Showing posts with label Zikir Huu. Show all posts
Showing posts with label Zikir Huu. Show all posts

11 July 2008

Menyelam dalam Samudra Makrifat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS
21 Januari 2005

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah SWT dan taatilah Rasul (Nya) SAW, dan orang-orang yang berwewenang di antara kalian. [QS 4:59]

Wa rahmatii wasi`at kulla syay-in fa sa-aktubuhaa lilladziina yattaquun.

Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa. [QS 7:156]

Dalam firman-Nya itu rahmat bagi siapa? Bagi yang bertaqwa. Dan apa hasil dari ketaqwaan? ittaquullaaha wa yu`allimukumullaah. Jadilah seorang yang alim maka Allah SWT akan mengajarimu. [QS 2:282]

Seluruh kekayaan dunia adalah sia-sia. Itulah yang mereka cari; ittaquullaaha wa yu`allimukumullaah. Awliya yang sedang menunggu makrifat, pengetahuan, pencerahan.

Saat kalian dicerahkan maka kalian mempunyai hikmah, jika kalian mempunya hikmah maka kalian akan menerima pengetahuan Nabi SAW, `ulum al awaliin wal-akhiriin. Nabi SAW akan meneteskannya dari samudra makrifat. Samudra makrifat tidak berawal dan tidak berakhir; seperti ombak di tepi laut, terus-menerus bergulung sampai ke pantai, membawa segalanya dari dalam laut dan dimuntahkan ke pantai.

Makrifat juga meringkas sari pati dari samudra pengetahuan dan memuntahkannya di tempat orang alim berdiri, ia terus memandang pengetahuan itu, dan karena ombak berasal dari samudra menuju pantai; seorang waliyullah, hatinya laksana sebuah samudra yang memompa dari dalam menuju permukaan hatinya, memuntahkan pengetahuan-pengetahuan tersebut, terus tanpa berhenti.

Itulah mengapa hati mereka selalu terhubung dengan sumber utama, dan getarannya selalu bergerak dan bergerak, dan saat bergerak mampu menginspirasi hati yang meratap apa yang harus di katakan dan bicarakan.

Ada awliya yang sedang di pantai menerima gelombang ini. Beberapa sedang melayarinya dan sebagian lagi bergerak di tengah samudra dan menerima pengetahuan-pengetahuan dari dalam. Ada yang menyelam, mengambil sari patinya menuju permukaan. Mereka yang menyelam lebih kuat daripada yang berlayar, mereka yang berlayar mengirimnya ke pantai.

Mereka yang telah menyelam dan mampu melihat serta mempelajari pengetahuan-pengetahuan adalah yang mampu memahami dan belajar. Itulah yang terjadi pada Sayyidina Bayazid al-Bistami QS, ketika Allah SWT memintanya untuk menjadi sampah bagi umatnya. Dan beliau mengarang cerita agar orang-orang membencinya, menyalahkan dan menuduhnya melakukan bid'ah. Kemudian melemparinya dengan batu dan melemparnya ke tempat sampah.

Setelah cerita itu, dan kalian pun mengetahuinya, beliau pergi ke pantai dan berlayar. Di tengah laut ada badai dan kapal pun bergerak ke kanan dan ke kiri, dan ketika akan tenggelam kapten kapal berkata, “Pasti ada orang jahat di sini. Badai itu datang tiba-tiba entah dari mana. Pastilah ada pendosa di kapal ini. Kami akan menulis nama orang-orang dan mengambil salah satu untuk diceburkan ke laut.” Bayazid QS tertawa, “Mereka pasti akan melempar seorang yang tak berdosa.” Beliau pun berkata, “Biarkan mereka mengorbankan aku.” Itulah bagaimana seorang awliya mengorbankan dirinya.

Beliau pun dilemparkan ke dalam laut yang gelombangnya sangat besar. Namun karena Bayazid al-Bistami QS berada dalam pelayaran samudra (makrifat-penerj.), beliau pun lebih besar dari samudra itu. Beliau membawa makrifat dalam hatinya. Samudra yang nyata itu tidak ada apa-apanya. Samudra nyata itu bergejolak dan menakutkan Bayazid QS yang berada di permukaan. Dari ketakutan serta kebahagiaan menjadikannya dalam gerakan, menghasilkan badai, tak ada kebahagiaan dan tak ada ketakutan. Jangan berpikir bahwa menjadi seorang awliya adalah mudah.

Itulah samudra di puncak samudra. Saat Bayazid QS menyeburkan dirinya di samudra luas itu, samudra air itu, menjadi tidak ada apa-apanya di depan seorang wali yang membawa makrifat, seseorang yang telah mengalami pencerahan. Maka lautan itu pun ditundukkan. Sayyidina Bayazid QS menuju ke dalam dan berkata, “Ya Rabbi! Engkau telah mengujiku dengan membuatku seperti sampah, aku membuat diriku sendiri menjadi sampah. Engkau telah mengujiku di samudra itu dan aku pun masuk ke samudra itu.”

Kemudian beliau mulai bergerak, lebih cepat dari kecepatan cahaya, yaitu dalam kecepatan hati.

Kecepatan hati lebih cepat dari kecepatan pikiran. Kecepatan pikiran adalah di mana kalian berpikir, seketika itu pun kalian berada di sana. Jika seorang wali berpikir bahwa ia sedang berada di matahari, sedetik kemudian ia pun berada di sana; di Mars, ia pun berada di Mars, di Venus, ia pun ada di Venus, di Pluto ia pun berada di Pluto. Dengan segera bayangan yang sempurna dari aslinya akan muncul di sana. Itulah kecepatan pikiran.

Maka bayangkan kecepatan hati itu. Saya tidak diizinkan untuk menjelaskannya. Kemudian beliau bergerak bersama kecepatan hati sampai akhirnya menuju tempat yang hanya terdengar “Huuuuuuuuuuuu,” tak ada yang lain.

Diam total kecuali “Huuuuuuuuuuu,” sebuah suara yang penuh keagungan. Sayyidina Bayazid al-Bistami QS, Allah SWT menganugerahkan beliau kekuatan lewat Nabi SAW, bahwa jika beliau ingin menghitung jumlah seluruh populasi manusia saat itu, beliau pun dapat menghitungnya dalam 5 menit, seluruhnya dengan kekuatan itu.

