Showing posts with label Syekh Hisyam QS. Show all posts
Showing posts with label Syekh Hisyam QS. Show all posts

13 January 2013

Mawlid Mubarak from Mawlana Shaykh Hisham Kabbani (q)


Fenton, MI
12 Jan 2013

A'udhu billah mina 'sh-shaytani 'r-rajeem kalimataan khafeefataan `ala al-lisaan subhanallah wa bi-hamdihi subhanallahi'l-`azheem istaghfirullah
Kalimataan khafeefataan `ala al-lisaan subhanallah thaqeelataan fi'l-meezaan wa bi-hamdihi subhanallahi'l-`azheem istaghfirullah

Only a few minutes for Allah to give them endless love and respect to the Prophet (s).  It is the month of his birth.  Today is the first day and as we know that his birth is the birth of Islam.  His birth in dunya is the birth of Islam, but his light was the first to be created and from that is the birth of all creation.

He was and he (s) is still, the Prophet of all prophets.
The beacon of the universe and Paradises,
The ocean of beauty and majesty,
The sky of happiness and love,

He is the perfect servant of Allah (swt)
He is The Servant,
He is The Jewel,
He is The Gem,
He is The Mirror of the reflections of the Divine, to bring the light of heavens on this dark earth.

He is the one that with everyone,
As Allah said, w`alamoo anna feekum rasoolullah, know that the Prophet (s) is within you.

He is the one that will intercede for humanity.
He is the one that can stand in front of Allah (swt), by Allah's permission.
He is the Means for all creation.
He is the Intercessor for all creations.

He is the Light that Allah dresses him with light upon light
He is the Illumination that illuminates the universe

His secrets are in Heavens;
His secrets are in the Presence
His Secrets are in the Divine
His Secrets are like an abundant river,
His Secrets dominate the creation because he is Muhammad Rasoolullah (s)

He is the one that has been brought to the nearness, the nearness that no nearness can reach.  The nearness that he was revealed to him what he was asking for; the nearness that Gibril was unable to proceed; the nearnessof all nearnesses that no one can understand.

His level, no one can understand.
His level, no one can reach His level, neither angel, nor human nor jinn can’t understand.

He is what he is.  Only His Lord knows who He is. And as for us we say he is the jewel of jewels, light of lights. secret of secrets, heaven of heavens, the door to the divine, the way to every seeker, the struggle of every gnostic.

He is the one who Allah created as Mercy for all humanity.
He is The Mercy and The mercy is He.
He is the gifted -Mercy.
He is the undescribed mercy.

He is the joy. And rejoice, O human beings in that mercy of his.
Allah (swt) gave him what He did not give anyone.
Dressed him with what he did not dress anyone.
Loved him with what He did not love anyone like him.
He is and still he is and forever he is for every human beings and for every angel that exists.

He is the honored one.
For him humanity was honored where Allah said: wa laqad karamnaa bani Adaam, Allah honored human beings for the honor of the leader and the light and the prophet of humanity and creation.

May Allah dress us with the endless dresses he dressed his Prophet and keep us with him dunya and akhira and make him intercede for every sin we have done and for every lie we have lied and for every imperfection we have made and for every mischief we have produced, for what we know and don't know.  As You said to him: say to them O Muhammad! laa taqnatoo min rahmatillah.  That means don’t lose hope of Muhammad (s).

O Allah make us at his threshold, at his feet, under his feet, sincere slaves to you and sincere believers in your Prophet.

We congratulate the Muslim world for the birth of the Prophet (s), for his birth is the birth of beauty and the birth of paradises and the light of whatever He created from the light of Muhammad Rasoolullah.

On this night may Allah dress us with the dress of Rabbi`al-Awwal and to be responsible and smiling and sharing and praying.

Assalamu 'alaykum wa rahmatullahi wa barakutuh.
Fatiha

05 January 2013

Kita harus Menjaga Syariah


We have to keep Shariah here, no breaking of Shariah, if Tariqa breaks Shariah means that Tariqa is not accepted.  We have to fulfill the Shariah, then Tariqa is the heart of Shariah.  You cannot break the Shariah for the sake of Tariqa, you can break Tariqa for the sake of Shariah, and so you have to be careful with your Shariah.

Kita harus menjaga Syariah di sini, tidak boleh melanggar Syariah.  Jika Thariqah melanggar Syariah, itu artinya Thariqahnya tidak dapat diterima.  Kita harus memenuhi Syariah dan dengan begitu Thariqahnya dapat menjadi kalbu dari Syariah.  Kalian tidak bisa melanggar Syariah demi Thariqah, tetapi kalian boleh melanggar Thariqah demi Syariah, jadi kalian harus berhati-hati dengan Syariah kalian.

[Kutipan Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani, New Jersey, 3 Jan 2013]

27 December 2012

Kekuatan Tasbih dan Aayaat asy-Syifaa`



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
7 Desember 2012   Burton, Michigan
Khotbah Jumat di Masjid As-Siddiq


Wahai Muslim dan Mukmin!  Allah (swt) menciptakan segala sesuatu dan memerintahkan mereka untuk bertasbih, artinya mengucapkan, “SubhaanAllah wa ‘l-hamdulillah wa laa ilaaha illa-Llah Allahu Akbar,” atau pujian apapun kepada Allah (swt) melalui Asmaul Husna wal Sifat-Nya.

