Showing posts with label Salat. Show all posts
Showing posts with label Salat. Show all posts

14 May 2009

Sebuah Kehilangan....yang Abadi


Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Scott’s Valley, California

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 


Kata Pengantar 

Tulisan ini tidak lengkap, sebuah konsep transkrip yang diedit sebagian yang disiapkan dari sebuah shuhba yang disampaikan  oleh Syekh Muhammad  Hisyam Kabbani QS. Transkripsi ini disiapkan dalam waktu singkat dan mungkin masih mengandung kesalahan, hal-hal yang terlewat atau informasi yang tidak benar.  Berkenaan dengan hal ini, Syekh Hisyam QS menyatakan, “Kita bukannya tidak dapat bersalah dan setiap orang, kecuali Nabi SAW, membuat kesalahan, jadi kita minta para pembaca untuk menunjukkan kepada kami kesalahan apa pun, pengurangan atau koreksi terhadap informasi yang salah.”

`Ati-Allaha wa ati`ur-rasula wa ulil-amri minkum”--”Wahai orang-orang yang beriman! Patuhi Allah SWT, dan patuhi Rasul, dan mereka yang diberi otoritas diantara kamu." [QS 4:59] 

Ya Rasulullah SAW, ya Habibullah SAW, aghitsna! 

Kadang-kadang kalian enggan berbicara apapun. Kadang-kadang kalian ingin berbicara sesuatu. Ketika kalian ingin berbicara tentang sesuatu, hendaknya kalian tahu bahwa orang pertama yang memerlukan nasihat adalah diri kalian sendiri. Orang pertama yang harus mendengar (nasihat itu) adalah diri kalian sendiri. Sang pembicara adalah yang memerlukan hal yang dia bicarakan. Sang pembicara atau dia yang memberikan penjelasan, dia harus tahu bahwa dia tidak berbeda dengan yang lain. Dia harus tahu bahwa dialah yang paling memerlukan (penjelasan itu). Jangan berpikir bahwa dirinya lebih dari yang lain. 

Suatu waktu Saya mendengar dari Mawlana Syekh, semoga Allah SWT memberkatinya dan dari Grandsyekh semoga Allah SWT mensucikan rohnya, beliau berkata bahwa Allah SWT menyempurnakan Sayyidina Muhammad SAW dan Dia menjadikannya dengan adab dan akhlak yang paling tinggi dan paling baik.  Beliau adalah al-insaan al-kamil—beliau adalah manusia yang sempurna. Namun Allah SWT memberikan kenabian—menjadikannya seorang Nabi—dan memberikan kepadanya semua maqam yang tidak dapat dibayangkan oleh seorang pun. Berapa kali kami telah menjelaskan pentingnya Nabi SAW sebagai pintu kepada Hadirat Ilahi. “Namun tanpa Umat,” Grandsyekh mengatakan, “Nabi SAW menjadi Nabi untuk siapa?” Jadi artinya, Umat adalah penting bagi Nabi SAW agar menjadi Nabi untuk mereka. Dan Allah SWT memberi kepadanya agar beliau dapat memberikannya kepada Umat. 

Itu tadi tentang Nabi SAW. Lalu bagaimana menurut kalian tentang Umat itu sendiri? [Anggota] Umat tidak lebih baik dari Umat yang terbaik. Mereka bukanlah Nabi SAW; mereka bahkan bukan Sahabat. Sahabat hanyalah mereka yang menemani Nabi SAW, yaitu sebanyak 124.000 orang. Sisanya adalah Umat Rasulullah SAW. Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim QS berkata, “Awliya-Allah memerlukan (adanya) pengikutnya. Karena kalau bukan untuk pengikutnya, mereka tidak akan diberi ilmu. Buat apa mereka diberi ilmu jika tidak ada orang yang akan menerimanya? 

Dia mengatakannya seperti ini, “Saya harus berkata kepada diri sendiri dan menasihati diri sendiri, ‘jangan melihat dirimu sendiri begitu tinggi; kamu memerlukan orang-orang yang mendengarkan kamu.’ Karena untuk merekalah Allah SWT memberikan (ilmu atau nasihat) kepada para Awliya; pertama untuk menasihati dirinya sendiri, lalu menasihati para pengikutnya. Bukannya karena Saya berbeda lalu Saya berbicara. Saya berbicara dari apa yang Allah SWT berikan kepada Nabi SAW dan Nabi SAW memberikan kepada saya untuk keperluan para pendengar saya. Jika tidak ada pendengar, untuk apa Saya menerima ilmu itu? Allah SWT menghendaki pengetahuan itu agar sampai pada mereka dan Saya menjadi sebuah sarana (alat). Dan itu berlaku bagi setiap orang.  Kalian tidak boleh berpikir sendiri bahwa kalian adalah seorang professor atau seorang PhD; atau seorang doktor atau seorang pengacara atau seorang insinyur atau seorang tukang kayu atau seorang tukang listrik atau seorang teknisi komputer atau apa saja.  Kalian bukanlah apa-apa, sesuatu yang bukan apa-apa mutlak. Jika Allah SWT tidak menghendaki kalian memilikinya, Dia akan menutupnya—habislah. Nol, ditutup botolnya. Maka habislah kalian. 

Jadi nasihat haruslah pertama-tama untuk diri kalian. Beberapa orang, ketika mereka berpikir mereka memberi nasihat, harus menganggap merekalah yang paling memerlukan nasihat itu. Mereka dibawakan kursi besar, mereka duduk di atasnya dan semua yang lainnya duduk di sana, mendengarkan. Namun `Ilm al-huruuf, menghapal huruf, tidak memberi manfaat. Yang bermanfaat adalah `ilm al-ma`ani – untuk mengangkat ilmu tersembunyi di dalam huruf-huruf itu. 

Berapa banyak huruf dalam alfabet Arab. [beberapa mengatakan, "26?"] 28. Berapa banyak gigi yang kalian miliki? [28].  Dari huruf-huruf ini apa yang kalian pelajari? Makna keseluruhannya muncul ketika mereka dipersatukan—saat itulah mereka memiliki sebuah arti. 