Suatu saat Sayyidina `Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, salah satu awliya besar, sedang berjalan dan mendapatkan inspirasi dan beliau mendengar sebuah suara, “Wahai `Abdul Khaliq QS, pergilah ke suatu tempat di hutan. Lewati hutan itu dan teruslah berjalan sampai engkau tidak menemukan tumbuhan dan hanya sebuah batu yang besar.

Pukullah batu itu (dengan peralatanmu). Segera setelah kau pukul batu itu, maka air akan keluar lebih deras dari sebuah air terjun (lebih deras daripada air terjun Niagara), air yang besar akan keluar dari batu yang kau pukul.

Di setiap tetes air, Aku ciptakan satu malaikat yang akan memuji-Ku sampai Hari Pengadilan kelak. Aku ingin kau memberi malaikat-malaikat itu masing-masing dengan nama yang berbeda dari malaikat lain dan kau tak boleh mengulang tiap nama 2 kali. Air itu akan mengalir sampai Hari Pembalasan kelak. Dan engkau bertanggung jawab untuk memberi nama masing-masing malaikat dan tidak boleh ada yang diulang 2 kali. Kemudian Aku ingin, seluruh puji-pujian dari malaikat ini, harus dibagi-bagikan di antara mereka yang mengikuti Tarekat Naqsybandi.”

Itulah sebuah hal yang istimewa yang diberikan pada Syekh `Abdul Khaliq QS seperti yang diberikan pula pada Sayyidina Bayazid QS.

Grandsyekh mempunyai sesuatu yang istimewa begitu pun Mawlana Syekh juga mempunyai suatu keistimewaan, namun tidak ada izin untuk membicarakan keistimewaan tersebut.

Itulah keistimewaan para awliya. Bagaimana beliau mampu memberi nama malaikat-malaikat tersebut tanpa makrifat?

Pergilah kalian ke pusat data semua orang, pusat data secara global. Berapa banyak nama yang mirip satu dengan lainnya? Seluruhnya 6 milyar, dan semuanya saling berbagi nama. Adalah mustahil bagi mereka untuk punya nama yang berbeda.

Bayangkan dari setiap tetes, satu malaikat diciptakan. Bukan 6 milyar, bukan 100 milyar, bukan 1 triliun, bukan 10 triliyun, bukan 1 qadriliyun atau pun 1 cinqotriliyun. Lalu bagaimana ia menamai mereka tanpa Allah SWT memberinya kekuatan melalui Nabi kita SAW.

wat
taquullaaha wa yu`allimukumullaah. Jika kalian bertaqwa, kalian akan mampu belajar. Itulah Makrifatullah, darinya kalian dapat memberi nama-nama. Itulah mengapa Syekh Syarafuddin QS melalui makrifat mampu memaparkan nama-nama awliya di zaman Imam Mahdi AS. Beliau mampu memaparkan 49 deputi dan 50 khalifah dari Imam Mahdi AS.

Beliau menurunkannya pada Grandsyekh dan beliau pun menurunkannya pada Mawlana Syekh dan menyuruh saya untuk menuliskannya. Kami mempunyai hal itu.

Rahmat-Ku meliputi segalanya dan kami akan menuliskannya bagi mereka yang mempunyai kebajikan. Dan mereka yang berada dalam kebenaran, maka Allah SWT akan mengajarinya.

Beri mereka nama-nama. Ambil dari nama-nama dalam kitab suci Al-Quran. Wa laa rathbin wa laa yabis illa fii kitabin mubiin. dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata. [QS 6:59]

Mari kita kembali pada Sayyidina Bayazid al-Bistami QS …

Maka ia pun pergi, dan cerita tentang Sayyidina `Abdul Khaliq QS adalah suatu hal yang besar. Berapa banyak puji-pujian dari seluruh malaikat ini pada para pengikut rantai emas. Berapa banyak puji-pujian yang akan kalian terima, bergembiralah! Kalian telah mengambil bay'at dan kalian menjadi bagian dari rabithah itu, rantai itu yang menghubungkan orang-orang bersama atau seperti biji-biji tasbih dalam satu tali ikatan.

Yurbut, berarti untuk mengikat segalanya. Maka Sayyidina Bayazid QS berkata, “Aku tak akan datang sampai aku mencapainya.” Maka dengan kecepatan hati, beliau bergerak sampai beliau mendengar “Huuuuuuuu,” tak terhingga. Beliau sanggup menghitung jumlah manusia yang hidup dalam 5 menit. Namun untuk hal yang satu ini beliau tak mampu menghitungnya.

Lalu beliau mendengar ruh Sayyidina Syah Naqsyband QS dan itu pun sebelum beliau ada di dunia ini, sebelum kelahirannya. Dan seluruh ruh-ruh Naqsybandi hadir di bawah tarbiyyah Syah Naqsyband QS dan mereka melafazkan “Huuuuuuuu” dalam satu suara berkelanjutan tanpa bernapas; kemudian menarik napas ke dalam. Kalian hanya bernapas di dalam. Itu adalah udara kalian ketika masuk, bernapas adalah untuk mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Tidak ada napas keluar, karena itu adalah suci dan bersih, tak ada polusi. Amat bersih. Itu hanyalah satu suara berkelanjutan yang kalian terus keluarkan, tak perlu mengambilnya ke dalam. Karena kalian telah didandani dan dilempar ke lautan makrifat.

Maka Sayyidina Bayazid QS pun merasa takut. Ada suara dalam hatinya, “Oh Bayazid QS apa yang kamu lakukan dalam daerahku?” Ketika mendengar ini, beliau pun menjadi takut dan berbalik kembali.

Lalu beliau pun menyadari bahwa ada sebuah pengetahuan di atas pengetahuannya. Makrifat akan selalu meningkat. Seperti Nabi SAW selalu dalam peningkatan, mengambil dan memberinya pada awliya sehingga mereka juga selalu dalam peningkatan.

Dalam majelis para awliya, Nabi Muhammad SAW, mereka bertemu dengan ruh nabi (Nabi Muhammad SAW secara spiritual) setiap kamis malam. Dan dalam pertemuan itu, Sayyidina Bayazid QS berkata, “Ya Rasulallah SAW, mengapa seluruh Naqsybandi, sampai saat ini (pada masa Grandsyekh `Abdullah QS, selama berkhalwat di Madinah, beliau bertutur tentang penglihatan tersebut. Beliau berkata bahwa beliau selalu duduk di sebelah kanan Nabi SAW karena beliau adalah syekh yang masih hidup, dan yang masih hidup selalu di tingkat yang paling tinggi.)

