Showing posts with label Hajah Amina. Show all posts
Showing posts with label Hajah Amina. Show all posts

25 March 2009

Penciptaan Nur Muhammad SAW


http://nurmuhammad.com/NurNabi/creationlightofmuhammad.htm

(alih bahasa: Eyang Sutono)

 

Suatu hari Sayyidina Ali, karam Allahu wajhahu, misan dan menantu Nabi Suci SAW bertanya, “Wahai Muhammad SAW, kedua orang tuaku akan menjadi jaminanku, mohon ceritakanlah padaku apa yang diciptakan Allah SWT sebelum semua makhluk diciptakan?”


Berikut ini adalah jawaban beliau yang indah:


Sesungguhnya, sebelum Rabb-mu menciptakan yang lainnya, Dia menciptakan Nur Nabimu 


Dari Nur-Nya, dan Nur itu diistirahatkan haithu masyaAllah, di mana Allah SWT menghendakinya untuk beristirahat. Dan pada waktu itu tidak ada hal lainnya yang hadir – tidak ada Lawhul Mahfuzh, tidak ada Qalam, Surga maupun Neraka, tidak ada Malaikat Muqarrabin (Angelic Host), tidak ada langit maupun bumi; tiada matahari, tiada rembulan, tiada bintang, tiada jin, manusia ataupun malaikat – belum ada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.


Kemudian Allah SWT, Subhanallah, dengan Iradat-Nya, Dia menghendaki adanya ciptaan. Dia kemudian membagi Nur ini menjadi empat bagian. Dari bagian pertama  Dia menciptakan Qalam, dari bagian kedua Lawhul Mahfuzh, dari bagian ketiga Arsy.


Kini telah diketahui bahwa ketika Allah SWT menciptakan Lawhul Mahfuzh dan Qalam, pada Qalam itu terdapat seratus simpul, jarak antara kedua simpul adalah sejauh dua tahun perjalanan. Allah SWT kemudian memerintahkan Qalam untuk menulis, dan Qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus kutulis?” Allah SWT berkata, “Tulislah: laa ilaha illAllah 70.000 tahun, dan Muhammadan Rasulullah 70.000 tahun.” Terhadap hal itu Qalam berseru, “Oh, sungguh sebuah nama yang indah dan agung - Muhammad SAW- bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, yaa Allah.”


Allah SWT kemudian berkata, “Wahai Qalam, jagalah kelakuanmu! Nama ini adalah nama Kekasih-Ku, dari Nurnya Aku menciptakan Arsy, Qalam dan Lawhul Mahfuzh; jadi engkau juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apapun.” 



Ketika Allah SWT telah mengucapkan kalimat tersebut, Qalam itu terbelah dua karena takutnya terhadap Allah SWT, dan tempat dari mana ucapannya tadi keluar menjadi tertutup/terhalangi dan hingga kini ujungnya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak lagi menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung.  Oleh sebab itu, jangan sampai ada satu orang pun yang gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci SAW, atau menjadi lalai dalam mengikuti suri teladan beliau yang baik, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita. (Inilah rahasia lam alif)


Dan ketika Musa berkata kepada muridnya, "Aku tidak akan berhenti sebelum aku sampai pada pertemuan dua sungai atau aku akan berjalan terus hingga bertahun-tahun." 

[Al-Kahfi, 18:60] 


Kemudian Allah SWT memerintahkan Qalam untuk menulis. “Apa yang harus aku tulis, Ya Allah?”  tanya Qalam. Kemudian Rabbal `Alamin berkata, “Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Pengadilan!” Qalam berkata, “Ya Allah, dari mana aku harus memulai?” Allah SWT berfirman, “Kamu harus memulai dengan kata-kata ini, Bismillah al-Rahmaan al-Rahiim.” Dengan rasa hormat dan takut yang sempurna, kemudian Qalam bersiap untuk menulis kata-kata itu pada Lawhul Mahfuzh, dan dia menyelesaikan tulisan itu dalam waktu 700 tahun.


Ketika Qalam telah menulis kata-kata itu, Allah SWT berbicara dan berkata, “Engkau telah memakan waktu 700 tahun untuk menulis tiga Nama-Ku; Nama Keagungan-Ku, Kasih Sayang-Ku dan Empati-Ku. Tiga kata-kata yang penuh berkah ini Aku buat sebagai hadiah bagi umat Kekasih-Ku Muhammad SAW.”


Dengan Keagungan-Ku, Aku berjanji bahwa bilamana hamba mana pun dari umat ini menyebutkan kata ‘Bismillaah’ dengan niat yang murni, Aku akan menulis 700 tahun pahala yang tak terhitung untuknya, dan 700 tahun dosa akan Ku hapuskan.”


Kemudian bagian keempat dari Nur itu, Aku bagi lagi menjadi empat bagian:


Dari bagian yang pertama Aku ciptakan Malaikat Penyangga Arsy (hamalat al-`Arsy);

Dari bagian kedua Aku telah ciptakan Kursi, majelis Ilahiah (Langit atas yang menyangga Singgasana Ilahiah, `Arsy);

Dari bagian ketiga Aku ciptakan seluruh malaikat langit lainnya;

Dan bagian keempat Aku bagi lagi menjadi empat bagian: 


dari bagian pertama, Aku membuat semua langit; 

dari bagian kedua, Aku membuat bumi-bumi; 

dari bagian ketiga, Aku membuat Jin dan api. 