Allah (swt) berfirman,
أَنَا جَلِيْسُ مَنْ ذَكَرَنِي
Anaa jaliisu man dzakaranii.
Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku. (Ahmad, Bayhaqi)

Jadi, mengingat Allah (swt) secara terus-menerus merupakan suatu keharusan setiap saat dalam kehidupan kita!  Allah (swt) membuat segala sesuatu bertasbih dan keberadaan setiap elemen atau unsur adalah melalui tasbihnya, dan tidak ada yang mengetahui (tasbihnya) kecuali unsur itu sendiri.  Demikian pula, Allah (swt) menciptakan kita dari berbagai unsur di dalam tubuh kita, masing-masing melakukan tasbihnya sendiri dan melakukan fungsinya di dalam tubuh melalui tasbih itu.  Tetapi kita berjuang melawan kejahatan, berjuang untuk melalukan yang baik dan menghindari yang buruk, dan karena kita berada di tempat transisi itu, kita tidak dapat mendengar tasbih dari tubuh kita (yang secara konstan mengingat Allah).  Ketika salah satu bagian tubuh sedang sakit, itu disebabkan adanya perubahan di dalam tasbihnya yang membuatnya sakit, dan untuk menyembuhkannya, kalian harus mengubah tasbihnya, untuk menghilangkan penyakit itu dari tubuh.  Nabi (s) menyebutkan tentang ruqya, tawiiz, hijab, atau apapun kalian ingin menyebutkannya, yaitu untuk dibaca dan Aayaat asy-Syifaa’, enam ayat di dalam kitab suci al-Qur’an untuk menyembuhkan penyakit.[1]

Nabi (s) bersabda bahwa Surat al-Fatihah limaa quriyat lah, “Surat al-Fatihah dibaca untuk apa saja, ia akan menyembuhkan yang sakit,” dan membuat panjang umur melalui tasbih itu, yang kita lakukan (tanpa sengaja) dan kita tidak merasakannya. Kita katakan bahwa tubuh kita bertasbih karena segala sesuatu di alam semesta ini bertasbih dan kita adalah bagian dari alam semesta ini, sebagaimana firman Allah (swt) di dalam kitab suci al-Qur’an:

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدَهِ
Wa in min syay'in illa yusabihu bihamdih.
Dan tidak ada apapun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya! (Surat al-'Israa, 17:44)

Segala sesuatu bertasbih, tetapi kita tidak bisa memahami atau mendengarnya karena nafsu fisik kita, nafs/ego menguasai kita di dunia dan kekuasaannya mengalahkan sisi baik kita.  Allah (swt) ingin agar kita keluar dari kekuasaan ego yang buruk dan mengubahnya menjadi penguasaan oleh sisi baik kita.

Bukti bagi hal ini ada di dalam hadits dari Abu Dzarr al-Ghifar (r):

في حديث أبي ذر قال تناول رسول الله صلى الله عليه وسلم سبع حصيات فسبحن في يده حتى سمعت لهن حنينا ثم وضعهن في يد أبي بكر فسبحن ثم وضعهن في يد عمر فسبحن ثم وضعهن في يد عثمان فسبحن أخرجه البزار والطبراني في الأوسط وفي رواية الطبراني فسمع تسبيحهن من في الحلقة وفيه ثم دفعهن إلينا فلم يسبحن مع أحد منا

Tanawala an-Nabi (s) saba` hashaayaat, fa sabahna fi yaddih, hatta sami`ta lahu haniinan, tsumma wadha`hunna fii yad Abi Bakrin fasabihna tsumma wadh`ahunna fii yad `Umar fasabahna tsumma wadha`ahunna fii yadi `Utsmaan fa sabahna fasama`a tasbiihihinna man fi’l-halaqata wa fiihi tsumma dafa`hunna ilaynaa falam yusabihna ma` ahadun minnaa.

Nabi (s) mengambil tujuh butir batu, hasaayaat dengan tangan sucinya, dan mereka (batu-batu itu) bertasbih, mengagungkan Allah (swt) di tangannya, dan kami dapat mendengar tasbih mereka. Aku mendengar suaranya yang merdu dengan kerinduan (dengan kecintaan pada Nabi [s] dan kerinduan dengan kecintaan pada Allah [swt]).

Kalian lihat bagaimana mereka dulu hidup?  Tidak seperti sekarang, kita duduk dan salat di atas karpet lalu kalian melangkah keluar dan melihat rumput yang dipangkas rapi dan jalan yang bagus aspalnya.  Dulu hanya ada jalan kecil dan gang di antara rumah-rumah, dan semuanya dipenuhi kerikil kecil.  Nabi (s) duduk bersama para Sahabat dan beliau (s) mengambil tujuh butir batu dari lantai, yang artinya beliau (s) sedang duduk di suatu tempat, mungkin di sebuah rumah, dan tidak ada apa-apa (di bawah mereka) kecuali kerikil.  Apakah kalian duduk di atas kerikil sekarang?  Kaki kalian akan terasa nyeri, tetapi mereka duduk di atas kerikil!

Dan Allah (swt) berfirman bahwa segala sesuatu bertasbih, tetapi kalian tidak dapat mendengarnya, tetapi ketika batu-batu itu berada di dalam tangan yang suci (dari Nabi (s)), para Sahabat (r) dapat mendengarnya!

Batu-batu itu bukan hanya memuji Allah (swt) dan bertasbih, tetapi mereka juga merindukan Nabi (s), untuk berada di tangannya, bukan di lantai.  Dan setiap sel dari tubuh kita juga bertasbih, tetapi kita terhalang untuk mendengar tasbih mereka dan oleh sebab itu kita perlu bekerja untuk membersihkan diri kita dari segala gangguan yang membuat kita tidak bisa mendengar tasbih batu-batuan atau tubuh kita.

Dan hadits itu berlanjut:
Kemudian beliau (s) meletakkan ketujuh batu itu ke tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) dan mereka memuji Allah (swt) di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r).

Ia mengetahui karena ia mendengar tasbih di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), tetapi ia tidak mengatakan bahwa mereka ‘rindu’.  Kerinduan itu adalah adab, artinya batu-batu itu juga mempunyai adab!  Kita harus belajar tentang adab, artinya ketika Nabi (s) hadir, pandangan kalian hanya tertuju pada Nabi (s), bukan yang lain di dalam masjid atau majelis itu.  Jadi adab di dalam sebuah masjid adalah ketika guru telah hadir, kalian tidak berhak untuk memandang orang lain, kalau tidak kalian akan mengganggu pelajaran bila kalian melihat seseorang yang datang ke pintu.  Oleh sebab itu, ketika guru kalian sedang memberi pelajaran, kalian tidak boleh memandang yang lain, bahkan ke arah pintu.  Batu-batu tadi memperlihatkan kerinduannya ketika mereka berada di tangan Nabi (s), tetapi ketika berada di tangan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) mereka bertasbih, tetapi tidak mempunyai kerinduan.

Kemudian beliau (s) meletakkannya ke tangan Sayyidina `Umar (r), dan serupa halnya, mereka juga bertasbih dan beliau (s) meletakkannya ke tangan `Utsmaan (r), dan serupa juga mereka bertasbih memuji Allah (swt).”  (Bazzaar dan at-Tabarani).

