Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

12 January 2012

Tanda Iman yang Kuat


Shuhbah Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q)

Jakarta, 2 Januari 2012

Assalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

[Mawlana mempersilahkan K.H. Ahmad Syahid, Pimpinan Pesantren al-Falah Nagrek Cicalengka untuk memberikan Suhbah beliau.]

Syekh Ahmad Syahid:

Kepada para pengurus Yayasan Haqqani Indonesia dan hadirin semua yang ingin melakukan sebuah langkah perjuangan untuk menyebarluaskan zikrullah atas dasar pijakan Tarekat Naqsybandi Haqqani, semoga Allah (swt) melimpahkan ridanya kepada kita semua, karena berkat Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q), yang saya muliakan, maka malam ini kita bisa berkumpul bersama.

Saya yang dhaif ini menyitir sebuah informasi yang saya baca dari sebuah kitab tentang Zikrullah, di mana di situ ditulis tentang zikir (menjelaskan dalam Bahasa Arab), yang artinya menurut pandangan para Ulama Sufi, dan kalau ulama sufi mengetengahkan pandangannya, maka artinya adalah sebuah pelajaran tentang makrifat yang telah mereka temukan.

Pertama kali saya menyampaikan bahwa manusia yang sempurna itu bukanlah orang yang dari dirinya muncul berbagai keajaiban atau keanehan-keanehan, namun mereka yang disebut Insan Kamil (sempurna) adalah mereka yang baik di mata Allah. Mereka adalah orang biasa seperti kita semua di sini dan seperti Mawlana Syekh Hisyam (q) duduk bersama kita dan bergaul bersama kita. Bahkan bila dia seorang ahli ekonomi, maka dia tidak akan meninggalkan pekerjaannya dan kegiatannya di bidang ekonomi. Dan dia juga berkeluarga, tetapi dia tidak lupa untuk senantiasa berzikir dalam kebersamaannya.

Kita berharap mudah-mudahan dengan menjadi murid dari Sultan Awliya Mawlana Syekh Nazim Adil Haqani (r), dan menjadi murid dari guru besar kita semua Hadrat Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani (q), kita menjadi orang-orang yang mampu bermasyarakat dan tidak melupakan zikir kepada Allah (swt), bahkan satu detik pun. Oleh sebab itu kita bisa berbesar hati dengan kita bisa berzikir bersama. Mengapa kita harus malu menenteng tasbih dan melakukan zikir di tengah kebersamaaan dengan manusia lainnya, karena itu adalah sesuatu yang dicintai Allah (swt).

Kedua saya membaca dalam Kitab As-Syifa Dzikir wal Doa, di mana diterangkan bahwa mencari dan melakukan usaha dan langkah pengobatan yang terbaik adalah dengan zikir dan doa. Dan ternyata zikir adalah syifa, obat yang lebih manjur daripada obat yang lain. Di mana isi buku ini adalah orang-orang yang senantiasa berzikir mengingat Allah dan mereka yang selalu berzikir dan berselawat maka mereka akan diberikan kesehatan jasmaniah dan rohaniah.

Demikianlah saya menyampaikan hal ini hanyalah karena perintah Mawlana Syekh Hisyam (q) dan hanya sebagai hikmat atau pelayanan kami terhadap beliau dan untuk memuliakan beliau, dan tidak ada yang lain dari niatan ini, wasalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q):

A`udzubillahi minasy syaythanir rajim, Bismillahir Rahmaanir Rahiim. Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu `alaa asyrafil mursalin Sayyidina Muhammadin wa `alaa alihi wa shahbihi `ajmain. Ama ba'ad, Yaa Ibadallah ith-thaqullah… (Bahasa Arab). Sayyidina Muhammadin Rahmatan lil alamin. (Meneruskan dalam Bahasa Arab)

Kita berharap semoga kesehatan dan keselamatan tercurah kepada kita semua.

Wahai hadirin semua, wahai Muslimin dan Muslimat, ini adalah shuhbah perpisahan dan Insya Allah kita akan bertemu dengan event seperti ini di lain waktu. Sekarang sudah sebulan kami memulai perjalanan ini dimulai dari tanggal 6 Desember (dari Singapura-Malaysia hingga Indonesia) dan sampai sekarang tanggal 2 Januari 2012 dan besok kita akan kembali melalui Singapura ke Amerika.

Hampir satu bulan kami berjalan siang dan malam hari, dua kali sehari memberikan shuhbah dan Alhamdulillah kita telah sampai ke tingkatan ini di mana banyak penduduk di Indonesia lebih mengenal Syekh Nazim (q) dan saya kira hingga sekarang sudah lebih satu juta masyarakat Indonesia mengetahui tentang Mawlana Syekh Nazim (q), dan berzikir bersama di mana sebelumnya mereka belum mengetahui tentang Mawlana Syekh Nazim (q).

Dahulu pertama kali saya datang ke sini dimulai oleh seorang mahasiswa yang bernama Hadid di Kalifornia, di Lembah Silikon di mana dia belajar menyelesaikan sekolahnya dan dia membawa saya untuk berkunjung ke Indonesia. Pertama kali dia memberikan zikir, dimulai hanya 5 sampai 10 orang saja yang ikut berzikir, tetapi lihatlah sekarang. Semua orang datang ke majelis zikir, bergabung dengan kita, di mana dengan barakah Bapak Soenarto, Bapak Malik Tarigan, Buddy, Rizal dan sekarang sudah ratusan ribu orang bergabung bersama kita hingga saat ini.

Kalian di Indonesia adalah manusia yang beriman dan jika tanpa iman di dalam hati kalian, maka tidak ada yang akan datang ke majelis kita. Dan iman adalah seperti disebut dalam Al-Quran, "Athi Allah athi ur-Rasul wa ulil amri minkum". Taati Allah, taati Rasul-Nya dan orang yang diberi otoritas atas kalian (Mursyid/Guru/Wali Allah). Tanpa iman, mereka tidak akan datang ke majelis ini. Dan di sini banyak yang memiliki iman yang baik dan akidah yang baik. Semua sangat rendah hati, hingga saya katakan bahwa bumi Indonesia bagaikan surga di bumi. Setelah kota Mekah, Madinah dan Syam.

Alhamdulillah Indonesia adalah negara yeng memiliki perayaan Maulid Nabi (s) dan majelis Selawat Nabi (s) setiap malam selama setahun penuh. Jika kalian pergi ke seluruh dunia, maka tidak setiap negara memiliki hal ini, bahkan meskipun itu di Syam sekalipun. Di negara ini setiap malam orang memuji Nabi (s) dan berzikir kepada Allah (swt), maka Allah akan memberikan dukungan kepada orang yang melakukan zikir kepada Allah (swt) dan selawat kepada Nabi (s).

Kami harus mengatakan bahwa di Pakistan dan India ketika mereka melakukan Maulid Nabi (s), maka bisa dua juta orang berkumpul bersama, di Pakistan mereka mengumpulkan 500 ribu manusia hingga dua juta ketika perayaan Maulid Nabi (s) dan ketika ulama bicara, paling hanya berkumpul 50 ribu manusia. Dan itu tidak bisa dibandingkan, di India mungkin ada 2 juta orang berkumpul untuk Maulid Nabi (s). Tetapi rahmat dan kasih sayang Allah adalah di mana kalian menemukan tempat-tempat orang berkumpul untuk berzikir meskipun kecil tetapi tersebar di setiap tempat di Indonesia.

Dan di setiap majelis Nabi (s) di mana kita berselawat bersama, itu merupakan penghapus dosa yang menghapuskan dosa kita dalam 70 kali pertemuan yang membicarakan hal-hal duniawi. SubhanAllah di Indonesia kalian bisa menemukan di setiap jalan, di setiap tempat, kalian akan menemukan berbagai Majelis Zikir dan Selawat Nabi (s), dengan demikian rahmat akan melingkupi seluruh negeri ini. Hal ini tidak terjadi di India yang memilki 2 juta orang yang berkumpul hanya dalam satu acara dan tidak tersebar ke segala penjuru. Boleh saja mereka berjumlah 2 juta manusia yang datang berselawat dan mengikuti Maulid Nabi (s) tetapi hal ini tidak bisa dibandingkan dengan apa yang ada di Indonesia.

Sayyidina Muhammad (s) mengatakan, “Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkelana (roaming) di jalan-jalan, mencari majelis-majelis zikir, meskipun kecil, ketika mereka melaluinya dan melihat manusia sedang berzikir, mereka akan berhenti dan ikut berzikir bersama. Dan bayangkan majelis ini bukan hanya di satu tempat saja tetapi di berbagai tempat di Indonesia ini sehingga setiap orang akan mendapat keuntungan di setiap daerah di Indonesia.

Dalam bahasa Inggris para malaikat roaming, mencari dan menemukan majelis zikir, di mana kalian pergi maka mereka tahu di mana kalian berada, karena malaikat pergi dengan kalian ke setiap tempat, dari satu majelis zikir ke majelis lainnya dan dengan kekuatan surgawi Allah (swt) mengirimkan malaikat untuk bersama dengan kalian ke mana pun kalian pergi. Maka jika kalian menghadiri majlis zikir maka Allah (swt) akan memberikan mereka pahala dan mencatat apa yang kalian lakukan ke manapun kalian pergi sehingga akan ada berkah untuk setiap manusia yang mengikutinya sebagai pelindung kalian di Shirat al-mustaqim nanti. Itulah sebabnya Allah (swt) mengirimkan malaikat-Nya ke setiap mejelis zikir, dan di mana ada zikir maka mereka akan berhenti dan mencatat siapa saja yang duduk di sana.