Bagian keempatnya Aku bagi lagi menjadi empat bagian: 


dari bagian pertama, Aku membuat cahaya yang menyoroti muka kaum beriman; 

dari bagian kedua Aku membuat cahaya di dalam hati mereka, merendamnya dengan ilmu ilahiah; 

dari bagian ketiga, Ku-ciptakan cahaya bagi lidah mereka yang adalah cahaya Tawhid (Hu Allahu Ahad); 

dan dari bagian keempat, Aku membuat berbagai cahaya dari ruh Muhammad SAW.


Ruh yang cantik ini diciptakan 360.000 tahun sebelum penciptaan dunia ini.

Ruh itu dibentuk dengan sangat cantik dan dibuat dari bahan yang tak terbandingkan.

Kepalanya dibuat dari petunjuk, lehernya dibuat dari kerendahan hati.

Matanya dari kesederhanaan dan kejujuran, dahinya dari kedekatan (kepada Allah SWT).

Mulutnya dari kesabaran, lidahnya dari kesungguhan.

Pipinya dari cinta dan kehati-hatian,

Perutnya dari tirakat terhadap makanan dan hal-hal keduniaan.

Kaki dan lututnya dari mengikuti jalan lurus.

Hatinya yang mulia dipenuhi dengan rahman.


Ruh yang penuh kemuliaan ini diajari dengan rahmat  dan dilengkapi dengan adab semua kekuatan yang indah. Kepadanya  diberikan risalah-Nya dan kualitas kenabiannya dipasang.


Kemudian Mahkota Kedekatan Ilahiah dipasangkan pada kepalanya yang penuh berkah, masyhur dan tinggi di atas semua lainnya, didekorasi dengan Rida Ilahiah dan diberi nama Habibullah (Kekasih Allah SWT) yang murni dan suci.

 

Dua belas Hijab 

Allah SWT menghiasi Nur Muhammad SAW 

{Basmalah=786, 7+8+6=21, 12 adalah bayangan cermin dari 21, 12 Bulan, 12 Rabiul Awal, 12 suku, 12 menunjukkan Penuntasan}


Sesudah itu Allah SWT menciptakan dua belas hijab.

Pertama adalah Hijab Kekuatan di mana Ruh Nabi SAW bermukim (tinggal) selama 12.000 tahun, membaca Subhana rabbi al-’ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Tinggi).

Kedua adalah Hijab Kebesaran di mana dia ditutupi selama 11.000 tahun, mengucapkan, Subhanal ’Alim ul-Hakim (Maha Suci Rabb-ku, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana).

Dia dipingit selama 10.000 tahun dalam Hijab Kebaikan, mengucapkan Subhana man huwa da’im, la yaqta (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Abadi, Yang Tidak Berakhir).

Hijab keempat adalah Hijab Rahmat, di situ ruh mulia itu tinggal selama 9.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana-rafi’-al-`ala (Maha Suci Rabb-ku Yang Ditinggikan, Maha Tinggi).

Hijab kelima adalah Hijab Nikmat, dan di situ ruh tinggal selama 8.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwa qa’imun la yanam. (Maha Suci Rabb-ku Yang Selalu Ada, Yang Tidak Tidur).

Hijab keenam adalah Hijab Kemurahan; di mana dia tinggal selama 7.000 tahun, memuja, Subhana-man huwal-ghaniyu la yafqaru (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Kaya, Yang Tidak Pernah Menjadi Miskin).

Kemudian diikuti hijab ketujuh, Hijab Kedudukan. Di sini ruh yang tercerahkan itu tinggal selama 6.000 tahun, memuja Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man huwal Khaliq-an-Nur (Maha Suci Rabb-ku Maha Pencipta, Sang Cahaya).

Berikutnya, Dia menyelimutinya dengan hijab kedelapan, Hijab Petunjuk di mana dia tinggal selama 5.000 tahun, memuja Allah SWT dan berkata, Subhana man lam yazil wa la yazal. (Maha Suci Rabb-ku Yang Keberadaan-Nya Tak Pernah Berhenti, Yang Tidak Musnah).

Kemudian diikuti hijab kesembilan, yaitu Hijab Kenabian di mana dia tinggal selama 4.000 tahun, mengagungkan Allah SWT dengan mengucapkan, Subhana man taqarrab bil-qudrati wal-baqa. (Maha Suci Rabb-ku yang Mengajak Dekat dengan Maha Kuat dan Maha Langgeng).

Kemudian datang Hijab Keunggulan, hijab kesepuluh di mana ruh yang tercerahkan ini tinggal selama  3.000 tahun, membaca puji-pujian untuk Pencipta dari Semua Sebab, mengucapkan, Subhana dzil-’arsyi ‘amma yasifun. (Maha Suci Rabb-ku Pemilik Singgasana  Di atas Semua Karakter Yang Dilekatkan Kepada-Nya).

Hijab kesebelas adalah Hijab Cahaya. Di sana dia tinggal selama 2.000 tahun, berdo`a, Subhana dzil-Mulk wal-Malakut. (Maha Suci Rabb-ku Maha Raja semua Kerajaan Langit dan Bumi).

Hijab kedua belas adalah Hijab Perantaraan (Syafa’at), dan di sana dia tinggal selama 1.000 tahun, mengucapkan, Subhana-rabbi al-’azhim (Maha Suci Rabb-ku, Maha  Anggun).

 

Penciptaan AHMAD SAW Tercinta

Setelah itu Allah SWT menciptakan sebuah pohon yang dikenal sebagai Pohon Kepastian.


Pohon ini memiliki empat cabang. Dia menempatkan ruh yang diberkahi tadi  pada salah satu cabang, dan dia terus menerus memuja Allah SWT selama 40.000 tahun, mengucapkan, Allahu dzul-Jalaali wal-Ikram. (Allah SWT, Pemilik Keperkasaan dan Kebaikan).


