Showing posts with label Secrets of The Heart. Show all posts
Showing posts with label Secrets of The Heart. Show all posts

18 December 2008

Mata Rantai Emas Tarekat Naqsybandi

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Yang menjadi judul dari setiap pelajaran adalah “Athi’ullaha wa athi’ur rasula wa ulil amri minkum” [An-Nisaa: 59].  Kalian harus mematuhi Allah SWT, patuh kepada Rasulullah SAW dan para pemimpin kalian.  Dengan mematuhi Rasulullah SAW, berarti kalian mematuhi Allah SWT.  Oleh sebab itu jagalah agar Tuhan dan Rasulullah SAW selalu berada dalam hati kalian, dan bila kalian mematuhi guru kalian, berarti kalian mematuhi Rasulullah SAW. 

Keberadaan seorang guru sangat penting dan setiap orang harus mempunyai seorang guru.  Tanpa guru, tak seorang pun dapat mengalami kemajuan dan tak seorang pun bisa menemukan jejak dan jalur yang harus dituju.  Bahkan Rasulullah SAW dan seluruh rasul yang diutus Allah SWT ke dunia ini juga mempunyai guru.  Mereka mempunyai Jibril AS sebagai guru mereka.  Itulah sebabnya kita harus mempunyai seorang guru yang akan menunjukkan jalan kepada Rasulullah SAW dan seterusnya kepada Allah SWT .  Jangan berpikir bahwa kalian dapat mencapai suatu tempat tanpa seorang guru, mustahil.  Bila kalian menempuh jalan sendiri, kalian tidak akan mencapai suatu tempat karena jika kalian kehilangan jejak, kalian akan benar-benar tersesat.  Oleh sebab itu gunakanlah seorang pemandu yang mengetahui jalan yang kalian tempuh, yaitu orang yang pernah melalui jalan itu sebelumnya, sehingga dia menjadi berpengalaman.  Dia akan mengantar kalian dan membimbing kalian langsung menuju tujuan kalian tanpa pergi ke sana ke mari, atau ke suatu tempat yang bisa menyesatkan kalian. 

Itulah sebabnya mengapa kita mempunyai Mata Rantai Emas yang merupakan mata rantai guru-guru yang sambung-menyambung dan kembali secara langsung, tanpa interupsi kepada Rasulullah SAW.  Inilah yang kita butuhkan, suatu jalinan langsung.  Kita tidak menginginkan suatu mata rantai yang terputus di suatu tempat.  Suatu pipa yang tertanam di dalam tanah dan membawa air dari satu desa ke desa yang lain harus benar-benar terjalin dengan baik.  Jika terdapat sebuah lubang di suatu tempat, air itu tidak akan sampai.  Jika mata rantai wali itu terputus, kalian tidak akan sampai kepada Rasulullah SAW. 

Beberapa orang mengatakan, “Kami adalah pemeluk Budha, Hindu, Kristen, Judaisme, atau Yoga,” atau suatu bentuk agama dan kepercayaan lainnya.  Jika kalian bertanya kepada mereka, “Siapa guru kalian?”  Mereka akan menjawab, “si Anu dan Anu,”  lalu siapa guru dari si Anu dan Anu tadi?  Sekarang kami bukannya ingin menentang suatu agama atau kepercayaan, karena semuanya itu akan mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing, tetapi mengertilah apa yang kami tanyakan, siapa guru dari guru kalian tadi? Orang itu tidak akan tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.  Seseorang mungkin akan menjawab, “Kepercayaannya berasal dari ajaran mistik dari leluhur mereka yang telah berusia 2.000, 3.000, atau 6.000 tahun.”  Lalu bagaimana kondisi “pipanya” dalam kurun waktu ribuan tahun itu?  Siapa guru-guru yang membentuknya, guru-guru dan guru besar yang meneruskannya?  Tidak ada yang mengetahuinya, mereka hanya mengenal dua, tiga atau empat guru, setelah itu tidak ada lagi. 

Sebuah pohon yang tidak berakar tidak akan menghasilkan buah.  Pohon yang perakarannya tidak kuat akan mudah diterpa angin karena fondasinya sangat lemah.  Seorang guru tidak boleh “mengaitkan diri,” begitu saja tanpa orang-orang mengetahui siapa gurunya, siapa guru-guru sebelumnya sampai guru yang mendirikan jalur tersebut.  Itulah sebabnya guru-guru sufi merupakan guru-guru yang saling terhubung dan merupakan guru-guru terkuat di dunia, mereka mempunyai hubungan yang benar, mereka mengetahui para leluhur mereka.  Jika kalian tidak mengetahui leluhur kalian, maka kalian tidak akan terhubung ke mana-mana atau tidak mengetahui ke mana kalian terhubung. 

Dari Budha hingga sekarang, bisakah seseorang menghitung jumlah guru-gurunya?  Atau dalam agama Hindu? Bagaimana dengan agama Sikh? Atau filosofi China?  Jelaskan mengenai sekuen guru-guru mereka, atau paling tidak sebutkan nama-nama mereka sejak 3.000 tahun yang lalu.  Kami menginginkan mata rantai yang tidak terputus, tanpa ada satu yang hilang.  Kalian tidak akan menemukan mata rantai seperti itu, bahkan dalam spiritualitas Kristen atau filosofi Yahudi, kalian hanya bisa menemukannya dalam sufisme.  Dan tanpa mata rantai seperti itu kalian tidak bisa pergi ke mana-mana.  Oleh sebab itu kalian membutuhkan guru sufi untuk mengantarkan kalian menuju tujuan masing-masing.  

Ini adalah pengetahuan yang diambil dari hati Sayyidina Muhammad SAW dan dibawakan melalui mata rantai guru-guru tersebut.  Kalian tidak bisa menemukannnya di buku apa pun.  

Grandsyaikh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS -- semoga Allah SWT memberkati rahasianya -- berkata bahwa beberapa saat setelah Rasulullah SAW dilahirkan, beliau diambil oleh malaikat dari tangan ibunya. Dalam sekejap mereka sampai di Samudra al-Hayy.  Allah SWT mempunyai 99 Atribut, dan masing-masing merupakan Samudra Pengetahuan yang sangat luas sehingga tak seorang pun dapat memahaminya.  Salah satu Samudra itu adalah Samudra al-Hayy, Yang Maha Hidup.  Siapa pun yang mengetahui rahasia Nama itu, maka dia tidak akan mati.  Dia akan hidup selamanya--bukan dia sendiri, melainkan bersama setiap orang, karena setiap orang hidup melalui cahaya Ilahi dalam hatinya.  Ketika kalian berenang dalam Atribut Nama Ilahi tersebut, itu berarti kalian mempunyai cahaya itu sehingga kalian akan berada dalam hati setiap orang, dan mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap orang.  Itulah tempat di mana Rasulullah SAW diambil oleh para malaikat yang diperintahkan untuk membersihkan hatinya dalam “Ma’ul Hayat,” Air Kehidupan.  Segera setelah mereka meletakkannya dalam Air Kehidupan, beliau dengan segera memiliki dan dihiasi dengan “An-Nur al-Ilahi” Cahaya Ilahi.  Dan setelah beliau dihiasi dengan Cahaya Ilahi tersebut, segalanya menjadi terbuka baginya, tidak ada lagi hijab yang tersisa.  Selanjutnya Rasulullah SAW dihiasi dengan Samudra Kekuatan Ilahi, “Bahrul Qudra.” 

Oleh sebab itu ketika keluar dari Ma’ul Hayat, Rasulullah SAW menerima tiga Atribut, yaitu: pertama, beliau dibersihkan dengan Air Kehidupan dan diberikan kehidupan yang abadi.  Kedua, beliau menerima Cahaya Ilahi.  Pada saat itu, sebagaima yang telah kami katakan, beliau mampu merasakan apa yang dirasakan oleh setiap orang dan berada dalam hati setiap orang.  Itulah arti dari ayat, “Wa’lamuu anna fikum rasuulullah,” “Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW ada bersamamu, di antara kalian dan dalam dirimu” [al-Hujurat: 7], karena beliau telah dihiasi dengan Cahaya Ilahi tersebut.  Itulah sebabnya Rasulullah SAW dapat mengetahui apa yang kalian rasakan, bagaimana masa depan kalian, apa yang kalian lakukan, dan apa yang akan terjadi baik di sini maupun di hari kemudian.  Allah SWT memberinya kekuatan itu. 

Yang ketiga, Rasulullah SAW menerima Kekuatan Ilahi dari Samudra Kekuatan Ilahi.  Semua ini bersumber pada suatu pengetahuan tingkat tinggi dan harus dipahami dengan seksama.  Itu adalah atribut dari “Bahrul Qudra,” Samudra Kekuatan, yang pernah diminta oleh Nabi Musa AS namun tidak diberikan oleh Allah SWT.  Nabi Musa AS meminta agar Allah SWT memberinya kekuatan dari Samudra Kekuatan agar bisa berkata kepada sesuatu, “Jadilah!” dan jadilah dia, Allah SWT berkata, “Tidak, lihatlah gunung itu, Aku akan memberikan cahaya kepada gunung itu.  Jika gunung itu tetap berdiri di tempatnya, engkau akan diberikan kekuatan itu, tetapi jika gunung itu melebur atau hancur, engkau tidak bisa menerima kekuatan itu, karena engkau pun akan hancur.”  Dan ketika Allah SWT mengirimkan cahaya ke gunung itu, gunung itu menjadi hancur lebur, Nabi Musa AS pun jatuh pingsan [al-A’raf: 143].  Itulah sebabnya Allah SWT  mengatakan bahwa kekuatan itu bukan untuknya melainkan untuk nabi terakhir.  

Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW Samudra Kekuatan itu sehingga beliau bisa mengucapkan “Jadilah!” Maka jadilah dia—tanpa perlu meminta izin kepada Allah SWT karena beliau telah berenang dalam Samudra Kekuatan itu.  Rasulullah SAW bersabda, “Maa shabballahu fii shadrii syay-an ilaa wa shababtuhu fi shadri Abii Bakri,” “Apa pun yang Allah SWT berikan ke dalam hatiku, telah kuberikan pula ke dalam hati Abu Bakar ash-Shiddiq RA” (Maybudi, Razi, Ajluni, Suyuti), kemudian Abu Bakar RA menyerahkan semuanya kepada Salman al-Farisi RA, Salman RA kepada Qasim QS, Qasim QS kepada Ja’far AS, Ja’far AS kepada Tayfur (Bistami) QS, Tayfur QS kepada Sayyidina Khidir AS—dan rahasia itu sampai kepada Grandsyaikh dan Grandsyaikh meneruskannya kepada Mawlana Syaikh Nazim QS.  

