Showing posts with label Wahhabi. Show all posts
Showing posts with label Wahhabi. Show all posts

16 October 2011

Haji Akbar


Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)

Dari buku The Path to Spiritual Excellence


Ibadah Haji adalah mempersiapkan diri hari ini untuk mendaki Gunung Arafat dan besok insya Allah, mereka akan berada di Hadirat Ilahi, berdiri dan memohon kepada Allah (swt) untuk membersihkan mereka dari segala dosa, memohon untuk dianugerahkan berkah dari Samudra Rahmat-Nya yang tak bertepi.

Barangkali sejak awal hingga sekarang belum pernah ada ibadah haji yang begitu padat. Hanya tahun ini hal itu akan terjadi, dan ini sangat penting karena ini adalah ibadah haji terakhir sebelum berakhirnya milenium kedua. Selain itu, tahun ini juga adalah Haji Akbar yang menurut tradisi Islam, dimuliakan tujuh puluh kali daripada haji biasa.

Grandsyekh ‘Abd Allah (q) berkata bahwa setiap tahun orang-orang yang telah dianugerahi undangan untuk berhaji datang dari segala penjuru di dunia. Di Hari Arafat, mereka mengucapkan Labbayk, Allaahumma labbayk, yang artinya:

Wahai Tuhan kami, dengan seluruh jiwa kami, fisik dan spiritual, kami memenuhi panggilan-Mu, sebagaimana Engkau telah memanggil kami untuk berhaji, mengunjungi Rumah Suci-Mu, Baytullah. Kami memenuhi panggilan-Mu dengan segala kerendahan hati kami. Labbayk. Kami datang pada-Mu. Kami meninggalkan segalanya dan kami penuhi panggilan-Mu: Labbayk, Labbayk, Allaahumma labbayk, labbayka laa syariika laka, labbayk. Tak ada yang dapat menjadi sekutu bagi-Mu. Kami tidak mendengarkan mereka, kami tidak meenghiraukan mereka, kami tidak menerima perintah mereka. Kami hidup hanya untuk-Mu, dan kami datang pada-Mu. Kami adalah hamba yang lemah, yang berasal dari umat hamba sejati-Mu. Labbayk, allaahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk, innal hamda wa ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak.

Innal hamda. Segala pujian, segala rasa syukur yang dapat disampaikan kepada-Mu oleh hamba-hamba-Mu, itu semua adalah untuk-Mu, hanya untuk-Mu.

Wa ni’mata. Apa yang Engkau berikan kepada kami, hamba-Mu, dari setiap nikmat adalah hanya berasal dari-Mu.

Laka wal-mulk. Mulk, segala sesuatu yang ada, termasuk diri kami adalah milik-Mu. Laa syariika laka.

Tak ada yang dapat mengatakan bahkan satu atom terkecil pun, atau kurang dari itu bahwa itu adalah miliknya. Jika seseorang bisa mengatakan, “Atom itu adalah milikku,” Allah (swt) akan mengatakan kepadanya, “Bawa partikel kecil yang menjadi milikmu itu, dan pergilah!”

Atau jika ada yang mengatakan, “Galaksi yang berukuran raksasa itu adalah untukku,” Allah (swt) bisa mengatakan, “Ambil dan pergilah, pergi dari Wilayah-Ku!” Kepada siapapun yang mengklaim memiliki ini atau itu, Dia dapat mengatakan kepada mereka untuk membawanya dan kemudian pergi. Allaahu Akbar, jalla jalaluhu.

Jadi besok, ketika orang-orang tengah menunaikan ibadah hajinya, memanggil Tuhan mereka, Hijab Kebesaran akan terbuka dan Tuhan akan melihat mereka, dengan pandangan seperti sinar matahari, atau bahkan kurang dari itu, datang dan membersihkan, membersihkan, membersihkan, sampai mereka bersih sepenuhnya. Rahmat ini datang dan membungkus manusia. Grandsyekh berkata bahwa ketika terjadi Haji Akbar (haji di mana wuquf di padang Arafat jatuh pada hari Jumat-penerj.) dan Tuhan memandang hamba-hamba-Nya, anugerah itu akan datang pada mereka tujuh puluh kali, oleh sebab itu Haji Akbar setara dengan tujuh puluh kali ibadah haji.

Kaum Wahhabi tidak menerima hal ini. Mereka tidak percaya bahwa ada yang dinamakan Haji Akbar. Jadi kita mengambil berkahnya sedangkan mereka meninggalkannya. Besok hari itu akan tiba, insya Allahu Rahmaan.

Ada satu masalah atau satu hal, yang kita dapat bicarakan. Saya mendengar bahwa pemerintah Wahhabi bersama kaum Wahhabi sedang gemetar sekarang, karena begitu ramainya jemaah yang menunaikan haji di Mekah al-Mukarramah. Mereka gemetar karena menghitung ada lebih dari enam juta orang sekarang, tetapi Allah (swt) Mahatahu, mungkin ada tujuh juta orang atau lebih. Mazhab Wahhabi adalah aliran materialis, tidak pernah menerima spiritualitas dalam Islam. Mereka adalah orang-orang yang materialistis yang tumbuh dalam Islam, yang berpikir dan menulis tentang segala sesuatu dengan pandangan materialistik mereka, menghitung dan menyeimbangkan segala sesuatu.

Setelah Perang Dunia Kedua, tahun 1946, di mana pada tahun itu juga terjadi Haji Akbar, pertama kali terjadi setelah keadaan damai, saya berada di sana dengan Grandsyekh kita. Karena perang itu, maka tidak terlalu banyak orang yang bisa datang, di mana-mana tertutup. Saya ingat bahwa ada lebih dari dua juta jemaah berada di sana, dan pada saat itu masih ada bangunan-bangunan tua di Mekah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah yang dibangun oleh Kekaisaran Utsmani.

Saya ingat bahwa ketika kami selesai melaksanakan salat Jumat terakhir di Masjidil Haram, syarafaha Allah, semoga Allah (swt) lebih memuliakannya, paling tidak ada satu juta orang atau lebih yang salat di sana, dan menurut ukuran Masjidil Haram asy-syarif, hanya seratus lima puluh ribu orang yang dapat memasukinya, tak lebih dari itu. Saya salat di dalam masjid, dan saya lihat di sekeliling Ka’bah masih ada tempat yang kosong untuk beberapa orang. Saya berada di sana.

Kaum Wahhabi mengatakan bahwa mereka harus menolong orang-orang, dan dalam hal ini mereka sungguh-sungguh mengklaim bahwa mereka harus menolong Allah (swt). Astaghfirullah, mereka membuat perluasan di Mekah al-Mukarramah agar orang-orang dapat beristirahat di sana, agar mereka bisa masuk dengan bebas, melaksanakan tawaf (mengelilingi Kabah-penerj.) dengan bebas, salat dengan bebas, dan tanpa berdesak-desakan. Mereka mulai melakukan renovasi. Tetapi semakin banyak mereka membuat perluasan, semakin banyak orang yang datang.

Saya pergi ke sana tahun demi tahun—1980 adalah haji terakhir bagi saya di mana tubuh fisik saya juga berada di sana—dan saya tidak pernah bisa lagi salat Jumat di dalam gedung itu. Saya selalu salat di luar, salat dengan yang lainnya di jalanan.

Dan sekarang mereka membuatnya sedemikian besar sehingga mereka menyadari, “Oh, kita telah menghancurkan Mekah, tetapi orang-orang masih saja tidak bisa salat dengan nyaman di Masjidil Haram.” Mereka juga menghancurkan Madinah al-Munawwarah, tetap saja itu belum cukup besar untuk jemaah.

Lalu Setan mengajari mereka dengan mengatakan, “Buatlah kuota, batas.” Itu artinya sekarang mereka melakukan sesuatu yang lain yang bukan Rahmani, tetapi Setani, karena Setanlah yang mengajari mereka untuk membuat kuota bagi orang-orang yang mau menunaikan ibadah haji, memasuki tempat-tempat suci.

Mereka membuat banyak terowongan di bawah pegunungan di Saudi, jalan untuk mencapai Mina dan kemudian Arafat. Makin banyak mereka berusaha melakukan sesuatu, semakin majnun (gila) mereka, mereka semua. Padahal begitu sederhana resepnya: jangan sentuh apapun! Itu adalah undangan dari Tuhan bagi manusia. Siapapun yang diundang untuk datang mengunjungi Rumah Suci-Nya, Allah (swt) menanggung segalanya untuk para tamu-Nya, bukan manusia!

Kaum Wahhabi bagaikan batu karang; kepala mereka bagaikan batu karang, tidak pernah mengerti tentang spiritualitas. Itulah alasannya mengapa mereka gemetar sekarang, mereka bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?” Biarkan orang-orang bebas! Mekah dan Madinah adalah untuk semua umat Muslim, mengapa membuat kuota yang bodoh untuk orang-orang? Biarkan mereka datang berkunjung. Jika mereka menyerahkan segala urusannya kepada Allah (swt), bahkan enam puluh juta orang dapat datang dengan mudah, karena malaikat akan meletakkan jalan di bawah mereka, jalan untuk bergerak bagi mereka, untuk datang dan pergi dengan lancar.

Saya juga mendengar bahwa mereka juga menghancurkan segala sesuatu di dalam Masjidil Haram asy-syarif untuk memudahkan orang melakukan tawaf, tetapi sekarang orang-orang melakukan tawaf di luar, dalam lingkaran yang besar. Apa itu?

Saya berada di sana pada tahun 1946, dan di kedua ujung Safa dan Marwah terdapat toko-toko, dan juga unta yang dapat berlalu-lalang di jalan dengan mobil-mobil dan orang-orang berjalan seperti ini, seperti itu, menyebrang jalan. Kami, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji, melaksanakan sa’i dan bergerak dengan begitu mudahnya, dengan lebih dari dua juta orang. Sekarang, jika mereka sanggup, mereka akan membuat tujuh lantai untuk orang-orang, tetapi walaupun mereka membuat tujuh puluh lantai, orang-orang tidak bisa melakukan sa’i semudah yang kami lakukan pada saat itu.

Kadang-kadang kami berlari bersama unta, karena mereka juga melintasi jalan itu dan kami harus menuju tempat yang berada di sana. Dan pada saat kami berlari, mobil-mobil lewat bersama keledai-keledai, sehingga kami tidak bisa melanjutkannya. Tetapi kami sangat senang, melakukan sa’i. Sekarang subhanallah. Angkat tangan kalian dari Rumah Suci, Masjidil Haram asy-Syarif! Tinggalkan pada Allah (swt), dan Madinah al-Munawwarah, tinggalkan pada Nabi Muhammad (s)!

Para pejabat Wahhabi gemetar sekarang, “Bagaimana kami dapat mengontrol situasi?” Tinggalkan saja, ada yang mengontrol di sana, Muhafiz-u-Makka (Pelindung Mekah—Allah (swt)). Itu bukan tempat biasa. Mereka pikir itu adalah tempat biasa, karena tidak ada spiritualitas dalam diri mereka. Segala sesuatu mereka hitung, mereka masukkan ke dalam rekening mereka.

Besok, insya Allah akan menjadi Haji Akbar yang menutup abad ini dan kemudian pembukaan yang lain akan datang, insya Allah. Kami telah diberitahukan bahwa Shahib-uz-Zaman, Sayyidina Mahdi (a), dan khulafa-nya dan 12.000 awliya yang semuanya memiliki kekuatan untuk sampai di sana dalam sekejap mata, akan berada di sana besok. Dan akan ada sebuah munajat, doa yang sangat dahsyat yang akan mengubah segala sesuatu di tahun ini, insya Allah, kita harapkan demikian.

