatan umatnya dari kuburnya. Beliau berkata, “Aku hidup di dalam kuburanku dan bila seseorang mengirimkan salam padaku, maka Allah akan mengembalikan ruhku, dan dari dalam kuburku aku membalas salam mereka semua."

Dan setiap detik seluruh manusia di dunia mengirimkan salam mereka kepada Nabi (s) dan karena itulah setiap saat Allah mengirimkan kembali ruh Nabi (s) di dalam kuburnya dan beliau menjawab salam dari mereka yang mengucapkan pujian dan salam kepadanya. Imam as-Suyuti (qs) mengatakan, "Berdasarkan hal ini, maka kita mengetahui bahwa Allah (swt) telah mengembalikan ruh dan jiwanya secara permanen dalam kuburnya, artinya bahwa Nabi (s) senantiasa hidup untuk menyaksikan seluruh umatnya."

Ini berarti, pujilah Nabi (s)! Dan kita berkata, "Ya Allah! Kami mengirim pujian pada Nabi (s)! Wahai rahmat bagi semesta alam! Kami menyerukan padamu, Yaa Rasulullah (s), dari Indonesia ini Yaa Rasulullah (s)! Wahai Nabi (s)! Semoga Allah (swt) mendoakanmu dari pra-azali sampai azali!"

Allah (swt) berfirman dalam Al-Qur'an:

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

inna-Llaha wa malaa'ikatahu yushalluuna `ala 'n-nabi, yaa ayyuhal-ladziina aamanuu shalluu `alayhi was sallimuu tasliima.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Al-'Ahzaab, 33:56)

Ini berarti Allah (swt) memberikan salam pada Nabi (s) dan memerintahkan semua malaikat-Nya—malaikat yang Dia ciptakan sebelumnya, malaikat yang akan Dia ciptakan—semuanya diciptakan untuk memuji Nabi Muhammad (s)! Allah (swt) adalah al-Khaliq, "Sang Pencipta," yang berarti Dia terus menciptakan sesuatu yang baru dan juga malaikat baru, dan setiap malaikat baru, diperintahkan untuk memuji Nabi (s), perintah itu berlaku untuk setiap saat! Malaikat itu masing-masing memiliki tasbih yang unik bagi diri mereka sendiri dan berbeda-beda antara satu dengan yang lain, sehingga tidak ada pengulangan dari pujian-pujian tersebut.

Kalian harus mengetahui kebesaran Nabi Muhammad (s)! Bagaimana Allah (swt) mengagungkannya? Sayyidina Musa (a) adalah Kalamullah, "Dia yang berbicara dengan Tuhan-Nya," dan Musa (as) meminta, "Yaa Rabbii! Dapatkah aku melihat-Mu?” Nabi Musa (as) meminta kepada Allah untuk dapat melihat-Nya! Bagaimana kalian dapat menanyakan hal ini? Pencipta adalah di luar ciptaan-Nya, di luar batas dunia dan Surga, dan Dia tidak memiliki tempat dan waktu, melampaui semua hal itu! “Wahai Musa, kau tidak akan mampu melihat Aku, tetapi Aku akan memberimu kesempatan. Lihatlah gunung itu dan jika gunung itu tetap berada di tempatnya, maka kau dapat melihat-Ku."

Sebuah gunung sangat besar dan masif. Seperti disebutkan dalam tafsir tersebut, "Ketika Allah mengutus tajali-Nya Nama Indah-Nya dan Atribut/Sifat dan kebesaran-Nya melalui Sayyidina Musthafa (s) di gunung itu, maka gunung itu hancur lebur. Sayyidina Musa (a) jatuh pingsan karena terkejut."

فلما تجلى ربه للجبل جعله دكا وخر موسى صعقا

Falammaa tajallaa Rabbuhu li 'l-jabali ja`alahu dakkan wa kharra Musa saa'iqaan.

Tatkala Tuhannya menampakkan diri-Nya kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh lantak bagai debu dan Musa pun jatuh pingsan. (QS. Al-A'raaf, 7:143)

Allah (swt) mengirimkan tajali di gunung melalui Firman-Nya dan karena itulah Sayyidina Musa (as) terus-menerus mencari hikmat, maka Allah mengutusnya untuk bertemu dengan Khidr (a). Ketika tajali muncul, gunung tersebut pun hancur luluh lantak.

Allah (swt) mengatakan dalam ayat lain:

لو أنزلنا هذا القرآن على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله

law anzalnaa haadzaa al-Qur’ana `alaa jabalin la-ra'aytahu khaashi`aan mutasaddi`an min khashyatillah.

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk hancur lebur disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al-Hasyr, 59:21)

"Jika Kami mengungkapkan hal ini, Al-Qur'an kepada gunung itu, maka ia akan dihancurkan dan dimusnahkan menjadi debu karena rasa takut kepada Allah." Tetapi Allah mengirimkan Al-Qur'an ke dalam kalbu Sayyidina Muhammad (s), dan beliau tidak hancur!

Wahai umat-Nabi al-Musthafa! Kalian adalah cahaya dari Nabi al-Musthafa, Nabi Pilihan, Muhammad (s). Allah (swt) telah menurunkan Al-Qur'an pada Nabi (s), dan telah diberikan oleh Nabi saw kepada kalian. Apakah kalian menerimanya atau tidak, kalian adalah pembawa Al-Qur'an dan wajib untuk memberikan penghormatan kepada Al-Qur'an dan juga kepada keturunan Nabi (s)!

Muhammad al-Busayri (r), adalah penulis al-Burdah Abu-Syarifa dan ia mengetahui Realitas Nabi (s), ia mengatakan, "Semua mengambil dari Nabi (s) dan semua memiliki kekhususan darinya, bukan hanya hamba-Nya, tetapi bahkan seluruh planet-planet dan bintang-bintang! Sesungguhnya, semua Ciptaan diciptakan dari cahaya Sayyidina Musthafa (s)!"

Kami akan akhiri dengan kalimat ini sebagai pengingat bagi kita semua:

قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى

Qul laa as-alukum 'alayhi ajran illaa almawaddata fii alqurbaa

Katakanlah (Wahai Muhammad): "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dan cinta kepada keluargaku". (Asy-Syura, 42:23)

Semua habaa'ib ini adalah keturunan Nabi (s). Mereka tersebar di setiap wilayah dan di setiap sudut dunia, dan kewajiban kita semua adalah untuk menghormati mereka. Semoga Allah (swt) mendukung mereka karena mereka adalah berkah dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Asy-hadu an laa ilaaha illAllah wa-asy hadu anna Muhammadan-Rasuulullah! Laa ilaaha illa-Llah, laa ilaaha illa-Llah, laa ilaaha illa-Llah! (zikir)

Allaahummaj`al awwala majlisinaa hadzaa shalaahan wa awsathahu falaahan wa akhirahu najaahan
Allaahummaj`al awwalahu rahmatan wa awsathahu ni`matan wa akhirahu takriimatan wa maghfirah

Ya Allah! Jadikanlah bagian pertama dari malam ini sebagai pemulihan, dan bagian tengahnya sebagai kejayaan dan bagian akhirnya sebagai keselamatan. Ya Allah! Jadikanlah bagian pertamanya sebagai rahmat dan tengahnya sebagai nikmat, dan bagian akhirnya sebagai keberkahan dan pengampunan! Yaa Sayyidii! Yaa RasuluLlah! Pandanglah kami semua dan hubungkan kami denganmu!

Wa min Allahi at-Tawfiiq, bi hurmati' l-Habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

23 January 2009

Maqam Basyariyyah (Kemanusiaan) Nabi SAW

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Khutbat al-Jumu'ah, 24 Oktober, 1997
Masjid at-Tawhiid, Mountain View, California


Bismillaah ir-Rahman ir-Rahiim
was-shalaat was-salaam ala Sayiddina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

Allah SWT telah mengaruniakan kepada kita kebahagiaan dan kabar gembira dalam ayat-ayat ini, yang akan Saya baca terjemahan bahasa Inggrisnya. Dalam Surat al-Kahfi ayat 107, yang berbunyi, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal." 108, "Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya." 109, "Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).’" Dalam ayat 110 berbunyi, "Katakanlah: ’Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Ilah (Tuhan) kamu itu adalah Ilah (Tuhan) Yang Esa’". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhan-nya."

Dalam ayat-ayat ini, kita melihat bahwa Allah SWT telah berjanji bahwa barangsiapa berbuat baik, Ia pun akan memberikan pada mereka surga-surga. Mereka yang beriman, yang menerima Islam, yang tidak hanya menerimanya tanpa melakukan amal (perbuatan baik), karena kalian pun bisa menjadi Muslim tanpa amal—tetapi di sini Ia menekankan bahwa, "Wahai Muslim, Wahai Mu'min, kalian harus melakukan amal kebajikan." Dan Ia menekankan akan pentingnya melakukan perbuatan baik. Tidak hanya, "Aku percaya, aku seorang Muslim, dan aku berbuat kejahatan. Aku melakukan salatku tetapi aku berbuat kejahatan.” Tidak. Allah SWT menempatkan amal kebajikan bersama Iman, dus amal kebajikan adalah sejajar bersama Iman.

Kalian bisa saja beriman, kalian bisa mengatakan, “La Ilaaha Ill-Allah Muhammadun RasulAllah”, tetapi mungkin kalian tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik. Persyaratannya adalah bahwa kalian harus menjadi seorang yang beriman dan kalian harus berbuat kebajikan. Siapa yang berbuat kebajikan, mereka akan memperoleh Surga Firdaus. Mereka akan tinggal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak akan berada di tempat lain. Allah SWT akan membalas mereka atas Iman mereka dan atas amal mereka.

Tanpa amal, kalian tak akan memperoleh Surga Firdaus. Allah SWT mungkin akan mengirim kalian ke tempat lain. Tapi, dengan amal kebajikan, kalian akan mendapatkan Jannat al-Firdaus.

Muslim harus bekerja keras untuk melakukan amal kebajikan—dan tidak sekedar memikirkannya, “Aku datang dan salat, dan aku percaya bahwa Allah SWT adalah Pencipta kita dan Sayyidina Muhammad SAW adalah Utusan-Nya,” melainkan “Aku harus bekerja keras untuk kebaikan masyarakat, untuk kebaikan ummat Muslim. Maka aku akan meraih Jannat al-Firdaus.”
Kita semua, alhamdulillah, adalah orang-orang yang beriman. Jika kita tidak beriman tentu kita tidak akan datang ke sini. Jadi, kita harus beriman pada Pesan dari Allah SWT. Apa yang Allah SWT telah turunkan bagi kita melalui Sayyidina Muhammad SAW, kita harus menerimanya. Kita tak boleh mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Kita harus mengambil seluruhnya bersama-sama dan berusaha untuk maju, atau pencapaian kita akan Surga tidak akan lengkap. Kita mungkin hanya akan memperoleh derajat yang lebih rendah dalam surga.

Dan kita tidak menginginkan hal itu. Setiap orang menginginkan lebih karena Allah SWT begitu Pemurah. Allah SWT adalah Sang Maha Pemurah Yang Mutlak. Kita ingin untuk berbuat lebih untuk mencapai lebih.

Dan Allah SWT melanjutkan, “Katakanlah!”—“Qul Ya Muhammad SAW!” Hanya bagi Allah SWT-lah untuk mengatakan, “Katakan wahai Muhammad SAW! Jika seluruh lautan menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhanku, lautan itu akan habis, habis seluruhnya, tinta akan habis, pena-pun akan patah dan habis, sekalipun jika kita tambahkan lautan atas lautan atas lautan, seluruh lautan dan samudra itu akan habis, tetapi Kalimat-Kalimat Allah SWT itu tak akan pernah habis.” Ayat itu dimulai dengan, “Wahai Muhammad SAW, katakan pada mereka...,“ karena Sayyidina Muhammad SAW telah mengetahui, hal itu bukanlah bagi beliau, tapi bagi kita untuk mengetahuinya. Karena beliau yang telah diundang untuk Isra' dan Mi'raj, mengetahui pentingnya, mengetahui Tawhid Allah SWT (Keesaan Allah SWT), mengetahui Keagungan Allah SWT. Allah SWT berfirman pada beliau, “Qul!” Katakan pada siapa? Katakan pada mereka, pada Ummah, pada hamba-hamba Allah SWT, pada seluruh manusia. Di sinilah kita harus melihat bahwa ada suatu perbedaan antara status Muhammad SAW dengan status dari seluruh manusia. Allah SWT berfirman pada beliau, “Qul Ya Muhammad SAW”—“Katakan pada mereka Wahai Muhammad SAW, karena engkau sudah tahu. Aku telah memanggilmu ke Hadirat-Ku karena dirimu adalah intan permata yang paling berharga dalam alam semesta ini. Engkau mengetahui Keagungan-Ku. Maka, katakanlah pada mereka apa yang kau tahu tentang Diri-Ku. Katakan pada mereka bahwa sekali pun seandainya lautan dan samudra adalah tinta...”