Masya Allah di setiap jalan, di setiap kota di Indonesia selama saya berada di Indonesia di sana kami melihat begitu banyak banner besar di masjid ini dan masjid itu. Kalian tidak akan menemukan yang seperti ini di negara-negara Muslim lain yang pernah kami kunjungi. Karena mereka mengatakan bahwa majelis zikir adalah bid'ah dan syirik. Dan hanya di negeri ini kalian dapat mengiklankan dan menempatkan banner yang besar di setiap jalan, maka Allah (swt) memberikan kalian iman yang kuat. Nabi (s) bertanya pada para Sahabat, "Siapakah orang yang memiliki iman yang paling tinggi?” Para Sahabat menjawab, “Para Nabi, Yaa Rasulullah", Nabi (s) menjawab, "Bagaimana mereka tidak memilki iman yang kuat, karena wahyu diturunkan kepada mereka.” Kemudian mereka menjawab lagi, “Para syuhada, para syahid dan Sahabat ya Rasulullah.” Dan Nabi (s) berkata, “Bagaimana kalian tidak memiliki iman yang kuat karena kalian telah berjumpa denganku dan aku berjumpa dengan kalian.” Kemudian Nabi (s) melanjutkan, “Orang-orang yang imannya tinggi adalah adalah orang-orang di akhir zaman. Mereka mempercayaiku padahal mereka belum pernah melihatku, maka merekalah yang memilki iman terbaik.”

Kalian berada di sini saat ini, dan di manapun Muslim berada di Indonesia ini, mereka semua penuh dengan iman, jangan katakan kalian tidak memilki iman, karena kalian bahkan memiliki ekstra ekstra ekstra iman yang besar karena kalian datang ke majelis zikir dan kalian percaya kepad Nabi Muhammad (s), ini adalah tanda iman yang kuat. Dan iman yang besar adalah ketika kalian datang dan kalian mendengarkan zikir dan memuji Allah dan berselawat kepada Nabi (s), maka ini adalah tanda orang yang memiliki iman terbaik.

Kalian hanya memilki satu masalah saja di negeri ini, di mana setiap Habib dan Ulama yang membuka pesantren, mereka hanya mengajarkan Syariat, Fiqih dan Hadits. Tidak ada pesantren yang berpikir untuk mengajarkan Tasawuf dan tidak ada yang membawa nama para Sufi Besar di dunia setelah zaman Nabi (s) sampai hari ini. Apa yang diajarkan oleh para Sufi Besar kepada kalian sampai saat ini. Tidak ada yang berbicara mengenai Syah Bahaudin an-Naqshbandi (q), Syekh Abdul Qadir al-Jailani (q), Syekh Junaid al-Bagdadi (q), Syekh Bayazid Bistami (q), Imam Jazuli (q), tidak ada yang berbicara hari ini tentang para Sufi besar ini, nol. Hal inilah yang membuat kalian tidak berkembang.

Masya Allah kalian telah belajar syariat dengan sangat baik, tetapi tasawuf hanya sedikit sekali dibahas dan tidak ada sekolah yang memberikan kurikulum tasawuf dan mengapa tidak ada pesantren yang mengajarkan sampai selesai Bab tentang Ihya Ulumuddin, ajaran Imam al-Ghazali (q). Kami tidak melihat ini di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia tetapi di setiap Negara Muslim di dunia. Tetapi lihatlah di Amerika dan Eropa, mereka mengajarkan tasawuf, tetapi mereka tidak mengajarkan syariat (tersenyum). Tasawuf menyempurnakan Islam, Iman dan Ihsan. Inilah kesalahan terbesar yang terjadi di negeri ini.

Akhir kata, setiap majelis mempunyai awal dan akhir dan sekarang kita hampir mencapai akhir, maka berpeganglah kita semua kepada tali-tali Allah dan janganlah kalian terpisah dan bercerai berai. Tali Allah adalah cinta kepada Nabi Muhammad (s) dan cinta itu akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Setiap orang yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk (karena tempatnya terbatas), lebih banyak malaikat bersama mereka. (hadirin yang berdiri merasa senang).

Kita akan memperbaharui bay’at kita dengan Syekh Nazim Adil Haqqani (q), sampai kepada Nabi Muhammad (s).

(Bay'at)

Alhamdulillah, Taqaballah, saya harus masuk karena harus mengepak barang dan kalian tetap berada di sini untuk berselawat dan mendengarkan Maulid Nabi (s).

Wa min Allah at Tawfiq

09 January 2012

Kalian harus Mengetahui Kebesaran Nabimu (s)!

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
31 Desember 2011 Jakarta Timur, Indonesia
Mawlid an-Nabi (s) dengan Habib Hasan bin Ja’far Assegaf
Shuhbah di Velodrome Rawamangun


As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh.
A`udzu billahi min asy-Syaythaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani' r-Rahiim. Alhamdulillahi Rabi 'l-`Alamin, wa' sh-shalaatu wa 's-salaamu` ala asyrafi' l-Mursalin, Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`in.

Nawaytu 'l-Arba`in, nawaytu' l-` itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu' l-`uzlah, nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu' s-suluk, lillahi ta `ala fi haadza 'l-masjid.

أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم

Athi `ullaha wa` athi u 'r-Rasula wa' ulill-amri minkum.
Taatilah Allah, taati Rasul-Nya (s), dan orang-orang yang mempunyai otoritas di antara kalian. (4:59)

Alhamdulillah, Siapa pun yang datang berkumpul di malam ini demi cintanya kepada Sayyidina Muhammad (s) dan bersama dengan para Pecinta Al-Musthafa, Nurul-Musthafa (Cahaya Nabi Yang Terpilih), semoga Allah (swt) mengumpulkan kita semua di Surga kelak bersama Sayyidina Muhammad (s), karena beliau (s) adalah teladan bagi kita dan beliaulah alasan di mana para malaikat diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Sayyidina Adam (as), untuk menghormati beliau (s)! Kita bersyukur kepada Allah dan mencari petunjuk-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari kejahatan ego kita dan perbuatan kita.

Ini adalah sebuah pertemuan atas petunjuk-Nya dan ini adalah karunia yang besar dari Sayyidina Muhammad (s), karena ketika kita mengingat beliau, Nabi (s) mengingat kita. Ketika kita mengingat Allah (swt), Dia mengingat kita, dan ini adalah berkah dari para haba’ib, khususnya Habib Hasan. Semoga Allah (swt) membimbing kita semua.

Seluruh sendi Islam dibangun atas ketaatan dan cinta kepada Nabi Muhammad (s). Ketaatan kepada Nabi (s) akan membawa kita untuk mencintainya, sehingga berselawatlah kepadanya sepanjang waktu! Kita berharap semoga berkah-berkah ini tidak hanya menjangkau umat Muslim saja, tetapi juga non-Muslim.

Allah (swt) berkata:

إنا فتحنا لك فتحا مبيناليغفر لك الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر ويتم نعمته عليك

innaa fatahnaa laka fathan mubiinaan, liyaghfira laka Allaahu maa taqaddama min dzanbika wamaa ta-akhkhar wayutimma ni'matahu 'alayka wayahdiyaka shiraathan mustaqiimaan.

Sesungguhnya (Muhammad), Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. (Al-Fath, 48:1,2)

Allah (swt) berfirman, "Kami telah memberikan kepadamu sebuah pembukaan (kemenangan) yang besar dan memaafkan kamu atas dosa yang kamu lakukan di masa lalu dan di masa yang akan datang." Pertanyaannya adalah, apakah Nabi (s) berbuat dosa dan beliau harus diampuni? Tidak mungkin! Nabi (s) adalah maksum, tidak mempunyai dosa!

Dalam Isra Mi’raj, Nabi (s) diangkat ke maqam berjarak dua busur atau lebih pendek lagi terhadap Allah (swt), Qaaba qawsayni aw adnaa, Nabi (s) dibawa masuk ke dalam Surga dan ke Neraka dan melihat seluruh penghuninya, jadi bagaimana bisa bahwa ayat ini merujuk kepadanya? Tidak mungkin! Oleh karena itu, makna dari ayat ini adalah, "Kau ditinggikan dan Allah (swt) mengampunimu untuk dosa-dosa umatmu, hamba Allah, apa pun dosa di masa lalu mereka dan dosa di masa depan mereka, semuanya telah diampuni demi syafaatnya, syafaat dari Sayyidina Muhammad (s)! Sayyidina Adam (a) dan seluruh umat manusia berada di bawah panji Nabi (s) pada Yaumul Hisab nanti!"

Kita semua adalah anak cucu Sayyidina Adam (a), dan semua meminta syafaat (perantaraan dan perlindungan) kepada Nabi (s), dan beliau (s) akan bersujud di Hadirat Tuhan-Nya dan membacakan doa untuk umatnya agar diampuni dan Allah akan membukakan kalbunya dan kemudian Allah (swt) akan mengatakan kepadanya, "Angkatlah kepalamu dan mintalah apa saja yang kau inginkan, Aku akan mengabulkannya.” Nabi (s) akan meminta agar umatnya diselamatkan dan Allah akan mengabulkannya. Dia (swt) berfirman di dalam Al-Qur'an:

ألم نشرح لك صدرك

alam nasyrah laka shadrak
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Asy-Syarh, 94:1)

Dan melapangkan yang tidak ada batasnya. Allah (swt) telah melapangkan dadanya sejauh Qaaba qawsayni aw adnaa! Hingga berjarak hanya dua busur atau lebih dekat. “Kemudian Kami hapus darimu beban beratmu,” yang berarti beban berat umat Nabi (s) yang diembannya. Dan mengacu pada ayat lain, “Kami memaafkan dosa umatmu, dosa sebelumnya dan dosa yang akan datang.” Dan kita berdoa:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Rabbana aatinaa fi 'd-dunya hasanatan wa fi' l-akhirati hasanatan wa qina adzaaban nar.
Wahai Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah, 2:201)

Apakah hasanah itu? Hasanah adalah sesuatu yang baik, keberkahan. Jika Allah (swt) ingin berbuat baik kepada hamba-Nya, maka Dia membuat hamba-Nya untuk mengetahui Nabi-Nya (s). Jadi itu berarti, "Ya Allah! Karuniakanlah kami untuk dapat melihat Sayyidina Muhammad (s); dan hasanah terbaik di dunia adalah untuk dapat melihat Nabi (s) dan hasanah terbaik di akhirat adalah bersama dengan Nabi (s) di Surga!"