Setelah dia memuja-Nya dengan cara demikian itu, dengan pepujian yang banyak dan beragam, Allah SWT menciptakan sebuah cermin, dan Dia meletakannya sedemikian hingga menghadap ruh Habibullah {Rahasia Nomor 11}, dan memerintahkan ruh tersebut untuk memandangi cermin itu.


Ruh itu melihat ke dalam cermin dan melihat dirinya terpantul sebagai pemilik bentuk yang paling cantik, indah dan sempurna.


Dia kemudian membaca lima kali, Syukran lillahi ta’ala (terima kasih kepada Allah SWT, Maha Tinggi Dia), dan tersungkur dalam posisi sujud di hadapan Rabb-nya. Dia tetap bersujud seperti itu selama 100 tahun, mengucapkan Subhanal-aliyyul-azhim, wa la yajhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Tinggi, Maha Anggun, Yang Tidak Mengabaikan Apapun); Subhanal-halim alladzi la yu’ajjalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Toleran, Yang Tidak Tergesa-gesa); Subhanal-jawad alladzi la yabkhalu. (Maha Suci Rabb-ku Maha Pemurah Yang Tidak Pelit).


Karena itulah Penyebab (adanya) makhluk mewajibkan umat Muhammad SAW untuk melakukan sujud (sajda) lima kali dalam sehari – lima shalat - dalam kurun waktu siang hingga malam.  Ini adalah sebuah hadiah kehormatan bagi umat Muhammad SAW.

 

Dari Nur Muhammad SAW

Berikutnya Allah SWT menciptakan sebuah lampu jamrud hijau dari Cahaya,

dan dilekatkan pada pohon tadi, melalui seuntai rantai cahaya.


Kemudian Dia menempatkan ruh Muhammad SAW di dalam lampu itu dan memerintahkannya untuk memuja Dia dengan Nama Paling Indah (Asma al-Husna).


Perintah itu dilakukannya, dan dia mulai membaca setiap satu dari Nama itu selama 1.000 tahun. Ketika dia sampai kepada Nama ar-Rahman (Maha Kasih), pandangan ar-Rahman jatuh kepadanya dan ruh itu mulai berkeringat karena kerendahan hatinya.


Tetesan keringat jatuh dari dirinya, setiap tetes beraroma mawar berubah menjadi ruh seorang nabi menjadi nabi dan rasul.


Mereka semua berkumpul di sekitar lampu di pohon itu, dan Allah Azza wa Jalla berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Lihatlah! Ini sejumlah besar nabi yang Aku ciptakan dari tetesan keringatmu yang menyerupai mutiara.”


Mematuhi perintah itu, dia memandangi mereka, dan ketika cahaya mata itu menyentuh/menyinari objek tersebut, maka ruh para nabi itu sekonyong-konyong tenggelam dalam Nur Muhammad SAW, dan mereka berteriak, “Ya Allah, siapa yang menyelimuti kami dengan cahaya?”


Allah SWT menjawab mereka, “Ini adalah Cahaya dari Muhammad SAW Kekasih-Ku, dan jika kalian akan beriman kepadanya dan menegaskan risalah kenabiannya, Aku akan menghadiahkan kepada kalian kehormatan berupa kenabian.”


Dengan itu, semua ruh para nabi itu menyatakan iman mereka kepada kenabiannya, dan Allah SWT berkata, “Aku menjadi saksi terhadap pengakuanmu ini,” dan mereka semua setuju. Sebagaimana disebutkan di dalam al Quran yang Suci:


Dan ketika Allah SWT bersepakat dengan para nabi itu : Bahwa Aku telah memberi kamu Kitab dan Kebijakan; kemudian akan datang kepadamu seorang Rasul yang menegaskan kembali apa-apa yang telah apa padamu–kamu akan beriman kepadanya dan kamu akan membantunya; apa kamu setuju? Dia berkata. Dan apakah kamu menerima beban-Ku kepadamu dengan syarat seperti itu. Mereka berkata, ‘Benar kami setuju.’ Allah SWT berkata, ‘Bersaksilah demikian, dan Aku akan bersama kamu di antara para saksi.’ 

[Ali Imran, 3:81]


Kemudian ruh yang murni dan suci itu kembali melanjutkan bacaan Asma ul-Husna lagi.


Ketika dia sampai kepada Nama al-Qahhar, kepalanya mulai berkeringat  sekali lagi karena intensitas dari al- Qahhar itu, dan dari butiran keringat itu Allah SWT menciptakan  ruh para malaikat yang diberkati.


Dari keringat pada mukanya, Allah SWT menciptakan Singgasana dan Hadirat Ilahiah, Kitab Induk dan Qalam, matahari, rembulan dan bintang -bintang.


Dari keringat di dadanya, Dia menciptakan para ulama, para syuhada dan para mutaqin.


Dari keringat pada punggungnya dibuatlah Bayt-al-Ma’mur (rumah surgawi), Kabatullah (Ka’bah), dan Bayt-al-Muqaddas (Haram Jerusalem), dan Rawdha-i-Mutahharah (kuburan Nabi Suci SAW di Madinah), begitu juga semua mesjid di dunia ini.


Dari keringat pada alisnya dibuat semua ruh kaum beriman, dan dari keringat punggung bagian bawahnya (sulbi, coccyx) dibuatlah semua ruh kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung.


