Showing posts with label Ajaran. Show all posts
Showing posts with label Ajaran. Show all posts

20 April 2009

Sekilas tentang Kehidupan dan Ajaran Mawlana Syekh Nazim QS yang Kita Cintai

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلَى الِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ


oleh Dr. G.F. Haddad

alih bahasa oleh DvD 

Damaskus, 12 Rabi’ul Awwal 1425 H – 1 Mei 2004 


Segala puji dan syukur bagi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah membimbing kami pada samudra Rahmat dari Kebenaran-Mu dan Cahaya-Mu.   Allahumma! Kirimkan barakah dan salam kedamaian bagi junjungan kami Muhammad SAW, Penutup para Nabi dan Utusan-Mu, yang membawa Perjanjian Terakhir – Quran al-Karim, juga bagi keluarga beliau dan seluruh sahabat-sahabat beliau, dan pewaris-pewaris beliau, baik yang hidup di masa lalu, maupun di masa kini, terutama pewaris dan wakil utama beliau di zaman ini. 

Hamba yang lemah ini, Gibril ibn Fouad diminta untuk “menulis biografi dan artikel tentang kekasih kita Mawlana Syekh Nazim QS dalam beberapa kata-kata Anda sendiri tentang kehidupan dan ajaran-ajaran beliau dan pengalaman Anda bersama beliau.”  Bulan ini adalah bulan Rabi’ul Awwal 1425H (Mei 2004) adalah saat paling tepat untuk melakukan hal ini. Semoga Allah SWT mengilhami baik penulis maupun pembaca tentang Mawlana Syekh Nazim QS agar memiliki gambaran yang adil dan tepat terhadap subjek yang mulia ini. Tak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan-Nya. Sebagaimana Dia melingkupi kebodohan kita dengan Ilmu-Nya, semoga pula Dia melingkupinya dengan Rahmat-Nya, Amin! (Al-Hamdulillah, izin telah diperoleh dari Mawlana untuk merilis tulisan ini pada hari ini.) 

Nama lengkap Mawlana adalah Muhammad Nazim ‘Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yashil Bash al-Haqqani al-Qubrusi al-Salihi al-Hanafi QS, semoga Allah  SWT mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya.   Kunya (nama panggilan) beliau  adalah Abu Muhammad – dari nama anak laki-laki tertua beliau – selain itu beliau pula adalah ayah dari Baha’uddin, Naziha, dan Ruqayya. 

Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari suatu keluarga Arab dengan akar-akar budaya Tatar. Beliau mengatakan pada saya bahwa ayah beliau adalah keturunan dari Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jailani QS. Diceritakan pula pada saya bahwa ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Ruumi QS. Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad SAW, dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA, dari sisi ibundanya. 

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Siprus, Mawlana melanjutkan ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai sarjana Teknik Kimia.  Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh, di bawah bimbingan Syekh Jamal al-Din al-Alsuni QS (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau.  Mawlana juga belajar tasawwuf dan Tarekat Naqsybandi dari Syekh Sulayman Arzarumi QS (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syams (Suriah). 

Mawlana melanjutkan studi Syari’ah-nya ke Halab (Aleppo), Hama, dan terutama di Homs. Beliau belajar di zawiyah dan madrasah masjid sahabat besar Khalid ibn Al-Walid RA di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syekh Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud QS dan Syekh ‘Abd al-Jalil Murad QS, dan ijazah dalam ilmu Hadis dari Muhaddits Syekh ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud al-Hanafi QS. 

Perlu dicatat bahwa yang terakhir adalah salah satu dari sepuluh guru hadis dari Rifa’i Hafizh di Aleppo, Syekhul Islam ‘Abd Allah Siraj al-Din QS (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Daghestani QS ketika yang terakhir ini mengunjungi Aleppo di tahun 1959 dan  yang memberikan bay’at dalam Tarekat Naqsybandi pada Mawlana Syekh Nazim QS, ketika Mawlana Syekh Nazim QS mengunjunginya terakhir kali di Aleppo di tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan pada saya oleh Ustadz Muhammad ‘Ali ibn Mawlana al-Syekh Husayn ‘Ali QS dari Syekh Muhammad Faruq ‘Itqi al-Halabi QS yang juga hadir pada peristiwa terakhir itu. 

Mawlana Syekh Nazim QS juga belajar di bawah bimbingan Syekh Sa’id al-Siba’i QS yang kemudian mengirim beliau ke Damaskus setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Ad-Daghestani QS ke Suriah.   Setelah kedatangan awal beliau ke Suriah dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Mawlana Syekh ‘Abdullah QS tinggal di Damaskus, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs.  Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syekh Sa’id al-Siba’i QS yang adalah pimpinan dari Madrasah Khalid bin Walid. Syekh Sa’id QS menulis pada beliau (Mawlana Syekh ‘Abdullah QS), “Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang tengah belajar pada kami.” Mawlana Syekh ‘Abdullah QS menjawab padanya, “Murid itu milik kami; kirimkan dia kepada kami!” Sang murid itu adalah guru kita, Mawlana Syekh Nazim QS, yang kemudian datang ke Damaskus dan memberikan bay’at beliau pada Grandsyekh kita pada kurun waktu antara tahun 1941 dan 1943. 

Pada tahun berikutnya, Mawlana Syekh ‘Abdullah QS pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Suriah pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syekh Husayn ibn ‘Ali  ibn Muhammad ‘Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syekhani al-Husayni QS  (lahir 1336H/1917M) – semoga Allah SWT mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya – di Qasyoun, suatu gunung yang menghadap Damaskus, yang Allah SWT berfirman tentangnya; “Demi Tiin dan buah Zaitun! Demi Bukit Sinai!” [QS. 95:1-2]. Qatadah dan al-Hasan Al-Basri berkata, “At-Tiin adalah Gunung di mana Damaskus terletak [Jabal Qasyoun] dan Zaitun adalah Gunung di mana Jerusalem terletak.” Diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq, al-Tabari, al-Wahidi, al-Bayzawi, Ibn al-Jawzi, Ibn Katsiir, al-Suyuti, as-Syaukani, dll., semua dalam tafsir-tafsir mereka. 

Mawlana Syekh Nazim QS juga membeli sebuah rumah dekat rumah Grandsyekh dan bersama Mawlana Syekh Husayn QS, membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Grandsyekh, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Jami’, di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyah Grandsyekh, di tempat mana, hingga saat ini, makanan dan sup ayam yang lezat disiapkan dalam kendi-kendi yang besar dan dibagi-bagikan bagi kaum fuqara dan miskin dua kali dalam seminggu. 

Dus, Mawlana Syekh Nazim QS tinggal di Damaskus sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil dari Grandsyekh, hingga Grandsyekh wafat di tahun 1973. Setelah tahun itu, Mawlana tinggal di Damaskus beberapa tahun sebelum kemudian pindah ke Siprus. 

Jadi, Mawlana, yang aslinya Cypriot, dan Grandsyekh, yang asalnya Daghistani, keduanya telah menjadi penduduk Damaskus “Syamiyyun” dan tinggal di distrik orang-orang salih (as-saalihiin) yang disebut Salihiyya! Tak ada keraguan lagi, bahwa pentingnya Damaskus bagi Mawlana dan Grandsyekh adalah karena Syam adalah negeri yang penuh barakah dan terlindungi melalui para Nabi dan Awliya’. 

Imam Ahmad dan murid beliau, Abu Dawud meriwayatkan dengan isnad (rantai) yang sahih bahwa Nabi suci SAW bersabda, “Kalian harus pergi ke Syam.  Tempat itu telah terpilih secara Ilahiah oleh Allah SWT di antara seluruh tempat di bumi-Nya ini.  Di dalamnya Dia melindungi hamba-hamba pilihan-Nya; dan Allah SWT telah memberikan jaminan padaku berkenaan dengan Syam dan penduduknya!” Imam al-Nawawi berkata dalam kitab beliau Irsyad Tullab al-Haqa’iq ila Ma’rifati Sunan Khayr al-Khala’iq (s): “Hadis ini berkenaan dengan fadhillah (keistimewaan) yang besar dari Syams dan merupakan suatu fakta yang dapat teramati!” 

Direktur pimpinan Dar al-Ifta’ (secara literal bermakna “Rumah Fatwa”, maksudnya Majelis Fatwa seperti MUI di Indonesia, penerj.) di Beirut, Lebanon, Syekh Salahud Diin Fakhri QS mengatakan pada saya di rumah beliau di Beirut dan menulis dengan tangan beliau kepada diri saya, 

“Pada suatu pagi di hari Ahad, 20 Rabi’ul Akhir 1386 H, bertepatan dengan hari Minggu 7 Agustus 1966 M, kami mendapat kehormatan untuk mengunjungi Syekh ‘Abd Allah al-Daghistani QS–rahimahullah (semoga Allah SWT merahmatinya) – di Jabal Qasyoun di Damaskus atas inisiatif serta disertai pula oleh Mawlana al-Syekh Mukhtar al-‘Alayli QSrahimahullah – Mufti Republik Lebanon saat itu; [yang adalah pula paman dari Syekh Hisyam Kabbani QS, penulis], Syekh Husayn Khalid QS, imam dari Masjid Nawqara; Hajj Khalid Basyir – rahimahumallah (semoga Allah SWT merahmati keduanya); Syekh Husayn Sa’biyya QS [saat ini direktur dari Dar al-Hadis al-Asyrafiyya di Damaskus]; Syekh Mahmud Sa’d QS; Syekh Zakariyya Sya’r QS; dan Hajj Mahmud Sya’r.  Syekh ‘Abdullah QS menerima kami dengan amat baik dan penyambutan yang ramah serta penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Syekh Nazim al-Qubrusi QS – semoga Allah SWT merahmati dan menjaga beliau – juga berada di situ saat itu! 

