Showing posts with label tarekat. Show all posts
Showing posts with label tarekat. Show all posts

05 January 2013

Kita harus Menjaga Syariah


We have to keep Shariah here, no breaking of Shariah, if Tariqa breaks Shariah means that Tariqa is not accepted.  We have to fulfill the Shariah, then Tariqa is the heart of Shariah.  You cannot break the Shariah for the sake of Tariqa, you can break Tariqa for the sake of Shariah, and so you have to be careful with your Shariah.

Kita harus menjaga Syariah di sini, tidak boleh melanggar Syariah.  Jika Thariqah melanggar Syariah, itu artinya Thariqahnya tidak dapat diterima.  Kita harus memenuhi Syariah dan dengan begitu Thariqahnya dapat menjadi kalbu dari Syariah.  Kalian tidak bisa melanggar Syariah demi Thariqah, tetapi kalian boleh melanggar Thariqah demi Syariah, jadi kalian harus berhati-hati dengan Syariah kalian.

[Kutipan Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani, New Jersey, 3 Jan 2013]

08 December 2008

Tangan Tuhan di Balik Segala Peristiwa

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Oh Tuhanku, aku mohon pada-Mu untuk menganugerahiku pemahaman, dan agar membuatku mampu membuat yang lain memahaminya.”
(sebuah doa Nabi Muhammad SAW)

Setiap akan memberi nasihat, diam-diam saya membaca doa ini. Karena saya sadar, hanya orang yang telah mengetahui dirinya sendirilah yang mampu mengajari orang lain sesuatu yang berguna. Ada seorang tamu yang mengatakan pada saya tentang seorang guru spiritual yang tulisan dan pembicaraannya amat rumit, dan hanya para intelektual terlatih yang mampu mengerti apa yang sedang dia katakan. Ini bukanlah tanda orang yang mempunyai pemahaman karena ajaran-ajarannya tidak bisa dimengerti. Seorang manusia yang mempunyai pemahaman akan selalu mencoba membuat dirinya dapat dipahami dengan memberikan pidato yang jelas dan langsung ke sasaran. Menyesuaikan dengan tingkat pemahaman pendengarnya, dan dia akan mencoba merambah pendengar seluas mungkin, kalau tidak maka kata-katanya akan seperti tertiup angin. 

Bahkan Allah SWT, Tuhan dari seluruh makhluk, Tuhan segala ciptaan, Tuhan bagi seluruh eksistensi, merendahkan segala Keagungan-Nya sampai ke tingkatan seluruh ciptaan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan "Tanazzulat Subhani" atau sedekat mungkin dari yang mampu dipahami. Dengan merendahkan segala Keagungan itu, kalian bisa menemui Tuhan pada setiap ciptaan-Nya, di dalam segala tingkatan. Jika Dia tidak bersama dengan seekor semut dan tidak paham kondisi dan kebutuhan semut, maka Dia tidak bisa didefinisikan sebagai Tuhan bagi semut itu. Dia adalah Tuhan bagi seluruh ciptaan. Semua ada dalam Pengetahuan-Nya, bahkan makhluk-makhluk terkecil sekalipun. Apalagi umat manusia, ciptaan yang paling istimewa, apakah berlebihan bila kita mengatakan bahwa Dia selalu bersama kita? "Tidakkah Pencipta mengetahui apa yang Dia ciptakan?" tanya Tuhan. Dia Maha Tahu dan menjadi Tuhan bagi seluruh ciptaan-Nya, namun hal itu tidak mengurangi-Nya untuk selalu bersama setiap ciptaan-Nya. 

Nabi-nabi kita yang suci beserta para pewarisnya di setiap zaman telah diberkati dengan pengetahuan rahasia akan Kebenaran Ilahiah. Dan kewajiban utama mereka untuk mengungkapkan segala kenyataan itu agar dapat dipahami oleh umat manusia secara umum dan juga bagi setiap individu dalam cara apa pun, sesuai tingkat pemahaman dan kemampuan mereka. Sebagai pembimbing bagi umat manusia atas percikan Sifat-Nya, mereka telah dianugerahi kemampuan untuk mengkomunikasikan dan menyentuh hati-hati manusia. Namun hanya para nabi dan para pewaris aslinya yang menemukan keluwesan seperti itu dalam diri mereka. Bagi yang lain amat sulit untuk berkomunikasi dengan mereka yang bukan dari kalangannya sendiri atau dari latar belakang dan perilaku yang sama. Pembimbing Ilahiah mampu memberikan apa yang masyarakat inginkan, mengatakan apa yang mereka ingin dengar, sehingga semua orang dari berbagai kalangan mampu merasakan kedamaian bersama dan mengikutinya. 

Sebuah pesawat Concorde tidak bisa mendarat di atap sebuah gedung, namun sebuah helikopter mampu. Kebanyakan ulama seperti Concorde, begitu bangga dengan sayapnya yang besar, kecepatan dan bentuknya yang luar biasa. Namun hanya negarawan, pialang, pria, wanita yang istimewa dan makmur yang bisa naik Concorde. Seperti para ulama hanya bicara dan menulis agar dipuji oleh para ulama lain. Concorde terbang dengan kecepatan yang luar biasa dan butuh area yang luas di bandara internasional untuk mendarat, namun sebuah helikopter dapat mendarat di mana pun, kadang di laut, atau terbang rendah untuk menyelamatkan manusia yang terperangkap api.

Maka Guru-Guru Ilahiah juga dapat diakses oleh setiap orang di setiap kesempatan, di mana Concorde bisa menabrak sebuah tempat di mana heli mampu menyelamatkan para korban. Saya tidak meninggalkan mereka di atas gunung Himalaya, melainkan menyelamatkan mereka. Para pencari kebenaran harus mencari kualitas-kualitas seperti itu dalam seorang pembimbing yang mengaku ingin menyampaikan ceramah yang berkaitan dengan keilahian. Kalau tidak, mereka akan mengejar ajaran yang sia-sia dan menurut Nabi suci kita SAW, sebuah tanda dari kesempurnaan manusia dalam Islam adalah penolakannya pada aktifitas yang tidak berguna (yang tidak ada kaitannya dengan dirinya).

Salah seorang tamu kita menceritakan bahwa ulama ini mengangkat topik tentang “Fana dan Baqa”, atau Lenyap dan Kekal dalam Ilahi. Saya rasa tidak seorang pun—kecuali mereka yang telah mencapai maqam tersebut—layak untuk berbicara mengenai topik itu. Kalau tidak, penjelasannya akan sama dengan mereka yang belum pernah mencicipi madu dan berusaha menjelaskannya dari buku yang dibacanya, kepada mereka yang tidak tahu tentang madu. Atau seperti bertanya pada seorang anak kecil tentang kenikmatan bulan madu… sia-sia.