Dari keringat di kakinya dibuatlah semua tanah dari timur ke barat, dan apa-apa yang berada di dalamnya. Dari setiap tetes keringat itulah ruh orang beriman atau tak-beriman dibuatnya. Itulah sebabnya Nabi Suci SAW disebut juga sebagai “Abu Arwah”, Ayah para Ruh. Semua ruh ini berkumpul mengelilingi ruh Muhammad  SAW, berputar mengelilinginya dengan puji-pujian dan pengagungan selama 1.000 tahun; kemudian Allah  SWT memerintahkan ruh-ruh itu untuk memandang ruh Muhammad  SAW.  Ruh-ruh tersebut mematuhinya.

 

Siapa Memandang kepada Ruh Muhammad SAW

Nah, di antara mereka yang pandangannya jatuh pada kepalanya ditakdirkan menjadi raja dan kepala negara di dunia ini. Mereka yang memandang pada dahinya menjadi pemimpin yang adil. Mereka yang memandang matanya akan menjadi hafiz Kalimat Allah SWT (yaitu seorang yang memegangnya ke dalam ingatannya). Mereka yang memandang alisnya akan menjadi pelukis dan artis. Mereka yang memandang telinganya akan menjadi orang yang menerima peringatan dan nasihat. Mereka yang melihat pipinya yang penuh berkah menjadi pelaksana karya yang bagus dan pantas. Mereka yang melihat mukanya menjadi hakim dan pembuat wewangian, dan mereka yang melihat bibirnya yang penuh berkah menjadi menteri.


Barang siapa melihat mulutnya akan menjadi orang yang banyak berpuasa. Barangsiapa yang melihat giginya akan menjadi kelihatan bagus/cantik, dan siapa yang melihat lidahnya akan menjadi utusan/duta raja-raja. Barang siapa melihat tenggorokannya yang penuh berkah akan menjadi khatib dan mu’adzin (yang mengumandangkan adzan). Barang siapa memandang janggutnya akan menjadi pejuang di jalan Allah SWT. Barang siapa memandang lengan atasnya akan menjadi seorang pemanah atau pengemudi kapal laut, dan barang siapa melihat lehernya akan menjadi usahawan dan pedagang.


Siapa yang melihat tangan kananya akan menjadi seorang pemimpin, dan siapa yang melihat tangan kirinya akan menjadi seorang pembagi (yang menguasai timbangan dan mengukur catu kebutuhan hidup). Siapa yang melihat telapak tangannya menjadi seorang yang gemar memberi; siapa yang melihat belakang tangannya akan menjadi kolektor. Siapa yang melihat bagian dalam dari tangan kanannya menjadi seorang pelukis; siapa yang melihat ujung jari tangan kanannya akan menjadi seorang kaligrafer, dan siapa yang melihat ujung jari tangan kirinya akan menjadi seorang pandai besi.


Siapa yang melihat dadanya yang penuh berkah akan menjadi seorang terpelajar, meninggalkan keduniaan (zuhud) dan berilmu. Siapa yang melihat punggungnya akan menjadi seorang yang rendah hati dan patuh pada hukum syariat. Siapa yang melihat sisi badanya yang penuh berkah akan menjadi seorang pejuang. Siapa yang melihat perutnya akan menjadi orang yang puas, dan siapa yang melihat lutut kanannya akan menjadi orang yang melaksanakan ruku dan sujud. Siapa yang melihat kakinya yang penuh berkah akan menjadi seorang pemburu, dan siapa yang melihat telapak kakinya menjadi orang yang suka bepergian. Siapa yang melihat bayangannya akan mejadi penyanyi dan pemain saz (lute). Semua yang memandang tetapi tidak melihat apa-apa akan menjadi kaum tak-beriman, pemuja api dan pemuja patung. Mereka yang tidak memandang sama sekali akan menjadi orang akan menyatakan bahwa dirinya adalah tuhan, seperti Namrud, Fir’aun dan sejenisnya.


Kini semua ruh itu diatur dalam empat baris.

Di baris pertama berdiri ruh para nabi dan rasul;

Di baris kedua ditempatkan ruh para orang suci, para sahabat Allah SWT;

Di baris ketiga berdiri ruh kaum beriman, laki-laki dan perempuan;

Di baris keempat berdiri ruh kaum tak-beriman.

Semua ruh ini tetap berada dalam dunia ruh di Hadirat Allah SWT sampai waktu mereka tiba untuk dikirim ke dunia fisik.

Tidak seorang pun tahu kecuali Allah SWT yang tahu berapa selang waktu dari waktu diciptakannya ruh penuh berkah Nabi Muhammad SAW sampai diturunkannya dia dari dunia ruh ke bentuk fisiknya itu.


Diceritakan bahwa Nabi Suci Muhammad SAW bertanya kepada Malaikat Jibril AS, “Berapa lama sejak engkau diciptakan?”

Malaikat itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku tidak mengetahui jumlah tahunnya, yang aku tahu bahwa setiap 70.000 tahun seberkas cahaya gilang gemilang menyorot keluar dari belakang kubah Singgasana Ilahiah; sejak waktu saya diciptakan cahaya ini muncul 12.000 kali.”

 “Apakah engkau tahu apakah cahaya itu?” tanya Muhammad SAW.

 “Tidak, aku tidak tahu,” malaikat itu berkata. “Itu adalah Nur ruhku dalam dunia ruh,” jawab Nabi Suci SAW. Pertimbangkanlah kemudian, berapa besar jumlah itu, jika 70.000 dikalikan 12.000!


