Showing posts with label Jalaluddin Rumi QS. Show all posts
Showing posts with label Jalaluddin Rumi QS. Show all posts

16 September 2008

Berlarilah menuju Allah SWT, bukannya Ilusi Dunia

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: 28 November 2001


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Hari-hari berlalu demikian cepat dan kita tengah mendekati suatu jembatan... Untuk siapakah kita hidup? Kita memulai dengan ucapan bismillaahir rahmaanir rahiim dan percaya kepada Allah SWT. Setiap hari adalah suatu jalan dan kita tidak berhenti. Setiap orang berlari menuju sesuatu, berusaha untuk mencapainya. Setiap orang memiliki ilusi, mimpi, suatu ideal atau tujuan. Tetapi, beberapa orang berada dalam kedamaian, mereka seperti anak-anak, sejak pagi hingga malam bermain, tak pernah khawatir atau berpikir tentang hari esok. Dan jika kalian tidak menjadi seperti seorang anak lagi, kalian tidak akan menemukan kedamaian. Tetapi setiap orang khawatir akan sesuatu, dan Setan membuat setiap orang sibuk. Dia memegang suatu gambar di depan kita, dan kalian berlari mengejarnya. Di malam hari, ketika kalian pulang ke rumah dalam keadaan lelah, kalian tidak mencapai apa pun. Dan hal ini tidak ada akhirnya. Satu ilusi diikuti dengan ilusi berikutnya. Hal ini terhubungkan dengan ego. Setan menangkap kita dengan keinginan-keinginan ego dan memperalat kita. Dia mengatakan kepada kita bahwa inilah tujuan kita dan jika kalian mencapainya, kalian akan berada dalam kedamaian. Tidak pernah! Apa pun yang kalian raih, selalu ada tujuan berikutnya.

Dan manusia yang telah diberi kehormatan oleh Allah SWT, melayani egonya yang hina, makhluk yang paling terhormat membiarkan dirinya tertipu dan berlari mengejar ilusi. Kalian harus berlari menuju Allah SWT, bukannya menuju dunia, karena kalian tak akan pernah menangkapnya. Tetapi, barangsiapa yang berlari menuju Allah SWT, dunia akan berlari mengejarnya dan dia tidak akan kehilangan apa pun. Manusia diciptakan untuk melayani Haqq, Allah SWT, dan Allah SWT menciptakan dunia untuk melayani manusia. Tetapi mereka berkata bahwa tujuan kita adalah dunia dan untuk memuaskan ego. Seperti inilah mereka menipu kita. Dan kita membuat rencana untuk hidup kita, kita ingin maju, selalu bertambah, dan tak ada yang berkata bahwa ada kematian, bahwa kita akan mati. Rumi QS berkata tentang hal ini, “Setiap orang berlari menuju suatu ilusi dan tak ada dua orang yang memiliki ilusi yang sama dalam hati mereka.” Seperti inilah, tak ada yang memiliki nilai. Tetapi, kita seharusnya menemukan Haqq dan mendapatkan nilai melaluinya. Tanpa mencapai Dia, kalian tidak akan mempunyai nilai apa pun. Dan begitu banyak yang mati tanpa memiliki nilai apa pun. Mereka berada dalam kebathilan dan sirna. Tetapi dalam Hadirat Tuhan tidak ada kebathilan. Para Nabi datang untuk menyelamatkan orang-orang dari kebathilan dan membawa mereka menuju Allah SWT, untuk memisahkan mereka dari ego mereka. Dan barangsiapa yang melayani egonya akan selalu menentang para Nabi karena mereka tidak ingin meninggalkan pelayanan mereka kepada ego mereka.

Karena itulah Wahhabi menentang para Wali, yang telah mencapai Allah SWT. Mereka merusak makam-makam para Wali dan menginginkan orang-orang melupakan hal ihwal para Wali. Dan begitu banyak Muslim yang bodoh mengikuti mereka. Kalian harus menemukan orang yang telah mencapai Allah SWT, jika tidak, bagaimana kalian ingin mencapai-Nya? Tetapi, mereka adalah mitra bagi Setan dan mereka ingin teman-teman mereka untuk dihormati, bukannya para Wali. Dan Allah SWT memberitahukan dalam al- Quran yang suci tentang para Wali, “Mereka yang tidak bersedih dan tidak pula cemas” (“Laa Khawfun 'alayhim wa laa hum yahzanun”). “Bagi mereka kabar yang baik.” Untuk apakah Allah SWT menurunkan ayat ini?

Jika Bin Laden adalah seorang Wali, tentu dia akan dapat mengalahkan Amerika tanpa senjata. Seorang Mutasarrif Shahib dapat menghabisi mereka dengan jin-jinnya... Begitu banyak orang berguguran. Di manakah kekuatan kalian? Apakah kalian meminta pertolongan dari para Wali? Di Hijaz kalian hanya mencari emas dan berbisnis, kalian tidak bertanya tentang Wali, di mana mereka. Jika seandainya tidak ada para Wali, akankah Allah SWT menurunkan ayat ini? Tetapi, mereka mengingkari segala sesuatu dalam Kitab Suci, maka segalanya menjadi musnah. Mereka memanggil orang lain untuk mencari pertolongan dalam masalah Bin Laden. Tanpa para Wali, segala sesuatu berada dalam kebingungan, dan kalian akan tersesat. “Para Sahabat bagaikan bintang-bintang,” sabda Nabi SAW. Setelah mereka, siapakah yang akan menunjukkan jalan? Ada seseorang, tetapi mereka tidak meminta untuknya. Maka, mereka akan habis dengan ilusi-ilusinya—semua negara akan habis.

21 June 2008

Mengenai Shuhba

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



"Thariqatuna as-shuhba wa-l khayru fi-l jam'iia"
(Jalan kita berada dalam asosiasi dan berkah atau kebaikan berada dalam kebersamaan).
Syah Naqsyband

Shuhba berarti suatu asosiasi atau perkumpulan di mana semua yang hadir memusatkan diri pada satu titik, satu sasaran.

Sebagian orang berpikir bahwa mereka tidak akan menemukan suatu kejahatan, atau konflik di tempat-tempat seperti kota suci Mekah; kalian tidak akan menyaksikan hal-hal semacam itu di depan Ka’bah. Namun demikian, seseorang yang telah mengunjungi tempat-tempat suci ini dapat dengan mudah mengetahui bahwa pada kenyataannya hal itu tidaklah demikian. Bahkan dibandingkan tempat lain, tempat-tempat suci tersebut justru lebih banyak melahirkan segala sesuatu yang berasal dari dunia yang berbeda, bukan dari dunia roh atau malaikat, melainkan dari dunia binatang.

Maka ketika kalian masuk, atau berniat untuk mulai menempuh hidup di Jalan Sufi, tak jadi soal bila berbagai kesulitan dan masalah menimpa diri kalian. Persoalannya hanya, ketika untuk pertama kalinya kalian dapat mengetahui mengapa hal-hal tersebut terjadi dan apa makna dari peristiwa itu. Itulah perbedaannya. Orang biasanya tidak menderita akibat apa yang menimpa mereka, tetapi sebagian besar menderita karena mereka tidak mengerti mengapa kejadian itu menimpa mereka dan apa hikmah dari kejadian itu.

Oleh sebab itu, orang yang berusaha untuk mengikuti jalur spiritual sepatutnya mengerti. Mereka harus tahu bahwa dengan bergabungnya mereka ke dalam kelompok seperti itu; tidak berarti secara otomatis mereka aman satu sama lain, karena kita tahu bahwa salah satu cara Allah SWT, salah satu jalan-Nya yang paling terkemuka dalam menguji hamba-hamba-Nya adalah dengan menempatkan mereka dalam keadaan saling bertentangan. Hal itu terjadi dalam tarekat seperti halnya di luar (tarekat), tetapi mungkin di dalam tarekat hal itu terlihat lebih jelas karena orang tidak menginginkannya. Pada saat yang sama, orang harus memahami hal itu dan belajar untuk berurusan dengannya. Lebih jauh lagi, apa yang terjadi dalam tarekat hanyalah merupakan sebuah contoh terhadap apa yang terjadi di mana-mana, tetapi di situ hal itu terlihat lebih jelas. Sebab kita harus selalu waspada dan tidak boleh lengah ketika kita mengikuti jalan spiritual. Jika kita tidak mau mengikutinya, kita boleh tidur. Tidak masalah. Tetapi bila kita berusaha untuk mengikuti jalur seperti itu, kita tidak boleh tidur. Hal itu tidak diizinkan. Jika terjadi juga, kita harus segera berusaha untuk bangkit.

Kadang-kadang, ketika kita berbicara di sini, kita berbicara secara umum menyangkut semua orang yang datang dari mana-mana, dan pergi ke mana-mana. Kadang-kadang, ada hal penting yang perlu disampaikan mengenai peristiwa-peristiwa yang khusus, tetapi apapun yang dibicarakan, sudah tentu berguna dan bermanfaat. Kita tidak berbicara di sini untuk tampil mengesankan dengan pengetahuan kita. Maksud dari shuhba atau pembicaraan dalam shuhba terletak dalam dua hal. Pertama adalah untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang dan mungkin itu bisa menolong dalam situasi tertentu bagi mereka dan pada saat yang sama bisa bermanfaat secara umum. Tujuan kedua dari pembicaraan dalam shuhba adalah untuk memohon kepada Allah SWT untuk memberikan suatu pembukaan dalam hati orang-orang yang benar-banar mendengarkan, yang selalu terjaga dan tidak lengah, sehingga berkah akan tercurah pada mereka. Mereka dapat meninggalkan pertemuan itu dengan berkah dari Allah SWT, Rasulullah SAW, dan dari Grandsyekh di Tarekat Naqsybandiyyah. Berkah ini akan tercurah ke dalam hati mereka dan itu akan menolong mereka.

