Showing posts with label Rendah Hati. Show all posts
Showing posts with label Rendah Hati. Show all posts

13 April 2011

Sebuah Peringatan yang Penting untuk Murid-Murid


Mawlana Syekh Hisyam Kabbani

7 April, 2011 Lefke, Siprus

Shuhbah setelah Salat Isya

A`uudzu billahi min asy-Syaythaani ‘r-rajim. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim.

Nawaytu 'l-arba`iin, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,

nawaytu 'r-riyaadhah, nawaytu 's-suluuk, lillahi ta`ala fii haadza 'l-masjid.

Alhamdulillahi Rabbi 'l-`Alamiin, wash-shalaatu was-salaamu `ala asyrafa 'l-Mursaliin, Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa `alaa aalihi wa shahbihi ajma`iin. bin niyyah Sayyidi Syaykh Nazim al-Haqqani.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat datang kepada tamu-tamu yang penting di sini; kami berdoa semoga dipanjangkan umur dan mendapat kebahagiaan dan kami berdoa untuk pemimpin mereka agar dibimbing menuju keputusan yang benar.

Hari ini adalah Kamis malam, atau malam Jumat, dan saya sering mendengar dari Grandsyekh dan Mawlana Syekh bahwa mereka selalu mengamati malam ini, karena ada satu jam di hari Jumat di mana doa tidak akan ditolak. Jadi awliyaullah selalu menantikan doa itu dan menanti waktu yang tepat untuk membacanya di antara 24 jam dan waktu tersebut tidak diketahui. Banyak ulama yang memberikan waktu yang berbeda, tetapi saya mendengar dari Grandsyekh, semoga Allah memberkati jiwanya, dan dari Mawlana Syekh, bahwa waktunya adalah antara `Ashar dan Maghrib, satu jam sebelum Maghrib. Grandsyekh mengatakan, dalam suatu khalwat, beliau bertanya kepada Nabi (s) dalam dimensi spiritual, “Yaa Rasuulullah! adrikna unzurna, lihatlah pada kami, berilah kami dari samudramu, waktu manakah yang tepat?” Grandsyekh berkata bahwa itu adalah waktunya, satu jam sebelum Maghrib.

Allah mengaruniai kita 52 jam seperti ini dalam setahun, dari satu Jumat ke Jumat berikutnya, di mana Dia tidak memberikannya kepada umat lainnya! Zikrullah di masa Grandsyekh dilaksanakan antara `Ashar dan Maghrib. Kini tajalinya berubah dan zikrullah dilaksanakan di malam Jumat, yang artinya ada perubahan surgawi yang dijalani oleh awliyaullah, dan akan ada perubahan lagi segera.

Selama bertahun-tahun, Grandsyekh dan Mawlana Syekh menyebutkan tentang Sayyidina Mahdi (a). Banyak orang di masa sekarang bagaikan ikan yang keluar dari samudra. Mereka mendengar Mawlana Syekh bicara dengan keras mengenai Sayyidina Mahdi (a) dan mereka berjuang, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Di masa Sayyidina Mahdi (a), di mana pun kalian berjuang, sekarang situasinya tidak akan berubah: orang-orang yang ditakdirkan akan mati, mereka akan mati, orang-orang yang ditakdirkan hidup, mereka akan hidup. 35 tahun yang lalu Mawlana berkata bahwa jika kalian berada di tengah ledakan dan ditakdirkan bahwa kalian tidak mati, maka kalian tidak akan mati. Jadi jangan terlalu khawatir dengan apa yang terjadi ketika Sayyidina Mahdi (a) datang!

Kita harus mempersiapkan diri kita sendiri, tetapi sebagaimana yang tadi dijelaskan oleh Mawlana Syekh, jika seorang wali didukung dengan tujuh kekuatan, tetap saja ia tidak bisa menjamin keselamatan bagi seorang murid jika murid itu menyia-nyiakan waktunya setelah Maghrib di jalan atau di bioskop atau menghabiskan waktunya di luar rumah! Mawlana ingin agar setiap orang berada di rumah sebelum `Isya, kecuali kalian mempunyai alasan yang kuat untuk melakukan hubungan sosial atau silaturahmi dengan keluarga; bukannya seperti kalian pergi ke dokter untuk mendapatkan resep padahal kalian tidak terlalu sakit, dan banyak orang yang seperti itu. Awliyaullah tidak akan memberi toleransi untuk itu; mereka sangat ketat. Kalian hanya diperbolehkan bila kalian memang harus pergi keluar: kalian diizinkan untuk mengunjungi orang yang sakit, atau mengunjungi kerabat, atau pergi ke masjid, tetapi kalian tidak diperbolehkan untuk pergi ke restoran atau kedai kopi selepas `Isya, dan bila terjadi sesuatu itu adalah tanggung jawab kalian sendiri. Jadi ini adalah tindakan pencegahan yang harus kita ambil sekarang.

Berapa banyak orang yang bertanya, “Sayyidina Mahdi (a) datang, jadi apa yang harus kita lakukan?” Sayyidina Mahdi (a) datang bukan untuk menakut-nakuti kalian, tetapi untuk menyingkirkan kezaliman, sebagaimana Nabi (s) bersabda, “Salah satu dari cucuku akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan menghilangkan kezaliman.” Keadilan bagi kita adalah untuk mematuhi Allah (swt) dan Nabi (s) dan orang-orang yang mempunyai otoritas. Inilah jalan kita, jalannya Ahlu ’s-Sunnah wa ’l-Jama`ah. Kita bukanlah politikus, bukan hakim yang menghakimi orang! Kita berada di sini untuk membimbing dan mendengar apa yang beliau katakan, dan untuk membesarkan anak-anak kita di jalan yang baik.