Ini adalah haji yang sangat istimewa. Bagi mereka yang tidak bisa datang ke sini tahun ini, tetapi telah mempersiapkannya namun karena pemerintah melarang mereka pergi, Allah (swt) mengutus malaikat-malaikat untuk mewakili mereka. Juga bagi orang-orang biasa yang mengatakan, “Jika saja kita sampai di Padang Arafat,” tetapi mereka tidak mampu, Allah (swt) telah menciptakan malaikat-malaikat untuk berada di Arafat mewakili mereka, untuk menerima nikmat-nikmat itu dari-Nya.


Besok, kalian harus berusaha untuk menyelesaikan:

· 1000 kali Surat al-Ikhlash

· 1000 kali laa ilaaha ill-Allah

· 1000 selawat: Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

· 100 kali laa ilaaha ill-Allah, wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiit, wa Huuwa ‘alaa kulli syay’in qadiir

· 100 kali wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘Aliyyil Aazhiim

· Dan pada setiap salat membaca takbiir: Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, laa ilaaha ill-Allah, w’Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahil hamd.


Semoga Allah (swt) mengirimkan hamba ilahiah-Nya untuk menyingkirkan segala yang bertentangan dengan-Nya. Semoga Dia mengutus singa-singa-Nya terhadap anjing liar, serigala, rubah, beruang, ular dan kalajengking (semuanya merupakan metafora dari karakteristik buruk manusia-penerj.), untuk menyingkirkan mereka semua.

Saya berdoa, “Wahai Tuhan kami, tak diragukan lagi bahwa Engkau memiliki singa-singa, dan bahkan satu saja sudah cukup. Engkau mengirimkan para malaikat kepada hamba tercinta-Mu, Muhammad (s) di Perang Uhud dan Badr, bahkan satu malaikat pun sudah cukup untuk menyingkirikan seluruh pasukan orang-orang munafik; tetapi Engkau mengirim ribuan malaikat, sehingga orang-orang beriman melihat dan menyaksikan para malaikat bersama mereka dan mereka mendapatkan keyakinan bahwa mereka akan menang. Oleh sebab itu, walaupun satu singa sudah cukup, kami tahu, lebih dari cukup, tetapi kami memohon agar singa-singa-Mu datang untuk menghancurkan kesultanan Setan dan melenyapkannya dari bumi!”

Jika Dia ingin menempatkan satu miliar orang di tempat ini, Dia dapat melakukannya, dan setiap orang bisa datang dan pergi dengan leluasa. Satu miliar orang bisa berada di tempat yang kecil ini. Dia dapat melakukannya; kalian harus percaya kepada Allah (swt), harus percaya pada kekuatan dan kemampuan-Nya yang tak terbatas, percaya pada kapasitas-Nya. Bagi-nya segala kemungkinan dapat terjadi, hanya bagi-Nya. Mengapa kalian mencoba untuk melakukan sesuatu? Semakin banyak kalian melakukan perbuatan yang salah ini, semakin banyak kesulitan yang akan datang, semakin banyak masalah dan krisis.

Haji pertama dan kedua begitu mudahnya, hingga mereka menghancurkan segala sesuatu, rumah-rumah tua, pada saat itu belum ada bangunan dari beton sama sekali, dan mereka menghancurkan setiap bangunan bersejarah, semuanya dihancurkan. Mereka membuat bangunan dari beton yang berukuran raksasa, sehingga orang-orang tidak lagi mampu menghirup spiritualitas di Mekah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah. Orang-orang bahkan merasa bingung, dan mereka bertanya, “Ada di mana kita?”

Insya Allah, ketika Imam Mahdi (a) datang, ia akan menata kembali apa yang telah menyimpang. Itu adalah kekuatan iradah. Ketika seseorang diberikan kekuatan iradah itu, ia dapat mengatakan, “Jadilah! (kun fa yakuun),” maka terjadilah. Allah (swt) berfirman, “Wahai hamba-Ku, patuhlah kepada-Ku, dan Aku akan menjadikanmu salah satu orang-Ku (rabbani), dan Aku akan memberimu kekuatan dan otoritas untuk mengatakan sesuatu: ‘terjadilah! Maka terjadilah ia.”

Oleh sebab itu, jika Imam Mahdi (a) memerintahkan gedung-gedung itu untuk dihancurkan dalam satu malam, mereka semua akan hancur, dan di malam kedua, ketika ia memerintahkan untuk mengembalikan kembali bangunan-bangunan tua yang telah dihancurkan sebelumnya di Mekah al-Mukarramah dan di Madinah al-Munawwarah, maka hal itu akan terjadi. Orang-orang akan bergerak dengan mudah, melakukan tawaf dengan mudah, dan bergerak dengan mudah ke Mina dan Arafat, insya Allah, Fatiha.



30 July 2009

Mengingat Mati dan Menghormati Ahli Kubur

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

Suatu ketika ada sekelompok orang yang membangun sebuah hotel besar bersebelahan dengan sebuah masjid. Ketika hampir selesai, mereka berkonsultasi dengan seorang ahli Yahudi, tentang bagaimana sebaiknya menjalankan hotel itu.  Mereka datang lengkap dengan foto-foto lokasi hotel. Ketika melihat foto-foto tersebut, si Yahudi mengatakan bahwa mustahil hotel itu dapat memberi keuntungan, karena letaknya tepat di sebelah masjid. Menurut sang ahli, dua hal yang berlawanan tersebut tidak mungkin saling mendukung-–karena sebuah hotel harus mengandalkan tiga hal demi keuntungannya, yaitu: judi, minuman dan seks. 

Para tamu hotel yang sedang tenggelam dalam perbuatan dosa-dosa itu akan mendengar panggilan Azan selama lima kali dalam sehari.  Mereka akan kembali teringat Tuhannya dan lari meninggalkan hotel.  Bagaimana mau bersenang-senang dengan segala kemaksiatan bila masjid sebelah mengingatkan untuk menyembah Tuhan?  Sayangnya, manusia abad dua puluh memohon agar bisa melupakan Sang Pencipta mereka.  

Di kota-kota tua, kompleks pemakaman mengelilingi masjid-masjid.  Namun pemerintah sekarang ini mencegah pemakaman seperti itu, dengan alasan membuat lingkungan menjadi tidak sehat.  Mereka lalu meminta penguburan diharuskan beberapa ratus kilometer jauhnya dari kota.  

Mengatakan bahwa lingkungan menjadi tidak sehat adalah kebohongan besar.  Padahal dulu makam-makam diletakkan di taman di depan rumah.  Mereka akan mengatakan, ”Ini makam ayahku, yang di sana makam bibiku, lalu yang di sini makam ibuku.”  Ini bukan hanya mengingat para leluhur mereka, tetapi juga mengingatkan akan kematian mereka sendiri, mengingat Tuhan mereka dan juga adanya kehidupan akhirat. 

Wahabi adalah jenis lain dari kaum Iblis, mereka akan memakamkan di dekat rumah atau masjid, tetapi tidak mengizinkan ada tanda di makam tersebut.  Ketika saya bersama seseorang yang ingin berziarah di makam ayahnya di dekat Masjid Dehiwela,  Sri Lanka-–ternyata dia tidak tahu di mana tepatnya makam ayahnya, karena tidak ada tanda atau nisan.  Dia mengatakan ada sekumpulan manusia Iblis yang mencegah dibuatnya tanda-tanda atau nisan.  Mereka ini adalah para penyangkal adanya akhirat.  

Imam-imam kita yang tak pernah bimbang akan syariat memiliki hikmah akan penulisan nama orang yang meninggal pada batu nisan.  Para pengunjung makam dapat membacakan Fatiha bagi para ahli kubur.  Penulisan itu sebagai sebuah pengingat terhadap mereka yang telah meninggal.  Namun kaum Wahabi menyebut hal itu sebagai syirik.  Semoga bebatuan menimpa kepala mereka yang mengatakan bahwa penulisan nama-nama orang tua mereka di batu nisan sebagai syirik dan bid’ah.  Suatu ketololan dari para kaum Iblis. 

Bila mereka tidak menandai makam-makam itu, mereka bisa terjatuh ke dalam sesuatu yang makruh – yaitu menginjak-injak makam-makam yang tidak terlihat keberadaannya – seperti yang saya lihat di pemakaman Dehiwela.  Bukan hanya tidak menghormati, hal itu juga mengganggu mereka yang di makamkan di situ.  Melangkahi sebuah makam bisa diibaratkan berjalan di atas perut wanita yang sedang hamil. 

Rasulullah SAW mengajari sebuah doa bagi mereka yang mengunjungi makam, Subbuhun Quddusun Rabbul Malaaikati Wa Ruh, Subbuhun Quddusun Rabbul Malaaikati Wa Ruh, Subbuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul Malaaikati Wa Ruh.” Ketika kalian membaca tasbih ini saat memasuki makam, maka barakah akan turun mengayomi ahli kubur yang dituju, dan penghuni makam yang lain akan berharap kalian juga berkenan mendekati makam-makam mereka.  

Ribuan sahabat dimakamkan di Jannatul Baqi dan Jannatul Mualla, tetapi orang-orang melangkahi makam-makam itu tanpa adab sama sekali.  Dan kemerosotan moral ini telah berjalan selama 50 tahun terakhir dalam dunia Islam.  Semoga Allah SWT menjauhkan ide-ide buruk seperti itu dari Hijaz.  Orang-orang yang lalai itu mengira mereka telah melakukan kebaikan, padahal yang dilakukan adalah hal terburuk. 

Wa min Allah at tawfiq

20 April 2009

Realitas Nabi Muhammad SAW

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Jakarta, 7 Oktober 2003 (11 Syakban 1424H)

 

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin 

 

Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Di antara Sifat-sifat  Allah SWT, sifat Rahmaan yang  muncul di bulan Syakban adalah para kekasih-kekasih Allah SWT, sementara Ramadhan adalah bulan di mana keseimbangan nampak, bulan di mana Allah SWT menampakkan orang-orang yang cinta pada Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT.

Saya sangat bangga dan bahagia karena Saya dapat berkunjung kembali pada kalian di bulan Sya`ban yang suci ini. Saya bangga menyampaikan pada kalian pesan Mawlana Syaikh Nazim QS mudah-mudahan Allah SWT akan mengumpulkan kita dengan Muhammad SAW dan Imam Mahdi AS.

Sebuah realitas tidak akan nampak kecuali oleh realitas itu sendiri. Allah SWT menciptakan Muhammad SAW sebagai sebuah hakikat yang besar, tak ada yang bisa mengenal Muhammad SAW kecuali Muhammad SAW itu sendiri. Tak ada siapa pun yang bisa menyamai Nabi Muhammad SAW, karena dialah satu-satunya Nabi yang telah sampai pada hakikat ubudiyah yang sangat tinggi, dialah hamba yang paling sempurna, dialah hamba yang paling sederhana dan paling menghambakan diri di hadapan Allah SWT. 

Tidak ada yang bisa mengenal Nabi SAW secara total, para sahabat hanya mengenal Muhammad SAW secara partikular saja, sangatlah kecil yang mereka ketahui. Dari semua sahabat yang diberikan ilmu mengenal Nabi Muhammad SAW adalah `Ali RA, KW.  `Ali  RA, KW diberi keistimewaaan oleh Nabi SAW, hingga Rasulullah SAW mengatakan, "Aku adalah gerbang ilmu dan `Ali RA, KW adalah pintunya".  `Ali RA, KW diberi keistimewaan mengenal Nabi Muhammad SAW lebih dari yang lain, tetapi tetap saja dia tak bisa sampai pada realitas Nabi Muhammad SAW yang sesungguhnya. Realitas Nabi SAW diajarkan oleh Nabi SAW kepada `Ali RA, KW, tetapi sangat sedikit `Ali RA, KW mengambil bentuk realitas Nabi, kemudian dia pindahkan dan transmisikan kepada Imam Mahdi AS. Saat ini kita semakin dekat kepada era Imam Mahdi AS, dan hakikat tersebut saat ini diberikan kepada awliya, sedikit demi sedikit mereka diberi pengetahuan untuk menangkap realitas Nabi Muhammad SAW.