Beginilah pikiran kita bekerja, dengan imajinasi dan perumpamaan. Karena itulah Allah SWT memberikan pada kita suatu contoh dalam Quran Suci agar kita mengerti, perumpaan akan “samudra dan lautan sebagai tinta, untuk menulis Kalimat-kalimat Allah SWT.” Kemudian bayangkanlah bahwa lautan itu akan habis, sedangkan Kalimat-Kalimat Allah SWT tak akan pernah habis. Bahkan jika seandainya kalian menambahkan lagi samudra lalu lautan lalu samudra lalu lautan...” Jadi, artinya pengetahuan kita adalah apa? Pengetahuan kita bukan apa-apa, tidak ada apa-apanya. Seluruh ilmu dan pengetahuan yang kita banggakan hari ini, komputer, teknologi, rekayasa (engineering), fisika, kedokteran, semua nihil, bukan apa-apa, dibandingkan dengan Kalimat-Kalimat Allah SWT, dibandingkan dengan Ilmu dan Pengetahuan Allah SWT, dibandingkan dengan Ilmu dan Pengetahuan Nabi Muhammad SAW. Jika seluruh rekayasa dan teknologi ini, dan juga ilmu kedokteran ini, bukan apa-apa, itu berarti pengetahuan Sayyidina Muhammad SAW, yang telah Allah SWT berikan padanya, dapat melakukan mu'jizat dan keajaiban. Ilmu dan pengetahuan itu dapat mengubah apa pun di alam semesta ini. Pengetahuan dan Ilmu dari al-Quran Suci yang dapat kita pahami, dapat mengubah seluruh alam semesta ini. Di manakah pengetahuan itu? Di manakah ilmu dan sains itu? Karena Allah SWT telah melukiskan dalam al-Quran Suci bahwa pengetahuan iptek kita itu bukan apa-apa, maka ia tidak memiliki nilai apa pun.

Ayat itu bermakna, “Katakan pada mereka, Ya Muhammad SAW, tentang apa yang kau ketahui tentang Diri-Ku. Tentang Ilmu-Ku dan katakan pada mereka bahwa pengetahuan yang telah Kami berikan pada mereka tak berarti apa-apa dibandingkan Ilmu-Ku. Bahkan seandainya samudra dan lautan ditambahkan atas samudra dan lautan lalu ditambahkan atas samudra dan lautan, Kalimat-Kalimat-Ku, Ilmu-Ku tak akan pernah habis!” Jadi, kita sangatlah kecil, tak berarti apa-apa. Jadi, ilmu yang telah diwahyukan oleh Allah SWT kepada kita melalui Quran Suci dapat melakukan kekuatan-kekuatan yang ajaib (mu'jizat). Di manakah ilmu itu? Kita harus mencari ilmu itu, kita harus melakukan riset dan penelitian atasnya. Bukan hanya riset untuk sains, bukan hanya riset untuk teknologi saja, karena sains teknologi tak bernilai apa-apa (dibandingkan ilmu dari Quran Suci).

Sains dan teknologi biasa tak akan mampu membawa kalian ke surga, tapi ilmu Allah SWT-lah yang akan membawa kalian ke surga. Dan karena ilmu manusia jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT adalah tak ada artinya, kita pun mesti menyadari betapa kurang dan lemahnya diri kita. Dan karena itu pulalah kita lalai dan bodoh akan ilmu dan pengetahuan tadi. Karena itulah mengapa Nabi SAW berkata kepada kita, dalam lanjutan ayat tadi, “Wahai Muslim, wahai manusia, Ilmu Allah SWT tak pernah habis. Bahkan setelah samudra di atas samudra...”

Apa yang difirmankan Allah SWT setelah itu? Ia berfirman, “Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia seperti dirimu, tapi telah diwahyukan kepadaku." Apakah maknanya di sini? Banyak orang sekarang berkata, “Ah, Muhammad SAW tidaklah seperti kami, tapi ia lebih baik daripada kami karena telah diwahyukan padanya.” Tetapi, ini bukanlah makna dari ayat tersebut. Ayat tersebut bermakna, “Aku adalah seorang manusia yang telah mengerti Kemuliaan dan Keagungan Allah SWT, dan tak seorang pun dapat memperoleh pengetahuan ini.” Seberapa pun tingginya maqam dan kedudukan yang mungkin kita raih, kita tetaplah memilik batasan-batasan. Makna dari, “Aku adalah seorang manusia seperti dirimu,” BUKANLAH “Aku adalah suatu badan, suatu tubuh fisik sehingga engkau tidaklah lebih baik dariku dan aku tidaklah lebih baik darimu kecuali bahwa aku menerima wahyu.” Bukan! Maknanya yang benar adalah, “Wahai Muslim, sekalipun dengan apa yang telah Allah SWT berikan padaku, akan keagungan dan kenabian (nubuwwah) dan wahyu, tetaplah aku tidak akan mampu mengetahui seluruh ilmu Allah SWT, tetaplah seluruh karunia itu memiliki batasannya, bahkan bagiku.” Ayat itu tidaklah bermakna bahwa kalian dapat meminimalkan peran dari Sayyidina Muhammad SAW, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama baru kontemporer Islam. Tidak!

Mayoritas Ulama dalam Islam menekankan pentingnya ayat ini, di mana Sayyidina Muhammad SAW tengah menunjukkan pada orang-orang, “Bahkan dengan kebesaranku, bahkan dengan kekuatan yang Allah SWT telah karuniakan padaku, bahkan dengan Isra' dan Mi'raj, bahkan dengan wahyu, tetaplah aku terbatas dalam mengetahui Ilmu Allah SWT. Tetapi kalian pun terbatas dalam mengetahui pengetahuanku.” Sayyidina Muhammad SAW tengah menekankan, “Kalian terbatas dibandingkan pengetahuanku dan aku pun terbatas dibandingkan Ilmu dan Pengetahuan Allah SWT.” Wahai Muslim, Allah SWT tidak menerima syiriik (sekutu) apa pun. Dan itulah mengapa Sayyidina Muhammad SAW bersabda dalam ayat ini, “Aku hanyalah seorang manusia,” ini bermakna, “Aku tidaklah mensekutukan diriku sendiri dengan Allah SWT. Karena itulah ilmuku tidaklah sama. Dan, sebagai Nabi Muhammad SAW, Penutup para Rasul, tak seorang pun dapat meraih tingkatanku. Kalian harus mengetahui batasan kalian, dan aku pun mengetahui batasanku terhadap Tuhanku.”

Zuhair ibn Jandab RA, salah seorang Sahabat, berkata, “Apakah yang menjadi alasan turunnya ayat yang mengatakan, "Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan-nya." Ayat itu turun untuk menunjukkan perbedaan di antara kita dan Nabi SAW; dan antara Nabi SAW dengan Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, aku adalah seorang manusia seperti dirimu, tapi telah diwahyukan padaku,” bermakna, “Aku mengetahui batasanku, dan engkau pun mengetahui batasanmu, tetapi telah diwahyukan padaku bahwa jika seseorang ingin untuk melakukan amal, ingin untuk berada di Hadirat Tuhannya, namun karena dia tak mampu meraih pengetahuan Tuhannya, ia pun terbatas, maka hendaklah ia melakukan amal kebajikan, amal salih untuk Akhiratnya.” “Siapa yang ingin berada di Hadirat Allah SWT di Akhirat, hendaklah ia melakukan amal kebaikan. Dan hendaklah ia tidak menyekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Allah SWT.”

Mengapakah ayat tersebut turun? Ayat itu bukanlah tentang syirik dalam menyembah seseorang bersama Allah SWT, ayat itu tidaklah bermakna demikian, sebagaimana mereka mengatakannya saat ini. Mereka melabeli mu'min dan muslim dengan menggunakan ayat-ayat Quran yang Allah SWT turunkan berkenaan dengan orang-orang Kafir, Yahudi, dan Kristen, mereka yang menyembah berhala, atau mensekutukan seseorang dengan Allah SWT. Ayat itu berkata, “Jangan sekutukan siapa pun.”
Menurut Zuhair ibn Jandab RA, ia mendatangi Sayyidina Muhammad SAW dan berkata, “Ya RasulAllah SAW, terkadang aku melakukan sesuatu untuk Allah SWT, aku melakukan amal yang kulakukan untuk menyenangkan Tuhanku, dan aku akan melakukannya untuk ridha Allah SWT dan untuk cinta-Nya bagiku, tapi saat orang-orang tahu akan amal itu, aku akan senang jika orang-orang tahu akan apa yang telah kuperbuat.”

Kemudian Nabi SAW bersabda, “Ya Zuhair RA, jangan sekutukan siapa pun dalam ibadahmu.” Ini berarti jangan senang bahwa orang-orang tahu tentang apa yang telah kau perbuat, karena ini adalah kesyirikanmu. Kedudukanmu di hadapan Allah SWT seakan-akan dirimu bangga atas apa yang telah kau perbuat. Itu berarti kau ingin agar orang-orang menghormatimu dan mencintaimu karena engkau telah melakukan amal ini. Amal itu tidaklah murni bagi Allah SWT. Kini, kita menyaksikan orang-orang senang—saat mereka melakukan sesuatu, mereka ingin setiap orang tahu. Saat mereka melakukan pengumpulan dana, mereka ingin setiap orang untuk tahu berapa banyak yang telah mereka sumbangkan untuk masjid, atau untuk hal-hal Islami lainnya.

Kenapa? Karena mereka akan menjadi terkenal dalam masyarakat dan orang-orang akan menyebut mereka, “Oh, mereka adalah orang-orang yang amat baik.” Itu adalah syirik-mu atas amalmu di hadapan Allah SWT bersama seseorang lainnya. Kalian tak perlu itu. Itu tidaklah haram, tetapi itu tidaklah sempurna.

Dan beberapa 'ulama berkata, ada dua macam amal. Ada `amal al-mubtadi`iin dan `amal al-kamiliin, amal para pemula, dan amal orang-orang yang sempurna. Ini berarti bahwa mereka yang dalam Islamnya, berusaha untuk maju, senang untuk menunjukkan bahwa mereka tengah melakukan sesuatu. Mereka yang telah mencapai maqam kesempurnaan, suatu maqam dari tazkiyyatun-nafs, pensucian diri tak akan peduli apakah orang lain tahu atau tidak atas apa yang telah mereka perbuat, karena mereka melakukannya untuk Allah SWT. Wahai Muslim, amal kita mestilah hanya untuk Allah SWT, dan amal kita mestilah tersembunyi. Tak seorang pun mesti tahu apa yang telah kita lakukan. Maka, saat itulah, kita tak akan mengizinkan ego kita untuk bermain dengan kita.

Hal yang paling berbahaya, sebagaimana disabdakan Nabi SAW, “Hal yang paling kutakutkan bagi ummatku adalah syirik tersembunyi, yaitu penyekutuan tersembunyi dalam amalan-amalan ummatku, bahwa mereka akan bangga di hadapan masyarakat, dan berkata, ‘Kami telah melakukan ini.’” Itu adalah di mana kalian menempatkan diri kalian di hadapan Allah SWT. Kalian mesti menyembunyikan diri kalian. Jika kalian memberikan sesuatu dengan tangan kanan kalian, tangan kiri kalian tak boleh tahu. Saat kalian menulis cek, tak seorang pun boleh tahu kecuali dirimu sendiri. Wahai Muslim, Allah SWT adalah Maha Penyayang terhadap diri kita, dan Dia mengirimkan bagi kita, dalam Islam, begitu banyak kebahagiaan, begitu banyak keagungan, dan begitu banyak cinta, hingga jika kita benar-benar mengikuti jalan dari Sayyidina Muhammad SAW, kita akan beroleh kebahagiaan dan kita akan melihat bahwa anak-anak kita pun tak akan hilang tersesat, karena Allah SWT tak suka menjadi seorang tiran bagi hamba-hamba-Nya. Allah SWT adalah Maha Pemurah terhadap hamba-hamba-Nya. Jika kita baik, kita pun akan melihat kebaikan. Jika kita melakukan suatu kesalahan, kita pun akan melihat sesuatu sepertinya. Wahai Muslim, sucikan hatimu, dan sucikan hatimu, dan bukalah dirimu sendiri pada cinta Allah SWT. Allah SWT berfirman, "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." Semoga Allah SWT menaruh kita dalam rahmat itu.

Wa min Allah at tawfiq

©As-Sunnah Foundation of America (http://www.sunnah.org)

21 November 2008

Kisah Nabi SAW bersama Seekor Kijang

Hajah Amina Adil al-Haqqani QS

Dipetik dari buku Muhammad: the Messenger of Islam 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Suatu saat Nabi SAW sedang berjalan di padang pasir, beliau mendengar sebuah suara tangisan yang memilukan, “Berhenti wahai Nabi Allah SAW!”  Beliau mengikuti arah suara itu dan melewati seorang Arab yang sedang tertidur dan seekor kijang betina telah tertangkap dan diikat di sampingnya.  Nabi SAW sadar bahwa suara hewan itulah yang memanggil-manggil tadi.  Beliau mendekat dan bertanya, “Ada apa denganmu, apa yang kau butuhkan?”

Kijang itu menjawab, “Wahai Nabi Allah SAW, aku meninggalkan kedua anakku di balik pegunungan nun jauh di sana, mereka terlalu muda untuk mengetahui rumput mana yang harus dimakan.  Mereka masih bergantung pada air susuku.  Izinkan aku pergi untuk menyusui mereka dan memberi tahu apa yang telah terjadi padaku.  Izinkan aku menggembalakan mereka dan menunjukkan rumput mana yang harus dimakan, supaya mereka tidak mati saat kutinggal.  Aku akan kembali setelah 5 jam.“

Nabi SAW menjawab, “Bisakah engkau dipercaya?  Bagaimana jika engkau tidak muncul lagi?”  Kijang itu menjawab, ”Maka biarkan hukuman bagi pengkhianat menimpaku.”  Beberapa saat kemudian, orang Badui yang sedang tertidur pun bangun.  Ternyata dia mendengar percakapan antara Nabi SAW dan kijang itu.  Katanya, “Pernahkah engkau mendengar seekor binatang liar kembali setelah sekali dia dilepas?“  Nabi SAW menjawab, ”Yang ini akan kembali, insya Allah.”  Orang Badui menjawab, “Jika dia tidak kembali, maka aku akan membunuhmu!”  Nabi SAW menjawab sambil tersenyum, “Dan jika dia kembali, maukah kamu menerima Islam?“  “Baiklah,” kata orang Badui itu.

