Showing posts with label Khotbah Jumat. Show all posts
Showing posts with label Khotbah Jumat. Show all posts

27 December 2012

Kekuatan Tasbih dan Aayaat asy-Syifaa`



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
7 Desember 2012   Burton, Michigan
Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq


Wahai Muslim dan Mukmin!  Allah (swt) menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan mereka untuk bertasbih, artinya mengucapkan, “SubhaanAllah wa ‘l-hamdulillah wa laa ilaaha illa-Llah Allahu Akbar,” atau pujian apapun kepada Allah (swt) melalui Asmaul Husna wal Sifat-Nya.

Allah (swt) berfirman,
أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي
Anaa jaliisu man dzakaranii.
Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku. (Ahmad, Bayhaqi)

Jadi, mengingat Allah (swt) secara terus-menerus merupakan suatu keharusan setiap saat dalam kehidupan kita!  Allah (swt) membuat segala sesuatu bertasbih dan keberadaan setiap elemen atau unsur adalah melalui tasbihnya, dan tidak ada yang mengetahui (tasbihnya) kecuali unsur itu sendiri.  Demikian pula, Allah (swt) menciptakan kita dari berbagai unsur di dalam tubuh kita, masing-masing melakukan tasbihnya sendiri dan melakukan fungsinya di dalam tubuh melalui tasbih itu.  Tetapi kita berjuang melawan kejahatan, berjuang untuk melalukan yang baik dan menghindari yang buruk, dan karena kita berada di tempat transisi itu, kita tidak dapat mendengar tasbih dari tubuh kita (yang secara konstan mengingat Allah).  Ketika salah satu bagian tubuh sedang sakit, itu disebabkan adanya perubahan di dalam tasbihnya yang membuatnya sakit, dan untuk menyembuhkannya, kalian harus mengubah tasbihnya, untuk menghilangkan penyakit itu dari tubuh.  Nabi (s) menyebutkan tentang ruqya, tawiiz, hijab, atau apapun kalian ingin menyebutkannya, yaitu untuk dibaca dan Aayaat asy-Syifaa’, enam ayat di dalam kitab suci al-Qur’an untuk menyembuhkan penyakit.[1]

Nabi (s) bersabda bahwa Surat al-Fatihah limaa quriyat lah, “Surat al-Fatihah dibaca untuk apa saja, ia akan menyembuhkan yang sakit,” dan membuat panjang umur melalui tasbih itu, yang kita lakukan (tanpa sengaja) dan kita tidak merasakannya. Kita katakan bahwa tubuh kita bertasbih karena segala sesuatu di alam semesta ini bertasbih dan kita adalah bagian dari alam semesta ini, sebagaimana firman Allah (swt) di dalam kitab suci al-Qur’an:

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ
Wa in min syay'in illa yusabihu bihamdih.
Dan tidak ada apapun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya! (Surat al-'Israa, 17:44)

Segala sesuatu bertasbih, tetapi kita tidak bisa memahami atau mendengarnya karena nafsu fisik kita, nafs/ego menguasai kita di dunia dan kekuasaannya mengalahkan sisi baik kita.  Allah (swt) ingin agar kita keluar dari kekuasaan ego yang buruk dan mengubahnya menjadi penguasaan oleh sisi baik kita.

Bukti bagi hal ini ada di dalam hadits dari Abu Dzarr al-Ghifar (r):

في حديث أبي ذر قال تناول رسول الله صلى الله عليه وسلم سبع حصيات فسبحن في يده حتى سمعت لهن حنينا ثم وضعهن في يد أبي بكر فسبحن ثم وضعهن في يد عمر فسبحن ثم وضعهن في يد عثمان فسبحن أخرجه البزار والطبراني في الأوسط وفي رواية الطبراني فسمع تسبيحهن من في الحلقة وفيه ثم دفعهن إلينا فلم يسبحن مع أحد منا

Tanawala an-Nabi (s) saba` hashaayaat, fa sabahna fi yaddih, hatta sami`ta lahu haniinan, tsumma wadha`hunna fii yad Abi Bakrin fasabihna tsumma wadh`ahunna fii yad `Umar fasabahna tsumma wadha`ahunna fii yadi `Utsmaan fa sabahna fasama`a tasbiihihinna man fi’l-halaqata wa fiihi tsumma dafa`hunna ilaynaa falam yusabihna ma` ahadun minnaa.

Nabi (s) mengambil tujuh butir batu, hasaayaat dengan tangan sucinya, dan mereka (batu-batu itu) bertasbih, mengagungkan Allah (swt) di tangannya, dan kami dapat mendengar tasbih mereka. Aku mendengar suaranya yang merdu dengan kerinduan (dengan kecintaan pada Nabi [s] dan kerinduan dengan kecintaan pada Allah [swt]).

Kalian lihat bagaimana mereka dulu hidup?  Tidak seperti sekarang, kita duduk dan salat di atas karpet lalu kalian melangkah keluar dan melihat rumput yang dipangkas rapi dan jalan yang bagus aspalnya.  Dulu hanya ada jalan kecil dan gang di antara rumah-rumah, dan semuanya dipenuhi kerikil kecil.  Nabi (s) duduk bersama para Sahabat dan beliau (s) mengambil tujuh butir batu dari lantai, yang artinya beliau (s) sedang duduk di suatu tempat, mungkin di sebuah rumah, dan tidak ada apa-apa (di bawah mereka) kecuali kerikil.  Apakah kalian duduk di atas kerikil sekarang?  Kaki kalian akan terasa nyeri, tetapi mereka duduk di atas kerikil!

Dan Allah (swt) berfirman bahwa segala sesuatu bertasbih, tetapi kalian tidak dapat mendengarnya, tetapi ketika batu-batu itu berada di dalam tangan yang suci (dari Nabi (s)), para Sahabat (r) dapat mendengarnya!

