Showing posts with label Ziyarah. Show all posts
Showing posts with label Ziyarah. Show all posts

01 August 2008

Operasi Spiritual

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kewalian adalah sebuah pemahaman yang tidak akan pernah bisa ditulis di dalam buku-buku. Kewalian adalah rahasia-rahasia di balik rahasia-rahasia. Sesuatu yang berasal dari Nabi SAW pada hati-hati para awliya, bukan pengetahuan lewat kata-kata namun lewat perbuatan. Jangan mengira para awliya menerima dirinya untuk menjadi awliya jika tidak untuk meningkatkan para pengikutnya ke maqam mereka, khususnya ketika sedang memberi nasihat. Mereka tidak mau membiarkan murid-muridnya tertinggal. Mereka meningkatkan maqam pengikutnya ke tahap yang sesuai dengan topik yang sedang diajarkan melalui kehidupan spiritual mereka. Kalian tidak merasakannya pada tubuh fisik kalian, karena roh kalian masih terkungkung dalam sangkar tubuh.

Namun beliau mampu membuat roh kalian merasakannya tanpa kalian menyadarinya. Seperti seorang dokter yang mengoperasi pasiennya. Pasien tidak merasakan apa pun, namun merasakan dirinya telah sembuh. Itulah yang dilakukan oleh para awliya. Beliau mengoperasi kalian, namun kalian tidak merasakan apa pun. Tetapi dalam kehidupan spiritual kalian, dalam realitas, kalian telah sembuh.

Jika kalian sedang mencium spiritualitas, maka aroma itu membuat kalian mabuk cinta terhadap Syekh. Jika Syekh membuka lebih lagi, kalian tidak hanya mabuk, kalian akan seperti tetangga Nabi Musa AS. Salah seorang tetangga Musa AS pernah berkata, ”Wahai Musa AS, karena engkau akan pergi ke bukit Sinai dan berdialog dengan Tuhanmu – tolong katakan pada-Nya agar mengirimi aku cinta, karena aku tidak memiliki rasa cinta bagimu dan Dia. Biarkan Dia kirimkan cinta, agar hatiku bahagia.”

Ketika sampai di Sinai dan telah menyelesaikan apa yang ingin dilakukan, Nabi Musa AS lupa akan pesan tetangganya, Allah SWT-lah yang mengingatkan beliau.

“Wahai Musa AS, mengapa engkau lupakan tetanggamu? Bukankah engkau berjanji padanya untuk menyebutnya dalam Hadirat-Ku?“

“Ya Tuhan, maafkan aku.”
“Apa yang dia minta?”
“Dia membutuhkan cinta.”
“Pulanglah dan katakan pada tetanggamu, Aku sedang mengirim cinta sekecil atom ke dalam hatinya.”
“Ya Allah SWT, mohon kirimkan lebih dari itu, Engkaulah Yang Maha Pemurah.”
“Tidak. Itu sudah cukup.”

Musa AS kembali ke rumahnya dan mencari tetangganya. Ketika beliau menemukannya, tetangga itu tidak lagi berada di dunia ini. Matanya terbuka lebar, kedua tangannya terangkat ke atas, mulutnya menganga. Dia tidak bergerak sedikit pun ataupun merasakan sesuatu. “Oh tetanggaku,” kata Musa AS “Kabar baik, Tuhan sedang mengirimkan sebutir cinta pada hatimu.” Namun tetangganya itu demikian asyiknya sehingga tidak merasakan kehadiran Musa AS. Allah SWT pun memanggil Musa AS dan mengatakan, “Ya Musa AS, walaupun engkau menggiling tubuhnya, dia tidak akan merasakan apa pun, dia hanya merasakan Aku.”

