Showing posts with label Divine Power Oceans. Show all posts
Showing posts with label Divine Power Oceans. Show all posts

01 June 2008

Ekonomi—Si Sapi Emas Masa Kini

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
29 Muharram 1424/1 April 2003


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Allahumma alhimnaa rusydanaa wa a`innaa `alaa syuruuri afussinaa!

Ya Allah SWT, inspirasikanlah kami dengan kebaikan dan tolonglah kami dalam melawan kejahatan ego kami.

Manusia diciptakan lemah! Mungkin manusa adalah makhluk terlemah di antara seluruh makhluk. Tetapi meskipun bisa jadi mereka adalah yang terlemah, mereka tidak menerima bahwa mereka lemah. Mereka pikir bahwa kelemahan mereka akan meninggalkan mereka bila mereka kaya, atau bahwa kelemahan mereka akan meninggalkan mereka bila mereka menjadi raja, atau jendral atau mentri atau komandan. Mereka pikir bahwa peringkat-peringkat ini akan membuat mereka sangat kuat, itu adalah gagasan yang keliru!

subhanAllah! Mahasuci Allah SWT!

Dari seluruh umat manusia di masa kita tak seorang pun yang menerima bahwa mereka adalah hamba-hamba yang lemah. Setiap orang meminta atau mengaku sebagai yang terkuat. Setiap orang mengejar untuk meraih kekuasaan pada levelnya. Tak seorang pun yang bahagia untuk menjadi hamba yang sederhana dan rendah hati. Itu adalah gagasan yang buruk yang telah tersebar di masyarakat, khususnya generasi muda. Mereka tumbuh dengan gagasan buruk tersebut. Target mereka adalah menjadi berkuasa. Tidak menjadi hamba yang sederhana dan rendah hati. Alasan dasarnya yang membuat orang mengejar ide yang salah adalah bahwa mereka tidak percaya pada Tuhan. Mereka tidak percaya pada makhluk Surgawi, mereka tidak percaya pada agama, mereka menyangkal semua Kitab Suci, mereka menjauh dari keyakinan.

Mereka berpikir bahwa mereka adalah sekelompok orang yang tidak mengemban tanggung jawab bagi mereka sendiri, mereka ada di planet ini seperti rumput atau sejenis tanaman lainnya, pertama tumbuh, kemudian mengering, lalu berubah menjadi debu atau jerami dan menghilang. Itulah inti dari gagasan-gagasan mereka, yang mendorong mereka menuju masa depan yang tidak menentu, atau menarik mereka ke dalam kegelapan yang kelam. Hari demi hari, mereka kehilangan harapan mereka, hari demi hari mereka berpikir bahwa mereka mendekati akhir yang tidak pasti dalam masa depan yang tidak menentu. Mereka berpikir bahwa hari-hari mendatang mereka kelam. Itu seperti sebuah racun dan kalian tidak dapat menemukan suatu penawar racun untuk menghilangkan racun dari mereka, tidak ada suatu obat untuk menghindari efeknya.

Oleh sebab itu sekarang orang meminta agar bisa berkuasa, tetapi akhirnya mereka harus sadar bahwa kekuatan mereka akan menjadi semakin berkurang, berkurang, berkurang dan kemudian habis. Walaupun mereka bersikeras untuk meminta kekuasaan, untuk menjadi orang yang berkuasa di antara orang-orang lainnya, walaupun hanya untuk waktu yang sangat singkat. Itu membuat orang berjuang keras dan menciptakan persoalan yang tak ada akhirnya di antara mereka sendiri, berkelahi dan bertengkar, di belakang mereka adalah gagasan itu, mereka berkelahi untuk menjadi orang yang paling berkuasa. Dan mereka berpikir bahwa sekali mereka sukses dalam meraih sebuah poin di mana mereka berkuasa, mereka dapat menjaga posisi mereka, bahwa kekuasaan mereka tidak akan berkurang.

Mereka melihat tetapi tidak memperhatikan. Mereka belajar tetapi tidak memahami. Mereka melakukan hal-hal yang salah, tetapi mengaku melakukan hal-hal yang benar. Mereka berpikir dan mereka pikir bahwa pikiran mereka adalah yang terbaik, tetapi mereka adalah yang terburuk, pikiran terburuk, mengantarkan mereka hanya pada imajinasi yang salah dan imajinasi ini membuat mereka mabuk. Sampai akhirnya, ketika kematian mendatangi mereka, mereka bangkit. Pada saat itu mereka akan mengerti bahwa benda-benda materi bukanlah sesuatu yang kekal, tetapi orang yang mabuk tidak dapat memahaminya. Mereka mabuk, dan mereka berusaha untuk tetap tinggal dalam imajinasi itu dan tidak keluar darinya.

Dan sekarang orang-orang di abad ke-21, mereka semua, sembilan puluh sembilan persen atau lebih hidup dalam imajinasi mereka. Dan imajinasi mereka tidak pernah memberi mereka manfaat, tidak saat ini, tidak pula di masa depan. Kita adalah orang-orang yang lemah. Dan setiap hari aktivitas tidak pernah memberi orang-orang kesempatan untuk melihat diri mereka ‘yang sesungguhnya.’

