Showing posts with label Wanita. Show all posts
Showing posts with label Wanita. Show all posts

21 March 2011

Nasihat untuk Perlindungan bagi Kaum Wanita


Sultan al-Awliya

Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani

15 Maret 2011 Lefke, Siprus

A`uudzu billahi min asy-Syaythani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.

Tidak ada yang berjalan seperti yang kita inginkan, mengerti? Kita harus mempunyai dua sayap: satu untuk bersyukur, dan satu lagi untuk bersabar, barulah kita bisa terbang bersama. Itu adalah kebiasaan atau tradisinya Allah (swt). Oleh sebab itu, lebih baik untuk bersabar dan bersyukur adalah yang terbaik.

Apakah kalian semua mempunyai ibu dan ayah? (ya). Apakah kalian semua bekerja sekarang? (ya). Semoga Allah memberi kalian hari-hari yang menyenangkan. (Mawlana Syekh Nazim memberikan bay`at.)

Setiap hari, bacalah, “RabbunAllah, HasbunAllah” 100 kali. Jika kalian ingin melakukannya lebih banyak, boleh. Setiap pintu yang tertutup akan terbuka bagi kalian, jangan khawatir. Jagalah salat kalian dan berusahalah untuk membaca Kitab Suci al-Qur’an.

Jangan keluar di malam hari, tinggallah di rumah. Katakan pada suami kalian, saudara, atau ayah kalian bahwa kalian tidak bisa keluar rumah tanpa ditemani oleh seorang pria. Jangan tinggalkan rumah kalian di siang hari dan khususnya malam hari tanpa ditemani seorang pria. Tutuplah pintu kalian dari kehidupan malam; tinggallah di rumah. Banyak peristiwa yang akan terjadi. Kalian pasti telah mendengar apa yang terjadi di Jepang. Tidak seorang pun yang dapat memberikan jaminan kepada kalian bahwa tempat ini tidak akan mengalami hal yang serupa dengan di sana, tidak ada! Tinggallah di rumah dan percayalah dengan perlindungan Tuhan kalian.

Fatihah.

https://docs.google.com/document/pub?id=10mzeS5fz5TGmbNCrFGoqL-Vov55tVvEpx8T8juG_KIc&pli=1

06 November 2008

Mengenai Wanita Karier

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

(Kepada seorang wanita yang bertanya apakah dia boleh bekerja atau tidak, Mawlana Syekh Nazim QS memberi nasihat sebagai berikut)

Jika kamu memerlukan pekerjaan tersebut, maka bekerjalah.  Jika apa yang dikerjakan oleh suamimu sudah cukup, kamu tidak perlu bekerja. 

Jika seorang pria bekerja, kita tidak mengatakan bahwa istrinya harus bekerja karena kita percaya bahwa Allah SWT memberi pria lebih banyak berkah bila istrinya tidak bekerja.  Jika istrinya bekerja, lebih sedikit berkah kepada mereka berdua.  Oleh sebab itu kita lebih suka bahwa hanya suami yang bekerja dan kamu menjadi penjaga rumah (ibu rumah tangga).  Kamu tidak meminta begitu banyak uang, kamu meminta berkah.  Bahkan jika ada sedikit uang dan lebih banyak berkah adalah lebih baik daripada banyak uang dan mereka menjadi lelah dan tidak ada berkah. 

Layananmu hanyalah untuk suamimu, lakukan segala hal di dalam rumah.  Dan jika kamu mempunyai lebih banyak waktu dan ingin melakukan sesuatu, kamu bisa melakukan beberapa pekerjaan tangan di rumahmu.  Tetapi jangan menjadi budak bagi pekerjaanmu, untuk pekerjaan di luar. 

Orang-orang sekarang adalah budak, karena mereka tidak dapat menemukan suatu batas bagi pekerjaan atau untuk keinginanmu.  Kalian berkata, “Aku harus mendapat lebih banyak lagi.”  Tidak, kalian bebas, tidak harus berada di bawah kendali para pengusaha, kalian bebas. 

Jika kalian menemukan waktu, agar tidak bosan, menulislah, menggambar, lakukan pekerjaan seperti menyulam—segala sesuatu yang sesuai bagi wanita.  Kalian bisa bersiap-siap untuk putrimu mendatang agar nanti ada sesuatu di dalam rumahnya ketika dia tumbuh, pada masa lampau, setiap ibu akan mempersiapkan JIHAAZ (salah satu bagian dari mahar, menyiapkan jihaaz adalah kebiasaan sebagian besar dunia muslim, wanita menyibukkan diri mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan seperti sulam-menyulam dan pekerjaan tangan lainnya untuk mempersiapkan perabotan penting yang akan mereka perlukan bagi rumah tangganya) untuk putrinya, lakukan hal semacam itu karena hal ini sangat penting.    Jika kalian tidak menyibukkan diri pada suatu pekerjaan tertentu, egomu akan menguasaimu untuk keinginan buruknya.  Tak ada waktu kosong di jalan kita.  Jangan duduk seperti ini.  Ini adalah suatu kekosongan. 

31 October 2008

Keakraban

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Seorang manusia cenderung untuk membuat konflik.  Ia ingin menjadi seseorang yang unik, lain daripada yang lain, namun ia juga ‘hewan’ yang bersosial.  Keunikan adalah salah satu Sifat Tuhan yang dianugerahkan kepada kita, di mana secara fisik dan kepribadian berbeda satu sama lain.  Sesungguhnya, ada sebuah Nama Ilahiah yang Allah SWT anugerahkan pada setiap manusia, sebuah Nama Ilahiah sebagai pembeda antara satu dengan lainnya.  Karena inilah kita mempunyai kecenderungan melihat diri sendiri sebagai pribadi yang unik, hal ini memang benar; namun menjadi salah bila menganggap diri sendiri “lebih” dari yang lain.

Ketika menyatukan diri dengan yang lain, maka akan tercipta potensi kesempurnaan.  Karena nama-nama unik kita juga berasal dari manifestasi gabungan dari keseluruhan Sifat-Sifat Ilahi.  Cara untuk menyempurnakan potensi agung ini adalah melalui keakraban dengan yang lain.   Siapa pun yang mampu menyentuh hati-hati manusia, dia akan menemukan Hadirat Ilahiah Tuhannya.  Itulah alasan mengapa Nabi suci kita SAW merangkul orang-orang dalam pertemuan yang tidak resmi (penuh keakraban).  Jangan dikira ini adalah pekerjaan yang mudah!  Kekuatan menarik masyarakat luas adalah sebuah anugerah Surgawi. 

Nabi-nabi dan para pewarisnya dianugerahi kemampuan menyentuh hati manusia secara langsung.  Mereka bukanlah orang-orang yang hatinya terbuat dari batu, namun hatinya terbuka dan tersentuh oleh pesan-pesan surgawi.  Biasanya orang-orang yang rendah hati mudah terbuka dalam merespons pesan-pesan Nabi SAW.  Mereka mendekati hal-hal alamiah dan mampu membedakan sesuatu yang berasal dari kepalsuan.  Secara umum, para wanita juga lebih terbuka akan pesan-pesan para Nabi dibanding laki-laki.  Hati wanita lebih mudah terbuka sedang hati para laki-laki sering terkunci rapat.

Tanda aliran spiritualitas yang benar adalah bahwa hati mereka menjadi terpengaruh dan melembut, sehingga keakraban dan kasih sayang tumbuh di antara penerima pesan-pesan itu.  Seperti itulah langkah awal dari keimanan.  Kalian bukan seorang yang benar-benar beriman sampai kalian menginginkan orang lain mendapatkan kebaikan seperti yang juga kalian inginkan.    Kalian harus bisa memasukkan diri sendiri dalam posisi mereka, bahkan bila orang itu sedang berkonflik dengan kalian.

Sampai kalian merasakan kasih sayang dan keakraban pada sesama para pencari, maka mustahil bersimpati pada mereka yang sedang memusuhi kalian.  Bagaimana cara membuka hati kalian pada sesama manusia?  Selaraskan hati kalian dengan hati dari salah satu awliya Allah SWT.  Karena di dalam hati mereka ada Daya Tarik Ilahiah, dan itulah kekuatan yang mampu menjadikan mereka sebagai medium untuk mempersatukan hati orang-orang.  Jika tidak ada hubungan dengan Sumber segala cinta, yaitu Sang Pencipta seluruh mahluk—maka tidak akan ada keakraban yang berkembang di antara mereka.  Yang ada hanya keakraban pada permukaannya saja dan akan begitu mudahnya dilecehkan oleh orang lain ketika niat pribadi tercampur di dalamnya. 

Jika seorang manusia belum menjalani pelatihan di tangan seorang pewaris Nabi SAW, tidak akan mungkin baginya menghadapi orang-orang yang akan cenderung membebaninya dengan berbagai masalah.  Dia akan seperti sebuah semak berduri, tidak bisa disentuh, tidak bisa didekati, selalu siap mencakar siapa pun yang mendekat, teman atau lawan.  Biasanya, orang-orang seperti itu tidak mampu menerima bahwa mereka sebenarnya ‘berduri’.  Ini tidak mengejutkan, sebuah mekanisme biasa bagi jiwa manusia untuk menolak orang lain yang punya karakteristik buruk yang tidak disukainya.  Kita semua adalah cermin-cermin, kita tidak menyadari bahwa keburukan kita sendirilah yang membuat kita jijik saat kita melihatnya ada pada pribadi orang lain. 

Tuhan bersimpati atas ciptaan-ciptaan-Nya, dan siapa pun yang telah menerima percikan sifat itu akan merasakan hatinya cenderung bersimpati pada orang lain.  Keakraban adalah aliran dari hati ke hati, jangan pedulikan kata-kataku, terimalah aliran dariku saja.  Keakraban dengan sesama pencari hanyalah tahap pertama dari manifestasi Keakraban Ilahiah.  Karena jiwa-jiwa penyayang juga tumbuh, bahkan dari binatang-binatang buas. 

Suatu ketika saya sedang bersama Grandsyekh di suatu desa.  Begitu memasuki rumah yang baru pertama kali kami kunjungi, seekor anjing penjaga yang galak bergegas menghampiri kami dengan ekor melingkari kakinya seperti seekor kalajengking.  Saya mengira kami akan digigit dan dikoyak olehnya.  Itu karena anjing itu belum melihat kami dengan jelas.  Ketika anjing itu mulai mendekat, segala sifat kebinatangannya hilang.  Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya.  Grandsyekh mengelus kepalanya.  Anjing penjaga galak itu berubah menjadi anjing jinak yang melompat-lompat kegirangan.  Kemudian Grandsyekh berkata kepada saya, “Anjing itu mengenalku.  Aku tidak asing bagi siapapun.”

