Showing posts with label Sayyidina 'Umar RA. Show all posts
Showing posts with label Sayyidina 'Umar RA. Show all posts

27 July 2008

Berada di Maqam Cinta

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
Philadelphia
, 14 Mei 1994

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ketika saya mengatakan, “Ini Syekh saya,” maka beliau tetap Syekh saya walaupun beliau akan melumatkan saya di dalam mesin blender. Saya tidak akan mengubah cinta saya pada beliau. Jika cinta saya berubah, saya tidak akan mencapai maqam apa pun. Pikiran-pikiran buruk tentang Syekh akan semakin menarik kalian menjauh dari beliau. Beliau mampu mendeteksi hal itu di dalam hati kalian.

Ketika kalian mengakui mempunyai pikiran-pikiran buruk itu, maka lebih mudah bagi Syekh untuk membersihkannya. Namun sebaliknya, bila si murid berpura-pura di depan Syekhnya bahwa dia adalah murid yang super, bahwa dia mencintai Syekhnya, bahwa dia akan melaksanakan apa yang diminta Syekh, padahal hatinya berbicara sebaliknya, maka Syekh pun mengetahuinya!

Itulah sebabnya di dalam banyak tarekat, ketika Syekh menghijab dirinya sendiri dan berada di “dunia lain” beliau tidak menemukan seseorang yang mampu membawa amanatnya ketika beliau sedang absen. Walaupun ketika di hadapan beliau, mereka tampak sebagai murid yang hebat. Akhirnya, beliau pergi tanpa menunjuk seorang pun, sampai ada yang benar-benar muncul. Ketika murid andalan itu muncul, Syekh memberinya kekuatan. Insya Allah, sebentar lagi murid itu akan muncul di antara kalian. Dia yang akan membawa amanat Syekh dan melanjutkan perjuangannya. Jika kalian pandai, kalian akan tahu siapakah orang itu. Dia adalah seorang yang rendah hati, tidak peduli dengan kehidupan materi ataupun ingin mencapai maqam tertentu dan tidak menonjolkan diri.

Sebuah lukisan Syekh Abdul Qadir Jailani QS yang terdapat di kediaman Abah Anom di Suryalaya.

Seperti ketika seorang murid Sayyidina Abdul Qadir Jailani QS meninggal, dia dikunjungi 2 malaikat dan bertanya, “Siapa Tuhanmu?” Murid itu menjawab, ”Abdul Qadir Jailani QS.” Siapa Nabimu? Dijawab, “Abdul Qadir Jailani QS.” Apakah agamamu? Dijawab, “Abdul Qadir Jailani QS.” ‘Tempatmu di neraka! Ke mana lagi tempat yang cocok bila seluruh pertanyaan dijawab dengan Abdul Qadir Jailani QS.’

Seketika itu Sayyidina Abdul Qadir Jailani QS muncul dan mengatakan, “Siapa yang memberi kalian izin membawanya ke neraka? Dia telah menyebut namaku, paling tidak tanyalah dulu padaku! Aku tidak jauh, dia adalah muridku, jika mau menanyainya, tanyalah aku. Jangan memberi dia siksa kubur tanpa memberi kesempatan meminta dukungan. Hal ini sama dengan menghina aku, aku wakil Nabi Muhammad SAW!”

Kedua malaikat itu takut pada Syekh Abdul Qadir Jailani QS. Mereka tidak ingin kena pukulan lagi seperti yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Umar RA pada mereka. Ketika Sayyidina Umar RA, Khalifah kedua wafat, dua malaikat maut mendatangi beliau. “Siapa Tuhanmu?” Sayyidina Umar RA mempunyai watak yang keras, dan beliau diam saja ketika pertanyaan itu diajukan. “Apa agamamu?” Beliau tetap diam. “Apa kitabmu?” Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya mereka harus membawa beliau menuju neraka.

Sayyidina Umar RA berkata, ”Aku tidak mendengar apa yang kau ucapkan, mendekatlah ke sini.” Mereka mendekat dan mengulang pertanyaan tadi. “Aku masih belum mendengar,… lebih dekat lagi!” Maka Malaikat Munkar AS mendekat dan bertanya lagi, ”Siapa Tuhanmu?” Sayyidina Umar RA segera mengepalkan tangan dan meninjunya tepat di mata Malaikat Munkar AS. Para awliya mengatakan bahwa Malaikat Munkar AS hanya memiliki satu mata saja, itu akibat dipukul oleh Sayyidina Umar RA.