Sesungguhnya Nabi (s) tidak jauh dari kita, bahkan, beliau hadir dan mendengarkan! Beliau menyaksikan segala perbuatan umatnya dari kuburnya. Beliau berkata, “Aku hidup di dalam kuburanku dan bila seseorang mengirimkan salam padaku, maka Allah akan mengembalikan ruhku, dan dari dalam kuburku aku membalas salam mereka semua."

Dan setiap detik seluruh manusia di dunia mengirimkan salam mereka kepada Nabi (s) dan karena itulah setiap saat Allah mengirimkan kembali ruh Nabi (s) di dalam kuburnya dan beliau menjawab salam dari mereka yang mengucapkan pujian dan salam kepadanya. Imam as-Suyuti (qs) mengatakan, "Berdasarkan hal ini, maka kita mengetahui bahwa Allah (swt) telah mengembalikan ruh dan jiwanya secara permanen dalam kuburnya, artinya bahwa Nabi (s) senantiasa hidup untuk menyaksikan seluruh umatnya."

Ini berarti, pujilah Nabi (s)! Dan kita berkata, "Ya Allah! Kami mengirim pujian pada Nabi (s)! Wahai rahmat bagi semesta alam! Kami menyerukan padamu, Yaa Rasulullah (s), dari Indonesia ini Yaa Rasulullah (s)! Wahai Nabi (s)! Semoga Allah (swt) mendoakanmu dari pra-azali sampai azali!"

Allah (swt) berfirman dalam Al-Qur'an:

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

inna-Llaha wa malaa'ikatahu yushalluuna `ala 'n-nabi, yaa ayyuhal-ladziina aamanuu shalluu `alayhi was sallimuu tasliima.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Al-'Ahzaab, 33:56)

Ini berarti Allah (swt) memberikan salam pada Nabi (s) dan memerintahkan semua malaikat-Nya—malaikat yang Dia ciptakan sebelumnya, malaikat yang akan Dia ciptakan—semuanya diciptakan untuk memuji Nabi Muhammad (s)! Allah (swt) adalah al-Khaliq, "Sang Pencipta," yang berarti Dia terus menciptakan sesuatu yang baru dan juga malaikat baru, dan setiap malaikat baru, diperintahkan untuk memuji Nabi (s), perintah itu berlaku untuk setiap saat! Malaikat itu masing-masing memiliki tasbih yang unik bagi diri mereka sendiri dan berbeda-beda antara satu dengan yang lain, sehingga tidak ada pengulangan dari pujian-pujian tersebut.

Kalian harus mengetahui kebesaran Nabi Muhammad (s)! Bagaimana Allah (swt) mengagungkannya? Sayyidina Musa (a) adalah Kalamullah, "Dia yang berbicara dengan Tuhan-Nya," dan Musa (as) meminta, "Yaa Rabbii! Dapatkah aku melihat-Mu?” Nabi Musa (as) meminta kepada Allah untuk dapat melihat-Nya! Bagaimana kalian dapat menanyakan hal ini? Pencipta adalah di luar ciptaan-Nya, di luar batas dunia dan Surga, dan Dia tidak memiliki tempat dan waktu, melampaui semua hal itu! “Wahai Musa, kau tidak akan mampu melihat Aku, tetapi Aku akan memberimu kesempatan. Lihatlah gunung itu dan jika gunung itu tetap berada di tempatnya, maka kau dapat melihat-Ku."

Sebuah gunung sangat besar dan masif. Seperti disebutkan dalam tafsir tersebut, "Ketika Allah mengutus tajali-Nya Nama Indah-Nya dan Atribut/Sifat dan kebesaran-Nya melalui Sayyidina Musthafa (s) di gunung itu, maka gunung itu hancur lebur. Sayyidina Musa (a) jatuh pingsan karena terkejut."

فلما تجلى ربه للجبل جعله دكا وخر موسى صعقا

Falammaa tajallaa Rabbuhu li 'l-jabali ja`alahu dakkan wa kharra Musa saa'iqaan.

Tatkala Tuhannya menampakkan diri-Nya kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh lantak bagai debu dan Musa pun jatuh pingsan. (QS. Al-A'raaf, 7:143)

Allah (swt) mengirimkan tajali di gunung melalui Firman-Nya dan karena itulah Sayyidina Musa (as) terus-menerus mencari hikmat, maka Allah mengutusnya untuk bertemu dengan Khidr (a). Ketika tajali muncul, gunung tersebut pun hancur luluh lantak.

Allah (swt) mengatakan dalam ayat lain:

لو أنزلنا هذا القرآن على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله

law anzalnaa haadzaa al-Qur’ana `alaa jabalin la-ra'aytahu khaashi`aan mutasaddi`an min khashyatillah.

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk hancur lebur disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (Al-Hasyr, 59:21)

"Jika Kami mengungkapkan hal ini, Al-Qur'an kepada gunung itu, maka ia akan dihancurkan dan dimusnahkan menjadi debu karena rasa takut kepada Allah." Tetapi Allah mengirimkan Al-Qur'an ke dalam kalbu Sayyidina Muhammad (s), dan beliau tidak hancur!

Wahai umat-Nabi al-Musthafa! Kalian adalah cahaya dari Nabi al-Musthafa, Nabi Pilihan, Muhammad (s). Allah (swt) telah menurunkan Al-Qur'an pada Nabi (s), dan telah diberikan oleh Nabi saw kepada kalian. Apakah kalian menerimanya atau tidak, kalian adalah pembawa Al-Qur'an dan wajib untuk memberikan penghormatan kepada Al-Qur'an dan juga kepada keturunan Nabi (s)!

Muhammad al-Busayri (r), adalah penulis al-Burdah Abu-Syarifa dan ia mengetahui Realitas Nabi (s), ia mengatakan, "Semua mengambil dari Nabi (s) dan semua memiliki kekhususan darinya, bukan hanya hamba-Nya, tetapi bahkan seluruh planet-planet dan bintang-bintang! Sesungguhnya, semua Ciptaan diciptakan dari cahaya Sayyidina Musthafa (s)!"

Kami akan akhiri dengan kalimat ini sebagai pengingat bagi kita semua:

قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى

Qul laa as-alukum 'alayhi ajran illaa almawaddata fii alqurbaa

Katakanlah (Wahai Muhammad): "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dan cinta kepada keluargaku". (Asy-Syura, 42:23)

Semua habaa'ib ini adalah keturunan Nabi (s). Mereka tersebar di setiap wilayah dan di setiap sudut dunia, dan kewajiban kita semua adalah untuk menghormati mereka. Semoga Allah (swt) mendukung mereka karena mereka adalah berkah dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Asy-hadu an laa ilaaha illAllah wa-asy hadu anna Muhammadan-Rasuulullah! Laa ilaaha illa-Llah, laa ilaaha illa-Llah, laa ilaaha illa-Llah! (zikir)

Allaahummaj`al awwala majlisinaa hadzaa shalaahan wa awsathahu falaahan wa akhirahu najaahan
Allaahummaj`al awwalahu rahmatan wa awsathahu ni`matan wa akhirahu takriimatan wa maghfirah

Ya Allah! Jadikanlah bagian pertama dari malam ini sebagai pemulihan, dan bagian tengahnya sebagai kejayaan dan bagian akhirnya sebagai keselamatan. Ya Allah! Jadikanlah bagian pertamanya sebagai rahmat dan tengahnya sebagai nikmat, dan bagian akhirnya sebagai keberkahan dan pengampunan! Yaa Sayyidii! Yaa RasuluLlah! Pandanglah kami semua dan hubungkan kami denganmu!

Wa min Allahi at-Tawfiiq, bi hurmati' l-Habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

20 April 2009

Realitas Nabi Muhammad SAW

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta, 7 Oktober 2003 (11 Syakban 1424H)

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

 

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Di antara Sifat-sifat  Allah SWT, sifat Rahmaan yang  muncul di bulan Syakban adalah para kekasih-kekasih Allah SWT, sementara Ramadhan adalah bulan di mana keseimbangan nampak, bulan di mana Allah SWT menampakkan orang-orang yang cinta pada Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT.

Saya sangat bangga dan bahagia karena Saya dapat berkunjung kembali pada kalian di bulan Sya`ban yang suci ini. Saya bangga menyampaikan pada kalian pesan Mawlana Syaikh Nazim QS mudah-mudahan Allah SWT akan mengumpulkan kita dengan Muhammad SAW dan Imam Mahdi AS.

Sebuah realitas tidak akan nampak kecuali oleh realitas itu sendiri. Allah SWT menciptakan Muhammad SAW sebagai sebuah hakikat yang besar, tak ada yang bisa mengenal Muhammad SAW kecuali Muhammad SAW itu sendiri. Tak ada siapa pun yang bisa menyamai Nabi Muhammad SAW, karena dialah satu-satunya Nabi yang telah sampai pada hakikat ubudiyah yang sangat tinggi, dialah hamba yang paling sempurna, dialah hamba yang paling sederhana dan paling menghambakan diri di hadapan Allah SWT. 

