Showing posts with label Mursyid. Show all posts
Showing posts with label Mursyid. Show all posts

29 October 2008

Jangan Memandang Orang yang Berdosa sebagai Binatang

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Kita selalu memerlukan pertolongan Awliya.  Mereka adalah khalifah Allah SWT di muka bumi.  Mereka mempunyai kekuatan untuk menolong umat manusia.  Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berbicara mengenai pengetahuan yang sangat berguna bagi kita.  Pengetahuan itu datang melalui dua jalur.  Pertama dengan cara mendengar dari luar dan menggunakannya untuk mengarahkan seseorang ke jalan tertentu.  Tetapi beberapa pengetahuan berasal dari hati dan ini lebih kuat dalam mendorong seseorang meraih sasarannya.  Dengan kata lain, jika perintah berasal dari luar, ego tidak akan memperhatikannya, tetapi berasal dari dirimu sendiri, dia mempunyai efek yang lebih besar.  Ego tidak suka diperintah, tetapi jika berasal dari hati, kalian melihatnya sebagai terhormat.  Kalian bisa saja mendengar begitu banyak pelajaran, tetapi kalian menunggu perintah itu untuk datang dari dirimu sendiri.  Kebenaran dan Bimbingan Ilahi ada bersama jalan yang kedua.  Awliya bisa berbicara, tetapi mereka juga mengirimkan inspirasi ke dalam hati.  Lalu orang berpikir mengenai pengetahuan yang datang, "Aku memikirkan hal ini."  Semakin banyak kita dimurnikan gelombang hikmah Ilahi dapat ditangkap oleh telinga hati kita.  Rasulullah SAW bersabda bahwa jika seseorang dapat menjaga kemurnian hatinya dan beribadah dengan tulus selama 40 hari, maka dia akan dapat menangkap hikmah Ilahi dalam hatinya dan bisa berbicara dengan penuh hikmah.  Hikmah adalah inti dari pengetahuan. 

Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berkata, mungkin untuk seorang hamba,  Allah SWT mengjarkan dia, atau Rasulullah SAW mengajarkan dia, atau mursyidnya mengajarkan dia dengan inspirasi.  Bagi seorang dokter sangat penting memiliki inspirasi untuk membuat diagnosis.  Semakin banyak seorang dokter mempunyai hati yang bersih, dia akan mudah memahami suatu penyakit dan menyarankan pengobatannya.  Ini jika mereka berada di luar  cinta terhadap uang, hanya berpikir untuk menolong orang dan untuk meringankan penderitaan, maka Allah SWT akan menghilangkan sekat dari hati mereka dan mereka akan berhasil.  Dengan menolong orang, Allah SWT akan menolongmu.  Mata harus berada di luar kecintaan terhadap uang, jika mereka memberi, ambil, jika tidak, jangan meminta.  Tetapi orang yang paling bersifat materialistik adalah dokter.  Yang paling disenangi Allah SWT adalah orang yang menolong orang lain.  Itu adalah kehormatan bagi setiap orang.  Setiap hari kita harus berniat untuk menolong orang lain, jangan menolong dirimu sendiri, maka Allah SWT akan menolongmu dan pertolongan-Nya sudah cukup.  Jika semua orang di dunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak bisa melakukan seperti apa yang dilakukan-Nya.  Dia memberi kesenangan, keamanan dan kebahagiaan.  Kalian tidak bisa membelinya, itu hanya untuk orang-orang yang tulus.  Ini adalah realitas.  Suatu ketika seorang Wali melihat orang yang mabuk sedang terbaring di atas tanah dengan menyebut “Allah SWT, Allah SWT, Allah SWT.”  Beliau mengambil sapu tangan  dan mulai membersihkan mulutnya.  “Wahai Tuhanku, Aku memohon ampun atas nama orang ini.”  Beliau pergi ke suatu ruangan dan mendengar Suara Ilahi yang tertuju kepadanya, “Wahai hamba-Ku, engkau membersihkan mulutnya demi Aku dan Aku membersihkan hatinya untukmu.”  Kemudian beliau mendengar seseorang berdoa di luar dan menangis memohon ampun.  “Siapa kamu?” “Apa yang kamu lakukan?” “Aku adalah orang yang mulutnya engkau bersihkan.” Meningkatnya keimanannya berarti rahmat meningkat dalam hati, jangan memandang orang yang berdosa seperti binatang.  Itu hanyalah pandangan luar dari orang-orang yang terpelajar.  Para Awliya melihat dengan rahmat. “Perantaraanku adalah untuk para pendosa yang besar,” sabda Rasulullah SAW.