Sekarang kita akan berbicara mengenai makna berada dalam shuhba dan makna ketika meninggalkannya, ketika melanggar peraturan shuhba. Ini adalah sebuah nasihat bagi setiap orang secara general, dan khususnya bagi orang-orang tertentu. Saya akan menyebutkan kepada kalian, sesuatu yang berasal dari Grandsyekh besar kita, Syeikh `Umar al-Suhrawardi QS Awarif al-Ma`arif. Beliau berbicara tentang makna ketika seseorang mengatakan, “Saya seorang Sufi.”

Di masa sekarang, banyak orang yang tidak memahami hal ini lagi, dan begitu banyak orang yang menghakimi, mengkritik dan menghukum tanpa pemahaman. Maka, mereka bisa saja mengambil keuntungan dari ucapannya. Tetapi ucapan mereka sama pentingnya untuk orang-orang yang mengikuti atau berniat untuk mengikuti suatu jalur spiritual, Jalan Sufi.

Dalam tradisi Sufisme, selalu ada tempat khusus di mana para Sufi tinggal. Jika kalian pergi ke Konya, di Turki, dan mengunjungi makam Jalaluddin Rumi QS, semoga Allah SWT mensucikan rahasianya yang diberkati, kalian akan melihat bahwa di sekitar makam tersebut terdapat sebuah rumah besar dengan banyak kamar. Di kamar-kamar itulah murid-murid Syekh dalam Tarekat Maulawiyah tinggal. Hal semacam ini juga terdapat dalam tarekat lain, tetapi tidak seluruhnya demikian.

Dalam Tarekat Naqsybandi, Syekh kita mengatakan bahwa membangun rumah seperti itu bukanlah prinsip kita. Mengapa tidak? Apa hikmah di balik pernyataan ini? Untuk apa rumah itu dibangun? Itu berarti, orang-orang yang mengikuti jalur spiritual tinggal dalam satu rumah. Mereka mengikuti peraturan khusus yang merupakan peraturan di rumah itu. Mereka berada di bawah bimbingan si pemilik rumah. Rumah seperti itu bisa saja memiliki dinding, atap dan lantai dari batu, tetapi bagi kita itu tidak perlu. Itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memerlukan dinding seperti itu, atap seperti itu, dan batu seperti itu agar tahu di mana mereka tinggal. Rumah-rumah seperti itu dibangun dan bisa dibangun kembali. Namun, bagi orang yang mengerti apa makna untuk tinggal di sebuah rumah, tinggal bersama, dan mengikuti peraturan di rumah tersebut, berjalan di jalur spiritual di bawah bimbingan pemilik rumah, ia tidak memerlukan dinding seperti itu. Sekarang, di dalam Tarekat Naqsybandi, ketika kita tidak memiliki rumah seperti itu, atau tidak terdorong untuk memilikinya, bukan berarti tidak ada. Itu berarti Syekh dan muridnya mengetahui, tanpa perlu diingatkan lewat batu-batu itu, bahwa mereka tinggal di rumah seperti itu. Rumah kita adalah tarekat ini. Rumah itu memiliki peraturan untuk tinggal dengan satu sama lain. Jika seseorang tidak mengikuti peraturan tersebut, sesuatu akan terjadi padanya. Mungkin, ia akan ditempatkan di luar untuk sementara, mungkin ia akan ditempatkan di ruangan lain, atau akan dikatakan kepadanya, “Pergilah ke luar sampai kamu diizinkan untuk masuk kembali.” Tak ada rumah tangga yang tidak memiliki peraturan. Orang harus mengetahui dan mematuhinya. Rumah bagi Naqsybandiyya disebut shuhba. Itulah rumahnya. Jika kalian berada dalam sebuah shuhba, maka kalian berada dalam Tarekat Naqsybandiyyah. Jika kalian menerima peraturan shuhba, kalian tinggal di rumah ini, di bawah pengawasan dan bimbingan Syekh. Jika kalian melanggar peraturannya, berarti kalian melanggar peraturan rumah tersebut. Oleh sebab itu kita harus mengetahuinya. Tidak menjadi soal apakah rumah itu tersusun atas beberapa material atau tidak. Itu hanya diperlukan oleh orang yang mendapatkan pemahamannya lewat rumah seperti itu, tetapi tidak semua orang memerlukannya. Seorang pengikut Tarekat Naqsybandi harus bisa memahami tanpa rumah tersebut.

Ketika kita mengunjungi Mawlana Syekh di Lefke, Siprus, kita melihat sebuah pondokan (guest house) dan rumah Syekh. Tetapi jangan kalian pikir bahwa ketika kalian meninggalkan Siprus, kalian tidak lagi berada di rumah Syekh. Tak peduli di mana kalian berada. Rumah itu berada di mana-mana.

Sekarang, apa yang dikatakan oleh Syekh Umar Suhrawardi QS adalah mengenai orang-orang yang tinggal di rumah seperti itu. Mungkin, kalian tahu bahwa banyak makna yang terkandung dalam kata tasawwuf atau Sufi, dan masing-masing memiliki hikmah. Sebagian orang mengatakan bahwa kata itu berasal dari kata suf, wool, atau dari kata dalam bahasa Arab yang berarti kemurnian. Syekh Umar Suhrawardi QS mengatakan bahwa kata itu berasal dari Ahl as-Suffa. Ketika orang mengatakannya, dia harus mengerti maknanya: siapa yang dimaksud Ahl as-Suffa dan apa artinya bagi orang yang mengaku dirinya sebagai seorang Sufi, dan siapa yang tinggal di bawah nama orang-orang tersebut. Ada sebuah ungkapan dalam hadits Rasulullah SAW, “Jiwa-jiwa adalah bagaikan tentara yang berkumpul bersama, mereka yang mengenal satu sama lain, setuju satu sama lain. Mereka yang tidak mengenal satu sama lain, takkan setuju.”

Dan ada pernyataan yang serupa dari Sayyidina ‘Ali KW, semoga Allah SWT memberkati wajahnya, “Apa yang kau kenal, kau cintai; dan apa yang kau abaikan, kau benci.”

Hadis Rasulullah SAW juga menyatakan hal yang sama, “Mereka yang mengenal satu sama lain, setuju satu sama lain, mereka datang bersama, mereka bertemu, mereka berada dalam shuhba. Mereka yang tidak saling mengenal, tidak setuju.” Sekarang Syekh Suhrawardi QS berkata, “Melalui shuhba, jiwa para Sufi disatukan dan ego mereka (anfaas) dibatasi. Mengapa? Karena dengan berada dalam shuhba, mereka melihat satu sama lain, memandang satu sama lain, sesuai dengan hadis bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Dalam shuhba, mata bertemu mata. Setiap orang menjadi cermin bagi orang lain dan dengan demikian ego mereka terbatasi. Sebagaimana Mawlana Syekh Nazim QS suatu hari berkata, “Alasan mengapa kita duduk bersama adalah karena itu merupakan latihan bagi sisi buruk ego kita, nafs al-lawwaamah. Biasanya apa yang disukai oleh sisi buruk kita, ego kita adalah untuk diperhatikan, menonjol, berbeda, menjadi seseorang, dan menjadi lebih dari yang lainnya. Namun demikian, selama kita duduk bersama, tak seorang pun yang menjadi lebih dibanding yang lain. Tentu saja, kadang-kadang itu akan menjadi terlalu sulit, kemudian satu atau yang lain harus muncul. Bahkan dalam suatu shuhba, ia harus menonjol. Tujuan dari shuhba adalah untuk menjaga agar ego tetap berada dalam batasnya. Setiap kali salah seorang yang duduk dalam shuhba memperlihatkan tanda-tanda ingin menampakkan diri, atau ingin menonjolkan diri, ia harus menarik diri. Karena keinginan itu terjadi ketika ego ingin memperlihatkan dirinya. Menonjolkan diri berasal dari hilangnya hudur, kehadiran. Kehadiran di sini mengandung arti Hadirat Ilahi. Untuk berada di Hadirat Ilahi tidak berarti kita harus berada di tempat lain, di bulan. Itu berarti hadir. Di sini. Itu harus dipelajari, dijaga, dan dipraktikkan, agar kita selalu hadir, dalam Hadirat-Nya. Ketika kalian kehilangan kehadiran kalian, kehilangan momentum, hal pertama yang terjadi adalah kalian akan muncul, “Aku di sini. Kalian melihatku? Setiap orang memperhatikanku? Ya? Setiap orang memperhatikan apa yang kukatakan, dan bagaimana tampangku?”

Setiap kita kehilangan zikir kita, ingatan kita, setiap hubungan kita terputus walaupun hanya sesaat, dengan segera ego melompat dan ingin agar diperhatikan. Oleh sebab itu, setiap kali ego dari salah seorang di antara kita ingin diperhatikan, yang lain tahu bahwa ia telah keluar dari lingkaran shuhba. Dan ia harus ditarik kembali. Sangat berat bagi ego kita, untuk tidak menjadi sesuatu yang spesial, hanya menjadi orang biasa seperti yang lain. Ego menanti seseorang agar kehilangan kewaspadaannya sehingga ia dengan segera akan melompat.