Cinta seperti itulah yang ingin dikirimkan Syekh pada hati murid-muridnya. Murid-murid akan meninggalkan apa pun dan lari mengejar Syekhnya tanpa menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Syekh masih memegang kunci akan cinta itu dan belum membukanya. Beliau membukanya sedikit, setetes demi setetes. Itulah yang kini sedang mengendalikan kita, aroma dari setetes cinta. Belum lagi setetes, belum pula sekecil atom, hanya aromanya saja. Jika beliau membuka setetes cinta saja, kalian pun akan meleleh.

Ada pelajaran di sini, bahwa jika kalian menghilangkan eksistensi kalian di hadapan Syekh, maka beliau akan membuat kalian ‘mati sebelum mati.’ Namun tidak seorang pun yang siap membawa rahasia besar itu agar Syekh dapat menghiasi muridnya dengan segala kekuatan beliau. Syekh tidak menahan kekuatan spiritual itu bagi diri beliau sendiri. Beliau ingin memberikannya. Namun kalian harus datang dan mengambilnya. Setiap orang sadar akan dirinya sendiri, apakah dia sedang mengambilnya atau tidak.

Syekh muncul dalam mimpi-mimpi, muncul dalam penampakan spiritual, ataupun muncul sekilas saja. Namun ketika kalian mampu melihat Syekh sedang duduk bersama kalian secara nyata (tanpa kehadiran tubuh fisiknya) maka kalian telah mencapai apa yang beliau inginkan. Itulah caranya agar bisa duduk dengan Syekh walaupun beliau telah meninggal dunia. Jangan mengira para awliya sedang duduk di makam di mana dulu kalian terakhir meninggalkannya. Mereka sudah tidak lagi berada di sana, mereka telah berpindah tempat. Namun bila kalian datang, memberi salam dan memanggil beliau, mereka akan datang dan muncul di sana. Mereka berada di hadirat Nabi SAW dan malaikat-malaikat yang memindahkan tubuh-tubuhnya.

Itulah bagaimana para awliya mentransfer kekuatan mereka dan mendatangi para pengikutnya. Bagi mereka, kehidupan ini dan akhirat adalah sama saja. Mereka dapat duduk-duduk dan mengundang yang lain untuk ikut serta. Bagi mereka hal itu amat mudah, namun bagi kita amat sulit. Kita harus melatih diri kita dalam asuhan mereka. Cara yang paling ampuh bertemu dengan Syekh adalah dengan meditasi/muraqaba. Jagalah konsentrasi hati pada Syekh kalian di sepanjang malam hari. Beliau akan mulai nampak dan akan semakin sering muncul. Penampakan itu akan semakin jelas sampai kalian mampu berbicara dengan beliau secara langsung, bahkan bersalaman dengan beliau. Sebenarnya tidak susah.

Awliya asal mesir, Ahmad ar-Rufa’i al-Kabir QS datang ke makam Nabi SAW dan mengatakan, “Inilah sang pemerintah para hantu sedang bertemu dengan manusia yang paling nyata! Mohon ulurkan tanganmu agar aku dapat menciumnya.” Dari makam Nabi SAW, sebuah tangan putih mulai muncul dan Sayyidina Ahmad QS menciumnya tiga kali. Setiap beliau menciumnya, Nabi SAW mentransfer pengetahuan dari hatinya pada hati Ahmad QS. Tiga samudra pengetahuan pun telah dialirkan pada beliau.

Jika kalian mencapai maqam ini, kalian akan sangat beruntung. Kalian akan memahami rahasia-rahasia Syekh. Dan bila belum mencapainya, kalian masih dianggap anak-anak yang masih harus diberi permen. Semoga Allah SWT memberi kita kedewasaan di hadapan Syekh dan membantu kita memberi kekuatan di mana setiap Syekh ingin murid-murid mencapainya. Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