03 June 2008

Ciri-Ciri Seorang Mursyid

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Syekh ‘Abdullah Faiz ad Daghestani QS bertutur tentang ciri-ciri seorang Mursyid, seorang yang membimbing manusia ke jalan yang benar dan merupakan penerus Rasulullah SAW. Dalam bahasa Arab, Mursyid juga berarti seorang kapten yang memimpin kapalnya menuju pelabuhan yang tak dikenal sebelumnya. Setiap orang mempunyai tujuannya masing-masing, tidak ada dua orang yang benar-benar sama dan berpikir mengenai suatu hal yang sama. Setiap orang yang tidak mengetahui cara melangkah menuju tujuannya memerlukan seorang pembimbing. Masa depan adalah sesuatu yang tidak kita ketahui, tetapi pengetahuan tentang hal itu telah diberikan kepada Rasulullah SAW dan awliya. Kita semua berada dalam kegelapan dan memerlukan cahaya, yaitu cahaya Rasulullah SAW yang dapat memberi informasi kepada kita apa yang akan kita jumpai dan juga cahaya awliya untuk membimbing kita menuju tujuan kita masing-masing.

Salah satu ciri seorang Mursyid adalah dapat dipercaya. Dan ini hanya dapat dirasakan oleh hati kita, bukan diukur dengan penggaris atau skala. Hati kita akan memberi tanda dan ia tidak akan pernah membuat kesalahan. Jika seseorang duduk bersama seorang Mursyid sejati, ia akan merasakan kedamaian, ketenangan dan kepuasan batin. Dengan kata lain kita akan merasa sangat berbahagia, inilah tandanya. Kita dapat melupakan segala masalah karena kita berada dalam samudra. Sekarang banyak orang yang pergi ke tepi laut, untuk apa? Karena ketika mereka menyelam ke dalam air, mereka akan menemukan ketenangan dan merasakan kenikmatan. Pada saat tubuh kita merasa lelah, jiwa akan meminta pergi ke laut. Demikian pula dalam hidup ini kita memerlukan orang yang bisa menyerupai samudra sehingga hati kita dapat menikmati dan mendapat kepuasan dari orang itu.

Mursyid mengajarkan bagaimana kita menjalani hidup ini. Kita hidup dalam lingkungan yang sedemikian rupa sehingga kita banyak menjumpai hal-hal yang tidak kita sukai. Tidak ada orang yang berkata, “Segalanya berjalan sesuai yang aku inginkan,” bahkan bagi seorang Carter atau Brezhnev (mantan presiden Amerika dan pemimpin Uni Soviet—red) sekalipun. Setiap hari kita menghadapi hal-hal yang tidak kita sukai, tetapi kita harus melewatinya untuk mencapai tujuan kita. Seperti kapal yang berjuang menembus gelombang besar dalam samudra, dan kapten kapal dengan tangan yang kokoh mengendalikan kemudinya, kita pun harus jalan terus tanpa berbelok ke sana ke mari. Semua hal tadi hanya dapat terjadi atas kehendak Allah SWT. Segala kejadian berlangsung seperti yang Dia inginkan. Jika kita mengetahui hal ini, kita akan mencapai taslima, pasrah, dan damai. Bila kita mampu meniadakan perlawanan maka kehendak-Nya-lah yang akan membimbing kita dengan mudah menuju tujuan kita masing-masing. Oleh sebab itu perilaku terbaik adalah pasrah atau berserah diri. Seseorang yang berjuang keras agar tidak tenggelam di laut malah tenggelam, kemudian tubuhnya akan muncul ke permukaan dengan mudah. Seorang hamba yang tidak melakukan perlawanan akan mencapai tujuannya tanpa kesulitan atau kelelahan. Rasulullah SAW dan awliya seperti itu. Mereka menemukan surga di dunia ini.

Kadang-kadang Saya berkata dalam hati, “Alhamdulillah keinginanku tidak tercapai, kehendak-Nya adalah yang terbaik.”

