Showing posts with label Tasawwuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawwuf. Show all posts

12 January 2012

Tanda Iman yang Kuat


Shuhbah Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q)

Jakarta, 2 Januari 2012

Assalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

[Mawlana mempersilahkan K.H. Ahmad Syahid, Pimpinan Pesantren al-Falah Nagrek Cicalengka untuk memberikan Suhbah beliau.]

Syekh Ahmad Syahid:

Kepada para pengurus Yayasan Haqqani Indonesia dan hadirin semua yang ingin melakukan sebuah langkah perjuangan untuk menyebarluaskan zikrullah atas dasar pijakan Tarekat Naqsybandi Haqqani, semoga Allah (swt) melimpahkan ridanya kepada kita semua, karena berkat Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q), yang saya muliakan, maka malam ini kita bisa berkumpul bersama.

Saya yang dhaif ini menyitir sebuah informasi yang saya baca dari sebuah kitab tentang Zikrullah, di mana di situ ditulis tentang zikir (menjelaskan dalam Bahasa Arab), yang artinya menurut pandangan para Ulama Sufi, dan kalau ulama sufi mengetengahkan pandangannya, maka artinya adalah sebuah pelajaran tentang makrifat yang telah mereka temukan.

Pertama kali saya menyampaikan bahwa manusia yang sempurna itu bukanlah orang yang dari dirinya muncul berbagai keajaiban atau keanehan-keanehan, namun mereka yang disebut Insan Kamil (sempurna) adalah mereka yang baik di mata Allah. Mereka adalah orang biasa seperti kita semua di sini dan seperti Mawlana Syekh Hisyam (q) duduk bersama kita dan bergaul bersama kita. Bahkan bila dia seorang ahli ekonomi, maka dia tidak akan meninggalkan pekerjaannya dan kegiatannya di bidang ekonomi. Dan dia juga berkeluarga, tetapi dia tidak lupa untuk senantiasa berzikir dalam kebersamaannya.

Kita berharap mudah-mudahan dengan menjadi murid dari Sultan Awliya Mawlana Syekh Nazim Adil Haqani (r), dan menjadi murid dari guru besar kita semua Hadrat Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani (q), kita menjadi orang-orang yang mampu bermasyarakat dan tidak melupakan zikir kepada Allah (swt), bahkan satu detik pun. Oleh sebab itu kita bisa berbesar hati dengan kita bisa berzikir bersama. Mengapa kita harus malu menenteng tasbih dan melakukan zikir di tengah kebersamaaan dengan manusia lainnya, karena itu adalah sesuatu yang dicintai Allah (swt).

Kedua saya membaca dalam Kitab As-Syifa Dzikir wal Doa, di mana diterangkan bahwa mencari dan melakukan usaha dan langkah pengobatan yang terbaik adalah dengan zikir dan doa. Dan ternyata zikir adalah syifa, obat yang lebih manjur daripada obat yang lain. Di mana isi buku ini adalah orang-orang yang senantiasa berzikir mengingat Allah dan mereka yang selalu berzikir dan berselawat maka mereka akan diberikan kesehatan jasmaniah dan rohaniah.

Demikianlah saya menyampaikan hal ini hanyalah karena perintah Mawlana Syekh Hisyam (q) dan hanya sebagai hikmat atau pelayanan kami terhadap beliau dan untuk memuliakan beliau, dan tidak ada yang lain dari niatan ini, wasalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q):

A`udzubillahi minasy syaythanir rajim, Bismillahir Rahmaanir Rahiim. Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu `alaa asyrafil mursalin Sayyidina Muhammadin wa `alaa alihi wa shahbihi `ajmain. Ama ba'ad, Yaa Ibadallah ith-thaqullah… (Bahasa Arab). Sayyidina Muhammadin Rahmatan lil alamin. (Meneruskan dalam Bahasa Arab)

Kita berharap semoga kesehatan dan keselamatan tercurah kepada kita semua.

Wahai hadirin semua, wahai Muslimin dan Muslimat, ini adalah shuhbah perpisahan dan Insya Allah kita akan bertemu dengan event seperti ini di lain waktu. Sekarang sudah sebulan kami memulai perjalanan ini dimulai dari tanggal 6 Desember (dari Singapura-Malaysia hingga Indonesia) dan sampai sekarang tanggal 2 Januari 2012 dan besok kita akan kembali melalui Singapura ke Amerika.

Hampir satu bulan kami berjalan siang dan malam hari, dua kali sehari memberikan shuhbah dan Alhamdulillah kita telah sampai ke tingkatan ini di mana banyak penduduk di Indonesia lebih mengenal Syekh Nazim (q) dan saya kira hingga sekarang sudah lebih satu juta masyarakat Indonesia mengetahui tentang Mawlana Syekh Nazim (q), dan berzikir bersama di mana sebelumnya mereka belum mengetahui tentang Mawlana Syekh Nazim (q).

Dahulu pertama kali saya datang ke sini dimulai oleh seorang mahasiswa yang bernama Hadid di Kalifornia, di Lembah Silikon di mana dia belajar menyelesaikan sekolahnya dan dia membawa saya untuk berkunjung ke Indonesia. Pertama kali dia memberikan zikir, dimulai hanya 5 sampai 10 orang saja yang ikut berzikir, tetapi lihatlah sekarang. Semua orang datang ke majelis zikir, bergabung dengan kita, di mana dengan barakah Bapak Soenarto, Bapak Malik Tarigan, Buddy, Rizal dan sekarang sudah ratusan ribu orang bergabung bersama kita hingga saat ini.

Kalian di Indonesia adalah manusia yang beriman dan jika tanpa iman di dalam hati kalian, maka tidak ada yang akan datang ke majelis kita. Dan iman adalah seperti disebut dalam Al-Quran, "Athi Allah athi ur-Rasul wa ulil amri minkum". Taati Allah, taati Rasul-Nya dan orang yang diberi otoritas atas kalian (Mursyid/Guru/Wali Allah). Tanpa iman, mereka tidak akan datang ke majelis ini. Dan di sini banyak yang memiliki iman yang baik dan akidah yang baik. Semua sangat rendah hati, hingga saya katakan bahwa bumi Indonesia bagaikan surga di bumi. Setelah kota Mekah, Madinah dan Syam.

Alhamdulillah Indonesia adalah negara yeng memiliki perayaan Maulid Nabi (s) dan majelis Selawat Nabi (s) setiap malam selama setahun penuh. Jika kalian pergi ke seluruh dunia, maka tidak setiap negara memiliki hal ini, bahkan meskipun itu di Syam sekalipun. Di negara ini setiap malam orang memuji Nabi (s) dan berzikir kepada Allah (swt), maka Allah akan memberikan dukungan kepada orang yang melakukan zikir kepada Allah (swt) dan selawat kepada Nabi (s).

Kami harus mengatakan bahwa di Pakistan dan India ketika mereka melakukan Maulid Nabi (s), maka bisa dua juta orang berkumpul bersama, di Pakistan mereka mengumpulkan 500 ribu manusia hingga dua juta ketika perayaan Maulid Nabi (s) dan ketika ulama bicara, paling hanya berkumpul 50 ribu manusia. Dan itu tidak bisa dibandingkan, di India mungkin ada 2 juta orang berkumpul untuk Maulid Nabi (s). Tetapi rahmat dan kasih sayang Allah adalah di mana kalian menemukan tempat-tempat orang berkumpul untuk berzikir meskipun kecil tetapi tersebar di setiap tempat di Indonesia.