Salah satu jalan yang paling terkenal agar mendapat perhatian adalah melalui kemarahan dan kebencian terhadap orang lain, bahkan terhadap saudara dalam tarekat. Tak pernah yakin mengenai diri kalian, tak pernah berpikir bahwa kalian tidak melakukan sesuatu untuk diperhatikan. Siapa yang tidak melakukannya? Berapa banyak hal yang kita lakukan atau kita katakan yang bukan ditujukan dengan maksud seperti itu? Satu, dua? Berapa banyak? Apa yang kalian ucapkan bisa saja dibungkus atau dihiasi dengan kepentingan yang ‘lebih dalam’, tetapi tanyakanlah pada diri kalian sendiri, atau tanyakan pada hati kalian, mengapa kalian berbicara atau bertindak seperti itu. Tak seorang pun yang aman dari egonya sampai mereka mencapai maqam yang aman. Hingga saat itu, peristiwa apa saja bisa terjadi dan dalam waktu kurang dari satu detik, lebih cepat dari yang kalian pikirkan. Kadang-kadang bahkan kita sendiri kaget, kita menemukan diri kita berbicara dan bertindak dengan cara seperti itu. Kita berkata, “Mengapa aku melakukan hal itu?” “Mengapa aku mengatakan hal itu?” Pikiran terlalu lambat untuk menangkap. Ego bergerak lebih cepat dari pikiran kita! Kita mencoba untuk memahami tetapi kejadiannya sudah terjadi. Oleh sebab itu, yang lebih penting dari berpikir adalah untuk selalu waspada.

Tetapi apa yang akan kita lakukan? Ketika ego dari para Sufi melangkah ke bagian terdepan, ingin diperhatikan melalui kemarahan dan kebencian terhadap saudaranya baik pria maupun wanita, marah terhadap orang lain, menyerang seseorang (itulah cara yang terkenal agar diperhatikan, yaitu dengan mengkritik, menyalahkan dan marah kepada orang lain), ketika hal itu terjadi, ketika ego ingin diperhatikan, tugas dari saudara yang dikritik atau diserang adalah menghadapi orang yang menyerangnya dengan hatinya. Itu sangat penting. Ketika seseorang menyerang kalian, atau mengkritik kalian lewat jiwanya yang egois, melalui egonya; hadapilah dia dengan hati kalian, jangan dihadapi dengan ego kalian. Jangan menyerang balik, atau mengkritik balik. Itu tidak menolong siapapun, malah itu akan menyingkirkan kalian berdua.

Jika kalian berkata bahwa kalian adalah bagian dari shuhba, selama kalian menganggap diri kalian sebagai pengikut jalur spiritual itu, ketahuilah bahwa rumah tersebut memiliki peraturan. Dan kapan pun kalian menjumpai seorang saudara, di mana pun kalian menjumpainya, kapan pun kejadiannya, pertama kali lihatlah dirimu sendiri. Jangan mencoba untuk melompat atau menyerang. Ketika kalian diserang atau dikritik oleh seseorang, saudara pria atau wanita, jangan membalasnya dengan ego kalian. Kalian harus menghadapi ego dengan hati kalian. Mengapa? Ketika kalian menghadapi ego dengan hati kalian, ia akan kehilangan semua pijakan di bawah kakinya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia menjadi terpesona. Tetapi bila kalian menghadapi ego dengan ego kalian, maka perang segera dimulai dan perlindungan dari setan pun lenyap, tak ada lagi perlindungan dari setan bagi keduanya.

Allah SWT berfirman,
"Id fa`billatii hiya ahsanu fa idzal-ladzii baynaka wa baynahuu `adaawatun ka-annahuu waliyyun hamiim/ Wa maa yulaqaahaa illal-ladziina shabaruu wa maa yulaqaahaa illa dzu hazhin `azhiim." [QS 41:34-35]

Artinya,
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

Allah SWT Yang Maha Pemurah berbicara tentang Kebenaran dalam ayat tersebut. Itulah makna dari ayat tersebut. Itu adalah untuk orang-orang seperti itu. Jika kalian tidak mengikuti tarekat, lalu ada seseorang yang melakukan sesuatu yang buruk terhadap kalian, adalah perilaku yang tidak baik bila kalian membalasnya, tetapi kadang-kadang hal itu diperbolehkan bagi mereka. Tetapi kalian tidak diizinkan untuk melakukan hal itu, karena kalian menempuh perjalanan melalui jalur spiritual. Ketika kalian mengatakan bahwa kalian adalah seorang Sufi, maka ayat tersebut berlaku pada kalian. Kalian semua atau sebagian besar dari kalian yang mengenal Syekh Nazim QS, apakah kalian menyadari bahwa Mawlana seringkali membaca ayat ini? Balaslah sesuatu yang buruk dengan sesuatu yang baik. Mana yang lebih baik? Hati lebih baik daripada ego.

Kadang-kadang salah satu di antara dua orang mengeluh kepada Syekh. Mereka telah saling mengejek satu sama lain dalam waktu yang lama dan salah seorang di antara mereka berkata, “Sekarang kita harus membicarakan hal ini kepada Syekh.” Lalu Syekh akan menegur salah satu di antara mereka, tak peduli siapa di antara mereka. Mengapa? Karena keduanya sama-sama bersalah. Syekh bisa saja menegur salah seorang di antara mereka, beliau dapat memilih salah satu di antara mereka, tak jadi soal. Keduanya telah melanggar lingkaran shuhba. Yang pertama karena menyerang (seseorang) agar ia tampil sebagai orang yang menonjol dan yang kedua karena membalas serangan itu dengan egonya.

Ini adalah nasihat praktis yang sangat penting secara umum dan khususnya bagi beberapa orang di antara kita di sini.

Itu adalah dua aturan utama mengenai perilaku dalam shuhba. Thariqatuna as-shuhba. Itu adalah peraturan bagi pengikut tarekat ini. Itu adalah peraturan untuk seluruh pengikut Sufi sejati, orang-orang yang menata hidupnya sebagai Ahl-Suffa. Ini juga merupakan shuhba tetapi bukan merupakan shuhba hanya karena kita duduk di lantai ini. Untuk berada dalam shuhba, kalian harus memenuhi peraturan dalam shuhba. Kalian dapat terlihat duduk di sini, namun pada kenyataannya kalian berada di tempat lain. Intinya adalah untuk berada di sini, berada bersama-sama yang lain, di bawah pengawasan Syekh. Itulah shuhba. Tidak hanya duduk di sini, tidur, melihat ke sekeliling, atau bermain-main; namun berada di sini dengan perhatian yang lengkap dan selalu waspada.

Para Sufi hidup dalam shuhba. Hidup mereka terdiri atas shuhba. Mereka semua mempunyai tujuan yang sama, niat yang sama tetapi mereka berada di tingkat yang beragam. Setiap orang berada di tingkat yang berlainan tetapi tingkatan mereka ‘diselaraskan’ satu sama lain. Ketika kita berada dalam sebuah shuhba, jangan berkata bahwa aku mempunyai persoalan yang berbeda dengan dia, atau karakterku berbeda dengannya, atau aku mempunyai pikiran yang berbeda dengannya, jangan berpikir bahwa kalian adalah sesuatu. Jangan. Semua orang yang datang bersama ke dalam shuhba, apapun perbedaan mereka, mereka semua diselaraskan satu sama lain.

Tujuan dari shuhba adalah untuk bersama dengan yang lain, sebagaimana Allah SWT melukiskannya,

"Wa naza`naa maa fii shuduurihim min ghillin ikhwaanan 'alaa sururim mutaqaabiliina" [QS 15:47]

“Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan.”

Itulah fungsi dari shuhba. Kita harus melenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara dan duduk berhadap-hadapan.

Syekh Umar Suhrawardi QS berkomentar,

“Tatap muka terjadi ketika sisi dalam yang tersembunyi dan sisi luar yang tampak adalah sama.”

Ya, setiap orang melihat satu sama lain, setiap orang mempunyai raut muka yang tampak, tetapi apakah penampakannya itu sama dengan apa yang tersimpan di dalam? Atau apakah kalian menyimpan sesuatu yang lain di dalam? Ketika kalian duduk bersama seseorang, di manapun, dalam suatu shuhba, dan kalian mempunyai sisi luar yang mengatakan satu hal, dan sisi dalam yang mengatakan hal lainnya, apakah kalian berada dalam shuhba? Tidak. Kalian tidak duduk berhadap-hadapan karena kalian mempunyai muka yang lain. Satu muka menghadap ke sini, muka yang lain menghadap ke sisi yang lain. Satu muka mempunyai raut yang bersahabat, dan muka yang lain penuh kebencian. Itu bukanlah shuhba. Kalian duduk berhadap-hadapan ketika sisi dalam, yang tersembunyi dari pandangan orang-orang biasa adalah sama atau serupa dengan apa yang terlihat di luar. Tak ada perbedaan. Bukan dua orang yang duduk di hadapan saya, tetapi satu orang saja. Barulah Saya duduk berhadap-hadapan, dan kita berada dalam shuhba. Bila hal itu tidak terjadi, maka shuhba-nya menjadi rusak. Jika seseorang dalam hatinya mempunyai suatu perasaan tersembunyi yang menentang saudaranya, maka tidak terjadi yang namanya tatap muka, walaupun mukanya menghadap muka yang lain. Satu muka menghadap ke arah ini dan muka yang lain ke arah yang lain; dan duduk di depan satu sama lain dan membicarakan soal-soal agama, sufisme dan tarekat dan Saya tidak tahu apa. Kalian harus mengerti, tidak meremehkan hal ini dan tidak bermain-main dengannya. Thariqatuna as-shuhba. Kalian harus bersama dengan yang lainnya, berhadapan satu sama lain. Sisi dalam kalian harus sama dengan sisi luar kalian, terhadap saudara-saudara kalian.