Iblis tidak mengetahui arti itu. Dia membaca huruf-huruf itu, tetapi Allah SWT memberinya hijab karena mereka sombong.  Jadi kesombongan menghalangi segala sesuatu. Kalian tidak mau diberi hijab, bukan? Kita harus tidak tertutup hijab. Dan jika kita tidak ingin terhijab kita harus belajar sesuatu yang sangat penting. Jika seseorang mencintai seseorang, mereka itu menyebutnya tersayang (biarlah kita berbicara seperti orang barat) Apa yang kalian rasakan? Apakah kalian merasakan sakit atau sedih dalam hati kalian? Jika kalian tidak merasakannya, itu artinya kalian adalah seekor buaya. Bagaimana tentang rasa sakit itu, apakah kalian merasakannya? Betapa sulitnya itu pada Umat, pada seseorang ketika kalian kehilangan seseorang yang kalian sayangi. 

Ketika kalian kehilangan seorang ayah, kalian menangis. Ketika kalian kehilangan seorang ibu, kalian menangis. Ketika kalian kehilangan seorang anak, kalian menangis. Ketika kalian kehilangan seorang istri, kalian menangis. Ketika kalian kehilangan seorang suami, kalian menangis. Bahkan ketika kalian kehilangan seekor kucing pun, kalian menangis.  Jika kalian kehilangan seekor keledai, kalian menangis. Bukankah demikian? Apa yang kalian pikir tentang kehilangan seekor kuda, kalian menangis sangat sedih.  Ketika kalian kehilangan seekor anak kuda, kalian menangis.  Bahkan ketika kalian kehilangan anak yang masih dalam rahim ibunya, yang belum terlahir pun, kalian menangis. 

Jadi artinya sesuatu yang kalian cintai, jika kalian kehilangan itu, apa yang terjadi? Kesedihan. Berapa lama kesedihan itu tinggal dalam hati. Seterusnya.  Selalu, ketika kalian memikirkannya, itu membakar hati. Minggu pertama setelah kehilangan, kesedihan itu ada di sana; minggu kedua masih di sana, setelah sebulan atau dua bulan, atau bahkan setahun dia masih di sana. Tetapi kesedihan itu menjadi berkurang dan berkurang dengan berjalannya waktu. 

Lihatlah sekarang, sebagai contoh. Seluruh bangsa berduka cita dan mereka menurunkan semua bendera [setengah tiang] karena kita kehilangan tujuh orang astronot. Dan siapa pun yang melihat berita itu, apapun agama mereka, merasa sedih. Itu kesedihan untuk kalian dan untuk saya. Apa yang kalian pikir tentang istri-istri mereka, suami-suami mereka dan anak-anak mereka? 

Apa yang kalian pikir jika 500.000 anak meninggal? Bagaimana jika satu juta anak meninggal karena kelaparan, banjir, gempa bumi, atau perang? Tidakkah itu menyakitkan? Jika hanya karena tujuh orang itu adalah menyedihkan bagaimana pula kalian pikir jika sejuta orang meninggal? 

Dan semua dunia ini dalam Timbangan Allah SWT tidak seberat sayap seekor nyamuk. Dan orang masih, karena cinta mereka kepadanya, kehilangan kecintaannya itu. Karena mereka senang berkelahi satu sama lain dan saat itulah banyak orang meninggal. Dan rasa sedih adalah untuk mereka yang meninggal di sini.  Jika itu masih di dunia kalian mendapatkan kesedihan dari kehilangan itu, namun itu masih di dunia, itu tidak abadi. Jika kalian kehilangan seorang anak, seorang  isteri, seorang suami, seorang ayah, itu masih di dunia ini – namun kalian masih akan bersama mereka di Akhirat. 

Tetapi apa yang dikatakan Nabi SAW tentang apa yang paling dicintainya di dalam hatinya. "Qurrattu `aynii fish-shalaat" - "kesejukan mataku (yaitu yang paling aku cintai) adalah dalam salat." Itu adalah yang paling penting, yang seharusnya dicintai lebih dari diri kalian sendiri, lebih dari keluarga kalian, lebih dari anak-anak kalian, lebih dari segala-galanya. 

"Ash-shalaatu `imad ud-diin." - "Salat adalah tiangnya agama, tiang utamanya." Jika kalian kehilangan yang kalian cintai, kalian menjadi sedih dan itu sangat menyakitkan; maka apa yang kalian pikir ketika kehilangan sebuah salat? Itu adalah kesedihan abadi dan itu berlangsung seterusnya. 

Tetapi kalian tidak merasakannya. Dan Nabi SAW berkata, "Itu adalah hal yang paling aku cintai." Itu artinya, "Jika aku kehilangan salat itu, aku kehilangan Hadirat Allah SWT." Itu adalah hal paling baik yang dapat kalian capai di dunia dan di Akhirat. Jika kalian kehilangan Hadirat itu, kalian harus merasa sedih, bukan hanya untuk 40 hari atau setahun atau tiga tahun, tetapi kalian harus selalu bersedih bahwa kalian kehilangan salat kalian, karena itu tetap akan mengikuti kalian hingga Hari Keadilan.  Dia tidak akan berhenti di situ saja.  Salat itu di Hari Pengadilan akan berkata, "Ya Rabbi, ia tidak salat. Ia kehilangan salatnya. Ia menjauhi-Mu. Ia membuat dunia mendekat kepadanya dan membuat Engkau menjauh darinya." 

Wahai Muslim ke manakah kita akan pergi?  Ini adalah nasihat untuk semua orang. Bukan saja untuk kalian, tetapi untuk saya, untuk kalian dan untuk setiap orang. Kalian yang telah kehilangan salat kalian, kalian telah kehilangan hal yang kalian (seharusnya) cintai. Salat itu akan mendatangi kalian di Akhirat seperti anak kecil, berlarian sambil berkata, "Engkau berhutang kepadaku!" Jika kalian menyelamatkan mereka dan memelihara mereka (itu bagus sekali), tetapi jika kalian kehilangan mereka, kalian akan kehilangan banyak sekali rahmat yang Allah SWT telah tempatkan dalam salat-salat itu. 

