Showing posts with label Toward the Divine Presence. Show all posts
Showing posts with label Toward the Divine Presence. Show all posts

06 November 2008

Mengenai Wanita Karier

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

(Kepada seorang wanita yang bertanya apakah dia boleh bekerja atau tidak, Mawlana Syekh Nazim QS memberi nasihat sebagai berikut)

Jika kamu memerlukan pekerjaan tersebut, maka bekerjalah.  Jika apa yang dikerjakan oleh suamimu sudah cukup, kamu tidak perlu bekerja. 

Jika seorang pria bekerja, kita tidak mengatakan bahwa istrinya harus bekerja karena kita percaya bahwa Allah SWT memberi pria lebih banyak berkah bila istrinya tidak bekerja.  Jika istrinya bekerja, lebih sedikit berkah kepada mereka berdua.  Oleh sebab itu kita lebih suka bahwa hanya suami yang bekerja dan kamu menjadi penjaga rumah (ibu rumah tangga).  Kamu tidak meminta begitu banyak uang, kamu meminta berkah.  Bahkan jika ada sedikit uang dan lebih banyak berkah adalah lebih baik daripada banyak uang dan mereka menjadi lelah dan tidak ada berkah. 

Layananmu hanyalah untuk suamimu, lakukan segala hal di dalam rumah.  Dan jika kamu mempunyai lebih banyak waktu dan ingin melakukan sesuatu, kamu bisa melakukan beberapa pekerjaan tangan di rumahmu.  Tetapi jangan menjadi budak bagi pekerjaanmu, untuk pekerjaan di luar. 

Orang-orang sekarang adalah budak, karena mereka tidak dapat menemukan suatu batas bagi pekerjaan atau untuk keinginanmu.  Kalian berkata, “Aku harus mendapat lebih banyak lagi.”  Tidak, kalian bebas, tidak harus berada di bawah kendali para pengusaha, kalian bebas. 

Jika kalian menemukan waktu, agar tidak bosan, menulislah, menggambar, lakukan pekerjaan seperti menyulam—segala sesuatu yang sesuai bagi wanita.  Kalian bisa bersiap-siap untuk putrimu mendatang agar nanti ada sesuatu di dalam rumahnya ketika dia tumbuh, pada masa lampau, setiap ibu akan mempersiapkan JIHAAZ (salah satu bagian dari mahar, menyiapkan jihaaz adalah kebiasaan sebagian besar dunia muslim, wanita menyibukkan diri mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan seperti sulam-menyulam dan pekerjaan tangan lainnya untuk mempersiapkan perabotan penting yang akan mereka perlukan bagi rumah tangganya) untuk putrinya, lakukan hal semacam itu karena hal ini sangat penting.    Jika kalian tidak menyibukkan diri pada suatu pekerjaan tertentu, egomu akan menguasaimu untuk keinginan buruknya.  Tak ada waktu kosong di jalan kita.  Jangan duduk seperti ini.  Ini adalah suatu kekosongan. 

Bagaimana Seorang Mukmin Berperilaku terhadap Keluarganya

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Siapapun yang percaya kepada Atribut Mutlak Tuhannya akan menjadi orang yang dicintai di masyarakat, khususnya di lingkungan keluarganya. 

Kita mengatakan bahwa seseorang mukmin, orang yang beriman harus bersama keluarganya minimal seperti seekor kucing.  Setiap orang menyukai kucing, setiap orang mengelusnya.  Tetapi sekarang adalah masa yang aneh.  Kita lihat bahwa mukmin, ketika mereka pergi di antara keluarganya, membuat mereka terlihat lebih seperti landak.

Oleb sebab itu, seorang mukmin paling tidak musti seperti kucing:  setiap orang dapat menyukainya.  Bagaimana mungkin seorang mukmin bertindak seperti landak di lingkungan keluarganya?  Itu bukanlah Iman yang sesungguhnya bagi seorang mukmin sejati, atau nasrani sejati, atau yahudi sejati.  Orang yang beriman tidak pernah menyakiti hati orang lain. 