Abayazid QS berkata, “Ya sayyidi, ya Rasullalaah SAW. Aku mempunyai pertanyaan. Mengapa seluruh pengikut Grandsyekh, saat mereka melafazkan Surat al-Fatiha dalam ihda, mereka menyebut Syah Bahauddin Naqsyband QS. Jika mereka mau menyebutkan namaku, aku akan meletakkan mereka pada samudra yang pernah aku lihat sebelumnya. Aku akan membawanya ke mana aku berdiri, di pantai lautan makrifat yang belum pernah seorang pun menginjakkan kaki di sana.”

Lalu Sayyidina Grandsyekh Syarafuddin QS berbalik dan memberi jawaban setelah memperoleh izin. Beliau berkata, “Tempat di mana engkau berdiri adalah awal dari sebuah samudra. Itulah sebabnya kau tak mampu melihat sisi lain dari samudra di mana Syah Naqsyband QS sedang berdiri. Jika mereka memberimu Fatiha, maka benar kau akan membawa mereka ke mana engkau berada. Namun bila diberikan pada Syah Naqsyband QS maka mereka akan mencapai di mana beliau berada.”

Sebagian berlayar, sebagian berenang. Itulah Makrifat.

Semoga Allah SWT merestui kita dengan makrifat dan menghiasi kita dengan makrifat yang barakah dari syekh kita dan barakah dari Nabi SAW.

Wa min Allah at tawfiq

06 July 2008

Samudra Syah Naqsyband QS

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


“Athi’ullaha wa athi’ur rasula wa ulil amri minkum” [QS An-Nisaa, 4: 59]. Kita harus mematuhi Allah SWT, kita harus patuh kepada Rasulullah SAW, dan kita harus mematuhi para pemimpin kita. Hal ini harus dipegang dalam melakukan apa yang mereka katakan kepada kita dan dalam mengikuti jalan yang telah mereka tunjukkan kepada kita. Kita percaya bahwa kita membutuhkan bimbingan dalam menunjukkan jalan bagi kita—bukan berati kita tidak membutuhkannya, seperti yang dikatakan oleh sekelompok orang dewasa ini. Sebagaimana Allah SWT memberikan Rasulullah SAW seorang pemandu pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam wujud malaikat Jibril AS. Sebagaimana malaikat Jibril AS adalah pemandu bagi Rasulullah SAW untuk mendekati Hadirat Ilahi, jadi kita juga membutuhkan pemandu untuk menunjukkan jalan menuju Rasulullah SAW, dan kemudian Rasulullah SAW akan menunjukkan jalan bagi kita untuk mendekati Allah SWT.

Kita tidak peduli terhadap apa yang mungkin dikatakan oleh orang lain, dalam pengajaran ini kita bersifat terbuka, kita mengikuti apa yang diberikan oleh Mawlana Syekh Nazim QS, beberapa harta sufi yang sangat berharga berupa pengetahuan internal (batin) dan spiritualitas. Kita tidak akan menunggu untuk melihat apakah seseorang menerimanya atau merasa keberatan. Kita telah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari syariat, sedangkan yang ini adalah sebagian ajaran dari haqiqat—realitas. Untuk kesekian kalinya saya ulangi bahwa realitas tanpa syariat tidak dapat dibenarkan. Kita harus melaksanakan syariat secara ketat dalam segala sikap dan tingkah laku kita. Syariat akan mengajarkan disiplin bagi tubuh kita sedangkan spiritualitas akan mengajarkan disiplin bagi jiwa kita. Insya Allah sekarang kita akan melanjutkan pembicaraan yang terhenti pada pertemuan minggu lalu.

Insya Allah, Allah SWT tidak akan meninggalkan kita seperti ketika Dia meninggalkan Nabi Musa AS di gurun Sinai selama 40 tahun. Allah SWT menjanjikan Nabi Musa AS untuk menghancurkan Fir’aun, namun selama 40 tahun Dia meninggalkannya di gurun dan setiap malam hanya berkata, “besok, besok.” Esok hari pun tiba, namun tidak ada kejadian apa-apa. Allah SWT melihat hamba-Nya dengan Nama ash-Shabur, “Yang Maha Penyabar”. Dia tidak melihat hamba-Nya dengan Nama al-Jabbar, “Yang Maha Memaksa.” Dia melihat kita dengan Nama-Nya yang penuh rahmat, “ar-Rahmaan”, “ar-Rahiim” dan dengan atribut kesabaran. Itulah sebabnya Dia juga sabar dalam menghadapi Fir’aun. Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa Allah SWT menciptakan semua makhluk karena Dia mencintainya. Jika Dia mencintai setiap orang, Dia ingin setiap orang percaya kepada-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia bersabar dan bersabar terus hingga saat terakhir. Mungkin kita akan ingat dan memohon ampun, dan masuk ke dalam Surga-Nya.

Itulah sebabnya Allah SWT menciptakan para awliya. Setelah Rasulullah SAW tidak ada lagi rasul yang lain. Beliau adalah rasul terakhir. Tetapi Allah SWT memberikan rahasia yang ditanamkan ke dalam hati beliau kepada para sahabatnya, dan para sahabat memberikannya kepada para awliya. Dan menurut guru kita, dunia tidak akan kekurangan seorang wali pun. Jika salah satu wali meninggal dengan segera ia digantikan yang lain. Di dunia ini terdapat 124.000 wali yang masih hidup, sebagaimana terdapat 124.000 nabi dan rasul dan 124.000 sahabat. Para awliya ini diberikan sebagai hadiah kepada Rasulullah SAW untuk membersihkan kita dari dosa. Salah satu wali ini adalah Sayyidina Syah Naqsyband QS. Kisah singkat berikut ini akan menolong kita untuk memahami siapa wali ini.