Batu-batu itu bukan hanya memuji Allah (swt) dan bertasbih, tetapi mereka juga merindukan Nabi (s), untuk berada di tangannya, bukan di lantai.  Dan setiap sel dari tubuh kita juga bertasbih, tetapi kita terhalang untuk mendengar tasbih mereka dan oleh sebab itu kita perlu bekerja untuk membersihkan diri kita dari segala gangguan yang membuat kita tidak bisa mendengar tasbih batu-batuan atau tubuh kita.

Dan hadits itu berlanjut:
Kemudian beliau (s) meletakkan ketujuh batu itu ke tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) dan mereka memuji Allah (swt) di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r).

Ia mengetahui karena ia mendengar tasbih di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), tetapi ia tidak mengatakan bahwa mereka ‘rindu’.  Kerinduan itu adalah adab, artinya batu-batu itu juga mempunyai adab!  Kita harus belajar tentang adab, artinya ketika Nabi (s) hadir, pandangan kalian hanya tertuju pada Nabi (s), bukan yang lain di dalam masjid atau majelis itu.  Jadi adab di dalam sebuah masjid adalah ketika guru telah hadir, kalian tidak berhak untuk memandang orang lain, kalau tidak kalian akan mengganggu pelajaran bila kalian melihat seseorang yang datang ke pintu.  Oleh sebab itu, ketika guru kalian sedang memberi pelajaran, kalian tidak boleh memandang yang lain, bahkan ke arah pintu.  Batu-batu tadi memperlihatkan kerinduannya ketika mereka berada di tangan Nabi (s), tetapi ketika berada di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) mereka bertasbih, tetapi tidak mempunyai kerinduan.

Kemudian beliau (s) meletakkannya ke tangan Sayyidina `Umar (r), dan serupa halnya, mereka juga bertasbih dan beliau (s) meletakkannya ke tangan `Utsmaan (r), dan serupa juga mereka bertasbih memuji Allah (swt).”  (Bazzaar dan at-Tabarani).

Ia tidak mengatakan jenis tasbihnya, barangkali ‘subhaanAllah’ atau ‘alhamdulillah’ atau ‘laa ilaaha illa-Llah’ atau ‘Allahu Akbar.’

Dan dalam riwayat yang lain, hadits itu berlanjut:

Pada saat itu semua orang yang berada di sekeliling itu dapat mendengar tasbih (batu-batu itu).  Lalu Nabi (s) mengambilnya dari tangan Sayyidina `Utsmaan dan memberikannya ke tangan seorang Sahaabah, tetapi tidak ada yang dapat mendengar tasbih mereka saat itu dan mereka tidak bertasbih dengan suara keras ketika diletakkan di tangan Sahabat yang lain.

Jadi batu-batu kerikil itu melakukan tasbih dengan suara keras ketika berada di tangan Nabi (s), Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), Sayyidina `Umar (r) dan Sayyidina `Utsmaan (r), kemudian ketika Nabi (s) meletakannya ke tangan Sahabat yang lain, mereka tidak bersuara.  Sayyidina `Ali (r) tidak hadir pada saat itu.  Karena kita bukan Sahabat dan mereka pun tidak bisa mendengar lagi suara tasbihnya, bagaimana kita bisa mendengar tasbih dari tubuh kita?  Ada masalah di sini: kita tidak bisa mendengar.  Jadi untuk mengatasi masalah itu, kita harus melakukan tasbih dalam hati (diam) dan dengan lidah (suara keras) karena dengan demikian Allah akan mengaruniai tubuh kalian untuk lebih banyak bertasbih dan secara perlahan Allah akan membukakan bagi kita untuk dapat mendengarnya!  Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman,
من عادا لي وليا فقد آذنته بالحرب
Man `adaa lii waliyyan faqad aadzantahu bi ’l-harb.
Barang siapa yang menentang wali-Ku, Aku nyatakan perang terhadapnya. (Hadits Qudsi; Bukhari dari Abu Hurayrah)

Dan Allah (swt) berfirman:

عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏قال ‏‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إن الله قال ‏ ‏من عادى لي وليا فقد ‏ ‏آذنته ‏ ‏بالحرب وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه وما ترددت عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت وأنا أكره مساءته ‏
ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره
الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها،

Man `adaa lii waliyan faqad aadzantahu bi ’l-harb wa maa taqarraba ilayya `abdii bi-syayy’in ahabba ilayya mimmaa ’ftaradhtu `alayhi wa maa yazaalu `abdii yataqarabu ilayya bi’ n-nawaafil hatta uhibbah. Fa idzaa ahbaabtahu kuntu sama`uhulladzii yasma`u bihi wa basharahulladzii yubshiru bihi, wa yadahulladzii yabthisyu bihaa wa rijlahullatii yamsyii bihaa.

Barang siapa menentang seorang Wali-Ku, sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya.  Dan hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Kuwajibkan atas mereka, dan hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku melalui ibadah sunnah (nawafil) sampai Aku mencintainya.  Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia melakukan sesuatu, dan kakinya yang dengannya ia berjalan (dan dalam versi lain termasuk juga, “dan lidahnya yang dengannya ia berbicara”). (Hadits Qudsi, Bukhari)

Jadi, jika kita melakukan tasbih lebih banyak secara sukarela, kita akan mencapai level itu.
Dan di dalam hadits lain dari Imam Bukhari sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mas`uud:

كنا نأكل مع النبي صلى الله عليه وسلم الطعام ونحن نسمع تسبيح الطعام

Kunna naakul ma` an-Nabi (s) ath-tha`am, wa nahnu nasma` tasbiih ath-tha`m.
Kami duduk dengan Nabi (s) untuk makan dan kami mendengar makanan itu bertasbih dan bershalawat atas Nabi (s).

Meskipun ia dimasak dalam api, makanan itu tetap bertasbih!  Jika dipanaskan dengan api, ia terbakar, dan jika dididihkan seluruh rasanya akan berubah, tetapi ia tetap bertasbih.  Jadi bagaimana dengan tubuh kita?  Apakah mereka bertasbih?  Ya, tetapi kita tidak mendengarnya.  Jadi semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memberkati semua Mukmin dan Muslim di seluruh dunia, apapun latar belakang mereka.