Ia tidak mengatakan jenis tasbihnya, barangkali ‘subhaanAllah’ atau ‘alhamdulillah’ atau ‘laa ilaaha illa-Llah’ atau ‘Allahu Akbar.’

Dan dalam riwayat yang lain, hadits itu berlanjut:

Pada saat itu semua orang yang berada di sekeliling itu dapat mendengar tasbih (batu-batu itu).  Lalu Nabi (s) mengambilnya dari tangan Sayyidina `Utsmaan dan memberikannya ke tangan seorang Sahaabah, tetapi tidak ada yang dapat mendengar tasbih mereka saat itu dan mereka tidak bertasbih dengan suara keras ketika diletakkan di tangan Sahabat yang lain.

Jadi batu-batu kerikil itu melakukan tasbih dengan suara keras ketika berada di tangan Nabi (s), Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), Sayyidina `Umar (r) dan Sayyidina `Utsmaan (r), kemudian ketika Nabi (s) meletakannya ke tangan Sahabat yang lain, mereka tidak bersuara.  Sayyidina `Ali (r) tidak hadir pada saat itu.  Karena kita bukan Sahabat dan mereka pun tidak bisa mendengar lagi suara tasbihnya, bagaimana kita bisa mendengar tasbih dari tubuh kita?  Ada masalah di sini: kita tidak bisa mendengar.  Jadi untuk mengatasi masalah itu, kita harus melakukan tasbih dalam hati (diam) dan dengan lidah (suara keras) karena dengan demikian Allah akan mengaruniai tubuh kalian untuk lebih banyak bertasbih dan secara perlahan Allah akan membukakan bagi kita untuk dapat mendengarnya!  Itulah sebabnya Nabi (s) bersabda bahwa Allah (swt) berfirman,
من عادا لي وليا فقد آذنته بالحرب
Man `adaa lii waliyyan faqad aadzantahu bi ’l-harb.
Barang siapa yang menentang wali-Ku, Aku nyatakan perang terhadapnya. (Hadits Qudsi; Bukhari dari Abu Hurayrah)

Dan Allah (swt) berfirman:

عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏قال ‏‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إن الله قال ‏ ‏من عادى لي وليا فقد ‏ ‏آذنته ‏ ‏بالحرب وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه وما ترددت عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت وأنا أكره مساءته ‏
ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره
الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها،

Man `adaa lii waliyan faqad aadzantahu bi ’l-harb wa maa taqarraba ilayya `abdii bi-syayy’in ahabba ilayya mimmaa ’ftaradhtu `alayhi wa maa yazaalu `abdii yataqarabu ilayya bi’ n-nawaafil hatta uhibbah. Fa idzaa ahbaabtahu kuntu sama`uhulladzii yasma`u bihi wa basharahulladzii yubshiru bihi, wa yadahulladzii yabthisyu bihaa wa rijlahullatii yamsyii bihaa.

Barang siapa menentang seorang Wali-Ku, sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya.  Dan hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Kuwajibkan atas mereka, dan hamba-Ku tidak akan berhenti mendekati-Ku melalui ibadah sunnah (nawafil) sampai Aku mencintainya.  Ketika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia melakukan sesuatu, dan kakinya yang dengannya ia berjalan (dan dalam versi lain termasuk juga, “dan lidahnya yang dengannya ia berbicara”). (Hadits Qudsi, Bukhari)

Jadi, jika kita melakukan tasbih lebih banyak secara sukarela, kita akan mencapai level itu.
Dan di dalam hadits lain dari Imam Bukhari sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mas`uud:

كنا نأكل مع النبي صلى الله عليه وسلم الطعام ونحن نسمع تسبيح الطعام

Kunna naakul ma` an-Nabi (s) ath-tha`am, wa nahnu nasma` tasbiih ath-tha`m.
Kami duduk dengan Nabi (s) untuk makan dan kami mendengar makanan itu bertasbih dan bershalawat atas Nabi (s).

Meskipun ia dimasak dalam api, makanan itu tetap bertasbih!  Jika dipanaskan dengan api, ia terbakar, dan jika dididihkan seluruh rasanya akan berubah, tetapi ia tetap bertasbih.  Jadi bagaimana dengan tubuh kita?  Apakah mereka bertasbih?  Ya, tetapi kita tidak mendengarnya.  Jadi semoga Allah (swt) mengampuni kita dan memberkati semua Mukmin dan Muslim di seluruh dunia, apapun latar belakang mereka.

(Du`a.)
(Salaat al-Jumu`ah.)



© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

26 December 2012

Sayyidina `Ali (r), Gerbangnya Ilmu



Mawlana Syekh Hisyam Kabbani
14 Desember 2012    Burton, Michigan
Khotbah Jumat di As-Siddiq Institute and Mosque


Alhamdulillah, alhamdulillahii nasta`iinuhu wa nastaghfiruhu was nastahdiihi wa na`uudzuu billaahi min syuruuri anfusinaa wa sayyiaati `amaalinaa wa nasyadu an laa ilaaha illa-Llah, wahdahu laa syariika lah, wa nasyadu anna Muhammadan `abduhu wa habiibuhu wa rasuuluh...
ayyuha ’l-mu’minuun al-hadhiruun.

إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Ittaqullaha wa athi`uuh. Inn Allah ma`a ‘Lladzina at-taqaw wa ‘Lladzina hum muhsinuun.
Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (Surat an-Nahl, 16:128)

Wahai Mukmin!  Nabi (s) tidak meninggalkan apapun tanpa beliau (s) jelaskan, dan beliau (s) membimbing kita melalui para Sahabatnya (r), khususnya Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r), Sayyidina `Umar (r), Sayyidina `Utsman (r) dan Sayyidina `Ali (r).

Nabi (s) bersabda,
أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم
Ash-haabii ka 'n-nujuum bi ayyihim aqtadaytum ahtadaytum.
Sahabatku bagaikan bintang-gemintang (di malam yang gelap); siapapun yang kalian ikuti, kalian akan terbimbing.
(`Abd ibn Humayd, ad-Daraqutnii, ibn `Adiyy, ibn `Abd al-Barr, dengan sanad yang tidak sahih, tetapi maknanya sahih.)

