Showing posts with label Syekh Khalid al-Baghdadi QS. Show all posts
Showing posts with label Syekh Khalid al-Baghdadi QS. Show all posts

11 July 2008

Menyelam dalam Samudra Makrifat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
21 Januari 2005

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul (Nya) SAW, dan orang-orang yang berwewenang di antara kalian. [QS 4:59]

Wa rahmatii wasi`at kulla syay-in fa sa-aktubuhaa lilladziina yattaquun.

Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa. [QS 7:156]

Dalam firman-Nya itu rahmat bagi siapa? Bagi yang bertaqwa. Dan apa hasil dari ketaqwaan? ittaquullaaha wa yu`allimukumullaah. Jadilah seorang yang alim maka Allah SWT akan mengajarimu. [QS 2:282]

Seluruh kekayaan dunia adalah sia-sia. Itulah yang mereka cari; ittaquullaaha wa yu`allimukumullaah. Awliya yang sedang menunggu makrifat, pengetahuan, pencerahan.

Saat kalian dicerahkan maka kalian mempunyai hikmah, jika kalian mempunya hikmah maka kalian akan menerima pengetahuan Nabi SAW, `ulum al awaliin wal-akhiriin. Nabi SAW akan meneteskannya dari samudra makrifat. Samudra makrifat tidak berawal dan tidak berakhir; seperti ombak di tepi laut, terus-menerus bergulung sampai ke pantai, membawa segalanya dari dalam laut dan dimuntahkan ke pantai.

Makrifat juga meringkas sari pati dari samudra pengetahuan dan memuntahkannya di tempat orang alim berdiri, ia terus memandang pengetahuan itu, dan karena ombak berasal dari samudra menuju pantai; seorang waliyullah, hatinya laksana sebuah samudra yang memompa dari dalam menuju permukaan hatinya, memuntahkan pengetahuan-pengetahuan tersebut, terus tanpa berhenti.

Itulah mengapa hati mereka selalu terhubung dengan sumber utama, dan getarannya selalu bergerak dan bergerak, dan saat bergerak mampu menginspirasi hati yang meratap apa yang harus di katakan dan bicarakan.

Ada awliya yang sedang di pantai menerima gelombang ini. Beberapa sedang melayarinya dan sebagian lagi bergerak di tengah samudra dan menerima pengetahuan-pengetahuan dari dalam. Ada yang menyelam, mengambil sari patinya menuju permukaan. Mereka yang menyelam lebih kuat daripada yang berlayar, mereka yang berlayar mengirimnya ke pantai.

Mereka yang telah menyelam dan mampu melihat serta mempelajari pengetahuan-pengetahuan adalah yang mampu memahami dan belajar. Itulah yang terjadi pada Sayyidina Bayazid al-Bistami QS, ketika Allah SWT memintanya untuk menjadi sampah bagi umatnya. Dan beliau mengarang cerita agar orang-orang membencinya, menyalahkan dan menuduhnya melakukan bid'ah. Kemudian melemparinya dengan batu dan melemparnya ke tempat sampah.

Setelah cerita itu, dan kalian pun mengetahuinya, beliau pergi ke pantai dan berlayar. Di tengah laut ada badai dan kapal pun bergerak ke kanan dan ke kiri, dan ketika akan tenggelam kapten kapal berkata, “Pasti ada orang jahat di sini. Badai itu datang tiba-tiba entah dari mana. Pastilah ada pendosa di kapal ini. Kami akan menulis nama orang-orang dan mengambil salah satu untuk diceburkan ke laut.” Bayazid QS tertawa, “Mereka pasti akan melempar seorang yang tak berdosa.” Beliau pun berkata, “Biarkan mereka mengorbankan aku.” Itulah bagaimana seorang awliya mengorbankan dirinya.

Beliau pun dilemparkan ke dalam laut yang gelombangnya sangat besar. Namun karena Bayazid al-Bistami QS berada dalam pelayaran samudra (makrifat-penerj.), beliau pun lebih besar dari samudra itu. Beliau membawa makrifat dalam hatinya. Samudra yang nyata itu tidak ada apa-apanya. Samudra nyata itu bergejolak dan menakutkan Bayazid QS yang berada di permukaan. Dari ketakutan serta kebahagiaan menjadikannya dalam gerakan, menghasilkan badai, tak ada kebahagiaan dan tak ada ketakutan. Jangan berpikir bahwa menjadi seorang awliya adalah mudah.

Itulah samudra di puncak samudra. Saat Bayazid QS menyeburkan dirinya di samudra luas itu, samudra air itu, menjadi tidak ada apa-apanya di depan seorang wali yang membawa makrifat, seseorang yang telah mengalami pencerahan. Maka lautan itu pun ditundukkan. Sayyidina Bayazid QS menuju ke dalam dan berkata, “Ya Rabbi! Engkau telah mengujiku dengan membuatku seperti sampah, aku membuat diriku sendiri menjadi sampah. Engkau telah mengujiku di samudra itu dan aku pun masuk ke samudra itu.”

Kemudian beliau mulai bergerak, lebih cepat dari kecepatan cahaya, yaitu dalam kecepatan hati.

Kecepatan hati lebih cepat dari kecepatan pikiran. Kecepatan pikiran adalah di mana kalian berpikir, seketika itu pun kalian berada di sana. Jika seorang wali berpikir bahwa ia sedang berada di matahari, sedetik kemudian ia pun berada di sana; di Mars, ia pun berada di Mars, di Venus, ia pun ada di Venus, di Pluto ia pun berada di Pluto. Dengan segera bayangan yang sempurna dari aslinya akan muncul di sana. Itulah kecepatan pikiran.