Wa min Allah at tawfiq

Pekerjaan Terbaik bagi Wanita

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu  'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin  wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Seorang murid Syekh yang berkebangsaan Amerika bertanya kepadanya apakah istrinya sebaiknya melanjutkan pekerjaannya di luar rumah atau berhenti saja untuk mengkhususkan dirinya bagi pekerjaan rumah dan tugas-tugas keagamaan saja.

Syekh  menjawab:

Seandainya saja saya pada posisi di mana saya memiliki otoritas terhadap pemerintahan, salah satu dari hal-hal pertama yang akan saya kerjakan adalah menghimpun dana khusus untuk dianugerahkan kepada para ibu rumah tangga atas jasanya yang tak ternilai bagi masyarakat.  Saya akan memerintahkan agar kepada wanita yang bekerja di luar rumah diberikan gaji berlipat ganda agar mereka dapat kembali ke profesi yang paling diiberkahi yakni yang dapat mambuat tempat tinggal mereka benar-benar sebagai ‘rumah’, dan bukan hanya tempat untuk tidur di malam hari.

Menurut saya, sungguh amatlah penting bagi seorang wanita untuk mengabdikan dirinya bagi suami dan anak-anaknya: itulah jalan bagi pemenuhan kewanitaan yang sejati. Tetapi tampuk pemerintahan tidaklah berada dalam gengaman saya, sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah menasihati mereka supaya memperhatikan nasihat saya.

Ya, kebijakan saya akan memberatkan sebagian besar wanita, khususnya para ibu untuk bekerja di luar rumah.  Saya akan menyokong kebijakan tersebut dengan dana insentif, karena takkan ada jumlah uang yang layak digunakan untuk mencoba memperbaiki penyesalan yang disebabkan oleh ‘masyarakat piatu’.  Memang ada beberapa profesi di luar rumah yang dapat dikerjakan dengan lebih baik oleh wanita ketimbangn pria, dan wanita-wanita berprestasi akan banyak diperlukan untuk mengisi lowongan tersebut; namun para wanita yang mengerjakan pekerjaan yang dapat dikerjakan pria akan dibayar untuk meninggalkan pekerjaan mereka tersebut.

Sebagai orang yang beriman, kita percaya bahwa seorang wanita yang puas dengan gaji suaminya akan lebih bahagia, dan kehidupan keuangannya akan lebih layak daripada yang bekerja dan mendapat penghasilan sendiri.  Anda mungkin bertanya, bagaimana mungkin?  Kita percaya pada apa yang disebut ‘berkah’, dan uang hasil jerih payah halal suami-dan menjadikan pendapatan keluarga jauh dari berlebih-, diberkahi Allah SWT.  Sehingga yang dibelanjakan bagi kebutuhan keluarga akan menjadi pemuas kebutuhan mereka; sedangkan uang yang diperoleh istri  melalui ketakhadirannya di tengah-tengah rumahnya tak akan membawanya pada kepuasan yang sama.  Terlebih lagi, banyak sekali orang kaya yang hidupnya susah, karena mereka memiliki begitu banyak harta, sementara yang lainnya, yang hidupnya sederhana, dengan pendapatan yang jauh dari berlebih, hidupnya begitu bahagia dan puas dengan beratapkan rumah yang penuh kasih dan pengabdian?

Maksud saya: bila engkau berpenghasilan seribu dolar per bulan, dan istrimu berpenghasilan, katakanlah tujuh ratus, seribu dolar penghasilanmu sebagai suami akan terasa lebih banyak jumlahnya dibanding dengan seribu tujuh ratus dolar penghasilan berdua.  Itulah yang saya yakini, dan itu adalah kenyataan yang dapat diuji oleh siapapun kebenarannya.-kapanpun mereka siap.  Lagi pula, bila dia setuju untuk memenuhi kebutuhan hidup dari gajimu saja, hidupnya, dan kehidupan anak-anak mereka akan lebih berbahagia.

Tetapi belakangan ini, setan tak memperkenankan para ibu untuk tinggal di rumah mereka lagi.  Mereka memaksa para ibu untuk meninggalkan rumah pagi hari buta untuk berjuang di arena balapan tikus sepanjang hari, dan pulang ke rumah sarat dengan kelelahan di malam hari ketika mereka seharusnya mengumpulkan cukup tenaga untuk menyediakan makan malam bagi keluarga dan perhatian bagi sang anak yang hanya dapat diberikan oleh seorang ibu. Kehidupan yang tegang ini membuat para ibu menjadi cepat tua.  Memaksa wanita untuk bekerja ganda di luar dan di dalam rumah tidaklah adil, dan karenanya kita berjuang bagi hak-hak wanita dengan jalan menentang gagasan bahwa wanita harus memikul beban ganda.  Dalam Islam, sang suami harus membantu istrinya sebisa mungkin dalam mengerjakan pekerjaan rumah, walau mungkin dia bekerja seharian.  Dia haruslah memikul tanggung jawabnya dan sekaligus juga membantu istrinya dengan penuh perhatian.

Pada tahap ini sebagian orang akan beargumen bahwa wanita seharusnya bekerja di luar rumah, sementara pria mengurusi anak-anak dan menjaga rumah.  Sungguh hal ini merupakan pendapat anak kecil yang sangat bodoh, karena wanitalah dan bukannya pria yang ditugasi dan secara alami sesuai untuk mengandung, melahirkan, merawat dan membesarkan anak. Pria tak dapat menggantikan tempat wanita.  Dan kami juga menentang pendapat bodoh bahwa kedua orang tua seharusnya bekerja, meninggalkan anak-anak mereka di pusat-pusat penitipan anak, dan keduanya pulang sarat dengan kelelahan di malam hari, makan malam TV, nonton TV sejam, lalu tertidur di tempat tidur.  Sungguh itu bukan sebuah kehidupan keluarga. Bukan.

Karenanya, bila pemerintah ingin mencegah krisis ekonomi, dan kerusuhan sosial, mereka harus membayar para wanita untuk tinggal di rumah.  Bila gajimu saja sudah cukup, tak baik menyuruh istrimu untuk bekerja.

Murid Amerika: ‘Alhamdulillaah! Dia Yang Maha Kuasa telah memberkahi kami dengan lebih dari yang pernah kami impikan’

Syekh :

Karenanya kau harus memintanya untuk tetap di rumah untuk menjaga anak-anak kalian.  Terutama bila kalian berkecukupan, seharusnya tak ada alasan bagi istrimu untuk bekerja.

 

Murid Amerika: Dia senang bekerja.

Syekh:

Bukan, keinginan seperti itu adalah tipu daya ego dan berbahaya bagi masyarakat.  Kita haruslah mengasihi yang lain, jutaan orang pengangguran cemas menunggu pekerjaan yang dipegang istrimu: para pria yang sudah berkeluarga, para janda. Allah SWT Yang Maha Kuasa telah memberinya kekayaan dengan jalan dia memiliki seorang suami pekerja keras dan berhasil, lalu mengapa dia tetap memegang pekerjaannya, mengapa dia mencegahnya daripada mereka yang jauh lebih membutuhkan pekerjaan itu?

Itulah masalahnya.  Begitu banyak pengangguran di negara-negara industri-mengapa?  Terutama karena semua wanita bekerja.  Bila saya anggota masyarakat yang bertanggung jawab, bagaimana bisa saya membiarkan istri saya bekerja? Bila saya membiarkan dia bekerja, maka saya membiarkan diri saya  dan istri saya menjadi beban masyarakat, mengubah diri saya dan istri saya menjadi parasit, yang dengan rakus mengambil lebih dari yang sebenarnya kami perlukan dan lebih dari yang baik bagi kami dengan biaya orang lain.  Sungguh itu merupakan kerja yang parasit: biarkan seorang pengangguran bekerja dan menghidupi dirinya sendiri.

 

Murid Amerika yang lain: Bagaimana bisa seorang wanita di Negara-negara Barat dapat menemukan kedamaian di hatinya serta kepuasan dalam keempat dinding rumahnya, bila orientasi seluruh masyarakat menentang kehidupan semacam itu?

Di negara-negara timur, keadaanya berbeda: adalah mudah bagi seorang wanita untuk membuat rumahnya sebagai tempat yang nyaman dan memuaskan, karena selalu banyak wanita yang menjalani kehidupan semacam itu di sekitarnya yang dapat dia kunjungi seharian, atau sebaliknya--teman, tetangga, sanak saudara- begitu banyak kegiatan di lingkungannya.’

‘Sedangkan di Barat gaya hidup demikian terasingnya, sehingga orang merasa seolah-olah dinding rumah mereka dingin membeku, tanpa keramahan, dan hampa: mereka merasa seolah-olah dinding rumah mereka menghimpit mereka.  Dalam suasana seperti itu sungguh sulit memang bagi para wanita untuk tinggal saja di dalam rumah, walaupun sebetulnya mereka tak begitu menginginkan sesuatu pun di luar sana.

Syekh menjawab:

Ya, hal itu terjadi karena mereka tak memiliki pengkalibrasi dalam skala ukurannya.  Jika tak ada yang demikian dalam kehidupan jiwanya, skala tersebut akan selalu tergelincir ke satu sisi saja; namun bila mereka memiliki dunia alternatif, kedalaman pengabdian jiwa sebagai penyeimbang, sungguh sangatlah mudah bagi para wanita untuk berdiam di rumah walaupun ada banyak kejanggalan yang menentangnya.

Ya, saya paham bahwa bagi wanita barat, duduk berdiam di rumah sangatlah membosankan dan menjemukan, dan berada di rumah bagaikan terpenjara; namun bila mereka dapat mengecap manisnya kedalaman jiwa, mereka akan sangat bersyukur telah mendapatkan kesempatan untuk berada di rumah di mana mereka dapat mengkonsentrasikan usahanya daripada harus berkeliaran di jalanan modern yang tercemar.  Namun bila mereka belum membuka pintu kedalaman jiwa mereka, mereka akan tetap mencari jalan keluar untuk pergi dari rumah segera setelah suami mereka berangkat di pagi hari.

Apa yang sekarang kita gambarkan haruslah dianggap sebagai tujuan akhir: suatu sasaran jangka panjang untuk ditaklukan oleh kaum wanita kita- suatu sasaran kesempurnaan bagi kehidupan para wanita.  Namun seperti yang telah kita tunjuk sebelumnya, kondisi di dunia Barat tidaklah kondusif bagi para wanita untuk mengembangkan kehidupan spritual mereka dengan cara demikian:  tinggal di rumah.  Karenanya, bila saya indikasikan, cara hidup ideal bagi seorang wanita, saya tak mengharapkan seluruh wanita dapat menjalani gaya hidup seperti itu, dan makanya saya tak memerintahkan mereka untuk melakukannya.  Bila kondisinya berbeda, maka mungkin lain lagi keadannya.