Ahl us Suffah, sebagaimana Quran menerangkan kepada kita, adalah seperti ini. Itu adalah salah satu arti dari Ahl us-Suffah. Mereka terbuka satu sama lain, tanpa perasaan dendam, “Karena dendam dan kemarahan ditimbulkan oleh kecintaan terhadap dunia…” Dengan kecintaan terhadap dunia, bukan kecintaan terhadap akhirat, bukan karena cinta terhadap Allah SWT, bukan cinta terhadap agama, atau cinta terhadap tarekat. Jika hal itu juga terjadi di antara para pengikut Sufi, maka itu terjadi karena alasan yang sama. Tak peduli istilah apa yang dipakai. Kita berbicara mengenai realitas. Jika kalian duduk dalam shuhba dan hal ini terjadi, maka hal itu berasal dari kecintaan terhadap dunia. Dan itu tidak diizinkan bagi para pengikut Sufi, khususnya bagi pengikut Tarekat Naqsybandi. “Karena dendam dan kemarahan timbul akibat kecintaan pada dunia dan kecintaan terhadap dunia adalah asal dan sumber dari semua kejahatan.”

Orang-orang dalam shuhba duduk berhadap-hadapan, di dalam maupun di luar, bersama-sama dengan sifat kekeluargaan dan cinta. Mereka bertemu untuk berbicara bersama-sama dan makan bersama, dan dengan cara ini mereka berharap akan mendapatkan berkah dari Tuhan mereka. Jika mereka mengikuti peraturan shuhba. Jika mereka tidak mengikuti peraturannya, tak ada berkah.

Dilaporkan bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah SAW, kami makan tetapi rasa lapar kami tidak pernah hilang.” Beliau menjawab, “Mungkin kalian makan secara terpisah. Datanglah bersama, dan ingatlah Allah SWT, maka kalian akan diberkati.”

Bi hurmati l-Habibi, bi hurmatil Fatiha.

[demi kemuliaan kekasih (Allah SWT), diakhiri dengan membaca Surat Pembuka, surat pertama dalam al-Qur’an]


Pertanyaan:
S.M.: Anda berkata, ”Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya.” Dalam tarekat, hal ini sangat penting. Itu seperti Saya melihat diri saya sendiri melalui Anda. Anda melihat saya…

Syekh Hisyam QS: Ketika kau melihat saya, apakah kau melihat dirimu sendiri?

S.M.: hmm, itulah yang Saya herankan. Dan juga…

Syekh Hisyam QS: Atau apakah kau melihat saya?

S.M.: Saya melihat Anda!! (tertawa)

Syekh Hisyam QS: Tetapi seharusnya kau tidak melihat saya, karena Saya hanyalah sebuah cermin!

S.M.: Itulah yang ingin Saya katakan. Untuk mengatakan kepada yang lain bahwa yang salah dalam dirinya adalah bagian dari sebuah cermin.

Syekh Hisyam QS: Tidak! kau tidak perlu mengatakan sesuatu. Kau hanya harus melihat. Kau harus melihat. Atau Saya yang harus melihat. Sebuah cermin tidak berbicara. Ia hanyalah cermin. Ya. Saya tidak perlu mengatakan sesuatu kepadamu. Kau hanya harus melihat saya untuk melihat dirimu sendiri; begitu pula dengan yang lainnya. Jika Saya mulai berbicara, dan mengatakan sesuatu kepadamu, maka kau menjadi terlalu tertarik kepada saya… Kau tidak lagi melihat dirimu sendiri. Jika Saya sebuah cermin, dan hadis mengatakan bahwa, “orang-orang beriman” adalah cermin. Bukan setiap orang. Kita adalah cermin yang tidak sempurna. Syekh dan para Awliya, mereka adalah cermin yang sejati. Mengapa? Karena mereka tidak lagi memikirkan egonya. Ketika kau melihat pada mereka, kau hanya akan melihat dirimu sendiri. Jika kau adalah seorang yang beriman. Jika kau tidak cukup beriman, kau bisa melihat Mawlana Syekh dan tidak melihat dirimu sendiri. Itulah bedanya. Cermin tidak perlu mengeluarkan kritikan, atau mengatakan sesuatu. Ia harus tetap berada di sana, bersih dan memantulkan. Setiap orang mengetahuinya, kita mengetahui apa yang kita lakukan, tetapi kita terlalu mudah untuk menyimpang dan melihat hal lain, dan itu semua membuat kita lupa akan diri kita sendiri. Tetapi ketika kau melihat seorang mukmin, kau tidak dapat melarikan diri dari dirimu sendiri. Ia tepat berada di depanmu, karena seperti yang dikatakan oleh Syekh Suhrawardi QS bahwa sisi dalam dirinya adalah seperti sisi luarnya. Ia tidak berusaha untuk menyembunyikan dirinya. Ia tetap berada di depanmu, dan kau melihat dan menyaksikan. Kau melihat dirimu sendiri. Itu sangat penting. Kau harus mempelajari bahwa apa yang kau lihat bukanlah orang lain, kau melihat dirimu sendiri. Jadi, sekali lagi, jangan mengkritik! Lihatlah dirimu sendiri.

S.M.: Kesalahan yang kita lihat pada orang lain sesungguhnya milik kita sendiri…

Syekh Hisyam QS: Tentu.

Wa min Allah at tawfiq

05 June 2008

Pantai Kebenaran

Wawancara Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Penanya: Syekh Nazim QS, dalam dua hari terakhir ini di Haus Schnede (Jerman), Anda bertemu dengan banyak orang yang tentunya menanyakan banyak hal kepada Anda. Dari semua pertanyaan itu manakah yang paling signifikan?

Syekh Nazim QS: Alhamdulillah! Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya, malah sebaliknya mereka adalah pendengar yang tekun. Pada saat mereka memperhatikan apa yang kami bicarakan mereka akan menemukan jawaban atas pertanyaan mereka dalam kata-kata kami, sehingga tidak perlu muncul pertanyaan.

Penanya: Sayang sekali saya tidak sempat hadir. Sekarang saya akan bertanya tentang jalan (tarekat) Anda. Anda adalah seorang pemimpin dari Tarekat Naqsybandi dan pengikut ajaran Syah Bahauddin Naqsyband QS. Tarekat Naqsybandi adalah jalan para Sufi, jalan menuju Tuhan: apa sajakah yang diperlukan dalam jalan ini, serta apa saja ajaran beserta metodenya?

Syekh Nazim QS: Ada pepatah tua dari Jerman: “Semua jalan menuju ke Berlin” jika setiap jalan menuju ke Berlin, maka setiap tarekat mestilah menuju Allah SWT. Setiap pencari Tuhan dalam kenyataanya mencari jalan menuju Allah SWT. Semakin banyak anak Adam AS datang dan pergi, itu semua menuju Tuhan. Mereka akan menggapai Tuhan mereka pada akhirnya, meskipun jalan yang ditempuh berbeda untuk setiap orang. Mereka semua akan bertemu di Hadirat-Nya.

Penanya: Jadi bisa dikatakan menurut Anda bahwa setiap jalan menuju Allah SWT adalah jalan yang benar?

Syekh Nazim QS: Tentu! Jika itu menuju Allah SWT, pastilah itu jalan yang benar. Dalam perjuangan menuju Tuhannya, hal yang paling penting dan yang paling diperlukan adalah kesungguhan hati. Murid kami harus bersungguh-sungguh; dan para Syekh dari tarekat kami sangat menekankan hal ini. Barangsiapa mempunyai kesungguhan hati mesti suatu saat akan mencapai tujuan dan meraih hasil.

Tetapi ada beberapa orang dengan motif lain, mencoba menyembunyikan sesuatu dalam hati mereka, mereka seperti serigala berbulu domba, mereka tidak akan pernah menggapai tujuannya. Orang-orang bisa saja menempuh jalan yang berbeda dan berkata, “Kami mencari Tuhan kami!” Jika mereka teguh dengan perkataanya maka mereka berada di jalan yang benar dan aman, sebaliknya jika tidak, jalan itu menuju tangan Iblis.

Penanya: pendek kata menurut Anda bahwa setiap pencari kebenaran yang teguh…

Syekh Nazim QS:
…pasti menemukan kebenaran.

Penanya: dan Allah SWT akan membimbing setiap orang di jalannya, di setiap jalan masing-masing individu?

Syekh Nazim QS: Ya, ini adalah Tuhan Yang Maha Adil yang membimbing setiap orang yang teguh ke Hadirat-Nya.

Penanya: Saya menanyakan pertanyaan ini karena, kami di Barat mempunyai perbedaan budaya dengan Anda, jalan kami bisa saja berbeda.

Syekh Nazim QS: Mungkin saja.

Penanya: beberapa orang dari Barat yang ingin menggapai Tuhannya tidak berani mengikuti jalan Anda karena mereka tidak melihat mengapa mereka harus belajar bahasa Arab dan menjadi Muslim. Banyak orang mencari Tuhannya dengan teguh tetapi berkata, “Cara kami berbeda dengan Timur.”

Syekh Nazim QS: Siapa yang berkata kepada mereka, “Jadilah Muslim?” kami hanya berkata kepada mereka, “Bersungguh-sungguhlah dan jujur!” jika mereka bisa melakukan hal tersebut, mereka akan diantarkan menuju tujuan mereka, menuju Tuhan mereka. Apakah orang Barat mempunyai Tuhan dan orang Timur juga mempunyai Tuhan yang berbeda? Tidak akan pernah! Tuhan dari alam semesta ini, Tuhan dari anak Adam AS hanya satu! Dan Tuhan yang sama, Allah SWT.