Maka bayangkan kecepatan hati itu. Saya tidak diizinkan untuk menjelaskannya. Kemudian beliau bergerak bersama kecepatan hati sampai akhirnya menuju tempat yang hanya terdengar “Huuuuuuuuuuuu,” tak ada yang lain.

Diam total kecuali “Huuuuuuuuuuu,” sebuah suara yang penuh keagungan. Sayyidina Bayazid al-Bistami QS, Allah SWT menganugerahkan beliau kekuatan lewat Nabi SAW, bahwa jika beliau ingin menghitung jumlah seluruh populasi manusia saat itu, beliau pun dapat menghitungnya dalam 5 menit, seluruhnya dengan kekuatan itu.

Suatu saat Sayyidina `Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, salah satu awliya besar, sedang berjalan dan mendapatkan inspirasi dan beliau mendengar sebuah suara, “Wahai `Abdul Khaliq QS, pergilah ke suatu tempat di hutan. Lewati hutan itu dan teruslah berjalan sampai engkau tidak menemukan tumbuhan dan hanya sebuah batu yang besar.

Pukullah batu itu (dengan peralatanmu). Segera setelah kau pukul batu itu, maka air akan keluar lebih deras dari sebuah air terjun (lebih deras daripada air terjun Niagara), air yang besar akan keluar dari batu yang kau pukul.

Di setiap tetes air, Aku ciptakan satu malaikat yang akan memuji-Ku sampai Hari Pengadilan kelak. Aku ingin kau memberi malaikat-malaikat itu masing-masing dengan nama yang berbeda dari malaikat lain dan kau tak boleh mengulang tiap nama 2 kali. Air itu akan mengalir sampai Hari Pembalasan kelak. Dan engkau bertanggung jawab untuk memberi nama masing-masing malaikat dan tidak boleh ada yang diulang 2 kali. Kemudian Aku ingin, seluruh puji-pujian dari malaikat ini, harus dibagi-bagikan di antara mereka yang mengikuti Tarekat Naqsybandi.”

Itulah sebuah hal yang istimewa yang diberikan pada Syekh `Abdul Khaliq QS seperti yang diberikan pula pada Sayyidina Bayazid QS.

Grandsyekh mempunyai sesuatu yang istimewa begitu pun Mawlana Syekh juga mempunyai suatu keistimewaan, namun tidak ada izin untuk membicarakan keistimewaan tersebut.

Itulah keistimewaan para awliya. Bagaimana beliau mampu memberi nama malaikat-malaikat tersebut tanpa makrifat?

Pergilah kalian ke pusat data semua orang, pusat data secara global. Berapa banyak nama yang mirip satu dengan lainnya? Seluruhnya 6 milyar, dan semuanya saling berbagi nama. Adalah mustahil bagi mereka untuk punya nama yang berbeda.

Bayangkan dari setiap tetes, satu malaikat diciptakan. Bukan 6 milyar, bukan 100 milyar, bukan 1 triliun, bukan 10 triliyun, bukan 1 qadriliyun atau pun 1 cinqotriliyun. Lalu bagaimana ia menamai mereka tanpa Allah SWT memberinya kekuatan melalui Nabi kita SAW.

wat
taquullaaha wa yu`allimukumullaah. Jika kalian bertaqwa, kalian akan mampu belajar. Itulah Makrifatullah, darinya kalian dapat memberi nama-nama. Itulah mengapa Syekh Syarafuddin QS melalui makrifat mampu memaparkan nama-nama awliya di zaman Imam Mahdi AS. Beliau mampu memaparkan 49 deputi dan 50 khalifah dari Imam Mahdi AS.

Beliau menurunkannya pada Grandsyekh dan beliau pun menurunkannya pada Mawlana Syekh dan menyuruh saya untuk menuliskannya. Kami mempunyai hal itu.

Rahmat-Ku meliputi segalanya dan kami akan menuliskannya bagi mereka yang mempunyai kebajikan. Dan mereka yang berada dalam kebenaran, maka Allah SWT akan mengajarinya.

Beri mereka nama-nama. Ambil dari nama-nama dalam kitab suci Al-Quran. Wa laa rathbin wa laa yabis illa fii kitabin mubiin. dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. [QS 6:59]

Mari kita kembali pada Sayyidina Bayazid al-Bistami QS …

Maka ia pun pergi, dan cerita tentang Sayyidina `Abdul Khaliq QS adalah suatu hal yang besar. Berapa banyak puji-pujian dari seluruh malaikat ini pada para pengikut rantai emas. Berapa banyak puji-pujian yang akan kalian terima, bergembiralah! Kalian telah mengambil bay'at dan kalian menjadi bagian dari rabithah itu, rantai itu yang menghubungkan orang-orang bersama atau seperti biji-biji tasbih dalam satu tali ikatan.

Yurbut, berarti untuk mengikat segalanya. Maka Sayyidina Bayazid QS berkata, “Aku tak akan datang sampai aku mencapainya.” Maka dengan kecepatan hati, beliau bergerak sampai beliau mendengar “Huuuuuuuu,” tak terhingga. Beliau sanggup menghitung jumlah manusia yang hidup dalam 5 menit. Namun untuk hal yang satu ini beliau tak mampu menghitungnya.

Lalu beliau mendengar ruh Sayyidina Syah Naqsyband QS dan itu pun sebelum beliau ada di dunia ini, sebelum kelahirannya. Dan seluruh ruh-ruh Naqsybandi hadir di bawah tarbiyyah Syah Naqsyband QS dan mereka melafazkan “Huuuuuuuu” dalam satu suara berkelanjutan tanpa bernapas; kemudian menarik napas ke dalam. Kalian hanya bernapas di dalam. Itu adalah udara kalian ketika masuk, bernapas adalah untuk mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Tidak ada napas keluar, karena itu adalah suci dan bersih, tak ada polusi. Amat bersih. Itu hanyalah satu suara berkelanjutan yang kalian terus keluarkan, tak perlu mengambilnya ke dalam. Karena kalian telah didandani dan dilempar ke lautan makrifat.

