Showing posts with label Sayyidina Abu Bakar RA. Show all posts
Showing posts with label Sayyidina Abu Bakar RA. Show all posts

02 August 2009

Menghadapi Cobaan dengan Bersyukur

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

Mercy Oceans Book 2

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

 

Dengar dan jaga apa yang kalian dengar agar kalian memperoleh manfaat.  Grandsyekh kita berbicara tentang hal yang tidak disukai dan menggambarkan situasi dalam kehidupan.  Tidak ada sesuatu yang berjalan sesuai dengan apa yang kita sukai dan tidak ada orang yang dapat mentahbiskan tujuannya.  Kita bukanlah pemerintah, melainkan orang yang diatur oleh pemerintah.  Hidup ini penuh dengan berbagai hal yang tidak kita sukai dan juga di dalam setiap kenikmatan terdapat sesuatu seperti racun dalam buah zaitun.  Mengapa hal ini diciptakan?  Di dunia ini, kita bagaikan orang yang tenggelam di dalam Samudra, yang digulung oleh satu ombak disusul ombak yang lain.  Bagaimana seharusnya sikap kita menghadapi ombak-ombak ini?  Kita harus bersabar.   Allah SWT mengirimkan gelombang-gelombang itu dan berkata, “Aku menciptakan hidup dan mati untuk menguji kalian kepada kebaikan.”  Bila kita sabar dalam menghadapi hal-hal yang tidak kita sukai, Allah SWT memberi kita pahala yang tak terhingga.  Mengetahui hal ini, kalian tidak hanya akan bersabar, tetapi kalian akan merasakan kenikmatan dalam menghadapi hal-hal yang tidak disukai, dengan berpikir, “Sekarang Tuhan sedang memandangiku, mengujiku.”  Untuk mencapai daerah yang disukai kalian harus melewati daerah yang tidak disukai.  Jika tidak setuju dengan kondisi ini, kalian tidak dapat mencapainya.  Tak seorang pun masuk surga hingga ia melewati jembatan menyebrangi neraka.  Ini adalah Hikmah Ilahi.  Seseorang yang memohon rida harus bersabar melewati semua hal yang tidak disukai.  Tetapi kita, orang-orang yang bodoh melarikan diri dari hal-hal yang tidak disukai dan mengejar hal-hal yang disukai dan tidak pernah mencapainya.  Ini adalah ujian dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.  Kita tidak boleh melarikan diri, kita harus teguh dalam menghadapinya. 

Ujian kita sesuai dengan kekuatan iman kita.  Allah SWT tidak akan membebani kita melebihi apa yang dapat kita tanggung.  Jangan berpikir bahwa Dia akan menguji kalian dengan ujian yang dikirimkan kepada para nabi dan awliya-Nya.  

Suatu hari Abu Bakar ash-Shiddiq RA sedang duduk di masjid Nabawi, ketika seorang pendeta mendekatinya sambil memberi salam.  Sang Khalifah bertanya, “Untuk apa kau datang?”  Pendeta itu berkata, “Aku datang dari Syam.  Ada 100 pendeta lain bersamaku, membawa 100 pertanyaan yang akan kami tanyakan kepadamu dari apa yang telah kami baca dalam kitab suci.”  Jika engkau menjawabnya, kami siap untuk beriman kepada Nabimu SAW.”  Dalam menghadapi tantangan semacam itu, lihatlah sikap Abu Bakar RA.  Beliau berkata, “Tanyalah apa yang kalian suka.  Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas seizin Allah SWT.”  Itu artinya bahwa kita bukanlah apa-apa, tetapi bersama Allah SWT kita adalah segalanya.  Ini adalah jalan menuju kesuksesan, yaitu mengetahui bahwa kita adalah lemah, tetapi bila kita bersama Allah SWT, kita mempunyai kekuatan.  Ketika para pendeta itu tiba, Sayyidina Ali RA, KW hadir dan menjawab seluruh pertanyaan sebelum mereka sempat menanyakannya sehingga mereka semua masuk Islam.  Ini adalah berkah, dari seseorang yang mengetahui bahwa ia selalu memerlukannya.  Ini adalah suatu kehormatan bagi hamba.  Jangan takut.  Ada kehormatan yang tak terhingga bagi hamba-hamba yang bersama dengan Tuhan mereka.

27 October 2008

Posisi Tarekat Naqsybandi

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

Insya Allah kita akan berbicara mengenai suatu hal yang sangat penting.  Mengenai aliran tarekat.  Begitu banyak orang datang ke Damaskus dari berbagai negri asalnya untuk mengunjungi kami.  Beberapa di antara mereka sudah terikat dengan seorang Syekh dan mengikuti tarekat tertentu.  Mereka meminta bay’at yang baru.  Salah satu dari mereka, Syekh Salahuddin mengalami konflik mengenai hal ini dalam batinnya.  Kami harus memperjelas hal ini bagi setiap orang di seluruh dunia agar mereka mengetahui apa itu tarekat, apa itu Syekh, berapa banyak jumlah mereka dan bagaimana hubungan mereka satu sama lain.

Allah SWT akan bertanya kepada setiap orang di Hari Akhir nanti, “Apa yang kamu bawa hari ini, wahai hamba-Ku?”  Apakah kamu membawa Qalb-us-Saliim, hati yang murni, hati emas yang mulia?”  Allah SWT meminta setiap orang agar mempunyai hati yang bersih.  Kalian hanya bisa mendapatkannya melalui tarekat.  Mereka yang tidak menjalani tarekat hanya memenuhi hidupnya dengan kehidupan luar, meninggalkan hatinya.  Ada 41 aliran tarekat, 40 di antaranya diturunkan melalui hati Imam ‘Ali RA, KW dan satu lagi, Tarekat Naqsybandi berasal dari Abu Bakar ash-Shiddiq RA.  Rasulullah SAW mempunyai 124.000 sahabat.  Siapa sahabat terdekatnya?  Beliau adalah Abu Bakar RA.  Rasulullah SAW bersabda, “Seluruh hal yang Allah SWT percayakan kepadaku di malam ‘Isra, telah kutanamkan ke dalam hati Abu Bakar RA.”  Sayyidina Ali RA, KW dihubungkan dengan Abu Bakar RA sedemikian rupa sehingga Sayyidina Ali RA, KW mendapat gelar Kota Pengetahuan.  Hal ini dikenal sangat baik di antara para Syekh pemegang tarekat yang sebenarnya.  Mereka semua menghormati Tarekat Naqsybandi sebagai yang pertama.  Syekh sejati, bukan mereka yang menyebut dirinya sendiri Syekh, seluruh Syekh yang termahsyur, seperti: Jilani QS, Rumi QS, Darqawi QS, Rifa’i QS mereka semua mengetahui posisi sebenarnya dari Tarekat Naqsybandi.  Sekarang jika seseorang berada dalam satu aliran tarekat, mereka bisa saja mengambil Tarekat Naqsybandi dan tetap bebas menjalankan amalan-amalan seperti biasanya atau menjalankan amalan Tarekat Naqsybandi.  Jika hanya melakukan amalan Tarekat Naqsybandi saja itu sudah cukup.  Tidak menjadi masalah apabila kalian berasal dari tarekat lain kemudian mengikuti Tarekat Naqsybandi.  Beberapa orang merasa takut kalau Syekhnya mendengar bahwa dia telah menganut tarekat kedua lalu dia akan marah.  Jika dia adalah Syekh sungguhan, bagaimana mungkin dia bisa marah?  Seorang Syekh sejati harus mengetahui apakah muridnya bersama dia di Hari Perjanjian (pada awal penciptaan) atau tidak.  Seorang penggembala mengetahui keadaan biri-birinya, satu dalam seribu, bahkan jika mereka semuanya berwarna putih.  Dia memiliki cahaya di matanya dan mengenal mereka tanpa membuat kesalahan.  Dalam tarekat tidak ada kepiluan bila seorang murid pergi ke Syekh yang lainnya.  Kami berterima kasih kepada Syekh pertama yang telah melatihnya sampai dia bertemu Syekh yang sesungguhnya.  Abu Yazid QS berkata, “Selama melakukan pencarian, Aku bertemu 99 Syekh sebelum Aku bertemu Grandsyekh Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq RA.”  Kalian bisa bertemu dengan banyak Syekh dan melakukan suatu amalan, tetapi tidak akan menemukan kepuasan sampai akhirnya kalian menemui Grandsyekh kalian, lalu seperti sungai yang bertemu samudra.  Begitu banyak Syekh yang hanya menjadi pelatih, sampai akhirnya Grandsyekh memanggilmu.  Bukan melalui surat, dari hati ke hati, di sana banyak sekali jalan.  Jika seorang Naqsybandi Syekh memberi tarekat, beliau harus memberitahu muridnya siapa Grandsyekh di Tarekat Naqsybandi saat itu dan beliau harus mengarahkan kepadanya.

Begitu banyak orang dari Barat yang berdatangan sekarang, diundang melalui hatinya untuk menemui Grandsyekh.  Mata rantai para Masyaikh berakhir pada satu titik.  Grandsyekh adalah mata rantai terakhir dalam Mata Rantai Emas dan beliau memegang posisi itu, Saya (Syekh Nazim QS-red) hanyalah hambanya.  Untuk Masyaikh Naqsybandi, kita semua menunggu mereka untuk memperbarui bay’at-nya dengan kita, jika tidak mereka hanya menyematkan gelar di diri mereka sendiri.  Imam Mahdi AS dan ketujuh wazir (panglima) besarnya, 40 khalifah, 99 termasuk 40 orang yang berada di sisi wazir dan 313 Mursyid besar semua berada di Tarekat Naqsybandi.  Di masa ini tidak ada kekuatan bagi tarekat lain untuk membawa seluruh orang mencapai tujuan akhirnya.  Oleh sebab itu semuanya diundang untuk memperbarui bay’at-nya dari Grandsyekh dan semua akan merasakan adanya kemajuan pada dirinya.  Di masa kita, ada sekitar 1000 Syekh Naqsybandi, tetapi hanya satu Grandsyekh.  Membawa mereka semua, siapa yang akan menjadi Imam?  Jika 124.000 sahabat dibawa, siapa yang akan menjadi Imam?  Abu Bakar RA. 

