Showing posts with label Rajab. Show all posts
Showing posts with label Rajab. Show all posts

01 June 2011

Siapakah yang Dikatakan Bangkut?


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

26 Mei 2011 Lefke, Siprus

Shuhbah sebelum Khatm



As-salaam `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Saya pikir sudah terlambat untuk memulai shuhbat, jadi kita akan langsung mulai dengan dzikrullah, kareana shuhbat akan memerlukan waktu yang lama, jadi mungkin setelah tujuh tahun lagi? Allah Maha Mengetahui.

Allah (swt) menurunkan sebuah hadis kepada Nabi-Nya (s) yang akan saya sebutkan, dan akan langsung dimulai.

وعنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أتدرون ما المفلس ؟ . قالوا المفلس فينا من لا درهم له ولا متاع . فقال إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة ويأتي وقد شتم هذا وقذف هذا . وأكل مال هذا . وسفك دم هذا وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح في النار . رواه مسلم


Nabi (s) bertanya pada Sahabat (r), man al-muflis, “Siapakah orang yang bangkrut?” Mereka berkata, “Sudah jelas, orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang atau harta kekayaan.” Nabi (s) memandang mereka dan bersabda, laysa man laa `amal lahu, " yaitu orang yang tidak mempunyai amal. Para Sahabat (r) terkejut, karena Nabi (s) duduk dengan mereka, (artinya hadis itu langsung tertuju pada mereka). Dan mereka berkata, wa in saama wa in shalla, "Walaupun orang itu melakukan salat dan puasa?" Dan Nabi (s) bersabda, "Bahkan jika ia salat dan berpuasa."

Apa yang kita bawa pulang dari hal ini? Segala sesuatu yang kita dengar, kita harus membawanya ke rumah dan memikirkannya, malam ini. Itu berarti seseorang melakukan salat dan puasa, namun tetap saja ia tidak mempunyai amal! Itu adalah hal besar. Apa yang dimaksud oleh Nabi (s) adalah, mengapa orang itu kehilangan amalnya? (Ia kehilangan amal itu) karena terlalu banyak melakukan ghibah, gosip di antara umat. Banyak sekali orang yang bicara saling menentang satu sama lain, dan mereka tidak saling menyukai; mereka bicara tentang seseorang, tetapi apa yang mereka katakan adalah tidak benar. Ketika rumor itu menyebar, setiap orang yang berada di tempat yang jauh mulai percaya dan kemudian turut menyebarkannya lebih jauh, kemudian Setan mengambil mereka seperti angin dan itu menjadi kenyataan.

Orang (yang bangkrut) itu terlibat dalam menyebarkan tuduhan palsu yang merugikan saudara Muslimnya, jadi ia kehilangan amalnya. Semoga Allah (swt) mendukung kita dan melindungi kita dan memberi kita waktu yang berharga bersama Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani, dan semoga Allah memberinya usia yang panjang dan memberi kita usia yang panjang!

[Khatm]

Minggu depan, Kamis adalah 1 Rajab, dan malam itu akan menjadi Laylat al-Raghaa’ib dan insyaa-Allah Mawlana mungkin akan menghadirkan rambut Nabi (s). Tetapi yang paling penting, kadang-kadang kita dibolehkan untuk mengatakan sesuatu dan kadang-kadang kita tidak boleh mengatakan sesuatu, tetapi seluruh bagian dari sana ke sana (dalam maqam Mawlana Syekh) adalah bagaikan pusara Nabi (s), dari sisi ini ke sini, dan kita telah diberi kehormatan untuk melakukan ziarah kepada Nabi (s)! Itu terjadi dan sungguh terjadi, dan kadang-kadang itu terjadi, dan kita mempunyai izin untuk mengatakannya, dan kadang-kadang kita tidak mempunyai izin. Siapa pun yang berada di dalam majelis ini, pada malam ini melihat Nabi (s), dan itu artinya ia memasuki guanya dan memasuki lengannya, dan itu artinya ia berada di bawah syafaatnya!

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.


30 July 2008

Berkah Luar Biasa pada Malam Isra' Mi'raj

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Syekh Nazim al-Haqqani QS berkata, “Allah SWT berfirman kepada Nabi SAW pada malam Mi’raj, “Ya Muhammad SAW, telah Ku-ciptakan seluruh makhluk demi dirimu, dan Aku berikan semua itu padamu.” Pada saat itu, Allah SWT mengaruniakan pada Nabi SAW kekuatan untuk melihat semua yang telah Dia ciptakan, dengan semua cahaya dan nur mereka, dan semua kenikmatan yang telah Allah SWT karuniakan pada makhluk-Nya dengan menghiasi mereka dengan Atribut-Atribut-Nya dan dengan Cinta dan Keindahan Ilahiah-Nya.

Muhammad SAW terkesima dan terpesona karena Allah SWT telah memberi beliau suatu hadiah berupa makhluk-makhluk seperti itu. Allah SWT berfirman kepada beliau, ‘Ya Muhammad SAW, apakah kau bahagia dengan ciptaan-ciptaan-Ku ini?’ Beliau menjawab, ‘Ya, wahai Tuhanku,’ Dia berfirman, ‘Kuberikan mereka kepadamu sebagai amanah untuk kau jaga, agar kau bertanggung jawab atasnya, dan untuk mengembalikan mereka pada-Ku dalam keadaan seperti saat mereka Kuberikan padamu.’ Muhammad SAW memandang pada mereka dengan penuh kegembiraan karena mereka begitu berkemilau dengan cahaya-cahaya yang indah, dan beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, aku terima.’ Allah SWT berfirman, ‘Apakah kau terima?’ Beliau menjawab, ‘Kuterima, kuterima.’ Dan begitu beliau selesai menjawab untuk ketiga kalinya, Allah SWT mengaruniakan beliau suatu kasyf (penglihatan spiritual) akan dosa-dosa dan berbagai bentuk kesengsaraan, kegelapan, dan kejahilan di mana mereka akan terjatuh ke dalamnya.

“Saat Muhammad SAW melihat hal ini, beliau kaget dan cemas, berpikir bagaimana beliau akan dapat mengembalikan mereka kepada Tuhannya dalam keadaan suci seperti keadaan awalnya. Beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, apa ini?’ Allah SWT menjawab, ‘Wahai kekasih-Ku, inilah tanggung jawabmu. Engkau harus mengembalikan mereka pada-Ku dalam keadaan suci seperti ketika Aku berikan mereka padamu.’ Kemudian Muhammad SAW berkata, ‘Wahai Tuhanku, berikan padaku penolong-penolong untuk membantuku membersihkan mereka, untuk mensucikan roh mereka, dan untuk membawa mereka dari kegelapan dan kejahilan menuju maqam pengetahuan, kesalihan, kedamaian, dan cinta.’”

“Allah SWT kemudian mengaruniakan pada beliau suatu penglihatan di mana Dia memberitahukan pada beliau bahwa di antara seluruh ciptaan itu, Dia telah memilih bagi beliau 7.007 Wali Naqsybandi. Dia berfirman, ‘Wahai kekasih-Ku, Ya Muhammad SAW, wali-wali ini adalah termasuk wali-wali istimewa yang telah Ku-ciptakan untuk menolongmu menjaga agar ciptaan ini tetap suci. Di antara mereka, terdapat 313 yang memiliki tingkatan tertinggi, maqam paling sempurna di Hadirat Ilahiah. Mereka adalah pewaris rahasia dari 313 rasul-rasul. Kemudian Ku-berikan padamu empat puluh, yang membawa kekuatan yang paling istimewa, dan mereka adalah tonggak-tonggak dari seluruh wali. Mereka akan menjadi guru dan Syekh besar di masa-masa mereka, dan mereka akan menjadi para pewaris dari Rahasia Haqiqat.’”

“’Di tangan para wali inilah, setiap orang akan disembuhkan dari luka-lukanya, baik luka luar maupun luka dalam. Wali-wali ini akan mampu membawa seluruh umat dan seluruh makhluk ciptaan tanpa ada tanda-tanda kelelahan. Setiap orang di antara mereka adalah Ghawts (Pemberi Syafa’at Utama) di zamannya, yang di bawahnya ada lima orang Qutub (Kutub Spiritual).’”

“Nabi SAW begitu bahagia dan beliau berkata, ‘Wahai Tuhanku, berikan lagi bagiku!’ Kemudian Allah SWT pun menunjukkan padanya 124.000 wali, dan Dia berfirman, ‘Wali-wali ini adalah pewaris dari 124.000 nabi. Seorang wali adalah seorang pewaris dari seorang nabi. Mereka pun akan di sana membantumu membersihkan umat ini.’”

"Ketika Nabi SAW sedang naik ke Hadirat Ilahiah, Allah SWT membuat beliau untuk mendengar suara seorang manusia. Suara itu adalah suara dari seorang teman dan sahabat terdekatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Nabi SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk memerintahkan Abu Bakar ash-Shiddiq RA untuk memanggil seluruh wali-wali Naqsybandi: yang 40, yang 313, dan yang 7.007, beserta seluruh pengikut dan murid mereka, dalam bentuk spiritual (roh) mereka, ke Hadirat Ilahiah. Semuanya untuk menerima Cahaya dan Barakah yang istimewa itu.”

“Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi SAW, yang kemudian memerintahkan Abu Bakar RA, untuk memanggil 124.000 wali dari 40 tarekat lainnya beserta murid-murid mereka untuk diberikan Cahaya di Hadirat Ilahiah. Seluruh Syekh mulai muncul di perkumpulan itu beserta seluruh murid mereka. Allah SWT kemudian menyuruh Nabi SAW untuk melihat mereka dengan kekuatan dan cahaya Kenabiannya, dan untuk mengangkat mereka semua ke Maqam Shiddiqin, Yang Terpercaya dan Yang Benar. Kemudian Allah SWT berfirman kepada Nabi SAW, dan Nabi SAW pun berkata kepada para wali, ‘Kalian semua dan seluruh pengikut kalian akan menjadi bintang- gemintang yang berkilauan di antara manusia, untuk menyebarkan cahaya yang telah kuberikan pada kalian di pra-keabadian ke seluruh manusia di permukaan bumi.’”

Mawlana Syekh Nazim QS berkata, “Itu semua hanyalah satu di antara rahasia-rahasia yang telah dibuka tentang Malam Mi’raj kepada kalbu para wali melalui periwayatan (transmisi) dari Sanad Emas Tarekat Naqsybandi.” Lebih banyak lagi kasyf yang diberikan kepada Nabi SAW, tetapi tidak ada izin untuk membukanya.”

Malam itu, Nabi SAW diperintah Allah SWT untuk melakukan 50 salat dalam sehari. Beliau meringkasnya menjadi lima kali salat dalam sehari atas nasihat Nabi Musa AS. Beliau kembali dari Malam Isra’ Mi’raj, dan orang pertama yang mempercayai beliau adalah Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Orang-orang kafir, sambil berharap untuk mempermainkan beliau, menanyakan pada beliau untuk melukiskan Yerusalem. Beliau melukiskannya dengan seluruh detailnya, dan orang-orang kafir dipermalukan.

Siksaan atas Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau semakin meningkat. Kemudian Allah SWT mengirimkan pada beliau, kaum Ansar (Penolong) dari Madinah. Islam telah mulai tersebar pada suku-suku dari oasis kecil ini yang terletak tak jauh dari Mekah. Allah SWT memberikan izin-Nya bagi kaum Mukmin untuk berhijrah ke Madinah, rumah dari kaum Ansar. Abu Bakar RA menginginkan untuk berhijrah, tetapi Muhammad SAW berkata padanya, “Jangan pergi dulu, tunggulah, dan mungkin kau akan berhijrah bersamaku. Ada suatu kejadian amat penting yang mesti terjadi.”

Nabi SAW meninggalkan Mekah di malam hari bersama Abu Bakar RA, dan meninggalkan di belakang beliau ‘Ali RA, KW untuk berpura-pura berperan sebagai beliau di tempat tidur beliau. Di perjalanan, beliau berhenti untuk bersembunyi di Gua Tsuur. Abu Bakar RA berkata, “Wahai Nabi SAW, jangan masuk, aku akan masuk lebih dahulu.” Dalam hatinya, Abu Bakar RA berpikir bahwa mungkin akan ada sesuatu yang berbahaya di dalam dan ia memilih untuk menghadapinya lebih dulu. Abu Bakar RA menemukan sebuah lubang di dalam gua itu. Abu Bakar RA memanggil Nabi SAW untuk masuk ke dalam, dan ia sendiri menaruh telapak kakinya di atas lubang itu, menutupinya. Nabi SAW masuk dan menaruh kepala sucinya di pangkuan paha Abu Bakar RA. Seekor ular di dalam lubang tadi mulai menggigit kaki Abu Bakar RA. Abu Bakar RA mencoba sekuat tenaga untuk tidak bergerak, sekalipun ia dalam kesakitan yang amat sangat. Air mata mulai menetes dari matanya, dan mengalir melalui pipinya. Setetes air mata itu terjatuh mengenai wajah suci Nabi SAW. Saat inilah, sebagaimana disitir dalam Quran, “Ia berkata pada sahabatnya, ‘Jangan bersedih; sungguh Allah SWT beserta kita.’” [QS 9:40]. Abu Bakar RA berkata pada Nabi SAW, “Wahai Nabi Allah SAW, aku tidak bersedih, tetapi aku dalam kesakitan. Seekor ular tengah menggigit kakiku dan aku khawatir ia akan menggigitmu. Aku menangis karena hatiku terbakar demi dirimu dan demi keselamatanmu.” Nabi SAW begitu bahagia dengan jawaban sahabat terkasihnya ini hingga beliau memeluk Abu Bakar ash-Shiddiq RA, menaruh telapak tangan beliau di kalbu Abu Bakar RA dan menuangkan pengetahuan yang telah Allah SWT karuniakan pada beliau, ke dalam kalbu Abu Bakar ash-Shiddiq RA . Karena itulah beliau bersabda dalam sebuah hadis, “Apa pun yang telah Allah SWT tuangkan dalam kalbuku, aku tuangkan ke dalam kalbu Abu Bakar RA.”

Grandsyekh kita Muhammad Nazim al-Haqqani QS berkata, “Selanjutnya Nabi SAW menaruh tangan beliau yang lain ke kaki Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan membaca, Bismillahir-Rahman ir-Rahim, dan kaki Abu Bakar RA pun segera sembuh. Kemudian beliau memerintahkan sang ular untuk keluar, dan ular itu pun keluar, menggulung dirinya di depan Nabi SAW. Kemudian Nabi SAW bersabda kepada ular tersebut, ‘Tak tahukah engkau bahwa daging seorang Shiddiq diharamkan bagimu? Mengapa engkau memakan daging Sahabatku?’ Ular itu menjawab kepada Nabi SAW dalam bahasa Arab yang murni dan sempurna, ‘Wahai Nabi Allah SWT, tidakkah semua ciptaan diciptakan demi dirimu dan demi cintamu? Wahai Nabi SAW, aku pun mencintaimu. Saat kudengar bahwa Allah SWT berfirman bahwa umat terbaik adalah umatmu, aku pun memohon pada-Nya untuk memperpanjang umurku dan mengaruniakan padaku kehormatan untuk dapat tergolong sebagai umatmu dan untuk dapat melihat wajah sucimu. Dan Allah SWT mengabulkan harapanku dan kehormatan itu bagiku. Ketika Abu Bakar RA menaruh kakinya di lubang itu, kakinya menghalangi pandanganku. Aku ingin agar ia memindahkan kakinya agar aku dapat melihat dirimu. ’Nabi SAW bersabda, ‘Pandanglah diriku sekarang dan penuhi harapanmu.’ Ular itu memandang dan memandang; setelah beberapa saat, ia mati. Nabi SAW memerintahkan Jinn untuk membawa ular itu pergi dan menguburkannya.”

Mawlana Syekh Nazim QS berkata, “Hal-hal ini adalah rahasia-rahasia yang telah diberikan kepada kalbu-kalbu para Wali Naqsybandi.” Beliau melanjutkan ceritanya sebagai berikut, “Kemudian Nabi SAW bersabda kepada Abu Bakar RA, ‘Sebenarnya tak ada keperluan apa pun untuk berhenti di gua ini, kecuali suatu peristiwa yang penting akan terjadi di sini. Suatu Cahaya dari akar suatu Pohon Spiritual yang akan menyebar ke seluruh umat manusia, suatu Cahaya yang datang langsung dari Hadirat Ilahiah, akan muncul di sini. Allah SWT telah memerintahkan padaku untuk menyampaikannya padamu dan ke seluruh pengikut Tasawuf Naqsybandi.’”

“Jalur transmisi ini tidaklah disebut sebagai Naqsybandi saat itu, tetapi dikenal sebagai anak-anak dari Abu Bakar ash-Shiddiq RA, dan beliau (Abu Bakar RA) dikenal oleh para wali sebagai ‘Bapak’ dari jalur sanad ini.”

“Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk menyuruh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA untuk memanggil seluruh Syekh (guru) dari Sanad Emas yang merupakan pewaris dari Abu Bakar RA. Abu Bakar RA memanggil para Grandsyekh dari Sanad Emas, seluruh dari mereka, dari zamannya hingga ke zaman Al-Mahdi AS. Mereka semua dipanggil lewat roh-roh mereka dari Alam Arwah. Kemudian Abu Bakar RA diperintahkan pula untuk memanggil 7.007 Wali Naqsybandi. Kemudian Nabi SAW memanggil 124.000 nabi-nabi. “

“Abu Bakar ash-Shiddiq RA, dengan perintah Nabi SAW, memerintahkan setiap Grandsyekh untuk mengumpulkan pengikut-pengikutnya untuk hadir secara spiritual. Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq RA memerintahkan seluruh Syekh untuk mengambil tangan para pengikut mereka untuk menerima bay’at (inisiasi). Abu Bakar RA menaruh tangannya di atas mereka semua, dan kemudian Muhammad SAW menaruh tangan beliau di atas mereka semua, dan kemudian Allah SWT meletakkan Tangan-Nya, Tangan Kekuasaan (Qudrat), di atas mereka semua. Dan Allah SWT, oleh Diri-Nya Sendiri-lah, menaruh di lidah setiap orang yang hadir bacaan zikir-Nya (talqin az-dzikr), dan Ia memerintahkan Nabi SAW untuk menyuruh Abu Bakar ash-Shiddiq RA untuk memerintahkan semua wali yang hadir bersama pengikut-pengikut (murid) mereka untuk melafazkan apa yang mereka dengar dari Suara Qudrati:

ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ
ALLAHU ALLAHU ALLAHU HAQQ

“Semua mereka yang hadir mengikuti Syekh mereka dan para Syekh itu mengikuti apa yang mereka dengar dari Nabi SAW yang juga melafazkan. Kemudian Allah SWT mengajarkan rahasia dari zikir, yang dikenal sebagai Khatm-il-Khwajagan, kepada ‘Abdul Khaliqal-Ghujdawani QS, yang memimpin zikir pertama di antara para wali dari tarekat ini. Nabi SAW mengumumkan kepada Abu Bakar RA, yang kemudian mengumumkannya ke seluruh wali, bahwa Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS adalah pemimpin dari Khatm-il-Khwajagan. Setiap orang mendapat kehormatan untuk menerima rahasia dan cahaya itu dari Khwaja Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, di hadirat para wali, di hadirat Abu Bakar ash-Shiddiq RA, di hadirat Nabi SAW, dalam Hadirat Allah SWT.”

Mawlana Syekh Nazim QS berkata, “Siapa pun yang menerima bay’at (inisiasi) dari kami atau menghadiri Majelis Zikir kami mesti mengetahui bahwa dirinya telah hadir di gua tersebut di saat barakah itu, di Hadirat Nabi SAW, dan bahwa ia telah menerima semua rahasia-rahasia ini kemudian. Rahasia-rahasia ini telah disampaikan kepada kami melalui para Syekh dari Sanad Emas, melalui Abu Bakar ash-Shiddiq RA.”

Abu Bakar ash-Shiddiq RA, teramat bahagia dan gembira dengan apa yang terjadi di dalam gua itu, dan beliau kini mengerti mengapa Nabi SAW telah memilihnya untuk menjadi teman dalam hijrah beliau. Para Syekh Naqsybandi menganggap kejadian-kejadian dalam gua tadi sebagai fondasi dari tarekat. Tidak hanya sebagai sumber dari wirid harian, tetapi juga karena roh-roh dari seluruh anggota tarekat ini telah hadir bersama di saat itu.

Setelah kejadian di gua tadi, mereka melanjutkan perjalanan ke Madinah al-Munawwarah. Saat mereka mencapai Quba, suatu desa di dekat Madinah, di hari Senin di bulan Rabi’ul Awwal, mereka berhenti untuk beberapa hari. Di sana Nabi SAW membangun masjid pertamanya. Mereka melanjutkan perjalanan mereka di hari Jumat, setelah mendirikan Salat Jumat di Quba. Itu adalah Jama’ah Jumat pertama yang beliau dirikan. Beliau memasuki Madinah bersama sahabat beliau, di tengah-tengah teriakan takbir (ALLAHU AKBAR) dan tahmid (AL-HAMDU LILLAH) dan kegembiraan serta kebahagiaan yang meluap dari setiap orang yang hadir. Beliau bergerak ke arah mana unta beliau akhirnya berhenti, dan di sanalah kemudian beliau membangun masjid beliau dan rumah beliau. Beliau tinggal sebagai seorang tamu di rumah Abu Ayyub Al-Ansari RA sampai masjid beliau terbangun.

Saat Nabi SAW datang ke Madinah, Madinah sedang dipenuhi berbagai wabah. Begitu beliau tiba, seluruh wabah penyakit itu lenyap.

29 July 2008

Pembukaan Besar kepada Umat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta, September 2004


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Rajab adalah bulannya Allah SWT, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku,” demikian dikatakan Nabi SAW. Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram, di mana Allah SWT melarang hamba-Nya berperang, berkelahi, atau membunuh apapun.

Rajab adalah bulan di mana Allah SWT memanggil Nabi SAW ke Hadirat-Nya. Oleh karena itu bulan Rajab sangat penting, di mana Allah SWT menurunkan Rahmat-Nya pada kita semua. Allah SWT adalah Al-Rahman, Allah Yang Maha Pengasih. Al-Rahman juga bermakna bahwa segala sesuatu di alam semesta tercipta dari Nama-Nya Al-Rahman. Ketahuilah, dari sifat al-Rahman tersebut, Allah SWT menciptakan semua makhluk, termasuk langit dan bumi dan semuanya adalah untuk manusia. “Kuciptakan semua ini untuk hamba-hamba-Ku,” dan seluruh ciptaan-Nya berada di bawah kendali manusia. Dari sifat ar Rahman, Allah SWT memanggil Nabi SAW ke Hadirat-Nya dan menghiasinya dengan nama-Nya yang Indah dan mengirimkan kembali ke dunia untuk membimbing umat. Inilah tanda bahwa Allah SWT mencintai kita semua.

Ketika Nabi SAW melaksanakan perjalanannya menuju Hadirat Allah SWT, Dia telah mendandani beliau dengan nama-Nya. Hanya Allah SWT yang mengetahui berapa lama Nabi SAW berada di Hadirat-Nya. Ketika Isra Mi’raj tersebut kita mengetahui bahwa Nabi SAW hanya berjarak dua lengan di hadapan Allah SWT, dan ketika Allah SWT mengirimkan kembali Nabi SAW ke dunia, Allah SWT menghiasinya dengan Nama al-Rauf, Yang Maha Pengasih. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Aku adalah Qasim dan aku adalah Mahi,” ini adalah atribut-atribut beliau sebagaimana Allah SWT memberikan atribut tersebut kepada kekasih-Nya. Oleh karena itu Nabi SAW memiliki sifat menyayangi dan memaafkan. Nama al-Qasim hanya untuk Nabi SAW, tak seorang pun boleh memakai nama tersebut.

Al-Qasim sebagaimana atribut Allah SWT yang diberikan kepada Nabi SAW, dan hanya Nabi SAW yang memiliki otoritas untuk memakai nama itu, di mana dengan nama itu Nabi SAW menjalankan otoritasnya untuk membagi rahmat-Nya kepada alam semesta. Seperti kita saat ini menjalankan aktifitas adalah semata-mata berasal dari rahmat Allah SWT yang dibagikan oleh Nabi SAW.

Al-Mahi, Yang Maha Menghapus, Allah SWT memberikan dari sifat tersebut kepada Rasulullah SAW untuk menghapuskan dosa-dosa kita melalui syafaat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi SAW. Beliau mengambil dosa kita, seperti Allah SWT juga juga merubah kita dari sakit menjadi sembuh. “Aku adalah Thaa Haa,” Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada-Ku.” “Tha Haa maa anzalnaa alaykal Qur’ana li tasiqaa”. Apa arti di balik nama Thaa dan Haa? Hanya Allah SWT dan Muhammad SAW yang mengetahuinya, dan kalau Nabi SAW tahu, maka para awliya juga diberikan pengetahuan tentangnya oleh Nabi SAW. Kami telah menurunkan Al-Qur’an bukan untuk menjadi beban atau memberikan kesulitan kepadamu tetapi untuk mengingat-Ku, untuk menjadi hamba-Ku, untuk berdoa kepada-Ku, untuk membersihkan hamba-Ku dan sebagai Cahaya dalam hati mereka.

kaligrafi Muhammad SAW, Tha Haa, Tha Siin
(atas budi baik Sana Naveed, Muhammadanart)

Allah SWT mengirimkan Qur’an untuk menyiapkan umat, mengapa Allah SWT memanggil Nabi SAW pada tanggal 27 Rajab untuk Isra Mi’raj? Dan Allah SWT menurunkan Laylat ul-Qadar pada 27 Ramadan? Ada rahasia di balik tanggal tersebut. Mengapa tidak diturunkan pada tgl 25 atau 23? Laylat ul-Qadr, 27 Ramadan, dan Isra Mi’raj, 27 Rajab adalah sesuatu yg tetap. Kita berpuasa pada tanggal 27 Rajab. Setiap kita melewati 27 Rajab atau 27 Ramadan hati kita senang tetapi kita tak pernah bertanya? Awliya bertanya, “Mengapa Ya Allah SWT, apa Rahasia di balik tanggal 27 tersebut?” Dan Allah SWT memberi jawaban kepada mereka melalui Nabi SAW. “Setelah 27 adalah 28, dan alfabet Islam seluruhnya berjumlah 28 huruf, di mana huruf ke-28 adalah Ya”. Artinya pada malam ke-27 Allah SWT membawa Nabi SAW untuk Isra Mi’raj dan untuk mempersiapkan beliau untuk malam ke-28. Huruf ke-28 adalah huruf terakhir, yaitu “Ya”, yang berasal dari nama Nabi SAW, “Yasin”, atribut beliau yang paling istimewa.