Bergunung-gunung ilmu dan tidak ada seorang pun yang mampu memahami Nabi (s) sebagaimana keempat khalifah ini.  Nabi (s) menjadikan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) yang menemaninya ketika hijrah dari Mekah ke Madinah, dan beliau (s) berkata bahwa iman Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq (r) adalah lebih besar daripada semua Sahabat (r).  Dan mengenai Sayyidina `Umar (r), Nabi (s) bersabda, “Jika setelahku masih ada nabi, maka `Umar-lah yang akan menjadi nabi itu.”  Dan Sayyidina `Utsman (r) disebut sebagai “Dzi 'n-Nurayn,” Penerima Dua Cahaya, karena beliau menikah dengan dua di antara putri-putri Nabi (s).  Beliau juga menyusun Kitab Suci al-Qur’an dan menempatkan setiap ayat di posisinya masing-masing.  Dan untuk Sayyidina `Ali (r), yang merupakan topik dari khotbah Jumat hari ini, Nabi (s) bersabda,
أنا مدينة العلم و علي بابه
Anaa madinatu 'l-`ilmi wa `Aliyyun baabuha.
Aku adalah kotanya ilmu dan `Ali adalah pintu (atau gerbangnya). (al-Haakim, Tirmidzi)

Allah (swt) telah mengaruniai Sayyidina `Ali (r) dengan banyak hal.  Diriwayatkan oleh Sayyidina `Ali (r) di dalam Sahih Bukhari:

عن علي قال : أنا أول من يجثو للخصومة بين يدي الرحمن يوم القيامة قال قيس وفيهم نزلت هذان خصمان اختصموا في ربهم قال هم الذين بارزوا يوم بدر علي وحمزة وعبيدة وشيبة بن ربيعة وعتبة بن ربيعة والوليد بن عتبة
Anaa awwala man yajtsuu’l-khusuumata bayna yadaayi ’r-rahmaana yawm al-qiyamah. Qaala Qays wa fiihim nazalat haadzaan khashmaan ‘khtashamuu fii rabbihim. Qaala humu’Lladziina baarazoo yawma badrin: `aliyyin wa hamzata wa `ubaydata wa syaybata bin rabi`ata wa `utba bin rabi`ayata wa’l-waliid ibn `utba.

Nabi (s) bersabda, “Aku akan menjadi yang pertama di antara Tangan ar-Rahmaan pada Hari Kiamat.  

Pada saat itu, Allah (swt) akan memberinya kekuatan syafaat untuk membantu manusia.  Ibn `Asakir (r) menyebutkan bahwa Sayyidina `Ali (r) telah disebutkan di dalam kitab suci al-Qur’an lebih banyak daripada yang lainnya dan lebih dari 300 ayat diturunkan mengenai beliau, itu artinya Sayyidina `Ali (r) adalah seseorang yang dimuliakan oleh Allah!  Bagaimana tidak, beliau adalah menantu Nabi (s) dan merupakan salah satu dari ulama besar yang Allah kirimkan bagi manusia, karena setelah Nabi Muhammad (s) tidak ada lagi nabi lainnya.  Sayyidina `Ali (r) adalah salah satu `ulama, ‘ar-Rabbaniyyuun,’ ulama-ulama besar yang muncul setelah Nabi (s).

Umm Salama (r) meriwayatkan dari Nabi (s), “Sayyidina `Ali (r) bersama kitab suci al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Sayyidina `Ali (r),” artinya beliau membawa al-Qur’an sepenuhnya di dalam kalbunya, bukan seperti kita membaca kitab suci al-Qur’an, tetapi beliau dapat mengekstrak makna dari setiap ayat al-Qur’an, dan dari setiap kata dan huruf, beliau dapat mengekstrak maknanya.  Kalian mungkin bertanya, “Bagaimana beliau dapat mengekstrak makna dari sebuah kata?”  Ada banyak huruf di dalam kitab suci al-Qur’an yang memulai beberapa surat dan huruf-huruf itu merupakan kode.  Demikian pula, setiap ayat dan setiap kata di dalam al-Qur’an mempunyai kode-kode dan Sayyidina `Ali (r) mampu mengekstrak rahasia-rahasia itu.  Kini kalian mempunyai kode untuk kartu plastik yang kalian gunakan di mesin-mesin ATM.  Serupa dengannya, huruf-huruf ini adalah kode-kode rahasia yang Allah (swt) turunkan kepada Nabi (s), yang kemudian menurunkannya kepada beberapa Sahabatnya dan kita tahu bahwa Sayyidina `Ali (r) adalah salah satu yang dapat mengekstrak makna dari huruf-huruf itu.  

Suatu ketika orang bertanya kepada Sayyidina `Ali (r) mengenai `ilm dan beliau berkata,

العلم يرفع الوضيع والجهل يضع الرفيع.
Al-`ilmu yarfa`u 'l-wadhii` wa 'l-jahl yadha`u 'r-rafii`
Ilmu akan mengangkat mereka yang berada di derajat yang rendah.

Ketika kalian mempelajari ilmu duniawi, bahkan jika kalian berasal dari keluarga yang sangat miskin atau dari keluarga yang tidak memenuhi tugasnya dalam melaksanakan Syariah, dan setiap orang melihat kalian seolah-olah kalian berasal dari keluarga kelas bawah, tetapi bila kalian mempunyai ilmu, maka tidak ada orang yang dapat berkata apa-apa.  Kalian dapat menjadi seorang profesor, dan tak seorang pun yang dapat bicara buruk mengenai keluarga kalian, karena Allah (swt) mengangkat mereka dari kelas bawah ke kelas yang lebih tinggi.  Jadi bagaimana menurut kalian mengenai seseorang yang mempunyai ilmu tentang Islam dan hakikat, di mana Nabi (s) bersabda, “Aku adalah kotanya ilmu dan Sayyidina `Ali (r) adalah pintunya.” Ini artinya tidak ada seseorang yang dapat memberikan ilmu seperti yang diberikan oleh Sayyidina `Ali (r) dan tidak ada yang dapat menyerupainya!

Sayyidina `Ali (r) berkata:
Kebodohan dan kesombongan akan menjatuhkan derajat seseorang.
Itu artinya ilmu mengangkat kalian dan kebodohan menjatuhkan kalian.