Maka Sayyidina Bayazid QS pun merasa takut. Ada suara dalam hatinya, “Oh Bayazid QS apa yang kamu lakukan dalam daerahku?” Ketika mendengar ini, beliau pun menjadi takut dan berbalik kembali.

Lalu beliau pun menyadari bahwa ada sebuah pengetahuan di atas pengetahuannya. Makrifat akan selalu meningkat. Seperti Nabi SAW selalu dalam peningkatan, mengambil dan memberinya pada awliya sehingga mereka juga selalu dalam peningkatan.

Dalam majelis para awliya, Nabi Muhammad SAW, mereka bertemu dengan ruh nabi (Nabi Muhammad SAW secara spiritual) setiap kamis malam. Dan dalam pertemuan itu, Sayyidina Bayazid QS berkata, “Ya Rasulallah SAW, mengapa seluruh Naqsybandi, sampai saat ini (pada masa Grandsyekh `Abdullah QS, selama berkhalwat di Madinah, beliau bertutur tentang penglihatan tersebut. Beliau berkata bahwa beliau selalu duduk di sebelah kanan Nabi SAW karena beliau adalah syekh yang masih hidup, dan yang masih hidup selalu di tingkat yang paling tinggi.)

Abayazid QS berkata, “Ya sayyidi, ya Rasullalaah SAW. Aku mempunyai pertanyaan. Mengapa seluruh pengikut Grandsyekh, saat mereka melafazkan Surat al-Fatiha dalam ihda, mereka menyebut Syah Bahauddin Naqsyband QS. Jika mereka mau menyebutkan namaku, aku akan meletakkan mereka pada samudra yang pernah aku lihat sebelumnya. Aku akan membawanya ke mana aku berdiri, di pantai lautan makrifat yang belum pernah seorang pun menginjakkan kaki di sana.”

Lalu Sayyidina Grandsyekh Syarafuddin QS berbalik dan memberi jawaban setelah memperoleh izin. Beliau berkata, “Tempat di mana engkau berdiri adalah awal dari sebuah samudra. Itulah sebabnya kau tak mampu melihat sisi lain dari samudra di mana Syah Naqsyband QS sedang berdiri. Jika mereka memberimu Fatiha, maka benar kau akan membawa mereka ke mana engkau berada. Namun bila diberikan pada Syah Naqsyband QS maka mereka akan mencapai di mana beliau berada.”

Sebagian berlayar, sebagian berenang. Itulah Makrifat.

Semoga Allah SWT merestui kita dengan makrifat dan menghiasi kita dengan makrifat yang barakah dari syekh kita dan barakah dari Nabi SAW.

Wa min Allah at tawfiq

27 June 2008

Kenali Posisimu dalam Tarekat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Pecham Mosque, UK, 23 Februari 1995--Ramadan

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, "Bismillah ir Rahman ir-Rahiim. Patuhlah kepada Allah SWT, patuhi Rasulullah SAW, dan patuhi para pemimpinmu," Ini berarti patuh kepada para syekh. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih, "ad-diinu nasiiha" yang artinya "Agama adalah nasihat." Agama bukan seperti materi kuliah untuk dipelajari dan diajarkan oleh seorang cendikiawan. Agama adalah nasihat, dan nasihat tidak akan didapat tanpa melalui pengalaman. Nasihat tidak bisa diturunkan lewat teori. Orang yang memberikannya harus mempunyai pengalaman tentang apa yang diberikannya itu.

Sayyidina Syah Naqsyband QS berkata, "Thariqatuna ash-shuhbah wal-khayru fil-jam`iyya" "Tarekat kita adalah berdasarkan asosiasi, kita menjaga kebersamaan, shuhba atau asosiasi, dan perkumpulan yang terbaik dicapai melalui kebersamaan.” Bisa juga dikatakan, “Jalan kita adalah lewat bimbingan, dan yang terbaik lewat asosiasi.” Tanpa asosiasi, tanpa nasihat, tidak mungkin kita mendapatkan mudarat atau kebaikan.

Sekarang, setiap kali Mawlana Syekh Nazim QS meminta saya untuk berbicara, saya merasa malu. Karena kalian semua, masya Allah adalah para murid senior. Dan kalian semua mempunyai pengalaman yang luas, kalian memiliki bintang di pundak kalian, seperti saudara kita di sini, Syekh Ali, kalian semua adalah atasan. Mustahil seorang prajurit memberi nasihat kepada atasan. Jadi makin sering Mawlana berkata, “Bicaralah sesuatu,” Saya merasa, diri saya ini tidak mengetahui apa-apa. Ini juga merupakan ujian bagi saya. Saya merasa seperti terpojok. Karena saya merasa apa pun yang akan saya katakan, ada beberapa orang yang bisa menerima, dan yang lainnya tidak. Saya tidak ingin mengatakan bahwa pembicaraan itu tidak ada gunanya sama sekali, karena selama ada seorang yang mendapat manfaat, saya akan berbicara. Tetapi, pada saat yang sama, saya merasa malu kepada orang yang tidak senang dengan apa yang saya katakan. Mungkin mereka merasa bahwa mereka telah dipaksa untuk mendengarkannya.