Alif adalah huruf pertama dalam abjad dan merupakan simbol awal. Nama Allah SWT diawali dengan alif. “Dari Alif hingga Ya, Aku siapkan engkau, wahai Nabi SAW, untuk ke-28 Samudra Ilmu Allah SWT.” Allah SWT menyandangkan pakaian Ilmu Allah SWT kepada Nabi SAW. Sesuatu yang berasal dari akhirat dimulai dengan Alif, Islam dimulai dari huruf alif, Ihsan diawali dengan alif, Iman diawali dengan alif. Sementara Muhammad SAW, diawali dengan huruf mim. Islam yang diawali alif, menjadi Muslim yang diawali mim, Iman yang diawali alif menjadi Mukmin yang diawali mim, oleh sebab itu, di antara alif dan mim adalah area transisi di mana Allah SWT mempersiapkan Nabi SAW.

Huruf terakhir Ya merupakan nama awal Nabi SAW, Yasin. Yasin adalah jantungnya Al-Qur’an, Intisari Al-Qur’an, ketika manusia mati mereka membacakan surah Yasin (akhir huruf dalam abjad Islam dan akhir kehidupan dibacakan Yasin). Allah SWT berikan rahasia setiap huruf dari surat Yasin tersebut, di dalam setiap huruf Al-Quran berarti lebih dari 500.000 makna. Setiap alif bisa berarti berbagai macam makna sesuai tempatnya. Setiap huruf di dalamnya mempunyai arti-arti sendiri, setiap huruf seperti cahaya ilmu pengetahuan.

Tak semua hamba-Nya mengetahui rahasia ilmu tersebut, seperti perumpamaan bahwa Ilmu Nabi SAW tak setetes pun dari Samudra Ilmu Pengetahuan Allah SWT, dan ilmu Sahabat dibanding Nabi SAW seperti setetes dari samudra ilmu Nabi SAW dan ilmu awliya dibanding sahabat seperti setetes dari ilmu sahabat, demikian pula ilmu ulama dibanding ilmu awliya seperti setetes dari samudra ilmu awliyaullah.

Kita mengetahui bahwa ilmu kita sangatlah sedikit, kita tidak mengetahui hal itu semua, tetapi tetap saja kita arogan bahwa kita orang yang berilmu, congkak. Kita merasa diri kita orang penting, kita ingin orang mengetahui kita orang yang berilmu. Lebih baik bagi kalian bila kalian duduk di pojok, menghinakan diri dan merasa tak mengetahui apapun. Jangan membanggakan diri kalian di hadapan orang lain, karena ketika kalian membanggakan diri, maka Iblis segera masuk ke dalam diri kalian. Nabi SAW adalah manusia yang sangat merendahkan dan menghinakan diri di hadapan Allah SWT, sehingga Allah SWT mengangkat derajat beliau.

Jika seseorang bersifat rendah hati maka Allah SWT akan mengirimkan orang tersebut hamba-hamba-Nya yang terbaik dari para waliullah untuk membimbingnya. Tetapi kepada hamba-Nya yang arogan—takabur, Allah SWT pun mengirimkan orang-orang-Nya juga, dari segi kuantitas—banyak, tetapi mereka bukanlah hamba-hamba-Nya yang terbaik, para awliya-Nya. Kita boleh berbangga karena kita mencintai Nabi SAW, kita boleh bangga karena kita memeluk Islam, tetapi kita tidak boleh berbangga karena amal kita. Amal yang kita banggakan akan kembali kepada kita bila kita menyombongkan amal di hadapan orang lain atau di hadapan-Nya.

Seperti juga kita tahu nama-nama hewan, seperti keledai atau singa. Maka seperti Singa, ia memiliki ribuan nama yang sama, di Inggris disebut Lion, di Perancis Leon, ada berapa banyak bahasa di dunia ini? Bila di Cina saja ada ribuan bahasa. Maka singa pun memiliki begitu banyak nama. Begitu pula siapa namamu??!! Ketika orang menanyakan nama kita kita membuka KTP, Kartu nama, Oo..Sunarto, Suharto, Bambang. Kita bahkan kadang tak tahu siapa yang memberikan nama kita, siapa yang memberikan nama kalian, kita tak tahu nama kita sesungguhnya, hanya Allah SWT yang tahu nama kita sebenarnya. Allah SWT memberikan nama hanya kepada Muhammad SAW dan nabi-nabi yang tercantum di dalam Al-Quran. Tetapi kita tak mempunyai nama dan identitas itu. Nama kita hanya berasal dari orang tua kita. Kita tidak memiliki kejelasan status kita di dunia ini, kita tak memiliki nama, kita adalah nothing, tetapi tetap saja sombong dan membanggakan diri di hadapan mahluk maupun di hadapan- Nya.

“Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya”, bahkan saat ini pun kita tidak tahu apa nama kita. Mereka pikir diri mereka ulama, syekh, politisi. Wahai manusia letakkan dirimu serendah mungkin, janganlah sombong di hadapan mahluk-Nya bahkan di hadapan Allah SWT. Bila kita meletakkan diri kita serendah mungkin, maka Allah SWT akan mengangkat derajat kita. Ketika Allah SWT membuka hati hamba tersebut, maka hamba itu menjadi awliya-Nya, maka pada saat itu Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada para awliya-Nya. Wali-wali Allah SWT tidak pernah bersedih hati.

Jika kita berniat mencari wali Allah, maka kita pasti akan menemukan mereka. Mereka bisa datang melalui mimpi, atau melalui berbagai cara lain, tetapi kita harus mulai dengan niat untuk menemui mereka, dan ketika awliya berada di hadapan kita, jangan lepaskan kesempatan itu. Saya hanya seperti kalian, saya bukan wali, saya pun mencari wali, saya tidak pernah mengatakan bahwa diri saya adalah seorang wali, hasha! Saya memang berada di pintu seorang wali, Mawlana Syekh Nazim QS. Saya bukan apa-apa, selama 55 tahun saya mengikuti seorang wali besar, Sulthanul awliya Syekh Nazim QS, beliaulah yang membawa kita semua ke hadirat Nabi SAW. Ilmu yang saya berikan kepada kalian, berasal dari beliau. Mata tak mungkin berada di atas alis, tak pernah!! Dialah Syekh Nazim QS, pembimbing kita semua, Syekh kita semua, Sultan untuk kita semua. Kita semua adalah murid beliau. Jika beliau ingin membuka hati kita untuk berbicara maka beliau akan memberikan otoritasnya kepada hati kita dan kita bisa berbicara. Setiap orang senang mendapat buah-buahan segar, mereka tak suka dengan buah yang sudah busuk, buah yang tidak segar. Awliyaullah selalu mendapatkan buah yang segar untuk kalian, karena hati mereka selalu tersambung kepada para sahabat, Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Ali bin Abi Thalib RA, KW dan mereka mendapatkannya dari hati Rasulullah SAW.

Dengan kerendahan hati para awliya, maka Allah SWT memberi mereka ilmu untuk membimbing dan memperbaiki umat. Mereka tak perlu mempersiapkan makalah untuk bicara di hadapan orang-orang. Makalah untuk orang biasa, sedangkan ilmu awliya berasal langsung dari Nabi SAW. Makalah ulama, profesor tidaklah seperti buah yang segar tidak baru, sedangkan yang disampaikan awliya adalah informasi yang masih segar yang berasal dari Syekhnya dan itu semua berasal dari hati Rasulullah SAW.

Dengan jalan itu mereka selalu menerima informasi yang segar yang disampaikan kepada kita, informasi yang berguna untuk memenuhi kebutuhan saat itu juga. Syekh kita mempunyai begitu banyak wakil yang mempunyai otoritas untuk menyampaikan hal tersebut. Allah SWT memiliki 124.000 wali, setiap wali memiliki level yang berbeda, dari yang terendah hingga tertinggi. Semua wali dari yang terendah hingga tertinggi mampu melihat cahaya Rasulullah SAW, cahaya itu bersinar begitu terangnya. Cahaya itu selalu kontinu mengalir ke hati para awliya seperti air terjun. Janganlah kalian bayangkan bahwa cahaya hanya mempunyai 20 warna saja, tetapi bisa berjuta-juta warna.

Setiap wali melihat cahaya warna yang berbeda sesuai dengan levelnya masing-masing. Kadang-kadang ada wali yang tingkatannya terendah hanya bisa menangkap dua warna: biru dan merah saja, sementara yang lain hanya kuning dan hijau saja. Tetapi sebenarnya di antara dua cahaya tersebut ada berjuta-juta warna lainnya. Awliya, ketika melihat hati Nabi SAW mereka melihat cahaya. Tetapi awliya yang levelnya paling tinggi, wali yang memiliki level tertinggi dapat melihat jutaan cahaya, tetapi ia pun sangat rendah hati. Karena kerendahan hatinya itu, ia tidak mengatakan jutaan warna, jutaan informasi yang ia dapatkan dari hati Rasulullah SAW. Ia dapat melihat dan menyampaikan, ia bisa mengambil ilmu yang tersembunyi dari hati Nabi SAW. Di setiap jutaan waktu akan terjadi jutaan cahaya yang berbeda, begitu pula jutaan informasi yang berbeda.