25 May 2008

Realitas Bay'at

Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QS
Jakarta,
7 Juli 2003


A`ûdzu billâhi min asy-syaythân ir-rajîm Bismillâh ir-rahmân ir-rahîm
Nawaytul arbâ`în, nawaytul `itikâf, nawaytul khalwat, nawaytul
riyâdha, nawaytus sulûk, nawaytul `uzla fî hâdza al-masjid.

`Ati-Allâha wa ati`ur-Rasûla wa ulil-amri minkum “Hai orang-orang yang beriman! Taati Allâh SWT, dan taati Rasul, dan mereka yang diberi kewenangan di antara kamu.”
[ QS 4:59]

Dan taat kepada Nabi Muhammad SAW berarti taat kepada Allâh SWT. Allâh SWT berfirman, “Man yut`i ar-rasûl faqad ata` Allâh.” “Dia yang taat kepada Rasul, berarti taat kepada Allâh SWT” [QS 4:80]. “Ay wada` ar-rasûl mumathilan `anhu. yumathil rabbil `alamîn.” Dia berfirman, “Barangsiapa taat kepada Nabi SAW, sungguh taat kepada Allâh SAW.” Itu artinya Allâh SWT meletakkan Nabi SAW mewakili Diri-Nya di Tempat-Nya. Itu berarti bahwa tiada jalan untuk mendapat ketaatan kepada Allâh SWT tanpa ketaatan kepada Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada pintu kepada Allâh SWT tanpa pintu kepada Nabi SAW. Itu artinya tiada jalan untuk memasuki Surga tanpa Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada jalan menjadi Muslim tanpa mengatakan ‘Muhammadur-Rasûlullâh.’ Meskipun sekiranya kalian mengatakan ‘lâ ilâha ill-Allâh’ jutaan kali, tiada jalan menjadi Muslim tanpa menyebut ‘Muhammadur- Rasûlullâh.’

Maka Kebesaran apakah yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad SAW?

Busana apa yang Dia pakaikan kepada Nabi SAW dari asma ‘ul-husna Allâh SWT, tak seorang pun yang tahu. Jika seorang raja memiliki seorang putra, yang juga seorang putra mahkota, apa yang ia perbuat untuk anaknya itu? Jika sang raja mau pergi ke tempat lain, anaknya itu yang mewakilinya (menjalankan tugas sehari-hari?). Dan sang raja tidak akan bahagia jika anaknya hanya berpakaian yang biasa-biasa saja, tetapi ia akan mendadaninya dengan busana yang dihiasi dengan tanda-tanda kebesaran dan dengan berbagai medali di dadanya untuk membuatnya nampak sangat berbeda (anggun). Sehingga ketika Sang Putra Mahkota menampakkan dirinya (ke publik), wow semua orang merasakan hormat dan kemuliaan kepada Sang Putra Mahkota.

Ini adalah (apa yang dilakukan) raja bagi anaknya, seorang manusia. Apapun yang diberikan raja kepada anaknya, suatu hari akan habis. Apakah ayahnya itu akan meninggal atau anaknya yang mungkin meninggal dan semua itu menjadi hilang. Tetapi apa yang Allâh SWT al-Hayyu, berikan kepada Nabi SAW tidak akan mati. Apa yang Allâh SWT berikan kepada Sayyidina Muhammad SAW adalah tetap hidup (abadi). Dia berfirman, “Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh–-“Sesungguhnya mereka yang ber-bay’at kepadamu (Muhammad SAW), ber-bay’at kepada Allâh SWT. ‘Tangan’ Allâh SWT berada di atas tangan mereka.” [QS 48:10].

Qâla man yubâ'yaaka Yâ Muhammad, faqad bayâ`nî. Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu ber-bay’at ya Muhammad SAW, (berarti) membuat ber-bay’at kepada-Ku.” Itu artinya ketika para Sahabat membuat bay’at kepada Nabi Muhammad SAW, berarti Nabi SAW hilang ke dalam Hadirat Ilahi. Hanya Allâh SWT yang berada di situ.

Indamâ qâla inna alladzîna yubâ`ûnaka. [Ketika Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu bay`at…”] Dia membuat sebuah konfirmasi tentang sesuatu. Itu adalah sebuah konfirmasi yang berarti itu harus ditunjukkan kepada orang itu. Jika mereka membuat suatu konfirmasi, mereka harus menunjukkan suatu bukti nyata (jelas, lengkap), seperti ketika mereka membuat percobaan di laboratorium sains. Mereka harus membuat bukti lengkap apa yang telah dilakukan Allâh SWT.