Kami duduk dari pukul sembilan di pagi hari hingga tiba panggilan adzan Dzuhur, sementara Syekh (Grandsyekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS, penerj.) – rahimahullah – menjelaskan tentang Syams (Suriah), keutamaannya, kelebihan-kelebihannya yang luar biasa, dan bahwa tempat itu merupakan tempat Kebangkitan dan bahwa Allah SWT. akan mengumpulkan seluruh manusia di dalamnya untuk penghakiman dan hisab.  Beliau menyebutkan pula hal-hal yang membuat hati dan pikiran kami tersentuh dan tergerak, dikuatkan pula oleh pengaruh suasana distrik Salihiyya yang suci, dan beliau berbicara pula tentang hubungan yang tak terpisahkan – dalam praktik maupun dalam teori – antara tasawwuf dengan Syari’ah… Semoga Allah SWT membimbing dan menunjukkan pada kita petunjuk-Nya dalam perkumpulan dan suhbat dengan Awliya’-Nya yang shiddiq. Aamiin, yaa Rabbal ‘Aalamiin!” 

Masih ada banyak lagi nama-nama Ulama dan Awliya’ Syams yang prestisius yang mencintai dan bersahabat dengan Syuyukh kita dalam periode keemasan tersebut, seperti Syekh Muhammad Bahjat al-Baytar QS (1311-1396), Syekh Sulayman Ghawji al-Albani QS (wafat 1378H), ayah dari guru kami, Syekh Wahbi QS, Syekh Tawfiq al-Hibri QS, Syekh Muhammad al-‘Arabi al-‘Azzuzi QS (1308-1382H) Mufti dari Lebanon, dan Syekh utama dari guru kami Syekh Husayn ‘Usayran QS, al-‘Arif Syekh Syahid al-Halabi QS, al-‘Arif Syekh Rajab at-Ta’i QS, Syekh al-Qurra’ QS (ahli qira’at Quran, penerj.) Syekh Najib Khayyata al-Farazi al-Halabi QS, al-‘Arif Syekh Muhammad an-Nabhan QS, Syekh Ahmad ‘Izz ad-Din al-Bayanuni QS, al-‘Arif Syekh Ahmad al-Harun QS (1315-1382H), Syekh Muhammad Zayn al-‘Abidin al-Jadzba QS, dan lain-lain – semoga Allah QS merahmati mereka semuanya! 

Dari tiga puluh tahun suhbat (asosiasi) yang barakah antara Mawlana dan Grandsyekh tersebut, muncullah Mercy Oceans (secara literal berarti Samudra Kasih Sayang, merujuk pada buku-buku lama kumpulan suhbat Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani QS, penerj.) yang tak tertandingi, yang hingga kini masih tersebar pada setiap salik/pencari dengan judul-judulnya: Endless Horizons (“Cakrawala tanpa Batas”, penerj.), Pink Pearls (“Mutiara-Mutiara Merah Muda”, penerj.), Rising Suns (“Matahari-Matahari yang tengah terbit”, penerj.). Tak ada keraguan lagi, kumpulan-kumpulan suhbat awal tersebut adalah tonggak-tonggak utama dari seruan da’wah Islam seorang diri Mawlana Syekh Nazim QS di Amerika Serikat dan Eropa, dengan karunia Allah SWT

Semoga Allah SWT melimpahkan lebih banyak barakah-Nya pada Mawlana Syekh Nazim QS dan mengaruniakan pada beliau maqam-maqam tertinggi yang pernah Dia karuniakan bagi kekasih-kekasih-Nya, berdekatan dengan junjungan kita, Sayyidina Muhammad SAW, yang bersabda, 

“Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah SWT akan membuatnya berjalan di salah satu dari jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada ia yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan di kedalaman lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu! Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang beriman kebanyakan adalah bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang! Ulama adalah pewaris-pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah memiliki dinar maupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan ia yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak!” 

Tempat pertama yang kudatangi untuk mencari pengetahuan Nabawi (pengetahuan kenabian) ini adalah London di bulan Ramadan 1411 H, setelah aku bersyahadat laa ilaaha illa Allah (bahwa tiada tuhan selain Allah SWT), Muhammadun Rasulullah SAW (Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT). Di sanalah, aku meraih tangan suci Mawlana untuk pertama kali dan melakukan bay’at (sumpah setia) setelah diperkenalkan pada Tarekat ini oleh menantu beliau, dan khalifah beliau di Amerika Serikat, Syekh Hisyam Kabbani QS– semoga Allah SWT membimbingnya dan membimbing seluruh sahabat-sahabat Mawlana! 

Aku mengunjungi Mawlana beberapa kali di rumah beliau di Siprus dan melihat pula beliau di Damaskus. Di antara hadiah Suhba yang diberikan Mawlana adalah pada dua minggu terakhir di bulan Rajab di tahun 1422H – Oktober 2001 – di rumah dan zawiyah beliau di kota Cypriot Turki, Lefke. Catatan akan pengalaman ini telah ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta diterbitkan dengan judul Qubrus al-Tarab fi Suhbati Rajab atau Kebahagiaan Siprus dalam Suhbat

Pada saat itulah, dan juga saat-saat kemudian, selama dua kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, ke Inggris, di Siprus, dan Damaskus, aku mendapatkan dari Mawlana, petunjuk agung yang sama bagi setiap pencari kebenaran: 

“Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad SAW dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya shalawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau; yang untuk ini Allah SWT mendukung kita!” 

Dari sini, aku mengerti bahwa Murid yang sesungguhnya dalam Tarekat Naqsybandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad SAW, dan adalah tugasnya untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqsybandi atau bukan. 

Ketika seorang Waliyyu-llah yang telah berumur delapan puluh tahun-an di Johor, Malaysia, al-Habib ‘Ali ibn Ja’far ibn ‘Abd Allah al-‘Aydarus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, mengenakan pakaian yang tak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Mawlana dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arab-nya yang tak fasih.  Ketika kami memohon du’a beliau bagi negeri-negeri kita yang terluka dan bagi penduduk-penduduknya, beliau menjawab, “Ummah ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syekh Nazim QS telah kau dapati kebercukupan!” 

Dus, dengan setiap perjumpaan dari murid yang sederhana dan rendah hati dari Mawlana dengan Awliya’ dari Umat ini; Mereka (para Awliya’ tersebut,  penerj.) semuanya menunjukkan rasa hormat tertinggi serta kerendahan hati yang amat dalam bagi Mawlana dan silsilah beliau, sekalipun mereka secara harfiah (penampakan luar) berada pada jalan (tarekat) yang berbeda, seperti al-Habib ‘Ali al-‘Aydarus QS di Malaysia, Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki QS di Makkah, al-Habib ‘Umar ibn Hafiz QS di Tarim, Sayyid Yusuf ar-Rifa’i QS di Kuwait, Syekh ‘Isa al-Himyari QS di Dubai, Sayyid ‘Afif ad-Din al-Jailani QS dan Syekh Bakr as-Samarra’i QS di Baghdad, as-Syarif Mustafa ibn as-Sayyid Ibrahim al-Basir QS di Maroko tengah, Grandmufti Suriah (alm.) Syekh Ahmad Kuftaro ibn Mawlana al-Syekh Amin QS dan sahabat-sahabatnya Syekh Bashir al-Bani QS, Syekh Rajab Dib QS, dan Syekh Ramazan Dib QS; Syuyukh Kattani QS dari Damaskus; Syekh (alm.) ‘Abd Allah Siraj ud-Din QS dan keponakan beliau Dr. Nur ud-Din ‘Itr; Mawlana as-Syekh ‘Abd ur-Rahman as-Shaghuri QS; Dr. Samer al-Nass; dan guru-guru serta saudara-saudara kita lainnya di Damaskus – semoga Allah SWT selalu melindungi Damaskus dan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dan diri kita! Aku telah bertemu dengan setiap nama yang kusebut di atas kecuali Syekh Sirajud-Din QS dan mereka semua mengungkapkan tarazzi atas Mawlana as-Syekh Nazim QS, mengungkapkan keyakinan atas ketinggian wilayah-nya (derajat kewalian, penerj.) dan memohon do’a beliau atau do’a pengikut-pengikut beliau; 

“…Dan cukuplah Allah SWT sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah SWT…”

(QS. 48:28-29) 

Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara Rijal-Allah (maksudnya para Kekasih Allah SWT, penerj.) bahwa keragaman jalan ini adalah tema (dandana, maksudnya kira-kira “diperuntukkan bagi”, penerj.) mereka yang belum terhubungkan (mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, mereka yang belum mendapatkan ‘amanat’-nya, penerj.), sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”, penerj.) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain.  Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari Kebangkitan. Karena itu, kita, para Murid dari jalan-jalan (Thuruq, jamak dari Tarekat) itu mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridaan Allah SWT dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari suhba (persahabatan) dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan. 