Sayyidina `Ali (r) said:
العلم خير من المال
Al-`Ilm khayrun min al-maal.
Ilmu lebih baik daripada uang.

Suatu hari kalian akan mati dan tidak membawa apa-apa bersama kalian.  Di masa dulu, sebuah rumah dari tanah liat dianggap sebagai istana, sementara yang lain mempunyai rumah dari jerami; tetapi sekarang mereka tidak bisa menerima hal itu karena mereka menginginkan rumah-rumah yang bagus; namun demikian pergilah ke Afrika dan kalian masih dapat menemukan rumah-rumah dari tanah liat atau pergilah ke Siprus dan kalian akan melihat bahwa bahkan rumah Mawlana Syekh Nazim (q) pun dibuat dari tanah liat!  Itu adalah rumah yang sederhana dan sekarang orang-orang menginginkan istana karena mereka penuh dengan Setan jika mereka tidak mengikuti Syari`atullah.  Rumah-rumah dari tanah liat adalah rumah yang penuh kedamaian dan menentramkan dan ketika kalian tinggal di sana, kalian tidak mempunyai sifat sombong di dalam hati kalian, karena kalian tinggal di rumah yang sederhana, sementara orang yang tinggal di rumah yang besar mungkin berkata, “Aku lebih baik dari yang lain, aku kaya.”

Jadi Sayyidina `Ali (r) berkata, “Ilmu lebih baik daripada kekayaan,” karena kalian tidak bisa membawa kekayaan kalian ke dalam kubur tetapi ilmu adalah sesuatu di mana orang dapat mempelajarinya dan itu adalah Shadaqat al-Jariyyah, amal yang pahalanya terus mengalir, sebagaimana Nabi (s) bersabda,
Amal dari anak cucu Adam terputus kecuali tiga: 1) Shadaqah al-Jariyyah, (misalnya membangun sebuah masjid, rumah bagi anak yatim, rumah sakit, dll); 2) Anak yang saleh, yang berdoa bagi kalian dan ketika anak itu mengucapkan, “Bismillahi 'r-Rahmani 'r-Rahiim,” pahala mereka dalam membaca kitab suci al-Qur’an akan tertulis bagi kalian di dalam kubur; dan 3) ilmu yang bermanfaat bagi manusia.

Jadi untuk meninggalkan ilmu yang bermanfaat adalah dengan cara belajar dan mengajarkan orang lain, bukannya belajar lalu menyimpannya untuk diri sendiri.  Syariah memerintahkan kita untuk mengajarkan apa yang kita ketahui dan bukannya menyimpannya untuk diri sendiri.

Sayyidina `Ali (r) berkata, “`Ilm lebih baik daripada uang.”  Uang harus dijaga, kalian selalu melihat pada kotak penyimpanan uang atau khawatir apakah bank yang menyimpan deposit kalian aman, dan berbagai isu-isu lain yang masuk ke dalam pikiran kalian.  Kalian menjaga uang kalian.  Apa yang beliau katakan?  “Ilmu akan menjaga kalian agar selamat, sementara kalian harus menjaga uang kalian,” jadi di lain pihak, ilmu akan menjaga kalian agar tetap selamat.  Al`ilmu haakiman, “Ilmu akan memegang kendali,” dan seseorang dengan ilmu akan mampu memberi penilaian, meskipun tanpa uang.

Dan kita akan akhiri dengan yang satu ini.

قصم ظهري رجلان عالم متهتك وجاهل متنسك
qashurra zhahri rajulaan, `aalimu mutahattik wa jaahilun mutanassik
Dua tipe manusia yang mematahkan punggungku, seorang ulama yang bangga dan kasar terhadap orang dan seorang bodoh yang zuhud.

Tipe terakhir seperti orang yang dengan malas duduk di sudut hanya mengingat Allah.  Tetapi Allah ingin agar hamba-hamba-Nya untuk menolong, untuk bekerja dan menjadi baik, bukannya untuk duduk di sudut, menjadi orang yang malas, dan mengulurkan tangannya untuk meminta-minta!

Tipe pertama adalah seorang yang `alim, yang berilmu tetapi ia bangga terhadap dirinya.  Ia akan membuat orang lari darinya, karena ia sombong; dan orang yang duduk di sudut, di mana orang mengira ia seorang wali besar dan `alim, membuat orang menyimpang dari Jalan Syariah dan mengikuti jalannya.  Jadi, orang harus sangat berhati-hati, dan Sayyidina `Ali (r) tidak mengatakan sesuatu tanpa alasan, beliau mengatakan itu sebagai suatu peringatan!

Ilmu adalah reservoir bagi peradaban, bukannya peradaban seperti yang mereka definisikan sekarang, bukannya dunia yang sekarang, yang membawa kita entah ke mana.  Orang-orang terdahulu adalah orang-orang ‘beradab’ karena mereka mempunyai ilmu tentang akhirat dan mereka semua dijanjikan Surga.  Semua Sahaabah (r) akan masuk Surga, jadi kita harus mengikuti jejak mereka!

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Qul in kuntum tuhibbuuna 'Llaaha fattabi`uunii yuhbibkumullaahu wa yaghfir lakum dzunuubakum w 'Allaahu Ghafuuru 'r-Rahiim.
Katakanlah (wahai Muhammad), "Jika engkau (sungguh) mencintai Allah, maka ikutilah aku! Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat Aali-`Imraan, 3:31)

Kini, banyak praktik di Barat yang berasal dari Islam tetapi kita tidak menggunakannya, misalnya kebebasan untuk bicara dan kebebasan beragama.  Nabi (s) memberi kebebasan kepada kaum Yahudi dan Nasrani selama bertahun-tahun di Madinah dan beliau (s) berusaha untuk membangun perdamaian dan hubungan yang baik, sebagaimana Allah (swt) berfirman,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
W `atasimuu bi hablillaahi jamiyy`an wa laa tafaraquu.
Berpegang teguhlah pada Tali Allah dan jangan bercerai-berai. (Surat Aali-`Imraan, 3:103)

Wahai Muslim! Tugas Islami kita adalah menjaga perdamaian, menuntut ilmu dan bersikap tawaduk.

Wa min Allahi 't-tawfiiq, bi hurmati 'l-habiib, bi hurmati 'l-Fatihah.