Setelah Rasulullah SAW, Tarekat Naqsybandi dipercayakan kepada Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq RA, kemudian diteruskan kepada Sayyidina Salman al-Farisi RA, Sayyidina Qasim RA putra dari Sayyidina Abu Bakar RA, lalu kepada Sayyidina Ja’far ash-Shadiq AS putra dari Sayyidina Husain AS, dan selanjutnya kepada Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS. Beliau adalah orang yang kelima dan hidup 400 tahun sebelum Sayyidina Syah Naqsyband QS.

Ketika Sayyidina Abu Yazid QS mengetuk pintu, memohon izin untuk memasuki Hadirat Ilahi, Allah SWT berkata kepadanya, “Wahai Abu Yazid QS, engkau tidak bisa memasuki Hadirat-Ku tanpa mengetahui bagaimana cara mendekati-Ku.” Abu Yazid QS memohon, “Ya Tuhanku, ajarilah Aku cara mendekati-Mu.” Allah QS berfirman, “Bersikaplah rendah hati, jadilah tempat sampah bagi hamba-hamba-Ku dan bagi seluruh umat manusia.” Sayyidina Abu Yazid QS membuat dirinya begitu rendah hati sehingga seolah-olah beliau menjadi tempat sampah bagi semua orang. Para ulama di masanya memutuskan untuk membunuhnya. Pada saat itu beliau meninggalkan desanya dan pergi ke tepi laut, di sana beliau menemukan sebuah kapal yang akan berangkat ke negri lain. Beliau menaiki kapal itu dan kemudian kapal itu berangkat meninggalkan pantai. Di tengah laut tiba-tiba timbul badai yang sangat ganas yang merobohkan kapal dan menenggelamkannya. Abu Yazid QS berdoa kepada Tuhannya, “Ya Allah, jika Engkau membuat kapal ini tenggelam karena dosa-dosaku, Aku siap untuk dilemparkan ke dalam laut.” Sekonyong-konyong beliau melemparkan dirinya ke dalam laut dan seketika itu laut menjadi tenang.

Sayyidina Abu Yazid QS mengorbankan dirinya agar orang-orang tetap hidup, beliau membawa dosa-dosa mereka bersamanya dan menyingkirkan hukuman mereka. Ketika Abu Yazid QS berada dalam laut, beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan muncul ke permukaan lagi sebelum menemukan kebenaran dan realitas, dan beliau memutuskan untuk pergi sebagaimana dalam al-Qur’an disebutkan, pergi ke “bumi ke tujuh” [QS ath-Thalaaq, 65: 12] untuk menemukan realitas dan membawanya kepada umat manusia. Beliau menembus kedalaman air dengan kecepatan yang tidak bisa dibayangkan, menembus kegelapan yang satu menuju kegelapan yang lain. Beliau memasuki samudra pengetahuan yang satu menuju samudra pengetahuan yang lain mengenai seluruh alam semesata ini. Akhirnya beliau mencapai suatu tempat di mana beliau mendengar suara yang bunyinya seperti “HUUU…” seperti ketika orang meletakkan kerang laut atau benda lain di telinga mereka. Itu adalah bunyi sungai Khawtsar di surga, gerakan atau aliran air yang dapat kita dengar di telinga kita.

Sayyidina Abu Yazid QS tiba di suatu tempat di mana beliau dapat mendengar suara itu. Beliau merasa heran dan ingin tahu siapa yang mengeluarkan suara itu. Mawlana berkata, bahwa Sayyidina Abu Yazid QS, dengan kekuatan dan cahaya yang telah diberikan Allah SWT ke dalam hatinya, dapat mengetahui dan mengucapkan nama-nama seluruh umat manusia yang telah diciptakan Allah SWT di muka bumi ini, lengkap dengan nama ayah dan ibunya tanpa kehilangan satu nama pun, mulai dari Nabi Adam AS sampai Hari Kiamat, hanya dalam waktu kurang dari lima menit. Pada saat itu beliau menggunakan kekuatan ini untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan bunyi tadi di tempat itu.

Nama “Hu” adalah Samudra bagi hal-hal yang gaib. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an, “Qul HUwallaahu ahad,” “Katakanlah, HU (=Dia) adalah Allah SWT, Yang Maha Esa” [QS al-Ikhlash, 112: 1]. Oleh sebab itu HU merujuk kepada Allah SWT, dan ini berada dalam ‘ilmul ghayb, pengetahuan tentang hal-hal yang gaib yang tidak diketahui oleh orang-orang. Tak seorang pun yang dapat mengetahui seperti apa samudra ini dan bagaimana maknanya. Mawlana berkata bahwa Sayyidina Bayazid QS menggunakan seluruh kekuatan yang telah diberikan oleh Allah SWT untuk mengetahui berapa orang yang mengeluarkan suara itu, tidak hanya dalam lima menit tetapi selama 70 hari dan beliau tetap belum bisa mengetahui berapa jumlah orang yang berada di sana menghasilkan bunyi “Huu.” Kemudian beliau mengerahkan kekuatannya lagi, berusaha untuk mengetahui siapa yang mengajarkan mereka, dan akhirnya beliau mengetahui bahwa orang itu adalah Syah Naqsyband QS.

Sayyidina Bayazid QS mengetahui bahwa wali itu akan muncul setelah beliau, melewati 10 orang wali setelahnya, 500 tahun kemudian. Rohnyalah yang mengajarkan roh orang-orang di tempat itu. Mawlana Syekh Nazim QS berkata bahwa orang-orang itu berasal dari dunia ini dan juga planet lain yang menjadi pengikut Tarekat Naqsybandi. Jangan dikira hanya kita saja, yang hidup di planet ini yang menjadi pengikut Tarekat Naqsybandi. Sayyidina Syah Naqsyband QS juga bertanggung jawab atas planet lain dan beliau mengajarkan mereka.

Ketika Abu Yazid al-Bistami QS mengetahui bahwa Syah Naqsyband QS adalah guru mereka, dalam hatinya beliau merasa ngeri jangan-jangan Syah Naqsyband QS akan berkata, “Mengapa engkau mengganggu murid-muridku? Mengapa engkau memasuki daerah yang bukan diperuntukkan untukmu?” Dengan segera beliau menjauh dari samudra itu, samudra Syah Naqsyband QS, pemimpin tarekat yang kita ikuti sekarang, insya Allah. Sayyidina Syah Naqsyband QS adalah guru kita dan beliau telah dianugerahkan suatu rahasia yang besar dalam hatinya, beliau telah meneruskan rahasia itu kepada para penerusnya hingga sekarang kepada Syekh kita, Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS. Dari rahasia itulah asal cerita mengenai Syah Naqsyband QS ini.