Seperti yang saya katakan, Seandainya saya berkuasa, maka para wanita akan menerima bayaran ganda bila mereka mau tinggal di dalam rumah mereka; dan saya akan memerintahkan bahwa rumah-rumah hendaknya dibangun dengan cukup lapang, tak seperti penjara.  Di malam pertama kepemerintahan saya, saya akan memerintahkan agar seluruh bangunan apartemen dimusnahkan; di malam kedua, saya akan memerintahkan agar rumah-rumah baru yang lapang dan berkebun dibangun bagi setiap keluarga, sehingga para wanita takkan pernah lagi berkeinginan untuk meninggalkan rumah mereka-begitu indah dan luas, rumah-rumah mereka nantinya…..

Di sini (di Siprus), kami tinggal di sebuah rumah tua yang terbuat dari batu bata, jenis rumah yang kini banyak ditinggalkan orang demi untuk tinggal di apartemen-apartemen yang sempit di kota-kota besar.  Rumah ini setahun lalu hanyalah reruntuhan puing yang ditinggalkan orang, dan seluruh kebunnya mati dan ditumbuhi gulma.  Ketika saya membelinya, semua orang melarang dan mengejek saya; tetapi lihatlah sekarang, hanya setelah setahun kerja yang teratur rumah ini cukup indah, dan kebunnya pun berbunga, dan walaupun ini sederhana dan tidak mewah, rumah ini luas, nyaman dan indah.

Baik istri saya maupun putri saya tidak pernah merasa bosan dan terpenjara tinggal di rumah ini.  Mereka sangat jarang berkeinginan untuk pergi ke luar rumah, dan bila mereka pergi, mereka selalu ingin cepat pulang.  Ya, mengapa tidak tinggal di rumah semacam itu saja?  Bumi ini begitu luasnya; mengapa kita demikian bodohnya untuk tinggal di atas orang lain dalam apartemen yang dingin dan jelek?  Allah SWT memerintahkan: “Tafasahu” yang artinya, “Wahai manusia, berpencarlah di bumi’ Perintah ini mestinya sudah cukup bagi kita untuk memahami bahwa Tuhan kita tak menginginkan kita untuk tinggal dalam situasi yang sempit dan berjejalan di bumi Allah SWT yang luas ini. 

Cara yang keliru yang telah diambil umat manusia untuk hidup yakni tinggal dalam kondisi berdesakan yang sebenarnya tak perlu itulah yang menjadi penyebab utama krisis ekonomi dunia ini.  Terlebih, kota-kota besar yang padat adalah bencana bagi kesejahteraan ekonomi dan sosial bangsa-bangsa. Hanya bila kecenderungan berbahaya ini mulai dibalik dan orang kembali ke pedesaan  maka kondisi sosial ekonomi umat manusia akan menjadi lebih baik.

Apa ada baiknya membangun kota-kota besar semacam itu? Bahkan di Inggris kalian mungkin harus berkendaraan bermil-mil jauhnya untuk menemui hunian atau pemukiman, sementara pusat-pusat urban menelan jutaan orang yang membutuhkan sistem yang kompleks untuk penyediaan dan pendistribusian komoditas.  Orang mengerjakan lahan yang memproduksi bahan pangan yang mereka makan:  lalu ada apa dengan pedesaan sehingga orang tidak memadatinya dan mengelola kehidupan perekonomian di desa-desa kecil?  Udara yang segar, sinar matahari dan alamnya-tak ada lagi krisis ekonomi.  Orang mungkin akan banyak tumbuh di kebun-kebun mereka-tak ada lagi kemacetan lalu-lintas, penyakit pun tak begitu mewabah.  Begitu banyak penyakit masyarakat yang dapat disembuhkan dengan desentralisasi.  Kota-kota dengan 10.000 penduduk sudah cukup besar.

Kecenderungan di muka bumi ini menuju ke arah yang destruktif: Orang-orang bergerombol ke kota-kota besar untuk mencapai posisi yang lebih baik demi memanjakan syahwatnya.  Hasil akhirnya bukan hanya kehancuran ekonomi saja melainkan juga perubahan nilai-nilai yang menyeluruh dan kegilaan yang akan mendominasi masyarakat- hal ini sudah dapat kita amati.  Kota-kota besar membuat orang menjadi asing satu dengan yang lainnya. Walau begitu banyak orang tinggal di tempat yang sangat berdekatan, namun mereka saling asing, saling berprasangka dan curiga satu dengan yang lainnya.  Orang-orang kota biasanya terputus dari saudaranya, teman-teman dan para tetangga.

Kita tak pernah diperintahkan untuk hidup bagai binatang buas: masing-masing saling bebas, mengharapkan kesempatan di mana si kuat memangsa yang lemah, tidak!  Kita lebih diperintahkan untuk hidup berkelompok, untuk saling tergantung; dan di desa-desa kecil sungguh sangat mudah untuk hidup seperti itu, karena semua orang mengenal tetangganya dan dapat merawatnya. 

Tak ada perlunya bagi siapapun untuk meninggalkan Lefke, Siprus, sebuah kota agraris kecil untuk pergi ke Amerika, Jerman, Inggris, Austrlia, atau bahkan Nikosia untuk bekerja. Semua orang dapat menghidupi diri dan keluarganya; dan bila satu desa telah padat, mereka dapat membangunnya satu lagi di tempat lain.  Cara seperti ini jauh lebih berkah.


Seorang murid: “Tetapi orang pergi ke kota-kota besar dan ke luar negeri untuk dapat hidup dalam kehidupan yang diimpikannya: bioskop, televisi, klub malam, uang dan sebegainya.  Dan mereka juga tak kurang tertariknya pada berkah.  Sepertinya itu sebuah penyakit: bahwa orang berkeinginan untuk hidup dengan mimpi mereka dan bukannya hidup sederhana saja.’

Syekh:

Mereka boleh saja memanjakan fantasinya, namun mereka akhirnya tidak akan dapat menghindar dari keruntuhan ekonomi, dan tak ada yang dapat dilakukan pemerintah yang cukup efektif untuk mencegah keruntuhan tersebut.  Kini kita mendekati titik itu dengan sangat cepat, dan tak seorang pun dari pemerintahan yang berani melakukan langkah drastis untuk mencegah keruntuhan – obatnya terasa terlalu pahit bagi ego mereka.  Namun bila titik itu telah tercapai orang akan dipaksa untuk meninggalkan kota-kota yang kelaparan dan menyebar ke pedesaan, mencari pertolongan.


Seorang murid: “Haruskah saya menyampaikan kepada saudara-saudara yang di Amerika sana bahwa Anda menasihati mereka untuk menjual rumah-rumah mereka di kota dan berhenti dari pekerjaannnya dan lalu pindah ke pedesaan?”

Syekh:

Pelan-pelan!  Sedikit demi sedikit mereka akan berjuang menuju cita-cita pindah ke pedesaan.  Mereka harus mencari keadaan yang dibutuhkan untuk membuat perpindahan itu berjalan lancar.  Dengan cara yang pintar dan tenang mereka mestinya dapat mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan dan pindah menuju cita-citanya dengan gangguan seminimal mungkin terhadap kehidupan dan pendapatannya.

Di pedesaan mereka akan lebih aman dari kasus-kasus peperangan, karena biasanya kota-kota besarlah yang menjadi sasaran pertama; lagi pula, dalam kejadian keruntuhan ekonomi mereka lebih mudah mengatasinya.  Telah terdapat begitu banyaknya pedesaan, sehingga saya tidak melihat perlunya membangun desa-desa baru lagi, saya pun tak menganjurkan kalian semua untuk datang bersamaan menuju sebuah tempat terisolasi untuk membuat perkampungan muslim di Amerika.  Lebih baik mereka pindah ke suatu komunitas umum sebagai suatu kelompok kecil di antara penduduk non-muslim yang jumlahnya lebih banyak.  Ada kebijaksanaan di sini, dan rahmat bagi orang Amerika, karena saudara-saudara kita laksana gemintang menyinari, menaungi mereka dengan cahaya berkah di sekeliling mereka.  Bintang-gemintang tersebar di seluruh langit;  bila mereka semua berkelompok di satu tempat saja, maka belahan langit yang lain akan menjadi gulita.  Ya, kalian boleh tinggal di mana saja; dan kami berharap Allah SWT akan membuat kalian sebagai alat untuk menyadarkan hati rakyat Amerika akan Rahmat-Nya.

 

25 September 2008

Jangan Ikuti Setan dan Wanita



A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ey rahmati bol Padischah… Wahai Engkau Sultan yang penuh dengan barakah… Turunkanlah hujan!

Kisah tentang semut dan Nabi Sulaiman AS. Ketika Nabi Sulaiman AS melewati jalan yang dipakai semut, beliau mendengar semut yang mengeluh perihal tentara beliau, yang membunuh begitu banyak semut. Semut itu berkata, “Seandainya Aku memiliki kekuatan, akan kuhabisi anak Adam AS.” Nabi Sulaiman AS mendengar perkataan ini dan beliau tersenyum seraya memaafkannya atas perkataannya yang seperti itu. Semut itu berbicara dengan berani seperti itu karena dia sedang bersama istrinya dan dia ingin pamer dan unjuk kekuatan. Dan sang istri semut menyukai hal ini.

Semoga Allah SWT menjauhkan Setan dari kita! A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim… Kalimat ini adalah senjata yang amat kuat untuk membombardir Setan. Setan selalu berusaha melindungi dirinya dari serangan semacam kalimat A'uudzu… (taawudz). Hanya saja, dia tidak menyerah. Setan berkata, “Mungkin saja ini cuma gurauan. Mari kita coba lagi. Saat ini dia tengah bersama istrinya, coba kita goda istrinya untuk berbuat fasad.”

Ketika kalian bersama istri kalian, kalian lemah dan mudah untuk ditipu. Adam AS tidak tertipu pada mulanya. Tetapi karena Hawa RA, yang datang menggoda, beliau mendengar padanya sesaat dan kemudian memakan sepotong kecil dari buah apel larangan… Jangan “mendengarkan” istri kalian di rumah—pada keluhan-keluhannya, keinginan dan kemauannya yang tak pernah habis. Jika kalian mendengar dan menurutinya, kalian masuk dalam bahaya. Semua masalah datang, karena laki-laki mendengar dan menuruti istri-istri mereka… Setan tidaklah lebih kuat daripada kita, Tetapi karena ego kitalah, kita menjadi lemah. Dan Setan berusaha membawa manusia jauh dari iman, ketulusan dan kelurusan, dan dari berbuat kebaikan. Dia berusaha untuk menjauhkan kita dari beramal baik yang akan membawa kita dekat kepada Allah SWT.