Oleh sebab itu, istrimu bahagia denganmu? Ya, karena Imanmu memberi keakraban kepada seluruh anggota keluargamu.  Ketika kamu berada bersama mereka, mereka merasa bahagia, dan ketika kamu jauh dari mereka, mereka akan menanyakanmu, “Di mana ayah kita?”  “Di mana suamiku?”  Ini sangat penting, dan kita berdoa untuk semua orang agar bisa seperti itu dengan Imannya.  

Sampai di mana Ilmu Kita Kejar?

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir ra
hmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Mu
hammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Agama ini mudah.  Jangan membuatnya kaku agar kalian mampu memahaminya.  Bersabarlah, carilah kedekatan dengan Allah SWT, tanamkan kebajikan, dan mintalah ketentraman bersama-Nya siang dan malam.  (Sabda Nabi Muhammad SAW seperti yang dituturkan oleh Abu Hurayrah RA).

Banyak orang di negara Barat yang masuk agama Islam, alhamdulil-Lah.  Sebuah kabar baik bagi kita umat Muslim, ini sebagai bukti bahwa kekuatan aktif Islam mulai nampak.


Semuanya adalah generasi muda,  kecuali saya.  SubhanAllah al-'Aliyyu-l'Azhim!  Jika Islam beraksi pada generasi muda maka hal ini merupakan tanda yang baik dan sempurna, karena di London ini, apa pun yang ego minta mudah untuk ditemukan.  Apa yang membuat kalian berada di sini?  Sebuah kekuatan spiritual yang mempengaruhi hati kalian yang nantinya akan bisa memenangkan pengaruh kejahatan dan Iblis.

Lalu ada pertanyaan penting: Apa yang harus mereka lakukan untuk belajar dan mengamalkan ajaran Islam?

Islam adalah agama paling toleran yang dikirim Allah SWT bagi hamba-hambaNya.  Namun mereka menginginkan Muslim sebagaimana di masa Nabi SAW, mereka katakan bahwa siapa yang percaya  dan menerima Islam harus menjaga semua hukum-hukum Islam.

Padahal Allah SWT tidak mengirim semua aturan dan isi Al-quran langsung dalam satu saat.  Allah SWT dapat saja melakukannya, meminta malaikat Jibril AS membawanya hanya dalam satu jam, “Ini kitabmu, semua kalimat ada di sini untuk diamalkan.”  Namun kejadiannya bukan begitu, Allah SWT mengirim aturan-aturan Islam itu dalam masa 23 tahun.

Saat kita mulai bersyahadat, itu tidak berarti kita telah siap membawa seluruh aturan Islam saat itu juga.  Jika kalian membenarkan hal itu, berarti kalian tidak mengerti hikmah di balik diturunkannya Kitab suci Al-quran selama lebih dari 23 tahun.  Kalian harus mengadakan operasi dengan mengiris kepala orang-orang agar terbuka, ambil kitab itu lalu masukkan ke dalam kepala.  Itu sangat tidak mungkin.

Nabi SAW, bersabda tentang tanda-tanda kiamat yang salah satunya adalah banyaknya masyarakat Islam namun tanpa kearifan.  Dan kearifan/hikmah adalah lebih berharga daripada pengetahuan.

Firman Allah SWT, “Allah SWT menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-quran dan As-sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki.  Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.  Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah SWT)” [2:269].

Dengan demikian sedikit kearifan adalah lebih berharga daripada semua pengetahuan tanpa kearifan, sebagaimana sebutir permata lebih berharga daripada sejumlah besar batu bara.  Kita mempunyai ratusan ulama, namun yang mereka miliki adalah pengetahuan tanpa hikmah.  Mungkin mereka gusar bila saya katakan hal itu.  Firman Allah SWT mengatakan bahwa hikmah itu tidak akan diberikan pada setiap orang.  Hikmah tidak datang dari luar; sumber hikmah adalah melalui hati.  Apakah kalian mendapat hikmah dari membaca buku-buku? Tidak! Tetapi sesuatu yang diberikan lewat hati kalian.