Setiap Syekh harus menunjuk satu orang deputi.  Mawlana Khalid al-Baghdadi QS menunjuk Syekh Ismail QS, tetapi banyak sekali cabang Tarekat Naqsybandi yang menghilangkan namanya dari silsilah dan dengan demikian juga kehilangan rahasia Grandsyekh.  Sekarang banyak sekali Syekh Naqsybandi yang berada di Damaskus, Aleppo, dan Homs tidak dapat menemukan penerusnya.  Kecuali bagi Grandsyekh kita, tidak ada seorang pun yang ditunjuk sebagai deputi.  Hal ini karena kita mempunyai Syekh Ismail QS dalam silsilah kita.


21 July 2008

Tasawuf: Dulu dan Sekarang

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Di masa Nabi SAW tasawuf adalah sebuah realitas tanpa nama; kini tasawuf adalah sebuah nama, tetapi hanya sedikit yang mengetahui realitasnya.”

Umat Islam sekarang memerlukan ulama-ulama yang baik yang melaksanakan ajaran Islam dengan benar (‘alimun ‘aamil), mencoba dengan segala kemampuannya untuk mengembalikan apa yang telah rusak dalam agama Islam selama bertahun-tahun ke belakang dan mereka yang mampu membedakan antara yang benar dan salah, halal dan haram, yang percaya kepada yang haqq dan melawan yang batil, serta tidak menakut-nakuti siapa pun yang berada di jalan Allah SWT.

Umat Muslim sekarang tidak mempunyai orang yang bisa memberi nasihat atau membimbing mereka dalam mempelajari agama dan perilaku atau kebiasaan yang terpuji yang diajarkan dalam Islam. Sebaliknya, kita hanya melihat para ulama yang pura-pura mengetahui sesuatu, lalu berusaha menerapkan ide-ide dan akidah Islam yang telah mereka kotori kepada setiap orang. Pada setiap kesempatan konferensi misalnya, mereka memberikan ceramah mengenai Islam dari perspektif yang sangat sempit dan terbatas, tidak berdasarkan bimbingan para sahabat Nabi SAW atau para Imam besar Islam dan tidak pula berdasarkan konsensus (ijma dan qiyas) sebagian besar para ulama Islam.

Jika para ulama itu mau mendengar nuraninya lebih dalam dan kembali kepada loyalitas dan kejujuran dalam Islam tanpa campur tangan pemerintah atau kekuatan lain yang mengontrol negara-negara Muslim dengan uang mereka, mengabdikan dirinya hanya untuk berdakwah dan irsyad (memberi petunjuk ke jalan yang lurus) dan berzikir kepada Allah SWT dan Nabi SAW, barulah situasi di dunia Islam akan berubah dan kehidupan Muslim akan meningkat dengan pesat. Harapan kita pada tahun 1416 H ini, Muslim di Amerika dan di seluruh dunia akan bersatu kembali, saling berhubungan dalam satu tali, yaitu Tali Allah SWT untuk memantapkan sunnah dan syariah Nabi SAW.

Jika orang-orang ingin meninjau sejarah lebih dalam lagi, mereka akan menemukan bahwa setelah perjuangan para sahabat yang gagah berani, Islam tersebar ke seluruh penjuru Timur dan Barat serta Timur Jauh melalui dakwah dan irsyad para ulama dan para pengikut tasawuf (sufisme). Mereka mengikuti jejak yang benar dari para Khalifah Rasulullah SAW. Mereka adalah para ulama sufi yang sejati, yang menopang pengajaran al-Qur’an dan Sunnah dan tidak pernah menyimpang dari keduanya.

Sifat zuhud dalam Islam berkembang pada abad pertama Hijriah dan dikembangkan dalam sekolah-sekolah yang mempunyai fondasi yang kuat dan menjadikan al-Qur’an dan syariah sebagai dasar pengajarannya, dan dijalankan oleh para ulama zahid yang dikenal sebagai sufi. Mereka di antaranya adalah keempat Imam pertama, yaitu Imam Malik, Imam Abu Hanifa, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, begitu pula al-Imam Abi ‘Abdallah Muhammad Al-BUKHARI, Abul Husain MUSLIM bin al-Hajjaj, Abu ‘Isa TIRMIDZI. Yang lainnya di antaranya Hasan al-Basri QS, al-Junaid QS, Imam Awzai’ termasuk at-Tabarani, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Ibnu Hajar al-Haythami, al-Jardani, Ibnu Qayyim al-Jawzi, Imam Muhyiddin bin Syaraf bin Mari bin Hassan bin Husain bin Hazam bin NAWAWI, Imam Abu Hamid GHAZALI, Sayyid Ahmad al-Faruqi as-Sirhindi QS. Dunia Muslim telah mengenal Islam melalui usaha para ulama zahid ini yang dikenal sebagai sufi karena loyalitas mereka, ketulusan dan kemurnian hatinya.

Kita tidak menyembunyikan fakta bahwa pada saat itu, beberapa musuh Islam datang dan mengadakan pendekatan yang ekstrim, menggunakan nama sufisme dan berpura-pura menjadi seorang sufi pada saat menyebarkan ide-ide anehnya dengan tujuan untuk memusnahkan ajaran sufi yang sejati dan meracuni pikiran Muslim mengenai tasawuf yang telah dianut mayoritas Muslim. Tasawuf sejati berlandaskan zuhud dan ihsan (kemurnian hati). Imam-Imam besar umat Muslim yang ajarannya diikuti di semua negri Muslim, dikenal mempunyai guru-guru sufi. Imam Malik, Imam Abu Hanifa (berguru kepada Ja’far ash-Shadiq AS), Imam Syafi’i (yang mengikuti Syayban ar-Rai’QS) dan Imam Ibnu Hanbal (gurunya adalah Bisyr al-Hafi QS) yang semuanya menganut tasawuf.

Semua pengadilan dan universitas di negri-negri Muslim menerapkan ajaran dari keempat Imam tersebut hingga sekarang. Misalnya: Mesir, Libanon, Yordania, Yaman, Djibouti, dan beberapa negara lain mengikuti mazhab Syafi’i. Sudan, Maroko, Tunisia, Aljazair, Mauritania, Libya dan Somalia mengikuti mazhab Maliki. Saudi Arabia, Qatar, Kuwait, Oman dan beberapa negara lain mengikuti mazhab Hanbali. Turki, Pakistan, India, Myanmar dan beberapa republik di Rusia mengikuti mazhab Hanafi. Negri-negri Muslim di Timur Jauh mengikuti mazhab Syafi’i. Sebagian besar pengadilan di negara-negara Muslim bergantung kepada fatwa-fatwa dari keempat mazhab ini dan keempatnya diterima. Imam Malik dalam ucapannya yang terkenal mengatakan, “man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafasaq, wa man tasawaffa wa taraqaha faqad tahaqaq.” Yang artinya, “Barang siapa yang mempelajari tasawuf tanpa fiqih, dia adalah seorang kafir zindik, dan barang siapa yang mempelajari fiqih tanpa tasawuf, dia adalah seorang yang fasik (korup), dan barang siapa yang mempelajari tasawuf dan fiqih, dia akan menemukan kebenaran dan realitas dalam Islam.”

Ketika sarana transportasi masih sulit, Islam dapat tersebar dengan cepat melalui usaha yang tulus dari para musafir sufi yang telah terdidik dengan baik sekali dalam disiplin zuhud yang tinggi (zuhud ad-dunya) yang memang diperlukan oleh mereka yang telah dipilih Allah SWT untuk melaksanakan tugas suci itu. Hidup mereka adalah dakwah dan mereka bertahan hidup hanya dengan roti dan air. Dengan cara hidup seperti itu mereka mampu mencapai Barat dan Timur Jauh dengan keberkahan Islam.

Di abad ke-6 dan 7 Hijriah, tasawuf berkembang dengan pesat karena diiringi kemajuan dan usaha yang keras dari para guru sufi. Setiap kelompok dinamai menurut nama gurunya, untuk membedakan dengan kelompok yang lain. Sama halnya dengan sekarang, setiap orang memegang gelar dari universitas di mana dia menjadi lulusannya. Walau demikian tentu saja Islam tetap sama, tidak pernah berubah dari satu guru sufi ke guru sufi yang lain, seperti halnya Islam tidak pernah berubah dari satu universitas ke universitas yang lain.

Namun demikian di masa lalu murid sangat dipengaruhi oleh perilaku dan moral yang baik dari guru-guru mereka. Oleh sebab itu mereka mempunyai sifat tulus dan loyal. Tetapi sekarang para ulama kita ‘kering’ dan Islam diajarkan kepada mereka di universitas non-Muslim oleh para profesor non-Muslim (Jika kalian pandai, kalian bisa mengerti).

Guru-guru sufi meminta muridnya untuk menerima Allah SWT sebagai Pencipta mereka dan Nabi SAW sebagai hamba dan utusan-Nya, menyembah Allah SWT pada saat sendirian, meninggalkan kebiasaan menyembah berhala, bertobat kepada Allah SWT, mengikuti Sunnah Nabi SAW, memurnikan hati mereka, membersihkan ego mereka dari kesalahan dan untuk memperbaiki akidah mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Mereka juga mengajarinya untuk bersifat jujur dan dapat dipercaya dalam segala hal yang mereka lakukan, bersabar dan takut kepada Allah SWT, mencintai sesama, bergantung kepada Allah SWT, dan segala sifat atau perilaku terpuji lainnya yang dianjurkan dalam Islam.