Orang-orang di abad ke-21 mempunyai satu berhala, hanya satu berhala dan mereka berusaha untuk menjadi budak yang patuh untuk berhala itu—bukan hamba, tetapi budak, karena berhala-berhala tidak membuat orang menjadi hamba-hamba, melainkan menjadikan mereka sebagai budak-budak.

Perbudakan adalah suatu hal, sementara penghambaan adalah hal yang lain. Orang-orang beriman telah dimuliakan dengan peringkat hamba di hadapan Allah SWT, tetapi orang-orang yang tidak beriman hidup dalam perbudakan berhalanya yang ditemukan dengan imajinasi mereka. Berhala-berhala menjadikan orang-orang sebagai budak, tetapi orang-orang beriman membuat orang menjadi hamba yang bebas, bebas dari ego mereka, bebas dari Setan, bebas dari dunia, bebas dari hasrat materi dan fisik. Hanya merekalah orang-orang yang bebas!

Orang-orang beriman, sesuai dengan derajat keimanan mereka meraih kebebasan yang lebih besar. Orang yang mewakili kebebebasan sempurna adalah para nabi, kemudian setelah mereka adalah para pengikut dan penerusnya dari golongan awliya dan disusul dengan orang-orang yang beriman, mu`minuun. Sesuai dengan derajat atau kekuatan iman mereka, mereka akan berkuasa dan menjadi orang-orang yang bebas.

Di luar orang-orang beriman, mereka adalah budak. Di masa kita setiap tempat di seluruh dunia, mereka berlari hanya untuk menjadi budak dari berhala mereka. Nabi SAW—lima belas abad yang lalu—bersabda bahwa untuk setiap bangsa, ada satu berhala, seperti halnya bani Israil yang meninggalkan Tuhan mereka dan penghambaannya dan membuat sebuah sapi emas. Sapi emas itu segera membuat kehormatan mereka jatuh ke level terendah. Ketika mereka meninggalkan kepatuhan mereka kepada Tuhan Surgawi dan mulai menyembah sapi emas itu, ketika mereka mengatakan, “Ini adalah berhala kita,” mereka jatuh ke level terendah dari seluruh makhluk, karena mereka meninggalkan penghambaan mereka dan berlari untuk menjadi budak dari sapi emas itu.

Dan Nabi, Sayyidina Muhammad SAW bersabda, “Untuk setiap bangsa, terdapat sebuah sapi emas, dan untuk umatku akan terdapat pula sapi emas—itu adalah dirham wa dananir; yang artinya “perak dan emas akan menjadi berhala umatku.”

Dan lihatlah sekarang, di masa kita, semua bangsa putus harapan akan masa depan mereka, terhadap eksistensi mereka di bumi. Mereka berpikir bahwa ekonomi adalah satu-satunya hal yang dapat menjamin dan menentukan eksistensi mereka di planet ini. Mereka berpikir bahwa jika ekonomi tidak berfungsi, bangsa mereka tidak akan bertahan. Dan lima belas tahun yang lalu, Nabi SAW bersabda, “Berhala umatku, sapi emas umatku adalah emas dan perak,” hal itu melukiskan inti dari ekonomi. Orang-orang yang mempunyai banyak emas dalam timbunan harta mereka akan berdiri untuk tampil, “Kami di sini!”

Orang-orang yang kehilangan akan berada di bawah nol—tidak ada kehormatan bagi mereka, tidak ada eksistensi bagi mereka, habis!

Sekarang kita hidup di abad ke-21 dan hanya satu kata yang umum di antara bangsa-bangsa adalah, “Ekonomi!”

Sekarang ada, “Perang ekonomi!”

Dan setelah perang? Apa yang akan terjadi setelah perang?

“Ekonomi!”

Mereka pikir hidup mereka hanya berhubungan dengan ekonomi. Dan ekonomi hanya sebuah nama, berdiri untuk sesuatu, artinya siapapun yang mempunyai banyak emas dan perak dapat memproklamasikan hak mereka untuk keberadaan mereka dan berkata, “Kami di sini!” sementara orang-orang yang tidak (memilikinya) harus datang pada mereka dan memohon, “Kami tidak memiliki apapun. Terimalah kami untuk menjadi budakmu. Izinkanlah kami untuk menggunakan uangmu, karena uangmu sangat kuat! Uang kami, itu hanya selembar kertas yang sangat sederhana, walaupun pada uang itu tertulis, ‘jutaan pound,’ tetapi tidak berarti apa-apa. Mohon berikan kami apa yang kau cetak! Yang hijau (dolar)! Kami minta yang hijau! Kami akan menjadi budakmu, tak jadi soal. Berikan kepada kami uangmu yang hijau dan kami terima sebagai hambamu!”

Bukan hamba: budak!

Penghambaan, pengabdian, memberikan orang kehormatan dan kemuliaan, tetapi perbudakan tidak. Dan bangsa-bangsa yang lain akan berlari ke negri-negri besar ini dan meminta, “Berikan kami uangmu dan kami akan menjadi budakmu. Datanglah ke negri kami dan lakukan semaumu, tetapi berikan kami sebagian uangmu!”

‘Uang’, yang mereka cetak, sementara mereka memegang emas dan perak dalam timbunan harta mereka.