Tidak ada yang bisa mengenal Nabi SAW secara total, para sahabat hanya mengenal Muhammad SAW secara partikular saja, sangatlah kecil yang mereka ketahui. Dari semua sahabat yang diberikan ilmu mengenal Nabi Muhammad SAW adalah `Ali RA, KW.  `Ali  RA, KW diberi keistimewaaan oleh Nabi SAW, hingga Rasulullah SAW mengatakan, "Aku adalah gerbang ilmu dan `Ali RA, KW adalah pintunya".  `Ali RA, KW diberi keistimewaan mengenal Nabi Muhammad SAW lebih dari yang lain, tetapi tetap saja dia tak bisa sampai pada realitas Nabi Muhammad SAW yang sesungguhnya. Realitas Nabi SAW diajarkan oleh Nabi SAW kepada `Ali RA, KW, tetapi sangat sedikit `Ali RA, KW mengambil bentuk realitas Nabi, kemudian dia pindahkan dan transmisikan kepada Imam Mahdi AS. Saat ini kita semakin dekat kepada era Imam Mahdi AS, dan hakikat tersebut saat ini diberikan kepada awliya, sedikit demi sedikit mereka diberi pengetahuan untuk menangkap realitas Nabi Muhammad SAW.

Nilai tasawwuf yang sangat tinggi dari realitas Muhammad SAW, yang ditransmisikan kepada awliya  bagaikan kilat di langit, di mana terjadi kontak antara kutub positif dan negatif, yang seandainya kilat tersebut menyentuh seseorang, maka niscaya orang itu akan terkena guncangan elektrik (setrum) yang sangat tinggi hingga orang itu akan terjatuh. Para awliya ketika tersentuh kilat rasul mereka juga akan jatuh, karena hal ini merupakan beban yang sangat besar di mana sebagian orang tak mampu menerimanya. Itulah pengalaman-pengalaman spiritual  yang dirasakan awliya ketika mereka bersentuhan dengan realitas Nabi Muhammad SAW. 

Di dalam diri manusia  ada unsur tanah, yang merupakan unsur negatif.  Kita bayangkan ketika kilat menyentuh manusia, maka unsur positif akan bertemu dengan unsur negatif. Pertemuan kedua unsur itu kita rasakan sebagai "serbuan kilat elektrik" yang sangat besar, sehingga menimbulkan goncangan dalam diri kita. Kilat itu simbol realitas Muhammad SAW, tanah yang kita injak merupakan unsur negatif adalah  simbol dari Setan, ketika realitas Nabi SAW sampai pada Awliya, maka Setan tak senang sehingga akan terjadi guncangan-guncangan karena Setan tak ingin realitas Muhammad SAW sampai kepada umat manusia. Saat ini realitas Rasulullah SAW yang sampai pada Imam Mahdi AS dan Awliya sudah mulai ditransmisikan kepada jiwa kekasih-kekasih Allah SWT. Tak ada yang dapat mencegah, siapapun tak ada yg bisa mengingkarinya! Imam Mahdi AS akan hadir dalam waktu dekat, dan tak ada yang bisa mengingkari keberadaannya.

Ketika kita bicara tentang realitas Muhammad SAW, maka realitas Muhammad SAW itulah yang pertama kali diciptkaan Allah SWT melalui Nuur Muhammad SAW atau cahaya Muhammad SAW, kemudian cahaya itu melahirkan cahaya-cahaya lain yang gemerlapan, percikan-percikan cahaya itu  bagaikan bintang di alam semesta ini. Ada  milyaran bintang-bintang yang kita saksikan  di alam semesta yang lahir dari realitas Nabi Muhammad SAW, bintang-bintang tersebut bagaikan individu-individu manusia, ada yang kecil ada yang besar. Yang besar seperti cahaya para awliya, sedangkan bintang yang kecil adalah individu yang kecil. Ada juga  bintang yang kadang timbul-tenggelam, hal ini seperti halnya iman dalam diri manusia, yang kadang kuat kadang lemah sehingga cahayanya pun timbul tenggelam. Sedangkan bintang yang besar dan cahayanya gemerlapan  adalah ibarat  awliya, seperti  planet-planet di tatasurya  yang besar dan agung di alam semesta ini.

Perumpamaan lain  yang luar biasa untuk memahami realitas Muhammad SAW, adalah  seperti  air terjun. Kalau kita melihat derasnya air terjun yang  turun, yang kita lihat adalah airnya yang turun. Agar bisa turun, air tersebut harus melewati bebatuan yang besar, batu-batu itu bagaikan sebuah pintu. Kita bertanya darimana sumber air itu? Mungkin bisa jadi berada jauh di bawah kedalaman  gunung yang ratusan meter dalamnya. Kemudian kita bertanya mengapa air tersebut harus berasal dari bawah kemudian  naik ke atas untuk  kemudian turun kembali. Dan ketika turun pun  harus melewati batu-batu yang merupakan sebuah gerbang dari batu yang besar, mengapa harus begitu? Ini adalah makna dari perumpaaan hadist, "Aku adalah ilmu dan `Ali RA, KW adalah gerbangnya".

Sebuah rahasia besar realitas Muhammad SAW hanya diketahui oleh Nabi SAW sendiri, bahkan `Ali RA, KW yang merupakan pintu ilmu itu tidak bisa mengetahui realitas Muhammad SAW yang sesungguhnya.  Realitas itu sekarang berada pada  Imam Mahdi AS.  Allah SWT berkata,    "Wahai Muhammad SAW, Aku tak meminta apa-apa dari mereka kecuali cinta mereka kepada kerabatmu."  Kalau kalian ingin mengetahui realitas Nabi Muhammad SAW maka kalian akan mengetahuinya melalui Imam Mahdi AS,  Imam Mahdi AS akan membuka gerbang itu dan akan menyampaikan pada umat ini, karena  Imam Mahdi AS adalah kekasih (Awliya) Allah SWT.

Di tengah-tengah kita, begitu banyak problem yang kita saksikan, begitu banyak  penderitaan yang dialami kaum Muslim, problem itu begitu deras menimpa kita bagai air terjun, dia akan menghanyutkan siapapun yang menghalanginya. Seperti ikan Salmon yg punya kebiasaan menentang arus, dia berusaha untuk sampai ke atas, dia kerahkan seluruh tenaga dan akhirnya  sebagian besar ikan Salmon itu mati. Begitu juga  kaum Muslimin sebagian besar mati, dan hanya yang memiliki kekuatan yang akan sampai ke atas.

Saat ini yang memiliki  kekuatan terbesar adalah Imam Mahdi AS. Bila Imam Mahdi AS yang memiliki kekuatan sedemikian besar saja  belum diizinkan untuk keluar oleh Allah SWT, demikian pula dengan para Awliya dan para Sufi.  Meskipun demikian Awliya tidak terlena, mereka tetap bekerja dan mereka terus berusaha. Kalian, manusia biasa  jangan bersedih, kalian yang tak mampu berbuat apa-apa lakukanlah dzikrullah.  Ini adalah salah satu bentuk untuk merubah keadaan yang ada pada saat ini. Ketika kalian menghadapi cobaan berselawatlah, karena ini adalah tugas kita sebagai manusia. Kalau kalian ingin perubahan, mintalah pada Allah SWT agar Imam Mahdi AS segera diturunkan.

Kaum Muslim tak pernah minta Imam Mahdi AS, tapi kaum Nasrani selalu  minta agar Nabi Isa AS ’Yesus AS Sang Penyelamat’ diturunkan, itulah sebabnya Allah SWT mendukung mereka di dunia ini.  Kaum Yahudi pun meminta Messiah mereka. Kaum Nasrani terus-menerus meminta,  24 jam sehari melalui berbagai saluran televisi mereka. Tapi Muslim tak pernah berpikir tentang Mahdi AS, mereka tak pernah meminta pada Allah SWT agar Imam Mahdi AS diturunkan. Bila semua Muslim meminta, "Ya Allah kirimkanlah Imam Mahdi AS,  bila semua negara muslim meminta, maka Allah SWT akan mengirimkan  Mahdi AS kepada kita. Seharusnya setiap muslim berdoa kepada Allah SWT supaya Mahdi AS diturunkan, tetapi kaum muslim tak pernah meminta, maka Allah SWT tak memberikan pertolongan kepada umat Islam. Jangan heran jika umat Kristen dikabulkan doanya karena mereka selalu  minta agar Isa AS diturunkan.

Apa yang dibicarakan Muslim? mereka hanya bicara soal perbatasan negara, perbaikan ekonomi tetapi mereka tak pernah meminta Imam Mahdi AS. Misionaris sangat sukses karena dalam misi tersebut, mereka selalu mengajak orang-orang yg mereka dakwahi untuk Isa AS, mereka berkata bahwa Yesus AS akan segera kembali, mereka keluar-masuk hutan dan perkampungan dan mereka minta agar Allah SWT menurunkan Isa AS.

Tetapi ketika umat Muslim meminta Muhammad SAW, mereka  (Wahhabi) katakan itu bid'ah, meskipun  Muhammad SAW memberi syafa'at pada mereka, tetapi mereka katakan “Tidak!” Mereka katakan musyrik, bid'ah. Mereka selalu mengatakan, “Mari kita--umat Muslim—bersatu,” tetapi mereka tak pernah membanggakan Nabi Muhammad SAW, bahkan lebih jauh mereka katakan itu haram, syirik dan sebagainya. Ketika kita berselawat atas Nabi Muhammad SAW mereka—Wahhabi dan Salafi mengatakan itu adalah bid'ah, syirik, bahkan mereka telah menghina Nabi SAW, mereka letakkan Nabi Muhammad SAW dalam tingkatan yang sangat rendah. Kita-kaum Muslim jarang berselawat, inilah sebabnya mengapa Islam tidak pernah disukseskan oleh Allah SWT.  Kaum Wahhabi sekarang bahkan tidak menghormati keluarga Nabi SAW, maka Allah SWT akan marah.

"Katakan wahai Muhammad SAW: Aku tak meminta upah, Aku hanya minta agar mereka mencintai para kerabat Nabi (ahlul bayt)", dan Mahdi AS adalah kerabat Nabi yang paling besar di akhir zaman ini. Para Rasul menyaksikan amalan kita, bukan hanya di akhirat tetapi juga di dunia ini, Allah SWT sendiri  berfirman bahwa Muhammad SAW menyaksikan amalan kita, tetapi mereka--Wahhabi mengatakan bahwa hal itu tidak ada.  Sejak saat ini hingga Kiamat, Saya akan menentang segala bentuk penghinaan yang dilakukan Wahhabi, karena mereka selalu berkata bid'ah, syirik. Mereka tidak tahu bahwa rahasia sukses adalah ketika kaum Muslim mengangkat tinggi nama Muhammad SAW. 