Saya sangat muda ketika saya pertama kali datang kepada Mawlana Syekh Nazim QS. Tidak perlu untuk membicarakan apa yang saya lihat dari beliau, tetapi jangan berpikir bahwa ego akan menyerah begitu saja. Ego tidak pernah menyerah. Bahkan jika salah seorang dari kita berkata bahwa ia mencintai Mawlana Syekh Nazim QS, ego kita juga tidak menyerah. Kita telah bepergian dengan jarak yang cukup jauh untuk sampai ke sini (Inggris), untuk duduk bersama Mawlana Syekh Nazim QS selama 10 hari atau 1 minggu, beberapa orang ada yang datang hanya untuk 3 hari lalu pergi kembali. Bahkan bagi mereka yang mempunyai antusias tinggi dan juga energi yang tinggi, ego mereka juga tidak menyerah.

Bagaimana kalian dapat mengetahui bahwa ego tidak menyerah? Itu mudah. Ketika Syekh mengirimkan ujian kepada kalian, Syekh biasanya mengirimkan ujian, bukan untuk mengetahui sampai di mana tingkat pencapaian kalian, atau apakah kalian gagal, atau tidak—karena mereka telah mengetahui semuanya. Mereka tidak memerlukan informasi semacam itu, karena mereka adalah orang-orang yang berdiri di belakang kalian—tetapi mereka ingin kalian mengetahui sampai di mana kalian mampu berdiri sendiri.

Jika seorang anak—seorang bayi—tidak jatuh, ia tidak akan belajar bagaimana cara berjalan. Kita harus jatuh, dan para syekh akan membiarkan kita jatuh, agar kita dapat berdiri sendiri nantinya. Agar kita bisa menemui mereka. Ibu si bayi mencoba menjaga jarak dengan bayinya, satu atau dua meter darinya, lalu ia memanggilnya sehingga si bayi akan menghampirinya, kemudian bayi itu terjatuh—barulah si Ibu mengangkatnya. Dengan cara ini Ibu mengajarkan bayinya untuk datang kepadanya dengan berjalan kaki di waktu berikutnya.

Ujian ini diletakkan di hadapan kita agar kita tidak kehilangan harapan, kita harus selalu mempunyai pikiran bahwa suatu hari nanti kita akan menyerah. Rasulullah SAW adalah orang yang sempurna, Sayyidina Muhammad SAW, beliau adalah manusia yang sempurna, beliau memiliki jiwa yang sempurna, beliaulah yang akan pertama kali sampai di Hadirat Ilahi, beliau adalah cermin dan juga pintu bagi seluruh makhluk. Dengan semua kebesaran itu, hidup beliau tetap saja penuh dengan kesulitan dan penuh perjuangan.

Suku Quraisy datang kepadanya dan berkata, “Wahai Muhammad SAW! Jika kau menginginkan kekayaan, kami akan memberikannya kepadamu, jika kau menginginkan Ka`bah, kami akan memberikannya kepadamu. Jika kau menginginkan ketenaran, kami akan memberikannya kepadamu, dan jika kau menginginkan jabatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin.” Lalu beliau menjawab dengan ucapannya yang sangat terkenal, “Jika mereka memberikan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan meninggalkan ajaran Allah SWT.” Jadi apa pun yang akan terjadi, kita harus berjuang untuk mencapai yang terbaik. Kita harus menjaga iman kita sebagaimana Syekh kita datang, menunjukkan dan membuka jalan yang benar bagi kita.

Pertama kali kita harus menggapai hati Syekh dan dari beliau kepada hati Rasulullah SAW, lalu kepada Hadirat Allah SWT. Sebagaimana yang telah dilukiskan Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Ketika umat manusia berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri, mereka datang kepadamu, wahai Muhammad SAW.” Ini adalah ayat dalam Al-Qur’an. Ayat itu mengisyaratkan adanya perantaraan. “Mereka datang kepadamu, wahai Muhammad SAW, dan mereka memohon ampun kepada Allah SWT,” dan itu saja belum cukup. Allah SWT telah mengatakannya! Jika meminta ampun kepada Allah SWT saja cukup, maka seseorang dapat berhenti di situ. Ketika mereka mendatangi Muhammad SAW dan memintakan pengampunan atas namanya, barulah mereka akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT.

Allah SWT mengatakan hal itu! Jika bertobat kepada Allah SWT saja cukup, maka seseorang dapat berhenti sampai di situ, tetapi ayat dalam Al-Qur’an tidak berhenti sampai di situ. Keseluruhan ayat itu berbunyi, “Dan ketika mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, jika mereka datang kepadamu dan memohon ampunan Allah SWT dan meminta Rasulullah SAW untuk memohonkan ampunan bagi mereka, barulah mereka akan menemukan bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” “Pada saat itu mereka akan menemukan bahwa Allah SWT Maha Pengampun,” berarti itu adalah kondisi pada saat Rasulullah SAW memohonkan ampunan atas nama kita. Dan para pemimpin yang disebutkan oleh Allah SWT dalam ayat, “Patuhlah kepada Allah SWT, patuhi Rasulullah SAW dan patuhi pemimpinmu.” Itu berarti ketika kita memohon ampun, kita harus benar-benar bertobat dalam kehadiran mereka kepada Allah SWT karena doa orang–orang yang saleh akan dikabulkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain kita harus berdoa melalui perantaraan mereka. Sebagaimana firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah SWT dan berkumpullah bersama orang-orang yang dapat dipercaya.” Para pemimpin itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Ketika mereka mengangkat tangannya untuk berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka!” Allah SWT akan mengampuni kalian.

Kita semua adalah bayi dan kita terjatuh, bangun dan jatuh lagi. Satu hari bangkit, sehari kemudian jatuh, satu hari jatuh hari berikutnya bangun. Walaupun seorang bayi terjatuh, ia tidak mengetahui apa yang sedang dilakukannya, ibunya sangat sayang kepadanya, begitu juga keluarganya. Mereka membersihkannya, memandikannya, memberi bedak, mereka tidak pernah merasa bosan atau jemu dalam membesarkan anaknya. Kita semua dalam pandangan Syekh adalah anak-anaknya, oleh sebab itu beliau memandikan kita, membersihkan kita, memberi kita bedak agar tubuh kita menjadi wangi walaupun pada kenyataannya kita berbau busuk. Tetapi beliau memberi kita bedak aromatik yang sangat spesial—mahal dan eksklusif.