24 January 2008

Ziyarah ke Makam Nabi Yunus (Jonah) AS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Yunus AS meninggalkan ayahnya dengan perasaan sedih, ia tahu dalam hatinya bahwa mereka tidak akan bertemu lagi di dunia ini. Ia bergabung dengan sebuah karavan menuju Niniveh. Yunus AS adalah seorang yang murni dan lugu. Ia tidak cocok dengan para perampok yang menunggunya di sepanjang jalan. Dalam waktu singkat ia telah kehilangan seluruh barang miliknya. Ia memasuki Niniveh hanya dengan berbekal beberapa koin di sakunya. Yunus AS menemukan dirinya berada di daerah pinggiran kota di mana sebagian besar penduduknya bekerja dengan tanah liat. Seseorang yang berbicara dengan bahasa yang dimengertinya membawanya menghadap ke seorang tua, ia adalah pembuat tembikar khusus untuk raja. Orang tua ini sedang mencari seseorang untuk diajari membuat tembikar. Tak satu pun anak-anaknya yang tertarik. Yunus AS bersedia menjadi murid ahli pembuat tembikar ini.

Setelah beberapa saat orang tua itu menjadi sakit. Ia tahu bahwa ia tengah sekarat. Ia memperkenalkan Yunus AS—yang sekarang telah menjadi seorang pembuat tembikar terlatih—kepada raja dan mengatakan bahwa ia adalah penerusnya. Raja menyukai Yunus AS dan setelah ia mengeceknya, ia pun mempercayainya. Ia memberikan sebuah tempat di dekat istana dan mereka pun menjadi sahabat. Yunus AS membuat benda-benda yang sangat indah untuk raja, berbeda dengan yang lain, mereka belum pernah melihat karya-karya seperti itu sebelumnya. Di Niniveh semua objek didekorasi dengan wajah-wajah jin yang menyeramkan dan monster yang sedang marah. Hal itu membuat takut orang-orang yang melihatnya. Yunus AS membuat karya-karya yang indah yang penuh dengan keramahan alam. Yunus AS mempelajari bahasa Assyria dan menetap di sana. Ia tidak pernah berbicara tentang agama karena orang-orang Assyria merupakan para penyembah berhala dan mereka tidak mempunyai kesabaran terhadap Tuhan yang tidak dapat mereka lihat dan mereka sentuh.

Setelah beberapa saat Yunus AS mendengar kematian ayahnya dan ia menjadi rindu untuk pulang ke kampung halaman, mengunjungi keluarganya. Ia meminta izin pada raja untuk pulang. Raja sebenarnya agak enggan untuk menyetujuinya. Sesuatu memperingatkan kepada Yunus AS bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan desanya. Yunus AS menasihati para penumpang karavan untuk tidak memasuki desa itu. Tetapi mereka kelaparan dan mereka pun tetap masuk. Yunus AS menunggu tetapi tak satu pun dari mereka yang kembali. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya sendirian. Beberapa saat kemudian ia bertemu dengan satu batalion tentara yang menuju desa itu. Yunus AS memperingatkan mereka bahwa ada wabah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, yang dapat menewaskan korbannya dengan cepat di desa itu. Para tentara itu berterima kasih kepadanya. Yunus AS meminta mereka untuk menyalami raja untuknya dan mereka melanjutkan perjalanan dengan arah yang berbeda.

Malam itu Yunus AS mempunyai mimpi yang menyeramkan. Ia melihat ayahnya, Ilyas’a AS seolah-olah ia tidak pernah melihatnya selama hidupnya. Ilyas’a AS sangat marah. Ia berteriak pada anaknya, “Mengapa engkau meninggalkan Niniveh? Engkau dikirim ke sana oleh Allah SWT. Izin-Nya-lah yang engkau butuhkan untuk pergi, bukan izin dari raja. Dan Allah SWT tidak memberimu izin. Cepat kembali dan berusalah untuk lebih sabar.”

Yunus AS melihat ke sekeliling dan akhirnya ia kembali ke Niniveh. Ia melihat seberkas cahaya dari langit turun mendatanginya. Semakin dekat ia semakin besar sampai ia mengenali bahwa itu adalah Malaikat Jibril AS. Ia memberitahu Yunus AS bahwa Allah SWT telah memilihnya menjadi nabi-Nya dan bahwa para pengikutnya dan pekerjaannya terletak di Niniveh.