Penanya: apakah seseorang memerlukan metode khusus, teknik atau ajaran untuk setiap jalan? Latihan apakah yang Anda rekomendasikan untuk seorang pencari, tetapi bisa saja bukan seorang Muslim?

Syekh Nazim QS: Latihan itu berbeda untuk setiap pribadi. Ada begitu banyak metode, dan seorang guru akan menunjukkan cara kepada setiap pengikutnya untuk melakukan praktik yang sesuai dengan pribadi masing-masing. Sekali seseorang menerima latihan tersebut, seharusnya ia mengikutinya dengan hati-hati untuk memetik manfaat dari hal tersebut. Menyangkut latihan, kita harus bisa menjelaskan arti dari tujuannya. Bahwa latihan itu ada dua macam: spiritual dan fisik.

Penanya: Apakah yang dimaksud dengan latihan untuk hati?

Syekh Nazim QS: Itu adalah latihan yang paling penting di atas semuanya, jauh lebih penting dari yang bisa kita lakukan melalui tubuh kita. Materi ini sangat sederhana dan mudah untuk dipahami. Anda bisa saja melakukan latihan seperti di dalam Islam yaitu salat, atau latihan seperti yang diperkenalkan Mr.Gurdjieff atau praktik latihan lainnya – selama itu masih berupa latihan secara fisik, Anda belum bisa mengambil apapun untuk jiwa Anda. Bahkan Anda bisa menemukan bahwa tidak ada perubahan pada diri Anda, tetap sebagai pribadi yang sama seperti sebelumnya. Kepribadian Anda, karakter Anda hanya akan berubah bila ada perubahan di dalam hati.

Rahasia dari hati berada di dalam setiap kepribadian dan karakter pada setiap individu. Ketika rumput dicabut tanpa perhatian dan dengan cara yang benar, akarnya akan tinggal dan akan tumbuh kembali. Begitu juga dengan latihan fisik tanpa ditunjang dengan latihan untuk hati akan seperti rumput itu: akar dari masalah akan selalu tertinggal.

Penanya: Jadi dari pandangan Anda, tidaklah cukup hanya dengan latihan fisik saja kita menjalankan Islam tetapi dengan menjalankannya dengan menggunakan hati sepenuhnya.

Syekh Nazim QS: Ya, kita harus beribadah dengan hati kita. Ketika tubuh kita mengarah ke kiblat, hati kita juga langsung mengarah ke Hadirat-Nya. Dan menjalankannya dengan cara seperti itu berarti menjalankan ibadah dengan penuh dan lengkap.

Penanya: Mawlana Jalaluddin Rumi QS memperkenalkan latihan ibadah dengan menari berputar dengan diiringi flute dan drum. Beberapa orang mengatakan ini juga salah satu cara untuk beribadah.

Syekh Nazim QS: Benar, tetapi seharusnya Anda tahu bahwa sesungguhnya Mawlana Rumi QS tidak menari berputar seperti yang dilakukan orang-orang saat ini. Tidak, ketika beliau dan para darwis menari berputar, mereka berputar di atas permukaan antara Surga dan Bumi, melayang di udara, seperti para malaikat. Itu adalah cara tarian berputar sebenarnya dengan menggunakan badan dan hatinya. Tetapi untuk hati yang tidak bersih mereka tetap menjejak bumi dan berputar-putar belaka. Ketika Mawlana Rumi QS melayang, itu adalah tanda penting bahwa beliau telah menyempurnakan latihan internalnya. Tetapi menirunya secara fisik pun itu tetaplah baik, jika seseorang terus mencobanya dengan tekun, ia akan sampai juga pada tujuannya.

Penanya: Jadi sangatlah penting untuk berlatih di bawah bimbingan seorang guru.

Syekh Nazim QS: Benar sekali, tanpa seorang guru, dalam pandangan saya, tidak akan ada pelajaran yang bisa diraih, seorang guru tugasnya mengajar orang-orang.

Penanya: tetapi apakah yang diajarkan seorang guru harus dari Allah SWT, atau hanya dari pandangannya?

Syekh Nazim QS: Jika kita bisa mengambil dari penemuan hasil dari pemikiran kita, berarti tidak perlu ada pembimbing. Tetapi pada kenyataannya, para nabi pun mempunyai pembimbing yaitu malaikat Jibril AS, yang bertugas sebagai perantara antara mereka dengan Tuhannya. Jadi, jika para nabi saja membutuhkan pembimbing, maka bagaimana dengan yang bukan nabi? Siapa saja, untuk tiba di tujuannya membutuhkan pembimbing. Inilah mengapa setiap jalan Sufi mengikuti metode ini: semua jalan Sufi dibangun di atas transmisi ajaran-ajaran dan karakter guru kepara muridnya.

Penanya: Tarekat berarti sebuah jalan?

Syekh Nazim QS: Tarekat artinya “Jalan”

Penanya: Ada begitu banyak Tarekat dalam Sufisme, apakah semuanya bersaing?

Syekh Nazim QS: Berkompetisi menuju kebaikan adalah suatu hal yang baik, untuk bersegera dan cepat-cepat menuju kepatuhan dan penyerahan diri kepada Allah SWT, melebihi yang lainnya, jika mungkin. Kita harus berlomba untuk kepuasan Allah SWT terhadap kita melalui tingkah laku yang baik. Rahmat dari Allah SWT akan melindungi kita dari rasa sombong, congkak, dan berpuas diri. Kita harus berlomba menuju kepuasan Tuhan kita, bukannya memuaskan diri kita sendiri yang mungkin saja membahayakan bagi orang lain. Dan lebih memilih berlomba di dunia yang materialistis ini, yang selalu cenderung merusak dan egois, bahkan sekalipun ketika melakukan hal yang sepertinya “pekerjaan yang baik”. Tetapi perlombaan orang-orang di tarekat sangatlah berbeda.

Penanya: Dinyatakan bahwa dalam banyak ajaran Sufi adalah pertama: syari’at, kemudian tarekat, dan akhirnya haqiqat (Kebenaran Mutlak). Tetapi, menurut pemahaman saya, kita bisa saja langsung menuju tarekat, mengambil bimbingan dari orang yang benar, sehingga seseorang bisa meraih haqiqat (Kebenaran Mutlak). Karena syari’at hanyalah berisi berupa aturan/hukum yang hanya kulit saja di jalan Sufi, bukanlah sesuatu unsur yang penting.

Syekh Nazim QS: Syari’at adalah samudra dan tarekat adalah sebuah kapal. Ketika Anda melakukan perjalananan di atas kapal di samudra, Anda bisa mencapai Pantai lainnya–Pantai Kebenaran, pantai dari Haqiqat. Tanpa samudra kapal tidak bisa berlayar. Apa artinya kapal tanpa samudra? Akankah Anda bawa kapal itu di punggung Anda?

Penanya: Tetapi jika ada samudra dan tidak ada kapal, dan Anda bisa berenang, Anda akan tenggelam. Anda tahu banyak orang yang melakukan hal ini dan menolak menaiki kapal, “kapal Spiritual”.

Syekh Nazim QS: Tidak perlu kita berenang di tengah samudra. Berenang bukanlah cara yang tepat untuk menyeberangi samudra yang begitu luas. Anda lebih suka berenang dan tenggelam, atau menggunakan kapal dan tiba di tempat tujuan? Dengan perahu kayu jika Anda lebih suka!

Penanya: Begitu banyak makna “kapal” dari Anda. Terima kasih!

21 May 2008

Tujuh Mata Air

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



A`udzu billahi min asy-Syaythaanir-rajiim. Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Destuur ya sayyidi madad. Nawaytul arba`iin, nawaytul ‘itikaf, nawaytul khalwa, nawaytul `uzla, nawatul riyaadha, nawaytus suluk, fii hadzal masjid lillahi ta`ala al-`azhiim.

Al-hal adalah kondisi rohaniah seseorang, yang menentukan sampai ke level mana ia akan diangkat dan bagaimana ia mengalami (menangani?) inspirasi melalui hatinya. Sebagian besar, hal adalah hasil olah amalnya.

Al-fayd adalah pancaran (emanasi) luar (yang nampak) atau pancaran cahaya surgawi yang dikirim langsung oleh Allah SWT, yang turun kepada seseorang tanpa upaya atau interferensi orang tersebut. Keduanya menimbulkan rasa yang berbeda dalam diri pribadi tadi.

Grandsyekh `Abdullah Fa`iz ad-Daghestani QS mengatakan bahwa karakteristik yang bermacam-macam ini datang kepada seseorang dari tujuh mata air yang berbeda, masing-masing mengalir dari sumber yang khas (unik). Kondisi yang beragam yang dialami seseorang dipengaruhi oleh jenis malaikat khusus yang ditugasi Allah SWT untuk membantu mereka berproses dari level rohaniah satu ke level berikutnya.

Level mata air surgawi pertama di antara tujuh mata air itu diselenggarakan oleh malaikat yang khusus diciptakan dan ditugaskan Allah SWT untuk mengilhami tindakan para hamba-Nya. Para malaikat ini mengirimkan pikiran, ilham atau inspirasi dan kuasa, yang kesemuanya itu merubah seseorang yang secara visual nampak. Para malaikat ini sesungguhnya memberi petunjuk kepadanya melalui inspirasi. Ia mengalami perasaan lega, bahagia dan melayang, atau sesak karena gangguan atau distraksi dan ketidakbahagiaan.

Seseorang pada level (maqam) ini, kalau tidak dalam keadaan merasa lega, ya dalam keadaan merasa sempit. Itu semua tergantung bagaimana hatinya mengolah inspirasi yang menggerakkannya melalui keadaan (rasa) yang berbeda itu, kalau ia tidak tertawa, ya ia menangis, atau dalam keadaan bingung. Juga, bagaimana hatinya mengolah inspirasi ini tergantung amalnya.

