Showing posts with label Syekh Abdul Qadir al-Jilani QS. Show all posts
Showing posts with label Syekh Abdul Qadir al-Jilani QS. Show all posts

27 July 2008

Berada di Maqam Cinta

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Philadelphia
, 14 Mei 1994

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ketika saya mengatakan, “Ini Syekh saya,” maka beliau tetap Syekh saya walaupun beliau akan melumatkan saya di dalam mesin blender. Saya tidak akan mengubah cinta saya pada beliau. Jika cinta saya berubah, saya tidak akan mencapai maqam apa pun. Pikiran-pikiran buruk tentang Syekh akan semakin menarik kalian menjauh dari beliau. Beliau mampu mendeteksi hal itu di dalam hati kalian.

Ketika kalian mengakui mempunyai pikiran-pikiran buruk itu, maka lebih mudah bagi Syekh untuk membersihkannya. Namun sebaliknya, bila si murid berpura-pura di depan Syekhnya bahwa dia adalah murid yang super, bahwa dia mencintai Syekhnya, bahwa dia akan melaksanakan apa yang diminta Syekh, padahal hatinya berbicara sebaliknya, maka Syekh pun mengetahuinya!

Itulah sebabnya di dalam banyak tarekat, ketika Syekh menghijab dirinya sendiri dan berada di “dunia lain” beliau tidak menemukan seseorang yang mampu membawa amanatnya ketika beliau sedang absen. Walaupun ketika di hadapan beliau, mereka tampak sebagai murid yang hebat. Akhirnya, beliau pergi tanpa menunjuk seorang pun, sampai ada yang benar-benar muncul. Ketika murid andalan itu muncul, Syekh memberinya kekuatan. Insya Allah, sebentar lagi murid itu akan muncul di antara kalian. Dia yang akan membawa amanat Syekh dan melanjutkan perjuangannya. Jika kalian pandai, kalian akan tahu siapakah orang itu. Dia adalah seorang yang rendah hati, tidak peduli dengan kehidupan materi ataupun ingin mencapai maqam tertentu dan tidak menonjolkan diri.

Sebuah lukisan Syekh Abdul Qadir Jailani QS yang terdapat di kediaman Abah Anom di Suryalaya.

Seperti ketika seorang murid Sayyidina Abdul Qadir Jailani QS meninggal, dia dikunjungi 2 malaikat dan bertanya, “Siapa Tuhanmu?” Murid itu menjawab, ”Abdul Qadir Jailani QS.” Siapa Nabimu? Dijawab, “Abdul Qadir Jailani QS.” Apakah agamamu? Dijawab, “Abdul Qadir Jailani QS.” ‘Tempatmu di neraka! Ke mana lagi tempat yang cocok bila seluruh pertanyaan dijawab dengan Abdul Qadir Jailani QS.’

Seketika itu Sayyidina Abdul Qadir Jailani QS muncul dan mengatakan, “Siapa yang memberi kalian izin membawanya ke neraka? Dia telah menyebut namaku, paling tidak tanyalah dulu padaku! Aku tidak jauh, dia adalah muridku, jika mau menanyainya, tanyalah aku. Jangan memberi dia siksa kubur tanpa memberi kesempatan meminta dukungan. Hal ini sama dengan menghina aku, aku wakil Nabi Muhammad SAW!”

Kedua malaikat itu takut pada Syekh Abdul Qadir Jailani QS. Mereka tidak ingin kena pukulan lagi seperti yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Umar RA pada mereka. Ketika Sayyidina Umar RA, Khalifah kedua wafat, dua malaikat maut mendatangi beliau. “Siapa Tuhanmu?” Sayyidina Umar RA mempunyai watak yang keras, dan beliau diam saja ketika pertanyaan itu diajukan. “Apa agamamu?” Beliau tetap diam. “Apa kitabmu?” Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya mereka harus membawa beliau menuju neraka.

Sayyidina Umar RA berkata, ”Aku tidak mendengar apa yang kau ucapkan, mendekatlah ke sini.” Mereka mendekat dan mengulang pertanyaan tadi. “Aku masih belum mendengar,… lebih dekat lagi!” Maka Malaikat Munkar AS mendekat dan bertanya lagi, ”Siapa Tuhanmu?” Sayyidina Umar RA segera mengepalkan tangan dan meninjunya tepat di mata Malaikat Munkar AS. Para awliya mengatakan bahwa Malaikat Munkar AS hanya memiliki satu mata saja, itu akibat dipukul oleh Sayyidina Umar RA.

Sayyidina Umar RA berkata, ”Aku baru saja tiba dengan jarak 10 yard, 2 menit dari makamku. Bagaimana mungkin aku lupa siapa Tuhanku dengan waktu sesingkat itu. Sedangkan kalian yang dikirim Allah SWT dari jarak ribuan dan ribuan tahun jauhnya mengaku tidak melupakan siapa Tuhan kalian? Terimalah pukulan keduaku ini!” Segera Malaikat Munkar AS lari menjauh dan Malaikat Nakir AS lari menyusulnya.

Maka kini kedua malaikat itu takut pada Syekh Abdul Qadir Jailani QS. Mereka kembali kepada Allah SWT, dan Allah SWT berfirman, “Dia adalah salah satu awliya-Ku. Tinggalkanlah dia.”

Allah SWT lalu memperpanjang hidup murid itu selama 37 tahun lagi. Mengapa? Karena cinta murid itu pada Syekhnya amat besar dan tidak mampu melihat apa pun kecuali Syekhnya. Itulah murid yang benar, mampu menjaga amanat.

Jika saya bertanya pada kalian sekarang, “Siapa Tuhanmu? Siapa nabimu? Apa kitabmu?” Maka kalian pasti takut untuk menjawab ‘Syekhku!’ Karena itu syirik, kufur, tidak bisa diterima. Meskipun hal itu tidak bisa diterima, dan bahkan kita sadar bahwa kita harus menyembah Allah SWT, dan ketika kita mengatakan, “Allahu Akbar,” kita sedang menyembahnya, namun jika kalian berada dalam Maqam Cinta, maka cinta itu akan mengambil alih pikiran kalian. Pada saat itu kalian tidak bertanggung jawab atas apa yang kalian katakan dan tidak berdosa.

Saat ini kalian pada tingkatan menggunakan akal. Namun pada saat berada di maqam itu, di mana kalian tidak dapat menggunakan akal pikiran, maka kalian bisa mengatakannya dan hal itu tidak dicatat sebagai sebuah dosa. Seperti orang yang tidak waras, jika dia membunuh seseorang, maka kita tidak bisa mengajaknya bicara karena dia tidak menggunakan pikirannya. Tidak bisa ditindak secara hukum karena dia seperti seorang anak kecil, walaupun tindakannya berdasarkan niat sekalipun. Dia tidak bertanggung jawab, dia tidak menggunakan akal pikirannya.

Jika kalian mencapai Maqam Cinta sebagaimana yang telah dicapai para awliya, maka syirik tidak ada artinya. Inilah yang gagal dimengerti oleh para ulama terhadap keberadaan para wali. Ini adalah kesalahan yang dibuat para ulama dulu dan masih berlanjut sampai sekarang. Mereka mengatakan, “Syekh itu musyrik dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa diterima.” Karena Syekh itu tidak sedang berada di maqam yang biasa. Dia sedang berada di Maqam Cinta.