Sebagaimana Allah SWT berfriman: “Yaa Ayyuha l-ladziina aamanu t-taqu ul-laaha wa kuunuu ma’as shadiqiin” “Wahai orang-orang beriman takutlah kalian akan Allah SWT dan tetaplah berada [dalam persahabatan dan kesetiaan] dengan orang-orang yang Benar (Shiddiqiin)!”; dan Nabi Suci kita SAW bersabda, “Aku memerintahkan pada kalian untuk memgikuti sahabat-sahabatku dan mereka yang mengikutinya (tabi’in, penerj.), kemudian mereka yang mengikutinya (tabi’it tabi’in, penerj.); setelah itu, kebohongan akan merajalela…Tapi kalian mestilah tetap berada pada Jama’ah dan berhati-hatilah dari perpecahan!” 

Jama’ah inilah yang dilukiskan dalam suatu hadis mutawatir (diriwayatkan banyak orang, penerj.): Ia yang dikehendaki Allah SWT untuk beroleh kebajikan besar, akan Dia karuniakan padanya pemahaman yang benar (haqq) dalam Agama. Aku (mengacu pada Nabi SAW, penerj.) hanyalah membagikan dan adalah Allah SWT yang mengkaruniakan! Kelompok itu akan tetap menjaga Perintah dan Aturan Allah SWT, tak akan terlukai oleh kelompok yang menentang mereka, hingga datangnya Ketetapan Allah SWT.” 

Ya Allah, jadikanlah kami selalu bersyukur atas apa yang telah Kau karuniakan dan yang telah Rasul-Mu dan Habib-Mu bagikan! 

Aku mendengar Mawlana Syekh Nazim QS berkata beberapa kali atas nama guru beliau, Sultan al-Awliya’ Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah ibn Muhammad ‘Ali ibn Husayn al-Fa’iz ad-Daghestani tsumma asy-Syami as-Salihi QS  (ca. 1294-1393 H) [1]

dari Syekh Syaraf ud-Din Zayn al-‘Abidin ad-Daghestani ar-Rasyadi QS (wafat 1354 H)

dari paman maternal (dari sisi ibu) beliau, Syekh Abu Muhammad al-Madani ad-Daghistani al-Rasyadi QS [2],

dari Syekh Abu Muhammad Abu Ahmad Hajj ‘Abd ar-Rahman Effendi Ad-Daghistani ats-Tsughuri QS (wafat 1299 H) [3],

dari Syekh Jamal ud-Din Effendi al-Ghazi al-Ghumuqi al-Husayni QS (wafat 1292 H) [4],

juga (keduanya baik ats-Tsughuri maupun al-Ghumuqi) dari Muhammad Effendi ibn Ishaq al-Yaraghi al-Kawrali QS (wafat 1260 H) [5],

dari Khass Muhammad Effendi asy-Syirwani ad-Daghestani QS (wafat 1254 H) [6],

dari Syekh Diya’uddin Isma’il Effendi Dzabih Allah al-Qafqazi asy-Syirwani al-Kurdamiri ad-Daghestani QS (wafat. ? )

dari Syekh Isma’il al-Anarani QS (wafat 1242 H),

dari Mawlana Diya’uddin Khalid Dzul-Janahayn ibn Ahmad ibn Husayn as-Shahrazuri al-Sulaymani al-Baghdadi al-Dimashqi an-Naqsybandi al-‘Utsmani ibn ‘Utsman ibn ‘Affan Dzun-Nurayn QS (1190-1242 H) dengan rantai isnad-nya yang masyhur hingga Syah Naqsyband Muhammad ibn Muhammad al-Uwaysi al-Bukhari QS yang berkata, 

“Tarekat kami adalah SUHBAT (persahabatan) dan kebaikannya adalah dalam JAMA’AH (kelompok)” 

Semoga Allah SWT meridai diri mereka semuanya, merahmati mereka, dan mengaruniakan pahala-Nya bagi mereka, dan memberikan manfaat bagi kita lewat mereka melalui telinga kita, kalbu-kalbu kita, dan keseluruhan wujud diri kita, Amin

Beberapa kritik dari “Calon Sufi” atas Tarekat Haqqani mengatakan atas tarekat kita dengan apa yang mereka sebut sebagai “kurang dalam sisi ilmu”. Seorang Sufi yang teliti akan menjadi orang terakhir yang mengatakan kritik yang menyesatkan seperti itu! Semestinya mereka menjadi orang-orang pertama yang mengetahui bahwa ilmu, sebagai ilmu saja, tidak hanya tanpa manfaat, tapi juga dapat menjadi perangkap mematikan yang mengarah kepada kebanggaan syaithaniyyah.  Tak ada maaf baik bagi ia yang sombong (yaitu dengan ilmunya, penerj.) maupun ia yang bodoh; hanya Sufi yang penuh cinta, ketulusan, serta bertaubat-lah, walau memiliki kekurangan dalam ilmu dan adabnya, yang lebih dekat pada Allah SWT dan pada ma’rifatullah (pengenalan akan Allah SWT) daripada seorang Sufi berilmu yang menyimpan dalam kalbunya kebanggaan sekalipun hanya setitik debu.  Semoga Allah SWT melindungi diri kalian dan diri kami! 

Ibrahim al-Khawwass berkata bahwa ilmu (pengetahuan) bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi untuk menaati Sunnah dan mengamalkan apa yang diketahui sekalipun itu hanya sedikit. 

Imam Malik berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi ia adalah cahaya Allah SWT yang Dia timpakan pada hati. 

Imam as-Syafi’i berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui bukti dan dalil, melainkan untuk mengetahui apa yang bermanfaat. 

Dan ketika seseorang berkata tentang Ma’ruf al-Karkhi (murid dari Dawud at-Ta’i, yang merupakan murid dari Habib ‘Ajami, murid dari Hasan al-Bashri; guru dari Sari as-Saqati, guru dari Sayyid Taifa Junayd al-Baghdadi, penerj.), “Dia bukanlah seseorang yang amat alim (berilmu),” Imam Ahmad pun berkata, “Mah! Semoga Allah SWT mengampunimu! Adakah hal lain yang dimaksudkan oleh Ilmu selain dari apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf?!” 

Kritik lain berisi keberatan atas Rabitah atau “Ikatan”, suatu karakteristik khusus dari Tarekat Naqsybandi. Lebih jelasnya, mereka yang mengkritik rabitah ini berkeberatan atas unsur tasawwur atau “Penggambaran” dalam rabitah yang meminta Murid untuk menggambarkan citra sang Syekh dalam hatinya di permulaan maupun selama dzikir. Tetapi Allah SWT telah berfirman, Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah SWT dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT.” [33:21] dan Dia berfirman pula, “Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya;[2:189] dan karena itulah kita datang kepada Nabi SAW melalui ash-Shiddiq RA, dan datang kepada yang terakhir ini melalui Salman RA, dan masuk kepada yang terakhir ini melalui Qasim RA, dan kepada yang terakhir ini melalui Sayyid Ja’far AS, dan seterusnya. Karena “Ulama adalah pewaris para Nabi", dapat dipahami bahwa sang Mursyid adalah teladan kita akan teladan dari Nabi tersebut (di ayat 33:21 di atas, penerj.) dan ia (sang Mursyid) mestilah seseorang di antara mereka yang atas mereka, Nabi SAW bersabda, “Jika kalian melihat mereka, kalian ingat akan Allah SWT!” Hadis ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas , Asma’ bint Zayd, dan Anas (semoga Allah SWT rida atas diri mereka semua), juga dari Tabi’in Sa’id ibn Jubayr, ‘Abd al-Rahman ibn Ghanam, dan Muslim ibn Subayh. 

Beberapa orang memprotes terhadap konsep fana’ sang Murid dalam diri Syekh, atau fana’ fis-Syekh. Mereka berkata, “Syekhmu hanyalah seorang manusia; jadikanlah fana’-mu pada diri Rasulullah SAW!” Tetapi, adalah salah untuk menyamakan sang Syekh pembimbing sama seperti yang lain.  Syekh Ahmad Sirhindi QSqaddas-Allahu sirrahu - berkata: “Ketahuilah bahwa melakukan perjalanan (suluk) pada Tarekat yang paling Mulia ini adalah dengan ikatan (rabitah) dan cinta pada Syekh yang kita ikuti. Syekh seperti itulah yang berjalan di Jalan ini dengan keteguhan (istiqamah), dan ia tercelupi (insabagha) dengan segenap macam kesempurnaan melalui kekuatan daya tarik Ilahiah (jadzbah). Pandangannya menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan konsentrasinya atau pemusatan pikirannya (tawajjuh) mengangkat habis cacat-cacat ruhani.  Pemilik dari kesempurnaan-kesempurnaan ini adalah Imam dari zaman ini dan Khalifah pada waktu itu… Dus, ikatan kita (padanya) adalah (melalui) cinta, dan hubungan (nisba) kita dengannya adalah pencerminan dan pencelupan diri, tak peduli apakah diri kita dekat atau jauh (secara fisik darinya, penerj.). Hingga kemudian sang murid akan tercelupkan dalam Jalan ini melalui ikatan cintanya pada sang Syekh, jam demi jam, dan tercerahkan oleh pantulan cahaya-cahayanya. Dalam pola seperti ini, pengetahuan akan proses bukanlah suatu prasyarat untuk memberi atau menerima manfaat.  Buah semangka matang oleh panas Sang Surya jam demi jam dan menghangat dengan berlalunya hari… Sang Semangka semakin matang, namun pengetahuan macam apakah yang dimiliki sang semangka akan proses ini? Apakah sang Surya bahkan mengetahui bahwa dirinya tengah mematangkan dan menghangatkan sang Semangka?  Sebagaimana disebutkan di atas, berkeberatan atas konsep fana’ fis-Syekh adalah berarti pula berkeberatan akan cinta pada sang Syekh. Kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk mencintai Syekh kita dan mengetahui bahwa ia-lah objek yang paling patut menerima cinta dan hormat kita di dunia ini. 