Banyak orang yang diminta oleh Mawlana untuk menyampaikan pesan ini, karena ini adalah penting. Banyak orang yang melakukan kekerasan kepada istrinya atau memukul mereka. Memang benar bahwa banyak sekali Muslim yang memukuli istrinya, dan ini adalah kekerasan di dalam rumah tangga. Tidak pernah diperkenankan untuk memukul istri kalian! Sayyidina Mahdi (a) akan menghukum mereka. Banyak sekali di lingkungan Muslim (yang melakukan hal ini). Mereka mengetahui diri mereka (siapa mereka), dan banyak sekali yang melakukannya. Saya mengatakan hal ini karena sabar itu adalah penting; sifat itu membangun keluarga. Marah membuat keluarga hancur. Banyak saudara kita di dalam tarekat yang mempunyai masalah dan kesulitan, tetapi marah tidak akan pernah menyelesaikan masalah itu. Ada 800 karakteristik yang buruk dan marah adalah akar bagi semua karakteristik buruk tersebut. Ada 500 amr bi ’l-ma`ruuf, yaitu menyeru pada kebaikan.

Suatu ketika saya masih muda seperti kalian, dan saya mengajukan satu pertanyaan kepada Grandsyekh. Bertanya kepada syekh adalah suatu adab yang buruk. Sekarang orang-orang menanyakan begitu banyak pertanyaan, lebih baik meminta Syekh untuk mendoakan kalian, bukannya bertanya. Dan saya menanyakan pertanyaan ini kepada Grandsyekh, semoga Allah memberkati jiwanya, “Jika ada 800 hal yang terlarang, bagaimana kita bisa bertahan, karena ke mana pun engkau pergi di sana ada sesuatu yang salah?” Beliau berkata, dan kata-katanya masih terngiang di telinga saya, “Yaa waladii! Jika seseorang akan mengerjakan 500 kewajiban, aturan, perbuatan baik, mereka akan diberi pahala, tetapi jika seseorang akan menghindari satu hal yang dilarang, dan ia bertobat, atau jika ia melihat sesuatu yang salah lalu ia berusaha untuk melarang dirinya sendiri untuk tidak melakukannya, ia akan diberi pahala lebih dari 500 karakteristik yang baik tadi, karena ia menarik egonya!”

Saya bertanya kepada Mawlana Syekh, semoga Allah memanjangkan umurnya, “Bagaimana kita dapat menghitungnya?” Beliau berkata, “Ketika aku diperintahkan untuk menjalani khalwat, aku diminta untuk menuliskannya.” Jika kalian mulai menghitung, kalian dapat menghitungnya hingga maksimum 50 atau 60, dan Mawlana menjalani khalwatnya di Madinatu ‘l-Munawwarah. Beliau berkata, “Aku menghitung ada 187 karakter buruk.” Jadi bayangkan berapa banyak karakter buruk yang kita bawa dalam diri kita, dan kita berpikir bahwa kita adalah murid utama atau pengikut utama dari Nabi (s)!

Wahai Muslim! Wahai saudara-saudari sekalian! Untuk mengajarkan kepada kita, Allah (swt) telah berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

wa innaka la-`alaa khuluqin `azhiim.

Dan sesungguhnya engkau berbudi pekerti yang agung. (al-Qalam, 68:4)

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ

Qul innamaa anaa basyarun mitslukum.

Katakan (Wahai Muhammad), "Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu.” (al-Fushshilat, 41:6)

Itu artinya, “Yaa Muhammad! Katakan kepada mereka bahwa dengan segala maqam terpuji yang engkau miliki, di mana Aku telah menyempurnakanmu, Aku telah memberimu segalanya, ...khuluqin `azhiim....dengan semua itu, katakan kepada mereka...innama anaa basyarun.... aku hanyalah seorang manusia, seperti kamu. "

Tidak ada yang dapat mencapai itu! Bahkan jika seluruh awliya bersatu (secara kolektif), itu tidak akan menyamai setetes dari ilmunya Nabi (s)! Dengan semua itu, beliau berkata, “Aku hanyalah seorang manusia.” Lihatlah semua kerendahan hati itu! Dan kita bicara mengenai diri kita (sebagai bagian dari) di bawah seorang Syekh. Jadi ketika kita keluar dari pintu ini, kita mulai berselisih, tidak semuanya, tetapi beberapa. Orang-orang berselisih karena mereka tidak bisa mengendalikan ego mereka. Mereka ingin menjadi bos dan duduk di kursi dan melanggengkan dirinya di kursi itu. (Dalam kasus ini), Allah (swt) akan mengusir kalian dengan paksaan, suka atau tidak; suatu hari Allah akan mengeluarkan kalian. Dia mengambil para pemimpin satu per satu. Allah (swt) memberi kita contoh. Seorang “terminator” menggunakan senapan mesin, tetapi Allah tidak menggunakannya; Dia membisikkan di telinga para awliyaullah, “Singkirkan mereka,” dan mereka menggantinya.

Allah (swt) berfirman:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا وَقَالَ الْإِنسَانُ مَا لَهَا

idza zulzilat al-ardhu zilzaalahaa wa akhrajati’l-ardhu atsqaalahaa wa qaalat al-insaanu maa laha..."

Ketika Bumi berguncang dengan guncangan (yang dahsyat) dan ketika Bumi mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandungnya) dan manusia bertanya, “Mengapa Bumi menjadi begini?” (az-Zalzala, 99:1-3)

Ini artinya ada guncangan yang tidak menyerupai apapun, misalnya, apa yang terjadi di Jepang. Orang-orang mengatakan bahwa tidak ada (gempa) yang seperti itu, namun demikian itu masih bukan apa-apa! Apa yang ada di dalam akan keluar. (Gempa) itu akan seperti mainan di hadapan apa yang akan terjadi nanti. Allah berfirman bahwa ketika Dia mengguncangkan Bumi, manusia akan berkata, “Apa yang terjadi, mengapa Bumi berguncang?” Ketika Allah menghendaki hal itu terjadi, ia akan terjadi! Allah akan membuat orang yang berada di titik terbawah ke atas dan yang di atas menjadi ke bawah; lalu dapatkah seseorang bertanya, mengapa?