Ketika Allah SWT memberikan kekuatan itu kepada Syah Naqsyband QS dan berkata kepadanya bahwa beliau akan menjadi pembantu Rasulullah SAW untuk membantu manusia bertobat atas dosa-dosanya, beliau menanyakan satu hal kepada Rasulullah SAW. Beliau berkata, “Wahai Rasulku yang tercinta, jika engkau menghendaki aku menjadi pembantumu, Aku membutuhkan satu hal darimu. Aku harus memegang tanggung jawab atas malaikat-malaikat di pundak kanan dan di pundak kiri. Jika engkau memberiku tanggung jawab itu, maka Aku akan menerima tugas itu.” Setelah Rasulullah SAW bertanya kepada Allah SWT dan mendapat izin bagi Syah Naqsyband QS, maka Syah Naqsyband QS menerima untuk bertanggung jawab atas umat ini.

Mawlana berkata bahwa, setiap kali seseorang berbuat dosa, Syah Naqsyband QS berusaha untuk mengirim inspirasi ke dalam hati orang itu agar memohon ampun kepada Allah SWT. Jika orang itu tidak memohon ampun dalam 24 jam, sebelum waktu Subuh, Syah Naqsyband QS akan memohon ampun atas nama orang itu, dan balasannya akan dituliskan di pundak orang itu.

Malam ini adalah malam Isra’ dan Mi’raj, malam di mana Rasulullah SAW menghadap ke Hadirat Ilahi. Ketika Rasulullah SAW memasuki surga ketujuh, Sayyidina Jibril AS berkata kepadanya, “Ya Rasulullah SAW, Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan bersamamu. Ini adalah batasku. Jika Aku memaksa masuk, Aku akan musnah terbakar.” Rasulullah SAW berjalan sendiri menuju ke Hadirat Ilahi. Setelah tempat itu, apa pun yang diperoleh oleh Rasulullah SAW, Jibril AS tidak mengetahuinya. Jika malaikat Jibril AS tidak sanggup mengetahui apa yang diperoleh oleh Rasulullah SAW dari Tuhannya, bagaimana dia bisa menyampaikan al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. Jibril AS berdiri di tempatnya dan tidak sanggup untuk meneruskan perjalanannya. Jibril AS berkata kepada Rasulullah SAW, “Engkau saja yang melanjutkan perjalanan ke Hadirat Tuhan kita.” Setelah itu Rasulullah SAW sendiri yang melanjutkan perjalanannya. Apa yang beliau dapatkan adalah pengetahuan dari tingkat Jibril AS sampai kepada tingkat Allah SWT, Mawlana Syekh berkata bahwa Rasulullah SAW telah bergerak maju 5 kali 500.000 tahun—dalam mendekati Tuhannya dengan menembus lima lapisan, yang masing-masing berjarak 500.000 tahun, dan tahun Tuhan tidak sama dengan perhitungan tahun kita.

Hikmah dan pengetahuan apa yang diperoleh oleh Rasulullah SAW di sana? Hal ini tidak ada yang mengetahuinya. Pengetahuan ini diperuntukkan khusus bagi Rasulullah SAW dan beliau akan menjaganya hingga suatu waktu di mana semua orang telah masuk ke dalam surga. Kita tidak peduli terhadap orang yang mungkin akan berkata “ya” atau “tidak”, kenyataannya Rasulullah SAW telah memberikan pengetahuan di atas tingkat Jibril AS yang telah diperolehnya kepada para awliya, dan beliau juga telah memberikan pengetahuan yang diperolehnya di bawah tingkat Jibril AS kepada syariat. Ini adalah perbedaan antara syariat atau hukum dengan hakikat atau realitas. Itulah makna dari hadis yang disampaikan oleh Sayyidina Abu Hurayra RA mengenai dua jenis pengetahuan, “Rasulullah SAW telah memasukkan dua jenis pengetahuan ke dalam hatiku. Yang satu aku sampaikan kepada orang-orang”—ini adalah syariat, pengetahuan di bawah tingkat Jibril AS, “tetapi jika aku mengatakan pengetahuan yang lainnya, mereka akan memotong leherku,” dan itulah pengetahuan di atas tingkat Jibril AS.

Itu juga perbedaan antara orang-orang yang menerima pengetahuan ini dan mereka yang menyangkalnya.

Ketika Rasulullah SAW mendekati Hadirat Ilahi, beliau bertemu dengan seekor Singa yang sangat besar dan menjadi takut karenanya. Allah SWT bertanya kepadanya, “Wahai Rasul-Ku yang tercinta, apa yang membuatmu takut terhadap dunia ini?” Beliau menjawab, “Wahai Tuhanku, Aku belum pernah merasa takut selama hidupku kecuali ketika melihat singa dalam Hadirat-Mu ini.” Mawlana Syekh berkata bahwa Rasulullah SAW pun tidak mendapatkan semua pengetahuan dari Allah SWT. Jika beliau mengetahui segala hal dari Allah SWT maka beliau tidak akan merasa takut terhadap singa tersebut. Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh Rasulullah SWT belum mencapai maksimum. Itulah sebabnya Rasulullah SAW terus mengalami peningkatan, bahkan di makamnya sekalipun, dalam mencapai Hadirat Ilahi. Jika beliau tidak merasa takut, maka saat itu beliau tidak akan mengetahui rahasia ‘ilmul awwalin wa ‘ilmul akhirin, pengetahuan mengenai awal dan pengetahuan mengenai akhir, yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.