Negara kita telah turun sampai nol dan Setan demikian senang…. Semua Hoca telah memakai tanda kufur saat ini—cravatte, dan mereka tidak lagi diizinkan untuk memelihara jenggot, hingga mereka terlihat seperti wanita. Bahkan di Eropa pun para pendeta tidak memakai cravatte, melainkan pakaian khusus mereka. Tetapi, mereka ingin menghabisi kita karena kita pernah mempunyai kekaisaran Ottoman. Dan mereka membuang Islam. Tetapi, hari-hari mereka sedang dihitung! Karena itu, Setan dan pengikut-pengikutnya sedang waspada saat ini dan tergesa-gesa untuk segera menghancurkan ummat manusia, dan terutama kaum Muslim, karena Muslimlah yang menentang Setan. Setan adalah musuh manusia dan dia adalah penyebab terusirnya Adam AS dari Surga dan terlempar ke bumi, tempat yang tidak akan kalian temukan kedamaian atau ketenangan di dalamnya.

Suatu ketika, seorang murid dari Grandsyekh Syarafuddin QS mengundang Grandsyekh untuk menghadiri suatu pesta… (Semoga himma dan faiz beliau beserta kita). Kalian membuat saya untuk tidak berbicara, tetapi dengan pertolongan beliau, Saya boleh berbicara. Bahkan ketika Saya berbicara, tak ada yang mendengar saya… Pada jalan yang lurus, kedamaian akan datang ke dalam hati. Siapa yang tidak merasa damai pada asosiasi saya boleh pergi ke tempat lain. Tetapi tak ada tempat di mana pun di Timur atau Barat di mana kalian akan temukan seorang Syekh atau Ulama, saat ini, yang dapat membuat kalian berada dalam kedamaian. Allah SWT telah membuat saya melakukan perjalanan ke Timur dan Barat, Saya pernah berada di Amerika maupun Jepang, dan di mana pun mereka menampilkan Syekh-Syekh dan Alim-ulama kepada saya. Tak seorang pun dari mereka yang mempunyai hak untuk membuka mulutnya. Siapa pun boleh datang dan mengaku punya otorisasi—pendeta atau rabbi atau siapa saja. Saya pernah di Sri Lanka, berada dalam sebuah kuil Buddha yang besar di Colombo. Di pintu masuk, Saya ingin melepas sepatu saya, tetapi mereka bilang bahwa itu tidak perlu. Tetapi mengapa? Jika seseorang datang ke dalam masjid, kalian biarkan dia untuk tidak melepas sepatunya? Maka, Saya pun melepas sepatu saya, dan mereka menyukainya. Satu jam lamanya Saya berbicara kepada mereka tentang Buddha. Ada seorang professor yang memiliki keahlian tentang Buddha dan dia begitu takjub akan hal-hal yang Saya katakan pada mereka… Dalam suatu konferensi Saya bertemu dengan seorang rabbi yang datang dengan ditemani pengawal-pengawalnya. Saya bertanya kepadanya, “Bagaimana kalian mengatakan bahwa kalian adalah seorang ahli Tuhan sedangkan kalian bergantung pada orang-orang ini untuk melindungi kalian?” Pada hari berikutnya, dia datang tanpa mereka… Maka, siapa pun boleh datang, presiden atau paus. Saya akan berdiri di Post-Tower di Inggris, atau di menara Eiffel di Paris dan Saya akan berkata, “Ya Allah SWT!” dan menjatuhkan diri saya sendiri ke bawah. Siapa pun boleh datang. Saya akan panggil paus ke menara Pisa dan berkata kepadanya, “Jika kalian benar, buatlah menara ini menjadi tegak lurus.” Kemudian Saya akan mengucapkan syahadat dan membuatnya lurus… Saya bukanlah apa-apa saat ini, tetapi Saya mempunyai orang-orang besar yang berdiri di samping saya dan mendukung saya. Sekarang, Saya tidak dapat melakukan apa-apa, Saya hanya berbicara, tetapi ketika izin dan perintah datang, Saya akan mempunyai kekuatan untuk melakukannya… Sekarang Saya hanya berbicara untuk menghibur kalian…

(Kembali kepada Grandsyekh Syarafuddin QS dan muridnya…)
Setelah makan malam, sang murid berkata pada Grandsyekh, “Semoga pertemuan kita kali ini tidak sia-sia. Mari kita mengadakan shuhba.” Grandsyekh bertanya, “Apakah kau yang akan berbicara atau kami? Jika dirimu yang akan berbicara, kami akan mendengarmu, karena sungguh suatu pertemuan tanpa sohbet adalah seperti kesunyian di kuburan.” Bahkan jika dua orang duduk bersama, salah satu harus berbicara dan yang lain mendengarkan. Maka kekuatan akan datang dalam kebersamaan mereka itu. “Ya Sayyidii”, kata sang murid, “…di suatu pertemuan di mana kalian berada, Saya tidak mampu berbicara. Saya tahu apa yang menjadi hak kalian. Apa pun yang kami mampu bicarakan, kalianlah yang menyampaikan semua maqam ilmu. Karena itu, kami akan mendengarkan kalian, karena kalian berada di atas kami. Apa yang kami dapat ucapkan adalah seperti Malayani dibandingkan kata-kata kalian. Izinkan kami mengambil faiz dari kata-kata kalian.” Grandsyekh berkata, “Kalau begitu Saya akan bertanya kepadamu terlebih dulu dan kamu harus mengatakan yang sesungguhnya. Apakah dirimu mendengarkan istrimu di rumah atau dia yang mendengarkanmu?” “Ya Sayyidi,” dia berkata, secara umum istriku yang mendengarkan Aku, tetapi terkadang Aku pun mendengarkannya.” “Kalau begitu kamu tidak dapat mendengarkan kami”, Grandsyekh menyahut, “Bahkan Adam AS hanya mendengar satu kali pada istrinya dan pada saat itu beliau tidak mendengar Allah SWT. Beliau adalah Safiyullah, seorang Nabi, dan bahkan beliau pernah tidak mendengarkan Allah SWT. Maka, siapakah dirimu hingga kamu membolehkan dirimu mendengarkan saya?” Apa yang Saya katakan ini tidaklah disukai kaum wanita. Tetapi murid saya akan mendengarkan saya dan tidak pada egonya. Demikianlah sifat alami wanita. Sedangkan laki-laki melihat firman Allah SWT dan perkataan Rasulullah SAW. Jika kalian melihat istri kalian, ego kalian akan turut campur dan mendongakkan kepalanya. Jika kalian mendengar Allah SWT, ego akan turun. Maka, berbaiklah dan lunaklah terhadap istri-istri kalian. Mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan jika kalian mencoba meluruskan mereka, mereka akan patah… Sangat sulit untuk menjadi seorang laki-laki. Karena itulah, kita mendapatkan semua masalah-masalah ini di keluarga, di antara tetangga, dan di antara teman, karena laki-laki mendengar pada wanita. Kalian harus berkonsultasi dengan Syekh kalian jika ada problem tertentu. Ini penting. Jika kalian melakukan apa yang Saya katakan, kita semua akan seperti ikan dalam samudra. Setan menjadi demikian bahagia jika dia berhasil membuat fitnah di antara suami dan istri serta di antara teman. Dan dia akan menghancurkan manusia.

Hari ini, setelah Isyraq (terbit matahari), Saya akan beristirahat, dan menarik selimut karena dingin. Saya teringat pada tayangan gambar yang Saya lihat di televisi kemarin malam, anak-anak di Afghanistan, kelaparan dan kedinginan, tidak memiliki apa-apa. Saya berdoa untuk mereka dan pada saat yang sama Saya bersyukur atas apa yang Saya miliki. Kemudian melalui jalur langsung yang Saya miliki kepada Grandsyekh, sebuah jawaban datang, “Wahai Nazim Effendi QS, kenapa semua ini terjadi pada orang-orang? Ini adalah karena mereka mengikuti orang-orang yang jahat dan buruk.”

Kalian mungkin mengerti atau tidak. Mereka mengikuti Setan yang menulis, “Ikuti aku!”, dan semua pemerintahan presiden, serta semua orang yang mendengar dan mengikutinya. Dan Setan memimpin mereka menuju ke kebinasaan. Milliaran orang akan mati. Allah SWT berfirman, “Kuunuu ma’as Shaadiqiin”, “Beradalah bersama orang-orang yang benar”, tetapi, tak seorang pun mengerti… “Allah SWT adalah Sang Penguasa dan keputusan-Nya telah dibuat. Dia telah berbicara, maka jangan katakan apa pun…”

Wahai Allah SWT, kami percaya kepada-Mu. Jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang mengikuti Nabi-Mu. Kirimkanlah hamba-Mu yang kuat secara spiritual…

15 July 2008

Roh dan Raga: Sebuah Kombinasi yang Sempurna

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

23 Januari 2005

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul (Nya) SAW, dan orang-orang yang berwewenang di antara kalian. [QS 4:59]

Nawaytul Arba'in
Nawaytul I'tikaf
Nawaytul Khalwah
Nawaytul 'Uzlah
Nawaytur Riyadhah
Nawaytus Suluuk
Lillahi ta'alaa al-Azhim fii hadzal Masjid

Allah SWT menciptakan segalanya dengan sempurna. Kita tidak boleh mengatakan bahwa Allah SWT telah salah dalam menciptakan, jangan pernah! Allah SWT berfirman, “Laqad khalaqna al-insaana fii ahsani taqwiim.” “Telah kami ciptakan seluruh manusia dalam bentuk yang paling sempurna.” [QS 95:4]

Allah SWT berfirman bahwa Dia telah menciptakan manusia lewat cara terbaik, cara yang sempurna. Tidak ada yang salah. Segalanya adalah yang terbaik, masing-masing adalah yang paling hebat. Kemudian ketika segalanya dipadukan, maka terjadilah percampuran yang sempurna.

Kalian tidak boleh mengatakan bahwa roh dan raga kita tidak dipadukan dengan cara yang benar. Allah SWT telah memadukannya dengan cara yang paling sempurna.

Di dunia, seorang suami merasakan kedamaian ketika bersama istrinya. Demikian pula halnya seorang istri merasa damai bersama suaminya. Dalam al-Quran, Allah SWT berfirman, “Wa min ayaatihi anna khalaqa lakum min anfusikum azwaajan li taskunuu ilayhaa wa ja‘ala baynakum mawaddatan wa rahmatan inna fii dzaalika la ayaatin li qawmin yatafakkaruun” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS 30:21]

Allah SWT berfirman, dari tanda-tanda-Nya untuk seluruh manusia bahwa Dia telah menciptakan istri yang berasal dari diri kalian sendiri untuk berpasangan dengannya. Dia adalah tempat tinggal bagi kalian. Allah SWT membuat hubungan tersebut suci, Dia membuatnya demikian agar menjadi sebuah rumah tangga, yang sesuai dengan kalian.