03 July 2008

Tentang Keistimewaan Bulan Rajab

Syekh Abdul Qadir Jailani QS

Al-Ghunya li-Thalibi Thariq al-Haqq

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Beberapa laporan tradisi (sunah) tentang berkah istimewa yang dianugerahkan Allah SWT kepada siapa pun yang melaksanakan salat sunah di bulan Rajab.


Pada saat itu, bulan baru tapat muncul untuk menandai awal Rajab, ketika Syekh Imam Hibatullah ibn al-Mubarak as-Saqati (Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepadanya) memberi berita kepada kami tentang otoritas sunah yang bagus, bahwa Nabi SAW menoleh kepada Salman al-Farisi RA dan bersabda,

“Wahai Salman RA, Allah SWT pasti akan menghapus semua dosa dari setiap mukminin dan mukminat yang melaksanakan salat sunah tiga puluh rakaat (yushalli tsalatsina raka) sehubungan dengan bulan ini, di mana pada setiap rakaat dibaca Surat Pembuka (Fatihat al-Kitab) dan Surat yang dimulai dengan “Qul: Huwa Allahu Ahad” tiga kali, dan Surat yang diawali dengan “Qul: Yaa Ayyuhal Kaafiruun” tiga kali. Ia akan menerima pahala yang sama dengan pahala orang yang melakukan puasa sebulan penuh, ia akan diperlakuakan sebagai orang yang telah melakukan ritual salat terus-menerus (al-mushallin) hingga ke tahun berikutnya, dan setiap hari akan mendapat kredit (kebaikan) sebagai syuhada dalam Perang Badar (syahid min syuhada’i Badr) .

Untuk setiap hari puasa (di bulan Rajab), ibadah selama satu tahun penuh akan dicatat bagi yang bersangkutan, di mana kebaikannya akan dilipatgandakan seribu derajat. Jika ia melakukan puasa selama sebulan penuh, di samping melaksanakan salat sunah khusus (seperti yang disebutkan di atas), Allah SWT akan mengangkat orang itu dari api neraka dan menyatakan bahwa orang itu berhak memasuki Taman Surga, di dalamnya untuk berada dekat dengan Allah SWT.

Jibril AS mengatakan kepadaku mengenai hal ini, dan kemudia ia berkata lagi, “Wahai Muhammad SAW, ini adalah sebuah tanda yang jelas untuk membedakan mukmin sejati, dengan orang-orang musyrik (politheist) dan munafik (hipokrit), karena orang-orang munafik tidak melakukan ritual salat itu (la yushalluna dzalik).

Setelah mendengar kata-kata ini yang ditujukan kepadanya oleh Nabi SAW, Salman RA menjawab dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah SAW, katakan padaku bagaimana tepatnya aku harus melakukan salat sunah khusus ini, dan tepatnya kapan aku harus melakukannya?”

Nabi SAW menjawab, “Wahai Salman RA, pada hari pertama di bulan ini, hendaknya engkau melaksanakan salat sepuluh rakaat. Pada setiap rakaat kau baca Fatihah al-Kitab sekali, lalu Surat yang dimulai dengan “Qul: Huwa Allahu Ahad” tiga kali dan Surat yang dimulai dengan “Qul: Yaa Ayyuhal Kaafiruun” tiga kali. Dan setelah engaku mengucapkan salam terakhir, hendaknya engkau mengangkat kedua tanganmu dan berdoa:

Laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syariika lah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyu la yamutu biyadihil khayr wa huwa ‘alaa kulli syay-in qadiir. Allaahumma la maani’a limaa a’tayta wa laa mu’tiya limaa mana'ta wa laa raadda limaa qadayta, wa laa yanfau' dzal Jaddu minkal Jaddu.

Tidak ada tuhan selain Allah SWT, tak ada sekutu baginya, milik-Nyalah semua kerajaan dan kepada-Nyalah segala pujian. Dia yang memberikan kehidupan dan menyebabkan kematian, sementara Dia Maha Hidup dan tak pernah mati. Semua kebaikan ada di Tangan-Nya, Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Yaa Allah, tak seorang pun dapat menahan apa pun yang telah Engkau berikan, dan tak seorang pun dapat memberi apa yang Kau tahan, dan tidaklah harta dunia memberikan manfaat bagi pemiliknya, bila ia tidak mendapatkan harta (kebaikan) yang datang dari-Mu di akhirat nanti.

Kemudian hendaknya engkau menggosok muka dengan kedua tanganmu, karena pada saat itu kau telah menyelesaikan sepuluh rakaat pertama.

Di pertengahan bulan hendaknya engkau melakukan sepuluh rakaat salat sunah lagi. Pada setiap rakaat hendaknya engkau membaca lagi Fatihat al-Kitab sekali seja, kemudian surat yang dimulai dengan “Qul: Huwa Allahu Ahad” tiga kali dan surat yang dimulai dengan “Qul: Yaa ayyuhal kaafiruun” tiga kali. Setelah engkau melakukan salam terakhir, hendaknya engkau mengangkat kedua tanganmu seperti sebelumnya, namun kali ini hendaknya engkau mengucapkan:

Laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syariika lah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyu la yamutu biyadihil khayr wa huwa ‘alaa kulli syay-in qadiir. Illaahan waahidan ahadan shamadan fardan witran lam yattakhiza shahibatan wa laa walada.

Tidak ada tuhan selain Allah SWT, tak ada sekutu baginya, milik-Nyalah semua kerajaan dan kepada-Nyalah segala pujian. Dia yang memberikan kehidupan dan menyebabkan kematian, sementara Dia Maha Hidup dan tak pernah mati. Semua kebaikan ada di Tangan-Nya, Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. Tuhan Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Yang Bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tidak beristri dan juga tidak beranak.

Kemudian hendaknya engkau menggosok muka dengan kedua tanganmu, karena pada saat itu engkau telah menyelesaikan sepuluh rakaat kedua.

Pada akhir bulan hendaknya engkau melaksanakan salat sunah sepuluh rakaat ketiga dan terakhir. Pada setiap rakaat hendaknya engkau membaca lagi Fatihat al-Kitab, sekali saja; kemudian surat yang diawali dengan “Qul:Huwa Allahu Ahad” tiga kali dan surat yang berawal dengan “Qul: Yaa ayyuhal kaafiruun” tiga kali. Dan setelah engkau mengucapkan salam yang terakhir, hendaknya engkau mengangkat kedua tangan dan berdoa:

Laa ilaaha illallaah wahdahuu laa syariika lah lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyu la yamutu biyadihil khayr wa huwa ‘alaa kulli syay-in qadiir. wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihit thahirina wa laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Hendaknya engkau memohon apa pun yang kau perlukan. Dia pasti akan memberikan tanggapan yang positif atas doamu. Allah SWT akan memberikan jarak sebanyak tujuh puluh lembah antara dirimu dengan neraka Jahanam. Dan setiap lembah ini lebarnya adalah sejauh jarak antara langit dan bumi. Untuk setiap rakaat yang kau lakukan dalam salat sunah tersebut, Dia akan menganugerahkan engkau jutaan rakaat (alfa alfa rak’at). Dia juga akan menulis dalam kitab catatanmu suatu keputusan bebas dari neraka dan izin untuk menyebrangi shirathal mustaqiim.