Adalah mukzijat Nabi SAW, bahwa hal ini 100% benar. Ini seperti cermin, yang memperlihatkan dengan jelas sekali seluruh situasi kita sekarang pada lima belas abad yang lalu, tak ada yang dapat mengatakan hal itu salah. Tidak!

“li kulli ummatin `ijlun wa `ijlu ummatiid-dirham wad-diinaar” “Untuk setiap bangsa terdapat sapi (emas) dan untuk umatku itu adalah perak (dirham) dan emas (dinar).”

Satu kalimat ini melukiskan situasi sesungguhnya dari umat beliau ketika Hari Akhir kian mendekat.

Oleh sebab itu, wahai manusia! Seluruh bangsa ada di jalan yang salah. Mereka telah menjadi budak dari sapi emas. Mereka meninggalkan penghambaan pada Tuhan mereka. Mereka tidak berpikir tentang penghambaan; mereka mengatakan, “Kami tidak peduli tentang seseorang yang mengatakan ‘Dia ada di Langit, di Surga.’ Kami tidak peduli pada orang itu; Kami ada di planet ini! Kami melakukan segala sesuatu dan kami menyadari bahwa orang-orang yang memiliki banyak emas di depan mereka, merekalah yang terbesar, dan yang paling berkuasa. Orang-orang yang tidak memilikinya, mereka adalah orang-orang yang lemah, dan kami tidak menerima mereka, mereka seharusnya menjadi budak bagi bangsa kami.”

Sekarang seluruh dunia terbagi dua bagian: ‘golongan bos’ dan jauh di bawah mereka, ‘budak’. Bos adalah orang yang mempunyai kendali atas emas. Mereka berada di bangsa golongan atas, mengontrol segalanya. Bangsa yang lain berada di bawah kaki mereka, menjadi budak mereka. Hanya ada dua kelas! Bila kalian melihat, kalian akan menyaksikan bahwa seluruh bangsa hanya terbagi menjadi dua bagian: kaya dan miskin. Mereka yang memiliki banyak emas, mereka adalah penguasa dunia dan yang lain adalah budak-budak mereka.

Dan jangan berharap bahwa bangsa-bangsa tersebut akan mengizinkan kalian—dan kalian sangat membutuhkan dan seseorang dengan kantong yang benar-benar kosong—untuk duduk dengan kalian di meja yang sama dan untuk berurusan dengan kalian seperti halnya mereka berurusan dengan satu sama lain. Tidak!

Itulah yang menjadi kenyataan di masa kita, apakah kita menerimanya atau tidak! Kami bicara kebenaran dan kami membawa bukti dari hadis suci Nabi SAW.

Semoga Allah SWT mengampuni kita, dan menganugerahkan Dunia Muslim untuk memahami hal ini! Lalu Allah SWT akan membusanai mereka dengan busana kehormatan dan Dia akan meletakkan mahkota kehormatan dan kemuliaan di kepala-kepala mereka. Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan tenggelam di bawah kaki dari orang-orang yang menjaga khazaa`inul ardh—harta karun planet ini. Mereka hanya akan menjadi budak.

Oleh sebab itu, wahai umat Nabi Muhammad SAW, berlarilah dari perbudakan ini dan masuklah ke penghambaan terhadap Tuhan kalian. Dia adalah Satu-Satunya yang dapat memberi kalian kehormatan dan kemuliaan di depan seluruh bangsa!

Semoga Allah SWT mengampuni saya dan memberkati kalian, demi kemuliaan dari orang yang paling mulia di Hadirat Ilahi, Sayyidina Muhammad SAW, al-Faatiha.

23 May 2008

Carilah Ilmu Sejati!

(Lefke, Siprus: 15 Muharram 1425/6 Maret 2004)


A'uudzu billaahi minas-syaythaanir-rajiim
Bismillahir-rahmanir-rahiim

la hawla wa la quwatta illa bi-llaahi-l 'Aliyu-l 'Azhim.

Dastur yaa Sayyidi, Madad!


Ini adalah sebuah asosiasi...

Profesor da Costa—siapakah sebenarnya seorang profesor itu? Seorang profesor adalah seseorang yang, bila ia ditanya, bisa memberikan sebuah jawaban untuk segalanya. Jika tidak—ia bukan seorang profesor!

Yaa Allah, yaa Allah... `Allimnaa, yaa Rabbii! Subhaanaka la `ilma lanaa illa ma `allamtanaa [2:32]

`ilm, ilmu—jika Allah SWT memberi ilmu kepada hamba-hamba-Nya, ia dapat mengetahui (tentang suatu hal). Itu disebut `ilmun naafii`, ilmu yang bermanfaat. Ilmu harus dapat memberi manfaat, ia bukanlah suatu ziina, dekorasi. Tidak! Ilmu adalah suatu pemberian dari Allah SWT untuk mengaspali jalan menuju Hadirat Ilahi. Itulah tujuan utama dari suatu ilmu.

Mengapa kita belajar?

Dewasa ini orang hanya belajar untuk dunia, tetapi itu bukanlah ilmu sejati. Dengan segala macam hal yang kalian pelajari, kalian harus bertanya pada diri sendiri, “Apa yang menjadi targetku?” Apakah itu untuk meraih dunia? Dan kalian telah berada di dunia, tetapi masih mencari lebih banyak dari dunia ini—selalu meminta lebih banyak lagi. “Jika sekarang aku mempunyai 10 dolar, besok aku harus mendapatkan 100 dolar. Bagaimana aku bisa mendapatkan 100 dolar? Aku harus lihat! Dan Aku akan berusaha untuk menemukan jalan untuk mencapai 1000 dolar.”