Bila Allah SWT memberikan sesuatu, Dia tidak akan mengambilnya kembali.  Itulah artinya Maha Pemurah.  Ketika kalian memberikan sesuatu dan tidak mengambilnya kembali serta tidak menyesal karena telah memberikannya, berarti kalian mempunyai sifat pemurah atau dermawan.  Allah SWT memberi kekuatan kepada Rasulullah SAW untuk mengucapkan “Jadilah!” kepada sesuatu maka jadilah dia, dan beliau menyimpan kekuatan itu untuk hari akhir, untuk membawa semua orang ke surga.  Rasulullah SAW tidak akan meninggalkan satu orang pun.  Beliau akan merangkul seluruh manusia dengan tangannya dan membawanya ke surga.  Itulah Nabi kita.  

Setelah ketiga Atribut tersebut, datanglah lima tingkatan hati.  Ketika Allah SWT menyandangkan beliau, hati Rasulullah SAW tiba-tiba diberkati dengan Kekuatan Ilahi dari lima tingkatan hati, dari satu tingkat ke tingkat berikutnya hanya berlangsung dalam waktu singkat.  Tingkat pertama adalah Maqam Hati, kemudian Maqam Rahasia, lalu Maqam Rahasia dari Rahasia, berikutnya Maqam Yang Tersembunyi dan terakhir Maqam Yang Paling Tersembunyi.  Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim QS berkata bahwa, setelah Rasulullah SAW dihiasi dengan semua tingkat ini, segala dosa dan perilaku buruk yang berasal dari umatnya, walaupun dosa setiap orang tidak terhitung lagi jumlahnya, bahkan jika dosa itu menyamai jumlah umat Rasulullah SAW—yang menurut ajaran sufi jumlahnya mencapai 400 milyar—bagi Rasulullah SAW itu sama saja, bagaikan sesuatu yang dibersihkan dengan sebilas air.  Seperti itulah cahaya yang telah diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW sehingga beliau dapat membersihkan seluruh dosa tersebut dan memberi manfaat kepada umatnya seolah-olah semuanya tidak terjadi. 

Ini adalah umat terbaik yang diciptakan oleh Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Afdhalul umma akhyarul umma akhirul umma,” “Umat yang paling baik, umat yang paling disukai adalah umat yang terakhir.”  Kalian semua adalah umat terakhir.  Menurut Grandsyaikh, dunia ini tidak akan berusia lebih dari 50 tahun tahun lagi.  Setelah 50 tahun sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya.  Hari Kiamat akan terjadi setelah 50 tahun ini dan ditambah 40 tahun kemudian.  Semuanya akan berakhir dalam 90 tahun dari sekarang.  Melalui rahmat yang telah disandangkan kepada Rasulullah SAW, seluruh dosa manusia akan dihapuskan.  Grandsyaikh berkata bahwa walaupun setiap orang mempunyai 400 milyar dosa, semuanya akan dihapuskan, walaupun jumlahnya mencapai jumlah seluruh ciptaan Allah SWT yang meliputi alam semesta dan makhluknya.  Dengan mudah semuanya dapat dihilangkan oleh Samudra Rasulullah SAW, seolah-olah tidak ada dosa-dosa yang telah menyentuh kalian. 

Jangan berpikir bahwa Allah SWT menciptakan makhluk-Nya dan meninggalkannya begitu saja.  Allah SWT akan menyandangkan para awliya-Nya dan menghiasi Rasulullah SAW dengan Atribut dan Cahaya-Nya untuk menghindarkan orang dari penderitaan dan dosa menuju maqam yang tinggi di hari kemudian.  

Ketika Salman al-Farisi RA, salah satu wali terbesar yang muncul setelah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA dan berasal dari Persia, mengetahui dari buku yang telah dibacanya dan melalui suatu tanda di luar kebiasaan yang muncul di gugusan bintang, yang menandakan bahwa rasul terakhir akan muncul.  Beliau tahu bahwa akan terjadi suatu peristiwa besar di dunia ini.  Untuk pergi ke Mekkah, beliau menjual dirinya sebagai budak kepada beberapa orang yang pergi ke Mekkah, dan beliau mengiringi unta milik orang yang membelinya sepanjang 5.000 mil dari Persia ke Mekkah untuk bertemu Rasulullah SAW.  Sekarang kita malah enggan untuk menempuh 20 atau 40 mil dengan kendaraan, dan mengatakan bahwa itu terlalu jauh.  Lihatlah perjalanan para awliya yang sangat panjang dan jauh untuk bertemu dengan Rasulullah SAW. 

Ketika Rasulullah SAW dibawa ke dunia ini oleh ibunya, Sayyidina Salman al-Farisi RA mendengar kegembiraan binatang yang berteriak, “Allahu Akbar!” semua orang di alam semesta ini bergembira, termasuk binatang, pepohonan dan bintang, karena rasul terakhir telah datang dan semuanya mengetahui bahwa Allah SWT akan menghiasi beliau dengan Cahaya Ilahi-Nya—semuanya  tahu dan bergembira, kecuali kita umat manusia.  Umat manusia iri terhadap Rasulullah SAW dan berkata, “Mengapa Allah SWT memilihnya?” 

Grandsyaikh berkata, “Saya berbicara dari Samudra Pengetahuan yang akan dibuka ketika Imam Mahdi AS telah muncul.  Luasnya Pengetahuan yang Saya buka bagaikan cahaya yang melalui lubang jarum.”  Jika Mawlana berbicara seolah-olah dari sebuah lubang jarum, maka apa yang kita bicarakan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan realitas sesungguhnya.  Apa yang akan datang adalah sesuatu yang bisa membuat kalian marah.  Ini adalah keterangan mengenai pernyataan Sayyidina Abu Hurayrah RA dalam hadis, “Shabba Rasulullah SAW fii qalbi wi’aanaini fa ammaa ahaduhumaa fa batsats-tuhu bii khalqi wa ammal akhara law batsats-tuhu laquthi’a hadzal bul’uum,” “Rasulullah SAW telah meletakkan dua jenis ilmu pengetahuan dalam hatiku.  Satu pengetahuan telah kusebarkan kepada orang-orang, tetapi bila pengetahuan yang lainnya kukatakan, mereka akan memotong leherku” (Bukhari).  Apa yang Grandsyaikh katakan tergolong pengetahuan jenis kedua—sesuatu yang berada di luar kebiasaan dan akan disebarkan di masa Imam Mahdi AS nanti. 

Grandsyaikh berkata bahwa pengetahuan ini telah dibuka dalam hati Rasulullah SAW sejak masa kelahirannya dan hati beliau bagaikan segelas air, transparan di segala sisi.  Hatinya begitu transparan sehingga ke mana pun beliau memandang, beliau mendapatkan pengetahuan dan hikmah dan oleh karenanya beliau berbicara berdasarkan ilmu dan hikmah tersebut.  

Grandsyaikh berkata bahwa ketika jiwa Rasulullah SAW diambil dari jasadnya oleh para malaikat dan dipersembahkan kepada Hadirat Ilahi, ibunya mengira bayinya telah meninggal karena tubuhnya diam, tidak bergerak selama satu jam penuh.  Tetapi Jibril AS segera datang dan berkata kepadanya, “Jangan takut, dan jangan ceritakan hal ini kepada seseorang, biarkan saja.  Allah SWT telah mengambil jiwanya untuk membersihkannya dan untuk membukakan Atribut dari 99 Nama kepadanya—semuanya adalah Samudra dari Nama-Nama Allah SWT.  (Menurut agama Islam, Allah SWT mempunyai 99 Nama, setiap Nama mencakup suatu Atribut Ilahi dan setiap Atribut merupakan sebuah Samudra Pengetahuan yang kedalamannya tidak diketahui seorang pun). 

Allah SWT membasuh hati Rasulullah SAW dengan “Bismillah al-‘azhim,” Nama yang Terbesar.  Sampai sekarang setiap wali mencoba untuk mengetahui Nama Allah SWT yang Terbesar, tetapi tidak ada yang mengetahuinya, karena rahasia itu belum dibukakan kepada seseorang, kecuali Rasulullah SAW sendiri yang telah menerima rahasia tersebut di dalam hatinya.  Semua hijab dihilangkan dari hati Rasulullah SAW tatkala Allah SWT membasuh hatinya dengan air sungai Khawtsar, sebuah sungai di surga yang diberikan kepada Rasulullah SAW manakala Allah SWT berfirman, “Innaa a’thaynaakal Khawtsar” [al-Khawtsar: 1].  Jika seseorang mandi di dalamnya, hatinya tidak akan pernah mati.  Inilah sebabnya Rasulullah SAW bersabda, “Ana hayyun thariyyun fii qabri,” “Aku hidup dan tetap segar dalam kuburku” (Suyuti). 

Ketika beliau baru berusia 1 jam, Rasulullah SAW bertanya kepada Allah SWT seolah-oleh beliau melihat-Nya, “Wahai Tuhanku, bagaimana dengan umatku? Apakah Engkau akan membasuh umatku dengan air dari sungai ini?  Jika tidak, aku tidak mau dibasuh sendiri.  Aku harus bersama umatku, aku tidak bisa meninggalkan mereka.”  Menurut Rasulullah SAW, ketika beliau meminta hal ini kepada Allah SWT, Allah SWT membasuh seluruh umatnya dengan air dari Sungai Kehidupan itu.  Allah SWT membasuh dan membersihkan hati mereka sampai menjadi bersih dan transparan seperti yang dimiliki Rasulullah SAW, kemudian Allah SWT menyerahkan mereka kepadanya, “Aku menyerahkan umatmu dalam keadaaan bersih, suci, lemah lembut, pemurah, rendah hati, saling mencintai dan menghormati sesamanya.  Apakah engkau menerimanya?”  Rasulullah SAW yang melihat mereka semua dalam keadaan bersih dan suci lalu berkata, “Aku menerimanya.”  Ketika beliau mengatakan akan membawa mereka, Allah SWT menunjukkan kepadanya bagaimana mereka akan membuat banyak dosa ketika diturunkan ke dunia ini.  Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Tuhanku, apa yang telah Kau lakukan?”  Allah SWT menjawab, “Lupakan saja, cahaya tidak akan musnah dari dalam hati mereka.  Mereka akan menutupi cahaya itu dengan kegelapan, tetapi itu akan seperti lap, dan Aku akan memberimu awliya yang akan menjadi pembantumu agar mereka dapat membersihkan dan mengkilapkan hati mereka.” 

