Showing posts with label Haqiqat. Show all posts
Showing posts with label Haqiqat. Show all posts

08 July 2008

Tiga Tingkatan Karakter: Tembaga, Perak dan Emas

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Penjelasan dari `Iqaz al-Himam fii Syarh al-Hikam,
oleh Ahmad ibn Muhammad ibn `Ajiba


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya. [QS 4:59]

Alhamdulillah bahwa kita berada pada saat di mana orang-orang sedang tergerak mempelajari Islam untuk mengetahui apakah sebenarnya Islam itu. Peradaban Islam ada sejak 1400 tahun yang lalu (atau lebih), sejak zaman Nabi Muhammad SAW, sang pembawa pesan-pesan Allah SWT.

Kita juga tertarik untuk mengetahui tentang prinsip dan dasar nilai yang diajarkan Islam pada penganut-penganutnya dan pada yang lain. Kita tengok lebih dalam sebagai muslim dan sebagai sufi, mutasawwifiin, mereka yang spiritualis--tazkiyyat an-nafs, mengkaji lebih dalam untuk meningkatkan diri sendiri, bukan dari luar saja, tetapi juga dari dalam.

Dan telah disampaikan bahwa samtul jaahili saluuhuh orang-orang yang tidak peduli, saat mereka diam, akan menyembunyikan (kenyataan-penerj.) bahwa mereka sebenarnya kaum yang tidak peduli.

Kaum yang tidak peduli sekarang ini ada 2 macam: orang yang tidak peduli sadar bahwa mereka memang orang yang lalai dan terus berdiam diri menyembunyikan ketidakpeduliannya. Yang lain adalah orang-orang yang sungguh tidak peduli, namun ketidakpeduliannya memberi mereka kesombongan bahwa mereka “tahu” sesuatu. Mereka menjadi kaum terpelajar yang berpidato di podium (manaabir), memberi kuliah; dan karakteristik seperti itu adalah yang paling buruk.

Telah disampaikan bahwa pengetahuan kalian dibanding yang lain adalah seperti berbedanya besi, tembaga dan perak. Mana yang lebih baik? Perak. Tetapi kalian adalah tembaga dan besi. Jika tetap diam, kalian tidak akan memperlihatkan karakter besi yang tak berharga itu. Jika tidak diam, maka kalian seperti dilapisi lapisan perak.

Orang-orang pergi membeli barang berlapis perak senilai 5 – 10 dolar. Yang lain membeli perak asli yang bernilai ratusan dolar. Saat mereka mengetahui bahwa barangnya hanya dilapisi perak, mereka berkata, “Ini tak berharga.”

Orang-orang yang tidak peduli melapisi diri mereka dengan perak agar terlihat bersinar. Namun setelah beberapa waktu, lapisan itu hilang dan yang terlihat adalah – wajah asli mereka. Itulah bagi mereka yang tertarik pada penampilan luar. Mereka itu bukanlah mereka yang asli tetapi masih berupa tembaga.

Ada kumpulan lainnya. Di dalam diri mereka adalah perak, dan itu asli. Tetapi karena mereka asli, mereka rendah hati. Bagaimana cara mereka selalu berendah hati? Mereka melapisi diri mereka dengan tembaga. Mengapa? Karena mereka ingin menjaga karakteristik “perak” yang mereka miliki. Mereka bukanlah orang “tembaga” yang ingin memperlihatkan “perak”-nya. Mereka adalah “perak” yang sadar bahwa meskipun menjadi “perak” mereka tetap tak ada apa-apanya dibanding kebesaran Allah SWT dan itulah sebabnya mereka merendahkan diri sebagai seorang “tembaga.” Mereka diam, rendah hati. Mereka menjaga diri agar tampak seperti orang normal lainnya.

Ada pepatah dalam bahasa Arab, “Jika bicara asalnya dari perak, maka diam berasal dari emas.”

Ada kelompok lain yang memiliki aspek di dalam dirinya “emas”. Mereka tunduk kepada Allah SWT. Tak ada keraguan pada diri mereka dan mereka selalu dalam total kepatuhan, mereka ini menjadi “emas” karena Allah SWT mengangkat (derajat – penerj) mereka. Dan inilah kaum terbaik, orang-orang yang paling bisa dipercaya. Mereka adalah para awliya yang sejati.