Fa Hûwa yaqûl, inna alladzîna yubâ`ûnaka... melihat dengan bukti, bukan hanya dari kata-kata, tetapi dengan melihat haqîqat, kebenaran. Mereka yang memberimu bay’at, mereka memberikannya kepada Allâh SWT. Itu artinya pada saat itu, ketika para Sahabat meletakkan tangan mereka bersama Nabi SAW, mereka berada dalam Hadirat Ilahi, beliau membawa mereka kepada Hadirat Ilahi, al-hadharat al-ilahiyya. Mereka berada di sana. Para Sahabat tidak lagi melihat apa-apa, tetapi mereka berada dalam al-hadharat al-ilahiyya, mereka berada dalam hadirat Ilahi Allâh SWT. Di dunia, jika kalian berada di hadapan seorang raja, kalian tidak lagi melihat diri kalian. Wow, kalian bilang, ini adalah raja. Di Indonesia, ada seorang raja pada suatu waktu. Dua ratus juta manusia di bawah raja itu. Apalah artinya kalian ini jika dibandingkan dengan 200 juta itu? Bukan apa-apa. Lalu apa yang kalian pikir ketika kalian berada di dalam Hadirat Raja Di Raja yang Hidup Abadi, yang menciptakan para raja?

Dia yang menciptakan mereka dan membuat mereka memerlukan makan dan minum. Itu artinya mereka juga memerlukan pergi ke kamar kecil. Dengan itu semua Dia membuat para Sahabat sampai di Hadirat Ilahi. Ketika mereka sampai di sana, mereka langsung mencapai maqam al-fana'. Fanâ'un fillâh fana'un fir-rasûl, shalla-Allâhu alayhi wa sallam. Mereka tidak lagi melihat diri mereka, mereka hanya melihat Allâh SWT melalui mata Nabi SAW. Itulah mengapa ketaatan mereka kepada Nabi SAW adalah 100%. Mereka patuh kepada Nabi SAW 100%. Ketika mereka meletakkan tangan mereka dengan Nabi SAW untuk bay’at, segera setelah tangan mereka menyentuh tubuh sucinya, para Sahabat (serta-merta) berada di Hadirat Ilahi. Untuk alasan ini, bila kita memberi bay’at kepada seorang wali, serta-merta ketika kita menyentuh tangannya, ia meletakkan kita di Hadirat Nabi SAW.

Itulah sebabnya ketika kita memberi bay’at, kita mengatakan ‘Allâhu Allâhu Allâhu Haqq.’ wali itu meletakkan kalian di hadirat Nabi SAW dan Nabi SAW meletakkan kalian di Hadirat Allâh SWT, meletakkan kalian di Hadirat Ilahi untuk membakar habis kalian, untuk membakar habis ego kalian, sehingga kalian tidak lagi memiliki keinginan kecuali yang diinginkan Allâh SWT atas diri kalian.

Ketika kita membaca Sûrat al-Ikhlâsh, kita mengatakan ‘qul Hû Allâhu âhad.’ [katakan:] qul ya Muhammad. Hû al-ghayb ul-mutlaq alladzii lâ yurâ. . Katakan yang tak dapat dilihat, Dia yang tak dapat dikenali, Dia yang tak dapat dimengerti, Dialah Allâh SWT. Dia yang tak dapat dimengerti, Dia yang tak dapat dilkenali, Dia yang tak dapat dilihat. Yang Satu itu adalah Allâh SWT.

Jadi ketika kita mengatakan ‘Allâh ’, kita menyebutkannya dengan cara yang bertentangan (berlawanan) ketika kita menyebutkannya dalam Surat al-Ikhlâsh (kita mengatakan Hû Allâh). Yang Satu, yang tak dapat dilihat adalah Allâh SWT. Kita tahu Allâh SWT tetapi kita tidak tahu . Allâh SWT tahu tentang . Itulah sebabnya Dia meletakkan di awal (dalam Surat al-Ikhlash). Dia meletakkan di depan kata Allâh. mewakili Dzâtullâh, Sang Inti. Allâh mewakili asma. Di situ ada Sang Pencipta yang tidak diketahui oleh siapapun, satu yang disebut oleh Allâh SWT sebagai . Ketika kita melakukan bay’at, (kepada) Satu yang kita tahu dengan nama Allâh SWT adalah . Begitulah kiranya mereka menelusuri jejak kembali, mereka membawa kita kembali, awliyâ-ullâh kepada Hadirat Ilahi, .