Wahai Muslim! Kita semua harus memperlihatkan kerendahan hati satu sama lain. Jangan mengharapkan kerendahan hati yang sama dari saudara kalian, tidak, tetapi perlihatkanlah lebih dari itu. (...) Ego kalian akan berkata, “Mengapa kamu memperlihatkan kerendahan hati? Tidak usah dipikirkan!” Tetapi Allah ingin agar kalian memperlihatkan kerendahan hati. Jika kalian ingin diangkat, perlihatkanlah kerendahan hati. Datang ke sini berarti memperlihatkan kerendahan hati; itu adalah tanda bahwa kerendahan hati masih ada di sana, tetapi jangan sampai kehilangannya! Potonglah akar kemarahan itu.

Semoga Allah memberkati kita dan semoga Allah mengampuni kita. Amiin.

Fatihah.

http://media.islamicsupremecouncil.org/Important_Instructions_from_Sultan_ul_Awliya_that_Every_Mureed_Must_Know-3381-print.html


25 June 2009

Zaman Namrudz akan Segera Berakhir

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

Lefke, Siprus: 9 Mei 2005 

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

 

 

…Setiap orang ingin menjadi nomor satu.  Tak seorang pun mau menjadi yang ke-2.  Ini adalah karakteristik diri kita. Tak seorang pun senang untuk menjadi orang ke-2.  Semua menginginkan untuk menjadi pimpinan, di mana pun.  Di zaman kita sekarang, begitu banyak orang di militer ingin untuk menjadi nomor satu, tak ingin berada di bawah suatu pemerintahan sipil.  Mereka semua ingin menjadi orang pertama.  Setiap orang ingin menjadi pusat kekuasaan, agar setiap orang lainnya berkata padanya, “Baik, Tuan!” dan mencium kedua tangannya, kakinya, dan sepatunya!  Agar diri mereka dapat menempatkan alas sepatunya di atas kepala orang lain dan mengatakan, “Kalian adalah hamba-hambaku!” Itulah jalan Setan, di mana ratusan orang dibunuh untuk membuat yang lainnya berada di bawah perintah mereka.  Setiap orang ingin untuk menjadi seorang tiran dan tak seorang pun mengatakan padanya, “Tidak!”

 

Jika manusia tidak senang apabila seseorang mengatakan padanya, “Tidak”, bagaimanakah dengan Tuhan segenap alam ini, ketika Setan mengatakan pada-Nya, “Tidak, aku tak akan bersujud (pada Adam AS)!”  Itulah suatu perbuatan yang demikian angkuh dan buruk tak terkira.  Allah SWT menjawab kepadanya, “Kau seorang setan, pergi!”  Inilah karakteristik Setan, dan sifat seperti ini ada dalam diri manusia melalui ego (nafsu=kedirian) mereka, yang memiliki struktur yang sama. Setiap orang membawa dalam diri mereka karakteristik ego yang terburuk, hal pertama yang akan mereka lakukan saat diberikan suatu kesempatan untuk menginjak kepala orang-orang, adalah mereka akan berkata, “Akulah tuhan kalian.”  Sama seperti ketika Firaun berkata, “Akulah tuhan tertinggi kalian, jadilah kalian adalah budak-budakku yang taat.”

 

Sebagaimana Grandsyekh saya (Mawlana Sulthanul Awliya’ Syekh ‘Abdullah Faiz ad-Daghestani QS) selalu berkata, “Mengapakah Muhammad SAW, menjadi seseorang yang paling terpuji dan terhormat di Hadirat Ilahi?  Karena beliaulah yang paling rendah hati di antara seluruh ciptaan (makhluk) Allah SWT.” Beliau selalu duduk seakan bagai seorang hamba di hadapan tuan pemiliknya, dan selalu pula makan sebagai seorang hamba atau pekerja yang makan di hadapan tuan pemiliknya.  Beliau tak pernah duduk di atas meja.  Karena itulah, tak seorang pun mencapai kedudukan seperti beliau di Hadirat Ilahiah, tak seorang pun dihormati dan dipuji di Hadirat Ilahiah sebanyak Penutup para Nabi SAW.  Karena itulah, Allah SWT memberikan salam bagi beliau, dengan mengatakan, “As-Salaamu ‘Alayka Ayyuha an-Nabiyyu”, “Keselamatan bagimu, wahai Nabi SAW!” Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan, “Keselamatan bagimu, wahai Muhammad SAW.”  Tidak!!  Melainkan Ia Subhanahu wa Ta’ala mengatakan, “Keselamatan bagimu, Wahai Nabi SAW!”  Dan kita kini mengulangi salam dari Allah SWT bagi Nabi SAW tersebut lima kali dalam salat-salat harian kita, saat kita melakukan tasyahhud.  Salam Ilahiah ini tidaklah dikaruniakan bagi siapa pun yang lain.  Ini adalah puncak tertinggi suatu pujian dari Tuhan segenap alam bagi Nabi-Nya.  Beliau telah mencapai suatu puncak tertinggi di mana tak seorang pun yang lain mencapainya, semata karena kerendahan hatinya.  Karena itu pula, beliau mewakili Keagungan Allah SWT dalam seluruh ciptaan.  Ego Nabi SAW telah habis dan berserah diri, tak seperti ego-ego kalian.  Tak ada lagi pemberontakan, mengatakan, “Tidak, tidak…”  Tidak! Melainkan beliau adalah dia yang paling tawadhu’ (rendah hati) di Hadirat Ilahiah.



 Berbagai gedung tinggi yang merepresentasikan ego Namrudz.


Wahai manusia yang mencari kehormatan di Hadirat Ilahi, berusahalah untuk lebih tawadhu’!  Namun, kini, Setan tengah mengajari manusia bagaimana menjadi yang pertama, nomor satu.  Setan mengajari manusia bagaimana memiliki ego seperti ego Namrudz.  Karena itulah, setiap orang kini ingin mewakili Namrudz, bukan untuk mewakili Sang Penutup Para Nabi, Sayyiduna Muhammad SAW.  Itulah masalah zaman ini, (jika demikian) bagaimana mereka dapat menjadi orang yang berbahagia? Mereka hanya akan berperang satu sama lain.  Kehormatan sejati hanya dapat diperoleh dengan berusaha untuk ber-tawadhu’ sebanyak mungkin.  Hanya dengan jalan seperti itulah, kalian akan bangkit dan naik.  Tetapi, selama kalian mengatakan, “Aku, Aku, Aku adalah presiden, Aku adalah perdana menteri, Aku Jenderal, Aku Letnan…” maka Setan akan membusanai diri kalian dengan sifat-sifat Namrudz.