Jika ia melakukan kesalahan, ia mungkin menangis dan merasa jera (tobat). Jika ia melakukan kebaikan, ia mungkin merasa bahagia atau sukacita (rida) bahwa Allah SWT rida kepadanya. Jika ia bersikap baik dalam segala situasi dan keadaan, masya Allah, melakukan zikir, sukacita, menerima tajalli Allah SWT, ia akan berada dalam keadaan melayang-layang (ekstasi), tersenyum, atau menangis karena cintanya kepada Allah SWT atau karena rasa takut kepada-Nya.

Kesemua ragam rasa (situasi batin) ini diilhami oleh malaikat tadi, dan disebut sebagai hal: situasi batin yang dialami oleh hamba Allah SWT. Segala sesuatu di dunia ini dijaga dan diawasi oleh malaikat yang telah ditugaskan Allah SWT dengan kewajiban dan tanggung jawab khusus.

Mata air kedua yang mencapai hamba Allah SWT dilaksanakan oleh jenis malaikat yang lain lagi, yang membuatnya menyadari apa saja yang telah dicapainya, agar maju ke level rohaniah yang lebih tinggi. Inilah sebabnya mengapa kadang-kadang seseorang mendapati dirinya dalam keadaan buruk yang sangat ia sesali, dan sekonyong-konyong keadaan itu menuju kepada keadaan yang kita sebut faraj, sebuah bukaan (kesempatan) positif untuk mereka dalam kehidupan mereka, yang membawa mereka kepada kebahagiaan.

Jenis manusia yang menjadi diri kita bergantung pada amal kita, yang baik dan buruk; pada posisi baik dan buruk yang kita ambil dalam hidup ini, dan pengaruh baik dan buruk yang kita miliki di sekitar kita. Ini adalah dasar bagi ilmu psikologi (`amal al-nafs), yang mengungkapkan psikologi dan kepribadian seseorang. Tetapi, ilmu seperti itu tidak dapat menentukan level rohaniah seseorang.

Sementara level pertama dan kedua diselenggarakan kepada masing-masing orang oleh malaikat, mata air ketiga berbeda. Pada Hari Perjanjian, ketika semua hanyalah atom di Hadirat Ilahi, ketika Allah SWT menciptakan jati diri Anda, rahasia Anda, dzat Anda, Dia juga menetapkan Anda dalam asuhan Mursyid Anda, yang membimbing Anda melalui tataran jiwa Anda kepada peran yang ditakdirkan bagi Anda dalam hidup ini, dan dalam cara-cara untuk meningkatkan diri Anda.

Mursyid ini tahu ilham apa yang dibawa para malaikat ke dalam hati Anda, membimbing Anda kepada hasil yang terbaik, dan menyingkirkan kebimbangan Anda. Ketika fayd itu turun kepada Anda, Mursyid ini menyalurkannya melalui suatu cara yang akan mengangkat diri Anda ke level rohaniah yang lebih tinggi.

Jadi, untuk kepentingan murid, Mursyid itu menyeimbangkan hal dan fayd, kondisi di dalam (rohaniah) bersama-sama dengan kucuran (emanasi) surgawi. Meskipun terdapat ratusan Mursyid at-Tabarruk, Mursyid at-Tazkiyyah, dan Mursyid at-Tasfiyya, dalam setiap abad hanya ada seorang Mursyid at-Tarbiyya: seseorang yang membawa Bendera Irsyad (petunjuk).

Ia adalah sumber, mata air yang mengalir dari jantungnya ilmu. Ia menerima petunjuk langsung dari Nabi SAW dan menyalurkannya kepada semua awliya lainnya. Sementara terdapat 124.000 awliya yang berbeda-beda pada setiap saat, hanya ada satu pewaris Nabi SAW. Ia memiliki kemampuan dan izin untuk mengangkat para awliya, dan (pada gilirannya) mereka ini dapat mengangkat kita semua.

Ketika Mursyid at-Tarbiyya meninggalkan dunia ini, ia menyerahkan warisan yang diterimanya dari Nabi SAW kepada wali lainnya. Dengan cara ini, pada setiap saat hanya ada seorang Mursyid at-Tarbiyya di dunia ini. Allah SWT memberikan izin kepada Nabi SAW-‑dan dari Nabi SAW kepada Mursyid itu-–untuk memiliki kontak dengan semua awliya, bahkan yang telah berada dalam hayyat al-Barzakh.

Untuk mengambil manfaat dari para awliya (dalam hayyat al-Barzakh), Mursyid at-Tarbiyya itu mengidentifikasi kekuatan dan hal khas apa saja yang mereka miliki masing-masing, yang diambilnya dari mereka dan menyalurkannya kepada Mursyid at-Tabarruk, Mursyid at-Tazkiyyah, Mursyid at-Tasfiyya, dan kepada para pengikutnya.

Namun, hanya mereka yang telah mencapai level murid dalam Tarekat Naqsybandi, yang mencapai level tertinggi dari bimbingan dan yang merupakan pencari pada jalan itu, dapat menuai keuntungan dari Awliya Barzakh, dan bahkan itu pun, hanya melalui Mursyidnya.

Untuk betul-betul berkomunikasi dengan dan menyerap manfaat dari roh dalam kubur, seseorang harus sudah menguasai egonya, dan sasaran satu-satunya haruslah Hadirat Ilahi. Orang khusus ini berada di bawah bimbingan Mursyid at-Tazkiyya dan mereka telah mencapai sebuah keadaan keberadaan yang peka di dunia ini.

Makhluk umum (awam) tidak dapat menyerap manfaat dari orang Barzakh karena mereka tidak memiliki koneksi itu, dan karena itu tidak dapat menerima ilham atau bimbingan dari awliya yang telah pergi ke alam berikutnya, yang tidak lagi menggunakan kekuatan fisik mereka.

Namun orang kebanyakan dapat menyerap manfaat dari awliya yang masih hidup, karena mereka menyadari hidupnya melalui domain (wilayah) fisik. Sedemikian rupa, awliya hidup dapat mencapai mereka (orang awam) pada kedua tataran fisik dan rohaniah.

Jika seseorang mencari jalan menuju Allah SWT dalam cara manapun dari empat puluh satu tarekat, dan tidak mencapai level wali bertaraf tinggi, akan datang kepadanya perintah untuk menyelesaikan itikafnya itu di alam kubur. Jangka waktu itikaf tersebut bervariasi dari empat puluh hari sampai lima atau tujuh tahun, dan itu adalah 70.000 kali lebih sukar dibandingkan itikaf di dunia ini. Seseorang yang telah menyelesaikan itikafnya di dunia ini dan yang telah mencapai keadaan keberadaan yang peka di sini di dunia ini, akan lebih tinggi level rohaniahnya dibanding dengan mereka yang mencapainya saat dalam kubur.

Mata air ketiga datang kepada kita jika kita tetap mematuhi perintah Mursyid at-Tazkiyya, mengikuti bimbingannya, mengikuti jejak langkah Sayyidina Muhammad SAW, melaksanakan awrad harian khusus yang ditugaskan kepada kita, mempersembahkan dzikrullah dan semua salat pada waktunya, menjalani semua sunnah Nabi SAW. Ketika amalan dzahir (lahiriah) ini telah dicapai, hati kita mulai tergerak, seperti seseorang yang bernapas cepat. Jantung bergetar dan murid “tersengat api”.

Pada tataran ini, mata air keempat mendatanginya dan ia mulai menerima barakah surgawi, karena ia menerima dari malaikat pada mata air pertama dan kedua, dari Mursyid at-Tazkiyya, mengikuti awrad dan sunnah, mengakibatkan turunnya Rahmat Allah SWT kepadanya. Kini jantung mulai tergetar, dan mata air kelima mendatanginya.

Setiap Kamis dan Senin, di dalam Majelis Awliya, setiap Mursyid secara rohaniah mempersembahkan pengikutnya dan amal mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Para murid yang jantungnya tergetarkan dibawa ke hadirat Nabi SAW, sementara Mursyid sekedar berkata, “Ya Sayyidi, ini adalah muridku dari umatmu. Ia mematuhi perintahmu dan mencari Shirat al-Mustaqiim, mengikuti jejak langkah para awliya.”

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Pertama mereka beriman, kemudian mereka ingkar (kufra), kemudian mereka jatuh sempurna. Kufra di sini bukan masuk kepada keadaan kufr, tetapi lebih kepada arti jatuh kepada dosa. Summa amanu di sini berarti bahwa ia mulai melakukan amal baik, dan kemudian mengikuti jejak Setan, lalu jatuh sempurna. Ia adalah Muslim, namun masih jatuh kepada dosa. Pada titik ini, Mursyid at-Tazkiyya berfokus mendalam kepada hati para pengikutnya, mempersiapkan mereka dan membangun mereka agar mereka tidak jatuh kepada perbuatan mungkar.

Itulah sebabnya ia mempersembahkan mereka kepada Nabi SAW setiap Kamis dan Senin dalam Majelis Awliya, di mana Nabi SAW memeriksa apa yang berhasil dilakukan masing-masing Mursyid terhadap diri murid-murid mereka. Jadi jika Nabi SAW mengamati bahwa murid itu mengikuti sunnah-nya, menjalankan cara-cara para awliya, beliau menjadi amat bahagia dan menerima amal murid itu dan mulai mengarahkan pandangannya kepada murid itu.