Orang kaya tidak suka membeli parfum murahan, palsu, atau bercampur alkohol—mereka membeli parfum tua yang nilainya sangat tinggi dan dengan merek yang terkenal. Mereka berkata, “Parfum seharga lima puluh pound, itu baru bagus; kalau yang dua pound, itu tidak bagus.” Syekh memberi kita wewangian yang tua, bernilai tinggi, dan mahal, jangan menyia-nyiakannya dengan terus melakukan perbuatan dan perilaku buruk.

Kita semua masih seperti bayi, bahkan beberapa orang dari kita masih berada dalam momongan. Beberapa yang lain mulai merangkak dengan kedua kaki dan tangannya seperti makhluk lain yang saya tidak mau sebutkan namanya, karena nanti mereka akan bilang, “Syekh Hisyam QS menyebut kita binatang.” Hal ini karena saya berada dalam pengawasan yang ketat, mereka sangat memperhatikan setiap kata yang saya ucapkan, sehingga mereka akan meninggalkan 99% bagian yang baik yang telah diberikan dalam pelajaran ini, mereka juga akan mengeluarkan kritik. Saya senang dengan sifat kritis ini agar nanti saya bisa mengoreksi diri dan untuk yang berkutnya saya akan lebih akurat lagi. Jadi kita harus seimbang dengan memperhatikan kondisi hati setiap orang.

Saya lanjutkan, yang lain bisa berjalan dan merangkak dengan kaki dan tangannya, atau mereka bisa berjalan dengan kakinya. Yang lain bisa berjalan namun karena belum kuat mereka terjatuh, sementara yang lain lagi bisa berjalan dengan tegap. Walaupun mereka bisa berjalan, tetap saja ibunya masih memegang tangannya. Mereka belum bisa dilepaskan begitu saja, karena kalau dibiarkan mereka akan mengambil apa saja yang ada di meja, menghancurkannya dan akan merusak rumah. Begitu mereka mulai berjalan, mereka menjadi masalah, mereka menjadi berisik. Ayah dan Ibu harus berlarian ke sana ke mari seharian untuk mengejar mereka, karena kalau saja pintu terbuka kemungkinan anaknya akan keluar dan bisa saja ia tertabrak mobil lalu meninggal. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri, ini adalah keadaan yang paling membahayakan. Ketika ia mulai sedikit terlihat dewasa, orang tua mulai memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Walaupun ia masih mungkin melakukan kesalahan tetapi ini masih bisa dipantau dan kesalahan ini tergolong minor. Sampai ia bisa bertanggung jawab dan Syariat mengharuskan ia melakukan segala kewajiban dalam Agama ketika ia berusia 15 tahun dan telah dewasa atau akil balig.

Tetapi dalam tarekat walaupun kalian telah mencapai usia 70 tahun, kalian masih dianggap sebagai anak kecil tanpa “tanggung jawab” yang sebenarnya. Jangan berkata, “Saya telah bersama Syekh selama 70 tahun tetapi saya tidak mencapai apa-apa!” Perhatikanlah apa yang bisa terjadi. Kalian mungkin bisa merusak diri kalian sendiri dan siapa saja yang berada di dekat kalian.

Kalian harus mencapai kondisi agar para Syekh membiarkan kalian melakukan jalan kalian sendiri. Tentu saja ketika kalian akan terjatuh dan mereka akan membantu mengangkat kalian kembali. Kalian akan terjatuh, mustahil kalian bilang, “Tidak, Aku tidak akan membuat kesalahan lagi. Sekarang Aku adalah seorang Syekh besar; Tidak mungkin, Aku seorang deputi sekarang; atau Aku seorang murid senior; atau Aku seorang wakil atau utusan dari Syekh. Aku yang memimpin zikir, Syekh memberi otoritas kepadaku untuk memimpin zikir. Oh, sekarang Aku adalah sebuah balon yang besar.” (tertawa) Penuh dengan udara di dalamnya. Psssh! [membuat gerakan seperti membirakan udara keluar dari dalam balon] Tamatlah sudah. Kalian harus seperti roket, bertekad kuat, barulah tidak ada yang dapat mempengaruhi kalian, sebagaimana ketika kalian mengalami peningkatan dan membawa orang-orang bersamamu ke hadirat Syekh.

"Deputi" adalah salah satu jabatan yang besar begitu pula dengan "Representatif" dari seorang Syekh. Hal itu berarti seorang Syekh bergantung kepada orang yang bersangkutan baik dalam kehadirannya maupun ketika beliau tidak hadir untuk memberikan nasihat, menyembuhkan suatu penyakit dengan izin Allah SWT, melakukan pembacaan ayat Qur’an, menafsirkan suatu mimpi, membimbing murid, memimpin zikir dan memberikan izin kepada seseorang untuk memimpin zikir, meningkatkan level murid ke jenjang yang sanggup mereka raih, membesarkan bayi hingga mereka bisa berjalan atau mencapai usia di mana bayi itu bisa berjalan. Lalu ia akan membawa mereka semua dan mempersembahkan mereka kepada Syekh.