Dan Allah SWT berbicara tentang wanita, wanita pada umumnya, di mana kalian mendapatkan kecocokan, merasa bahagia, merasakan kedamaian dan ketenangan. Bila kalian tidak merasakannya, artinya ada sesuatu yang sedang tidak selaras.

Namun Allah SWT berfirman bahwa segala sesuatunya telah dipadu dengan cara yang terbaik, artinya kalian harus menerima dan mengakui bahwa kalian harus mengusahakannya, supaya “rumah-Nya” tetap tegak berdiri.

Dan melalui rumah itu, di mana Allah SWT menjelaskan bahwa wanita sebagai sebuah rumah, Dia memberi penghormatan padanya, dengan membuat wanita sebagai tempat yang aman, tenang dan tempat beristirahat.

Setiap manusia ingin mempunyai rumah. ”Jika kalian tidak mempunyai rumah,” Grandsyekh sering mengatakan, ”kalain adalah orang miskin.”

Rumah punya banyak makna. Jika kalian tak punya rumah, kalian adalah tunawisma. Dan jika kalian tak mempunyai istri, kalian adalah seorang tunawisma yang tak tahu ke mana harus pergi.

Dan seorang wanita tanpa suami, dia juga seorang tunawisma. Maka dari situlah Allah SWT menciptakan adanya suatu hubungan.

Hal itu memberi kita ide, bukan? sebuah kenyataan, bahwa dengan roh dan raga, kalian merasa cocok dengan istri kalian dan dia pun merasa cocok denganmu. Saat bayi dilahirkan ibunya, dia pun selalu menangis dan ketika ibunya mendekap si bayi, dia pun berhenti menangis.

Saya bertanya pada para wanita, mengapa? Mereka berkata, ”Itu karena si bayi mengenali bau ibunya.” Bukan bau ayahnya!

Hal itu benar, karena anak mencium bau ibu atau bapaknya, karena dia ada hubungan dengan ibunya, dia pun makan yang berasal dari ibunya, dia lebih dekat dengan ibunya.

Lihatlah seekor biri-biri atau kambing atau singa. Letakkan seekor bayi biri-biri di antara 1000 biri-biri dewasa, dia akan mengenali ibu kandungnya. Bagaimana dia mengenalinya? Lewat baunya! Padahal semuanya berbau biri-biri. Kalian tidak akan mampu membedakannya. Namun bayi biri-biri itu mampu dan lari menghampirinya ibunya.

Begitupun tiap roh mampu mencium raga yang harus dia masuki, maka adalah mustahil apabila roh masuk ke raga yang lain. Tidak mungkin.

Karena setiap anak mempunyai seorang ibu dan seorang ayah. Tidak mungkin 2 orang ayah mempunyai seorang anak. Mungkinkah itu?

Saat ini ada acara TV, dan mereka bilang, “Kami tahu ayahnya.” Mereka memeriksa apa itu? DNA. Kita tahu siapa ayahnya, maka berhati-hatilah.

Begitu anak mempunyai seorang ibu, dia juga punya seorang ayah. Adalah mustahil bagi seorang anak untuk mencari ayah lain dan ibu lain, tidak mungkin. Karena roh mengenali raganya, maka mustahil roh mencari raga orang lain.

Oleh sebab itu, sangatlah mustahil untuk menerima konsep inkarnasi sebagai sesuatu yang mungkin terjadi. Inkarnasi adalah seperti seorang anak yang memiliki banyak ayah. Apa yang terjadi dengan hal itu? Allah SWT bukan sedemikian miskinnya, yang mempunyai banyak raga, dan Dia mengirim satu roh untuk seratus raga, satu untuk yang lain-lainnya. Itu tidak mencerminkan kebesaran Allah SWT. Sebagaimana Dia mempunyai banyak roh, Dia juga mempunyai raga-raganya, Dia sendirilah yang tahu berapa jumlahnya.

Tiap roh mempunyai sebuah raga dan tiap roh akan memasuki raga yang dikenalinya. Roh adalah suci yang ketika memasuki raga, raga itu pun suci di dalam kandungan ibunya. Ketika si bayi lahir, dia tidak terselubungi selama 40 hari. Ketika telah keluar maka mulai terselubung. Itulah sebabnya mengapa bayi menangis saat lahir. Dokter, mengapa mereka menangis? (Untuk membuka paru-paru). (Tertawa) membuka paru-paru. Tertawa! (hahaha)

Ada yang tahu bagaimana tertawa? Mengapa kita tidak tertawa saat datang dalam kehidupan ini? semuanya menangis. Karena ketika bayi berada dalam kandungan ibunya, dia berada dalam pengasingan. Dia sedang menerima perwujudan dari Tuhan dan dia memahami apa yang akan menjadi kenyataan nantinya. Dia melihat apa yang akan dia kerjakan di dunia dan melihat bahwa dia akan berada dalam situasi yang buruk, keadaan yang penuh dosa. Itulah mengapa tidak ada bayi yang dilahirkan dengan tersenyum.

Dunia yang penuh penderitaan, baliyaat.

Berapa orang di sini yang sedang berbahagia? Acungkan tangan. Tasbih saya jatuh karena kalian tidak sedang berbahagia. Mengapa kalian tidak bahagia, apakah karena Allah SWT menciptakan kalian dan menjadikan kalian seorang hamba? Jawablah, “Saya bahagia dengan Tuhan saya, namun tidak bahagia atas diri saya sendiri.” Bilang bahwa saya berbahagia dengan Sang Pencipta, saya bahagia dengan nabi-nabi dan saya bahagia dengan Syekh, tapi saya tidak bahagia dengan diri saya sendiri.

huwa a‘lamu bikum idz ansya’kum mina al-ardhi wa idz antum ajinnatun fii buthuuni ummahaatikum fa laa tuzakkuu anfusakum huwa a‘lamu bimanit-taqa

Dan Dia lebih mengetahuimu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. [QS 53:32]

fa laa tuzakkuu anfusakum. Apa yang harus kalian katakan? “Saya berdosa.” Dan semoga Allah SWT mengampuni.

Itulah mengapa ketika roh berada di dalam kandungan yang masih suci, dia mampu melihat kenyataan. Ketika bayi lahir mereka melihat dunia yang penuh masalah, dan dia pun menangis.

Dokter dan ilmuwan mengatakan bahwa menangis berarti membuka paru-paru. Mengapa tidak membuka ginjal? Mengapa tidak membuka pikiran?

Kita seharusnya membuka pikiran, bukan membuka paru-paru kita. Paru-paru adalah sebuah ban yang datar. Ketika dikeluarkan, dia datar. Kalian harus memasukkan udara di dalamnya agar mengembang.

Biasanya, roh dan raga itu berkembang menjadi bunga yang indah, bunga yang keluar dari kandungan ibu adalah mahluk yang sempurna, terukir dari cahaya suci Allah SWT. Allah SWT-lah yang menyempurnakan anak itu dengan mata, telinga, tubuh, wajah, tangan, paru-paru. Amat sempurna.

Dialah yang mendandani bayi tersebut dan menghiasnya dengan cara yang elok dan sempurna. Yang menciptakan anak saya tanpa cacat. Yang menciptakan anak saya dengan cara yang terbaik. Bersyukurlah selalu pada Allah SWT. Bukankah Nabi kita SAW bersabda, “Aku harus menjadi hamba yang tahu beryukur.” Apakah kita bersyukur pada Tuhan kita? Tidak. Karena kita tidak memelihara hati kita agar terus terhubung pada Allah SWT.

Maka dari itu, roh dan raga adalah kombinasi yang sempurna yang Allah SWT berikan pada kita. Dan roh itu tidak akan pergi menuju tempat yang bukan menuju raganya, karena jika terjadi perpisahan antara roh dan raganya, maka raga akan menangis. Mereka yang sedang jatuh cinta di dunia, ditinggalkan, mereka pun terpisah.

Seperti suami dan istri, mereka selalu bersama, tiba-tiba ada sesuatu yang salah dalam pikirannya. Apa yang terjadi? Depresi dalam keluarga, mereka mulai menangis.

Dan ketika perkawinan antara roh dan raga, ketika tiba saatnya untuk hidup terpisah, raga menjadi amat tertekan. Tidak mau berurusan dengan yang lain, inginnya dalam kesendirian, menghilang. Karena hilang dalam keberadaan Ilahi. Itu berasal dari, “Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji`uun” “Karena Allah SWT kita dilahirkan, dan kepada-Nya kita kembali.” [QS 2:156]. Kita semua berasal dari Samudra Cinta dan kemuliaan yang Allah SWT ciptakan. Dia menciptakan kita dengan cara terbaik.

Jangan memandang orang itu dan berkata, “Yang itu jelek.” Tidak, mata kalianlah yang buruk. Setiap orang adalah sempurna. Allah SWT berfirman, ”Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik.” Katakanlah, ”Mata saya buruk, karena tak mampu melihat.” Kita memerlukan kacamata karena mata kita buta.

Ketika raga mengetahui bahwa roh Ilahi yang berasal dari samudra kekuasaan Allah SWT telah pergi maka raga pun merasa ditinggalkan, tertekan. Karena dengan bantuan roh tersebut kita dapat menerima pesan-pesan luhur surgawi.

Roh tersebut selalu lembut dan tersamar. Walaupun kalian dalam keadaan berdosa. Hal itu tak akan menggelapkan roh kita. Roh selalu kembali pada asalnya, bila Allah SWT memanggilnya pulang. Namun raga akan merasa sedih, tertekan. Saat itulah dia ingin kesendirian dan sangat tunduk. Karena dia tak akan tunduk sampai saatnya roh pergi. Awliya tunduk sebelum meninggal.

Nabi kita SAW bersabda, “Jika kamu ingin melihat seseorang yang meninggal sebelum dia meninggal, maka lihatlah Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA.” Beliau tidak lagi tertarik akan dunia. Jika seseorang tidak tertarik pada dunia dan hanya mencari akhirat, lalu apakah dia? Dia telah mati.

Itulah yang diturunkan oleh para awliya dari Nabi Muhammad SAW dan berusaha diteruskan kepada para pengikutnya agar raganya tunduk dalam kehidupan ini dan membiarkan rohnya bebas.

Jika dalam kehidupan ini kalian membiarkan roh kalian bebas dan raga dimatikan maka kalian akan menjadi seorang maghfar, karakul, sebuah tempat untuk menerima manifestasi dari atribut dan nama-nama-Nya yang indah.

Itulah mengapa Sayyida Maryam AS, tempatnya menjadi suci. Karena beliau menyerahkan dirinya pada Allah SWT. Ibunya, Imraatu ‘Imraan.