 

Hari ini, sekelompok kecil manusia tengah menaruh manusia lainnya di bawah kaki mereka, di Eropa, Afrika, Arabia, Amerika, Asia, di mana pun.  Tetapi, ini akan berakhir.  Begitu banyak tanda bermunculan saat ini, dan orang-orang akan berkata pada ‘hewan-hewan liar’ tersebut, “Cukup!” Kami harus merobohkan tiran-tiran itu, memotong-motong mereka  dan membawa mereka ke bawah kaki kami.

 

Kini, musim panas tengah datang dan musim dingin baru berlalu.  Pemerintahan musim dingin telah habis, dan musim panas tengah mengambil kekuasaan di tangannya.  Sang Musim Panas berkata pada sang Musim Dingin, “Segala sesuatu kini berada di bawah kekuasaanku, aku mengalahkan pemerintahanmu…” Kini, pemerintahan para tirani telah habis.  Sejak 1789 hingga sekarang, adalah musim mereka. Kinilah saatnya mereka akan mengembalikan apa yang mereka ambil dari rakyat, dan rakyat akan menaruh para tiran itu di bawah sol sepatu mereka, dibantu oleh dukungan langit!  Tak ada pasukan atau perwira militer yang mampu menyelamatkan tiran-tiran itu…

 

Semoga Allah SWT tak pernah meninggalkan diri kita pada karakteristik ego yang kotor, dan semoga Ia Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan pada kita hamba-hamba-Nya yang terberkahi oleh-Nya untuk menyelamatkan diri kita dari kezaliman seperti itu.  Semoga Ia Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan ular-ular ke kepala para tiran itu untuk menelan mereka.  Panji-panji Islam mesti bangkit dan panji-panji Setan harus turun ke bawah kaki.

 

Ini bukan kata-kata saya, ini adalah pidato langit.  Saya pun tak tahu apa yang tengah saya ucapkan, tetapi mereka mengirimkan dan memancarkannya melalui diri saya dari tempat sederhana ini ke seluruh dunia.  Terserah kalian untuk mendengarkannya.

28 June 2008

Saya Memerlukan Seorang Pemandu

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an [9:109] bahwa jika seseorang membangun rumahnya pada karang yang terjal tanpa fondasi yang kuat, maka rumahnya pasti akan runtuh. Jika seseorang membangun fondasi rumahnya dengan bahan yang baik, atau pada tanah yang padat, lapisan demi lapisan ditata dengan baik, ia akan mempunyai rumah yang kokoh. Segalanya memerlukan orang yang ahli. Jika Saya bilang kepada saudara saya, “Bisakah kamu membuatkan rumah untuk kami?” Ia akan menjawab, “Tidak, saya bukan tukang kayu.” Jadi kita harus memanggil orang lain dan berkata, “Tolong buatkan rumah untuk kami karena Anda ahlinya.” Orang itu akan menjawab, “Baiklah! Begini rencananya, di sini kita meletakkan dinding, lalu di sini fondasi, di sini semen dan seterusnya.”

Jika kalian memerlukan seorang ahli untuk membangun rumah yang biasa, lalu bagaimana dengan hati kalian? Bagaimana kalian membuat suatu pendekatan kepada Tuhan kalian tanpa dibimbing seorang ahli? Kalian harus mencari ahlinya. Kalian tidak dapat mencapai-Nya tanpa bantuan seorang pemandu, tidak peduli betapa keras kalian mencoba mengikuti jalan-Nya sendirian. Tak seorang pun yang dapat mencapainya sendirian karena kadang-kadang walaupun seseorang tahu bahwa ia berada di jalur yang benar, bisa saja ia melakukan sesuatu yang bukan pada tempat dan waktunya. Dan dengan begitu seterusnya ia akan gagal. Jadi kita memang memerlukan bantuan seorang ahli dan ia akan menjadi pemandu kita.

Untuk mencapai Tuhan, kalian tidak akan menemukan jalan dalam mengarungi gurun kehidupan ini kecuali dengan bantuan seorang pemandu karena angin yang berasal dari keinginan ego dan hasrat ingin menonjolkan diri dapat mengubah segalanya. Ego memiliki keinginan. Tiupan angin dari ego adalah keinginan yang kosong dan nafsu untuk menonjolkan diri. Bila keinginan tersebut muncul, ia akan menutupi jalur yang benar sehingga kalian akan tersesat. Kalian akan berhenti dan tidak tahu cara melanjutkannya. Itulah sebabnya kalian memerlukan bantuan dari seorang pemandu yang benar-benar ahli dalam mengarungi gurun kehidupan tersebut. Ia adalah ahli dalam mengarungi jalur-jalur ego. Bila kalian tidak dapat menemukannya berarti buang-buang waktu saja dalam mencoba mendekati Tuhan di kehidupan ini. Tuhan Maha Penyayang, karena kalian berusaha untuk mencapai-Nya kalian akan menemukan-Nya di akhir hayat bahkan tanpa bantuan seorang pemandu, tetapi kalian tidak bisa mencapai-Nya dengan cepat. Sekarang kalian telah kehilangan waktu tanpa kemajuan yang berarti, tetapi segera setelah kalian menemukan seorang pemandu dan kalian menerima panduan yang diberikannya, melewati kemauan ego dan keinginan untuk menonjolkan diri, maka kalian akan sampai di sisi sebrang. Sebaliknya jika kalian tidak menerimanya, kalian akan tersesat di gurun yang sangat luas.