Namun pengetahuan yang telah diperoleh oleh Rasulullah SAW akan dibuka nanti pada saat Imam Mahdi AS telah datang. Pengetahuan itu tidak bisa dibuka sekarang karena membutuhkan dukungan. Tanpa dukungan Imam Mahdi AS kepada para awliya yang akan menyampaikan pengetahuan ini, orang-orang akan menggantungnya, sebagaimana yang telah diperingatkan oleh Sayyidina Abu Hurayra RA. Kalian dapat melihat bahwa banyak syekh sufi dalam sejarah Islam yang digantung karena mereka menyampaikan pengetahuan tersebut. Tanpa dukungan dari Imam Mahdi AS, tak seorang pun diperbolehkan untuk membicarakan pengetahuan ini. Sekarang kita hanya mencium hembusan aroma dari pengetahuan itu saja, seperti sebuah tetesan yang jatuh menimpa kita, agar kita mengerti bahwa ada pengetahuan spiritual yang tersimpan dalam hati dan bahwa pengetahuan itu akan disebarkan ke dalam hati setiap orang ketika Imam Mahdi AS telah datang. Namun sebelum beliau datang, setiap orang dapat mencium pengetahuan ini, dan mereka yang menginginkannya harus mengikuti majelis zikir, sebab tanpa mengikutinya, mereka tidak akan mendengar hal ini. Ini adalah pengetahuan tinggat tinggi bagi setiap orang—baik pembicara maupun yang hadir sama-sama mendengarkan. Pengetahuan ini tidak bisa diselesaikan hanya dalam sekali, lima atau sepuluh kali pertemuan.

Jika Saya mengucapkan kata-kata dari Sayyidina Abu Yazid al-Bistami QS ketika beliau berkata kepada Tuhannya, orang akan mengatakan bahwa kita termasuk orang kafir. Memang benar, jika kita yang mengucapkan kata-kata itu, kita adalah orang yang tidak beriman, tetapi lain halnya bila yang mengatakan adalah Abu Yazid al-Bistami QS, beliau adalah seorang mukmin. Beliau mengucapkannya karena beliau mengetahuinya, merasakan dan melihatnya. Tetapi bila kita yang mengatakannya, kita tidak akan melihat dan merasakannya, oleh sebab itu kita akan menjadi orang yang kafir, itulah bedanya. Beliau berkata, “Wahai Tuhanku, Mulki akbaru min mulkik,” “Kerajaanku lebih besar daripada kerajaan-Mu.” Apa arti dari ucapan itu? Beliau mengatakan kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menciptakan alam semesta ini dan Engkau telah berkata bahwa di Mata-Mu alam semesta ini tidak bernilai lebih dari sayap seekor nyamuk.”

Law kanatid dunya ta’dilu ‘indallaahi janaha ba’udatin ma saqa kafiran minha syarbata ma’in,” “Jika dunia ini tidak lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk dalam pandangan Allah SWT, Dia akan menyangkal orang-orang kafir tak lebih dari segelas air” (Suyuti). Ini berarti bahwa kerajaan ini tidak bernilai, di lain pihak, “Engkau adalah kerajaanku, dan Engkau adalah segala-galanya. Itulah sebabnya kerajaanku lebih besar dan lebih baik daripada kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu adalah kami semua dan kami bukanlah apa-apa! Tetapi Engkau adalah kerajaan kami dan Engkau adalah segala-galanya, oleh sebab itu kerajaan kami lebih baik.”

Jika kita mengatakan hal ini dengan pemahaman kita, ini tidak bisa diterima. Jika Abu Yazid QS yang mengatakannya, beliau bersungguh-sungguh—kita tidak dapat menyamai beliau. Sayyidina Abu Hurayra RA menyembunyikan banyak pengetahuan seperti itu seperti yang dikatakan dalam hadis (yang telah disebutkan di atas—red). Pengetahuan ini khusus ditujukan bagi para awliya, alhamdulillah kalian percaya kepada awliya dan ini adalah kepercayaan yang paling baik dan paling penting. Kita tidak menyangkal Rasulullah SAW! Hasha (dalam bahasa Turki, berarti Hush!) dan kita tidak menyangkal syariatHasha! Kita harus melakukan seperti yang ditunjukkan oleh syariat kepada kita dan seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, tetapi kita tidak dapat menyangkal adanya wali yang menjadi penolong dan pemandu bagi kita untuk membuat hati kita bersih dan suci dari kehidupan materialistik ini.


Wa min Allah at-tawfiq bi hurmat al-Fatiha.

© 1993, Haqqani Islamic Trust
7007 Denton Hill
Fenton, MI 48430

25 May 2008

Realitas Bay'at

Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QS
Jakarta,
7 Juli 2003


A`ûdzu billâhi min asy-syaythân ir-rajîm Bismillâh ir-rahmân ir-rahîm
Nawaytul arbâ`în, nawaytul `itikâf, nawaytul khalwat, nawaytul
riyâdha, nawaytus sulûk, nawaytul `uzla fî hâdza al-masjid.

`Ati-Allâha wa ati`ur-Rasûla wa ulil-amri minkum “Hai orang-orang yang beriman! Taati Allâh SWT, dan taati Rasul, dan mereka yang diberi kewenangan di antara kamu.”
[ QS 4:59]

Dan taat kepada Nabi Muhammad SAW berarti taat kepada Allâh SWT. Allâh SWT berfirman, “Man yut`i ar-rasûl faqad ata` Allâh.” “Dia yang taat kepada Rasul, berarti taat kepada Allâh SWT” [QS 4:80]. “Ay wada` ar-rasûl mumathilan `anhu. yumathil rabbil `alamîn.” Dia berfirman, “Barangsiapa taat kepada Nabi SAW, sungguh taat kepada Allâh SAW.” Itu artinya Allâh SWT meletakkan Nabi SAW mewakili Diri-Nya di Tempat-Nya. Itu berarti bahwa tiada jalan untuk mendapat ketaatan kepada Allâh SWT tanpa ketaatan kepada Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada pintu kepada Allâh SWT tanpa pintu kepada Nabi SAW. Itu artinya tiada jalan untuk memasuki Surga tanpa Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada jalan menjadi Muslim tanpa mengatakan ‘Muhammadur-Rasûlullâh.’ Meskipun sekiranya kalian mengatakan ‘lâ ilâha ill-Allâh’ jutaan kali, tiada jalan menjadi Muslim tanpa menyebut ‘Muhammadur- Rasûlullâh.’

Maka Kebesaran apakah yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad SAW?

Busana apa yang Dia pakaikan kepada Nabi SAW dari asma ‘ul-husna Allâh SWT, tak seorang pun yang tahu. Jika seorang raja memiliki seorang putra, yang juga seorang putra mahkota, apa yang ia perbuat untuk anaknya itu? Jika sang raja mau pergi ke tempat lain, anaknya itu yang mewakilinya (menjalankan tugas sehari-hari?). Dan sang raja tidak akan bahagia jika anaknya hanya berpakaian yang biasa-biasa saja, tetapi ia akan mendadaninya dengan busana yang dihiasi dengan tanda-tanda kebesaran dan dengan berbagai medali di dadanya untuk membuatnya nampak sangat berbeda (anggun). Sehingga ketika Sang Putra Mahkota menampakkan dirinya (ke publik), wow semua orang merasakan hormat dan kemuliaan kepada Sang Putra Mahkota.