Mereka sadar bahwa penampilan fisik tak ada harganya, yang mereka tahu bahwa aspek batinnya, walaupun bernilai (menghormati akan hal itu)-- adalah tak ada apa-apanya dibandingkan kebesaran Allah SWT. Mereka tunduk sepenuhnya; meninggalkan sisi luar dan mengatakan, “Kami tidak akan menonjolkan diri sebagai orang berpendidikan tinggi.” Karena mereka adalah emas dan apa pun yang mereka katakan tak ada apa-apanya di hadapan Allah SWT, maka mereka pun diam. Maka Allah SWT menghiasi mereka dengan Kebesaran-Nya, Nabi-pun mendandani mereka dengan kebesarannya, namun mereka menyembunyikan (rahasia tersebut), sebagaimana orang akan menyembunyikan perhiasan emasnya, dan mereka tidak menyembunyikan perhiasan perak.

Allah SWT menyembunyikan awliya-Nya. “Orang-orang suci ada di bawah naungan-Ku, dan tak ada yang tahu kecuali Aku. Ada perbedaan besar di antara ke-3 tingkatan ini. Apakah tingkatan itu?

  1. Sisi luar
  2. Sisi dalam
  3. Termasuk dalam keduanya namun tetap diam.

Hal ini terdapat dalam hadis Nabi SAW tentang Islam, syariah, iman, tarekat, ihsan, makrifat – “Beribadahlah pada Allah SWT seolah-olah kalian melihat-Nya, jika tidak melihat-Nya, ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”

Inilah yang kita jelaskan tadi, syariah, haqiqat, makrifat. Jika kalian mengikuti disiplin syariah, mematuhi apa yang Allah SWT perintahkan, hal itu mengantarkan kalian mencapai haqiqat. Lalu mengikuti petunjuk yang Allah SWT kirimkan pada kalian.

Syariah mengajari kalian bagaimana mengikuti, seperti dalam perang dunia, kalian mempunyai lubang-lubang, dan untuk melaluinya kalian harus tahu di mana lubang-lubang yang lain berada. Syariah membawa kalian menyebrangi lubang-lubang ini dengan selamat.

Jika kalian telah melewati lubang-lubang tersebut, maka sampailah kalian pada kebun yang bernama haqiqat. Saat kalian didandani dengan kebun-kebun haqiqat itu, kalian melihatnya, menikmatinya dan mengalaminya. Mereka pun mengantar kalian pada makrifat, mengajari kalian ilmu yang ada di kebun-kebun ini. Saat kalian memiliki kebun-kebun ini, maka kalian memahami pentingnya kebun-kebun (haqiqat) ini. Lalu tujuan kalian adalah ma`rifatullah.

Allah SWT memberi kalian sebuah pengetahuan untuk mengetahui ciptaan-Nya, dan untuk memahami apa pun yang Dia ingin kalian mengetahuinya – itulah ma`rifatullah.

Itulah arti dari hajaru 'l-aswad, yang seluruhnya tertutup dengan perak. Bagian luar dan dalamnya. Hajaru `l- aswad berasal dari Surga. Saat kalian telah melewati (tahap) “perak” kalian akan menjadi “emas”. Sebelum hajaru `l-aswad adalah thawaaf, yang menggambarkan syariah. Syariah mengantar kalian melewati ladang-ladang sumur. Thawaaf adalah wajib. Namun saat sampai pada hajaru `l-aswad kalian menciumnya. Itulah haqiqat.

Sayyidina Umar RA berkata, “Jika tidak melihat Nabi SAW menciummu, aku tak mau melakukannya.” Lalu Sayyidina `Ali RA, KW menimpali, “Jangan berkata begitu, batu ini akan menjadi saksi bagi setiap orang yang menciumnya saat kiamat nanti.” Itulah mengapa saat para awliya mencium hajaru `l-aswad; mereka sedang mencium surga.