Salat-salat itu akan seperti sebuah mahkota, penuh dengan hiasan berlian.  Tetapi jika kalian mengambil satu saja dari tempatnya, bagaimana nampaknya? Itu kelihatan buruk! Mereka itu seperti itu, seperti mahkota, masing-masing memiliki tempatnya sendiri. Atau seperti sebuah guci yang penuh dengan lubang-lubang, dan semua salat-salat itu menutup lubang-lubang kecil pada guci itu. Jika sebuah salat hilang, guci itu tidak lagi tertutup dan segala isinya tumpah keluar. Satu salat saja yang hilang membuat semuanya tumpah. Satu salat saja! Bukan dua. Satu lubang pada sebuah guci, betapa pun besarnya guci itu – bahkan lebih besar dari rumahnya pun – dalam satu minggu air akan pelan-pelan terkuras habis. Dan kita melupakan hal itu, kita datang dan duduk di dalam yang mereka sebut sebagai sebuah mahfal, dalam sebuah pesta besar, atau jama’ah dan pembicara berteriak dan berpidato. Untuk apa? Pertama-tama marilah kita memelihara salat kita. 

Jika saya memulai dengan bertanya pada diri saya  sendiri, dan kemudian bertanya kepada lainnya, apakah tidak ada salat yang hilang? Dan bahkan kita berbicara tentang topik yang muluk-muluk. Tiang utama belum lagi terbentuk, dan kalian sudah membangun atap. Pertama-tama bangunlah infra strukturnya. Mereka berbicara tentang kecintaan kepada Nabi SAW.  Itu adalah atap yang memang diperlukan – cinta kepada Nabi SAW. Mereka berbicara tentang subyek itu – yang sesungguhnya, suatu subyek yang sangat indah. Tetapi buatlah infra strukturnya dulu. 

Nabi SAW bersabda, "Waktu terbaik adalah ketika aku salat." Jika kalian kehilangan nawaafil-nya, salat sunah, di mana cinta kepada Nabi SAW? Di mana janggutnya? Di mana baju sunahnya, yang menyerupai pakaian yang dipakai Nabi SAW, jalanya Ahl al-Islam? Kalian berbicara dari sini dan dari sana.  Dan inilah penyakit di antara Umat yang tidak habis-habisnya. 

Jadi semoga Allah SWT mengampuni kita.  Semoga Allah SWT membimbing kita untuk memelihara salat kita dan membuat anak-anak kita memelihara salat mereka. Dan nasihat ini dan siapa pun berpikir untuk memberikan ceramah atau nasihat harus tetap berpikir bahwa dirinyalah yang paling memerlukan nasihat itu sebelum yang lainnya. Atau kalau tidak demikian pembiacaraan itu akan kehilangan cahaya di dalamnya. Itu hanya akan seperti sebuah pembicaraan yang kalian sendiri melemparkan lumpur kepada apa yang kalian bicarakan. 

Semoga Allah SWT memperbaiki hati kita, dan memelihara kecintaan kita kepada Nabi SAW dan memelihara kecintaan kita kepada para Syekh kita dan semoga Allah SWT memberkati kita dan memberkati guru kita Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS dan memberinya umur yang panjang. Al-Fatiha. 

Selawat dan salam Allah SWT semoga tercurah kepada Nabi SAW, keluarganya, dan semua Sahabatnya yang mulia. Al Fatiha

Wa min Allah at tawfiq

04 April 2009

Kebutuhan akan Kepastian

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

Liberating the Soul, Vol.1

  

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
 


Sangat tak mungkin bagi seseorang untuk meninggalkan sifat-sifat buruk setani dan berjalan di jalan yang
 lurus, kecuali  Allah SWT menolong mereka.  Oleh sebab itu kita harus memohon pertolongan Allah SWT untuk segala sesuatu.

Kalian tak dapat menjauhi perbuatan buruk bila kalian tidak memohon pertolongan Allah SWT, dan kalian tidak dapat meletakkan langkah kalian  dengan benar tanpa meminta kepada-Nya.  Oleh sebab itu ketika kalian ingin meninggalkan perbuatan nafsu setani, kalian harus memohon pertolongan Allah SWT dengan mengucapkan, ”`Audzubillahi minasy-syaithanir-rajiim.” Kalimat ini akan memberi perlindungan, menjadi benteng bagi kalian.

Setiap saat kalian merasa bahwa setan akan mengganggu, kalian harus mengatakan, “Oh Tuhanku, setan menginginkan aku untuk menjadi hambanya, menjadi pengikutnya.  Oh Tuhanku, jagalah aku dari setan yang terkutuk.”  Ini adalah kalimat yang penuh makna, meski  kitahanya mengucapkannya dengan lidah kita, hal ini akan memberi perlindungan, apalagi bila kita mengucapkan dengan hati kita, maka akan menjadi sangat kuat.

Dan ketika kalian memohon untuk mendapat jalan yang benar, kalian harus mengucapkan, Bismillaahir rahmaanir rahiim.“  Di akhir zaman ini, ketika kita ingin melangkah di jalan yang benar, 100 setan akan mengeroyok kalian dan mencegah kalian agar tidak bisa bergerak untuk melangkah ke jalan yang benar. Dan ketika kalian mengatakan,”Bismillaahir rahmaanir rahiim,“ ini akan membuat setan menjauh dan memberi kalian kekuatan untuk melangkah di jalan yang benar.

“Ya! Hal ini benar adanya,”Bismillaahir rahmaanir rahiim sangat kuat.  Ini adalah  kunci dari setiap kekuatan ajaib.  Semakin kuat hal ini  kalian yakini, meski kalian  letakkan kaki kalian di atas sungai, maka kalian dapat berjalan di atasnya.  Hanya keyakinan yang kuat yang dapat mencapainya.

Setiap orang mengetahui sesuatu,  tetapi hanya beberapa orang yang memiliki “keyakinan” sempurna.  Ilmu pengetahuan bisa saja dimiliki setiap orang, tetapi “keyakinan” hanya beberapa orang yang terpilih saja yang memilikinya.

Hasan al-Basri QS, semoga Allah SWT merahmatinya, adalah Imam yang terkenal.  Pada masanya Habib al-’Ajami QS yang bukan berasal dari Arab, tetapi dari Persia atau BukharaBeliau tidak membaca Qur’an seperti layaknya orang Arab, beliau bahkan seorang yang buta huruf.  Suatu ketika Hasan al-Basri QS datang dan melihat Habib al-`Ajami QS sedang melakukan salat Maghrib. Ketika Hasan al-Basri QS mendengar bahwa Habib al-`Ajami QS tidak bisa mengucapkan “al-hamdu,” tetapi ia mengucapkannya el-hemdu” maka Hasan al-Basri QS tidak mengikutinya menjadi makmum, tetapi ia melakukan salat sendiri.  Tiba-tiba Hatif ar-Rabbani, suara ilahi datang melalui kalbunya, Allah SWT kadang menelepon hamba yang dicintai-Nya, dan mereka mendengar apa yang diucapkan-Nya. ”Kecuali salat yang engkau lakukan tidak mengikuti Habib al-`Ajami QS, Aku menerima seluruh salatmu yang lain.”