Topik-topik ini adalah Samudra. Ketika kalian meleleh, terserap dalam Keesaan Allah SWT, maka kalian akan memahami arti dari “Fana-Fillah” (Lenyap dalam Allah SWT). Ketika kalian bebas sebagai seseorang dalam eksistensi, ketika kalian mencoba menjadi setetes air hujan yang jatuh dari langit dan tenggelam, menyatu dalam Samudra Kesatuan Ilahi, maka tak seorang pun akan bertanya di mana tetesan itu hilang, karena tetesan itu telah menjadi sebuah Samudra. Sepanjang tetesan itu masih terjatuh, maka akan selalu berkata, “Aku adalah seseorang,” namun ketika ia mencapai Samudra, dia pun akan berkata, “Di mana aku? Aku sudah tidak ada, aku bersama-Nya; aku di sini, namun tidak di sini, hanya Dia yang di sini dan sekarang aku bersama-Nya. Aku berada dalam Samudra-Nya. Aku merasakan ini, dan tidak ada yang mengatakan bahwa aku setetes hujan. Karena tetesan itu telah menjadi Samudra.” Itulah sebuah contoh sangat sederhana akan penjelasan tentang melenyapkan diri dalam Tuhan. 

"Baqa" atau keabadian, adalah keadaan selalu bersama Tuhan. Dalam maqam itu, kepribadian kalian tidak tampak; yang terpancar adalah eksistensi Ilahi. Kalian telah didandani oleh Keesaan Ilahiahnya. Itulah maqam at-Tawhid. Apa yang dimaksud Baqa adalah kalian tidak akan pernah kehilangan pandangan, perasaan, mengetahui, memahami tanpa membatasinya. Kita harus berusaha untuk meraih maqam-maqam ini, tetapi Jalan itu sulit dan membutuhkan berbagai latihan.

Salah satu dari aspek latihan itu adalah dengan melihat apa pun yang terjadi berasal dari Allah SWT semata. Inilah rukun iman keenam dalam Islam: Keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik atau buruk adalah berasal dari Tuhan. Ini mengacu pada "Tawhid al-Af'al" atau " Penyatuan Tindakan". Jalan untuk memulai kesadaran akan titik ini adalah dengan mengingat sumber dari segala apa pun adalah Allah SWT. Ketika sesuatu terjadi, jangan terusik dengan diri sendiri atau siapa pun yang bukan penyebab terjadinya sesuatu. Karena mereka hanyalah alat atas kejadian-kejadian itu. 

Itu berarti, jika Ahmad datang dan memberimu uang dan kemudian Fulan datang dan menamparmu lalu mengambil uang itu. Janganlah mengira bahwa Ahmad adalah si pemberi dan si Fulan adalah seorang pencuri. Jika kamu berpikir seperti itu, kamu sudah jatuh dari tingkatan keimanan yang tinggi. Kalian harus menerima bahwa Tangan Tuhan ada di balik kedua tangan mereka, baik yang mengambil dan yang menerima. Karena bagaimanapun, Dialah Sang Pencipta bagi segala tindakan manusia. Ketika seseorang berbaik hati pada kalian, kalian harus ingat bahwa Tuhan kalian yang mengirimkan kebaikan itu pada hatinya, dan kalian harus bersyukur pada-Nya. Nabi SAW bersabda, "Siapa yang tidak berterima kasih pada manusia, sama dengan tidak bersyukur pada Allah SWT."

Nabi SAW tidak mengizinkan pandangan tauhid memecah kita dari menyempurnakan kesopanan kita terhadap manusia yang bersangkutan. Ketahuilah, Tuhanmu yang mengirim dia, dan jangan melupakan itu dalam keadaan apa pun. Dan ketika kalian melihat Ahmad memberi emas penuh di tanganmu, kalian harus mengatakan, “Oh Syekh Ahmad, terima kasih banyak! Pertama, terima kasih pada Tuhanmu, yang mengirim kebaikan di dalam hatimu untukku, dan terima kasih atas ketulusanmu memberikan apa yang telah diamanatkan padamu."

Dan ketika perampok bernama Fulan datang, memukulmu dan mengambil seluruh uang itu, janganlah marah padanya! Ya, menurut hukum Ilahi, syariat, diizinkan bagi yang mampu untuk meraih kembali uang itu, dan memberi hukuman sesuai hukum masyarakat. Namun jika kalian berada di jalan tauhid, maka kalian harus menghormati bahwa segala kejadian itu berasal dari Allah SWT juga. Dia sendiri yang mengirim orang untuk merampok kalian, karena Pencipta dari setiap kejadian hanyalah satu: Allah SWT. 

Karena tidak mungkin bagi semua orang menginginkan keimanan tingkat tinggi, di mana Tangan Tuhan terlihat di setiap peristiwa, maka Allah SWT dalam salah satu ayat Qur'an, dalam kasus pembunuhan diizinkan untuk "Nyawa dibayar dengan nyawa" dan berlanjut bagi mereka yang mampu untuk "memberikan pipi yang satunya", inilah tingkatan-tingkatan terhormat dari syariat (hukum) dan tarekat (jalan). Berdasarkan ayat-ayat ini, bagaimanapun hukum Islam mengenai pembunuhan adalah seimbang. Melegakkan bagi perasaan manusia normal dengan membalas dendam ketika menghadapi kejahatan yang mengusik ini. Islam mengizinkan untuk mengeksekusi para pembunuh, sehingga dengan cara ini, meredakan perasaan keluarga korban dan mencegah adanya permusuhan. Hukum juga mengizinkan pembayaran uang sebagai pengganti pelaksanaan hukuman bagi kerabat korban. Terakhir, ayat tersebut menyadarkan bahwa siapa pun yang mencari tingkat tertinggi dari keimanan dan pandangan keesaan untuk memaafkan. "Dan siapa pun yang memaafkan dan memahaminya, imbalannya adalah sebuah maqam di sisi Tuhan-nya."

Apa yang Allah SWT maksudkan bagi para pencari kebenaran sejati adalah: "Sekarang maafkan dia, karena Aku-lah yang mengirimnya untuk melakukan perbuatan itu." Sehingga kalian pun sadar, bahwa sebenarnya tidak ada yang bersalah dan tidak perlu adanya balas dendam. Namun ini bukan tingkatan biasa. Kita harus mengusahakan untuk bisa memaafkan perbuatan seperti itu, namun ego kita seperti gunung berapi. Manusia amat sopan dalam urusan sehari-hari selama semua orang berperilaku sesuai apa yang diharapkan dan semuanya berjalan sesuai yang direncanakan. Namun ketika Tuhan menghalangi dengan kejadian kecil yang mengakibatkan kecelakaan, hanya karena alasan kecil itu, kita bisa mendengar kata-kata cabul keluar dari mulut mereka seperti semburan lahar. 