Sebagaimana sang penyair berpuisi: 

Atas kesetiaan padamu yang suci dan tuluslah, aku mengatakan:

Cinta atasmu terpahat dalam kalbu dari kalbu-kalbuku,

Sebagai suatu ukiran yang dalam [NAQSY], suatu prasasti kuno.

Tak kumiliki lagi kehendak [IRADA] apa pun, selain cintamu,

Tak pula dapat kuucapkan apa pun padamu, selain "aku cinta padamu"

Tentang hal ini, Mawlana berkata pada suatu kesempatan baru-baru ini,  “Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci.  Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita Cinta. Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA’ bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA’AT bermakna [hanya] untuk mengikuti.  Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tetapi tidaklah selalu karena cinta.” 

“Nah, Allah SWT menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah SWT mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya.  Dan setiap orang yang mencintai Awliya’ dan Anbiya’, melalui Awliya’ akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah SWT.” 

“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi.  Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah SWT akan mencintai kalian?” 

“Namun manusia kini sudah seperti kayu, yang kering, kayu kering, mereka menyangkal cinta.  Mereka adalah orang-orang yang kering – tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, terbuka, bersemi dan berbunga di kala musim semi.  Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, tak akan pernah terbuka.  Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia.  Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.” 

“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman.  Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudra!” (akhir suhbat Mawlana). 

Dengan dan melalui Mawlana, Allah SWT telah membuat segala macam hal yang sulit menjadi mudah.  Kita amat bersyukur mengetahui beliau karena beliaulah jalan pintas bagi kita menuju nuur/cahaya dalam Agama ini.  Nur ini adalah tujuan dan sasaran dari setiap orang yang sehat.  Nur dan cahaya inilah yang dilukiskan dalam ayat yang Agung, “Allah SWT menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah SWT). [2:269] Semoga Allah SWT mengaruniakan bagi diri kita hikmah ini dan menjaga diri kita pada Jalan yang telah Dia perintahkan dan Dia sukai bagi diri kita! Semoga Allah SWT mengaruniakan pada Mawlana umur panjang dalam kesehatan dan mengaruniakan pada diri kita tingkatan (maqam) Murid yang Sejati demi kehormatan dari Ia yang paling terhormat, Nabi Muhammad SAW!

 

Catatan

[1] Ada beberapa variasi pendapat tentang tahun lahir Mawlana as-Syekh ‘Abd Allah QS, berkisar dari 1284 H (dalam kitab at-Tarekat an-Naqsybandiyya, karangan Muhammad Darniqa) hingga 1294 H menurut murid tertua Syekh ‘Abdullah QS, Mawlana as-Syekh Husayn QS (dalam kitab at-Tarekat an-Naqsybandiyya al-Khalidiyya ad-Daghistaniyya, karangan Ustadz Muhammad ‘Ali ibn as-Syekh Husayn) hinga 1303 H dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniyya, karangan Syekh ‘Adnan Kabbani QS hingga 1309 H dalam buku The Naqshbandi Sufi Way, karangan Syekh Hisyam Kabbani QS. 

[2]  Beliau menerima pula Tarekat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri QS (demikian pula Syekh Jamaluddin QS) yang dengan bimbingannya, beliau memulai suluknya hingga Syekh Ibrahim QS menyuruhnya ke Syekh ats-Tsughuri QS, lihat ‘Ali, Tarekat Naqsybandiyya (halaman 229). 

[3]  lihat Hadaya al-Zaman fi Tabaqat al-Khawajagan an-Naqsybandiyya (halaman 375) karangan Syu’ayb ibn Idris al-Bakini.  Beliau mengambil pula dari al-Yaraghi, lihat Sullam al-Wusul karangan Ilyas al-Zadqari, sebagaimana dikuti di Hadaya (halaman 378). 

[4]  lihat Hadaya, al-Bakini (halaman 396). Beliau menerima Tarekat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri QS dan memperkenalkan dzikir jahr dalam cabang Daghistani dari Naqshbandiyya melalui ijazah tersebut, lihat al-Bakini, Hadaya (halaman 396); ‘Ali, Tariqa Naqsybandiyya (halaman 229). 

[5] dan bukannya 1254 H, sebagaimana secara salah disebutkan di beberapa sumber. Koreksi ini dari ‘Ali, Tarekat Naqsybandiyya (halaman 214). Muhammad al-Yaraghi juga mengambil secara langsung  dari Syekh Isma’il asy-Syirwani QS, lihat al-Bakini, Hadaya (hal. 350-351). 

[6] dari Syirwan di masa sekarang di Azerbaijan.  Beliau wafat di Damaskus dan dimakamkan di Jabal Qasyoun, di samping Mawlana Khalid QS dan Mawlana Isma’il al-Anarani QS yang merupakan penerus pertama Mawlana Khalid QS, yang wafat tujuh belas hari setelah wafatnya Mawlana Khalid QS, keduanya karena wabah – semoga Allah SWT merahmati mereka semua dan seluruh Syuhada’-Nya.

11 June 2008

Siapa Kita, Ahl as-Sunna wal-Jama’ah?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Saudara-saudara yang terhormat, para ‘ulama dan saudari-saudari yang dimuliakan, Saya ingin mengatakan bahwa selain para ‘ulama, kita juga mempunyai Imam Senad, yang bertanggung jawab terhadap masyarakat Bosnia di Amerika dan Imam mereka. Kita menyambut mereka karena beliau baru saja tiba dari perjalanannya ke Bosnia dan beberapa negara lainnya. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan dukungan kepadanya.

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bahwa malam ini kita berada di sini untuk Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS, Ghawts Azham. Ghawts Azham berarti Busur-Perantara. Beliau adalah seorang perantara bagi manusia di Hadirat Muhammad SAW yang pada gilirannya Rasulullah SAW menjadi perantara di Hadirat Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam suatu hadis (qudsi) bahwa ada beberapa orang “yang dapat menjadi perantara di Hadirat-Nya, melalui Izin-Nya.” Dewasa ini kita harus mengatakan bahwa suatu hadis adalah hadis yang “otentik”, karena sekarang banyak sekali kemunafikan. Sebelumnya, kita tidak perlu mengatakan hadis itu “otentik”. Segera setelah kalian bilang hadis, setiap orang akan mengerti bahwa itu adalah sebuah hadis. Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah dan kita harus meyakini apa yang telah diajarkan dan diberikan oleh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah kepada kita. Tidak seperti pseudo-‘ulama sekarang yang merasa bahwa mereka sudah sangat tinggi posisinya. Semoga Allah SWT melindungi Islam dari orang-orang yang munafik.

Saya sangat bergembira bahwa pada hari ini Saya berada di sini, di sebuah Muslim Center, di mana setiap orang datang bersama-sama untuk beribadah kepada Allah SWT. Hanya Allah SWT yang patut disembah dan Sayyidina Muhammad SAW yang patut dipuji. Sayangnya sekarang sebagian besar orang kebingungan dalam hal menyembah dan memuji. Jika kita bilang bahwa kita memuji Nabi Muhammad SAW, mereka bilang kita menyembahnya. Jika kita memuji Syekh, mereka juga bilang bahwa kita menyembahnya. Jika kalian bertanya kepada seorang anak Muslim dengan suatu pertanyaan sederhana, “Siapa Allah SWT?” “Siapa yang menciptakanmu?” ia akan berkata, “Allah SWT.” “Siapa yang kamu sembah?” Dia akan berkata, “Allah SWT” Kita tidak pernah mengatakan kepada anak-anak, “Katakanlah Muhammad SAW.” Kita tidak pernah melihat seorang anak yang mengatakan, “Aku memuji Nabi Muhammad SAW.” Dari mana mereka membawa ideologi baru ini, bahwa jika kalian memuji Sayyidina Muhammad SAW “terlalu banyak” kalian bersalah telah melakukan dosa syirik? Allah SWT memerintahkan kita untuk memuji Nabi Muhammad SAW!

Dalam Islam tidak ada pemilihan. Dari mana mereka membawa ide demokrasi ini? Tidak ada demokrasi dalam Islam! Islam adalah bay’at kepada amir, pemimpin. Ketika kalian menyerahkan tangan kepada amir, ia akan memelihara kalian. Dari mana kalian mendapat istilah “dewan perwakilan!?” dan para “direktur” dan beberapa nama-nama lain yang menonjol ini? Kalian bukanlah apa-apa melainkan hanya anak kecil—duduk dan berpikir bahwa kalian adalah seorang Firaun. Allah SWT akan memperhitungkan segalanya. Dan Allah SWT akan bertanya kepada kalian tentang hal ini di Hari Pembalasan nanti.

Kalian menentang Allah SWT dan para awliya-Nya. Bahkan guru-guru kalian, para ‘ulama kalian, guru Ibnu Taymiyyah dalam bukunya, Fatawa al-Kubra, beliau mengutip hadis suci dari Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman, “(ini dari guru kalian Ibnu Taymiyyah) SIAPA PUN YANG MENENTANG WALI, AKU AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA!” (dari keramaian terdengar suara “Allahu Akbar!”). Ini adalah guru kalian, bukan guru kami. Walaupun beliau seorang muhaddits yang baik, seorang faqih yang baik, dan ahli dalam bahasa Arab, ‘aqidahnya telah mengalami kerusakan. Mereka berkata bahwa ‘aqidah Qadiri, Naqsyabandi, Rifa’i, Chisti telah mengalami kerusakan. Tidak, ‘aqidah merekalah yang rusak (Allahu Akbar!). Karena ‘aqidah kita merupakan sumber, ia adalah inti dari Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, ‘aqidah para Sahabat dan Rasulullah SAW. Dan itu merupakan kondisi ihsan.