Allah SWT mengatakannya melalui ilham yang dikirimkannya, dan Hasan al-Basri QS mendengarkannya. Allah SWT berkata, ”Engkau tinggalkan salat berjamaah hanya karena kata-kata yang diucapkannya, tidak melihat hati dari Imam di mana Aku bersamanya.  Aku melihat siapakah yang menjadi Imam dan Aku tak melihat pembacaannya,  Aku melihat ke dalam hatinya.  Jika hatinya bersama-Ku, maka Imam itu benar.  Jika hatinya tidak bersama-Ku, meskipun  ia membaca Quran dengan sangat indah, maka malaikat yang akan mengantarkan salatnya kepada-Ku.  Tetapi siapa pun yang salat dan hatinya bersama-Ku, maka Aku sendiri  yang langsung menerima salatnya tanpa perantaraan malaikat.” 

Oleh sebab itu orang yang salat terbagi menjadi dua macam: pertama, adalah orang yang salat dan ketika ia mengucapkan, Allahu Akbar,” ia meletakkan segala sesuatunya bersama Allah SWT semata, dan Allah SWT mengambil salatnya langsung dalam Hadirat-Nya.  Tetapi untuk seseorang yang mengucapkan, Allahu Akbar,” tetapi hatinya berkelana, memikirkan pekerjaannya, makan-minum, maka malaikat yang membawa salatnya itu kepada Allah SWT.

“Wahai Hasan al-Basri QS, Aku akan menerima seluruh salatmu demi para Imam yang kau tinggalkan karena caranya melantunkan Quran.”  Dan Imam Hasan  al-Basri QS mencucurkan air mata mendengarnya.

Suatu ketika Hasan al-Basri QS sedang duduk di pinggir sungai Tigris di Baghdad, menunggu perahu untuk menyeberangi sungai.  Habib al-`Ajami QS datang dan  berkata, ”Wahai ustadz, wahai tuanku, apakah yang kau tunggu?”  Hasan al-Basri QS menjawab, ”Aku menunggu perahu untuk menyeberang.” “Engkau adalah Imam dan kau duduk menunggu perahu di sini untuk menyeberang?”  “Mari ke sini, katakanlah Bismillah dan menyeberanglah.” Kemudian  Habib berkata, Bismillaahir rahmaanir rahiim dan menyeberangi sungai Tigris. Hasan al-Basri QS hanya bisa menangis, ”Orang `Ajam  ini, orang yang asing dan buta huruf menyeberangi sungai dengan ‘keyakinannya’ dan aku masih duduk di sini.”

Ya, Hasan al-Basri QS memiliki pengetahuan tentang kekuatan kalimat Bismillaahir rahmaanir rahiim,“ tetapi Habib al-`Ajami QS memiliki keyakinan yang kuat sementaraHasan al-Basri QS tidak cukup memiliki keyakinan untuk mengucapkan, Bismillaahir rahmaanir rahiim dan berjalan di atas permukaan air. Oleh sebab itu lebih baik memiliki “keyakinan yang  kuat” dibanding memiliki ilmu. Hal ini sangat penting.  Tetapi saat ini manusia selalu berlari  setelah belajar cukup banyak.  Apa keuntungannya?  Kalian dapat belajar begitu banyak tetapi juga akan lupa begitu banyak.  Tetapi “keyakinan” tak akan pernah meninggalkan kalian.  Keyakinan adalah inti dari ilmu pengetahuan.  Kalian bahkan dapat menanamnya dan ia akan tumbuh.

Suatu ketika ketika Habib al-`Ajami QS sedang duduk di khaniqah (tempat zikir), seorang takiyah (darwis pertapa), Hasan al-Basri QS datang berlari kepadanya, ”Wahai Habib, cepat sembunyikan aku.” Hasan QS berkata demikian karena tentara Khalifah Hajaj sedang mengejar untuk menangkapnya. “Masuklah ke dalam dan sembunyikan dirimu.”  Hasan QS masuk ke dalam dan menemukan tempat untuk bersembunyi.  Tak lama kemudian tentara datang dan menanyakan Habib, di mana Hasan al-Basri QS, ”Apakah kau melihat Hasan al-Basri QS?”  “Ya, aku melihat Hasan QS, ia ada di dalam.”  Tentara kemudian masuk ke dalam rumah mencari Hasan al-Basri QS, mereka mencari di setiap tempat, tetapi tak dapat menemukannya. “Apakah kau tidak malu berbohong kepada kami!  Di mana dia?  Hajaj akan menghukum orang yang tidak membantunya dan bekerja sama dengan Hasan al-Basri QS, kau katakan bahwa dia ada di dalam, apakah kau tidak malu berbohong seperti itu!” ”Dia di dalam, aku tidak berbohong, dia memang ada di dalam.”  Sekali lagi tentara itu mencari di dalam rumah, dan dengan sangat marah, mereka pergi karena tak menemukan Hasan al-Basri QS.

Kemudian Hasan al-Basri QS keluar, ”Wahai Syekh, apa yang kau lakukan?  Aku datang kepadamu meminta perlindungan, dan kau mengatakan bahwa aku ada di dalam.”

“Ya Hasan QS, Ya Imam, najaut min shidqi-l-kalam,” kau diselamatkan oleh kejujuranku.  Aku katakan yang sebenarnya dan Allah SWT melindungimu karena aku bicara jujur. Aku katakan, “Ya Allah, ini adalah Hasan al-Basri QS, hamba-Mu, ia datang kepadaku dan meminta pertolongan untuk menyembunyikannya. Aku tak dapat melindunginya, hingga aku percayakan dia kepada-Mu, Ya Allah, dan aku percaya Engkau akan melindunginya. Aku hanya berkata seperti itu kepada Allah SWT lalu membaca Ayat Kursi.   Oleh sebab itu meskipun tentara telah mencari ke seluruh penjuru dan telah memegang kepalanya, tetapi mereka tidak dapat melihatnya.  Ya, jika Allah SWT melindungi hamba-Nya, hal itu adalah benar.  Awliya adalah wakil Allah SWT.  Jika seseorang datang kepada seorang wali dan memohon untuk perlindungan, maka ia akan melindunginya di dunia dan di akhirat nanti.  Inilah karamah Awliya, mukjizat para Nabi dan keajaiban untuk para Awliya.  Kita membutuhkan keyakinan itu.