Dan di setiap majelis Nabi (s) di mana kita berselawat bersama, itu merupakan penghapus dosa yang menghapuskan dosa kita dalam 70 kali pertemuan yang membicarakan hal-hal duniawi. SubhanAllah di Indonesia kalian bisa menemukan di setiap jalan, di setiap tempat, kalian akan menemukan berbagai Majelis Zikir dan Selawat Nabi (s), dengan demikian rahmat akan melingkupi seluruh negeri ini. Hal ini tidak terjadi di India yang memilki 2 juta orang yang berkumpul hanya dalam satu acara dan tidak tersebar ke segala penjuru. Boleh saja mereka berjumlah 2 juta manusia yang datang berselawat dan mengikuti Maulid Nabi (s) tetapi hal ini tidak bisa dibandingkan dengan apa yang ada di Indonesia.

Sayyidina Muhammad (s) mengatakan, “Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkelana (roaming) di jalan-jalan, mencari majelis-majelis zikir, meskipun kecil, ketika mereka melaluinya dan melihat manusia sedang berzikir, mereka akan berhenti dan ikut berzikir bersama. Dan bayangkan majelis ini bukan hanya di satu tempat saja tetapi di berbagai tempat di Indonesia ini sehingga setiap orang akan mendapat keuntungan di setiap daerah di Indonesia.

Dalam bahasa Inggris para malaikat roaming, mencari dan menemukan majelis zikir, di mana kalian pergi maka mereka tahu di mana kalian berada, karena malaikat pergi dengan kalian ke setiap tempat, dari satu majelis zikir ke majelis lainnya dan dengan kekuatan surgawi Allah (swt) mengirimkan malaikat untuk bersama dengan kalian ke mana pun kalian pergi. Maka jika kalian menghadiri majlis zikir maka Allah (swt) akan memberikan mereka pahala dan mencatat apa yang kalian lakukan ke manapun kalian pergi sehingga akan ada berkah untuk setiap manusia yang mengikutinya sebagai pelindung kalian di Shirat al-mustaqim nanti. Itulah sebabnya Allah (swt) mengirimkan malaikat-Nya ke setiap mejelis zikir, dan di mana ada zikir maka mereka akan berhenti dan mencatat siapa saja yang duduk di sana.

Masya Allah di setiap jalan, di setiap kota di Indonesia selama saya berada di Indonesia di sana kami melihat begitu banyak banner besar di masjid ini dan masjid itu. Kalian tidak akan menemukan yang seperti ini di negara-negara Muslim lain yang pernah kami kunjungi. Karena mereka mengatakan bahwa majelis zikir adalah bid'ah dan syirik. Dan hanya di negeri ini kalian dapat mengiklankan dan menempatkan banner yang besar di setiap jalan, maka Allah (swt) memberikan kalian iman yang kuat. Nabi (s) bertanya pada para Sahabat, "Siapakah orang yang memiliki iman yang paling tinggi?” Para Sahabat menjawab, “Para Nabi, Yaa Rasulullah", Nabi (s) menjawab, "Bagaimana mereka tidak memilki iman yang kuat, karena wahyu diturunkan kepada mereka.” Kemudian mereka menjawab lagi, “Para syuhada, para syahid dan Sahabat ya Rasulullah.” Dan Nabi (s) berkata, “Bagaimana kalian tidak memiliki iman yang kuat karena kalian telah berjumpa denganku dan aku berjumpa dengan kalian.” Kemudian Nabi (s) melanjutkan, “Orang-orang yang imannya tinggi adalah adalah orang-orang di akhir zaman. Mereka mempercayaiku padahal mereka belum pernah melihatku, maka merekalah yang memilki iman terbaik.”

Kalian berada di sini saat ini, dan di manapun Muslim berada di Indonesia ini, mereka semua penuh dengan iman, jangan katakan kalian tidak memilki iman, karena kalian bahkan memiliki ekstra ekstra ekstra iman yang besar karena kalian datang ke majelis zikir dan kalian percaya kepad Nabi Muhammad (s), ini adalah tanda iman yang kuat. Dan iman yang besar adalah ketika kalian datang dan kalian mendengarkan zikir dan memuji Allah dan berselawat kepada Nabi (s), maka ini adalah tanda orang yang memiliki iman terbaik.

Kalian hanya memilki satu masalah saja di negeri ini, di mana setiap Habib dan Ulama yang membuka pesantren, mereka hanya mengajarkan Syariat, Fiqih dan Hadits. Tidak ada pesantren yang berpikir untuk mengajarkan Tasawuf dan tidak ada yang membawa nama para Sufi Besar di dunia setelah zaman Nabi (s) sampai hari ini. Apa yang diajarkan oleh para Sufi Besar kepada kalian sampai saat ini. Tidak ada yang berbicara mengenai Syah Bahaudin an-Naqshbandi (q), Syekh Abdul Qadir al-Jailani (q), Syekh Junaid al-Bagdadi (q), Syekh Bayazid Bistami (q), Imam Jazuli (q), tidak ada yang berbicara hari ini tentang para Sufi besar ini, nol. Hal inilah yang membuat kalian tidak berkembang.

Masya Allah kalian telah belajar syariat dengan sangat baik, tetapi tasawuf hanya sedikit sekali dibahas dan tidak ada sekolah yang memberikan kurikulum tasawuf dan mengapa tidak ada pesantren yang mengajarkan sampai selesai Bab tentang Ihya Ulumuddin, ajaran Imam al-Ghazali (q). Kami tidak melihat ini di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia tetapi di setiap Negara Muslim di dunia. Tetapi lihatlah di Amerika dan Eropa, mereka mengajarkan tasawuf, tetapi mereka tidak mengajarkan syariat (tersenyum). Tasawuf menyempurnakan Islam, Iman dan Ihsan. Inilah kesalahan terbesar yang terjadi di negeri ini.

Akhir kata, setiap majelis mempunyai awal dan akhir dan sekarang kita hampir mencapai akhir, maka berpeganglah kita semua kepada tali-tali Allah dan janganlah kalian terpisah dan bercerai berai. Tali Allah adalah cinta kepada Nabi Muhammad (s) dan cinta itu akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Setiap orang yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk (karena tempatnya terbatas), lebih banyak malaikat bersama mereka. (hadirin yang berdiri merasa senang).

Kita akan memperbaharui bay’at kita dengan Syekh Nazim Adil Haqqani (q), sampai kepada Nabi Muhammad (s).

(Bay'at)

Alhamdulillah, Taqaballah, saya harus masuk karena harus mengepak barang dan kalian tetap berada di sini untuk berselawat dan mendengarkan Maulid Nabi (s).

Wa min Allah at Tawfiq

21 July 2008

Tasawuf: Dulu dan Sekarang

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Di masa Nabi SAW tasawuf adalah sebuah realitas tanpa nama; kini tasawuf adalah sebuah nama, tetapi hanya sedikit yang mengetahui realitasnya.”

Umat Islam sekarang memerlukan ulama-ulama yang baik yang melaksanakan ajaran Islam dengan benar (‘alimun ‘aamil), mencoba dengan segala kemampuannya untuk mengembalikan apa yang telah rusak dalam agama Islam selama bertahun-tahun ke belakang dan mereka yang mampu membedakan antara yang benar dan salah, halal dan haram, yang percaya kepada yang haqq dan melawan yang batil, serta tidak menakut-nakuti siapa pun yang berada di jalan Allah SWT.

Umat Muslim sekarang tidak mempunyai orang yang bisa memberi nasihat atau membimbing mereka dalam mempelajari agama dan perilaku atau kebiasaan yang terpuji yang diajarkan dalam Islam. Sebaliknya, kita hanya melihat para ulama yang pura-pura mengetahui sesuatu, lalu berusaha menerapkan ide-ide dan akidah Islam yang telah mereka kotori kepada setiap orang. Pada setiap kesempatan konferensi misalnya, mereka memberikan ceramah mengenai Islam dari perspektif yang sangat sempit dan terbatas, tidak berdasarkan bimbingan para sahabat Nabi SAW atau para Imam besar Islam dan tidak pula berdasarkan konsensus (ijma dan qiyas) sebagian besar para ulama Islam.