(Du`a.)
(Salaat al-Jumu`ah.)



© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

26 December 2012

Sayyidina `Ali (r), Gerbangnya Ilmu



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
14 Desember 2012    Burton, Michigan
Khotbah Jumat di As-Siddiq Institute and Mosque


Alhamdulillah, alhamdulillahii nasta`iinuhu wa nastaghfiruhu was nastahdiihi wa na`uudzuu billaahi min syuruuri anfusinaa wa sayyiaati `amaalinaa wa nasyadu an laa ilaaha illa-Llah, wahdahu laa syariika lah, wa nasyadu anna Muhammadan `abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh...
ayyuha ’l-mu’minuun al-hadhiruun.

إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Ittaqullaha wa athi`uuh. Inn Allah ma`a ‘Lladzina at-taqaw wa ‘Lladzina hum muhsinuun.
Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (Surat an-Nahl, 16:128)

Wahai Mukmin!  Nabi (s) tidak meninggalkan apapun tanpa beliau (s) jelaskan, dan beliau (s) membimbing kita melalui para Sahabatnya (r), khususnya Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), Sayyidina `Umar (r), Sayyidina `Utsman (r) dan Sayyidina `Ali (r).

Nabi (s) bersabda,
أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم
Ash-haabii ka 'n-nujuum bi ayyihim aqtadaytum ahtadaytum.
Sahabatku bagaikan bintang-gemintang (di malam yang gelap); siapapun yang kalian ikuti, kalian akan terbimbing.
(`Abd ibn Humayd, ad-Daraqutnii, ibn `Adiyy, ibn `Abd al-Barr, dengan sanad yang tidak sahih, tetapi maknanya sahih.)

Bergunung-gunung ilmu dan tidak ada seorang pun yang mampu memahami Nabi (s) sebagaimana keempat khalifah ini.  Nabi (s) menjadikan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) yang menemaninya ketika hijrah dari Mekah ke Madinah, dan beliau (s) berkata bahwa iman Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) adalah lebih besar daripada semua Sahabat (r).  Dan mengenai Sayyidina `Umar (r), Nabi (s) bersabda, “Jika setelahku masih ada nabi, maka `Umar-lah yang akan menjadi nabi itu.”  Dan Sayyidina `Utsman (r) disebut sebagai “Dzi 'n-Nurayn,” Penerima Dua Cahaya, karena beliau menikah dengan dua di antara putri-putri Nabi (s).  Beliau juga menyusun Kitab Suci al-Qur’an dan menempatkan setiap ayat di posisinya masing-masing.  Dan untuk Sayyidina `Ali (r), yang merupakan topik dari khotbah Jumat hari ini, Nabi (s) bersabda,
أنا مدينة العلم و علي بابه
Anaa madinatu 'l-`ilmi wa `Aliyyun baabuha.
Aku adalah kotanya ilmu dan `Ali adalah pintu (atau gerbangnya). (al-Haakim, Tirmidzi)

Allah (swt) telah mengaruniai Sayyidina `Ali (r) dengan banyak hal.  Diriwayatkan oleh Sayyidina `Ali (r) di dalam Sahih Bukhari:

عن علي قال : أنا أول من يجثو للخصومة بين يدي الرحمن يوم القيامة قال قيس وفيهم نزلت هذان خصمان اختصموا في ربهم قال هم الذين بارزوا يوم بدر علي وحمزة وعبيدة وشيبة بن ربيعة وعتبة بن ربيعة والوليد بن عتبة
Anaa awwala man yajtsuu’l-khusuumata bayna yadaayi ’r-rahmaana yawm al-qiyamah. Qaala Qays wa fiihim nazalat haadzaan khashmaan ‘khtashamuu fii rabbihim. Qaala humu’Lladziina baarazoo yawma badrin: `aliyyin wa hamzata wa `ubaydata wa syaybata bin rabi`ata wa `utba bin rabi`ayata wa’l-waliid ibn `utba.

Nabi (s) bersabda, “Aku akan menjadi yang pertama di antara Tangan ar-Rahmaan pada Hari Kiamat.  

Pada saat itu, Allah (swt) akan memberinya kekuatan syafaat untuk membantu manusia.  Ibn `Asakir (r) menyebutkan bahwa Sayyidina `Ali (r) telah disebutkan di dalam kitab suci al-Qur’an lebih banyak daripada yang lainnya dan lebih dari 300 ayat diturunkan mengenai beliau, itu artinya Sayyidina `Ali (r) adalah seseorang yang dimuliakan oleh Allah!  Bagaimana tidak, beliau adalah menantu Nabi (s) dan merupakan salah satu dari ulama besar yang Allah kirimkan bagi manusia, karena setelah Nabi Muhammad (s) tidak ada lagi nabi lainnya.  Sayyidina `Ali (r) adalah salah satu `ulama, ‘ar-Rabbaniyyuun,’ ulama-ulama besar yang muncul setelah Nabi (s).

Umm Salama (r) meriwayatkan dari Nabi (s), “Sayyidina `Ali (r) bersama kitab suci al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Sayyidina `Ali (r),” artinya beliau membawa al-Qur’an sepenuhnya di dalam kalbunya, bukan seperti kita membaca kitab suci al-Qur’an, tetapi beliau dapat mengekstrak makna dari setiap ayat al-Qur’an, dan dari setiap kata dan huruf, beliau dapat mengekstrak maknanya.  Kalian mungkin bertanya, “Bagaimana beliau dapat mengekstrak makna dari sebuah kata?”  Ada banyak huruf di dalam kitab suci al-Qur’an yang memulai beberapa surat dan huruf-huruf itu merupakan kode.  Demikian pula, setiap ayat dan setiap kata di dalam al-Qur’an mempunyai kode-kode dan Sayyidina `Ali (r) mampu mengekstrak rahasia-rahasia itu.  Kini kalian mempunyai kode untuk kartu plastik yang kalian gunakan di mesin-mesin ATM.  Serupa dengannya, huruf-huruf ini adalah kode-kode rahasia yang Allah (swt) turunkan kepada Nabi (s), yang kemudian menurunkannya kepada beberapa Sahabatnya dan kita tahu bahwa Sayyidina `Ali (r) adalah salah satu yang dapat mengekstrak makna dari huruf-huruf itu.  