Nilai tasawwuf yang sangat tinggi dari realitas Muhammad SAW, yang ditransmisikan kepada awliya  bagaikan kilat di langit, di mana terjadi kontak antara kutub positif dan negatif, yang seandainya kilat tersebut menyentuh seseorang, maka niscaya orang itu akan terkena guncangan elektrik (setrum) yang sangat tinggi hingga orang itu akan terjatuh. Para awliya ketika tersentuh kilat rasul mereka juga akan jatuh, karena hal ini merupakan beban yang sangat besar di mana sebagian orang tak mampu menerimanya. Itulah pengalaman-pengalaman spiritual  yang dirasakan awliya ketika mereka bersentuhan dengan realitas Nabi Muhammad SAW. 

Di dalam diri manusia  ada unsur tanah, yang merupakan unsur negatif.  Kita bayangkan ketika kilat menyentuh manusia, maka unsur positif akan bertemu dengan unsur negatif. Pertemuan kedua unsur itu kita rasakan sebagai "serbuan kilat elektrik" yang sangat besar, sehingga menimbulkan goncangan dalam diri kita. Kilat itu simbol realitas Muhammad SAW, tanah yang kita injak merupakan unsur negatif adalah  simbol dari Setan, ketika realitas Nabi SAW sampai pada Awliya, maka Setan tak senang sehingga akan terjadi guncangan-guncangan karena Setan tak ingin realitas Muhammad SAW sampai kepada umat manusia. Saat ini realitas Rasulullah SAW yang sampai pada Imam Mahdi AS dan Awliya sudah mulai ditransmisikan kepada jiwa kekasih-kekasih Allah SWT. Tak ada yang dapat mencegah, siapapun tak ada yg bisa mengingkarinya! Imam Mahdi AS akan hadir dalam waktu dekat, dan tak ada yang bisa mengingkari keberadaannya.

Ketika kita bicara tentang realitas Muhammad SAW, maka realitas Muhammad SAW itulah yang pertama kali diciptkaan Allah SWT melalui Nuur Muhammad SAW atau cahaya Muhammad SAW, kemudian cahaya itu melahirkan cahaya-cahaya lain yang gemerlapan, percikan-percikan cahaya itu  bagaikan bintang di alam semesta ini. Ada  milyaran bintang-bintang yang kita saksikan  di alam semesta yang lahir dari realitas Nabi Muhammad SAW, bintang-bintang tersebut bagaikan individu-individu manusia, ada yang kecil ada yang besar. Yang besar seperti cahaya para awliya, sedangkan bintang yang kecil adalah individu yang kecil. Ada juga  bintang yang kadang timbul-tenggelam, hal ini seperti halnya iman dalam diri manusia, yang kadang kuat kadang lemah sehingga cahayanya pun timbul tenggelam. Sedangkan bintang yang besar dan cahayanya gemerlapan  adalah ibarat  awliya, seperti  planet-planet di tatasurya  yang besar dan agung di alam semesta ini.

Perumpamaan lain  yang luar biasa untuk memahami realitas Muhammad SAW, adalah  seperti  air terjun. Kalau kita melihat derasnya air terjun yang  turun, yang kita lihat adalah airnya yang turun. Agar bisa turun, air tersebut harus melewati bebatuan yang besar, batu-batu itu bagaikan sebuah pintu. Kita bertanya darimana sumber air itu? Mungkin bisa jadi berada jauh di bawah kedalaman  gunung yang ratusan meter dalamnya. Kemudian kita bertanya mengapa air tersebut harus berasal dari bawah kemudian  naik ke atas untuk  kemudian turun kembali. Dan ketika turun pun  harus melewati batu-batu yang merupakan sebuah gerbang dari batu yang besar, mengapa harus begitu? Ini adalah makna dari perumpaaan hadist, "Aku adalah ilmu dan `Ali RA, KW adalah gerbangnya".

Sebuah rahasia besar realitas Muhammad SAW hanya diketahui oleh Nabi SAW sendiri, bahkan `Ali RA, KW yang merupakan pintu ilmu itu tidak bisa mengetahui realitas Muhammad SAW yang sesungguhnya.  Realitas itu sekarang berada pada  Imam Mahdi AS.  Allah SWT berkata,    "Wahai Muhammad SAW, Aku tak meminta apa-apa dari mereka kecuali cinta mereka kepada kerabatmu."  Kalau kalian ingin mengetahui realitas Nabi Muhammad SAW maka kalian akan mengetahuinya melalui Imam Mahdi AS,  Imam Mahdi AS akan membuka gerbang itu dan akan menyampaikan pada umat ini, karena  Imam Mahdi AS adalah kekasih (Awliya) Allah SWT.

Di tengah-tengah kita, begitu banyak problem yang kita saksikan, begitu banyak  penderitaan yang dialami kaum Muslim, problem itu begitu deras menimpa kita bagai air terjun, dia akan menghanyutkan siapapun yang menghalanginya. Seperti ikan Salmon yg punya kebiasaan menentang arus, dia berusaha untuk sampai ke atas, dia kerahkan seluruh tenaga dan akhirnya  sebagian besar ikan Salmon itu mati. Begitu juga  kaum Muslimin sebagian besar mati, dan hanya yang memiliki kekuatan yang akan sampai ke atas.

Saat ini yang memiliki  kekuatan terbesar adalah Imam Mahdi AS. Bila Imam Mahdi AS yang memiliki kekuatan sedemikian besar saja  belum diizinkan untuk keluar oleh Allah SWT, demikian pula dengan para Awliya dan para Sufi.  Meskipun demikian Awliya tidak terlena, mereka tetap bekerja dan mereka terus berusaha. Kalian, manusia biasa  jangan bersedih, kalian yang tak mampu berbuat apa-apa lakukanlah dzikrullah.  Ini adalah salah satu bentuk untuk merubah keadaan yang ada pada saat ini. Ketika kalian menghadapi cobaan berselawatlah, karena ini adalah tugas kita sebagai manusia. Kalau kalian ingin perubahan, mintalah pada Allah SWT agar Imam Mahdi AS segera diturunkan.

Kaum Muslim tak pernah minta Imam Mahdi AS, tapi kaum Nasrani selalu  minta agar Nabi Isa AS ’Yesus AS Sang Penyelamat’ diturunkan, itulah sebabnya Allah SWT mendukung mereka di dunia ini.  Kaum Yahudi pun meminta Messiah mereka. Kaum Nasrani terus-menerus meminta,  24 jam sehari melalui berbagai saluran televisi mereka. Tapi Muslim tak pernah berpikir tentang Mahdi AS, mereka tak pernah meminta pada Allah SWT agar Imam Mahdi AS diturunkan. Bila semua Muslim meminta, "Ya Allah kirimkanlah Imam Mahdi AS,  bila semua negara muslim meminta, maka Allah SWT akan mengirimkan  Mahdi AS kepada kita. Seharusnya setiap muslim berdoa kepada Allah SWT supaya Mahdi AS diturunkan, tetapi kaum muslim tak pernah meminta, maka Allah SWT tak memberikan pertolongan kepada umat Islam. Jangan heran jika umat Kristen dikabulkan doanya karena mereka selalu  minta agar Isa AS diturunkan.

Apa yang dibicarakan Muslim? mereka hanya bicara soal perbatasan negara, perbaikan ekonomi tetapi mereka tak pernah meminta Imam Mahdi AS. Misionaris sangat sukses karena dalam misi tersebut, mereka selalu mengajak orang-orang yg mereka dakwahi untuk Isa AS, mereka berkata bahwa Yesus AS akan segera kembali, mereka keluar-masuk hutan dan perkampungan dan mereka minta agar Allah SWT menurunkan Isa AS.

Tetapi ketika umat Muslim meminta Muhammad SAW, mereka  (Wahhabi) katakan itu bid'ah, meskipun  Muhammad SAW memberi syafa'at pada mereka, tetapi mereka katakan “Tidak!” Mereka katakan musyrik, bid'ah. Mereka selalu mengatakan, “Mari kita--umat Muslim—bersatu,” tetapi mereka tak pernah membanggakan Nabi Muhammad SAW, bahkan lebih jauh mereka katakan itu haram, syirik dan sebagainya. Ketika kita berselawat atas Nabi Muhammad SAW mereka—Wahhabi dan Salafi mengatakan itu adalah bid'ah, syirik, bahkan mereka telah menghina Nabi SAW, mereka letakkan Nabi Muhammad SAW dalam tingkatan yang sangat rendah. Kita-kaum Muslim jarang berselawat, inilah sebabnya mengapa Islam tidak pernah disukseskan oleh Allah SWT.  Kaum Wahhabi sekarang bahkan tidak menghormati keluarga Nabi SAW, maka Allah SWT akan marah.

"Katakan wahai Muhammad SAW: Aku tak meminta upah, Aku hanya minta agar mereka mencintai para kerabat Nabi (ahlul bayt)", dan Mahdi AS adalah kerabat Nabi yang paling besar di akhir zaman ini. Para Rasul menyaksikan amalan kita, bukan hanya di akhirat tetapi juga di dunia ini, Allah SWT sendiri  berfirman bahwa Muhammad SAW menyaksikan amalan kita, tetapi mereka--Wahhabi mengatakan bahwa hal itu tidak ada.  Sejak saat ini hingga Kiamat, Saya akan menentang segala bentuk penghinaan yang dilakukan Wahhabi, karena mereka selalu berkata bid'ah, syirik. Mereka tidak tahu bahwa rahasia sukses adalah ketika kaum Muslim mengangkat tinggi nama Muhammad SAW. 

Kristen selalu mengangkat nama Isa AS dan Allah SWT meridainya, tapi umat Muslim tak pernah mengangkat Nabi Muhammad SAW,  mereka merendahkan Muhammad SAW, mereka tak pernah berdoa untuk kedatangan Imam Mahdi AS. Bila Muslim berdoa maka akan banyak problem mereka yang dibantu oleh Allah SWT. Tidak ada jalan  untuk sukses kalau mereka tak pernah minta Mahdi AS, kalau mereka berselawat atas Rasulullah SAW dan  meminta Imam Mahdi AS, maka Allah SWT akan memberi mereka perekonomian yang baik, mereka akan sukses di dunia; dan di akhirat Allah SWT akan  memberi mereka lebih banyak lagi.

Imam Mahdi AS yang dijanjikan oleh Allah SWT akan segera muncul, saat ini kita jangan berasumsi bahwa apa yang kita bicarakan saat ini  hanya didengar oleh 200 atau 500 orang. Di tempat lain apa yang kita bicarakan saat ini ditangkap oleh ribuan kabel satelit para Awliya. Apapun yang dibicarakan oleh Awliya akan didengar oleh Awliya Allah SWT di seluruh penjuru dunia, mereka menangkap dan menyampaikan kepada umat, ada yang menerima sedikit, ada pula yang menerima banyak. Mudah-mudahan satelit di dalam diri kita semakin kuat sehingga kita bisa menangkap seluruh pesan-pesan dari para  Awliya Allah SWT, Amin. Fatihah. 