Sayyidina Umar RA berkata, ”Aku baru saja tiba dengan jarak 10 yard, 2 menit dari makamku. Bagaimana mungkin aku lupa siapa Tuhanku dengan waktu sesingkat itu. Sedangkan kalian yang dikirim Allah SWT dari jarak ribuan dan ribuan tahun jauhnya mengaku tidak melupakan siapa Tuhan kalian? Terimalah pukulan keduaku ini!” Segera Malaikat Munkar AS lari menjauh dan Malaikat Nakir AS lari menyusulnya.

Maka kini kedua malaikat itu takut pada Syekh Abdul Qadir Jailani QS. Mereka kembali kepada Allah SWT, dan Allah SWT berfirman, “Dia adalah salah satu awliya-Ku. Tinggalkanlah dia.”

Allah SWT lalu memperpanjang hidup murid itu selama 37 tahun lagi. Mengapa? Karena cinta murid itu pada Syekhnya amat besar dan tidak mampu melihat apa pun kecuali Syekhnya. Itulah murid yang benar, mampu menjaga amanat.

Jika saya bertanya pada kalian sekarang, “Siapa Tuhanmu? Siapa nabimu? Apa kitabmu?” Maka kalian pasti takut untuk menjawab ‘Syekhku!’ Karena itu syirik, kufur, tidak bisa diterima. Meskipun hal itu tidak bisa diterima, dan bahkan kita sadar bahwa kita harus menyembah Allah SWT, dan ketika kita mengatakan, “Allahu Akbar,” kita sedang menyembahnya, namun jika kalian berada dalam Maqam Cinta, maka cinta itu akan mengambil alih pikiran kalian. Pada saat itu kalian tidak bertanggung jawab atas apa yang kalian katakan dan tidak berdosa.

Saat ini kalian pada tingkatan menggunakan akal. Namun pada saat berada di maqam itu, di mana kalian tidak dapat menggunakan akal pikiran, maka kalian bisa mengatakannya dan hal itu tidak dicatat sebagai sebuah dosa. Seperti orang yang tidak waras, jika dia membunuh seseorang, maka kita tidak bisa mengajaknya bicara karena dia tidak menggunakan pikirannya. Tidak bisa ditindak secara hukum karena dia seperti seorang anak kecil, walaupun tindakannya berdasarkan niat sekalipun. Dia tidak bertanggung jawab, dia tidak menggunakan akal pikirannya.

Jika kalian mencapai Maqam Cinta sebagaimana yang telah dicapai para awliya, maka syirik tidak ada artinya. Inilah yang gagal dimengerti oleh para ulama terhadap keberadaan para wali. Ini adalah kesalahan yang dibuat para ulama dulu dan masih berlanjut sampai sekarang. Mereka mengatakan, “Syekh itu musyrik dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa diterima.” Karena Syekh itu tidak sedang berada di maqam yang biasa. Dia sedang berada di Maqam Cinta.


07 June 2008

Persatuan Umat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta, 12 Januari 2002/28 Syawal 1422


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisaa 4:59) “Patuhlah kepada Allah SWT, patuhi Rasulullah SAW, dan patuhi pemimpin kamu.” Wa min Allaah at tawfiq “Keberhasilan hanya datang dari Allah SWT.”

Mengapa umat Islam sekarang tidak bersatu? Kalimat tauhid, La ilaha ilallah Muhammadan Rasulullah yang kita ucapkan mengandung pengertian yang sangat dalam. Dengan mengucapkan kalimat itu, kita berarti mengadakan hubungan dengan Allah SWT dan kepada Rasulullah SAW. Kalimat inilah yang menyatukan umat Islam, jika hal ini dilanggar akan mendapat hukuman dari Allah SWT. Tidak hanya di mulut saja, sebenarnya semua yang terkandung dalam sunnah Rasulullah SAW menjadikan umat Islam bersatu.