Diriwayatkan bahwa Salman RA mengatakan, “Segera setelah Nabi SAW selesai berkata, aku langsung menunduk ke tanah dan sujud merendahkan diri sambil menangis karena aku mencari cara untuk menyatakan rasa terima kasihku kepada Allah SWT untuk kehormatan yang baru saja diberikan kepadaku untuk mendengar (uraian dari Nabi SAW untuk pertama kalinya itu).

Sumber:
http://www.sunnah.org/ibadaat/Rajab/ghunya_rajab_frame.htm


22 June 2008

Khalwat dan Peranan Syekh

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
London, 16 Maret 1992/13 Ramadhan 1412


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Athi’ullaha wa athi’ur rasula wa ulil amri minkum” [An-Nisaa, 4: 59] “Patuhlah kepada Allah SWT, patuhi Nabi SAW, dan patuhi pemimpin kalian.”

“Wa min Allah SWT at tawfiq” “Kesuksesan hanya datang dari Allah SWT.”

Kita bertemu di masjid ini dan kita harus memohon, sebagaimana Nabi SAW memerintahkan seluruh sahabat dan semua guru setelah beliau telah memerintahkan murid-muridnya, agar 1 jam duduk di sini akan dihitung sebagai 1 jam berkhalwat. Kalian melepaskan diri dengan dunia luar dan datang ke sini untuk memuliakan Allah SWT, memuliakan Nabi SAW, dan memuliakan Syekh. Untuk menjadi contoh yang baik dan menjadi murid tarekat yang baik. Kalian meninggalkan negri kalian, rumah kalian dan segalanya dan datang ke sini demi kebaikan dan untuk mempelajari sesuatu.

Kalian tidak datang ke sini hanya sekedar mengisi waktu. Kalian datang untuk memperoleh nasihat spiritual dari Syekh. Itulah sebabnya kalian harus mendengarkan dengan baik dan berlaku sesuai dengannya. Jangan datang ke sini, menghabiskan waktu 15 hari untuk berlibur, lalu kembali. Kalau seperti itu, lebih baik tidak usah datang.

Nabi SAW telah memerintahkan semua sahabat untuk berkhalwat atau mengasingkan diri atau bermeditasi. Ini berarti menjaga Hadirat Allah SWT dan kecintaan terhadap Nabi SAW dalam hati mereka. Setelah Nabi SAW, seluruh sahabat, khususnya Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina ‘Ali KW—dari keduanya seluruh aliran tarekat diturunkan—mengajarkan pengikutnya untuk berkhalwat. Grandsyekh pernah berkata, “Seseorang yang tidak pernah berkhalwat selama hidupnya berarti ia telah menyia-nyiakan hidupnya.” Jika kalian tidak pernah berkhalwat walaupun hanya sekali saja, berarti hidup kalian sia-sia.

Kalian tidak akan memperoleh apa-apa dari hidup kalian. Kalian hanya akan mendapat apa yang telah direncanakan oleh Allah SWT bagi kalian. Dan Allah SWT telah berencana agar setiap orang menjadi mukmin yang baik. Itulah sebabnya ketika Dia menciptakan roh manusia, Dia bertanya kepada mereka, “Siapa Aku dan siapa kalian?” Rasul dan para awliya menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu!” Yang lain berkata, “Engkau adalah engkau, kami adalah kami!” yang berarti, “Kami tidak percaya kepada-Mu, jika Engkau adalah Tuhan, kami juga.” Mereka semua adalah orang-orang kafir. Allah SWT melemparkan mereka ke dalam kegelapan selama 70.000 tahun, kemudian memanggil mereka kembali, dan bertanya lagi, “Siapa Aku dan siapa kalian?” Sebagian dari mereka menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu.” Mereka ini juga termasuk mukmin, orang yang beriman.

Kita semua adalah mukmin tersebut. Jangan mendengar ego kalian yang berkata seperti yang kita katakan pertama kali ketika Allah SWT bertanya kepada kita, sebelum Dia melemparkan kita ke dalam kegelapan, “Engkau adalah engkau dan kami adalah kami.” Setelah Allah SWT melemparkan ego ke dalam kegelapan barulah ego menerima dan berkata, “Engkau adalah Tuhan kami!” Sekarang di kesempatan yang lain ketika kita sudah turun ke bumi—dalam bentuk fisik setelah yang pertama makhluk spiritual—kita masih mengatakan, “Engkau adalah engkau dan kami adalah kami.” Tak ada yang menerimanya.

Seluruh guru Tarekat Naqsybandi harus menempatkan muridnya untuk berkhalwat, dengan alasan yang sama ketika Allah SWT menempatkan roh kita ke dalam kegelapan selama 70.000 tahun, yaitu untuk menyemir kita dan mengajarkan kita perilaku yang baik, agar nanti kita dapat menerima kenyataan bahwa, “Engkau adalah Tuhan kami dan kami adalah hamba-Mu.”

Inilah yang diajarkan oleh Mawlana selama ini, untuk menjadi hamba yang baik bagi Allah SWT, untuk mematuhi-Nya. Tetapi ego kita tidak menerima, oleh sebab itu Grandsyekh berkata, sebagaimana Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk berkhalwat, beliau juga harus memerintahkan para pengikutnya untuk berkhalwat. Jika tidak di dunia ini, mereka harus berkhalwat dalam kuburnya, dalam periode 40 hari. Ini adalah kewajiban bagi setiap orang. Tak ada yang membersihkan diri kalian dari perilaku buruk kalian kecuali dengan berkhalwat.

Jika kalian tidak berkhalwat, kalian tidak akan dibersihkan dan kalian akan masuk dalam level ‘penuh warna’ atau ‘multiwarna’. Tarekat Naqsybandi menyebut posisi atau maqam kita sekarang dengan istilah itu—artinya terus-menerus berubah, satu hari kita baik, hari berikutnya buruk dan berikutnya lagi setengah-setengah. Ini tidak bisa dihilangkan dan kita tidak bisa menjadi satu warna saja kecuali dengan berkhalwat.

Saudara-saudaraku, berusahalah sekuat tenaga agar Syekh memerintahkan kalian untuk berkhalwat. Bukan dengan datang kepadanya lalu memohon, “Wahai Syekh, izinkanlah aku untuk berkhalwat,” bukan demikian caranya. Jalannya adalah dengan mencoba menerima apa yang diberikan kepada kalian tanpa menggunakan pikiran kalian. Tetaplah yakin dengan apa yang dikatakannya kepada kalian.


Peranan Syekh

Mengapa sebagian orang disebut mukmin? Karena mereka percaya dengan yang gaib, tidak terlihat. Ketika Nabi SAW datang dan berkata, “Percayalah kepada Allah SWT,” begitu juga Nabi ‘Isa AS dan Nabi Musa AS ketika mereka datang. Yakinlah terhadap hal-hal yang gaib karena jika hal itu sudah terlihat bukan lagi menjadi kepercayaan tetapi merupakan bukti. Saat itu kalian menerimanya sebab kalian melihat sesuatu, dan ini tidak diterima.