Maka mereka pun melepaskan kijang itu.  Kijang pun berlari.  Namun empat jam kemudian, kijang itu kembali.  Nabi SAW berkata, “Engkau berjanji akan kembali setelah 5 jam, namun ini baru 4 jam.  Apa yang terjadi?”  “Wahai Nabi suci SAW,” kata induk kijang, “aku menemui anak-anakku dan aku ceritakan apa yang telah terjadi.  Mereka pun minum, namun kemudian melepaskan lagi supaya engkau tidak menunggu saat-saat yang mencemaskan.  Anak-anakku mengatakan, ‘Kembalilah pada mereka sejam lebih awal, agar orang Badui yang lalai itu tidak mengatakan hal-hal yang menyerang Nabi SAW.’

Mendengar hal ini, si Badui pun langsung memeluk Islam dan membebaskan kijang itu.

Wa min Allah at tawfiq

20 October 2008

Beratnya Perubahan pada Umat

Khotbah Jumat Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
2 Januari 2004
Masjid Al-Iman

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



[Mawlana menangis]

Wahai Muslim, Wahai orang-orang yang beriman!

Allah SWT jika Dia menunjukkan pada kita betapa Dia mencintai Rasul-Nya dan umat dari Rasul-Nya, segala sesuatu akan berubah dalam hidup kita. Segalanya akan berbeda. Bayangkan seseorang, ketika dia mempunyai kesempatan untuk dicintai. Betapa pentingnya kesempatan untuk dicintai itu dalam kehidupan kita. Bayangkan bila seseorang, baik pria maupun wanita memberikan apa yang Allah SWT inginkan dari mereka dan mereka menjaganya—mereka menjaga jalan Islam dan jalan cinta agar mereka hidup dengan damai—betapa berharganya hal itu bagi hati kita.  

Perubahan yang menimpa umat sekarang ini sungguh berada di luar jangkauan. Sulit sekali melukiskannya, dan mungkin untuk pertama kalinya saya berdiri (menyampaikan khotbah) dalam Salat Jumat dengan tangis yang keluar dari mata saya. Karena begitu banyak perubahan akan terjadi. Begitu banyak penderitaan akan terjadi dan kita harus mampu melindungi diri kita sendiri, melindungi negri dan melindungi orang-orang di mana Allah SWT telah melimpahkan rahmat kepada mereka selama hidup di dunia. Kita tidak tahu bagaimana dengan akhirat, apa yang akan Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya.

Betapa sayangnya bagi hati setiap orang, ketika orang-orang yang saling mencintai tetapi kemudian tiba-tiba sesuatu berubah. Jika itu yang menjadi kasus di dunia, orang-orang tadi yang mencintai orang tua mereka, mereka yang mencintai anak-anaknya, mereka yang mencintai istri-istrinya, tetapi kemudian tiba-tiba terjadi sesuatu dan salah seorang dari mereka pergi atau salah satu dari mereka menempuh jalan ini atau itu, berapa banyak perpisahan yang kita alami sekarang? Berapa banyak yang patah hati? Berapa banyak anak yang kehilangan? Berapa banyak orang tua yang kehilangan? Berapa banyak yang kehilangan orang-orang yang dicintainya dan ini semua untuk apa? Hanya untuk sebagian kecil dunia yang kita kejar.  

[Mawlana terisak]

Ketika Sayyidina Musa AS merasa bahwa dia mencintai umatnya dan dia dicintai oleh Tuhannya, dia bertanya kepada-Nya, “Ya Allah SWT! Seberapa berharganya Aku bagi-Mu?” Serupa dengan itu, kita sebagai manusia, kita mendatangi satu sama lain, mencintai satu sama lain, kemudian tiba-tiba, salah seorang atau yang lainnya mulai bertanya dan terjadilah perpisahan. Dan cinta itu pun menjadi retak. Seberapa sulitnya hal itu? Menurut kalian, berapa banyak ketika Allah SWT memberi jawaban kepada Sayyidina Musa AS, pada saat dia bertanya kepada-Nya, “Ya Rabbii?...” 

Dalam penjelasan Ibnu `Abbas RA dinyatakan bahwa, Ya Musa innii astafaytuka ala an-naasi bi-risaalaatii wa bi-kalaamii fa Khuzh maa ataytuka wa kun min asy-syaakiriin – “Allah SWT berfirman, ‘Ya Musa AS! Aku telah memilih (melebihkan) kamu dari manusia lain, untuk membawa Risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, oleh karena itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” [7:144] Wahai Musa AS, Aku telah memilihmu untuk membawa Risalah-Ku dan untuk membawanya ke manapun yang kamu sukai serta agar kamu bersyukur.  

Sekarang berapa banyak orang yang merasa bahwa mereka mempunyai pesan untuk disampaikan; menerima pesan dari Allah SWT dan menyampaikannya kepada orang-orang, pesan yang penuh dengan muatan cinta dan kedamaian, pesan yang ingin disampaikan oleh Sayyidina Muhammad SAW. Mereka merasa bahwa itu berada dalam hati mereka dan mereka merasa bahwa tugas merekalah untuk menyebarkannya. Dan Allah SWT berfirman, wa kun min asy-syaakiriin, bersamalah dengan orang-orang yang bersyukur; maknanya, “Itu bukan berasal dari apa yang kamu lakukan; itu bukan berasal dari jerih payahmu, melainkan Aku memilihmu.” 

Banyak orang yang tidak dipilih untuk melakukan hal itu. Mereka berpikir bahwa itu berasal dari diri mereka. Mereka mengkritik dan mengeluh. Mereka pergi ke masjid tetapi mereka tidak bersyukur. Tetapi orang-orang yang membawanya dan mengetahui bahwa hal itu datang kepada mereka karena berasal dari kecintaan mereka kepada Sayyidina Muhammad SAW dan cinta mereka kepada pemandu mereka (guru-guru mereka), serta cinta mereka kepada lingkungan mereka, mereka akan menyampaikannya dengan tulus dan tidak menyampaikannya dengan sembarang cara yang dapat membahayakan seseorang di lingkungannya.  

Namun sayangnya itu yang tidak kita lihat sekarang ini.

Dan Allah SWT ingin mengajarkan Sayyidina Musa AS suatu pelajaran dan melalui Sayyidina Musa AS pelajaran itu sampai kepada kita. Dan itu adalah, “Tanpa Aku, apa yang Aku lakukan adalah apa yang Aku lakukan. Kamu tidak dapat melakukannya. Jika Aku mencintai seseorang maka apa yang Aku letakkan pada orang itu, kamu tidak dapat mengubahnya. Wahai Musa AS, jangan berpikir bahwa ketika Aku memilihmu dan mengutusmu dengan Risalah-Ku serta memintamu untuk bersyukur kepada-Ku—adalah agar engkau bangga dengan hal itu. Tidak, itu adalah karunia-Ku kepadamu sebagai seorang Muslim. 

Wangi yang harum ini, bunga-bunga yang indah ini, aroma yang semerbak ini yang Aku hiaskan pada dirimu bukan berasal dari dirimu, semua itu berasal dari Diriku. Demikianlah firman Allah SWT kepada Sayyidina Musa AS.

Tetapi itu tidak cukup. Kamu memerlukan jalan yang panjang. Karena jika Aku tidak mendukungmu, kamu tidak akan berhasil. Meskipun Aku mendukungmu wahai Musa AS, janganlah kamu bangga hati dengan mengajukan pertanyaan itu pada-Ku.  

Apa yang Musa AS tanyakan, “Hal khalqta khalqan akram minnii? Apakah Engkau menciptakan makhluk yang lebih Engkau cintai daripada diriku?”  

Allah SWT rida dengan apa yang dilakukan Musa AS. Allah SWT memerintahkannya untuk membawa Risalah-Nya dan untuk menyebarkannya.

Sekarang dia mulai berpikir bagaimana aku bisa mendekati Allah SWT; dia berpikir bahwa dia telah melakukan sesuatu, pekerjaan yang benar? Jadi dia harus bertanya dan dia berkata, “Wahai Allah SWT apakah Engkau menciptakan seseorang yang labih baik daripada diriku. Engkau telah memilihku dan mengutusku ke Bukit Sinai untuk bangkit dan menghancurkan Fir`aun. 

Alam 'alimta anna muhammadan akram min jami` khalqii. Allah SWT berfirman, “Apakah kamu tidak melihat bahwa Sayyidina Muhammad SAW adalah lebih baik dari seluruh ciptaan-Ku? Apakah kamu menyadari hal itu. Jika kamu tidak mengetahuinya, maka ketahuilah sekarang. Aku telah melihat ke dalam hati hamba-hamba-Ku—dan Allah SWT tidak perlu melihatnya, Dia Maha Mengtahui hati semua hamba-Nya—Aku tidak melihat seseorang yang lebih rendah hati dibandingkan dengannya.” Maa ajidu qalban tawaada` min qalbih

Bagaimana menurut kalian, ketika kalian melihat suatu komunitas di mana ada seorang guru, pembimbing mereka, guru itu membimbing mereka, dan seberapa senangnya kalian ketika melihat murid-murid kalian melaksanakan apa yang kalian inginkan dari mereka? 

Seberapa senangnya Allah SWT terhadap Sayyidina Muhammad SAW dan Dia meridainya melebihi ridanya kepada `Isa AS, Musa AS dan Ibrahim AS. Jika kita tidak mengekspresikan kesenangan semacam itu, sebagaimana Allah SWT telah mengekspresikannya dengan berbicara [sebagaimana yang Dia katakan] kepada Sayyidina Musa AS, orang macam apa kita ini? Untuk menjadi bagian dari sistem, administrasi, untuk menjadi bagian dari politik, untuk menjadi bagian dari surat kabar. Allah SWT, Allah SWT, kalian akan mati dan meninggalkan segalanya.

Lebih baik arahkan muka kita ke arah qiblah dan katakan bahwa, itu adalah firman Allah SWT: Wahai Musa AS, Aku memilihmu dan Aku memintamu untuk membawa Risalah-Ku dan Aku telah meminta dan memilihmu untuk membawa Risalah-Ku untuk satu hal, mendeklarasikan Tauhid dan cinta kepada Muhammad SAW.

Jika kalian sebagai seorang guru, ayah atau ibu, ketika kalian memilih sesuatu untuk pasanganmu, kalian harus tahu bahwa kalian memilih yang terbaik baginya dan cinta itu yang kalian miliki dalam hatimu baginya. Allah SWT berfirman kepada Sayyidina Musa AS, Aku mengatakan pesan itu padamu untuk Sayyidina Muhammad SAW. Jangan merasa malu. Letakkanlah pesan itu di setiap panel di dunia ini, letakkanlah di media dan di televisi. Katakanlah untuk mencintai Sayyidina Muhammad SAW dan bahwa mereka yang mengikutinya akan dicintai, tanpa peperangan, damai.

Seperti inilah bagaimana Muslim yang tulus dan penuh kedamaian menyebarkan Islam melalui Afrika, Asia, Afrika Utara, Asia Tengah, India dan Amerika.  

Ketika seseorang kalian sukai dan kalian cintai, kalian memberinya kesempatan, meyakinkan bahwa mereka akan memanfaatkan kesempatan itu karena kalian mencintainya dan mereka mencintai kalian. Jika cinta itu tidak ada, tak ada yang akan berkembang di planet ini. Cinta adalah aspek kehidupan yang paling penting.  

[menangis...]

Dan itu adalah karakter dari Nabi Muhammad SAW.

Musa AS berkata, “Aku paham mengenai diriku, tetapi bagaimana dengan umatku? Apakah ada umat yang lebih baik dari umatku? Engkau telah mengirimkan kami bayangan dari matahari di gurun dan Engkau memberi kami manna dan salwah—buah-buahan dari Surga.

Fa qaala ta`ala: alam `alimta anna fadl ummata Muhammadin ala sa'ir al-umam kafadlii `ala jami'i al-khalq? Allah SWT berfirman, Apakah engkau tidak mengetahui bahwa kebesaran dari umat Muhammad SAW adalah seperti Kebesaran-Ku atas seluruh makhluk.” Sebagaimana Jumat adalah yang terbaik di antara hari-hari dalam seminggu, dan sebagaimana Hari Arafat adalah lebih baik daripada hari-hari lainnya dalam setahun dan sebagaimana hari lahirnya Sayyidina Muhammad SAW adalah lebih baik daripada seluruh hari, begitu pula umat dari Sayyidina Muhammad SAW dibandingkan dengan seluruh umat lainnya.  

Dan Sayyidina Musa AS berkata, afa araahum –Dapatkah aku melihat mereka? Allah SWT berfirman, “Tidak, tetapi Aku akan membiarkan kamu mendengar suara mereka.” Dan Allah SWT berfirman, “Wahai umat Muhammad SAW, jawablah Aku.” 

[Mawlana menangis]

Segera setelah mereka berkata bahwa mereka mendengar, bahwa mereka berbicara dalam satu suara, “Labayk Allaahumma labayka laa syariika laka labayk. Inna'l-hamda wa'n-ni'mata laka wa'l-mulk. labayk wa sa`daayk, wal-mulku bayna yadayk.” Mereka menjawab dalam satu suara sebagaimana yang mereka lakukan di `Arafat dalam kesatuan, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, w'atasimu bi-habl'illahi jami'yyan wa laa tafaraquu. “Berpegang teguh kepada tali Allah SWT dan tidak bercerai-berai.” 