Idz qaalati imraatu ‘imraana rabbi innii nadzartu laka maa fii bathnii muharraran fa taqabbal minnii innaka antas-samii‘ul-‘aliim

Ketika istri 'Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat. Karena itu terimalah itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS 3:35]

Ibu Sayyida Maryam AS, Imraatu `Imran, ketika mengandung Maryam AS, beliau bersumpah, “Apa yang ada di dalam kandunganku, aku persembahkan pada-Mu, Wahai Tuhanku, secara sukarela. Anak ini untuk-Mu, seluruhnya untuk persembahan kepada-Mu.”

Falammaa wada‘athaa qaalat rabbi innii wada‘tuhaa untsa wallaahu a‘lamu bimaa wada‘at wa laysa adz-dzakarukal-untsa wa innii sammay-tuhaa maryama wa innii u`iidzuhaa bika wa dzurriyyataha min asy-syaythaanir-rajiim

Maka tatkala isteri `Imran melahirkan anaknya, diapun berkata, “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah SWT lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam AS dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” [QS 3:36]

Ketika dia melahirkan seorang bayi perempuan, dia berkata, ”Aku melahirkan bayi perempuan.” Dan Allah SWT mengetahui lebih baik apa yang dia lahirkan. Walaupun dalam al-Quran, laki-laki atau perempuan bukanlah perhatian utama, namun dia adalah seorang perempuan yang sangat suci karena sebagai ibunda dari Yesus AS. Allah SWT telah menerima baktinya, Allah SWT telah membuat tempatnya dan dirinya sendiri dan segala sesuatu tentang dia menjadi suci.

Itulah mengapa saat kalian membebaskan diri kalian, roh kalian dari lumpur atau hal keduniawian, nafsu syahwat, lumpur kebinatangan dan nafsu-nafsu buruk, maka roh yang bebas tersebut akan mampu maju, sebagaimana telah kami jelaskan, bukan kecepatan cahaya, bukanlah kecepatan pikiran, namun dengan kecepatan hati yang akan mencapai samudra pengetahuan Ilahi.

Manusia sedang berusaha sekuat tenaga dalam meditasi agar mencapai tingkatan itu dan hasilnya adalah teori-teori besar tentang energi kosmis agar dapat membebaskan diri mereka sendiri.

Islam memberikan hal itu dengan jalan yang sederhana. Yaitu dengan tunduk pada Allah SWT dalam sujud.

Meditasi melalui sujud lebih punya kekuatan daripada meditasi memakai lutut. Itulah mengapa Awliya bermeditasi selama 5 menit saat bersujud di sajadahnya. Karena saat kalian di sajadah, itulah saat terkuat. Kalian langsung ditempatkan di bawah singgasana-Nya. Maka ketika kalian bermeditasi di sana, di bawah tahta-Nya, kalian akan diberi pakaian yang berkekuatan surgawi.

Tetapi duduk biasa dengan lutut punya kekuatan, namun tidak mengantarkan kalian pada tujuan akhir.

Kita akan lanjutkan nanti, karena baterai kamera videonya telah habis. Pastikan meditasi kalian sangat kuat dalam bersujud, jangan tinggalkan itu, ikutilah dan Allah SWT akan menjaga kita seperti Abu Bakar ash-Shiddiq RA, mati sebelum ajal tiba.

Kami ingin berbicara tentang roh dan raga yang bergabung namun baterai kamera videonya habis.

Karena setelah sesi ini, kita akan sampai pada sesi lain bersama Syekh Nurjan. Abdul Haqq adalah bebas seperti halnya saya, muharraran (berkhidmat).

Wa min Allah at tawfiq

07 July 2008

Perantaraan Wali

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kita harus gembira. Tak perlu bersedih. Allah SWT telah menciptakan kalian. Jika Dia tidak menciptakan kalian, kalian tidak akan pernah ada. Berusahalah untuk selalu bergembira dan puas terhadap kondisi yang telah digariskan Allah SWT kepada kalian. Jangan pernah berkeberatan, apa pun yang kalian jumpai dalam hidup ini. Jika kalian melihatnya dengan perspektif yang baik, kalian akan merasakan kebaikannya. Sebaliknya, jika kalian melihatnya dengan perspektif yang buruk, kalian juga akan mendapatkan keburukan dalam diri kalian.

Hari ini adalah hari kedua di bulan Rajab. Rasulullah SAW bersabda, “Rajab adalah bulan Allah SWT, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku.” Beliau mengatakan, “Syakban adalah bulanku,” berarti Allah SWT telah memberinya, salahiyya, kontrol terhadap seluruh umat manusia di bulan itu. Tidak ada malaikat yang dapat menulis sesuatu tentang kalian, tanpa bertanya kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana Allah SWT mencintai umat manusia dan menciptakan mereka dengan sempurna, begitu juga Rasulullah SAW diciptakan oleh Allah SWT dan diberikan kekuasaan itu terhadap seluruh umat ini untuk menjaga mereka agar tetap murni dan bersih. Oleh sebab itu Rasulullah SAW memerintahkan seluruh wali di seluruh dunia selama 24 jam untuk membantu menolongnya dalam membersihkan dan menyeimbangkan kebaikan dan keburukan dalam diri setiap orang.

Rahasia sufi bukanlah rahasia. Mereka hanya tampak rahasia bagi orang yang belum pernah mendengar sebelumnya. Kepada yang lainnya mereka sangat familiar sebab mereka selalu bersama Rasulullah SAW, dan selalu mendapat pengetahuan tingkat tinggi dari hatinya.

Untuk setiap huruf dalam al-Qur’an, Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW 12.000 Samudra Pengetahuan. Jangan berpikir bahwa, “alif” yang merupakan salah satu huruf dalam al-Qur’an hanya sebagai huruf tunggal, jika diulang maka itu dianggap sebagai huruf baru. Oleh sebab itu, setiap munculnya satu huruf alfabet dalam al-Qur’an terdapat 12.000 Samudra Pengetahuan bersamanya. Semua yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW kepada kita, yaitu berupa pengetahuan yang mengikuti perintah Allah SWT bagaikan tetesan dalam samudra. Allah SWT menjaga apa yang tertinggal agar nanti hati manusia dapat menemukannya, dengan tubuh fisik ini kita tidak dapat mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa Sayyidina Abu Hurayra RA tidak dapat menerangkan semua yang diberikan oleh Rasulullah SAW ke dalam hatinya. Mengapa mereka akan memotong lehernya? Karena mereka cemburu.

Cendikiawan Muslim, Kristen, Yahudi—cemburu terhadap surga. Mereka tidak ingin seluruh umat manusia memasukinya, hanya orang-orang dari golongan mereka saja yang berhak memasukinya. Allah SWT berkata, tidak ada diskriminasi, seluruh umat manusia adalah hamba-Nya dan dengan demikian sama derajatnya—Muslim, Hindu, Yahudi, Kristen dan semua orang. Kita sebagai pengikut Rasulullah SAW setuju dengan sabdanya, bahwa seluruh umat manusia adalah sama. Untuk mengilustrasikannnya, berikut ini ada sebuah kisah yang berasal dari Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Syekh Nazim al-Haqqani QS. Cerita ini termasuk salah satu rahasia yang tersembunyi, yang akan dibuka pada saat datangnya Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS, Insya Allah.

Rasulullah SAW memerintahkan Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW, bahwa segera setelah beliau wafat, sebelum pemakaman dan setelah disalatkan, jubahnya harus diserahkan kepada Sayyidina Uwais al-Qarani RA sebab beliau harus memegang dan menjaga jubah tersebut. Rasulullah SAW juga berkata kepada mereka untuk menyerahkan diri mereka sebagai amanat darinya. Mereka berdua keheranan, bagaimana mereka sebagai sahabat terbaik Rasulullah SAW menyerahkan diri mereka kepada Uwais RA, dan siapa pula Uwais RA yang tidak pernah bertemu Rasulullah SAW? Mengapa dia tidak pernah muncul? Karena ibunya berkata kepadanya, “Jangan tinggalkan aku sendiri, jangan pergi.” Jadi dia tidak pergi.

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, beliau sangat banyak mengeluarkan keringat. Jika kalian melihat orang meninggal kalian akan menyaksikan orang itu mengeluarkan banyak keringat, banyak sekali air yang keluar dari tubuhnya. Rasulullah SAW adalah yang paling banyak mengeluarkan keringat dibandingkan seluruh orang di dunia ini. Siapa saja dapat dengan mudah memeras keringat dari jubah beliau, karena jubah itu benar-benar dibasahi air. Kemudian Sayyidina ‘Umar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW melepaskan jubah Rasulullah SAW dan pergi ke kampung Uwais RA, tempat yang telah disebutkan oleh Rasulullah SAW. Di sana mereka bertanya di mana Uwais al-Qarani RA, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana Uwais al-Qarani RA berada. Sayyidina ‘Umar RA mulai jengkel—bagaimana Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk menemukan seseorang yang tidak mungkin ditemukan? Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Wahai ‘Umar RA, jangan ada keraguan di hatimu, tetapi tunggu dan bersabarlah. Mari kita lihat masalahnya dengan cermat. Jika Rasulullah SAW berkata bahwa sesuatu itu ada, pastilah dia ada dan kita akan menemukan Uwais RA, insya Allah.”

Setelah mereka bertanya lebih banyak lagi, mereka akhirnya menemukan Sayyidina Uwais al-Qarani RA sedang duduk di batu dengan tongkat di tangannya. Ibunya berada di sampingnya. Rupanya Uwais RA adalah seorang pengembala ternak. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Siapa namamu?” Dia menjawab, “’Abdullah (hamba Allah SWT)” “Siapa nama keluargamu?” “’Abdullah”—“Aku juga ‘Abdullah” kata Sayyidina ‘Umar RA yang mulai bingung. “Siapa nama aslimu?” “’Abdullah adalah nama asliku.” Lalu Sayyidina ‘Umar RA menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW dan berkata, “Kita tidak menemukan orang yang cocok. Namanya ‘Abdullah, bagaimana Rasulullah SAW berkata kepada kita bahwa kita dapat menemukan Uwais al-Qarani RA?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata kepada orang itu, “Wahai ‘Abdullah, Aku menerima kenyataan bahwa namamu adalah ‘Abdullah, tetapi bagaimana orang biasa memanggilmu?” Dia menjawab, “Uwais al-Qarani RA.”

Nama asli setiap orang adalah ‘Abdullah, hamba Allah SWT. Ke mana pun kalian pergi, setiap orang memiliki 7 nama dalam pelat-pelat yang terpelihara (Loh Mahfuzh), salah satunya adalah nama itu. Ini adalah nikmat Allah SWT yang telah dijamin bagi semua orang, yaitu bahwa mereka adalah hamba Allah SWT.