© Copyright 2012 Sufilive. All rights reserved. This transcript is protected
by international copyright law. Please attribute Sufilive when sharing it. JazakAllahu khayr.

07 August 2012

Bersyukur Menjadi Muslim


Sayyidina Musa (a) sedang dalam perjalanan ketika ia mendengar sebuah suara datang dari gunung, suaranya terdengar jelas, dan ia pun mendekati suara itu.  Ia sampai pada sebuah gua dan melihat ke dalamnya, di sana ada seseorang yang sedang bertasbih, "Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan aku lebih mulia dari yang lainnya."  Dan Musa (a) melihat orang itu yang sedang bersujud, mendengarkan suaranya yang merdu.  Ia terkejut ketika orang itu bangkit dari sujud, ternyata ia tidak mempunyai tangan dan kaki!  Musa (a) terheran-heran, bagaimana ia bisa mengatakan itu?  Bagaimana ia bisa makan?  Lalu seekor rusa datang dan orang itu meminum susu darinya.   Musa (a) melihatnya dan berkata, "Sahabatku, engkau memuji Allah bahwa Dia telah memuliakanmu dengan tak terhingga, tetapi engkau tidak mempunyai tangan dan kaki!"  Orang itu melihatnya dan berkata, "Yaa Musa (a), Allah memberiku yang terbaik yang dapat kau bayangkan!"  "Apa itu?" "Dia menjadikan aku sebagai seorang Muslim!"  Kisah itu ada di dalam Taurat.  Menjadi Muslim adalah suatu kehormatan, jangan merasa malu, kalian pergi jalan, ke universitas, berbanggalah bahwa kalian Muslim!  Orang itu yang tidak mempunyai tangan dan kaki berkata, "Aku seorang Muslim!" lalu Musa (a) mengangkat tangannya, "Yaa Rabbi hamba itu membuatku kagum dengan imannya, berikanlah ia Surga!" "Wahai Musa, apa yang kau minta telah diterima." Kemudian Allah mengirimkan hyenas untuk memakannya. "Kepada hamba-hamba-Ku yang tulus, Aku kirimkan ujian bagi mereka untuk mendapatkan Surga."  Ujian ini adalah bahwa kita harus menegakkan Islam, berjuang untuk Nabi (s), pertama di antara diri kita, yaitu untuk mengetahui kebesaran Nabi kita (s).  Apa yang dikatakan oleh Nabi (s)?  "Aku telah diutus untuk menyempurnakan akhlakmu, untuk mendisiplinkanmu, untuk menyempurnakan perilakumu dan membuatmu menjadi orang yang lebih baik. Bukan hanya untuk salat dan puasa." (MSH 6 Ags 2012)

Gunung Uhud


Ketika kita pergi ke Madinah, yuhibbu wa yuhibbhum - kita mencintai Nabi (s) dan Nabi (s) mencintai kita.  Mengapa?  Ketika Allah menciptakan bumi, Dia meletakkan gunung-gunung untuk menstabilkannya, tetapi bumi masih suka bergerak atau bergoyang padahal Allah menjadikan gunung-gunung itu sebagai pasak yang kuat.  Kemudian Allah menciptakan Uhud, sebuah gunung yang berasal dari Surga, dan barulah bumi menjadi stabil.  Gunung Uhud lebih berat daripada semua gunung di bumi, begitulah yang dikatakan oleh banyak tafsir.  Dan melihat gunung Uhud adalah ibadah karena itu akan mengingatkan kita bahwa Gunung Uhud pernah datang dan menyembunyikan Nabi (s) di sebuah gua dari orang-orang yang ingin membunuhnya.  Ada gua lainnya yang tidak diketahui oleh banyak orang, ada gua lain di bagian bawah, kebanyakan orang pergi ke atas, tetapi orang-orang Pakistan pintar.  Kami mempunyai seorang teman Pakistan di Madinah, ia membawa saya ke sana. Jadi kami pergi ke lembah dan kami mengunjungi gua ini, ia berkata bahwa Gunung Uhud mengambil Nabi (s) melalui gua ini lalu ke atas menuju sisi lainnya.  Di gua ini kalian dapat melihat suatu bentuk kepala Nabi (s) di mana beliau berbaring di tanah, dan sampai sekarang gua itu masih mengeluarkan wangi amber yang luar biasa.  Kalau kita masukkan kepala kita ke tempat di mana Nabi (s) meletakkan kepalanya, wangi itu akan melekat hingga 40 hari, walaupun kalian mandi, ia tidak hilang.  Kalian juga dapat melihat jejak tangan `Ali (r) pada dinding gua. MSH (6 Ags 2012)

12 January 2012

Tanda Iman yang Kuat


Shuhbah Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q)

Jakarta, 2 Januari 2012

Assalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

[Mawlana mempersilahkan K.H. Ahmad Syahid, Pimpinan Pesantren al-Falah Nagrek Cicalengka untuk memberikan Suhbah beliau.]

Syekh Ahmad Syahid:

Kepada para pengurus Yayasan Haqqani Indonesia dan hadirin semua yang ingin melakukan sebuah langkah perjuangan untuk menyebarluaskan zikrullah atas dasar pijakan Tarekat Naqsybandi Haqqani, semoga Allah (swt) melimpahkan ridanya kepada kita semua, karena berkat Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q), yang saya muliakan, maka malam ini kita bisa berkumpul bersama.

Saya yang dhaif ini menyitir sebuah informasi yang saya baca dari sebuah kitab tentang Zikrullah, di mana di situ ditulis tentang zikir (menjelaskan dalam Bahasa Arab), yang artinya menurut pandangan para Ulama Sufi, dan kalau ulama sufi mengetengahkan pandangannya, maka artinya adalah sebuah pelajaran tentang makrifat yang telah mereka temukan.

Pertama kali saya menyampaikan bahwa manusia yang sempurna itu bukanlah orang yang dari dirinya muncul berbagai keajaiban atau keanehan-keanehan, namun mereka yang disebut Insan Kamil (sempurna) adalah mereka yang baik di mata Allah. Mereka adalah orang biasa seperti kita semua di sini dan seperti Mawlana Syekh Hisyam (q) duduk bersama kita dan bergaul bersama kita. Bahkan bila dia seorang ahli ekonomi, maka dia tidak akan meninggalkan pekerjaannya dan kegiatannya di bidang ekonomi. Dan dia juga berkeluarga, tetapi dia tidak lupa untuk senantiasa berzikir dalam kebersamaannya.