Allah SWT tidak menyukai perceraian. Perceraian adalah sulit. Berapa banyak awliya menderita secara emosional ketika mereka tidak sanggup berada dalam kehadiran fisik bersama Rasulullah SAW. Dan berapa banyak awliya yang begitu terhormat dengan memiliki kehadiran fisik dari Rasulullah SAW dan kehadiran spiritual dari Rasulullah SAW? 

Wahai Muslim dan Wahai orang-orang yang beriman. Kita memasuki era yang baru. Dan era ini sangat berat bagi kita semua. Jagalah agar hatimu tetap terhubung dengan Allah SWT. Jagalah agar cintamu tetap terarah kepada Allah SWT, kepada Nabi-Nya, kepada Islam dan kepada mereka yang telah berusaha sebaik-baiknya untuk mengangkat nama Islam tinggi-tinggi dengan sebuah perkataan yang baik dan dengan nasihat yang baik. Semoga Allah SWT mengampuni kita dan semoga Allah SWT mendukung kita, semoga Allah SWT memberkati kita.


Wa min Allah SWT at tawfiq


13 October 2008

Hargailah Nabimu

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Khotbah Jumat, 30 Agustus 2002

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Wahai Muslim, wahai orang-orang yang beriman, hari-hari berlalu, minggu dan pekan pun berlalu, bulan-bulan berlalu, tahun-tahun pun berlalu, dan setiap orang suatu hari nanti akan meninggalkan segala sesuatunya di belakangnya dan pergi… Tak seorang pun yang akan tertinggal di belakang. Apa pun yang berusaha kita lakukan, kita akan pergi dan meninggalkannya. Allah SWT-lah yang memiliki diri kita. Kita tidak memiliki diri kita sendiri. Allah SWT telah menciptakan kita dan Allah SWT mencintai ciptaan-Nya.

Seseorang yang menulis suatu kaligrafi yang indah, tulisan atau seni yang indah, ia pun begitu bangga dengan apa yang telah ia hasilkan. Ia menginginkan orang untuk menyukainya pula, Ia ingin orang untuk menghargai dan mengapresiasinya pula, yaitu terhadap karya seninya. Dan kita sebagai Muslim, percaya bahwa Allah SWT telah menciptakan diri kita. Dan tentu saja, Allah SWT mencintai kita, dan tentu saja Allah SWT ingin kita untuk menghargai Diri-Nya yang telah menciptakan kita, dan Ia membawa kita ke kehidupan ini untuk mengenal-Nya, mengetahui Diri-Nya.

Allah SWT berfirman (dalam hadis Qudsi), “Kuntu kanzan makhfiyya, fa aradtu an u’raf fa khalaqtu al-khalq” “Aku adalah Harta yang tersembunyi, Aku ingin untuk diketahui maka Kuciptakan makhluk.” Allah SWT menciptakan kita untuk mengenal-Nya. Maka, penghargaan itu, bahwa Allah SWT telah menciptakan kita ditunjukkan dengan jalan ibadah. Bagaimanakah kita akan menghargai seseorang? Seorang anak menghargai perbuatan baik ayah atau ibunya padanya, dengan menunjukkan cintanya pada mereka. Sang anak menunjukkan rasa hormatnya dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya, khususnya bagi anak yang berbakti pada orang tuanya. Jadi, sebagai Muslim, kita pun berbakti kepada Allah SWT. Dan jalan terbaik untuk menunjukkan pada-Nya penghargaan kita tersebut, adalah dengan ibadah.

Dan Allah SWT berfirman, “Wa maa khalaqtu al-jinna wa l-insa illa liya’buduuni” “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” [51:56]. Dan ibadah bisa dalam berbagai bentuk, di samping lima bentuk kewajiban yang harus kalian lakukan (dalam rukun Islam). Ibadah bisa ditunjukkan dengan berbagai cara yang berbeda: dengan mengunjungi orang yang sakit, dengan menolong orang lain, dengan melakukan sesuatu buat orang lain, membantu mereka dalam hidup mereka, membantu tunawisma, memberikan zakat, dan lain-lain. Inilah jenis-jenis penghargaan kita terhadap apa yang Allah SWT telah berikan pada kita.

Dan yang paling penting, hari ini, Allah SWT ingin kita untuk memberikan penghargaan dan apresiasi kita pada apa yang telah Ia ciptakan bagi kita. Dan Ia telah memilihnya untuk menjadi Yang Terbaik, untuk menyampaikan pesan-pesan Islam. Saya akan menunjukkan penghargaan bagi Nabi SAW kita tercinta, Sayyidina Muhammad SAW ‘alayhi afdalus salaatu wassalaam. Allah SWT ingin kita menunjukkan penghargaan pada Nabi SAW, karena “Man athaa’ar Rasuul faqad athaa’Allah” “Barangsiapa taat pada Rasul sungguh dia telah taat pada Allah SWT” [1]. Allah SWT telah menjadikan Nabi-Nya sebagai pintu gerbang, sebagai jembatan atau sebagai jalan raya bebas hambatan untuk mencapai Hadirat Allah SWT. Jika kalian akan menyangkal jalan itu, yaitu “ittiba’ khuthar Rasuul” “mengikuti jejak langkah Nabi SAW, maka itu berarti kalian tidak menghargai apa yang telah diberikan Allah SWT pada kita.

Dengan alasan itulah, Allah SWT berfirman dalam Quran Suci, “InnAllaha wa malaa-ikatahu yushalluuna ‘alan Nabiy. Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu shallu ‘alaihi wasallimuu tasliiman.” “Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi SAW. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi SAW dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [33:56]. Dia berfirman “Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu” “Wahai Orang Beriman” Dia mengkhususkan pada orang beriman (mu’min). Tidak setiap muslim adalah mukmin, tapi setiap Mukmin adalah Muslim. Muslim bisa menjadi seorang Muslim, tapi mungkin ia tidak salat, ia mengatakan “Laa ilaaha illa-Allah Muhammadun Rasulullah SAW”. Dia seorang Muslim. Kalian tidak bisa mengatakan padanya, “Kau bukan seorang Muslim.” Ia mungkin berbuat dosa dan dosa, dia meninggalkan salat, dan meninggalkan salat, tetapi kalian tidak bisa mengatakan padanya, “Hei kamu bukan Muslim.” Tetapi seorang Mukmin sejati adalah seorang Muslim sejati. Karenanya, Allah SWT berfirman, “Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu” “Kalian, kalian yang Mukmin, kalian tahu, dan kalian dapat menghargai apa yang telah Ku-berikan padamu, kalian tidak lagi berada di Taman Kanak-Kanak.” Seperti kita, Muslim, kita masih berada di Taman Kanak-Kanak, kita masih berusaha untuk belajar. Tetapi, ketika kita telah mencapai tingkatan Iman, itu selesai. Kita tahu kini kewajiban kita, kita tahu tugas kita. “Maka, wahai Mukmin! Shalluu ‘alan Nabiy, Yaa Ayyuhal ladziina Aamanuu shalluu ‘alayhi” “Berselawatlah bagi Nabi SAW!” Ini suatu perintah! Karena dalam selawat atas Nabi SAW ada barakah bagi kita.

Lihatlah apa yang Nabi SAW katakan. “Fa ’anil Bara’ ibn ‘Azm, annan Nabiyya shall-Allahu ‘alayhi wasallam qaala, ‘Man shalla ‘alayya marratan’ “Barangsiapa yang mendoakan (berselawat) untukku satu kali” dan ini adalah untuk Mukmin. Bagi Mukmin ini adalah suatu tugas, suatu kewajiban. Untuk Muslim, kita masih berjuang sebagai Muslim, kita belum mencapai derajat Mukmin. Mukmin berarti ia yang telah mencapai derajat tertinggi dari Iman, kita tidak lagi berbohong, kita tak lagi menipu, tak lagi berkhianat. Muslim sedang berjuang untuk mencapai kesempurnaan dalam tingkatan Iman. Beliau bersabda, “Man shalla ‘alayya marratan” “Barangsiapa berselawat atasku satu kali” “katabAllahu ta’ala lahu ‘asyru hasanaat” “Allah SWT akan menuliskan baginya sepuluh kebaikan” “Wa mahha ‘anhu ‘asyru sayyiaat” ”Dan Allah SWT menghapuskan darinya sepuluh keburukan” “wa rafa’ahullah ‘asyru darajaat” “Dan Allah SWT meninggikannya” Ke mana Allah SWT meninggikannya? Beliau mengatakan “meninggikannya” Ke mana? Ini berarti ada derajat-derajat yang Allah SWT sediakan untuk meninggikan Mukmin, atau Muslim, saat mereka mengucapkan selawat atas Nabi SAW, saat mereka mendoakan Nabi SAW. Allah SWT meninggikannya “sepuluh derajat”. “wa kunna lahu adlu ‘asyru riqaab” “dan akan ada sepuluh derajat ini ketika ia melakukan selawat itu seakan-akan ia membebaskan sepuluh orang dari perbudakan.” Berapa banyak di zaman Nabi SAW terdapat perbudakan, saat mana Nabi SAW biasa membebaskan mereka dari perbudakan, dari siksaan tuan mereka? Berapa banyak orang menderita akibat perbudakan? “Seakan-akan ia telah membebaskan sepuluh budak.” Tidak hanya dari perbudakan, tapi juga dari api neraka. Itu hanya untuk satu kali selawat atas Nabi SAW.

An ‘Aa-isyata radhiyAllahu ‘anha” suatu hadis lain. Sayyidah ‘Aisyah RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Maa min ‘abdin salla ‘alayya shalaatan” “Tidaklah seorang hamba berselawat atasku satu kali” “illa kharaja bihaa malikun” ”melainkan seorang Malaikat akan keluar darinya” “yajii-u biha wajhur Rahman” “dan membawa selawat itu ke Hadirat Allah SWT” “fa yaquulu Rabbuna Tabaraka wa Ta’ala” “maka Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala akan berfirman pada malaikat yang membawa selawat atas Nabi SAW itu” “idzhabu bihaa ilaa qabri ‘abdii” “bawalah selawat itu dan pergilah ke kubur hamba-Ku itu di masa depan di saat dia akan masuk ke kubur itu” “tastaghfiru li shaahibihaa wa tukirru bihaa ‘aynuhu” Jika orang itu di dunia berselawat satu kali atas Nabi SAW sebagaimana dikatakan ‘Aisyah RA, maka malaikat yang membawa selawat itu pergi ke Hadirat Allah SWT, dan Allah SWT akan mengatakan pada malaikat itu, “Jika hamba-Ku mati, bawalah selawat itu dan pergi ke kuburnya. Selawat itu akan memintakan ampunan bagi hamba-Ku yang ada di kubur itu hingga ia akan berbahagia.” “Tukirru bihaa ‘aynuhu” berarti matanya akan amat berbahagia atas apa yang akan ia terima sebagai balasan atas selawat yang telah ia lakukan.

Wahai Muslim, inilah cara menunjukkan penghargaan pada Allah SWT, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Quran Suci kepada Nabi SAW, “qul la as-alukum ‘alayhi ajran illa l-mawaddata fi l-qurba” [42:23]. Allah SWT berfirman pada Nabi SAW untuk mengatakan pada kita, “Katakanlah: ’Wahai Muslim aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali agar kalian menjaga keluargaku, agar kalian menjaga sukuku, agar kalian menjagaku’". Dan bagaimanakah kita menunjukkan penghargaan kita dan menjaga Nabi SAW? Kita tidak bisa menjaga beliau, beliaulah yang harus menjaga kita, tapi kita menunjukkan cinta kita pada beliau dengan selawat. Dan karena itulah, selawat itu akan menjadi penyelamat diri kita di Hari Penghakiman. “Man shalla ‘alayya, wa jawad lahu syafaa’atii” “Barangsiapa berselawat atasku, Allah SWT akan memberiku kekuatan padaku untuk bersyafa’at baginya di Hari Pembalasan”.

Ibn Dawud RA meriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq RA berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW dalam Haji Wada’ bersabda, ’InnAllaha ‘azza wa Jalla qad wahaba lakum dzunuubakum ‘indal istighfar’” “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla, qad wahaba lakum dzunuubakum” bermakna “Ia memberikan dosamu kembali kepadamu, berkata, ‘wahai hamba-Ku dosa ini kini ada di tanganmu sekarang. Beristighfarlah pada-Ku, dan Ku-ampuni dirimu. Kuberikan semua dosa ini padamu seakan-akan dosa itu tak pernah terjadi. Kau bisa menghapusnya dengan tanganmu.” Dan itulah maknanya “qad wahaba lakum dzunuubakum ‘indal istighfar” Artinya secepat kalian beristighfar, Allah SWT akan menghapuskan seluruh dosa kalian. “fa man istaghfara bi niyyatin shaadiqaa” “Dan barangsiapa memohon ampun bertobat kepada Allah SWT dengan niyyat yang sungguh-sungguh” “ghufira lahu” “Allah SWT akan mengampuninya”. “Wa man qaala Laa ilaaha ill-Allahu” “Dan barangsiapa pernah mengucapkan dalam hidupnya Laa ilaaha illAllah” “razaha l-miizaan” “timbangan kebaikannya di Hari Kiamat akan menjadi berat”. Artinya jika dosa kalian berat, saat kalian mengucap Laa ilaaha illAllah di dunia, kebaikan kalian akan menjadi lebih berat. Selalu kebaikan kalian akan lebih berat dari dosa kalian. Lalu apakah cara yang mudah untuk mengucap Laa ilaha illAllah? Mengapa orang-orang merasa sulit untuk mengucapkan Laa ilaha ill-Allah saat mereka mengendarai mobil mereka, setiap hari, saat menuju tempat kerja mereka? Apa sulitnya mengucapkan Laa ilaha ill-Allah? Buatlah lidah kalian selalu bergerak dengan dzikrullah! Dan beliau bersabda di akhir hadis, “Wa man salla ‘alayya” “Dan barangsiapa berselawat atasku”, Sayyidina Muhammad SAW bersabda, “kuntu syafii’uhu yaumal Qiyamah” “aku akan menjadi perantaranya, aku akan minta pada Allah SWT untuk menyelamatkan orang itu di Hari Kiamat jika ia mendoakan dan memujiku”. “Wa man shalla ‘alayya kuntu syafii’uhu yaumal Qiyamah” ”Siapa yaang memujiku dan mendoakan diriku, Allah SWT akan memberiku kekuatan untuk memohon-Nya untuk menyelamatkan orang itu dan mengirimkannya ke surga.”