Wa min Allah at tawfiq

 

 

13 February 2009

Kebangkitan Damaskus

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Pada suatu hari Rasulullah SAW menerawang ke masa depan dan beliau melihat bahwa kebangkitan Islam akan muncul dari Damaskus, Suriah. Selama 30 tahun Suriah berada di bawah kekuasaan seorang penguasa, seperti yang disebutkan dalam hadis. Hadis itu juga mengatakan bahwa akan terjadi banyak masalah, penderitaan dan pembunuhan di sana. Banyak peristiwa yang telah terjadi di Damaskus. Sekarang orde baru telah dimulai. Orang yang meninggal pada hari ini adalah seorang tokoh yang penting di kawasan Timur Tengah. Allah SWT telah memberinya kekuatan sehingga dia dapat menjadi pemimpin di seluruh daerah kekuasaannya. Pemerintahannya membuat semua yang dikatakan oleh Rasulullah SAW melalui hadisnya menjadi tampak dan memberi informasi bagi kita mengenai Damaskus dan daerah di sekitarnya.

Sekarang perubahan yang lain telah datang dan hal ini adalah untuk Islam. Berbagai ide yang buruk telah disiapkan untuk menjelek-jelekan Islam. Kita harus mengerti apa yang dibawa oleh Islam. Masyarakat khususnya di Timur Tengah hidup dalam kehidupan yang ekstrim. Mereka kehilangan jalan tengah, beberapa dari mereka meninggalkan Islam begitu saja sedangkan yang lain menjalani hidupnya dengan gagasan-gagasan baru yang artifisial. Bagaikan plastik yang tidak dapat dicerna. Sebagian lagi menjalani hidup yang keras, ekstrim, mereka meninggalkan jalan ahlus sunna wa jama’ah dan berusaha menjadikan Islam seperti tubuh yang telanjang. Tak satu pun yang melekat, yang tinggal hanya cahaya. Namun demikian tetap saja Islam berkembang dan mendapat bermacam-macam ornamen baru. Mereka berkata bahwa benda-benda itu tidak dapat diterima. Islam tidak pernah berubah, sejak awal selalu dalam kondisi yang sempurna. Selama ribuan tahun Islam telah melewati bermacam-macam kelompok yang tidak terhitung jumlahnya. Islam bersemi dalam peradaban kuno yang berbeda-beda. Kemudian terjadi asimilasi kebudayaan ke dalam Islam. Sesuai dengan hadis Rasulullah SAW bahwa setiap hikmah berasal dari Islam sebab hikmah bukanlah seperti benda-benda plastik di abad 20 yang tidak pernah cocok baik bagi individu maupun masyarakat. Mereka membuat masyarakat menjadi gila, saling membenci dan berperang satu sama lain. Mereka masih melakukannya sampai sekarang. Mereka jauh dari Islam yang sebenarnya. Islam mengandung segala hikmah bahkan hikmah yang diambil dari aliran-aliran kuno, Yahudi dan Yahudi ortodoks. Namun mereka yang menamakan dirinya Wahabi mencoba menarik semua hikmah yang ada dan membuat Islam seperti tubuh yang telanjang. Kalian tidak bisa meletakkan sesuatu di dalamnya, itulah Islam yang telanjang. Mereka menyangkal semua yang direpresentasikan oleh Islam. Mereka berkata, “Tidak! Kita akan mengambil apa yang kita makan, kita harus mengambilnya sesuai dengan syariat. Kalian harus bisa bersikap mementingkan diri kalian sendiri, segalanya untuk hanya untuk diri kalian sendiri, seperti ketika kalian menyusu dari susu ibu kalian. Itu saja, tidak ada yang lain.” Sungguh merupakan ide yang bodoh! MEREKA PERGI SEKARANG.

Islam akan datang dengan keasliannya, lengkap dengan segala ornamennya, yang merepresentasikan kasih-sayang, kebaikan, hikmah mulai dari permulaan hingga sekarang. Benda-benda plastik akan dikumpulkan lalu dibuang. Begitu banyak orang Wahabi, IKHWAN Muslim, semuanya berada di barisan yang sama, mereka bagaikan tuna netra yang tidak dapat merasakan kenikmatan. Mereka melakukan segala macam fitnah di Timur Tengah dan di seluruh dataran Arab. Mereka mengubah pikiran, hati dan mengubah orang secara keseluruhan sehingga mereka tidak dapat mengatakan bahwa dirinya seorang Muslim. Masyarakat yang lain menyatakan bahwa jika Islam seperti ini mereka tidak dapat menerimanya, sementara orang Muslim sendiri meninggalkan kepercayaan mereka dan mengatakan bahwa mereka bukanlah Muslim yang baik. Orang-orang Eropa berkata, “Kita tidak bisa masuk Islam yang seperti itu, yang penuh dengan sekumpulan orang kasar dan tidak mempunyai rasa hormat.” Orang Wahabi berkata bahwa kalian tidak perlu mencintai orang lain, kalian tidak perlu menghormati orang lain, apa ini? Kita bukanlah binatang, mereka telah menipu kita dengan mengatakan bahwa penghormatan itu syirik—apa itu? Dengan cara ini bangsa Eropa tidak akan menerima Islam. Muslim yang masih muda akan bertanya-tanya, peraturan macam apa ini, begitu kasar, tidak ada rasa iba, tanpa kasih-sayang, tidak ada rasa hormat, tidak ada cinta, tidak ada adab, tidak ada keadilan, apakah Islam seperti ini?

Insya Allah waktunya telah tiba, sebuah pedang sudah tiba untuk memotong segala yang menentang Islam yang sejati. Saya sekarang punya kabar gembira, yaitu tidak ada lagi kekuatan yang akan diberikan kepada para penentang Islam di Damaskus. Faatiha!

Hati Saya bagaikan gunung berapi, Saya memohon kepada Allah SWT untuk bisa membakar semua kebatilan. Laa hawla wa laa quwwata laa hawla wa laa quwwata. Tiada daya dan kekuatan.

16 September 2008

Berlarilah menuju Allah SWT, bukannya Ilusi Dunia

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: 28 November 2001


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Hari-hari berlalu demikian cepat dan kita tengah mendekati suatu jembatan... Untuk siapakah kita hidup? Kita memulai dengan ucapan bismillaahir rahmaanir rahiim dan percaya kepada Allah SWT. Setiap hari adalah suatu jalan dan kita tidak berhenti. Setiap orang berlari menuju sesuatu, berusaha untuk mencapainya. Setiap orang memiliki ilusi, mimpi, suatu ideal atau tujuan. Tetapi, beberapa orang berada dalam kedamaian, mereka seperti anak-anak, sejak pagi hingga malam bermain, tak pernah khawatir atau berpikir tentang hari esok. Dan jika kalian tidak menjadi seperti seorang anak lagi, kalian tidak akan menemukan kedamaian. Tetapi setiap orang khawatir akan sesuatu, dan Setan membuat setiap orang sibuk. Dia memegang suatu gambar di depan kita, dan kalian berlari mengejarnya. Di malam hari, ketika kalian pulang ke rumah dalam keadaan lelah, kalian tidak mencapai apa pun. Dan hal ini tidak ada akhirnya. Satu ilusi diikuti dengan ilusi berikutnya. Hal ini terhubungkan dengan ego. Setan menangkap kita dengan keinginan-keinginan ego dan memperalat kita. Dia mengatakan kepada kita bahwa inilah tujuan kita dan jika kalian mencapainya, kalian akan berada dalam kedamaian. Tidak pernah! Apa pun yang kalian raih, selalu ada tujuan berikutnya.

Dan manusia yang telah diberi kehormatan oleh Allah SWT, melayani egonya yang hina, makhluk yang paling terhormat membiarkan dirinya tertipu dan berlari mengejar ilusi. Kalian harus berlari menuju Allah SWT, bukannya menuju dunia, karena kalian tak akan pernah menangkapnya. Tetapi, barangsiapa yang berlari menuju Allah SWT, dunia akan berlari mengejarnya dan dia tidak akan kehilangan apa pun. Manusia diciptakan untuk melayani Haqq, Allah SWT, dan Allah SWT menciptakan dunia untuk melayani manusia. Tetapi mereka berkata bahwa tujuan kita adalah dunia dan untuk memuaskan ego. Seperti inilah mereka menipu kita. Dan kita membuat rencana untuk hidup kita, kita ingin maju, selalu bertambah, dan tak ada yang berkata bahwa ada kematian, bahwa kita akan mati. Rumi QS berkata tentang hal ini, “Setiap orang berlari menuju suatu ilusi dan tak ada dua orang yang memiliki ilusi yang sama dalam hati mereka.” Seperti inilah, tak ada yang memiliki nilai. Tetapi, kita seharusnya menemukan Haqq dan mendapatkan nilai melaluinya. Tanpa mencapai Dia, kalian tidak akan mempunyai nilai apa pun. Dan begitu banyak yang mati tanpa memiliki nilai apa pun. Mereka berada dalam kebathilan dan sirna. Tetapi dalam Hadirat Tuhan tidak ada kebathilan. Para Nabi datang untuk menyelamatkan orang-orang dari kebathilan dan membawa mereka menuju Allah SWT, untuk memisahkan mereka dari ego mereka. Dan barangsiapa yang melayani egonya akan selalu menentang para Nabi karena mereka tidak ingin meninggalkan pelayanan mereka kepada ego mereka.

Karena itulah Wahhabi menentang para Wali, yang telah mencapai Allah SWT. Mereka merusak makam-makam para Wali dan menginginkan orang-orang melupakan hal ihwal para Wali. Dan begitu banyak Muslim yang bodoh mengikuti mereka. Kalian harus menemukan orang yang telah mencapai Allah SWT, jika tidak, bagaimana kalian ingin mencapai-Nya? Tetapi, mereka adalah mitra bagi Setan dan mereka ingin teman-teman mereka untuk dihormati, bukannya para Wali. Dan Allah SWT memberitahukan dalam al- Quran yang suci tentang para Wali, “Mereka yang tidak bersedih dan tidak pula cemas” (“Laa Khawfun 'alayhim wa laa hum yahzanun”). “Bagi mereka kabar yang baik.” Untuk apakah Allah SWT menurunkan ayat ini?

Jika Bin Laden adalah seorang Wali, tentu dia akan dapat mengalahkan Amerika tanpa senjata. Seorang Mutasarrif Shahib dapat menghabisi mereka dengan jin-jinnya... Begitu banyak orang berguguran. Di manakah kekuatan kalian? Apakah kalian meminta pertolongan dari para Wali? Di Hijaz kalian hanya mencari emas dan berbisnis, kalian tidak bertanya tentang Wali, di mana mereka. Jika seandainya tidak ada para Wali, akankah Allah SWT menurunkan ayat ini? Tetapi, mereka mengingkari segala sesuatu dalam Kitab Suci, maka segalanya menjadi musnah. Mereka memanggil orang lain untuk mencari pertolongan dalam masalah Bin Laden. Tanpa para Wali, segala sesuatu berada dalam kebingungan, dan kalian akan tersesat. “Para Sahabat bagaikan bintang-bintang,” sabda Nabi SAW. Setelah mereka, siapakah yang akan menunjukkan jalan? Ada seseorang, tetapi mereka tidak meminta untuknya. Maka, mereka akan habis dengan ilusi-ilusinya—semua negara akan habis.

07 August 2008

Menjaga Islam yang Benar

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Washington DC, 12 Juni 1994

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Kalian harus berpakaian sesuai sunah Nabi SAW, Alhamdulillah. Kalian memakai turban dan memakai pakaian sunah yang longgar. Alhamdulillah kalian tidak memakai pakaian yang ketat. Dan saya lihat beberapa dari kalian membiarkan janggutnya tumbuh. Ini adalah sunah Nabi SAW.