Kita semua adalah umat yang diampuni.  Allah SWT telah mempercayakan kita kepada Rasulullah SAW dengan Kemurahan-Nya.  Kalian akan mendengar lebih banyak lagi pelajaran ini.  Namun tetap saja apa yang kita bicarakan ini hanyalah hal-hal yang sepele.  Ketika Grandsyaikh memberi izin untuk berbicara mengenai pengetahuan itu, pelajaran tersebut bukan untuk didengar oleh semua orang.  Mereka yang mendengar adalah orang-orang yang istimewa dan topik ini hanya bisa dibuka dengan izin Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim QS.  

Setelah Rasulullah SAW menerima umatnya dengan cahaya mereka, dan setelah Allah SWT menunjukkan dosa-dosa yang akan mereka lakukan, Rasulullah SAW meminta beberapa pembantu.   Dengan segera Allah SWT memberinya 7.007 wali Naqsybandi untuk membantu beliau membersihkan umatnya.  Di antara mereka terdapat 313 wali yang tingkatannya tinggi.  Dan di antara mereka terdapat 40 guru besar dari Mata Rantai Emas, jalan kita menuju Rasulullah SAW.  Keempat puluh guru besar kita mencoba melakukan yang terbaik untuk membersihkan setiap orang dari dosa-dosanya melalui cahaya yang telah diberikan Allah SWT ke dalam hati mereka.  Kalian beruntung bahwa kalian berada di tangan salah satu guru besar tersebut—guru besar terakhir dalam mata rantai ini, guru yang keempat puluh.  

Apakah Khawtsar itu?  Menurut riwayat yang tertulis, Khawtsar adalah nama sebuah sungai di surga, tetapi menurut pemahaman dan pengetahuan sufistik, Khawtsar adalah nama salah satu Grandsyaikh.  Grandsyaikh itu, dengan air di mana Allah SWT membuat simbol dengan namanya dapat menghilangkan dosa-dosa semua pengikutnya, dan menghadirkan mereka dalam keadaan bersih kepada Rasulullah SAW setiap malam.  Itulah sebabnya kalian harus bergembira karena kalian telah terhubungkan dengan salah satu guru besar yang agung dalam Mata Rantai Emas ini.  

Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim QS bertanya, “Mengapa Allah SWT memberi kenabian kepada Rasulullah SAW?  Apakah hanya untuk dirinya sendiri?”  Grandsyaikh berkata, “Tidak!”  Allah SWT telah memberinya kekuatan dan menghiasinya dengan Atribut dari ke-99 Nama dan semua cahaya ini untuk umatnya juga, agar Rasulullah SAW dapat menyandangkan kita semua dengan cahaya dan atribut yang sama, beliau membagi semua atribut itu kepada kita.  Allah SWT telah berfirman kepada Rasulullah SAW, “Wahai rasul-Ku yang tercinta, Aku akan bertanya kepadamu secara pribadi—Aku ingin setiap orang dari umat ini menjadi seperti dirimu.  Jika mereka tidak seperti dirimu, Aku tidak akan menerimamu sebagai rasul.”  Ini adalah suatu rahasia yang besar dan luar biasa, yaitu bahwa Rasulullah SAW bertanggung jawab untuk membuat setiap orang dari umatnya agar seperti beliau.  Dalam beribadah, beliau akan membagi seluruh ibadahnya untuk kita, hal ini untuk membersihkan dan menyandangkan diri kita dengan semua yang telah didapatkannya, dan untuk menghadirkan kita kepada Allah SWT dalam keadaan suci seperti dirinya.  Inilah tugas beliau. 

Grandsyaikh dan Mawlana Syaikh Nazim QS berkata, “Dalam setiap kedipan mata, jarak antara Rasulullah SAW dengan Hadirat Ilahi semakin mendekat dua kali lipat, “Yataraqqa mitslaini mitslain,” dalam sekuen geometrik yang berkembang, setiap kedipan mata meningkatkan jarak sebelumnya dua kali lipat.  Beliau mengalami kemajuan, dan secara bersamaan beliau juga membawa umatnya—tanpa diskriminasi dan perbedaan.  Umat ini adalah umat dari para hamba; dan hamba adalah hamba, budak adalah budak!  Tidak ada perbedaan antara Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, maupun Hindu!  Mereka semua adalah hamba di hadapan Allah SWT, dan Rasulullah SAW melihat mereka sebagai seorang manusia dan membawanya bersamanya.

 

Pengetahuan ini akan dibuka pada masa Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS.  Sekarang, ini hanyalah aroma dari apa yang akan terjadi kemudian.  Ketika orang-orang berbicara kepada kalian tentang sufisme, apa yang mereka katakan?  Mereka hanya anak-anak bila dikaitkan dengan Mata Rantai Emas yang mendapat pengetahuan dari hati Rasulullah SAW.  Apa yang akan dibuka nanti akan menyepelekan apa yang dikatakan oleh orang yang mengaku sebagai guru sufi itu.  Mereka akan menyadari bahwa mereka hanyalah anak-anak.   Pengetahuan mereka bukan apa-apa.  Itulah sebabnya Sayyidina Muhyiddin Ibnu al-‘Arabi ق, setelah menulis al-Futuhat al-Makkiya berkata, “Aku tidak mengerti apa yang Aku tulis.”  Beliau terbiasa tidur dengan sebuah pena di sisinya, ketika beliau bangun, beliau mendapati bahwa pena itu telah menulis sesuatu.  Demikian pula ketika beliau menulis, “Fusus al-Hikam” dan semua buku yang lainnya.  Walaupun beliau tidak mengerti, sekarang mereka malah “menjelaskan” apa yang sebenarnya tidak mereka pahami.  Apa yang akan kalian pahami dari yang mereka katakan?  Derajat pengetahuan yang tinggi dalam sufisme tidak bisa dibuka begitu saja, walaupun kalian berpikir telah melihatnya.  Jika kalian mempunyai televisi, kalian dapat melihat sesuatu tetapi tidak bisa merasakannya.  Dalam sufisme, jika kalian tidak bisa merasakan dan mengalami sendiri kejadian itu, kalian tidak bisa meraih tingkatan dari mana pengetahuan itu digambarkan.  

Sufisme adalah “dzawq,” cita rasa.  Kalian mempunyai berbagai jenis makanan.  Orang-orang mengambil makanan terbaik dan mereka mencoba untuk merasakannya di sini (menunjuk ke mulut) sampai ke sini (menunjuk pangkal kerongkongan).  Setelah kedua tempat itu, semua makanan akan sama saja.  Sama halnya ketika kalian menonton televisi, seolah-olah itu berlangsung “dari sini ke sini.”  Kalian tidak mencicipi atau merasakan sesuatu.  Jika kalian tidak bisa merasakannya, itu bukan sufisme, tetapi pantulan cermin dari sufisme atau sebuah bayangan.  Dan semua “Syaikh” ini—sesungguhnya mereka tidak bisa dipanggil dengan panggilan itu—karena seorang Syaikh derajatnya tinggi—semua orang yang menerangkan sufisme itu tidak merasakan dan mencicipi.  Padalah kedua hal itu sangat penting dalam sufisme.  

Sekarang kalian akan berkata, “Anda juga berbicara seperti mereka.  Mengapa Anda tidak mencicipi dan merasakan?”  Saya akan mengatakan kepada kalian bahwa kalian belum diizinkan untuk bisa merasakannya.  Ini akan terjadi pada masa Imam Mahdi AS.  Kalau tidak, dunia ini tidak bisa menampung kalian lagi.  Jika kalian memberi anak kecil sebuah permen, dia akan menukarnya dengan berlian dan dia akan kehilangan berlian itu.  Jika kalian diberikan pengetahuan seperti itu, kalian akan menyia-nyiakannya tanpa dukungan dari Imam Mahdi AS yang akan segera datang.  Dukungan itu sangat dibutuhkan.  Tanpa dukungan itu, kalian tidak akan mempunyai pintu untuk bisa merasakan. 

Seorang pemimpin sufi harus memiliki ‘ilmul yaqin, ‘aynul yaqin, haqqul yaqin—pengetahuan tentang kepastian, kepastian tentang pengelihatan, dan hakikat tentang kepastian.  

Pertama adalah “pengetahuan tentang kepastian,” yang merupakan keperluan untuk mengetahui  bahwa ada pengetahuan seperti itu dan untuk mendengar tentang hal itu.  Ketika kalian mendengarnya, kalian pergi ke tingkat kedua, tetapi pertama kalian harus mendengarnya.  Itulah sebabnya, Allah SWT dalam al-Qur’an sebagaimana semua guru sufi dari Jalaluddin Rumi QS ke Ibnu al-‘Arabi QS, Hallaj QS, Abu Yazid al-Bistami QS menyebutkan bahwa mendengar adalah hal yang pertama.  Pengetahuan tidak datang dengan melihat terlebih dahulu tetapi dari mendengar seorang guru, bahkan termasuk orang yang buta.  Di lain pihak orang yang tuli, tidak bisa memulai untuk mendapatkan pengetahuan.  Ketika malaikat Jibril AS mendatangi Rasulullah SAW, hal pertama yang dikatakannya adalah “Iqra”, bacalah, kemudian Rasulullah SAW mendengarnya.  Itulah sebabnya sufisme memberi perintah yang dipenuhi dengan mendengarnya bukan dengan melihatnya.  

Tingkat pertama ini, tidak diraih dengan mendengar dan tidak merawatnya, tetapi dengan mendengar, menerima, dan memenuhinya dengan tindakan!  Jika Syaikh kalian mengatakan untuk pergi ke Chicago, memanjat Search Tower, dan melompat ke bawah, dan kalian tidak melakukannya, berarti kalian masih anak-anak dalam pengetahuan sufi.  Dalam Tarekat Naqsybandi kalian harus patuh, dan kepatuhan berasal dari pendengaran, jika kalian melakukannya, barulah kalian bisa menuju ke tingkat kedua.  