Kita berharap mudah-mudahan dengan menjadi murid dari Sultan Awliya Mawlana Syekh Nazim Adil Haqani (r), dan menjadi murid dari guru besar kita semua Hadrat Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani (q), kita menjadi orang-orang yang mampu bermasyarakat dan tidak melupakan zikir kepada Allah (swt), bahkan satu detik pun. Oleh sebab itu kita bisa berbesar hati dengan kita bisa berzikir bersama. Mengapa kita harus malu menenteng tasbih dan melakukan zikir di tengah kebersamaaan dengan manusia lainnya, karena itu adalah sesuatu yang dicintai Allah (swt).

Kedua saya membaca dalam Kitab As-Syifa Dzikir wal Doa, di mana diterangkan bahwa mencari dan melakukan usaha dan langkah pengobatan yang terbaik adalah dengan zikir dan doa. Dan ternyata zikir adalah syifa, obat yang lebih manjur daripada obat yang lain. Di mana isi buku ini adalah orang-orang yang senantiasa berzikir mengingat Allah dan mereka yang selalu berzikir dan berselawat maka mereka akan diberikan kesehatan jasmaniah dan rohaniah.

Demikianlah saya menyampaikan hal ini hanyalah karena perintah Mawlana Syekh Hisyam (q) dan hanya sebagai hikmat atau pelayanan kami terhadap beliau dan untuk memuliakan beliau, dan tidak ada yang lain dari niatan ini, wasalamu alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q):

A`udzubillahi minasy syaythanir rajim, Bismillahir Rahmaanir Rahiim. Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu `alaa asyrafil mursalin Sayyidina Muhammadin wa `alaa alihi wa shahbihi `ajmain. Ama ba'ad, Yaa Ibadallah ith-thaqullah… (Bahasa Arab). Sayyidina Muhammadin Rahmatan lil alamin. (Meneruskan dalam Bahasa Arab)

Kita berharap semoga kesehatan dan keselamatan tercurah kepada kita semua.

Wahai hadirin semua, wahai Muslimin dan Muslimat, ini adalah shuhbah perpisahan dan Insya Allah kita akan bertemu dengan event seperti ini di lain waktu. Sekarang sudah sebulan kami memulai perjalanan ini dimulai dari tanggal 6 Desember (dari Singapura-Malaysia hingga Indonesia) dan sampai sekarang tanggal 2 Januari 2012 dan besok kita akan kembali melalui Singapura ke Amerika.

Hampir satu bulan kami berjalan siang dan malam hari, dua kali sehari memberikan shuhbah dan Alhamdulillah kita telah sampai ke tingkatan ini di mana banyak penduduk di Indonesia lebih mengenal Syekh Nazim (q) dan saya kira hingga sekarang sudah lebih satu juta masyarakat Indonesia mengetahui tentang Mawlana Syekh Nazim (q), dan berzikir bersama di mana sebelumnya mereka belum mengetahui tentang Mawlana Syekh Nazim (q).

Dahulu pertama kali saya datang ke sini dimulai oleh seorang mahasiswa yang bernama Hadid di Kalifornia, di Lembah Silikon di mana dia belajar menyelesaikan sekolahnya dan dia membawa saya untuk berkunjung ke Indonesia. Pertama kali dia memberikan zikir, dimulai hanya 5 sampai 10 orang saja yang ikut berzikir, tetapi lihatlah sekarang. Semua orang datang ke majelis zikir, bergabung dengan kita, di mana dengan barakah Bapak Soenarto, Bapak Malik Tarigan, Buddy, Rizal dan sekarang sudah ratusan ribu orang bergabung bersama kita hingga saat ini.

Kalian di Indonesia adalah manusia yang beriman dan jika tanpa iman di dalam hati kalian, maka tidak ada yang akan datang ke majelis kita. Dan iman adalah seperti disebut dalam Al-Quran, "Athi Allah athi ur-Rasul wa ulil amri minkum". Taati Allah, taati Rasul-Nya dan orang yang diberi otoritas atas kalian (Mursyid/Guru/Wali Allah). Tanpa iman, mereka tidak akan datang ke majelis ini. Dan di sini banyak yang memiliki iman yang baik dan akidah yang baik. Semua sangat rendah hati, hingga saya katakan bahwa bumi Indonesia bagaikan surga di bumi. Setelah kota Mekah, Madinah dan Syam.

Alhamdulillah Indonesia adalah negara yeng memiliki perayaan Maulid Nabi (s) dan majelis Selawat Nabi (s) setiap malam selama setahun penuh. Jika kalian pergi ke seluruh dunia, maka tidak setiap negara memiliki hal ini, bahkan meskipun itu di Syam sekalipun. Di negara ini setiap malam orang memuji Nabi (s) dan berzikir kepada Allah (swt), maka Allah akan memberikan dukungan kepada orang yang melakukan zikir kepada Allah (swt) dan selawat kepada Nabi (s).

Kami harus mengatakan bahwa di Pakistan dan India ketika mereka melakukan Maulid Nabi (s), maka bisa dua juta orang berkumpul bersama, di Pakistan mereka mengumpulkan 500 ribu manusia hingga dua juta ketika perayaan Maulid Nabi (s) dan ketika ulama bicara, paling hanya berkumpul 50 ribu manusia. Dan itu tidak bisa dibandingkan, di India mungkin ada 2 juta orang berkumpul untuk Maulid Nabi (s). Tetapi rahmat dan kasih sayang Allah adalah di mana kalian menemukan tempat-tempat orang berkumpul untuk berzikir meskipun kecil tetapi tersebar di setiap tempat di Indonesia.

Dan di setiap majelis Nabi (s) di mana kita berselawat bersama, itu merupakan penghapus dosa yang menghapuskan dosa kita dalam 70 kali pertemuan yang membicarakan hal-hal duniawi. SubhanAllah di Indonesia kalian bisa menemukan di setiap jalan, di setiap tempat, kalian akan menemukan berbagai Majelis Zikir dan Selawat Nabi (s), dengan demikian rahmat akan melingkupi seluruh negeri ini. Hal ini tidak terjadi di India yang memilki 2 juta orang yang berkumpul hanya dalam satu acara dan tidak tersebar ke segala penjuru. Boleh saja mereka berjumlah 2 juta manusia yang datang berselawat dan mengikuti Maulid Nabi (s) tetapi hal ini tidak bisa dibandingkan dengan apa yang ada di Indonesia.