Ego seperti itulah yang membuat orang menjadi sakit. Itu berbahaya karena berada di bawah perintah ego-ego. Di mana kalian menemukan toleransi seperti yang dikatakan dalam ayat-ayat Qur’an? Begitu banyak kebencian dan frustasi mengurung manusia, saya melihatnya dalam penampilan mereka, bahkan sering seseorang yang sedang marah mencari kambing hitam. Dan yang menarik, kambing hitam yang asli dan yang diberlakukan di seluruh dunia adalah selalu "orang-orang asing."

Jadi saya meyakinkan masyarakat di Barat sini, “Kami di sini sebagai tamu kalian. Ini tanah air kalian.” Begitukah? Kalian tidak bisa tinggal di sini, kecuali di makam. Tanah air kalian adalah di dalam kuburan, bukan di atas tanah. Bersyukurlah, tidak seorang pun mengomeli kita di kuburan, tidak ada yang mencegah kita untuk tidak dikubur. Penggali kubur membersihkan debu di tangannya lantas dia pergi, dan bumi menerima kita tanpa diskriminasi. Hanya manusia di atas bumi yang sibuk dengan membuat perbedaan. Oleh karena itu penerimaan tingkat tinggi yang berasal dari Tuhan jarang ditemukan. Namun Allah SWT mengajari kita, “Kalian harus mengerti siapa Aku. Aku-lah Sang Pencipta semua manusia dan apa pun yang mereka perbuat. Pahami ini dan kalian akan meraih kedamaian serta meninggalkan segala keluhan.”

Ketika saya bersama Grandsyekh melakukan thawaf di Mekah, di rumah Allah SWT, Ka’bah. Grandsyekh berkata pada saya, “Lihatlah ke atas sana!” Ketika saya melihatnya, di atas kepala-kepala manusia yang sedang berjejal-jejal ada sekelompok orang juga sedang melakukan thawaf. Namun mereka dalam maqam yang berbeda. Tenang, damai dan santun. Padahal mereka juga manusia, bukan malaikat. Mereka adalah golongan yang telah mencapai maqam di mana mereka melihat apa pun yang terjadi, berasal dari Allah SWT, mereka telah meninggalkan kesulitan dalam mengejar dunia. 

Tetapi bersamaan dengan itu, di bawah mereka, manusia-manusia berjejal-jejal karena kurang akan keyakinan. Saling mendorong, menyikut dan menginjak-injak. Ada kelompok-kelompok yang saling mengunci tangannya dan menyikut kerumunan, bergerak lurus dengan kecepatan tinggi, melempar mereka yang naas nasibnya jatuh atau terpelanting ke udara. Ada sikut-sikut orang di rusukku, tumit orang di jempol kakiku. Namun di atas kami, mereka yang telah pasrah akan kehendak Allah SWT, tidak lagi membutuhkan bumi di bawah kaki mereka. 

Sekarang, mungkin kalian menganggap hal semacam itu adalah mustahil. Menganggap bahwa saya sedang mendongeng, namun ketika diberitahu ada pesawat sedang terbang, kalian langsung mempercayainya. Jika manusia mampu membuat besi bisa terbang, apakah Tuhan tidak mampu menjadikan manusia terbang? Mereka berada dalam kedamaian Tuhan dan segala ciptaan-Nya mampu mengangkatnya. Kita telah ditunjukkan ‘jalan yang lebih tinggi’ dalam pandangan Ke-Esa-an-Nya, dan kita diminta bersabar dalam segala kejadian yang tidak kita senangi dengan mengingat Sumber Penyebabnya. Inilah latihan terbaik bagi ego-ego kita. Jalani latihan ini, atau kalian akan terus bersusah-payah sampai menuju liang lahat nanti. 

“Wahai manusia, jika kalian berusaha keras menuju Tuhan-mu, maka kalian akan berjumpa dengan-Nya.” Tuhan yang mengajarkan kita bahwa usaha keras kita akan dunia, pengejaran kita dari timur sampai barat, dari sini ke sana, siang malam, tanpa kita sadari, tidak lain adalah perlombaan kita menuju Samudra Ke-Esa-an Tuhan Yang tiada akhirnya. Namun kita belum menyadarinya sekarang. Roh kita mencari Tuhan-nya, sehingga ke mana pun kita bergerak, tidak ada arah lain kecuali menuju ke hadapan-Nya.

Wa min Allah at-Tawfiq bi hurmat al-Fatiha

01 November 2008

Tungu dan Lihatlah...

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Tanya:

Tolong Anda jelaskan sedikit mengenai perkembangan roh.

Jawab (Syekh Nazim ق):

Tunggu dan lihatlah… taktik tutup mata kadang digunakan bagi mereka yang memandu para pendaki ketika menaiki gunung yang tinggi, curam dan mengerikan.  Sebuah teknik untuk memastikan para pendaki sampai dengan selamat. Para pembimbing paham mengenai area yang dilewati, jalan itu akan membawa para pendaki melintasi gunung yang tinggi dan membahayakan.  Bila mata mereka tidak dibuat tertutup, mereka mungkin akan merasa ngeri dan akhirnya jatuh.

Para pemandu di pegunungan, bagaimanapun adalah orang-orang yang sudah terlatih dan berpengalaman sehingga tidak akan membahayakan mereka yang dipandu.  Setelah melewati kondisi-kondisi yang membahayakan, pemandu akan membuka penutup mata dan para pendaki melihat ke belakang dengan takjub, “Benarkah aku telah menyeberanginya?”  Kita memang melakukan lintasan-lintasan berbahaya untuk berhasil sampai di tujuan kita.

Itu juga merupakan taktik bagi para pembimbing dalam tarekat ini—Tarekat Naqsybandi—menjaga mata para murid terus tertutup sampai mereka mencapai “posisi yang aman.“  Jika telah sampai, maka realitas akan menjadi jelas bagi mereka.  Namun sebelum itu, tidak perlu kalian melihat hal-hal yang luar biasa, karena akan berbahaya bagi kelanjutan perkembangan kalian.  Grandsyekh tahu kapan kalian sampai pada posisi yang aman dan bebas untuk membuka penutup mata.