Siapa pun yang menerima bay’at dari Syekh Nazim QS ke dalam Tarekat Naqsybandi, maka kami mengharapkan yang hadir dalam Majelis Zikir tidak mengenakan pakaian setelan kantor atau pun kaos yang ketat. Setiap acara zikir dan pertemuan, kelompok Mawlana Syekh Nazim QS, kalian haruslah mengenakan turban, jubah dan pakaian yang longgar seperti gamis dan jubah, insya Allah ini adalah ciri-ciri pakaian dari grup Mawlana Syekh Nazim QS. Kalianlah satu-satunya grup yang memiliki bermacam-macam ras, kebangsaan, warna kulit, tanpa berkata hitam, putih, kuning atau hijau. Kalian adalah grup Mawlana Syekh Nazim QS.

Ini adalah “rahasia” Naqsybandi yang berasal dari Sayyidina Abu Bakar RA sampai kepada seluruh Syekh dalam Mata Rantai Emas, dari Syah Naqsyband QS hingga ke Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS. Rahasia ini adalah Rahasia Utama dari Tarekat Naqsybandi. Seluruh cabang yang lain tidak memiliki rahasia Mata Rantai Emas. Rahasia ini hanya melalui Mawlana Syekh Nazim QS. Mudah-maudah Allah SWT merahmatinya dan mengangkatnya ke maqam yang tinggi.

Dewasa ini pengikut Wahhabi meracuni umat Muslim dengan pemahaman aqidah barunya, pemahaman aqidah yang salah. Mereka menolak keyakinan ahlus sunnah wal jamaah yang telah ada sejak 1.400 tahun yang lalu, mereka mengubahnya setelah era Abdul Wahhab dan Ibnu Taymiyyah, di mana aqidah mereka ditolak oleh 99% ulama Islam terkemuka di seluruh dunia. Apa pun mereka menyebut dirinya sebagai ISNA, MSA,… mudah-mudahan Allah SWT memperbaiki mereka dan mengembalikan jalan mereka yang salah ke dalam aqidah yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Mudah-mudahan Allah SWT mengubah mereka dari racun menjadi madu, dan membuka hati mereka kepada pemahaman Islam yang benar, Islamnya Imam Mahdi AS, Islamnya para awliya dan Islamnya Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan kedamaian bersama Nabi Muhammad SAW. Bihurmatil habib, al-Fatihah

23 July 2008

Adzan al-Muhammadi SAW

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS


A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim

Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Saya sedih. Mengapa? Karena suatu hal yang tidak kalian perhatikan walaupun kalian menganggap diri kalian sebagai Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Apa itu? Azan. Azan mempunyai nama lengkap “Adzan al-Muhammadi SAW”. Jadi bagaimana mungkin seorang muazin lupa untuk membaca selawat untuk Rasulullah SAW setelah selesai mengumandangkan azan? Kalimat itu adalah untuk menghormati Nabi Muhammad SAW. Saya pikir saya tidak akan mengunjungi kalian lagi tahun depan jika kalian tidak memberi selawat setelah azan. Kalian boleh melupakan saya, saya tidak akan datang lagi. Selesai. Setiap tahun berulang-ulang saya katakan bahwa kita adalah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, tetapi kalian bertindak seperti Wahhabi, tidak membaca, “Ash-Shalatu was-Salam” untuk Rasulullah SAW setelah azan. Oleh sebab itu saya kecewa.

Bahkan jika suatu waktu kalian datang dan mengucapkan “Ash-Shalatu was-Salam” untuk Rasulullah SAW, kalian masih bertindak seperti Wahhabi dengan menyuruh muazin untuk tidak mengucapkan selawat. Bisa saja Saya pergi dari Timur ke Barat tetapi tidak akan mampir ke sini jika kalian mengatakan hal seperti itu.

Kadang-kadang jika kalian tidak memperhatikan hal-hal yang kecil, itu bisa mencegah sesuatu yang besar untuk bisa berfungsi. Seperti halnya mesin yang besar, misalnya mesin penggiling gandum. Mungkin sepotong kayu yang kecil dalam mesin itu harus berada dalam posisi tertentu agar dapat berfungsi dengan baik, bisa mengirimkan gandum ke sebuah batu besar untuk digiling. Jika kayu tersebut berada dalam posisi yang salah, gandum tidak akan sampai ke batu tersebut. Sebuah mesin penggiling bisa saja berharga 1 juta atau 2 juta dollar tetapi tanpa sepotong kayu yang mungkin nilainya hanya 10 atau 5 penni, gandum tidak bisa berjalan menuju batu. Secara keseluruhan mesin itu tidak bernilai. Dan kalian tidak memperhatikan hal tersebut!

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QS mengumandangkan azan di Candi Borobudur pada bulan Juli 2003 lalu.

Adzan al-Muhammadi SAW diberi nama dari nama Rasulullah SAW. Kalian harus mengucapkan selawat setelah azan. Kita berperang dengan orang-orang yang tidak menghormati Rasulullah SAW. Meskipun mereka mengontrol tempat-tempat suci, mereka tidak menaruh hormat kepada Rasulullah SAW. Kita sebagai Ahlus Sunnah wal-Jama’ah meminta penghormatan tertinggi kepada Rasulullah SAW. Tetapi mereka tidak menyukainya. Mereka menghilangkan nama Rasulullah SAW dari masjid-masjid mereka. Mereka membangun masjid baru. Mereka tidak pernah menuliskan kalimat yang bahkan tertulis di ‘Arsyur-Rahman. Apa yang tertulis di ‘Arsyur-Rahman? Hanya “La ilaha illallah?” atau juga “Muhammadur Rasulullah SAW?”

Apakah ada tulisan “La ilaha illa-llah, Muhammadur Rasulullah SAW” di masjid kalian? Apakah kalian memilikinya? Di mana? Pasti ada di sana. Kalian tidak menggunakan akal kalian! Mengapa kalian membuat tempat ini tanpa diberi nama? Masjid ini seperti hanggar pesawat, sebuah depot atau gudang. Mungkin kalian bisa menggunakannya sebagai gudang sewaktu-waktu karena tidak ada yang membuatnya jelas bahwa ini adalah sebuah masjid. Ya! Ke mana arah qiblat (maksudnya tidak ada Mihrab di sana)? Dan kalian menganggap diri kalian sebagai Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Tidak! Kalian tersesat dari jalan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Kalian adalah orang Wahhabi yang menakutkan. Mengapa? Allah SWT bersama mereka atau bersama kalian? Allah SWT bersama mereka yang menaruh hormat kepada hamba-Nya yang paling terhormat atau bersama dengan orang yang menentangnya? Apa kalian tidak berpikir? Tulislah Ahlus Sunnah wal-Jama’ah di dekat kalimat “La ilaha illa-llah, Muhammadur Rasulullah SAW.” Dan di mana nama-nama para rasul? Kalian yang berasal dari Pakistan dan Hindustan! Bagaimana masjid-masjid kalian? Apakah seperti ini? Di mana nama-nama para sahabat, siapa yang menjadi tonggak Islam? Siapa yang berdiri untuk Islam!? Mereka mencoba untuk melupakan semua orang yang telah melakukan yang terbaik bersama Rasulullah SAW. Apakah kalian tidak merasa malu, tidak mempunyai nama-nama mereka di sini? Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina ‘Umar RA, Sayyidina Hassan AS, Sayyidina Hussein AS? Mengapa!? Al-‘ashar al-mubashshara—sepuluh orang yang namanya telah dijamin masuk Surga oleh Allah SWT. Di mana?! Kalian mengetahui nama-nama mereka?! Mengapa kalian tidak menuliskannya? Apa alasannya? Apa?

Tetaplah dalam jalan kalian atau kalian juga akan diambil dari sini. Ya, kalian bisa saja marah tetapi kemarahan itu akan membunuh kalian. Jika kalian marah bukan karena Allah SWT, maka kemarahan ego akan menghabisi kalian. Waspadalah karena kemarahan Allah SWT akan memusnahkan semua—siapapun yang tidak menaruh hormat kepada Rasulullah SAW.

Kalian sebagai orang yang sederhana tidak akan suka bila putra kalian tidak dihormati tetapi sebaliknya kalian akan senang terhadap orang yang menghormati putra kalian. Bagaimana dengan Allah SWT yang telah menciptakan seluruh makhluk sebagai penghargaan terhadap Nabi Muhammad SAW? Wahhabi tidak pernah menerima penghormatan kepada Rasulullah SAW ini! Ini adalah suatu bencana! Jika mereka tidak menerima Rasulullah SAW, lihatlah apa yang akan terjadi. Apakah Islam akan jatuh? Tidak! Islam akan berkembang. Wahhabi tidak mau menerima hal itu, Law laaka Law laak ma khalaqtul kawn (“Jika bukan untukmu Ya Muhammad SAW, Aku tidak akan menciptakan seluruh makhluk.”) Wahhabi tidak mau menerima “Syafa’ati li Ahlil-Kaba’ir min Ummatiy.” (“Perantaraanku adalah untuk mereka yang termasuk Ummatku yang melakukan dosa-dosa kubur.”) Apakah mereka menerima atau tidak, itu tidak jadi masalah. Dosa-dosa mereka ada di pundak mereka. Tetapi kalian, sebagai Ahlus-Sunnah wal Jama’ah, kalian harus mengetahi jalan yang kalian tempuh. Selama 1500 tahun kita bertekad untuk melaksanakan jalan tersebut. Ada apa dengan kalian? Apakah para pendahulu kita salah?

Mereka yang mengeruk kekayaannya lewat minyak bumi memabukkan diri mereka dengan riyal, dollar, poundsterling. Siapapun yang membeli iman mereka dengan uang, mereka harus diberi hukuman yang paling berat. Rasulullah SAW bersabda, “Siapapun yang menjual imannya untuk kepentingan dunia, Jangan jadi salah seorang dari mereka. Jangan … jangan… Tetaplah dalam jalan kalian, dan Allah SWT akan senang terhadap kalian. Rasulullah SAW bersabda dalah hadits yang sahih, “Man shala ’alayya marratan, shalla Allahu ‘alayyhi ‘ashara marrah.” Rasulullah SAW yang menyatakan hadis ini, apakah beliau salah (hasha)? “Jika seseorang memberi penghormatan kepadaku, dengan mengatakan ‘Allaahumma shali ‘alaa Sayyidina Muhammad SAW’, Allah SWT akan memberikan sepuluh kepada orang itu.” Orang yang memberi penghormatan kepada orang yang paling terhormat, paling dicintai, adalah hamba yang paling terpuji. Tetapi Wahhabi tidak suka memberi penghormatan semacam itu. Jika kalian berkata, “amana Khalqillah” (ciptaan Allah SWT yang paling terpercaya) Wahhabi merengek dan mengeluh. Jika kalian mengucapkan, “Khatama Rasulillah SAW,” (Rasul terakhir) “Asyrafil Mursalin,” (Rasul yang paling mulia) mereka marah. Mereka tidak pernah senang untuk menghormati Rasulullah SAW atau memujinya.