Jadi ketika kita mengatakan Allâh Hû mereka membawa kita kepada Hadirat Ilahi. Dan ketika kalian mengatakan Haqq, itu artinya kalian mengkonfirmasi bahwa sesungguhnya roh kalian dapat melihat, namun diri kalian tidak dapat melihatnya. Dan apa yang kalian lihat hanyalah Busana (attribut, sifat-sifat) Allâh SWT, Dia mendadani kalian, tanpa mengetahui Sang Inti, tidak satu pun dapat mengetahui Sang Pencipta.

Dan itu semua dilakukan, melalui Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh. Janganlah berpikir ada jalan untuk mencapai Allâh SWT tanpa melalui Nabi SAW. Dia adalah khalifatullâh fil ardh. Bukan hanya di dunia ini saja, tetapi di seluruh penjuru alam semesta ini. Apapun yang diciptakan Allâh SWT, Muhammadur Rasûlullâh adalah khalifah. Dia adalah wakil Allâh SWT untuk semua makhluk. Itulah mengapa beliau mengatakan, “Âdam wa man dûnahu taht liwayî yawma al-qiyâm” – “mereka berada di bawah panji-panjiku, mereka harus mendatangiku untuk membawa mereka ke Surga.” Beliau mengatakan, Anâ sayyida waladzi âdama wa lâ fakhr.—“Aku adalah majikan bani Adam AS dan aku tidaklah berbangga.” Apa pula ini, “Anâ sayyida waladzi âdama?” Dan Allâh SWT berfirman, Wa laqad karamnâ banî âdam. – “Kami telah memuliakan bani Adam AS” [QS 17:70].

Dan Allâh SWT berfirman, Alam taraw ann Allâha sakhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardh.—“Tidakkah engkau lihat bahwa Allâh SWT telah menaklukkan kepadamu segala sesuatu di langit dan di bumi …?” [QS 31:20]. Itu berarti bagi bani Adam AS, segala sesuatu di langit dan di bumi adalah di bawah mereka. Maka itu berarti, karena Nabi SAW adalah majikan bani Adam AS, dan semua berada di bawah mereka ini (bani Adam AS), maka itu berarti bahwa tidak ada satu pun dapat berada di atas Nabi SAW.

Ada malaikat yang berada di bawah perintah Nabi SAW. Ketika kalian mengambil bay’at dari seorang mursyid, mursyid yang haqîqî, mursyid sungguhan, para malaikat tadi menjadi saksi dan mereka membuat awrâd (dzikir) untuk kepentingan kalian sampai dengan Hari Pengadilan. Ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at dari mursyid sejati itu, dan tidak dari seorang yang pura-pura menjadi mursyid dan bukan pula seorang yang dianggap orang sebagai mursyid. Mursyid sejati ini jarang, di dunia ini hanya terdapat 124.000 awliyâ-ullâh, hanya itu saja. Jika kalian menemui seorang mursyid haqiqi, ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at darinya, pada saat itu, para malaikat (sejumlah yang bilangannya tidak dapat kalian bayangkan) itu dianugerahkan kepada kalian untuk melayani kalian. Bagaimana caranya melayani kalian? Apakah kalian berpikir ketika kalian menerima bay`at, kalian datang dengan baju kotor seperti itu dan tubuh kotor dan hati kotor, dalam hadirat Nabi SAW?

Serta merta para malaikat itu akan merubah penampilan kalian sepenuhnya seperti pada saat (kalian ditanya di alam roh) “Alastu bi-rabbikum” dalam menerima bay`at dengan Syekh; dan Syekh membawa kalian ke hadirat Nabi SAW; dan Nabi SAW membawa kalian ke dalam Hadirat Allâh SWT.