Adakah sesuatu yang bisa saya lakukan agar maju pada tingkatan—terbuka—lebih cepat?

Kalian tidak dapat melakukan sesuatu kecuali mengikuti.  Ikuti pemandu kalian: apa perintah beliau, apa yang beliau contohkan, dan ikuti segala tingkah laku beliau.  Jika kalian konsentrasi untuk mengikuti beliau maka kalian akan bersama-sama melalui jalan itu bersamanya: mengikuti beliau adalah penting, tidak ada jalan lain.

Bahkan bila kalian hanya menjaga hubungan dan mengingat Syekh kalian sekali sehari, itu sudah cukup bagi kalian untuk ditulis sebagai murid/pengikut beliau.  Artinya kalian telah naik “kereta” itu dan masih mengendarainya.  Sepanjang kereta itu mengarah pada tujuannya, maka kalian pun akan bergerak menuju ke sana.

Bahkan ketika kalian tidak bekerja keras seperti yang seharusnya kalian lakukan untuk kemajuan spiritual kalian, itu tidaklah mengapa.  Karena kalian masih naik kereta itu – bahkan jika kalian tertidur di atas lantai kelas 3; kereta itu tetap melaju dan kalian berada di dalamnya.  Yang terpenting adalah naik kereta.  Bahkan bila kalian terlelap siang dan malam,  kalian tetap maju jika kalian menjaga hubungan dengan Syekh.


naik kereta ke tujuan...

Fakta ini mengacu pada sabda Nabi SAW, bahwa nanti pada Hari Akhir, setiap orang akan diangkat bersama mereka yang dicintainya.  Jadi, semakin besar cinta kalian pada Syekh, semakin kalian mampu melaksanakan perintah Syekh, dan meniru apa yang beliau contohkan atas kepatuhannya pada Allah SWT dan Nabi-Nya SAW.

Bahkan murid yang paling malas pun tidak akan pernah ditinggalkan sendiri sampai dia meraih maqamnya.  Karena jika dia tertidur, kondektur akan datang dan membangunkannya, lalu mengatakan, “Bangun, bangun!  Kita sudah sampai di stasiun.”  Lalu dengan grogi dia menjawab, “Apa?  Kita sudah sampai?” “Ya, ambil kopermu dan pergilah.”

Adakah cara bagi kita untuk mengetahui apa sebenarnya tujuan kita?

Dia Yang Maha Kuasa tahu, Dia yang membimbing kalian ke sana, yaitu kepada hamba-hamba yang dicintai-Nya.  Hamba-hamba yang telah dikirim demi memberi kalian bimbingan dan yang pasti mereka paham tujuan kalian. Nabi Allah SAW mengetahuinya, Grandsyekh mengetahuinya, inspektur kepala mengetahuinya dan kondektur juga mengetahuinya.

Banyak yang mengikuti tarekat-tarekat sufi yang mengalami tingkatan-tingkatan yang aneh dan indah, seluruh perjalanan akan dibuat menjadi menarik bagi mereka.  Pengelihatan-pengelihatan yang luar biasa dan juga ilham-ilham.  Ada yang mengalami, 'ekstase' dan  'Penyatuan dengan Ilahi’ dan segala kekuatan-kekuatan mistis.

Namun saya merasa seperti manusia normal saja.  Ya, memang saya merasakan kedamaian bertambah dan lebih baik dari kehidupan saya sebelumnya, lebih tenang dan bahagia di dalam diri ini.  Kadang saya bermimpi yang tidak seperti biasanya dan tidak sering.  Pokoknya, yang saya alami tidak sehebat yang para pengikut lainnya ceritakan.  Jika saya bergerak ke suatu tingkatan, saya mengetahuinya karena ada perubahan yang samar-samar, bukan yang dramatis.  Tetapi tidak masalah bagi saya, saya tidak berkeinginan untuk melihat atau melakukan hal-hal semacam itu untuk saat ini.

Dalam tarekat kita, kita tidak berkeinginan untuk melihat sesuatu, yang kita kejar adalah penghambaan yang sebenarnya pada Tuhan kita Yang Maha Kuasa.  Untuk menjadi hamba-hamba Tuhan yang abadi.  Kita tidak mencari yang lain, baik di sini maupun di akhirat nanti.

Namun banyak pencari berharap mendapatkan kekuatan spiritual.

Tidak masalah.  Kami mempunyai kekuatan-kekuatan spiritual itu dan tetap menyembunyikannya.  Itu juga tidak ada gunanya bagi kami.  Daripada menghabiskan energi untuk manifestasi sisi luar, kami menggunakannya untuk menguatkan diri sendiri dalam ibadah dan kepatuhan.  Tidak ada gunanya bagi kami untuk mencari-cari, cara itu digunakan bagi mereka yang lemah.

Jika saya katakan pada saudara kita Syekh Sindbad, “Pergi dan lakukan perintah ini dan itu.”  Saya tidak perlu menawari dia sebuah permen warna merah untuk melakukannya, dia akan bangun dan melakukannya. Namun jika saya suruh seorang anak laki-laki untuk berlari dengan perintah yang sama, maka saya akan mengiming-imingi dia dengan sebuah permen.  Maka dia akan berlari melakukannya, kalau tidak dia tidak akan mau.  Itu adalah tingkatan anak kecil.  Tingkatan bagi mereka yang patuh tanpa menunggu imbalan adalah lebih tinggi, tingkatan manusia dewasa.

Grandsyekh tidak mencari kekuatan-kekuatan semacam itu. Mereka malu memperlihatkan hal-hal ajaib, malu di hadapan Tuhan mereka.  Karena tidak diragukan lagi, bahwa ego akan senang dengan hal-hal ajaib – dan mengambil bagian atasnya – sehingga tentu saja kontra produktif dengan tujuan-tujuan kita, yaitu merendahkan ego serendah-rendahnya, bukan memberinya kepuasan melebihi porsinya melalui pamer keajaiban.

Karena itu, para Grandsyekh Naqsybandiyyah tidak pernah melakukan sesuatu yang ajaib kecuali diperintahkan oleh Nabi suci SAW.  Mereka amat sederhana dan rendah hati, bahkan kalian tidak bisa membedakannya dengan manusia normal lainnya.  Mungkin mereka mempunyai kekuatan nuklir, namun karena rendah hati, mereka seperti bukan siapa-siapa.  Jika seseorang memaksa beliau untuk melakukan keajaiban, mereka mengatakan, “Anakku, apa yang kamu katakan?  Aku ini orang biasa, koperku kosong, bagaimana bisa aku melakukan hal yang kamu minta?

Ya, itu memang benar, mereka memang kosong sampai kekuatan datang melalui mereka.