Sekali lagi, Hasan al-Basri QS datang untuk menjenguk Habib al-`Ajami QS.  Ketika Hasan QS tiba, Habib membawa dua potong roti, meletakannya di depan Hasan al-Basri QS sebagai penghormatan kepada tamunya.  Ketika baru saja Hasan al-Basri QS akan makan, seorang yang lapar datang dan meminta makanan untuk rida Allah SWT.  Kemudian Habib mengambil kedua potong roti itu dari Hasan al-Basri QS dan memberikannya kepada pengemis lapar itu.

Kemudian Imam Hasan QS bertanya, ”Wahai Syekh, engkau memang orang baik, tetapi bila engkau memiliki pengetahuan Syari’ah itu akan lebih baik untukmu Syekh.” “Kau harus tahu, walaupun sedikit--tentang Syari’ah,  aku bermaksud mengatakan, seharusnya engkau memberikan sepotong roti saja untuk pengemis lapar itu dan sepotong roti untukku akan lebih baik daripada memberikan kedua potong roti tadi kepada orang itu.”

Habib al-`Ajami QS tidak berkata apapun.  Beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk pintu rumahnya, kemudian Syekh menyuruh Hasan al-Basri QS untuk melihat siapa di sana.  Ternyata seseorang yang membawa sekeranjang penuh makanan. “Bawa keranjang  itu ke sini.”  “Sekarang makanlah, kau tahu begitu banyak ilmu Syari`ah, tetapi sedikit keyakinan.  Beliau berkata kepada Hasan al-Basri QS. “Meski engkau memiliki begitu banyak ilmu Syari`ah, tetapi engkau memiliki begitu sedikit keyakinan.  Engkau harus berusaha untuk memiliki lebihbanyak lagi keyakinan.”

Karena Habib al-`Ajami QS memiliki “kepastian” apabila ia memberi seorang yang membutuhkan karena Allah SWT, maka Allah SWT “pasti” akan membalasnya lebih banyak dari yang ia berikan. “Engkau marah ketika aku memberikan dua potong roti kepada pengemis itu, coba lihat, jika aku tak memberikan kedua potong roti tadi, maka makanan ini tidak akan datang. Aku yakin ketika aku memberi, maka Allah SWT akan mengembalikan paling sedikit sepuluh kalinya.”

Ya.  Oleh karena itu keyakinan lebih banyak memberikan keuntungan kepada setiap orang dan kita sangat membutuhkan “keyakinan” itu. Bila tanpa keyakinan maka ilmu pengetahuan tak akan ada gunanya.  Hal ini seperti hiasan ornamen yang membolehkan seseorang berkata, ”Kami adalah dokter, kami adalah ilmuwan”. 

Apakah “keyakinan” itu? Seseorang mengatakan, ”Jika aku meletakkan tanganku di dalam mulut naga dan hatiku berkata tidak apa-apa, maka aku tidak takut bahwa naga itu akan memakan tanganku.” “Bukan, bukan  itu, saya yakin dengan pasti, bila Allah SWT memberi perintah untuk menggigit, maka naga itu akan menggigit tanganmu. Oleh karena itu dengan keyakinan apabila Allah SWT mengizinkan naga itu tidak akan menggigit, maka aku tidak takut meletakkan tanganku ke dalam mulut naga itu.”

Imam Syaarani QS, salah satu dari hamba yang “tawakul”, seseorang yang percaya kepada Allah SWT sepenuhnya, ia berkata, ”Suatu  ketika aku sedang dalam perjalanan, dan waktu itu dekat saat Maghrib. Aku melihat kubah dan aku berjalan mendekatinya.  Ketika aku masuk, aku melihat kuburan di sana, di bawah reruntuhan bangunan.  Tiba-tiba seorang petani berlari ke arahku dan berkata, ”Wahai Syekh, jangan tinggal di sini, kau ikut kami saja, desa kami dekat sini.  Di sini adalah tempat yang sangat berbahaya, apalagi bila malam tiba.  Begitu banyak ular yang sangat besar datang dan pergi, apabila ada orang yang tidur di sini, pagi harinya kami hanya menemukan tulang mereka saja. Mereka memakannya, hanya tulangnya saja yang tersisa. Oleh karena itu kami memperingatkan engkau untuk tidak tidur di sini.”

Kemudian Imam Syaarani QS berkata kepada petani itu, ”Wahai saudaraku, ketika engkau katakan hal itu, aku tak dapat pergi, aku tak dapat pergi walau hanya satu langkah saja. Karena ketika kalian memperingatkan aku akan ular besar itu, egoku begitu takutnya akan ular itu, dan tidak takut kepada Allah Azza wa Jalla Oleh karena itu aku tidak dapat pergi bersama kalian.  Aku tak dapat menerima tawaran kalian.  Aku harus tidur di tempat ini malam ini.  Ini lebih baik untuk mendidik nafsuku bahwa aku akan dimakan ular itu. Karenanya tak mungkin aku meninggalkan tempat ini. “Wahai Syekh, engkau mengetahui yang terbaik, engkau adalah Syekh dan kami orang biasa.  Kami mengundangmu dan kami juga telah memperingatkanmu akan ular besar itu.” “Ya, terima kasih banyak.”  Kalian boleh pergi dan aku akan tinggal di sini malam ini.  Jika kalian menawariku ke tempat kalian tanpa memperingatkanku tentang bahaya ular ini, tentu aku dengan senang hati akan menerima tawaran kalian. Tetapi ketika kalian mengatakan ular yang sangat berbahaya dan ini adalah tempat yang berbahaya, maka aku tak dapat pergi dari sini meski hanya satu langkah, pergilah kalian.”