Walau demikian, Nabi SAW bersabda, “Man akhlasa arba'ina sabaha, la-fajarat yanadiu-l-hikmah min qalbihi 'ala lisanihi.”  (Bagi mereka yang bersungguh-sungguh (pada Tuhannya) selama 40 hari, hikmah akan memancar dari dalam hatinya melalui lidahnya).  Kata beliau, siapa pun yang tulus beribadah selama 40 hari dengan ikhlas yang berarti tidak membiarkan nafsu dari egonya bercampur, maka Allah SWT akan membuka hatinya terhadap sumber-sumber hikmah.

Hal ini tidak mudah.  Kita mengikuti jalan pikiran yang tidak pernah ada hikmahnya.  Ya, semua ilmu pengetahuan yang didapat manusia pada akhirnya diberikan pada setan. Tak seorang ulama pun yang dapat menandingi kepintaran setan; namun yang tidak dimiliki setan adalah hikmah.  Jika setan mempunyai hikmah walaupun sedikit, dialah yang pertama melakukan sujud penghormatan pada Adam AS, melaksanakan apa yang Tuhan perintahkan, seperti yang dilakukan oleh para malaikat.  Tetapi yang tidak dimiliki setan adalah hikmah, untuk itulah dia diusir keluar.

Memang ada hadis Nabi SAW yang mengatakan, “Talaba-l-'ilma faridatun 'ala kulli Muslim wa Muslimah” -- Allah SWT mewajibkan mereka yang beriman, baik pria maupun wanita untuk mendapatkan ilmu.

Namun sampai batas mana?  Karena di setiap hal ada sebuah hasrat tersembunyi,  syahwat al-khafiyah; hasrat yang berasal dari nafsu manusia yang membuatnya salah jalan, mengira bahwa Islam  adalah untuk DIKETAHUI, lalu mereka mulai mengejar ilmu pengetahuan, terus berlari mengejarnya karena adalah mustahil bagi ilmu itu ada batas akhir.

Saat mereka kelelahan, akhirnya semua terlupakan, begitu banyak yang diambilnya sehingga tak mampu lagi membawanya dan akhirnya jatuh.  Pada akhirnya yang tertinggal hanyalah kalimat syahadat saja.  Ya, saya melihat saudara muslimin dan muslimah baru di negara Barat yang berhasrat tinggi untuk belajar, belajar, belajar, mengetahui apa pun tanpa mengetahui kapan mereka harus berhenti.

Imam terbesar Abu Hanifah, yang mazhabnya diikuti oleh jutaan orang mengatakan, “Afdhal al-'ilm, ilmu pengetahuan yang paling berharga hanyalah ilmu yang ada hubungannya dengan kalian saja.”  Semua yang akan memberi manfaat di dunia dan akhirat dan untuk diketahui mana yang membahayakan diri kalian saat ini dan nantinya (akhirat).

Ini adalah yang terpenting: mengetahui  dan mempelajari untuk bisa diterapkan!  Bukan semata-mata mengetahui dan terpengaruh dengan ilmu pengetahuan – bukan!  Kita butuh pengetahuan lebih agar bisa diterapkan, dan menggunakannya untuk memerangi ego-ego kita.  Kalian mendapat pengetahuan untuk mecapai hikmah, tanpa hikmah, adalah mustahil untuk menghentikan serangan-serangan ego/nafsu.