Wahai Muslim, penghargaan, apresiasi, adalah indah, sebagaimana telah kami katakan di awal Jum’ah. Penghargaan atas apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita adalah indah dan baik. Dan karena itu Ia berkata, “Untuk menghargai Diri-Ku yang telah menciptakanmu, hargailah utusan-Ku,” Sayyidina Muhammad SAW, “Melalui dia, dirimu dapat masuk surga. Tanpa dia, bagaimana dirimu dapat masuk ke dalam surga? Dia adalah Kekasih-Ku”. “Man athaa’ar Rasuul faqad athaa’Allah” “Barang siapa taat pada Rasul sungguh dia telah taat pada Allah SWT.”

Dan akan saya akhiri, diriwayatkan oleh Tirmidzi (dalam sahihnya), “An Anas RA annan Nabiyya SAW qaala, ‘aulan naasi wubiya yaumal qiyaamati aktsaruhum ‘alayya shalaatan.’” “Orang pertama yang akan mendapat syafa’at dariku adalah ia yang berselawat atasku paling banyak.” Beliau bersabda, “Aktsaruhum ‘alayya shalaatan” “siapa yang PALING BANYAK berselawat atasku selama hidup mereka”. Artinya siapa yang paling banyak melakukan selawat, akan menjadi yang pertama memperoleh syafa’at beliau. Yang paling banyak kedua melakukan selawat, akan menjadi yang kedua pula menerima syafa’at dari beliau. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa “berselawat atas Nabi SAW banyak-banyak” tidak pernah disebutkan, atau tidak diperbolehkan, tidak! Hal ini disebutkan dalam Sahih at-Tirmidzi. Beliau bersabda, “Mereka yang paling banyak berselawat atasku, berlebihan dalam berselawat atasku mereka akan menjadi yang pertama memperoleh syafa’atku”.

Wahai Muslim, itulah yang telah Allah SWT karuniakan pada kita dengan seorang Nabi SAW yang beliau senang dan merasa paling terhormat untuk mengatakan, “Innii ‘Abdullah” “Aku adalah hamba Allah SWT” ketika Allah SWT menceritakan tentang beliau, “Subhanalladzii asraa bi ‘abdihi” “Mahasuci Dia yang memperjalankan hamba-Nya” [17:1]. Tak pernah Nabi SAW melampaui batas kehambaan ini. Beliau tahu batasan beliau. Dan seluruh Muslim di seluruh dunia, tak pernah seorang Muslim pun, dengan selawatnya yang berlebihan dan banyak atas Nabi SAW, berpikir sekali pun, bahwa Nabi SAW lebih dari seorang hamba, seorang hamba yang sempurna bagi Tuhannya.

Wahai Muslim, berdoalah bagi Nabimu. “Shallu ‘alan Nabiy!”, berselawatlah atas Nabimu. Dengan selawat atasnya, adalah seperti semerbak parfum yang wangi yang dengannya Allah SWT akan memakaikan padamu, pakaian kesempurnaan, pakaian parfum yang wangi, yang akan melepaskan diri kalian dari segala macam kesulitan.

Dan Insya Allah, di waktu lain, kita akan melanjutkan untuk menjelaskan betapa pentingnya pujian dan selawat atas Nabi SAW, yang akan menyelamatkan diri kita dari segala kesulitan dan membuat Allah SWT mendukung diri kita, memberi kita berbagai macam rizki yang kita butuhkan dalam hidup kita.

Catatan kaki:
[1] Dalam Al Quran surat AN NISAA' [4:80]
Man yuti’i r-rasuula faqad ataa’a Allah
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT.”


Wa min Allah at tawfiq

29 July 2008

Pembukaan Besar kepada Umat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta, September 2004


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Rajab adalah bulannya Allah SWT, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku,” demikian dikatakan Nabi SAW. Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram, di mana Allah SWT melarang hamba-Nya berperang, berkelahi, atau membunuh apapun.

Rajab adalah bulan di mana Allah SWT memanggil Nabi SAW ke Hadirat-Nya. Oleh karena itu bulan Rajab sangat penting, di mana Allah SWT menurunkan Rahmat-Nya pada kita semua. Allah SWT adalah Al-Rahman, Allah Yang Maha Pengasih. Al-Rahman juga bermakna bahwa segala sesuatu di alam semesta tercipta dari Nama-Nya Al-Rahman. Ketahuilah, dari sifat al-Rahman tersebut, Allah SWT menciptakan semua makhluk, termasuk langit dan bumi dan semuanya adalah untuk manusia. “Kuciptakan semua ini untuk hamba-hamba-Ku,” dan seluruh ciptaan-Nya berada di bawah kendali manusia. Dari sifat ar Rahman, Allah SWT memanggil Nabi SAW ke Hadirat-Nya dan menghiasinya dengan nama-Nya yang Indah dan mengirimkan kembali ke dunia untuk membimbing umat. Inilah tanda bahwa Allah SWT mencintai kita semua.

Ketika Nabi SAW melaksanakan perjalanannya menuju Hadirat Allah SWT, Dia telah mendandani beliau dengan nama-Nya. Hanya Allah SWT yang mengetahui berapa lama Nabi SAW berada di Hadirat-Nya. Ketika Isra Mi’raj tersebut kita mengetahui bahwa Nabi SAW hanya berjarak dua lengan di hadapan Allah SWT, dan ketika Allah SWT mengirimkan kembali Nabi SAW ke dunia, Allah SWT menghiasinya dengan Nama al-Rauf, Yang Maha Pengasih. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Aku adalah Qasim dan aku adalah Mahi,” ini adalah atribut-atribut beliau sebagaimana Allah SWT memberikan atribut tersebut kepada kekasih-Nya. Oleh karena itu Nabi SAW memiliki sifat menyayangi dan memaafkan. Nama al-Qasim hanya untuk Nabi SAW, tak seorang pun boleh memakai nama tersebut.

Al-Qasim sebagaimana atribut Allah SWT yang diberikan kepada Nabi SAW, dan hanya Nabi SAW yang memiliki otoritas untuk memakai nama itu, di mana dengan nama itu Nabi SAW menjalankan otoritasnya untuk membagi rahmat-Nya kepada alam semesta. Seperti kita saat ini menjalankan aktifitas adalah semata-mata berasal dari rahmat Allah SWT yang dibagikan oleh Nabi SAW.

Al-Mahi, Yang Maha Menghapus, Allah SWT memberikan dari sifat tersebut kepada Rasulullah SAW untuk menghapuskan dosa-dosa kita melalui syafaat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi SAW. Beliau mengambil dosa kita, seperti Allah SWT juga juga merubah kita dari sakit menjadi sembuh. “Aku adalah Thaa Haa,” Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada-Ku.” “Tha Haa maa anzalnaa alaykal Qur’ana li tasiqaa”. Apa arti di balik nama Thaa dan Haa? Hanya Allah SWT dan Muhammad SAW yang mengetahuinya, dan kalau Nabi SAW tahu, maka para awliya juga diberikan pengetahuan tentangnya oleh Nabi SAW. Kami telah menurunkan Al-Qur’an bukan untuk menjadi beban atau memberikan kesulitan kepadamu tetapi untuk mengingat-Ku, untuk menjadi hamba-Ku, untuk berdoa kepada-Ku, untuk membersihkan hamba-Ku dan sebagai Cahaya dalam hati mereka.

kaligrafi Muhammad SAW, Tha Haa, Tha Siin
(atas budi baik Sana Naveed, Muhammadanart)

Allah SWT mengirimkan Qur’an untuk menyiapkan umat, mengapa Allah SWT memanggil Nabi SAW pada tanggal 27 Rajab untuk Isra Mi’raj? Dan Allah SWT menurunkan Laylat ul-Qadar pada 27 Ramadan? Ada rahasia di balik tanggal tersebut. Mengapa tidak diturunkan pada tgl 25 atau 23? Laylat ul-Qadr, 27 Ramadan, dan Isra Mi’raj, 27 Rajab adalah sesuatu yg tetap. Kita berpuasa pada tanggal 27 Rajab. Setiap kita melewati 27 Rajab atau 27 Ramadan hati kita senang tetapi kita tak pernah bertanya? Awliya bertanya, “Mengapa Ya Allah SWT, apa Rahasia di balik tanggal 27 tersebut?” Dan Allah SWT memberi jawaban kepada mereka melalui Nabi SAW. “Setelah 27 adalah 28, dan alfabet Islam seluruhnya berjumlah 28 huruf, di mana huruf ke-28 adalah Ya”. Artinya pada malam ke-27 Allah SWT membawa Nabi SAW untuk Isra Mi’raj dan untuk mempersiapkan beliau untuk malam ke-28. Huruf ke-28 adalah huruf terakhir, yaitu “Ya”, yang berasal dari nama Nabi SAW, “Yasin”, atribut beliau yang paling istimewa.

Alif adalah huruf pertama dalam abjad dan merupakan simbol awal. Nama Allah SWT diawali dengan alif. “Dari Alif hingga Ya, Aku siapkan engkau, wahai Nabi SAW, untuk ke-28 Samudra Ilmu Allah SWT.” Allah SWT menyandangkan pakaian Ilmu Allah SWT kepada Nabi SAW. Sesuatu yang berasal dari akhirat dimulai dengan Alif, Islam dimulai dari huruf alif, Ihsan diawali dengan alif, Iman diawali dengan alif. Sementara Muhammad SAW, diawali dengan huruf mim. Islam yang diawali alif, menjadi Muslim yang diawali mim, Iman yang diawali alif menjadi Mukmin yang diawali mim, oleh sebab itu, di antara alif dan mim adalah area transisi di mana Allah SWT mempersiapkan Nabi SAW.

Huruf terakhir Ya merupakan nama awal Nabi SAW, Yasin. Yasin adalah jantungnya Al-Qur’an, Intisari Al-Qur’an, ketika manusia mati mereka membacakan surah Yasin (akhir huruf dalam abjad Islam dan akhir kehidupan dibacakan Yasin). Allah SWT berikan rahasia setiap huruf dari surat Yasin tersebut, di dalam setiap huruf Al-Quran berarti lebih dari 500.000 makna. Setiap alif bisa berarti berbagai macam makna sesuai tempatnya. Setiap huruf di dalamnya mempunyai arti-arti sendiri, setiap huruf seperti cahaya ilmu pengetahuan.

Tak semua hamba-Nya mengetahui rahasia ilmu tersebut, seperti perumpamaan bahwa Ilmu Nabi SAW tak setetes pun dari Samudra Ilmu Pengetahuan Allah SWT, dan ilmu Sahabat dibanding Nabi SAW seperti setetes dari samudra ilmu Nabi SAW dan ilmu awliya dibanding sahabat seperti setetes dari ilmu sahabat, demikian pula ilmu ulama dibanding ilmu awliya seperti setetes dari samudra ilmu awliyaullah.

Kita mengetahui bahwa ilmu kita sangatlah sedikit, kita tidak mengetahui hal itu semua, tetapi tetap saja kita arogan bahwa kita orang yang berilmu, congkak. Kita merasa diri kita orang penting, kita ingin orang mengetahui kita orang yang berilmu. Lebih baik bagi kalian bila kalian duduk di pojok, menghinakan diri dan merasa tak mengetahui apapun. Jangan membanggakan diri kalian di hadapan orang lain, karena ketika kalian membanggakan diri, maka Iblis segera masuk ke dalam diri kalian. Nabi SAW adalah manusia yang sangat merendahkan dan menghinakan diri di hadapan Allah SWT, sehingga Allah SWT mengangkat derajat beliau.

Jika seseorang bersifat rendah hati maka Allah SWT akan mengirimkan orang tersebut hamba-hamba-Nya yang terbaik dari para waliullah untuk membimbingnya. Tetapi kepada hamba-Nya yang arogan—takabur, Allah SWT pun mengirimkan orang-orang-Nya juga, dari segi kuantitas—banyak, tetapi mereka bukanlah hamba-hamba-Nya yang terbaik, para awliya-Nya. Kita boleh berbangga karena kita mencintai Nabi SAW, kita boleh bangga karena kita memeluk Islam, tetapi kita tidak boleh berbangga karena amal kita. Amal yang kita banggakan akan kembali kepada kita bila kita menyombongkan amal di hadapan orang lain atau di hadapan-Nya.

