Showing posts with label Bersyukur. Show all posts
Showing posts with label Bersyukur. Show all posts

07 August 2012

Bersyukur Menjadi Muslim


Sayyidina Musa (a) sedang dalam perjalanan ketika ia mendengar sebuah suara datang dari gunung, suaranya terdengar jelas, dan ia pun mendekati suara itu.  Ia sampai pada sebuah gua dan melihat ke dalamnya, di sana ada seseorang yang sedang bertasbih, "Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan aku lebih mulia dari yang lainnya."  Dan Musa (a) melihat orang itu yang sedang bersujud, mendengarkan suaranya yang merdu.  Ia terkejut ketika orang itu bangkit dari sujud, ternyata ia tidak mempunyai tangan dan kaki!  Musa (a) terheran-heran, bagaimana ia bisa mengatakan itu?  Bagaimana ia bisa makan?  Lalu seekor rusa datang dan orang itu meminum susu darinya.   Musa (a) melihatnya dan berkata, "Sahabatku, engkau memuji Allah bahwa Dia telah memuliakanmu dengan tak terhingga, tetapi engkau tidak mempunyai tangan dan kaki!"  Orang itu melihatnya dan berkata, "Yaa Musa (a), Allah memberiku yang terbaik yang dapat kau bayangkan!"  "Apa itu?" "Dia menjadikan aku sebagai seorang Muslim!"  Kisah itu ada di dalam Taurat.  Menjadi Muslim adalah suatu kehormatan, jangan merasa malu, kalian pergi jalan, ke universitas, berbanggalah bahwa kalian Muslim!  Orang itu yang tidak mempunyai tangan dan kaki berkata, "Aku seorang Muslim!" lalu Musa (a) mengangkat tangannya, "Yaa Rabbi hamba itu membuatku kagum dengan imannya, berikanlah ia Surga!" "Wahai Musa, apa yang kau minta telah diterima." Kemudian Allah mengirimkan hyenas untuk memakannya. "Kepada hamba-hamba-Ku yang tulus, Aku kirimkan ujian bagi mereka untuk mendapatkan Surga."  Ujian ini adalah bahwa kita harus menegakkan Islam, berjuang untuk Nabi (s), pertama di antara diri kita, yaitu untuk mengetahui kebesaran Nabi kita (s).  Apa yang dikatakan oleh Nabi (s)?  "Aku telah diutus untuk menyempurnakan akhlakmu, untuk mendisiplinkanmu, untuk menyempurnakan perilakumu dan membuatmu menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya untuk salat dan puasa." (MSH 6 Ags 2012)

02 August 2009

Menghadapi Cobaan dengan Bersyukur

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

Mercy Oceans Book 2

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

 

Dengar dan jaga apa yang kalian dengar agar kalian memperoleh manfaat.  Grandsyekh kita berbicara tentang hal yang tidak disukai dan menggambarkan situasi dalam kehidupan.  Tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai dengan apa yang kita sukai dan tidak ada orang yang dapat mentahbiskan tujuannya.  Kita bukanlah pemerintah, melainkan orang yang diatur oleh pemerintah.  Hidup ini penuh dengan berbagai hal yang tidak kita sukai dan juga di dalam setiap kenikmatan terdapat sesuatu seperti racun dalam buah zaitun.  Mengapa hal ini diciptakan?  Di dunia ini, kita bagaikan orang yang tenggelam di dalam Samudra, yang digulung oleh satu ombak disusul ombak yang lain.  Bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi ombak-ombak ini?  Kita harus bersabar.   Allah SWT mengirimkan gelombang-gelombang itu dan berkata, “Aku menciptakan hidup dan mati untuk menguji kalian kepada kebaikan.”  Bila kita sabar dalam menghadapi hal-hal yang tidak kita sukai, Allah SWT memberi kita pahala yang tak terhingga.  Mengetahui hal ini, kalian tidak hanya akan bersabar, tetapi kalian akan merasakan kenikmatan dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai, dengan berpikir, “Sekarang Tuhan sedang memandangiku, mengujiku.”  Untuk mencapai daerah yang disukai kalian harus melewati daerah yang tidak disukai.  Jika tidak setuju dengan kondisi ini, kalian tidak dapat mencapainya.  Tak seorang pun masuk surga hingga ia melewati jembatan menyebrangi neraka.  Ini adalah Hikmah Ilahi.  Seseorang yang memohon rida harus bersabar melewati semua hal yang tidak disukai.  Tetapi kita, orang-orang yang bodoh melarikan diri dari hal-hal yang tidak disukai dan mengejar hal-hal yang disukai dan tidak pernah mencapainya.  Ini adalah ujian dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.  Kita tidak boleh melarikan diri, kita harus teguh dalam menghadapinya. 