Suatu ketika orang bertanya kepada Sayyidina `Ali (r) mengenai `ilm dan beliau berkata,

العلم يرفع الوضيع والجهل يضع الرفيع.
Al-`ilmu yarfa`u 'l-wadhii` wa 'l-jahl yadha`u 'r-rafii`
Ilmu akan mengangkat mereka yang berada di derajat yang rendah.

Ketika kalian mempelajari ilmu duniawi, bahkan jika kalian berasal dari keluarga yang sangat miskin atau dari keluarga yang tidak memenuhi tugasnya dalam melaksanakan Syariah, dan setiap orang melihat kalian seolah-olah kalian berasal dari keluarga kelas bawah, tetapi bila kalian mempunyai ilmu, maka tidak ada orang yang dapat berkata apa-apa.  Kalian dapat menjadi seorang profesor, dan tak seorang pun yang dapat bicara buruk mengenai keluarga kalian, karena Allah (swt) mengangkat mereka dari kelas bawah ke kelas yang lebih tinggi.  Jadi bagaimana menurut kalian mengenai seseorang yang mempunyai ilmu tentang Islam dan hakikat, di mana Nabi (s) bersabda, “Aku adalah kotanya ilmu dan Sayyidina `Ali (r) adalah pintunya.” Ini artinya tidak ada seseorang yang dapat memberikan ilmu seperti yang diberikan oleh Sayyidina `Ali (r) dan tidak ada yang dapat menyerupainya!

Sayyidina `Ali (r) berkata:
Kebodohan dan kesombongan akan menjatuhkan derajat seseorang.
Itu artinya ilmu mengangkat kalian dan kebodohan menjatuhkan kalian.

Sayyidina `Ali (r) said:
العلم خير من المال
Al-`Ilm khayrun min al-maal.
Ilmu lebih baik daripada uang.

Suatu hari kalian akan mati dan tidak membawa apa-apa bersama kalian.  Di masa dulu, sebuah rumah dari tanah liat dianggap sebagai istana, sementara yang lain mempunyai rumah dari jerami; tetapi sekarang mereka tidak bisa menerima hal itu karena mereka menginginkan rumah-rumah yang bagus; namun demikian pergilah ke Afrika dan kalian masih dapat menemukan rumah-rumah dari tanah liat atau pergilah ke Siprus dan kalian akan melihat bahwa bahkan rumah Mawlana Syekh Nazim (q) pun dibuat dari tanah liat!  Itu adalah rumah yang sederhana dan sekarang orang-orang menginginkan istana karena mereka penuh dengan Setan jika mereka tidak mengikuti Syari`atullah.  Rumah-rumah dari tanah liat adalah rumah yang penuh kedamaian dan menentramkan dan ketika kalian tinggal di sana, kalian tidak mempunyai sifat sombong di dalam hati kalian, karena kalian tinggal di rumah yang sederhana, sementara orang yang tinggal di rumah yang besar mungkin berkata, “Aku lebih baik dari yang lain, aku kaya.”

Jadi Sayyidina `Ali (r) berkata, “Ilmu lebih baik daripada kekayaan,” karena kalian tidak bisa membawa kekayaan kalian ke dalam kubur tetapi ilmu adalah sesuatu di mana orang dapat mempelajarinya dan itu adalah Shadaqat al-Jariyyah, amal yang pahalanya terus mengalir, sebagaimana Nabi (s) bersabda,
Amal dari anak cucu Adam terputus kecuali tiga: 1) Shadaqah al-Jariyyah, (misalnya membangun sebuah masjid, rumah bagi anak yatim, rumah sakit, dll); 2) Anak yang saleh, yang berdoa bagi kalian dan ketika anak itu mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” pahala mereka dalam membaca kitab suci al-Qur’an akan tertulis bagi kalian di dalam kubur; dan 3) ilmu yang bermanfaat bagi manusia.

Jadi untuk meninggalkan ilmu yang bermanfaat adalah dengan cara belajar dan mengajarkan orang lain, bukannya belajar lalu menyimpannya untuk diri sendiri.  Syariah memerintahkan kita untuk mengajarkan apa yang kita ketahui dan bukannya menyimpannya untuk diri sendiri.

Sayyidina `Ali (r) berkata, “`Ilm lebih baik daripada uang.”  Uang harus dijaga, kalian selalu melihat pada kotak penyimpanan uang atau khawatir apakah bank yang menyimpan deposit kalian aman, dan berbagai isu-isu lain yang masuk ke dalam pikiran kalian.  Kalian menjaga uang kalian.  Apa yang beliau katakan?  “Ilmu akan menjaga kalian agar selamat, sementara kalian harus menjaga uang kalian,” jadi di lain pihak, ilmu akan menjaga kalian agar tetap selamat.  Al`ilmu haakiman, “Ilmu akan memegang kendali,” dan seseorang dengan ilmu akan mampu memberi penilaian, meskipun tanpa uang.

Dan kita akan akhiri dengan yang satu ini.

قصم ظهري رجلان عالم متهتك وجاهل متنسك
qashurra zhahri rajulaan, `aalimu mutahattik wa jaahilun mutanassik
Dua tipe manusia yang mematahkan punggungku, seorang ulama yang bangga dan kasar terhadap orang dan seorang bodoh yang zuhud.

Tipe terakhir seperti orang yang dengan malas duduk di sudut hanya mengingat Allah.  Tetapi Allah ingin agar hamba-hamba-Nya untuk menolong, untuk bekerja dan menjadi baik, bukannya untuk duduk di sudut, menjadi orang yang malas, dan mengulurkan tangannya untuk meminta-minta!