Dari kebahagiaan Nabi SAW, fayd-–suka cita Allah SWT, Barakah, Cahaya Ilahi-–mulai sampai pada murid itu. Itulah sebabnya Muslim mengatakan (dalam doa), Unzur Alayna Ya Rasulallah “Ya Rasulallah SAW, pandanglah kami, berilah kami sebuah pandangan, sebuah lirikan! Kami berada di bawah tajalli-mu, dengarlah permintaan kami, doa kami, karena kami memujimu, dan kami tenggelam dalam kesukaran dan kami minta engkau mengangkatnya.”

Bila Nabi SAW suka cita dengan murid Syaikh itu, beliau akan memandang orang itu, mengangkatnya, dan barakah Allah SWT mendatangi murid itu. Ketika ia diangkat, jantung murid itu akan berdegup dalam ekstasi, berputar, berputar-melayang-bentuk-spiral dalam cinta Allah SWT secara penuh.

Kemudian Allah SWT mengilhami murid itu untuk mencapai mata air keenam. Pada tataran ini, apabila murid itu mulai membaca Al-Qur’an-–kalimat Allah SWT yang berusia ribuan tahun—Allah SWT menugaskan sebuah tajalli untuk setiap huruf, kata dan ayat, yang secara diam-diam menuju sasarannya, yaitu hati murid tersebut, di mana (tajalli) itu memberikan efek perubahan. Tanpa tajalli tersebut, tak ada perubahan.

Seseorang dapat saja membaca Al-Qur’an siang-malam, dan memberi penafsiran apa yang dibacanya sesuai dengan pemahaman terbatasnya, mendapatkan hikmah darinya, dan bahkan menjadi tercerahkan. Tetapi seseorang tidak dapat memiliki penglihatan (penampakan, visi) kecuali tajalli itu datang bersamaan dengan bacaan, yang akan mendatangi Anda bila Nabi SAW bersuka cita kepada Anda, yang menyebabkan Allah SWT membuka tajalli itu.

Setelah seseorang memasuki enam mata air dengan tataran yang berbeda ini, Allah SWT memperkenankan mereka untuk mencapai mata air ketujuh, di mana Dia membuka rahasia jati diri kelahiran mereka.

Mata Air Kesucian

Nabi SAW bersabda: Seorang bayi terlahir dalam kesucian (fitrah). Nabi SAW juga bersabda bahwa jika pipa seorang hamba masih tersambung dengan asal-muasalnya, dengan sumber surgawinya, Allah SWT akan membuka baginya “Sumber Kesucian”, fitrat al-Islam, mata air ketujuh.

Saluran ini adalah seperti pipa, air mengalir langsung dari sumber asalnya sampai ke ujung cabang pipa, yang menyambungkan murid itu dengan alam al-arwah. Pipa itu masih tetap di sana.

Kebenaran khas kita datang dari esensi (dzat) kita, atom yang diciptakan Allah SWT pada Hari Perjanjian, hari alastu bi rabbikum qaalu bala, ketika Allah SWT bertanya kepada setiap diri kita, “Bukankah Aku Rabb-mu dan engkau adalah hamba-Ku?” dan kita menjawab, “Ya!” Sejak saat itu, ibadullah, hamba Allah SWT, telah berada dalam keadaan beribadah sampai roh mereka mencapai rahim ibu mereka. Sejak hari itu setiap roh tetap berada dalam keadaan beribadah berkesinambungan, tanpa henti. Pada peristiwa surgawi tersebut, Allah SWT menetapkan tugas bagi setiap roh, dan malaikat yang akan membantu mereka dalam ibadah mereka.

Dalam keadaan peribadatan seperti itu, setiap roh terlibat dalam peribadatan murni kepada Rabb mereka, tanpa syirik. Allah SWT boleh memilih untuk mengangkat siapapun dan memberikan fayd-Nya pada mereka.

Dalam setiap saat, Allah SWT memakaikan hamba-Nya busana anwar al-nabi yang pertama kali dipakaikan-Nya kepada Nabi SAW, dan dari Nabi SAW kepada para anbiya dan awliya, dan dari awliya kepada orang-orang lainnya.

Persis sebagaimana Sayyidina Adam AS dipakaikan busana oleh Allah SWT di Surga, setiap saat Allah SWT memakaikan busana pada hamba-Nya yang sedang berada di Hadirat Ilahi-Nya dengan 70.000 tajalli yang berbeda-beda.

Surga adalah keberadaan yang selalu hidup, di mana tidak terdapat sakit dan bahaya. Semua hamba Allah SWT, semua roh, tinggal di Surga sebelum mereka dilahirkan ke dunia ini. Di sana Allah SWT memahkotai semua orang dengan Keceriaan Ilahi, dan dengan Sifat al-Jamaal.

Mereka secara sempurna murni berada dalam keceriaan itu, dan dari kedalaman keadaan demikian itu mereka menginginkan cinta dan keindahan yang puncak, yaitu dari busana Sifat al-Jamaal lillahi ta’ala. Setiap orang yang lahir ke dunia, awalnya lahir di Surga. Ketika saatnya tiba, ia muncul ke dunia melalui rahim ibunya. Itulah sebabnya setiap bayi menangis ketika dilahirkan, oleh kesakitan dan kejutan akibat berpisah dari Hadirat Suci. Pada saat kelahiran ke dunia ini, semua bayi memanjatkan doa, memohon kepada Allah SWT agar membolehkan mereka untuk kembali ke tempat Hadirat Suci itu.

Beberapa bayi langsung meninggal begitu dilahirkan, karena Allah SWT menerima doa mereka dan mengambil mereka kembali! Tidak satu pun bayi yang datang ke dunia dengan tertawa atau tersenyum; mereka menangis! Hanya Nabi SAW yang tidak menangis ketika beliau datang ke dunia; beliau langsung menyebutkan ummati ummati, “Ummatku, ummatku,” dan langsung bersujud (sajdah), memohon Allah SWT untuk melindungi ummatnya. Sayyidina ‘Isa AS juga tidak menangis ketika datang ke dunia; beliau berkata, inni `abdullah! “Aku adalah hamba Allah SWT!”

Bayi menangis ketika dilahirkan, karena mereka takut bahwa sekarang mereka tergoda kepada dosa dan tidak tahu harus berbuat apa. Nabi SAW berkata bahwa ketika seorang bayi terlahir, orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani atau seorang pemuja api (Zoroastrian), padahal sesungguhnya ia sudah seorang Muslim, karena `ilm dan ibadah surgawi yang telah melekat padanya tidak dapat digelapkan. Jadi, jika bayi itu datang ke dunia dan mulai menyimpang dari apa yang dipelajari sebelumnya di Surga, ia menjadi terhijab dengan kekuatan surgawi. Jika orang tuanya tidak mengamati (melaksanakan) tahap-tahap tuntunan ritual kemurnian dan peribadatan, jika mereka diperkenalkan kepada perilaku buruk yang berbeda-beda, ia akan terhijab dari Kebenaran Ilahi.

Pada saat terlahir ia masih dapat melihat, ia masih memiliki kaitan secara samar-samar dengan Surga, namun ketika ia telah terhijab dari penampakan itu, seluruhnya akan tertutup. Tetapi, dengan Rahmat-Nya, Allah SWT mengawetkan (menyimpan) semua berkah dan cahaya yang terkait dengan ibadah bayi itu di Surga! Jadi ketika ia mencapai usia dewasa, Allah SWT mengembalikan kepadanya manfaat dari semua ibadahnya yang dilakukan di kehidupan rouhaniah di Hadirat Ilahi.

Boleh jadi orang itu berbuat dosa dan tobat, berdosa lagi dan bertobat lagi, tetapi ia masih memiliki kredit ibadah yang dilakukan di alam sebelumnya itu. Itulah sebabnya jika seseorang dikembalikan kepada hati mereka, mereka merasa bahagia. Kadang-kadang Anda merasa begitu bahagia dan Anda tidak mengetahui apa sebabnya. Tidak ada alasan atau penjelasan, bahagia begitu saja. Anda merasa ringan, tanpa masalah. Allah SWT tahu bahwa Anda adalah seorang hamba yang taat, dan Dia membuka lebih banyak untuk Anda dari Hadirat Surgawi itu, yang mengisi hati Anda, maka Anda mendapati diri Anda berada dalam keadaan puas. Tentang hal ini Allah SWT berfirman, ala bi dzikr-ullahi tatma-innul qulub, “Dalam mengingat Allah SWT, hati menemukan kepuasan, rileks!”

Raga manusia adalah sebuah bentuk fisik yang tunduk kepada hukum fisik. Ia itu padat dan gaya tarik bumi menariknya ke bawah, mengekangnya ke bumi. Jika kita menggunakan contoh sebuah silinder metal yang diisi dengan gas helium, awalnya silinder itu berat. Namun, dengan mengganti isi silinder yang tadinya metal dengan helium, silinder itu menjadi seperti balon yang diisi helium, yang akan mengangkatnya ke atas, ke atmosfer. Ketika Allah SWT memulihkan semua zikir Anda yang dilakukan sebelumnya, itu akan mengisi Anda seperti halnya sebuah balon helium, dan Anda akan merasa ringan. Ketika ibadah dan zikir Anda sebelum ini mengisi penjara raga Anda dan Allah SWT melepaskan energi suci itu, itu akan menyeimbangkan diri Anda antara kedua dunia dan membuat Anda merasa bahagia.

Dengan perintah Allah SWT kepada Nabi SAW, dan dari Nabi SAW kepada awliya yang bertanggung jawab sebagai Mursyid at-Tarbiyya Anda, energi itu dilepaskan. Dia mengangkat Anda ke atas dan merubah sistem Anda, membebaskan Anda secara sempurna dari segala macam depresi sehingga Anda merasa rileks. Anda tersambung kembali dengan jati-diri Anda sebelumnya, yang karena (ulah) diri sendiri dan kegelapan dunia ini, menyebabkan Anda tidak dapat melihatnya, dan Anda akan mulai melihat sesuatu, yang orang lain tidak dapat melihatnya.