Seperti juga kita tahu nama-nama hewan, seperti keledai atau singa. Maka seperti Singa, ia memiliki ribuan nama yang sama, di Inggris disebut Lion, di Perancis Leon, ada berapa banyak bahasa di dunia ini? Bila di Cina saja ada ribuan bahasa. Maka singa pun memiliki begitu banyak nama. Begitu pula siapa namamu??!! Ketika orang menanyakan nama kita kita membuka KTP, Kartu nama, Oo..Sunarto, Suharto, Bambang. Kita bahkan kadang tak tahu siapa yang memberikan nama kita, siapa yang memberikan nama kalian, kita tak tahu nama kita sesungguhnya, hanya Allah SWT yang tahu nama kita sebenarnya. Allah SWT memberikan nama hanya kepada Muhammad SAW dan nabi-nabi yang tercantum di dalam Al-Quran. Tetapi kita tak mempunyai nama dan identitas itu. Nama kita hanya berasal dari orang tua kita. Kita tidak memiliki kejelasan status kita di dunia ini, kita tak memiliki nama, kita adalah nothing, tetapi tetap saja sombong dan membanggakan diri di hadapan mahluk maupun di hadapan- Nya.

“Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya”, bahkan saat ini pun kita tidak tahu apa nama kita. Mereka pikir diri mereka ulama, syekh, politisi. Wahai manusia letakkan dirimu serendah mungkin, janganlah sombong di hadapan mahluk-Nya bahkan di hadapan Allah SWT. Bila kita meletakkan diri kita serendah mungkin, maka Allah SWT akan mengangkat derajat kita. Ketika Allah SWT membuka hati hamba tersebut, maka hamba itu menjadi awliya-Nya, maka pada saat itu Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada para awliya-Nya. Wali-wali Allah SWT tidak pernah bersedih hati.

Jika kita berniat mencari wali Allah, maka kita pasti akan menemukan mereka. Mereka bisa datang melalui mimpi, atau melalui berbagai cara lain, tetapi kita harus mulai dengan niat untuk menemui mereka, dan ketika awliya berada di hadapan kita, jangan lepaskan kesempatan itu. Saya hanya seperti kalian, saya bukan wali, saya pun mencari wali, saya tidak pernah mengatakan bahwa diri saya adalah seorang wali, hasha! Saya memang berada di pintu seorang wali, Mawlana Syekh Nazim QS. Saya bukan apa-apa, selama 55 tahun saya mengikuti seorang wali besar, Sulthanul awliya Syekh Nazim QS, beliaulah yang membawa kita semua ke hadirat Nabi SAW. Ilmu yang saya berikan kepada kalian, berasal dari beliau. Mata tak mungkin berada di atas alis, tak pernah!! Dialah Syekh Nazim QS, pembimbing kita semua, Syekh kita semua, Sultan untuk kita semua. Kita semua adalah murid beliau. Jika beliau ingin membuka hati kita untuk berbicara maka beliau akan memberikan otoritasnya kepada hati kita dan kita bisa berbicara. Setiap orang senang mendapat buah-buahan segar, mereka tak suka dengan buah yang sudah busuk, buah yang tidak segar. Awliyaullah selalu mendapatkan buah yang segar untuk kalian, karena hati mereka selalu tersambung kepada para sahabat, Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Ali bin Abi Thalib RA, KW dan mereka mendapatkannya dari hati Rasulullah SAW.

Dengan kerendahan hati para awliya, maka Allah SWT memberi mereka ilmu untuk membimbing dan memperbaiki umat. Mereka tak perlu mempersiapkan makalah untuk bicara di hadapan orang-orang. Makalah untuk orang biasa, sedangkan ilmu awliya berasal langsung dari Nabi SAW. Makalah ulama, profesor tidaklah seperti buah yang segar tidak baru, sedangkan yang disampaikan awliya adalah informasi yang masih segar yang berasal dari Syekhnya dan itu semua berasal dari hati Rasulullah SAW.

Dengan jalan itu mereka selalu menerima informasi yang segar yang disampaikan kepada kita, informasi yang berguna untuk memenuhi kebutuhan saat itu juga. Syekh kita mempunyai begitu banyak wakil yang mempunyai otoritas untuk menyampaikan hal tersebut. Allah SWT memiliki 124.000 wali, setiap wali memiliki level yang berbeda, dari yang terendah hingga tertinggi. Semua wali dari yang terendah hingga tertinggi mampu melihat cahaya Rasulullah SAW, cahaya itu bersinar begitu terangnya. Cahaya itu selalu kontinu mengalir ke hati para awliya seperti air terjun. Janganlah kalian bayangkan bahwa cahaya hanya mempunyai 20 warna saja, tetapi bisa berjuta-juta warna.

Setiap wali melihat cahaya warna yang berbeda sesuai dengan levelnya masing-masing. Kadang-kadang ada wali yang tingkatannya terendah hanya bisa menangkap dua warna: biru dan merah saja, sementara yang lain hanya kuning dan hijau saja. Tetapi sebenarnya di antara dua cahaya tersebut ada berjuta-juta warna lainnya. Awliya, ketika melihat hati Nabi SAW mereka melihat cahaya. Tetapi awliya yang levelnya paling tinggi, wali yang memiliki level tertinggi dapat melihat jutaan cahaya, tetapi ia pun sangat rendah hati. Karena kerendahan hatinya itu, ia tidak mengatakan jutaan warna, jutaan informasi yang ia dapatkan dari hati Rasulullah SAW. Ia dapat melihat dan menyampaikan, ia bisa mengambil ilmu yang tersembunyi dari hati Nabi SAW. Di setiap jutaan waktu akan terjadi jutaan cahaya yang berbeda, begitu pula jutaan informasi yang berbeda.

Setiap wali diberi anugerah yang berbeda-beda, meskipun levelnya berbeda mereka memiliki penampilan yang sama. Sehingga kadang mereka yang berada di level terendah menyangka dirinya sama. Wali di level tertinggi atau terendah bisa menyerap informasi dari hati Rasulullah SAW untuk disampaikan kepada kita semua. Dari wali tertinggi yang memiliki jutaan cahaya, maupun yang terendah, yang hanya mampu menangkap satu atau 2 warna, penampilan mereka adalah sama. Setiap wali bisa saja mempunyai 1000 wakil untuk menyampaikan informasi dari hati Nabi SAW. Meskipun demikian setiap wali memiliki cahaya yang berbeda-beda, bisa saja wali di area ini hanya melihat warna merah, sementara yang lain biru dan lain-lain. Tetapi mereka terlihat sama walaupun sebenanrnya berbeda. Wali di level yang lebih rendah mengira bahwa dirinya sama dengan wali yang lain, tetapi wali di level yang lebih tinggi, mereka dapat mengetahui di mana posisi mereka sebenarnya.

Setiap wali mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk bicara. Meskipun demikian di hadapan Syekh Nazim QS mereka tampak sama, tetapi Syekh mengetahui kemampuan mereka, jadi kita jangan mencampur-adukkan mereka seolah-olah sama padahal mereka memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain sesuai levelnya masing-masing. Kemampuan ilmu itu berasal dari hati Mawlana Syekh Nazim QS, Sultan kita.

Mawlana Syekh mengatakan bahwa pada tanggal 27 Rajab akan terjadi pembukaan yang besar kepada umat. Setiap tiran, penguasa yang zalim akan kalah. Bukan hanya tiran dari golongan non muslim tetapi juga dari seluruh makhluk-Nya. Tiran non muslim maupun tiran muslim akan kalah, musnah, dan orang yang memperoleh pengampunan akan menggantikan posisi mereka.

Pembukaan ini dimulai pada tanggal 27 Rajab, dan pada tanggal 15 Syakban seluruh umat akan mengetahui informasi ini. Siapa pun yang menggunakan Islam untuk keuntungan mereka, akan dibersihkan satu per satu untuk kemunculan Sayyidina Imam Mahdi AS, tidak akan ada penundaan lagi. Penderitaan umat telah sangat berat. Dari informasi melalui hati Syekh Nazim QS, bulan Rajab ini adalah waktu yang sangat penting, awliyaullah menerima informasi bahwa pada tanggal 27 Rajab akan dimulai penghancuran terhadap para tirani tersebut.

Bisa saja ada kejadian-kejadian yang luar biasa besar di hadapan kita, kejadian yang tak pernah diperkirakan kita semua. Dan pada tanggal 15 Syakban umat akan menerima informasi apa yang sedang terjadi. Zaman ini adalah zamannya Imam Mahdi AS, banyak ulama yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan politik. Mereka akan dihancurkan satu per satu, tahap demi tahap. Bulan Rajab adalah pembalasan kepada para tiran tersebut.

Berbahagialah khususnya mereka yang telah melaksanakan khalwat. Mereka seperti bintang yang bersinar, dan menjadi yang baik di antara kita, peganglah tangan mereka.

Wa min Allah at Tawfiq

27 July 2008

Makna Spiritual dari Mukjizat Isra-Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Bismillaah ir-Rahmaan ir-Rahiim

"Subhaana l-ladzii asraa bi 'abdihi laylan min al-masjid il-haraami ila l-masjid il-aqsha l-ladzii baaraknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, Innahuu Huwa s-samii'u l-bashiir"

"Maha Suci Allah SWT, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS 17:1]

Allah SWT telah mewahyukan hal ini sebagai ayat pertama dari Al-Qur’an surat Al-Isra’ (Perjalanan Malam), yang dikenal pula sebagai Surat Bani Israil (Keturunan Israil) atau Surat Pensucian (subhan). Di dalamnya Allah SWT menyebutkan perjalanan malam (al-isra') saat mana Dia memangil Nabi SAW ke Hadirat Ilahiah-Nya.

Sebagaimana Allah SWT memulai Quran Suci dalam Surat Pembuka al-Fatihah, dengan kata-kata "Al-Hamdu Lillah - Segala Puji hanya untuk Allah," dengan cara yang sama pula Dia membuka Surat al-Isra' [QS 17:1], surat tentang Perjalanan Malam (Isra'), dengan "Subhana - Maha Suci Allah." Allah SWT tengah mensucikan dan mengagungkan Diri-Nya sendiri dengan berfirman, "Subhana alladzii asra" yang berarti "Maha Suci Diri-Ku, Yang membawa Nabi SAW pada Perjalanan Malam, memanggilnya ke Hadirat Ilahiah-Ku."

Berada di luar jangkauan pemahaman akal pikiran manusia, Allah SWT di sini tidak hanya tengah mengingatkan kita akan peristiwa tersebut. Tapi, Dia juga mensucikan dan mengagungkan Diri-Nya Sendiri berkenaan dengan peristiwa itu, saat mana Dia memindahkan Nabi SAW hampir dalam sekejap waktu dari Mekah menuju Masjid Al-Aqsha, yang kemudian diikuti dengan Naiknya Nabi SAW (Mi'raj), berpindah tempat dalam waktu yang, secara ajaib, demikian singkat, melalui domain duniawi dari alam semesta ini hingga ke luar darinya, dan melampaui batasan-batasan hukum fisika.

Tak ada cara ilmiah, secara duniawi, yang dapat menjelaskan pada kita bagaimana Nabi SAW bergerak melintasi bumi seperti itu, dan kemudian dibawa menuju Hadirat Ilahiah Allah SWT: perjalanan semacam itu adalah di luar jangkauan imajinasi. Karena itulah, Allah SWT mensucikan Diri-Nya sendiri dengan berfirman, "Ya, itu terjadi! Maha Suci dan Agung Diri-Ku Yang bisa melakukan hal ini! Aku di luar jangkauan semua hukum-hukum dan sistem ini. Aku-lah Pencipta dari seluruh sistem."


Persiapan Malaikati untuk Perjalanan Menakjubkan Ini

Malik bin Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, "Aku tengah terbaring di Hijr (di Masjid Haram Mekah) ketika seseorang (Malaikat Jibril AS) datang kepadaku dan membedah dadaku dari tenggorokan hingga perut. Ia mengambil jantungku dan membersihkannya dengan air sumur Zamzam sebelum mengembalikannya ke tempatnya semula. Kemudian ia membawa kepadaku suatu makhluk putih yang disebut al-Buraq, yang dengannya aku diterbangkan." Riwayat lain menceritakan bahwa dua malaikat utama, Jibril AS dan Mika'il AS datang pada Nabi SAW ketika beliau tengah berbaring di al-Hijr (Masjidil Haram di Mekah) dan mereka membawa beliau ke sumur Zamzam. Mereka membaringkan beliau pada punggungnya, kemudian Jibril AS membuka dada beliau dari atas hingga bawah, dan sama sekali tidak ada pendarahan. Jibril AS berkata pada Mika'il AS, 'Berilah aku air dari Zamzam,' yang kemudian diambil oleh Mika'il AS. Jibril AS mengambil jantung Nabi SAW dan mencucinya tiga kali sebelum mengembalikannya ke tempatnya semula. Kemudian ia menutup dada beliau dan mereka membawanya dari pintu masjid itu ke tempat di nama Buraq telah menanti."

Ilustrasi yang menggambarkan Malaikat Jibril AS bersiap-siap untuk membelah jantung Nabi SAW.

Malaikat Jibril AS sebetulnya mampu untuk mengambil jantung Nabi SAW secara ajaib dengan bedahan yang kecil atau malah tanpa membuka dada beliau sama sekali. Namun, di sini kita melihat dalam Sunnah Nabi SAW suatu petunjuk bagaimana melakukan suatu operasi jantung yang terbuka. Teknik yang sama untuk membuka seluruh rongga dada ini kini digunakan oleh para ahli bedah jantung.