Ketika kekuatan itu dikirim pada mereka, mereka bisa berbuat apa saja.  Tanpa itu mereka tidak bisa.  Yang berarti dengan penyucian spiritual mereka menjadi kawat tanpa campuran yang menjadikan kekuatan besar berpindah pada mereka tanpa halangan, namun bila mereka terputus dari sumbernya, mereka tidak punya kekuatan dari dirinya sendiri.

Para pencari  percaya akan pentingnya membaca pikiran orang, meramal masa depan, berjalan di udara dan berjalan di atas lautan; mereka pikir itu adalah tanda para guru sejati.  Seharusnya mereka juga berpikir bahwa lalat dan nyamuk juga bisa terbang, serangga air juga berjalan di atas air.  Banyak sekali orang-orang jahat yang mampu melakukannya – bukan hanya awliya dan nabi.  Banyak orang-orang mampu melakukan kekuatan supranatural untuk menipu orang.

Allah SWT meninggalkan mereka menjadi salah arah bagi siapa pun yang mencari bimbingan yang salah, yaitu mereka yang mencari sesuatu selain rida Ilahi.  Anti-Kristus (Dajjal) yang akan muncul di akhir zaman akan memperlihatkan kekuatan mistis terbesar yang sebelumnya belum pernah kita dengar.  Peragaaan hal-hal seperti itu bukan tujuan kita.

Menjadi hamba Tuhan yang tulus adalah tujuan kita.  Terus menerus beribadah dan beramal baik – sehingga Tuhan kita berkenan dengan ketabahan kita dalam kepatuhan dan cinta akan Dia.  Tabah dalam keimanan di zaman kita ini merupakan keajaiban itu sendiri.  Banyak orang yang lemah kemauannya terpuruk dan hilang imannya, karena tak mampu menahan serangan yang mencabut iman di hati mereka di zaman sekarang ini.

Mengikuti tarekat dari awal sampai akhir, menaklukan halangan-halangan dan tabah untuk terus mencapai tujuan kita – itulah namanya keajaiban.  Mencoba-coba, tidak mau berkorban, tidak ada komitmen; berada di tarekat ini hari ini dan besoknya di tarekat yang lain.  Itu bukan cara bagi para pencari yang tulus, tetapi jalan bagi mereka yang kurang serius dan kurang ikhlas.*

Tarekat Naqsybandi adalah jelas: Guru-gurunya tidak mengharap apa pun kecuali rida Allah SWT semata.  Jika ada harapan imbalan dari surga atau kenikmatannya muncul dalam pikiran, mereka harus merasa bahwa dirinya telah menghancurkan ritual penyucian diri dan perlu mengulang wudunya.  Dan jika kenikmatan dunia ini terlintas dalam pikiran mereka, maka perlu bagi mereka untuk mandi besar.

Kita ini masih anak-anak kecil, belum meraih maqam-maqam itu.  Tidak mengapa, kalian tidak bertanggung jawab sepenuhnya akan makna dari istilah Hadirat Ilahi. Guru-guru Naqsybandi penuh dalam Hadirat Ilahi dan tidak lagi mencari apa yang ditawarkan oleh kehidupan ini dan akhirat nanti.

Latihan spiritual yang utama bagi tarekat-tarekat lain adalah berpusat pada pengulangan kaliamat: “La ilaha ill-Allah” (Tidak ada Tuhan kecuali Satu Tuhan Yang Benar, Allah SWT). Inilah pedang yang memotong keterikatan pada tuhan apapun kecuali Allah SWT.  Penolakan akan tuhan-tuhan lain. Pengulangan kalimat ini menyatakan bahwa Dia sendiri yang layak untuk disembah, meninggalkan penyembahan yang lain kecuali pada Dia.

Namun mengidolakan besi dan kayu, atau ego kita sendiri, dan menyembah diri sendiri, uang, kekuasaan, nafsu, orang lain, menyembah intelektualitas, tubuh, atau apa pun juga – sesungguhnya Dia jauh lebih agung di atas apa pun yang bisa kita bayangkan tentang Dia!  Formula utama Naqsybandi adalah pengulangan Nama suci “Allah SWT”.  Karena setelah operasi pemotongan segala keterikatan akan hal-hal yang rendah mengantarkan hamba memanggil Tuhan-nya dan mendekat pada Hadirat Ilahi.

Ketika dia benar-benar mengatakan: ”La ilaha ill-Allah” dia telah menolak apa pun – bahkan dirinya sendiri.  Menerima untuk tidak menjadi apa pun di dalam Samudra Keesaan Tuhan Yang Maha Kuasa.  Dia tidak akan pernah muncul dari dalam samudra itu.  Yang ada  hanyalah: “Allah, Allah, Allah…”

Siapa pun yang mencari maqam ini maka akan disambut, dan siapa yang mencari-cari sesuatu, biarkan dia menemukan banyak tarekat/jalan lain untuk menjadikannya menjadi “seseorang/sesuatu.”

Catatan:

*Syekh Nazim QS, tentu saja tidak menyinggung tentang berganti-ganti tarekat dan guru untuk alasan-alasan spiritual, seperti Abu Yazid al-Bistami QS yang berganti Syekh sebanyak 99 kali.  Yang beliau maksud adalah para pencari yang tidak konsisten karena tidak adanya kemauan untuk menerima tanggung jawab atau membuat perubahan akan kebiasaan yang kadang menyakitkan dan dalam, hal ini diperlukan ketika mengikuti tarekat secara keseluruhan.

 

Wa min Allah at tawfiq

08 July 2008

Tiga Tingkatan Karakter: Tembaga, Perak dan Emas

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Penjelasan dari `Iqaz al-Himam fii Syarh al-Hikam,
oleh Ahmad ibn Muhammad ibn `Ajiba


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya. [QS 4:59]

Alhamdulillah bahwa kita berada pada saat di mana orang-orang sedang tergerak mempelajari Islam untuk mengetahui apakah sebenarnya Islam itu. Peradaban Islam ada sejak 1400 tahun yang lalu (atau lebih), sejak zaman Nabi Muhammad SAW, sang pembawa pesan-pesan Allah SWT.

Kita juga tertarik untuk mengetahui tentang prinsip dan dasar nilai yang diajarkan Islam pada penganut-penganutnya dan pada yang lain. Kita tengok lebih dalam sebagai muslim dan sebagai sufi, mutasawwifiin, mereka yang spiritualis--tazkiyyat an-nafs, mengkaji lebih dalam untuk meningkatkan diri sendiri, bukan dari luar saja, tetapi juga dari dalam.