‘Aqidah kita tidak terkorupsi. Tidak seperti mereka, kita tidak berkata bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi. Kita tidak berkata bahwa Allah SWT menghadap arah tertentu. Kita tidak berkata bahwa Allah SWT mempunyai tubuh. Tidak! Kita mengatakan, “Dia bersama kalian, di mana pun kalian berada.” Siapa yang lebih baik, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berkuasa, Allah SWT atau Setan? Setan selalu bersama kalian di mana-mana, jadi apakah Allah SWT tidak bersama kalian? Mereka berkata, “Tidak, Allah SWT tidak bersama kalian, Pengetahuan-Nya yang bersama kalian.” Tidak. Kalian tidak bisa menuduh orang lain sebagai musyrik atau kafir. Mereka berkata bahwa kalian harus mengatakan “tawhid uluhiyyah” atau “tawhid rubbiyyah.” Sekarang mereka telah menemukan terlalu banyak tawhid. Kita mengucapkan, “La ilaha illallah.” Inilah yang kita ketahui. Sekarang mereka berkata, “Tidak, kalian harus mengatakan ‘tawhid uluhiyya’ dan ‘tawhid rubbiya.’” Tawhid uluhiyya adalah mengucapkan “La ilaha illallah,“ kemudian tawhid rubbiya adalah mengucapkan “La ilaha illallah”. Rasulullah SAW tidak berkata, “Ucapkanlah ‘La ilaha illallah’ dan ‘La ilaha illallah.’ Rasulullah SAW berkata, “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah SAW.”

Apa yang kita ucapkan? “Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah.” Sebagian orang mengikuti Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim. Ahl as-Sunnah wal Jama’ah adalah pengikut keempat Imam Mahzab dalam Islam. Ibnu Hajar Asqalani, As-Subki, Imam Nawawi merupakan penganut ‘aqidah ‘Asyari dan mereka adalah Sufi. Mereka mempunyai imam, mereka mempunyai syekh. Bahkan Ibnu Taymiyyah sendiri mempunyai seorang Syekh—Abdul Qadir Jilani QS. Beliau melakukan bay’at di tangan Syekh Abdul Qadir Jilani QS melalui enam generasi. Bagaimana kalian menyangkal tasawwuf?

Para pengikut Ibnu Taymiyyah, pergilah dan baca buku beliau. Bukankah Ibnu Taymiyyah telah mendedikasikan dua volume (Fatawa Al-Kubra volume 10 dan 11) yang berisi uraian tentang tasawwuf dan pencarian jalan menuju Allah SWT melalui para awliya? Setiap buku terdiri atas 700 halaman sehingga totalnya 1400 halaman, dan setiap kata melukiskan Sufisme, dan beliau berkata, “Tasawwuf adalah keadaan ihsan yang dalam Al-Qur’an dilukiskan sebagai tazkiyyat-an-nafs.” Tetapi karena istilah tasawwuf diturunkan dari empat akar yang berbeda, ia menjadi tasawwuf. Satu akar berasal dari suff--wool, dan satu lagi dari suffa--spons yang lunak. Kemudian beliau menyebutkan bahwa Allah SWT berfirman, “Siapapun yang menyakiti salah satu waliku, Aku akan menyatakan perang terhadapnya.” Ibnu Taymiyyah banyak menyebutkan bahwa awliya berada pada level yang berbeda. Beliau mendefinisikan tasawwuf sebagai salah satu dari tiga tipe yang berbeda. Sebagian orang adalah mustaswifiin—mereka tidak mengerjakan apa-apa yang berhubungan dengan tasawwuf, namun mereka menggunakannya untuk mencari uang—ini adalah satu sisi. Yang lain menggunakan tasawwuf untuk mendapatkan ketenaran, ini juga satu sisi yang lain. Tetapi ada mutasawwifa yang benar-benar berada di jalan Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, di jalan Sayyidina Muhammad SAW. Mereka mendapat ma’rifah—mereka adalah orang yang berilmu pengetahuan dan inilah sufi yang dijalani oleh Ibnu Taymiyyah.

Ibnu Taymiyyah adalah salah seorang pengikut Tarekat Qadiri, dan dalam kedua bukunya beliau menyebutkan dua orang pengikutnya, Saqqati QS dan Junayd QS. Beliau juga menguraikan tentang Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS dari Tarekat Naqsyabandi. Kemudian dari pihak wanita beliau menyebutkan Rabia al-‘Adawiyyah QS. Dan beliau memberi penjelasan tentang apa yang tidak dimengerti orang tentang ucapan para awliya, dan memaklumkan ungkapan mereka (syatahaat). Beliau merasakan bahwa orang-orang ini ketika menyampaikan ajarannya, mereka berada dalam keadaan ma’rifat, dalam keadaan fana, dan dalam suatu keadaan yang kasyf. Beliau bahkan mengakui adanya keadaan kasyf (pandangan spiritual) dalam bukunya Fatawa Al-Kubra yang berjumlah 37 volume. Kalian yang berbahasa Arab, bacalah volume 10 dan 11, kalian akan menemukannya.

Jadi, kepada siapa kita harus takut? Kita harus mengatakan yang haqq melawan yang baathil. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an yang suci, “Mereka yang mengingat Allah SWT, dan mereka yang berzikir.” Dan Dia berkata, “mereka,” dalam bentuk jamak. Dia tidak berkata secara individual, Dia berkata jama’ah, dan itu dikatakan dalam al-Qur’an yang suci. Jadi apa yang menjadi masalah di sini? Tidak ada masalah. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan kita, “Berselawatlah kepada Rasulullah SAW dan pujilah beliau.”? Jadi jika kita berdiri dan memuji Rasulullah SAW, bukankah ini perintah Allah SWT dalam al-Qur’an yang suci? Kita berdiri dan mengucapkan, “As-salamu ‘alayka ya ayuhan-Nabi, as-salamu ‘alayka ya Rasulullah, as-shalat was-salamu ‘alayka ya Habibullah, wa-shalatu was-salamu ‘alayka ya Syafi’ullah, was-shalatu was-salamu ‘alayka ya Nabi-ullah.” Alhamdulillah kita berdiri dan memberi salam.

Siapa bilang bahwa Rasulullah SAW tidak mendengar kita? Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang memberi salam kepadaku, Aku akan mendengarnya, siapapun yang memberi salam kepadaku dari tempat yang jauh, Aku akan menerima salamnya”? Kita berada jauh dari Madinah—jika kita memuji Rasulullah SAW, beliau akan menerima pujian itu dengan segera. Dan Allah SWT memerintahkan beliau, “Jika seseorang memujimu, berikan balasannya.” Dan Allah SWT berfirman, “Siapapun yang memuji Rasul-Ku Muhammad SAW, Aku akan membalasnya 10 kali lipat.”

Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “’Amal umatku akan dipersembahkan kepadaku di makamku.”? Beliau tidak membatasinya siang atau malam—keadaan ini berlangsung terus-menerus, tanpa pernah berhenti. Rasulullah SAW selalu dalam keadaan mengamati amal seluruh umatnya. Jika perbuatan kita baik, beliau berdoa kepada Allah SWT, jika perbuatan kita buruk, beliau memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni perbuatan kita. Apa lagi yang kalian harapkan dari Rasul kita? Beliau selalu dalam keadaan siaga. Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT telah melarang bumi untuk memakan daging para Rasul.” Rasulullah SAW selalu dalam keadaan siaga—ini berarti beliau dalam keadaan terus-menerus bersiaga dengan tubuhnya di makamnya. Dan makam itu adalah Riyadzul-Jannah, makam beliau adalah Kebun Surga bagi Rasulullah SAW.

Para pengikut mahzab “Salafi” berkata bahwa Rasulullah SAW duduk dalam makamnya, 6 kali 3 kaki. Tidak. Makam itu adalah sebuah Surga yang sangat luas sehingga tidak ada orang yang mengetahui batasnya. Bisa jadi lebih luas dari alam semesta ini. Jadi jika beliau dianugerahi tugas untuk selalu mengamati perbuatan umatnya dan beliau selalu dalam keadaan siaga, itu berarti beliau selalu berada dalam cahaya yang kontinu. Dan beliau bersabda mengenai peristiwa ‘Isra Mi’raj, “Aku melihat Musa AS salat di makamnya.” Bagaimana beliau melihat Musa AS—salat, berdiri, duduk atau berbaring? Pandangan macam apa yang beliau miliki? Itu adalah suatu realitas! Rasulullah SAW bersabda, “Aku melihat Musa AS berdiri, salat di makamnya.” Jika Rasulullah SAW mengatakan berdiri, salat di makamnya (beliau tidak mengatakan bahwa Nabi Musa AS berdiri “tanpa tubuh tetapi dengan jiwanya,” tidak, beliau berkata, “berdiri, salat di makamnya”, jadi kita harus memahaminya secara harfiah, sebagaimana orang “Salafi” berkata bahwa kalian harus memahami segala sesuatu secara harfiah. Jadi kita juga melakukannya kali ini. Bagaimana kalian berdiri dan salat? Tunjukkan kepada Saya, biarkan salah seorang melakukannya. Dengan tubuhnya, dan itulah sebabnya mengapa Allah SWT memberikan para awliya sebuah maqam yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Khususnya kepada mereka. Tidak seorang pun yang dapat mencapai level itu.