Jika para ulama itu mau mendengar nuraninya lebih dalam dan kembali kepada loyalitas dan kejujuran dalam Islam tanpa campur tangan pemerintah atau kekuatan lain yang mengontrol negara-negara Muslim dengan uang mereka, mengabdikan dirinya hanya untuk berdakwah dan irsyad (memberi petunjuk ke jalan yang lurus) dan berzikir kepada Allah SWT dan Nabi SAW, barulah situasi di dunia Islam akan berubah dan kehidupan Muslim akan meningkat dengan pesat. Harapan kita pada tahun 1416 H ini, Muslim di Amerika dan di seluruh dunia akan bersatu kembali, saling berhubungan dalam satu tali, yaitu Tali Allah SWT untuk memantapkan sunnah dan syariah Nabi SAW.

Jika orang-orang ingin meninjau sejarah lebih dalam lagi, mereka akan menemukan bahwa setelah perjuangan para sahabat yang gagah berani, Islam tersebar ke seluruh penjuru Timur dan Barat serta Timur Jauh melalui dakwah dan irsyad para ulama dan para pengikut tasawuf (sufisme). Mereka mengikuti jejak yang benar dari para Khalifah Rasulullah SAW. Mereka adalah para ulama sufi yang sejati, yang menopang pengajaran al-Qur’an dan Sunnah dan tidak pernah menyimpang dari keduanya.

Sifat zuhud dalam Islam berkembang pada abad pertama Hijriah dan dikembangkan dalam sekolah-sekolah yang mempunyai fondasi yang kuat dan menjadikan al-Qur’an dan syariah sebagai dasar pengajarannya, dan dijalankan oleh para ulama zahid yang dikenal sebagai sufi. Mereka di antaranya adalah keempat Imam pertama, yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifa, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, begitu pula al-Imam Abi ‘Abdallah Muhammad Al-BUKHARI, Abul Husain MUSLIM bin al-Hajjaj, Abu ‘Isa TIRMIDZI. Yang lainnya di antaranya Hasan al-Basri QS, al-Junaid QS, Imam Awzai’ termasuk at-Tabarani, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Ibnu Hajar al-Haythami, al-Jardani, Ibnu Qayyim al-Jawzi, Imam Muhyiddin bin Syaraf bin Mari bin Hassan bin Husain bin Hazam bin NAWAWI, Imam Abu Hamid GHAZALI, Sayyid Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi QS. Dunia Muslim telah mengenal Islam melalui usaha para ulama zahid ini yang dikenal sebagai sufi karena loyalitas mereka, ketulusan dan kemurnian hatinya.

Kita tidak menyembunyikan fakta bahwa pada saat itu, beberapa musuh Islam datang dan mengadakan pendekatan yang ekstrim, menggunakan nama sufisme dan berpura-pura menjadi seorang sufi pada saat menyebarkan ide-ide anehnya dengan tujuan untuk memusnahkan ajaran sufi yang sejati dan meracuni pikiran Muslim mengenai tasawuf yang telah dianut mayoritas Muslim. Tasawuf sejati berlandaskan zuhud dan ihsan (kemurnian hati). Imam-Imam besar umat Muslim yang ajarannya diikuti di semua negri Muslim, dikenal mempunyai guru-guru sufi. Imam Malik, Imam Abu Hanifa (berguru kepada Ja’far ash-Shadiq AS), Imam Syafi’i (yang mengikuti Syayban ar-Rai’QS) dan Imam Ibnu Hanbal (gurunya adalah Bisyr al-Hafi QS) yang semuanya menganut tasawuf.

Semua pengadilan dan universitas di negri-negri Muslim menerapkan ajaran dari keempat Imam tersebut hingga sekarang. Misalnya: Mesir, Libanon, Yordania, Yaman, Djibouti, dan beberapa negara lain mengikuti mazhab Syafi’i. Sudan, Maroko, Tunisia, Aljazair, Mauritania, Libya dan Somalia mengikuti mazhab Maliki. Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Oman dan beberapa negara lain mengikuti mazhab Hanbali. Turki, Pakistan, India, Myanmar dan beberapa republik di Rusia mengikuti mazhab Hanafi. Negri-negri Muslim di Timur Jauh mengikuti mazhab Syafi’i. Sebagian besar pengadilan di negara-negara Muslim bergantung kepada fatwa-fatwa dari keempat mazhab ini dan keempatnya diterima. Imam Malik dalam ucapannya yang terkenal mengatakan, “man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq.” Yang artinya, “Barang siapa yang mempelajari tasawuf tanpa fiqih, dia adalah seorang kafir zindik, dan barang siapa yang mempelajari fiqih tanpa tasawuf, dia adalah seorang yang fasik (korup), dan barang siapa yang mempelajari tasawuf dan fiqih, dia akan menemukan kebenaran dan realitas dalam Islam.”

Ketika sarana transportasi masih sulit, Islam dapat tersebar dengan cepat melalui usaha yang tulus dari para musafir sufi yang telah terdidik dengan baik sekali dalam disiplin zuhud yang tinggi (zuhud ad-dunya) yang memang diperlukan oleh mereka yang telah dipilih Allah SWT untuk melaksanakan tugas suci itu. Hidup mereka adalah dakwah dan mereka bertahan hidup hanya dengan roti dan air. Dengan cara hidup seperti itu mereka mampu mencapai Barat dan Timur Jauh dengan keberkahan Islam.

Di abad ke-6 dan 7 Hijriah, tasawuf berkembang dengan pesat karena diiringi kemajuan dan usaha yang keras dari para guru sufi. Setiap kelompok dinamai menurut nama gurunya, untuk membedakan dengan kelompok yang lain. Sama halnya dengan sekarang, setiap orang memegang gelar dari universitas di mana dia menjadi lulusannya. Walau demikian tentu saja Islam tetap sama, tidak pernah berubah dari satu guru sufi ke guru sufi yang lain, seperti halnya Islam tidak pernah berubah dari satu universitas ke universitas yang lain.

Namun demikian di masa lalu murid sangat dipengaruhi oleh perilaku dan moral yang baik dari guru-guru mereka. Oleh sebab itu mereka mempunyai sifat tulus dan loyal. Tetapi sekarang para ulama kita ‘kering’ dan Islam diajarkan kepada mereka di universitas non-Muslim oleh para profesor non-Muslim (Jika kalian pandai, kalian bisa mengerti).

Guru-guru sufi meminta muridnya untuk menerima Allah SWT sebagai Pencipta mereka dan Nabi SAW sebagai hamba dan utusan-Nya, menyembah Allah SWT pada saat sendirian, meninggalkan kebiasaan menyembah berhala, bertobat kepada Allah SWT, mengikuti Sunnah Nabi SAW, memurnikan hati mereka, membersihkan ego mereka dari kesalahan dan untuk memperbaiki akidah mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka juga mengajarinya untuk bersifat jujur dan dapat dipercaya dalam segala hal yang mereka lakukan, bersabar dan takut kepada Allah SWT, mencintai sesama, bergantung kepada Allah SWT, dan segala sifat atau perilaku terpuji lainnya yang dianjurkan dalam Islam.

Untuk mencapai seluruh tingkatan yang tulus dan murni, mereka memberi murid-muridnya doa yang berbeda-beda seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW, para sahabat, dan para tabi’iin. Mereka mengajarkan zikrullah, mengingat Allah SWT dengan membaca al-Qur’an, doa-doa dan tasbih dari Hadis serta dengan membaca Nama-Nama Allah SWT dan sifat-sifatnya yang terdapat dalam tahlil, tahmid, takbir, tamjid, tasbih menurut ayat-ayat dan Hadis Nabi SAW mengenai zikir (ini dapat ditemukan pada semua buku Hadis termasuk Bukhari, Muslim, Tabarani, Ibnu Majah, Abu Dawud dan lain-lain di bagian ‘Zikir dalam Islam’ di mana setiap orang dapat merujuk ke sana).