Ini adalah (apa yang dilakukan) raja bagi anaknya, seorang manusia. Apapun yang diberikan raja kepada anaknya, suatu hari akan habis. Apakah ayahnya itu akan meninggal atau anaknya yang mungkin meninggal dan semua itu menjadi hilang. Tetapi apa yang Allâh SWT al-Hayyu, berikan kepada Nabi SAW tidak akan mati. Apa yang Allâh SWT berikan kepada Sayyidina Muhammad SAW adalah tetap hidup (abadi). Dia berfirman, “Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh–-“Sesungguhnya mereka yang ber-bay’at kepadamu (Muhammad SAW), ber-bay’at kepada Allâh SWT. ‘Tangan’ Allâh SWT berada di atas tangan mereka.” [QS 48:10].

Qâla man yubâ'yaaka Yâ Muhammad, faqad bayâ`nî. Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu ber-bay’at ya Muhammad SAW, (berarti) membuat ber-bay’at kepada-Ku.” Itu artinya ketika para Sahabat membuat bay’at kepada Nabi Muhammad SAW, berarti Nabi SAW hilang ke dalam Hadirat Ilahi. Hanya Allâh SWT yang berada di situ.

Indamâ qâla inna alladzîna yubâ`ûnaka. [Ketika Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu bay`at…”] Dia membuat sebuah konfirmasi tentang sesuatu. Itu adalah sebuah konfirmasi yang berarti itu harus ditunjukkan kepada orang itu. Jika mereka membuat suatu konfirmasi, mereka harus menunjukkan suatu bukti nyata (jelas, lengkap), seperti ketika mereka membuat percobaan di laboratorium sains. Mereka harus membuat bukti lengkap apa yang telah dilakukan Allâh SWT.

Fa Hûwa yaqûl, inna alladzîna yubâ`ûnaka... melihat dengan bukti, bukan hanya dari kata-kata, tetapi dengan melihat haqîqat, kebenaran. Mereka yang memberimu bay’at, mereka memberikannya kepada Allâh SWT. Itu artinya pada saat itu, ketika para Sahabat meletakkan tangan mereka bersama Nabi SAW, mereka berada dalam Hadirat Ilahi, beliau membawa mereka kepada Hadirat Ilahi, al-hadharat al-ilahiyya. Mereka berada di sana. Para Sahabat tidak lagi melihat apa-apa, tetapi mereka berada dalam al-hadharat al-ilahiyya, mereka berada dalam hadirat Ilahi Allâh SWT. Di dunia, jika kalian berada di hadapan seorang raja, kalian tidak lagi melihat diri kalian. Wow, kalian bilang, ini adalah raja. Di Indonesia, ada seorang raja pada suatu waktu. Dua ratus juta manusia di bawah raja itu. Apalah artinya kalian ini jika dibandingkan dengan 200 juta itu? Bukan apa-apa. Lalu apa yang kalian pikir ketika kalian berada di dalam Hadirat Raja Di Raja yang Hidup Abadi, yang menciptakan para raja?

Dia yang menciptakan mereka dan membuat mereka memerlukan makan dan minum. Itu artinya mereka juga memerlukan pergi ke kamar kecil. Dengan itu semua Dia membuat para Sahabat sampai di Hadirat Ilahi. Ketika mereka sampai di sana, mereka langsung mencapai maqam al-fana'. Fanâ'un fillâh fana'un fir-rasûl, shalla-Allâhu alayhi wa sallam. Mereka tidak lagi melihat diri mereka, mereka hanya melihat Allâh SWT melalui mata Nabi SAW. Itulah mengapa ketaatan mereka kepada Nabi SAW adalah 100%. Mereka patuh kepada Nabi SAW 100%. Ketika mereka meletakkan tangan mereka dengan Nabi SAW untuk bay’at, segera setelah tangan mereka menyentuh tubuh sucinya, para Sahabat (serta-merta) berada di Hadirat Ilahi. Untuk alasan ini, bila kita memberi bay’at kepada seorang wali, serta-merta ketika kita menyentuh tangannya, ia meletakkan kita di Hadirat Nabi SAW.

Itulah sebabnya ketika kita memberi bay’at, kita mengatakan ‘Allâhu Allâhu Allâhu Haqq.’ wali itu meletakkan kalian di hadirat Nabi SAW dan Nabi SAW meletakkan kalian di Hadirat Allâh SWT, meletakkan kalian di Hadirat Ilahi untuk membakar habis kalian, untuk membakar habis ego kalian, sehingga kalian tidak lagi memiliki keinginan kecuali yang diinginkan Allâh SWT atas diri kalian.

Ketika kita membaca Sûrat al-Ikhlâsh, kita mengatakan ‘qul Hû Allâhu âhad.’ [katakan:] qul ya Muhammad. Hû al-ghayb ul-mutlaq alladzii lâ yurâ. Hû. Katakan Hû yang tak dapat dilihat, Dia yang tak dapat dikenali, Dia yang tak dapat dimengerti, Dialah Allâh SWT. Dia yang tak dapat dimengerti, Dia yang tak dapat dilkenali, Dia yang tak dapat dilihat. Yang Satu itu adalah Allâh SWT.

Jadi ketika kita mengatakan ‘Allâh Hû’, kita menyebutkannya dengan cara yang bertentangan (berlawanan) ketika kita menyebutkannya dalam Surat al-Ikhlâsh (kita mengatakan Hû Allâh). Yang Satu, yang tak dapat dilihat adalah Allâh SWT. Kita tahu Allâh SWT tetapi kita tidak tahu Hû. Allâh SWT tahu tentang Hû. Itulah sebabnya Dia meletakkan Hû di awal (dalam Surat al-Ikhlash). Dia meletakkan Hû di depan kata Allâh. Hû mewakili Dzâtullâh, Sang Inti. Allâh mewakili asma. Di situ ada Sang Pencipta yang tidak diketahui oleh siapapun, satu yang disebut oleh Allâh SWT sebagai Hû. Ketika kita melakukan bay’at, (kepada) Satu yang kita tahu dengan nama Allâh SWT adalah Hû. Begitulah kiranya mereka menelusuri jejak kembali, mereka membawa kita kembali, awliyâ-ullâh kepada Hadirat Ilahi, Hû.