Sayyidina Muhammad SAW adalah Rasul penutup, beliau adalah Rasul pertama dan sekaligus Rasul terakhir. Beliau mencakup segalanya, seperti dua kutub, dua magnet. Satu magnet positif, yang lain negatif, keduanya tarik-menarik. Menarik alam semesta ini secara bersamaan. Kenabian beliau adalah sejak awal, itulah sebabnya Sayyidina Muhammad SAW bersabda, jika kita mempunyai akal yang bisa mengerti, “Aku adalah seorang Rasul ketika Adam AS masih berwujud antara tanah liat dan air,” dan “ Aku adalah Rasul penutup.” Jadi beliau lebih tua dari masa sejak awal penciptaan hingga akhir penciptaan. Penciptaan itu terletak di antara kedua kutubnya. Beliau adalah kutub magnet yang mengendalikan segalanya, dengan izin Allah SWT—kepada Sayyidina Muhammad SAW. Dan itulah sebabnya Allah SWT berfirman, “Jika bukan untukmu, Aku tidak akan menciptakan semuanya.”

Jika kalian Arab, alhamdulillah. Itu adalah salah satu yang patut disyukuri sebab Rasulullah SAW adalah Arab. Kehormatan kita sebagai orang Arab berasal dari kehormatan Rasulullah SAW, Sayyidina Muhammad SAW. Dan beliau bersabda, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal ketaqwaannya.” Kalian datang ke sini untuk memperingati dan merayakan seorang yang telah Allah SWT berikan kekuatan spiritual—Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS. Dan dengan melakukannya, kalian juga diberi kehormatan dan cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW sebab Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS adalah cucu beliau.

Sebelum Saya akhiri, Saya ingin mengatakan bahwa, alhamdulillah, Allah SWT akan melindungi umat ini. Dan kita berada di jalur yang benar. Kita senang untuk mengucapkan, “Semoga Allah SWT membagi apapun pahala yang Dia berikan dalam pertemuan ini demi kemuliaan dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dan apapun berkah yang diberikan Allah SWT kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS dan seluruh aliran Sufi, seluruh orang spiritual, dan seluruh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah QS membagi kita dengan berkah yang diberikan kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS, dan berkah kepada Sayyidina Muhammad SAW. Dan kita memohon kepada Allah SWT untuk membawa seluruh hati kembali kepada Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Menjadi satu hati dalam kesatuan. Insya Allah.

Faatiha.

03 June 2008

Islam Bersifat Dinamis, tidak Pasif

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS berbicara tentang dua karakter yang dimiliki para anbiya, yaitu: memiliki himma, aspirasi tinggi dan dinamis, tidak pernah malas. Kedua karakter itu merupakan warisan Anbiya. Mereka sangat ringan dalam bekerja karena jiwa mereka berasal dari surga.

Sifat malas berasal dari setan. Kalian tidak dapat menemukan seorang rasul yang duduk bermalas-malasan dan menikmati dunia atau meminta istirahat. Mereka bagaikan sungai yang selalu mengalir menuju ke laut. Setiap wali bersifat dinamis. Makin tebal iman seseorang, ia akan semakin aktif. Tidak ada tindakan berarti tidak beriman. Ada 500 kebaikan dari Sunnah Rasulullah SAW. Al-Qur’an mengatakan, “Ketika kamu telah selesai dari suatu pekerjaan, kerjakanlah pekerjaan berikutnya.” Kita dianjurkan agar selalu aktif dalam segala situasi, inilah bimbingan yang terbaik bagi kita. Setiap agama tidak mengajurkan para pemeluknya untuk bermalas-malasan. Beberapa orang menganggap bahwa Islam membuat orang menjadi pasif (Agama adalah racun bagi masyarakat). Mereka sebenarnya adalah para pembohong yang tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Mereka mempelajari suatu ilmu di Barat lalu mengklaim hal tersebut. Saya merasa prihatin terhadap gejala ini. Sebelum Islam datang, bangsa Arab laksana tertidur dan menjadi budak bangsa Roma dan Persia. Setelah Islam datang, mereka sanggup menaklukkan daerah-daerah di pesisir Samudra Atalantik hingga Samudra Hindia.

Syekh ‘Abdullah Faiz ad Daghestani QS berkata bahwa setiap orang yang aktif akan masuk Surga, sebaliknya orang-orang yang malas akan masuk Neraka. Bahkan bagi orang-orang yang aktif dalam mengejar dunia, keaktifannya itu akan membimbingnya menuju kebaikan pada akhirnya, bagaikan air deras yang mengalir dari hulu di pegunungan menuju hilir di dataran rendah dan memberi manfaat. Untuk berjuang melawan ego, seseorang harus mempunyai sifat dinamis. Seseorang yang mendaki gunung harus memiliki energi, sebaliknya untuk menuruni gunung sifat dinamis tidak terlalu diperlukan. Orang-orang yang duduk-duduk di sebuah pub atau kafe tidak bisa disebut sebagai orang yang dinamis, mereka justru pemalas. Orang yang bekerja dengan serius dan menghasilkan karya yang dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh banyak orang mempunyai sifat yang diwariskan oleh Rasulullah SAW.

Siapa yang tidur terlalu banyak juga termasuk pemalas. Tidur lebih dari 8 jam akan menyakiti tubuh. Seperti halnya tidak cukup tidur, tubuh akan menjadi lemah dan lelah. Untuk sebagian orang Allah SWT memberi kemampuan kepada mereka untuk tetap terjaga dan tidak membutuhkan tidur. Seorang murid di Basra yang bernama Sunnetji Tahsin diperintahkan oleh Syekh Syarafuddin QS untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang tertinggal setelah diadakan jamuan makan malam. Pada saat itu masih tersedia cukup banyak makanan untuk 20 orang, tetapi ia menghabiskannya semua, bahkan tidak menyisakan sebutir nasi pun di setiap piring. Malam itu Syekh Syarafuddin QS memerintahkan Syekh ‘Abdullah QS untuk mengeceknya. Lalu beliau pergi ke ruangannya dan menemukan Tahsin sedang berdiri tak bergerak, meleburkan diri dalam Hadirat Ilahi, sampai 1 jam sebelum subuh, lalu ia mulai melakukan salat tahajjud. Pada saat azan Subuh ia pergi ke masjid, salat, dan duduk untuk berzikir sampai matahari terbit. Kemudian ia melakukan salat isyraq lalu mengambil kapaknya dan pergi untuk bekerja. Jika seseorang ingin mendapatkan kekuatan seperti itu dan tidak membutuhkan tidur, lalu ia berniat untuk tidak tidur karena Allah SWT, agar Allah SWT rida kepadanya, maka ia harus melakukan latihan selama 40 hari. Hal ini berarti setiap kali merasa ngantuk, cepat lakukan wudu dan salat 2 rakaat, begitu seterusnya. Jika ia bersabar dan mengerjakannya selama 40 hari, ia akan mempunyai kekuatan seperti malaikat, tidak memerlukan tidur lagi. Awliya, jika mereka seperti ini, itu karena mereka telah diperintahkan dan mendapat izin dari Rasulullah SAW.

Orang banyak berpikir bahwa banyak makan akan membuat tubuh menjadi kuat, oleh sebab itu mereka makan banyak bahkan terlalu banyak. Seseorang yang berkata, “Aku merasa kenyang dengan makanan malam ini,” sesungguhnya ia berdosa di Hadirat Ilahi. Allah SWT yang membuat kalian kenyang, bukan makanan itu. Dia dapat membuat kalian kenyang hanya dengan sepotong makanan. Syekh ‘Abdullah QS berkata bahwa ketika Dajjal datang seluruh Muslim akan mendapat perlindungan di Syam. Syekh Muhyiddin (Ibn Arabi QS) berkata bahwa banyak sekali orang yang akan mendatangi kota Syam dan kota ini akan semakin luas, sisi di balik gunung akan menjadi sama luas dengan sisi sebelahnya dan tidak ada tempat yang tersisa lagi bahkan untuk sekedar menapakkan kaki saja, mungkin kota itu bisa menampung 50 juta orang. “Bagaimana mereka akan makan dan minum?” tanya Abu Bakar RA kepada Rasulullah SAW. “Takbir Imam Mahdi AS akan memberi Kekuatan Ilahi bagi seluruh Mukmin. Sepotong makanan akan cukup untuk 40 hari.”

Orang-orang juga berpikir bahwa banyak tidur membuat tubuh beristirahat dan segar. Tidak, Allah SWT -lah yang menyebabkan hal itu. Mungkin dengan 5 jam tidur seseorang tidak akan mendapatkan istirahat sementara itu hanya dengan 5 menit seseorang yang lain malah dapat beristirahat dengan cukup. Waktu terbaik untuk tidur adalah tepat setelah salat ‘Isya sampai 1 jam sebelum Subuh. Tidur lebih awal adalah yang terbaik. 4 jam setelah ‘Isya (sebelum tengah malam) bagaikan 8 jam di waktu-waktu yang lain. Ini akan membuat orang mampu meningkatkan ibadahnya dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Sekarang orang-orang mengisi waktu tersebut dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, ngobrol-ngobrol atau menonton TV. Ini adalah salah satu sebab datangnya penyakit. Waktu terbaik kedua untuk tidur adalah antara waktu matahari terbit sampai siang, sedangkan waktu antara siang hingga sebelum Ashar adalah yang terbaik ketiga. Tidak baik tidur pada kurun waktu antara Subuh hingga matahari terbit dan paling buruk waktu tidur antara Ashar hingga matahari terbenam. Rasulullah SAW bersabda jika sesuatu yang buruk menimpa orang yang sedang tidur di waktu tersebut, ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tanggung sendiri akibatnya. Bagi orang yang tidur lebih dari 8 jam sehari, ia harus berkata kepada dirinya sendiri, “Saya pemalas!”