Dan telah disampaikan bahwa samtul jaahili saluuhuh orang-orang yang tidak peduli, saat mereka diam, akan menyembunyikan (kenyataan-penerj.) bahwa mereka sebenarnya kaum yang tidak peduli.

Kaum yang tidak peduli sekarang ini ada 2 macam: orang yang tidak peduli sadar bahwa mereka memang orang yang lalai dan terus berdiam diri menyembunyikan ketidakpeduliannya. Yang lain adalah orang-orang yang sungguh tidak peduli, namun ketidakpeduliannya memberi mereka kesombongan bahwa mereka “tahu” sesuatu. Mereka menjadi kaum terpelajar yang berpidato di podium (manaabir), memberi kuliah; dan karakteristik seperti itu adalah yang paling buruk.

Telah disampaikan bahwa pengetahuan kalian dibanding yang lain adalah seperti berbedanya besi, tembaga dan perak. Mana yang lebih baik? Perak. Tetapi kalian adalah tembaga dan besi. Jika tetap diam, kalian tidak akan memperlihatkan karakter besi yang tak berharga itu. Jika tidak diam, maka kalian seperti dilapisi lapisan perak.

Orang-orang pergi membeli barang berlapis perak senilai 5 – 10 dolar. Yang lain membeli perak asli yang bernilai ratusan dolar. Saat mereka mengetahui bahwa barangnya hanya dilapisi perak, mereka berkata, “Ini tak berharga.”

Orang-orang yang tidak peduli melapisi diri mereka dengan perak agar terlihat bersinar. Namun setelah beberapa waktu, lapisan itu hilang dan yang terlihat adalah – wajah asli mereka. Itulah bagi mereka yang tertarik pada penampilan luar. Mereka itu bukanlah mereka yang asli tetapi masih berupa tembaga.

Ada kumpulan lainnya. Di dalam diri mereka adalah perak, dan itu asli. Tetapi karena mereka asli, mereka rendah hati. Bagaimana cara mereka selalu berendah hati? Mereka melapisi diri mereka dengan tembaga. Mengapa? Karena mereka ingin menjaga karakteristik “perak” yang mereka miliki. Mereka bukanlah orang “tembaga” yang ingin memperlihatkan “perak”-nya. Mereka adalah “perak” yang sadar bahwa meskipun menjadi “perak” mereka tetap tak ada apa-apanya dibanding kebesaran Allah SWT dan itulah sebabnya mereka merendahkan diri sebagai seorang “tembaga.” Mereka diam, rendah hati. Mereka menjaga diri agar tampak seperti orang normal lainnya.

Ada pepatah dalam bahasa Arab, “Jika bicara asalnya dari perak, maka diam berasal dari emas.”

Ada kelompok lain yang memiliki aspek di dalam dirinya “emas”. Mereka tunduk kepada Allah SWT. Tak ada keraguan pada diri mereka dan mereka selalu dalam total kepatuhan, mereka ini menjadi “emas” karena Allah SWT mengangkat (derajat – penerj) mereka. Dan inilah kaum terbaik, orang-orang yang paling bisa dipercaya. Mereka adalah para awliya yang sejati.

Mereka sadar bahwa penampilan fisik tak ada harganya, yang mereka tahu bahwa aspek batinnya, walaupun bernilai (menghormati akan hal itu)-- adalah tak ada apa-apanya dibandingkan kebesaran Allah SWT. Mereka tunduk sepenuhnya; meninggalkan sisi luar dan mengatakan, “Kami tidak akan menonjolkan diri sebagai orang berpendidikan tinggi.” Karena mereka adalah emas dan apa pun yang mereka katakan tak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT, maka mereka pun diam. Maka Allah SWT menghiasi mereka dengan Kebesaran-Nya, Nabi-pun mendandani mereka dengan kebesarannya, namun mereka menyembunyikan (rahasia tersebut), sebagaimana orang akan menyembunyikan perhiasan emasnya, dan mereka tidak menyembunyikan perhiasan perak.

Allah SWT menyembunyikan awliya-Nya. “Orang-orang suci ada di bawah naungan-Ku, dan tak ada yang tahu kecuali Aku. Ada perbedaan besar di antara ke-3 tingkatan ini. Apakah tingkatan itu?

  1. Sisi luar
  2. Sisi dalam
  3. Termasuk dalam keduanya namun tetap diam.

Hal ini terdapat dalam hadis Nabi SAW tentang Islam, syariah, iman, tarekat, ihsan, makrifat – “Beribadahlah pada Allah SWT seolah-olah kalian melihat-Nya, jika tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”

Inilah yang kita jelaskan tadi, syariah, haqiqat, makrifat. Jika kalian mengikuti disiplin syariah, mematuhi apa yang Allah SWT perintahkan, hal itu mengantarkan kalian mencapai haqiqat. Lalu mengikuti petunjuk yang Allah SWT kirimkan pada kalian.

Syariah mengajari kalian bagaimana mengikuti, seperti dalam perang dunia, kalian mempunyai lubang-lubang, dan untuk melaluinya kalian harus tahu di mana lubang-lubang yang lain berada. Syariah membawa kalian menyebrangi lubang-lubang ini dengan selamat.

Jika kalian telah melewati lubang-lubang tersebut, maka sampailah kalian pada kebun yang bernama haqiqat. Saat kalian didandani dengan kebun-kebun haqiqat itu, kalian melihatnya, menikmatinya dan mengalaminya. Mereka pun mengantar kalian pada makrifat, mengajari kalian ilmu yang ada di kebun-kebun ini. Saat kalian memiliki kebun-kebun ini, maka kalian memahami pentingnya kebun-kebun (haqiqat) ini. Lalu tujuan kalian adalah ma`rifatullah.

Allah SWT memberi kalian sebuah pengetahuan untuk mengetahui ciptaan-Nya, dan untuk memahami apa pun yang Dia ingin kalian mengetahuinya – itulah ma`rifatullah.

Itulah arti dari hajaru 'l-aswad, yang seluruhnya tertutup dengan perak. Bagian luar dan dalamnya. Hajaru `l- aswad berasal dari Surga. Saat kalian telah melewati (tahap) “perak” kalian akan menjadi “emas”. Sebelum hajaru `l-aswad adalah thawaaf, yang menggambarkan syariah. Syariah mengantar kalian melewati ladang-ladang sumur. Thawaaf adalah wajib. Namun saat sampai pada hajaru `l-aswad kalian menciumnya. Itulah haqiqat.