Untuk mencapai seluruh tingkatan yang tulus dan murni, mereka memberi murid-muridnya doa yang berbeda-beda seperti yang dilakukan oleh Nabi SAW, para sahabat, dan para tabi’iin. Mereka mengajarkan zikrullah, mengingat Allah SWT dengan membaca al-Qur’an, doa-doa dan tasbih dari Hadis serta dengan membaca Nama-Nama Allah SWT dan sifat-sifatnya yang terdapat dalam tahlil, tahmid, takbir, tamjid, tasbih menurut ayat-ayat dan Hadis Nabi SAW mengenai zikir (ini dapat ditemukan pada semua buku Hadis termasuk Bukhari, Muslim, Tabarani, Ibnu Majah, Abu Dawud dan lain-lain di bagian ‘Zikir dalam Islam’ di mana setiap orang dapat merujuk ke sana).

Guru sufi ini (ulama sejati) menolak ketenaran, jabatan tinggi, uang, dan kehidupan yang materialistik, tidak seperti ulama sekarang yang mengejar ketenaran dan uang. Mereka bersifat zahid dan hanya bergantung kepada Allah SWT, tunduk kepada firman-Nya, “ma khalaqtul Jinni wal Insi illa li ya’ buduun.” “Kami tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Sebagai hasil dari perilakunya yang baik dan sifat zuhudnya itu, mereka mampu meyakinkan orang-orang kaya untuk membangun masjid dan panti (khaniqah, zawiyyah) untuk seluruh umat Islam, juga membagikan makanan gratis dan penginapan gratis. Dengan demikian Islam dapat tersebar dengan cepat dari suatu negara ke negara yang lain melalui khaniqah dan masjid tersebut. Tempat seperti itu, di mana setiap orang miskin dapat makan dan menginap serta para tuna wisma dapat berteduh merupakan tempat pembersihan hati bagi orang miskin dan merupakan tempat terjalinnya hubungan antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang hitam dengan yang kuning, merah, putih, Arab dan non-Arab.

Nabi SAW bersabda dalam suatu hadis, “Tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab kecuali dalam hal kebajikan.” Tempat ini membuat orang dari berbagai ras dan bangsa berkumpul bersama. Sufi memegang teguh sunnah dan syariah. Sejarah mereka penuh dengan keberanian dan perjuangan di jalan Allah SWT, jihad fi-sabiil-illah, meninggalkan negri mereka untuk menyebarkan Islam dengan satu metode, yaitu cinta. Mereka mengajarkan manusia untuk mencintai sesamanya tanpa perbedaan ras, usia dan gender. Mereka memandang setiap orang berhak untuk dihormati terutama wanita, orang yang teraniaya, dan fakir miskin. Sufi bagaikan bintang yang terang yang menyinari seluruh dunia, memberi semangat kepada semua orang untuk berjihad fi sabiil-illah, berjuang di jalan Allah SWT, menyebarkan Islam, menolong fakir miskin, tuna wisma, dan mereka yang membutuhkan pertolongan baik jauh maupun dekat. Dengan Imannya, mereka bisa mencapai Asia Tengah sampai India, Pakistan, Tashkent, Bukhara, Daghestan, dan daerah-daerah lain seperti Cina, Malaysia, Indonesia dan lain-lain. Orang-orang sufi sejati tidak pernah menyimpang dari syariah dan sunnah Nabi SAW serta al-Qur’an.

Dua sumber utama tasawuf adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW, sebagaimana yang disampaikan lewat pemahaman Islam Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina ‘Ali RA, KW yang dianggap sebagai dua guru utama seluruh aliran sufi. Sayyidina Abu Bakar RA mewakili satu aliran tasawuf. Nabi SAW bersabda mengenai beliau, “Apa yang Allah SWT tuangkan ke dalam hatiku, Aku tuangkan pula ke dalam hati Abu Bakar RA.” “ma sab-Allahu fii sadrii syayan illa wa sabatuhu fii sadrii Abi Bakrin RA.” (Hadiqa Nadiah, diterbitkan di Kairo, 1313 H. hal.9). Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an [QS 9:40], “…sesungguhnya Allah SWT telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekah), dia tidak mempunyai siapa-siapa kecuali seorang teman dan keduanya berada dalam gua.” Nabi SAW bersabda dalam hadis lain, “Matahari tidak pernah bersinar lebih cerah pada orang-orang selain Abu Bakar RA, kecuali pada para Nabi.” (lihat Suyuti, Sejarah para Kalifah, Kairo, 1952. Hal. 46). Banyak hadis lain yang menerangkan posisi Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Aliran lain dalam tasawuf berasal dari Sayyidina ‘Ali RA, KW, mengenai beliau banyak sekali hadis yang bila dipaparkan akan memakan banyak halaman.

Sunnah Nabi SAW dan syariah yang melambangkan kewajiban, serta Ihsan yang melambangkan perilaku baik, semuanya melekat menjadi karakter para ulama sufi, mulai dari Sayyidina Abu Bakar RA yang menjadi khalifah Nabi SAW pertama, sampai sekarang.

Pada abad ke-13 Hijriah (± 19 M) sebuah mazhab yang dipengaruhi oleh ajaran dua ulama Islam dari abad ke-7 Hijriah (± 14 M) muncul. Mazhab ini adalah mazhab baru dalam Islam, yang walaupun mempunyai dasar mazhab Hanbali tetapi ternyata terdapat perbedaan akidah. Walaupun mazhab ini juga menerima tasawuf, tetapi dia lebih banyak mempunyai batasan dan mempunyai interpretasi yang sempit tentang apa yang dibolehkan dalam Islam dibandingkan dengan keempat madzhab yang pertama. Akhir-akhir ini para pengikut mazhab ini melakukan penyimpangan terhadap ajaran asli dari sang pendiri mazhab dan sering membesar-besarkan secara ekstrim dan membuat tuduhan kepada umat Muslim berdasarkan fatwa dari ulama-ulama modern yang hanya memiliki pemahaman Islam secara harfiah dengan sudut pandang yang terbatas, namun menjadi penentang bagi kelompok mayoritas Muslim. Keyakinan baru ini sekarang berkembang dengan pesat dengan dukungan minoritas Muslim yang mempunyai keyakinan sendiri dan interpretasi sendiri terhadap al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Orang-orang ini sekarang menentang sufisme dan mencoba untuk meremehkan semangat dan usaha keras para sufi sejati dalam menyebarkan Islam ke seluruh dunia selama kurun waktu 1300 tahun ke belakang.

Sebagai umat Muslim, kita menghormati semua mazhab dalam Islam tanpa diskriminasi. Tetapi sebaliknya kita tidak menerima orang yang memaksakan ide-idenya kepada kita, karena kita mengikuti keyakinan yang telah diterima oleh mayoritas Muslim, yang menerima tasawuf.

Di Amerika, kita terkejut melihat sejarah dan kebudayaan Islam selama 1400 tahun disangkal dan ditolak oleh sebagian kecil ulama dengan cara pandang mereka sendiri, seolah-olah selama 1400 tahun para ulama pengikut sufi dan keempat mazhab tidak ada dan tidak pernah ada.

Sebagai informasi bagi saudara-saudari, kami sampaikan beberapa nama dari sekian nama ulama modern yang mengikuti aliran sufi dan keempat mazhab, yang mewakili mayoritas Muslim di seluruh dunia. Mereka adalah:

Mufti Mesir, Hassanain Muhammad al-Mukhloof, anggota Liga Muslim Dunia,
Muhammad at-Tayib an-Najjar, Presiden Sunnah dan Syariah Internasional dan Rektor Universitas al-Azhar,
Syekh ‘Abdallah Qanun al-Hassani, ketua Majelis Ulama Maroko dan Deputi Liga Muslim Dunia,
Dr. Hussaini Hashim, Deputi Universitas al-Azhar Mesir dan Sekjen Institut Penelitian Makkah,
as-Sayyid Hashim al-Rafai, mantan Mentri Agama Kuwait,
as-Syekh Sayyid Ahmad al-Awad, Mufti Sudan,
asy-Syekh Malik al-Kandhalawi, Presiden Liga Muslim Pakistan dan Rektor Universitas Asyrafiya,
Ustaz Abdul Ghafoor al-Attar, Presiden Komunitas Penulis Sudi Arabia,
Qadi Yusuf bin Ahmad as-Siddiqui, Jaksa Pengadilan Tinggi Bahrain,
Muhmammad Khazraji, Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Zabara, Mufti Yaman,
asy-Syekh Muhammad asy-Syadzili an-Nivar, Rektor Universitas Syariah Tunisia,
asy-Syekh Khal al-Banani, Presiden Liga Muslim Mauritania,
Syekh Muhammad Abdul Wahid Ahmad, Mentri Agama Mesir,
Syekh Muhammad bin Ali Habsyi, Ketua Liga Muslim Indonesia,
Syekh Ahmad Koftaro, Mufti Syria,
Syekh Abu Saleh Mohammad al-Fattih al-Maliki, Ondurman, Sudan,
Syekh Muhammad Rasyid Kabbani, Mufti Libanon,
asy-Syekh as-Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hassani, Professor Syariah dan guru di dua Masjid Suci, Mekah dan Madinah,

dan masih banyak lagi yang berada di sekitar Arab dan negri-negri Muslim lainnya.