Guru sufi ini (ulama sejati) menolak ketenaran, jabatan tinggi, uang, dan kehidupan yang materialistik, tidak seperti ulama sekarang yang mengejar ketenaran dan uang. Mereka bersifat zahid dan hanya bergantung kepada Allah SWT, tunduk kepada firman-Nya, “ma khalaqtul Jinni wal Insi illa li ya’ buduun.” “Kami tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Sebagai hasil dari perilakunya yang baik dan sifat zuhudnya itu, mereka mampu meyakinkan orang-orang kaya untuk membangun masjid dan panti (khaniqah, zawiyyah) untuk seluruh umat Islam, juga membagikan makanan gratis dan penginapan gratis. Dengan demikian Islam dapat tersebar dengan cepat dari suatu negara ke negara yang lain melalui khaniqah dan masjid tersebut. Tempat seperti itu, di mana setiap orang miskin dapat makan dan menginap serta para tuna wisma dapat berteduh merupakan tempat pembersihan hati bagi orang miskin dan merupakan tempat terjalinnya hubungan antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang hitam dengan yang kuning, merah, putih, Arab dan non-Arab.

Nabi SAW bersabda dalam suatu hadis, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal kebajikan.” Tempat ini membuat orang dari berbagai ras dan bangsa berkumpul bersama. Sufi memegang teguh sunnah dan syariah. Sejarah mereka penuh dengan keberanian dan perjuangan di jalan Allah SWT, jihad fi-sabiil-illah, meninggalkan negri mereka untuk menyebarkan Islam dengan satu metode, yaitu cinta. Mereka mengajarkan manusia untuk mencintai sesamanya tanpa perbedaan ras, usia dan gender. Mereka memandang setiap orang berhak untuk dihormati terutama wanita, orang yang teraniaya, dan fakir miskin. Sufi bagaikan bintang yang terang yang menyinari seluruh dunia, memberi semangat kepada semua orang untuk berjihad fi sabiil-illah, berjuang di jalan Allah SWT, menyebarkan Islam, menolong fakir miskin, tuna wisma, dan mereka yang membutuhkan pertolongan baik jauh maupun dekat. Dengan Imannya, mereka bisa mencapai Asia Tengah sampai India, Pakistan, Tashkent, Bukhara, Daghestan, dan daerah-daerah lain seperti Cina, Malaysia, Indonesia dan lain-lain. Orang-orang sufi sejati tidak pernah menyimpang dari syariah dan sunnah Nabi SAW serta al-Qur’an.

Dua sumber utama tasawuf adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, sebagaimana yang disampaikan lewat pemahaman Islam Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW yang dianggap sebagai dua guru utama seluruh aliran sufi. Sayyidina Abu Bakar RA mewakili satu aliran tasawuf. Nabi SAW bersabda mengenai beliau, “Apa yang Allah SWT tuangkan ke dalam hatiku, Aku tuangkan pula ke dalam hati Abu Bakar RA.” “ma sab-Allahu fii sadrii syayan illa wa sabatuhu fii sadrii Abi Bakrin RA.” (Hadiqa Nadiah, diterbitkan di Kairo, 1313 H. hal.9). Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an [QS 9:40], “…sesungguhnya Allah SWT telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekah), dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang teman dan keduanya berada dalam gua.” Nabi SAW bersabda dalam hadis lain, “Matahari tidak pernah bersinar lebih cerah pada orang-orang selain Abu Bakar RA, kecuali pada para Nabi.” (lihat Suyuti, Sejarah para Kalifah, Kairo, 1952. Hal. 46). Banyak hadis lain yang menerangkan posisi Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Aliran lain dalam tasawuf berasal dari Sayyidina ‘Ali RA, KW, mengenai beliau banyak sekali hadis yang bila dipaparkan akan memakan banyak halaman.

Sunnah Nabi SAW dan syariah yang melambangkan kewajiban, serta Ihsan yang melambangkan perilaku baik, semuanya melekat menjadi karakter para ulama sufi, mulai dari Sayyidina Abu Bakar RA yang menjadi khalifah Nabi SAW pertama, sampai sekarang.

Pada abad ke-13 Hijriah (± 19 M) sebuah mazhab yang dipengaruhi oleh ajaran dua ulama Islam dari abad ke-7 Hijriah (± 14 M) muncul. Mazhab ini adalah mazhab baru dalam Islam, yang walaupun mempunyai dasar mazhab Hanbali tetapi ternyata terdapat perbedaan akidah. Walaupun mazhab ini juga menerima tasawuf, tetapi dia lebih banyak mempunyai batasan dan mempunyai interpretasi yang sempit tentang apa yang dibolehkan dalam Islam dibandingkan dengan keempat madzhab yang pertama. Akhir-akhir ini para pengikut mazhab ini melakukan penyimpangan terhadap ajaran asli dari sang pendiri mazhab dan sering membesar-besarkan secara ekstrim dan membuat tuduhan kepada umat Muslim berdasarkan fatwa dari ulama-ulama modern yang hanya memiliki pemahaman Islam secara harfiah dengan sudut pandang yang terbatas, namun menjadi penentang bagi kelompok mayoritas Muslim. Keyakinan baru ini sekarang berkembang dengan pesat dengan dukungan minoritas Muslim yang mempunyai keyakinan sendiri dan interpretasi sendiri terhadap al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Orang-orang ini sekarang menentang sufisme dan mencoba untuk meremehkan semangat dan usaha keras para sufi sejati dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia selama kurun waktu 1300 tahun ke belakang.

Sebagai umat Muslim, kita menghormati semua mazhab dalam Islam tanpa diskriminasi. Tetapi sebaliknya kita tidak menerima orang yang memaksakan ide-idenya kepada kita, karena kita mengikuti keyakinan yang telah diterima oleh mayoritas Muslim, yang menerima tasawuf.

Di Amerika, kita terkejut melihat sejarah dan kebudayaan Islam selama 1400 tahun disangkal dan ditolak oleh sebagian kecil ulama dengan cara pandang mereka sendiri, seolah-olah selama 1400 tahun para ulama pengikut sufi dan keempat mazhab tidak ada dan tidak pernah ada.

Sebagai informasi bagi saudara-saudari, kami sampaikan beberapa nama dari sekian nama ulama modern yang mengikuti aliran sufi dan keempat mazhab, yang mewakili mayoritas Muslim di seluruh dunia. Mereka adalah:

Mufti Mesir, Hassanain Muhammad al-Mukhloof, anggota Liga Muslim Dunia,
Muhammad at-Tayib an-Najjar, Presiden Sunnah dan Syariah Internasional dan Rektor Universitas al-Azhar,
Syekh ‘Abdallah Qanun al-Hassani, ketua Majelis Ulama Maroko dan Deputi Liga Muslim Dunia,
Dr. Hussaini Hashim, Deputi Universitas al-Azhar Mesir dan Sekjen Institut Penelitian Makkah,
as-Sayyid Hashim al-Rafai, mantan Mentri Agama Kuwait,
as-Syekh Sayyid Ahmad al-Awad, Mufti Sudan,
asy-Syekh Malik al-Kandhalawi, Presiden Liga Muslim Pakistan dan Rektor Universitas Asyrafiya,
Ustaz Abdul Ghafoor al-Attar, Presiden Komunitas Penulis Sudi Arabia,
Qadi Yusuf bin Ahmad as-Siddiqui, Jaksa Pengadilan Tinggi Bahrain,
Muhmammad Khazraji, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Zabara, Mufti Yaman,
asy-Syekh Muhammad asy-Syadzili an-Nivar, Rektor Universitas Syariah Tunisia,
asy-Syekh Khal al-Banani, Presiden Liga Muslim Mauritania,
Syekh Muhammad Abdul Wahid Ahmad, Mentri Agama Mesir,
Syekh Muhammad bin Ali Habsyi, Ketua Liga Muslim Indonesia,
Syekh Ahmad Koftaro, Mufti Syria,
Syekh Abu Saleh Mohammad al-Fattih al-Maliki, Ondurman, Sudan,
Syekh Muhammad Rasyid Kabbani, Mufti Libanon,
asy-Syekh as-Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hassani, Professor Syariah dan guru di dua Masjid Suci, Mekah dan Madinah,

dan masih banyak lagi yang berada di sekitar Arab dan negri-negri Muslim lainnya.