Lalu Setan datang dan berkata, “Itu tidak cukup, engkau harus berusaha untuk mencapai 10.000 dolar, jadi temukanlah jalannya!”

Setiap jenis pengetahuan yang tidak baik berasal dari Setan. Setan mengajarkan orang untuk mencapai lebih banyak dunia dan ia mendesak mereka dan mencambuki mereka. Seperti halnya seorang joki memecut kudanya, Setan selalu memecut orang untuk meraih dunia lebih banyak.

Oleh sebab itu, Nabi SAW selalu berdoa, “Allaahumma innii as-aluka `ilman naafi`an!” Beliau berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah SWT, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, yang akan membawaku lebih dekat ke Hadirat Ilahiah-Mu!”

Dan dalam doa yang lain, Rasulullah SAW berdoa, “Allaahumma innii a`udzubika min `ilmin la yafa`!” “Ya Allah SWT, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang dapat mengantarkan aku jauh dari-Mu dan membuatku lari mengejar dunia!”

Ke mana orang-orang kita sekarang? Di seluruh dunia, apakah ada yang mendengarkan Allah SWT? Apakah mereka memohon untuk Allah SWT atau untuk dunia? “Innahum la yuflihuun.” (Sesungguhnya mereka tidak akan berhasil). Jika mereka terus melanjutkan jalan ini, mereka tidak akan meraih sesuatu yang baik, di sini maupun di akhirat. Mereka akan kehilangan segala yang telah Allah SWT janjikan—Allah SWT menjanjikan hamba-hamba-Nya kekekalan, kehidupan yang kekal.

Tetapi Setan memanggil manusia, mengundang mereka kepada sesuatu yang tidak lain merupakan ilusi, imajinasi. Sekarang begitu banyak orang dengan usia yang berbeda-beda berkumpul di sini, mereka mungkin berusia 10, 12, 20, 30, 40, 50, 60, 80, atau (sambil menunjuk seseorang, dan tersenyum) 90. Ya, begitu banyak tahun-tahun yang telah kalian lewati, tetapi apa yang tersisa pada kalian dari tahun-tahun itu? Kalian hanya hidup sekarang, di saat ini, dan setelah beberapa saat, momen ini pun akan diambil ke dunia yang tidak nyata. Dan dunia yang tidak nyata itu tidak lain adalah imajinasi.

Kalian bisa, sebagai contoh, menyalakan api dan melempar banyak benda ke dalam api itu, seperti kayu atau bahkan mebel. Setelah satu jam, datang dan lihatlah apa yang tersisa. Abu! Ya? Habis! Di mana semua benda yang telah kalian masukkan ke dalam api itu?

Sama halnya dengan waktu yang mengambil segala sesuatu dari kalian, ia membakarnya dan mengubahnya menjadi abu. Dan akhirnya badai datang dan meniupkan semua abu...

Dan jika Tuhan Surgawi berkehendak bahwa di pusat planet ini akan terjadi ledakan, dalam beberapa detik kalian tidak akan menemukan satu atom pun di dalamnya. Semuanya akan musnah, karena apa yang membuat seluruh atom ini tetap ada adalah Perintah-Nya. Perintah Allah SWT menjaga atom-atom ini bersama—nukleus di pusatnya bersama dengan elektron-elektron di sekelilingnya—untuk mempertahankan seluruh sistem ini. Jika Allah SWT tidak menjaga mereka dengan Perintah Ilahiah-Nya, atom-atom itu akan musnah. Elektron-elektron akan tersebar, demikian pula inti atom akan sirna. Seluruh dunia tetap utuh bersama hanya dengan Perintah-Nya.

Ketika Perintah-Nya datang, “Tinggalkan dan pergilah ke tempat darimana kalian berasal! Pergilah dan kembali!” dalam hitungan detik, bahkan kurang dari itu, dalam sepertiga, atau seperempat, atau seperlima detik segala sesuatu akan musnah.

Jika Dia memberikan Perintah-Nya kepada alam semesta, “Kembalikan ke posisi awal kalian!” Segala sesuatu akan kembali ke Samudra Kekuasaan-Nya—kembali ke tempat darimana mereka berasal dan seluruh alam semesta akan menemui ajal mereka.

Tak ada yang akan tersisa di alam semesta ini, semuanya akan berakhir! Alam semesta akan kembali seperti kondisi asalnya—gelap tanpa sesuatu. Dan jika Dia memerintahkannya, alam semesta ini akan penuh dengan bintang-gemintang, galaksi-galaksi dan matahari-matahari. Dan jika Dia memerintahkan, “Kembali! Sebagaimana kalian datang, sekarang kembali!” semuanya akan lenyap kembali.

Dan alam semesta hanyalah suatu kegelapan yang gelap gulita!

Tak ada yang tahu apakah semesta itu—di mana awalnya dan di mana akhirnya dan darimana semua yang ada ini berasal—karena ajaran setani mencegah umat manusia bertanya, atau mempelajari atau mengajarkan hal-hal ini.