Sayyidina Khalid Al-Baghdadi QS mempunyai 300 deputi atau khalifah. Kita mengucapkan kata "Khalifah" dalam bahasa Arab, tetapi bangsa Arab mengetahui bahwa "Khalifah" bukan berarti “penerus”, tetapi “deputi”. Beliau mempunyai 300 deputi dan beliau menyebarkannya ke seluruh penjuru Timur dan Barat, dan mereka semua membawa murid-muridnya ke hadirat Syekh, mereka semua memimpin murid-muridnya kepada Syekh. Namun demikian setelah Syekh Khalid QS wafat terbentuklah 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi. Karena setiap orang begitu terikat dengan Khalifahnya masing-masing, di mana mereka biasa berasosiasi dengannya, Khalifah yang telah ditunjuk oleh Sayyidina Khalid QS kepada mereka.

Setiap orang begitu dekatnya dengan Khalifah setempat, mereka berkata, “Dialah milik kami! Dialah pembimbing kami, setelah Syekh, dialah pembimbing kami. Kami tidak bisa menerima yang lain.” Bisa jadi yang lain lebih tinggi tetapi karena mereka tidak pernah melakukan hubungan dengannya, mereka tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Mereka bertaut dengan seorang deputi yang diikutinya, yang membawanya ke hadirat Sayyidina Khalid QS. Namun demikian, beberapa dari mereka membawa para pengikutnya dengan keledai, seperti mengendarai keledai, yang lain dengan unta, ada yang berjalan, ada yang seolah-oleh dengan mobil, pesawat, kereta api, atau roket, tergantung kapabilitas dari deputi atau khalifahnya.

Tetapi ada juga hikmah dan manfaatnya dari terbentuknya 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi setelah wafatnya Sayyidina Khalid QS. Tetapi rahasia dari Mata Rantai Emas hanya diturunkan ke satu cabang, dan tidak kepada 299 cabang lainnya. Jadi apa yang terjadi dengan yang lain itu? Apakah kita bisa menganggap mereka itu telah putus hubungan? Tidak, kita tidak bisa bilang begitu. Dalam sufisme, ada dua macam Syekh, yaitu: Syaykh ul-wilayat dan Syaykh at-tabarruk. Syaykh ul-wilayat adalah Syekh yang mempunyai kekuatan awliya dan kekuatan untuk mengangkat muridnya ke tingkatan wali. Syekh inilah yang memegang rahasia utama. Syekh yang kedua adalah Syekh yang membawa tajalli atau barakah, berkah dari tarekat. Inilah yang mengakibatkan barakah tersebut menyebar luas, karena terdapat hikmah atau kebijaksanaan di balik segala sesuatu. Orang yang mempunyai kekuatan dan rahasia kewalian inilah yang memegang cabang utama dari tarekat. Rahasia utama atau arus listrik yang utama. Kalian perhatikan bahwa arus listrik ini masuk ke dalam gedung dari luar, tetapi ia dapat menerangi seluruh gedung. Setiap lampu melambangkan satu cabang, tetapi seluruh kekuatan berasal dari luar. Mengerti?

Cabang-cabang ini hanya bisa memberi cahaya seperti dua atau tiga buah lampu. Jika kalian menambahkan lebih banyak mereka akan meledak. Situasi semacam ini terjadi pada masa setelah wafatnya Sayyidina Khalid Baghdadi QS. Salah satu dari mereka adalah cabang utamanya, yang lain adalah cabang yang kecil-kecil, hanya menerangi orang-orang setempat. Yang pertama adalah Syaykh ul-Wilayat, Syekh dengan kekuatan wali, orang yang menanggung semua tanggung jawab dari seorang Syekh, yang lainnya adalah Syekh yang tugasnya menyebarkan tarekat ke seluruh penjuru Timur dan Barat. Karena yang satu tidak bisa berada di mana-mana, oleh sebab itu lewat ke-299 Syekh, terbentuklah 299 cabang, masing-masing di daerah yang berbeda sehingga lebih banyak orang yang mengikuti tarekat. Walaupun rahasia utama tidak mencapai hati mereka, paling tidak mereka mempunyai hubungan dengan tarekat ini. Karena setiap orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah Naqsybandi harus berada dalam Hadirat Rasulullah SAW dan Sayyidina Abu Bakar RA ketika berada di Gua Tsur, ketika Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Itulah saat pertama mereka menerima Tarekat Naqsybandi dari Sayyidina Abu Bakar RA dan untuk pertama kali zikir Khatim Syariif dilaksanakan di gua itu. Setiap orang yang mengatakan dirinya, “Aku seorang Naqsybandi,” walaupun ia terhubungkan lewat salah satu cabangnya, melalui Syaykh al-Baraka, ia tetap hadir di sana. Namun demikian, rahasia utama tetap berada di satu cabang saja.

Jadi, sebagian dari 299 khalifah dari Sayyidina Khalid Al-Baghdadi QS menerima satu orang pemegang rahasia utama, tetapi kebanyakan yang tidak menerimanya. Beberapa Syekh mentransfer para pengikutnya kepada Syekh utama, yaitu Syekh Ismail QS, tetapi yang lain tidak. Tipe percabangan ini juga terjadi pada masa Grandsyekh ‘Abdullah QS. Saya hadir di sana, Saya berada di Syria. Pada saat itu banyak murid dari Syria yang menerima Mawlana Syekh ‘Abdullah QS dan yang lainnya tidak. Itu adalah ego, egoisme. Bagaimana mereka akan menerima? Mereka adalah para Syekh besar dengan turban yang besar, lebih besar dari turbannya Mawlana Syekh Nazim QS. Beberapa di antara mereka mempunyai turban sekitar 40 meter di kepalanya, yes! (tertawa) Mereka semua hadir ketika Mawlana Grandsyekh ‘Abdullah QS membuat surat wasiatnya, seminggu sebelum beliau wafat. Mereka yang hadir dan duduk bersama mendorong dan melihat pada Mawlana Grandsyekh QS, “Di mana nama-nama kami dalam daftar itu?” dan nama-nama mereka tidak pernah disebutkan. Mereka berada di sana, duduk di sana dan ketika Mawlana pergi, setelah beliau membuat surat wasiat, mereka membuat satu salinannya lalu mereka menambahkan nama-nama mereka. Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka. Itu akan selalu menjadi masalah. Jadi kita harus membuka hati kita.