Orang awam saat melaksanakan haji atau umrah mereka melaksanakan thawaaf, dan mereka pun mencium (hajaru `l-aswad). Karena mereka memenuhi kewajiban syariah, mereka diizinkan untuk menciumnya. Allah SWT meletakkan batu itu di sana agar orang-orang mampu melihat “kebun” (makrifat) itu.

Hanya sebuah dinding di sana? Mengapa Nabi SAW mencium batu itu? Di balik batu itu ada sebuah realitas, makrifat. Batu itu adalah simbol kebun surgawi, karena merupakan bagian dari Surga. Saat kalian menciumnya kalian memasuki Surga. Mereka yang mencium hajaru `l-aswad dilindungi dari “Api”. Itulah betapa pentingnya pergi hajji, walaupun sekali seumur hidup. Adalah penting untuk mencium Surga, karena batu itu berasal dari Surga. Amal kalian akan digantikan dengan amal yang baik saat mencium batu itu.

Dikatakan bahwa yang terbaik dari ketiganya adalah yang diambil dari lahir dan yang diambil dari batin, mereka mengambil dari kedua sisi. Dari lahir bermanfaat untuk dunia. Mengapa? Karena itu adalah tampilan luar. Segala tampilan luar adalah untuk dunia. Namun bila kalian tambahkan dengan beberapa kewajiban, hal tersebut akan mengantar kalian selamat pada Hari Pengadilan kelak.

Kelompok yang lain adalah ahli batiniah, Ahl al-baathin, orang-orang yang penuh realitas. Jika kalian berteman dengan mereka, mereka akan memberi kalian apa yang mereka lihat sebagai realitas. Jika kalian terus bersama mereka, kalian akan menemukan persahabatan yang baik bersama mereka. Mereka bukan hanya memberi kalian Surga, tetapi lebih dari itu, yaitu ilmu. Mereka menarik pengikutnya pada realitas ini.

Dan yang terbaik dari 2 kelompok ini adalah yang ketiga. Siapakah kelompok ketiga ini? Mereka yang mengambil manfaat dari “pengetahuan luar”, dan mengambil manfaat dari “pengetahuan dalam”. Seperti Abu Bakar ash-Shiddiq RA; mengambil manfaat. Mereka mewarisinya dari Nabi SAW. Beliau berdagang, berbisnis dengan sang istri dan pada saat yang sama beliau juga berada di gua hira [ber-khalwat/meditasi]. Sayyidina Abu Bakar RA adalah seorang pengusaha, Sayyidina Umar RA juga, dan begitu pula dengan Sayyidina Utsman RA dan Sayyidina `Ali RA, KW. Mereka adalah shiddiqiin, orang-orang yang jujur. Siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya harus tetap melaksanakan syariah dengan benar.

Tidak seperti kelompok sufi (yang ditemukan di Barat), Thariqat Naqsybandi, thariqat yang sangat konservatif tetap menjaga syariah. Tak ada kompromi bila mengenai syariah, Syekh menjaga syariah dalam cara klasik dan tradisional untuk mereka sendiri, namun bagi orang-orang, mereka sangat fleksibel. Mereka mewariskan cara-cara yang termudah.

Butuh 23 tahun bagi Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan pesan itu. Kalian tak mampu menyampaikan pesan syariah, haqiqat, dan makrifat, hanya dalam waktu 1 bulan, 2 bulan atau 3 bulan. Itu butuh waktu.

Para Syekh Naqsybandi menjaga syariah agar tetap berjalan dengan baik, mereka harus dihiasi baik sisi luar maupun sisi dalamnya. Jika kalian berhias bagus untuk sisi luar tetapi bukan dari dalam, kalian seperti sebuah jam yang mempunyai jarum tetapi mesin di dalamnya rusak. Jika kalian berhias bagus di dalam namun bukan di bagian luarnya, seperti jam yang mesinnya hidup tetapi tidak mempunyai jarum. Namun bila luar dan dalam kalian dihias dengan bagus, maka seperti sebuah jam yang mempunyai mesin bagus dan memiliki jarum. Posisi kalian sempurna.

Setiap orang dapat memeriksa diri sendiri, apakah telah berhias secara luar dan dalam.