Apa yang dikatakan oleh Syekh, jangan ditanggapi dengan berkata, “muhaqqaq” atau “benar!” dengan lidah kalian. Hati kalian yang harus menerimanya. Jika hati kalian tidak menerimanya, kalian tidak akan mendapat apa-apa. Kita harus memperlihatkan kepada Syekh, yang tahu bagaimana kita tidur dan bahkan saat kita tidur, bahwa kita benar-benar mempercayainya. Apakah kalian pikir bahwa Syekh itu seperti kita? Hasha! (bahasa Turki yang berarti Hush!). Suatu ketika Grandsyekh berkata, “Jika seekor semut yang berada di Barat sedang bergerak di atas permukaan batu yang lembut sedangkan Saya berada di Timur, maka Saya dapat mendengar langkah-langkahnya bagaikan mendengar suara guntur.” Dan beliau berkata, “Kami, para awliya Naqsybandi—dapat mendengar dan merasakan gerakan semua murid-murid Kami, apapun yang mereka kerjakan, itu akan terdengar sekeras guntur! Jagalah kehormatan kalian ketika kalian tidur dengan istri kalian, sebab kami mendengar dan melihat segalanya.”

Kita semua berada di bawah Syekh yang sama, dan Syekh itu memegang seluruh kekuatan sebelum diserahkan kepada Imam Mahdi AS. Jika kalian tidak mengetahuinya, kami mengetahuinya. Seluruh kekuatan yang diberikan oleh Nabi SAW kepada para awliya telah ditarik dari tangan mereka dan diserahkan kepada Mawlana Syekh Nazim QS. Wali-wali yang lain tidak bisa menggunakannya tanpa keajaiban atau mukjizat, namun Nabi SAW tidak lagi berkenan untuk menunjukkan suatu mukjizat di zaman sekarang ini. Beliau menginginkan, seperti yang terdapat dalam hadis, bahwa korupsi dan kezaliman menguasai dunia ini. Jika kalian menggunakan mukjizat, kalian akan menghilangkan korupsi itu, tetapi korupsi itu telah mencapai puncaknya. Itulah sebabnya Mawlana selalu bersabar dan lebih bersabar. Bila kalian melihat beliau yang sesungguhnya, pada saat itu kita semua akan terlarut, seperti garam yang terlarut dalam air. Oleh sebab itu jagalah kehormatan terhadap Syekh dalam hati kalian.

Kalian berada dalam pengawasan Syekh selama 24 jam. Kalian tidak akan bisa keluar dari pengawasannya. Beliau melihat kalian. Beliau melihat kalian ketika kalian pergi ke sana ke mari. Tetapi ini masih belum apa-apa, beliau dapat mengetahui rahasia yang terlintas dalam benak kalian dan rahasia yang kalian simpan dalam hati kalian seolah-olah bagaikan suara guntur. Tinggalkan ini juga: dalam setiap hati orang terdapat 5 level. Level pertama adalah maqamul qalb, maqam hati. Setan dapat memasuki level ini dan mengerti apa yang kalian lakukan, inilah sebabnya kadang-kadang kalian mempunyai pikiran yang buruk. Kalian terganggu ketika sedang salat, kalian dicurangi dalam bekerja atau merasa curiga…

Ada level yang lebih tinggi: maqam rahasia (sirr). Sekarang terdapat perbedaan yang nyata antara kesadaran dan bawah sadar. Yang kedua adalah yang kalian letakkan jauh dalam lubuk hati kalian di mana kalian menguburkan segala hal. Terdapat suatu ekspresi ilmiah untuk maqam kedua di dalam hati ini, ia dapat mengenal informasi, dan Allah SWT telah memberi suatu rahasia kepada setiap umat manusia. Kita telah diciptakan dengan kemuliaan dari Allah SWT, kerena Dia menciptakan kita dengan 3 cahaya, cahaya Allah SWT, cahaya Nabi SAW, dan cahaya Adam AS.

Umat manusia adalah umat yang mulia. Mereka diciptakan dengan kesempurnaan. Allah SWT berfirman, “Wa laqad karramna bani adam,” “Aku telah memuliakan umat manusia,” [al-Isra, 17: 70]. Dengan kemuliaan seperti apa? Kesempurnaan dalam ciptaan. Dalam banyak hadis, Nabi SAW menuturkan tentang Allah SWT dalam hubungannya dengan umat manusia, “Aku melihat Tuhanku datang kepadaku dengan tersenyum.” Tidak berarti bahwa Dia termasuk umat manusia, tetapi itu berarti bahwa umat manusia diciptakan dengan sempurna.

Tidak ada yang tahu dengan rahasia apa Dia telah menganugerahkan cahaya yang Dia tanamkan dalam hati kalian. Itulah yang ingin dikemukakan dalam ajaran-ajaran Tarekat Naqsybandi. Syariat mengajarkan kalian dasar-dasar memerangi setan dan mengeluarkannya dari dalam hati kalian. Tarekat menjaga syariat dan menuju ke tingkat yang lebih tinggi—untuk menyarikan rahasia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kalian. Ini menjadi tanggung jawab Syekh dan tidak dapat diberikan kepada kalian tanpa melalui khalwat. Syekh dapat mengetahui dan mendengar apa yang terjadi dalam tingkat kedua ini.

Maqam ketiga adalah Rahasia dari Rahasia (sirr as-sirr), kemudian muncul maqam keempat yaitu, Yang Tersembunyi (Khafa) dan maqam kelima Yang Paling Tersembunyi (Akhfa). Tak seorang pun dapat memasuki maqam ketiga kecuali para guru Tarekat Naqsybandi. Guru-guru dari 40 tarekat yang lain hanya dapat memasuki tingkat kedua saja. Tak seorang pun kecuali Nabi SAW yang dapat memasuki maqam keempat dan maqam kelima hanya diketahui oleh Allah SWT sendiri, yang mengetahui bagaimana Dia telah memberi kemuliaan kepada umat manusia.

Lihatlah, umat manusia adalah umat yang mulia. Tidak ada diskriminasi dalam pandangan Allah SWT di tingkat tersebut, tidak ada Muslim, Kristen, Yahudi, Buddha, dan Hindu. Yang ada hanya, “Wa maarsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin,” “Kami telah mengutusmu sebagai rahmat bagi umat manusia,” [al-Anbiya, 21: 107]. Tidak ada perbedaan dalam tingkatan itu.

Diskriminasi berasal dari kita. Kitalah yang berkata, “Mereka Yahudi, mereka Kristen,” orang Kristen berkata, “Mereka muslim, mereka Yahudi,” tetapi tidak ada istilah itu dalam pandangan Allah SWT. Yang ada hanya umat manusia—periode. Kalian tidak diperkenankan untuk berbicara tentang keburukan saudara-saudari kalian! Kalian akan mencampuri penilaian Allah SWT. Padahal kalian bukanlah penilai, Allah SWT adalah Sang Penilai. Oleh karena itu jangan mencampuri jalan Allah SWT dengan memberi penilaian kalian. Allah SWT tidak akan bertanya tentang penilaian kalian di Hari Pembalasan nanti.

Jika Allah SWT berkata, “Aku ingin menempatkan setiap orang di surga,” siapa yang dapat berkata kepada-Nya, “Apa yang Engkau lakukan?” Dan jika Dia berkata, “Aku ingin menghukum semua orang,” siapa yang dapat berkata kepada-Nya, “Apa yang Engkau lakukan?” tidak seorang pun yang bisa. Dan apakah kalian berpikir bahwa Allah SWT telah menciptakan kita untuk dihukum? Apakah Dia termasuk pendendam, Dzat yang menyukai balas dendam atau memberi hukuman? Dzat yang menciptakan hamba-Nya untuk disiksa? Apakah kalian menerima pandangan ini? Ini mustahil. Allah SWT Maha Penyayang, Dia menjaga kasih sayang-Nya terhadap semua hamba-Nya. Nabi SAW berkata, “Saat yang paling indah dalam hidupku adalah ketika Allah SWT memanggilku dengan nama, ‘hamba’ atau ‘budak’—‘abd—dan Dia berkata, ‘Ke marilah hamba-Ku.’