Sayyidina Umar RA berkata, “Jika tidak melihat Nabi SAW menciummu, aku tak mau melakukannya.” Lalu Sayyidina `Ali RA, KW menimpali, “Jangan berkata begitu, batu ini akan menjadi saksi bagi setiap orang yang menciumnya saat kiamat nanti.” Itulah mengapa saat para awliya mencium hajaru `l-aswad; mereka sedang mencium surga.

Orang awam saat melaksanakan haji atau umrah mereka melaksanakan thawaaf, dan mereka pun mencium (hajaru `l-aswad). Karena mereka memenuhi kewajiban syariah, mereka diizinkan untuk menciumnya. Allah SWT meletakkan batu itu di sana agar orang-orang mampu melihat “kebun” (makrifat) itu.

Hanya sebuah dinding di sana? Mengapa Nabi SAW mencium batu itu? Di balik batu itu ada sebuah realitas, makrifat. Batu itu adalah simbol kebun surgawi, karena merupakan bagian dari Surga. Saat kalian menciumnya kalian memasuki Surga. Mereka yang mencium hajaru `l-aswad dilindungi dari “Api”. Itulah betapa pentingnya pergi hajji, walaupun sekali seumur hidup. Adalah penting untuk mencium Surga, karena batu itu berasal dari Surga. Amal kalian akan digantikan dengan amal yang baik saat mencium batu itu.

Dikatakan bahwa yang terbaik dari ketiganya adalah yang diambil dari lahir dan yang diambil dari batin, mereka mengambil dari kedua sisi. Dari lahir bermanfaat untuk dunia. Mengapa? Karena itu adalah tampilan luar. Segala tampilan luar adalah untuk dunia. Namun bila kalian tambahkan dengan beberapa kewajiban, hal tersebut akan mengantar kalian selamat pada Hari Pengadilan kelak.

Kelompok yang lain adalah ahli batiniah, Ahl al-baathin, orang-orang yang penuh realitas. Jika kalian berteman dengan mereka, mereka akan memberi kalian apa yang mereka lihat sebagai realitas. Jika kalian terus bersama mereka, kalian akan menemukan persahabatan yang baik bersama mereka. Mereka bukan hanya memberi kalian Surga, tetapi lebih dari itu, yaitu ilmu. Mereka menarik pengikutnya pada realitas ini.

Dan yang terbaik dari 2 kelompok ini adalah yang ketiga. Siapakah kelompok ketiga ini? Mereka yang mengambil manfaat dari “pengetahuan luar”, dan mengambil manfaat dari “pengetahuan dalam”. Seperti Abu Bakar ash-Shiddiq RA; mengambil manfaat. Mereka mewarisinya dari Nabi SAW. Beliau berdagang, berbisnis dengan sang istri dan pada saat yang sama beliau juga berada di gua hira [ber-khalwat/meditasi]. Sayyidina Abu Bakar RA adalah seorang pengusaha, Sayyidina Umar RA juga, dan begitu pula dengan Sayyidina Utsman RA dan Sayyidina `Ali RA, KW. Mereka adalah shiddiqiin, orang-orang yang jujur. Siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya harus tetap melaksanakan syariah dengan benar.

Tidak seperti kelompok sufi (yang ditemukan di Barat), Thariqat Naqsybandi, thariqat yang sangat konservatif tetap menjaga syariah. Tak ada kompromi bila mengenai syariah, Syekh menjaga syariah dalam cara klasik dan tradisional untuk mereka sendiri, namun bagi orang-orang, mereka sangat fleksibel. Mereka mewariskan cara-cara yang termudah.

Butuh 23 tahun bagi Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan itu. Kalian tak mampu menyampaikan pesan syariah, haqiqat, dan makrifat, hanya dalam waktu 1 bulan, 2 bulan atau 3 bulan. Itu butuh waktu.

Para Syekh Naqsybandi menjaga syariah agar tetap berjalan dengan baik, mereka harus dihiasi baik sisi luar maupun sisi dalamnya. Jika kalian berhias bagus untuk sisi luar tetapi bukan dari dalam, kalian seperti sebuah jam yang mempunyai jarum tetapi mesin di dalamnya rusak. Jika kalian berhias bagus di dalam namun bukan di bagian luarnya, seperti jam yang mesinnya hidup tetapi tidak mempunyai jarum. Namun bila luar dan dalam kalian dihias dengan bagus, maka seperti sebuah jam yang mempunyai mesin bagus dan memiliki jarum. Posisi kalian sempurna.

Setiap orang dapat memeriksa diri sendiri, apakah telah berhias secara luar dan dalam.

Untuk mengetahui perhiasan macam apa (yang digunakan) untuk menjaga mereka agar bersih dari segala gangguan dan godaan yang diberikan setan pada manusia. Seberapa besar kalian harus dipersenjatai. Bukan senjata fisik, tetapi persenjataan agar mata dan telinga kalian tidak mendengar hal-hal yang buruk, tidak melihat hal-hal jelek, membekali diri dari sisi luar dengan prinsip-prinsip perilaku yang benar.

Dan setiap orang sadar betapa mereka bergantung pada pikiran-pikirannya sendiri. Saat mereka bertanya pada Mawlana Syekh Nazim QS, “Bagaimana kami menyesuaikan diri saat sesuatu muncul, karena kami bukan orang-orang terpelajar?”

Beliau menjawab, “Gunakan akalmu untuk menimbang masalah-masalah yang ada di depanmu. Jika akalmu menerimanya, terimalah. Bila tidak, hal itu memberi kesempatan melakukan apa yang setan mau.”

Seperti saat ego kalian berkata, “Pergilah merokok.” Apa yang dikatakan akal kalian tentang merokok? Ia katakan, “Tidak baik untuk kesehatan dan mengakibatkan berbagai macam kanker.” Artinya seharusnya kalian hilangkan kebiasaan merokok itu dari kehidupan kalian. Akal kalian mengatakan hal itu buruk namun tidak didengarkan.

Nabi SAW bersabda, “Kulli muddurin yuqtal – “Semua yang merusak adalah membunuh.” Kata-kata yang digunakan adalah membunuh. Namun tiap kata tidak diartikan secara harfiah, harus dipahami secara simbolik. Jika seekor singa akan menyerang, kalian boleh membunuhnya. Ada seekor kalajengking spiritual yang dapat membunuh kalian, sebagaimana seekor singa spiritual yang dapat menyerang kalian. Seperti rokok, itulah artinya mengapa akal kalian mengatakan bahwa ini adalah salah.