Ketika kita salat, di lain waktu kita menipu orang, bagaimana Muslim bisa bersatu. Pada saat naik haji di mana setiap orang berpakaian putih. Semua mengatakan bahwa kita sama. Padahal tidak demikian. Awliya Allah mengetahui bahwa pakaian itu hanya untuk menutupi tubuh kita saja, mereka tahu apa yang ada di dalam hati kita. Itu bukan pakaian ihram namanya. Namun Allah SWT membersihkan mereka dan juga padang Arafah ikut mensucikan mereka dari segala macam kotoran dalam hatinya.

Jika kita mengucapkan kalimat tauhid dengan sebenarnya kita akan memperoleh Samudra Ketauhidan, bahrul tauhid yang sebenarnya. Inilah yang menyatukan umat Islam.

Sekarang ini pemerintah Arab Saudi memberlakukan peraturan haji yang bermacam-macam. Mereka memilah-milah padang Arafah sesuai dengan ongkos naik hajinya. Yang ini untuk ONH biasa, yang itu untuk ONH plus, dan yang lain untuk ONH plus…plus dan seterusnya. Apakah kamu pikir Allah SWT menilai mereka berdasarkan hal itu, apakah ini suatu keadilan?

Selain itu mereka juga menetapkan suatu kuota haji yang membatasi jumlah jemaah dari suatu negara untuk melaksanakan hajinya. Siapa yang bisa menjamin mereka akan dipanjangkan umurnya hingga tahun depan, sementara itu haji merupakan rukun Islam kelima yang harus dipenuhi oleh mereka yang mampu. Allah SWT Yang Mahaagung telah mencukupkan padang Arafah sebagai tempat berkumpul dalam menunaikan haji. Tempat itu tidak akan pernah kekurangan walaupun 10 juta orang memenuhinya. Pada masa Rasulullah SAW segala peraturan itu tidak ada. Tidak ada kelas-kelas tertentu, semua orang sama dan dengan demikian Muslim dapat bersatu.

Kalimat tauhid adalah bendera persatuan umat Islam, bersama-sama dengan hati yang teguh. Pada saat itu Allah SWT mengangkat derajat kita. Pada awal penciptaan manusia, malaikat merasa keberatan, untuk apa Allah SWT menciptakan makhluk yang akan berbuat kerusakan di muka bumi. Namun Allah SWT memerintahkan mereka untuk bersujud kepada Adam AS dan mereka langsung bersujud. Mereka begitu suci. Bila kita bersih seperti malaikat, kita mendapat cahaya Ilahi, maka kita akan bersatu.

Bayangkan, dua orang saudara di tempat yang sama, mereka saling bertengkar, berselisih paham. Hal ini juga terjadi pada pasangan suami-istri, ayah dan anak tidak bisa akur. Ego menguasai mereka.

Rabiah al-Adawiyyah QS menjadi wali bukan karena ibadahnya, tetapi karena kemampuannya mengontrol ego. Suaminya biasa pulang dalam keadaan mabuk, namun ia tetap menyambutnya dan membersihkan tubuhnya. Ketika suaminya minta air, ia mengambilkannya, tetapi ketika ingin diberikan, suaminya telah tertidur oleh karena itu ia tetap menunggu sampai suaminya bangun dan ia dapat memberikan air itu kepadanya. Demikianlah ia menjadi suci dari pengaruh ego. Ia mematuhi Allah SWT dan sangat memahami arti dari surat an-Nisa': 34. Allah SWT memberinya berkah yang lebih banyak dibandingkan yang didapat suaminya.

Sekarang para wanita bertanya mengapa pria diciptakan dengan status yang lebih tinggi daripada wanita. Tidak seperti Rabiah al-Adawiyyah QS. Dan ucapan seperti itu akan mempengaruhi kita. Allah SWT menguji mereka dengan mengirimkan kesulitan. Dan dibalik ujian ini, sebenarnya Allah SWT sangat menyayangi kita. Ujian itu adalah untuk melihat keteguhan hati kita dan tanpa ujian, bagaimana kita bisa mengalami kemajuan. Allah SWT mengirimkan Iblis untuk menggoda manusia, bukan para wali. Bila wali yang diturunkan itu terlalu mudah, seperti halnya ketika Allah SWT mengirim Iblis kepada Nabi Adam AS, bukannya malaikat. Nabi Adam AS mewakili seluruh umat manusia. Allah SWT mengujinya dengan memberi hubbul khulud. Umat manusia senang sekali dengan umur yang panjang dan keinginan untuk menggapai apa saja. Allah SWT mengetahui bahwa manusia selalu menginginkan lebih bahkan mereka ingin hidup selamanya. Bahkan ketika Allah SWT telah memberikan seluruh Surga pun, Nabi Adam AS masih menginginkan pohon itu, sehingga tidak ada artinya seluruh Surga bila pohon itu belum dimilikinya.