Tipe pertama adalah seorang yang `alim, yang berilmu tetapi ia bangga terhadap dirinya.  Ia akan membuat orang lari darinya, karena ia sombong; dan orang yang duduk di sudut, di mana orang mengira ia seorang wali besar dan `alim, membuat orang menyimpang dari Jalan Syariah dan mengikuti jalannya.  Jadi, orang harus sangat berhati-hati, dan Sayyidina `Ali (r) tidak mengatakan sesuatu tanpa alasan, beliau mengatakan itu sebagai suatu peringatan!

Ilmu adalah reservoir bagi peradaban, bukannya peradaban seperti yang mereka definisikan sekarang, bukannya dunia yang sekarang, yang membawa kita entah ke mana.  Orang-orang terdahulu adalah orang-orang ‘beradab’ karena mereka mempunyai ilmu tentang akhirat dan mereka semua dijanjikan Surga.  Semua Sahaabah (r) akan masuk Surga, jadi kita harus mengikuti jejak mereka!

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qul in kuntum tuhibbuuna 'Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w 'Allaahu Ghafuuru 'r-Rahiim.
Katakanlah (wahai Muhammad), "Jika engkau (sungguh) mencintai Allah, maka ikutilah aku! Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-`Imraan, 3:31)

Kini, banyak praktik di Barat yang berasal dari Islam tetapi kita tidak menggunakannya, misalnya kebebasan untuk bicara dan kebebasan beragama.  Nabi (s) memberi kebebasan kepada kaum Yahudi dan Nasrani selama bertahun-tahun di Madinah dan beliau (s) berusaha untuk membangun perdamaian dan hubungan yang baik, sebagaimana Allah (swt) berfirman,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
W `atasimuu bi hablillaahi jamiyy`an wa laa tafaraquu.
Berpegang teguhlah pada Tali Allah dan jangan bercerai-berai. (Surat Aali-`Imraan, 3:103)

Wahai Muslim! Tugas Islami kita adalah menjaga perdamaian, menuntut ilmu dan bersikap tawaduk.

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

15 December 2011

Adab dan Manfaat Sedekah



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

1 Oktober 2010 Burton, Michigan

Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq

A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim. Ayyuhal mu`minuun al-hadiruun `itaqullah wa athi`uuh.

Wahai Muslim, wahai Mukmin! Nabi (s) menganjurkan Mukmin untuk memberi sedekah, karena Allah (swt) menyukai sedekah. Allah (swt) senang bila hamba-Nya melakukan khayr, sesuatu yang baik, yang bermanfaat bagi orang lain. Dan sedekah adalah jalan menuju Surga, sebagaimana Nabi (s) bahkan bersabda, "Senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah."

الصدقة ترد البلاء و تزيد في العمر

Ash-shadaqah tarrud al-balaa wa taziidul-`umur.

Sedekah menyingkirkan penyakit, hukuman, kesulitan dan memberi umur panjang di dunia dan akhirat.

Nabi (s) bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurayrah (r), "Setiap manusia harus memberi sedekah bagi tubuhnya, " kalau tidak, itu akan menjadi masalah.

كل سلامي من الناس عليه صدقة كل يوم تطلع فيه الشمس تعدل بين الاثنين صدقة و تعين الرجل على دابته فتحمله عليها أو ترفع له عليها متاعه صدقة والكلمة الطيبة صدقة وبكل خطوة تمشيها إلى الصلاة صدقة وتميط الأذى عن الطريق صدقة

Kullu yawmin tatlu` fiihi as-syams kaanat `alayhaa sadaqah. "Setiap hari setelah matahari bersinar, ada kewajiban untuk bersedekah." Itulah sebabnya guru-guru spiritual atau guru-guru tasawwuf merekomendasikan untuk menyediakan sebuah kotak (atau botol, atau wadah kecil) untuk bersedekah, yang diletakkan di pintu rumah, jadi ketika kalian keluar rumah, masukan sedekah, besar atau kecil (bahkan koin), dan ketika kalian masuk ke rumah, masukan lagi sedekahnya. Jangan katakana, "Aku akan melakukannya setiap bulan." Tidak, lakukan setiap hari. Kita semua mempunyai masalah ini. Setan membuat kita lupa untuk memberi sedekah ketika pergi dan kembali ke rumah. Dan bila kalian tidak mempunyai uang, menyelesaikan persoalan di antara dua orang juga merupakan sedekah. Segala hal yang kalian lakukan untuk manfaat umat atau manfaat umat manusia, itu adalah sedekah.

Allah (swt) berfirman:

ذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Khudz min 'amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tazakkiihim bihaa wa shalli `alayhim.

Ambillah sedekah dari kekayaan mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka dengan sedekah itu, dan berdoalah kepada Allah bagi mereka. (at-Tawbah, 9:103)

(Dan hadis menyatakan) kalian dapat melindungi diri kalian dari Api neraka bahkan dengan memberi sebutir kurma. "Ambillah dari mereka sedekah dalam bentuk apa saja." Jika kalian mempunyai toko roti, berikanlah roti! Jika kalian mempunyai restoran, berikan makanan! Jika kalian mempunyai pakaian, berikan pakaian! Dan jika seorang membantu orang lain dengan memberi tumpangan pada tunggangannya, apapun itu, kuda, keledai atau apa saja, itu juga sedekah. Bahkan jika kalian mengangkut sesuatu menggunakan hewan tunggangan kalian, itu juga sedekah. Wa 'l-kalimatu 't-tayyibatu shadaqah, berbicara dengan nada yang manis adalah sedekah. Kulli khutwatin tamshii bihi ila 's-shalaat sadaqah, "Setiap langkah yang kalian ambil untuk melakukan salat berjamaah atau sendiri adalah sedekah." Setiap langkah kalian pergi menempuh perjalanan, baik dengan jalan kaki, dengan mobil, mengendarai sesuatu, atau dengan pesawat terbang, adalah sedekah. Wa tumiit al-adhaa min at-thariiq sadaqah, "Menghilangkan atau menyingkirkan apa yang berbahaya dari jalan adalah sedekah," dan itu merupakan hadis yang disepakati.