Untuk mengetahui perhiasan macam apa (yang digunakan) untuk menjaga mereka agar bersih dari segala gangguan dan godaan yang diberikan setan pada manusia. Seberapa besar kalian harus dipersenjatai. Bukan senjata fisik, tetapi persenjataan agar mata dan telinga kalian tidak mendengar hal-hal yang buruk, tidak melihat hal-hal jelek, membekali diri dari sisi luar dengan prinsip-prinsip perilaku yang benar.

Dan setiap orang sadar betapa mereka bergantung pada pikiran-pikirannya sendiri. Saat mereka bertanya pada Mawlana Syekh Nazim QS, “Bagaimana kami menyesuaikan diri saat sesuatu muncul, karena kami bukan orang-orang terpelajar?”

Beliau menjawab, “Gunakan akalmu untuk menimbang masalah-masalah yang ada di depanmu. Jika akalmu menerimanya, terimalah. Bila tidak, hal itu memberi kesempatan melakukan apa yang setan mau.”

Seperti saat ego kalian berkata, “Pergilah merokok.” Apa yang dikatakan akal kalian tentang merokok? Ia katakan, “Tidak baik untuk kesehatan dan mengakibatkan berbagai macam kanker.” Artinya seharusnya kalian hilangkan kebiasaan merokok itu dari kehidupan kalian. Akal kalian mengatakan hal itu buruk namun tidak didengarkan.

Nabi SAW bersabda, “Kulli muddurin yuqtal – “Semua yang merusak adalah membunuh.” Kata-kata yang digunakan adalah membunuh. Namun tiap kata tidak diartikan secara harfiah, harus dipahami secara simbolik. Jika seekor singa akan menyerang, kalian boleh membunuhnya. Ada seekor kalajengking spiritual yang dapat membunuh kalian, sebagaimana seekor singa spiritual yang dapat menyerang kalian. Seperti rokok, itulah artinya mengapa akal kalian mengatakan bahwa ini adalah salah.

Seperti obat-obatan terlarang. Beberapa orang mengatakan bahwa rokok adalah merusak, namun tidak masalah dengan marijuana. Saya katakan pada mereka, “Jangan merokok.” Jawab mereka, “Kami tidak merokok.” Saya katakan lagi, “Saya melihat kalian merokok.” Mereka menjawab lagi, “Tidak! Ini adalah marijuana, bukan rokok.” Namun saat itulah akal kalian berkata, “Ini adalah hal yang buruk.”

Jika kalian hanya mengetahui dasar syariah, gunakan akal kalian untuk membedakan apa yang baik bagi kalian dan apa yang tidak, apa yang membuat Allah SWT senang pada kalian, dan apa yang membuat Nabi SAW senang pada kalian. Memakai cara lain akan menyesatkan dan mengikuti jalan setan. Syekh yang mumpuni disebut sebagai al-`arifu billah. Orang yang tahu tentang Allah SWT. Mereka yang mengetahui (apa yang Allah SWT ingin mereka ketahui) dari realitas yang tersembunyi. Al-`arifu billah berbeda dengan wali. Wali dapat menjadi seorang wali sejauh apa yang mereka sendiri (ingin) perhatikan. Allah SWT menjadikan mereka sebagai wali karena ketulusan hatinya. Dia seperti seorang manusia untuk dirinya sendiri.

Seorang 'arifu billah adalah orang yang mampu mengakomodasikan kalangan terburuk dan kalangan tertinggi dari kaum (yang berorientasi) luar bersama-sama dengan para awliya yang terendah sampai yang tertinggi tingkatannya.

Jadi ia mempertemukan kalangan biasa, tukang kayu, tukang sampah dan lebih rendah lagi dari level tersebut pada saat yang sama ia mampu menemui presiden. Saat bersamaan pula ia dapat pergi pada awliya yang terendah sekaligus tertinggi, ia mampu bergaul di antara keduanya karena ia mempunyai tinjauan luas dan ia adalah seorang Insan al-Kamil, manusia sempurna. Itulah yang disebut seorang arifu billah.