Orang Barat memiliki sebuah hasrat yang mendalam untuk belajar dan membaca, dan mereka tidak merubah karakteristik ini saat menjadi muslim.  Mereka mencari guru untuk mengajari bahasa Arab dan arti-arti dalam Kitab Suci al-Quran dan hadits yang akan semakin membebani mereka, mereka ingin menjadi ulama.  Mereka bergegas pergi ke Mesir, al-Azhar,  Hijaz, bahkan sampai Pakistan untuk belajar.  Saya katakan pada mereka, “Stop!  Tidak perlu semua itu.  Kalian harus belajar dan menerapkan apa saja yang mungkin akan ditemui dalam hidup kalian saja.”

Waspadalah dengan trik setan.  Jika setan tidak mampu mencegah seseorang untuk masuk Islam atau mengimaninya, dia memiliki metode lain dengan membuat mereka kelelahan.  Jika seseorang telah lelah, habis sudah.  Orang itu takkan mampu lagi melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.

Hikmah seperti  bom-bom atom bagi ego kalian.  Ilmu –ilmu Pengetahuan lain hanyalah senjata-senjata sederhana yang tidak mujarab pada zaman sekarang ini.  Semakin mendekati kiamat, senjata-senjata kawanan Iblis juga meningkat untuk mencabut iman dan kepercayaan manusia.  Karena setan semakin meningkatkan metode-metodenya maka para Awliya juga menggunakan hikmah untuk membinasakan setan dan pendukung-pendukungnya.

Wa min Allah at tawfiq

11 June 2008

Metode Dakwah pada Muslim Baru

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Nabi Muhammad SAW, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bersabda, Agama ini adalah mudah. Jangan membuatnya sulit, atau kalian akan dikalahkan. Teguhlah (istiqamah), carilah kedekatan pada Allah SWT, perbanyaklah kebajikan dan mohonlah ketentraman dari-Nya siang dan malam.”

A’uudzu bilaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim

Dengan Nama Allah SWT, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Manusia berdatangan masuk ke dalam Islam, Alhamdulillah. Itu adalah suatu kabar baik, berita gembira, bagi orang-orang beriman. Dan kebanyakan yang masuk Islam ada di negara-negara Barat. Alhamdulillah, ini adalah suatu bukti bahwa energi aktif Islam masih seperti ketika ia pertama kali datang.

Di sini banyak saudara-saudara kita yang berkumpul, baik laki-laki maupun perempuan. Dan semuanya, kecuali saya, adalah generasi muda; saya tidak melihat seorang yang sudah tua. Kalian semua adalah anak muda, subhanallah al-'Aliyyu-l 'Azhiim! Jika Islam beraksi pada generasi muda, maka Islam pastilah benar; Islam pastilah sempurna! Juga karena sebenarnya kalian bisa berlarian keluar, di kota ini, kota London, di mana semua yang ego kalian minta, dapat kalian temukan dengan mudah. Jadi, apa yang membuat kalian berada di sini? Pastilah itu merupakan suatu kekuatan spiritual yang mempengaruhi hati dan kalbu kalian, dan kekuatan itu akan menang atas setan-setan dan kejahatan.

Sekarang, ada suatu pertanyaan penting tentang sesuatu yang menjadi problem bagi Muslim baru yang masuk ke Islam di negara-negara Barat: Apa yang mesti mereka lakukan untuk belajar dan mempraktikkan Islam?

Saat ini, di zaman kita, banyak orang yang berdatangan ke negara-negara Barat untuk menyeru orang ke dalam Islam, tetapi, menurut penglihatan saya, mereka adalah orang-orang paling fanatik di negara-negara mereka dan mereka pun orang-orang yang keras. Islam adalah agama paling toleran yang telah diturunkan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya, tetapi orang-orang ini tidak pernah memahami toleransi dalam Islam. Mereka ingin agar Muslim persis seperti keadaan mereka di zaman Nabi SAW; mereka berkata bahwa siapapun yang percaya dan menerima Islam harus memelihara semua hukum dan aturan dalam Islam.