Suatu ketika, Grand-Grandsyaikh berkata, dalam pertemuan antara guru-guru besar, ketika Grandsyaikh sedang dalam perjalanan untuk bertemu mereka—ketika itu beliau masih muda—ketika mereka duduk di tempat terpencil di luar kota.  “Anakku ‘Abdullah QS telah mencapai tingkat di mana orang belum pernah mencapainya—Aku pun tidak, begitu pula dengan seluruh guru dalam Mata Rantai Emas.  Dia baru berusia 18 tahun sedangkan Aku 60, tetapi dia telah mencapai level yang lebih tinggi dariku dan seluruh guru lainnya dalam Mata Rantai Emas yang telah meninggal dunia.  Jika Aku mengirimkan seorang anak berusia 7 tahun untuk berkata kepadanya, ‘Syaikhmu menyuruhmu untuk segera pergi haji ke Mekkah,’ dari Daghestan, kota di tengah wilayah Rusia, dia akan segera berpikir, tanpa datang kepadaku untuk meminta konfirmasi apakah ini benar atau tidak, ‘Siapa yang membuat anak itu berbicara?  Syaikhku telah mengetahui sebelum Aku mengetahuinya.  Kalau tidak, bagaimana Aku menerimanya sebagai Syaikhku tetapi masih mengganggap beliau tidak mengetahui segalanya?  Jika Syaikhku tidak mengetahuinya, lalu siapa yang mengetahuinya?’  Dengan segera dia akan mempercayai anak itu, dan tanpa pulang ke rumahnya untuk memberitahu ibu atau istrinya bahwa dia akan naik haji, tanpa membawa pakaian, uang atau makanan, beliau akan langsung menuju Mekkah yang berjarak 10.000 mil, berjalan tanpa bertanya apa-apa.  Dia akan mengetahui bahwa perintah itu berasal dariku dan dengan mudah akan  mengubah arah perjalanannya.” 

Ini adalah “Wahdatul af’al, penyatuan segala tindakan atau perbuatan atau ucapan—kalian harus melihat segala sesuatu berasal dari Allah SWT.  Ini adalah tingkat tinggi dalam pengetahuan sufi.  Kalian tidak bisa melihat orang melakukan suatu perbuatan lagi, tetapi kalian harus menganggapnya sebagai suatu alat di tangan Tuhan.  Tinggalkan anak-anak—jika Syaikh Nazim QS mendatangi kalian dan berkata, “Pergilah ke Mekah.” Kalian akan berkata, “Baiklah Syaikh, Aku akan membeli tiket, Aku akan lihat apakah istriku mengizinkanku untuk pergi…”  Dalam Tarekat Naqsybandi kalian tidak diizinkan untuk melakukan semua hal ini.  Kalian harus segera pergi. 

Tingkat kedua adalah ‘aynul yaqin, pengelihatan yang benar.  Pada saat itu kalian akan melihat segala yang berada di sekitar kalian, tetapi tanpa perasaan.  Itu akan seperti layar yang terangkat.  Hanya di tingkat ketiga, haqqul yaqin, realitas dari kebenaran—kalian berada di sana dan mengalami kejadian itu.  Jika Grandsyaikh berkata tentang apa yang telah kita bicarakan sebelumnya mengenai Rasulullah SAW, bagaimana beliau dibawa dan hatinya dibersihkan, ketika mendengar hal ini, kalian akan hidup di masa itu seolah-olah kalian hidup dan merasakan semuanya saat itu.  Jika Mawlana Syaikh Nazim QS berbicara mengenai kejadian yang berlangsung 500 tahun lalu, misalnya, kalian akan hidup seolah-olah kalian hidup di masa itu, kalian mendengar, melihat dan merasakan apa yang mereka dengar, lihat, dan rasakan, seolah-olah kalian adalah salah satu dari mereka. 

Ini adalah cita rasa sufi dan pengetahuan dari Tarekat Naqsybandi yang menghubungkan para pencari kepada Mata Rantai Emas.  Ini tidak bisa dibuka sampai masa Imam Mahdi AS, kecuali, untuk beberapa pengikut yang istimewa, Mawlana Syaikh Nazim QS membukakannya dengan seizin Rasulullah SAW.  Hal itu tidak biasa bagi semua orang.  Yang lain harus menunggu dukungan dari pedang Imam Mahdi AS untuk memasuki tingkatan itu, kalau tidak orang akan memotong lehernya karena membicarakan apa yang mereka lihat.  

Dalam Tarekat Naqsybandi, Syaikh tidak akan membuat kalian berbeda dengan orang lain dan ini adalah tarekat yang sempurna, kalian melihat Syaikh yang memiliki segala kekuatan ini, merasakan segala hal dan hidup dalam semua peristiwa, dan melukiskannya, namun demikian beliau tetap berperilaku sebagai orang yang biasa.  Dalam aliran sufi yang lain, mereka tidak bisa mengontrol diri mereka, mereka baru mulai bicara dan langsung ditolak oleh orang-orang.  Oleh sebab itu Syaikh tidak pernah menerima untuk membuka pengetahuan untuk kalian jika kalian belum siap dan jika beliau melihat bahwa kalian akan memperlihatkan apa yang diberikannya pada kalian kepada masyarakat umum.  Itulah sebabnya mengapa belum ada izin agar pintu itu dibuka.  

Wa min Allah at tawfiq al-Fatiha

07 July 2008

Perantaraan Wali

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kita harus gembira. Tak perlu bersedih. Allah SWT telah menciptakan kalian. Jika Dia tidak menciptakan kalian, kalian tidak akan pernah ada. Berusahalah untuk selalu bergembira dan puas terhadap kondisi yang telah digariskan Allah SWT kepada kalian. Jangan pernah berkeberatan, apa pun yang kalian jumpai dalam hidup ini. Jika kalian melihatnya dengan perspektif yang baik, kalian akan merasakan kebaikannya. Sebaliknya, jika kalian melihatnya dengan perspektif yang buruk, kalian juga akan mendapatkan keburukan dalam diri kalian.

Hari ini adalah hari kedua di bulan Rajab. Rasulullah SAW bersabda, “Rajab adalah bulan Allah SWT, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku.” Beliau mengatakan, “Syakban adalah bulanku,” berarti Allah SWT telah memberinya, salahiyya, kontrol terhadap seluruh umat manusia di bulan itu. Tidak ada malaikat yang dapat menulis sesuatu tentang kalian, tanpa bertanya kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana Allah SWT mencintai umat manusia dan menciptakan mereka dengan sempurna, begitu juga Rasulullah SAW diciptakan oleh Allah SWT dan diberikan kekuasaan itu terhadap seluruh umat ini untuk menjaga mereka agar tetap murni dan bersih. Oleh sebab itu Rasulullah SAW memerintahkan seluruh wali di seluruh dunia selama 24 jam untuk membantu menolongnya dalam membersihkan dan menyeimbangkan kebaikan dan keburukan dalam diri setiap orang.

Rahasia sufi bukanlah rahasia. Mereka hanya tampak rahasia bagi orang yang belum pernah mendengar sebelumnya. Kepada yang lainnya mereka sangat familiar sebab mereka selalu bersama Rasulullah SAW, dan selalu mendapat pengetahuan tingkat tinggi dari hatinya.

Untuk setiap huruf dalam al-Qur’an, Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW 12.000 Samudra Pengetahuan. Jangan berpikir bahwa, “alif” yang merupakan salah satu huruf dalam al-Qur’an hanya sebagai huruf tunggal, jika diulang maka itu dianggap sebagai huruf baru. Oleh sebab itu, setiap munculnya satu huruf alfabet dalam al-Qur’an terdapat 12.000 Samudra Pengetahuan bersamanya. Semua yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW kepada kita, yaitu berupa pengetahuan yang mengikuti perintah Allah SWT bagaikan tetesan dalam samudra. Allah SWT menjaga apa yang tertinggal agar nanti hati manusia dapat menemukannya, dengan tubuh fisik ini kita tidak dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Abu Hurayra RA tidak dapat menerangkan semua yang diberikan oleh Rasulullah SAW ke dalam hatinya. Mengapa mereka akan memotong lehernya? Karena mereka cemburu.

Cendikiawan Muslim, Kristen, Yahudi—cemburu terhadap surga. Mereka tidak ingin seluruh umat manusia memasukinya, hanya orang-orang dari golongan mereka saja yang berhak memasukinya. Allah SWT berkata, tidak ada diskriminasi, seluruh umat manusia adalah hamba-Nya dan dengan demikian sama derajatnya—Muslim, Hindu, Yahudi, Kristen dan semua orang. Kita sebagai pengikut Rasulullah SAW setuju dengan sabdanya, bahwa seluruh umat manusia adalah sama. Untuk mengilustrasikannnya, berikut ini ada sebuah kisah yang berasal dari Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Syekh Nazim al-Haqqani QS. Cerita ini termasuk salah satu rahasia yang tersembunyi, yang akan dibuka pada saat datangnya Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS, Insya Allah.

Rasulullah SAW memerintahkan Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW, bahwa segera setelah beliau wafat, sebelum pemakaman dan setelah disalatkan, jubahnya harus diserahkan kepada Sayyidina Uwais al-Qarani RA sebab beliau harus memegang dan menjaga jubah tersebut. Rasulullah SAW juga berkata kepada mereka untuk menyerahkan diri mereka sebagai amanat darinya. Mereka berdua keheranan, bagaimana mereka sebagai sahabat terbaik Rasulullah SAW menyerahkan diri mereka kepada Uwais RA, dan siapa pula Uwais RA yang tidak pernah bertemu Rasulullah SAW? Mengapa dia tidak pernah muncul? Karena ibunya berkata kepadanya, “Jangan tinggalkan aku sendiri, jangan pergi.” Jadi dia tidak pergi.

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, beliau sangat banyak mengeluarkan keringat. Jika kalian melihat orang meninggal kalian akan menyaksikan orang itu mengeluarkan banyak keringat, banyak sekali air yang keluar dari tubuhnya. Rasulullah SAW adalah yang paling banyak mengeluarkan keringat dibandingkan seluruh orang di dunia ini. Siapa saja dapat dengan mudah memeras keringat dari jubah beliau, karena jubah itu benar-benar dibasahi air. Kemudian Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW melepaskan jubah Rasulullah SAW dan pergi ke kampung Uwais RA, tempat yang telah disebutkan oleh Rasulullah SAW. Di sana mereka bertanya di mana Uwais al-Qarani RA, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana Uwais al-Qarani RA berada. Sayyidina ‘Umar RA mulai jengkel—bagaimana Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk menemukan seseorang yang tidak mungkin ditemukan? Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Wahai ‘Umar RA, jangan ada keraguan di hatimu, tetapi tunggu dan bersabarlah. Mari kita lihat masalahnya dengan cermat. Jika Rasulullah SAW berkata bahwa sesuatu itu ada, pastilah dia ada dan kita akan menemukan Uwais RA, insya Allah.”