Wahai saudara-saudariku yang tercinta, juga ayah, ibu, dan anak-anak sekalian, Islam bersifat toleran (hilm), Islam adalah cinta, Islam adalah Kedamaian, Islam adalah rendah hati, Islam adalah kesempurnaan, Islam adalah zuhud, Islam adalah Ihsan. Islam berarti hubungan antar sesama, Islam berarti keluarga, Islam adalah persaudaraan, Islam berarti persamaan, Islam adalah satu tubuh, Islam adalah ilmu pengetahuan, Islam adalah spiritualitas. Islam mempunyai pengetahuan lahir dan batin yang sama baiknya. ISLAM ADALAH SUFISME, SUFISME ADALAH ISLAM.

Terakhir, Islam adalah Cahaya yang diturunkan Allah SWT melalui utusan-Nya, Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan simbol kebenaran Allah SWT. Tanpa keraguan, beliau adalah perantara bagi semua orang, dan ini telah disebutkan dalam semua buku fiqih.

Semoga Allah SWT mengampuni kita atas kesalahan dan kekurangan dalam presentasi ini.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu

Yang terlemah di hadapan Allah SWT, hamba yang melaksanakan sunnah Nabi SAW,


Syekh Muhammad Hisyam Kabbani:
Presiden As-Sunna Foundation of America
607 A West Dana

Mountain View, CA 94041

21 June 2008

Mengenai Shuhba

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



"Thariqatuna as-shuhba wa-l khayru fi-l jam'iia"
(Jalan kita berada dalam asosiasi dan berkah atau kebaikan berada dalam kebersamaan).
Syah Naqsyband

Shuhba berarti suatu asosiasi atau perkumpulan di mana semua yang hadir memusatkan diri pada satu titik, satu sasaran.

Sebagian orang berpikir bahwa mereka tidak akan menemukan suatu kejahatan, atau konflik di tempat-tempat seperti kota suci Mekah; kalian tidak akan menyaksikan hal-hal semacam itu di depan Ka’bah. Namun demikian, seseorang yang telah mengunjungi tempat-tempat suci ini dapat dengan mudah mengetahui bahwa pada kenyataannya hal itu tidaklah demikian. Bahkan dibandingkan tempat lain, tempat-tempat suci tersebut justru lebih banyak melahirkan segala sesuatu yang berasal dari dunia yang berbeda, bukan dari dunia roh atau malaikat, melainkan dari dunia binatang.

Maka ketika kalian masuk, atau berniat untuk mulai menempuh hidup di Jalan Sufi, tak jadi soal bila berbagai kesulitan dan masalah menimpa diri kalian. Persoalannya hanya, ketika untuk pertama kalinya kalian dapat mengetahui mengapa hal-hal tersebut terjadi dan apa makna dari peristiwa itu. Itulah perbedaannya. Orang biasanya tidak menderita akibat apa yang menimpa mereka, tetapi sebagian besar menderita karena mereka tidak mengerti mengapa kejadian itu menimpa mereka dan apa hikmah dari kejadian itu.

Oleh sebab itu, orang yang berusaha untuk mengikuti jalur spiritual sepatutnya mengerti. Mereka harus tahu bahwa dengan bergabungnya mereka ke dalam kelompok seperti itu; tidak berarti secara otomatis mereka aman satu sama lain, karena kita tahu bahwa salah satu cara Allah SWT, salah satu jalan-Nya yang paling terkemuka dalam menguji hamba-hamba-Nya adalah dengan menempatkan mereka dalam keadaan saling bertentangan. Hal itu terjadi dalam tarekat seperti halnya di luar (tarekat), tetapi mungkin di dalam tarekat hal itu terlihat lebih jelas karena orang tidak menginginkannya. Pada saat yang sama, orang harus memahami hal itu dan belajar untuk berurusan dengannya. Lebih jauh lagi, apa yang terjadi dalam tarekat hanyalah merupakan sebuah contoh terhadap apa yang terjadi di mana-mana, tetapi di situ hal itu terlihat lebih jelas. Sebab kita harus selalu waspada dan tidak boleh lengah ketika kita mengikuti jalan spiritual. Jika kita tidak mau mengikutinya, kita boleh tidur. Tidak masalah. Tetapi bila kita berusaha untuk mengikuti jalur seperti itu, kita tidak boleh tidur. Hal itu tidak diizinkan. Jika terjadi juga, kita harus segera berusaha untuk bangkit.

Kadang-kadang, ketika kita berbicara di sini, kita berbicara secara umum menyangkut semua orang yang datang dari mana-mana, dan pergi ke mana-mana. Kadang-kadang, ada hal penting yang perlu disampaikan mengenai peristiwa-peristiwa yang khusus, tetapi apapun yang dibicarakan, sudah tentu berguna dan bermanfaat. Kita tidak berbicara di sini untuk tampil mengesankan dengan pengetahuan kita. Maksud dari shuhba atau pembicaraan dalam shuhba terletak dalam dua hal. Pertama adalah untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang dan mungkin itu bisa menolong dalam situasi tertentu bagi mereka dan pada saat yang sama bisa bermanfaat secara umum. Tujuan kedua dari pembicaraan dalam shuhba adalah untuk memohon kepada Allah SWT untuk memberikan suatu pembukaan dalam hati orang-orang yang benar-banar mendengarkan, yang selalu terjaga dan tidak lengah, sehingga berkah akan tercurah pada mereka. Mereka dapat meninggalkan pertemuan itu dengan berkah dari Allah SWT, Rasulullah SAW, dan dari Grandsyekh di Tarekat Naqsybandiyyah. Berkah ini akan tercurah ke dalam hati mereka dan itu akan menolong mereka.

Sekarang kita akan berbicara mengenai makna berada dalam shuhba dan makna ketika meninggalkannya, ketika melanggar peraturan shuhba. Ini adalah sebuah nasihat bagi setiap orang secara general, dan khususnya bagi orang-orang tertentu. Saya akan menyebutkan kepada kalian, sesuatu yang berasal dari Grandsyekh besar kita, Syeikh `Umar al-Suhrawardi QS Awarif al-Ma`arif. Beliau berbicara tentang makna ketika seseorang mengatakan, “Saya seorang Sufi.”

Di masa sekarang, banyak orang yang tidak memahami hal ini lagi, dan begitu banyak orang yang menghakimi, mengkritik dan menghukum tanpa pemahaman. Maka, mereka bisa saja mengambil keuntungan dari ucapannya. Tetapi ucapan mereka sama pentingnya untuk orang-orang yang mengikuti atau berniat untuk mengikuti suatu jalur spiritual, Jalan Sufi.