Ujian kita sesuai dengan kekuatan iman kita.  Allah SWT tidak akan membebani kita melebihi apa yang dapat kita tanggung.  Jangan berpikir bahwa Dia akan menguji kalian dengan ujian yang dikirimkan kepada para nabi dan awliya-Nya.  

Suatu hari Abu Bakar ash-Shiddiq RA sedang duduk di masjid Nabawi, ketika seorang pendeta mendekatinya sambil memberi salam.  Sang Khalifah bertanya, “Untuk apa kau datang?”  Pendeta itu berkata, “Aku datang dari Syam.  Ada 100 pendeta lain bersamaku, membawa 100 pertanyaan yang akan kami tanyakan kepadamu dari apa yang telah kami baca dalam kitab suci.”  Jika engkau menjawabnya, kami siap untuk beriman kepada Nabimu SAW.”  Dalam menghadapi tantangan semacam itu, lihatlah sikap Abu Bakar RA.  Beliau berkata, “Tanyalah apa yang kalian suka.  Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas seizin Allah SWT.”  Itu artinya bahwa kita bukanlah apa-apa, tetapi bersama Allah SWT kita adalah segalanya.  Ini adalah jalan menuju kesuksesan, yaitu mengetahui bahwa kita adalah lemah, tetapi bila kita bersama Allah SWT, kita mempunyai kekuatan.  Ketika para pendeta itu tiba, Sayyidina Ali RA, KW hadir dan menjawab seluruh pertanyaan sebelum mereka sempat menanyakannya sehingga mereka semua masuk Islam.  Ini adalah berkah, dari seseorang yang mengetahui bahwa ia selalu memerlukannya.  Ini adalah suatu kehormatan bagi hamba.  Jangan takut.  Ada kehormatan yang tak terhingga bagi hamba-hamba yang bersama dengan Tuhan mereka.

02 February 2009

Mengapa Orang Tidak Merasa Bahagia?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: 2 Mei 2002

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Allah SWT senang melihat hamba-hamba-Nya bergembira dan bersyukur, tidak merasa tertekan, tetapi masruran, ferhane, puas dengan orang-orang. Mengapa orang-orang tidak bahagia?

Kita diciptakan sebagai manusia, bukan sebagai binatang, tetapi orang-orang tidak senang dengan Tuhannya. Berpikirlah mengenai orang yang berada di rumah sakit, yang hanya bernapas dan makan melalui selang… Orang tidak mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di Palestina. Berpikirlah tentang Sayyidina Yusuf AS yang dijebloskan ke dalam penjara secara tidak adil, tetapi akhirnya keluar dan menjadi raja. Berpikirlah terhadap semua nikmat Allah SWT yang kalian terima dan bersyukurlah kepada-Nya. Orang-orang Yahudi selama 40 tahun berada di padang pasir sebagai hukuman terhadap kekufuran mereka. Mereka bergerak berputar… Rasa syukur akan meningkatkan nikmat Allah SWT. Masalah dalam belajar adalah bahwa orang lupa kapan otak bekerja dengan baterai. Tetapi jika seorang hamba melayani Tuhannya selama 40 hari dengan ketulusan, maka Allah SWT akan memberikan hikmah melalui ucapannya. Di mana pengetahuan Abu Bakar RA, yang hanya meneruskan 30-40 hadis? Beliau meneruskannya dari hati untuk didengar. Dalam Islam tidak ada istilah “Doktor Syariah”. Itu adalah gelar dari bangsa Yahudi, yang ada hanyalah ulama.