Setelah mereka bertanya lebih banyak lagi, mereka akhirnya menemukan Sayyidina Uwais al-Qarani RA sedang duduk di batu dengan tongkat di tangannya. Ibunya berada di sampingnya. Rupanya Uwais RA adalah seorang pengembala ternak. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “’Abdullah (hamba Allah SWT)” “Siapa nama keluargamu?” “’Abdullah”—“Aku juga ‘Abdullah” kata Sayyidina ‘Umar RA yang mulai bingung. “Siapa nama aslimu?” “’Abdullah adalah nama asliku.” Lalu Sayyidina ‘Umar RA menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW dan berkata, “Kita tidak menemukan orang yang cocok. Namanya ‘Abdullah, bagaimana Rasulullah SAW berkata kepada kita bahwa kita dapat menemukan Uwais al-Qarani RA?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata kepada orang itu, “Wahai ‘Abdullah, Aku menerima kenyataan bahwa namamu adalah ‘Abdullah, tetapi bagaimana orang biasa memanggilmu?” Dia menjawab, “Uwais al-Qarani RA.”

Nama asli setiap orang adalah ‘Abdullah, hamba Allah SWT. Ke mana pun kalian pergi, setiap orang memiliki 7 nama dalam pelat-pelat yang terpelihara (Loh Mahfuzh), salah satunya adalah nama itu. Ini adalah nikmat Allah SWT yang telah dijamin bagi semua orang, yaitu bahwa mereka adalah hamba Allah SWT.

Sayyidina ‘Umar RA bergembira. Beberapa saat kemudian Sayyidina Uwais RA berkata, “Berikan amanat yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadaku.” Bagaimana dia mengetahui bahwa Rasulullah SAW mengirim jubahnya untuknya, padahal dia tidak pernah bertemu dengannya? Dia mengambil jubah itu dan meletakkan di atas kepalanya. Dia lalu melihat Sayyidina ‘Umar RA dan bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang ada di jubah ini?” Sayyidina ‘Umar RA menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sayyidina Uwais al-Qarani RA menjawab, “Jubah ini berisi rahasia seluruh umat manusia, dan Rasulullah SAW memberikan tanggung jawab itu di pundakku.”

Allah SWT telah menciptakan dunia ini dan tidak akan meninggalkannya. Dia mengirimkan utusan dan wali ke dunia ini untuk menjaga agar manusia tetap bersih dari dosa dan kesalahan. Allah SWT tidak menciptakan kita untuk dibuang ke neraka. Dia menciptakan kita untuk ditempatkan di surga. Dia menciptakan kita karena Dia mencintai kita. Jangan berpikir bahwa Dia ingin menghukum manusia. Dia menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang yang lengkap. Bagaimana seorang ibu mencintai anaknya? Ini adalah sebuah tetesan dalam Samudra Cinta Allah SWT. Dia akan membersihkan setiap orang dan menghukumnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hal ini berjalan dengan mekanisme yang tidak kita ketahui.

Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Bagaimana rahmat bagi seluruh umat manusia berada di jubah ini?” Sayyidina Uwais RA menjawab, “Wahai ‘Umar RA pernahkah kalian melihat Rasulullah SAW?” Dia menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Aku selalu bersamanya setiap hari.” “Lukiskan beliau kepadaku!”, kata Sayyidina Uwais RA. Lalu Sayyidina ‘Umar RA mulai menyebutkan ciri-ciri Rasulullah SAW, mulai dari raut mukanya, warna matanya, dan seterusnya. “Semua orang juga mengenal beliau seperti itu. Engkau tidak melihat Rasulullah SAW yang sesungguhnya. Bagaimana denganmu ‘Ali RA, KW? Pernahkah engkau melihat Rasulullah SAW?” tanya Sayyidina Uwais RA. “Aku melihatnya sekali. Beliau memanggilku dan berkata, ‘Wahai ‘Ali RA, KW lihatlah diriku mulai dari perut ke atas,’ Aku melihatnya dan menemukan bahwa segalanya sampai ke lehernya berada di bawah singgasana Allah SWT, tetapi Aku tidak dapat melihat lehernya. Dan beliau menyuruhku untuk melihat dari perut ke bawah, Aku melihat dan menemukan bahwa lututnya mencapai bumi ketujuh, tetapi Aku tidak dapat melihat kakinya. Lalu beliau menyuruhku untuk melihat seluruhnya, dan Aku melihat segalanya lenyap kecuali Rasulullah SAW sendiri. Beliau adalah segalanya.”

Ini berarti jika Sayyidina ‘Ali RA, KW dapat melihat di mana leher Rasulullah SAW, dia akan seperti Rasulullah SAW. Tidak ada yang bisa menyamainya, karena itu adalah batas baginya. Sayyidina ‘Ali RA, KW juga tidak bisa melihat lututnya, dan itu telah mencapai bumi ketujuh. Tidak ada yang tahu apa dan di mana bumi ketujuh itu. Ini adalah suatu rahasia. “Beliau adalah segalanya,” merujuk pada apa yang kita bicarakan (pada pertemuan) sebelumnya, sehubungan dengan peciptaan kita oleh Allah SWT dengan 3 macam cahaya, yaitu: Cahaya Ilahi, Cahaya Rasulullah SAW, dan Cahaya Adam AS, dan berimplikasi dengan ayat al-Qur’an yang menyebutkan penghormatan Allah SWT terhadap umat manusia, [QS al-Isra’, 17: 70]. Bagaimana Allah SWT memuliakan umat manusia adalah suatu rahasia, tetapi dari rahasia itu kita dapat mengerti bahwa Allah SWT telah memuliakan kita dengan menciptakan kita dari ketiga cahaya tersebut.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Wahai ‘Ali RA, KW, engkau melihat Rasulullah SAW sekali.” Sayyidina ‘Ali RA, KW membalas, “Pernahkah engkau melihat beliau?” “Secara fisik belum pernah, tetapi secara spiritual Aku selalu bersamanya selama 24 jam,” jawabnya. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Lalu apa yang ada dalam jubah itu?” Beliau berkata, “Dengarkan baik-baik! Jika Aku harus duduk denganmu dan umatmu, mereka akan memotong leherku. Itulah sebabnya Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk menjauhimu dan bersembunyi. Jika Aku bersamamu dan Aku menceritakan semua rahasia ini, tak seorang pun akan menerima dan memahaminya. Tetapi suatu waktu nanti, pada saat akhir zaman seluruh rahasia ini akan dibuka, yaitu pada saat kedatangan Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS.

Masa tersebut adalah sekarang, sebab seluruh tanda dan indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah SAW telah ada. Seluruh wali juga menyatakan hal yang sama, bahwa di abad ini Imam Mahdi AS akan datang, begitu pula dengan Nabi ‘Isa AS. Kita semua berada di akhir dunia ini. Tidak banyak waktu tersisa. Setiap orang akan lebih suka hidup dengan cara yang mereka suka, tetapi pada kenyataannya mereka akan menjalani hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Umar RA, “Wahai ‘Umar RA sebelum Rasulullah SAW lahir, beliau sudah menyebut ‘umatku, umatku’ dalam rahim ibunya, ketika beliau lahir juga disebutkan ‘umatku, umatku’ dan demikian pula ketika beliau meninggal.” Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT, “Aku ingin menjadi perantara bagi umatku, Aku ingin menolong umat manusia, Aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada umat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kontrol dan kekuatan ini.” Ketika beliau wafat, Rasulullah SAW menolak untuk wafat kecuali dengan 1 syarat, yaitu beliau harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh umat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah SWT, “Aku akan datang ke Hadirat-Mu, kalau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah SWT menjawab, “Terserah padamu!”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil semua makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap roh secara perorangan. Mereka datang ke hadiratnya dan menerima beliau sebagai rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesali kesalahan mereka. Rasulullah SAW tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah SWT. Dengan pengampunan dari Allah SWT tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu roh manusia.

“Jubah itu berisi tetesan keringat, atau simbol, atau roh dari umat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah SAW. Beliau menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka.“ Jubah ini akan diteruskan lewat Mata Rantai Emas dari satu wali ke wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutkan akan diserahkan kepada Imam Mahdi AS ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Nabi ‘Isa AS pada saat kemunculannya.

Sayyidina ‘Umar RA menangis dan berkata, “Orang bodoh macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah Aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, wahai ‘Ali RA, KW, mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang engkau lakukan.” Setelah kejadian itu Sayyidina ‘Umar RA menangis terus selama hidupnya.

Bulan Rajab ini tidak akan berakhir sampai setiap orang di dunia ini dibersihkan dari dosa-dosanya dan cahaya ditempatkan dalam hatinya. Kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk membersihkan hati umat manusia juga diberikan kepada para awliya. Wali-wali tersebut adalah pembantu bagi Rasulullah SAW di bulan ini. Itulah sebabnya mereka sibuk di bulan Rajab. Mereka tidak berbicara kepada orang-orang. Mereka menutup pintu mereka dan duduk di ruangannya, tidak keluar, terus-menerus hanya memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan umat manusia.


Mas Kawin Fatima az-Zahra AS

Putri Rasulullah SAW, Siti Fatima az-Zahra’ AS ketika dia melihat ayahnya terus-menerus menyebut ‘umatku’, dia juga ingin melakukan sesuatu untuk kepentingan umat. Lihat dan perhatikanlah bagaimana para wali berusaha untuk menyelamatkan umat manusia dan mencegah mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Ketika Allah SWT memerintahkan untuk menikahkan putrinya kepada seseorang, Rasulullah SAW memanggil semua sahabatnya dan berkata kepada mereka, “Allah SWT telah memerintahkan Aku malam ini untuk mengatakan bahwa barang siapa yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir di malam ini akan dinikahkan dengan putriku Fatima AS.”