26 May 2008

Doktor Keledai!

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS setelah selesai pembacaan selawat, Qasidah al-Burdah dll di kediaman Bapak Soenarto, Jakarta: 11 Desember 2004


A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim

Athi'ullaaha wa athi'urrasuula wa ulil amri minkum

Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. [4:59]


Setelah membaca selawat Nabi SAW yang begitu indah, bibir ini tidak mampu berbicara lagi. Insya Allah saya akan mencoba mengatakan sesuatu, sebanyak yang dikirimkan oleh Syekh Nazim QS ke dalam hati saya.

Berapa banyak orang yang telah berpikir dan mengkhayal, dan berapa banyak pujangga telah menulis buku-buku sepanjang hidup mereka, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, berpikir setiap waktu, dan dalam setiap detik keagungan Nabi SAW lahirlah puisi indah yang dikirimkan pada kita di atas sebuah plakat yang luar biasa indahnya, dihiasi dengan mutiara dan batu mulia yang tak seorang pun bisa mengekspresikannya kecuali melalui hati. Saya yakin, di setiap bahasa milik berbagai ras di muka bumi ini, telah tertulis puisi kecintaan pada Sayyidina Muhammad SAW. Walaupun mereka tidak mengerti bagaimana mereka bisa terilhami.

Hati seperti apa yang mampu menghasilkan cinta tulus, tidak bersyarat, dan yang tidak pernah berhenti menjelaskan bagaimana keinginan mereka untuk melihat Nabi SAW walaupun hanya sekali dalam kehidupannya. Itu adalah bagi para pujangga yang tidak mampu melihat Nabi SAW. Mereka mengekspresikan emosi dan memohon pada Allah SWT melalui kebesaran-Nya untuk melihat penampakan spiritual Nabi SAW di kehidupan mereka.

Lalu bagaimana dengan para Sahabat Nabi SAW? Yang dalam kehidupan mereka, setiap hari, setiap saat bersama Nabi SAW? Membela negara bersama beliau, makan, berdoa, beribadah, berpuasa bersama beliau. Mereka selalu terhubung dengan Nabi SAW, layaknya saudara kembar yang terhubung satu sama lain, sehingga tidak bisa lepas dari pandangan walau hanya sekejap.

Jika hal tersebut adalah bagi para sahabat, apa yang kalian pikir tentang mereka yang Allah SWT ciptakan untuk memuji Nabi SAW siang dan malam? Ketika dikatakan, “inna-Allaha wa mala'ikatahu yushaluuna `ala an-Nabi,” malaikat-malaikat yang Allah SWT perintahkan agar siang-malam terus-menerus sampai hari pengadilan kelak, selamanya; mereka ada yang berdiri, duduk dan berbaring. Tidak ada suatu penjelasan siapakah sebenarnya Nabi Muhammad SAW sehingga begitu banyaknya malaikat yang memuji-muji beliau selamanya -- menurut ayat tersebut -- itu adalah perintah dari Allah SWT. Tujuan utama seluruh umat manusia, malaikat dan seluruh makhluk ciptaan adalah untuk memuji Sayyidina Muhammad SAW.

Karena Allah SWT menghendaki hal itu. Allah SWT adalah Sang Pencipta dan Dia adalah Rabb al-`alamiin. Tidak ada yang boleh mengatakan tidak. Dia memerintahkan malaikat, manusia, alam, gunung-gunung, pohon-pohon dan sebagainya untuk memuji Sayyidina Muhammad SAW.

Seharusnya kita malu bila tidak memuji-muji Nabi SAW pada setiap kesempatan di dalam kehidupan kita. Seharusnya kita malu saat kita bertengkar dan bersusah payah hanya demi dunia, hanya demi bisnis. Kita malu karena segala yang kita upayakan tidak ada manfaatnya, dibanding dengan para sahabat dan para malaikat yang memuji Nabi SAW di setiap kesempatan.

Kita mempunyai kewajiban di pundak kita, ada kapasitas yang sebenarnya kita sanggup, yaitu kewajiban untuk berselawat pada Nabi SAW siang dan malam. Dan itu sebenarnya belum cukup. Kita ini hamba-hamba yang lemah. Kita amat bergantung, lalai, tidak peduli, keras kepala, dan kita ini adalah pembohong-pembohong.

Kita ini adalah para pembohong. Walaupun Allah SWT mengatakan, “inna-Allaha wa mala'ikatahu yushaluuna `ala an-Nabi,” namun kita tidak melakukan itu. Kita bohong pada Allah SWT dengan mengatakan bahwa kita ini adalah mukmin, kita ini adalah muslim. Namun kenyataannya kita saling bertengkar dan saling mengutuk. Semua orang keras kepala karena opininya masing-masing. Karena setan sedang menungganginya, bukan hanya menunggangi tetapi membisikkan apa yang harus kita lakukan. Dia menunggangi kita seperti seekor kuda, duduk di atas kita.

Suatu ketika Abayazid al-Bistami QS berada di Madinah untuk mengunjungi Nabi SAW secara fisik dan melihat di sana ada orang asing yang sudah tua. Beliau tahu siapa orang itu. “Apa yang engkau lakukan di sini?” tanya beliau. “Aku sedang membagikan tali kekang pada mulut kuda-kuda ini. Aku sibuk dengan hal ini, supaya aku dapat menunggangi mereka. Inilah pekerjaanku sekarang.”

Pria itu adalah iblis yang menyerupai seorang manusia, memberi tali kekang pada mulut manusia. Membuat mereka berkelahi satu sama lain. ”Opiniku lebih baik.” “Tidak, opiniku yang lebih baik.” Dan manusia pun akhirnya bertengkar, tidak bertanggung jawab, tidak ada kemampuan, secara mental tidak ada kekuatan, karena mereka tidak menerima apa yang telah Allah SWT anugerahkan.

Lalu kata iblis, “Aku sibuk membuat mereka bertengkar satu sama lain, itulah sebabnya aku taruh tali kekang pada mulut mereka.”

Sayyidina Bayazid QS bertanya, “Apakah ada kelompok yang berbeda-beda dari orang-orang ini?” Jawabnya, “Ya. Ada berbagai jenis keledai bagiku. Bukan kuda! Ada berbagai jenis keledai. Ada yang besar, ada yang bersuara, “hii haw” dan selalu marah. Bagiku setiap keledai adalah berbeda. “Beliau bertanya, ”Dapatkah engkau sebutukan jenis-jenis keledai yang kau miliki?” Jawab iblis, “Ada beberapa keledai yang kuhasut agar menjadi marah.” Kalian tahu mobil-mobil tua yang dulu tidak ada kuncinya. Ada sebuah tuas (engkol) di sana dan ditarik-tarik agar mobil berjalan.

“Aku letakkan hal seperti itu, lalu kutarik ke sana dan ke mari. Saat mereka mulai marah, lantas aku tinggalkan. Itu hanya salah satu kelompok. Ia akan berlari sejauh engkolnya kutarik. Ia nampak waras, bukan yang terbelakang mentalnya. Lalu ia mungkin akan bertobat dan berkata, A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim, astaghfirullah. Seperti kelompok yang berselawat, ibadah dan istighfaar maka setan tidak bisa mendatanginya. Segera setelah mereka melewati pintu keluar, mereka mulai bertengkar, kembali ingat dan bertobat. Aku tinggalkan mereka segera setelah bertobat.”

”Kelompok yang lain, aku arahkan mereka untuk mulai bertengkar satu sama lain. ‘Dengar aku.’ ‘Kamu dengarlah aku.’ ‘Tidak, kamu yang harus mendengarku.’ Mereka bertengkar, bermusuhan, tak berkesudahan.

Kelompok ketiga adalah mereka yang saat aku arahkan, semua yang positif mereka ubah menjadi negatif. Mereka tidak pernah mengatakan ‘ini benar.’ Namun bila tidak benar mereka katakan bahwa itu benar. Mereka tidak pernah setuju dengan siapapun.” Inilah problem kita saat ini. Kita adalah keledai-keledai bagi iblis. Kita izinkan iblis menunggangi kita. Kita dengarkan mereka, namun tidak mendengarkan Allah SWT dan Nabi SAW.

Telah Saya jelaskan di awal, betapa banyak malaikat-malaikat, para pujangga, juga para sahabat yang melewatkan waktunya untuk memuji-muji Nabi SAW. Namun kita telah tersesat dan sibuk dengan dunia, bisnis dan melaksanakan salat 5 waktu hanya sebagai kebiasaan atau adat. Tidak ada ketulusan, tidak khusuk. “Itulah yang aku tunggangi hari ini, ya Bayazid QS,” kata iblis.

Tanyakan pada diri kalian sendiri, dengan akal kalian, kita termasuk keledai yang mana? Saya tidak suka menyebut keledai—kuda macam apa kalian ini? Jika Saya katakan keledai mereka marah. Mari kita sebut singa; singa saja. Jika disebut singa, mereka suka—namun bila keledai, mereka marah. Singa atau pun keledai, keduanya adalah binatang.