Kesempurnaan Penghambaan ('Ubudiyyah)

Bagaimanakah Allah SWT menggambarkan pribadi yang Dia bawa dalam Perjalanan Malam tersebut? Dia melukiskan pribadi itu sebagai "hamba-Nya" - 'abdi hi. Abu Qasim Sulayman al-Ansari RA berkata bahwa saat Nabi SAW mencapai level tertinggi dan maqam yang paling terhormat, Allah SWT mewahyukan pada beliau, "Dengan apakah Aku mesti memberimu kehormatan?" Nabi SAW menjawab, "Dengan menghubungkan diriku pada-Mu melalui penghambaan ('ubudiyyah)." Karena hal inilah, Allah SWT mewahyukan ayat Quran Suci ini, dengan memberikan penghormatan bagi Nabi SAW dengan gelar "hamba-Nya" saat melukiskan Perjalanan Malam (Isra'). Allah SWT tidak memberikan karunia seperti itu sebelumnya pada Musa AS. Dia hanya berfirman, "Dan tatkala Musa AS datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan..." [QS 7:143] mengacu Musa AS dengan menggunakan namanya. (Sedangkan pada kasus Nabi Muhammad SAW) Bukannya berfirman, "Maha Suci Dia Yang telah memperjalankan Muhammad SAW...", melainkan Allah SWT memberikan kehormatan pada Nabi SAW dengan mengacu Nabi SAW sebagai 'abdihi, "hamba-Nya." Kesimpulan halus lainnya dari penggunaan istilah "'abdihi", --hamba-Nya (suatu konstruksi dalam bentuk absentia atau orang ketiga) oleh Allah SWT ini, adalah adanya makna bahwa, 'Dia memanggil Nabi SAW ke suatu kekosongan di mana tak ada sesuatu apa pun melainkan Kehadiran Diri-Nya Sendiri.' Dan yang lebih ajaib daripada hal memanggil Nabi SAW ke Hadirat-Nya adalah bahwa Dia membawa badan dan roh Nabi SAW, yang wujud dalam ruang dan waktu, ke suatu 'tempat' di mana tidak ada ruang dan waktu, tidak ada 'di mana' dan tidak ada pula 'kapan!'. Allah SWT membawa hamba-Nya yang tulus ini, Penghulu kita Muhammad SAW, dari wujud fisik kehidupan duniawi ini menuju Hadirat Ilahiah yang sepenuhnya abstrak.


Maqam Kedekatan pada Ilahi

Ayat ini berlanjut dengan melukiskan perpindahan Nabi SAW melalui maqam-maqam yang jumlahnya tak terhitung. Setelah menyempurnakan akhlaknya melalui ibadah yang terus-menerus, 'ubudiyyah, Masjidil Haram, atau Masjid Suci, di sini merupakan suatu simbol atau indikasi bahwa Nabi SAW telah diangkat dari seluruh dosa. Penggambaran Allah SWT akan Nabi SAW sebagai "'abd"—hamba-- mendahului penyebutan-Nya akan dua masjid: Masjid Suci (Masjid al-Haram) dan Masjid Yang Berjarak Jauh (Masjid Al-Aqsha). Allah SWT tidak mengatakan hamba-Nya dibawa "dari Mekah," melainkan Dia berfirman, "dari Masjid yang Suci," Masjid al-Haram. "Suci" di sini bermakna yang tak dapat diganggu gugat, tak satu pun dosa diperbolehkan dalam wilayahnya, tidak pula ghibah, tidak pula menipu, atau berdusta. Di sana, seseorang mesti selalu waspada akan Kehadiran Allah SWT.

Masjid al-Haram di Mekah

Masjid al-Haram, mewakili di sini suatu maqam di mana dosa-dosa yang menandakan kehidupan hewani tak lagi pernah dilakukan. 'Aqsha' dalam bahasa Arab bermakna 'Yang Terjauh'. Dus, Masjid al-Aqsha di sini disebut sebagai masjid terjauh dibandingkan dari Masjid al-Haram dan menyimbolkan alam atau realitas spiritual. Makna literalnya adalah, 'Ia membawa hamba-Nya dari Masjid al-Haram menuju Masjid pada ujung terjauh.' Secara simbolis, Allah SWT membawa Nabi SAW menjauhi hal-hal yang terlarang dari kehidupan duniawi ini, yang haram, menuju tempat terjauh darinya—Al-Aqsha. Titik terjauh dari kehidupan hewani adalah dimensi spiritual.

Hajar al-Aswad

Kontras di antara kedua maqam ini, lebih jauh didemonstrasikan dengan adanya batu-batu yang terkenal yang ada di kedua tempat suci ini. Di Masjid al-Haram, kita mengenal adanya Hajar al-Aswad (Batu Hitam) yang dikendalikan oleh batasan-batasan fisik, ditaruh dalam suatu wadah, jatuh dari surga dan menjadi gelap oleh dosa-dosa kemanusiaan. Di Masjid al-Aqsha, terdapat batu suci yang menandai tempat di mana Nabi SAW naik ke langit, dan batu ini mengambang secara ajaib di udara, mengabaikan hukum gravitasi, ingin untuk meninggalkan tarikan gravitasi bumi, untuk meluncur menuju Hadirat Ilahi.

Batu suci di Masjid al-Aqsha menandakan tempat Nabi SAW naik ke langit. Batu itu tetap melayang di udara mengabaikan gravitasi bumi.

Makna halus yang dapat diturunkan dari urutan kata-kata di sini adalah bahwa hamba sejati Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, memulai dari maqam 'ubudiyyah, penghambaan, yang juga adalah tujuan dari penciptaannya. Hal ini mengizinkan dirinya untuk memulai dari kedudukan (maqam) akhlak yang sempurna dan tak bercacat ('ismat), meninggalkan semua yang terlarang, meninggalkan kecintaan atas kehidupan duniawi ini (al-haraam) dan bergerak dari situ menuju maqam terjauh, tingkatan tertinggi dari seluruh ciptaan, sebagaimana ditandai oleh maqam dari masjid terjauh, al-Aqsha.

Masjid al-Aqsha di Jerusalem


Tahapan-tahapan Tasawuf

Dalam Ilmu Pensucian Jiwa, Tasawuf, tahapan-tahapan tersebut dinamai dengan Syariah, Tariqat, dan Haqiqat. Tahapan pertama terkait dengan bidang disiplin fisik, dari mana seorang pencari kemudian bergerak dalam "Jalan", Tariqah, dengan kendaraan 'ubudiyyah, penghambaan dan ibadah, dan kemudian naik menuju maqam haqiqat, realitas, di mana seluruh kebatilan dan kepalsuan punah, lenyap, dan Ketuhanan Allah SWT ditampakkan secara nyata pada sang hamba.

Allah SWT membawa Nabi Muhammad SAW ke Masjid al-Aqsha di Palestina, di mana hampir seluruh nabi menyambut beliau. Di sana beliau menjumpai seluruh nabi berkumpul, dan mereka melakukan salat secara berjamaah di belakang beliau. Dari sana Allah SWT mengangkat beliau menuju langit, seakan-akan Dia berfirman, 'Wahai nabi-nabi-Ku! Aku tidak pernah mengangkat seorang pun dari Masjid al-Aqsha seperti aku menaikkan Muhammad SAW.' Ini adalah untuk menunjukkan pada mereka bahwa Mi'raj (naiknya) Nabi Muhammad SAW—tidak seperti siapa pun di antara mereka, beliau tidak dibatasi oleh hukum-hukum alam semesta ini.

ilustrasi mengenai peristiwa Isra' Mi'raj Nabi SAW


Dinaikkan di Malam Hari, Bercahaya Bagaikan Bulan Purnama

Allah SWT kemudian mengangkat beliau dari Masjid al-Aqsha dengan cara Mi'raj, menuju Hadirat Ilahiah-Nya. Mengapakah Allah SWT menggunakan kata-kata, 'laylan--pada suatu malam'? Mengapa Dia tidak berkata, 'naharan--pada suatu siang'? 'Laylan' di sini mengilustrasikan kegelapan dari dunia ini, ia menjadi bercahaya hanya oleh bulan yang berkilau dari Nabi SAW yang terbit untuk menerangi semua kegelapan.

"Subhan al-ladzii asraa bi 'abdihi laylan". "Maha Suci Ia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam..." Lihatlah pada setiap kata dari ayat suci ini. Pertama-tama Allah SWT memuji Diri-Nya sendiri dalam bentuk orang ketiga, in absentia. Allah SWT kemudian secara ajaib memindahkan Nabi SAW dari Mekah menuju Masjid al-Aqsha (asra'). Kemudian Dia mengacu Nabi SAW sebagai "'abd - hamba", memberi beliau kehormatan melalui gelar tertinggi itu sebagai seseorang yang terkait dengan kehidupan spiritual, bukan kehidupan hewani. Risalah Nabi Muhammad SAW melengkapi dan menyempurnakan baik disiplin fisik dan hukum (syari'ah) dari Musa AS maupun spiritualitas (rawhaniyya) dari 'Isa AS. Syari'ah dari Musa AS berkaitan dengan kehidupan duniawi ini, sedangkan spiritualitas 'Isa AS terkait dengan kehidupan surgawi. Dengan melalui dan melampaui kehidupan duniawi, yang diwakili oleh Isra' (Perjalanan Malam), menuju kehidupan surgawi, yang diwakili oleh Mi'raj, Nabi SAW dibawa di atas kedua sayap ini. Tak seorang pun nabi dibawa dalam kedua dimensi ini kecuali Junjungan kita, Sayyidina Muhammad SAW.


Kendaraan-kendaraan Nabi SAW

Salah seorang dari ulama-ulama besar bidang Tafsir Quran, al-'Ala'i RA berkata, "Pada Malam Mi'raj Nabi SAW menggunakan lima kendaraan yang berbeda-beda. Yang pertama adalah Buraq, suatu makhluk bersayap yang membawa beliau dari Mekah menuju Masjid al-Aqsha. Yang kedua adalah Kenaikan (Mi'raj) yang dengannya Nabi SAW mencapai langit dunia ini, as-sama' ad-dunya'. Ada dua penjelasan untuk Mi'raj: satu, bahwa Buraq membawa Nabi SAW ke atas, dan yang kedua, bahwa sebuah 'tangga' turun dan menaikkan Nabi SAW dengan amat cepat. Kendaraan ketiga adalah sayap-sayap para Malaikat yang membawa Nabi SAW hingga langit ketujuh. Kendaraan keempat adalah sayap-sayap Jibril AS yang membawa beliau dari langit ketujuh menuju Sidrat al-Muntaha, 'Pohon Lotus Terjauh'. Kendaraan kelima adalah suatu karpet (ar-raf raf) yang membawa beliau hingga maqam 'dua ujung busur panah--qaba qawsayn.' [QS 53:9]." "Serupa dengan itu, Nabi SAW berhenti pada sepuluh maqam yang berbeda: tujuh langit dan yang kedelapan di Sidrat al-Muntaha. Yang kesembilan adalah tempat di mana beliau mendengar suara dari pena-pena Malaikat yang tengah menulis amal perbuatan manusia, dan maqam kesepuluh adalah di 'Arsy (Singgasana). Wallahu A'lam, dan Allah SWT-lah yang lebih tahu."


Aspek Mukjizat dari Isra' dan Mi'raj

Seluruh kejadian-kejadian ajaib ini terjadi di malam Perjalanan Malam dan Kenaikan, Laylat al-Isra' wal-Mi'raj. Banyak hadis-hadis yang menjelaskan detail peristiwa-peristiwa di Perjalanan Malam ini yang telah disahihkan oleh berbagai huffaz (Ahli Hadis) seperti Ibn Shihab RA, Tsabit al-Banani RA, dan Qatada RA. Allah SWT mendukung nabi-nabi-Nya dengan keajaiban-kejaiban (mu'jizat) agar mampu melampaui hukum-hukum fisika dan batasan-batasan realitas kemanusiaan kita. Jika Allah SWT mengaruniakan suatu mukjizat, janganlah kita memandangnya sebagai sesuatu yang tak mungkin, jika kita seperti itu, maka kita hanya akan menjadi seperti ilmuwan yang tak mampu memahami apa pun di luar jangkauan persepsi mereka.

Para ulama berbeda pendapat pada malam apa perjalanan agung ini terjadi. Imam Nawawi RA berkata bahwa Perjalanan ini terjadi di bulan Rajab. Dalam kitab ar-Rawda karangan Nawawi RA, ia menyatakan bahwa peristiwa ini terjadi sepuluh tahun dan tiga bulan setelah awal Kenabian, sedangkan Fatawa menyatakan bahwa peristiwa Perjalanan Malam ini terjadi lima atau enam tahun setelah permulaan wahyu. Apa pun kasusnya, para ulama sepakat bahwa Laylat al-Isra' wal Mi'raj ini terjadi baik pada badan maupun roh (dari Nabi SAW).