Wahai saudara-saudariku yang tercinta, juga ayah, ibu, dan anak-anak sekalian, Islam bersifat toleran (hilm), Islam adalah cinta, Islam adalah Kedamaian, Islam adalah rendah hati, Islam adalah kesempurnaan, Islam adalah zuhud, Islam adalah Ihsan. Islam berarti hubungan antar sesama, Islam berarti keluarga, Islam adalah persaudaraan, Islam berarti persamaan, Islam adalah satu tubuh, Islam adalah ilmu pengetahuan, Islam adalah spiritualitas. Islam mempunyai pengetahuan lahir dan batin yang sama baiknya. ISLAM ADALAH SUFISME, SUFISME ADALAH ISLAM.

Terakhir, Islam adalah Cahaya yang diturunkan Allah SWT melalui utusan-Nya, Rasulullah Muhammad SAW, yang merupakan simbol kebenaran Allah SWT. Tanpa keraguan, beliau adalah perantara bagi semua orang, dan ini telah disebutkan dalam semua buku fiqih.

Semoga Allah SWT mengampuni kita atas kesalahan dan kekurangan dalam presentasi ini.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuhu

Yang terlemah di hadapan Allah SWT, hamba yang melaksanakan sunnah Nabi SAW,


Syekh Muhammad Hisyam Kabbani:
Presiden As-Sunna Foundation of America
607 A West Dana

Mountain View, CA 94041

03 June 2008

Islam Bersifat Dinamis, tidak Pasif

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS berbicara tentang dua karakter yang dimiliki para anbiya, yaitu: memiliki himma, aspirasi tinggi dan dinamis, tidak pernah malas. Kedua karakter itu merupakan warisan Anbiya. Mereka sangat ringan dalam bekerja karena jiwa mereka berasal dari surga.

Sifat malas berasal dari setan. Kalian tidak dapat menemukan seorang rasul yang duduk bermalas-malasan dan menikmati dunia atau meminta istirahat. Mereka bagaikan sungai yang selalu mengalir menuju ke laut. Setiap wali bersifat dinamis. Makin tebal iman seseorang, ia akan semakin aktif. Tidak ada tindakan berarti tidak beriman. Ada 500 kebaikan dari Sunnah Rasulullah SAW. Al-Qur’an mengatakan, “Ketika kamu telah selesai dari suatu pekerjaan, kerjakanlah pekerjaan berikutnya.” Kita dianjurkan agar selalu aktif dalam segala situasi, inilah bimbingan yang terbaik bagi kita. Setiap agama tidak mengajurkan para pemeluknya untuk bermalas-malasan. Beberapa orang menganggap bahwa Islam membuat orang menjadi pasif (Agama adalah racun bagi masyarakat). Mereka sebenarnya adalah para pembohong yang tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Mereka mempelajari suatu ilmu di Barat lalu mengklaim hal tersebut. Saya merasa prihatin terhadap gejala ini. Sebelum Islam datang, bangsa Arab laksana tertidur dan menjadi budak bangsa Roma dan Persia. Setelah Islam datang, mereka sanggup menaklukkan daerah-daerah di pesisir Samudra Atalantik hingga Samudra Hindia.

Syekh ‘Abdullah Faiz ad Daghestani QS berkata bahwa setiap orang yang aktif akan masuk Surga, sebaliknya orang-orang yang malas akan masuk Neraka. Bahkan bagi orang-orang yang aktif dalam mengejar dunia, keaktifannya itu akan membimbingnya menuju kebaikan pada akhirnya, bagaikan air deras yang mengalir dari hulu di pegunungan menuju hilir di dataran rendah dan memberi manfaat. Untuk berjuang melawan ego, seseorang harus mempunyai sifat dinamis. Seseorang yang mendaki gunung harus memiliki energi, sebaliknya untuk menuruni gunung sifat dinamis tidak terlalu diperlukan. Orang-orang yang duduk-duduk di sebuah pub atau kafe tidak bisa disebut sebagai orang yang dinamis, mereka justru pemalas. Orang yang bekerja dengan serius dan menghasilkan karya yang dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh banyak orang mempunyai sifat yang diwariskan oleh Rasulullah SAW.

Siapa yang tidur terlalu banyak juga termasuk pemalas. Tidur lebih dari 8 jam akan menyakiti tubuh. Seperti halnya tidak cukup tidur, tubuh akan menjadi lemah dan lelah. Untuk sebagian orang Allah SWT memberi kemampuan kepada mereka untuk tetap terjaga dan tidak membutuhkan tidur. Seorang murid di Basra yang bernama Sunnetji Tahsin diperintahkan oleh Syekh Syarafuddin QS untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang tertinggal setelah diadakan jamuan makan malam. Pada saat itu masih tersedia cukup banyak makanan untuk 20 orang, tetapi ia menghabiskannya semua, bahkan tidak menyisakan sebutir nasi pun di setiap piring. Malam itu Syekh Syarafuddin QS memerintahkan Syekh ‘Abdullah QS untuk mengeceknya. Lalu beliau pergi ke ruangannya dan menemukan Tahsin sedang berdiri tak bergerak, meleburkan diri dalam Hadirat Ilahi, sampai 1 jam sebelum subuh, lalu ia mulai melakukan salat tahajjud. Pada saat azan Subuh ia pergi ke masjid, salat, dan duduk untuk berzikir sampai matahari terbit. Kemudian ia melakukan salat isyraq lalu mengambil kapaknya dan pergi untuk bekerja. Jika seseorang ingin mendapatkan kekuatan seperti itu dan tidak membutuhkan tidur, lalu ia berniat untuk tidak tidur karena Allah SWT, agar Allah SWT rida kepadanya, maka ia harus melakukan latihan selama 40 hari. Hal ini berarti setiap kali merasa ngantuk, cepat lakukan wudu dan salat 2 rakaat, begitu seterusnya. Jika ia bersabar dan mengerjakannya selama 40 hari, ia akan mempunyai kekuatan seperti malaikat, tidak memerlukan tidur lagi. Awliya, jika mereka seperti ini, itu karena mereka telah diperintahkan dan mendapat izin dari Rasulullah SAW.

Orang banyak berpikir bahwa banyak makan akan membuat tubuh menjadi kuat, oleh sebab itu mereka makan banyak bahkan terlalu banyak. Seseorang yang berkata, “Aku merasa kenyang dengan makanan malam ini,” sesungguhnya ia berdosa di Hadirat Ilahi. Allah SWT yang membuat kalian kenyang, bukan makanan itu. Dia dapat membuat kalian kenyang hanya dengan sepotong makanan. Syekh ‘Abdullah QS berkata bahwa ketika Dajjal datang seluruh Muslim akan mendapat perlindungan di Syam. Syekh Muhyiddin (Ibn Arabi QS) berkata bahwa banyak sekali orang yang akan mendatangi kota Syam dan kota ini akan semakin luas, sisi di balik gunung akan menjadi sama luas dengan sisi sebelahnya dan tidak ada tempat yang tersisa lagi bahkan untuk sekedar menapakkan kaki saja, mungkin kota itu bisa menampung 50 juta orang. “Bagaimana mereka akan makan dan minum?” tanya Abu Bakar RA kepada Rasulullah SAW. “Takbir Imam Mahdi AS akan memberi Kekuatan Ilahi bagi seluruh Mukmin. Sepotong makanan akan cukup untuk 40 hari.”

Orang-orang juga berpikir bahwa banyak tidur membuat tubuh beristirahat dan segar. Tidak, Allah SWT -lah yang menyebabkan hal itu. Mungkin dengan 5 jam tidur seseorang tidak akan mendapatkan istirahat sementara itu hanya dengan 5 menit seseorang yang lain malah dapat beristirahat dengan cukup. Waktu terbaik untuk tidur adalah tepat setelah salat ‘Isya sampai 1 jam sebelum Subuh. Tidur lebih awal adalah yang terbaik. 4 jam setelah ‘Isya (sebelum tengah malam) bagaikan 8 jam di waktu-waktu yang lain. Ini akan membuat orang mampu meningkatkan ibadahnya dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Sekarang orang-orang mengisi waktu tersebut dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, ngobrol-ngobrol atau menonton TV. Ini adalah salah satu sebab datangnya penyakit. Waktu terbaik kedua untuk tidur adalah antara waktu matahari terbit sampai siang, sedangkan waktu antara siang hingga sebelum Ashar adalah yang terbaik ketiga. Tidak baik tidur pada kurun waktu antara Subuh hingga matahari terbit dan paling buruk waktu tidur antara Ashar hingga matahari terbenam. Rasulullah SAW bersabda jika sesuatu yang buruk menimpa orang yang sedang tidur di waktu tersebut, ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tanggung sendiri akibatnya. Bagi orang yang tidur lebih dari 8 jam sehari, ia harus berkata kepada dirinya sendiri, “Saya pemalas!”