Malam itu seluruh sahabat berkumpul di masjid dan berusaha membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir, kecuali Sayyidina ‘Ali RA, KW yang pulang ke rumah dan tidur. Ketika Bilal RA mengumandangkan azan untuk shalat Subuh, seluruhnya datang, Rasulullah SAW pun hadir di sana. Setelah selesai shalat beliau bertanya, “Siapa yang menyelesaikan al-Qur’an tadi malam sehingga Aku dapat menikahkannya dengan putriku Fatima AS?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan beliau, sebab sangat sulit untuk menyelesaikan 30 juz hanya dalam waktu 7 atau 8 jam. Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku menyelesaikannya.” Mereka melihatnya dengan iri dan berkata, “Bagaimana engkau menyelesaikannya? Engkau tidur semalaman.” Dia berkata, “Tidak, Aku menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir.” Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Siapa saksimu?” Sayyidina Ali’ RA, KW menjawab, “Allah SWT saksiku, dan engkau Ya Rasulullah SAW, adalah saksiku bahwa Aku telah menyelesaikannya.”

Sekarang dengarkan baik-baik karena Mawlana Syekh Nazim QS sangat menekankan hal ini. Rasulullah SAW sebagaimana yang kalian ketahui tidak pernah memperlihatkan bahwa beliau mengetahui sesuatu terjadi di luar batas normal, sebelum Jibril AS memberitahukannya. Oleh sebab itu beliau menunggu datangnya inspirasi dari malaikat Jibril AS. Akhirnya malaikat Jibril AS datang dan berkata, “Allah SWT berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah berkata benar dan bahwa dia telah menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir, jadi tanyalah apa yang dilakukannya.” Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, “Sekarang malaikat Jibril AS telah datang kepadaku dan berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an dan Allah SWT adalah saksinya. Dengan demikian Aku juga menjadi saksinya, dan Aku bertanya kepada ‘Ali RA, KW apa yang telah dibacanya malam itu?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku membaca Asy-hadu an la ilaha illallah wa asy-hadu anna Muhammadun Rasulullah 3 kali, lalu Qul huwallahu Ahad 3 kali, lalu Qul A’udzu bi rabbil falaq 1 kali dan Qul a’udzu bi rabbin nas 1 kali, dan La ilaha illahllah 10 kali serta Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim 10 kali.”

Rasulullah SAW berkata, “Sebagaimana Allah SWT telah menjadi saksi bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an, Aku menyaksikan juga hal ini, bahwa jika kalian membaca apa yang telah kita dengar dari ‘Ali RA, KW berarti kalian telah menyelesaikan al-Qur’an.” Pada saat itu juga keluar hadis yang menyatakan bila seseorang membaca surat al-Ikhlash 3 kali, seolah-olah dia telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Membaca surat ini setiap hari paling lama hanya menghabiskan waktu 2 menit, tetapi seolah-olah kalian telah membaca seluruh al-Qur’an. Orang yang tidak tahu duduk, mencoba membaca dan menyelesaikan al-Qur’an dengan bangga, tetapi mereka tidak dapat menyelesaikannya. Kalian dapat melakukan hal yang ringan ini dan menyelesaikannya, seolah-olah kalian telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Apa lagi yang kalian inginkan? Demikialah, akhirnya Fatima AS menikahi ‘Ali RA, KW.

Lihatlah pernikahan Fatima AS itu, dan jangan katakan bahwa tidak ada kebebasan bagi wanita dalam Islam. Kalian akan salah. Allah SWT telah memberikan kebebasan dan persamaan kepada pria maupun wanita. Mereka dapat memberikan pendapat mereka dan memberikan kesimpulannya sendiri. Bahkan Rasulullah SAW menanyakan dulu kepada putrinya, dan berkata kepada para Sahabat, “Aku harus menanyakan putriku apakah dia menerima pernikahan ini atau tidak, itu adalah keputusannya. Orang-orang yang tidak mengerti sekarang menuduh bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita. Inilah yang mereka katakan dan kita tidak harus mempercayainya. Kita percaya terhadap apa yang kita baca dan kita dengar dari Rasulullah SAW. Beliau memberikan persamaan, begitu pula dengan Allah SWT. Wanita mempunyai hak yang sama dengan pria. Inilah yang kita yakini, dan khususnya orang Amerika harus waspada dengan pemikiran bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita.

Rasulullah SAW bertanya kepada Fatima AS, “Wahai Fatima AS, apakah engkau menerima ‘Ali RA, KW sebagai suamimu?” Dia berkata tidak. Seluruh sahabat menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW, lalu Fatima AS, dan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merasakan mukanya memerah, mengapa Fatima AS berkata tidak? Apakah dia mencintai orang lain? Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang harus dikatakan, dan malaikat Jibril AS datang dan berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru mengambil keputusan tentang hal ini. Allah SWT berpesan untuk menanyakan kepada Fatima AS mengapa dia tidak menerima pernikahannya.” Rasulullah SAW berbalik kepada Siti Fatima AS dan bertanya, “Ya Fatima AS, engkau berkata tidak, tidak mengapa, ini adalah keputusanmu. Tetapi bisakah Aku mengtahui mengapa engkau menolaknya?” Dia berkata, “Aku hanya berkata tidak karena Aku tidak menerima kecuali dengan satu persyaratan. Ini bukan soal ‘Ali RA, KW tetapi berhubungan denganku. Jika engkau mengabulkan persyaratan itu, Aku akan menerimanya, jika tidak Aku tidak akan menikah dengan ‘Ali RA, KW.” Sekali lagi, malaikat Jibril AS datang kepada Rasulullah SAW, dan berkata, “Allah SWT memerintahkanmu untuk menanyakan apa persyaratan itu.” Sekarang perhatikan apa yang telah ditanamkan Allah SWT dalam hati Fatima AS, dan pertimbangkan kebaikan dan posisi wanita dalam Islam.

Rasulullah SAW berkata, “Ya Fatima AS apa yang menjadi syaratmu itu?” Dia berkata, itu sangat mudah. Jika engkau dan Allah SWT menerima, Aku menerimanya. Jika Allah SWT tidak menerimanya, Aku juga menolak untuk menikah. Ketika engkau datang ke dunia ini, engkau berkata, ‘umatku, umatku!’ dan selama hidupmu, siang dan malam, Aku mendengarmu di dalam rumah selalu memohon, ‘Umatku, Ya Allah SWT! Izinkan Aku untuk membawa umatku kepada-Mu Ya Allah SWT! Maafkanlah mereka! Murnikanlah mereka! Hapuskanlah dosa-dosa mereka, beban mereka dan kesulitan mereka!’ Aku mendengarmu, dan Aku tahu betapa menderitanya engkau untuk umatmu. Dan Aku tahu dari apa yang telah engkau ucapkan bahwa ketika engkau meninggal, engkau akan tetap mengucapkankan ‘umatku!’ kepada Allah SWT, juga di dalam kuburmu, dan di Hari Pembalasan nanti.

“Umatku” berarti seluruh umat manusia. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia—tidak hanya untuk muslim. Salah besar untuk menafsirkan kata umatku dengan cara demikian. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia. Pada saat itu tidak ada muslim dan beliau datang untuk seluruh umat manusia, Kristen, Yahudi dan penyembah berhala dari masa Jahiliyah. Orang-orang yang mempercayai beliau disebut muslim, mereka juga dikenal dengan “Ummatul Ijaba,” artinya umat bagi mereka yang menerima Rasulullah SAW. Mereka yang tidak mempercayainya disebut “Ummatud da’wa,” artinya umat (yang telah diberi) pesan, mereka berada di sisi luar, tetapi tetap saja Rasulullah SAW datang kepada mereka, dengan demikian mereka juga adalah umatnya.

Fatima AS melanjutkan, “Sejak Aku melihatmu—wahai Ayahku—sangat menderita untuk umatmu, dan karena cinta kepada umatmu juga tumbuh dalam hatiku, Aku menginginkan umatmu sebagai mas kawinku. Jika engkau menerimanya, Aku akan menikahi ‘Ali RA, KW.” Dia meminta seluruh umat Rasulullah SAW—Yahudi, Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, semua orang tanpa diskriminasi. “Aku menginginkan mereka sebagai mas kawinku agar Aku dapat menerimanya saat Aku berada di Hari Pembalasan nanti, dan menerima mas kawin itu dari Allah SWT, sehingga Aku bisa memasukkan mereka ke dalam surgaku. Jika engkau tidak menerimanya, Aku tidak akan menikahi ‘Ali RA, KW.”

Apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah SAW? Beliau tidak bisa memberikan mas kawin semacam itu, karena itu tidak berada di tangannya. Beliau menunggu kedatangan Jibril AS, tetapi malaikat Jibril AS tidak datang dengan segera. Dia membiarkan Rasulullah SAW menunggu beberapa saat, lalu datang dan mengatakan, “Allah SWT menyampaikan Salam-Nya kepadamu, dan menerima permintaan Fatima AS, dan memberikan seluruh umat manusia sebagai mas kawin untuk menikahi ‘Ali RA, KW.” Dengan segera Rasulullah SAW bangkit dan salat syukur 2 rakaat untuk berterima kasih kepada Allah SWT.

Fatima AS tidak berkata, “Aku menginginkan uang atau perhiasan,” sebagaimana wanita sekarang, pria berusaha untuk menikahi gadis yang kaya dan sebaliknya. Dia hanya melihat umat Rasulullah SAW. Tidak ada satu pun yang akan berada di luar mas kawinnya, karena jika Allah SWT mengeluarkan satu orang saja, itu akan berarti dia telah ‘berzina’ dengan ‘Ali. Oleh sebab itu, dia akan mengambil seluruh umat manusia di bawah sayapnya dan mereka akan masuk surga bersamanya.

Ini berasal dari kekuatan satu orang wanita muslim. Dia membawa seluruh orang bersamanya untuk masuk surga. Apakah kalian berpikir seseorang akan tertinggal di luar? Karena dia, tak seorang pun akan tertinggal di luar. Bagaimana dengan sebagian besar wanita dalam Islam? Apa yang akan menjadi kekuatan mereka? Bagaimana dengan para wali? Bagaimana dengan rasul-rasul? Itulah sebabnya Allah SWT menciptakan umat manusia bersih, dan Dia menjaga tetap bersih dengan kekuatan seperti itu, dan sebagaimana Sayyidatina Fatima AS, Sayyidina ‘Ali RA, KW, Sayyidina ‘Umar RA, Rasulullah SAW, Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim QS, dan para wali dari Tarekat Naqsybandi—menjaga setiap orang agar tetap bersih dan murni.