Segala sesuatu yang membuat kalian jauh dari Allah SWT adalah ajaran setani dan orang-orang dewasa ini tenggelam di dalamnya. Tak ada yang bahagia di masa kita dan tak ada orang yang berada dalam kedamaian. Pengecualian tidak pernah mengubah aturan ini. Memang ada pengecualian, tetapi hanya sedikit. Umumnya orang-orang lalai, mereka tidak ingin belajar dan hanya mengikuti Setan. Tetapi ajaran setani, `ilmun la yanfa`, adalah suatu jenis pengetahuan yang tidak akan bermanfaat bagi pemegangnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Oleh sebab itu, kita memohon kepada Allah SWT, “Yaa Rabbi, berikanlah kami sesuatu dari pemberian-pemberian-Mu, yang telah Engkau anugerahkan kepada hamba-hamba-Mu yang mulia dan terhormat, kepada nabi-nabi-Mu, khususnya kepada Nabi Penutup, Sayyidina Muhammad SAW. Engkau menganugerahinya ilmu sejati, yang membawa manusia menuju kesempurnaan, membuat mereka menjadi hamba-hamba-Mu, mempersiapkan mereka untuk kesempurnaan itu dan untuk meraih rida dan kepuasan Tuhannya. Kami memohon pada-Mu, anugerahilah kami dengan itu!”

Tetapi umumnya, pintu-pintu ini kelihatannya tertutup sekarang, dan tidak ada yang lain kecuali ajaran setani di seluruh dunia, membuat orang lebih kejam, membawa mereka jauh dari jati diri mereka yang sesungguhnya, membuat mereka pergi dari maksud penciptaan mereka, karena kita semua diciptakan untuk menjadi hamba-hamba Allah SWT dalam Hadirat Ilahiah-Nya. Kita telah dimuliakan dengan peringkat penghambaan, dengan menjadi hamba di Hadirat Ilahiah-Nya. Tetapi orang-orang tidak belajar untuk menjadi hamba-hamba Pencipta mereka, hamba-hamba dari Tuhan mereka. Mereka berlari mengejar ilmu-ilmu setani dan mereka menghormati dan memuja Setan. Itulah yang terjadi di setiap tempat saat ini...

Ketika Allah SWT mengutus Sayyidina Nuh AS kepada umatnya untuk menyeru mereka kepada Allah SWT, Tuhan dan Pencipta mereka, mereka melarikan diri dan menolak untuk mengikutinya. Mereka berkata, “Kami tahu jalan kami! Ajaran-ajaran kami sepenuhnya berlawanan dengan apa yang engkau ajarkan. Kami bahagia dengan ajaran-ajaran kami dan kami tidak tertarik untuk mengikutimu.”

Dan Allah SWT mengirimkan banjir kepada mereka, menutupi segalanya. Air memancar dari setiap mata air di bumi, hujan pun turun dengan deras dan banjir datang menghanyutkan segalanya.

Kini hal itu terjadi lagi, tetapi dengan cara yang berbeda. Kini, ke mana pun kalian pergi, kalian akan menemukan mata air masalah dan persoalan—mereka ada di mana-mana! Lihat, seluruh dunia dipenuhi mereka! Dengan setiap langkah kalian menyebrangi masalah atau semacam persoalan. Orang-orang mendapat diploma mereka dari Setan, untuk menjadi pembuat masalah—laki-laki, perempuan, tua, muda, terpelajar maupun tidak—mereka semua adalah para pembuat masalah yang sudah lulus.

Lihat saja pada kotak Setan—televisi—lihat bagaimana orang turun ke jalan-jalan! Di mana-mana ada masalah! Tidak ada yang beristirahat, tidak ada yang berada dalam kedamaian, tidak ada yang penuh harap, mereka putus harapan, mereka semua. Mereka semua tenggelam dalam samudra masalah, karena setiap orang menciptakan masalah! Tidak ada orang yang mengendalikan dirinya dari membuat masalah, setiap orang telah menjadi pembuat masalah, mencurahkan masalahnya ke orang lain. Umat manusia, dari Timur ke Barat, dari Utara ke Selatan, tenggelam dalam samudra masalah yang penuh penderitaan, persoalan, kesedihan, dan tak ada orang yang berada dalam kedamaian!

Oleh sebab itu, orang-orang berusaha melupakan masalah mereka dengan jalan mabuk. Mereka menggunakan segala macam minuman dan bermacam-macam obat-obatan. Untuk apa? Untuk melupakan, agar tidak merasakan persoalan mereka! Seperti halnya dokter yang memberikan obat untuk pasiennya yang menderita sakit parah. Itu bukanlah pengobatan yang sesungguhnya terhadap penyakit mereka, dokter hanya memberi mereka beberapa pereda nyeri. Sekarang orang-orang di mana-mana menggunakan obat-obatan, paling tidak mereka merokok dan minum minuman beralkohol. Untuk apa? Agar mereka tidak merasakan nyeri mereka! Semua ini adalah ‘pereda nyeri’.