30 May 2008

Keutamaan Salat Subuh dan Isya

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Al-Haqqani QS

Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS berkata bahwa perilaku yang baik adalah hal terpenting dalam tarekat dan dalam semua ajaran agama. Dengan beribadah, orang bisa mendekati Surga, tetapi dengan perilaku yang baik, adab, orang bisa mendekati Tuhannya. Tidak diragukan lagi bahwa kedekatan terhadap Allah SWT lebih baik dibandingkan hanya ibadah saja. Ibadah tanpa adab ibarat tubuh tanpa jiwa, karena adab adalah jiwa bagi ibadah. Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS adalah orang yang sangat baik dalam mengajarkan adab ini. Syari’at mengajarkan ibadah sementara itu tarekat mengajarkan cara menjaga adab terhadap Allah SWT. Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS pernah berbicara mengenai manisnya ibadah. Allah SWT mengajarkan kepada kita melalui Rasul-Rasul-Nya jenis-jenis ibadah yang paling diterima. Ibadah apa yang paling indah di antara mereka semua? Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS berbicara atas nama 7007 Syekh Naqsybandi, karakteristik mereka telah mencapai kehidupan yang sesungguhnya selama berada di dunia (yang fana ini) dan semua telah memberikan suatu ilmu yang haqiqi, pandangan atau visi dan kebenaran yang haqiqi. Mereka berbicara dengan kebenaran yang nyata sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Kita dapat mempercayai mereka tanpa keraguan sedikit pun dan seluruhnya sepakat bahwa ibadah yang paling indah adalah salat Fajr (subuh). Salat itu sangat penting karena setiap subuh Allah SWT memberikan kekuatan suci-Nya kepada setiap makhluk. Kehidupan yang baru timbul dari setiap makhluk dan peristiwa ini harus disaksikan oleh seluruh makhluk. Bahkan orang-orang yang lalai dan tidur, jiwanya telah siap untuk upacara tersebut. Rasulullah SAW, yang merupakan wakil Allah SWT yang paling mulia memerintahkan Bilal RA untuk mengumandangkan azan di Surga pertama. Seluruh wali dan rasul dari Alam Barzakh wajib menghadiri salat itu, fardhu bagi mereka. Bagi kebanyakan orang di alam Barzakh yang selama di dunia ini tidak mampu mencapai level karakter manusia yang sejati, salat ini tidak wajib bagi mereka, tetapi sunnah. Seperti salat Jumat adalah fardhu bagi pria dewasa yang merdeka dan berbadan sehat, tetapi tidak wajib bagi wanita, budak, dan orang yang lumpuh atau buta. Rasulullah SAW bertindak sebagai Imam dan Bilal RA mengumandangkan azan setiap hari di alam Barzakh. Semua orang yang mendengar azan tersebut harus menghadiri salat itu. Dari pertemuan itu datang cahaya kepada semua Imam yang memimpin salat Subuh di bumi. Perwakilan para jemaah hanya gambaran saja di sini, sebenarnya mereka salat di sana.

Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS berkata bahwa para awliya mampu mendengar azan yang dikumandangkan oleh Bilal RA di Surga, karena mereka melaksanakan syari’at dengan ketat, sebagai tanda bahwa ini adalah jalan satu-satunya untuk mencapai Surga. Beliau mengatakan bahwa Allah SWT menunjuk satu malaikat untuk setiap kelompok yang melakukan salat Subuh berjamaah dan siapa saja yang mengikuti salat itu akan diberi ganjaran seolah-olah ia telah melakukan salat bersama Rasulullah SAW. Allah SWT membuat salat itu sebagai alasan yang kuat untuk melindungi para jamaah dari gangguan Setan dan marabahaya pada hari itu. Allah SWT berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian harus mengetahui dengan pasti bahwa salat bisa menjaga kalian dari setiap kejahatan dan Setan. Setiap orang yang melakukan salat Subuh akan selamat.

Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS berkata bahwa mukmin pertama dalam Islam, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq RA, suatu ketika bertanya kepada Rasulullah SAW, “Yaa Rasulallah SAW, bagaimana gambaran tentang level terendah dari salat yang diterima yang dapat memberi perlindungan kepada orang yang melakukannya.” Beliau menjawab, jika seseorang mengucapkan takbir, “Allahu Akbar,” berniat untuk salat, tetapi kemudian pikirannya melayang ke mana-mana sehingga yang dapat diingat setelah itu hanyalah ucapan, “As-Salamu ‘Alaykum,” pada akhir salat, itu saja sudah cukup dan akan melindunginya dari kemurkaan Allah SWT di Akhirat.

Mengenai salat ‘Isya, Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS mengatakan bahwa Allah SWT menciptakan malaikat khusus dari Cahaya Ilahi dan mereka selalu hadir di Surga Pertama setiap malamnya. Abu Bakar ash-Shiddiq RA adalah Imam mereka. Siapa pun yang mengerjakan salat ‘Isya secara berjamaah akan diberi ganjaran seolah-olah ia telah melakukan salat bersama Abu Bakar RA. Cahaya malaikat ini begitu rupa sehingga hanya para Syekh dari Tarekat Naqsybandi yang dapat melihatnya. Melakukan salat ‘Isya berjamaah dapat melindungi kita dari kejahatan di malam itu. Sekarang kalian mengetahui betapa bernilainya salat Subuh dan ‘Isya. Jadi Setan tidak akan membiarkan kalian begitu saja, mereka akan mengatakan bahwa kamu butuh istirahat pada waktu itu. Siapa pun yang berjuang untuk melakukan salat adalah seorang pejuang dalam Jihad al-Akbar.

28 May 2008

Rahasia Tiga Cahaya

shuhba Mawlana Syekh Muhamaad Hisyam Kabbani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Yang menjadi judul dari setiap pelajaran adalah “Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisaa’ [4]: 59). Kalian harus mematuhi Allah SWT, patuh kepada Rasulullah SAW, dan kalian harus mematuhi para pemimpin kalian. Dengan mematuhi Rasulullah SAW, berarti kalian mematuhi Allah SWT. Kemarin kami mengatakan bahwa Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS dan Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa ketika Rasulullah SAW lahir, para malaikat mengambil jiwanya dan membasuhnya dengan Cahaya Ilahi, dengan Air Kehidupan. Salah satu Nama Allah SWT adalah ‘al-Hayy’, Yang Maha Hidup. Dari Atribut Nama itu, Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk membasuh jiwa Rasulullah SAW. Kemudian Allah SWT menyandangkan jiwa Rasulullah SAW dari Samudra Kekuatan dan memberinya kekuatan yang berasal dari lima tingkatan hati, yang juga dapat ditemukan dalam hati setiap orang, yaitu: Level Hati (qalb), Rahasia (sirr), Rahasia dari Rahasia (sirr as-sirr), Yang Tersembunyi (khafa), dan Yang Paling Tersembunyi (akhfa). Ketika kelima tingkatan ini dibukakan kepada Rasulullah SAW, mereka datang dengan dukungan Cahaya Ilahi, “an-nur al-ilahi,” suatu cahaya yang istimewa yang terus-menerus mengalir, seperti yang dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 7, “Ketahuilah bahwa Rasulullah SAW berada di dalam dirimu,” karena jika bukan karena Cahaya Ilahi yang berada dalam diri setiap orang, kita tidak akan bisa hidup. Maksud dari ‘kekuatan yang di sandangkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW’ adalah bahwa Rasulullah SAW berada dalam diri setiap orang di antara kita.


Pengetahuan mengenai hal ini tidak ditemukan dalam syariat (hukum Islam), namun demikian syariat harus tetap dilaksanakan dengan seksama di seluruh aspek kehidupan. Jangan berbicara seperti yang dikatakan oleh kelompok lain, “Kita tidak memerlukan syariat,”—jangan. Syariat adalah suatu keharusan dalam menjalani Sufisme. Insya Allah kita sekarang akan melanjutkan apa yang kita bicarakan kemarin.

Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa Rasulullah SAW tidak mengalami mi’raj (kenaikan) menuju ke Hadirat Ilahi pada tanggal 27 Rajab saja, tetapi sejak beliau lahir dan sejak jam pertamanya, beliau telah diambil oleh para malaikat untuk disandangkan dengan Samudra 99 Nama oleh Allah SWT, setiap Nama adalah satu Samudra. Beliau disandangkan dengan segala pengetahuan ini sejak awal kelahiran beliau. Dengan menyandangkan beliau dengan Nama-Nama itu, Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW suatu kekuatan yang istimewa yang tidak bisa diraih oleh manusia. Inilah sebabnya walaupun beliau buta huruf dan berasal dari padang pasir di mana tidak ada seorang pun yang mengetahui cara membaca dan menulis, tetap saja beliau mempunyai segala macam pengetahuan ini. Suatu hal yang sangat menakjubkan, membawa sesuatu seperti al-Qur’an yang suci, di mana tak seorang pun bisa menirunya, bahkan satu ayat saja—tidak ada yang bisa menandingi keindahannya yang melebihi puisi paling murni yang pernah didengar.

Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa Allah SWT telah memberi Rasulullah SAW kekuatan bukan untuk dirinya saja, melainkan untuk seluruh umatnya—untuk kita. Kekuatan dan pengetahuan yang diberikan kepada Rasulullah SAW adalah untuk umatnya. Dan siapa yang termasuk umatnya? Apakah kalian pikir bahwa itu adalah kita? Seluruh umat manusia adalah umat Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah SWT kepada Adam AS, ayah dari seluruh umat manusia, “Jika Muhammad SAW datang di masamu, niscaya engkau akan menjadi pengikutnya.” Dan dalam al-Qur’an yang suci, “wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin,“ “Kami tidak mengutus kalian kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (al-Anbiya’ 107). Allah SWT tidak mengatakan “untuk umatmu,” tetapi “untuk seluruh umat manusia.” Oleh sebab itu Rasulullah SAW diberi kekuatan dari Allah SWT untuk seluruh ras manusia. Ciptaan Allah SWT yang kita tidak ketahui sangat banyak, tidak terhingga jumlahnya. Ketika kalian meninggal dunia, pada saat itu kalian terjaga dan kalian akan mengetahui apa yang Allah SWT ciptakan di alam semesta yang lain. Di kehidupan ini kalian tidak bisa mengetahui ciptaan Allah SWT yang lainnya, di mana mereka tinggal, dan apa yang mereka lakukan, kecuali jika kalian sanggup membuka mata hati kalian. Hal ini dilakukan secara terus-menerus melalui jalan guru kita, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS. Itu adalah jalur yang kita yakini, dan hanya satu yang dapat kita ikuti untuk menemukan realitas tersebut. Tanpa mengikutinya, tidak ada yang bisa ditemukan.