Jika kalian hendak menemui seseorang, kalian akan mandi sehingga tidak bau. Apakah kalian berpikir ketika orang-orang berdatangan dengan berlari untuk mengambil bay`at, dengan tubuh yang tidak dibersihkan dan baju kotor adalah cara yang benar untuk mengambil bay`at? Tidak. Haa! Segera setelah kalian mengucapkan, “Aku mau di-bay`at” bahkan dalam baju kotor dan hati kotor, segera setelah kalian datang ke situ, para malaikat itu, dengan sentuhan mereka, mereka menyiram kalian dengan busana dan dandanan cantik ini; dan pada saat itu kalian kelihatan seperti seorang yang lain, seperti manusia berpenampilan malaikat yang memakai baju surgawi; duduk bersama mursyid itu. Mursyid itu juga merubah penampilannya, kepada gambaran spiritualnya, sebagaimana ia terlihat di hadapan para awliyâ dan Nabi SAW, dan membawa kalian bersama segenap para malaikat tadi dalam busana yang telah mereka berikan kepada kalian, sebagaimana dikatakan dalam hadis, “mâ jalasa qawman yadhkurûnallâh illa hafathum al-mala'ika wa gashîyahum ar-rahmat wa dzakarahumullâha fî man `indah.”—“Tiada akan sekelompok orang yang duduk, yang mengingat dan menyebut Allâh SWT, kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, dan mereka akan diselimuti rahmat dan Allâh SWT akan mengingat mereka di antara mereka yang berada dalam Hadirat-Nya.”

Bay`at seperti itu merubah kalian. Sehingga kalian menjadi seorang manusia tetapi memiliki kuasa malaikat surgawi-–jadi ketika kalian berbaju kuasa malaikat ini, ketika kalian memasuki Hadirat Ilahi kalian tidak pingsan, kalian tidak menghilang. Karena kalian menjadi sebuah cahaya, dan sebuah sumber cahaya.

Apa yang berada dalam hati awliyâ, kami tidak dapat mengatakan semuanya. Mereka tidak mengizinkan kami mengatakan semuanya, bila tidak kalian akan tenggelam. Namun ada sebuah berita gembira bagi kita semua, bahwa dengan berkah guru mursyid kita Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS, kita berada dalam kategori (golongan) itu.

18 January 2008

Tentang Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani qs, Khalifah Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani qs

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Syekh Muhammad Hisyam Kabbani qs adalah seorang penulis dunia yang terkenal dan juga seorang alim ulama. Beliau telah mengabdikan hidupnya untuk mempromosikan prinsip-prinsip Islam tradisional yang meliputi perdamaian, toleransi, cinta, kasih sayang dan persaudaraan, dan sebaliknya menentang ekstrimisme dalam segala bentuk. Syekh juga merupakan anggota dari keluarga terhormat yang merupakan cendikiawan Islam tradisional, termasuk di antaranya mantan ketua Asosiasi Cendikiawan Muslim Lebanon dan Grand Mufti (penguasa tertinggi agama Islam di suatu negara) Lebanon.

Di Amerika Serikat, Syekh Kabbani qs menjabat sebagai Ketua Islamic Supreme Council of America (ISCA); Pendiri dari Naqshbandi Sufi Order of America; Penasihat dari World Organization for Resource Development and Education (Worde); Ketua As-Sunnah Foundation of America; Ketua Kamilat—suatu Organisasi bagi wanita Muslim di Amerika. Dan terakhir sebagai Pendiri dan Presiden dari The Muslim Magazine.

Syekh Kabbani qs adalah seorang yang sangat terlatih, baik sebagai seorang saintis Barat maupun sebagai sebagai seorang ulama Islam klasik. Beliau menerima gelar sarjana di bidang kimia dan kemudian melanjutkannya di bidang ilmu kedokteran. Sebagai tambahan, beliau juga memegang gelar di bidang Syariat Islam dan di bawah bimbingan yang ketat dari Syekh `Abd Allah Daghestani qs, beliau diberi izin untuk memberi pengajaran, memandu dan menasihati murid-murid dalam spiritualitas Islam dari Syekh Muhammad Nazim `Adil al-Qubrusi al-Haqqani an-Naqsybandi qs, pemimpin dunia dari Tarekat Sufi Naqsybandi Haqqani.