Diambil dari buku Muhammad: The Messenger of Islam, 

dalam Bahasa Turki Utsmani, oleh Hajah Amina Adil


21 November 2008

Kisah Nabi SAW bersama Seekor Kijang

Hajah Amina Adil al-Haqqani QS

Dipetik dari buku Muhammad: the Messenger of Islam 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Suatu saat Nabi SAW sedang berjalan di padang pasir, beliau mendengar sebuah suara tangisan yang memilukan, “Berhenti wahai Nabi Allah SAW!”  Beliau mengikuti arah suara itu dan melewati seorang Arab yang sedang tertidur dan seekor kijang betina telah tertangkap dan diikat di sampingnya.  Nabi SAW sadar bahwa suara hewan itulah yang memanggil-manggil tadi.  Beliau mendekat dan bertanya, “Ada apa denganmu, apa yang kau butuhkan?”

Kijang itu menjawab, “Wahai Nabi Allah SAW, aku meninggalkan kedua anakku di balik pegunungan nun jauh di sana, mereka terlalu muda untuk mengetahui rumput mana yang harus dimakan.  Mereka masih bergantung pada air susuku.  Izinkan aku pergi untuk menyusui mereka dan memberi tahu apa yang telah terjadi padaku.  Izinkan aku menggembalakan mereka dan menunjukkan rumput mana yang harus dimakan, supaya mereka tidak mati saat kutinggal.  Aku akan kembali setelah 5 jam.“

Nabi SAW menjawab, “Bisakah engkau dipercaya?  Bagaimana jika engkau tidak muncul lagi?”  Kijang itu menjawab, ”Maka biarkan hukuman bagi pengkhianat menimpaku.”  Beberapa saat kemudian, orang Badui yang sedang tertidur pun bangun.  Ternyata dia mendengar percakapan antara Nabi SAW dan kijang itu.  Katanya, “Pernahkah engkau mendengar seekor binatang liar kembali setelah sekali dia dilepas?“  Nabi SAW menjawab, ”Yang ini akan kembali, insya Allah.”  Orang Badui menjawab, “Jika dia tidak kembali, maka aku akan membunuhmu!”  Nabi SAW menjawab sambil tersenyum, “Dan jika dia kembali, maukah kamu menerima Islam?“  “Baiklah,” kata orang Badui itu.

Maka mereka pun melepaskan kijang itu.  Kijang pun berlari.  Namun empat jam kemudian, kijang itu kembali.  Nabi SAW berkata, “Engkau berjanji akan kembali setelah 5 jam, namun ini baru 4 jam.  Apa yang terjadi?”  “Wahai Nabi suci SAW,” kata induk kijang, “aku menemui anak-anakku dan aku ceritakan apa yang telah terjadi.  Mereka pun minum, namun kemudian melepaskan lagi supaya engkau tidak menunggu saat-saat yang mencemaskan.  Anak-anakku mengatakan, ‘Kembalilah pada mereka sejam lebih awal, agar orang Badui yang lalai itu tidak mengatakan hal-hal yang menyerang Nabi SAW.’

Mendengar hal ini, si Badui pun langsung memeluk Islam dan membebaskan kijang itu.

Wa min Allah at tawfiq

24 January 2008

Ziyarah ke Makam Nabi Yunus (Jonah) AS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Yunus AS meninggalkan ayahnya dengan perasaan sedih, ia tahu dalam hatinya bahwa mereka tidak akan bertemu lagi di dunia ini. Ia bergabung dengan sebuah karavan menuju Niniveh. Yunus AS adalah seorang yang murni dan lugu. Ia tidak cocok dengan para perampok yang menunggunya di sepanjang jalan. Dalam waktu singkat ia telah kehilangan seluruh barang miliknya. Ia memasuki Niniveh hanya dengan berbekal beberapa koin di sakunya. Yunus AS menemukan dirinya berada di daerah pinggiran kota di mana sebagian besar penduduknya bekerja dengan tanah liat. Seseorang yang berbicara dengan bahasa yang dimengertinya membawanya menghadap ke seorang tua, ia adalah pembuat tembikar khusus untuk raja. Orang tua ini sedang mencari seseorang untuk diajari membuat tembikar. Tak satu pun anak-anaknya yang tertarik. Yunus AS bersedia menjadi murid ahli pembuat tembikar ini.

Setelah beberapa saat orang tua itu menjadi sakit. Ia tahu bahwa ia tengah sekarat. Ia memperkenalkan Yunus AS—yang sekarang telah menjadi seorang pembuat tembikar terlatih—kepada raja dan mengatakan bahwa ia adalah penerusnya. Raja menyukai Yunus AS dan setelah ia mengeceknya, ia pun mempercayainya. Ia memberikan sebuah tempat di dekat istana dan mereka pun menjadi sahabat. Yunus AS membuat benda-benda yang sangat indah untuk raja, berbeda dengan yang lain, mereka belum pernah melihat karya-karya seperti itu sebelumnya. Di Niniveh semua objek didekorasi dengan wajah-wajah jin yang menyeramkan dan monster yang sedang marah. Hal itu membuat takut orang-orang yang melihatnya. Yunus AS membuat karya-karya yang indah yang penuh dengan keramahan alam. Yunus AS mempelajari bahasa Assyria dan menetap di sana. Ia tidak pernah berbicara tentang agama karena orang-orang Assyria merupakan para penyembah berhala dan mereka tidak mempunyai kesabaran terhadap Tuhan yang tidak dapat mereka lihat dan mereka sentuh.