Seperti yang dikatakan oleh Syekh Jamaluddin QS, “Ego tidak akan membiarkan kalian untuk menerima fakta dan kebenaran.” Dengan perintah Syekh Nazim QS ia akan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di Eropa. Oleh sebab itu ia mempunyai pengalaman tentang hal itu, dan seperti itulah tarekat. Tarekat adalah pengalaman. Kalian tidak bisa duduk di rumah dan berkata, “Aku mengerjakan bisnisku, tugasku di universitas, Aku mengajar, Aku melakukan bisnisku di kantor dan Aku ikut tarekat, Aku melaksanakan zikir dan datang pada malam hari, berzikir dan Aku mengetahui segala hal!” Tidak! Itu bukan pengalaman namanya, pengalaman berarti bergaul dengan masyarakat, datang dan berbicara dengan mereka untuk mengetahui cara berpikir mereka, bagaimana mereka merasakan kesulitan yang dihadapi, melalui ujian, lewat beragam ujian yang berbeda, dan dengan cara itu kalian membangun pengalaman kalian.

Itulah sebabnya Mawlana Syekh Nazim QS menginginkan kalian untuk bepergian, agar kalian bisa mempelajari kebudayaan masing-masing daerah. Beliau menginginkan agar kita selalu waspada terhadap segala hal. [terhadap kebudayaan setempat sebelum kita berbicara]. Namun demikian, bukan berarti kalian tidak mempunyai izin untuk berbicara dengan orang-orang itu jika kalian tidak mengenal kebudayaan mereka—bukan, bicaralah dengan siapa saja yang kalian inginkan. Tetapi harus diingat, kalian harus berhati-hati terhadap hal-hal dalam kebudayaan mereka yang tidak kalian sadari.

Ketika Saya sedang berada di Amerika ada seseorang yang datang kepada saya dengan mengeluh. Ia berkata, “Syekh, Aku ingin mengeluarkan uneg-uneg kepadamu.” Inilah yang ia katakan, “Aku tidak mau menerima cara Anda memperlakukan Kami!” Ia adalah orang yang baik, dan ia menyukai saya, tetapi bukan berarti apa yang dikatakannya adalah baik. Saya hanya akan mengatakan satu hal, dan itu akan menunjukkan kepada kalian betapa besar keburukan ego kita. Hal itu mustahil dan luar biasa! Ia adalah orang Amerika, dan itu adalah cara mereka untuk mengekspresikan sesuatu, tidak memendam sesuatu dalam hatinya. Mereka harus mengeluarkan apa yang mereka rasakan atau mereka merasa bahwa mereka akan meledak.

Ia berkata, “Ini adalah negri yang bebas, dan kami bukan Nazi. Di sini tidak ada perjuangan, Anda tidak bisa memaksa orang lain.” Saya berkata, “Saya tidak pernah memaksa seseorang di Amerika, siapa saja.” Ia bilang lagi, “Tidak, tidak, tidak, Anda memaksa semua orang.” Saya heran, “Dalam hal apa?” Ia berkata, “Ketika kami datang menemui Anda saat Zuhur, Ashar atau Maghrib—itu adalah suatu masalah yang sangat besar.” Itu dianggap sebagai komplain yang besar bagi setiap orang. Orang Amerika merasa malu untuk salat. Ia berkata lagi, “Anda telah mencampuri urusan pribadi kami.” Saya lalu berpikir, “Hari kiamat akan datang kepada saya dan saya dalam masalah besar.” (tertawa) Ia berkata, “Ketika kami mengunjungi Anda, kadang-kadang kami datang pada saat Zuhur, atau Ashar, saat itu Anda sedang makan, dan Anda menyodorkan makanan kepada kami dan kami bilang, ‘tidak!’ lalu Anda memaksa kami untuk makan, dengan berkata, “Kalian duduk dan sekarang kalian harus makan.” “Anda tidak bisa memaksa kami untuk makan dengan paksaan seperti itu. Kami adalah orang Amerika, kami berada di negri yang bebas, Anda tidak bisa memaksa kami. Ini adalah suatu kezaliman, ini adalah tirani, kami tidak mau makan.”

Di negri saya, jika Anda tidak mendesaknya, tamu selalu merasa malu untuk mengatakan “ya” ketika diminta untuk makan. Tetapi jika saya tidak mengajaknya makan, saya merasa bahwa saya telah menghina tamu. Dalam kebudayaan Amerika, yang terjadi adalah kebalikannya. Jika Anda mendesak tamu untuk makan, itu berarti Anda telah mengintervensi tamu. Ketika ia bilang “tidak” itu artinya ia tidak ingin makan, jadi tidak perlu memaksanya untuk makan. Orang itu datang kepada saya untuk mengatakan bahwa inilah yang menjadi keluhan orang Amerika tentang perilaku saya. Jadi untuk itulah mereka mengeluh.

Jadi ini adalah masalah besar bagi orang Amerika, sementara bagi kami itu adalah simbol keramahan. Jadi Mawlana Syekh QS mengirimkan murid-muridnya, murid yang senior atau deputinya untuk bepergian ke negri yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk mengenal budaya mereka. Karena semua kebudayaan harus melebur menjadi satu dalam tarekat ini. Kita tidak bisa bilang bahwa kita adalah orang Amerika, Perancis, Arab, Jerman, Turki, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Malaysia, atau Pakistan. Yang ada hanya satu simbol, yaitu kecintaan Syekh kita—kita semua berasal darinya. Ini adalah sasaran terbesar, itulah sebabnya Mawlana mengirimkan setiap orang untuk belajar dan mendapatkan pengalaman.