Buku-buku beliau meliputi: Keys to the Divine Kingdom (2005); Classical Islam and the Naqshbandi Sufi Order (2004), The Naqshbandi Sufi Tradition Guidebook (2004); The Approach of Armageddon? An Islamic Perspective (2003, Edisi Indonesia: Kiamat Mendekat, penerbit Serambi); Encyclopaedia of Muhammad’s Women Companions and the Traditions They Related (1998, with Dr. Laleh Bakhtiar); Encyclopaedia of Islamic Doctrine (7 vols. 1998, Edisi Indonesia: Ensiklopedia Akidah Ahlusunah, penerbit Serambi); Angels Unveiled (1996, Edisi Indonesia: Dialog dengan Para Malaikat, penerbit Hikmah); The Naqshbandi Sufi Way (1995); Remembrance of God Liturgy of the Sufi Naqshbandi Masters (1994).

Dalam upayanya yang sudah berjalan lama untuk mempromosikan suatu pemahaman yang lebih baik tentang Islam klasik, Syekh Kabbani qs telah menyelenggarakan dua konferensi internasional di Amerika Serikat yang menarik minat para cendikiawan Muslim di seluruh dunia. Sebagai seorang yang menyuarakan Islam tradisional, nasihatnya banyak dicari oleh para jurnalis, akademis, dan para pejabat pemerintah.

Sejak tahun 1997, Syekh Kabbani qs telah berkunjung ke Indonesia. Beliau dengan cepat mendapat sambutan yang sangat baik di kalangan umat Muslim di Indonesia yang mayoritas juga melaksanakan praktik-praktik Islam tradisional. Cara dakwah beliau yang simpatik, ditambah kepribadian beliau yang rendah hati, penuh hormat, cinta dan humoris membuat orang berbondong-bondong mendatanginya. Hingga kini ribuan murid tersebar di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Medan, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jogjakarta, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan.


Tentang Sultan Awliya, Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani qs

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani qs adalah pemimpin dunia Tarekat Sufi Naqsybandi Haqqani `Aliyyah. Beliau adalah seorang ulama di bidang syariah yang menjadikannya mufti di Siprus, Turki dan juga seorang syekh tarekat. Beliau tinggal di Siprus, dilahirkan di Larnaka, Siprus pada tanggal 21 April 1922 (28 Sya’ban 1340H). Beliau adalah keturunan dari keluarga Nabi Muhammad saw baik dari sisi ibu maupun ayahnya, beliau adalah seorang sayyid Hasani as dan juga Husayni as. Dari sisi ayahnya, beliau adalah keturunan dari Sayyid `Abdul Qadir Jailani qs, pendiri Tarekat Sufi Qadiri dan dari sisi ibunnya, beliau adalah keturunan Jalaludin Rumi qs, pendiri Tarekat Sufi Mawlawi.

Syekh Nazim qs menyelesaikan sekolah tingkat atasnya di Siprus pada tahun 1940. Beliau lalu pergi ke Istanbul untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau sekolah di University of Istanbul, mendapat gelar MA di bidang Teknik Kimia. Selama kuliah di Istanbul, beliau juga mempelajari syariah dan bahasa Arab. Beliau menerima otoritas (ijaza) dari Syekh Jamal al-Lasuni qs (w.1955). Syekh Nazim qs kemudian mengarahkan perhatiannya pada jalur spiritual, dengan mempelajari tujuh tarekat Sufi, yaitu: Naqsybandi, Chisti, Qadiri, Mawlawi, Rifa`i, Syadzili, dan Badawi. Beliau kemudian memperdalam ilmunya pada Tarekat Naqsybandi di bawah bimbingan syekhnya pada saat itu, yaitu Syekh Sulayman Arzurumi qs (w.1938). Setelah beberapa tahun Syekh Sulayman qs berkata kepadanya, “Wahai anakku, orang yang membawa rahasiamu bukanlah diriku, tetapi guru spiritualku yang pindah dari Daghestani ke Turki dan sekarang tinggal di Damaskus, di distrik Midan (sa`ahat il-Midan). Beliau dikenal sebagai Syekh dari Sanad Emas Tarekat Naqsybandi di masa kita.”

Kemudian Syekh Nazim qs pindah ke Syria. Dalam perjalanannya ke Damaskus, beliau mengunjungi Aleppo, Hama dan Homs. Di Homs atas bimbingan syekhnya, beliau melakukan khalwat selama satu tahun di kompleks masjid dan makam seorang Sahabat Nabi saw yang terkenal, Khalid ibn Walid ra. Di sana, beliau menerima lebih banyak lagi instruksi yang intensif di bidang syariah, hadis, dan ilmu Alquran di bawah bimbingan Syekh Muhammad `Ali `Uyun as-Su`ud qs, `Abdul `Aziz `Uyun as-Su`ud qs, mufti Homs, ‘Abdul Jalil Murad qs dan Sayyid as-Suba`i qs, yang semuanya merupakan syekh Naqsybandi dan juga para muhadditsun (ahli Hadis) dan ulama syariah yang terkenal.