Kristen selalu mengangkat nama Isa AS dan Allah SWT meridainya, tapi umat Muslim tak pernah mengangkat Nabi Muhammad SAW,  mereka merendahkan Muhammad SAW, mereka tak pernah berdoa untuk kedatangan Imam Mahdi AS. Bila Muslim berdoa maka akan banyak problem mereka yang dibantu oleh Allah SWT. Tidak ada jalan  untuk sukses kalau mereka tak pernah minta Mahdi AS, kalau mereka berselawat atas Rasulullah SAW dan  meminta Imam Mahdi AS, maka Allah SWT akan memberi mereka perekonomian yang baik, mereka akan sukses di dunia; dan di akhirat Allah SWT akan  memberi mereka lebih banyak lagi.

Imam Mahdi AS yang dijanjikan oleh Allah SWT akan segera muncul, saat ini kita jangan berasumsi bahwa apa yang kita bicarakan saat ini  hanya didengar oleh 200 atau 500 orang. Di tempat lain apa yang kita bicarakan saat ini ditangkap oleh ribuan kabel satelit para Awliya. Apapun yang dibicarakan oleh Awliya akan didengar oleh Awliya Allah SWT di seluruh penjuru dunia, mereka menangkap dan menyampaikan kepada umat, ada yang menerima sedikit, ada pula yang menerima banyak. Mudah-mudahan satelit di dalam diri kita semakin kuat sehingga kita bisa menangkap seluruh pesan-pesan dari para  Awliya Allah SWT, Amin. Fatihah. 

Wa min Allah at tawfiq

 

 

06 January 2009

Apa yang Terjadi setelah Kematian

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta, Kediaman Pak Tony

10 Desember 2004

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir ra
hmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Mu
hammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ketika kalian dimasukkan ke liang kubur, orang-orang pun melemparkan tanah pada kalian.  Itu adalah sunnah. Apa alasannya? Setiap butir tanah akan menyerap jasad orang yang meninggal.

Habil dibunuh oleh Qabil. Allah SWT menunjukkan bagaimana mengubur jasad tersebut. Jika manusia tidak belajar bagaimana mengubur jasad orang yang meninggal, Mawlana Syekh (semoga Allah SWT memberkahi beliau) berkata, “Jika jasad orang yang meninggal tidak tertutupi tanah, bau jasad itu  akan membuat orang di seluruh dunia jatuh pingsan.”

Tanah yang dibuat untuk mengubur jasad itu adalah rahmat, bila tidak dikubur semua orang akan mengutuk orang yang meninggal tadi karena bau busuk yang berasal dari mayatnya.

Artinya, ketika kalian menguburnya, kalian juga sedang menutupi aibnya.

Salah satu Asma Allah SWT adalah Sattar, Dia Yang menutupi dosa. Dia sedang menutupi jasad dengan menguburnya. Kalian tak dapat melihat jasad itu di lantai, lalu hidup! Itulah ketakutan yang muncul dalam hati kalian.

Jika seseorang meninggal di rumah dan jasadnya dibiarkan di sana, orang pun akan merasa takut. Apa yang mereka takutkan? Kematian adalah heyba-penampakan yang dahsyat- sesuatu yang gigih dalam tubuh, yang kalian rasakan  ketika akan melihat malaikat pencabut nyawa.  Allah SWT membuat hal itu sebagai rahmat ketika kita menguburnya di dalam tanah. Jika berada di atas tanah, kalian takkan berselera untuk makan dan minum saat melihat jasad tersebut, ia kelihatan menjijikan. 

Ketika seseorang meninggal, setelah beberapa hari, kalian tidak bisa makan dan minum. Kalian menguburnya karena gambaran yang menjijikan itu. Jika kalian jijik dan merasa takut padanya, tahukah kalian apa yang dirasakan oleh orang yang telah meninggal itu terhadap hukuman Allah SWT?

Jawabannya, mereka sedang memanggil kalian.

Berapa banyak jasad yang sedang ketakutan akan siksaan Allah SWT dan ketika dikirim Malaikat Munkar AS dan Nakir AS.   Orang itu ditinggal sendirian, di bawah tanah, tak mampu bergerak ke kanan dan ke kiri karena ada tanah di sampingnya untuk menjaga agar jasad tetap lurus.

Setiap orang akan mati, tak seorang pun terlewatkan. Nabi bersabda bahwa Allah SWT mengirim roh kembali ke jasad tersebut. Begitu roh dikembalikan, orang itu pun duduk tegak. Dahinya terantuk tanah.  Setiap kali dia ingin duduk kepalanya terantuk tanah. Saat itulah dia menyadari bahwa itu adalah kali terakhir dia berada di dunia.

Dia menyadari bahwa dia sedang berada di Akhirat. 

Dua malaikat datang dan bertanya padanya, ”Siapa Penciptamu? Siapa pembawa pesan-Nya? Apa agamamu? Apa kitab sucimu?”

Jika lidah kalian membeku pada saat itu, kalian berada dalam bahaya. Jika lidah kalian tidak berkelu dan mampu menjawab, maka kalian pun aman.

Itulah mengapa dulu para Syuyukh memerintahkan murid-muridnya untuk menyendiri di dalam liang kubur, untuk mengajari mereka, “Suatu hari kalian akan seperti itu.”  Mereka pun sadar suatu hari pasti Allah SWT akan memanggil mereka. Jika kita merasakan ini dan menyadarinya, kita tidak akan duduk berleha-leha. Kita akan duduk di pojok, berzikir, berselawat dan membaca Quran, hanya memuji Tuhan kita dan menanti saat kematian.

Tetapi Allah SWT membuat kita ghaafil, lalai; membuat kita sibuk dengan pekerjaan dunia.  Tanpa itu, dunia akan berhenti.  Jika Allah SWT tidak membuat kita lalai, semuanya tak akan bergerak.

Para Awliya bukanlah orang-orang yang lalai. Itulah mengapa setiap saat mereka selalu berzikir, setiap saat mereka mengikuti muridnya untuk mengawasi kelakuan mereka.  24 jam mereka mengawasi murid-muridnya.  Semoga Allah SWT mengampuni dan menyelamatkan kita.

Saya sedang melihat dan teringat ketika dulu pernah melihat foto-foto dua orang wanita di dinding itu, dan saya teringat mereka meninggalkan semuanya dan pergi.  Kalian tidak akan membawa apa pun, walaupun hanya baju dan cincin. Berangkat dan pergi.  Semoga Allah SWT mengampuni kita.   Ini sangat sulit – bagaimana menghadapi kuburan kita?

Rabi`a al-`Adawiyya QS sering berada di sini dan menangis seharian sambil beristighfar. Beliau berkata, “Bagaimana aku tidak beristighfar?  Sementara aku tak tahu bagaimana Sayyidina Izrail AS akan mengambil nyawaku; dengan siksaan-siksaan atau dengan kebaikan?”

Jika kalian tahu, maka semuanya akan lancar;  tetapi tak seorang pun yang tahu!

Bi hurmatil Fatiha.

24 October 2008

Khalwat: Perintah untuk Diikuti dan Dukungan dari Allah SWT

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS 
Jakarta, 6 September 2004


A'udzu billahi mina 'sy-Syaythaani 'r-Rajim
Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahim
Dustur Ya Sayyidi Madad


Mawlana Syekh (semoga Allah SWT merahmatinya), guru kita, mengatakan, “Kalian harus meletakkan tiga gol (tujuan) dalam hidup ini.”

Itulah disiplin tarekat. Jika kalian ingin dipertimbangkan sebagai murid Tarekat Naqsybandi, kalian harus mempunyai 3 disiplin/karakteristik ini. Tiga hal ini harus ditambahkan dalam ibadah utama kalian di samping salat 5 waktu, puasa, zakat dan pergi haji. Yang pertama, jika Syekh mengatakan pada kalian, “Wahai anakku, amanat kalian berada di bawah bumi lapisan ke tujuh.”

Kalian tahu, ketika menggali tanah sedalam 1.5 km atau 2 km – mungkin itu adalah lapisan pertama. Ketebalan bumi dari satu titik ke titik lain berapa? 40.000 kilometer? Lalu ada yang mengatakan pada kalian, “Apakah kalian membutuhkan alat-alat pengeboran?” Tahukah kalian berapa harga 1 mesin untuk menggali sampai kedalaman… katakanlah 1000 meter? Dibutuhkan 1.000.000 dollar (satu juta dollar) hanya untuk menggali 1000 meter pertama guna mendapatkan minyak. Yang kalian butuhkan adalah alat pengebor; namun Syekh hanya memberi kalian sebuah sekop dan sebatang kayu yang telah rusak dan beliau menyuruh, “Gali!” Maka kalian harus menjawab “Ya, Mawlana!”

Jika kalian menggunakan akal, mungkin kalian membutuhkan sebuah alat bor yang bukan hanya seharga satu juta dollar, tetapi mungkin bisa sampai satu triliun dollar. Jadi bagaimana bisa kalian menggalinya dengan sebuah sekop rusak? Kalian bahkan tidak sanggup menggali dengan benda rusak itu sedalam 10 meter.

Ada yang menggali karena air. Mereka mendapat air pada kedalaman 10, 15 atau 60 meter – mereka bahagia mendapatkan air gratis. Mereka akan terus menggali bila tujuan mereka adalah mineral berharga dari bawah tanah, minyak, batu mulia. Mereka membuat sumur-sumur, menghabiskan jutaan dollar dan tujuan mereka adalah untuk memperoleh sesuatu. Mereka tahu bahwa ada sesuatu di dalamnya. 