Setelah beberapa saat Yunus AS mendengar kematian ayahnya dan ia menjadi rindu untuk pulang ke kampung halaman, mengunjungi keluarganya. Ia meminta izin pada raja untuk pulang. Raja sebenarnya agak enggan untuk menyetujuinya. Sesuatu memperingatkan kepada Yunus AS bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan desanya. Yunus AS menasihati para penumpang karavan untuk tidak memasuki desa itu. Tetapi mereka kelaparan dan mereka pun tetap masuk. Yunus AS menunggu tetapi tak satu pun dari mereka yang kembali. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya sendirian. Beberapa saat kemudian ia bertemu dengan satu batalion tentara yang menuju desa itu. Yunus AS memperingatkan mereka bahwa ada wabah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, yang dapat menewaskan korbannya dengan cepat di desa itu. Para tentara itu berterima kasih kepadanya. Yunus AS meminta mereka untuk menyalami raja untuknya dan mereka melanjutkan perjalanan dengan arah yang berbeda.

Malam itu Yunus AS mempunyai mimpi yang menyeramkan. Ia melihat ayahnya, Ilyas’a AS seolah-olah ia tidak pernah melihatnya selama hidupnya. Ilyas’a AS sangat marah. Ia berteriak pada anaknya, “Mengapa engkau meninggalkan Niniveh? Engkau dikirim ke sana oleh Allah SWT. Izin-Nya-lah yang engkau butuhkan untuk pergi, bukan izin dari raja. Dan Allah SWT tidak memberimu izin. Cepat kembali dan berusalah untuk lebih sabar.”

Yunus AS melihat ke sekeliling dan akhirnya ia kembali ke Niniveh. Ia melihat seberkas cahaya dari langit turun mendatanginya. Semakin dekat ia semakin besar sampai ia mengenali bahwa itu adalah Malaikat Jibril AS. Ia memberitahu Yunus AS bahwa Allah SWT telah memilihnya menjadi nabi-Nya dan bahwa para pengikutnya dan pekerjaannya terletak di Niniveh.

Dalam perjalanan pulang, Yunus AS merasa dirinya seorang pahlawan. Semua orang menganggapnya telah mencegah masuknya wabah penyakit ke negri itu. Yunus AS mulai bicara kepada mereka tentang Allah SWT. Raja berpikir bahwa Yunus AS sudah menjadi gila karena terkena wabah penyakit itu. Para penduduk Niniveh menertawainya tetapi mereka tidak menyakitinya karena ia telah menyelamatkan negri itu. Selama dua puluh tahun Yunus AS berbicara tentang Allah SWT kepada penduduk Assyria, tentang Sang Pencipta mereka, Yang menguasai alam nyata dan gaib. Tak satu pun penduduk yang percaya. Yunus AS seringkali merasa putus asa, tetapi Jibril AS datang memberinya semangat. Itu semua adalah rencana Allah SWT.

Suatu hari Jibril AS datang dan mengatakan kepada Yunus AS bahwa akhir sudah dekat. Ia harus pergi menemui raja dan mengatakan kepadanya bahwa kota ini mempunyai waktu empat puluh hari untuk percaya kepada Allah SWT atau Allah SWT akan mengirimkan kehancuran kepada mereka. Raja menjadi marah dan mengancam Yunus AS. Tetapi tidak ada orang yang kelihatannya memberi Yunus AS pikiran kedua.

Empat puluh hari telah berlalu dan di pagi hari dari hari keempat puluh Yunus AS tidak tahan lagi, “Aku meninggalkan orang-orang ini pada hukuman mereka,” ia berteriak. Ia lalu menaiki kapal, pergi meninggalkan Niniveh menuju laut lepas di mana ia dapat melihat lumba-lumba yang dicintainya. Kapal baru saja mengibarkan layar ketika angin kencang berhembus yang mengakibatkan kapal terlempar ke setiap penjuru. Seekor ikan raksasa muncul dari dalam laut seolah-olah akan menghancurkan kapal itu. Yunus AS tahu bahwa badai itu dikirim untuk menghukum para penduduk Niniveh tetapi ikan itu dikirimkan untuknya. Sekali lagi Yunus AS meninggalkan Niniveh tanpa seizin Tuhannya. Ia telah kehilangan kesabaran dan kasih sayang kepada umatnya. Para pelaut lalu melemparkan Yunus AS ke laut dan mereka melihat ikan raksasa itu menelannya. Kapal lalu berlayar dengan selamat dan badai itu terus melaju menuju Niniveh.

Sekarang ikan itu berada di bawah perintah Allah SWT untuk menelan Yunus AS, tetapi ia tidak diizinkan untuk memakannya. Yunus AS diperintahkan untuk berkhalwat di dalam perut ikan itu. Selama empat puluh hari berada di dalam kegelapan perut ikan itu, di kedalaman laut yang hitam, di bawah langit yang tak bermatahari, Yunus AS berdoa memohon ampun. Ia mengucapkan kalimat zikir, “La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.” “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” [21:87]. Akhirnya Allah SWT mengampuninya.

Sementara itu awan badai datang menghampiri Niniveh dan sebuah mukjizat terjadi. Selama dua puluh tahun Yunus AS menanam benih dan dalam waktu sekejap, kini mereka mulai tumbuh. Raja Niniveh dan para penduduknya melihat awan gelap itu dan mereka mulai percaya. Mereka berdoa kepada Allah SWT untuk menyelamatkan mereka dari kehancuran. Tetapi tentu saja mereka tidak tahu bagaimana cara berdoa atau apa yang harus diucapkan, sementara Yunus AS—nabi mereka—kini entah di mana. Tetapi awan gelap itu melewati kota, matahari muncul kembali dan tak ada yang hancur kecuali berhala-berhala mereka yang hancur berkeping-keping di kuil mereka.