Mawlana Syekh Nazim QS mengajarkan kita untuk menjadi hamba-Nya yang baik. Mengapa kita tidak menerima dan mematuhinya? Kita datang ke sini selama berjam-jam, siang dan malam, untuk mendapat sesuatu. Segala sesuatu yang ingin kita dapat tergantung pada penghambaan kita. Beliau mengajarkan kita untuk menjadi pelayan, bukan untuk menjadi—seperti yang beliau bilang kemarin—perkasa! Sebutan Perkasa adalah milik Allah SWT. Kita semua adalah hamba. Lebih jauh lagi, kita adalah hamba yang lemah dan tidak berdaya. Kita tidak bisa mengerjakan apapun. Inilah sebabnya Allah SWT memberi Nabi SAW perantaraan, dan Nabi SAW berkata, “Syafa’ati li ahlil kaba’iri min ummati,” “Perantaraanku adalah untuk para pendosa di antara umatku,” (Tirmidhi, Abu Daud, Hakim, Suyuti). Kita lemah dan tidak sempurna, tetapi kita harus mengajarkan diri kita untuk menerima apa yang dikatakan oleh Syekh dan untuk mengkilapkan hati kita.

Syekh tidak tergantung pada kita. Mereka tergantung pada kekuatan yang telah diberikan Allah SWT kepada Nabi SAW, dan yang telah diberikan oleh Nabi SAW kepada mereka. Inilah sebabnya Allah SWT mengatakan, “Datanglah kepada-Ku satu langkah, Aku akan datang kepadamu 99 langkah.” Datanglah kepada Syekh satu langkah, dan beliau akan berlari mendatangimu 99 langkah. Bila kalian tidak berusaha untuk mendekatinya walaupun hanya satu langkah, bagaimana beliau datang kepada kalian? Beliau tidak akan datang. Kalian harus menunjukkan kemajuan dalam hati kalian.

Grandsyekh memerintahkan setiap orang untuk berkhalwat, namun dalam konteks ini kita harus mengerti. Setiap orang harus mengajari dirinya sendiri untuk menyemir hatinya. Kita tidak dapat berkhalwat sekarang. Kita semua adalah pendosa dan tidak seorang pun benar-benar mempunyai niat dalam hatinya untuk berkhalwat. Dengan alasan itu terdapat cara lain. Mawlana Syekh Nazim QS telah memberikan jalan bagi kita untuk mendekatinya dengan cepat. Sebagian orang mengendarai keledai, yang lain dengan kuda, beberapa orang dengan mobil, pesawat, dan ada juga dengan roket. Makin cepat mereka pergi, makin cepat kalian bisa mendekatinya.

Grandsyekh berkata, “Aku akan mengajarimu suatu cara untuk mendekatiku dengan sangat cepat. Kapan pun kalian datang dan duduk dalam suatu asosiasi, atau ketika kalian salat di malam hari, atau siang hari, atau ketika berzikir, atau membaca al-Qur’an atau Hadis, atau melakukan hal yang lain, ketika kalian duduk, bacalah:

Nawaytul arba’in...Aku berniat selama 40 (hari)
Nawaytul i’tikaf ... Aku berniat mengasingkan diri
Nawaytul khalwa... Aku berniat untuk berkhalwat
Nawaytul ‘uzla ... Aku berniat menutup diri
Nawaytul riadha... Aku berniat untuk patuh dan setia
Nawaytul suluk... Aku berniat untuk berdisiplin
Nawaytul siyam... Aku berniat untuk menahan nafsu
Fi hadzal masjid ... Di tempat ibadah ini
Lillahi ta’ala ... Karena Allah SWT ta’ala

Nabi SAW biasa membaca niat yang sama ketika beliau mengasingkan diri di gua Hira sebelum datang suatu rahasia kepadanya. Ketika para sahabat dan seluruh guru berkhalwat mereka juga mengucapkan niat yang sama. Ketika kalian membaca niat ini untuk pertemuan yang berlangsung selama 1 jam ini, maka waktu ini akan diambil dari khalwat selama 40 hari yang merupakan kewajiban bagi kita. Bacalah niat itu sebelum memulai suatu pertemuan, ia akan membawamu kepada Syekh seperti roket.

Berapa tahun kalian telah bersama Syekh Nazim QS? Jika kalian menghitungnya semua, dan masing-masing mempunyai niat seperti itu, maka kalian tidak akan meninggalkan ruangan tanpa dicatat bahwa kalian telah menghabiskan waktu 2, 3 atau 5 jam berkhalwat. Waktu tersebut akan diambil dari waktu 40 hari berkhalwat. Jika kalian telah menyelesaikan masa 40 hari itu, kalian akan merasakan bahwa cahaya yang telah diberikan Allah SWT kepada kalian menjadi terbuka dan cahaya itulah yang akan membuka mata hati kalian. Tanpa ini kalian tidak akan menemukan kegembiraan yang sekarang masih tersembunyi dalam hati kalian. Kalian harus mengeluarkannya. Ini adalah satu cara untuk mengkatrolnya. Bacalah niat ini selalu saat kalian bersama Syekh.


Perbuatan yang Mendatangkan Kutukan

Suatu hari Nabi SAW memanggil Bilal RA sesaat sebelum tengah malam, dan memerintahkannya untuk mengumandangkan azan agar setiap orang datang kepadanya. “Cepat! Aku tidak bisa menunda pesan ini kepada para sahabat.” Bilal RA merasa ngeri sekaligus penasaran mengapa Nabi SAW ingin mengumpulkan semua orang pada jam seperti itu. Apakah Hari Kiamat telah tiba? Nabi SAW merinding. Bilal RA lalu pergi ke masjid dan mengumandangkan azan. Para Sahabat segera berlari ke masjid dan menunggu kedatangan Nabi SAW. Ketika beliau datang, mereka tidak menerima kedatangannya seperti yang kita lakukan ketika menyambut Mawlana Syekh Nazim QS ketika beliau masuk ke masjid. Kita berlari mengerumuninya, sayang sekali seperti keledai. Kita harus memberinya hormat. Ketika Mawlana masuk, kalian harus berdisiplin, berdiri membuat suatu barisan dalam jarak tertentu untuk menunjukkan penghormatan kepadanya. Bukannya berlari-larian seperti biri-biri atau ayam. Kalian harus mencium tangannya, tetapi jangan berkerumun dan menutupi jalannya. Bahkan ketika Mawlana ingin menuju ke mobilnya, beliau tidak dapat memasukinya dengan leluasa, selalu ada yang merintanginya. Mengapa kalian tidak berdiri saja dan menunjukkan rasa hormat kalian?