Seperti obat-obatan terlarang. Beberapa orang mengatakan bahwa rokok adalah merusak, namun tidak masalah dengan marijuana. Saya katakan pada mereka, “Jangan merokok.” Jawab mereka, “Kami tidak merokok.” Saya katakan lagi, “Saya melihat kalian merokok.” Mereka menjawab lagi, “Tidak! Ini adalah marijuana, bukan rokok.” Namun saat itulah akal kalian berkata, “Ini adalah hal yang buruk.”

Jika kalian hanya mengetahui dasar syariah, gunakan akal kalian untuk membedakan apa yang baik bagi kalian dan apa yang tidak, apa yang membuat Allah SWT senang pada kalian, dan apa yang membuat Nabi SAW senang pada kalian. Memakai cara lain akan menyesatkan dan mengikuti jalan setan. Syekh yang mumpuni disebut sebagai al-`arifu billah. Orang yang tahu tentang Allah SWT. Mereka yang mengetahui (apa yang Allah SWT ingin mereka ketahui) dari realitas yang tersembunyi. Al-`arifu billah berbeda dengan wali. Wali dapat menjadi seorang wali sejauh apa yang mereka sendiri (ingin) perhatikan. Allah SWT menjadikan mereka sebagai wali karena ketulusan hatinya. Dia seperti seorang manusia untuk dirinya sendiri.

Seorang 'arifu billah adalah orang yang mampu mengakomodasikan kalangan terburuk dan kalangan tertinggi dari kaum (yang berorientasi) luar bersama-sama dengan para awliya yang terendah sampai yang tertinggi tingkatannya.

Jadi ia mempertemukan kalangan biasa, tukang kayu, tukang sampah dan lebih rendah lagi dari level tersebut pada saat yang sama ia mampu menemui presiden. Saat bersamaan pula ia dapat pergi pada awliya yang terendah sekaligus tertinggi, ia mampu bergaul di antara keduanya karena ia mempunyai tinjauan luas dan ia adalah seorang Insan al-Kamil, manusia sempurna. Itulah yang disebut seorang arifu billah.

Berbeda dengan seorang wali. Banyak awliya yang tidak mampu bergaul dengan mereka (yang berorientasi) luar. Itulah mengapa kalian lihat saat ini banyak orang berkata, “Para Sufi tidak bisa berbaur dengan masyarakat, mereka selalu duduk di sudut ruangan.” Itu benar, karena mereka berada pada level di mana mereka tidak dapat berbaur dengan orang-orang lain.

Namun para `arifiina billah berada pada level yang lebih tinggi—seperti Sayyidina Ahmad al-Faruqi QS yang mampu bergaul dengan orang-orang di bawahnya dan para penguasa atas. Banyak yang seperti itu seperti Sayyidina Syah Naqsybandi QS dan Sayyidina Abayazid al-Bistami QS.

Itulah mengapa kita bisa lihat Mawlana Syekh Nazim QS dapat bergaul dengan segala macam orang. Beliau dapat bergaul dengan kalangan paling atas sampai kalangan terendah. Dan beliau pun mampu bersama wali tingkat terendah sampai yang tertinggi. Beliau mewarnai diri beliau sendiri pada level rakyat. Kalian lihat orang-orang mendatangi beliau hanya dengan masalah-masalah duniawi saja. Bagi beliau tidaklah menghabiskan waktu - beliau menampung mereka semua karena beliau adalah seorang al-`arif billah.

Bagi seorang wali dan bukan seorang yang arif, mereka melihat syekh membuang-buang waktunya. Mereka tidak tahu bahwa syekh sedang mengakomodasi mereka semua. Kami mendapat banyak kritik di internet saat syekh menemui kaum petinggi negara.

Seorang `arif billah mampu pergi ke dua kutub. Perahu membutuhkan 2 dayung, jika hanya satu maka gerakannya lambat. Sebuah kapal terbang yang hanya bersayap satu, tak mampu terbang.

Sufi hanya mampu duduk di sudut ruang, ia hanya mempunyai satu sayap, namun seorang arif billah dapat pergi ke mana pun; ia dapat membuka pintu-pintu, sehingga dapat dibawa bersama dan menjembatani keduanya.

Dikatakan bahwa seorang arif billah tidak menolak siapa pun, secara lahir maupun batin. Ia merangkul Ahl al-dunya (ahli dunia) dengan berhubungan dengannya, memenuhi kebutuhan kebutuhannya. Mereka bahagia, dan karena itulah mereka menjadi murid-muridnya. Seorang Ahl al-baathin, ahli batiniah yang mempunyai tujuan tak lain adalah akhirat, mereka datang juga untuk belajar.

Banyak orang yang mendatangi Mawlana Syekh Nazim QS, sang arif billah, mereka hanya menginginkan dunia. Mereka percaya pada beliau dan beliau membuat mereka menjadi murid-murid beliau. Mereka mencintai dan menghormati beliau, itu sudah cukup. Dengan cara itu beliau membawa mereka untuk beribadah.

Yang lain yang sedang ber-tazkiyyat an-nafs, kebersamaan mereka menjadikan mereka sebagai murid-murid beliau. Itulah orang yang arif, kalian melihat kehadirannya di antara kaum yang berbeda. Kalian akan kagum karena yang satu tidak cocok dengan yang lain, namun beliau membuat mereka cocok.

Orang yang mengenal Allah SWT, dan Allah SWT telah memberikan padanya, untuk membuat orang lain bahagia dengan apa yang ia berikan.

Dikatakan bahwa wali al-kamal akan berkembang dalam setiap level. Ini adalah evolusi yang nyata, bukan evolusi dari monyet ke manusia seperti teori Darwin. Evolusi yang nyata adalah dalam cara makrifat, ilmu pencerahan. Bergerak ke tingkat yang tinggi dan lebih tinggi lagi, membawa yang di dalam dan di luar sekaligus. Sungguh menakjubkan.

Kalian lihat para pemimpin datang, raja-raja, presiden-presiden datang dan di lain sisi orang-orang yang tulus, spiritualis. Bukannya yang lain tidak tulus, tetapi tingkatnya berbeda.

Itulah yang Allah SWT himbau pada kita. Saat Sayyidina Jibril AS menanyakan Nabi SAW tentang agama, beliau mengatakan bahwa agama terdiri dari 3 aspek: Islam, iman dan ihsan. Dan kita mengkategorikan tingkatan manusia menjadi tembaga, perak dan emas lalu syariah, haqiqat dan makrifat. Kemudian telah kita diskusikan Ahl azh-zhaahir, al-`arif billah dan maqam al-ihsan.

Semoga Allah SWT memaafkan kita semua dan memberikan rahmat malam ini dan dengan kehadiran Nabi kita Muhammad SAW dan syuyukh kita.

Bi hurmatil fatiha.
Wa min Allah at tawfiq