Jadi itu artinya Allah (swt) memberi banyak jalan untuk mendekati-Nya melalui sedekah. Hadis itu merupakan keberuntungan bagi kita. Menerapkannya merupakan keberuntungan bagi kita. Kulli sulala min ...

Di dalam hadis Nabi (s) yang lain, beliau mengatakan kepada kita apa yang perlu kita lakukan, yang sangat mudah jika kalian mengambilnya satu dan melaksanakannya, tetapi bila kalian tidak bisa melakukannya, Nabi (s) bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Sayyida Aisyah (r):

إنه خلق كل إنسان من بني آدم على ستين وثلاثمائة مفصل فمن كبر الله وحمد الله وسبح الله واستغفر الله وعزل حجراً من طريق الناس أو شوكة أو عظماً عن طريق الناس وأمر بالمعروف ونهى عن منكر عدد تلك الستين والثلاثمائة سلامي فإنه يمشي يومئذ وقد زحزح عن النار

Innama khuliqa kulli min bani adam `ala 360 mafsalan, "Setiap manusia dibangun atas 360 ‘titik penekanan’ (juga dikenal dalam pengobatan Cina)." faman kabbarallah wa hamadallah wa sabahallah w 'astagfarallah wa `azal hajaran min thariiq an-naas, aw syawqata aw `azhman `an thariiq an-naas wa amr bi 'l-ma`ruuf wa nahaa `ani 'l-munkar `adada tilka 's-sittiin wa tsalaatsa mi'ata sulaamii fa-innahu yamsyii yawmaydzin wa qad zuhziha `ani 'n-naar.

Setiap anak cucu Adam telah diciptakan dengan tiga ratus enam puluh persendian; jadi barang siapa yang menyatakan keagungan Allah, memuji Allah, menyatakan keesaan Allah, bertasbih dan mencari pengampunan Allah, dan menyingkirkan batu, atau duri, atau tulang dari jalan yang dilalui orang, dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar sampai sejumlah tiga ratus enam puluh empat, ia akan mendapati dirinya dijauhkan dari Neraka.

"Barang siapa yang memuji Allah atau bersyukur kepada Allah, atau bertakbir, berzikir Allah, atau siapa yang memohon ampun pada Allah, atau menghilangkan atau menyingkirkan batu dari jalan, atau tulang, atau duri, orang itu (akan menerima pahala) pada bilangan sejumlah persendian di dalam tubuhnya (...)."

Jadi ucapkanlah 360 kali subhaanAllah atau alhamdulillah atau Allahu Akbar, atau singkirkan batu atau tulang atau pepohonan dari jalanan sebanyak 360 kali, dengan demikian Allah akan menghindarkan kalian dari Api Neraka. Pastikan untuk mengucapkan 360 kali astaghfirullah atau alhamdulillah atau selawat atas Nabi (s), dan ingat, jangan lupa untuk melakukannya ketika kalian pulang ke rumah.

Dan di dalam hadis yang lain dinyatakan, barang siapa yang pergi ke masjid, di dalam perjalanannya atau ketika pulang, Allah (swt) akan menyiapkan bagi setiap langkahnya, sebuah istana, rumah surgawi di Surga. Semoga Allah memberi kita rumah surgawi dan melindungi kita dari hukuman!

Dan hadis lain menyatakan,

اتقوا النار ولو بشقّ تمرة

ittaquu an-naara wa law bi syaqqi tamr,

Selamatkan dirimu dari Api Neraka walaupun hanya dengan separuh kurma.

Lihatlah, betapa murahnya untuk terhindar dari Api Neraka, bahkan dengan memberikan separuh kurma kepada orang miskin atau tuna wisma!

Semoga Allah (swt) mengampuni kita dan semoga Allah memberkati kita dan Mukmin di seluruh dunia, dan membimbing semuanya kepada Kerajaan Surgawi Allah, dan kepada Kalam Ilahi-Nya, kitab suci al-Qur’an. Bacalah kitab suci al-Qur’an sebanyak-banyaknya, dan jangan sampai ia menentang kita pada Hari Kiamat! Semoga Allah membuat kita untuk terus membaca Qur'an sebanyak-banyaknya yang dapat kita lakukan.

(Doa)

http://media.islamicsupremecouncil.org/Benefits_of_Giving_Charity-2743-print.html

07 August 2011

Zaman Facebook dan Youtube

Catatan Buram

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q)

Khotbah Jumat, 5 Agustus 2011

Burton, MI

Alhamdulillah, nasta`iinahu wa nastaghfirahu wa nastahdii wa na`uudzu billah min syuruuri anfusina wa in sayyiaati `amaalin. man yahdillah fa laa mudilla lahu wa man yudlil fa laa haadiya lah wa nasyhadu an laa ilaaha ill-Llah wahdahu laa syariika lah

wa laa matsiil lah fii `uluuwi syaanihi wa `azhiimi sulthaanih. wa nasyhadu anna sayyidina wa mawlana Muhammadan `abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh arsalahu ta`ala min arjaahi 'l-`alami miizaanan, wa awdhahaha bayaanan, wa afasahiha lisaanan, fa awdahat-thariiqata wa nasaha 'l-khaliiqa shall-Llahu ta`ala `alayhi wa `ala aalihi wa ash haabihi wa azwaajih wa dzurriyyatihi ajma`iin, khusuusan minhum `ala a'immati khulafaa'i rasuulillahi `ala at-tahqiiq, umaraa'il-muminiina hadraat Abi Bakrin wa `Umarin wa `Utsmaanin wa `Aliyy wa `ala baqiyatis-shahabati wat-tabi`iin ridhwaanullahi ta`ala `alayhimn ajma`eiin.

ayyuhal-muminuuna'l-haadhiruun. ittaqullaha ta`ala wa athii`uuh. Inna Allah ma` 'Lladziina taqaw walladziina hum muhsinuun.

nammuru fii zaman, zaman al-ibaahiyaat wa zaman al-internet wa haahuw al-islam yataathar bi hadzi al-barnamaja allatii tazhar `ala youtube wa facebook.