Maka akhirnya para petani itu pergi,  dan pagi-pagi sekali mereka bergegas ke tempat itu kembali dengan membawa kain untuk menguburkan tulang-belulang Syekh Syaarani QS. Tetapi mereka melihat Syekh sedang duduk berzikir dan ular besar itu berbaring melingkarinya di sebelahnya seperti kayu.  Ketika Syekh berbaring, ular-ular itu melingkarinya seperti kasurnya dan berkeliling menjaganya sambil berdesis.  Ya, bila kalian mengetahui dan percaya pada Allah SWT, maka Allah SWT akan melindungimu.

Jika kalian dekat dengan Allah SWT, maka segala sesuatu akan dekat dan bersahabat denganmu.  Inilah “kepastian,” dan hal ini sangat penting!” Dan kita semua harus berusaha untuk menumbuhkan keyakinan kita.  Tidak hanya mempelajari seluruh isi al-Quran dan Hadis, tetapi juga berusaha mendapatkan kekuatan rahasia  dari huruf al-Quran, hal ini akan memberikan “kepastian” untuk diri kita.

Siapa pun yang memiliki sesuatu, ia  bisa memberi, jika ia tidak memiliki bagaimana ia akan memberi.  Kalian meminta roti pada seseorang, jika ia punya ia akan memberikannya kepadamu, jika ia tak punya, bagaimana ia akan memberikannya kepada kalian.

Kepastian merupakan sifat Nabi. Kepastian mereka telah membawa Malaikat Jibril AS turun dari surga kepada mereka. Dan begitu juga dengan kepastian Awliya. Kalian bisa mengandalkan kepastian mereka.  Seluruh Awliya memiliki kepastian dan kalian tidak akan menemukan seorang Wali tanpa kepastian. Jadi kita memohon kepada Allah SWT untuk mencari kepastian tersebut.

Ada lampu yang hanya 5 watt ada yang 100 watt, sebanyak itu mereka meminta ‘kepastian’ kepada Allah SWT, maka sebanyak itu yang akan diberikan.  Kita sangat membutuhkan hal itu.  Semoga Allah SWT memberkahi dan memaafkan kalian, dan menjamin kepastian-Nya dari orang-orang yang disayangi-Nya, Amin.

Wa min Allah at Tawfiq

 

14 June 2008

Kelima Rukun Islam terkandung dalam Salat

Khotbah Jumat Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Fenton MI, 3 Januari 1999/Ramadan 1419

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Alhamdulillah, kita bersyukur atas nikmat Islam yang dianugerahkan Allah SWT kepada kita. Kita telah dimuliakan dengan menjadi Muslim. Menjadi Muslim sudah cukup bagi kita sebagai jalur menuju Surga; paling tidak untuk meletakkan langkah pertama kita di Surga.

Kalimat Syahadat
Adalah cukup untuk mengatakan bahwa kalian telah mencapai sisi yang aman. Ketika seseorang menyatakan, “Saya seorang Muslim,” itu berarti ia menerima dan mengakui Kalimat at-Tawhid, Kalimat asy-Syahadah, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah SWT wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah SAW.”

Menjadi seorang Muslim berarti mau menerima syahadah, kalau tidak kalian bukanlah seorang Muslim. Dengan menyatakan, “Aku seorang Muslim,” kalian harus melewati level petama. Kemudian kalian akan menuju level kedua. Itu artinya kalian harus mengucapkan, “Ya Allah SWT, Aku mengakui bahwa Engkau adalah Khalik, dan aku adalah budak-Mu.” Budak—bukannya hamba.

Seorang hamba berbeda dengan seorang budak: hamba mempunyai kedudukan lebih tinggi. Itu adalah level yang tidak dianugerahkan Allah SWT kepada orang selain Rasulullah . Ketika Dia berfirman, “Subhanal-ladzii asraa bi `abdihii laylam-minal masjidil haraami ilal masjidil aqshaal-ladzii baarakna hawlahuu…” “Maha Suci Allah SWT, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya…” [QS 17:1]

Dia menyebut Rasulullah SAW dengan sebutan `Abd. Dia mengkhususkan beliau dengan gelar tersebut. Menjadi budak adalah level yang lebih rendah, karena Islam kita belum sempurna. Kita menerima untuk mengucapkan Kalimat Syahadat, kita menerima Allah SWT sebagai Tuhan kita dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Allah SWT; tetapi kita masih belum melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Melakukan apa yang seharusnya dilakukan adalah aspek yang sangat penting dalam Islam, bahkan itu adalah yang terpenting… Ketika kalian mengucapkan syahadat, ketika kalian mendeklarasikan Kalimat Tawhid—berapa banyak kewajiban kalian untuk mengucapkannya dalam sehari, seminggu, sebulan, setahun, atau seumur hidup—berapa banyak? Kalian dapat mengucapkan Kalimat Tawhid sekali, itu saja sudah cukup—tidak perlu mengucapkannya setiap saat. Kalian tidak perlu mengucapkannya setiap saat, setiap waktu—sekali saja sudah cukup untuk menjadikan diri kalian masuk dalam lingkaran Islam. Jadi Kalimat Tawhid, Rukun Islam yang pertama, dapat diucapkan sekali saja seumur hidup—itulah yang menjadi keharusannya.

Rukun Islam yang kedua adalah mendirikan salat, iqamu shalat. Kita akan sampai pada pembahasan mengenai hal ini nanti.


Zakat
Rukun Islam ketiga adalah ita`uz-zakat. Barangsiapa yang mampu, wajib mengeluarkannya sekali dalam setahun. Dan kalian tidak dapat melaksanakannya jika kalian tidak mempunyai uang. Jika kalian miskin dan tidak mempunyai keuntungan yang cukup—sejumlah uang yang terus beredar dari tahun ke tahun—kalian tidak diwajibkan untuk mengeluarkannya. Adalah suatu kewajiban bagi mereka yang mampu untuk mengeluarkannya sekali dalam setahun karena keuangan mereka telah mencukupi—minal hawli il al-hawli. Tetapi bila tidak, kalian tidak wajib untuk mengeluarkannya. Jika ada seseorang yang miskin, yang tidak dapat mendapatkan makanannya sehari-hari, kalian tidak dapat mengharapkannya untuk menyimpan uangnya. Hal ini berarti sebagian orang diwajibkan untuk melakukannya setiap tahun dan sebagian lagi tidak melakukannya. Barang siapa yang tidak sanggup, tidak ada kewajiban bagi mereka.