Yunus AS melengkapi khalwatnya selama empat puluh hari di perut ikan dan kemudian ia dimuntahkan di tepi pantai dalam keadaan telanjang dan kedinginan. Kulitnya berkerut dan melunak karena terlalu lama terkena air dan panas matahari membakarnya. Kemudian Allah SWT menjadikan sejenis pohon tumbuh dengan daun yang besar untuk menutupi Yunus AS dan untuk menaunginya. Seorang penggembala yang tinggal di dekat situ memberinya makanan dan air dan menceritakan bahwa Niniveh selamat dari kehancuran. Yunus AS menjadi geram dengan kabar itu. Kemudian Allah SWT memerintahkan agar pohon tadi mengering dan mati. Yunus u menangis kehilangan pohonnya. Kemudian Allah SWT menegurnya karena ia lebih memedulikan pohon itu dibandingkan dengan sebuah kota yang penuh dengan makhluk Allah SWT paling sempurna, yaitu manusia. Lagi-lagi Yunus AS memohon ampun terhadap Tuhannya.

Dengan bantuan penggembala itu, yang akhirnya menjadi orang kepercayaannya, Yunus AS menempuh perjalalan kembali ke Niniveh. Di sana ia menemukan raja dan para penduduk kini telah terbuka terhadap ajarannya. Ia mengajarkan mereka untuk beribadah dan memperkenalkan mereka tentang Hukum Allah SWT. Mereka membangun masjid-masjid di mana berhala-berhala dulunya berada, dan mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa yang telah menciptakan mereka dan mengampuni mereka.

Yunus AS menikah dan mempunyai anak-anak. Ia adalah salah satu dari dua orang nabi yang mendapat kebahagiaan melihat kaumnya berubah menjadi orang-orang yang beriman. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang satunya. Yunus AS wafat dan dimakamkan di tempat di mana ia hidup.

Kelihatannya aneh bahwa Yunus AS yang merupakan seorang nabi beberapa kali melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhannya. Dikatakan bahwa dengan Kehendak Allah SWT, setiap nabi paling sedikit pernah membuat satu kesalahan sepanjang hidupnya, kecuali nabi terakhir, Muhammad Mustafa SAW, yang diciptakan sebagai satu-satunya manusia yang sempurna.

Semoga Allah SWT memberkati Yunus AS dan memberinya kedamaian.


Sumber:
My Little Lore of Light (Hajjah Amina Adil, Editor Karima Sperling)
© Naqshbandi-Haqqani Sufi Order of America, 2005
diterjemahkan oleh Yayasan Haqqani Indonesia
Lihat juga Ziyarah Syekh Hisyam Kabbani qs ke Makam Nabi Yunus AS di Beirut, Lebanon.

http://www.sufilive.com/rnd.cfm?m=1005

Ziyarah ke Makam Nabi Yusya (Joshua) AS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Salah satu dari penduduk asli yang mengikuti Musa AS dan Harun AS keluar dari Mesir adalah Yusya AS. Ia masih kanak-kanak ketika menjadi pengikut dan pelayan Musa AS. Yusya AS melayani Musa AS dalam seluruh peristiwa yang terjadi di Mesir. Ia berdiri di samping ketika Nabi Musa AS dan Harun AS berusaha menyeru Firaun. Ia menyaksikan mukjizat dan juga wabah yang melanda Mesir. Ke mana pun Musa AS pergi, Yusya AS mengikutinya.

Suatu hari ia mengikuti Nabi Musa AS pergi ke selatan di sepanjang sungai Nil untuk menemui seorang yang bijak, Khidr AS, yang darinya Musa AS berharap dapat mempelajari sesuatu. Musa AS dipesankan untuk membawa seekor ikan kering untuk makan siangnya dan ketika ikan itu menjadi hidup dan menyelam ke dalam sungai, ia menyadari bahwa Khidr AS sudah dekat. Adalah Yusya AS yang membawa makan siang Musa AS dan yang melihat mukjizat ikan tersebut. Musa AS kemudian pergi sendiri bersama Khidr AS untuk belajar dan diuji, sementara Yusya AS menunggunya dengan sabar.

Musa AS dan Khidr AS menyebrangi sungai dengan menggunakan perahu kecil. Pemilik perahu itu sangat baik sehingga ia tidak meminta ongkos untuk perjalanan mereka. Namun demikian, ketika mereka telah sampai di tepi sungai, Khidr AS melubangi bagian bawah perahu itu. Musa AS terkejut.

Ketika mereka melanjutkan perjalanannya, mereka melihat sekelompok anak kecil bermain di lumpur. Salah satu anak menarik perhatian mereka karena senyumnya yang ramah dan tatapannya yang bersahabat. Khidr AS memukul anak itu hingga tewas. Musa AS tidak dapat lagi menahan kengeriannya.

Malam itu mereka beristirahat di sebuah desa di mana tak seorang pun menawarkan mereka makanan atau tempat untuk menginap. Para penduduk di desa itu tidak ramah dan pelit. Di pagi hari Khidr AS meminta Musa AS untuk membantu membangun kembali tembok desa yang mulai hancur.

Musa AS tidak tahan lagi. Ia menanyakan alasan dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Khidr AS. “Mengapa engkau menghancurkan perahu orang yang baik itu? Mengapa engkau membunuh anak kecil yang tak berdosa itu? Mengapa kita bekerja demi orang yang bahkan tidak mau memberi kita air minum?”

“Kita tidak dapat melanjutkan perjalanan bersama lagi. Engkau tidak dapat belajar dariku,” jawab Khidr AS. “Seorang raja yang serakah akan merampas seluruh perahu yang masih dalam kondisi baik. Aku membuat lubang di perahu itu sehingga raja itu tidak akan mengambilnya dan pemilik perahu tidak kehilangan perahunya dan ia dapat memperbaiki lubang itu.”