Setiap wali diberi anugerah yang berbeda-beda, meskipun levelnya berbeda mereka memiliki penampilan yang sama. Sehingga kadang mereka yang berada di level terendah menyangka dirinya sama. Wali di level tertinggi atau terendah bisa menyerap informasi dari hati Rasulullah SAW untuk disampaikan kepada kita semua. Dari wali tertinggi yang memiliki jutaan cahaya, maupun yang terendah, yang hanya mampu menangkap satu atau 2 warna, penampilan mereka adalah sama. Setiap wali bisa saja mempunyai 1000 wakil untuk menyampaikan informasi dari hati Nabi SAW. Meskipun demikian setiap wali memiliki cahaya yang berbeda-beda, bisa saja wali di area ini hanya melihat warna merah, sementara yang lain biru dan lain-lain. Tetapi mereka terlihat sama walaupun sebenanrnya berbeda. Wali di level yang lebih rendah mengira bahwa dirinya sama dengan wali yang lain, tetapi wali di level yang lebih tinggi, mereka dapat mengetahui di mana posisi mereka sebenarnya.

Setiap wali mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk bicara. Meskipun demikian di hadapan Syekh Nazim QS mereka tampak sama, tetapi Syekh mengetahui kemampuan mereka, jadi kita jangan mencampur-adukkan mereka seolah-olah sama padahal mereka memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain sesuai levelnya masing-masing. Kemampuan ilmu itu berasal dari hati Mawlana Syekh Nazim QS, Sultan kita.

Mawlana Syekh mengatakan bahwa pada tanggal 27 Rajab akan terjadi pembukaan yang besar kepada umat. Setiap tiran, penguasa yang zalim akan kalah. Bukan hanya tiran dari golongan non muslim tetapi juga dari seluruh makhluk-Nya. Tiran non muslim maupun tiran muslim akan kalah, musnah, dan orang yang memperoleh pengampunan akan menggantikan posisi mereka.

Pembukaan ini dimulai pada tanggal 27 Rajab, dan pada tanggal 15 Syakban seluruh umat akan mengetahui informasi ini. Siapa pun yang menggunakan Islam untuk keuntungan mereka, akan dibersihkan satu per satu untuk kemunculan Sayyidina Imam Mahdi AS, tidak akan ada penundaan lagi. Penderitaan umat telah sangat berat. Dari informasi melalui hati Syekh Nazim QS, bulan Rajab ini adalah waktu yang sangat penting, awliyaullah menerima informasi bahwa pada tanggal 27 Rajab akan dimulai penghancuran terhadap para tirani tersebut.

Bisa saja ada kejadian-kejadian yang luar biasa besar di hadapan kita, kejadian yang tak pernah diperkirakan kita semua. Dan pada tanggal 15 Syakban umat akan menerima informasi apa yang sedang terjadi. Zaman ini adalah zamannya Imam Mahdi AS, banyak ulama yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan politik. Mereka akan dihancurkan satu per satu, tahap demi tahap. Bulan Rajab adalah pembalasan kepada para tiran tersebut.

Berbahagialah khususnya mereka yang telah melaksanakan khalwat. Mereka seperti bintang yang bersinar, dan menjadi yang baik di antara kita, peganglah tangan mereka.

Wa min Allah at Tawfiq

28 July 2008

Zikir di Bulan Rajab

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

4 Oktober 2001

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Rasulullah SAW telah menyebutkan segala hal yang akan terjadi. Beliau telah menyebutkan semua tanda yang akan muncul sebelum kiamat. Beliau berkata kepada para sahabat, “Aku melihat kesengsaraan datang sebagai suatu malam yang gelap...[1] Pada saat itu orang yang duduk lebih baik dari pada orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari pada orang yang berjalan. Orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang mengendarai kendaraan.”

Maksud hadis di atas berarti tinggal di rumah dan tidak pergi ke manapun. Jangan pergi ke warung kopi atau ke pusat perbelanjaan. Tidak masalah bila kalian harus pergi bekerja, tetapi kalian harus berangkat dari rumah ke tempat kerja kemudian dari tempat kerja langsung kembali ke rumah—tidak pergi ke mana-mana lagi.

Mawlana Syekh Hisyam QS bersama murid-murid di Amerika Serikat.

Dalam hadis tersebut kita mendengar sebuah gambaran mengenai apa yang akan terjadi. Siapa yang berada di dalam rumah akan selamat. Siapa yang berkeliaran di luar akan berada dalam kesulitan. Siapa yang duduk akan lebih aman. Dan siapa yang mengendarai kendaraannya akan berada dalam situasi yang paling buruk. Setiap hari setiap murid harus melakukan zikir:

700 kali astagfirullah wa atubu ilayh,
700 kali la hawla wa laa quwatta illa-billah il-‘aliiy il-‘azhiim
700 kali hasbunallah wa ni’mal-wakiil
700 kali bismillahir rahmaanir rahiim
700 kali Ya Wadud
5000 kali Allah, Allah dengan lidah
5000 kali Allah, Allah dalam hati
2000 kali shalawat
100 kali Surat al-Ikhlash

Jika kalian tidak sanggup melakukannya, paling tidak lakukan salat hifzh (maksudnya shalat memohon perlindungan) sebanyak 2 rakaat agar kita terlindung dari penderitaan yang datang dari atas maupun dari bawah. (Salat ini dilakukan setelah ‘Isya, rakaat pertama setelah al-Fatiha dibaca al-Ikhlash 2 kali dan rakaat kedua al-Ikhlash 1 kali)

Bagi orang yang menjaga adabnya di bulan Rajab, telah dijamin sebuah kunci untuk menerima inspirasi dan informasi surgawi. Jika kalian melakukan awrad (latihan spiritual) dengan baik maka kalian akan mendapatkan kunci itu. Kunci tersebut akan membuka hati kalian untuk bisa melihat dan mendengarkan apa yang sebelumnya tidak kalian perkirakan.

Semoga Allah SWT memafkan dan mendukung kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Sawfa tud’iiu narin min ardi Najd yasyraibu laha ‘anaq al-ibli bi Basra”—“Hari Akhir tidak akan datang sampai ada api yang dipancarkan dari Hijaz yang akan menerangi leher unta-unta di Basra.” [2]

Kita berpikir bahwa hal ini terjadi dengan adanya perang antara Kuwait dan Irak, tetapi ternyata terjadi sekarang. Panas dari api itu akan mencapai daerah antara Basra dan Najd atau Hijaz.

Saat itu tidak ada tempat yang aman di bumi ini, kecuali di Mekah, Madinah, dan Syam (Damaskus). Tetapi jika Allah SWT menghendaki, tak ada yang dapat melukai kalian. Bahkan jika sebuah bom atom jatuh tepat di samping kalian, kalian tidak akan terluka. Ada 7 kelompok orang-orang suci, Budala, Nujaba, Nuqaba, Awtad, Akhyar, Jinn yang akan melindungi orang-orang yang telah ditakdirkan untuk tetap hidup. Jika kalian tewas, maka kalian mendapat predikat syahid—dan akan masuk surga. Tetapi jika kalian hidup, kalian akan tinggal bersama Imam Mahdi AS, dan juga akan masuk surga. Ini lebih baik.

Kalian harus selalu melawan ego kalian, khususnya di bulan ini. Jika ego mengatakan pergi ke kiri, maka pergilah ke kanan, jika dia berkata “makan”, jangan makan; jika dia bilang “pergi belanja”, tinggallah di rumah.

Sekarang akan turun suatu tajali yang kuat, yang merupakan manifestasi dari Kekuatan Ilahi. Jangan pergi keluar—ke mall, tempat hiburan, ke pizza, menghabiskan waktu berjalan-jalan. Tinggallah di rumah, lakukan zikir dan baca Al-Qur’an.

Bagi wanita yang suka berjalan-jalan, sebaiknya sekarang tinggal di rumah. Sebab di bulan ini ada bahaya. Siapa yang tertangkap melakukan suatu kesalahan maka tajalli dari Jalal (Kekuatan Ilahi) akan menghukumnya. Jadi berhati-hatilah. Jangan membuat kesalahan.