Dalam tradisi Sufisme, selalu ada tempat khusus di mana para Sufi tinggal. Jika kalian pergi ke Konya, di Turki, dan mengunjungi makam Jalaluddin Rumi QS, semoga Allah SWT mensucikan rahasianya yang diberkati, kalian akan melihat bahwa di sekitar makam tersebut terdapat sebuah rumah besar dengan banyak kamar. Di kamar-kamar itulah murid-murid Syekh dalam Tarekat Maulawiyah tinggal. Hal semacam ini juga terdapat dalam tarekat lain, tetapi tidak seluruhnya demikian.

Dalam Tarekat Naqsybandi, Syekh kita mengatakan bahwa membangun rumah seperti itu bukanlah prinsip kita. Mengapa tidak? Apa hikmah di balik pernyataan ini? Untuk apa rumah itu dibangun? Itu berarti, orang-orang yang mengikuti jalur spiritual tinggal dalam satu rumah. Mereka mengikuti peraturan khusus yang merupakan peraturan di rumah itu. Mereka berada di bawah bimbingan si pemilik rumah. Rumah seperti itu bisa saja memiliki dinding, atap dan lantai dari batu, tetapi bagi kita itu tidak perlu. Itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memerlukan dinding seperti itu, atap seperti itu, dan batu seperti itu agar tahu di mana mereka tinggal. Rumah-rumah seperti itu dibangun dan bisa dibangun kembali. Namun, bagi orang yang mengerti apa makna untuk tinggal di sebuah rumah, tinggal bersama, dan mengikuti peraturan di rumah tersebut, berjalan di jalur spiritual di bawah bimbingan pemilik rumah, ia tidak memerlukan dinding seperti itu. Sekarang, di dalam Tarekat Naqsybandi, ketika kita tidak memiliki rumah seperti itu, atau tidak terdorong untuk memilikinya, bukan berarti tidak ada. Itu berarti Syekh dan muridnya mengetahui, tanpa perlu diingatkan lewat batu-batu itu, bahwa mereka tinggal di rumah seperti itu. Rumah kita adalah tarekat ini. Rumah itu memiliki peraturan untuk tinggal dengan satu sama lain. Jika seseorang tidak mengikuti peraturan tersebut, sesuatu akan terjadi padanya. Mungkin, ia akan ditempatkan di luar untuk sementara, mungkin ia akan ditempatkan di ruangan lain, atau akan dikatakan kepadanya, “Pergilah ke luar sampai kamu diizinkan untuk masuk kembali.” Tak ada rumah tangga yang tidak memiliki peraturan. Orang harus mengetahui dan mematuhinya. Rumah bagi Naqsybandiyya disebut shuhba. Itulah rumahnya. Jika kalian berada dalam sebuah shuhba, maka kalian berada dalam Tarekat Naqsybandiyyah. Jika kalian menerima peraturan shuhba, kalian tinggal di rumah ini, di bawah pengawasan dan bimbingan Syekh. Jika kalian melanggar peraturannya, berarti kalian melanggar peraturan rumah tersebut. Oleh sebab itu kita harus mengetahuinya. Tidak menjadi soal apakah rumah itu tersusun atas beberapa material atau tidak. Itu hanya diperlukan oleh orang yang mendapatkan pemahamannya lewat rumah seperti itu, tetapi tidak semua orang memerlukannya. Seorang pengikut Tarekat Naqsybandi harus bisa memahami tanpa rumah tersebut.

Ketika kita mengunjungi Mawlana Syekh di Lefke, Siprus, kita melihat sebuah pondokan (guest house) dan rumah Syekh. Tetapi jangan kalian pikir bahwa ketika kalian meninggalkan Siprus, kalian tidak lagi berada di rumah Syekh. Tak peduli di mana kalian berada. Rumah itu berada di mana-mana.

Sekarang, apa yang dikatakan oleh Syekh Umar Suhrawardi QS adalah mengenai orang-orang yang tinggal di rumah seperti itu. Mungkin, kalian tahu bahwa banyak makna yang terkandung dalam kata tasawwuf atau Sufi, dan masing-masing memiliki hikmah. Sebagian orang mengatakan bahwa kata itu berasal dari kata suf, wool, atau dari kata dalam bahasa Arab yang berarti kemurnian. Syekh Umar Suhrawardi QS mengatakan bahwa kata itu berasal dari Ahl as-Suffa. Ketika orang mengatakannya, dia harus mengerti maknanya: siapa yang dimaksud Ahl as-Suffa dan apa artinya bagi orang yang mengaku dirinya sebagai seorang Sufi, dan siapa yang tinggal di bawah nama orang-orang tersebut. Ada sebuah ungkapan dalam hadits Rasulullah SAW, “Jiwa-jiwa adalah bagaikan tentara yang berkumpul bersama, mereka yang mengenal satu sama lain, setuju satu sama lain. Mereka yang tidak mengenal satu sama lain, takkan setuju.”

Dan ada pernyataan yang serupa dari Sayyidina ‘Ali KW, semoga Allah SWT memberkati wajahnya, “Apa yang kau kenal, kau cintai; dan apa yang kau abaikan, kau benci.”

Hadis Rasulullah SAW juga menyatakan hal yang sama, “Mereka yang mengenal satu sama lain, setuju satu sama lain, mereka datang bersama, mereka bertemu, mereka berada dalam shuhba. Mereka yang tidak saling mengenal, tidak setuju.” Sekarang Syekh Suhrawardi QS berkata, “Melalui shuhba, jiwa para Sufi disatukan dan ego mereka (anfaas) dibatasi. Mengapa? Karena dengan berada dalam shuhba, mereka melihat satu sama lain, memandang satu sama lain, sesuai dengan hadis bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Dalam shuhba, mata bertemu mata. Setiap orang menjadi cermin bagi orang lain dan dengan demikian ego mereka terbatasi. Sebagaimana Mawlana Syekh Nazim QS suatu hari berkata, “Alasan mengapa kita duduk bersama adalah karena itu merupakan latihan bagi sisi buruk ego kita, nafs al-lawwaamah. Biasanya apa yang disukai oleh sisi buruk kita, ego kita adalah untuk diperhatikan, menonjol, berbeda, menjadi seseorang, dan menjadi lebih dari yang lainnya. Namun demikian, selama kita duduk bersama, tak seorang pun yang menjadi lebih dibanding yang lain. Tentu saja, kadang-kadang itu akan menjadi terlalu sulit, kemudian satu atau yang lain harus muncul. Bahkan dalam suatu shuhba, ia harus menonjol. Tujuan dari shuhba adalah untuk menjaga agar ego tetap berada dalam batasnya. Setiap kali salah seorang yang duduk dalam shuhba memperlihatkan tanda-tanda ingin menampakkan diri, atau ingin menonjolkan diri, ia harus menarik diri. Karena keinginan itu terjadi ketika ego ingin memperlihatkan dirinya. Menonjolkan diri berasal dari hilangnya hudur, kehadiran. Kehadiran di sini mengandung arti Hadirat Ilahi. Untuk berada di Hadirat Ilahi tidak berarti kita harus berada di tempat lain, di bulan. Itu berarti hadir. Di sini. Itu harus dipelajari, dijaga, dan dipraktikkan, agar kita selalu hadir, dalam Hadirat-Nya. Ketika kalian kehilangan kehadiran kalian, kehilangan momentum, hal pertama yang terjadi adalah kalian akan muncul, “Aku di sini. Kalian melihatku? Setiap orang memperhatikanku? Ya? Setiap orang memperhatikan apa yang kukatakan, dan bagaimana tampangku?”

Setiap kita kehilangan zikir kita, ingatan kita, setiap hubungan kita terputus walaupun hanya sesaat, dengan segera ego melompat dan ingin agar diperhatikan. Oleh sebab itu, setiap kali ego dari salah seorang di antara kita ingin diperhatikan, yang lain tahu bahwa ia telah keluar dari lingkaran shuhba. Dan ia harus ditarik kembali. Sangat berat bagi ego kita, untuk tidak menjadi sesuatu yang spesial, hanya menjadi orang biasa seperti yang lain. Ego menanti seseorang agar kehilangan kewaspadaannya sehingga ia dengan segera akan melompat.