Sayyidina ‘Umar RA bergembira. Beberapa saat kemudian Sayyidina Uwais RA berkata, “Berikan amanat yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepadaku.” Bagaimana dia mengetahui bahwa Rasulullah SAW mengirim jubahnya untuknya, padahal dia tidak pernah bertemu dengannya? Dia mengambil jubah itu dan meletakkan di atas kepalanya. Dia lalu melihat Sayyidina ‘Umar RA dan bertanya, “Apakah kalian tahu apa yang ada di jubah ini?” Sayyidina ‘Umar RA menjawab, “Tidak ada apa-apa.” Sayyidina Uwais al-Qarani RA menjawab, “Jubah ini berisi rahasia seluruh umat manusia, dan Rasulullah SAW memberikan tanggung jawab itu di pundakku.”

Allah SWT telah menciptakan dunia ini dan tidak akan meninggalkannya. Dia mengirimkan utusan dan wali ke dunia ini untuk menjaga agar manusia tetap bersih dari dosa dan kesalahan. Allah SWT tidak menciptakan kita untuk dibuang ke neraka. Dia menciptakan kita untuk ditempatkan di surga. Dia menciptakan kita karena Dia mencintai kita. Jangan berpikir bahwa Dia ingin menghukum manusia. Dia menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayang yang lengkap. Bagaimana seorang ibu mencintai anaknya? Ini adalah sebuah tetesan dalam Samudra Cinta Allah SWT. Dia akan membersihkan setiap orang dan menghukumnya sebelum dia meninggalkan dunia ini. Hal ini berjalan dengan mekanisme yang tidak kita ketahui.

Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Bagaimana rahmat bagi seluruh umat manusia berada di jubah ini?” Sayyidina Uwais RA menjawab, “Wahai ‘Umar RA pernahkah kalian melihat Rasulullah SAW?” Dia menjawab, “Pertanyaan bodoh macam apa ini? Aku selalu bersamanya setiap hari.” “Lukiskan beliau kepadaku!”, kata Sayyidina Uwais RA. Lalu Sayyidina ‘Umar RA mulai menyebutkan ciri-ciri Rasulullah SAW, mulai dari raut mukanya, warna matanya, dan seterusnya. “Semua orang juga mengenal beliau seperti itu. Engkau tidak melihat Rasulullah SAW yang sesungguhnya. Bagaimana denganmu ‘Ali RA, KW? Pernahkah engkau melihat Rasulullah SAW?” tanya Sayyidina Uwais RA. “Aku melihatnya sekali. Beliau memanggilku dan berkata, ‘Wahai ‘Ali RA, KW lihatlah diriku mulai dari perut ke atas,’ Aku melihatnya dan menemukan bahwa segalanya sampai ke lehernya berada di bawah singgasana Allah SWT, tetapi Aku tidak dapat melihat lehernya. Dan beliau menyuruhku untuk melihat dari perut ke bawah, Aku melihat dan menemukan bahwa lututnya mencapai bumi ketujuh, tetapi Aku tidak dapat melihat kakinya. Lalu beliau menyuruhku untuk melihat seluruhnya, dan Aku melihat segalanya lenyap kecuali Rasulullah SAW sendiri. Beliau adalah segalanya.”

Ini berarti jika Sayyidina ‘Ali RA, KW dapat melihat di mana leher Rasulullah SAW, dia akan seperti Rasulullah SAW. Tidak ada yang bisa menyamainya, karena itu adalah batas baginya. Sayyidina ‘Ali RA, KW juga tidak bisa melihat lututnya, dan itu telah mencapai bumi ketujuh. Tidak ada yang tahu apa dan di mana bumi ketujuh itu. Ini adalah suatu rahasia. “Beliau adalah segalanya,” merujuk pada apa yang kita bicarakan (pada pertemuan) sebelumnya, sehubungan dengan peciptaan kita oleh Allah SWT dengan 3 macam cahaya, yaitu: Cahaya Ilahi, Cahaya Rasulullah SAW, dan Cahaya Adam AS, dan berimplikasi dengan ayat al-Qur’an yang menyebutkan penghormatan Allah SWT terhadap umat manusia, [QS al-Isra’, 17: 70]. Bagaimana Allah SWT memuliakan umat manusia adalah suatu rahasia, tetapi dari rahasia itu kita dapat mengerti bahwa Allah SWT telah memuliakan kita dengan menciptakan kita dari ketiga cahaya tersebut.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Wahai ‘Ali RA, KW, engkau melihat Rasulullah SAW sekali.” Sayyidina ‘Ali RA, KW membalas, “Pernahkah engkau melihat beliau?” “Secara fisik belum pernah, tetapi secara spiritual Aku selalu bersamanya selama 24 jam,” jawabnya. Sayyidina ‘Umar RA bertanya, “Lalu apa yang ada dalam jubah itu?” Beliau berkata, “Dengarkan baik-baik! Jika Aku harus duduk denganmu dan umatmu, mereka akan memotong leherku. Itulah sebabnya Rasulullah SAW memerintahkan aku untuk menjauhimu dan bersembunyi. Jika Aku bersamamu dan Aku menceritakan semua rahasia ini, tak seorang pun akan menerima dan memahaminya. Tetapi suatu waktu nanti, pada saat akhir zaman seluruh rahasia ini akan dibuka, yaitu pada saat kedatangan Imam Mahdi AS dan Nabi ‘Isa AS.

Masa tersebut adalah sekarang, sebab seluruh tanda dan indikasi yang disebutkan oleh Rasulullah SAW telah ada. Seluruh wali juga menyatakan hal yang sama, bahwa di abad ini Imam Mahdi AS akan datang, begitu pula dengan Nabi ‘Isa AS. Kita semua berada di akhir dunia ini. Tidak banyak waktu tersisa. Setiap orang akan lebih suka hidup dengan cara yang mereka suka, tetapi pada kenyataannya mereka akan menjalani hidup yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Sayyidina Uwais RA berkata kepada Sayyidina ‘Umar RA, “Wahai ‘Umar RA sebelum Rasulullah SAW lahir, beliau sudah menyebut ‘umatku, umatku’ dalam rahim ibunya, ketika beliau lahir juga disebutkan ‘umatku, umatku’ dan demikian pula ketika beliau meninggal.” Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT, “Aku ingin menjadi perantara bagi umatku, Aku ingin menolong umat manusia, Aku ingin menjaga cahaya yang Engkau berikan kepada umat manusia tetap bersih dan murni. Aku membutuhkan kontrol dan kekuatan ini.” Ketika beliau wafat, Rasulullah SAW menolak untuk wafat kecuali dengan 1 syarat, yaitu beliau harus bisa membawa seluruh dosa dan beban seluruh umat manusia tanpa kecuali. Dengan syarat tersebut beliau memohon kepada Allah SWT, “Aku akan datang ke Hadirat-Mu, kalau tidak aku akan tetap tinggal di sini.” Allah SWT menjawab, “Terserah padamu!”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil semua makhluk hidup, setiap orang dengan namanya masing-masing, baik yang masih hidup atau sudah meninggal atau bahkan yang belum lahir sampai Hari Pembalasan. Beliau memanggil setiap roh secara perorangan. Mereka datang ke hadiratnya dan menerima beliau sebagai rasul dan mengucapkan syahadat di hadapannya, lalu bertaubat atas dosa-dosanya dan menyesali kesalahan mereka. Rasulullah SAW tidak membiarkan seorang pun pergi tanpa mendapat pengampunan dari Allah SWT. Dengan pengampunan dari Allah SWT tersebut, beliau berkeringat dan setiap tetes keringatnya melambangkan satu roh manusia.

“Jubah itu berisi tetesan keringat, atau simbol, atau roh dari umat manusia yang menjadi beban di pundak Rasulullah SAW. Beliau menyerahkannya kepadaku sebagai amanat untuk dijaga sampai waktunya nanti, di mana beliau akan ditanya tentang mereka.“ Jubah ini akan diteruskan lewat Mata Rantai Emas dari satu wali ke wali berikutnya sampai masa kita, dan selanjutkan akan diserahkan kepada Imam Mahdi AS ketika beliau muncul dan kemudian diserahkan kepada Nabi ‘Isa AS pada saat kemunculannya.

Sayyidina ‘Umar RA menangis dan berkata, “Orang bodoh macam apa aku ini yang tidak mengetahui segala macam rahasia ketika beliau masih hidup? Apakah Aku mempelajari sesuatu sekarang, setelah beliau wafat? Mengapa, wahai ‘Ali RA, KW, mengapa engkau tidak mengatakan kepadaku bahwa engkau melihat beliau dengan cara seperti itu? Aku akan mendatanginya dan menanyakan kepadanya ibadah seperti apa yang harus kulakukan agar aku bisa melihatnya seperti yang engkau lakukan.” Setelah kejadian itu Sayyidina ‘Umar RA menangis terus selama hidupnya.

Bulan Rajab ini tidak akan berakhir sampai setiap orang di dunia ini dibersihkan dari dosa-dosanya dan cahaya ditempatkan dalam hatinya. Kekuatan yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk membersihkan hati umat manusia juga diberikan kepada para awliya. Wali-wali tersebut adalah pembantu bagi Rasulullah SAW di bulan ini. Itulah sebabnya mereka sibuk di bulan Rajab. Mereka tidak berbicara kepada orang-orang. Mereka menutup pintu mereka dan duduk di ruangannya, tidak keluar, terus-menerus hanya memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan umat manusia.


Mas Kawin Fatima az-Zahra AS

Putri Rasulullah SAW, Siti Fatima az-Zahra’ AS ketika dia melihat ayahnya terus-menerus menyebut ‘umatku’, dia juga ingin melakukan sesuatu untuk kepentingan umat. Lihat dan perhatikanlah bagaimana para wali berusaha untuk menyelamatkan umat manusia dan mencegah mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa dan kesalahan. Ketika Allah SWT memerintahkan untuk menikahkan putrinya kepada seseorang, Rasulullah SAW memanggil semua sahabatnya dan berkata kepada mereka, “Allah SWT telah memerintahkan Aku malam ini untuk mengatakan bahwa barang siapa yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir di malam ini akan dinikahkan dengan putriku Fatima AS.”

Malam itu seluruh sahabat berkumpul di masjid dan berusaha membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir, kecuali Sayyidina ‘Ali RA, KW yang pulang ke rumah dan tidur. Ketika Bilal RA mengumandangkan azan untuk shalat Subuh, seluruhnya datang, Rasulullah SAW pun hadir di sana. Setelah selesai shalat beliau bertanya, “Siapa yang menyelesaikan al-Qur’an tadi malam sehingga Aku dapat menikahkannya dengan putriku Fatima AS?” Tidak ada yang menjawab pertanyaan beliau, sebab sangat sulit untuk menyelesaikan 30 juz hanya dalam waktu 7 atau 8 jam. Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku menyelesaikannya.” Mereka melihatnya dengan iri dan berkata, “Bagaimana engkau menyelesaikannya? Engkau tidur semalaman.” Dia berkata, “Tidak, Aku menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir.” Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina ‘Ali RA, KW, “Siapa saksimu?” Sayyidina Ali’ RA, KW menjawab, “Allah SWT saksiku, dan engkau Ya Rasulullah SAW, adalah saksiku bahwa Aku telah menyelesaikannya.”