Ketika Rasulullah SAW diperintahkan untuk berhijrah dari Mekah ke Madinah, beliau bersabda, “Aku memerlukan seorang pemandu.” Beliau adalah seorang rasul, mengapa beliau memerlukan seorang pemandu? Hal itu untuk mengajari kita bahwa walaupun beliau adalah seorang rasul, beliau tetap memerlukan seorang pemandu, pemandu eksternal yang dapat menunjukkan jalan menuju Madinah. Misalnya, kita ingin menunjukkan jalan ke air terjun Niagara kepada anak kita, tetapi kita tidak tahu jalan menuju ke sana, maka kita akan mencari seorang yang ahli, yang tidak akan menyesatkan kita. Beliau adalah rasul tetapi beliau tetap mencari seorang pemandu, apakah beliau tidak tahu? Nabi ‘Isa AS bersabda, “Salah satu di antara kalian akan menghianatiku.” Ini adalah benar, dan sebagai Muslim kita wajib mempercayainya. Beliau mengatakan ‘salah satu di antara kalian,’ apakah beliau tidak tahu? Beliau tahu tetapi tidak mengatakannya. Rasulullah SAW pun tahu, tetapi mereka (Nabi ‘Isa AS dan Rasulullah SAW) ingin menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati sepenuhnya. Beliau mengajari kita untuk mencari seorang pemandu. Mereka memerlukan seorang pemandu untuk menunjukkan jalan dari Mekah ke Madinah dan dengan bantuannya mereka bisa sampai di Madinah dengan aman.

Jika kita memerlukan seorang pemandu untuk mengarungi gurun pasir, bagaimana dengan kehidupan spiritual kita? Ini lebih sulit. Kalian jelas memerlukan seorang pemandu untuk masalah ini. Rasulullah SAW mempunyai pemandu, yaitu malaikat Jibril AS yang memberinya inspirasi dan menyampaikan wahyu. Pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW dibimbing menuju Hadirat Ilahi. Jadi secara eksternal beliau memerlukan seorang pemandu yaitu ketika hijrah dari Mekah ke Madinah dan secara internal beliau juga memerlukan seorang pemandu, ketika hijrah menuju Tuhannya di malam Isra’ Mi’raj. Tanpa ada jalan mustahil melakukan hijrah, kalian tidak bisa pergi ke mana-mana tanpa ada jalan.

Itulah sebabnya mengapa setiap orang harus mencari seorang pemandu untuk menunjukkan jalan kebenaran dan jalan menuju realitas. Tanpa panduannya kalian akan berada dalam keraguan, apakah yang kalian lakukan benar atau salah. Kalian tidak akan mengetahuinya. Dengan adanya pemandu, kalian akan bergantung kepadanya karena ia adalah seorang yang ahli. Seperti yang telah dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengambil seorang pemandu untuk menunjukkan jalan ke Madinah. Beliau tidak berkata kepadanya, “Tidak! Mengapa kamu membawaku ke jalan yang ini, bukan yang itu?” Beliau menggantungkan dirinya kepada pemandunya karena keahliannya.

Pemandu yang menunjukkan jalan harus dapat dipercaya. Kalian tidak bisa mengambil sembarang pemandu dan mengaku bahwa ia adalah pemandu kalian. Jika kalian mengambil pemandu yang keliru, bisa saja ia membawa kalian ke dalam samudra Setan. Kalian akan tersesat dalam samudra halusinasi. Banyak orang yang mengikuti pemandu semacam ini, suatu saat para pengikutnya akan mengalami halusinasi. Apa yang mereka lihat sebenarnya tidak ada. Oleh sebab itu pemandu yang sejati sangatlah penting.

Bagaimana kalian bisa mengenalinya? Grandsyekh pernah berkata bahwa jika kalian ingin mengetahui apakah seseorang itu adalah seorang pemandu yang sejati, pertama kali yang harus dilakukan adalah melihat pakaian luarnya. Apakah ia telah memakai pakaian luar dengan lengkap? Jika belum, berarti ada kerusakan di dalam hatinya, oleh sebab itu jangan ikuti dia. Segala sesuatu pada seorang guru Sufi, (kita berbicara tentang Sufisme, bukan hal yang lain) yang tidak sesuai dengan pakaian dan perilaku seorang guru yang sejati, menunjukkan suatu ketidaksempurnaan atau kesalahan. Grandsyekh berkata, “Jika kalian mempunyai sebuah jam dan jam itu secara internal bekerja 100% tetapi tidak mempunyai jarum, jam itu tidak bisa menunjukkan waktu kepada kalian sehingga tidak ada manfaat yang dapat diambil darinya. Sama halnya dengan jam yang mempunyai jarum, tetapi mekanik internalnya tidak bekerja 100%, ia juga tidak dapat menunjukkan waktu yang tepat bagi kalian.” Jadi bagi seorang pemandu bagian eksternal dan internal harus sempurna.

Kita tidak berbicara tentang diri kita. Kita mengikuti guru kita. Beliaulah pemandu kita. Beliau bekerja 100% baik secara eksternal maupun internal. Kita hanya mencoba mengikutinya. Itulah sebabnya bila kita melihat kepada seseorang dan berpikir apakah ia adalah seorang pemandu sejati, kalian harus melihat bahwa ia telah melengkapi bagian eksternalnya tanpa ada kekurangan. Jika ada sesuatu yang hilang, kalian jangan mengikutinya. Bila ia kehilangan salah satu bagian eksternalnya berarti ia telah kehilangan banyak bagian internalnya, yang tidak dapat diketahui orang. Kalian berpakaian dengan rapi karena tahu bahwa orang melihat kalian. Tetapi bila menyangkut hal-hal yang tidak dapat dilihat, kalian berkata, “Biarkan saja, toh tidak ada yang melihat.” Jika kalian kehilangan salah satu item dari pakaian eksternal yang jelas akan dilihat orang, berarti kalian ‘tidak fit’. Apalagi kalau menyangkut hal-hal yang tidak terlihat, tentu akan lebih banyak yang hilang. Orang seperti itu tidak bisa menjadi pemandu sejati. Dia adalah pemandu yang tidak terhubung. Bisa saja ia membawa kalian ke jarak tertentu dalam kehidupan spiritual, tetapi ia tidak terhubung dengan tingkat yang lebih tinggi lagi. Pemandu sejati harus mempunyai eksterior yang lengkap, tidak kurang sedikit pun!