Suatu hari Sayyidina ‘Abdul Qadir Jailani QS berjalan dengan para pengikutnya di suatu lorong di Baghdad dan beliau melihat seseorang datang dari arang yang berlawanan di sebrangnya. Para pengikutnya berjalan sesuai dengan adab, tak ada yang berjalan di sampingnya seluruhnya berada di belakangnya. Berbeda dengan di sini, setiap orang berusaha untuk berjalan di samping Syekh dan salat di samping Syekh! Apa tingkatan kalian berani berbuat demikian? Berdirilah di belakangnya untuk menunjukkan bahwa kalian menghormatinya, tidak di sampingnya, kecuali jika tidak ada tempat di masjid itu. Murid-murid Sayyidina ‘Abdul Qadir Jailani QS tidak berkerumun dengan berjalan berjejer di sisi yang sama, seperti yang kita lakukan. Mereka berjalan satu di belakang yang lain, dan Syekh sendirian di depan. Kalian tidak bisa berada di tingkatannya! Ajari diri kalian sendiri mengenai adab dan penghormatan ini.

Seorang pendeta datang dari arah yang berlawanan dari lorong tersebut, dan dengan segera Syekh ‘Abdul Qadir Jailani QS memberi jalan, dan demikian pula semua muridnya. Tidak ada yang berkata, “Orang ini seorang pendeta!” Mereka semua memberinya jalan. Ketika pendeta melihat penghormatan dari Syekh dan seluruh muridnya ini, dia lalu membungkukkan kepalanya kepada Syekh ‘Abdul Qadir Jailani QS. Beliau membalasnya dengan membungkukkan badan sampai ke pinggangnya. Ketika pendeta melihat hal ini ia lalu mengucapkan, “Asy-hadu an la ilaha illAllah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasulullaah.” Pendeta itu tahu kebenaran yang hakiki dan kejadian tadi membuatnya malu. “Wahai Syekh,” kata murid-muridnya, “Apa yang terjadi? Mengapa engkau memberikan begitu banyak penghormatan kepadanya?” Syekh menjawab, “Aku memberi hormat kepada cahaya yang Allah SWT berikan kepadanya dan Aku menghormati kedua malaikat yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.” Penghormatan inilah yang menyebabkan cahaya itu keluar dan membuat pendeta itu bersyahadat. Dengan demikian memberi hormat adalah sangat penting.

Ketika Nabi SAW akhirnya datang ke masjid, seluruh sahabat telah berbaris dengan kepala tertunduk. Nabi SAW lewat tanpa rintangan menuju tempatnya. Sesampainya di sana, beliau kembali merinding dan berkata, “Allah SWT telah mengutus Jibril AS kepadaku dan berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW! Panggil seluruh pengikutmu dan sampaikan pesan itu!’ Ini adalah pesan yang tersulit yang pernah Jibril AS berikan selama hidupku. Aku sangat takut akan pesan ini sehingga Aku segera mengumpulkan kalian di sini agar kalian bisa mendengarkan dan mematuhi pesan ini.” Para sahabat merasa gelisah, apakah akan ada suatu pertempuran yang besar atau sesuatu yang datang dari surga.

Nabi SAW berkata, “Allah SWT telah memberitahuku semalam, bahwa Dia telah memerintahkan seluruh malaikat di ketujuh surga, Aku, dan seluruh nabi dan rasul yang telah meninggal untuk mengutuk dan memberikan kesulitan kepada orang yang tidak mematuhi pesan ini.” Seluruh orang menjadi ketakutan, apa yang bisa menyebabkan kutukan dari Allah SWT, malaikat, nabi dan rasul? Nabi SAW melanjutkan, “Jika seseorang menyebabkan orang lain bercerita tentang kejadian buruk yang telah terjadi 2 jam sebelumnya, mereka akan dikutuk.” Hal ini berarti jika terjadi sesuatu yang salah dan hal itu membuat orang menjadi bingung, atau seseorang telah berkata kasar kepada orang lain dan kalian menceritakan kembali hal tersebut dalam percakapanmu lebih dari 2 jam kemudian, berarti kalian telah mendatangkan kutukan dari Allah SWT, Nabi SAW, malaikat dan seluruh nabi dan rasul.

Kalian harus bisa menyembunyikan kesalahan saudara-saudari kalian, karena Allah SWT menyembunyikan kesalahan seluruh umat manusia. Kalian tidak perlu menunjukkan kesalahan mereka karena kalian sendiri juga mempunyai kesalahan. Jika kalian menyembunyikan kesalahan mereka, Allah SWT tidak akan menunjukkan kesalahan kalian, inilah arti dari SATTAR, Yang Menyembunyikan. Sembunyikanlah kesalahan mereka, jangan mengatakan sesuatu yang menyakitkan saudara-saudari kalian, maka Allah SWT akan menyembunyikan kesalahan kalian. Setiap orang mempunyai kesalahan yang disimpan dalam hati masing-masing. Jika kalian berusaha keras untuk menyembunyikan kesalahan kalian mengapa kalian malah mengumbar kesalahan orang lain? Allah SWT telah berjanji dengan Kemuliaan dan Kebesaran-Nya bahwa Dia akan mengutuk orang yang tidak menyembunyikan segala kejadian buruk yang telah menimpa mereka.


Wa min Allah at tawfiq

11 June 2008

Siapa Kita, Ahl as-Sunna wal-Jama’ah?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Saudara-saudara yang terhormat, para ‘ulama dan saudari-saudari yang dimuliakan, Saya ingin mengatakan bahwa selain para ‘ulama, kita juga mempunyai Imam Senad, yang bertanggung jawab terhadap masyarakat Bosnia di Amerika dan Imam mereka. Kita menyambut mereka karena beliau baru saja tiba dari perjalanannya ke Bosnia dan beberapa negara lainnya. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan dukungan kepadanya.

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bahwa malam ini kita berada di sini untuk Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS, Ghawts Azham. Ghawts Azham berarti Busur-Perantara. Beliau adalah seorang perantara bagi manusia di Hadirat Muhammad SAW yang pada gilirannya Rasulullah SAW menjadi perantara di Hadirat Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam suatu hadis (qudsi) bahwa ada beberapa orang “yang dapat menjadi perantara di Hadirat-Nya, melalui Izin-Nya.” Dewasa ini kita harus mengatakan bahwa suatu hadis adalah hadis yang “otentik”, karena sekarang banyak sekali kemunafikan. Sebelumnya, kita tidak perlu mengatakan hadis itu “otentik”. Segera setelah kalian bilang hadis, setiap orang akan mengerti bahwa itu adalah sebuah hadis. Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah dan kita harus meyakini apa yang telah diajarkan dan diberikan oleh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah kepada kita. Tidak seperti pseudo-‘ulama sekarang yang merasa bahwa mereka sudah sangat tinggi posisinya. Semoga Allah SWT melindungi Islam dari orang-orang yang munafik.