Lalu termasuk tipe yang mana kita ini?

Lalu Bayazid QS berpikir dan memutuskan untuk menanyakan satu pertanyaan pada iblis. Setiap orang sadar akan dirinya sendiri. Dia termasuk keledai yang segera bertobat atau keledai yang selalu punya cara lain, atau keledai yang menjadi musuh bagi siapa pun.

Dalam bahasa Arab disebutkan, “al-insanu hayawanun naatiqan,” manusia adalah hewan yang bisa berbicara. Makhluk yang bisa bicara, seperti makhluk ciptaan lainnya. Jadi jangan mengeluh saat setan menyebut kita keledai.

Saat ini, masyarakat menjadi histeris saat menjelaskan CV (daftar riwayat hidup), resume. Berapa banyak ‘doktor’ yang meletakkan titel mereka di depan namanya dan meletakkan ‘PhD’ di belakang namanya. Berapa banyak mereka meletakkan nama mereka, “Doktor” “Doktor” “Doktor?” Biarkan mereka letakkan “Doktor, doktor, doktor keledai”. “Professor, professor, professor keledai;” “tukang kayu keledai;” “pengacara, pengacara keledai;” “guru, guru, guru keledai.” Pada akhirnya setiap orang berakhir dengan titel ‘keledai’. Jadi tak perlu mencantumkan di depan nama kalian bila pada akhirnya ada titel ’keledai.’ Juga Syekh, Syekh, Syekh yang berakhir dengan ‘keledai’. Atau ulama, ulama, ulama keledai. Tetapi tidak demikian halnya dengan wali, mereka bukan keledai. Wali berarti `alimun `amil. Orang alim yang tulus. Seperti imam-imam di masa lampau: Imam Abu Hanifa, Imam Malik, Imam Syafi`i, Imam Ahmad. Mereka adalah orang alim asli, bukan seperti ulama-ulama saat ini, ulama Internet.

Jangan letakkan keledai di akhir nama, cukup inisial saja, “D” (dari kata donkey, keledai) karena mereka akan mengira itu artinya ‘Doktor’. Biarkan mereka menebaknya sendiri. Dan dalam bahasa Arab, kalian letakkan huruf ‘H’ saja di awal atau di akhir nama. Karena bahasa Arab untuk keledai adalah ‘himaar’. Kalian sadar siapa kalian, namun biarkan orang lain bertanya, “Apa itu H?” Ah mungkin untuk ‘hillu’ – yang berarti manis.

Allah SWT menjelaskan mereka sebagai humurun mustanfira-seperti singa-singa yang saling berkelahi. Seperti masyarakat saat ini. Seperti haywan. Kalian mempunyai (kata) itu dalam bahasa Indonesia kan? Ya. Kita sebut dalam bahasa slang-nya (bahasa pergaulan-penerj.) `hay-one' -- namun dalam bahasa Arab klasik adalah haywan. Atau letakkan ‘H’ untuk hillu, yang berarti manis.

Maka Abayazid QS berpikir tentang dirinya sendiri akan hal itu. Walaupun seorang wali, jika setitik kesombongan masuk dalam hatinya, arogansi, maka saat itu ia menjadi orang yang tidak peduli, dan Allah SWT menjadikannya nol. Beliau bertanya pada iblis, “Jadi keledai-keledai ini yang membuatmu sibuk. Apakah engkau mempunyai satu tali kekang untukku?” Artinya, “Aku bukan seperti mereka, aku tak punya tali kekang.” Jawab iblis, “Ya Bayazid QS, kamu lebih mudah dari mereka. Aku akan menunggangimu tanpa tali kekang. Aku tak butuh tali kekang untukmu.” Padahal beliau adalah alwiya terbesar, salah satu dari mata rantai emas (Tarekat Naqsybandi). Satu detik kesombongan masuk ke dalam hati (pelajaran bagi kita – bukan untuk Bayazid QS) maka cukup bagi iblis untuk menunggangi kita.

Setelah mengatakan hal itu, Bayazid QS dan iblis melanjutkan perjalanan masing-masing.

Beberapa hari kemudian, turun hujan deras di Madinah. Kalian tahu kalau di Madinah, air tidak bisa terserap pasir, hanya menggenang di permukaan dan orang-orang mengumpulkan lalu menggunakannya. Karena hujan terus-menerus, maka seluruh kota menjadi banjir. Beliau melihat ratusan manusia berjalan melewati banjir. Seorang laki-laki tua hampir terjatuh ketika sedang menyebrang sungai menuju rumahnya.

Kata orang itu, “Saya sudah tua, saya sedang sakit berat.” Bayazid QS berkata, “Bisakah aku membopongmu?” “Tidak, aku tidak ingin mengganggumu.” “Oh, tidak mengganggu, namaku Bayazid QS.” Lalu beliau membawa laki-laki tua itu di pundaknya dan menyebrangi sungai.

Kata beliau, “Ok, Aku telah menolongmu, aku selamatkan engkau dari banjir.” Lalu laki-laki tua itu melihat Bayazid QS dan berkata, “Oh Bayazid QS, pernahkah aku mengatakan bahwa aku akan menunggangimu tanpa tali kekang? Aku adalah iblis.”

Sekarang periksa pada diri sendiri, tipe yang mana kita ini? Saya tidak bertanya pada orang yang berada di jalanan. Saya berbicara di sini atas nama Mawlana Syekh Nazim QS. Adalah penting bagi kita untuk mengetahui segala penyakit kita ini. Semua orang di ruangan ini atau yang mendengar rekamannya; tanya pada istri, suami macam apa kalian ini, dan tanya pada suami, istri macam apa kalian ini. Mereka yang belum menikah, tanya pada teman, termasuk tipe yang mana kalian.

Cinta sejati bagi Syekh; bahkan bila Syekh mempermalukan kalian, mengutuk dan menendang kalian, jangan ubah cinta kalian. Kalau tidak, maka kalian bukan benar-benar muridnya.

Dalam tarekat jangan ada kata “tidak” untuk Syekh. Titik. Kata “Tidak” tidak diterima di dalam tarekat. Karena kita di bawah tarbiyyah isma`u wa awu – “Dengar dan patuhi.” Itulah prinsip Islam kita. Nabi SAW dulu juga mendengar dan mematuhi. Beliau mendengar Jibril AS dan mematuhinya.

Jika Syekh menanyakan opini kalian, maka kalian beri opini, namun bukan kalian yang memutuskan. Mungkin Syekh mengambil opini orang lain. Mengikuti tarekat adalah seperti kalian pergi ke jalan besar di luar. Jika kalian menerima, maka hal itu akan mudah. Namun bila tidak, akan menjadi sulit.

Apa yang Allah SWT firmankan dalam al-Qur’an, “sami`na wa atha`na, ghufraanaka rabbana wa ilayka al-mashiir.” Bukannya, “sami`na wa `ashayna.” Iblis mendengar namun tidak patuh, ia tidak mau bersujud, apa yang kemudian terjadi? Allah SWT mengutuknya. Katakan, “sami`na wa atha`na.” Taat adalah penting, taat pada Nabi SAW, pada mereka yang mempunyai wewenang dan yang paling utama adalah taat pada Allah SWT.

Kepatuhan adalah hati bagi Islam dan inti bagi tarekat. Dalam tarekat kalian harus mendengar mereka yang mempunyai wewenang. Jika pembimbing mengatakan, “datanglah” maka kalian harus datang. Jika ia meminta kalian duduk, maka duduklah. Pergi dan jalanlah satu mil, maka kalian harus melakukannya. Jika ia berkata, “Pergi dan kosongkan lautan dengan sebuah ember,” maka pergi dan lakukanlah hal itu. Jika seseorang ingin mengikuti tarekat mereka seharusnya tidak menggunakan akal. Maka dunia akan terbuka bagi mereka.

Mawlana memanggil saya dalam kehadirannya baru saja. Kata beliau, ”Anakku, tidak ada kata keberatan dalam tarekat. Engkau sudah bersamaku selama 45 tahun atau lebih, 47 tahun. Aku tidak ingin mendengar keberatan dari semua orang. Kalian tidak boleh pergi ke sana lalu mengeluh, lalu pergi ke sini dengan mengeluh.“

Kalian mungkin melihat seseorang berbicara di depan cermin, “Aku ini tampan. Dunia ini milikku. Aku adalah Raja. Raja dunia. Aku akan mengutukmu, “Hei, kamu yang berada di cermin! Kamu bukan siapa-siapa. Akulah segalanya. Aku punya segalanya dan kamu bukan siapa-siapa. Jika aku pecahkan cermin ini, aku bisa merusak kamu.” Itulah orang-orang yang berbicara pada diri sendiri di depan cermin dan itulah masalah kita. Setiap orang mempunyai masalah dalam dirinya sendiri. Itulah sebabnya mengapa Mawlana mengatakan, “Jangan mengeluh (pada diri sendiri) di dalam hati. Jangan mengeluh pada orang lain, kalau tidak kalian akan hancur.” Semoga Allah SWT mengampuni, memberkahi dan menjaga kita agar selalu berada di bawah bendera Syekh kita -- Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS dan memberi kita umur panjang agar bisa melihat Sayyidina Mahdi AS dan Sayyidina `Isa AS secara nyata dan melihat Nabi SAW dalam kehidupan yang akan datang dan dalam kehidupan ini dalam ru'yah.

Wa min Allah at tawfiq