Kita melewati suatu masa di mana kita menghadapi masalah utama yaitu kita menyaksikan dan menggunakan facebook dan youtube dan teknologi lainnya yang disediakan oleh internet. Itu bukan lagi suatu peradaban, itu adalah suautu ketidakpedulian terburuk di mana kita terjatuh ke dalamnya.

Orang mungkin berkata, “Mengapa engkau mengatakan hal ini? Kami menggunakan internet untuk hal-hal yang legal yang kami butuhkan.” Saya bisa mengatakan, ”Ya, tetapi mungkin itu hanya 10% dan 90% lainnya digunakan untuk youtube dan facebook dan google dan yahoo kecuali untuk penggunaan seksual dan film porno seksual. Kalian kehilangan anak kalian karena kalian membesarkannya dengan cara yang salah dan anak-anak sekarang tahu bagaimana menggunakan komputer dan kalian membiarkan anak-anak duduk di belakang komputer dan menyaksikan program yang tidak diperbolehkan, dan jangan membuat alasan. Alasan kalian ditolak. Kalian mengatakan bahwa kita harus mengikuti zaman. Tidak, zamanlah yang harus mengikuti kita.

Nabi (s) menyebutkan banyak hal bagi kita agar mereka akan memberikan kita program-program surgawi yang dapat kita lihat dan kita gunakan, tetapi sayayngnya fokus kita hanyalah dunia, tidak ada yang untuk akhirat.

Nabi (s) menyebutkan bahwa, ”Cintamu tidak boleh ditujukan untuk sesuatu di dunia ini kecuali untukku.” Cinta kita harus diarahkan kepada Nabi kita (s). Kita harus membesarkan anak-anak kita untuk mencintai Nabi (s). Mereka tidak tahu, siapa itu Nabi (s). Mereka tidak tahu apa-apa, kecuali pohon Natal.

Ketika pertama kali saya datang ke negeri ini pada tahun 1991, yait ke New Jersey, kota Jersey dan seseorang yang banyak memberikan dukungan kepada masjid-masjid mengundang banyak tamu dan saya di antaranya. Dan itu terjadi di bulan Desember. Saya melihat banyak imam di sana dan mereka semua adalah orang-orang terhormat. Saya melihat-lihat dan di sudut ruang keluarganya saya melihat sebuah pohon Natal yang besar sekali, walaupun ia adalah seorang Muslim. Tidak ada orang yang mengatakan sesuatu, kecuali memujinya karena ia banyak membantu masjid-masjid.

Saya berkata, ”Dapatkah saya mengatakan sesuatu?” Ia berkata, “Ya.” Saya bertanya berapa banyak putra yang dimilikinya. Ia berkata 2, dan kemudian ia membawa mereka. Saya bertanya kepada mereka, “Siapa nabimu?” Mereka berkata, “Kami tidak tahu.” Saya bertanya, “Apakah engkau Muslim?” Mereka menjawab, “Ya.” Untuk menjadi seorang Muslim, seseorang harus mengucapkan, Asyhadu an la ilaha ill 'Llah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.” Dan saya berkata, “Ini apa?” “Ini adalah pohon Natal.” “Dan itu untuk siapa?” “Itu untuk Yesus.” Dan orang itu merasa malu karena anaknya tidak tahu apa-apa mengenai Islam dan mengenai Nabi (s), yang mereka tahu hanyalah Yesus dan Natal.

Tidak ada yang menasihatinya, imam-imam ini, masukkan ke dalam kotak. Manfaat apa yang bisa kalian dapatkan dari itu? Kalian membiarkan anak-anak kalian menjadi rusak. Dan kalian tidak mendapat manfaat apa-apa di akhirat dan lebih baik kembali ke tempat asal kalian, jika di sana lebih baik, karena banyak tempat yang telah menjadi kebarat-baratan sekarang.

Saya tidak mengatakan bahwa kejadian ini terjadi di Timur Tengah. Mereka memaksa untuk menggunakan facebook. Tetapi bagi anak-anak kalian menyaksikan film-film yang buruk yang… kalian tidak mengajarkan anak-anak untuk belajar mencintai Nabi (s) dan kalian membiarkan mereka mengejar nafsu syahwatnya. Ketika kami masih muda, kami tidak membicarakan masalah seksual. Kami tidak mengetahui apa-apa, kami “bodoh dan tidak tahu apa-apa” tetapi dari sisi lain, kami mampu memenangkan sisi lainnya, dengan berkah Allah dan berkah Nabi (s).

Dan sekarang mereka menjelajahi seluruh website, tidak hanya di computer, tetapi juga di telepon seluler mereka. Mereka sedang mengikuti salat Jumat dan mereka mengecek pesan-pesan di telepon mereka. Kalian tidak bisa meluangkan waktu 5 menit untuk Islam.

Dan Nabi (s) berkata, “Apakah engkau mencintaiku?” Apakah kalian sungguh mencintainya? Kalau ya, maka kalian akan bersamanya. Jadi, buatlah agar anak-anak kalian bersama dengan Nabi mereka. Katakan kepada mereka bahwa mereka salah, kirimkan mereka ke sekolah Muslim dan pada hari Sabtu dan Minggu, jangan biarkan mereka duduk dan menonton TV sepanjang hari. Dan orang tua mendorong mereka untuk mempunyai pacar. Ini adalah Ramadan. Allah berfriman, “fa dzakkir! Ingatkan, kalian suka bila kalian suka dan kalian tidak, bila tidak.” Jadi Nabi (s) mengatakan, ”Apakah engkau menyukaiku?” Jika kalian menyukai Nabi (s), maka ikutilah apa yang beliau ajarkan dan hindari apa-apa yang buruk. ”Jika engkau mencintaiku, maka hidupkanlah sunahku.”