Begitu juga dengan Syekh, saat mereka berkata, “Amanat kalian berada di sana.” Maka ada sesuatu di sana yang harus kalian ambil. Jika kalian percaya akan hal itu, kalian akan menggali walaupun dengan sekop dan kayu yang rusak. Apa yang kalian butuhkan? Kesabaran. Gali, gali, dan gali! Dengarkan perintah itu. Itulah disiplin. Dalam tarekat, dengarlah apa yang dikatakan Syekh, walaupun beliau menyuruh menggali bumi lapisan ke-7 dengan sekop patah, kalian harus menggali. Jangan katakan, “Tidak.” Jangan gunakan akal kalian dan berkata, “Itu mustahil!” Kedua, jika kalian sedang berada di timur namun Syekh mengatakan bahwa, “Persediaan makan kalian ada di barat,” maka kalian harus pindah dari timur ke barat! Jangan katakan, “Namun di sana ada lembah, lautan dan pegunungan.” Hadapilah halangan itu dan bergeraklah, seperti seekor semut; bila dia merasakan ada makanan di timur, walaupun dia sedang ada di barat, maka semut itu pun akan terus bergerak dan bergerak. Dia tidak mengatakan, “Ini terlalu jauh.” Dia terus berjalan sampai menemukan makanan dan kembali lagi.

Ketiga, jika Syekh mengatakan, “Anakku, pergilah ke laut itu, kosongkan air laut dengan sebuah gelas atau sebuah ember. Amanat kalian ada di dasar lautan.” Maka kalian harus mengosongkan lautan itu, pergilah ke laut itu, duduk di sana dan bawa satu ember, lalu kalian katakan, “Syekh menyuruh saya mengosongkannya, maka aku akan mengosongkannya.” Bahkan jika kalian mengosongkan dari sini dan airnya kembali lagi dari belakang, itu tidak masalah. Kalian telah melaksanakan perintah—itha`atu 'l-mursyid (ketaatan pada mursyid). Jika kalian taat pada Syekh, maka kalian pun taat pada Nabi SAW dan taat pada Allah SWT. Lalu apa yang akan terjadi?

Ada sebuah maqam dari Bahru 'l-'ilm, Samudra Ilmu. Dari Samudra Pengetahuan itu ada sebuah samudra lagi yang mempunyai satu napas, yang selalu mengirimkan Riihu 's-Siba- angin para pemuda. Napas indah yang beraroma wangi. Napas itu berasal dari “Mereka” saat melihat kalian sedang bekerja terus-menerus, mengerjakan apa yang diperintahkan pada kalian. Meskipun kalian tahu bahwa kalian tidak mampu mencapainya; kemurahan Allah SWT akan mendatangi kalian. Kalian harus menyadari bahwa kalian tidak cakap dalam hal apa pun, kalian tidak berhak atas apa pun! Namun saat Allah SWT melihat kalian sedang melakukan hal yang terbaik, maka Riihu 's-Siba (Napas Para Pemuda) akan menghampiri kalian seperti sebuah tornado yang membawa kalian menuju samudra itu. 

Seperti yang terjadi pada Sayyidina Imam al-Ghazzali, dan pada Sayyidina Salman al-Farsi RA. Nabi SAW mengatakan bahwa Salman al–Farsi RA adalah keluarga beliau. Karena banyak hal seperti ini terjadi pada beliau. Juga pada Sayyidina Imam al-Ghazzali, beliau dulunya meragukan segala hal; namun ketika Riihu 's-Siba menghampirinya karena sesuatu yang beliau kerjakan, maka beliau diberi pengetahuan makrifat.

Artinya, kalian tidak dapat melakukan apa pun dengan diri sendiri. Kalian lemah. Namun perhatian dari Allah SWT akan tiba bila kalian tetap mengusahakannya. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah SWT benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [QS 29.69]

Mereka yang berjuang di jalan Kami - jalan Allah SWT dengan ibadah yang kuat, melalui pendidikan, menolong sesama, melakukan dakwah, dan segala macam pekerjaan seperti mengobati orang, membersihkan sesuatu demi masyarakat, semua ini adalah berjuang di jalan Allah SWT. La-nahdiyanahum subulana – orang-orang yang pergi dan melayani di jalan Kami, kami akan membimbing menuju takdir mereka. 

Subulana artinya cara Allah SWT untuk mendekati takdir kalian mencapai rida Ilahi. Mereka yang berusaha keras, meninggalkan pekerjaannya karena Allah SWT, meninggalkan keluarganya demi Allah SWT, meninggalkan segala dunia karena taat pada Allah SWT, Nabi SAW, dan Syekh. Mereka meninggalkan segala hal dalam waktu 40 hari duduk pada siang dan malam, membaca Quran, berzikir, membaca selawat Nabi SAW, membaca Dalail ul-Khayrat, Salat berjamaah, mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT. Maka Allah SWT akan menunjukkan jalan-Nya. Mereka adalah lebih baik daripada orang-orang yang bergelimang kekayaan dunia. Karena mereka menyingkirkan segalanya, mereka duduk menyendiri. Bagi yang ikut melayani, duduk menemani dan menolong mereka agar terhindar dari pengaruh dunia, juga akan menerima pahala yang sama. Karena syuyukh tidak membeda-bedakan satu dengan yang lain.

Ketika pagi ini saya diminta untuk turun menengok mereka. Saya katakan, “Tunggu.” Karena saya sedang berada dalam keduniawian, maka pengaruh-pengaruh negatif masih menghampiri saya dari mana pun. Maka saya harus menyiapkan diri dulu untuk bertemu, karena mereka dalam keadaan bersih. Tidak ada pengaruh negatif pada mereka. Maka ketika saya telah siap dan turun, saya melihat seluruh area ini penuh dengan makhluk-makhluk spiritual yang melakukan khalwat bersama mereka.

Dan dari mata mereka terpancar sinar keagungan yang mengirimkan sinar ketakutan bagi para setan. Artinya mata mereka penuh dengan sinar yang mampu membakar semua setan yang mendekati tempat ini. Karena ada sisi setan pada setiap orang, dan kata Nabi SAW dalam sebuah hadis: sinar dari mata mereka mampu membakar setan yang ada pada diri seseorang di hadapannya.

Alhamdulillah, Allah SWT menghadiahkan (sinar itu) pada mereka pada 20 hari pertama, dan kita akan melihat apa yang akan terjadi pada 20 hari berikutnya.

Wa min Allah SWT at tawfiq


29 July 2008

Pembukaan Besar kepada Umat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta, September 2004


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Rajab adalah bulannya Allah SWT, Syakban bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku,” demikian dikatakan Nabi SAW. Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram, di mana Allah SWT melarang hamba-Nya berperang, berkelahi, atau membunuh apapun.

Rajab adalah bulan di mana Allah SWT memanggil Nabi SAW ke Hadirat-Nya. Oleh karena itu bulan Rajab sangat penting, di mana Allah SWT menurunkan Rahmat-Nya pada kita semua. Allah SWT adalah Al-Rahman, Allah Yang Maha Pengasih. Al-Rahman juga bermakna bahwa segala sesuatu di alam semesta tercipta dari Nama-Nya Al-Rahman. Ketahuilah, dari sifat al-Rahman tersebut, Allah SWT menciptakan semua makhluk, termasuk langit dan bumi dan semuanya adalah untuk manusia. “Kuciptakan semua ini untuk hamba-hamba-Ku,” dan seluruh ciptaan-Nya berada di bawah kendali manusia. Dari sifat ar Rahman, Allah SWT memanggil Nabi SAW ke Hadirat-Nya dan menghiasinya dengan nama-Nya yang Indah dan mengirimkan kembali ke dunia untuk membimbing umat. Inilah tanda bahwa Allah SWT mencintai kita semua.

Ketika Nabi SAW melaksanakan perjalanannya menuju Hadirat Allah SWT, Dia telah mendandani beliau dengan nama-Nya. Hanya Allah SWT yang mengetahui berapa lama Nabi SAW berada di Hadirat-Nya. Ketika Isra Mi’raj tersebut kita mengetahui bahwa Nabi SAW hanya berjarak dua lengan di hadapan Allah SWT, dan ketika Allah SWT mengirimkan kembali Nabi SAW ke dunia, Allah SWT menghiasinya dengan Nama al-Rauf, Yang Maha Pengasih. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Aku adalah Qasim dan aku adalah Mahi,” ini adalah atribut-atribut beliau sebagaimana Allah SWT memberikan atribut tersebut kepada kekasih-Nya. Oleh karena itu Nabi SAW memiliki sifat menyayangi dan memaafkan. Nama al-Qasim hanya untuk Nabi SAW, tak seorang pun boleh memakai nama tersebut.

Al-Qasim sebagaimana atribut Allah SWT yang diberikan kepada Nabi SAW, dan hanya Nabi SAW yang memiliki otoritas untuk memakai nama itu, di mana dengan nama itu Nabi SAW menjalankan otoritasnya untuk membagi rahmat-Nya kepada alam semesta. Seperti kita saat ini menjalankan aktifitas adalah semata-mata berasal dari rahmat Allah SWT yang dibagikan oleh Nabi SAW.