Perawi hadis yang paling penting adalah Imam Bukhari. Beliau tidak pernah menulis hadis sebelum mandi, salat 2 rakaat lalu tidur. Lalu dalam mimpinya beliau akan bertemu Rasulullah SAW yang mengatakan, “Tulislah hadis ini pertama, menyusul yang itu, berikan nama bab itu sebagai, ‘Bab tentang Wudu’, tentang Zakat, Salat, dan begitu seterusnya. Beliau tidak pernah membaca hadis walaupun itu diizinkan kecuali setelah beliau mandi, dan salat dua rakaat, lalu tidur dan bertemu dengan Rasulullah SAW dalam mimpinya. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan untuk meletakkan suatu hadis di bab tertentu. Hadis pertama yang beliau tuliskan dalam bukunya adalah, “Perbuatan seseorang adalah tergantung pada niatnya, jika niatnya untuk Allah SWT dan Rasulullah SAW, maka ia akan diberi balasan sesuai dengan niatnya itu.” Bahkan jika orang itu membuat kesalahan [dalam melakukan pekerjaannya] tetapi jika niatnya baik [ia juga akan diberi balasan yang setimpal]. “Dan bagi siapa yang berniat untuk dunya, untuk kesenangan dunia ini orang itu akan mendapatkannya pula.”

Jadi niat adalah hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan. Bisa jadi seseorang tidak beruntung, tetapi ia berusaha dengan sebaik-baiknya. Tetapi karena tidak beruntung mereka malah menghinanya. Kemudian ia menjadi lelah.

Dan seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, “Berhati-hatilah dengan kesabaran orang yang sabar, bisa jadi ia akan meledak.” Ketika hal itu terjadi ia akan bergerak seperti kereta api, melabrak dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Jadi kita harus menetapkan niat, dan itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda, “Berusahalah selalu untuk melihat sesuatu dari sisi yang baik, segalanya dilihat dengan interpretasi yang baik.” Jangan memandang suatu masalah dengan interpretasi yang salah karena kalian tidak bisa melihat hati seseorang, kalian tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam hati. Jika kalian menarik interpretasi yang salah, pemahaman yang salah mengenai niat seseorang, kalian akan membuat suatu kesalahan. Jika kalian memandang segala sesuatu dengan kebaikan, SEGALANYA, Rasulullah SAW berkata SEGALANYA, dengan interpretasi yang baik kalian mungkin benar. Oleh sebab itu kita harus selalu berada dalam hubungan dengan Mawlana Syekh. Kita masih sering jatuh, jatuh, jatuh, jatuh.

Jangan pernah berkata bahwa kalian rendah hati. Jika kalian berkata demikian ketika kalian berbicara dengan orang lain dan berkata, “Tidak Aku tidak mengetahui apa-apa, ANDA-lah sumber inspirasiku.” Mereka akan memandang kalian seolah-olah kalian adalah sampah (tertawa). Kalian sebaiknya berkata, “Aku adalah yang paling pandai di sini.” Jangan! Jangan! Jangan! Jangan berkata seperti itu di Amerika! Jangan menjadi bodoh seperti saya (tertawa). Jika kalian pergi ke Amerika dan berkata demikian, kalian akan habis, tamat! Kalian tidak bisa berkata, “Aku rendah hati”, kalian tidak bisa berkata, ”Oh! Maafkan Aku! Aku orang yang lemah yang duduk bersamamu.” Ketika kalian datang, insya Allah ke Amerika untuk menghadiri undangan di suatu Universitas atau di mana pun, jangan pernah berkata, “Aku yang terlemah”, mencoba untuk merendah. Katakanlah, “Aku adalah Presiden (tertawa)” Inilah cara berpikir mereka.

Jangan berpikir bahwa Mawlana Syekh QS tidak mendengar kalian. Jika beliau mengerahkan kekuatan untuk menjadi kashf atau tanpa penghalang yang diberikan oleh Allah SWT, beliau dapat mendengar seluruh percakapan kalian. Bagaimana kalian mendengar suara guntur? Sejelas itulah kira-kira suara yang didengar oleh para awliya. Hal itu tidak sulit bagi Allah SWT, bukankah Dia memberi Sayyidina ‘Isa AS kemampuan untuk melihat isi suatu rumah dan apa yang dimakan mereka? Bukankah Dia telah menganugerahkan Sayyidina `Umar RA kemampuan untuk melihat apa yang terjadi dengan salah satu jendralnya 2000 kilometer jauhnya. Beliau mengatakan, “ya Sariya, al-jabal” “Wahai Sariya, gunung!” Beliau memberi peringatan kepadanya terhadap serangan dari balik gunung. Dan Sariya mendengar suaranya! Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini—Ini harus diyakini oleh seorang Muslim.

Keistimewaan seperti itu telah dijamin oleh Allah SWT, namun demikian mereka tetap saja seorang hamba. Mereka tidak berpikir bahwa dirinya lebih dari sekedar hamba-Nya, mereka adalah “’abd”, mereka adalah hamba Allah SWT. Allah SWT adalah Sang Pencipta, tidak seperti kaum Wahhabi yang gila, ketika kalian bilang, “Seorang wali mempunyai kekuatan istimewa,” mereka akan mengatakan, “Apa kamu bilang, dia seperti Allah SWT?” Mereka mengkhayal bahwa Allah SWT seperti manusia! Allahu Akbar! Takbir! Takbir! Allah SWT Maha Besar. Allah SWT memberi umat manusia, kepada awliya, raghman `an anfihim.

Wa min Allah at tawfiq