Dalam perjalanan pulang, Yunus AS merasa dirinya seorang pahlawan. Semua orang menganggapnya telah mencegah masuknya wabah penyakit ke negri itu. Yunus AS mulai bicara kepada mereka tentang Allah SWT. Raja berpikir bahwa Yunus AS sudah menjadi gila karena terkena wabah penyakit itu. Para penduduk Niniveh menertawainya tetapi mereka tidak menyakitinya karena ia telah menyelamatkan negri itu. Selama dua puluh tahun Yunus AS berbicara tentang Allah SWT kepada penduduk Assyria, tentang Sang Pencipta mereka, Yang menguasai alam nyata dan gaib. Tak satu pun penduduk yang percaya. Yunus AS seringkali merasa putus asa, tetapi Jibril AS datang memberinya semangat. Itu semua adalah rencana Allah SWT.

Suatu hari Jibril AS datang dan mengatakan kepada Yunus AS bahwa akhir sudah dekat. Ia harus pergi menemui raja dan mengatakan kepadanya bahwa kota ini mempunyai waktu empat puluh hari untuk percaya kepada Allah SWT atau Allah SWT akan mengirimkan kehancuran kepada mereka. Raja menjadi marah dan mengancam Yunus AS. Tetapi tidak ada orang yang kelihatannya memberi Yunus AS pikiran kedua.

Empat puluh hari telah berlalu dan di pagi hari dari hari keempat puluh Yunus AS tidak tahan lagi, “Aku meninggalkan orang-orang ini pada hukuman mereka,” ia berteriak. Ia lalu menaiki kapal, pergi meninggalkan Niniveh menuju laut lepas di mana ia dapat melihat lumba-lumba yang dicintainya. Kapal baru saja mengibarkan layar ketika angin kencang berhembus yang mengakibatkan kapal terlempar ke setiap penjuru. Seekor ikan raksasa muncul dari dalam laut seolah-olah akan menghancurkan kapal itu. Yunus AS tahu bahwa badai itu dikirim untuk menghukum para penduduk Niniveh tetapi ikan itu dikirimkan untuknya. Sekali lagi Yunus AS meninggalkan Niniveh tanpa seizin Tuhannya. Ia telah kehilangan kesabaran dan kasih sayang kepada umatnya. Para pelaut lalu melemparkan Yunus AS ke laut dan mereka melihat ikan raksasa itu menelannya. Kapal lalu berlayar dengan selamat dan badai itu terus melaju menuju Niniveh.

Sekarang ikan itu berada di bawah perintah Allah SWT untuk menelan Yunus AS, tetapi ia tidak diizinkan untuk memakannya. Yunus AS diperintahkan untuk berkhalwat di dalam perut ikan itu. Selama empat puluh hari berada di dalam kegelapan perut ikan itu, di kedalaman laut yang hitam, di bawah langit yang tak bermatahari, Yunus AS berdoa memohon ampun. Ia mengucapkan kalimat zikir, “La ilaha illa Anta, subhanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.” “Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” [21:87]. Akhirnya Allah SWT mengampuninya.

Sementara itu awan badai datang menghampiri Niniveh dan sebuah mukjizat terjadi. Selama dua puluh tahun Yunus AS menanam benih dan dalam waktu sekejap, kini mereka mulai tumbuh. Raja Niniveh dan para penduduknya melihat awan gelap itu dan mereka mulai percaya. Mereka berdoa kepada Allah SWT untuk menyelamatkan mereka dari kehancuran. Tetapi tentu saja mereka tidak tahu bagaimana cara berdoa atau apa yang harus diucapkan, sementara Yunus AS—nabi mereka—kini entah di mana. Tetapi awan gelap itu melewati kota, matahari muncul kembali dan tak ada yang hancur kecuali berhala-berhala mereka yang hancur berkeping-keping di kuil mereka.