Ketika energi dialirkan, bola lampu hanya akan berhenti memberikan cahaya bila ia terbakar. Jika hati kita terbakar dan berhenti bekerja, cahaya tidak bisa ditemukan lagi dalam hati. Oleh sebab itu seseorang harus menjaga mata hatinya agar selalu terbuka sehingga bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat mata mata fisik ini. Baru kemudian kerusakan ini dapat dicegah. Allah SWT berfirman di dalam al-Qur’an yang suci, “wa laqad karramna bani adam,” “Kami telah memuliakan anak-anak Adam AS” (al-Isra’ 70). Bagaimana Allah SWT memuliakan mereka? Dan sekali Dia memuliakan mereka, apakah Dia akan mencabutnya kembali? Jika seorang yang murah hati memberimu sesuatu, apakah ia akan mengambilnya kembali? Allah SWT berseru kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul-Ku yang tercinta, Aku telah menciptakan umat manusia dari tiga cahaya. Ketiganya tidak akan menjadi gelap.” Mawlana Syekh Nazim QS bertanya bagaimana Allah SWT memuliakan umat manusia ini, jawabnya dengan memberi mereka ketiga cahaya tersebut. Ketiganya tidak akan menjadi gelap karena dosa-dosa yang telah kita perbuat.

Yang pertama adalah Cahaya Ilahi. Ketika Allah SWT menciptakan umat manusia, Dia memerintahkan malaikat Jibril AS untuk pergi ke bumi dan membawa segumpal tanah liat. Ketika Jibril AS kembali, Allah SWT melihat tanah liat itu dengan Cahaya Ilahi-Nya, dan mencampurkan tanah liat itu dengan Cahaya Ilahi-Nya.

Yang kedua adalah Cahaya Rasulullah SAW, yang namanya tertulis di samping Nama Allah SWT pada masa “sebelum kejadian” penciptaan, ketika Allah SWT memerintahkan pena untuk menulis “La ilaha illAllah SWT Muhammadun Rasulullah SAW.” Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa pengetahuan ini berasal dari hati Imam Mahdi AS. Pengetahuan ini nanti akan dibuka ketika beliau datang, sekarang kalian hanya bisa menciumnya, seperti halnya mencium wangi parfum dari kejauhan.

Yang ketiga adalah cahaya dari ayah kita, Adam AS. Allah SWT mencampurkan cahaya Adam AS dengan tanah liatnya, itulah sebabnya mengapa seluruh generasi manusia berasal darinya, dan Allah SWT berkata kepadanya, “Wahai Adam AS, jika Rasulullah SAW lahir di masamu, engkau akan menjadi pengikutnya. Oleh sebab itu, jangan katakan bahwa kau adalah ayahnya, karena secara spiritual beliau adalah ayahmu.”

Umat manusia tersusun dari ketiga cahaya itu, satu dari Cahaya Ilahi, satu dari cahaya Rasulullah SAW, dan satu lagi dari cahaya Adam AS. Allah SWT berfirman kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, karena tidak ada perubahan dalam Kebesaran-Ku, maka tidak akan ada perubahan bagi kemuliaan yang telah Kuberikan kepada umat manusia.” Oleh sebab itu seluruh umat manusia mempunyai level dan posisi yang sama di Hadirat Ilahi. Hal ini berasal dari rahasia ayat al-Qur’an yang suci, “Kami telah memberi kemuliaan kepada umat manusia.” Bahkan, jika sekarang kita mengakui adanya perbedaan, dengan mengatakan, bahwa ini adalah orang yang beriman, sedangkan itu adalah orang-orang kafir---penilaian ini sesungguhnya milik Tuhanmu. Jangan bicara mengenai perilaku buruk seseorang, atau mengenai kekafiran, atau bid’ah, itu semua bukan urusanmu. Urusan kita adalah menjaga agar ketiga cahaya tersebut tetap bersih. Kita tidak suka bila ketiga cahaya itu ternoda seperti halnya pakaian, sebab kalian akan menjadi malu di hadapan Tuhanmu kelak.

Kita harus sangat bersyukur karena memiliki Tuhan yang penuh kasih sayang. Jika rahasia ini disebarkan, mereka akan menganggap hal ini suatu omong kosong. Ini adalah satu tetes dari samudra pengetahuan yang dimiliki seorang wali, yang juga merupakan tetesan dalam samudra pengetahuan Rasulullah SAW. Pengetahuan Rasulullah SAW bagaikan setetes air jika dibandingkan dengan Samudra Pengetahuan Allah SWT. Ini adalah setetes pengetahuan dalam samudra pengetahuan Mawlana Syekh Nazim QS. Jangan terlalu banyak berpikir tentang apa yang kalian dengar. Bila Mawlana Syekh Nazim QS mau membuka setetes pengetahuan dari samudra pengetahuan hatinya ke dalam hatimu, niscaya kalian akan terbang. Itulah sebabnya Imam Mahdi AS berkata di tengah hadirat para Awliya bahwa jika tidak ada dukungan dari Allah SWT, beliau tidak akan muncul dengan pengetahuan ini, karena setiap orang akan menentangnya ketika beliau melepaskan pengetahuan ini. Oleh sebab itu para Awliya menunggu kedatangan Imam Mahdi AS karena mereka membutuhkan pedangnya untuk mendukung mereka ketika melepas pengetahuan ini. Jika seseorang menolak apa yang mereka bawa, pada saat itu Imam Mahdi AS akan berurusan dengannya.

Pengetahuan dari Tarekat Naqsybandi adalah pengetahuan tertinggi yang bisa kalian bayangkan. Pengetahuan ini berasal dari hati Sayyidina Abu Bakar bin ash-Shiddiq RA. Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau meletakkan segala yang diberikan oleh Allah SWT ke dalam hatinya kepada hati Abu Bakar RA, dan seluruh Wali Tarekat Naqsybandi mengambil pengetahuan itu dari hati Sayyidina Abu Bakar bin ash-Shiddiq RA.

Mawlana Syekh Nazim QS berkata, “La’anallahu azh-zhalimin, la’anallahu al-kafirin, la’anallahu al-musyrikin.” Allah SWT telah mengutuk orang yang zalim, dan orang-orang kafir. Sekarang kita akan membicarakan sesuatu yang besar—berhati-hatilah. Mawlana bertanya, “Dalam situasi bagaimana kutukan yang dikatakan oleh Allah SWT kepada orang zalim dan orang-orang kafir datang? Kutukan itu datang melalui kitab suci, tetapi lidah siapa yang mengucapkan? Siapa yang membawa al-Qur’an yang suci? Siapa yang membacanya? Dari siapa para sahabat mendengarnya? Dari Allah SWT? Tidak, tetapi dari Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, kutukan itu sesuai dengan level Rasulullah SAW, yaitu bahwa Allah SWT mengutuk orang-orang zalim dan kafir. Mawlana bertanya, apakah kalian pikir bahwa di atas level itu, yaitu pada level Kemuliaan dan Hadirat Ilahi, apakah kutukan itu ada? Mustahil, karena Allah SWT telah memuliakan umat manusia—bagaimana mungkin Dia mengutuk mereka? Tetapi Allah SWT berfirman, melalui al-Qur’an, kepada kita, dan melalui lidah Rasulullah SAW, sebagai seorang manusia. Rasulullah SAW adalah seorang manusia, oleh sebab itu, beliau berasal dari manusia juga. Tetapi di atas level itu, di Hadirat Ilahi, ketika Allah SWT telah memuliakan umat manusia dengan ketiga cahaya tersebut, apakah kalian pikir, Dia dapat mengutuk ketiga cahaya itu?

Tubuh fisik ini bukanlah apa-apa. Tidak ada yang bisa dipertimbangkan dari tubuh fisik ini. Yang paling penting adalah bahwa Cahaya Ilahi telah menyelubungi tubuh ini. Apakah kalian pikir kutukan terhadap cahaya itu ada? Jika ada, berarti Allah SWT telah disakiti, seorang manusia akan mengutuk orang yang telah menyakitinya. Tetapi Allah SWT Maha Besar. Dia tidak akan merasakan sakit atau merasa terhina sebagaimana yang dialami manusia, oleh karena itu untuk apa mengutuk kalian? Dia memuliakan kita dengan kehormatan ini, dan Allah SWT berfirman bahwa Kebesaran-Nya tidak akan berubah, kemuliaan kita pun tidak akan berubah. Oleh sebab itu, kutukan itu berasal dari lidah Rasulullah SAW, untuk mencoba agar sebisa mungkin kita tetap berada di jalur yang benar dalam kehidupan ini.

Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa pengetahuan itu berasal dari hati Rasulullah SAW dan diturunkan dalam suatu asosiasi dengan para Awliya. Itu adalah pengetahuan kedua yang diberikan kepada para sahabat dan yang telah disinggung oleh Sayyidina Abu Hurayra RA, ketika beliau berkata, “Jika Aku menyebarkannya, mereka akan memotong leherku.” Sekarang kita mulai mengupas pengetahuan itu sedikit demi sedikit. Rahasia ini akan dibuka sedikit demi sedikit secara lambat. Insya Allah, sampai Mawlana memberi izin untuk membuka pengetahuan rahasia lebih banyak lagi.