Itu adalah kesempurnaan, tetapi mereka tidak mempertimbangkan bahwa semua aturan dalam Islam tidaklah datang sekaligus dalam satu waktu, pada hari pertama. Allah SWT sebenarnya dapat saja mengirimkan semua aturan-aturan dan seluruh al-Qur’an dalam satu hari, atau dalam satu jam; Malaikat Jibril AS dapat saja membawanya semua, dengan berkata, "Ini kitabmu; semua kata-kata di dalamnya dapat kau gunakan." Tetapi, Allah SWT tidak melakukan hal itu.

Malah, Dia mengirimkan aturan-aturan Islam itu dalam periode dua puluh tiga tahun. Tidakkah hal ini benar? Dalam dua puluh tiga tahun, aturan dan hukum Islam datang dan disempurnakan.

Kita tidaklah mengatakan bahwa aturan-aturan Islam tidak cocok dengan manusia zaman kita ini; kita percaya bahwa semua aturan-aturan itu sesuai dengan karakteristik manusia, tetapi kita tidaklah siap untuk (melaksanakan) aturan-aturan itu sekaligus. Ketika kita mengucapkan Syahadat, berkata, "Kami bersaksi akan keesaan dan eksistensi Allah SWT dan kenabian serta Pesan dari Nabi Muhammad SAW," mengatakan bahwa kita adalah saksi, bahwa kita menerimanya, ini tidak berarti bahwa kita siap untuk melaksanakan semua aturan dan hukum Islam pada saat itu juga. Jika kalian mengatakan bahwa syahadat itu bermakna demikian, maka itu berarti kalian tidak memahami satu pun hikmah turunnya al-Qur’an Suci dalam waktu dua puluh tiga tahun. Kemudian, jika kalian mengatakan hal ini (bahwa Syahadat berarti kewajiban untuk melaksanakan semua aturan Islam secara langsung sekali jadi-red.), maka kalian harus melakukan operasi bedah pada kepala orang-orang, memotong dan membuka kepala mereka, kemudian membawa Kitab Suci, dan menaruhnya di dalam kepala mereka. Jika tidak, maka hal itu adalah tidak mungkin.

Karena itulah, ketika Nabi SAW menginformasikan pada kita tentang tanda-tanda hari Akhir, beliau bersabda bahwa ketika Hari Akhir mendekat, akan muncul dalam Islam, orang-orang yang tidak punya hikmah dan kebijaksanaan; padahal hikmah adalah lebih berharga daripada pengetahuan ('ilm). Allah SWT berfirman, "Wa man yu'ta-l 'hikmata fa-qad utia khairan katsiira" ("Dan siapa yang telah dikaruniai hikmah sungguh telah diberikan kebaikan yang banyak." 2:269). Seseorang yang telah diberi hikmah sungguh telah diberi semua harta terpendam." Karena itu, sekeping hikmah jauh lebih berharga daripada seluruh pengetahuan tanpa hikmah, sebagaimana sebuah intan jauh lebih berharga sejumlah besar batu bara.

Di zaman kita ini, kita memiliki pengetahuan dan ilmu. Tetapi yang kita butuhkan bukan pengetahuan; melainkan hikmah kebijaksanaan. Kita memiliki ribuan, malah mungkin ratusan ribu ulama, tetapi mereka hanya memiliki ilmu, tanpa hikmah.

Mereka mungkin tidak senang dengan kata-kata saya, tetapi saya mesti mengatakannya pada mereka. Kita membutuhkan hikmah, dan Allah SWT telah mengatakan bahwa hikmah tidaklah diberikan pada setiap orang. Hikmah tidaklah datang dari luar; sumber-sumber hikmah berasal dari hati. Apakah kalian mendapatkan hikmah dengan membaca buku-buku?! Tidak, hikmah adalah sesuatu yang dikaruniakan pada kalian melalui hati kalian. Karena itulah, Nabi SAW bersabda, "Man akhlasa arba'ina sabaha, la-fajarat yanadiu-l-hikmah min qalbihi 'ala lisanihi." ("Siapa yang mampu untuk ikhlas (kepada Tuhannya) selama empat puluh hari, maka mata air hikmah akan memancar dari hatinya ke atas telinganya.") Beliau mengatakan bahwa jika siapa saja dapat beribadah secara ikhlas dan tulus selama empat puluh hari—dan ikhlas atau ketulusan berarti tidak pernah membiarkan keinginan ego apapun untuk turut campur atau terlibat dengan ibadah seseorang selama empat puluh hari—maka Allah SWT akan membuka sumber-sumber hikmah di dalam hatinya.