Yunus AS melengkapi khalwatnya selama empat puluh hari di perut ikan dan kemudian ia dimuntahkan di tepi pantai dalam keadaan telanjang dan kedinginan. Kulitnya berkerut dan melunak karena terlalu lama terkena air dan panas matahari membakarnya. Kemudian Allah SWT menjadikan sejenis pohon tumbuh dengan daun yang besar untuk menutupi Yunus AS dan untuk menaunginya. Seorang penggembala yang tinggal di dekat situ memberinya makanan dan air dan menceritakan bahwa Niniveh selamat dari kehancuran. Yunus AS menjadi geram dengan kabar itu. Kemudian Allah SWT memerintahkan agar pohon tadi mengering dan mati. Yunus u menangis kehilangan pohonnya. Kemudian Allah SWT menegurnya karena ia lebih memedulikan pohon itu dibandingkan dengan sebuah kota yang penuh dengan makhluk Allah SWT paling sempurna, yaitu manusia. Lagi-lagi Yunus AS memohon ampun terhadap Tuhannya.

Dengan bantuan penggembala itu, yang akhirnya menjadi orang kepercayaannya, Yunus AS menempuh perjalalan kembali ke Niniveh. Di sana ia menemukan raja dan para penduduk kini telah terbuka terhadap ajarannya. Ia mengajarkan mereka untuk beribadah dan memperkenalkan mereka tentang Hukum Allah SWT. Mereka membangun masjid-masjid di mana berhala-berhala dulunya berada, dan mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa yang telah menciptakan mereka dan mengampuni mereka.

Yunus AS menikah dan mempunyai anak-anak. Ia adalah salah satu dari dua orang nabi yang mendapat kebahagiaan melihat kaumnya berubah menjadi orang-orang yang beriman. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang satunya. Yunus AS wafat dan dimakamkan di tempat di mana ia hidup.

Kelihatannya aneh bahwa Yunus AS yang merupakan seorang nabi beberapa kali melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhannya. Dikatakan bahwa dengan Kehendak Allah SWT, setiap nabi paling sedikit pernah membuat satu kesalahan sepanjang hidupnya, kecuali nabi terakhir, Muhammad Mustafa SAW, yang diciptakan sebagai satu-satunya manusia yang sempurna.

Semoga Allah SWT memberkati Yunus AS dan memberinya kedamaian.


Sumber:
My Little Lore of Light (Hajjah Amina Adil, Editor Karima Sperling)
© Naqshbandi-Haqqani Sufi Order of America, 2005
diterjemahkan oleh Yayasan Haqqani Indonesia
Lihat juga Ziyarah Syekh Hisyam Kabbani qs ke Makam Nabi Yunus AS di Beirut, Lebanon.

http://www.sufilive.com/rnd.cfm?m=1005

Ziyarah ke Makam Nabi Yusya (Joshua) AS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Salah satu dari penduduk asli yang mengikuti Musa AS dan Harun AS keluar dari Mesir adalah Yusya AS. Ia masih kanak-kanak ketika menjadi pengikut dan pelayan Musa AS. Yusya AS melayani Musa AS dalam seluruh peristiwa yang terjadi di Mesir. Ia berdiri di samping ketika Nabi Musa AS dan Harun AS berusaha menyeru Firaun. Ia menyaksikan mukjizat dan juga wabah yang melanda Mesir. Ke mana pun Musa AS pergi, Yusya AS mengikutinya.

Suatu hari ia mengikuti Nabi Musa AS pergi ke selatan di sepanjang sungai Nil untuk menemui seorang yang bijak, Khidr AS, yang darinya Musa AS berharap dapat mempelajari sesuatu. Musa AS dipesankan untuk membawa seekor ikan kering untuk makan siangnya dan ketika ikan itu menjadi hidup dan menyelam ke dalam sungai, ia menyadari bahwa Khidr AS sudah dekat. Adalah Yusya AS yang membawa makan siang Musa AS dan yang melihat mukjizat ikan tersebut. Musa AS kemudian pergi sendiri bersama Khidr AS untuk belajar dan diuji, sementara Yusya AS menunggunya dengan sabar.