Grandsyekh berkata bahwa itu adalah langkah pertama untuk menentukan seorang pemandu sejati. Bila kalian melihatnya dan mengatakan, “Ia sudah lolos,” bukan ujian pertama, tetapi lolos dari “kriteria pertama.” Berikutnya kita tinjau dari sisi dalam. Bagaimana kalian bisa melihat sisi dalamnya? Grandsyekh berkata, “Kalian harus lihat bahwa orang itu mempunyai rasa hormat kepada setiap orang tanpa diskriminasi sekecil apapun, tanpa memandang agama karena setiap manusia adalah hamba Tuhan yang sama. Sang pemandu harus menghormatinya, pertama karena seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan dan mempunyai Cahaya Ilahi dalam hatinya. Selain itu ia juga harus mempunyai rasa cinta terhadap mereka. Menerima apa yang ia inginkan baginya dan bagi anak-anaknya, untuk menjadi dan bertindak atas nama mereka, walaupun mereka hanya orang biasa yang belum menjadi pengikutnya. Jadi ia harus bisa menunjukkan rasa hormat dan cinta kepada mereka. Ketiga, ia harus menunjukkan kerendahan hati kepada mereka. Ia tidak bisa berkata bahwa ia lebih tinggi dari mereka. Tidak ada seorang pun yang tinggi kecuali Tuhan. Jika ia menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka berarti ia seperti Setan yang menganggap dirinya lebih tinggi dari Adam AS.

Ketiga kriteria ini adalah “aksesoris dalam” yang dimiliki pemandu sejati. Dalam hal pakaian ia harus memiliki pakaian lengkap seorang guru Sufi. Jika guru kalian seperti itu, barulah ia seorang pemandu sejati, ikutilah ia. Bersamanya kalian akan menemukan kepuasan hati dan menemukan hal-hal yang telah hilang. Jika kalian tidak menemukan orang seperti itu, lanjutkan pencarian kalian. Kalian akan menemukannya karena Allah SWT Maha Penyayang. Bila kalian melihatnya, Allah SWT akan memberi. Bila kalian tidak meminta, Allah SWT tidak akan memberi. Jika kalian sungguh-sungguh, memohonlah dengan hati kalian. Kalian akan menemukannya dan ia akan memberi kunci hati kalian. Jika kalian tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, tidak melakukannya sepenuh hati, hanya di lidah saja mungkin kalian akan menemukannya atau mungkin juga tidak.

Ahmad al-Badawi QS adalah seorang wali yang sangat terkenal di semua kalangan Sufi. Ia menyatakan “Aku tidak memerlukan seorang pemandu. Pemanduku adalah al-Qur’an,” sebagaimana yang dikatakan orang Wahhabi sekarang, “…dan cara hidup Rasulullah SAW.” Ia mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana Rasulullah SAW bersabda atas nama Tuhannya, “Hambaku tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya. Dan bila Aku mencintainya, pada saat itu Aku akan menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan, dan kaki untuk berjalan. Jika ia meminta, Aku akan memberi. Jika ia memohon perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi dirinyaa, dan ia dapat mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah!” maka jadilah ia.” Orang-orang Wahhabi biasanya memotong bagian terakhir dari hadis tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap.

Ahmad al-Badawi QS berusaha mendekatai Tuhannya sampai mencapai pintu Hadirat Ilahi, lalu ia berkata, “Ya Tuhanku! Bukakanlah pintu ini untukku.” Tetapi ia tidak mendapat jawaban. Ia mencobanya berulang-ulang sampai akhirnya ia ‘secara tidak sengaja’ bertemu dengan seseorang. Saya bilang ‘tidak sengaja’ tetapi sebetulnya itu sudah direncanakan dengan sangat rapi, karena itu adalah Kehendak Allah SWT untuk mengujinya. Ia bertemu orang itu di jalan, seseorang yang kelihatannya biasa-biasa saja. Orang itu lalu memanggilnya, “Hei Ahmad!” bahkan ia tidak menyebutnya “Syekh Ahmad!” sebagai tanda penghormatan. Ia berkata, “Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai Hadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika kau mau, datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu.”

Banyak di antara kita yang menolak fakta atau kenyataan karena merasa bangga, walaupun ia tahu sebenarnya itu adalah jalan yang benar. Mereka tidak menerima sebab ego mereka mengatakan, “tidak!” Ego Ahmad QS berkata kepadanya, “Bagaimana mungkin Engkau menerima sesuatu darinya? Jangan menerima kunci darinya. Terimalah dari Tuhan.” Lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, Aku tidak akan menerima kunci darimu, tidak juga dari orang lain, kecuali dari Sang Pembuat Kunci. Siapa Engkau. Engkau bukan siapa-siapa.”

Selanjutnya Ahmad QS berusaha untuk mencapai Hadirat Ilahi sampai ia mendengar Suara Tuhan (hatif Rabbani) kepadanya, “Wahai Ahmad QS, kehidupan ini adalah kehidupan yang berisi sebab dan akibat. Aku tidak akan memberimu kunci. Sesuai Kehendak-Ku kunci untukmu berada pada orang itu. Pergilah dan dapatkan kunci itu darinya.” Sekarang persoalannya sudah selesai. Ia mendengarnya langsung dari Tuhannya, dan ia menerima hal itu. Sekarang ia harus mencari pemandunya. Tetapi sang pemandu telah lenyap. Orang itu telah meninggalkannya. Selama enam bulan pemandu itu mengamati hati Ahmad QS secara rahasia, melihat bahwa ia mencarinya dan berdoa kepada Tuhan siang dan malam, “Ya Tuhanku kirimkanlah orang itu kembali kepadaku,” sampai akhirnya ia bisa menemukannya kembali. Dengan segera orang itu membuka tabir yang ada pada dirinya selama ini.