Tetapi, ini tidaklah mudah. Kita mengikuti jalan pikiran kita dan itu berarti kita tidak akan pernah dikaruniai hikmah apa pun. Ya, sebagian besar ilmu dan pengetahuan yang telah dikaruniakan pada manusia telah pula diberikan pada setan. Tak ada di antara para ulama dan sarjana yang mampu menandingi Setan; ialah yang akan menang. Tetapi setan tidak memiliki hikmah sedikitpun.

Seandainya saja ia memiliki hikmah sekalipun dalam jumlah minimum, tentu ialah yang akan pertama kali melakukan sujud kepada Adam AS sebagai penghormatan atas perintah Tuhannya; sebelum yang lain, tentu ia telah melakukan sujud ketika Allah SWT memerintahkan para Malaikat untuk bersujud kepada Adam AS. Tetapi, setan tidak memiliki hikmah sedikitpun. Karena itulah, ia jatuh dan diusir.

Karenanya, yang kita butuhkan bukanlah pengetahuan. Sayangnya, saya melihat bahwa setiap Muslim baru, baik di sini atau di Amerika atau Inggris atau Prancis atau Jerman, ingin cepat-cepat belajar bahasa Arab--lalu pergi ke Mesir, pergi ke Al-Azhar, pergi ke Hijaz; bahkan ke Pakistan, untuk belajar. Mereka ingin belajar bahasa Arab atau belajar Qur'an, belajar Hadis, untuk menjadi ulama.

Ya, kita tahu bahwa ada hadis dari Nabi SAW yang mengatakan, "Talaba-l-'ilma faridatun 'ala kulli Muslim wa Muslimah"—Allah SWT mewajibkan setiap mukmin, laki-laki dan perempuan, untuk mencari pengetahuan, 'ilm. Tetapi apa batas-batasnya? Karena untuk setiap hal, tersimpan suatu keinginan tersembunyi, syahwat al-khafiyyah; pada setiap orang, ada keinginan tersembunyi dari ego mereka yang membuat orang-orang berada pada jalan yang salah, membuat mereka berpikir bahwa Islam adalah sesuatu yang hanya untuk DIKETAHUI, dan kemudian seseorang memulai jalannya mencari pengetahuan--lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak, dan lebih banyak ilmu, berlari, berlari, berlari, dan adalah tidak mungkin untuk menemukan suatu akhir dari ilmu. Ia akan kelelahan dan akhirnya menjadi lupa, juga karena telah banyak mengambil (ilmu); kemudian ia tak mampu membawanya dan mulai jatuh sampai, pada akhirnya, jika ia masih dapat mengingat Kalimat Syahadat saja, itu sudah baik. Ya; saya melihat saudara-saudara Muslim Barat kita, laki-laki dan perempuan. Kebanyakan mereka tertarik untuk belajar, belajar, belajar, dan mengetahui, tanpa mengetahui di mana mereka mesti berhenti.

Imam Al a'zham, Imam terbesar, Abu Hanifah, yang madzhabnya diikuti jutaan orang, menjelaskan makna hadis itu yang mewajibkan mukmin untuk belajar dan mengetahui, dan beliau mengatakan, "Afdhal al-'ilm, ilmu yang paling berharga yang kalian punya, hanyalah ilmu yang berkenaan dengan kepentingan dirimu sendiri," atau sebagaimana kami dapat katakan tentang apa yang bertentangan denganmu: yaitu untuk mengetahui segala sesuatu yang diperuntukkan bagi kalian, yang memberi kalian manfaat di sini dan di Akhirat, dan tentang hal-hal apa yang berbahaya bagi kalian atau memberikan kalian masalah dan hukuman baik di sini maupun di Akhirat.