Saya sangat bergembira bahwa pada hari ini Saya berada di sini, di sebuah Muslim Center, di mana setiap orang datang bersama-sama untuk beribadah kepada Allah SWT. Hanya Allah SWT yang patut disembah dan Sayyidina Muhammad SAW yang patut dipuji. Sayangnya sekarang sebagian besar orang kebingungan dalam hal menyembah dan memuji. Jika kita bilang bahwa kita memuji Nabi Muhammad SAW, mereka bilang kita menyembahnya. Jika kita memuji Syekh, mereka juga bilang bahwa kita menyembahnya. Jika kalian bertanya kepada seorang anak Muslim dengan suatu pertanyaan sederhana, “Siapa Allah SWT?” “Siapa yang menciptakanmu?” ia akan berkata, “Allah SWT.” “Siapa yang kamu sembah?” Dia akan berkata, “Allah SWT” Kita tidak pernah mengatakan kepada anak-anak, “Katakanlah Muhammad SAW.” Kita tidak pernah melihat seorang anak yang mengatakan, “Aku memuji Nabi Muhammad SAW.” Dari mana mereka membawa ideologi baru ini, bahwa jika kalian memuji Sayyidina Muhammad SAW “terlalu banyak” kalian bersalah telah melakukan dosa syirik? Allah SWT memerintahkan kita untuk memuji Nabi Muhammad SAW!

Dalam Islam tidak ada pemilihan. Dari mana mereka membawa ide demokrasi ini? Tidak ada demokrasi dalam Islam! Islam adalah bay’at kepada amir, pemimpin. Ketika kalian menyerahkan tangan kepada amir, ia akan memelihara kalian. Dari mana kalian mendapat istilah “dewan perwakilan!?” dan para “direktur” dan beberapa nama-nama lain yang menonjol ini? Kalian bukanlah apa-apa melainkan hanya anak kecil—duduk dan berpikir bahwa kalian adalah seorang Firaun. Allah SWT akan memperhitungkan segalanya. Dan Allah SWT akan bertanya kepada kalian tentang hal ini di Hari Pembalasan nanti.

Kalian menentang Allah SWT dan para awliya-Nya. Bahkan guru-guru kalian, para ‘ulama kalian, guru Ibnu Taymiyyah dalam bukunya, Fatawa al-Kubra, beliau mengutip hadis suci dari Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman, “(ini dari guru kalian Ibnu Taymiyyah) SIAPA PUN YANG MENENTANG WALI, AKU AKAN MENYATAKAN PERANG TERHADAPNYA!” (dari keramaian terdengar suara “Allahu Akbar!”). Ini adalah guru kalian, bukan guru kami. Walaupun beliau seorang muhaddits yang baik, seorang faqih yang baik, dan ahli dalam bahasa Arab, ‘aqidahnya telah mengalami kerusakan. Mereka berkata bahwa ‘aqidah Qadiri, Naqsyabandi, Rifa’i, Chisti telah mengalami kerusakan. Tidak, ‘aqidah merekalah yang rusak (Allahu Akbar!). Karena ‘aqidah kita merupakan sumber, ia adalah inti dari Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, ‘aqidah para Sahabat dan Rasulullah SAW. Dan itu merupakan kondisi ihsan.

‘Aqidah kita tidak terkorupsi. Tidak seperti mereka, kita tidak berkata bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi. Kita tidak berkata bahwa Allah SWT menghadap arah tertentu. Kita tidak berkata bahwa Allah SWT mempunyai tubuh. Tidak! Kita mengatakan, “Dia bersama kalian, di mana pun kalian berada.” Siapa yang lebih baik, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berkuasa, Allah SWT atau Setan? Setan selalu bersama kalian di mana-mana, jadi apakah Allah SWT tidak bersama kalian? Mereka berkata, “Tidak, Allah SWT tidak bersama kalian, Pengetahuan-Nya yang bersama kalian.” Tidak. Kalian tidak bisa menuduh orang lain sebagai musyrik atau kafir. Mereka berkata bahwa kalian harus mengatakan “tawhid uluhiyyah” atau “tawhid rubbiyyah.” Sekarang mereka telah menemukan terlalu banyak tawhid. Kita mengucapkan, “La ilaha illallah.” Inilah yang kita ketahui. Sekarang mereka berkata, “Tidak, kalian harus mengatakan ‘tawhid uluhiyya’ dan ‘tawhid rubbiya.’” Tawhid uluhiyya adalah mengucapkan “La ilaha illallah,“ kemudian tawhid rubbiya adalah mengucapkan “La ilaha illallah”. Rasulullah SAW tidak berkata, “Ucapkanlah ‘La ilaha illallah’ dan ‘La ilaha illallah.’ Rasulullah SAW berkata, “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah SAW.”

Apa yang kita ucapkan? “Kita adalah Ahl as-Sunnah wal Jama’ah.” Sebagian orang mengikuti Ibnu Taymiyyah dan Ibnu Qayyim. Ahl as-Sunnah wal Jama’ah adalah pengikut keempat Imam Mahzab dalam Islam. Ibnu Hajar Asqalani, As-Subki, Imam Nawawi merupakan penganut ‘aqidah ‘Asyari dan mereka adalah Sufi. Mereka mempunyai imam, mereka mempunyai syekh. Bahkan Ibnu Taymiyyah sendiri mempunyai seorang Syekh—Abdul Qadir Jilani QS. Beliau melakukan bay’at di tangan Syekh Abdul Qadir Jilani QS melalui enam generasi. Bagaimana kalian menyangkal tasawwuf?

Para pengikut Ibnu Taymiyyah, pergilah dan baca buku beliau. Bukankah Ibnu Taymiyyah telah mendedikasikan dua volume (Fatawa Al-Kubra volume 10 dan 11) yang berisi uraian tentang tasawwuf dan pencarian jalan menuju Allah SWT melalui para awliya? Setiap buku terdiri atas 700 halaman sehingga totalnya 1400 halaman, dan setiap kata melukiskan Sufisme, dan beliau berkata, “Tasawwuf adalah keadaan ihsan yang dalam Al-Qur’an dilukiskan sebagai tazkiyyat-an-nafs.” Tetapi karena istilah tasawwuf diturunkan dari empat akar yang berbeda, ia menjadi tasawwuf. Satu akar berasal dari suff--wool, dan satu lagi dari suffa--spons yang lunak. Kemudian beliau menyebutkan bahwa Allah SWT berfirman, “Siapapun yang menyakiti salah satu waliku, Aku akan menyatakan perang terhadapnya.” Ibnu Taymiyyah banyak menyebutkan bahwa awliya berada pada level yang berbeda. Beliau mendefinisikan tasawwuf sebagai salah satu dari tiga tipe yang berbeda. Sebagian orang adalah mustaswifiin—mereka tidak mengerjakan apa-apa yang berhubungan dengan tasawwuf, namun mereka menggunakannya untuk mencari uang—ini adalah satu sisi. Yang lain menggunakan tasawwuf untuk mendapatkan ketenaran, ini juga satu sisi yang lain. Tetapi ada mutasawwifa yang benar-benar berada di jalan Ahl as-Sunnah wal Jama’ah, di jalan Sayyidina Muhammad SAW. Mereka mendapat ma’rifah—mereka adalah orang yang berilmu pengetahuan dan inilah sufi yang dijalani oleh Ibnu Taymiyyah.

Ibnu Taymiyyah adalah salah seorang pengikut Tarekat Qadiri, dan dalam kedua bukunya beliau menyebutkan dua orang pengikutnya, Saqqati QS dan Junayd QS. Beliau juga menguraikan tentang Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS dari Tarekat Naqsyabandi. Kemudian dari pihak wanita beliau menyebutkan Rabia al-‘Adawiyyah QS. Dan beliau memberi penjelasan tentang apa yang tidak dimengerti orang tentang ucapan para awliya, dan memaklumkan ungkapan mereka (syatahaat). Beliau merasakan bahwa orang-orang ini ketika menyampaikan ajarannya, mereka berada dalam keadaan ma’rifat, dalam keadaan fana, dan dalam suatu keadaan yang kasyf. Beliau bahkan mengakui adanya keadaan kasyf (pandangan spiritual) dalam bukunya Fatawa Al-Kubra yang berjumlah 37 volume. Kalian yang berbahasa Arab, bacalah volume 10 dan 11, kalian akan menemukannya.