Puasa, Siyam
Wa sawmu Ramadhan. Puasa, kalian diwajibkan untuk melakukannya sekali dalam setahun, selama satu bulan. Dan alhamdulillah, Allah SWT mengaruniakan kita bulan ini untuk mengingat-Nya. Dan biasanya Rasulullah SAW menganjurkan para Sahabat untuk melakukan itikaf pada 10 hari terakhir di bulan tersebut. Dan banyak Muslim di seluruh dunia yang melaksanakan itikaf dan mereka berusaha melakukan yang terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan agar Allah SWT rida terhadap kita, agar kita dekat dengan-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. “Fa man kaana minkum mariidhan aw `alaa safarin fa`iddatum min ayyamin ukhar.” “(Puasa) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain [QS 2:184].” Pada kasus ini, Allah SWT memberi izin agar kalian memenuhinya di kemudian hari. Jika seseorang secara terus-menerus sikit, maka dia dimaklumi. Itu berarti kalian harus melakukannya sekali dalam setahun, tetapi sebagian orang—jika mereka tidak bisa berpuasa—mereka tidak harus melaksanakannya. Allah SWT membebaskan mereka, memaklumi mereka.

Haji
Rukun kelima, wa hajj al-bayt li man istata`a ilahi sabiila. Barangsiapa yang sanggup untuk melakukan haji baik secara fisik, mental maupun finansial maka ia harus melakukannya paling tidak sekali seumur hidup.

Salat
Jadi di lain pihak kita melihat bahwa salat, rukun kedua dalam Islam tidak dapat kalian tinggalkan. 5 kali sehari kalian diwajibkan untuk melaksanakannya dan kalian tidak dapat meninggalkannya atas alasan apapun. Tak ada kecuali. Akan ada hukuman keras bagi mereka yang meninggalkannya. Jika kalian sakit dan kalian tidak berpuasa, tak ada hukuman bagi kalian. Jika kalian miskin dan kalian tidak membayar zakat, tidak ada hukuman bagi kalian. Jika kalian tidak mampu menunaikan ibadah haji, tidak ada hukuman bagi kalian. Tetapi bila kalian meninggalkan salat, hukumannya sangat berat, api neraka! Ma baynal kufr wal iman tarkal salah,” “Yang membedakan antara kafir dengan iman adalah meninggalkan salat. Jadi tak ada lain, tak ada alasan bagi orang yang sehat, bagi orang yang punya uang atau tidak, ia harus melakukan salat. 5 kali sehari. Orang sakit yang tidak dapat melakukan salat berdiri, ia bisa duduk dan salat; yang tidak dapat duduk, dapat berbaring; yang tidak dapat berbaring, bisa melakukan salat dengan matanya. Salat harus tetap dilakukan. Wahai Muslim, jangalah kalian melupakannya. Salat sangat penting!


Ibadah 24x7
Adalah sangat-sangat penting bagi Allah SWT sehingga Dia memerintahkan dan mewajibkan kita untuk melakukan salat 50 kali sehari, bukannya sekali. Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk melakukan salat 50 kali, artinya ibadah terus-menerus. “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun.” “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [QS 51-56].” Jika terdapat 50 dan masih tetap 50, kita tidak akan mempunyai waktu, bahkan hanya untuk mengangkat kepala kita. 50 salat, setiap salat jika kalian melakukannya dengan benar akan memakan waktu 15 menit. 50 salat dikalikan 15 menit adalah 750 menit, ditambah wudu untuk 50 salat, jadi apa yang tersisa? Itulah makna dari ayat “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun [QS 51:56].”

Allah SWT mengatakan 50 salat, tetapi bagaimana dengan kayfiyya ash-shalat, bagaimana tata cara melakukannya, apa saja arkan ash-shalat, prosedurnya? Kita tahu bahwa Salat Subuh mempunyai 2 rakaat sunnah; Dzuhur mempunyai 8 atau 4, 4 sunnah sebelumnya; Ashar mempunyai 2 atau 4 sunnah; Maghrib mempunyai 2 dan 11 rakaat untuk ‘Isya. Sementara itu, kalian juga mempunyai Salat Dhuha, Awwabin, Salat Isyraq, Najat, Tahajjud. Lalu ke-50 salat tadi juga mempunyai sunnahnya masing-masing!

Sehingga seluruh waktu kalian, 24 jam akan dipenuhi dengan salat.

Itulah ayat “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun/maa uriidu minhum mir-rizqiw-wa maa uriidu ay yuth`imuun/innallaaha huwar-razzaaqu dzul-quwwatil matiin.” “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah SWT, Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh [QS 51:56-58].” Allah SWT dapat memberi kalian, kalian tidak dapat memberi apapun. Jangan berpikir bahwa kalian bekerja untuk anak-anak kalian, untuk membawa uang bagi mereka. Jika Allah SWT ingin menutupnya—habislah—tak ada apa-apa lagi! Pasrahlah. Allah SWT memberi, Allah SWT menyediakan. Jadi selama 24 jam, kalian akan berada dalam kondisi beribadah terus-menerus melalui salat.

Allah SWT memberi Sayyidina Muhammad SAW 50 salat, tetapi kemudian dengan Kemurahan-Nya, Dia menguranginya menjadi 5. Tetapi dalam mizan—timbangan, kelima salat itu dipertimbangkan sebagai 50 salat. Jika kita melakukan 5 salat dengan benar, dengan kepasrahan penuh kepada Allah SWT, khusyuk maka itu bagaikan kita melakukan salat 24 jam sehari, sama halnya dengan 50 kali salat, yang kemudian akan dituliskan bagi kita dalam mizan, “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun.” Kalian akan berada di bawah tajjali dari ayat tersebut.

Kunci kepada rahmat dan berkah dari ayat ini, agar Allah SWT menghiasi kalian dengan berkah dari ayat ini adalah melalui salat 5 waktu yang akan mengantarkan kalian kepada 50 salat dan mengantarkan kalian kepada ayat al-Quran Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya`buduun.

Salat, Gabungan dari Seluruh Ibadah
Tambahan lagi, salat sangat penting karena di dalamnya terkandung seluruh ibadah. Pertama, dalam salat kalian mengucapkan syahadat, menyatakan Keesaan Allah SWT dalam at-Tahiyyat, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah SWT wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah SAW.” Untuk menjadi Muslim, kalian cukup mengucapkan syahadat satu kali seumur hidup. Dalam salat, kalian mengucapkannya setiap hari, setiap dua rakaat. Jadi dalam salat terkandung rukun pertama dalam Islam, Kalimat at-Tawhid.