22 June 2008

Yang Manakah dari Nikmat Tuhanmu yang Engkau Dustakan?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Masa-masa di mana kita hidup dicirikan dengan kecenderungan umat manusia untuk melakukan segala sesuatu dengan cara yang paling membahayakan dirinya, berlawanan dengan apa yang diperintahkan Tuhan pada manusia.

Perintah Ilahi menuntut bahwa demi kesejahteraan jiwa kita, kita mestinya selalu melihat mereka yang pencapaian spritualnya telah sampai ke maqam yang lebih tinggi, sehingga kita mungkin dapat terinspirasi untuk berjuang meniru mereka sebaik yang bisa kita lakukan. Sebaliknya, dalam hal kehidupan materi, kita hendaknya selalu melihat mereka yang kurang beruntung daripada kita dan bersyukur kepada-Nya karena telah memelihara kita dari penderitaan semacam itu. Itulah sebabnya maka kita akan selalu menghargai Kemurahan Tuhan terhadap kita dan bersyukur kepada-Nya atas segala yang telah Dia anugerahkan kepada kita.

Ketika saya terbangun di pagi hari, dan mengamati diri sendiri, saya pun bersyukur pada Tuhan karena telah memelihara kesehatan saya, mengingat bahwa begitu banyaknya orang yang menderita penyakit-penyakit berbahaya, dan terluka. Terlebih lagi, saya pun bersyukur kepada-Nya karena telah memelihara akal sehat saya, mengingat begitu banyaknya orang yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena menderita kegilaan yang menakutkan. Saya bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa karena telah memelihara saya dari mengikuti hasrat ego saya, karena barang siapa yang mengikuti seluruh kehendak egonya akan menuju kepada kejahatan. Saya ingat bahwa dunia penjara dipenuhi oleh orang yang memiliki hasrat ego yang buruk yang menyebabkan mereka melakukan kejahatan yang membawa mereka ke penjara, seringkali dalam keadaan yang amat memilukan, jauh lebih mengerikan daripada perpindahan sukarela yang jarang terjadi.

Saya bersyukur kepada-Nya bahwa saya dapat menemukan makanan tanpa kesulitan dan tidak menderita kelaparan, mengingat jutaan orang fakir miskin dan terlantar, ‘Yang Manakah dari Rahmat Tuhanmu yang Engkau Dustakan?’ (Qur’an: Surat Ar-Rahman)

Dengan melihat mereka yang kurang beruntung dibanding kita, kita mungkin dapat menemukan kepuasan dalam hidup kita, dan dengan mamandang ke atas dalam hal cahaya jiwa, maka pada saat yang sama kita mungkin terinspirasi untuk maju secara rohani dan bergabung dengan mereka di maqamnya. Itulah resep untuk sukses: untuk membebaskan diri kita dari obsesi duniawi sehingga kita dapat dengan leluasa berkonsentrasi pada tugas-tugas rohaniah, yang karenanya kita telah diciptakan.

Namun sepertinya belakangan ini segalanya telah terbalik. Orang sibuk menyelamati dirinya karena telah melakukan semua ibadah, walau pada kenyataannya mungkin saja ibadah mereka itu sebetulnya dosa belaka dan tidak sesuai dengan perintah Ilahi. Mereka berkata, ’Saya sembahyang, dan ia tidak; saya berpuasa di bulan Ramadan, dan ia tidak, betapa rakusnya dia..’
Jadi mereka ujub, bahkan tingkat pengamatan mereka terhadap syariah mungkin saja belum memadai; atau, bila pun jalurnya benar, mungkin kurang penjiwaan sehingga ibadahnya kurang diterima di Hadirat-Nya.

Dalam hal materi, orang menghabiskan waktu mereka untuk beriri hati pada orang lain, tak henti-hentinya berpikir tentang mereka yang lebih cantik, lebih pintar, lebih sehat, lebih muda, lebih kaya dari pada mereka. Sehingga karenanya hati mereka hangus terbakar iri, tak henti-hentinya mengeluarkan cercaan bagi korban irinya, hingga akhirnya mereka meninggal dalam keadaan yang mengenaskan.