Ketakutan kalian seharusnya hanya dari Allah SWT saja. Jangan berpikir bahwa karena mereka mempunyai emas dan minyak mereka kuat. Apa yang mereka miliki akan kolaps, insya Allah. Dan Allah SWT akan membuat mereka merasa sangat membutuhkan bantuan dari orang-orang yang tidak beriman. Allah SWT menghinakan mereka. Jangan berpikir bahwa uang dapat mendukung orang-orang yang salah. Tidak! Jika Allah SWT tidak mendukung kalian, uangmu tidak berharga sama sekali. Seluruh dunia tahu, mereka berpikir setahun yang lalu bahwa segalanya bisa berjalan karena didukung oleh uang. Sekarang Allah SWT menempatkan sejenis serangga pada pilar yang mereka yakin akan kekuatannya. Serangga itu mulai makan, makan, dan makan menggerogoti pilar tersebut hingga akhirnya pilar itu runtuh. Seperti yang terjadi di sini beberapa tahun yang lalu di mana ada sejenis serangga yang bersarang di sebuah pohon besar, mereka menggerogoti batang pohon hingga akhirnya pohon tersebut tumbang. Orang-orang tua mungkin masih ingat hal itu tetapi yang muda mungkin sudah melupakannya. Wahhabi hanya percaya kepada uang, dollar, pound, riyal, mark. Allah SWT akan membuat apa yang mereka yakini menjadi lemah. Dia menempatkan serangga tersebut mungkin setahun yang lalu dan sekarang sudah mulai makan. Zindabad! Allah SWT akan memperlihatkan kekuatan-Nya, sedikit demi sedikit, langkah demi langkah. Kekuatan Ilahi mengalir untuk memberi dukungan kepada orang yang beriman. Sementara orang yang tidak beriman sangat bangga dengan uangnya yang jumlahnya mencapai milyaran atau trilyunan. Sekarang mereka berpikir—apa yang akan terjadi? Perhitungan mereka telah mencapai milyaran, trilyunan, quadrilyun dan terus bertambah. Mereka bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?” Tamat sudah! Siapapun yang berdiri di samping uangnya, mereka tamat riwayatnya.

Millennium ini sudah selesai! Abad 20 sudah selesai! Semua pikiran atau pengetahuan mengenai materi atau ekonomi suatu hari akan menjadi bangkrut. Semuanya akan jatuh. Begitu pula Wahhabi. Sebelum mereka membayar sejumlah uang untuk sedekah. Sekarang mereka belum bisa mengeluarkan sedekah karena mereka masih belum merasa cukup dengan uang yang mereka miliki. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka semua akan bangkrut. Tamat!

Dewasa ini bertasbih dengan menyebut, “pound, pound, pound, pound dan makin banyak pound (sambil bernyanyi) dollar, dollar, dollar, dollar, makin banyak dollar, mark, mark, mark, mark, mark.” Tasbih mereka, “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dollar, mark—masing-masing diulangi sampai 33 kali. Apa itu lucu? Apakah kalian menyukainya? Hal itu akan berakhir.

Wahai kalian yang mengejar dunia, Allah SWT berfirman, “Aku mengirim kalian wahai hamba-Ku, dari rahim ibu kalian dengan telanjang. Aku mengirim kalian ke dunia ini dengan telanjang, dan kalian akan kembali kepada-Ku dengan telanjang.” Dengan cepat orang akan memberi selembar kain untuk menutupi bayi yang baru lahir. Kemudian ketika kalian bertambah besar, kalian akan membeli pakaian lebih banyak lagi. Dan akhirnya ketika kalian meninggal, seluruh pakaian kalian akan di letakkan di meja, bahkan anak-anak kalian tidak mau memakainya karena itu semua milik seseorang yang sudah meninggal. Dan kalian terbaring di atas meja dengan telanjang agar mereka bisa memandikan kalian, kemudian mereka akan membawa selembar kain yang lain untuk menutupi tubuh kalian. Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, jangan tertipu oleh dunia. Kau datang ke dunia dengan telanjang dan akan meninggalkannya dengan telanjang.” Dalam hidup ini kalian harus mencoba untuk mengambil sesuatu untuk kepentingan jiwamu.

Wa min Allah at tawfiq


27 June 2008

Kenali Posisimu dalam Tarekat

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani QS

Pecham Mosque, UK, 23 Februari 1995--Ramadan

A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, "Bismillah ir Rahman ir-Rahiim. Patuhlah kepada Allah SWT, patuhi Rasulullah SAW, dan patuhi para pemimpinmu," Ini berarti patuh kepada para syekh. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih, "ad-diinu nasiiha" yang artinya "Agama adalah nasihat." Agama bukan seperti materi kuliah untuk dipelajari dan diajarkan oleh seorang cendikiawan. Agama adalah nasihat, dan nasihat tidak akan didapat tanpa melalui pengalaman. Nasihat tidak bisa diturunkan lewat teori. Orang yang memberikannya harus mempunyai pengalaman tentang apa yang diberikannya itu.

Sayyidina Syah Naqsyband QS berkata, "Thariqatuna ash-shuhbah wal-khayru fil-jam`iyya" "Tarekat kita adalah berdasarkan asosiasi, kita menjaga kebersamaan, shuhba atau asosiasi, dan perkumpulan yang terbaik dicapai melalui kebersamaan.” Bisa juga dikatakan, “Jalan kita adalah lewat bimbingan, dan yang terbaik lewat asosiasi.” Tanpa asosiasi, tanpa nasihat, tidak mungkin kita mendapatkan mudarat atau kebaikan.

Sekarang, setiap kali Mawlana Syekh Nazim QS meminta saya untuk berbicara, saya merasa malu. Karena kalian semua, masya Allah adalah para murid senior. Dan kalian semua mempunyai pengalaman yang luas, kalian memiliki bintang di pundak kalian, seperti saudara kita di sini, Syekh Ali, kalian semua adalah atasan. Mustahil seorang prajurit memberi nasihat kepada atasan. Jadi makin sering Mawlana berkata, “Bicaralah sesuatu,” Saya merasa, diri saya ini tidak mengetahui apa-apa. Ini juga merupakan ujian bagi saya. Saya merasa seperti terpojok. Karena saya merasa apa pun yang akan saya katakan, ada beberapa orang yang bisa menerima, dan yang lainnya tidak. Saya tidak ingin mengatakan bahwa pembicaraan itu tidak ada gunanya sama sekali, karena selama ada seorang yang mendapat manfaat, saya akan berbicara. Tetapi, pada saat yang sama, saya merasa malu kepada orang yang tidak senang dengan apa yang saya katakan. Mungkin mereka merasa bahwa mereka telah dipaksa untuk mendengarkannya.

Saya sangat muda ketika saya pertama kali datang kepada Mawlana Syekh Nazim QS. Tidak perlu untuk membicarakan apa yang saya lihat dari beliau, tetapi jangan berpikir bahwa ego akan menyerah begitu saja. Ego tidak pernah menyerah. Bahkan jika salah seorang dari kita berkata bahwa ia mencintai Mawlana Syekh Nazim QS, ego kita juga tidak menyerah. Kita telah bepergian dengan jarak yang cukup jauh untuk sampai ke sini (Inggris), untuk duduk bersama Mawlana Syekh Nazim QS selama 10 hari atau 1 minggu, beberapa orang ada yang datang hanya untuk 3 hari lalu pergi kembali. Bahkan bagi mereka yang mempunyai antusias tinggi dan juga energi yang tinggi, ego mereka juga tidak menyerah.

Bagaimana kalian dapat mengetahui bahwa ego tidak menyerah? Itu mudah. Ketika Syekh mengirimkan ujian kepada kalian, Syekh biasanya mengirimkan ujian, bukan untuk mengetahui sampai di mana tingkat pencapaian kalian, atau apakah kalian gagal, atau tidak—karena mereka telah mengetahui semuanya. Mereka tidak memerlukan informasi semacam itu, karena mereka adalah orang-orang yang berdiri di belakang kalian—tetapi mereka ingin kalian mengetahui sampai di mana kalian mampu berdiri sendiri.

Jika seorang anak—seorang bayi—tidak jatuh, ia tidak akan belajar bagaimana cara berjalan. Kita harus jatuh, dan para syekh akan membiarkan kita jatuh, agar kita dapat berdiri sendiri nantinya. Agar kita bisa menemui mereka. Ibu si bayi mencoba menjaga jarak dengan bayinya, satu atau dua meter darinya, lalu ia memanggilnya sehingga si bayi akan menghampirinya, kemudian bayi itu terjatuh—barulah si Ibu mengangkatnya. Dengan cara ini Ibu mengajarkan bayinya untuk datang kepadanya dengan berjalan kaki di waktu berikutnya.

Ujian ini diletakkan di hadapan kita agar kita tidak kehilangan harapan, kita harus selalu mempunyai pikiran bahwa suatu hari nanti kita akan menyerah. Rasulullah SAW adalah orang yang sempurna, Sayyidina Muhammad SAW, beliau adalah manusia yang sempurna, beliau memiliki jiwa yang sempurna, beliaulah yang akan pertama kali sampai di Hadirat Ilahi, beliau adalah cermin dan juga pintu bagi seluruh makhluk. Dengan semua kebesaran itu, hidup beliau tetap saja penuh dengan kesulitan dan penuh perjuangan.

Suku Quraisy datang kepadanya dan berkata, “Wahai Muhammad SAW! Jika kau menginginkan kekayaan, kami akan memberikannya kepadamu, jika kau menginginkan Ka`bah, kami akan memberikannya kepadamu. Jika kau menginginkan ketenaran, kami akan memberikannya kepadamu, dan jika kau menginginkan jabatan, kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin.” Lalu beliau menjawab dengan ucapannya yang sangat terkenal, “Jika mereka memberikan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, Aku tidak akan meninggalkan ajaran Allah SWT.” Jadi apa pun yang akan terjadi, kita harus berjuang untuk mencapai yang terbaik. Kita harus menjaga iman kita sebagaimana Syekh kita datang, menunjukkan dan membuka jalan yang benar bagi kita.

Pertama kali kita harus menggapai hati Syekh dan dari beliau kepada hati Rasulullah SAW, lalu kepada Hadirat Allah SWT. Sebagaimana yang telah dilukiskan Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Ketika umat manusia berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri, mereka datang kepadamu, wahai Muhammad SAW.” Ini adalah ayat dalam Al-Qur’an. Ayat itu mengisyaratkan adanya perantaraan. “Mereka datang kepadamu, wahai Muhammad SAW, dan mereka memohon ampun kepada Allah SWT,” dan itu saja belum cukup. Allah SWT telah mengatakannya! Jika meminta ampun kepada Allah SWT saja cukup, maka seseorang dapat berhenti di situ. Ketika mereka mendatangi Muhammad SAW dan memintakan pengampunan atas namanya, barulah mereka akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT.

Allah SWT mengatakan hal itu! Jika bertobat kepada Allah SWT saja cukup, maka seseorang dapat berhenti sampai di situ, tetapi ayat dalam Al-Qur’an tidak berhenti sampai di situ. Keseluruhan ayat itu berbunyi, “Dan ketika mereka telah menzalimi diri mereka sendiri, jika mereka datang kepadamu dan memohon ampunan Allah SWT dan meminta Rasulullah SAW untuk memohonkan ampunan bagi mereka, barulah mereka akan menemukan bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” “Pada saat itu mereka akan menemukan bahwa Allah SWT Maha Pengampun,” berarti itu adalah kondisi pada saat Rasulullah SAW memohonkan ampunan atas nama kita. Dan para pemimpin yang disebutkan oleh Allah SWT dalam ayat, “Patuhlah kepada Allah SWT, patuhi Rasulullah SAW dan patuhi pemimpinmu.” Itu berarti ketika kita memohon ampun, kita harus benar-benar bertobat dalam kehadiran mereka kepada Allah SWT karena doa orang–orang yang saleh akan dikabulkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain kita harus berdoa melalui perantaraan mereka. Sebagaimana firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah SWT dan berkumpullah bersama orang-orang yang dapat dipercaya.” Para pemimpin itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Ketika mereka mengangkat tangannya untuk berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka!” Allah SWT akan mengampuni kalian.