Mengikuti jejak Sayyidina Jalaluddin Rumi QS, Tarekat Mevlevi (Mawlawiyyah) mempraktikkan sebuah bentuk gerak berputar yang mendorong mereka kepada keadaan santai (ekstasi), ketika Allah SWT melepaskan energi suci itu kepada Nabi SAW, dan Nabi SAW melepasnya kepada para awliya. Inilah yang dialami oleh Sayyidina Jalaluddin Rumi QS. Ketika Anda ke atas, Anda tidak bergerak lurus--Anda berputar!

Ketika helikopter naik, baling-balingnya berputar, menimbulkan tenaga yang mengangkatnya lepas landas. Pengikut Jalaluddin Rumi QS tidaklah sedang menari, melainkan berputar mengikuti energi yang membawanya ke atas.

Kebenaran tentang putaran adalah seperti elektron berputar mengelilingi inti atom (nukleus). Ketika Allah SWT melepaskan energi itu, Jalaluddin Rumi QS berputar mengelilingi jati diri (esensi)-nya, diri yang sesungguhnya. Itu menghubungkan dirinya langsung kepada jati dirinya yang berada di Hadirat Ilahi (pada masa Hari Perjanjian), dan beliau sangat terkejut dengan apa yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya.

Ketika Muslim melakukan ibadah hajji, kita melaksanakan thawaf seperti halnya elektron mengelilingi nukleus, berlawanan arah dengan gerak jarum jam. Ini membuat kita berputar, agar mengangkat kita ke langit. Terdapat level thawaf spiritual yang lebih tinggi di atas semua orang. Para awliya membuat thawaf secara spiritual lebih tinggi dari semua orang, dan malaikat membuat thawaf di atas mereka, naik langsung sejauh menuju Baytul Ma’mur, sampai kepada `Arsy.

Segala sesuatu harus berputar mengelilingi jati dirinya. Jati diri atom terletak di nukleus. Elektron itu mencerminkan energinya, bergerak mengelilingi pusat. Kita harus berputar mengelilingi jati diri kita. Jika kita dapat mengungkapkan jati diri dan energi kita, dan membuat energi kita mengelilingi jati diri kita, pada saat itu kita dapat mengangkat raga kita-–seperti halnya gas yang dimasukkan ke dalam balon. Dalam tahap seperti itu kita dapat terbang.

Ini adalah kekuatan ilmu mata air ketujuh: “mata air kesucian” dari Islam, yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap orang.

Sebagai tambahan, Allah SWT menghadiahi orang beriman dengan semua manfaat yang diperoleh orang tak beriman melalui cahaya spiritual dari Hari Perjanjian, sampai saat mereka (orang tak beriman tadi) terlahir ke dunia.

Itulah sebabnya mengapa orang beriman terangkat naik begitu cepat. Sebagai contoh, jika kita katakan, “Ini terdapat 100 keping emas yang akan dibagi di antara mereka yang membutuhkannya.” Jika seratus orang memerlukan keping itu, setiap orang akan mendapat sekeping per orang. Jika hanya 10 orang yang memerlukannya, masing-masing akan mendapat 10 keping, dan begitu seterusnya. Setiap orang yang beriman dan taat kepada Allah SWT dan Nabi-Nya SAW, dan mengikuti pesan Ilahi dan Jalan (thariqat) Syekh mereka, khususnya Mursyid at-Tarbiyya, ia akan mewarisi berkah yang besar sekali, yang dikaruniakan Allah SWT kepada semuanya pada Hari Perjanjian, dan keuntungan (manfaat) ibadah semua orang tak beriman sejak Hari itu sampai mereka datang ke dunia.

Selanjutnya, di masa kini, ketika korupsi begitu meluas, orang beriman mendapat lebih banyak lagi jatah manfaat. Nabi SAW mengatakan, min ahiya sunnati inda fasadi ummati falahu ajrun sab’iina syahiid aw miya syahiid, “Ketika semua orang meninggalkan sunnah-ku, ketika korupsi melanda umatku, Allah SWT akan menganugerahkan kepada mereka yang menghidupkan satu sunnah, hadiahnya adalah pahala tujuh puluh atau seratus syuhada.” Ini meliputi rakaat shalat sunnah, memakai cincin, memelihara jenggot, menggunakan miswak, dan sunnah Nabi SAW yang mana saja.

Karena mereka ini tidak memenuhi janji mereka kepada Allah SWT untuk beriman dan beribadah (menyembah) hanya kepada-Nya saja, Allah SWT telah memilih untuk menyerahkan manfaat ibadah (persembahan) mereka waktu yang lalu itu kepada mereka yang memenuhi janji yang telah diucapkan pada Hari Perjanjian tersebut. Itulah sebabnya ajr (pahala) menjadi meningkat pada hari-hari terakhir ini. Jadi ini adalah ringkasan dari mata air ketujuh, yang dapat dicapai melalui putaran di sekitar jati diri Anda.

Ketika fayd mendatangi anda, anda akan mengalami setiap saat berada dalam keadaan ekstasi berkesinambungan, yang tidak henti sampai pada hari Anda meninggalkan dunia ini. Anda akan mencapai level di mana Allah SWT berfirman, mutu kabla anta mu’tu, “Matilah (kuasai egomu) sebelum engkau mati.”

Nabi SAW berkata, “Jika engkau ingin melihat seseorang yang meninggal sebelum ia mati, lihatlah pada Abu Bakar ash-Shiddiq RA.” Itu artinya Sayyidina Abu Bakar RA mampu menguasai egonya dan musuh yang empat--nafs, dunya, hawa, syaythan. Jadi ketika seseorang mengikuti jejak Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA, itu akan membawanya kepada Jalan Sayyidina Muhammad SAW, yang menuju kepada keadaan ekstasi, di mana ia berputar mengelilingi jati dirinya dalam kecepatan sangat tinggi yang menyebabkan mereka naik! Apabila mereka naik, tak ada satu pun yang dapat menghentikan mereka untuk naik lebih tinggi lagi.

Seperti sebuah tornado: ia terus berputar sampai tidak terlihat lagi, karena ia terangkat dari bumi. Pada level yang lebih tinggi ini, seseorang menciptakan sebuah lingkungan ideal yang tidak memiliki friksi, tiada kegelapan, tiada nafsu buruk, tiada dosa, dan tiada dunia.

Dalam lingkungan demikian seseorang melanjutkan jalannya menuju Hadirat Ilahi yang Allah SWT ingin mereka mencapainya. Itulah sebabnya awliya tidak mengejar dunia, karena bagi mereka, dunia tidak memiliki nilai. Mereka sibuk dengan kesuka-citaan surgawi, keadaan ekstasi berkesinambungan yang selalu meningkat setiap saat, yang dalam lingkungan mereka mengecilkan dunia menjadi nihil.

Banyak pihak yang mencela para darwis (sebutan untuk para pengikut Jalaluddin Rumi QS) yang duduk di sudut membaca dzikr-ullah, karena mereka itu tidak tahu kebahagiaan macam apa yang dialami para darwis ini! Jika satu berkas kecil cahaya saja yang terbuka dari Cahaya Ilahi yang menyinari para darwis, itu akan menenggelamkan seluruh isi dunia ke dalam ekstasi itu.

Jadi buat apa para darwis itu mau meninggalkan ekstasi itu untuk dunia? Sasaran setiap mukmin dan Muslim adalah berbuat amal baik, sehingga ketika ia berhadapan dengan Rabb-nya di Hari Pengadilan, Allah SWT rida dengannya. Para darwis ini sudah mencapai level itu! Semoga Allah SWT mengampuni kita, dan menolong kita untuk mengerti Jalan para Awliya.

Janganlah terpenjara di dalam diri Anda sendiri, terbelenggu pada ego Anda dan empat musuh itu-‑nafs, dunya, hawa, syaythan–-jadilah manusia bebas! Jika tidak, Anda akan menjadi pecundang pada Hari Pengadilan. Janganlah meminta untuk menjadi yatim! Dalam seluruh kehidupan mereka, yatim mengalami nar al-hasra, api yang membakar dari dalam, yang disebabkan oleh sebuah kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Janganlah kehilangan ayah pertama Anda, yaitu Mursyid Anda! Jangan menjadi seorang yatim tanpa seorang Mursyid! Temukan pembimbing Anda! Temukan Mursyid at-Tarbiyya, yang dapat mengangkat Anda. Jangan membuat kesalahan dengan berpikir bahwa Anda tidak memerlukan seorang pun, bahwa Anda dapat melanjutkan jalan langsung tanpa seorang pembimbing.

Pertahankan ayah spiritual yang membimbing Anda menuju Allah SWT. Mursyid at-Tarbiyya akan membuat Anda bahagia di kehidupan ini dan di Akhirat, menarik Anda ke level Ilahiah Anda melalui bimbingannya.

Jika Anda mengikuti petunjuknya, Anda akan menarik (menyedot) fayd al-ilahi, pengejawantahan berkah Allah SWT.

Wa min Allah at-Tawfiq.
Dan kesuksesan adalah dengan (bersama) Allah SWT.

Bihurmat al habiib wa bi hurmat al-Faatiha.
Demi kehormatan yang terkasih dan demi kemuliaan Surat al-Fatiha.


Tujuh Mata Air
As-Sayyid Nurjan Mirahmadi
www.nurmuhammad.com
25 Desember 2001
Alih bahasa: Eyang Sutono