Pada tahun 1944, Syekh Nazim qs pindah ke Tripoli, Lebanon di mana beliau menjadi tamu dari Syekh Munir al-Malik qs, mufti Lebanon utara dan Syekh dari Tarekat Qadiri, Rifa`i dan Naqsybandi. Pada tahun 1945 beliau pindah dari Tripoli ke Damaskus, ke Ha`i al-Midan di mana akhirnya beliau bertemu dengan Syekh `Abdullah ad-Daghestani an-Naqsybandi qs. Beliau tinggal bersama Grandsyekh hingga Grandsyekh meninggal dunia pada tanggal 4 Oktober 1973 (4 Ramadan 1398H). Selama kurun waktu itu, selama hampir 40 tahun, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani qs (semoga Allah swt memberkatinya) terus-menerus menerima mata air surgawi dari pengetahuan spiritual yang dicurahkan dari dalam hati Syekh `Abdullah ad-Daghestani qs (semoga Allah mensucikan jiwanya) ke dalam hati beliau.

Syekh Nazim qs melanjutkan perjalanannya ke Timur Tengah dan Turki selama 40 tahun. Setelah wafatnya Grandsyekh dan dengan perintah spiritualnya, beliau meluaskan cakupan perjalanannya termasuk ke Eropa, Amerika, dan Timur Jauh. Beliau mendirikan ratusan pusat Sufi di seluruh dunia, menyebarkan Islam sekaligus dengan pengetahuan spiritual Sufi dan beliau telah membawa begitu banyak orang untuk masuk ke dalam Islam. Bukan sesuatu yang berlebihan bila dikatakan bahwa beliau adalah seorang mujaddid di abad ini sebagaimana Sayyid `Abdul Qadir Jailani qs di masanya, Syah Bahauddin Naqsyband qs di masanya, Sayyid Ahmad al-Faruqi qs di masanya, dan Jalaludin Rumi qs di masanya.

Syekh Nazim qs membawa rahasia dari tujuh tarekat Sufi, yaitu: Naqsybandi, Chisti, Qadiri, Mawlawi, Rifa`i, Syadzili, dan Badawi, melalui untaian otorisasi dari gurunya, Syekh `Abdullah ad-Daghestani qs, melalui sanad emas 39 Grandsyekh yang menghubungkannya kepada Nabi saw.

Beliau telah banyak melakukan khalwat sepanjang hidupnya, dengan periode bervariasi, mulai dari 40 hari hingga satu tahun. Ini dilakukan di berbagai tempat yang berbeda-beda, termasuk di kota Nabi saw, Madinah, di Baghdad—di hadapan Sayyid `Abdul Qadir Jailani qs, di Konya—di hadirat Jalaludin Rumi qs dan di Damaskus, di berbagai tempat sucinya. Beliau telah menulis banyak buku mengenai spiritualitas dan pengetahuan tentang makrifat yang telah diterbitkan ke seluruh penjuru dunia. Beliau juga telah menulis banyak puisi tentang Cinta Ilahi (`isyq) baik dalam bahasa Arab maupun Turki. Beliau adalah sumber (marja’) bagi banyak persoalan-persoalan hukum modern. Beliau mengikuti jalan yang moderat dalam mengadakan pendekatan kepada orang-orang dan mengangkat topik-topik tentang kehidupan di masa kini.

Syekh Nazim qs mempunyai kepribadian yang sangat karismatik sehingga membuat orang beranjak dan tertarik kepada manifestasi Cinta Ilahi yang terus-menerus tercurah dari hatinya. Senyumnya yang ramah selalu hadir. Ketika beliau bicara, seolah-olah sebuah air terjun Inspirasi Ilahiah telah terbuka, menghubungkan hatinya dengan hati para pendengar. Adalah nektar cinta yang membuat ribuan orang tertarik untuk masuk ke dalam Islam setiap tahunnya.


Ditulis oleh Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani qs untuk buku The Divine Kingdom, penerbit The Haqqani Trust, 1994