Jadi ketika kita mengatakan Allâh Hû mereka membawa kita kepada Hadirat Ilahi. Dan ketika kalian mengatakan Haqq, itu artinya kalian mengkonfirmasi bahwa sesungguhnya roh kalian dapat melihat, namun diri kalian tidak dapat melihatnya. Dan apa yang kalian lihat hanyalah Busana (attribut, sifat-sifat) Allâh SWT, Dia mendadani kalian, tanpa mengetahui Sang Inti, tidak satu pun dapat mengetahui Sang Pencipta.

Dan itu semua dilakukan, melalui Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh. Janganlah berpikir ada jalan untuk mencapai Allâh SWT tanpa melalui Nabi SAW. Dia adalah khalifatullâh fil ardh. Bukan hanya di dunia ini saja, tetapi di seluruh penjuru alam semesta ini. Apapun yang diciptakan Allâh SWT, Muhammadur Rasûlullâh adalah khalifah. Dia adalah wakil Allâh SWT untuk semua makhluk. Itulah mengapa beliau mengatakan, “Âdam wa man dûnahu taht liwayî yawma al-qiyâm” – “mereka berada di bawah panji-panjiku, mereka harus mendatangiku untuk membawa mereka ke Surga.” Beliau mengatakan, Anâ sayyida waladzi âdama wa lâ fakhr.—“Aku adalah majikan bani Adam AS dan aku tidaklah berbangga.” Apa pula ini, “Anâ sayyida waladzi âdama?” Dan Allâh SWT berfirman, Wa laqad karamnâ banî âdam. – “Kami telah memuliakan bani Adam AS” [QS 17:70].

Dan Allâh SWT berfirman, Alam taraw ann Allâha sakhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardh.—“Tidakkah engkau lihat bahwa Allâh SWT telah menaklukkan kepadamu segala sesuatu di langit dan di bumi …?” [QS 31:20]. Itu berarti bagi bani Adam AS, segala sesuatu di langit dan di bumi adalah di bawah mereka. Maka itu berarti, karena Nabi SAW adalah majikan bani Adam AS, dan semua berada di bawah mereka ini (bani Adam AS), maka itu berarti bahwa tidak ada satu pun dapat berada di atas Nabi SAW.

Ada malaikat yang berada di bawah perintah Nabi SAW. Ketika kalian mengambil bay’at dari seorang mursyid, mursyid yang haqîqî, mursyid sungguhan, para malaikat tadi menjadi saksi dan mereka membuat awrâd (dzikir) untuk kepentingan kalian sampai dengan Hari Pengadilan. Ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at dari mursyid sejati itu, dan tidak dari seorang yang pura-pura menjadi mursyid dan bukan pula seorang yang dianggap orang sebagai mursyid. Mursyid sejati ini jarang, di dunia ini hanya terdapat 124.000 awliyâ-ullâh, hanya itu saja. Jika kalian menemui seorang mursyid haqiqi, ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at darinya, pada saat itu, para malaikat (sejumlah yang bilangannya tidak dapat kalian bayangkan) itu dianugerahkan kepada kalian untuk melayani kalian. Bagaimana caranya melayani kalian? Apakah kalian berpikir ketika kalian menerima bay`at, kalian datang dengan baju kotor seperti itu dan tubuh kotor dan hati kotor, dalam hadirat Nabi SAW?

Serta merta para malaikat itu akan merubah penampilan kalian sepenuhnya seperti pada saat (kalian ditanya di alam roh) “Alastu bi-rabbikum” dalam menerima bay`at dengan Syekh; dan Syekh membawa kalian ke hadirat Nabi SAW; dan Nabi SAW membawa kalian ke dalam Hadirat Allâh SWT.

Jika kalian hendak menemui seseorang, kalian akan mandi sehingga tidak bau. Apakah kalian berpikir ketika orang-orang berdatangan dengan berlari untuk mengambil bay`at, dengan tubuh yang tidak dibersihkan dan baju kotor adalah cara yang benar untuk mengambil bay`at? Tidak. Haa! Segera setelah kalian mengucapkan, “Aku mau di-bay`at” bahkan dalam baju kotor dan hati kotor, segera setelah kalian datang ke situ, para malaikat itu, dengan sentuhan mereka, mereka menyiram kalian dengan busana dan dandanan cantik ini; dan pada saat itu kalian kelihatan seperti seorang yang lain, seperti manusia berpenampilan malaikat yang memakai baju surgawi; duduk bersama mursyid itu. Mursyid itu juga merubah penampilannya, kepada gambaran spiritualnya, sebagaimana ia terlihat di hadapan para awliyâ dan Nabi SAW, dan membawa kalian bersama segenap para malaikat tadi dalam busana yang telah mereka berikan kepada kalian, sebagaimana dikatakan dalam hadis, “mâ jalasa qawman yadhkurûnallâh illa hafathum al-mala'ika wa gashîyahum ar-rahmat wa dzakarahumullâha fî man `indah.”—“Tiada akan sekelompok orang yang duduk, yang mengingat dan menyebut Allâh SWT, kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, dan mereka akan diselimuti rahmat dan Allâh SWT akan mengingat mereka di antara mereka yang berada dalam Hadirat-Nya.”

Bay`at seperti itu merubah kalian. Sehingga kalian menjadi seorang manusia tetapi memiliki kuasa malaikat surgawi-–jadi ketika kalian berbaju kuasa malaikat ini, ketika kalian memasuki Hadirat Ilahi kalian tidak pingsan, kalian tidak menghilang. Karena kalian menjadi sebuah cahaya, dan sebuah sumber cahaya.

Apa yang berada dalam hati awliyâ, kami tidak dapat mengatakan semuanya. Mereka tidak mengizinkan kami mengatakan semuanya, bila tidak kalian akan tenggelam. Namun ada sebuah berita gembira bagi kita semua, bahwa dengan berkah guru mursyid kita Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS, kita berada dalam kategori (golongan) itu.