Berbeda dengan seorang wali. Banyak awliya yang tidak mampu bergaul dengan mereka (yang berorientasi) luar. Itulah mengapa kalian lihat saat ini banyak orang berkata, “Para Sufi tidak bisa berbaur dengan masyarakat, mereka selalu duduk di sudut ruangan.” Itu benar, karena mereka berada pada level di mana mereka tidak dapat berbaur dengan orang-orang lain.

Namun para `arifiina billah berada pada level yang lebih tinggi—seperti Sayyidina Ahmad al-Faruqi QS yang mampu bergaul dengan orang-orang di bawahnya dan para penguasa atas. Banyak yang seperti itu seperti Sayyidina Syah Naqsybandi QS dan Sayyidina Abayazid al-Bistami QS.

Itulah mengapa kita bisa lihat Mawlana Syekh Nazim QS dapat bergaul dengan segala macam orang. Beliau dapat bergaul dengan kalangan paling atas sampai kalangan terendah. Dan beliau pun mampu bersama wali tingkat terendah sampai yang tertinggi. Beliau mewarnai diri beliau sendiri pada level rakyat. Kalian lihat orang-orang mendatangi beliau hanya dengan masalah-masalah duniawi saja. Bagi beliau tidaklah menghabiskan waktu - beliau menampung mereka semua karena beliau adalah seorang al-`arif billah.

Bagi seorang wali dan bukan seorang yang arif, mereka melihat syekh membuang-buang waktunya. Mereka tidak tahu bahwa syekh sedang mengakomodasi mereka semua. Kami mendapat banyak kritik di internet saat syekh menemui kaum petinggi negara.

Seorang `arif billah mampu pergi ke dua kutub. Perahu membutuhkan 2 dayung, jika hanya satu maka gerakannya lambat. Sebuah kapal terbang yang hanya bersayap satu, tak mampu terbang.

Sufi hanya mampu duduk di sudut ruang, ia hanya mempunyai satu sayap, namun seorang arif billah dapat pergi ke mana pun; ia dapat membuka pintu-pintu, sehingga dapat dibawa bersama dan menjembatani keduanya.

Dikatakan bahwa seorang arif billah tidak menolak siapa pun, secara lahir maupun batin. Ia merangkul Ahl al-dunya (ahli dunia) dengan berhubungan dengannya, memenuhi kebutuhan kebutuhannya. Mereka bahagia, dan karena itulah mereka menjadi murid-muridnya. Seorang Ahl al-baathin, ahli batiniah yang mempunyai tujuan tak lain adalah akhirat, mereka datang juga untuk belajar.

Banyak orang yang mendatangi Mawlana Syekh Nazim QS, sang arif billah, mereka hanya menginginkan dunia. Mereka percaya pada beliau dan beliau membuat mereka menjadi murid-murid beliau. Mereka mencintai dan menghormati beliau, itu sudah cukup. Dengan cara itu beliau membawa mereka untuk beribadah.

Yang lain yang sedang ber-tazkiyyat an-nafs, kebersamaan mereka menjadikan mereka sebagai murid-murid beliau. Itulah orang yang arif, kalian melihat kehadirannya di antara kaum yang berbeda. Kalian akan kagum karena yang satu tidak cocok dengan yang lain, namun beliau membuat mereka cocok.

Orang yang mengenal Allah SWT, dan Allah SWT telah memberikan padanya, untuk membuat orang lain bahagia dengan apa yang ia berikan.

Dikatakan bahwa wali al-kamal akan berkembang dalam setiap level. Ini adalah evolusi yang nyata, bukan evolusi dari monyet ke manusia seperti teori Darwin. Evolusi yang nyata adalah dalam cara makrifat, ilmu pencerahan. Bergerak ke tingkat yang tinggi dan lebih tinggi lagi, membawa yang di dalam dan di luar sekaligus. Sungguh menakjubkan.

Kalian lihat para pemimpin datang, raja-raja, presiden-presiden datang dan di lain sisi orang-orang yang tulus, spiritualis. Bukannya yang lain tidak tulus, tetapi tingkatnya berbeda.