Mawlana berkata, “Jika Allah SWT mengutuk orang-orang kafir, Dia tidak akan menjadi Tuhan, karena semuanya diciptakan dari Cahaya Ilahi, dari cahaya Rasulullah SAW, dan dari cahaya Adam AS. Bagaimana mungkin Dia mengutuk mereka? Tidak mungkin mengutuk mereka. Di lain pihak mengapa Dia berfirman, “Qalbul mu’min baytullah,” “Hati orang-orang yang beriman adalah rumah Allah SWT”? Jika Allah SWT telah menetapkan bahwa hati orang-orang yang beriman adalah rumah-Nya, bagaimana mungkin, pada saat yang bersamaan Dia mengutuk seorang manusia? Tidak mungkin, tetapi Allah SWT mengutuk umat manusia, yang tergolong orang-orang kafir, hanya di lidah Rasulullah SAW dan pada level kita, sehingga kita bisa mengerti. Seperti halnya kadang-kadang kita menanamkan rasa takut kepada kita dalam diri anak-anak untuk mendidik agar mereka tidak mengalami kegagalan, begitu pula dengan Allah SWT, melalui al-Qur’an yang dibawa melalui lidah Rasulullah SAW, berusaha agar orang tetap berada di jalur yang benar dan mengikuti jalan hidup yang benar.

“Satu-satunya orang yang telah mendengar al-Qur’an yang asli adalah Rasulullah SAW. Hanya beliau yang telah mendengar al-Qur’an yang sebenarnya dari Allah SWT. Namun, seluruh umat manusia telah mendengar al-Qur’an dari Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW mendekati Tuhannya, bahasa apa yang disampaikan Allah SWT kepadanya? Apakah ada bahasa tertentu di sana? Apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW adalah apa yang telah didengarnya dari Allah SWT dan beliau memberikannya kepada kita, tetapi rahasia sesungguhnya yang diberikan Allah SWT kepada beliau, tiada seorang pun yang tahu.

Di Hari Pembalasan nanti, Allah SWT sendiri akan membaca Surat al-An’am—pada saat itu, seluruh umat manusia, termasuk para Awliya, dan bahkan Rasul, akan jatuh tidak sadarkan diri mendengar manisnya suara Allah SWT.

“Wahai manusia, perhatikanlah hati kalian, sebagai sepotong daging, pada kenyataannya ia terbuat dari lima maqam. Nabi Musa AS berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengetahui Nama Allah SWT Yang Terbesar (al-ism al-‘adzam). Dengan memohon agar bisa “melihat” Allah SWT, Nabi Musa AS bermaksud untuk mengetahui Nama Allah SWT Yang Terbesar. Hal seperti ini tidak akan diketahui di dunia. Bagaimana mungkin Tuhan mendatangi sesuatu yang diciptakan-Nya? Sesuatu yang diciptakan tidak mungkin bisa mencakup Pencipta-Nya, karena mereka mempunyai batas sedangkan Sang Pencipta tidak mempunyai batas. Bagaimana mungkin yang terbatas bisa mencakupi yang tak terbatas? Itulah sebabnya Allah SWT tidak tampak di dunia ini, dan tidak ada yang bisa melihat-Nya. Tetapi seseorang bisa mengetahui rahasia dari Nama-Nya Yang Terbesar. Namun demikian Nabi Musa AS tetap saja tidak bisa. Allah SWT berfirman bahwa hal itu mustahil, Dia menyuruh Nabi Musa AS untuk memandang ke arah gunung ketika Pandangan-Nya tertuju ke sana, jika gunung itu tetap utuh, Nabi Musa AS akan mengetahui Rahasia Allah SWT, jika tidak, beliau tidak akan mengetahuinya. Dan ketika Nabi Musa AS memandangnya, gunung itu hancur lebur.

Nama Allah SWT Yang Terbesar terpatri dalam dada manusia. Namun demikian, diperlukan seseorang yang mempunyai kekuatan dan rahasia dari Nama Allah SWT Yang Terbesar untuk mengeluarkannya. Selain itu juga diperlukan dukungan dari pedang Imam Mahdi AS. Tanpa dukungan tersebut, para Awliya tidak diizinkan untuk membuka rahasia Nama tersebut.

Di masa Imam Mahdi AS tidak akan ada lagi keamanan di seluruh dunia kecuali di satu tempat, yaitu Syam (Damaskus). Hanya di situ tempat yang aman. Rasulullah SAW bersabda, “Idza dzaharat al-fitan fal amnu fisy-Syam,” “Jika kebingungan dan kedengkian muncul, maka keamanan berada di Syam.” (Ibnu Hanbal, Musnad 5:33f., 198f., 249f., 270, 288, 6:457). Perang akan tersebar di seluruh dunia, kecuali di Damaskus, karena lima kelompok makhluk spiritual—budala’, nujaba’, nuqaba’, awtad, akhiar—akan membuat barikade di seputar Damaskus agar semua yang berada di dalamnya selamat. Mereka menunggu Imam Mahdi AS yang akan memberi tanda bagi mereka.

“Apa yang kita bicarakan sekarang adalah persiapan untuk menyambut hari tersebut. Kalian semua akan mendapatkan dirimu berada di Syam dengan kekuatan Syekh kalian. Dengan mengucapkan “bismillahir rahmaanir rahiim” kalian langsung berada di sana. Tidak perlu pesawat terbang, mobil atau kapal, tetapi cukup dengan kekuatan spiritual.

Kalian harus diperingati, jangan coba-coba untuk mengevaluasi kata-kata dan pengetahuan para Awliya. Tidak ada seorang pun yang bisa mengevaluasi pengetahuan tingkat tinggi itu, dia mempunyai standar yang tidak akan pernah diraih. Oleh sebab itu jangan, mencoba untuk menembusnya dengan akal kalian, sebab kalian akan menjadi orang yang fasiq, pelanggar, seperti orang-orang yang mencoba menilai kata-kata Muhyiddin Ibn al-‘Arabi QS, mereka semua menjadi fasiq karena terus menyangkal. Beliau berbicara dari titik asal pengetahuan yang tinggi, seperti yang dilakukan oleh para Awliya ketika mereka ingin membuka sesuatu. Kita tidak bisa melangkah lebih jauh lagi dari apa yang kita bicarakan sekarang karena akal kalian tidak bisa menahannya. Lalu orang akan menjadi fasiq. Itulah sebabnya wewangian ini kadang diberikan, kalian harus mengetahui bahwa ada pengetahuan rahasia yang tidak diketahui oleh kalian, sesuatu yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya.

Rasulullah SAW memerintahkan Bilal RA untuk mengumandangkan azan untuk memanggil semua sahabat ke hadapannya. Ketika mereka berkumpul di tengah malam, mereka takut terhadap apa yang akan mereka dengar. Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat Jibril AS datang kepadaku dan mengatakan bahwa, pada hari-hari terakhir umatku di dunia, terdapat sebuah lembah yang besar bernama ‘Umuq (antara Turki dan Syria), lembah yang dalam dan datar, di mana perang yang sangat besar akan terjadi. Darah akan mengalir deras sehingga dapat menghanyutkan kerbau dewasa berusia 2 tahun dalam alirannya. Kalian akan melihat kejadian ini. (Ini adalah contoh bagaimana kalian dapat menjadi seorang yang fasiq jika kalian mengevaluasi perkataan para Awliya dengan akal pikiranmu.)

Namun para sahabat tidak melihat kejadian itu. Tetapi kepada siapa Rasulullah SAW berbicara melalui para sahabat? Kita adalah anak-anak dari para sahabat, generasi ini. Rasulullah SAW berbicara kepada sahabat ketika melihat dan mengetahui bahwa dari tulang punggung mereka akan lahir anak-anak mereka dan melihat kejadian ini. Oleh sebab itu beliau berbicara kepada jiwa yang berada dalam sperma yang akan membawa generasi yang diturunkan dari para sahabat. Rasulullah SAW mengetahui semuanya, bahkan nama-nama setiap individu, pada saat itu, siapa yang akan muncul dari tulang punggung mereka dan akan menyaksikan peristiwa ini atau tidak. Tidak semua akan menyaksikannya, tetapi hanya sebagian dari mereka saja. Insya Allah, kita berdoa agar kita termasuk orang yang melihat kejadian ini di masa Imam Mahdi AS.

Mawlana berkata, “Suatu malam, Saya berdoa kepada Allah SWT, ‘Ya Allah SWT, bukalah pintu bagi Imam Mahdi AS! Sekarang dunia ini adalah dunia yang mengerikan. Kelakuan buruk ada di mana-mana, setiap orang mempunyai sikap buruk. Tidak ada yang menjaga ketiga cahaya yang Engkau berikan sebagai kemuliaan bagi mereka. Setiap orang mengejar kesenangannya! Oleh sebab itu, Aku mohon dibukakan pintu untuk kedatangan Imam Mahdi AS.’ Saya melihat Imam Mahdi AS muncul di hadapan saya dan berkata, ‘Aku sangat berterima kasih atas doamu, wahai saudaraku, karena itu adalah kunci agar pintuku bisa terbuka. Aku akan muncul, pertama kali untuk para Awliya, berikutnya untuk semua orang.’”

Peristiwa ini terjadi lebih dari 40 tahun lalu. Imam Mahdi AS sekarang berusia sekitar 47 atau 48 tahun. Beliau masih kanak-kanak ketika Mawlana Syekh Nazim QS mengucapkan doa tersebut. Beliau menunggu tanda dari Allah SWT yang akan memerintahkannya untuk muncul. Beliau akan muncul, pertama di Madinah, kemudian di Syam.

Wa min Allah at tawfiq bi hurmat al-fatiha.