Sayyidina Muhammad (s) mengatakan, “Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkelana (roaming) di jalan-jalan, mencari majelis-majelis zikir, meskipun kecil, ketika mereka melaluinya dan melihat manusia sedang berzikir, mereka akan berhenti dan ikut berzikir bersama. Dan bayangkan majelis ini bukan hanya di satu tempat saja tetapi di berbagai tempat di Indonesia ini sehingga setiap orang akan mendapat keuntungan di setiap daerah di Indonesia.

Dalam bahasa Inggris para malaikat roaming, mencari dan menemukan majelis zikir, di mana kalian pergi maka mereka tahu di mana kalian berada, karena malaikat pergi dengan kalian ke setiap tempat, dari satu majelis zikir ke majelis lainnya dan dengan kekuatan surgawi Allah (swt) mengirimkan malaikat untuk bersama dengan kalian ke mana pun kalian pergi. Maka jika kalian menghadiri majlis zikir maka Allah (swt) akan memberikan mereka pahala dan mencatat apa yang kalian lakukan ke manapun kalian pergi sehingga akan ada berkah untuk setiap manusia yang mengikutinya sebagai pelindung kalian di Shirat al-mustaqim nanti. Itulah sebabnya Allah (swt) mengirimkan malaikat-Nya ke setiap mejelis zikir, dan di mana ada zikir maka mereka akan berhenti dan mencatat siapa saja yang duduk di sana.

Masya Allah di setiap jalan, di setiap kota di Indonesia selama saya berada di Indonesia di sana kami melihat begitu banyak banner besar di masjid ini dan masjid itu. Kalian tidak akan menemukan yang seperti ini di negara-negara Muslim lain yang pernah kami kunjungi. Karena mereka mengatakan bahwa majelis zikir adalah bid'ah dan syirik. Dan hanya di negeri ini kalian dapat mengiklankan dan menempatkan banner yang besar di setiap jalan, maka Allah (swt) memberikan kalian iman yang kuat. Nabi (s) bertanya pada para Sahabat, "Siapakah orang yang memiliki iman yang paling tinggi?” Para Sahabat menjawab, “Para Nabi, Yaa Rasulullah", Nabi (s) menjawab, "Bagaimana mereka tidak memilki iman yang kuat, karena wahyu diturunkan kepada mereka.” Kemudian mereka menjawab lagi, “Para syuhada, para syahid dan Sahabat ya Rasulullah.” Dan Nabi (s) berkata, “Bagaimana kalian tidak memiliki iman yang kuat karena kalian telah berjumpa denganku dan aku berjumpa dengan kalian.” Kemudian Nabi (s) melanjutkan, “Orang-orang yang imannya tinggi adalah adalah orang-orang di akhir zaman. Mereka mempercayaiku padahal mereka belum pernah melihatku, maka merekalah yang memilki iman terbaik.”

Kalian berada di sini saat ini, dan di manapun Muslim berada di Indonesia ini, mereka semua penuh dengan iman, jangan katakan kalian tidak memilki iman, karena kalian bahkan memiliki ekstra ekstra ekstra iman yang besar karena kalian datang ke majelis zikir dan kalian percaya kepad Nabi Muhammad (s), ini adalah tanda iman yang kuat. Dan iman yang besar adalah ketika kalian datang dan kalian mendengarkan zikir dan memuji Allah dan berselawat kepada Nabi (s), maka ini adalah tanda orang yang memiliki iman terbaik.

Kalian hanya memilki satu masalah saja di negeri ini, di mana setiap Habib dan Ulama yang membuka pesantren, mereka hanya mengajarkan Syariat, Fiqih dan Hadits. Tidak ada pesantren yang berpikir untuk mengajarkan Tasawuf dan tidak ada yang membawa nama para Sufi Besar di dunia setelah zaman Nabi (s) sampai hari ini. Apa yang diajarkan oleh para Sufi Besar kepada kalian sampai saat ini. Tidak ada yang berbicara mengenai Syah Bahaudin an-Naqshbandi (q), Syekh Abdul Qadir al-Jailani (q), Syekh Junaid al-Bagdadi (q), Syekh Bayazid Bistami (q), Imam Jazuli (q), tidak ada yang berbicara hari ini tentang para Sufi besar ini, nol. Hal inilah yang membuat kalian tidak berkembang.

Masya Allah kalian telah belajar syariat dengan sangat baik, tetapi tasawuf hanya sedikit sekali dibahas dan tidak ada sekolah yang memberikan kurikulum tasawuf dan mengapa tidak ada pesantren yang mengajarkan sampai selesai Bab tentang Ihya Ulumuddin, ajaran Imam al-Ghazali (q). Kami tidak melihat ini di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia tetapi di setiap Negara Muslim di dunia. Tetapi lihatlah di Amerika dan Eropa, mereka mengajarkan tasawuf, tetapi mereka tidak mengajarkan syariat (tersenyum). Tasawuf menyempurnakan Islam, Iman dan Ihsan. Inilah kesalahan terbesar yang terjadi di negeri ini.

Akhir kata, setiap majelis mempunyai awal dan akhir dan sekarang kita hampir mencapai akhir, maka berpeganglah kita semua kepada tali-tali Allah dan janganlah kalian terpisah dan bercerai berai. Tali Allah adalah cinta kepada Nabi Muhammad (s) dan cinta itu akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

Setiap orang yang berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk (karena tempatnya terbatas), lebih banyak malaikat bersama mereka. (hadirin yang berdiri merasa senang).

Kita akan memperbaharui bay’at kita dengan Syekh Nazim Adil Haqqani (q), sampai kepada Nabi Muhammad (s).

(Bay'at)

Alhamdulillah, Taqaballah, saya harus masuk karena harus mengepak barang dan kalian tetap berada di sini untuk berselawat dan mendengarkan Maulid Nabi (s).

Wa min Allah at Tawfiq