Al-Mahi, Yang Maha Menghapus, Allah SWT memberikan dari sifat tersebut kepada Rasulullah SAW untuk menghapuskan dosa-dosa kita melalui syafaat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi SAW. Beliau mengambil dosa kita, seperti Allah SWT juga juga merubah kita dari sakit menjadi sembuh. “Aku adalah Thaa Haa,” Kami tidak menurunkan Al-Qur’an kepadamu agar menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada-Ku.” “Tha Haa maa anzalnaa alaykal Qur’ana li tasiqaa”. Apa arti di balik nama Thaa dan Haa? Hanya Allah SWT dan Muhammad SAW yang mengetahuinya, dan kalau Nabi SAW tahu, maka para awliya juga diberikan pengetahuan tentangnya oleh Nabi SAW. Kami telah menurunkan Al-Qur’an bukan untuk menjadi beban atau memberikan kesulitan kepadamu tetapi untuk mengingat-Ku, untuk menjadi hamba-Ku, untuk berdoa kepada-Ku, untuk membersihkan hamba-Ku dan sebagai Cahaya dalam hati mereka.

kaligrafi Muhammad SAW, Tha Haa, Tha Siin
(atas budi baik Sana Naveed, Muhammadanart)

Allah SWT mengirimkan Qur’an untuk menyiapkan umat, mengapa Allah SWT memanggil Nabi SAW pada tanggal 27 Rajab untuk Isra Mi’raj? Dan Allah SWT menurunkan Laylat ul-Qadar pada 27 Ramadan? Ada rahasia di balik tanggal tersebut. Mengapa tidak diturunkan pada tgl 25 atau 23? Laylat ul-Qadr, 27 Ramadan, dan Isra Mi’raj, 27 Rajab adalah sesuatu yg tetap. Kita berpuasa pada tanggal 27 Rajab. Setiap kita melewati 27 Rajab atau 27 Ramadan hati kita senang tetapi kita tak pernah bertanya? Awliya bertanya, “Mengapa Ya Allah SWT, apa Rahasia di balik tanggal 27 tersebut?” Dan Allah SWT memberi jawaban kepada mereka melalui Nabi SAW. “Setelah 27 adalah 28, dan alfabet Islam seluruhnya berjumlah 28 huruf, di mana huruf ke-28 adalah Ya”. Artinya pada malam ke-27 Allah SWT membawa Nabi SAW untuk Isra Mi’raj dan untuk mempersiapkan beliau untuk malam ke-28. Huruf ke-28 adalah huruf terakhir, yaitu “Ya”, yang berasal dari nama Nabi SAW, “Yasin”, atribut beliau yang paling istimewa.

Alif adalah huruf pertama dalam abjad dan merupakan simbol awal. Nama Allah SWT diawali dengan alif. “Dari Alif hingga Ya, Aku siapkan engkau, wahai Nabi SAW, untuk ke-28 Samudra Ilmu Allah SWT.” Allah SWT menyandangkan pakaian Ilmu Allah SWT kepada Nabi SAW. Sesuatu yang berasal dari akhirat dimulai dengan Alif, Islam dimulai dari huruf alif, Ihsan diawali dengan alif, Iman diawali dengan alif. Sementara Muhammad SAW, diawali dengan huruf mim. Islam yang diawali alif, menjadi Muslim yang diawali mim, Iman yang diawali alif menjadi Mukmin yang diawali mim, oleh sebab itu, di antara alif dan mim adalah area transisi di mana Allah SWT mempersiapkan Nabi SAW.

Huruf terakhir Ya merupakan nama awal Nabi SAW, Yasin. Yasin adalah jantungnya Al-Qur’an, Intisari Al-Qur’an, ketika manusia mati mereka membacakan surah Yasin (akhir huruf dalam abjad Islam dan akhir kehidupan dibacakan Yasin). Allah SWT berikan rahasia setiap huruf dari surat Yasin tersebut, di dalam setiap huruf Al-Quran berarti lebih dari 500.000 makna. Setiap alif bisa berarti berbagai macam makna sesuai tempatnya. Setiap huruf di dalamnya mempunyai arti-arti sendiri, setiap huruf seperti cahaya ilmu pengetahuan.

Tak semua hamba-Nya mengetahui rahasia ilmu tersebut, seperti perumpamaan bahwa Ilmu Nabi SAW tak setetes pun dari Samudra Ilmu Pengetahuan Allah SWT, dan ilmu Sahabat dibanding Nabi SAW seperti setetes dari samudra ilmu Nabi SAW dan ilmu awliya dibanding sahabat seperti setetes dari ilmu sahabat, demikian pula ilmu ulama dibanding ilmu awliya seperti setetes dari samudra ilmu awliyaullah.

Kita mengetahui bahwa ilmu kita sangatlah sedikit, kita tidak mengetahui hal itu semua, tetapi tetap saja kita arogan bahwa kita orang yang berilmu, congkak. Kita merasa diri kita orang penting, kita ingin orang mengetahui kita orang yang berilmu. Lebih baik bagi kalian bila kalian duduk di pojok, menghinakan diri dan merasa tak mengetahui apapun. Jangan membanggakan diri kalian di hadapan orang lain, karena ketika kalian membanggakan diri, maka Iblis segera masuk ke dalam diri kalian. Nabi SAW adalah manusia yang sangat merendahkan dan menghinakan diri di hadapan Allah SWT, sehingga Allah SWT mengangkat derajat beliau.

Jika seseorang bersifat rendah hati maka Allah SWT akan mengirimkan orang tersebut hamba-hamba-Nya yang terbaik dari para waliullah untuk membimbingnya. Tetapi kepada hamba-Nya yang arogan—takabur, Allah SWT pun mengirimkan orang-orang-Nya juga, dari segi kuantitas—banyak, tetapi mereka bukanlah hamba-hamba-Nya yang terbaik, para awliya-Nya. Kita boleh berbangga karena kita mencintai Nabi SAW, kita boleh bangga karena kita memeluk Islam, tetapi kita tidak boleh berbangga karena amal kita. Amal yang kita banggakan akan kembali kepada kita bila kita menyombongkan amal di hadapan orang lain atau di hadapan-Nya.

Seperti juga kita tahu nama-nama hewan, seperti keledai atau singa. Maka seperti Singa, ia memiliki ribuan nama yang sama, di Inggris disebut Lion, di Perancis Leon, ada berapa banyak bahasa di dunia ini? Bila di Cina saja ada ribuan bahasa. Maka singa pun memiliki begitu banyak nama. Begitu pula siapa namamu??!! Ketika orang menanyakan nama kita kita membuka KTP, Kartu nama, Oo..Sunarto, Suharto, Bambang. Kita bahkan kadang tak tahu siapa yang memberikan nama kita, siapa yang memberikan nama kalian, kita tak tahu nama kita sesungguhnya, hanya Allah SWT yang tahu nama kita sebenarnya. Allah SWT memberikan nama hanya kepada Muhammad SAW dan nabi-nabi yang tercantum di dalam Al-Quran. Tetapi kita tak mempunyai nama dan identitas itu. Nama kita hanya berasal dari orang tua kita. Kita tidak memiliki kejelasan status kita di dunia ini, kita tak memiliki nama, kita adalah nothing, tetapi tetap saja sombong dan membanggakan diri di hadapan mahluk maupun di hadapan- Nya.

“Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya”, bahkan saat ini pun kita tidak tahu apa nama kita. Mereka pikir diri mereka ulama, syekh, politisi. Wahai manusia letakkan dirimu serendah mungkin, janganlah sombong di hadapan mahluk-Nya bahkan di hadapan Allah SWT. Bila kita meletakkan diri kita serendah mungkin, maka Allah SWT akan mengangkat derajat kita. Ketika Allah SWT membuka hati hamba tersebut, maka hamba itu menjadi awliya-Nya, maka pada saat itu Allah SWT memberikan rahmat-Nya kepada para awliya-Nya. Wali-wali Allah SWT tidak pernah bersedih hati.

Jika kita berniat mencari wali Allah, maka kita pasti akan menemukan mereka. Mereka bisa datang melalui mimpi, atau melalui berbagai cara lain, tetapi kita harus mulai dengan niat untuk menemui mereka, dan ketika awliya berada di hadapan kita, jangan lepaskan kesempatan itu. Saya hanya seperti kalian, saya bukan wali, saya pun mencari wali, saya tidak pernah mengatakan bahwa diri saya adalah seorang wali, hasha! Saya memang berada di pintu seorang wali, Mawlana Syekh Nazim QS. Saya bukan apa-apa, selama 55 tahun saya mengikuti seorang wali besar, Sulthanul awliya Syekh Nazim QS, beliaulah yang membawa kita semua ke hadirat Nabi SAW. Ilmu yang saya berikan kepada kalian, berasal dari beliau. Mata tak mungkin berada di atas alis, tak pernah!! Dialah Syekh Nazim QS, pembimbing kita semua, Syekh kita semua, Sultan untuk kita semua. Kita semua adalah murid beliau. Jika beliau ingin membuka hati kita untuk berbicara maka beliau akan memberikan otoritasnya kepada hati kita dan kita bisa berbicara. Setiap orang senang mendapat buah-buahan segar, mereka tak suka dengan buah yang sudah busuk, buah yang tidak segar. Awliyaullah selalu mendapatkan buah yang segar untuk kalian, karena hati mereka selalu tersambung kepada para sahabat, Abu Bakar ash-Shiddiq RA, Ali bin Abi Thalib RA, KW dan mereka mendapatkannya dari hati Rasulullah SAW.

Dengan kerendahan hati para awliya, maka Allah SWT memberi mereka ilmu untuk membimbing dan memperbaiki umat. Mereka tak perlu mempersiapkan makalah untuk bicara di hadapan orang-orang. Makalah untuk orang biasa, sedangkan ilmu awliya berasal langsung dari Nabi SAW. Makalah ulama, profesor tidaklah seperti buah yang segar tidak baru, sedangkan yang disampaikan awliya adalah informasi yang masih segar yang berasal dari Syekhnya dan itu semua berasal dari hati Rasulullah SAW.

Dengan jalan itu mereka selalu menerima informasi yang segar yang disampaikan kepada kita, informasi yang berguna untuk memenuhi kebutuhan saat itu juga. Syekh kita mempunyai begitu banyak wakil yang mempunyai otoritas untuk menyampaikan hal tersebut. Allah SWT memiliki 124.000 wali, setiap wali memiliki level yang berbeda, dari yang terendah hingga tertinggi. Semua wali dari yang terendah hingga tertinggi mampu melihat cahaya Rasulullah SAW, cahaya itu bersinar begitu terangnya. Cahaya itu selalu kontinu mengalir ke hati para awliya seperti air terjun. Janganlah kalian bayangkan bahwa cahaya hanya mempunyai 20 warna saja, tetapi bisa berjuta-juta warna.