Jadi, kepada siapa kita harus takut? Kita harus mengatakan yang haqq melawan yang baathil. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an yang suci, “Mereka yang mengingat Allah SWT, dan mereka yang berzikir.” Dan Dia berkata, “mereka,” dalam bentuk jamak. Dia tidak berkata secara individual, Dia berkata jama’ah, dan itu dikatakan dalam al-Qur’an yang suci. Jadi apa yang menjadi masalah di sini? Tidak ada masalah. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan kita, “Berselawatlah kepada Rasulullah SAW dan pujilah beliau.”? Jadi jika kita berdiri dan memuji Rasulullah SAW, bukankah ini perintah Allah SWT dalam al-Qur’an yang suci? Kita berdiri dan mengucapkan, “As-salamu ‘alayka ya ayuhan-Nabi, as-salamu ‘alayka ya Rasulullah, as-shalat was-salamu ‘alayka ya Habibullah, wa-shalatu was-salamu ‘alayka ya Syafi’ullah, was-shalatu was-salamu ‘alayka ya Nabi-ullah.” Alhamdulillah kita berdiri dan memberi salam.

Siapa bilang bahwa Rasulullah SAW tidak mendengar kita? Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang memberi salam kepadaku, Aku akan mendengarnya, siapapun yang memberi salam kepadaku dari tempat yang jauh, Aku akan menerima salamnya”? Kita berada jauh dari Madinah—jika kita memuji Rasulullah SAW, beliau akan menerima pujian itu dengan segera. Dan Allah SWT memerintahkan beliau, “Jika seseorang memujimu, berikan balasannya.” Dan Allah SWT berfirman, “Siapapun yang memuji Rasul-Ku Muhammad SAW, Aku akan membalasnya 10 kali lipat.”

Bukankah Rasulullah SAW bersabda, “’Amal umatku akan dipersembahkan kepadaku di makamku.”? Beliau tidak membatasinya siang atau malam—keadaan ini berlangsung terus-menerus, tanpa pernah berhenti. Rasulullah SAW selalu dalam keadaan mengamati amal seluruh umatnya. Jika perbuatan kita baik, beliau berdoa kepada Allah SWT, jika perbuatan kita buruk, beliau memohon kepada Allah SWT untuk mengampuni perbuatan kita. Apa lagi yang kalian harapkan dari Rasul kita? Beliau selalu dalam keadaan siaga. Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT telah melarang bumi untuk memakan daging para Rasul.” Rasulullah SAW selalu dalam keadaan siaga—ini berarti beliau dalam keadaan terus-menerus bersiaga dengan tubuhnya di makamnya. Dan makam itu adalah Riyadzul-Jannah, makam beliau adalah Kebun Surga bagi Rasulullah SAW.

Para pengikut mahzab “Salafi” berkata bahwa Rasulullah SAW duduk dalam makamnya, 6 kali 3 kaki. Tidak. Makam itu adalah sebuah Surga yang sangat luas sehingga tidak ada orang yang mengetahui batasnya. Bisa jadi lebih luas dari alam semesta ini. Jadi jika beliau dianugerahi tugas untuk selalu mengamati perbuatan umatnya dan beliau selalu dalam keadaan siaga, itu berarti beliau selalu berada dalam cahaya yang kontinu. Dan beliau bersabda mengenai peristiwa ‘Isra Mi’raj, “Aku melihat Musa AS salat di makamnya.” Bagaimana beliau melihat Musa AS—salat, berdiri, duduk atau berbaring? Pandangan macam apa yang beliau miliki? Itu adalah suatu realitas! Rasulullah SAW bersabda, “Aku melihat Musa AS berdiri, salat di makamnya.” Jika Rasulullah SAW mengatakan berdiri, salat di makamnya (beliau tidak mengatakan bahwa Nabi Musa AS berdiri “tanpa tubuh tetapi dengan jiwanya,” tidak, beliau berkata, “berdiri, salat di makamnya”, jadi kita harus memahaminya secara harfiah, sebagaimana orang “Salafi” berkata bahwa kalian harus memahami segala sesuatu secara harfiah. Jadi kita juga melakukannya kali ini. Bagaimana kalian berdiri dan salat? Tunjukkan kepada Saya, biarkan salah seorang melakukannya. Dengan tubuhnya, dan itulah sebabnya mengapa Allah SWT memberikan para awliya sebuah maqam yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Khususnya kepada mereka. Tidak seorang pun yang dapat mencapai level itu.

Sayyidina Muhammad SAW adalah Rasul penutup, beliau adalah Rasul pertama dan sekaligus Rasul terakhir. Beliau mencakup segalanya, seperti dua kutub, dua magnet. Satu magnet positif, yang lain negatif, keduanya tarik-menarik. Menarik alam semesta ini secara bersamaan. Kenabian beliau adalah sejak awal, itulah sebabnya Sayyidina Muhammad SAW bersabda, jika kita mempunyai akal yang bisa mengerti, “Aku adalah seorang Rasul ketika Adam AS masih berwujud antara tanah liat dan air,” dan “ Aku adalah Rasul penutup.” Jadi beliau lebih tua dari masa sejak awal penciptaan hingga akhir penciptaan. Penciptaan itu terletak di antara kedua kutubnya. Beliau adalah kutub magnet yang mengendalikan segalanya, dengan izin Allah SWT—kepada Sayyidina Muhammad SAW. Dan itulah sebabnya Allah SWT berfirman, “Jika bukan untukmu, Aku tidak akan menciptakan semuanya.”

Jika kalian Arab, alhamdulillah. Itu adalah salah satu yang patut disyukuri sebab Rasulullah SAW adalah Arab. Kehormatan kita sebagai orang Arab berasal dari kehormatan Rasulullah SAW, Sayyidina Muhammad SAW. Dan beliau bersabda, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal ketaqwaannya.” Kalian datang ke sini untuk memperingati dan merayakan seorang yang telah Allah SWT berikan kekuatan spiritual—Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS. Dan dengan melakukannya, kalian juga diberi kehormatan dan cinta kepada Sayyidina Muhammad SAW sebab Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS adalah cucu beliau.

Sebelum Saya akhiri, Saya ingin mengatakan bahwa, alhamdulillah, Allah SWT akan melindungi umat ini. Dan kita berada di jalur yang benar. Kita senang untuk mengucapkan, “Semoga Allah SWT membagi apapun pahala yang Dia berikan dalam pertemuan ini demi kemuliaan dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dan apapun berkah yang diberikan Allah SWT kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS dan seluruh aliran Sufi, seluruh orang spiritual, dan seluruh Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Semoga Allah QS membagi kita dengan berkah yang diberikan kepada Sayyidina Abdul Qadir Jilani QS, dan berkah kepada Sayyidina Muhammad SAW. Dan kita memohon kepada Allah SWT untuk membawa seluruh hati kembali kepada Ahl as-Sunnah wal Jama’ah. Menjadi satu hati dalam kesatuan. Insya Allah.

Faatiha.