Itulah yang Allah SWT himbau pada kita. Saat Sayyidina Jibril AS menanyakan Nabi SAW tentang agama, beliau mengatakan bahwa agama terdiri dari 3 aspek: Islam, iman dan ihsan. Dan kita mengkategorikan tingkatan manusia menjadi tembaga, perak dan emas lalu syariah, haqiqat dan makrifat. Kemudian telah kita diskusikan Ahl azh-zhaahir, al-`arif billah dan maqam al-ihsan.

Semoga Allah SWT memaafkan kita semua dan memberikan rahmat malam ini dan dengan kehadiran Nabi kita Muhammad SAW dan syuyukh kita.

Bi hurmatil fatiha.
Wa min Allah at tawfiq



05 June 2008

Pantai Kebenaran

Wawancara Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Penanya: Syekh Nazim QS, dalam dua hari terakhir ini di Haus Schnede (Jerman), Anda bertemu dengan banyak orang yang tentunya menanyakan banyak hal kepada Anda. Dari semua pertanyaan itu manakah yang paling signifikan?

Syekh Nazim QS: Alhamdulillah! Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya, malah sebaliknya mereka adalah pendengar yang tekun. Pada saat mereka memperhatikan apa yang kami bicarakan mereka akan menemukan jawaban atas pertanyaan mereka dalam kata-kata kami, sehingga tidak perlu muncul pertanyaan.

Penanya: Sayang sekali saya tidak sempat hadir. Sekarang saya akan bertanya tentang jalan (tarekat) Anda. Anda adalah seorang pemimpin dari Tarekat Naqsybandi dan pengikut ajaran Syah Bahauddin Naqsyband QS. Tarekat Naqsybandi adalah jalan para Sufi, jalan menuju Tuhan: apa sajakah yang diperlukan dalam jalan ini, serta apa saja ajaran beserta metodenya?

Syekh Nazim QS: Ada pepatah tua dari Jerman: “Semua jalan menuju ke Berlin” jika setiap jalan menuju ke Berlin, maka setiap tarekat mestilah menuju Allah SWT. Setiap pencari Tuhan dalam kenyataanya mencari jalan menuju Allah SWT. Semakin banyak anak Adam AS datang dan pergi, itu semua menuju Tuhan. Mereka akan menggapai Tuhan mereka pada akhirnya, meskipun jalan yang ditempuh berbeda untuk setiap orang. Mereka semua akan bertemu di Hadirat-Nya.

Penanya: Jadi bisa dikatakan menurut Anda bahwa setiap jalan menuju Allah SWT adalah jalan yang benar?

Syekh Nazim QS: Tentu! Jika itu menuju Allah SWT, pastilah itu jalan yang benar. Dalam perjuangan menuju Tuhannya, hal yang paling penting dan yang paling diperlukan adalah kesungguhan hati. Murid kami harus bersungguh-sungguh; dan para Syekh dari tarekat kami sangat menekankan hal ini. Barangsiapa mempunyai kesungguhan hati mesti suatu saat akan mencapai tujuan dan meraih hasil.

Tetapi ada beberapa orang dengan motif lain, mencoba menyembunyikan sesuatu dalam hati mereka, mereka seperti serigala berbulu domba, mereka tidak akan pernah menggapai tujuannya. Orang-orang bisa saja menempuh jalan yang berbeda dan berkata, “Kami mencari Tuhan kami!” Jika mereka teguh dengan perkataanya maka mereka berada di jalan yang benar dan aman, sebaliknya jika tidak, jalan itu menuju tangan Iblis.

Penanya: pendek kata menurut Anda bahwa setiap pencari kebenaran yang teguh…

Syekh Nazim QS:
…pasti menemukan kebenaran.

Penanya: dan Allah SWT akan membimbing setiap orang di jalannya, di setiap jalan masing-masing individu?

Syekh Nazim QS: Ya, ini adalah Tuhan Yang Maha Adil yang membimbing setiap orang yang teguh ke Hadirat-Nya.

Penanya: Saya menanyakan pertanyaan ini karena, kami di Barat mempunyai perbedaan budaya dengan Anda, jalan kami bisa saja berbeda.

Syekh Nazim QS: Mungkin saja.