Salah satu jalan yang paling terkenal agar mendapat perhatian adalah melalui kemarahan dan kebencian terhadap orang lain, bahkan terhadap saudara dalam tarekat. Tak pernah yakin mengenai diri kalian, tak pernah berpikir bahwa kalian tidak melakukan sesuatu untuk diperhatikan. Siapa yang tidak melakukannya? Berapa banyak hal yang kita lakukan atau kita katakan yang bukan ditujukan dengan maksud seperti itu? Satu, dua? Berapa banyak? Apa yang kalian ucapkan bisa saja dibungkus atau dihiasi dengan kepentingan yang ‘lebih dalam’, tetapi tanyakanlah pada diri kalian sendiri, atau tanyakan pada hati kalian, mengapa kalian berbicara atau bertindak seperti itu. Tak seorang pun yang aman dari egonya sampai mereka mencapai maqam yang aman. Hingga saat itu, peristiwa apa saja bisa terjadi dan dalam waktu kurang dari satu detik, lebih cepat dari yang kalian pikirkan. Kadang-kadang bahkan kita sendiri kaget, kita menemukan diri kita berbicara dan bertindak dengan cara seperti itu. Kita berkata, “Mengapa aku melakukan hal itu?” “Mengapa aku mengatakan hal itu?” Pikiran terlalu lambat untuk menangkap. Ego bergerak lebih cepat dari pikiran kita! Kita mencoba untuk memahami tetapi kejadiannya sudah terjadi. Oleh sebab itu, yang lebih penting dari berpikir adalah untuk selalu waspada.

Tetapi apa yang akan kita lakukan? Ketika ego dari para Sufi melangkah ke bagian terdepan, ingin diperhatikan melalui kemarahan dan kebencian terhadap saudaranya baik pria maupun wanita, marah terhadap orang lain, menyerang seseorang (itulah cara yang terkenal agar diperhatikan, yaitu dengan mengkritik, menyalahkan dan marah kepada orang lain), ketika hal itu terjadi, ketika ego ingin diperhatikan, tugas dari saudara yang dikritik atau diserang adalah menghadapi orang yang menyerangnya dengan hatinya. Itu sangat penting. Ketika seseorang menyerang kalian, atau mengkritik kalian lewat jiwanya yang egois, melalui egonya; hadapilah dia dengan hati kalian, jangan dihadapi dengan ego kalian. Jangan menyerang balik, atau mengkritik balik. Itu tidak menolong siapapun, malah itu akan menyingkirkan kalian berdua.

Jika kalian berkata bahwa kalian adalah bagian dari shuhba, selama kalian menganggap diri kalian sebagai pengikut jalur spiritual itu, ketahuilah bahwa rumah tersebut memiliki peraturan. Dan kapan pun kalian menjumpai seorang saudara, di mana pun kalian menjumpainya, kapan pun kejadiannya, pertama kali lihatlah dirimu sendiri. Jangan mencoba untuk melompat atau menyerang. Ketika kalian diserang atau dikritik oleh seseorang, saudara pria atau wanita, jangan membalasnya dengan ego kalian. Kalian harus menghadapi ego dengan hati kalian. Mengapa? Ketika kalian menghadapi ego dengan hati kalian, ia akan kehilangan semua pijakan di bawah kakinya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia menjadi terpesona. Tetapi bila kalian menghadapi ego dengan ego kalian, maka perang segera dimulai dan perlindungan dari setan pun lenyap, tak ada lagi perlindungan dari setan bagi keduanya.

Allah SWT berfirman,
"Id fa`billatii hiya ahsanu fa idzal-ladzii baynaka wa baynahuu `adaawatun ka-annahuu waliyyun hamiim/ Wa maa yulaqaahaa illal-ladziina shabaruu wa maa yulaqaahaa illa dzu hazhin `azhiim." [QS 41:34-35]

Artinya,
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

Allah SWT Yang Maha Pemurah berbicara tentang Kebenaran dalam ayat tersebut. Itulah makna dari ayat tersebut. Itu adalah untuk orang-orang seperti itu. Jika kalian tidak mengikuti tarekat, lalu ada seseorang yang melakukan sesuatu yang buruk terhadap kalian, adalah perilaku yang tidak baik bila kalian membalasnya, tetapi kadang-kadang hal itu diperbolehkan bagi mereka. Tetapi kalian tidak diizinkan untuk melakukan hal itu, karena kalian menempuh perjalanan melalui jalur spiritual. Ketika kalian mengatakan bahwa kalian adalah seorang Sufi, maka ayat tersebut berlaku pada kalian. Kalian semua atau sebagian besar dari kalian yang mengenal Syekh Nazim QS, apakah kalian menyadari bahwa Mawlana seringkali membaca ayat ini? Balaslah sesuatu yang buruk dengan sesuatu yang baik. Mana yang lebih baik? Hati lebih baik daripada ego.

Kadang-kadang salah satu di antara dua orang mengeluh kepada Syekh. Mereka telah saling mengejek satu sama lain dalam waktu yang lama dan salah seorang di antara mereka berkata, “Sekarang kita harus membicarakan hal ini kepada Syekh.” Lalu Syekh akan menegur salah satu di antara mereka, tak peduli siapa di antara mereka. Mengapa? Karena keduanya sama-sama bersalah. Syekh bisa saja menegur salah seorang di antara mereka, beliau dapat memilih salah satu di antara mereka, tak jadi soal. Keduanya telah melanggar lingkaran shuhba. Yang pertama karena menyerang (seseorang) agar ia tampil sebagai orang yang menonjol dan yang kedua karena membalas serangan itu dengan egonya.

Ini adalah nasihat praktis yang sangat penting secara umum dan khususnya bagi beberapa orang di antara kita di sini.

Itu adalah dua aturan utama mengenai perilaku dalam shuhba. Thariqatuna as-shuhba. Itu adalah peraturan bagi pengikut tarekat ini. Itu adalah peraturan untuk seluruh pengikut Sufi sejati, orang-orang yang menata hidupnya sebagai Ahl-Suffa. Ini juga merupakan shuhba tetapi bukan merupakan shuhba hanya karena kita duduk di lantai ini. Untuk berada dalam shuhba, kalian harus memenuhi peraturan dalam shuhba. Kalian dapat terlihat duduk di sini, namun pada kenyataannya kalian berada di tempat lain. Intinya adalah untuk berada di sini, berada bersama-sama yang lain, di bawah pengawasan Syekh. Itulah shuhba. Tidak hanya duduk di sini, tidur, melihat ke sekeliling, atau bermain-main; namun berada di sini dengan perhatian yang lengkap dan selalu waspada.

Para Sufi hidup dalam shuhba. Hidup mereka terdiri atas shuhba. Mereka semua mempunyai tujuan yang sama, niat yang sama tetapi mereka berada di tingkat yang beragam. Setiap orang berada di tingkat yang berlainan tetapi tingkatan mereka ‘diselaraskan’ satu sama lain. Ketika kita berada dalam sebuah shuhba, jangan berkata bahwa aku mempunyai persoalan yang berbeda dengan dia, atau karakterku berbeda dengannya, atau aku mempunyai pikiran yang berbeda dengannya, jangan berpikir bahwa kalian adalah sesuatu. Jangan. Semua orang yang datang bersama ke dalam shuhba, apapun perbedaan mereka, mereka semua diselaraskan satu sama lain.