Oleh sebab itu bergembiralah, puaslah dengan yang Allah SWT berikan kepada kalian. Jika kalian bergembira dan puas, kalian akan menemukan kegembiraan dan kepuasan sepanjang hidup kalian.

Wa min Allah at tawfiq

© 1993, Haqqani Islamic Trust
7007 Denton Hill

Fenton, MI 48430


06 July 2008

Samudra Syah Naqsyband QS

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Athi’ullaha wa athi’ur rasula wa ulil amri minkum” [QS An-Nisaa, 4: 59]. Kita harus mematuhi Allah SWT, kita harus patuh kepada Rasulullah SAW, dan kita harus mematuhi para pemimpin kita. Hal ini harus dipegang dalam melakukan apa yang mereka katakan kepada kita dan dalam mengikuti jalan yang telah mereka tunjukkan kepada kita. Kita percaya bahwa kita membutuhkan bimbingan dalam menunjukkan jalan bagi kita—bukan berati kita tidak membutuhkannya, seperti yang dikatakan oleh sekelompok orang dewasa ini. Sebagaimana Allah SWT memberikan Rasulullah SAW seorang pemandu pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam wujud malaikat Jibril AS. Sebagaimana malaikat Jibril AS adalah pemandu bagi Rasulullah SAW untuk mendekati Hadirat Ilahi, jadi kita juga membutuhkan pemandu untuk menunjukkan jalan menuju Rasulullah SAW, dan kemudian Rasulullah SAW akan menunjukkan jalan bagi kita untuk mendekati Allah SWT.

Kita tidak peduli terhadap apa yang mungkin dikatakan oleh orang lain, dalam pengajaran ini kita bersifat terbuka, kita mengikuti apa yang diberikan oleh Mawlana Syekh Nazim QS, beberapa harta sufi yang sangat berharga berupa pengetahuan internal (batin) dan spiritualitas. Kita tidak akan menunggu untuk melihat apakah seseorang menerimanya atau merasa keberatan. Kita telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari syariat, sedangkan yang ini adalah sebagian ajaran dari haqiqat—realitas. Untuk kesekian kalinya saya ulangi bahwa realitas tanpa syariat tidak dapat dibenarkan. Kita harus melaksanakan syariat secara ketat dalam segala sikap dan tingkah laku kita. Syariat akan mengajarkan disiplin bagi tubuh kita sedangkan spiritualitas akan mengajarkan disiplin bagi jiwa kita. Insya Allah sekarang kita akan melanjutkan pembicaraan yang terhenti pada pertemuan minggu lalu.

Insya Allah, Allah SWT tidak akan meninggalkan kita seperti ketika Dia meninggalkan Nabi Musa AS di gurun Sinai selama 40 tahun. Allah SWT menjanjikan Nabi Musa AS untuk menghancurkan Fir’aun, namun selama 40 tahun Dia meninggalkannya di gurun dan setiap malam hanya berkata, “besok, besok.” Esok hari pun tiba, namun tidak ada kejadian apa-apa. Allah SWT melihat hamba-Nya dengan Nama ash-Shabur, “Yang Maha Penyabar”. Dia tidak melihat hamba-Nya dengan Nama al-Jabbar, “Yang Maha Memaksa.” Dia melihat kita dengan Nama-Nya yang penuh rahmat, “ar-Rahmaan”, “ar-Rahiim” dan dengan atribut kesabaran. Itulah sebabnya Dia juga sabar dalam menghadapi Fir’aun. Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa Allah SWT menciptakan semua makhluk karena Dia mencintainya. Jika Dia mencintai setiap orang, Dia ingin setiap orang percaya kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia bersabar dan bersabar terus hingga saat terakhir. Mungkin kita akan ingat dan memohon ampun, dan masuk ke dalam Surga-Nya.

Itulah sebabnya Allah SWT menciptakan para awliya. Setelah Rasulullah SAW tidak ada lagi rasul yang lain. Beliau adalah rasul terakhir. Tetapi Allah SWT memberikan rahasia yang ditanamkan ke dalam hati beliau kepada para sahabatnya, dan para sahabat memberikannya kepada para awliya. Dan menurut guru kita, dunia tidak akan kekurangan seorang wali pun. Jika salah satu wali meninggal dengan segera ia digantikan yang lain. Di dunia ini terdapat 124.000 wali yang masih hidup, sebagaimana terdapat 124.000 nabi dan rasul dan 124.000 sahabat. Para awliya ini diberikan sebagai hadiah kepada Rasulullah SAW untuk membersihkan kita dari dosa. Salah satu wali ini adalah Sayyidina Syah Naqsyband QS. Kisah singkat berikut ini akan menolong kita untuk memahami siapa wali ini.

Setelah Rasulullah SAW, Tarekat Naqsybandi dipercayakan kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA, kemudian diteruskan kepada Sayyidina Salman al-Farisi RA, Sayyidina Qasim RA putra dari Sayyidina Abu Bakar RA, lalu kepada Sayyidina Ja’far ash-Shadiq AS putra dari Sayyidina Husain AS, dan selanjutnya kepada Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS. Beliau adalah orang yang kelima dan hidup 400 tahun sebelum Sayyidina Syah Naqsyband QS.

Ketika Sayyidina Abu Yazid QS mengetuk pintu, memohon izin untuk memasuki Hadirat Ilahi, Allah SWT berkata kepadanya, “Wahai Abu Yazid QS, engkau tidak bisa memasuki Hadirat-Ku tanpa mengetahui bagaimana cara mendekati-Ku.” Abu Yazid QS memohon, “Ya Tuhanku, ajarilah Aku cara mendekati-Mu.” Allah QS berfirman, “Bersikaplah rendah hati, jadilah tempat sampah bagi hamba-hamba-Ku dan bagi seluruh umat manusia.” Sayyidina Abu Yazid QS membuat dirinya begitu rendah hati sehingga seolah-olah beliau menjadi tempat sampah bagi semua orang. Para ulama di masanya memutuskan untuk membunuhnya. Pada saat itu beliau meninggalkan desanya dan pergi ke tepi laut, di sana beliau menemukan sebuah kapal yang akan berangkat ke negri lain. Beliau menaiki kapal itu dan kemudian kapal itu berangkat meninggalkan pantai. Di tengah laut tiba-tiba timbul badai yang sangat ganas yang merobohkan kapal dan menenggelamkannya. Abu Yazid QS berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, jika Engkau membuat kapal ini tenggelam karena dosa-dosaku, Aku siap untuk dilemparkan ke dalam laut.” Sekonyong-konyong beliau melemparkan dirinya ke dalam laut dan seketika itu laut menjadi tenang.

Sayyidina Abu Yazid QS mengorbankan dirinya agar orang-orang tetap hidup, beliau membawa dosa-dosa mereka bersamanya dan menyingkirkan hukuman mereka. Ketika Abu Yazid QS berada dalam laut, beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan muncul ke permukaan lagi sebelum menemukan kebenaran dan realitas, dan beliau memutuskan untuk pergi sebagaimana dalam al-Qur’an disebutkan, pergi ke “bumi ke tujuh” [QS ath-Thalaaq, 65: 12] untuk menemukan realitas dan membawanya kepada umat manusia. Beliau menembus kedalaman air dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan, menembus kegelapan yang satu menuju kegelapan yang lain. Beliau memasuki samudra pengetahuan yang satu menuju samudra pengetahuan yang lain mengenai seluruh alam semesata ini. Akhirnya beliau mencapai suatu tempat di mana beliau mendengar suara yang bunyinya seperti “HUUU…” seperti ketika orang meletakkan kerang laut atau benda lain di telinga mereka. Itu adalah bunyi sungai Khawtsar di surga, gerakan atau aliran air yang dapat kita dengar di telinga kita.

Sayyidina Abu Yazid QS tiba di suatu tempat di mana beliau dapat mendengar suara itu. Beliau merasa heran dan ingin tahu siapa yang mengeluarkan suara itu. Mawlana berkata, bahwa Sayyidina Abu Yazid QS, dengan kekuatan dan cahaya yang telah diberikan Allah SWT ke dalam hatinya, dapat mengetahui dan mengucapkan nama-nama seluruh umat manusia yang telah diciptakan Allah SWT di muka bumi ini, lengkap dengan nama ayah dan ibunya tanpa kehilangan satu nama pun, mulai dari Nabi Adam AS sampai Hari Kiamat, hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Pada saat itu beliau menggunakan kekuatan ini untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan bunyi tadi di tempat itu.

Nama “Hu” adalah Samudra bagi hal-hal yang gaib. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an, “Qul HUwallaahu ahad,” “Katakanlah, HU (=Dia) adalah Allah SWT, Yang Maha Esa” [QS al-Ikhlash, 112: 1]. Oleh sebab itu HU merujuk kepada Allah SWT, dan ini berada dalam ‘ilmul ghayb, pengetahuan tentang hal-hal yang gaib yang tidak diketahui oleh orang-orang. Tak seorang pun yang dapat mengetahui seperti apa samudra ini dan bagaimana maknanya. Mawlana berkata bahwa Sayyidina Bayazid QS menggunakan seluruh kekuatan yang telah diberikan oleh Allah SWT untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan suara itu, tidak hanya dalam lima menit tetapi selama 70 hari dan beliau tetap belum bisa mengetahui berapa jumlah orang yang berada di sana menghasilkan bunyi “Huu.” Kemudian beliau mengerahkan kekuatannya lagi, berusaha untuk mengetahui siapa yang mengajarkan mereka, dan akhirnya beliau mengetahui bahwa orang itu adalah Syah Naqsyband QS.

Sayyidina Bayazid QS mengetahui bahwa wali itu akan muncul setelah beliau, melewati 10 orang wali setelahnya, 500 tahun kemudian. Rohnyalah yang mengajarkan roh orang-orang di tempat itu. Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa orang-orang itu berasal dari dunia ini dan juga planet lain yang menjadi pengikut Tarekat Naqsybandi. Jangan dikira hanya kita saja, yang hidup di planet ini yang menjadi pengikut Tarekat Naqsybandi. Sayyidina Syah Naqsyband QS juga bertanggung jawab atas planet lain dan beliau mengajarkan mereka.