Musa AS dan Khidr AS menyebrangi sungai dengan menggunakan perahu kecil. Pemilik perahu itu sangat baik sehingga ia tidak meminta ongkos untuk perjalanan mereka. Namun demikian, ketika mereka telah sampai di tepi sungai, Khidr AS melubangi bagian bawah perahu itu. Musa AS terkejut.

Ketika mereka melanjutkan perjalanannya, mereka melihat sekelompok anak kecil bermain di lumpur. Salah satu anak menarik perhatian mereka karena senyumnya yang ramah dan tatapannya yang bersahabat. Khidr AS memukul anak itu hingga tewas. Musa AS tidak dapat lagi menahan kengeriannya.

Malam itu mereka beristirahat di sebuah desa di mana tak seorang pun menawarkan mereka makanan atau tempat untuk menginap. Para penduduk di desa itu tidak ramah dan pelit. Di pagi hari Khidr AS meminta Musa AS untuk membantu membangun kembali tembok desa yang mulai hancur.

Musa AS tidak tahan lagi. Ia menanyakan alasan dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Khidr AS. “Mengapa engkau menghancurkan perahu orang yang baik itu? Mengapa engkau membunuh anak kecil yang tak berdosa itu? Mengapa kita bekerja demi orang yang bahkan tidak mau memberi kita air minum?”

“Kita tidak dapat melanjutkan perjalanan bersama lagi. Engkau tidak dapat belajar dariku,” jawab Khidr AS. “Seorang raja yang serakah akan merampas seluruh perahu yang masih dalam kondisi baik. Aku membuat lubang di perahu itu sehingga raja itu tidak akan mengambilnya dan pemilik perahu tidak kehilangan perahunya dan ia dapat memperbaiki lubang itu.”

“Anak kecil yang aku bunuh adalah anak dari keluarga yang beriman. Ia ditakdirkan untuk menjadi seorang penjahat yang kejam dan mengakibatkan orang tuanya menderita. Aku menghabisinya ketika ia masih tak berdosa dan Allah SWT akan memberi orang tuanya anak-anak yang saleh sebagai penggantinya.”

“Sementara bagi dinding yang kita bangun, itu adalah milik anak-anak yatim. Di bawahnya terdapat harta karun dari ayah mereka yang beriman yang ditinggalkan untuk mereka. Jika tembok itu runtuh sebelum anak-anak dewasa, para penduduk desa yang serakah akan mencuri harta mereka dan mereka tidak akan mendapat apa-apa.”

Jadi Khidr AS menerangkan kepada Musa AS hikmah di balik tindakannya yang misterius. Khidr AS bertindak atas pengetahuan yang diberikan Allah SWT kepadanya. Tiga pelajaran dan tiga ujian ia berikan kepada Nabi Musa AS. Dan Musa AS gagal total. Maksud dari ujian itu adalah mengajarkan kepada kita bahwa betapa pun kita mengetahui sesuatu akan ada seseorang yang mengetahui lebih banyak. Dan betapa pun banyaknya pengetahuan yang kita miliki atau bahkan oleh nabi sekalipun, namun apa yang tidak diketahui dari ciptaan Allah SWT yang tak terhingga masih jauh, jauh lebih banyak lagi.

Di lain waktu, ketika Musa AS pergi ke gunung untuk berbicara dengan Allah SWT, Yusya AS menunggunya di bawah. Ketika orang-orang membuat sapi emas, Yusya AS memprotesnya dan kemudian melindungi dan menolong Harun AS. Ia selalu menjadi abdi yang patuh. Sebelum meninggal, Musa AS diminta Allah SWT untuk menginformasikan kepada Bani Israil bahwa Yusya AS akan menjadi nabi mereka selanjutnya. Ia akan menjadi pemimpin bagi Bani Israil menuju tanah yang dijanjikan Allah SWT bagi mereka.