Setiap wali melihat cahaya warna yang berbeda sesuai dengan levelnya masing-masing. Kadang-kadang ada wali yang tingkatannya terendah hanya bisa menangkap dua warna: biru dan merah saja, sementara yang lain hanya kuning dan hijau saja. Tetapi sebenarnya di antara dua cahaya tersebut ada berjuta-juta warna lainnya. Awliya, ketika melihat hati Nabi SAW mereka melihat cahaya. Tetapi awliya yang levelnya paling tinggi, wali yang memiliki level tertinggi dapat melihat jutaan cahaya, tetapi ia pun sangat rendah hati. Karena kerendahan hatinya itu, ia tidak mengatakan jutaan warna, jutaan informasi yang ia dapatkan dari hati Rasulullah SAW. Ia dapat melihat dan menyampaikan, ia bisa mengambil ilmu yang tersembunyi dari hati Nabi SAW. Di setiap jutaan waktu akan terjadi jutaan cahaya yang berbeda, begitu pula jutaan informasi yang berbeda.

Setiap wali diberi anugerah yang berbeda-beda, meskipun levelnya berbeda mereka memiliki penampilan yang sama. Sehingga kadang mereka yang berada di level terendah menyangka dirinya sama. Wali di level tertinggi atau terendah bisa menyerap informasi dari hati Rasulullah SAW untuk disampaikan kepada kita semua. Dari wali tertinggi yang memiliki jutaan cahaya, maupun yang terendah, yang hanya mampu menangkap satu atau 2 warna, penampilan mereka adalah sama. Setiap wali bisa saja mempunyai 1000 wakil untuk menyampaikan informasi dari hati Nabi SAW. Meskipun demikian setiap wali memiliki cahaya yang berbeda-beda, bisa saja wali di area ini hanya melihat warna merah, sementara yang lain biru dan lain-lain. Tetapi mereka terlihat sama walaupun sebenanrnya berbeda. Wali di level yang lebih rendah mengira bahwa dirinya sama dengan wali yang lain, tetapi wali di level yang lebih tinggi, mereka dapat mengetahui di mana posisi mereka sebenarnya.

Setiap wali mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk bicara. Meskipun demikian di hadapan Syekh Nazim QS mereka tampak sama, tetapi Syekh mengetahui kemampuan mereka, jadi kita jangan mencampur-adukkan mereka seolah-olah sama padahal mereka memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain sesuai levelnya masing-masing. Kemampuan ilmu itu berasal dari hati Mawlana Syekh Nazim QS, Sultan kita.

Mawlana Syekh mengatakan bahwa pada tanggal 27 Rajab akan terjadi pembukaan yang besar kepada umat. Setiap tiran, penguasa yang zalim akan kalah. Bukan hanya tiran dari golongan non muslim tetapi juga dari seluruh makhluk-Nya. Tiran non muslim maupun tiran muslim akan kalah, musnah, dan orang yang memperoleh pengampunan akan menggantikan posisi mereka.

Pembukaan ini dimulai pada tanggal 27 Rajab, dan pada tanggal 15 Syakban seluruh umat akan mengetahui informasi ini. Siapa pun yang menggunakan Islam untuk keuntungan mereka, akan dibersihkan satu per satu untuk kemunculan Sayyidina Imam Mahdi AS, tidak akan ada penundaan lagi. Penderitaan umat telah sangat berat. Dari informasi melalui hati Syekh Nazim QS, bulan Rajab ini adalah waktu yang sangat penting, awliyaullah menerima informasi bahwa pada tanggal 27 Rajab akan dimulai penghancuran terhadap para tirani tersebut.

Bisa saja ada kejadian-kejadian yang luar biasa besar di hadapan kita, kejadian yang tak pernah diperkirakan kita semua. Dan pada tanggal 15 Syakban umat akan menerima informasi apa yang sedang terjadi. Zaman ini adalah zamannya Imam Mahdi AS, banyak ulama yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan politik. Mereka akan dihancurkan satu per satu, tahap demi tahap. Bulan Rajab adalah pembalasan kepada para tiran tersebut.

Berbahagialah khususnya mereka yang telah melaksanakan khalwat. Mereka seperti bintang yang bersinar, dan menjadi yang baik di antara kita, peganglah tangan mereka.

Wa min Allah at Tawfiq

25 July 2008

Apa Yang Terjadi Setelah Kematian?

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta (Menteng), 10 Desember 2004


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ketika kalian dimasukkan ke liang kubur, orang-orang pun melemparkan tanah pada kalian. Itu adalah sunah. Apa alasannya? Setiap butir tanah akan menyerap jasad orang yang meninggal.

Habil RA dibunuh oleh Qabil. Allah SWT menunjukkan bagaimana cara mengubur jasadnya. Jika manusia tidak belajar bagaimana mengubur jasad orang yang meninggal, Mawlana Syekh (semoga Allah SWT memberkahi beliau) berkata, “Jika jasad orang yang meninggal tidak tertutupi tanah, bau jasad itu akan membuat orang di seluruh dunia jatuh pingsan.”

Tanah yang dibuat untuk mengubur jasad itu adalah rahmat, bila tidak dikubur semua orang akan mengutuk orang yang meninggal tadi karena bau busuk yang berasal dari mayatnya.

Artinya, ketika kalian menguburnya, kalian juga sedang menutupi aibnya.

Salah satu Asma Allah SWT adalah As-Sattar, Dia Yang menutupi dosa. Dia sedang menutupi jasad dengan menguburnya. Kalian tak dapat melihat jasad itu di lantai, lalu hidup! Itulah ketakutan yang muncul dalam hati kalian.

Jika seseorang meninggal di rumah dan jasadnya dibiarkan di sana, orang pun akan merasa takut. Apa yang mereka takutkan? Kematian adalah heybet-penampakan yang agung- sesuatu yang gigih dalam tubuh, yang kalian rasakan ketika akan melihat malaikat pencabut nyawa. Allah SWT membuat hal itu sebagai rahmat ketika kita menguburnya di dalam tanah. Jika berada di atas tanah, kalian takkan berselera untuk makan dan minum saat melihat jasad tersebut, ia kelihatan menjijikan.

Ketika seseorang meninggal, setelah beberapa hari, kalian tidak bisa makan dan minum. Kalian menguburnya karena gambaran yang menjijikan itu. Jika kalian jijik dan merasa takut padanya, tahukah kalian apa yang dirasakan oleh orang yang telah meninggal itu terhadap hukuman Allah SWT?

Jawabannya, mereka sedang memanggil kalian.

Berapa banyak jasad yang sedang ketakutan akan siksaan Allah SWT dan ketika dikirim Malaikat Munkar AS dan Nakir AS. Orang itu ditinggal sendirian, di bawah tanah, tak mampu bergerak ke kanan dan ke kiri karena ada tanah di sampingnya untuk menjaga agar jasad tetap lurus.

Setiap orang akan mati, tak seorang pun terlewatkan. Nabi SAW bersabda bahwa Allah SWT mengirim roh kembali ke jasad tersebut. Begitu roh dikembalikan, orang itu pun duduk tegak. Dahinya terantuk tanah. Setiap kali dia ingin duduk kepalanya terantuk tanah. Saat itulah dia menyadari bahwa itu adalah kali terakhir dia berada di dunia.

Dia menyadari bahwa dia sedang berada di Akhirat.

Dua malaikat datang dan bertanya padanya, ”Siapa Penciptamu? Siapa pembawa pesan-Nya? Apa agamamu? Apa kitab sucimu?”

Replika Makam Grandsyekh Abdullah Fa'iz ad-Daghestani QS di Zawiyah Michigan, AS

Jika lidah kalian membeku pada saat itu, kalian berada dalam bahaya. Jika lidah kalian tidak berkelu dan mampu menjawab, maka kalian pun aman.

Itulah mengapa dulu para Syuyukh memerintahkan murid-muridnya untuk menyendiri di dalam liang kubur, untuk mengajari mereka, “Suatu hari kalian akan seperti itu.” Mereka pun sadar suatu hari pasti Allah SWT akan memanggil mereka. Jika kita merasakan ini dan menyadarinya, kita tidak akan duduk berleha-leha. Kita akan duduk di pojok, berzikir, berselawat dan membaca Quran, hanya memuji Tuhan kita dan menanti saat kematian.

Tetapi Allah SWT membuat kita ghaafil, lalai; membuat kita sibuk dengan pekerjaan dunia. Tanpa itu, dunia akan berhenti. Jika Allah SWT tidak membuat kita lalai, semuanya tak akan bergerak.

Para awliya bukanlah orang-orang yang lalai. Itulah mengapa setiap saat mereka selalu berzikir, setiap saat mereka mengikuti muridnya untuk mengawasi kelakuan mereka. 24 jam mereka mengawasi murid-muridnya. Semoga Allah SWT mengampuni dan menyelamatkan kita.

Saya sedang melihat dan teringat ketika dulu pernah melihat foto-foto dua orang wanita di dinding itu, dan saya teringat mereka meninggalkan semuanya dan pergi. Kalian tidak akan membawa apa pun, walaupun hanya baju dan cincin. Berangkat dan pergi. Semoga Allah SWT mengampuni kita. Ini sangat sulit – bagaimana menghadapi kuburan kita?

Rabi’a al-‘Adawiyya QS sering berada di sini dan menangis seharian sambil beristighfar. Beliau berkata, “Bagaimana aku tidak beristighfar? Sementara aku tak tahu bagaimana Sayyidina Izrail AS akan mengambil nyawaku; dengan siksaan-siksaan atau dengan kebaikan?”

Jika kalian tahu, maka semuanya akan lancar; tetapi tak seorang pun yang tahu!

Bi hurmatil Fatiha.