Tujuan dari shuhba adalah untuk bersama dengan yang lain, sebagaimana Allah SWT melukiskannya,

"Wa naza`naa maa fii shuduurihim min ghillin ikhwaanan 'alaa sururim mutaqaabiliina" [QS 15:47]

“Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan.”

Itulah fungsi dari shuhba. Kita harus melenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara dan duduk berhadap-hadapan.

Syekh Umar Suhrawardi QS berkomentar,

“Tatap muka terjadi ketika sisi dalam yang tersembunyi dan sisi luar yang tampak adalah sama.”

Ya, setiap orang melihat satu sama lain, setiap orang mempunyai raut muka yang tampak, tetapi apakah penampakannya itu sama dengan apa yang tersimpan di dalam? Atau apakah kalian menyimpan sesuatu yang lain di dalam? Ketika kalian duduk bersama seseorang, di manapun, dalam suatu shuhba, dan kalian mempunyai sisi luar yang mengatakan satu hal, dan sisi dalam yang mengatakan hal lainnya, apakah kalian berada dalam shuhba? Tidak. Kalian tidak duduk berhadap-hadapan karena kalian mempunyai muka yang lain. Satu muka menghadap ke sini, muka yang lain menghadap ke sisi yang lain. Satu muka mempunyai raut yang bersahabat, dan muka yang lain penuh kebencian. Itu bukanlah shuhba. Kalian duduk berhadap-hadapan ketika sisi dalam, yang tersembunyi dari pandangan orang-orang biasa adalah sama atau serupa dengan apa yang terlihat di luar. Tak ada perbedaan. Bukan dua orang yang duduk di hadapan saya, tetapi satu orang saja. Barulah Saya duduk berhadap-hadapan, dan kita berada dalam shuhba. Bila hal itu tidak terjadi, maka shuhba-nya menjadi rusak. Jika seseorang dalam hatinya mempunyai suatu perasaan tersembunyi yang menentang saudaranya, maka tidak terjadi yang namanya tatap muka, walaupun mukanya menghadap muka yang lain. Satu muka menghadap ke arah ini dan muka yang lain ke arah yang lain; dan duduk di depan satu sama lain dan membicarakan soal-soal agama, sufisme dan tarekat dan Saya tidak tahu apa. Kalian harus mengerti, tidak meremehkan hal ini dan tidak bermain-main dengannya. Thariqatuna as-shuhba. Kalian harus bersama dengan yang lainnya, berhadapan satu sama lain. Sisi dalam kalian harus sama dengan sisi luar kalian, terhadap saudara-saudara kalian.

Ahl us Suffah, sebagaimana Quran menerangkan kepada kita, adalah seperti ini. Itu adalah salah satu arti dari Ahl us-Suffah. Mereka terbuka satu sama lain, tanpa perasaan dendam, “Karena dendam dan kemarahan ditimbulkan oleh kecintaan terhadap dunia…” Dengan kecintaan terhadap dunia, bukan kecintaan terhadap akhirat, bukan karena cinta terhadap Allah SWT, bukan cinta terhadap agama, atau cinta terhadap tarekat. Jika hal itu juga terjadi di antara para pengikut Sufi, maka itu terjadi karena alasan yang sama. Tak peduli istilah apa yang dipakai. Kita berbicara mengenai realitas. Jika kalian duduk dalam shuhba dan hal ini terjadi, maka hal itu berasal dari kecintaan terhadap dunia. Dan itu tidak diizinkan bagi para pengikut Sufi, khususnya bagi pengikut Tarekat Naqsybandi. “Karena dendam dan kemarahan timbul akibat kecintaan pada dunia dan kecintaan terhadap dunia adalah asal dan sumber dari semua kejahatan.”

Orang-orang dalam shuhba duduk berhadap-hadapan, di dalam maupun di luar, bersama-sama dengan sifat kekeluargaan dan cinta. Mereka bertemu untuk berbicara bersama-sama dan makan bersama, dan dengan cara ini mereka berharap akan mendapatkan berkah dari Tuhan mereka. Jika mereka mengikuti peraturan shuhba. Jika mereka tidak mengikuti peraturannya, tak ada berkah.

Dilaporkan bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, kami makan tetapi rasa lapar kami tidak pernah hilang.” Beliau menjawab, “Mungkin kalian makan secara terpisah. Datanglah bersama, dan ingatlah Allah SWT, maka kalian akan diberkati.”

Bi hurmati l-Habibi, bi hurmatil Fatiha.

[demi kemuliaan kekasih (Allah SWT), diakhiri dengan membaca Surat Pembuka, surat pertama dalam al-Qur’an]


Pertanyaan:
S.M.: Anda berkata, ”Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya.” Dalam tarekat, hal ini sangat penting. Itu seperti Saya melihat diri saya sendiri melalui Anda. Anda melihat saya…

Syekh Hisyam QS: Ketika kau melihat saya, apakah kau melihat dirimu sendiri?

S.M.: hmm, itulah yang Saya herankan. Dan juga…

Syekh Hisyam QS: Atau apakah kau melihat saya?

S.M.: Saya melihat Anda!! (tertawa)

Syekh Hisyam QS: Tetapi seharusnya kau tidak melihat saya, karena Saya hanyalah sebuah cermin!

S.M.: Itulah yang ingin Saya katakan. Untuk mengatakan kepada yang lain bahwa yang salah dalam dirinya adalah bagian dari sebuah cermin.

Syekh Hisyam QS: Tidak! kau tidak perlu mengatakan sesuatu. Kau hanya harus melihat. Kau harus melihat. Atau Saya yang harus melihat. Sebuah cermin tidak berbicara. Ia hanyalah cermin. Ya. Saya tidak perlu mengatakan sesuatu kepadamu. Kau hanya harus melihat saya untuk melihat dirimu sendiri; begitu pula dengan yang lainnya. Jika Saya mulai berbicara, dan mengatakan sesuatu kepadamu, maka kau menjadi terlalu tertarik kepada saya… Kau tidak lagi melihat dirimu sendiri. Jika Saya sebuah cermin, dan hadis mengatakan bahwa, “orang-orang beriman” adalah cermin. Bukan setiap orang. Kita adalah cermin yang tidak sempurna. Syekh dan para Awliya, mereka adalah cermin yang sejati. Mengapa? Karena mereka tidak lagi memikirkan egonya. Ketika kau melihat pada mereka, kau hanya akan melihat dirimu sendiri. Jika kau adalah seorang yang beriman. Jika kau tidak cukup beriman, kau bisa melihat Mawlana Syekh dan tidak melihat dirimu sendiri. Itulah bedanya. Cermin tidak perlu mengeluarkan kritikan, atau mengatakan sesuatu. Ia harus tetap berada di sana, bersih dan memantulkan. Setiap orang mengetahuinya, kita mengetahui apa yang kita lakukan, tetapi kita terlalu mudah untuk menyimpang dan melihat hal lain, dan itu semua membuat kita lupa akan diri kita sendiri. Tetapi ketika kau melihat seorang mukmin, kau tidak dapat melarikan diri dari dirimu sendiri. Ia tepat berada di depanmu, karena seperti yang dikatakan oleh Syekh Suhrawardi QS bahwa sisi dalam dirinya adalah seperti sisi luarnya. Ia tidak berusaha untuk menyembunyikan dirinya. Ia tetap berada di depanmu, dan kau melihat dan menyaksikan. Kau melihat dirimu sendiri. Itu sangat penting. Kau harus mempelajari bahwa apa yang kau lihat bukanlah orang lain, kau melihat dirimu sendiri. Jadi, sekali lagi, jangan mengkritik! Lihatlah dirimu sendiri.

S.M.: Kesalahan yang kita lihat pada orang lain sesungguhnya milik kita sendiri…

Syekh Hisyam QS: Tentu.

Wa min Allah at tawfiq