Jadi sang pemandu membuka tabir dan menampakkan dirinya di hadapan Ahmad QS. Ahmad QS berkata, “Wahai Syekhku! Aku menemukanmu.” Ia tidak menemukannya tetapi sang pemandulah yang menghilangkan tabirnya. Tetapi tetap saja ia berpikir bahwa ia telah menemukannya. Ia berkata, “Wahai Syekhku, Aku menerimamu sebagai pemanduku.” Sang pemandu menjawab, “Jika engkau menerimaku sebagai pemandumu sekarang, engkau harus pasrah, menyerahkan diri, dan menyerahkan seluruh kehendakmu kepadaku. Engkau tidak diperkenankan mempunyai kemauan selama bersamaku. Engkau telah membangun ilmu pengetahuanmu pada sebuah karang yang hanya dengan satu tiupan dari ego, ia akan jatuh. Aku harus membangun fondasi yang kuat bagimu. Jadi, lihatlah ke dalam mataku.” Ahmad melihat ke matanya dan pemandu itu dengan segera menghapus seluruh pengetahuan yang telah dipelajari oleh Ahmad al-Badawi QS dari buku. “Lewat buku” maksudnya ada banyak hal yang berasal dari ego si penulis. Maka ia menghilangkan pengetahuan itu dari hati Ahmad QS dan kemudian lenyap. Ia meninggalkannya selama 6 bulan lagi bahkan dalam keadaan tidak tahu bagaimana mengucapkan, “bismillahir rahmaanir rahiim,” bahkan tanpa mengetahui bagaimana mengucapkan Nama Allah SWT.

Orang-orang di kota kini mengejek Ahmad al-Badawi QS, yang kelihatannya seperti orang gila setelah sebelumnya menjadi ulama yang terkemuka. Karena keterbatasan pengetahuan spiritual mereka, mereka berpikir bahwa ia benar-benar sakit. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa ia mengikuti seseorang yang membuatnya gila, tetapi Ahmad al-Badawi QS tahu bahwa ia telah mendengar suara Tuhannya yang mengatakan bahwa, “Kuncimu ada pada orang itu.” Tidak ada yang membuatnya gila. Ia mengikuti orang itu. Tetapi bila ia menerimanya sejak awal, ketika pemandu itu datang untuk pertama kalinya atas Kehendak Allah SWT, ia tidak harus melewati ujian ini. Jadi mengapa kalian membuat diri kalian harus melewati ujian yang sama? Bila kalian menemukan kebenaran, seorang pemandu yang benar, terimalah ia dengan segera! Jangan bermain-main dengan ego kalian.

Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi dan muncul kembali di waktu yang lain. Dalam kurun waktu tersebut Ahmad al-Badawi QS terus mencarinya dan ketika ia bertemu kembali, Ahmad al-Badawi QS berkata, “Wahai Syekhku, Aku menemukanmu lagi.” Saat itu sang pemandu memandang mata Ahmad al-Badawi QS dan memancarkan sesuatu dari lubuk hatinya kepada hati Ahmad al-Badawi QS melalui matanya. Pada saat itu terjadi transfer pengetahuan internal, pengetahuan dari Kitab Allah SWT dan rahasia-rahasianya. Pemandu itu melakukannya 3 kali sampai mata Ahmad al-Badawi QS memancarkan sinar yang begitu kuat bahkan orang yang melihatnya bisa tewas. Oleh sebab itu ia menutup wajahnya dengan cadar. Saat itu ia bisa memasuki Hadirat Ilahi dan ia menerima kuncinya.

Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa mencapai Hadirat-Nya. Dialah yang akan membukakan pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi. Ahmad al-Badawi QS adalah seorang ulama besar yang mengetahui banyak hal. Ia bangga dengan pengetahuannya itu dan tidak mau menerima pelajaran dari orang lain. Ia hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Maha Tinggi. Ia tidak melihat ada yang lebih tinggi darinya kecuali Tuhan. Bagaimana mungkin ia akan mengambil pelajaran dari orang lain? Berarti tidak ada sifat rendah hati pada dirinya. Ia telah kehilangan satu dari tiga karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah SWT. Ia mempunyai rasa hormat, ia juga mencintai sesamanya, tetapi ia tidak mempunyai kerendahan hati untuk menerima nasihat dari orang lain. Dan karena ia telah kehilangan satu karakteristik itu, seolah-olah ia tidak mengalami kemajuan lagi.

Seorang wali, seorang guru harus memiliki karakteristik hormat, cinta dan rendah hati. Jika kalian melihat salah satunya tidak ada, maka ia bukanlah seorang pemandu sejati. Ia hanya akan membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita lihat pada diri Ahmad al-Badawi QS yang bisa mencapai Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak bisa membukanya. Ia memerlukan seseorang yang mempunyai kunci tetapi ketika ditemukan ia tidak menerimanya langsung karena kesombongannya. Ia terlalu banyak memikirkan dirinya. Akhirnya ia menerima juga setelah mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi ia harus melewati ujian tertentu. Jika pada mulanya ia langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya tanpa harus melewati ujian selama 2 tahun.

Bila kalian menemukan seorang pemandu dan hatimu merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan ego kalian. Katakan kepada ego, “Kau salah! Apa ruginya jika Aku menerimanya sebagai guru?“ Kalian tidak akan kehilangan apa pun. Bila kalian menunjukkan sifat rendah hati, ini cukup bagi Allah SWT untuk mengangkat kalian. Jika Saya datang dan mengatakan, “Si Anu dan si Anu” adalah Syekh saya, dan Saya telah berbay’at dengannya. Apa salahnya? Saya menerimanya dan Saya menunjukkan kerendahan hati, Allah SWT akan mengangkat saya.