Wahai manusia, datanglah pada jalan yang benar! Datanglah dan mintalah pertolongan dari orang-orang yang benar! Jangan berpikir bahwa tidak ada lagi orang-orang yang benar. Tidak! Orang-orang yang benar tidak akan habis, tetapi mereka tersembunyi atau menyembunyikan diri mereka. Mereka bisa saja tersembunyi, tetapi jika kalian meminta mereka, kalian akan menemukannya. Jika kalian tidak mencarinya, kalian tidak akan menemukan mereka, karena apa yang akan kalian temukan adalah perwakilan dari Setan, tetapi jika kalian dengan hati-hati mencari orang-orang yang benar, kalian dapat menemukan mereka di sepanjang Timur dan Barat.

Oleh sebab itu, Nabi SAW bersabda, “Utlubul `ilmi wa law bis-Sin!” “Carilah ilmu walau sampai ke Cina.”

Wahai manusia, kalian harus meminta—kalian harus meminta—meminta ilmu sejati, yang akan menyelamatkan kalian dari masalah, dari kejahatan di dunia dan dari api neraka di Hari Akhir. Untuk mempelajari ilmu itu, bahkan jika kalian hanya dapat menemukannya di tempat yang jauh—pada saat itu Cina adalah negri terjauh—kalian harus pergi ke sana dan belajar. Dan ilmu tidak berada dalam buku-buku! Jika ilmu ada dalam buku-buku, Nabi SAW akan mengatakan, “Bawalah buku-buku dari Cina ke sini dan pelajarilah di sini!”

Tetapi beliau mengindikasikan bahwa, “Kalian harus pergi kepada orang yang mempunyai pengetahuan semacam ini! Dia adalah orang yang akan mengajarkan kalian, bukannya buku-buku! Kalian hanya dapat memperoleh pengetahuan sejati lewat mereka yang hatinya penuh dengan pengetahuan itu.“ “Jangan berpikir bahwa kalian hanya perlu membaca buku-buku untuk dipelajari! Tidak! Oleh sebab itu, beliau mengindikasikan, “wa law bis-Sin—walaupun jika orang yang memiliki ilmu itu berada di Cina, kalian harus datang padanya, belajar darinya.”

Kini kaum Wahhabi mengatakan, “Itu tidak perlu. Kalian bisa membaca buku-buku, dan kalian bisa belajar dengan cara itu!”

Wahai manusia! Datanglah pada jalan yang benar dan mintalah orang-orang yang benar, jika kalian ingin bahagia di dunia dan akhirat dan ingin membuat Allah SWT rida dengan kalian! Jika tidak, setiap orang akan terkubur sendiri, oleh dirinya sendiri dalam kuburnya dan tidak ada orang yang dapat menolong orang lain dalam kuburan mereka!

Semoga Allah SWT mengampuni saya dan memberkati kalian! Saya mengatakan hal ini kepada seluruh umat manusia dan ini adalah beberapa ilmu dari keempat Kitab Suci, khususnya dari al-Quran suci yang diturunkan Allah SWT kepada hamba-Nya yang tercinta. Beliau adalah orang yang paling mulia, orang yang kepadanya risalah terakhir—al-Quran suci—diturunkan, dan kita memohon untuk melayani beliau dan mengambil ilmu sejati darinya dan dari para penerusnya, penerus dari Nabi SAW—bi hurmatil Faatiha.

Target Sejati dan Target Imitasi

(Lefke, Siprus, 1 Dzul Hijjah 1424/22 Januari 2004)


Dastur yaa Sayyidi, yaa Sulthaanul awliyaa
Yaa RijaalAllaah, Madad!
A'uudzu billaahi minas-syaythaanir-rajiim
Bismillahir-rahmanir-rahiim

la hawla wa la quwatta illa bi-llaahi-l 'Aliyu-l 'Azhim.

(di luar terjadi badai disertai angin taufan, kilat dan hujan deras…)

Allah, Allah…Allah, Allah…

Subhaana man yasabbihur-ra`du bi hamdihi wal-malaa-ikatu min khiifatihi wa Huwa `alaa kulli syay’in Qadiir [13:13]

Ini adalah sebuah asosiasi, asosiasi ini menolong orang jika mereka melakukan kesalahan atau berjalan ke arah yang salah; mereka diajak kembali ke arah yang benar. Sebuah asosiasi menolong para peziarah jika mereka tersesat dalam perjalanannya melintasi padang pasir, asosiasi membuat mereka menemukan jalan kembali dan mencapai target mereka.

Dan subhanAllah! Setiap orang mempunyai sebuah target…

Subhaana man awdha`a fii kulli qalbin ma yushghiluh!
Mahasuci Dia, Yang meletakkan dalam setiap hati apa yang ada di dalamnya.

Allah SWT memberi sesuatu kepada setiap orang, atau ke dalam hati setiap orang untuk direnungkan dan sebuah keinginan untuk mencapai tujuannya. Bisa jadi ada ratusan orang di sini, dan hati mereka masing-masing berpaling ke arah yang lain. Setiap orang berpikir mengenai sesuatu yang berbeda. Bahkan untuk hati dua orang mustahil untuk diarahkan kepada tujuan yang sama.

Orang mungkin berpikir untuk menjadi anggota parlemen, itu boleh saja. Seratus orang ingin menjadi anggota parlemen... atau seribu orang, itu tidak menjadi masalah. Tetapi apa yang ada di balik niat itu, apa yang menjadi tujuan masing-masing? “Bila saya menjadi anggota parlemen, apa yang akan saya lakukan? Apa tujuan saya menjadi anggota parlemen?” Sungguh hati setiap orang dipenuhi dengan tujuan yang berbeda-beda. Itu artinya, setiap orang mempunyai target masing-masing dan setiap orang berusaha untuk menemukan jalan untuk meraih tujuannya.