Catatan kaki

[1] Abu Musa al-Asy’ari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sebelum jam-jam terakhir akan ada suatu huru-hara seperti suatu malam yang gelap di mana seseorang yang taat di pagi hari akan menjadi orang yang tidak taat di malam harinya, atau sebaliknya seorang yang taat di malam hari akan menjadi tidak patuh di pagi harinya. Pada masa itu siapa yang duduk akan lebih baik dari pada yang berdiri dan siapa yang berjalan akan lebih baik dari pada yang berlari. Jadi marilah kita tundukkan diri kita untuk berdoa. Jika ada orang yang datang kepada salah seorang di antara kamu, biarkan dia menjadi seperti lebih baik dari kedua anak Adam AS. (Sunan Abu Dawud, buku ke-35 “Kitab Al-Fitan Wa Al-Malahim” Nomor 4246)

[2] Abu Hurayra RA melaporkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hari Kiamat tidak akan datang sampai terdapat api yang berpijar di bumi Hijaz yang akan menerangi leher unta-unta di Basra. (Sahih Muslim, Buku ke-041, Nomor 6935)

07 July 2008

Perantaraan Wali

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kita harus gembira. Tak perlu bersedih. Allah SWT telah menciptakan kalian. Jika Dia tidak menciptakan kalian, kalian tidak akan pernah ada. Berusahalah untuk selalu bergembira dan puas terhadap kondisi yang telah digariskan Allah SWT kepada kalian. Jangan pernah berkeberatan, apa pun yang kalian jumpai dalam hidup ini. Jika kalian melihatnya dengan perspektif yang baik, kalian akan merasakan kebaikannya. Sebaliknya, jika kalian melihatnya dengan perspektif yang buruk, kalian juga akan mendapatkan keburukan dalam diri kalian.

Hari ini adalah hari kedua di bulan Rajab. Rasulullah SAW bersabda, “Rajab adalah bulan Allah SWT, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku.” Beliau mengatakan, “Syakban adalah bulanku,” berarti Allah SWT telah memberinya, salahiyya, kontrol terhadap seluruh umat manusia di bulan itu. Tidak ada malaikat yang dapat menulis sesuatu tentang kalian, tanpa bertanya kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana Allah SWT mencintai umat manusia dan menciptakan mereka dengan sempurna, begitu juga Rasulullah SAW diciptakan oleh Allah SWT dan diberikan kekuasaan itu terhadap seluruh umat ini untuk menjaga mereka agar tetap murni dan bersih. Oleh sebab itu Rasulullah SAW memerintahkan seluruh wali di seluruh dunia selama 24 jam untuk membantu menolongnya dalam membersihkan dan menyeimbangkan kebaikan dan keburukan dalam diri setiap orang.

Rahasia sufi bukanlah rahasia. Mereka hanya tampak rahasia bagi orang yang belum pernah mendengar sebelumnya. Kepada yang lainnya mereka sangat familiar sebab mereka selalu bersama Rasulullah SAW, dan selalu mendapat pengetahuan tingkat tinggi dari hatinya.

Untuk setiap huruf dalam al-Qur’an, Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW 12.000 Samudra Pengetahuan. Jangan berpikir bahwa, “alif” yang merupakan salah satu huruf dalam al-Qur’an hanya sebagai huruf tunggal, jika diulang maka itu dianggap sebagai huruf baru. Oleh sebab itu, setiap munculnya satu huruf alfabet dalam al-Qur’an terdapat 12.000 Samudra Pengetahuan bersamanya. Semua yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW kepada kita, yaitu berupa pengetahuan yang mengikuti perintah Allah SWT bagaikan tetesan dalam samudra. Allah SWT menjaga apa yang tertinggal agar nanti hati manusia dapat menemukannya, dengan tubuh fisik ini kita tidak dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Abu Hurayra RA tidak dapat menerangkan semua yang diberikan oleh Rasulullah SAW ke dalam hatinya. Mengapa mereka akan memotong lehernya? Karena mereka cemburu.

Cendikiawan Muslim, Kristen, Yahudi—cemburu terhadap surga. Mereka tidak ingin seluruh umat manusia memasukinya, hanya orang-orang dari golongan mereka saja yang berhak memasukinya. Allah SWT berkata, tidak ada diskriminasi, seluruh umat manusia adalah hamba-Nya dan dengan demikian sama derajatnya—Muslim, Hindu, Yahudi, Kristen dan semua orang. Kita sebagai pengikut Rasulullah SAW setuju dengan sabdanya, bahwa seluruh umat manusia adalah sama. Untuk mengilustrasikannnya, berikut ini ada sebuah kisah yang berasal dari Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Syekh Nazim al-Haqqani QS. Cerita ini termasuk salah satu rahasia yang tersembunyi, yang akan dibuka pada saat datangnya Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS, Insya Allah.

Rasulullah SAW memerintahkan Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW, bahwa segera setelah beliau wafat, sebelum pemakaman dan setelah disalatkan, jubahnya harus diserahkan kepada Sayyidina Uwais al-Qarani RA sebab beliau harus memegang dan menjaga jubah tersebut. Rasulullah SAW juga berkata kepada mereka untuk menyerahkan diri mereka sebagai amanat darinya. Mereka berdua keheranan, bagaimana mereka sebagai sahabat terbaik Rasulullah SAW menyerahkan diri mereka kepada Uwais RA, dan siapa pula Uwais RA yang tidak pernah bertemu Rasulullah SAW? Mengapa dia tidak pernah muncul? Karena ibunya berkata kepadanya, “Jangan tinggalkan aku sendiri, jangan pergi.” Jadi dia tidak pergi.

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, beliau sangat banyak mengeluarkan keringat. Jika kalian melihat orang meninggal kalian akan menyaksikan orang itu mengeluarkan banyak keringat, banyak sekali air yang keluar dari tubuhnya. Rasulullah SAW adalah yang paling banyak mengeluarkan keringat dibandingkan seluruh orang di dunia ini. Siapa saja dapat dengan mudah memeras keringat dari jubah beliau, karena jubah itu benar-benar dibasahi air. Kemudian Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW melepaskan jubah Rasulullah SAW dan pergi ke kampung Uwais RA, tempat yang telah disebutkan oleh Rasulullah SAW. Di sana mereka bertanya di mana Uwais al-Qarani RA, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana Uwais al-Qarani RA berada. Sayyidina ‘Umar RA mulai jengkel—bagaimana Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk menemukan seseorang yang tidak mungkin ditemukan? Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Wahai ‘Umar RA, jangan ada keraguan di hatimu, tetapi tunggu dan bersabarlah. Mari kita lihat masalahnya dengan cermat. Jika Rasulullah SAW berkata bahwa sesuatu itu ada, pastilah dia ada dan kita akan menemukan Uwais RA, insya Allah.”

Setelah mereka bertanya lebih banyak lagi, mereka akhirnya menemukan Sayyidina Uwais al-Qarani RA sedang duduk di batu dengan tongkat di tangannya. Ibunya berada di sampingnya. Rupanya Uwais RA adalah seorang pengembala ternak. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “’Abdullah (hamba Allah SWT)” “Siapa nama keluargamu?” “’Abdullah”—“Aku juga ‘Abdullah” kata Sayyidina ‘Umar RA yang mulai bingung. “Siapa nama aslimu?” “’Abdullah adalah nama asliku.” Lalu Sayyidina ‘Umar RA menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW dan berkata, “Kita tidak menemukan orang yang cocok. Namanya ‘Abdullah, bagaimana Rasulullah SAW berkata kepada kita bahwa kita dapat menemukan Uwais al-Qarani RA?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata kepada orang itu, “Wahai ‘Abdullah, Aku menerima kenyataan bahwa namamu adalah ‘Abdullah, tetapi bagaimana orang biasa memanggilmu?” Dia menjawab, “Uwais al-Qarani RA.”

Nama asli setiap orang adalah ‘Abdullah, hamba Allah SWT. Ke mana pun kalian pergi, setiap orang memiliki 7 nama dalam pelat-pelat yang terpelihara (Loh Mahfuzh), salah satunya adalah nama itu. Ini adalah nikmat Allah SWT yang telah dijamin bagi semua orang, yaitu bahwa mereka adalah hamba Allah SWT.

Sayyidina ‘Umar RA bergembira. Beberapa saat kemudian Sayyidina Uwais RA berkata, “Berikan amanat yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadaku.” Bagaimana dia mengetahui bahwa Rasulullah SAW mengirim jubahnya untuknya, padahal dia tidak pernah bertemu dengannya? Dia mengambil jubah itu dan meletakkan di atas kepalanya. Dia lalu melihat Sayyidina ‘Umar RA dan bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang ada di jubah ini?” Sayyidina ‘Umar RA menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sayyidina Uwais al-Qarani RA menjawab, “Jubah ini berisi rahasia seluruh umat manusia, dan Rasulullah SAW memberikan tanggung jawab itu di pundakku.”

Allah SWT telah menciptakan dunia ini dan tidak akan meninggalkannya. Dia mengirimkan utusan dan wali ke dunia ini untuk menjaga agar manusia tetap bersih dari dosa dan kesalahan. Allah SWT tidak menciptakan kita untuk dibuang ke neraka. Dia menciptakan kita untuk ditempatkan di surga. Dia menciptakan kita karena Dia mencintai kita. Jangan berpikir bahwa Dia ingin menghukum manusia. Dia menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang yang lengkap. Bagaimana seorang ibu mencintai anaknya? Ini adalah sebuah tetesan dalam Samudra Cinta Allah SWT. Dia akan membersihkan setiap orang dan menghukumnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hal ini berjalan dengan mekanisme yang tidak kita ketahui.

Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Bagaimana rahmat bagi seluruh umat manusia berada di jubah ini?” Sayyidina Uwais RA menjawab, “Wahai ‘Umar RA pernahkah kalian melihat Rasulullah SAW?” Dia menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Aku selalu bersamanya setiap hari.” “Lukiskan beliau kepadaku!”, kata Sayyidina Uwais RA. Lalu Sayyidina ‘Umar RA mulai menyebutkan ciri-ciri Rasulullah SAW, mulai dari raut mukanya, warna matanya, dan seterusnya. “Semua orang juga mengenal beliau seperti itu. Engkau tidak melihat Rasulullah SAW yang sesungguhnya. Bagaimana denganmu ‘Ali RA, KW? Pernahkah engkau melihat Rasulullah SAW?” tanya Sayyidina Uwais RA. “Aku melihatnya sekali. Beliau memanggilku dan berkata, ‘Wahai ‘Ali RA, KW lihatlah diriku mulai dari perut ke atas,’ Aku melihatnya dan menemukan bahwa segalanya sampai ke lehernya berada di bawah singgasana Allah SWT, tetapi Aku tidak dapat melihat lehernya. Dan beliau menyuruhku untuk melihat dari perut ke bawah, Aku melihat dan menemukan bahwa lututnya mencapai bumi ketujuh, tetapi Aku tidak dapat melihat kakinya. Lalu beliau menyuruhku untuk melihat seluruhnya, dan Aku melihat segalanya lenyap kecuali Rasulullah SAW sendiri. Beliau adalah segalanya.”

Ini berarti jika Sayyidina ‘Ali RA, KW dapat melihat di mana leher Rasulullah SAW, dia akan seperti Rasulullah SAW. Tidak ada yang bisa menyamainya, karena itu adalah batas baginya. Sayyidina ‘Ali RA, KW juga tidak bisa melihat lututnya, dan itu telah mencapai bumi ketujuh. Tidak ada yang tahu apa dan di mana bumi ketujuh itu. Ini adalah suatu rahasia. “Beliau adalah segalanya,” merujuk pada apa yang kita bicarakan (pada pertemuan) sebelumnya, sehubungan dengan peciptaan kita oleh Allah SWT dengan 3 macam cahaya, yaitu: Cahaya Ilahi, Cahaya Rasulullah SAW, dan Cahaya Adam AS, dan berimplikasi dengan ayat al-Qur’an yang menyebutkan penghormatan Allah SWT terhadap umat manusia, [QS al-Isra’, 17: 70]. Bagaimana Allah SWT memuliakan umat manusia adalah suatu rahasia, tetapi dari rahasia itu kita dapat mengerti bahwa Allah SWT telah memuliakan kita dengan menciptakan kita dari ketiga cahaya tersebut.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Wahai ‘Ali RA, KW, engkau melihat Rasulullah SAW sekali.” Sayyidina ‘Ali RA, KW membalas, “Pernahkah engkau melihat beliau?” “Secara fisik belum pernah, tetapi secara spiritual Aku selalu bersamanya selama 24 jam,” jawabnya. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Lalu apa yang ada dalam jubah itu?” Beliau berkata, “Dengarkan baik-baik! Jika Aku harus duduk denganmu dan umatmu, mereka akan memotong leherku. Itulah sebabnya Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk menjauhimu dan bersembunyi. Jika Aku bersamamu dan Aku menceritakan semua rahasia ini, tak seorang pun akan menerima dan memahaminya. Tetapi suatu waktu nanti, pada saat akhir zaman seluruh rahasia ini akan dibuka, yaitu pada saat kedatangan Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS.

Masa tersebut adalah sekarang, sebab seluruh tanda dan indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah SAW telah ada. Seluruh wali juga menyatakan hal yang sama, bahwa di abad ini Imam Mahdi AS akan datang, begitu pula dengan Nabi ‘Isa AS. Kita semua berada di akhir dunia ini. Tidak banyak waktu tersisa. Setiap orang akan lebih suka hidup dengan cara yang mereka suka, tetapi pada kenyataannya mereka akan menjalani hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Umar RA, “Wahai ‘Umar RA sebelum Rasulullah SAW lahir, beliau sudah menyebut ‘umatku, umatku’ dalam rahim ibunya, ketika beliau lahir juga disebutkan ‘umatku, umatku’ dan demikian pula ketika beliau meninggal.” Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT, “Aku ingin menjadi perantara bagi umatku, Aku ingin menolong umat manusia, Aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada umat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kontrol dan kekuatan ini.” Ketika beliau wafat, Rasulullah SAW menolak untuk wafat kecuali dengan 1 syarat, yaitu beliau harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh umat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah SWT, “Aku akan datang ke Hadirat-Mu, kalau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah SWT menjawab, “Terserah padamu!”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil semua makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap roh secara perorangan. Mereka datang ke hadiratnya dan menerima beliau sebagai rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesali kesalahan mereka. Rasulullah SAW tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah SWT. Dengan pengampunan dari Allah SWT tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu roh manusia.

“Jubah itu berisi tetesan keringat, atau simbol, atau roh dari umat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah SAW. Beliau menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka.“ Jubah ini akan diteruskan lewat Mata Rantai Emas dari satu wali ke wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutkan akan diserahkan kepada Imam Mahdi AS ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Nabi ‘Isa AS pada saat kemunculannya.

Sayyidina ‘Umar RA menangis dan berkata, “Orang bodoh macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah Aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, wahai ‘Ali RA, KW, mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang engkau lakukan.” Setelah kejadian itu Sayyidina ‘Umar RA menangis terus selama hidupnya.

Bulan Rajab ini tidak akan berakhir sampai setiap orang di dunia ini dibersihkan dari dosa-dosanya dan cahaya ditempatkan dalam hatinya. Kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk membersihkan hati umat manusia juga diberikan kepada para awliya. Wali-wali tersebut adalah pembantu bagi Rasulullah SAW di bulan ini. Itulah sebabnya mereka sibuk di bulan Rajab. Mereka tidak berbicara kepada orang-orang. Mereka menutup pintu mereka dan duduk di ruangannya, tidak keluar, terus-menerus hanya memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan umat manusia.


Mas Kawin Fatima az-Zahra AS

Putri Rasulullah SAW, Siti Fatima az-Zahra’ AS ketika dia melihat ayahnya terus-menerus menyebut ‘umatku’, dia juga ingin melakukan sesuatu untuk kepentingan umat. Lihat dan perhatikanlah bagaimana para wali berusaha untuk menyelamatkan umat manusia dan mencegah mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Ketika Allah SWT memerintahkan untuk menikahkan putrinya kepada seseorang, Rasulullah SAW memanggil semua sahabatnya dan berkata kepada mereka, “Allah SWT telah memerintahkan Aku malam ini untuk mengatakan bahwa barang siapa yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir di malam ini akan dinikahkan dengan putriku Fatima AS.”

Malam itu seluruh sahabat berkumpul di masjid dan berusaha membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir, kecuali Sayyidina ‘Ali RA, KW yang pulang ke rumah dan tidur. Ketika Bilal RA mengumandangkan azan untuk shalat Subuh, seluruhnya datang, Rasulullah SAW pun hadir di sana. Setelah selesai shalat beliau bertanya, “Siapa yang menyelesaikan al-Qur’an tadi malam sehingga Aku dapat menikahkannya dengan putriku Fatima AS?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan beliau, sebab sangat sulit untuk menyelesaikan 30 juz hanya dalam waktu 7 atau 8 jam. Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku menyelesaikannya.” Mereka melihatnya dengan iri dan berkata, “Bagaimana engkau menyelesaikannya? Engkau tidur semalaman.” Dia berkata, “Tidak, Aku menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir.” Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Siapa saksimu?” Sayyidina Ali’ RA, KW menjawab, “Allah SWT saksiku, dan engkau Ya Rasulullah SAW, adalah saksiku bahwa Aku telah menyelesaikannya.”

Sekarang dengarkan baik-baik karena Mawlana Syekh Nazim QS sangat menekankan hal ini. Rasulullah SAW sebagaimana yang kalian ketahui tidak pernah memperlihatkan bahwa beliau mengetahui sesuatu terjadi di luar batas normal, sebelum Jibril AS memberitahukannya. Oleh sebab itu beliau menunggu datangnya inspirasi dari malaikat Jibril AS. Akhirnya malaikat Jibril AS datang dan berkata, “Allah SWT berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah berkata benar dan bahwa dia telah menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir, jadi tanyalah apa yang dilakukannya.” Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, “Sekarang malaikat Jibril AS telah datang kepadaku dan berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an dan Allah SWT adalah saksinya. Dengan demikian Aku juga menjadi saksinya, dan Aku bertanya kepada ‘Ali RA, KW apa yang telah dibacanya malam itu?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku membaca Asy-hadu an la ilaha illallah wa asy-hadu anna Muhammadun Rasulullah 3 kali, lalu Qul huwallahu Ahad 3 kali, lalu Qul A’udzu bi rabbil falaq 1 kali dan Qul a’udzu bi rabbin nas 1 kali, dan La ilaha illahllah 10 kali serta Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim 10 kali.”