14 May 2008

Abu Bakar RA dan Benih Iman yang Tersembunyi

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Rasulullah SAW bersabda bahwa buku catatan (amal) setiap orang akan ditutup ketika ia sudah meninggal, kecuali untuk 3 golongan. Yang pertama adalah mereka yang mengajak orang lain ke jalan yang benar melalui tulisan atau bukunya. Selama ada yang memperoleh petunjuk lewat tulisannya, ia masih mendapat rahmat Allah SWT. Yang kedua adalah orang yang mengeluarkan sejumlah amal jariyah. Selama orang masih memanfaatkan pemberiannya itu, buku catatannya masih tetap ditulis setiap saat. Yang ketiga adalah orang yang meninggalkan anak yang saleh yang terus mendoakannya. Selama mereka masih berdoa, buku catatan orang tuanya tidak tertutup. Allah SWT Maha Mengetahui dan Dia membuat jalan bagi keimanan sesorang, orang tua dan leluhur kalian, bahkan pada saat terakhir. Kita harus bersyukur dengan rahmat Allah SWT tersebut. Jika Allah SWT memberikan izin perantaraan kepada saya, Saya akan meminta untuk semua leluhur kalian.

Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS bercerita tentang Abu Bakar ash-Shiddiq RA, sahabat Rasulullah SAW yang paling terkenal di antara sahabat lainnya. Rasulullah SAW mengagungkannya dengan mengatakan bahwa jika iman Abu Bakar RA dibandingkan dengan seluruh umat manusia, kepunyaannya masih lebih berat. Pada Hari Perjanjian setiap orang ditanya oleh Allah SWT, “Apakah Aku Tuhanmu?” kita semua menjawab, “Ya, Engkau adalah Tuhan kami.” Pada hari itu kalau bukan karena jasa Abu Bakar RA yang mengajarkan semua orang dengan kekuatan spiritualnya, tentu tidak ada seorang pun yang bisa menjawab benar. Grandsyekh melanjutkan bahwa setiap orang mempunyai satu bagian dari iman Abu Bakar RA, termasuk orang yang lemah imannya. Dari bagian itu begitu banyak orang akan masuk surga, tidak peduli orang itu salat atau tidak. Bagian iman itu menjaga setiap orang dari akhir yang buruk dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kalimat “Laa ilaha ill-Allah Muhammadur Rasulullah” telah terukir dalam hati kita, hanya perlu satu kesempatan untuk menunjukkannya.

Suatu ketika Saya pergi ke Madinah bersama Grandsyekh, melewati gunung, lembah dan padang pasir yang gundul, tidak satu pun tanaman yang tampak. Ketika kami tiba di Madinah, hujan turun selama tiga hari kemudian berhenti. Dua bulan kemudian kami kembali ke Damaskus, melewati jalan yang sama namun kali ini terlihat berbeda. Seluruh permukaan tanah dipenuhi rumput dan beraneka ragam bunga. Saya berdoa, “Ya Allah, di mana benih-benih itu bersembunyi?” Allah SWT telah menjaga mereka. Ketika rahmat dan kasih-sayang-Nya turun dalam bentuk hujan, dengan cepat mereka tumbuh. Begitu banyak orang yang mempunyai benih keimanan dalam hatinya. Benih itu terpendam jauh dalam hatinya dan mereka menunggu datangnya hujan rahmat. Rahmat tersebut bisa saja tertunda sampai akhir hayatnya. Ketika seseorang yang terbaring di tempat tidur menjelang ajalnya mulai menangis, tangisan itu mengundang datangnya rahmat, bahkan walaupun hanya dengan setetes air mata. Allah SWT berfirman, “hamba-Ku menangis,” kemudian benih keimanan mulai terbuka, memenuhi hatinya sehingga hati menjadi hijau dengan cahaya keimanan yang sesungguhnya. Bagaikan gurun pasir yang ditumbuhi rerumputan, kemudian kematian datang kepadanya dan ia mulai menangis. Itulah tandanya bahwa rahmat telah datang kepadanya. Hanya jika nyawa telah sampai ke tenggorokan lalu orang itu bersendawa barulah pintu tobat tertutup. Bisakah kalian menemukan orang yang tidak menangis menjelang kematiannya? Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya. Dia mempunyai rahmat yang tidak terhingga dan dalam samudera rahmat-Nya kita semua bukanlah apa-apa.

Setiap saat iman berkembang dan bertambah kuat, begitu juga dengan rahmat Allah SWT. Jika anda melihat orang yang tampaknya kurang mendapat rahmat, ketahuilah bahwa ia juga sebenarnya kurang beriman. Rasulullah SAW telah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Siapa pun yang ingin menjerumuskan orang lain ke dalam neraka berarti dia tidak bersama Rasulullah SAW. Ketika Nabi Musa AS marah kepada Karun karena yang bersangkutan dituduh berzina, beliau melakukan salat dua rakaat untuk memutuskan hukuman apa yang akan diberikan. Allah SWT berfirman kepadanya, “Lakukan apa yang kamu suka.” Nabi Musa AS memerintahkan bumi untuk menelannya. Ketika Karun mulai terbenam, ia memohon kepada Nabi Musa AS untuk memaafkannya, “Wahai Musa AS, demi hubungan saudara kita, maafkanlah aku.” Karun semakin dalam ditelan bumi. Kemudian ia memohon lagi, sampai 3 kali ketika akhirnya seluruh tubuhnya tenggelam dalam perut bumi. Allah SWT memperingatkan Nabi Musa AS, “Wahai Musa AS! Mengapa kamu tidak memaafkan Karun padahal ia sudah meminta maaf berkali-kali? Dengan Kebesaran dan Kemuliaanku, jika ia memanggil Nama-Ku sekali dan memohon, ‘Ya Tuhanku! Ampunilah aku’ Aku akan segera mengampuninya. Wahai Musa AS! Kamu bukanlah yang menciptakannya, jadi kamu tidak mengetahui apa-apa mengenai kasih-sayang. Akulah Sang Pencipta, dan Aku Maha Mengetahui (mengenai) kasih-sayang kepada ciptaanku.” Allah SWT ingin membawa orang-orang ke dalam Samudra Rahmat-Nya dengan bermacam-macam cara. Kita harus mempunyai harapan untuk memperoleh rahmat-Nya. Ini adalah salah satu atribut Ilahi dan Allah SWT senang melihat hamba-Nya mengenakan Atribut-Nya. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Wahai umatku, berikanlah rahmat dan kasih-sayang kepada segala sesuatu di Bumi, sehingga Dia yang berada di Surga akan memberi rahmat dan kasih-sayang-Nya kepadamu.”


Setiap Orang akan Bersama dengan Orang yang Dicintainya

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Hari ini kita berbicara tentang cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS menyampaikan sebuah Hadis yang mengatakan bahwa suatu hari Rasulullah SAW sedang memberikan ceramah, tiba-tiba seorang Baduy mendatangi pintu masjid dan berkata, “Wahai Rasul, kapan Hari Akhir itu tiba?” Rasulullah SAW tidak menjawabnya sehingga ia bertanya lagi, tetapi pertanyaan kedua pun tidak dijawab. Rasulullah SAW menunggu Allah SWT untuk memberikan jawaban karena hanya Allah SWT yang mengetahui kapan Hari Akhir itu tiba. Kemudian Malaikat Jibril AS mendatangi beliau dan berkata, “Tanyakan kepadanya apa yang telah dipersiapkannya untuk Hari Akhir.” Orang itu menjawab, “Muhammad SAW, Aku mencintaimu dan Aku mencintai Tuhanmu, tidak ada lagi yang lain, hanya itu.” Kemudian Jibril AS berkata kepada Rasulullah SAW, “Katakan kepadanya bahwa ia akan bersamamu dan bersama Allah SWT seperti dua jari yang bersama. Setiap orang akan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya di Hari Akhir.” Ketika mendengar ini Abu Bakar RA bertanya, “Ya Rasulullah SAW, apakah tidak diperlukan suatu perbuatan tertentu, apakah cinta saja cukup?” Beliau menjawab, “Tidak, wahai Abu Bakar RA, tidak ada persyaratan untuk melakukan perbuatan tertentu, yang paling penting adalah cinta. Setiap orang akan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya.”

Jika seseorang dikuasai egonya dan perbuatannya sangat jahat, tetapi ia mencintai orang yang shaleh, dan tidak mencintai orang-orang jahat atau kejahatannya sendiri, maka ia akan mendapat manfaat melalui cintanya itu. Ketika Abu Bakar RA mendengar jawaban ini, beliau salat dua rakaat sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT dan berkata, “Ya Rasulullah SAW, Aku tidak pernah mendengar kabar gembira sebaik ini.” Lihatlah pada kerendahan hati Abu Bakar RA, tak seorang pun dapat mencapai maqamnya. “Sampai sekarang hatiku masih terikat dan tidak bisa kulepaskan. Sekarang Hadismu yang melepaskannya. Aku merasa puas, hatiku sangat tentram. Dalam hidup ini Aku merasa tidak sabar tanpa kehadiranmu. Aku berpikir, jika ada suatu perbuatan yang menjadi persyaratan agar bisa bersamamu di Surga, bagaimana Aku bisa bersamamu? Perbuatan apa yang bisa menandingi apa yang telah kau lakukan?” Dan apa perbuatan kita yang bisa menandingi perbuatan Abu Bakar RA? Oleh sebab itu Rasulullah SAW telah memberikan kata-kata yang manis kepada orang-orang. Dalam Islam tidak ada hal yang lebih tinggi daripada Cinta.

Langkah pertama bagi kita adalah berseru kepada orang-orang agar mencintai Tuhan kita. Dalam hal ini kita dapat bertemu setiap orang dari berbagai agama, setiap orang yang mempunyai keyakinan terhadap Allah SWT. Jika pertemuan di sini cukup, maka persetujuan dapat menyusul secara bertahap. Yang kedua kita katakan bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk mencintai semua orang baik secara umum. Secara individu, kita tidak bisa memaksakan seseorang agar saling menyukai satu sama lain, tetapi dia harus setuju terhadap prinsip untuk mencintai semua orang yang baik. Kebenaran selalu di atas, yang salah selalu terbenam dalam kegelapan.