Yusya AS berusia delapan puluh dua ketika Allah SWT menjadikannya seorang nabi. Selama dua puluh delapan tahun, ia memimpin Bani Israil mengembangkan negri mereka, hidup dengan Hukum Allah SWT sebagaimana yang tertulis dalam Taurat. Meskipun ia semakin tua, ia masih tetap kuat dan menjadi seorang pejuang yang gagah perkasa. Ia memimpin pasukannya menyebrangi sungai Jordan dan menaklukan kerajaan demi kerajaan hingga ia menjadi penguasa penuh bagi tanah di sepanjang Damaskus hingga ke laut. Setelah pengepungan yang lama, mereka akhirnya menguasai Jerusalem juga.

Bani Israil hidup di tanah mereka sendiri. Ya`qub AS mempunyai dua belas anak, Yusuf AS dan Benyamin AS dari Rahiil RA dan sepuluh anak dari istri pertama Leah RA. Allah SWT memerintahkan bahwa keturanan dari masing-masing anak ini akan diberi daerah sendiri dan sumber air masing-masing. Jadi tanah Israil, sebagaimana negri ini kelak disebut dibagi menjadi dua belas bagian yang sama.

Pada awalnya segala sesuatu berjalan dengan baik. Bani Israil menghormati nabi-nabi mereka dan mematuhi Allah SWT. Orang-orang yang ditaklukkan juga bahagia dengan penguasa mereka yang baru, yang memperlakukan mereka dengan kasih sayang dan adil. Tetapi sedikit demi sedikit mereka mulai korup dengan praktik-praktik yang dilakukan oleh tetangga mereka. Mereka tidak lagi mematuhi Hukum Allah SWT. Mereka suka berpesta dan berjudi. Mereka mulai berselisih di antara mereka sendiri. Mereka lupa akan penderitan nenek moyangnya semasa Firaun di Mesir, dan mereka sendiri mulai memperlakukan diri mereka seperti Firaun dan memperlakukan jajahan mereka dengan tidak adil. Mereka mengambil apa yang mereka inginkan tetapi tanpa meminta dan dengan segera mereka menjadi tiran di negeri mereka.

Yusya AS dengan rasa jijik mengasingkan diri ke pegunungan untuk berdoa dan beribadah kepada Allah SWT sendiri. Ia masih tetap sering pergi ke kota untuk mengingatkan dan memperbaiki para pengikutnya tetapi korupsi dan kesombongan mereka membuatnya sedih. Untuk terakhir kalinya ia mengingatkan para pengikutnya untuk mematuhi Allah SWT dan memperlakukan semua orang dengan adil dan penuh hormat. Untuk terakhir kalinya Bani Israil mendengar nabi mereka, mereka menyesal dan memohon ampun. Ketika ia meninggalkan mereka untuk kembali ke gunung, ia mendengar mereka terisak dan berjanji untuk mematuhi Hukum Allah SWT. Yusya AS wafat dengan damai pada usia 110 tahun di pengasingannya di sebuah gunung (di Tripoli, Lebanon) dan di sanalah ia dimakamkan.

Semoga Allah SWT memberkati Yusya AS dan memberinya kedamaian.


Sumber:
My Little Lore of Light (Hajjah Amina Adil, Editor Karima Sperling)
© Naqshbandi-Haqqani Sufi Order of America, 2005
diterjemahkan oleh Yayasan Haqqani Indonesia
Lihat juga Ziyarah Syekh Hisyam Kabbani qs dan Syekh Adnan Kabbani qs ke Makam Nabi Yusya AS di Tripoli, Lebanon.

http://www.sufilive.com/rnd.cfm?m=995