Hanya itulah yang penting untuk diketahui. Ini tidak berarti bahwa kalian harus mempelajari seluruh al-Qur'an Suci dan seluruh hadis dari Nabi SAW dan seluruh buku yang ditulis atau setiap macam pengetahuan yang dibawa Islam; bukan ini yang dimaksud. Tetapi, orang-orang Barat memang punya keinginan mendalam untuk membaca, untuk belajar, dan mereka tidak mau mengubah sifat mereka ini. Karena itulah, saat mereka menjadi Muslim--seperti saudara laki-laki kita di sini, ia meminta seorang guru untuk mengajarinya bahasa Arab, dan kemudian makna-makna al-Qur'an Suci, makna-makna Hadis, dan ini akan menjadi beban yang berat baginya. Dan saya berkata padanya, "Stop; tidak perlu. Hanya apa yang mungkin kau temui selama hidupmu, yang harus kau pelajari dan kau amalkan."

Itu penting: untuk mengetahui dan belajar dengan tujuan untuk mengamalkannya! Tidak sekedar untuk tahu, atau untuk memiliki ilmu--tidak! Kita membutuhkan lebih banyak pengetahuan hanya untuk bisa mengamalkannya dan untuk menggunakannya dalam perjuangan kita melawan ego kita. Kalian mencari ilmu dengan tujuan untuk mencapai hikmah, karena tanpa hikmah, tidak mungkin untuk menghentikan ego kalian menyerang dan melawan kalian.

Hikmah bagaikan bom-bom atom bagi ego kalian, tetapi ilmu dan pengetahuan lainnya adalah seperti senjata-senjata sederhana yang di zaman kita ini mereka tidak akan bekerja; senjata-senjata sederhana tidak berarti apa-apa sekarang. Dengan mendekatnya hari akhir, senjata-senjata iblis, senjata-senjata Setan, juga meningkat, untuk mengeluarkan manusia dari iman dan kepercayaan. Tetapi, sebagaimana Setan meningkatkan serangan-serangan dan metode-metode yang ia gunakan untuk membuat manusia tak percaya dan tanpa iman, Awliya' (kekasih-kekasih Allah SWT) pun menggunakan hikmah untuk mengalahkan Setan dan pembantu-pembantunya serta penolong-penolongnya.

Jadi, ini adalah dari trik-trik itu, trik-trik setan. Jika Setan tidak mampu mencegah seseorang dari masuk Islam atau dari beriman, maka ia menggunakan metode lainnya, yaitu dengan membuatnya kelelahan. Saat seseorang lelah, habis; ia tak dapat lagi mengikuti jalan atau aturan-aturan Islam. Dan Setan menggunakan metode-metode barunya ini pada Muslim baru (muallaf), berkata, "Oh, sekarang kau Muslim, kau harus melaksanakan semua aturan. Jika tidak, tidak mungkin; kau bukan Muslim!"