Kelemahan kita adalah, kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah kita dapat dan lebih menginginkan yang dimiliki orang lain. Kalau begitu bagaimana Muslim bisa bersatu.

Setan selalu berusaha mendatangi dan menggoda manusia sebagaimana yang telah dilakukannya kepada Nabi Adam AS. Ketika Allah SWT menyuruh malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS, malaikat langsung bersujud walaupun pada awalnya mereka keberatan mengenai penciptaan manusia ini. Mereka tahu makhluk ini nantinya akan berbuat kerusakan di bumi. Begitu Allah SWT memberi perintah, mereka langsung mengerjakannya. Dengan demikian segala persoalan menjadi selesai. Kita juga bisa meniru hal itu, yaitu dengan menerima perbedaan yang ada pada orang di sekitar kita. Kita harus bisa menerima kekurangan orang lain, saling menghormati dan memberi nasihat. Dengan demikian kita akan bersatu. Mengapa awliya bisa bersatu? Karena mereka tidak pernah berselisih satu sama lain. Mereka mengerti betul makna kalimat tauhid yang pada dasarnya merupakan sebuah kontrak antara roh dengan Tuhannya.

Jika kita juga bisa memahami makna kalimat tauhid dengan benar, Allah SWT akan menyatukan kita. Allah SWT akan selalu menyelamatkan Islam sebagaimana janji-Nya terdahulu, bahwa Islam tidak akan pernah hancur.

Setiap Muslim harus menghormati kontrak antara roh dengan Tuhan, ketika Allah SWT bertanya, “Siapa Aku dan Siapa engkau?” Dan semua menerima bahwa Allah SWT adalah Tuhan mereka dan mereka adalah hamba-Nya.

Awliyaullah tidak akan membiarkan muridnya berputus asa. Setiap malam mereka selalu mendatangi rumah pengikutnya. Sadarilah bahwa setiap murid yang telah berbay’at, rumahnya akan selalu dikunjungi awliya. Bagaimana kamu bisa mengunjungi makam Rasulullah SAW, namun kalian tidak menghormati orang lain? Jika kalian mempunyai pikiran buruk terhadap sesama Muslim, Kamu masih saling benci, saling dengki, dan membicarakan keburukan orang, bagaimana mungkin umat Islam akan bersatu?

Di masa Rasulullah SAW ada seorang yang dijanjikan akan masuk Surga. Sayyidina ‘Umar RA mengamati orang itu selama 3 hari. Dari pengamatannya Sayyidina ‘Umar RA menyimpulkan tidak ada yang istimewa dalam ibadahnya, beliau jadi heran dan bertanya kepada orang itu, apa yang dilakukannya sehingga ia dijamin akan masuk Surga. Orang itu menjawab bahwa setiap hari sebelum tidur ia selalu berniat untuk memaafkan semua orang yang telah menyakitinya, tidak hanya dengan mulut tetapi juga dengan hati yang tulus.

Kita bisa melakukan hal yang lebih baik darinya, yaitu mendoakan mereka, beristighfar atas nama mereka dan berdoa kepada Allah SWT agar pahala yang didapatnya dianugerahkan kepada mereka, semuanya. Inilah adab yang diajarkan dalam tarekat.

Jika tidak, kapan kita akan bersatu? Mengapa para awliya mengajarkan tarekat? Sebenarnya adalah untuk menanamkan disiplin diri terutama untuk menghilangkan hasad, benci dan kemarahan.

Semoga Allah SWT mengampuni kita dan membimbing kita ke jalan yang benar.

Bi hurmatil habib…al Faatiha!