Nabi (s) bersabda, “ma ahya sunnatii faqad ahabani.” “Siapa yang menghidupkan sunahku, berarti ia mencintaiku.” Dan sunah Nabi (s) bukan saja untuk memakai pakaian (sunah) dan turban. Lebih baik untuk tidak memakai turban dan pakaian sunah daripada melihat facebook dan sejenisnya.

Dan sekolah mengatakan bahwa kalian harus melakukan suatu penelitian mengenai ini dan itu. Lalu kalian sampai pada pria dan wanita telanjang di internet dan nafsu syahwat kalian muncul dan kalian mengikutinya. Dan sekolah itu bisa masuk ke Neraka. Mereka mendorong anak-anak sejak usia dini untuk melakukan hal yang salah. Mereka berkata bahwa kalian harus mempunyai pacar. Jika tidak—kalian kini berada di puncak peradaban—berarti kalian ketinggalan zaman.

Bukankah mereka mengajarkan itu di sekolah? [haqq]. Jadi mereka mendorong untuk melakukan perbuatan yang haram sejak awal. Jadi, jika mereka tidak membesarkan anak-anak untuk mengetahui apa yang benar dan apa salah sejak masa kanak-kanak, maka mereka akan berpikir bahwa apa yang diajarkan di sekolah itu adalah benar. Setiap orang di sana melalakukan sesuatu yang haram dan tak ada yang melakukan yang halal.

Jadi sunah bukannya untuk memakai pakaian yang longgar dan turban. Lebih baik untuk menghentikan yang haram daripada memakai pakaian seperti itu. Lebih baik untuk mengajarkan masyarakat kalian dan memulainya dari diri kalian sendiri lalu keluarga kalian dan saudara-saudara kalian, baru kepada masyarakat. Jangan langsung pergi kepada kerabat dan masyarakat dan berusaha untuk memperbaiki mereka. Perbaikilah dulu keluarga kalian, perbaiki sampai benar. Barulah kalian bisa melakukannya pada masyarakat. Pertama lihat dulu di sekeliling kalian. Jika kalian mengatakan bahwa kalian mencintai Nabi (s), lakukanlah sunah beliau. Apakah menurut kalian sunah beliau memperbolehkan kalian melihat sesuatu di facebook atau youtube yang tidak dapat diterima? Jika menurut kalian, sunah beliau memperbolehkan melakukannya, maka kerjakanlah. Tetapi bila tidak, bahkan jika hanya satu bagian saja, 1% saja mengatakan tidak, berarti itu tidak bisa diterima dan tinggalkanlah hal itu. Bahkan jika kurang dari 1%. Mereka menguji kita apa yang bisa kita terima dan yang tidak.

Dan Nabi (s) bersabda, “Siapa yang menghidupkan sunahku, berarti ia mencintaiku.” Buatlah agar anak-anak kalian mencintai Nabi (s). Saya bertanya kepada anak-anak di New York, apakah mereka merayakan Mawlid. Mereka berkata, “Apakah mawlid itu?” “Apakah kalian merayakan Natal?” “Ya.” Tetapi mereka mengatakan kepada saya di dalam pertemuan itu bahwa itu adalah bid`ah. Mereka ada di sana bersama pohon Natal, apakah itu bukan bid`ah? Mereka bertemu dan minum di malam itu dan bersorak, “Hoorah!”

“Dan dengan mencintaiku, akan bersamaku di surga.” Jadi pastikan tidak ada lagi facebook kecuali untuk bekerja. Facebook tidak mempunyai fasilitas untuk pencarian seperti google. Apakah ia mempunyainya? Itu hanyalah tentang jejaring social. Jadi kalian tidak perlu tertarik pada facebook. Itu adalah haram. Batalkan facebook, ia tidak mengajarkan sesuatu yang baik pada kalian. Seluruh manusia telajang muncul dengan ekor mereka. Kalian menerima seorang teman dan teman itu kemudian akan datang dengan semua temannya kepada kalian.

Dan Nabi (s) bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang beriman, imannya belum sempurna benar, sampai ia mencintaiku melebihi cintanya pada anaknya.” Siapa yang lebih kalian cintai, anak atau istri kalian? Anak kalian mengatakan kebenaran.

Jadi Nabi (s) bersabda, “Kalian harus mencintaiku melebihi anak-anak kalian dan orang tua kalian, ibu dan ayah dan semua orang yang lain agar dapat dikatakan sebagai beriman.” Jadi apa yang harus kita lakukan? Lebih baik untuk menundukkan kepala kita ke bawah dan beristighfar daripada menasihati orang lain. Pertama perbaiki diri kalian dulu, setelah itu barulah menasihati yang lain.

“Dan bahkan terhadap seluruh manusia, Aku harus lebih dicintai daripada mereka semua, bahkan diri kalian sendiri.” Apakah kalian mencintai Nabi (s) lebih dari diri kalian sendiri? Jawab, ya atau tidak! Katakan ya, innama al-`amaalu bin-niyyaat. Segala sesuatu adalah berdasarkan niat. Besarkan mereka dengan belajar salat sejak kanak-kanak. Kalian akan ditanya di Hari Perhitungan bila kalian membiarkan anak-anak kalian tersesat dan menyimpang.

Ada banyak alasan bahwa Allah akan mengampuni. Kita memohon kepada Allah untuk mengampuni kita dan membimbing kita ke jalan yang benar, jalannya kaum Ahl as-Sunnah wa 'l-Jama'ah, jalan bagi orang-orang yang mencintai Nabi (s).

fa yaa fawzan lil-mustaghfiriin astaghfirullah.

...[duduk kemudian melanjutkan khotbah kedua]

Mereka hanya mengajarkan kita untuk menjadi sekuler. Apakah ada yang lain yang mengajarkan kita menjadi sekuler? Menjadi sekuler atau seksual, pilih salah satu. Baik menjadi sekuler dengan tidak menerima apapun atau untuk menerima agama dan menerima untuk mempunyai pacar. Terkutuk mereka!

doa

http://media.islamicsupremecouncil.org/Khutbat_al_Jum_a-3691.html