Ketika Abu Yazid al-Bistami QS mengetahui bahwa Syah Naqsyband QS adalah guru mereka, dalam hatinya beliau merasa ngeri jangan-jangan Syah Naqsyband QS akan berkata, “Mengapa engkau mengganggu murid-muridku? Mengapa engkau memasuki daerah yang bukan diperuntukkan untukmu?” Dengan segera beliau menjauh dari samudra itu, samudra Syah Naqsyband QS, pemimpin tarekat yang kita ikuti sekarang, insya Allah. Sayyidina Syah Naqsyband QS adalah guru kita dan beliau telah dianugerahkan suatu rahasia yang besar dalam hatinya, beliau telah meneruskan rahasia itu kepada para penerusnya hingga sekarang kepada Syekh kita, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS. Dari rahasia itulah asal cerita mengenai Syah Naqsyband QS ini.

Ketika Allah SWT memberikan kekuatan itu kepada Syah Naqsyband QS dan berkata kepadanya bahwa beliau akan menjadi pembantu Rasulullah SAW untuk membantu manusia bertobat atas dosa-dosanya, beliau menanyakan satu hal kepada Rasulullah SAW. Beliau berkata, “Wahai Rasulku yang tercinta, jika engkau menghendaki aku menjadi pembantumu, Aku membutuhkan satu hal darimu. Aku harus memegang tanggung jawab atas malaikat-malaikat di pundak kanan dan di pundak kiri. Jika engkau memberiku tanggung jawab itu, maka Aku akan menerima tugas itu.” Setelah Rasulullah SAW bertanya kepada Allah SWT dan mendapat izin bagi Syah Naqsyband QS, maka Syah Naqsyband QS menerima untuk bertanggung jawab atas umat ini.

Mawlana berkata bahwa, setiap kali seseorang berbuat dosa, Syah Naqsyband QS berusaha untuk mengirim inspirasi ke dalam hati orang itu agar memohon ampun kepada Allah SWT. Jika orang itu tidak memohon ampun dalam 24 jam, sebelum waktu Subuh, Syah Naqsyband QS akan memohon ampun atas nama orang itu, dan balasannya akan dituliskan di pundak orang itu.

Malam ini adalah malam Isra’ dan Mi’raj, malam di mana Rasulullah SAW menghadap ke Hadirat Ilahi. Ketika Rasulullah SAW memasuki surga ketujuh, Sayyidina Jibril AS berkata kepadanya, “Ya Rasulullah SAW, Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan bersamamu. Ini adalah batasku. Jika Aku memaksa masuk, Aku akan musnah terbakar.” Rasulullah SAW berjalan sendiri menuju ke Hadirat Ilahi. Setelah tempat itu, apa pun yang diperoleh oleh Rasulullah SAW, Jibril AS tidak mengetahuinya. Jika malaikat Jibril AS tidak sanggup mengetahui apa yang diperoleh oleh Rasulullah SAW dari Tuhannya, bagaimana dia bisa menyampaikan al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. Jibril AS berdiri di tempatnya dan tidak sanggup untuk meneruskan perjalanannya. Jibril AS berkata kepada Rasulullah SAW, “Engkau saja yang melanjutkan perjalanan ke Hadirat Tuhan kita.” Setelah itu Rasulullah SAW sendiri yang melanjutkan perjalanannya. Apa yang beliau dapatkan adalah pengetahuan dari tingkat Jibril AS sampai kepada tingkat Allah SWT, Mawlana Syekh berkata bahwa Rasulullah SAW telah bergerak maju 5 kali 500.000 tahun—dalam mendekati Tuhannya dengan menembus lima lapisan, yang masing-masing berjarak 500.000 tahun, dan tahun Tuhan tidak sama dengan perhitungan tahun kita.

Hikmah dan pengetahuan apa yang diperoleh oleh Rasulullah SAW di sana? Hal ini tidak ada yang mengetahuinya. Pengetahuan ini diperuntukkan khusus bagi Rasulullah SAW dan beliau akan menjaganya hingga suatu waktu di mana semua orang telah masuk ke dalam surga. Kita tidak peduli terhadap orang yang mungkin akan berkata “ya” atau “tidak”, kenyataannya Rasulullah SAW telah memberikan pengetahuan di atas tingkat Jibril AS yang telah diperolehnya kepada para awliya, dan beliau juga telah memberikan pengetahuan yang diperolehnya di bawah tingkat Jibril AS kepada syariat. Ini adalah perbedaan antara syariat atau hukum dengan hakikat atau realitas. Itulah makna dari hadis yang disampaikan oleh Sayyidina Abu Hurayra RA mengenai dua jenis pengetahuan, “Rasulullah SAW telah memasukkan dua jenis pengetahuan ke dalam hatiku. Yang satu aku sampaikan kepada orang-orang”—ini adalah syariat, pengetahuan di bawah tingkat Jibril AS, “tetapi jika aku mengatakan pengetahuan yang lainnya, mereka akan memotong leherku,” dan itulah pengetahuan di atas tingkat Jibril AS.

Itu juga perbedaan antara orang-orang yang menerima pengetahuan ini dan mereka yang menyangkalnya.

Ketika Rasulullah SAW mendekati Hadirat Ilahi, beliau bertemu dengan seekor Singa yang sangat besar dan menjadi takut karenanya. Allah SWT bertanya kepadanya, “Wahai Rasul-Ku yang tercinta, apa yang membuatmu takut terhadap dunia ini?” Beliau menjawab, “Wahai Tuhanku, Aku belum pernah merasa takut selama hidupku kecuali ketika melihat singa dalam Hadirat-Mu ini.” Mawlana Syekh berkata bahwa Rasulullah SAW pun tidak mendapatkan semua pengetahuan dari Allah SWT. Jika beliau mengetahui segala hal dari Allah SWT maka beliau tidak akan merasa takut terhadap singa tersebut. Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh Rasulullah SWT belum mencapai maksimum. Itulah sebabnya Rasulullah SAW terus mengalami peningkatan, bahkan di makamnya sekalipun, dalam mencapai Hadirat Ilahi. Jika beliau tidak merasa takut, maka saat itu beliau tidak akan mengetahui rahasia ‘ilmul awwalin wa ‘ilmul akhirin, pengetahuan mengenai awal dan pengetahuan mengenai akhir, yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.

Namun pengetahuan yang telah diperoleh oleh Rasulullah SAW akan dibuka nanti pada saat Imam Mahdi AS telah datang. Pengetahuan itu tidak bisa dibuka sekarang karena membutuhkan dukungan. Tanpa dukungan Imam Mahdi AS kepada para awliya yang akan menyampaikan pengetahuan ini, orang-orang akan menggantungnya, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Sayyidina Abu Hurayra RA. Kalian dapat melihat bahwa banyak syekh sufi dalam sejarah Islam yang digantung karena mereka menyampaikan pengetahuan tersebut. Tanpa dukungan dari Imam Mahdi AS, tak seorang pun diperbolehkan untuk membicarakan pengetahuan ini. Sekarang kita hanya mencium hembusan aroma dari pengetahuan itu saja, seperti sebuah tetesan yang jatuh menimpa kita, agar kita mengerti bahwa ada pengetahuan spiritual yang tersimpan dalam hati dan bahwa pengetahuan itu akan disebarkan ke dalam hati setiap orang ketika Imam Mahdi AS telah datang. Namun sebelum beliau datang, setiap orang dapat mencium pengetahuan ini, dan mereka yang menginginkannya harus mengikuti majelis zikir, sebab tanpa mengikutinya, mereka tidak akan mendengar hal ini. Ini adalah pengetahuan tinggat tinggi bagi setiap orang—baik pembicara maupun yang hadir sama-sama mendengarkan. Pengetahuan ini tidak bisa diselesaikan hanya dalam sekali, lima atau sepuluh kali pertemuan.

Jika Saya mengucapkan kata-kata dari Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS ketika beliau berkata kepada Tuhannya, orang akan mengatakan bahwa kita termasuk orang kafir. Memang benar, jika kita yang mengucapkan kata-kata itu, kita adalah orang yang tidak beriman, tetapi lain halnya bila yang mengatakan adalah Abu Yazid al-Bistami QS, beliau adalah seorang mukmin. Beliau mengucapkannya karena beliau mengetahuinya, merasakan dan melihatnya. Tetapi bila kita yang mengatakannya, kita tidak akan melihat dan merasakannya, oleh sebab itu kita akan menjadi orang yang kafir, itulah bedanya. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, Mulki akbaru min mulkik,” “Kerajaanku lebih besar daripada kerajaan-Mu.” Apa arti dari ucapan itu? Beliau mengatakan kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menciptakan alam semesta ini dan Engkau telah berkata bahwa di Mata-Mu alam semesta ini tidak bernilai lebih dari sayap seekor nyamuk.”

Law kanatid dunya ta’dilu ‘indallaahi janaha ba’udatin ma saqa kafiran minha syarbata ma’in,” “Jika dunia ini tidak lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk dalam pandangan Allah SWT, Dia akan menyangkal orang-orang kafir tak lebih dari segelas air” (Suyuti). Ini berarti bahwa kerajaan ini tidak bernilai, di lain pihak, “Engkau adalah kerajaanku, dan Engkau adalah segala-galanya. Itulah sebabnya kerajaanku lebih besar dan lebih baik daripada kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu adalah kami semua dan kami bukanlah apa-apa! Tetapi Engkau adalah kerajaan kami dan Engkau adalah segala-galanya, oleh sebab itu kerajaan kami lebih baik.”

Jika kita mengatakan hal ini dengan pemahaman kita, ini tidak bisa diterima. Jika Abu Yazid QS yang mengatakannya, beliau bersungguh-sungguh—kita tidak dapat menyamai beliau. Sayyidina Abu Hurayra RA menyembunyikan banyak pengetahuan seperti itu seperti yang dikatakan dalam hadis (yang telah disebutkan di atas—red). Pengetahuan ini khusus ditujukan bagi para awliya, alhamdulillah kalian percaya kepada awliya dan ini adalah kepercayaan yang paling baik dan paling penting. Kita tidak menyangkal Rasulullah SAW! Hasha (dalam bahasa Turki, berarti Hush!) dan kita tidak menyangkal syariatHasha! Kita harus melakukan seperti yang ditunjukkan oleh syariat kepada kita dan seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, tetapi kita tidak dapat menyangkal adanya wali yang menjadi penolong dan pemandu bagi kita untuk membuat hati kita bersih dan suci dari kehidupan materialistik ini.


Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

© 1993, Haqqani Islamic Trust
7007 Denton Hill
Fenton, MI 48430