Mempunyai sifat rendah hati adalah sangat penting. Jika kalian bersifat rendah hati, kalian akan menerima semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu bagi kalian. Ada sebuah ungkapan di Turki, berupa pertanyaan kepada seorang yang bijak, “Dari mana engkau belajar perilaku yang sempurna dalam masyarakat?” jawabnya, “Dari orang-orang yang bersalah. Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang mereka lakukan lalu Aku menghindarinya. Jadi Aku bisa memperbaiki diriku lewat kesalahan orang lain.” Jika kalian bisa menerima semua orang sebagai pemandu kalian, bahkan orang yang jahat pun dapat memandu kalian. Dengan mengamati dan melihat kesalahan yang dilakukannya, kalian berhenti (melakukannya).


Wa min Allah at tawfiq

13 May 2008

Jadilah Seorang Pendengar

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin



Dengan “bismillah” kita bisa mulai. Tanpa “bismillah” tidak ada kekuatan Ilahi yang bisa membantu hamba-hamba-Nya.

Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS berbicara mengenai sebuah perilaku yang baik bagi setiap orang, beliau mengatakan bahwa kita adalah umat manusia. Suatu ketika seorang yang terpandang datang berkunjung, dalam hatinya ia merasa bahwa ia adalah sesuatu. Kita harus menggunakan bahasa yang lain untuk berbicara kepadanya daripada berbicara kepada orang yang berkata, “Saya bukan apa-apa.” Grandsyekh berkata kepadanya, “Bicaralah kepada kami, atau izinkan kami untuk berbicara.” Ia menjawab, “Anda boleh bicara, saya mendengarkan.”

Apakah kalian pikir menjadi seorang pendengar itu adalah sesuatu yang mudah? Benar atau salah. Setiap orang bisa berbicara, karena itu adalah suatu kesenangan bagi dirinya. Ego senang untuk berbicara dan menonjolkan dirinya, tetapi seorang pendengar harus bersifat rendah hati. Grandsyekh membalas kepada orang itu, “Wahai saudaraku, orang yang mau mendengar adalah orang yang tidak sombong.” Seorang pendengar selalu mendapatkan sesuatu. Seorang pembicara terlebih dahulu harus menjadi pendengar, kalau tidak maka kata-katanya akan menjadi racun dan membawa penyakit bagi yang mendengarkan. Dalam setiap agama dan kepercayaan, hal pertama yang diberikan kepada para pengikutnya adalah, “dimohon untuk tenang dan diam.” Jika seseorang tidak bisa memandang orang lain lebih tinggi darinya, ia tidak bisa menjadi seorang pendengar dan dengan demikian ia tidak bersifat rendah hati. Allah SWT bisa memberi hikmah kepada siapa saja, jika kalian mendengarkan, kita bisa mendapatkannya dari orang itu.

Menjadi seorang pendengar adalah karakteristik utama yang dimiliki seorang rasul, karena mereka semua mendengarkan Malaikat Jibril AS. Pendengar adalah pembeli sedangkan pembicara adalah penjual. Pembeli adalah orang yang mendapat sesuatu. Sebuah perilaku yang baik bagi semua rasul dan awliya serta para ulama adalah memiliki paling sedikit satu orang yang bisa didengarkan. Jika seseorang tidak menerima bahwa orang lain lebih tinggi darinya, berarti ia mempunyai level yang sama dengan Setan, yang berkata, “Di alam semesta ini tidak ada yang lebih tinggi dariku.” Seorang anak kecil yang duduk di bangkunya di sekolah bersama seorang anak di depannya berpura-pura mengendarai kereta kuda yang membawa mereka pergi ke Aleppo. Anak yang di depan bertindak sebagai kuda yang dikekang, dan seperti inilah orang-orang yang tidak mau mendengar mengalami kemajuan.

Muhiy-id-Din QS dan Malaikat

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Grandsyekh ‘Abdullah Fa’iz ad-Daghestani QS bercerita tentang Syekh Muhiy-id-Din QS yang melakukan perjalanan dengan sebuah kapal di tengah laut yang mengamuk. Beliau menulis dalam sebuah kertas, “Wahai laut, engkau harus tenang karena “samudra yang luas” ada padamu.” Kemudian beliau menjatuhkan kertas itu ke dalam laut dan dengan segera laut menjadi tenang. Tiba-tiba seekor ikan yang besar muncul dan berkata, “Wahai Muhiy-id-Din QS, Aku mempunyai sebuah pertanyaan, jika seorang wanita mempunyai suami yang tiba-tiba berubah menjadi batu, apakah ia harus menunggu selama 3 bulan (masa idah dalam perceraian) atau 4 bulan dan 10 hari (masa idah dalam kematian)?” Muhiy-id-Din QS tidak menjawab, tetapi beliau mengerti bahwa pertanyaan itu muncul karena beliau telah menyebut dirinya “Samudra yang Luas”. Segera beliau melakukan sujud dan memohon ampun. Itu bukanlah ikan biasa, tetapi malaikat yang dikirim Allah SWT untuk mengajarinya bahwa dalam setiap tingkat pengetahuan ada tingkatan yang lebih tinggi lagi dan tidak ada batasnya. Kalian tidak bisa menemukan batasan bagi ilmu pengetahuan. Untuk setiap kesombongan yang kalian lakukan, akan datang sesuatu untuk menunjukkan betapa lemah dirimu. Allah SWT dapat memberi lebih dari yang kalian miliki kepada seseorang. Allah SWT menghinakan dan menghancurkan Namrud dengan seekor nyamuk yang lemah. Rasulullah SAW bersabda, “Mungkin saja seorang yang lusuh dan berdebu yang tidak disukai oleh orang lain, jika ia meminta kepada Allah SWT, doanya akan dikabulkan.” Ini mengajarkan kepada kita agar menjadi orang yang rendah hati terhadap Tuhan kita. Orang yang rendah hati selalu berada dalam keselamatan di dunia dan akhirat. Jangan tunjukkan kekuasaanmu atau jabatanmu, atau kekayaanmu kepada orang-orang. Mungkin saja semuanya akan diambil dari dirimu dan diberikan kepada orang lain. Jangan memandang rendah orang lain karena Allah SWT akan merendahkan kalian dan menaikkan derajat yang lain. Itu adalah Atribut-Nya, Dia Maha Menaikkan dan Maha Merendahkan.