“Anak kecil yang aku bunuh adalah anak dari keluarga yang beriman. Ia ditakdirkan untuk menjadi seorang penjahat yang kejam dan mengakibatkan orang tuanya menderita. Aku menghabisinya ketika ia masih tak berdosa dan Allah SWT akan memberi orang tuanya anak-anak yang saleh sebagai penggantinya.”

“Sementara bagi dinding yang kita bangun, itu adalah milik anak-anak yatim. Di bawahnya terdapat harta karun dari ayah mereka yang beriman yang ditinggalkan untuk mereka. Jika tembok itu runtuh sebelum anak-anak dewasa, para penduduk desa yang serakah akan mencuri harta mereka dan mereka tidak akan mendapat apa-apa.”

Jadi Khidr AS menerangkan kepada Musa AS hikmah di balik tindakannya yang misterius. Khidr AS bertindak atas pengetahuan yang diberikan Allah SWT kepadanya. Tiga pelajaran dan tiga ujian ia berikan kepada Nabi Musa AS. Dan Musa AS gagal total. Maksud dari ujian itu adalah mengajarkan kepada kita bahwa betapa pun kita mengetahui sesuatu akan ada seseorang yang mengetahui lebih banyak. Dan betapa pun banyaknya pengetahuan yang kita miliki atau bahkan oleh nabi sekalipun, namun apa yang tidak diketahui dari ciptaan Allah SWT yang tak terhingga masih jauh, jauh lebih banyak lagi.

Di lain waktu, ketika Musa AS pergi ke gunung untuk berbicara dengan Allah SWT, Yusya AS menunggunya di bawah. Ketika orang-orang membuat sapi emas, Yusya AS memprotesnya dan kemudian melindungi dan menolong Harun AS. Ia selalu menjadi abdi yang patuh. Sebelum meninggal, Musa AS diminta Allah SWT untuk menginformasikan kepada Bani Israil bahwa Yusya AS akan menjadi nabi mereka selanjutnya. Ia akan menjadi pemimpin bagi Bani Israil menuju tanah yang dijanjikan Allah SWT bagi mereka.

Yusya AS berusia delapan puluh dua ketika Allah SWT menjadikannya seorang nabi. Selama dua puluh delapan tahun, ia memimpin Bani Israil mengembangkan negri mereka, hidup dengan Hukum Allah SWT sebagaimana yang tertulis dalam Taurat. Meskipun ia semakin tua, ia masih tetap kuat dan menjadi seorang pejuang yang gagah perkasa. Ia memimpin pasukannya menyebrangi sungai Jordan dan menaklukan kerajaan demi kerajaan hingga ia menjadi penguasa penuh bagi tanah di sepanjang Damaskus hingga ke laut. Setelah pengepungan yang lama, mereka akhirnya menguasai Jerusalem juga.

Bani Israil hidup di tanah mereka sendiri. Ya`qub AS mempunyai dua belas anak, Yusuf AS dan Benyamin AS dari Rahiil RA dan sepuluh anak dari istri pertama Leah RA. Allah SWT memerintahkan bahwa keturanan dari masing-masing anak ini akan diberi daerah sendiri dan sumber air masing-masing. Jadi tanah Israil, sebagaimana negri ini kelak disebut dibagi menjadi dua belas bagian yang sama.

Pada awalnya segala sesuatu berjalan dengan baik. Bani Israil menghormati nabi-nabi mereka dan mematuhi Allah SWT. Orang-orang yang ditaklukkan juga bahagia dengan penguasa mereka yang baru, yang memperlakukan mereka dengan kasih sayang dan adil. Tetapi sedikit demi sedikit mereka mulai korup dengan praktik-praktik yang dilakukan oleh tetangga mereka. Mereka tidak lagi mematuhi Hukum Allah SWT. Mereka suka berpesta dan berjudi. Mereka mulai berselisih di antara mereka sendiri. Mereka lupa akan penderitan nenek moyangnya semasa Firaun di Mesir, dan mereka sendiri mulai memperlakukan diri mereka seperti Firaun dan memperlakukan jajahan mereka dengan tidak adil. Mereka mengambil apa yang mereka inginkan tetapi tanpa meminta dan dengan segera mereka menjadi tiran di negeri mereka.

Yusya AS dengan rasa jijik mengasingkan diri ke pegunungan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah SWT sendiri. Ia masih tetap sering pergi ke kota untuk mengingatkan dan memperbaiki para pengikutnya tetapi korupsi dan kesombongan mereka membuatnya sedih. Untuk terakhir kalinya ia mengingatkan para pengikutnya untuk mematuhi Allah SWT dan memperlakukan semua orang dengan adil dan penuh hormat. Untuk terakhir kalinya Bani Israil mendengar nabi mereka, mereka menyesal dan memohon ampun. Ketika ia meninggalkan mereka untuk kembali ke gunung, ia mendengar mereka terisak dan berjanji untuk mematuhi Hukum Allah SWT. Yusya AS wafat dengan damai pada usia 110 tahun di pengasingannya di sebuah gunung (di Tripoli, Lebanon) dan di sanalah ia dimakamkan.

Semoga Allah SWT memberkati Yusya AS dan memberinya kedamaian.


Sumber:
My Little Lore of Light (Hajjah Amina Adil, Editor Karima Sperling)
© Naqshbandi-Haqqani Sufi Order of America, 2005
diterjemahkan oleh Yayasan Haqqani Indonesia
Lihat juga Ziyarah Syekh Hisyam Kabbani qs dan Syekh Adnan Kabbani qs ke Makam Nabi Yusya AS di Tripoli, Lebanon.

http://www.sufilive.com/rnd.cfm?m=995