Kita semua adalah bayi dan kita terjatuh, bangun dan jatuh lagi. Satu hari bangkit, sehari kemudian jatuh, satu hari jatuh hari berikutnya bangun. Walaupun seorang bayi terjatuh, ia tidak mengetahui apa yang sedang dilakukannya, ibunya sangat sayang kepadanya, begitu juga keluarganya. Mereka membersihkannya, memandikannya, memberi bedak, mereka tidak pernah merasa bosan atau jemu dalam membesarkan anaknya. Kita semua dalam pandangan Syekh adalah anak-anaknya, oleh sebab itu beliau memandikan kita, membersihkan kita, memberi kita bedak agar tubuh kita menjadi wangi walaupun pada kenyataannya kita berbau busuk. Tetapi beliau memberi kita bedak aromatik yang sangat spesial—mahal dan eksklusif.

Orang kaya tidak suka membeli parfum murahan, palsu, atau bercampur alkohol—mereka membeli parfum tua yang nilainya sangat tinggi dan dengan merek yang terkenal. Mereka berkata, “Parfum seharga lima puluh pound, itu baru bagus; kalau yang dua pound, itu tidak bagus.” Syekh memberi kita wewangian yang tua, bernilai tinggi, dan mahal, jangan menyia-nyiakannya dengan terus melakukan perbuatan dan perilaku buruk.

Kita semua masih seperti bayi, bahkan beberapa orang dari kita masih berada dalam momongan. Beberapa yang lain mulai merangkak dengan kedua kaki dan tangannya seperti makhluk lain yang saya tidak mau sebutkan namanya, karena nanti mereka akan bilang, “Syekh Hisyam QS menyebut kita binatang.” Hal ini karena saya berada dalam pengawasan yang ketat, mereka sangat memperhatikan setiap kata yang saya ucapkan, sehingga mereka akan meninggalkan 99% bagian yang baik yang telah diberikan dalam pelajaran ini, mereka juga akan mengeluarkan kritik. Saya senang dengan sifat kritis ini agar nanti saya bisa mengoreksi diri dan untuk yang berkutnya saya akan lebih akurat lagi. Jadi kita harus seimbang dengan memperhatikan kondisi hati setiap orang.

Saya lanjutkan, yang lain bisa berjalan dan merangkak dengan kaki dan tangannya, atau mereka bisa berjalan dengan kakinya. Yang lain bisa berjalan namun karena belum kuat mereka terjatuh, sementara yang lain lagi bisa berjalan dengan tegap. Walaupun mereka bisa berjalan, tetap saja ibunya masih memegang tangannya. Mereka belum bisa dilepaskan begitu saja, karena kalau dibiarkan mereka akan mengambil apa saja yang ada di meja, menghancurkannya dan akan merusak rumah. Begitu mereka mulai berjalan, mereka menjadi masalah, mereka menjadi berisik. Ayah dan Ibu harus berlarian ke sana ke mari seharian untuk mengejar mereka, karena kalau saja pintu terbuka kemungkinan anaknya akan keluar dan bisa saja ia tertabrak mobil lalu meninggal. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri, ini adalah keadaan yang paling membahayakan. Ketika ia mulai sedikit terlihat dewasa, orang tua mulai memberi kepercayaan kepada mereka untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Walaupun ia masih mungkin melakukan kesalahan tetapi ini masih bisa dipantau dan kesalahan ini tergolong minor. Sampai ia bisa bertanggung jawab dan Syariat mengharuskan ia melakukan segala kewajiban dalam Agama ketika ia berusia 15 tahun dan telah dewasa atau akil balig.

Tetapi dalam tarekat walaupun kalian telah mencapai usia 70 tahun, kalian masih dianggap sebagai anak kecil tanpa “tanggung jawab” yang sebenarnya. Jangan berkata, “Saya telah bersama Syekh selama 70 tahun tetapi saya tidak mencapai apa-apa!” Perhatikanlah apa yang bisa terjadi. Kalian mungkin bisa merusak diri kalian sendiri dan siapa saja yang berada di dekat kalian.

Kalian harus mencapai kondisi agar para Syekh membiarkan kalian melakukan jalan kalian sendiri. Tentu saja ketika kalian akan terjatuh dan mereka akan membantu mengangkat kalian kembali. Kalian akan terjatuh, mustahil kalian bilang, “Tidak, Aku tidak akan membuat kesalahan lagi. Sekarang Aku adalah seorang Syekh besar; Tidak mungkin, Aku seorang deputi sekarang; atau Aku seorang murid senior; atau Aku seorang wakil atau utusan dari Syekh. Aku yang memimpin zikir, Syekh memberi otoritas kepadaku untuk memimpin zikir. Oh, sekarang Aku adalah sebuah balon yang besar.” (tertawa) Penuh dengan udara di dalamnya. Psssh! [membuat gerakan seperti membirakan udara keluar dari dalam balon] Tamatlah sudah. Kalian harus seperti roket, bertekad kuat, barulah tidak ada yang dapat mempengaruhi kalian, sebagaimana ketika kalian mengalami peningkatan dan membawa orang-orang bersamamu ke hadirat Syekh.

"Deputi" adalah salah satu jabatan yang besar begitu pula dengan "Representatif" dari seorang Syekh. Hal itu berarti seorang Syekh bergantung kepada orang yang bersangkutan baik dalam kehadirannya maupun ketika beliau tidak hadir untuk memberikan nasihat, menyembuhkan suatu penyakit dengan izin Allah SWT, melakukan pembacaan ayat Qur’an, menafsirkan suatu mimpi, membimbing murid, memimpin zikir dan memberikan izin kepada seseorang untuk memimpin zikir, meningkatkan level murid ke jenjang yang sanggup mereka raih, membesarkan bayi hingga mereka bisa berjalan atau mencapai usia di mana bayi itu bisa berjalan. Lalu ia akan membawa mereka semua dan mempersembahkan mereka kepada Syekh.

Sayyidina Khalid Al-Baghdadi QS mempunyai 300 deputi atau khalifah. Kita mengucapkan kata "Khalifah" dalam bahasa Arab, tetapi bangsa Arab mengetahui bahwa "Khalifah" bukan berarti “penerus”, tetapi “deputi”. Beliau mempunyai 300 deputi dan beliau menyebarkannya ke seluruh penjuru Timur dan Barat, dan mereka semua membawa murid-muridnya ke hadirat Syekh, mereka semua memimpin murid-muridnya kepada Syekh. Namun demikian setelah Syekh Khalid QS wafat terbentuklah 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi. Karena setiap orang begitu terikat dengan Khalifahnya masing-masing, di mana mereka biasa berasosiasi dengannya, Khalifah yang telah ditunjuk oleh Sayyidina Khalid QS kepada mereka.

Setiap orang begitu dekatnya dengan Khalifah setempat, mereka berkata, “Dialah milik kami! Dialah pembimbing kami, setelah Syekh, dialah pembimbing kami. Kami tidak bisa menerima yang lain.” Bisa jadi yang lain lebih tinggi tetapi karena mereka tidak pernah melakukan hubungan dengannya, mereka tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Mereka bertaut dengan seorang deputi yang diikutinya, yang membawanya ke hadirat Sayyidina Khalid QS. Namun demikian, beberapa dari mereka membawa para pengikutnya dengan keledai, seperti mengendarai keledai, yang lain dengan unta, ada yang berjalan, ada yang seolah-oleh dengan mobil, pesawat, kereta api, atau roket, tergantung kapabilitas dari deputi atau khalifahnya.

Tetapi ada juga hikmah dan manfaatnya dari terbentuknya 300 cabang dalam Tarekat Naqsybandi setelah wafatnya Sayyidina Khalid QS. Tetapi rahasia dari Mata Rantai Emas hanya diturunkan ke satu cabang, dan tidak kepada 299 cabang lainnya. Jadi apa yang terjadi dengan yang lain itu? Apakah kita bisa menganggap mereka itu telah putus hubungan? Tidak, kita tidak bisa bilang begitu. Dalam sufisme, ada dua macam Syekh, yaitu: Syaykh ul-wilayat dan Syaykh at-tabarruk. Syaykh ul-wilayat adalah Syekh yang mempunyai kekuatan awliya dan kekuatan untuk mengangkat muridnya ke tingkatan wali. Syekh inilah yang memegang rahasia utama. Syekh yang kedua adalah Syekh yang membawa tajalli atau barakah, berkah dari tarekat. Inilah yang mengakibatkan barakah tersebut menyebar luas, karena terdapat hikmah atau kebijaksanaan di balik segala sesuatu. Orang yang mempunyai kekuatan dan rahasia kewalian inilah yang memegang cabang utama dari tarekat. Rahasia utama atau arus listrik yang utama. Kalian perhatikan bahwa arus listrik ini masuk ke dalam gedung dari luar, tetapi ia dapat menerangi seluruh gedung. Setiap lampu melambangkan satu cabang, tetapi seluruh kekuatan berasal dari luar. Mengerti?

Cabang-cabang ini hanya bisa memberi cahaya seperti dua atau tiga buah lampu. Jika kalian menambahkan lebih banyak mereka akan meledak. Situasi semacam ini terjadi pada masa setelah wafatnya Sayyidina Khalid Baghdadi QS. Salah satu dari mereka adalah cabang utamanya, yang lain adalah cabang yang kecil-kecil, hanya menerangi orang-orang setempat. Yang pertama adalah Syaykh ul-Wilayat, Syekh dengan kekuatan wali, orang yang menanggung semua tanggung jawab dari seorang Syekh, yang lainnya adalah Syekh yang tugasnya menyebarkan tarekat ke seluruh penjuru Timur dan Barat. Karena yang satu tidak bisa berada di mana-mana, oleh sebab itu lewat ke-299 Syekh, terbentuklah 299 cabang, masing-masing di daerah yang berbeda sehingga lebih banyak orang yang mengikuti tarekat. Walaupun rahasia utama tidak mencapai hati mereka, paling tidak mereka mempunyai hubungan dengan tarekat ini. Karena setiap orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah Naqsybandi harus berada dalam Hadirat Rasulullah SAW dan Sayyidina Abu Bakar RA ketika berada di Gua Tsur, ketika Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Itulah saat pertama mereka menerima Tarekat Naqsybandi dari Sayyidina Abu Bakar RA dan untuk pertama kali zikir Khatim Syariif dilaksanakan di gua itu. Setiap orang yang mengatakan dirinya, “Aku seorang Naqsybandi,” walaupun ia terhubungkan lewat salah satu cabangnya, melalui Syaykh al-Baraka, ia tetap hadir di sana. Namun demikian, rahasia utama tetap berada di satu cabang saja.

Jadi, sebagian dari 299 khalifah dari Sayyidina Khalid Al-Baghdadi QS menerima satu orang pemegang rahasia utama, tetapi kebanyakan yang tidak menerimanya. Beberapa Syekh mentransfer para pengikutnya kepada Syekh utama, yaitu Syekh Ismail QS, tetapi yang lain tidak. Tipe percabangan ini juga terjadi pada masa Grandsyekh ‘Abdullah QS. Saya hadir di sana, Saya berada di Syria. Pada saat itu banyak murid dari Syria yang menerima Mawlana Syekh ‘Abdullah QS dan yang lainnya tidak. Itu adalah ego, egoisme. Bagaimana mereka akan menerima? Mereka adalah para Syekh besar dengan turban yang besar, lebih besar dari turbannya Mawlana Syekh Nazim QS. Beberapa di antara mereka mempunyai turban sekitar 40 meter di kepalanya, yes! (tertawa) Mereka semua hadir ketika Mawlana Grandsyekh ‘Abdullah QS membuat surat wasiatnya, seminggu sebelum beliau wafat. Mereka yang hadir dan duduk bersama mendorong dan melihat pada Mawlana Grandsyekh QS, “Di mana nama-nama kami dalam daftar itu?” dan nama-nama mereka tidak pernah disebutkan. Mereka berada di sana, duduk di sana dan ketika Mawlana pergi, setelah beliau membuat surat wasiat, mereka membuat satu salinannya lalu mereka menambahkan nama-nama mereka. Saya tidak bisa menyebutkan nama-nama mereka. Itu akan selalu menjadi masalah. Jadi kita harus membuka hati kita.