Sekarang, kita adalah hamba yang sederhana dan kita bagaikan orang yang mengembara melintasi suatu padang pasir yang luas, semuanya menyebar, tidak tahu ke mana kita pergi. Ratusan, ribuan, jutaan dan milyaran orang berada di padang yang luas itu, mereka berkumpul bersama dan bertanya, “Apa yang akan kita lakukan?”

Oleh sebab itu, Tuhan mengirimkan Pesan-Pesan-Nya kepada para pengembara itu, memanggil mereka, “Wahai manusia, datanglah, bergabunglah dengan-Ku atau orang-orang yang mengikuti-Ku. Kami akan mengantar kalian menuju target sejati kalian!”

Karena target itu ada dua: target sejati dan imitasi!

Dia memanggil mereka, “Bergabunglah bersama Kami. Kami akan mengantarkan kalian keluar dari padang luas ini menuju target-target sejati kalian!”

Tetapi, seperti yang kita katakan, setiap orang mempunyai pikiran dan ide masing-masing.

Target-target sejati adalah milik diri kita yang sebenarnya. Diri kita yang sebenarnya—sisi spiritual dalam diri kita tidak akan musnah atau habis, dan yang menjadi targetnya—target sejati—juga tidak akan hilang atau tercuri. Mereka tidak pernah kehilangan nilainya. Mereka adalah milik alam yang kekal, mereka abadi.

Target-target imitasi, yang kini dikejar oleh sebagian besar orang adalah milik tubuh fisik kita. Tubuh fisik kita menikmati target-target yang murah dan palsu. Emosi mereka mengantar orang untuk mengejar target-target imitasi itu, karena kelima indra mereka diarahkan kepadanya. Target-target sejati berada di luar jangkauan mereka.

Oleh sebab itu, pertama-tama, orang-orang berhubungan dengan harapan dan keinginan fisik mereka. Mereka berpikir bahwa ini adalah keinginan sejati mereka atau inilah target-target sejati mereka. Dan kami katakan, “Wahai manusia, waspadalah! Wahai manusia, jangan tertipu, karena kalian bukan orang pertama yang tersesat dalam mengejar target-target murahan dan palsu.”

Ketika tubuh fisik mereka hancur dan mereka kehilangan kekuatan, dengan cepat mereka akan menyadari bahwa mereka tidak mencapai apa-apa. Karena kesenangan dan target dari tubuh fisik kita—dengan selalu memenuhi hasrat fisik sejak dewasa hingga seterusnya—akan semakin berkurang, berkurang, berkurang, sampai mencapai nol.

Orang-orang melihat dan memperhatikan hal itu, tetapi tetap saja iklan-iklan setani dan ajaran setani terus menipu umat manusia, dengan mengatakan, “Tidak, kalian harus melanjutkan jalan itu, untuk meraih hasrat kalian yang tidak ada habis-habisnya!” berjanji untuk memenuhi hasrat mereka yang tak terhingga, untuk memuaskan keinginan mereka yang tak terhingga.

Akhirnya, dengan napas terakhir, ketika mulut mereka terbuka lebar dan mata mereka tertutup, orang baru mengerti bahwa mereka telah tertipu. Pada saat itu, mereka mengerti bahwa mereka telah kehilangan atau dibuat untuk kehilangan segalanya. Pada saat itu mereka menyadari bahwa mereka tidak mencapai apa-apa, nol. Tetapi tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk kembali ke awal yang baru, karena orang-orang ini, bahkan jika mereka dikembalikan ke awal, mereka akan melakukan hal yang sama. Bahkan jika mereka ingin kembali untuk ketiga kalinya, untuk meraih target sejati dari kehidupan mereka, hasrat fisik mereka dan kelima indra mereka akan memenuhi pikiran mereka dan memadamkan cahaya iman dalam hati mereka, sehingga mereka akan tidak mampu untuk melihat target sejatinya. Aspek material dan hasrat fisik membelenggu jiwa-jiwa mereka sehingga jiwa-jiwa mereka tidak dapat meraih ke target-target sejati mereka yang tersembunyi.

Tuhan Surgawi mengirimkan kepada kita hamba-hamba-Nya yang terpilih, yang berada dalam hubungan dengan Surga-Surga untuk mengingatkan hamba-hamba-Nya, “Wahai manusia, kalian jangan sampai tertipu untuk berpikir bahwa kenikmatan-kenikmatan yang disediakan oleh target-target imitasi adalah permanen. Ada aspek-aspek permanen untuk kalian, tetapi kalian harus datang dan melihat untuk target-target sejati hidup kalian dan menemukan target-target sejati di Surga-Surga, bukan di bumi.

Mereka yang mencoba untuk menemukan target-target sejati mereka di bumi akan berakhir seperti sampah. Mereka akhirnya akan menjadi debu dan jiwa-jiwa mereka akan terbelenggu dalam kegelapan dari dunia yang kelam, karena mereka akan tertarik lebih dekat dengan kegelapan, ke daerah kegelapan, ke dunia kegelapan, yang terletak di bawah tanah. Itulah takdir dari orang-orang yang mengejar target-target imitasi dan temporer.