Penanya: beberapa orang dari Barat yang ingin menggapai Tuhannya tidak berani mengikuti jalan Anda karena mereka tidak melihat mengapa mereka harus belajar bahasa Arab dan menjadi Muslim. Banyak orang mencari Tuhannya dengan teguh tetapi berkata, “Cara kami berbeda dengan Timur.”

Syekh Nazim QS: Siapa yang berkata kepada mereka, “Jadilah Muslim?” kami hanya berkata kepada mereka, “Bersungguh-sungguhlah dan jujur!” jika mereka bisa melakukan hal tersebut, mereka akan diantarkan menuju tujuan mereka, menuju Tuhan mereka. Apakah orang Barat mempunyai Tuhan dan orang Timur juga mempunyai Tuhan yang berbeda? Tidak akan pernah! Tuhan dari alam semesta ini, Tuhan dari anak Adam AS hanya satu! Dan Tuhan yang sama, Allah SWT.

Penanya: apakah seseorang memerlukan metode khusus, teknik atau ajaran untuk setiap jalan? Latihan apakah yang Anda rekomendasikan untuk seorang pencari, tetapi bisa saja bukan seorang Muslim?

Syekh Nazim QS: Latihan itu berbeda untuk setiap pribadi. Ada begitu banyak metode, dan seorang guru akan menunjukkan cara kepada setiap pengikutnya untuk melakukan praktik yang sesuai dengan pribadi masing-masing. Sekali seseorang menerima latihan tersebut, seharusnya ia mengikutinya dengan hati-hati untuk memetik manfaat dari hal tersebut. Menyangkut latihan, kita harus bisa menjelaskan arti dari tujuannya. Bahwa latihan itu ada dua macam: spiritual dan fisik.

Penanya: Apakah yang dimaksud dengan latihan untuk hati?

Syekh Nazim QS: Itu adalah latihan yang paling penting di atas semuanya, jauh lebih penting dari yang bisa kita lakukan melalui tubuh kita. Materi ini sangat sederhana dan mudah untuk dipahami. Anda bisa saja melakukan latihan seperti di dalam Islam yaitu salat, atau latihan seperti yang diperkenalkan Mr.Gurdjieff atau praktik latihan lainnya – selama itu masih berupa latihan secara fisik, Anda belum bisa mengambil apapun untuk jiwa Anda. Bahkan Anda bisa menemukan bahwa tidak ada perubahan pada diri Anda, tetap sebagai pribadi yang sama seperti sebelumnya. Kepribadian Anda, karakter Anda hanya akan berubah bila ada perubahan di dalam hati.

Rahasia dari hati berada di dalam setiap kepribadian dan karakter pada setiap individu. Ketika rumput dicabut tanpa perhatian dan dengan cara yang benar, akarnya akan tinggal dan akan tumbuh kembali. Begitu juga dengan latihan fisik tanpa ditunjang dengan latihan untuk hati akan seperti rumput itu: akar dari masalah akan selalu tertinggal.

Penanya: Jadi dari pandangan Anda, tidaklah cukup hanya dengan latihan fisik saja kita menjalankan Islam tetapi dengan menjalankannya dengan menggunakan hati sepenuhnya.

Syekh Nazim QS: Ya, kita harus beribadah dengan hati kita. Ketika tubuh kita mengarah ke kiblat, hati kita juga langsung mengarah ke Hadirat-Nya. Dan menjalankannya dengan cara seperti itu berarti menjalankan ibadah dengan penuh dan lengkap.

Penanya: Mawlana Jalaluddin Rumi QS memperkenalkan latihan ibadah dengan menari berputar dengan diiringi flute dan drum. Beberapa orang mengatakan ini juga salah satu cara untuk beribadah.

Syekh Nazim QS: Benar, tetapi seharusnya Anda tahu bahwa sesungguhnya Mawlana Rumi QS tidak menari berputar seperti yang dilakukan orang-orang saat ini. Tidak, ketika beliau dan para darwis menari berputar, mereka berputar di atas permukaan antara Surga dan Bumi, melayang di udara, seperti para malaikat. Itu adalah cara tarian berputar sebenarnya dengan menggunakan badan dan hatinya. Tetapi untuk hati yang tidak bersih mereka tetap menjejak bumi dan berputar-putar belaka. Ketika Mawlana Rumi QS melayang, itu adalah tanda penting bahwa beliau telah menyempurnakan latihan internalnya. Tetapi menirunya secara fisik pun itu tetaplah baik, jika seseorang terus mencobanya dengan tekun, ia akan sampai juga pada tujuannya.