Seperti yang dikatakan oleh Syekh Jamaluddin QS, “Ego tidak akan membiarkan kalian untuk menerima fakta dan kebenaran.” Dengan perintah Syekh Nazim QS ia akan berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain di Eropa. Oleh sebab itu ia mempunyai pengalaman tentang hal itu, dan seperti itulah tarekat. Tarekat adalah pengalaman. Kalian tidak bisa duduk di rumah dan berkata, “Aku mengerjakan bisnisku, tugasku di universitas, Aku mengajar, Aku melakukan bisnisku di kantor dan Aku ikut tarekat, Aku melaksanakan zikir dan datang pada malam hari, berzikir dan Aku mengetahui segala hal!” Tidak! Itu bukan pengalaman namanya, pengalaman berarti bergaul dengan masyarakat, datang dan berbicara dengan mereka untuk mengetahui cara berpikir mereka, bagaimana mereka merasakan kesulitan yang dihadapi, melalui ujian, lewat beragam ujian yang berbeda, dan dengan cara itu kalian membangun pengalaman kalian.

Itulah sebabnya Mawlana Syekh Nazim QS menginginkan kalian untuk bepergian, agar kalian bisa mempelajari kebudayaan masing-masing daerah. Beliau menginginkan agar kita selalu waspada terhadap segala hal. [terhadap kebudayaan setempat sebelum kita berbicara]. Namun demikian, bukan berarti kalian tidak mempunyai izin untuk berbicara dengan orang-orang itu jika kalian tidak mengenal kebudayaan mereka—bukan, bicaralah dengan siapa saja yang kalian inginkan. Tetapi harus diingat, kalian harus berhati-hati terhadap hal-hal dalam kebudayaan mereka yang tidak kalian sadari.

Ketika Saya sedang berada di Amerika ada seseorang yang datang kepada saya dengan mengeluh. Ia berkata, “Syekh, Aku ingin mengeluarkan uneg-uneg kepadamu.” Inilah yang ia katakan, “Aku tidak mau menerima cara Anda memperlakukan Kami!” Ia adalah orang yang baik, dan ia menyukai saya, tetapi bukan berarti apa yang dikatakannya adalah baik. Saya hanya akan mengatakan satu hal, dan itu akan menunjukkan kepada kalian betapa besar keburukan ego kita. Hal itu mustahil dan luar biasa! Ia adalah orang Amerika, dan itu adalah cara mereka untuk mengekspresikan sesuatu, tidak memendam sesuatu dalam hatinya. Mereka harus mengeluarkan apa yang mereka rasakan atau mereka merasa bahwa mereka akan meledak.

Ia berkata, “Ini adalah negri yang bebas, dan kami bukan Nazi. Di sini tidak ada perjuangan, Anda tidak bisa memaksa orang lain.” Saya berkata, “Saya tidak pernah memaksa seseorang di Amerika, siapa saja.” Ia bilang lagi, “Tidak, tidak, tidak, Anda memaksa semua orang.” Saya heran, “Dalam hal apa?” Ia berkata, “Ketika kami datang menemui Anda saat Zuhur, Ashar atau Maghrib—itu adalah suatu masalah yang sangat besar.” Itu dianggap sebagai komplain yang besar bagi setiap orang. Orang Amerika merasa malu untuk salat. Ia berkata lagi, “Anda telah mencampuri urusan pribadi kami.” Saya lalu berpikir, “Hari kiamat akan datang kepada saya dan saya dalam masalah besar.” (tertawa) Ia berkata, “Ketika kami mengunjungi Anda, kadang-kadang kami datang pada saat Zuhur, atau Ashar, saat itu Anda sedang makan, dan Anda menyodorkan makanan kepada kami dan kami bilang, ‘tidak!’ lalu Anda memaksa kami untuk makan, dengan berkata, “Kalian duduk dan sekarang kalian harus makan.” “Anda tidak bisa memaksa kami untuk makan dengan paksaan seperti itu. Kami adalah orang Amerika, kami berada di negri yang bebas, Anda tidak bisa memaksa kami. Ini adalah suatu kezaliman, ini adalah tirani, kami tidak mau makan.”

Di negri saya, jika Anda tidak mendesaknya, tamu selalu merasa malu untuk mengatakan “ya” ketika diminta untuk makan. Tetapi jika saya tidak mengajaknya makan, saya merasa bahwa saya telah menghina tamu. Dalam kebudayaan Amerika, yang terjadi adalah kebalikannya. Jika Anda mendesak tamu untuk makan, itu berarti Anda telah mengintervensi tamu. Ketika ia bilang “tidak” itu artinya ia tidak ingin makan, jadi tidak perlu memaksanya untuk makan. Orang itu datang kepada saya untuk mengatakan bahwa inilah yang menjadi keluhan orang Amerika tentang perilaku saya. Jadi untuk itulah mereka mengeluh.

Jadi ini adalah masalah besar bagi orang Amerika, sementara bagi kami itu adalah simbol keramahan. Jadi Mawlana Syekh QS mengirimkan murid-muridnya, murid yang senior atau deputinya untuk bepergian ke negri yang berbeda-beda, dengan tujuan untuk mengenal budaya mereka. Karena semua kebudayaan harus melebur menjadi satu dalam tarekat ini. Kita tidak bisa bilang bahwa kita adalah orang Amerika, Perancis, Arab, Jerman, Turki, Inggris, Skotlandia, Irlandia, Malaysia, atau Pakistan. Yang ada hanya satu simbol, yaitu kecintaan Syekh kita—kita semua berasal darinya. Ini adalah sasaran terbesar, itulah sebabnya Mawlana mengirimkan setiap orang untuk belajar dan mendapatkan pengalaman.

Perawi hadis yang paling penting adalah Imam Bukhari. Beliau tidak pernah menulis hadis sebelum mandi, salat 2 rakaat lalu tidur. Lalu dalam mimpinya beliau akan bertemu Rasulullah SAW yang mengatakan, “Tulislah hadis ini pertama, menyusul yang itu, berikan nama bab itu sebagai, ‘Bab tentang Wudu’, tentang Zakat, Salat, dan begitu seterusnya. Beliau tidak pernah membaca hadis walaupun itu diizinkan kecuali setelah beliau mandi, dan salat dua rakaat, lalu tidur dan bertemu dengan Rasulullah SAW dalam mimpinya. Rasulullah SAW kemudian memerintahkan untuk meletakkan suatu hadis di bab tertentu. Hadis pertama yang beliau tuliskan dalam bukunya adalah, “Perbuatan seseorang adalah tergantung pada niatnya, jika niatnya untuk Allah SWT dan Rasulullah SAW, maka ia akan diberi balasan sesuai dengan niatnya itu.” Bahkan jika orang itu membuat kesalahan [dalam melakukan pekerjaannya] tetapi jika niatnya baik [ia juga akan diberi balasan yang setimpal]. “Dan bagi siapa yang berniat untuk dunya, untuk kesenangan dunia ini orang itu akan mendapatkannya pula.”

Jadi niat adalah hal yang sangat penting dan harus kita perhatikan. Bisa jadi seseorang tidak beruntung, tetapi ia berusaha dengan sebaik-baiknya. Tetapi karena tidak beruntung mereka malah menghinanya. Kemudian ia menjadi lelah.

Dan seperti yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, “Berhati-hatilah dengan kesabaran orang yang sabar, bisa jadi ia akan meledak.” Ketika hal itu terjadi ia akan bergerak seperti kereta api, melabrak dan menghancurkan semua yang ada di hadapannya. Jadi kita harus menetapkan niat, dan itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda, “Berusahalah selalu untuk melihat sesuatu dari sisi yang baik, segalanya dilihat dengan interpretasi yang baik.” Jangan memandang suatu masalah dengan interpretasi yang salah karena kalian tidak bisa melihat hati seseorang, kalian tidak bisa mengerti apa yang ada di dalam hati. Jika kalian menarik interpretasi yang salah, pemahaman yang salah mengenai niat seseorang, kalian akan membuat suatu kesalahan. Jika kalian memandang segala sesuatu dengan kebaikan, SEGALANYA, Rasulullah SAW berkata SEGALANYA, dengan interpretasi yang baik kalian mungkin benar. Oleh sebab itu kita harus selalu berada dalam hubungan dengan Mawlana Syekh. Kita masih sering jatuh, jatuh, jatuh, jatuh.

Jangan pernah berkata bahwa kalian rendah hati. Jika kalian berkata demikian ketika kalian berbicara dengan orang lain dan berkata, “Tidak Aku tidak mengetahui apa-apa, ANDA-lah sumber inspirasiku.” Mereka akan memandang kalian seolah-olah kalian adalah sampah (tertawa). Kalian sebaiknya berkata, “Aku adalah yang paling pandai di sini.” Jangan! Jangan! Jangan! Jangan berkata seperti itu di Amerika! Jangan menjadi bodoh seperti saya (tertawa). Jika kalian pergi ke Amerika dan berkata demikian, kalian akan habis, tamat! Kalian tidak bisa berkata, “Aku rendah hati”, kalian tidak bisa berkata, ”Oh! Maafkan Aku! Aku orang yang lemah yang duduk bersamamu.” Ketika kalian datang, insya Allah ke Amerika untuk menghadiri undangan di suatu Universitas atau di mana pun, jangan pernah berkata, “Aku yang terlemah”, mencoba untuk merendah. Katakanlah, “Aku adalah Presiden (tertawa)” Inilah cara berpikir mereka.

Jangan berpikir bahwa Mawlana Syekh QS tidak mendengar kalian. Jika beliau mengerahkan kekuatan untuk menjadi kashf atau tanpa penghalang yang diberikan oleh Allah SWT, beliau dapat mendengar seluruh percakapan kalian. Bagaimana kalian mendengar suara guntur? Sejelas itulah kira-kira suara yang didengar oleh para awliya. Hal itu tidak sulit bagi Allah SWT, bukankah Dia memberi Sayyidina ‘Isa AS kemampuan untuk melihat isi suatu rumah dan apa yang dimakan mereka? Bukankah Dia telah menganugerahkan Sayyidina `Umar RA kemampuan untuk melihat apa yang terjadi dengan salah satu jendralnya 2000 kilometer jauhnya. Beliau mengatakan, “ya Sariya, al-jabal” “Wahai Sariya, gunung!” Beliau memberi peringatan kepadanya terhadap serangan dari balik gunung. Dan Sariya mendengar suaranya! Tidak ada yang bisa menyangkal hal ini—Ini harus diyakini oleh seorang Muslim.

Keistimewaan seperti itu telah dijamin oleh Allah SWT, namun demikian mereka tetap saja seorang hamba. Mereka tidak berpikir bahwa dirinya lebih dari sekedar hamba-Nya, mereka adalah “’abd”, mereka adalah hamba Allah SWT. Allah SWT adalah Sang Pencipta, tidak seperti kaum Wahhabi yang gila, ketika kalian bilang, “Seorang wali mempunyai kekuatan istimewa,” mereka akan mengatakan, “Apa kamu bilang, dia seperti Allah SWT?” Mereka mengkhayal bahwa Allah SWT seperti manusia! Allahu Akbar! Takbir! Takbir! Allah SWT Maha Besar. Allah SWT memberi umat manusia, kepada awliya, raghman `an anfihim.

Wa min Allah at tawfiq