Visi Ibrahim AS dan Dimensi Spiritual

Allah SWT berfirman dalam Qur'an Suci: "Wa kadzaalika nurii Ibraahiima malakuut as-samaawaati wa l-ardhi wa liyakuuna min al-muuqiniin" "Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim AS tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim AS itu termasuk orang-orang yang yakin." [QS 6:75]

Allah SWT menunjukkan kerajaan langit dan bumi pada Nabi Ibrahim AS, dengan membuka pandangan spiritual Ibrahim AS (basiirah) agar beliau melihat keindahan dan keajaiban alam semesta dari tempat beliau berpijak di bumi. Allah SWT menunjukkan pada beliau apa yang di luar hukum-hukum alam semesta fisik, melalui mata kalbunya. Sekalipun demikian, segera setelah ayat ini, Allah SWT telah menunjukkan pula pada Ibrahim AS keagungan-keagungan di balik alam semesta fisik, "Falammaa janna 'alaihi l-laylu ra-a kawkaban qaala haadza rabbiy..." "Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku'" [QS 6:76]. Dalam ayat-ayat berikutnya Ibrahim AS, secara serupa, "keliru" pula menganggap bulan dan matahari sebagai tuhannya: "Falammaa ra-a l-qamara baazighan qaala haadzaa rabbiy, falammaa afala qaala la in lam yahdii rabbiy la-akuunanna min al-qawm id-dhaalliin; falammaa ra-a s-syamsa baazighatan qaala haadzaa rabbiy.." "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: 'Inilah tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat; Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah tuhanku...'" [QS. 6:77-78]. Ayat-ayat ini yang berkaitan dengan bintang-bintang, bulan dan matahari adalah ditujukan pada orang-orang yang tidak beriman. Allah SWT menunjukkan pada Ibrahim AS Kebenaran dan ia telah meraih keyakinan dalam iman (sebagaimana ditunjukkan ayat 6:75, red.).

Sebagai seorang nabi, Ibrahim AS juga bebas dari dosa, dan dus, tak mungkin untuk menganggap selain Allah SWT sebagai Tuhannya. Tetapi, adalah tugas Ibrahim AS untuk menyampaikan suatu Risalah Samawi (Pesan Langit). Untuk berusaha membawa setiap orang berada dalam naungan Rahmah Allah SWT, Ibrahim AS mencoba untuk mengajar ummatnya dengan cara yang sedemikian rupa hingga tidak membuat mereka menolak pesan dakwahnya. Dengan secara bijaksana menggunakan suatu proses eliminasi, ia menunjukkan pada mereka bahwa suatu dimensi spiritual benar-benar wujud/ada. Ibrahim AS menghilangkan bintang (sesuatu yang kecil), kemudian bulan, kemudian matahari (benda langit yang nampak terbesar). Ibrahim AS menegaskan kembali keyakinan sejatinya pada Allah SWT dan pemalingan dirinya dari gangguan-gannguan duniawi dengan mengatakan, "Falamma afalat qaala yaa qawmi innii barii-un mimmaa tusyrikuun. Innii wajjahtu wajhiya li l-ladzii fathar as-samaawaati wa l-ardha haniifan, wa maa ana min al-musyrikiin." "maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan'." [QS 6:78-79] Makna dari penunjukan ini adalah: jangan mengejar hal-hal dari kehidupan duniawi ini, tapi carilah dimensi spiritual yang melampaui semua hukum-hukum alam semesta fisik.

Di zaman kita saat ini, ilmuwan-ilmuwan yang materialistik dan beberapa sekte Islam yang berpikiran sempit mencoba untuk menyangkal spiritualitas, dimensi keempat, yang telah Allah SWT tunjukkan pada Ibrahim AS. Mereka yang menolak dan menyangkal adanya dimensi spiritual dari Islam, maka mereka tengah terjatuh dalam perangkap yang sama seperti yang dialami oleh kaum Ibrahim AS. Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Yang paling kutakutkan bagi umatku adalah syirk tersembunyi (membuat partner bagi Allah SWT).' Syirik tersembunyi adalah bagi seseorang untuk merasa bangga akan dirinya sendiri, yang paling mudah termanifestasikan dalam bentuk penolakan atas kata-kata orang lain.


Perbedaan atau Kehormatan dari Kenaikan (Mi'raj) Nabi Muhammad SAW

Nabi Ibrahim AS telah ditunjukkan padanya kerajaan malakut, dari langit dan bumi. Nabi Musa AS tidak melihat kerajaan ini. Tetapi, Musa AS mampu untuk mendengar Allah SWT dan berbicara langsung pada Allah SWT dari Gunung Sinai, sehingga beliau dikenal sebagai Kalimullah (ia yang berbicara dengan Allah SWT secara langsung). Sekalipun Ibrahim AS dikaruniai kemampuan untuk melihat dalam dimensi-dimensi spiritual, dan Musa AS dikaruniai kemampuan untuk mendengar Allah SWT secara langsung, tubuh dan badan dari kedua nabi besar ini tetap tinggal di bumi, dan dikenai hukum-hukum fisika-nya. Pandangan (visi) Nabi Ibrahim AS dan pendengaran Nabi Musa AS melampaui batasan fisik melalui kekuatan roh mereka, tetapi tubuh mereka tidaklah bergerak melampau dunia fisik ini.

Tetapi, Allah SWT telah membuat Nabi Muhammad SAW bergerak dalam dimensi-dimensi spiritual dengan tubuh fisik beliau dalam kebebasan paripurna dari hukum-hukum fisika. Allah SWT menyebut Nabi SAW "linuriyahu min aayaatinaa..." "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dati tanda-tanda (kebesaran) Kami..." [QS 17:1]. Allah SWT menunjukkan pada Ibrahim AS kerajaan alam semesta ini, tapi Ia menggerakkan Nabi SAW dalam tubuh dan ruh beliau di luar hukum-hukum fisika alam semesta ini, untuk menunjukkan pada beliau 'tanda-tanda Kami', aayaatina. Bentuk kepemilikan (possesive) yang terkait dengan Tanda-tanda (Aayaat) sebagai milik dari Allah SWT secara langsung, menunjukkan kehormatan yang lebih agung dan pengetahuan yang dianugerahkan pada Nabi SAW. Kerajaan langit dan bumi yang ditunjukkan! pada Nabi Ibrahim AS adalah karya dalam lingkup alam semesta fisik ini, dan tidak menjangkau Surga, sedangkan ayat-ayat Allah SWT yang ditampakkan pada Nabi Muhammad SAW langsung terkait dengan Allah SWT dan tidak terhubung dengan dunia ini.


Visi (Penglihatan) Nabi SAW akan Tuhannya dan Kesempurnaan Tawhiid

"Lalu Allah SWT mewahyukan pada hamba-Nya apa yang ia wahyukan. Hati Nabi SAW tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad SAW telah melihat-Nya lagi pada waktu yang lain, di Sidratil Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal. Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya Yang paling besar." [QS 53:10-18].

Imam Nawawi RA dan almarhum Imam Mutawalli Sya'rawi RA sepakat dengan mayoritas ulama dalam menafsirkan ayat-ayat ini, bahwa maknanya adalah Nabi SAW melihat Tuhannya di waktu lain, bukannya bahwa ia melihat Jibril AS di waktu lain, sebagaimana beberapa menyatakan. Imam Nawawi RA meriwayatkan dalam komentar (syarah) Sahih Muslim-nya, "Sebagian besar ulama berkata bahwa Nabi SAW melihat Tuhannya dengan kedua mata kepalanya-- ra'a rabbahu bi'aynay ra'sihi. Nabi SAW datang melalui suatu perjalanan panjang menuju Singgasana Ilahiah (arsy), mencapai qaaba qawsayni (jarak dua ujung busur panah), dan mencapai Surga Jannat al-Ma'wa di dekat Sidrat ul-Muntaha.

Setelah semua ini, Imam Sya'rawi RA bertanya, "Apakah yang membuat penglihatan Nabi SAW tidak berpaling? Beberapa mengatakan bahwa itu adalah Jibril AS, tapi Nabi SAW telah melihat Jibril AS dalam banyak kesempatan dan Jibril AS menyertai dan bersama beliau selama masa Perjalanan Malam dan Kenaikan (Isra' Mi'raj) itu. Adalah irrelevan untuk mengatakan bahwa pada hal inilah pandangan Nabi SAW tidak berpaling atau tidak lepas, karena jika ini mengacu pada Jibril AS, maka Nabi SAW telah memiliki berbagai kesempatan untuk telah melihatnya. Allah SWT tidaklah mengatakan sesuatu yang irrelevan, dan karena inilah saya berpihak pada mayoritas ulama (termasuk Imam Nawawi RA) dengan mengatakan bahwa dengan mata fisiknyalah Nabi SAW melihat Allah SWT."

"Laqad ra'a min aayaati rabbi hi l-kubraa" "Sungguh dia telah melihat sebagian ayat-ayat Tuhannya yang paling agung." [QS 53:18]. Apakah kemudian yang bisa menjadi Ayat Terbesar bagi Nabi SAW selain dari penglihatan akan Tuhannya? Karena Nabi SAW telah melihat semua tujuh tingkatan dari Surga, kemudian naik ke tingkatan yang lebih jauh dari ciptaan apa pun sebelum maupun sesudahnya, menuju "jarak dua ujung busur panah". Dinyatakan dalam hadits bahwa karunia terbesar bagi orang-orang beriman di kehidupan Akhirat bukanlah kenikmatan-kenikmatan Surga, melainkan melihat Tuhan mereka setiap hari Jumat. Jika orang-orang beriman, baik yang awam maupun yang khawas, akan melihat Tuhan mereka di akhirat nanti, jelas tentu saja, "Ayat Terbesar" bagi Kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW tak mungkin kurang dari itu.

"Wa maa ja'alna r-ru'ya l-latii arainaa-ka illaa fitnatan li n-naasi" "Dan tidaklah Kami karuniakan visi yang Kami perlihatkan padamu (Ya Muhammad SAW) melainkan sebagai ujian bagi manusia."[QS. 17:60]. Berkenaan dengan ayat ini, Ibn 'Abbas RA berkata, "Rasul Allah SAW benar-benar melihat dengan matanya sendiri visi (dari semua yang ditunjukkan pada beliau) pada malam Isra' ke Jerusalem (dan kemudian ke langit)..." Inilah keagungan Nabi Muhammad SAW. Tak seorang pun pernah melihat Tuhannya selain dari Muhammad SAW, yang menjadikannya sebagai satu-satunya monoteis (muwahhid) sejati. Tak seorang pun kecuali Muhammad SAW mencapai suatu pemahaman sempurna akan Keesaan Ilahiah—Tawhid--pemahaman siapa pun selain beliau akan tawhid hanyalah peniruan (taqliid).

Nabi Ibrahim AS adalah Bapak para nabi dan beliau dikaruniai visi spiritual untuk melihat karya-karya dalam alam semesta ini dan Nabi Musa AS dikaruniai kemampuan berbicara langsung dengan Tuhannya. Tetapi, Allah SWT memindahkan Nabi Muhammad SAW dengan tubuh fisiknya, bertentangan dengan hukum-hukum fisika alam semesta, menuju ke Keghaiban, suatu tempat di mana tak ada apa pun dan tak ada kemungkinan akan apa pun--"la khala wa la mala". Allah SWT membawa Muhammad SAW ke sana dan membukakan bagi beliau Diri-Nya Sendiri, dengan cara yang Dia kehendaki. Bagaimana ini terjadi, kita tak mengetahuinya. Ini tak terlihat dan tak diketahui (ghayb). Dus, sebagaimana Ibn 'Abbas RA berkata, ini adalah suatu perkara untuk diimani dengan penerimaan penuh, dan bukan suatu perkara untuk dipertanyakan.


Penjelasan tentang Ayat-Ayat tentang Berhala

"Maa zaagha l-basaru wa maa taghaa, laqad ra-a min aayaati rabbihi l-kubraa, afara-aitum ul-laata wa l-'uzza wa manaata ts-tsaalitsat al-ukhraa" "Penglihatannya tidak berpaling dan tidak lepas. Sungguh ia telah melihat Tanda-Tanda Terbesar Tuhannya. Maka apakah kalian melihat Lat dan 'Uzza dan yang ketiga Manat?" [QS 53:17-20]

Mengapakah Allah SWT menyebut ketiga tuhan-tuhan palsu ini; Lat, 'Uzza dan Manat, yang disembah oleh para musyrikin Mekah, segera setelah Dia menyebut "Ayat-ayat Terbesar Tuhannya" dalam ayat 53:18? Para ulama berkata bahwa ayat 53:18 menunjukkan bahwa Muhammad SAW telah mencapai pemahaman sempurna akan Keesaan (Tawhid) Allah SWT, sementara ayat 53:19-20 sebagai kontrasnya, menunjukkan bahwa berhala-berhala ini tak lebih dari buatan para pemahatnya. Jika "Ayat-ayat terbesar" [QS 53:18] mengacu pada Jibril AS, tentu kemudian tidak akan diikuti dengan (ayat) yang menyebut berhala-berhala palsu sesudah ayat itu.

Nabi Ibrahim AS menyebut sebuah bintang, bulan, dan matahari - tiga entitas dari kehidupan duniawi ini--sebagai objek-objek yang secara keliru telah dianggap tuhan selain Allah SWT. Dan dalam surat Bintang (an-Najm), Allah SWT menyebutkan al-Lat, al-'Uzza, dan Manat, sekali lagi tiga tuhan-tuhan palsu, segera setelah mendeskripsikan bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Tuhannya, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian besar ulama. Kedua wahyu [dalam surat yang berbeda tentang Ibrahim AS dan Muhammad SAW] ini menolak konsep batil dari penyembahan berhala, dan secara halus pula menekankan ide palsu akan suatu trinitas, yang mencakup sebagian besar dari bentuk-bentuk kemusyrikan. Keesaan adalah bagi Allah SWT Yang Maha Tinggi dan Maha Suci, Yang Satu--al-Wahid, Yang Unik--al-Fard, Yang Abadi--as-Shamad.

Wa min Allah at tawfiq

© Islamic Supreme Council of America,
http://www.islamicsupremecouncil.org