Oleh sebab itu, Allah SWT telah mengutus orang-orang terpilih-Nya dari Surga-Surga, untuk membuat orang mengerti hal itu dan untuk memperlihatkan pada mereka jalan-jalan menuju Surga. Dan semua agama menunjukkan jalan-jalan menuju Surga.

Di antara jalan-jalan menuju Surga, tarekat menawarkan jalan-jalan dan jalur-jalur yang istimewa bagi manusia. Menurut kemampuan, kapasitas, atau kondisi internal mereka, orang akan meraih level-level yang berbeda di seluruh Surga. Dan jumlah level-level Surgawi tidak terbatas. Mereka tidak terbatas. Tidak ada akhir, tidak ada posisi akhir untuk umat manusia. Setiap saat mereka minta lebih, mereka akan diberi, karena target-target sejati kita adalah milik jiwa kita dan jiwa kita tidak akan musnah atau berakhir. Hanya tubuh fisik kita yang akan menjadi debu, terkubur di dalam tanah dan menjadi musnah.

Jiwa-jiwa orang yang membuat kesenangan duniawinya sebagai target-target mereka akan terpenjara dalam Sijjin (lihat al-Quran 83:7-8), itulah nama penjara di mana mereka akan ditempatkan.

Mereka yang mengejar target-target sejati mereka yang merupakan milik jiwa-jiwa mereka, satu demi satu akan sampai pada level-level yang tak terhingga di Hadirat Ilahi. Sesuai dengan peringkat pengabdian mereka, mereka akan berada pada kesenangan yang lebih besar. Mereka akan menyelam dan berenang dalam berkas Cahaya, mengantarkan mereka pada Samudra-Samudra Cahaya yang tak terhingga dan setiap samudra-samudra lainnya tanpa batas.

Inilah yang akan diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang menjaga ibadahnya di Hadirat Ilahi di bawah Kerajaan Ilahiah-Nya. Mereka akan kekal dan kehormatan tertinggi mereka adalah menjadi hamba Tuhan Surgawi yang Kerajaan-Nya tak dapat dicakup oleh seseorang. Oleh sebab itu, Tuhan Surgawi mengundang hamba-hamba-Nya untuk datang pada-Nya dengan berfirman, “Datanglah pada-Ku!... wallaahu yad`uu ilaa daaris-salaam.” [10:25]

Allah SWT berfirman, “Aku mengundang kalian untuk datang kepada-Ku, kepada-Ku, kepada-Ku... Jika kalian meminta-Ku, kalian akan menemukan Aku! Siapapun yang menemukan Aku, dia akan menjadi milik-Ku, dan masuk ke dalam Samudra-Samudra Rahmat-Ku, Samudra-Samudra Cahaya-Ku dan Samudra-Samudra Kemuliaan-Ku yang tak terhingga. Kalian akan berada di bawah Kerajaan Ilahiah-Ku dan semuanya akan menjadi milik kalian. Itu akan diberikan untuk kalian, hanya karena kalian telah memilih-Ku dan Aku menerima kalian. Kalian akan menjadi milik-Ku. Kalian mengorbankan eksistensi kalian dan kalian telah musnah, menjadi bagian dari Samudra Kerajaan Ilahiah-Ku.

Tidak akan ada lagi ‘ana—anta’, ‘Aku di sini—Engkau di sana.’ Tidak! Ini adalah maqaam fanaa fillah (maqam lenyap dalam Allah SWT), al-faani fillah (orang yang fana dalam Allah SWT), al-baaqi billaah... (orang yang kekal dalam Allah SWT setelah fana)

Orang yang telah mengorbankan dirinya, Allah SWT menganugerahkan Berkah Ilahiah-Nya, untuk bersama-Nya di dalam Kerajaan-Nya Yang tak terkira, dalam Samudra Berkah-Nya yang tak bertepi, untuk berada dalam Samudra-Samudra Indah-Nya yang tak bertepi, Samudra-Samudra Rahmat-Nya yang tak bertepi, Samudra-Samudra lain yang tak bertepi... yang tak terhingga! Itulah target-target yang sesungguhnya! Bukan sampah dunia ini!

Tetapi orang-orang sudah terlanjur tertipu oleh Setan dan mereka mengejar sampah. Mereka berlari ke tong sampah, mencari apa yang ada di sana, sementara Sultan mengundang mereka, “Datanglah pada-Ku! Aku akan memberi kalian apa yang belum pernah dilihat oleh mata, apa yang belum pernah didengar oleh telinga, apa yang tidak diketahui oleh seorang pun!”

Tetapi orang-orang berkata, “Tidak! Kami tidak menginginkan itu. Kami lebih senang mengorek tong sampah, di sanalah kami memperoleh apa yang kami butuhkan!”

Orang-orang telah tersesat sepenuhnya dan mereka telah kehilangan apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan mereka.

Semoga Allah SWT mengampuni kita dan mengirimkan kita dari para pembimbing-Nya yang sejati, untuk menemukan jalan-jalan kita menuju target-target sejati kita!

Demi kemuliaan orang yang paling mulia di Hadirat Ilahi, Sayyidina Muhammad SAW, al-Faatiha.