Penanya: Jadi sangatlah penting untuk berlatih di bawah bimbingan seorang guru.

Syekh Nazim QS: Benar sekali, tanpa seorang guru, dalam pandangan saya, tidak akan ada pelajaran yang bisa diraih, seorang guru tugasnya mengajar orang-orang.

Penanya: tetapi apakah yang diajarkan seorang guru harus dari Allah SWT, atau hanya dari pandangannya?

Syekh Nazim QS: Jika kita bisa mengambil dari penemuan hasil dari pemikiran kita, berarti tidak perlu ada pembimbing. Tetapi pada kenyataannya, para nabi pun mempunyai pembimbing yaitu malaikat Jibril AS, yang bertugas sebagai perantara antara mereka dengan Tuhannya. Jadi, jika para nabi saja membutuhkan pembimbing, maka bagaimana dengan yang bukan nabi? Siapa saja, untuk tiba di tujuannya membutuhkan pembimbing. Inilah mengapa setiap jalan Sufi mengikuti metode ini: semua jalan Sufi dibangun di atas transmisi ajaran-ajaran dan karakter guru kepara muridnya.

Penanya: Tarekat berarti sebuah jalan?

Syekh Nazim QS: Tarekat artinya “Jalan”

Penanya: Ada begitu banyak Tarekat dalam Sufisme, apakah semuanya bersaing?

Syekh Nazim QS: Berkompetisi menuju kebaikan adalah suatu hal yang baik, untuk bersegera dan cepat-cepat menuju kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah SWT, melebihi yang lainnya, jika mungkin. Kita harus berlomba untuk kepuasan Allah SWT terhadap kita melalui tingkah laku yang baik. Rahmat dari Allah SWT akan melindungi kita dari rasa sombong, congkak, dan berpuas diri. Kita harus berlomba menuju kepuasan Tuhan kita, bukannya memuaskan diri kita sendiri yang mungkin saja membahayakan bagi orang lain. Dan lebih memilih berlomba di dunia yang materialistis ini, yang selalu cenderung merusak dan egois, bahkan sekalipun ketika melakukan hal yang sepertinya “pekerjaan yang baik”. Tetapi perlombaan orang-orang di tarekat sangatlah berbeda.

Penanya: Dinyatakan bahwa dalam banyak ajaran Sufi adalah pertama: syari’at, kemudian tarekat, dan akhirnya haqiqat (Kebenaran Mutlak). Tetapi, menurut pemahaman saya, kita bisa saja langsung menuju tarekat, mengambil bimbingan dari orang yang benar, sehingga seseorang bisa meraih haqiqat (Kebenaran Mutlak). Karena syari’at hanyalah berisi berupa aturan/hukum yang hanya kulit saja di jalan Sufi, bukanlah sesuatu unsur yang penting.

Syekh Nazim QS: Syari’at adalah samudra dan tarekat adalah sebuah kapal. Ketika Anda melakukan perjalananan di atas kapal di samudra, Anda bisa mencapai Pantai lainnya–Pantai Kebenaran, pantai dari Haqiqat. Tanpa samudra kapal tidak bisa berlayar. Apa artinya kapal tanpa samudra? Akankah Anda bawa kapal itu di punggung Anda?

Penanya: Tetapi jika ada samudra dan tidak ada kapal, dan Anda bisa berenang, Anda akan tenggelam. Anda tahu banyak orang yang melakukan hal ini dan menolak menaiki kapal, “kapal Spiritual”.

Syekh Nazim QS: Tidak perlu kita berenang di tengah samudra. Berenang bukanlah cara yang tepat untuk menyeberangi samudra yang begitu luas. Anda lebih suka berenang dan tenggelam, atau menggunakan kapal dan tiba di tempat tujuan? Dengan perahu kayu jika Anda lebih suka!

Penanya: Begitu banyak makna “kapal” dari Anda. Terima kasih!