Salat sebagai Zakat
Dalam salat terkandung zakat kalian, bukan 2.5% tetapi 100% karena ketika kalian bekerja dan menghasilkan uang; lalu dari satu tahun ke tahun berikutnya kalian hanya diwajibkan membayar 2.5% dari profit—bukannya modal. Kalian akan mengeluarkannya dari keuntungan kalian, di luar modal kalian dan besarnya hanya 2.5%. Perhiasan apapun yang kalian miliki, emas atau apapun bentuk simpanan kalian, kalian harus mengeluarkannya sebanyak 2.5% dari satu tahun ke tahun berikutnya. Tetapi dalam salat kalian tidak hanya memberikan itu. Dalam bekerja, kalian menghabiskan waktu 5, 6, atau 8 jam sehari untuk mencari uang, menabungnya lalu kalian membayar 2.5%. Dalam salat kalian memberi seluruh waktu kalian untuk Allah SWT.

Jika kalian memperoleh 10 dollar dalam satu jam, dan jika kalian menghabiskan 1 jam itu untuk shalat, seolah-olah kalian memberikan seluruh 10 dollar itu, bukannya hanya 2.5%. Dan uang 10 dollar itu mungkin bisa dibelanjakan dan tidak akan bertahan selama 1 tahun sehingga kalian tidak membayar zakat atasnya, tetapi dalam shalat, kalian memberikan seluruhnya, sehingga dia akan berada dalam penggandaan geometris yang meningkat dari 2.5% menjadi 100%. Itulah zakat yang sesungguhnya! Kalian memberikan segala sesuatu yang kalian miliki. Dan hal terpenting yang kalian miliki adalah ketika Allah SWT mengaruniakan tubuh dan roh pada kalian lalu kalian mempersembahkannya kepada Allah SWT, kalian menyerahkannya pada Kehendak Allah SWT.


Salat sebagai Puasa
Yang kedua dalam salat, kalian menahan lidah dari makan, minum, ghibah, berbicara. Tidak hanya lidah, tetapi menahan seluruh tubuh kalian untuk menyentuhnya. Dalam puasa seseorang tidak diperbolehkan untuk mendekati istrinya, begitu pula sebaliknya karena hal itu tidak diperbolehkan. Makan tidak diperbolehkan. Dalam salat, kalian juga tidak bisa melakukan hal tersebut. Dalam puasa, kalian bisa berpuasa tetapi kalian masih bisa berbicara. Dalam salat, lebih dari itu—kalian tidak dapat berbicara dan mendekati pasangan kalian. Jadi yang terkandung dalam salat adalah suatu puasa berlevel tinggi.


Mengunjungi Ka’bah
Rukun terakhir dari Rukun Islam adalah haji. Dalam salat, seolah-olah kalian melakukan ibadah haji 5 kali sehari, yaitu ketika kalian mengarahkan diri kalian ke arah qiblat, segera setelah kalian mengucapkan, “Allaahu Akbar!”

Bahkan di Mekah, di penghujung masa renovasi al-Haram asy-syarif, kalian tidak bisa melihat Ka’bah. Dari luar kota Mekah, kalian pun tidak bisa melihat Ka’bah. Bahkan di sembarang tempat di kota Mekah, kalian tidak dapat melihat Ka’bah. Dari luar kota Mekah kalian dapat menghadap Ka’bah (tanpa melihatnya) dan di kota Mekah dan di dalam Masjidil Haram, kalian bisa saja menghadap Ka’bah tanpa melihatnya.

Seolah-olah kalian pergi dalam suatu perjalanan melalui salat kalian; karena haji berarti mengunjungi Ka’bah yang suci, ziyarat al-Ka’bah al-musyarrafa.

Rukun Hajji yang paling penting adalah untuk berada di Baytul Haram. Jadi hal terpenting bagi kita pada saat kita mengucapkan, “Allaahu Akbar,” adalah melihatnya melalui hati kita, melalui pikiran kita, melalui setiap sel dari tubuh kita dan setiap tetes darah kita. SEGALA SESUATU mengucapkan takbir, “Allaahu Akbar,” di hadirat Ka’bah, Rumah Allah SWT di bumi, di mana Allah SWT menginginkan agar semua orang menghadapkan wajahnya dan mengarahkan dirinya ke sana. Allah SWT mengetahui rahasia-rahasia dan tajjali apa yang ada di sana. Jadi dalam salat, seolah-olah kaliah mengarahkan diri kalian dengan memutuskan hubungan dengan dunia dan menghadap Ka’bah. Jadi seolah-olah kalian sedang datang ke sana untuk berhaji.

Jadi dalam salat, kalian menemukan kelima Rukun Islam. Itulah sebabnya tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Akan ada hukuman yang berat bagi yang meninggalkannya. Jika kalian menginginkan hukuman itu, terserah pada kalian. Jika kalian ingin menyelamatkan diri kalian, maka wahai Muslim, marilah kita menjaga hubungan kita dengan Islam secara kokoh.


Membungkus Semua!
Islam mempunyai 5 rukun atau pilar. Rasulullah SAW membungkus semuanya: syahadah, shalat, zakat, puasa dan haji dengan dua kata kunci: Iman bil ghayb—percaya kepada yang ghaib dan level Ihsan—karakter yang sempurna. Kelima rukun yang dilakukan oleh umat Muslim ini tidak dapat disempurnakan tanpa menyempurnakan salat terlebih dahulu; karena salat mengandung kelima rukun tersebut. Orang tidak dapat melakukan salatnya dengan baik bila hatinya kotor dan rusak—yaitu ketika Imannya tengah rusak. Salat itu harus dibungkus seperti halnya sebuah bingkisan. Ketika kalian melihat sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dari luar, maka ia akan terlihat indah dan menyenangkan. Jadi bagaimana kalian menghadirkan salat kalian kepada Allah SWT bila hati kalian tidak bersih? Kebersihan hati dengan jalan meraih level Iman, kemudian Ihsan adalah hal yang paling utama.

Kita akan melanjutkan hal ini di kemudian hari, insya Allah.

© as-Sunna Foundation of America