Hingga orang dapat melihat dengan lebih jernih dari tempat yang lebih lebih menguntungkan, kini kita dapat menyimpulkan, yaitu menaikkan rohani dan merendahkan materi, mereka akan selalu mengeluh mengenai keadaan dirinya, di mana sebetulnya mereka harus lebih khawatir tentang keadaan rohaninya. Tak diragukan lagi, bahwa umat manusia amatlah menderita akibat mengikuti jalan setan dari iri dan pujian, dan kita hendaknya mencoba menghindarkan diri kita daripada mengikuti arus yang membahayakan tersebut.

19 May 2008

Hidup dan Bersyukur dengan Cara yang Terbaik

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ada orang-orang suci yang memerlukan kekuatan fisik dan ada pula yang tidak memerlukannya. Waktu Grandsyekh kita berada dalam khalwat, istrinya Halima membawakan beliau semangkuk sup yang dimasukkan lewat pintu dan ditinggalkan di sana. Sehari kemudian diketahui bahwa sup itu belum dimakan. Kejadian itu berulang terus hingga 10 hari kemudian, sup yang disediakan tidak pernah disentuh oleh Grandsyekh `Abdullah QS. Istri beliau menemui Syekh Syarafuddin QS sambil mengatakan, “Apapun yang kusediakan tidak disentuhnya.” Lantas Syekh Syarafuddin QS (guru Grandsyekh `Abdullah QS) menulis sepucuk surat sambil mengatakan, “Jangan katakan apa pun, berikan surat ini padanya.”

“`Abdullah Effendi QS, aku tahu kau mampu hidup tanpa makan sampai kiamat nanti. Kau mempunyai kekuatan surgawi dan takkan pernah merasakan lapar. Manusia normal akan merasakan sakit di perut kalau mereka tidak makan, aku tahu kau tidak merasakan hal itu. Namun sekarang aku perintahkan kau untuk makan sebagaimana manusia biasa, agar kau lebih banyak bersyukur daripada orang-orang yang lain. Jadi makan dan minumlah serta bersyukurlah kepada Allah SWT!”

Setelah adanya perintah itu, beliau pun makan dan minum. Adalah penting bagi mukmin untuk makan dan minum sesuai kemampuan mereka. Mereka seharusnya makan makanan terbaik sehingga dapat lebih bersyukur dengan cinta kasih. Karena ketika ego mereka puas, mereka pun mempunyai rasa cinta kasih yang lebih besar.

Jika kalian bisa melakukannya, maka lakukanlah. Grandsyekh kita Syah ul-Naqsyband QS pernah berkata, “Murid-muridku, kalian harus mencoba makan dengan makanan terbaik, minum dari minuman yang terbaik dan mengenakan pakaian terbaik dan bersyukur dengan cara yang terbaik! Itulah tarekatku!”

Karena Allah SWT menciptakan apapun bagi kepentingan hamba-hamba-Nya. Hamba-hamba-Nya harus menggunakannya dan bersyukur. Makan yang terbaik dan lakukan yang terbaik. Itulah Tarekat Naqsybandi. Pakailah pakaian yang terbaik dan bersyukur dengan cara yang terbaik. Hiduplah dengan cara terbaik dan beribadahlah kepada Allah SWT.

Dalam sebuah Hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT menyukai ketika melihat hamba-hamba-Nya menggunakan nikmat yang diberikan-Nya. Jika kalian diberi kesempatan, makanlah, letakkan di atas meja apapun yang terbaik yang Allah SWT anugerahkan kepada kalian. Sediakan makanan terbaik di atas meja untuk dimakan dan juga berikan makanan terbaik kepada yang lain. Kenakan pakaian terbaik dan juga berikan pakaian yang terbaik pada yang lain. Hiduplah dengan cara yang terbaik dan bersyukurlah dengan cara yang terbaik.”