Rasulullah SAW berkata, “Sebagaimana Allah SWT telah menjadi saksi bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an, Aku menyaksikan juga hal ini, bahwa jika kalian membaca apa yang telah kita dengar dari ‘Ali RA, KW berarti kalian telah menyelesaikan al-Qur’an.” Pada saat itu juga keluar hadis yang menyatakan bila seseorang membaca surat al-Ikhlash 3 kali, seolah-olah dia telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Membaca surat ini setiap hari paling lama hanya menghabiskan waktu 2 menit, tetapi seolah-olah kalian telah membaca seluruh al-Qur’an. Orang yang tidak tahu duduk, mencoba membaca dan menyelesaikan al-Qur’an dengan bangga, tetapi mereka tidak dapat menyelesaikannya. Kalian dapat melakukan hal yang ringan ini dan menyelesaikannya, seolah-olah kalian telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Apa lagi yang kalian inginkan? Demikialah, akhirnya Fatima AS menikahi ‘Ali RA, KW.

Lihatlah pernikahan Fatima AS itu, dan jangan katakan bahwa tidak ada kebebasan bagi wanita dalam Islam. Kalian akan salah. Allah SWT telah memberikan kebebasan dan persamaan kepada pria maupun wanita. Mereka dapat memberikan pendapat mereka dan memberikan kesimpulannya sendiri. Bahkan Rasulullah SAW menanyakan dulu kepada putrinya, dan berkata kepada para Sahabat, “Aku harus menanyakan putriku apakah dia menerima pernikahan ini atau tidak, itu adalah keputusannya. Orang-orang yang tidak mengerti sekarang menuduh bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita. Inilah yang mereka katakan dan kita tidak harus mempercayainya. Kita percaya terhadap apa yang kita baca dan kita dengar dari Rasulullah SAW. Beliau memberikan persamaan, begitu pula dengan Allah SWT. Wanita mempunyai hak yang sama dengan pria. Inilah yang kita yakini, dan khususnya orang Amerika harus waspada dengan pemikiran bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita.

Rasulullah SAW bertanya kepada Fatima AS, “Wahai Fatima AS, apakah engkau menerima ‘Ali RA, KW sebagai suamimu?” Dia berkata tidak. Seluruh sahabat menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW, lalu Fatima AS, dan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merasakan mukanya memerah, mengapa Fatima AS berkata tidak? Apakah dia mencintai orang lain? Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang harus dikatakan, dan malaikat Jibril AS datang dan berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru mengambil keputusan tentang hal ini. Allah SWT berpesan untuk menanyakan kepada Fatima AS mengapa dia tidak menerima pernikahannya.” Rasulullah SAW berbalik kepada Siti Fatima AS dan bertanya, “Ya Fatima AS, engkau berkata tidak, tidak mengapa, ini adalah keputusanmu. Tetapi bisakah Aku mengtahui mengapa engkau menolaknya?” Dia berkata, “Aku hanya berkata tidak karena Aku tidak menerima kecuali dengan satu persyaratan. Ini bukan soal ‘Ali RA, KW tetapi berhubungan denganku. Jika engkau mengabulkan persyaratan itu, Aku akan menerimanya, jika tidak Aku tidak akan menikah dengan ‘Ali RA, KW.” Sekali lagi, malaikat Jibril AS datang kepada Rasulullah SAW, dan berkata, “Allah SWT memerintahkanmu untuk menanyakan apa persyaratan itu.” Sekarang perhatikan apa yang telah ditanamkan Allah SWT dalam hati Fatima AS, dan pertimbangkan kebaikan dan posisi wanita dalam Islam.

Rasulullah SAW berkata, “Ya Fatima AS apa yang menjadi syaratmu itu?” Dia berkata, itu sangat mudah. Jika engkau dan Allah SWT menerima, Aku menerimanya. Jika Allah SWT tidak menerimanya, Aku juga menolak untuk menikah. Ketika engkau datang ke dunia ini, engkau berkata, ‘umatku, umatku!’ dan selama hidupmu, siang dan malam, Aku mendengarmu di dalam rumah selalu memohon, ‘Umatku, Ya Allah SWT! Izinkan Aku untuk membawa umatku kepada-Mu Ya Allah SWT! Maafkanlah mereka! Murnikanlah mereka! Hapuskanlah dosa-dosa mereka, beban mereka dan kesulitan mereka!’ Aku mendengarmu, dan Aku tahu betapa menderitanya engkau untuk umatmu. Dan Aku tahu dari apa yang telah engkau ucapkan bahwa ketika engkau meninggal, engkau akan tetap mengucapkankan ‘umatku!’ kepada Allah SWT, juga di dalam kuburmu, dan di Hari Pembalasan nanti.

“Umatku” berarti seluruh umat manusia. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia—tidak hanya untuk muslim. Salah besar untuk menafsirkan kata umatku dengan cara demikian. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia. Pada saat itu tidak ada muslim dan beliau datang untuk seluruh umat manusia, Kristen, Yahudi dan penyembah berhala dari masa Jahiliyah. Orang-orang yang mempercayai beliau disebut muslim, mereka juga dikenal dengan “Ummatul Ijaba,” artinya umat bagi mereka yang menerima Rasulullah SAW. Mereka yang tidak mempercayainya disebut “Ummatud da’wa,” artinya umat (yang telah diberi) pesan, mereka berada di sisi luar, tetapi tetap saja Rasulullah SAW datang kepada mereka, dengan demikian mereka juga adalah umatnya.

Fatima AS melanjutkan, “Sejak Aku melihatmu—wahai Ayahku—sangat menderita untuk umatmu, dan karena cinta kepada umatmu juga tumbuh dalam hatiku, Aku menginginkan umatmu sebagai mas kawinku. Jika engkau menerimanya, Aku akan menikahi ‘Ali RA, KW.” Dia meminta seluruh umat Rasulullah SAW—Yahudi, Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, semua orang tanpa diskriminasi. “Aku menginginkan mereka sebagai mas kawinku agar Aku dapat menerimanya saat Aku berada di Hari Pembalasan nanti, dan menerima mas kawin itu dari Allah SWT, sehingga Aku bisa memasukkan mereka ke dalam surgaku. Jika engkau tidak menerimanya, Aku tidak akan menikahi ‘Ali RA, KW.”

Apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah SAW? Beliau tidak bisa memberikan mas kawin semacam itu, karena itu tidak berada di tangannya. Beliau menunggu kedatangan Jibril AS, tetapi malaikat Jibril AS tidak datang dengan segera. Dia membiarkan Rasulullah SAW menunggu beberapa saat, lalu datang dan mengatakan, “Allah SWT menyampaikan Salam-Nya kepadamu, dan menerima permintaan Fatima AS, dan memberikan seluruh umat manusia sebagai mas kawin untuk menikahi ‘Ali RA, KW.” Dengan segera Rasulullah SAW bangkit dan salat syukur 2 rakaat untuk berterima kasih kepada Allah SWT.

Fatima AS tidak berkata, “Aku menginginkan uang atau perhiasan,” sebagaimana wanita sekarang, pria berusaha untuk menikahi gadis yang kaya dan sebaliknya. Dia hanya melihat umat Rasulullah SAW. Tidak ada satu pun yang akan berada di luar mas kawinnya, karena jika Allah SWT mengeluarkan satu orang saja, itu akan berarti dia telah ‘berzina’ dengan ‘Ali. Oleh sebab itu, dia akan mengambil seluruh umat manusia di bawah sayapnya dan mereka akan masuk surga bersamanya.

Ini berasal dari kekuatan satu orang wanita muslim. Dia membawa seluruh orang bersamanya untuk masuk surga. Apakah kalian berpikir seseorang akan tertinggal di luar? Karena dia, tak seorang pun akan tertinggal di luar. Bagaimana dengan sebagian besar wanita dalam Islam? Apa yang akan menjadi kekuatan mereka? Bagaimana dengan para wali? Bagaimana dengan rasul-rasul? Itulah sebabnya Allah SWT menciptakan umat manusia bersih, dan Dia menjaga tetap bersih dengan kekuatan seperti itu, dan sebagaimana Sayyidatina Fatima AS, Sayyidina ‘Ali RA, KW, Sayyidina ‘Umar RA, Rasulullah SAW, Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim QS, dan para wali dari Tarekat Naqsybandi—menjaga setiap orang agar tetap bersih dan murni.

Oleh sebab itu bergembiralah, puaslah dengan yang Allah SWT berikan kepada kalian. Jika kalian bergembira dan puas, kalian akan menemukan kegembiraan dan kepuasan sepanjang hidup kalian.

Wa min Allah at tawfiq

© 1993, Haqqani Islamic Trust
7007 Denton Hill

Fenton, MI 48430