Salat lima waktu sehari? Satu waktu adalah cukup bagi kalian sebagai seorang Muslim baru, dan Allah SWT menerima sekalipun hanya satu sujud sehari. Begitu banyak Muslim tidak melakukannya, bahkan sekali sujud setiap harinya, sekalipun mereka adalah Muslim. Mereka tidak mengatakan bahwa diri mereka kafir, tidak beriman—tidak, mereka adalah Muslim. Saya dapat tunjukkan pada Anda di sini, di London, orang-orang Turki yang Muslim; mereka tidak melakukan sujud sekalipun hanya satu kali tiap hari. Maka, mengapa kalian katakan "lima waktu" bagi Muslim-muslim yang baru? Ibadah lima waktu adalah kesempurnaan. Kalian boleh katakan, "Cukup bagi diri kalian untuk melakukan sekali sujud setiap harinya." Tadinya ia (Muslim baru-red.) belum melakukan apa-apa, tetapi kini Anda katakan padanya, "Tidak. Kalian mesti belajar al-Qur’an suci, semua isinya, dan kalian mesti salat lima waktu, dan kalian mesti berpuasa penuh di bulan Ramadan, dan kalian mesti siap untuk pergi Haji." Itu adalah kesempurnaan, itu adalah ketinggian, tetapi, ia mesti mencapai kesempurnaan itu selangkah demi selangkah. Tetapi, Setan datang dengan cepat, berkata, "Tidak--kau bukan Muslim jika kau tidak melakukan semuanya!" Dan Setan memiliki wakil-wakilnya, juga, dari golongan manusia untuk memperlemah keimanan mereka atau untuk menghancurkan mereka.

Begitulah, Allah SWT dengan hikmah Ilahiah-Nya, mula-mula memerintahkan para Sahabat untuk salat hanya dua rakaat di pagi hari, dan kemudian datang pula perintah dua rakaat di waktu Maghrib, saat matahari terbenam. Barulah beberapa tahun kemudian, datang perintah untuk salat lima waktu.

Kita pun bisa menggunakan cara yang sama, menggunakan hikmah, dan kita dapat mengatakan pada orang-orang, "Jika Sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW boleh salat hanya dua rakaat pada awalnya, apa salahnya jika kita katakan pada Muslim-muslim baru itu, 'Lakukan sekali sujud setiap hari; cukup'?" Kami menggunakan hikmah itu dengan cara seperti itu, dan kemudian ketika saya datang (pada mereka) di tahun berikutnya, saya melihat orang-orang itu melakukan salat di semua waktu. Saya tidak menyuruh mereka untuk salat lima waktu tetapi mereka mengatakan, "Kami dapat melakukannya sekarang!" Saya menasihati mereka untuk hanya salat dua rakaat dulu, tetapi mereka kini senang dengan lima waktu; mereka meminta lebih.

Karena itulah, kita amat membutuhkan hikmah, dan hikmah datang melalui hati kalian. Dan kalian dapat memperolehnya dalam empat puluh hari. Saya tidak mengatakan untuk memelihara empat puluh hari dan pada setiap harinya dua puluh empat jam dipenuhi dengan ibadah, tidak. Tetapi, yang saya sarankan pada kalian: Cukup sekali saja dalam sehari kalian lakukan suatu ibadah, pada tengah malam atau sebelum waktu Subuh, sebelum fajar, sehingga tak seorang pun bersama kalian, kecuali Tuhan kalian. Jika kalian tak dapat melakukan mandi, ghusl, kalian cukup berwudu'. Kemudian salatlah dua rakaat dengan berdiri menghadap kiblat, dan kalian katakan, "Tak seorang pun yang wujud kecuali Engkau, dan aku bukanlah apa-apa. Dan aku bersama-Mu dan Engkau bersamaku." Tak perlu mengatakan yang lain lagi.

Lakukanlah! Dan ulangilah selama empat puluh malam. Maka hikmah akan terbuka sedikit dalam hati kalian. Melalui hikmah itu akan muncul cahaya yang akan membuat terang kegelapan dalam dunia kalian, dan kalian akan menemukan suatu jalan untuk terus menempuh hidup ini.

Lakukan itu selama empat puluh hari, itu adalah metode paling mudah. Mungkin hanya memakan waktu lima Kalian akan temukan diri kalian lebih dekat pada Tuhan kalian, dan itulah yang terpenting: untuk merasakan bahwa diri kalian lebih dekat kepada Tuhan kalian. menit setiap kalinya; sudah cukup bagi kalian, tetapi jika kalian lakukan dengan kesinambungan selama empat puluh hari, kalian akan temukan suatu manfaat besar.