Sekarang dengarkan baik-baik karena Mawlana Syekh Nazim QS sangat menekankan hal ini. Rasulullah SAW sebagaimana yang kalian ketahui tidak pernah memperlihatkan bahwa beliau mengetahui sesuatu terjadi di luar batas normal, sebelum Jibril AS memberitahukannya. Oleh sebab itu beliau menunggu datangnya inspirasi dari malaikat Jibril AS. Akhirnya malaikat Jibril AS datang dan berkata, “Allah SWT berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah berkata benar dan bahwa dia telah menyelesaikan al-Qur’an dari awal hingga akhir, jadi tanyalah apa yang dilakukannya.” Rasulullah SAW berkata kepada para sahabat, “Sekarang malaikat Jibril AS telah datang kepadaku dan berkata bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an dan Allah SWT adalah saksinya. Dengan demikian Aku juga menjadi saksinya, dan Aku bertanya kepada ‘Ali RA, KW apa yang telah dibacanya malam itu?” Sayyidina ‘Ali RA, KW berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku membaca Asy-hadu an la ilaha illallah wa asy-hadu anna Muhammadun Rasulullah 3 kali, lalu Qul huwallahu Ahad 3 kali, lalu Qul A’udzu bi rabbil falaq 1 kali dan Qul a’udzu bi rabbin nas 1 kali, dan La ilaha illahllah 10 kali serta Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim 10 kali.”

Rasulullah SAW berkata, “Sebagaimana Allah SWT telah menjadi saksi bahwa ‘Ali RA, KW telah menyelesaikan al-Qur’an, Aku menyaksikan juga hal ini, bahwa jika kalian membaca apa yang telah kita dengar dari ‘Ali RA, KW berarti kalian telah menyelesaikan al-Qur’an.” Pada saat itu juga keluar hadis yang menyatakan bila seseorang membaca surat al-Ikhlash 3 kali, seolah-olah dia telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Membaca surat ini setiap hari paling lama hanya menghabiskan waktu 2 menit, tetapi seolah-olah kalian telah membaca seluruh al-Qur’an. Orang yang tidak tahu duduk, mencoba membaca dan menyelesaikan al-Qur’an dengan bangga, tetapi mereka tidak dapat menyelesaikannya. Kalian dapat melakukan hal yang ringan ini dan menyelesaikannya, seolah-olah kalian telah menyelesaikan seluruh al-Qur’an. Apa lagi yang kalian inginkan? Demikialah, akhirnya Fatima AS menikahi ‘Ali RA, KW.

Lihatlah pernikahan Fatima AS itu, dan jangan katakan bahwa tidak ada kebebasan bagi wanita dalam Islam. Kalian akan salah. Allah SWT telah memberikan kebebasan dan persamaan kepada pria maupun wanita. Mereka dapat memberikan pendapat mereka dan memberikan kesimpulannya sendiri. Bahkan Rasulullah SAW menanyakan dulu kepada putrinya, dan berkata kepada para Sahabat, “Aku harus menanyakan putriku apakah dia menerima pernikahan ini atau tidak, itu adalah keputusannya. Orang-orang yang tidak mengerti sekarang menuduh bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita. Inilah yang mereka katakan dan kita tidak harus mempercayainya. Kita percaya terhadap apa yang kita baca dan kita dengar dari Rasulullah SAW. Beliau memberikan persamaan, begitu pula dengan Allah SWT. Wanita mempunyai hak yang sama dengan pria. Inilah yang kita yakini, dan khususnya orang Amerika harus waspada dengan pemikiran bahwa Islam tidak memberikan hak kepada wanita.

Rasulullah SAW bertanya kepada Fatima AS, “Wahai Fatima AS, apakah engkau menerima ‘Ali RA, KW sebagai suamimu?” Dia berkata tidak. Seluruh sahabat menoleh pada Sayyidina ‘Ali RA, KW, lalu Fatima AS, dan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW merasakan mukanya memerah, mengapa Fatima AS berkata tidak? Apakah dia mencintai orang lain? Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang harus dikatakan, dan malaikat Jibril AS datang dan berkata kepadanya, “Jangan terburu-buru mengambil keputusan tentang hal ini. Allah SWT berpesan untuk menanyakan kepada Fatima AS mengapa dia tidak menerima pernikahannya.” Rasulullah SAW berbalik kepada Siti Fatima AS dan bertanya, “Ya Fatima AS, engkau berkata tidak, tidak mengapa, ini adalah keputusanmu. Tetapi bisakah Aku mengtahui mengapa engkau menolaknya?” Dia berkata, “Aku hanya berkata tidak karena Aku tidak menerima kecuali dengan satu persyaratan. Ini bukan soal ‘Ali RA, KW tetapi berhubungan denganku. Jika engkau mengabulkan persyaratan itu, Aku akan menerimanya, jika tidak Aku tidak akan menikah dengan ‘Ali RA, KW.” Sekali lagi, malaikat Jibril AS datang kepada Rasulullah SAW, dan berkata, “Allah SWT memerintahkanmu untuk menanyakan apa persyaratan itu.” Sekarang perhatikan apa yang telah ditanamkan Allah SWT dalam hati Fatima AS, dan pertimbangkan kebaikan dan posisi wanita dalam Islam.

Rasulullah SAW berkata, “Ya Fatima AS apa yang menjadi syaratmu itu?” Dia berkata, itu sangat mudah. Jika engkau dan Allah SWT menerima, Aku menerimanya. Jika Allah SWT tidak menerimanya, Aku juga menolak untuk menikah. Ketika engkau datang ke dunia ini, engkau berkata, ‘umatku, umatku!’ dan selama hidupmu, siang dan malam, Aku mendengarmu di dalam rumah selalu memohon, ‘Umatku, Ya Allah SWT! Izinkan Aku untuk membawa umatku kepada-Mu Ya Allah SWT! Maafkanlah mereka! Murnikanlah mereka! Hapuskanlah dosa-dosa mereka, beban mereka dan kesulitan mereka!’ Aku mendengarmu, dan Aku tahu betapa menderitanya engkau untuk umatmu. Dan Aku tahu dari apa yang telah engkau ucapkan bahwa ketika engkau meninggal, engkau akan tetap mengucapkankan ‘umatku!’ kepada Allah SWT, juga di dalam kuburmu, dan di Hari Pembalasan nanti.

“Umatku” berarti seluruh umat manusia. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia—tidak hanya untuk muslim. Salah besar untuk menafsirkan kata umatku dengan cara demikian. Rasulullah SAW datang untuk seluruh umat manusia. Pada saat itu tidak ada muslim dan beliau datang untuk seluruh umat manusia, Kristen, Yahudi dan penyembah berhala dari masa Jahiliyah. Orang-orang yang mempercayai beliau disebut muslim, mereka juga dikenal dengan “Ummatul Ijaba,” artinya umat bagi mereka yang menerima Rasulullah SAW. Mereka yang tidak mempercayainya disebut “Ummatud da’wa,” artinya umat (yang telah diberi) pesan, mereka berada di sisi luar, tetapi tetap saja Rasulullah SAW datang kepada mereka, dengan demikian mereka juga adalah umatnya.

Fatima AS melanjutkan, “Sejak Aku melihatmu—wahai Ayahku—sangat menderita untuk umatmu, dan karena cinta kepada umatmu juga tumbuh dalam hatiku, Aku menginginkan umatmu sebagai mas kawinku. Jika engkau menerimanya, Aku akan menikahi ‘Ali RA, KW.” Dia meminta seluruh umat Rasulullah SAW—Yahudi, Kristen, Muslim, Buddha, Hindu, semua orang tanpa diskriminasi. “Aku menginginkan mereka sebagai mas kawinku agar Aku dapat menerimanya saat Aku berada di Hari Pembalasan nanti, dan menerima mas kawin itu dari Allah SWT, sehingga Aku bisa memasukkan mereka ke dalam surgaku. Jika engkau tidak menerimanya, Aku tidak akan menikahi ‘Ali RA, KW.”

Apa yang akan dikatakan oleh Rasulullah SAW? Beliau tidak bisa memberikan mas kawin semacam itu, karena itu tidak berada di tangannya. Beliau menunggu kedatangan Jibril AS, tetapi malaikat Jibril AS tidak datang dengan segera. Dia membiarkan Rasulullah SAW menunggu beberapa saat, lalu datang dan mengatakan, “Allah SWT menyampaikan Salam-Nya kepadamu, dan menerima permintaan Fatima AS, dan memberikan seluruh umat manusia sebagai mas kawin untuk menikahi ‘Ali RA, KW.” Dengan segera Rasulullah SAW bangkit dan salat syukur 2 rakaat untuk berterima kasih kepada Allah SWT.

Fatima AS tidak berkata, “Aku menginginkan uang atau perhiasan,” sebagaimana wanita sekarang, pria berusaha untuk menikahi gadis yang kaya dan sebaliknya. Dia hanya melihat umat Rasulullah SAW. Tidak ada satu pun yang akan berada di luar mas kawinnya, karena jika Allah SWT mengeluarkan satu orang saja, itu akan berarti dia telah ‘berzina’ dengan ‘Ali. Oleh sebab itu, dia akan mengambil seluruh umat manusia di bawah sayapnya dan mereka akan masuk surga bersamanya.

Ini berasal dari kekuatan satu orang wanita muslim. Dia membawa seluruh orang bersamanya untuk masuk surga. Apakah kalian berpikir seseorang akan tertinggal di luar? Karena dia, tak seorang pun akan tertinggal di luar. Bagaimana dengan sebagian besar wanita dalam Islam? Apa yang akan menjadi kekuatan mereka? Bagaimana dengan para wali? Bagaimana dengan rasul-rasul? Itulah sebabnya Allah SWT menciptakan umat manusia bersih, dan Dia menjaga tetap bersih dengan kekuatan seperti itu, dan sebagaimana Sayyidatina Fatima AS, Sayyidina ‘Ali RA, KW, Sayyidina ‘Umar RA, Rasulullah SAW, Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim QS, dan para wali dari Tarekat Naqsybandi—menjaga setiap orang agar tetap bersih dan murni.

Oleh sebab itu bergembiralah, puaslah dengan yang Allah SWT berikan kepada kalian. Jika kalian bergembira dan puas, kalian akan menemukan kegembiraan dan kepuasan sepanjang hidup kalian.

Wa min Allah at tawfiq

© 1993, Haqqani Islamic Trust
7007 Denton Hill

Fenton, MI 48430